Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru

Semarang, HMI Tegal Kab. Sebanyak 15 Madrasah Tsanawiyah di Semarang, Jawa Tengah, yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif Nadhaltul Ulama mengikuti pelatihan instruktur kurikulum 2013, 18-20 September 2014.

Kegiatan yang digelar di MTs Al Uswah? Bergas, Semarang, ini dimaksudkan untuk mempersiapkan para guru menghadapi kurikulum 2013 yang direncanakan pemerintah serentak diterapkan pada 2014.

15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru

KKM MTs Ma’arif Kabupaten Semarang menyelenggarakan pelatihan instruktur kurikulum 2013 dengan menghadirkan pemateri dari Balai Diklat Keagamaan Semarang, antara lain Agus Mujiono, Bisri Musthofa, dan H. Suyatno.

HMI Tegal Kab

Ketua LP Ma’arif Kabupaten Semarang Moch Solichin menyambut baik kegiatan ini. Ia berharap pelatihan dapat mengatarkan guru untuk lebih siap dalam menghadapi kurikulum? 2013. Menurutnya, madrasah-madrasah di lingkungan Ma’arif Kabupaten Semarang mesti mendapatkan pelatihan kurikulum baru ini secara menyeluruh.

HMI Tegal Kab

Secara resmi kegiatan tersebut dibuka Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Semarang Subadi. Kemenag Semarang menyatakan dukungan penuh pelatihan yang digelar secara mandiri ini. Subadi yang juga memberikan materi “Penguatan Kebijakan Kementrian Agama dalam Implementasi Kurikulum 2013” mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk perhatian yang konkret pada kemajuan pendidikan khususnya madrasah.

Menurut Ketua KKM MTs Ma’arif Isro’i, pelatihan instruktur kurikulum 2013 diprogramkan dalam enam angkatan. Angkatan pertama untuk guru Quran-Hadits dan Aqidah-Akhlak, dan angkatan kedua untuk guru Fiqih dan SKI yang dilaksanakan di MTs Al Uswah Bergas. Angkatan ketiga dan keempat untuk guru mata pelajaran umum di MTs NU Ungaran dan angkatan kelima keenam untuk guru bahasa direncanakan menempati aula MTs Darul Ma’arif Pringapus. (Suharsini/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Humor Islam HMI Tegal Kab

Selasa, 06 Februari 2018

Lebanon Sediakan 10-50 Beasiswa untuk Kader NU

Jakarta, HMI Tegal Kab. Peluang menimba ilmu bagi para kader NU kini semakin terbuka lebar. Kali ini kesempatan beasiswa datang dari Lebanon yang menyediakan kuota 10-50 orang untuk belajar di Global University Lebanon.

Tawaran ini disampaikan oleh Sheikh Dr. Tarek Muhammad Nageeb Al lahman dalam kunjungannya ke PBNU yang diterima oleh KH Hasyim Muzadi, Rabu (26/3).

Lebanon Sediakan 10-50 Beasiswa untuk Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebanon Sediakan 10-50 Beasiswa untuk Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebanon Sediakan 10-50 Beasiswa untuk Kader NU

“Jumlah yang berangkat nanti tergantung kemampuan calon mahasiswa dan kemampuan PBNU membantu,” kata Hasyim.

Sebelumnya PBNU telah mengirimkan mahasiswa ke Sudan, Libya, Marokko dan negara Timur Tengah lainnya untuk meningkatkan SDM di lingkungan NU.

Kiai Hasyim juga menuturkan Dr. Tarek yang juga menjadi guru tarekat ini akan mengirimkan buku-buku perbandingan ajaran ahlusunnah wal jamaah, tetapi dengan perbandingan terhadap Syiah, Hizabut Tahrir atau ajaran lainnya.

“Ini sangat penting buat kita sekarang ini dalam menghadapi tantangan-tantangan baru,” ujarnya.

HMI Tegal Kab

Kebutuhan buku ini semakin mendesak dengan kembali dipertanyakannya amalan-amalan yang selama ini dilakukan oleh warga NU akibat masuknya jaringan Islam trans nasional ke Indonesia dengan ajaran-ajaran yang berbeda.

Pertentangan terbaru terjadi di Jawa Timur dengan terbitnya buku Mantan Kiai NU Menggugat yang dikarang oleh Mahrus Ali yang menganggap amalan-amalan yang dijalankan nahdliyyin syirik dan bid’ah. Meskipun sudah dibuat buku tandingan, hal ini menunjukkan memanasnya hubungan diantara golongan umat Islam. (mkf)



HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Humor Islam HMI Tegal Kab

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Magetan, HMI Tegal Kab. Kiai Sholikhin menjelaskan, kenduri tahlilan yang biasa dilakukan masyarakat pada hakikatnya adalah dzikir kepada Allah SWT. Dalam Al-Quran dzikir diperintahkkan melalui ayat “fadzkurullaha dzikron kasira”(perbanyaklah dzikir kepada Allah).

Ia menambahkan, dalam tahlilan juga ada bacaan tasbih yang diperintahkan Al-Quran pada ayat “fasabihu bukrota waashila”. Juga shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta bacaan lain yang diperintahkan dalam Al Qur’an.

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Meski demikian, Kiai Sholikhin menganjurkan agar warga masyarakat, khususnya orang NU juga harus menyadari imbauan secara langsung tentang tahlilan di dalam Al Qur’an tidak ada. ”Tidak ada ayat yang mengimbau secara langsung untuk tahlilan misal yaayuhaladzina amanu hallilu tahlillan, tidak ada,” tegasnya pada pengajian di halaman kator PCNU Magetan, Ahad (8/6).

HMI Tegal Kab

Kemudian ia menukil perkataan kiai Mukhtar Syafa’at Blok Agung Banyuwangi yang mengumpamakan tahlilan dan Al Qur’an itu seperti wedang jahe dan air sumur.

HMI Tegal Kab

“Kulo nante mireng dawuhe almaghfurlah kiai Mukhtar Syafa’at nyontoheke sing cocok antarane Al Qur’an karo tahlilan iku koyok banyu sumur karo wedang jahe. Wedang jahe itu tahlilan, Al Qur’an itu air sumur.”

Kiai asal Surabaya tersebut menjelaskan maksud perkataannya, “jika kamu hendak mencari wedang jahe di sumur maka tak akan ketemu sampai kapan pun, tapi sadarilah bahwa wedang jahe ini airnya berasal dari air sumur.”

Hal ini, tambah dia, sama ketika mencari perintah tahlilan di dalam Al Qur’an, maka tidak akan ketemu, namun harus diketahui bahwa isi bacaan tahlilan itu berasal dari perintah Al Qur’an. (?Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Pesantren, Humor Islam HMI Tegal Kab

Kamis, 01 Februari 2018

Ansor di Era Perang Media

Oleh M. Fathoni Mahsun



Akhir-akhir ini, sampai pada harlahnya ? yang ke-83, Gerakan Pemuda Ansor menjadi media darling, mulai dari tingkat Pengurus Pusat (PP) yang berada di Jakarta sampai yan tingkat Pengurus Anak Cabang (PAC) yang berada di kecamatan-kecamatan. Obyek masalahnya berkisar pada Pilkada, isu kebangsaan dan konfrontasi dengan kelompok-kelompok radikal. Tentu hal tersebut menjadi isu yang ngeri-ngeri sedap, di tengah-tengah kondisi perang media yang terjadi setiap hari.

Ansor di Era Perang Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor di Era Perang Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor di Era Perang Media

Kita masih ingat dengan peristiwa yang terjadi di Gedangan Sidoarjo (4/3/2017), dimana Ansor setempat bereaksi dengan kehadirian Khalid Basalama, yang diagendakan mengisi pengajian di Masjid Salahuddin perumahan Puri. Khalid Basalama dipandang sering menyampaikan pengajian-pengajian yang mengumbar kebencian ini, tidak dikehendaki Ansor setempat. Setelah koordinasi dengan Kapolres dan penyelenggara, akhirnya Basalama diganti dengan ustad lain.

Namun berita yang berkembang sebaliknya, Ansor melakukan pembubaran pengajian. Padahal pengajian ketika itu masih berlanjut dengan ustadz pengganti. Namun berita ? pembubaran ini sudah kadung menyebar kemana-mana. Sampai-sampai Mahfud MD pun ikut-ikut bereaksi. Pada kondisi demikian, berita tidak hanya tersebar melalui media-media mainstream, tapi juga melalui media-media sosail, seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, dan lain-lain. Skemanya biasanya, apa yang tayang di media mainstream kemudian menjadi berita viral di medsos dengan aneka bumbu, sehingga menggelinding bak bola salju. Walhasil kader Ansor sendiri sering kali kabur melihat permasalahan yang terjadi.?

Pilkada Jakarta yang baru saja usai menjadi bukti, dimana secara mengejutkan bahtsul masail Ansor yang dilaksanakan pada ? (11-12/3/2017), mengeluarkan keputusan mengenai bolehnya pemimpin non-Muslim. Respon keras segera menyeruak, baik yang datang dari kelompok yang selama ini dikenal berseberangan dengan Ansor, maupun dari kalangan NU sendiri. Dalam konteks Pilkada DKI putaran kedua, keputusan tersebut jelas membangun opini publik bahwa Ansor mendukung incumbent. Suasana seketika menjadi panas, tidak bisa dibayangkan bagaimana ramainya media-media sosial, yang mengiringi gemuruhnya media-media mainstream.?

Menyikapi kesimpang-siuran yang terjadi dari hasil bahtsul masail, Pengurus Pusat Ansor akhirnya harus turun gunung untuk menjelaskan pada kalangan grassroot. Untuk membendung bola liar yang sedang menggelinding, agar kader-kader Ansor di daerah-daerah tahu apa sebenarnya yang terjadi. Gus Latif Malik, salah satu tim yang menandatangani hasil bahtsul masail tersebut, dalam forum Rijalul Ansor PAC Ansor Jombang Kota menjelaskan, Ansor tidak pernah memberikan dukungan pada pemimpin non-Muslim. Karena di Al-Qur’an memang sudah jelas larangan tersebut.?

HMI Tegal Kab

Namun manakala isu agama dipolitisir sedemikian rupa sehingga memicu potensi konflik, maka Ansor harus bertindak. Dalam hal ini Ansor berusaha menunjukkan konsistensinya menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. “Jangan sampai isu agama yang dipolitisir sedemikian rupa, sebagaimana yang dilakukan DI/TII terulang kembali. Sabab kalau itu terjadi maka yang dihadapai adalah negara melalu aparat kemanannya, baik TNI maupun Polri.” Gus Latif juga mengingatkan, dengan kelompok-kelompok Islam yang berhaluan keras tersebut, kita masih bersaudara. Sebagai saudara kalau mereka melakukan hal yang membahayakan, maka harus kita ingatkan sebelum diingatkan oleh orang lain.

Kita mengenal prinsip ? cover both side di dunia jurnalistik, yaitu pemberitaan yang berimbang. Dalam berita-berita konfliktatif, prinsip cover both side ini harus dipegang kuat-kuat, dengan wujud mengkonfirmasi dua pihak yang berseberangan. Sebab kalau hanya diambil salah satu pihak saja, maka akan dianggap sebagai berita yang tidak berimbang.?

Penerapan prinsip cover both side ini dalam pengamatan saya menjadi kacamata yang cukup efisien dalam membaca berita. Kalau berita hanya mengeksplor pendapat satu pihak, maka segera saja putuskan: ini berita sampah. Prinsip ini juga biasanya cukup ampuh membedakan bahwa berita yang sedang beredar dibuat media profesional, atau ? media tendensius.

HMI Tegal Kab

Beberapa pihak akhirnya mengkodifikasi mana media-media yang berpihak kepada “kita”, dan mana media-media yang berada di pihak “mereka”. Hal ini dimaksudkan agar Nahdliyin mudah mengidentifikasi sumber berita mana saja yang boleh dikonsumsi, dan sumber berita mana yang tidak boleh dikonsumsi. Tentunya media yang dimaksud bukanlah meda-media mainstream yang sudah akrab di kalangan publik.

Maka, aksi konkritnya adalah dengan membuat daftar media-media yang berseberangan dengan ? Aswaja. Lalu daftar tersebut di share ke grup-grup media sosial. Saya mengapresiasi usaha demikian, namun apakah usaha ini sudah cukup? Menurut hemat saya agar masyarakat Nahdliyin, wabil khusus Ansor bisa cerdas memamah berita, harus melengkapi diri dengan kacamata cover both side sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Sebab untuk menghafal list media “terlarang” yang ternyata cukup banyak, tidak lah mudah.

Pasca kedatangan Basalama di Gedangan Sidoarjo, Ansor Jawa Timur mendapat PR lagi dengan kedatangan Habib Riziq, yang diagendakan mengisi pengajian di masjid Ampel Surabaya pada (14//4/2017). Ansor Surabaya kali ini yang terpanggil, sebagaimana banyak elemen masyarakat Surabaya lainnya, yang tidak menginginkan Habib Rizieq mengusik kedaimaian dan kerukunan masyarakat Jawa Timur.

Sebagai yang punya wilayah, Ansor Surabaya mempunyai kewajiban moral untuk bersikap. Namun, pengalaman Ansor Sidoarjo nampaknya menjadi catatan penting. Sehingga agar tidak menjadi korban bully, Ansor Surabaya tidak sampai menurunkan massa, mereka hanya berstatemen di media. Tapi kenyataannya, mucul juga berita dengan judul “Berulah Lagi, Ansor Surabaya Mau Gagalkan Pengajian Habib Rizieq di Masjid Ampel” ? di http://publik-news.com. Kehadiran Habib Rizieq ini hampir saja luput dari perhatian, karena seluruh elemen NU Jawa Timur ketika itu baru saja mempunyai gawe besar berupa Istighotsah Kubro pada (9/4/2017).

Pola gerakan yang memanfaatkan kelengahan warga Nahdliyin ini terulang kembali, kali ini terjadi di Jombang. Setelah Ansor dan Banser masih kelelahan seusai mengawal Konfercab PCNU Jombang pada (21-23/4/2017), secara mengjutkan tiba-tiba terdengar kabar ada unjuk rasa HTI di dekat RSNU Jombang. Unjuk rasa itu terjadi ketika beberapa anggota Ansor dan Banser masih terlelap, setelah beberapa jam sebelumnya begadang sampai dini hari.

Masihkah para kader Ansor tidak merasa bahwa saat ? ini kita sedang berada pada era perang media? Pilihannya adalah bermedsos sebagaimana biasa, atau ambil bagian menjadi pasukan perang Ansor yang saat ini sudah mulai dibentuk. Kalau pilihan kedua yang diambil maka pertama, wajib hukumnya kader Ansor mempunyai Twitter, karena saat ini popularitas berita banyak dipengaruhi oleh trending topik Twitter. Tidak zamannya lagi kader Ansor tidak punya account Twitter, sebab kalau ada undangan nge-twit tidak bisa ikut berperan mendongkrak isu yang sedang diusung. Kedua, kemampuan ber-Facebook tidak cukup hanya dengan update status, tapi juga harus bisa melaporkan account-account penyebar hoax dan berita ujaran kebencian agar segera diblokir oleh Facebook. Tiga, kader Ansor tidak cukup mengkonsumsi meme, tapi juga harus bisa memproduksi meme.?

Sederhana sebenarnya.

Penulis adalah kader Ansor Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Humor Islam HMI Tegal Kab

Jumat, 26 Januari 2018

Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan

Demak, HMI Tegal Kab

Pimpinan anak canang (PAC) IPNU-IPPNU Mranggen, Demak, Jawa Tengah akan menggelar seminar pelajar pada Minggu (14/5) mendatang di Aula Yayasan Pondok Pesantren Al Ghozali Kebonbatur Mranggen asuhan KH Zaini Mawardi.

Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan

Seminar yang pesertanya dari pelajar Madrasah Aliyah, SMA dan SMK se-Kecamatan Mranggen tersebut mengangkat tema "Buka-bukaan Pendidikan" dengan narasumber yang akan dihadirkan diantaranya KH Ali Mahsun, Rais Syuriah MWCNU Mranggen, dan Hariyadi, pengawas pendidikan dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kecamatan Mranggen.

"Dalam seminar nanti akan mengundang seluruh pelajar Madrasah Aliyah dan SMA se-Kecamatan Mranggen serta Muspika," ujar Shofhal Jamil, ketua panitia, kepada HMI Tegal Kab (2/5).

Dalam seminar nanti, lanjut Jamil, akan membahas mengenai seluk-beluk pendidikan yang ada di Kecamatan Mranggen, sehingga hasil dari seminar setiap elemen pendidikan diharapkan bisa berubah menjadi lebih baik.

HMI Tegal Kab

"Dalam pandangan masyarakat, pendidikan sekarang hanya menjadi acuan untuk mencari kerja seusai mengenyam pendidikan, terutama formal," ucap Jamil.

Jamil menambahkan, bahwa sistem pendidikan saat ini sudah jauh keluar dari esensi pendidikan itu sendiri. Sehingga, nilai-nilai moral pendidikan tak jarang menjadi terabaikan. Tujuan utama pendidikan sebagai upaya menambah pengetahuan pun menjadi buram karena yang menjadi acuan hanyalah bagaimana pelajar mendapatkan pekerjaan setelah selesai mengenyam pendidikan formal.

"Dengan tema tersebut, kami mencoba merubah mindset masyarakat antara pendidikan dan kerja. Selain itu, sistem pendidikan sendiri sampai saat ini dirasa masih belum relevan. Sehingga, muncul solusi cemerlang dari seminar itu," imbuh Jamil.

HMI Tegal Kab

Sementara itu Syaefuddin Ahmad, Ketua IPNU PAC Mranggen mengungkapkan, bahwa seminar yang akan digelar nantinya, merupakan seminar yang ketiga kalinya. "Seminar pertama kami membahas mengenai pendidikan moral, seminar kedua membahas bahaya narkoba, hal itu kami laksanakan sebagai upaya membekali pelajar," ujar dia.

Ia menambahkan, bahwa IPNU-IPPNU Mranggen sangat konsen dalam mengusung kualitas kader dari sisi keaswajaan maupun intelektual. Dengan harapan sebagai kader pelajar NU, outputnya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. "Salah satu meningkatkan kualitas kader. Kami gelar seminar dan diskusi-diskusi kontemporer," pungkasnya. (A. Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pendidikan, Humor Islam, Olahraga HMI Tegal Kab

Minggu, 21 Januari 2018

Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji

Surabaya, HMI Tegal Kab. Jelang Kongres PMII ke-XVIII pada 30 Mei hingga 5 Juni mendatang di Jambi, sejumlah kandidat ketua umum akan diuji terlebih dahulu perihal pemikiran dan kapasitas. Komunitas Pondok Budaya IKON Surabaya berencana menggelar “Forum Rembuk Sahabat” bersama para kandidat di Coffe Toffe JX Internasional, Surabaya, Jumat (16/5).

Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji

"Selain menghadirkan kandidat Ketua PMII, juga akan menghadirkan sejumlah Ketua Ikatan Keluarga Alumni PMII Jatim, akademisi, dan pengurus NU Jatim sebagai panelis," kata Sekretaris Eksekutif Pondok Budaya IKON Surabaya Abdul Hady JM kepada HMI Tegal Kab, Senin, (12/5). 

Berdasarkan informasi yang beredar, tidak sedikit kandidat ketua PMII berasal dari Jawa Timur. "Ternyata banyak kandidat potensial berasal dari Jawa Timur yang akan maju memperebutkan jabatan ketua umum," kata Abdul Hady.

HMI Tegal Kab

Karenanya, kami terpanggil untuk mengorbitkan mereka sekaligus untuk mencermati proyeksi mereka bila nantinya terpilih, lanjut Hady. Prinsipnya, Forum Rembuk Sahabat menjadi ajang mengomunikasikan pikiran, gagasan, visi dan misi dari kandidat agar dapat diketahui khalayak, khususnya bagi mereka yang memiliki hak pilih saat kongres.

HMI Tegal Kab

Selama ini tampak sejumlah nama kandidat yang diperkirakan akan meramaikan bursa ketua umum. Mereka antara lain Mukaffi Makki (Surabaya), Zaini Mustaqim (Kota Malang), Abdul Aziz (Jombang), Deny Mahmud Fauzi (Surabaya), Arif Taufiqurrahman (Jombang), Abidurrahman (Tulungagung), Erfandi Efendi (Bangkalan), Heri Kristianto (Jember), dan Iwan Adi Kusuma (Tulungagung).

kandidat nantinya akan diuji kemampuan dan komitmennya oleh tiga panelis. Mereka ialah Ketua IKA PMII Jatim RPA Mujahid Anshori, Mantan Rektor Unitomo Ulul Albab, dan Sekretaris PWNU Jatim Muzakki.

"Alhamdulillan sejumlah kandidat telah mengkonfirmasi dan bersedia untuk hadir pada kegiatan ini, demikian juga para panelis," kata sekretaris panitia RPA Faqih Zamany. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa, Humor Islam, Pahlawan HMI Tegal Kab

Kamis, 04 Januari 2018

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Dalam kitab suci Al-Quran, istilah pelecehan agama memang tidak ada. Namun dalam konteks yang sama, ada istilah-istilah tertentu yang bisa dipahami sebagai padanan dari pelecehan. Adapun bahaya tindakan melecehkan itu bukan cuma mengancam mereka yang melecehkan, namun juga merugikan objek, pihak, atau orang yang dilecehkan.

Dalam buku ini, Imanuddin dan Zaenal mengidentifikasi adanya tiga kata atau istilah dalam Al-Quran yang bisa dipadankan dengan kata pelecehan. Tiga kata itu bukan cuma berkaitan dengan ajaran agama Islam secara langsung. Namun juga kisah-kisah dari berbagai zaman yang mengeksplorasi tindakan pelecehan berikut bahaya dan bencana yang mengiringinya.

Ketiga kata itu meliputi Huzuw, Laib, dan Sakhira (hlm.71). Kata Huzuw bisa dipadankan dengan kata mengolok-olok. Namun bisa juga diartikan sebagai gurauan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dengan tujuan melecehkan.

Kata Laib bisa diartikan dengan kata bermain atau bermain-main. Namun dalam konteks pelecehan, kata ini bisa diartikan segala aktifitas yang dilakukan bukan pada tempatnya atau untuk tujuan yang tidak benar. Sementara Sakhira adalah mengejek ? (hlm.78-86). Yaitu, menjadikan suatu agama berikut ajaran dan pemeluknya sebagai bahan ejekan yang berorientasi merendahkan atau meremehkan.

Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Bentuk-bentuk pelecehan agama memang banyak ragamnya. Ada pelecehan yang dinyatakan secara verbal, ada pula yang non-verbal. Pelecehan yang berbentuk verbal, cenderung mudah diketahui oleh pihak yang menjadi korban pelecehan secara langsung. Namun tidak demikian pada pelecehan berbentuk non-verbal. Terkadang, malah pihak atau orang ketigalah yang justru mengetahui lebih dahulu adanya tindak pelecehan agama.

Buku ini bukan hanya menyajikan bahasan seputar pelecehan agama secara langsung. Namun juga membahas pelecehan agama yang bermula dari pelecehan terhadap ajaran, pemeluk, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan suatu agama. Karena buku ini berangkat dari wawasan Al-Quran, maka secara tidak langsung, buku ini menitik-tekankan bahasan pada larangan keras bagi umat Islam yang ingin melecehkan agama Islam maupun agama lain.

HMI Tegal Kab

Sebagai bangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat berbagai pemeluk agama dan keyakinan, sudah semestinya bagi kita untuk tetap saling menghormati dan tenggang-rasa. Khususnya seputar keberagamaan dan keberagaman. Sebab dengan menahan diri dan minat dari melecehkan agama lain, kedamaian akan mudah terbentuk dan terjaga dengan sendirinya. Selanjutnya, kita bisa beribadah dengan tenang dan nyaman sesuai agama dan keyakinan masing-masing.?





Info Buku

Judul ? ? ? ? ? ? ? : Jangan Nodai Agama: Wawasan Al-Quran tentang Pelecehan Agama

HMI Tegal Kab

Penulis ? ? ? ? ? : Imanuddin bin Syamsuri, Lc. MA dan M. Zaenal Arifin, MA

Penerbit ? ? ? ? : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Cetakan ? ? ? ? : I (pertama), 2015

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : xviii+190 halaman

ISBN ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-229-457-3





Peresensi

Muhammad Ghannoe

Aktif di komunitas Nandha, Bantul.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Humor Islam, Aswaja HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock