Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon

Karanganyar, HMI Tegal Kab. Menyongsong Ramadhan, GP Ansor Karanganyar mengadakan serangkaian kegiatan mulai dari silaturahmi akbar, pengajian,  ziarah, hingga penanaman pohon. Kegiatan yang berlangsung, Ahad (8/6), bertempat di pesantren Miftahul Ulum desa Pablengan Matesih, Karanganyar.

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon

Kegiatan yang digelar keluarga besar GP Ansor Karanganyar ini, merupakan kegiatan rutin tahunan yang digelar menjelang bulan suci Ramadhan.

“Kegiatan rutin menjelang Ramadhan, kami harapkan ke depan bisa terus dilaksanakan secara istiqomah,” kata Ketua GP Ansor Karanganyar Jamaluddin saat memberikan sambutan.

HMI Tegal Kab

Silaturahmi dan pengajian ini yang diawali pembacaan maulid Simthud Duror, dilanjutkan dengan pengajian yang diisi Habib Hasan Al-Kaff dari Solo.

Sebelum penanaman pohon, para pengurus serta anggota Ansor berziarah ke makam Kiai Khusnan Rosyidi, pendiri pesantren Miftahul Ulum Matesih.  Kiai Khusnan tidak lain ialah tokoh dan penggerak NU di Karanganyar.

HMI Tegal Kab

Pesantren Miftahul Ulum sendiri merupakan salah satu pesantren tua di Karanganyar. Sampai saat ini, pesantren itu masih eksis dengan beberapa jenjang pendidikan yang dimiliki. GP Ansor Karanganyar tercatat sudah tiga kali menggelar acara yang sama di pesantren ini. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Pondok Pesantren, Ulama HMI Tegal Kab

Belajar dari NU Australia-Selandia Baru

Pelan tapi pasti, kebanggan saya sebagai nahdliyin megembang kembali saat mengikuti Konfercab PCI NU Australia-Selandia Baru, 29-30 Agustus 2014. Perwakilan dari 5 negara bagian ikut hadir: Victoria (Melbourne), New South Wales (Sydney & Wollongong), South Australia (Adelaide), Western Australia (Perth), dan Australian Capital Territory (Canberra).

Sementara dari Selandia Baru dan Northern Territory (Darwin) berhalangan hadir dan di negara bagian Tasmania belum ada kepengurusan NU. Mereka rata-rata adalah calon master dan doktor dari berbagai kampus se-Australia. Sebagain lagi sudah menjadi warga tetap atau permanen residen.

Belajar dari NU Australia-Selandia Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari NU Australia-Selandia Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari NU Australia-Selandia Baru

Konfercab ini istimewa. Pesertanya datang dengan biaya sendiri, menyediakan waktu di sela-sela kesibukan studi dan bekerja. Tak ada janji dari calon ketua yang akan mengganti biaya tiket, misalnya. Begitu pula panitia lokal di Melbourne berjibaku selama sekitar dua minggu untuk menjadi tuan rumah yang baik. Untuk apakah gerangan mereka melakukan ini semua? Saya menemukan satu jawaban yang mungkin tidak canggih: tabarrukan. Ngalap berkah dari para pendiri NU yang sudah visioner menghendaki NU sebagai lembaga yang mengglobal, sebagaimana diperlihatkan oleh lambangnya. Kalau Wahabi yang lahir di Saudi bisa mendunia, Ahmadiyah dari Pakistan bisa mendunia, kini ISIS dari Iraq juga mengguncang dunia, mengapakah NU yang sejak awal berlambang bola dunia tak bisa meraih capaian yang sama? Apa yang kurang dari NU sehingga masih gagap untuk menjadi bagian integral dari warga dunia?

Tiga dari Habib Aji

Ismail Fajrie Alatas memberikan jawaban yang jernih dan jenial. Dalam teleconference (29/8/’14) sebagai prolog Konfercab, Habib Aji, demikian ia biasa disapa, menyampaikan tiga hal yang luput diperhatikan selama ini. Tiga hal yang tidak perlu dicari-cari karena sebenarnya melekat di dalam diri aktivis NU. Pertama, menjaga otoritas keilmuan sebagai ciri mandiri NU. Menjaga sanad keilmuan dan menyebarkannya kepada yang memerlukan. Otoritas keilmuan itu harus dijaga karena hanya dengan itulah nama NU masih layak dipergunakan. Menjadi berbahaya jika otoritas ini semakin tergerus dan setiap orang bisa mengklaim sebagai ulama. Bukankah dunia intelektual Barat itu kita hargai, hingga dikejar untuk kepentingan studi, karena mereka berhasil menjaga otoritas keilmuannya?

HMI Tegal Kab

Implementasi dari sikap ini ialah menerapkan cara pengajaran ulama-ulama NU terdahulu, yaitu memberikan pengajian dengan membacakan kitab-kitab khas pesantren, misalnya kitab-kitab seperti Safinatun Naja, Sullamut Taufiq, Aqidatul Awam. Bukan hanya ceramah lepas yang baik pendakwah maupun pendengarnya susah mengingat-ingat kembali materinya. Kitab-kitab itu dibacakan kepada jamaah di lingkungan PCI NU dengan tidak lupa menjelaskan sanadnya. Dengan demikian, jamaah yang ikut mengaji akan merasa bangga karena mendapatkan ilmu yang sanadnya tersambung kepada ulama-ulama besar, para muallif penyebar berkah keilmuan itu.

HMI Tegal Kab

Kedua, mulai bergabung dengan aliansi Aswaja internasional, misalnya dengan Tabah Foundation yang digerakkan oleh Habib Ali Aljufri (http://www.tabahfoundation.org/en) yang berpusat di Abu Dhabi. Lembaga ini menjadi thing tank? kelas global yang memberikan sumbangsih pemikiran dari perspektif Aswaja, untuk kehidupan yang lebih baik di tingkat dunia. Menurut Habib Aji, intelektual dan cendekiawan NU yang alumni dari mancanegara, sangat ditunggu kiprahnya untuk ikut membesarkan lembaga tersebut. Untuk tingkat Australia, ia menyarankan agar mulai dibangun kegiatan bersama dengan pendatang Malaysia, Brunai, Pattani, yang memiliki tradisi yang sama dengan NU.

Ketiga, pandai-pandai menyikapi perkembangan sosial-media untuk memperluas dakwah dan tidak terjebak dalam budaya baru yang dilahirkan oleh setiap perangkat sosial-media itu. Inilah tantangan yang sulit tapi bukan berati tidak mungkin untuk dilakukan.

Paparan kandidat doktor di Michingan University itu menyadarkan aktivis NU di luar negeri untuk kembali pada dirinya sendiri, pada khazanah pesantren. NU dengan basis pesantren, menurutnya, mempunyai semua modal untuk menjadi bagian dari kegiatan dakwah di tingkat global. Tentu terpulang pada aktivis NU sendiri, apakah peluang yang sebenarnya terbuka itu mau diambil atau disia-siakan. Apakah cukup sebagai jago kandang yang beraninya hanya dengan “pihak tertentu”, atau mulai siap berekspansi menjajal tantangan dan peluang dari warga lokal dan pendatang dari manca negara.

Konfercab Paling Sukses

Saat Konfercab berlangsung, saya lebih banyak diam. Tugas resmi saya adalah bidang media dan publikasi, jadi memang harus lebih banyak menyimak dan mencatat dari pada bicara. Saya menyimak beragam pendapat kawan-kawan dari berbagai latar belakang. Kagum karena tidak semua bergenetika NU, tapi mau bergabung sebagai nahdliyyin.

Ada dua orang utusan yang berhasil membetot perhatian saya: Muhammad Khodafi dari Canberra dan Kiai Muhammad Mubarok Omo dari Perth, yang populer dengan sebutan Ustadz Mumu. Saya kagum dengan idealisme Khodafi saat mengelola majalah Santri yang diterbitkan oleh PP RMI. Rasanya, idealisme saya selama ini tak ada apa-apanya dibandingkan Khodafi. Saya bisa tetap idealis karena jauh dari “godaan“, sementara dia tetap teguh tak tergoyahkan di tengah godaan-rayuan di depan matanya. Saya membayangkan dari tangannya kelak masih akan lahir media NU atau pesantren yang berwibawa dan sukses secara keredaksian dan komersial.

Sementara Ajengan Mumu mengagumkan karena pengalaman panjangnya berdakwah di luar negeri, mulai dari Malaysia hingga Australia. Ia mau "turun gunung“ untuk menghadiri Konfercab dan bersedia menjadi Mustasyar dalam kepengurusan PCI NU 2014-2016. Tanpa ragu ia menyatakan sebagai nahdliyyin dan mengakui berasal dari keluarga nahdliyyin. Ternyata ia asli dari Sukahurip, Galunggung, Tasikmalaya. Tak jauh dari Kikisik. Masih ingat letusan gunung Galunggung 1982 dan misteri sebuah kampung yang lolos dari terjangan lahar? Ajengan Kikisik yang fenomenal itu ternyata masih terhitung kakeknya. Tak heran jika ia menyampaikan bahwa ajakan dzikir bisa menyatukan umat. "Ajakan berdzikir itu bisa meredam konflik internal di antara umat Islam,“ ujarnya. Ia bukan sedang berteori, tapi memaparkan pengalamannya selama ini. Pengalaman ajengan yang tak kehilangan lentong Sunda-nya itu layak dipraktikkan dalam berdakwah di semua negara bagian di Australia.

Diam-diam saya coba mencari-cari suasana khas NU jika mengadakan acara. Suasana ger-geran ala pesantren memang mulai mencairkan suasana. Tapi kekhasan itu saya temukan saat Ustadz Mumu memipin doa penutup acara pembukaan di KJRI. Ia hanya membacakan surat Al-Fatihah, tapi suaranya itu, mengingatkan saya ke dalam suasana riungan NU di tanah air. Ia memang seorang qari yang bersuara berat nan mantap. Suasana NU itu semakin kental saat ia memimpin tahlilan di penghujung seluruh rangkaian Konfercab. Lantunan ayat suci dengan suara merdunya di tengah-tengah tahlilan, benar-benar me-refresh semua rasa lelah, lahir dan batin.

“Inilah Konfercab paling sukses selama ini,” ujar Gus Nadir mengapresiasi seluruh panitia dan peserta. Posisi intelektual dengan dua gelar doktor ini memang sentral bagi PCI NU. Sosoknya dapat menjadi pemacu sekaligus penyeimbang laju roda organisasi. Tanpa segan ia menuangkan minuman bagi para peserta, atau mencarikan kursi bagi yang tidak kebagian tempat duduk. Tak mengherankan jika pakar demografi dari Macquarie University, Dr. Salut Muhidin, mengamini ajakannya untuk bergabung membesarkan PCI NU.

Fase Ketiga

Terpilihnya Tufel Musyadad, alumni IAIN Walisongo Semarang, menandai fase ketiga perkembangan PCI NU. Ia mendampingi Gus Nadir selaku Rais Syuriyah dan Ustad Mumu sebagai salah satu Mustasyar. Fase pertama ialah kelahiran dan peresmian keberadaan PCI NU Australia-Selandia Baru di Canberra pada 2005. Banyak organisasi massa cabang luar negeri yang berhenti pada fase ini. Fase kedua ialah penyesuaian susunan kepengurusan sesuai kebutuhan, pencarian bentuk program, dan? penyesuaian gerak organisasi dengan lingkungan sekitar. Konflik dengan “pihak tertentu” merupakan bumbu dominan dalam fase ini. Tak sedikit ormas Islam yang terpaksa tiarap akibat deraan konflik internal ini. Lalu fase ketiga adalah fase konsolidasi, dimana tiga serangkai permanen residen menjadi figur sentral PCI NU. Sebelumnya, Ketua Tanfidziyah selalu dijabat oleh pelajar yang hanya memegang visa sementara.

Tantangan Tufel ialah mengawal PCI NU memasuki fase keempat, yaitu penguatan fondasi, yang ditandai dengan tampilnya seorang warga Australia, kelak di kemudian hari, sebagai pimpinan. Tidak harus bule, bisa saja ia adalah seorang Muslim Aborigin atau generasi kedua pedatang Indonesia yang sudah menjadi citizen. Namun, itu bukan hanya tugas alumni Stony Brook University, New York itu sendirian, melainkan tugas bersama-sama semua pengurus dan anggota PCI NU. Dengan tampilnya warga Australia sebagai pimpinan NU, maka dalil “NU yashluh li kulli zaman wa makan” menjadi sah adanya. Dan itulah bukti NU yang mendunia, yakni bergabungnya warga dunia ke dalam NU.

Dari Konfercab kali ini saya bisa mendapatkan gambaran yang nyaris utuh mengenai harapan perkembangan PCI NU ke depan. Potensi (kekuatan), tantangan, peluang, dan hambatan yang akan dihadapi terpapar melalui persidangan dan diskusi-diskusi kecil di luar acara resmi. Misalnya kegiatan non pengajian yang selama ini ditunggu-tunggu, dapat terwadahi dalam gagasan Gus Dur Memorial Lecture yang dilontarkan peneliti muda LIPI Muhammad Khoirul Muqtafa. Apalagi nama Gus Dur adalah jaminan mutu bagi dunia intelektual Australia.

PCI NU di seluruh dunia sesungguhnya merupakan aset besar NU. Menarik untuk melihat “pertarungan” di arena Muktamar NU XXXIII 2015 nanti. Apakah PCI NU akan mendapatkan perhatian besar dari induknya kembali atau lagi-lagi kurang dianggap? penting. Dengan dukungan penuh dari PBNU, PCI NU memang akan leluasa bergerak secara terstruktur, sistematis, dan masif. Namun, dengan dukungan seadanya pun, ruang gerak PCI NU tidak harus terhambat. Justru hal itu bisa mendorongnya untuk menjadi otonom dan menumbuhkan dirinya sendiri hingga mencapai tahap kematangan, baik secara organisasi maupun program. Insyaallah.

Rasanya, dengan figur karismatik Nadirsyah Hosen, nyala api harapan dari PCI NU Australia-Selandia Baru akan awet dan tahan dari tiupan angin, bahkan dapat menyinari rumah induknya. ?

Kini, tepat waktunya untuk berkirim hadiah fatihah kepada semua pendiri NU, khususnya Mbah Ridwan Abdullah, sang pencipta lambang NU yang futuristik itu. Alfatihah …

Iip Dzulkipli Yahya, penulis partikelir, saat ini tinggal di Clayton, Victoria, Australia.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama HMI Tegal Kab

Jumat, 23 Februari 2018

Puluhan MTs Ikuti Porseni dan Olimpiade Tingkat Nasional

Jepara, HMI Tegal Kab. Puluhan MTs dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat mengikuti Porseni dan Olimpiade #3 Mapel PAI dan Bahasa Arab Fokus MTs PSA Aidep berlangsung di pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang, Jepara, Selasa-Rabu (15-16/12). Mereka akan memperebutkan juara dari perlombaan PAI, Bahasa Arab, Tenis Meja, Bola Voli dan Futsal.

Puluhan MTs hadir mewakili kabupaten Jepara, Brebes, Banyumas, Cilacap, Semarang, Kabupaten Semarang, Grobogan, Sragen, Boyolali, Sukoharjo, Solo, Pati, Blora, Cianjur, Tasikmalaya, Garut, Lamongan,Tuban dan Bangkalan.

Puluhan MTs Ikuti Porseni dan Olimpiade Tingkat Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan MTs Ikuti Porseni dan Olimpiade Tingkat Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan MTs Ikuti Porseni dan Olimpiade Tingkat Nasional

Miftahuddin yang mewakili Jepara mengatakan, Forum Komunikasi (Fokus) Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pesantren Satu Atap (PSA) Aidep Indonesia merupakan komunitas yang berjalan sudah 9 tahun. Ia berharap komunitas itu semakin berkualitas.

HMI Tegal Kab

Ketua Fokus MTs PSA Aidep Indonesia Saifur Rohman menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan untuk memelihara kerja sama Indonesia dengan Australia. "Ada 504 MTs dari 9 Provinsi yang memperoleh bantuan. Saat ini kita bisa melihat kemajuan secara fisik maupun kualitas pendidikannya," ungkap Saifur.

HMI Tegal Kab

Wujud dari kerja sama yang harmonis itu diharapkan mengantar generasi MTs menuju kesalehan dan berkarakter. Kegiatan yang dilaksanakan saban 3 tahun sekali itu merupakan ajang silaturahmi madrasah penerima bantuan.

Kasi Sarana Prasarana MA Kemenag RI Ruchman Bashori dalam sambutannya menyampaikan, menurut penelitian Mikency Institut tahun 2030 Indonesia memperoleh bonus demografi penduduk yang lebih banyak. Hal itu menurut Ruchman menjadi kekuatan bangsa Indonesia.

"Sehingga anak-anak yang lahir hari ini 20 tahun mendatang ialah yang akan memimpin bangsa," lanjut mantan Kasi Sarpras Kopontren Kemenag RI.

Ia menegaskan, keberadaan madrasah tidak boleh diremehkan. Madrasah harus sejajar dengan sekolah. Seiring dengan olimpiade madrasah kualitas pendidikan berbasis agama itu semakin baik.

"Madrasah lebih baik. Lebih baik madrasah," begitu semboyan di pengujung sambutannya.

Hadir dalam pembukaan kegiatan Kepala Kemenag Jepara Muhdi, Kepala Dinas Pendidikan Jepara Khusairi dan Kasi Kopontren Kanwil Kemenag Jawa Tengah Muhtasit. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pendidikan, Ulama HMI Tegal Kab

Kamis, 08 Februari 2018

Nusron Ingatkan Teladan Pemberdayaan Ekonomi ala Mbah Hasyim

Jombang, HMI Tegal Kab

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid mengatakan, GP Ansor sudah memasuki usia ke-81. Menurutnya, hal ini berarti badan otonom NU ini tergolong sangat dewasa dan karenanya harus bisa mandiri.

Nusron menyampaikan hal itu dalam acara pelantikan pengurus baru Pimpinan GP Ansor Jombang yang diketuai Zulfikar D Ikhwanto, di Gedung PSBR Jombang, Jawa Timur, Ahad (3/5). Ia juga mengingatkan agar GP Ansor setempat tidak mengandalkan bantuan sosial dari seorang Bupati.

"Karena bantuan bisa merusak kemandirian. SDM kita ini sangat besar. Tapi selama ini yang terjadi pengurus tidak concern ngurusi organisasi dan jamaah malah menjadi urusan," sindirnya.

Nusron Ingatkan Teladan Pemberdayaan Ekonomi ala Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron Ingatkan Teladan Pemberdayaan Ekonomi ala Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron Ingatkan Teladan Pemberdayaan Ekonomi ala Mbah Hasyim

Menurutnya, persoalan ke depan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah kemiskinan dan juga menata soal kebhinekaan. "Soal kebhinekaan ini Ansor menjadi pioner. Indonesia pasti terganggu jika tidak ada NU dan Ansor. Jihad kita adalah menata problem kebhinekaan ini," tandas Nusron.

Sementara soal kemiskinan, Nusron mengungkapkan masih ada sekitar 82 juta warga yang miskin dan itu berada di pedasaan khususnya paling besar adalah pulau Jawa. Dan jelas mereka adalah warga Nahdliyin.

“Bagaiman kader Ansor mulai sekarang melakukan transformasi potensi SDM (sumber daya manusia) kepada jamaah, terutama terkait pengembangan ekonomi. Ini juga yang harus digelokarakan pada Muktamar ke-33 NU di Jombang," imbuhnya.

HMI Tegal Kab

Karena itu, menurutnya, persolan kemiskinan tidak bisa hanya diselesaikan dengan pemberian bantuan langsung oleh pemerintah. "Tidak ada ceritanya masyarakat miskin berubah menjadi kaya setelah menerima bantuan, termasuk bantuan sosial, bantuan peternakan, dan lainnya. Silahkan cek, bisa jadi setelah menerima bantuan, sapinya dijual, ini akhirnya menjadi masalah," ungkapnya.

HMI Tegal Kab

Kemiskinan, lanjutnya, hanya bisa diselesaikan dengan legal akses yakni pemberian modal. Dan GP Ansor harus kembali ke awal perjuangan pendiri NU dengan menggali nilai-nilai perjuangan yang diajarkan KH Hasyim Asyari saat mendirikan Syirkatul Inan li Murabahati Ahli al-Tujjar semacam koperasi.

"Dan saya? baca dokumen, bagaimana KH Hasyim memberikan permodalan 50 golden untuk diputar itu pada tahun 1919, yang merupakan cikal bakal berdirinya Nahdhatut Tujjar (Kebangkitan Kaum Pedagang),” ujarnya.

Sementara itu Ketua PCNU Jombang Dr ? KH Isrofil Amar berpesan, usai dilantik pengurus baru GP Ansor Jombang harus giat, santun, berani, dan tetap koordinasi. "Giat ? artinya bekerja dan menggerakkan organisasi, santun tawadluk? kepada kiai dan ulama. Berani, tidak ingah ingih, dan kordinasi dengan NU dan banom banom lainnya, insyaallah jika bisa dilakukan bersama NU dan banom lain maka tujuan NU akan tercapai,"tandasnya. ? (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama HMI Tegal Kab

Kamis, 11 Januari 2018

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan

Jakarta, HMI Tegal Kab. Kepala Perwakilan dan Direktur World Food Programme (WPF) Anthea Webb memberikan apresiasinya untuk Nahdlatul Ulama (NU) dalam perannya di segala bidang termasuk kemanusiaan dan bencana.

Dia menyambangi Kantor PBNU Jakarta, Senin (21/11) untuk mengajak NU bersinergi dan kerja sama dalam penanganan ketahanan pangan, bencana, dan kemanusiaan.

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan

Ditemui langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan pengurus PBNU lain, Webb menyampaikan bahwa dalam mencegah dan menangani bencana kemanusiaan akibat kelaparan dan gizi buruk, pihaknya tidak bisa bekerja sendirian.

“NU jelas perannya dan nyata mempunyai warga di akar rumput sehingga program ketahanan pangan bisa berjalan maksimal,” ujar Webb.

HMI Tegal Kab

Dia menjelaskan, WPF merupaka lembaga pangan bentukan PBB yang telah berdiri sejak 1963 dan pertama kali bekerja untuk Indonesia tahun 1964 dalam bencana Gunung Agung di Bali telah melakukan gerakan pencegahan kelaparan di banyak negara seperti Suriah, Irak, yaman, Palestina, dan Nigeria.

Lembaga yang berbasis di Kota Roma, Italia itu juga bergerak dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak di seluruh dunia. Dia pun meminta kepada NU untuk bekerja sama dalam pencegahan bencana alam yang selama ini nyata-nyata berdampak pada munculnya bencana kemanusiaan.

HMI Tegal Kab

Hadir dalam pertemuan terbatas itu di antaranya, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Wasekjen Imam Pituduh, Ketua PP LPBINU M. Ali Yusuf, Ketua PP LKNU Hisyam Said Budairy beserta Sekretarisnya Citra Fitri Agustina. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Khutbah, Internasional, Ulama HMI Tegal Kab

Rabu, 10 Januari 2018

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta

Bogor, HMI Tegal Kab. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar kuliah umum Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kuliah yang bertemoat di Kampus B STAINU Jakarta, Parung, Bogor, Jawa Barat itu mengangkat tema “Membangun Peradaban Bangsa dengan Tasawuf”.

Dalam kuliah umum pada (24/12), Kiai Said mengupas secara mendalam seluk-beluk ilmu taswuf serta korelasinya dengan pembangunan peradaban. “Sesungguhnya yang paling utama dan yang terpenting dari manusia adalah hatinya,” kata kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta

Hati yang baik, kata Kang Said, secara langsung akan berimbas kepada akhlak yang baik. Maka untuk merawat hati kita membutuhkan piranti yang bernama tasawuf. “Mengamalkan nilai-nilai tasawuf itulah yag saya sebut kemudian sebagai revolusi spiritual,” tutur Kang Said.

HMI Tegal Kab

Ia juga mengatakan bahwa revolusi spiritual lebih penting untuk membenahi bangsa ini dibandingkan dengan revolusi mental. Namun ia menjelaskan bahwa spiritualitas yang baik dapat juga dibangun melalui mental yang sehat.

HMI Tegal Kab

Sebelumnya, Ketua STAINU Jakarta dr. Syahrizal Syarif, PhD mengatakan bahwa kuliah umum STAINU Jakarta sengaja mengabil tema tasawuf. Hal tersebut merupakan respon sivitas akademika STAINU Jakarta yang prihatin dengan semakin lunturnya nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan seharai-hari.

“Kami berharap dengan terangkatnya tema ini, segenap sivitas akademika maupun pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam acara ini kembali menyadari akan vitalnya mengembalikan nilai-nilai tasawuf guna membangun peradaban yang lebih baik dan mapan,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama Syahrizal menjelaskan bahwa pemilihan tema dan narasumber ini juga bertepatan dengan momentum pengukuhan guru besar Prof Dr kepada KH Said Aqil Siroj dalam bidang ilmu tasawuf di UIN Sunan Ampel Surabaya beberapa waktu lalu.

“Kiai Said Adalah pakar tasawuf, dan kami percaya pada beliau. Wujud kepercayaan kami adalah dengan meminta beliau untuk bersedia menjadi narasumber pada kuliah yang memang bertemakan keahlian beliau yaitu Ilmu Tasawuf” tuturnya.

Pada kesempatan itu hadir pelbagai pihak dan pengurus teras PBNU antara lain Bina Suhendra (Bendahara Umum), KH Maksum Machfudz (Ketua PBNU), H. Danial Tanjung (aktivis NU) dan beberapa pejabat daerah kabupaten Bogor dan pengurus PCNU Bogor. (Red: Abdullah Alawi)?

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta

?

Bogor, HMI Tegal Kab

Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar kuliah umum Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kuliah yang bertemoat di Kampus B STAINU Jakarta, Parung, Bogor, Jawa Barat itu mengangkat tema “Membangun Peradaban Bangsa dengan Tasawuf”.

Dalam kuliah umum pada (24/12), Kiai Said mengupas secara mendalam seluk-beluk ilmu taswuf serta korelasinya dengan pembangunan peradaban. “Sesungguhnya yang paling utama dan yang terpenting dari manusia adalah hatinya,” kata kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

Hati yang baik, kata Kang Said, secara langsung akan berimbas kepada akhlak yang baik. Maka untuk merawat hati kita membutuhkan piranti yang bernama tasawuf. Mengamalkan nilai-nilai tasawuf itulah yag saya sebut kemudian sebagai revolusi spiritual,” tutur Kang Said.

Ia juga mengatakan bahwa revolusi spiritual lebih penting untuk membenahi bangsa ini dibandingkan dengan revolusi mental. Namun ia menjelaskan bahwa spiritualitas yang baik dapat juga dibangun melalui mental yang sehat.

Sebelum, Ketua STAINU Jakarta dr. Syahrizal Syarif, PhD mengatakan bahwa kuliah umum STAINU Jakarta sengaja mengabil tema tasawuf. Hal tersebut merupakan respon sivitas akademika STAINU Jakarta yang prihatin dengan semakin lunturnya nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan seharai-hari.

? “Kami berharap dengan terangkatnya tema ini, segenap sivitas akademika maupun pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam acara ini kembali menyadari akan vitalnya mengembalikan nilai-nilai tasawuf guna membangun peradaban yang lebih baik dan mapan,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama Syahrizal menjelaskan bahwa pemilihan tema dan narasumber ini juga bertepatan dengan momentum pengukuhan guru besar Prof Dr kepada KH Said Aqil Siroj dalam bidang ilmu tasawuf di UIN Sunan Ampel Surabaya beberapa waktu lalu.

“Kiai Said Adalah pakar tasawuf, dan kami percaya pada beliau. Wujud kepercayaan kami adalah dengan meminta beliau untuk bersedia menjadi narasumber pada kuliah yang memang bertemakan keahlian beliau yaitu Ilmu Tasawuf ” tuturnya.

Pada kesempatan itu hadir pelbagai pihak dan pengurus teras PBNU antara lain Bina Suhendra (Bendahara Umum), KH Maksum Machfudz (Ketua PBNU), H. Danial Tanjung (aktivis NU) dan beberapa pejabat daerah kabupaten Bogor dan pengurus PCNU Bogor.? ?

?



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Pondok Pesantren, Meme Islam HMI Tegal Kab

Kamis, 04 Januari 2018

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Dalam kitab suci Al-Quran, istilah pelecehan agama memang tidak ada. Namun dalam konteks yang sama, ada istilah-istilah tertentu yang bisa dipahami sebagai padanan dari pelecehan. Adapun bahaya tindakan melecehkan itu bukan cuma mengancam mereka yang melecehkan, namun juga merugikan objek, pihak, atau orang yang dilecehkan.

Dalam buku ini, Imanuddin dan Zaenal mengidentifikasi adanya tiga kata atau istilah dalam Al-Quran yang bisa dipadankan dengan kata pelecehan. Tiga kata itu bukan cuma berkaitan dengan ajaran agama Islam secara langsung. Namun juga kisah-kisah dari berbagai zaman yang mengeksplorasi tindakan pelecehan berikut bahaya dan bencana yang mengiringinya.

Ketiga kata itu meliputi Huzuw, Laib, dan Sakhira (hlm.71). Kata Huzuw bisa dipadankan dengan kata mengolok-olok. Namun bisa juga diartikan sebagai gurauan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dengan tujuan melecehkan.

Kata Laib bisa diartikan dengan kata bermain atau bermain-main. Namun dalam konteks pelecehan, kata ini bisa diartikan segala aktifitas yang dilakukan bukan pada tempatnya atau untuk tujuan yang tidak benar. Sementara Sakhira adalah mengejek ? (hlm.78-86). Yaitu, menjadikan suatu agama berikut ajaran dan pemeluknya sebagai bahan ejekan yang berorientasi merendahkan atau meremehkan.

Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Bentuk-bentuk pelecehan agama memang banyak ragamnya. Ada pelecehan yang dinyatakan secara verbal, ada pula yang non-verbal. Pelecehan yang berbentuk verbal, cenderung mudah diketahui oleh pihak yang menjadi korban pelecehan secara langsung. Namun tidak demikian pada pelecehan berbentuk non-verbal. Terkadang, malah pihak atau orang ketigalah yang justru mengetahui lebih dahulu adanya tindak pelecehan agama.

Buku ini bukan hanya menyajikan bahasan seputar pelecehan agama secara langsung. Namun juga membahas pelecehan agama yang bermula dari pelecehan terhadap ajaran, pemeluk, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan suatu agama. Karena buku ini berangkat dari wawasan Al-Quran, maka secara tidak langsung, buku ini menitik-tekankan bahasan pada larangan keras bagi umat Islam yang ingin melecehkan agama Islam maupun agama lain.

HMI Tegal Kab

Sebagai bangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat berbagai pemeluk agama dan keyakinan, sudah semestinya bagi kita untuk tetap saling menghormati dan tenggang-rasa. Khususnya seputar keberagamaan dan keberagaman. Sebab dengan menahan diri dan minat dari melecehkan agama lain, kedamaian akan mudah terbentuk dan terjaga dengan sendirinya. Selanjutnya, kita bisa beribadah dengan tenang dan nyaman sesuai agama dan keyakinan masing-masing.?





Info Buku

Judul ? ? ? ? ? ? ? : Jangan Nodai Agama: Wawasan Al-Quran tentang Pelecehan Agama

HMI Tegal Kab

Penulis ? ? ? ? ? : Imanuddin bin Syamsuri, Lc. MA dan M. Zaenal Arifin, MA

Penerbit ? ? ? ? : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Cetakan ? ? ? ? : I (pertama), 2015

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : xviii+190 halaman

ISBN ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-229-457-3





Peresensi

Muhammad Ghannoe

Aktif di komunitas Nandha, Bantul.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Humor Islam, Aswaja HMI Tegal Kab

Sabtu, 30 Desember 2017

Peran Thariqah Penting dalam Upaya Bela Negara

Pekalongan, HMI Tegal Kab. Mustasyar PBNU KH As’ad Said Ali menyampaikan materi dalam gelaran Konferensi Ulama ? Internasional di Aula Gedung Djunaid Pekalongan, Rabu (27/7). Dia menyampaikan materi tentang Mewaspadai Kelompok-kelompok Anti-NKRI di Indonesia.?

Dalam sejarahnya menurut As’ad, perjuangan ulama thariqah begitu luar biasa dengan memperkokoh spiritualitas sehingga bangsa Indonesia tidak takut kepada penjajah. Kemudian, keberanian spiritualitas yang digabung dengan cinta tanah air memunculkan pembelaan tehadap negara.

Peran Thariqah Penting dalam Upaya Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Thariqah Penting dalam Upaya Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Thariqah Penting dalam Upaya Bela Negara

As’ad yang dimoderatori oleh KH Ali M. Abdillah memaparkan praktik thariqah merupakan ruh sehingga mempunyai peran penting dalam upaya pembelaan negara. Sebab itu, gelaran Konferensi Ulama Thariqah Internasional bertajuk Bela Negara ini akan mempunyai dampak luar dari sisi perjuangan keagamaan.

Lebih jauh, dalam upaya bela negara, masyarakat Indonesia juga harus mewaspadai gerakan-gerakan anti-NKRI yang sejak dulu hingga sekarang masih ada. Menurut As’ad, tiga kelompok gerakan tersebut yaitu Neo-Fundamentalisme, Neo-Liberalisme, dan Neo-Komunisme.

“Tidak usah ditakuti hanya perlu diwaspadai sebab paham-paham tersebut tidak sesuai dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila,” ujar As’ad.

HMI Tegal Kab

Perlu dipahami menurut As’ad, paham tersebut merupakan gerakan transnasional, dengan kata lain paham impor yang selamanya tidak akan sesuai bagi karakter bangsa Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Ulama, Halaqoh HMI Tegal Kab

Senin, 25 Desember 2017

PCNU Bondowoso Terima Bantuan Hibah Bus Mini

Bondowoso, HMI Tegal Kab - Ketua DPRD Bondowoso H Ahmad Dhafir menghibahkan sebuah bis mini kepada PCNU Bondowoso. Dhafir berharap sebagai warga NU bagaimana roda organisasi NU itu bisa berjalan seiringan kebutuhan masyarakat Bondowoso yang mayoritas warga NU.

"Maka ini tentu diperlukan transportasi, itulah kemudian saya secara ikhlas dan tulus menyerahkan bis mini satu untuk operasional NU," katanya saat diwawacarai HMI Tegal Kab setelah acara rutin Lailatul Ijtima di Mushalla Kantor NU Bondowoso, Selasa (15/8) malam.

PCNU Bondowoso Terima Bantuan Hibah Bus Mini (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Bondowoso Terima Bantuan Hibah Bus Mini (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Bondowoso Terima Bantuan Hibah Bus Mini

Menurut penasihat GP Ansor Bondowoso, “Ini bantuan secara pribadi dan kebetulan saya ada untuk digunakan untuk operasional NU dan tentu saya minta bagaimana bis itu dikating hanya gambar NU, mungkin para pendiri NU dan sekaligus juga ditulisin jas hijau.”

HMI Tegal Kab

Selain itu mobil ini digunakan untuk operasional NU, kepentingan Nahdlatul Ulama dan bagaimana pun juga saya begini karena keberkahan NU.

HMI Tegal Kab

Di samping itu ia juga mengajak sahabat anggota fraksi yang lain untuk peduli dan membesarkan NU. “Bagaimana kita menghidupkan organisasi NU ini yang harus kita lakukan semua termasuk kader-kader NU.”

Ketua PCNU Bondowoso KH Abdul Qodir Syam mengatakan, kebetulan Ketua DPRD Bondowoso itu memiliki mobil. Sementara NU memiliki kebutuhan mobilasi anak-anak SMA serta lainnya.

“Saya? juga mengucapkan banyak terima kasih kepadanya. Alhamdulillah NU punya mobil untuk operasional," ucapnya Kiai Qodir.

Penyerahan simbolis bantuan ini dilakukan secara langsung oleh H Ahmad Dhafir kepada Rais Syuriyah NU Bondowoso KH Asyari Phasa berupa BPKB bus mini. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nusantara, Ulama HMI Tegal Kab

Kamis, 14 Desember 2017

Asa Bafaqih, Wartawan dan Diplomat Andal Indonesia

Keberadaan Duta Masyarakat sebagai media Nahdlatul Ulama (NU) tak terlepas dari jasa Asa Bafaqih. Pria yang akrab dipanggil Wan Asa itu merupakan salah satu penggagas sekaligus pimpinan redaksi Duta Masyarakat saat pertama kali diterbitkan.

Saat itu tepatnya tahun 1954 dengan rekomendasi langsung dari Rais Aam PBNU KH Wahab Chasbullah dibentuklah surat kabar sebagai wahana kader Nahdliyin untuk belajar jurnalistik yakni Duta Masyarakat yang dipimpin Wan Asa. Meski dirinya tak lama memegang tanggung jawab dalam keredaksian Duta Masyarakat, namun Wan Asa telah cukup memberikan pondasi penting sebagai bahan untuk dikembangkan generasi muda NU dalam mengumpulkan, mengolah dan menyajikan berita kepada khalayak melalui media massa.

Asa Bafaqih, Wartawan dan Diplomat Andal Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Asa Bafaqih, Wartawan dan Diplomat Andal Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Asa Bafaqih, Wartawan dan Diplomat Andal Indonesia

Pengalaman Wan Asa di dunia jurnalistik diawalinya sebagai penerjemah berita-berita atau artikel berbahasa Arab ke dalam bahasa Melayu di Kabar Harian Pemandangan. Sebelumnya dia berprofesi sebagai guru agama di sekolah.

Selain sebagai penerjemah pria kelahiran 1915 di Tanah Abang, Jakarta itu juga penulis lepas di dua media yang berpengaruh saat itu yakni harian Pemandangan dan majalah mingguan Pandji. Bahkan Wan Asa pernah menjadi pimpinan harian Pemandangan. Namun, karena dinilai seringkali menghambat pemerintahan Hindia Belanda, Pemandangan dilarang terbit lagi.

HMI Tegal Kab

Mengetahui kenyataan itu, Wan Asa tetap berusaha berkecimpung dalam dunia tinta dengan masuk Kantor Berita Jepang, Domei, sebagai Redaktur. Keberadaannya di Domei dimanfaatkan pula oleh Wan Asa untuk kepentingan tanah air tercinta, Indonesia salah satunya ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan.

HMI Tegal Kab

Ketika itu Wan Asa diberi amanah oleh Adam Malik untuk menyelipkan berita kemerdekaan Indonesia dalam Domei. Usaha itu pun berhasil dan akhirnya berita kemerdekaan Indonesia diperdengarkan melalui Kantor Berita Jepang. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia seutuhnya, Domei beralih nama menjadi Antara dengan Pimpinan Redaksi Asa Bafaqih dibantu Mochtar Lubis.

Usai kemerdekaan pula, harian surat kabar Pemandangan kembali beroperasi. Melalui harian Pemandangan, Asa seringkali membuat geram pemerintah dengan tajuk-tajuk berita yang ditulisnya salah satunya tentang rencana gaji baru PNS serta tentang modal asing yang diterima 21 perusahaan industri. Dua tajuk tersebut dinilai telah membocorkan rahasia negara serta hal sensitif untuk dibuka di ruang publik.

Akibatnya, Asa Bafaqih dituntut dengan dakwaan membocorkan rahasia negara sebab kedua tajuk yang ditulisnya belum diumumkan secara resmi kepada masyarakat. Saat persidangan Asa diminta memberitahukan siapa narasumber yang menginformasikan terkait hal itu.

Jelas saja, sebagai Jurnalis yang bertanggungjawab dan mengerti kode etik Jurnalistik, Asa menolak permintaan yang diajukan kepadanya di persidangan. Asa menggunakan Hak Tolak sebagai wartawan. Akhirnya, Jaksa Agung kala itu R. Soeprapto memutuskan menghentikan penyelidikan dan mengakhiri dakwaan atas Asa Bafaqih tepat pada tanggal 15 Agustus 1953.

Dia juga pernah menjadi anggota DPR GR mewakili wartawan dan anggota dewan mewakili Partai NU. Ketika Partai NU menjadi faktor politik yang diperhitungkan di mana Asa Bafaqih salah seorang tokoh “di belakang layar”, wartawan didikan madrasah ini diangkat Presiden Soekarno menjadi duta besar di Srilangka.

Dia dinilai sebagai seorang diplomat yang berhasil. Hubungannya sangat dekat dengan Perdana Menteri Nyonya Bandaranaike. Laporan-laporannya oleh Jakarta dinilai sangat berbobot. Asa Bafaqih di samping menguasai bahasa Arab dan Inggris, ia juga menguasai bahasa Tamil, bahasa pribumi Srilangka. Asa Bafaqih termasuk seorang di antara pelumas politik Konferensi Bandung dan Non-Blok yang dinilai positif dan sukses.

Selepas mengabdi sebagai Duta Besar RI untuk Srilanka (1960-1964), Asa Bafaqih lantas dipercaya menjadi duta besar di Aljazair merangkap Tunisia (1964-1965). Selama di Aljazair, ia memiliki hubungan dekat dengan Presiden Boumedienne maupun Menlu Botafika dan tkoh-tokoh nasional Aljazair. Namun, di luar jabatan formal sebagai wakil Negara Republik Indonesia, Asa Bafaqih memiliki nama baik di kalangan masyarakat Islam Aljazair berkat penguasaannya terhadap bahasa Arab dan Perancis.

Kiprahnya sebagai jurnalis, birokrat dan politisi berakhir ketika dia mengembuskan napas terakhir di Solo, Jawa Tengah tepat pada tanggal 13 Desember 1978. Jasadnya dikebumikan di Pemakaman Karet, Jakarta.



Daftar Pustaka:


Imam Azis (et al), Ensiklopedia NU, 2014 (Jakarta: PBNU dan Mata Bangsa)

Saifuddin Zuhri, Kaleidoskop Politik di Indonesia, 1982, (Jakarta: Gunung Agung)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Pahlawan, Doa HMI Tegal Kab

Senin, 04 Desember 2017

Perguruan Tinggi di Indonesia Defisit 15.000 Guru Besar

Tengerang Selatan, HMI Tegal Kab. Masih kurangnya dosen yang sudah mencapai guru besar atau profesor menjadi perhatian serius pemerintah. Hal ini berkaitan dengan peningkatan kualitas kelimuan di kampus dan penelitian beserta publikasinya di jurnal bereputasi nasional dan internasional.

Perguruan Tinggi di Indonesia Defisit 15.000 Guru Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi di Indonesia Defisit 15.000 Guru Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi di Indonesia Defisit 15.000 Guru Besar

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin menjelaskan bahwa saat ini Indonesia membutuhkan 15.000 guru besar untuk mengisi berbagai disiplin ilmu di perguruan tinggi, khususnya profesor bidang pendidikan agama Islam yang masih minim.

Direktorat PAI Kementerian Agama merilis bahwa guru besar PAI di perguruan tinggi umum (PTU) saat ini hanya berjumlah 8 orang. Jumlah tersebut menurut Kamaruddin sangatlah kurang mengingat pelajaran agama saat ini menjadi tonggak penting di tengah arus paham ekstrem.

“Saat ini agama menjadi isu sentral sekaligus tantangan nasional. Butuh dosen berkualitas,” ujar guru besar UIN Alauddin Makassar ini, Senin (29/5) di Bintaro, Kota Tangerang Selatan dalam program pendampingan guru besar bagi dosen PAI di PTU.

HMI Tegal Kab

Kamaruddin menjelaskan perbandingan antara komposisi guru besar di negara maju dan di Indonesia. Rekrutmen guru besar di luar negeri melalui sistem lelang. Di sana, satu program studi (Prodi) di sebuah perguruan tinggi dipimpin oleh satu orang guru besar atau profesor.

“Di Indonesia perbandingan Prodi dan guru besar sangat jauh,” jelas Doktor lulusan Universitas Bonn Jerman ini didampingi Kasubdit PAI pada PTU, Nurul Huda.

Ia menambahkan, di negara maju profesor merupakan representasi program studi. Artinya ada sebuah sosok ilmuwan yang mempunyai otoritas bagi pengembangan ilmu di bidangnya masing-masing yang menjadi tanggung jawab seorang profesor.

HMI Tegal Kab

Kamaruddin menekankan bagi setiap dosen agar terus melakukan penelitian serius di bidang keilmuannya. Karena menurutnya, saat ini seolah para dosen mengalami defisit penelitian sehingga level guru besar sulit dicapai.

 

“Di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, dari 31.055 dosen pada 699 PTKI ternyata yang telah menjadi guru besar hanya 400-an guru besar,” terangnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pesantren, Ulama HMI Tegal Kab

Selasa, 28 November 2017

IPNU-IPPNU Purworejo Galang Bantuan untuk Korban Longsor

Purworejo, HMI Tegal Kab

Hujan deras yang mengguyur Purworejo, Sabtu (18/6) menyebabkan banjir dan puluhan rumah tertimbun tanah longsor di beberapa titik. Sampai saat ini, korban mencapai 44 jiwa yang tersebar di beberapa lokasi, seperti di Desa Karangrejo/Caok, Kecamatan Loano dan Desa Jelok, Kecamatan Kaligesing.

IPNU-IPPNU Purworejo Galang Bantuan untuk Korban Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Purworejo Galang Bantuan untuk Korban Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Purworejo Galang Bantuan untuk Korban Longsor

Korban terbanyak berada di Desa Donoranti, Kecamatan Purworejo dengan jumlah korban mencapai 14 orang, 3 di antaranya sudah dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia dan 11 masih dalam pencarian.

Tim Relawan Corp Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Korps Pelajar Putri (KPP) Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Purworejo terjun langsung ke lokasi bencana di Desa Caok dan Donorati.

HMI Tegal Kab

Menurut Ketua PC IPNU Purworejo Muhammad Hidayatullah, para korban saat ini banyak membutuhkan bantuan. “Yang dibutuhkan saat ini adalah baju layak pakai, obat-obatan, makanan siap saji, minuman, mie instan,” katanya.

HMI Tegal Kab

Ahad siang kemarin, proses evakuasi sempat dihentikan dan dilanjutkan Senin hari ini. Pihak IPNU-IPPNU Purworejo mengaku terus koordinasi dengan BPBD (Badan Penangulangan Bencana Daerah) Kabupaten Purworejo.

Bagi yang ingin memberikan bantuan bisa disalurkan langsung ke Basecamp IPNU-IPPNU di Jalan Sibak No 18 Purworejo atau didonasikan ke nomor rekening: 685701013816534 BRI Unit Tambakrejo a.n. Muhammad Hidayatullah, dengan nomor kontak 085743043220 / 082136165234.

Selain itu, tim relawan IPNU-IPPNU juga melakukan penggalangan donasi melalui situs: kitabisa: https://kitabisa.com/pedulipurworejo. “Bagi yang ingin mendonasikan melalui kita bisa, minimal Rp. 20.000,” ungkap Dayat, sapaan akrabnya, usai mengirimkan bantuan logistik. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Syariah, Ulama HMI Tegal Kab

Senin, 27 November 2017

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab

Jember, HMI Tegal Kab. Para pesilat Pagar Nusa Jember, terus menunjukkan eksistensinya.  Selain aktif melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap pelajar dan santri organisasi pencak silat NU tersebut bersilaturrahim dan Latihan Gabungan (Latgab) di Mayang. 

Kegiatan Senin (24/3) di rumah Ketua Pagar Nusa H. FB. Zamroni tersebut juga dihadiri Ketua DPW Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Timur, H. Faidhul Mannan. 

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab

Selain memantau latihan gabungan, H. Faidol juga berkenan mengukuhkan 75 pelatih Pagar Nusa. "Kami berharap agar anggota Pagar Nusa, bisa bekerja sama dengan berbagai pihak untuk turut serta dalam menjaga keteritiban dan keamanan, termasuk bekerjasama dengan pihak kepolisian," katanya.

HMI Tegal Kab

Dalam kesempatan itu, H. Faidhul juga menyerahkan Surat Keputusan (SK) PSNU Pagar Nusa Jember hasil revisi periode 2012-2017. Di SK tersebut, ketua tetap dipegang oleh H. FB. Zamroni dan sekretaris dijabat oleh H. Ismail Iskandar.

Menurut salah seorang pengurus Pagar Nusa Jember, H. Thoif Zamroni, ke depan pihaknya akan lebih giat lagi untuk memperkenalkan Pagar Nusa ke lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren dan sekolah-sekolah di bawah naungan LP. Maarif. 

HMI Tegal Kab

"Kegiatan pencak silat Pagar Nusa ini, bisa menjadi agenda ekstrakurikuler di pesantren-pesantren. Karena kami dan pesantren itu punya kesamaan visi, yaitu sebagai sokoguru Nahdlatul Ulama," ucap Ketua DPRD Kabupaten Jember itu. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Cerita HMI Tegal Kab

Kamis, 23 November 2017

Bupati Wonosobo Muwadaah dengan Warga NU

Wonosobo, HMI Tegal Kab. Ada yang istimewa pada acara Lailatul Ijtima dan Mujahadah rutin Warga NU Wonosobo, Jawa Tengah yang digelar pada Jumat (2/10) lalu. Acara rutin yang diselenggarakan oleh PCNU Wonosobo setiap Jumat Wage malam tersebut diawali dengan mujahadah yang diimami oleh Habib Ahmad Al-Athas dan dilanjutkan ramah tamah Pengurus Cabang dan warga NU Wonosobo.

Pada kesempatan muwada’ah (ramah tamah) tersebut, Bupati Wonosobo yang memasuki akhir masa jabatannya, Kholiq Arif, menyempatkan diri berpamitan dengan warga NU Wonosobo. Di hadapan warga NU, bupati menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih atas bantuan dan dukungan dari NU.?

Bupati Wonosobo Muwadaah dengan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Wonosobo Muwadaah dengan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Wonosobo Muwadaah dengan Warga NU

"Saya mohon maaf atas kinerja saya selama 10 tahun jika belum bisa bermanfaat penuh bagi NU. Dan saya sangat berterimakasih sekali atas dukungan NU selama ini, sehingga program pemerintah dapat terlaksana dengan baik," ujarnya.

HMI Tegal Kab

Dalam sambutannya, wakil ketua sekaligus pelaksana harian ketua PCNU, H Musofa menyampaikan apresiasi atas kinerja Bupati Wonosobo. "Suasana kondusif dan toleransi masyarakat yang tercipta merupakan prestasi tersendiri, warga NU Wonosobo mengucapkan terima kasih, semoga menjadi amal ibadah tersendiri bagi Pak Kholiq," pungkasnya.

HMI Tegal Kab

Kholiq Arif, adalah bupati yang telah menjabat selama 2 (dua) periode. Latar belakang keluarganya adalah tokoh penggiat NU di Wonosobo. Saat ini dia juga menjabat Ketua PC ISNU Jawa Tengah. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Berita HMI Tegal Kab

Rabu, 22 November 2017

Ansor Sidoarjo Beri Santunan Warga Kurang Mampu

Sidoarjo, HMI Tegal Kab?

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (PAC GP) Ansor Krian Sidoarjo memberikan santunan kepada warga kurang mampu di wilayah Krian Sidoarjo melalui Lembaga Dana Sosial Ansor (LDSA) setempat, Ahad (24/1). Selain memberikan santunan, PAC ? GP Ansor Krian juga mengadakan jalan sehat yang diikuti sekitar 700 peserta.

"Kegiatan ini merupakan awal pra acara dari acara (gebyar shalawat-red) dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan pelantikan PAC GP Ansor Krian masa khidmad 2015-2018," kata Ketua PAC GP Ansor Krian Sidoarjo M ? Azwar Annas.

Ansor Sidoarjo Beri Santunan Warga Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Sidoarjo Beri Santunan Warga Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Sidoarjo Beri Santunan Warga Kurang Mampu

Menurut Annas kegiatan yang diadakan olah Ansor Krian Sidoarjo mendapatkan tanggapan yang sangat baik oleh warga setempat. Bahkan, antusias dan semangat warga yang mengikuti jalan sehat juga luar biasa.?

"Warga kami sudah mengetahui kalau yang membagikan sembako dari GP Ansor Krian. Sehingga warga yang menerimanya juga senang," tambahnya.

Annas berharap melalui momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, pengurus maupun kader Ansor Krian bertambah giat, semangat dalam menjalankan kinerja organisasi. Selain itu, kepengurusan yang ia pimpin menjadi lebih baik lagi.

HMI Tegal Kab

"Melalui momen ini mari kita buat syiar ke masyarakat umum maupun warga Nahdliyin bahwa GP Ansor Krian turut memerhatikan kegiatan sosial masyarakat sekitar. Semoga sahabat-sahabat yang masuk kepengurusan sekarang ini ingat dan mencontoh perjuangan Rasulullah, bisa dijadikan motivasi dalam berorganisasi sehingga waktu membuat program kerja nantinya bermanfaat bagi agama dan masyarakat," ujarnya. (Moh Kholidun/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Ulama, Pahlawan HMI Tegal Kab

Rabu, 08 November 2017

Aqiqah Bayi Lelaki dengan 1 Ekor Kambing?

Kalau ada penduduk baru keluar dari rahim seorang perempuan, otomatis orang tuanya disunahkan menyembelih kambing. Tentu saja sebelum aqiqah orang tua akan bersyukur lebih dahulu. Tetapi perihal berapa jumlah kambing yang mesti diaqiqahkan dan berapa kali aqiqah harus diadakan, bisa dibicarakan lebih lanjut tergantung keadaan.

Muhammad bin Qasim dalam karyanya Fathul Qarib menyebutkan, aqiqah disunahkan kembali bagi orang tua seiring dengan kelahiran anak berikutnya.

Aqiqah Bayi Lelaki dengan 1 Ekor Kambing? (Sumber Gambar : Nu Online)
Aqiqah Bayi Lelaki dengan 1 Ekor Kambing? (Sumber Gambar : Nu Online)

Aqiqah Bayi Lelaki dengan 1 Ekor Kambing?

? ? ? ?

Untuk bayi perempuan, lazim disunahkan menyembelih seekor kambing. Sementara aqiqah bayi laki-laki disunahkan menyembelih dua ekor. Jumlah ini menjadi ketentuan. Tetapi kalau keadaan mendesak, aqiqah dengan seekor kambing untuk anak laki-laki bisa mungkin. Tidak mesti dua ekor.

HMI Tegal Kab

Jangan sampai keadaan seperti keterbatasan kemampuan atau kendala lainnya menghalangi orang tua untuk mengamalkan sunah aqiqah. Syekh Nawawi Banten dalam Hasyiyah Fathil Qarib yang lebih dikenal Tausyih ala Ibni Qasim mengatakan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

HMI Tegal Kab

Artinya, orang tua sudah terhitung mengamalkan sunah aqiqah bagi anak laki-lakinya kendati menyembelih hanya seekor kambing. Pasalnya, Rasulullah SAW sendiri mengaqiqahkan dua cucunya Hasan dan Husein dengan dua ekor domba. Masing-masing satu ekor.

Perihal jumlah aqiqah ini Syekh Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi angkat bicara dalam karyanya, Hasyiyatus Syarqawi ala Tuhfatit Thullab sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sebenarnya satu ekor kambing menjadi batas minimal aqiqah untuk bayi lelaki dan bayi perempuan. Sementara dua ekor kambing merupakan batas minimal kesempurnaan aqiqah untuk bayi laki-laki. Agama sendiri tidak membatasi jumlah kambing untuk kesempurnaan aqiqah.

Dengan kata lain, agama hanya menyebutkan jumlah minimal. Sementara jumlah maksimalnya tidak ada pembatasan. Artinya silakan saja menyembelih berapa ekor kambing untuk bayi laki-laki atau bayi perempuan sesuai kemampuan si orang tua.

Gampangannya, dua ekor kambing buat bayi laki-laki, aqiqah sempurna di garis minimal. Satu ekor saja, aqiqah terbilang cukup tanpa sempurna. Seberapa banyak kambing aqiqah sesuai kemampuan, terhitung sempurna. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Olahraga, Ulama, Doa HMI Tegal Kab

Selasa, 31 Oktober 2017

Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto

Mojokerto. HMI Tegal Kab. Adam  terpilih menjadi Ketua Umum PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Mojokerto Masa Khidmat 2013-2014 pada Konferensi Cabang (Konfercab) PMII Kota Mojokerto X di Gedung Praja Wijaya Mojokerto, Sabtu (5/01/12).

Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto (Sumber Gambar : Nu Online)
Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto (Sumber Gambar : Nu Online)

Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto

Forum tertinggi tingkat Cabang ini berlangsung dua hari yakni Kamis-Jum’at (04-05). Acara ini dibuka oleh Majelis Pembina Cabang PMII Kota Mojokerto. Setelah proses permusyawatan dan tatip pemilihan ditetapkan kemudian muncul nama Adam Faizal Farid Said asal komisariat STIT Raden Wijaya yang kemudian didukung oleh tiga komisariat yaitu: STIT Raden Wijaya, UNIM  dan STAI Uluwiyah maka secara aklamasi sahabat adam sebagai ketua umum terpilih untuk periode 2013-2014.

Ketika dikonfirmasi HMI Tegal Kab Adam mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut mensukseskan sebagai ketua Umum terpilih untuk periode 2013-2014. 

HMI Tegal Kab

“Kami ucapkan terimaksih kepada semua pihak yang ikut serta mendukung saya untuk memimpin PMII kota Mojokerto untuk lebih baik,” katanya.

Pria yang juga pernah menjabat Ketua I PC PMII Kota Mojokerto ini menyatakan bahwa Grand Tema untuk periode ke depan adalah kaderisasi sesuai dengan kearifan lokal. Karena kaderisasi dari PB PMII dan PKC PMII Jatim belum tentu langsung bisa di aplikasikan di tingkatan lokal.

HMI Tegal Kab

“Adapun grand tema untuk periode yang saya pimpin nanti adalah kaderisasi dengan disesuaikan kearifan lokal karena sistem kaderisasi non-formal dan informal dari PB PMII dan PKC PMII Jatim belum tentu bisa di aplikasikan di daerah.” Terangnya.

Menanggapi tentang dinamika organisasi kedepan untuk bisa solid Adam berjanji untuk mengakomodir semua pihak yang nantinya akan ikut dalam pengembangan PMII lebih baik ke depannya. 

“Saya berjanji akan mengakomodir semua pihak untuk kami ajak bicara dan memajukan PMII kota mojokerto lebih baik,” pungkasnya.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Anang Romli

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama HMI Tegal Kab

Jumat, 27 Oktober 2017

Sikapi Pernyataan Ahok, Ketum PBNU: Tak Boleh Emosional!

Jakarta, HMI Tegal Kab - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menyayangkan keluarnya pernyataan sikap dan rekomendasi sejumlah pihak perihal pernyataan kontroversial Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahya Purnama, termasuk surat pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang ia nilai cenderung emosional.

“Semestinya kita sikapi pernyataan kontroversial itu dengan kepala dingin dan bijak,” kata Kang Said di Jakarta, Rabu (12/10) pagi.

Sikapi Pernyataan Ahok, Ketum PBNU: Tak Boleh Emosional! (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikapi Pernyataan Ahok, Ketum PBNU: Tak Boleh Emosional! (Sumber Gambar : Nu Online)

Sikapi Pernyataan Ahok, Ketum PBNU: Tak Boleh Emosional!

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini mengatakan, siapapun bisa mengalami sabqul lisan, keseleo lidah. Tetapi kalau yang bersangkutan sudah meminta maaf di tengah publik dan menyatakan bahwa pernyataan itu tidak lahir dari kesengajaan dan tidak bermaksud melecehkan Al-Quran, kita harus memaafkannya.

HMI Tegal Kab

“Kalau ia mengakui bahwa pernyataan itu tidak disengaja dan tidak direncanakan, ya kita terima. Kita hanya mengetahui lahiriahnya. Masak kita mau belah hatinya untuk mengetahui batinnya? Saya memaafkan,” kata Kang Said.

HMI Tegal Kab

Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini mengatakan, umat Islam wajar tersinggung atas pernyataan Ahok. Karena apalagi Jakarta yang terkenal dengan para kiai dan habaibnya dipimpin oleh seorang gubernur non-Muslim.

“Ahok salah. Kita tahu bicaranya meledak-ledak dan sulit terkontrol. Tetapi kita harus memaafkannya. Allah menerima kalau hamba-Nya yang berdosa bertobat,” jelas Kang Said.

Ia juga menyebut hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa kita hanya memutuskan berdasarkan lahiriah, bukan batinnya.

Ia juga mengoreksi etika komunikasi Ahok. Menurutnya, siapapun harus santun dalam berkomunikasi. Kalau non-Muslim bersikap santun, pasti mendapat simpatik. Siapapun di Indonesia ini harus menjaga lisan dan saling menghargai satu sama lain.

“Saya tidak bela Ahok. Kalau ada masalah, kita selesaikan dengan dialog. Tidak perlu jalur formal dengan tuntutan hukum,” tandas Kang Said. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Meme Islam, Ulama HMI Tegal Kab

Senin, 25 September 2017

Ansor itu Penolong, Jangan Lemah

Brebes, HMI Tegal Kab. Gerakan Pemuda (GP) Ansor harus memiliki kekuatan dengan memberdayakan berbagai potensi yang dimiliki. Hal tersebut sebagai bekal untuk menolong sesama, sebagaimana misi utama Ansor sebagai penolong.



Ansor itu Penolong, Jangan Lemah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor itu Penolong, Jangan Lemah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor itu Penolong, Jangan Lemah

Pemberdayaan tersebut meliputi pemberdayaan organisasi, administrasi, ekonomi, dan ketrampilan, serta pengkaderan.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Drs Jabir Al Faruqi saat konsolidasi GP Ansor Kabupaten Brebes di Gedung NU Jalan Yos Sudarso 36 Brebes, Ahad (3/2).

HMI Tegal Kab

Pergerakan yang perlu dilakukan diawali dengan pemberdayaan ekonomi, sebagai dasar untuk menguatkan organisasi dan kemandirian yang tinggi. Berkaca pada peristiwa sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU) ? yang tidak bergantung pada penjajah.?

HMI Tegal Kab

“NU mengawali pergerakannya dengan mendirikan Nahdlatul Tujar, yang bergerak di bidang ekonomi,” terang Jabir.

Atas perkumpulan para sodagar pada saat itu, menjadikan NU kuat dan tidak bergantung dengan penjajah. “Nah, Ansor pun harus menapakan langkahnya dengan penguatan ekonomi, dengan mendirikan Koperasi,” ajaknya.

Pendirian Koperasi, lanjut Jabir, merupakan keniscayaan yang harus dilakukan oleh Pimpinan Cabang (PC). Bila serius mendirikan Koperasi, maka akan diberi stimulan modal awal dari PW sebesar Rp 150 Juta.?

Perlu diperhatikan, kata dia, mendirikan Koperasi Ansor bukan dimiliki oleh segelintir orang Ansor. Tetapi Koperasi tersebut dimiliki oleh organisasi. ? Ansor juga harus berani berebut masa depan, dengan menyiapkan kader. Termasuk menyiapkan pemimpin masa depan. “Kalau pengkaderannya lemah, bagaimana akan bisa menggolkan pemimpin kalau tidak di kader dari awal?” tandas Jabir.

Sementara Ketua PC Ansor Brebes Agus Mudrik Khaelani Al Hafidz menyatakan, organisasinya komit menjadi penolong. Termasuk dalam pembangunan daerah dengan menguatkan anggotanya diberbagai lini. ?

Kegiatan konsolidasi diikuti oleh jajaran pengurus PC dan ? Pimpinan Anak Cabang (PAC) se Kabupaten Brebes. ?

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Wasdiun?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Warta, Ulama HMI Tegal Kab

Minggu, 17 September 2017

Ulama Maroko Jelaskan Akibat Memahami Islam dengan Nafsu

Indramayu, HMI Tegal Kab 



Akademisi sufi internasional dari Fakultas Syariah Universitas Al-Qurawiyin Maroko, tiga minggu melakukan safari dakwah di sejumlah pondok pesantren dan universitas di Indonesia. Puncak safari tersebut menggelar "Diskusi Kebangsaan" di Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu Jawa Barat, Jumat (18/7).

Pada kesempatan itu, Presiden Akademi Sufi Internasional Syekh Dr Aziz al-Kubaity mengatakan, ilmu pengetahuan tanpa dibarengi dengan pemahaman tasswuf yang benar, akan bisa melahirkan radikalisme atau terorisme atas nama Islam.`

Ulama Maroko Jelaskan Akibat Memahami Islam dengan Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Maroko Jelaskan Akibat Memahami Islam dengan Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Maroko Jelaskan Akibat Memahami Islam dengan Nafsu

Maraknya perseteruan atas nama agama, lanjut Syekh Aziz, akibat memamahi agama Islam dengan hawa nafsu, tanpa disertai dengan tazkiyah atau penjernihan hati sebagai salah satu inti ajaran tasawuf. Akibatnya sering menyalahkan sesama Muslim dan mengklaim diri dan golongannya yang paling benar.

Dalam sejarah-sejarah Islam di dunia mencatat, para sufi dengan ajaran tasawufnya, mengedepankan etika bukan hanya dalam beragama, tapi juga dalam berbangsa dan bernegara, bahkan sejak ratusan abad silam, di negara mana pun. 

“Setiap ada konflik, para ulama tasawuflah yang berperan menggagas perdamaian konflik atas nama agama, karena ajaran tasawuf adalam mengedepankan kedamaian semesta, dengan mencampakkan kekerasan baik personal maupun golongan," ujar pria yang meraih dua doktor dari Universitas Oxford dan Universitas di Maroko itu.

HMI Tegal Kab

 

Hadir dalam kesempatan tersebut sejumlah tokoh masyarakat, kiai, dan pejabat. Serta para santri yang mengaunkan salawat saat menyambut kedatangan rombongan ulama Maroko tersebut.

Syeikh Aziz al-Kubaety sendiri, setiap tiga tahun sekali, menggelar Konferensi Sufi Internasional dengan peserta delegasi dari puluhan negara Islam. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Ulama, Tokoh, Khutbah HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock