Selasa, 26 Desember 2017

Dari Karnaval Affandi Melukis Jalan Kaki

Jakarta, HMI Tegal Kab. Melukis adalah satu hal, sementara jalan kaki adalah hal lain. Banyak orang bisa melukis, tapi sukar dicari orang yang melakukannya sambil berjalan kaki. Mungkin cuma Ki Joko Wasis yang mau dan bisa melakukannya berbarengan.

Menurut Ki Joko Wasis, asal-usul melukis dengan jalan kaki pada karnaval peresmian Jalan Affandi di salah satu jalan di kota Yogyakarta. Ia bersama kelompok musiknya bernama Para Tukang, mendaftarkan diri untuk turut serta.

Dari Karnaval Affandi Melukis Jalan Kaki (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Karnaval Affandi Melukis Jalan Kaki (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Karnaval Affandi Melukis Jalan Kaki

“Itu grup musik tukang-tukang, ada tukang sablon, pokoknya tukang-tukang. Ada dokternya juga, tapi itu kan tukang juga, tukang suntik hahaha,” katanya saat ngobrol-ngobrol di kantor redaksi HMI Tegal Kab, gedung PBNU, Jakarta, Jumat (14/11).

HMI Tegal Kab

Ikut karnaval itu, oleh panitia, Para Tukang dikasih uang 500 ribu. “Untuk sewa kostum aja, uang segitu tidak cukup, kita pakai pakaian seadanya saja.”

Ketika ngobrol-ngobrol bagaimana ekspresi Para Tukang itu saat karnaval, muncul ide melukis sambil jalan kaki untuk mengenang Affandi yang juga seorang pelukis. Kemudian uang itu sebagian digunakan untuk membeli peralatan lukis.

HMI Tegal Kab

Pada saat karnaval, Para Tukang memainkan musik, bernyanyi, dan berjoget-joget, Ki Joko Wasis melukis. Karena sukar menggunakan koas, jari-jari telanjangnya yang langsung menyentuh kanvas. Sementara kanvasnya sendiri dipegang temannya secara bergantian. Waktu itu ia melukis “Seratus Wajah Affandi”. Melukis dengan cara seperti itu ia dianggap sedang mencari sensasi. Tapi ia tak menggubrisnya.

Dari pengalaman itu, setahun kemudian, ada ide “Napak Tilas Penyerangan Pasukan Sultan Agung ke Batavia.” Pada hari Kebangkitan Nasional tahun 2008, ia bersama 3 orang lainnya menyusuri jalan tentara Mataram ke Batavia.

Karena perjalanan jauh, tak mungkin ada yang mau memegang kanvas, maka disediakan gerobak beroda yang memungkinkan bisa ditempeli kanvas. Gerobak yang ditarik motor keluaran tahun 81 merk Honda tersebut, jadi rumah mereka sepanjang jalan. Di situ, jadi tempat istirahat sampai main kartu.

Selama perjalanan, 19 kali ban meletus, sekali setel platina di Banyumas, Jawa Tengah. Karena motor tua menyeret beban berat, sepanjang jalan menggunakan gigi satu. Selamat sampai Jakarta bagian timur 45 hari kemudian.  

Sepanjang perjalanan ia membuahkan 70 lukisan. Melukis apa saja yang terlihat dan teringat.

“Macam-macam, melukis tukang sapu, melukis pasukan perempuan Sultan Agung. Lukisan peristiwa eksekuis 477 tentara yang dibantai temannya sendiri.

Lukisan tersebut kemudian habis karena dijual, dihadihkan, dititipkan, serta disimpan di rumah sendiri. “Yang saya pegang betul itu ada 25, tapi pecah lagi, diberikan kepada yang membatu perjalanan. Saya tidak tertib menyimpannya,” katanya.

Menurut dia, lukisan pertama saat keluar dari Yogya menuju Jakarta itu melukis ibu menyusui anaknya. Ia beri judul “Susu Perjuangan”. Sekarang disimpan di seorang paranormal. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sejarah HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM. Dari Karnaval Affandi Melukis Jalan Kaki di HMI Tegal Kab ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock