Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Mempertahankan Capaian Ramadhan Lebih Sulit Dibanding Meraihnya

Jember, HMI Tegal Kab. Mempertahankan sesuatu yang telah dicapai lebih sulit dibanding meraihnya. Sebab, godaan dan tantangannya lebih berat dalam kondisi mempertahankan. Apalagi dalam soal capaian di bulan Ramadhan.?

Mempertahankan Capaian Ramadhan Lebih Sulit Dibanding Meraihnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mempertahankan Capaian Ramadhan Lebih Sulit Dibanding Meraihnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mempertahankan Capaian Ramadhan Lebih Sulit Dibanding Meraihnya

Demikian diungkapkan Ketua Pimpinan Cabang Lembaga Takmir Masjid (PC LTM) NU Jember, H.A. Fauzi saat memberikan taushiyahnya dalam acara halal bihalal keluarga besar LTMNU dan takmir masjid Jember barat di masjid jami Darul Muttaqien, Tanggul, Jember, Jawa Timur, Rabu (13/7).?

Menurutnya, dalam melaksanakan puasa Ramadhan, terasa lebih ringan untuk memerangi hawa nafsu dan menahan perilaku tak terpuji. Itu karena dilaksanakan serentak dan bersama-sama dengan orang lain. Tapi setelah lebaran, "kebersamaan" itu tak ada lagi, sehingga tergantung kepada masing-masing individu untuk mempertahankan nilai-nilai ketaqwaan yang telah dicapai selama Ramadhan.?

"Makanya saya katakan lebih berat sekarang (setelah lebaran). Tapi memang kita harus berusaha untuk menjaga dan mempertahankan apa yang sudah kita capai di bulan Ramadhan," jelasnya.

HMI Tegal Kab

H. Fauzi lantas mengurai sekian sukses yang harus dipertahankan kedepan sebagai output puasa Ramadhan. Di antaranya, kedermawanan, pengendalian emosi, budaya maaf dan penebaran nilai-nilai kebajikan. Tiga yang disebut terakhir sesungguhnya tidak butuh modal (materi).?

Mengendalikan emosi, katanya, tidak memerlukan dana, hanya perlu kelapangan hati. Kelapangan hati bukanlah produk instan, tapi hasil latihan terus menerus yang ditopang oleh semangat ketaatan terhadap perintah Allah.?

"Banyak persoalan besar dalam kita bertetangga, pemicunya karena kita gampang emosi. Emosi bisa jadi percikan api yang dapat menghanguskan segalanya. Makanya, jangan cepat marah dalam menyikapi sesuatu," tukasnya.

Demikian juga budaya maaf, harus tetap tertanam pasca lebaran. Tidak hanya saat lebaran. Dalam pandangan Ketua Takmir Masjid Jami Darul Muttaqien itu, sesungguhnya minta dan memberi maaf tidak sulit. Hanya butuh kebesaran jiwa. Meminta dan memberi maaf sama-sma mulia. Namun secara psikologis, posisi orang yang memberi maaf, butuh dorongan spirit yang lebih. Sebab, orang yang dimintai maaf, biasanya posisinya menang. Dalam posisi tersebut, sikap arogan terkadang muncul.?

HMI Tegal Kab

"Tapi apapun itu, memnita maaf dan mamberi maaf adalah sikap yang sangat terpuji. Dendam kesumat tak perlu dipelihara, sebab hanya membawa malapetaka," jelasnya.

Sedangkan kedermawanan mempunyai fungsi sosial yang sangat dahsyat. Fauzi menilai, alangkah indahnya jika budaya sedekah yang lumrah terjadi di bulan Ramadhan berlanjut di luar bulan Ramadhan. "Kepedulian sosial inilah yang sesungguhnya menjadi ruh diklat puasa Ramadhan," ungkapnya. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nusantara, Quote HMI Tegal Kab

Rabu, 07 Februari 2018

HIDMAT NU Awali Gerakan Perempuan Indonesia Menulis

Jakarta, HMI Tegal Kab. Himpunan Da‘iyah dan Majelis Taklim Muslimat Nahdlatul Ulama (HIDMAT NU) mengawali “Gerakan Perempuan Indonesia Menulis”. Gerakan itu diawali dengan pelatihan penulisan bagi para da‘iyah Muslimat NU di Gedung PBNU lantai lima, Jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Senin (13/5) siang.

Sedikitnya 20 pengurus HIDMAT NU mengikuti pelatihan penulisan. Pelatihan penulisan dipandu oleh seorang jurnalis berpengalaman Parni Hardi. Pelatihan berlangsung 2 setengah jam dari 10.00 hingga 12.30 siang.

HIDMAT NU Awali Gerakan Perempuan Indonesia Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
HIDMAT NU Awali Gerakan Perempuan Indonesia Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

HIDMAT NU Awali Gerakan Perempuan Indonesia Menulis

“Menulis adalah sesuatu yang menggairahkan. Aktivitas menulis menjadi proses kreativitas yang menantang, tetapi menginspirasi,” kata Parni Hardi di hadapan peserta pelatihan.

HMI Tegal Kab

“’Gerakan Perempuan Indonesia Menulis’ merupakan bagian dari program dakwah HIDMAT NU. Karena selain bil haal, bil lisan, HIDMAT NU mengambil penulisan sebagai media dakwah. Kami menyebutnya dakwah bil kitabah,” kata Sekretaris HIDMAT NU Sururin kepada HMI Tegal Kab usai pelatihan di lokasi yang sama, Senin (13/5) siang.

HMI Tegal Kab

Peserta dibekali dengan motivasi penulisan dan teknik penulisan. Dalam menulis, peserta diimbau untuk menuangkan tujuan, koherensi, dan konklusi penulisan. Di akhir pelatihan, peserta mengumpulkan tulisan yang dibuat satu jam terakhir sebelum pelatihan berakhir.

Kalangan ibu-ibu Muslimat NU justru memiliki potensi sebagai penulis berbakat. Pengalaman mereka memberikan banyak inspirasi penulisan yang kaya, ungkap Parni Hardi kepada HMI Tegal Kab usai pelatihan.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote HMI Tegal Kab

Selasa, 06 Februari 2018

48 Pesantren Siap Berlaga di LSN Region Sumatera VIII-Lampung

Lampung Timur, HMI Tegal Kab - Setelah melakukan pertemuan teknis dengan para calon tim pesantren Liga Santri Nusantara (LSN) Region Sumatera VIII - Lampung pada Rabu (23/8) lalu, kini panitia pelaksana Liga Santri Nusantara Region Sumatera VIII – Lampung terus berkonsentrasi menyiapkan hal lain pada hari H nanti, di antaranya cek lapangan.

“Kick off nanti akan dilaksanakan pada hari Senin sore, 28 Agutus 2017 di Lapangan Merdeka Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur oleh karenanya panitia semaksimal mungkin untuk menyambut para santri peserta LSN, dan ribuan warga Nahdliyyin,” kata Munir A Haris, Koordinator Liga Santri Nusantara Region VIII Sumatera – Lampung, di Lampung Timur, Jumat (25/8).

48 Pesantren Siap Berlaga di LSN Region Sumatera VIII-Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
48 Pesantren Siap Berlaga di LSN Region Sumatera VIII-Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

48 Pesantren Siap Berlaga di LSN Region Sumatera VIII-Lampung

Ia mengaku bersyukur selalu mendapat dukungan moral dari tokoh-tokoh NU Lampung, termasuk dari Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Timur Syahrudin Putra.

“Pak Sekda berpesan kepada kami agar LSN tahun 2017 ini harus berjalan sukses dan panitia harus bekerja ekstra keras dalam event nasional karena akan dihadiri ribuan lapisan masyarakat,” pungkas mantan Presiden Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

HMI Tegal Kab

Berikut nama-nama 48 Tim Pesantren Liga Santri Nusantara Region Sumatera VIII – Lampung tahun 2017, yaitu ;

1. Pesantren Roudlotuussolihin, Lampung Selatan

HMI Tegal Kab

2. Pesantren Al-Farabi, Pesawaran

3. Pesantren Madinatul Ilmi, Pringsewu

4. Pesantren Al-Hikmah, Way Halim, Kota Bandar Lampung

5. Pesantren Darussaadah, Gunung Sugih, Lampung Tengah

6. Pesantren Walisongo, Bumi Ratu Nuban, Lampung Tengah

7. Pesantren Walisongo, Lampung Utara

8. Pesantren Istiqlal, Lampung Utara

9. Pesantren Al-Fadlu, Tulang Bawang

10. Pesantren Darul Hidayah Al-Ansori, Tulang Bawang Barat

11. Pesantren Darul Huda, Mesuji

12. Pesantren Al-Falah, Tanggamus

13. Pesantren Darul Amal, Kota Metro

14. Pesantren Shodiqussalam, Lampung Tengah

15. Pesantren Darussalam, Pasir Sakti, Lampung Timur

16. Pesantren Mathlaul Huda, Pringsewu

17. Pesantren Miftahul Huda, Lampung Timur

18. Pesantren Asyaroniyah, Lampung Timur

19. Pesantren Minhajuth Thullab, Lampung Timur

20. Pesantren Darul Ulya, Kota Metro

21. Pesantren Tribakti Attaqwa, Raman Utara, Lampung Timur

22. Pesantren Darul Maarif, Lampung Timur

23. Pesantren Darul Ulum, Lampung Timur

24. Pesantren Riyadatul Ulum, Lampung Timur

25. Pesantren Roudlotuth Tholibin, Kota Metro

26. Pesantren Raudlatul Huda Al-Islamy, Pesawaran

27. Pesantren Darussalamah, Brajadewa Lampung Timur

28. Pesantren Raudlatul Hidayah, Lampung Timur

29. Pesantren Darul Hidayah, Lampung Timur

30. Pesantren Mambaul Ulum, Lampung Timur

31. Pesantren Darul Islah, Lampung Timur

32. Pesantren Darun Najah, Lampung Timur

33. Pesantren Hidayatul Quran, Lampung Timur

34. Pesantren Miftahul Huda, Lampung Timur

35. Pesantren Tribakti Darul Falah, Lampung Utara

36. Pesantren Roudloturridwan, Lampung Timur

37. Pesantren Al-Huda, Lampung Selatan

38. Pesantren Al-Banin, Kota Bandar Lampung

39. Pesantren Miftahussalam, Lampung Timur

40. Pesantren Daarul Hamdi, Lampung Timur

41. Pesantren Darussalam, Sidorejo Lampung Timur

42. Pesantren Al-Istiqomah Al-Amin, Lampung Selatan

43. Pesantren Bustanul Ulum, Lampung Tengah

44. Pesantren Raudlotussolihin, Lampung Tengah

45. Pesantren Miftahurrahmah, Pesisir Barat

46. Pesantren Darul Quran, Lampung Timur

47. Pesantren Alqodiriyah, Lampung Timur

48. Pesantren Mutaalimin, Lampung Timur

(Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nasional, Quote HMI Tegal Kab

Rabu, 24 Januari 2018

Amankan Natal dan Tahun Baru, Banser Sidoarjo Terjunkan 1000 Personil

Sidoarjo, HMI Tegal Kab. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Sidoarjo akan menerjunkan 1000 personil untuk melakukan pengamanan perayaan Natal 2015 disejumlah gereja yang ada di Sidoarjo. Selain itu, Banser juga akan melakukan pengamanan saat perayaan tahun baru 2016.

"Sekitar 1000 personil Banser gabungan dari Satkaryon akan dibagi disetiap kecematan untuk membantu Polres Sidoarjo dalam melakukan pengamanan Natal 2015 dan tahun baru 2016," kata Satkorcab Banser Sidoarjo M Hasanudin di Mapolres Sidoarjo usai gelar apel pasukan pengamanan natal dan tahun baru, Rabu (23/12).

Amankan Natal dan Tahun Baru, Banser Sidoarjo Terjunkan 1000 Personil (Sumber Gambar : Nu Online)
Amankan Natal dan Tahun Baru, Banser Sidoarjo Terjunkan 1000 Personil (Sumber Gambar : Nu Online)

Amankan Natal dan Tahun Baru, Banser Sidoarjo Terjunkan 1000 Personil

Sekitar 10 hingga 15 personil Banser akan ditempatkan di setiap gereja yang ada. "Bagaimana pun sebagai Banser, atau badan semi otonom Ansor punya kewajiban membantu Polres Sidoarjo untuk pengamanan Natal dan tahun baru," tegas Hasan.

HMI Tegal Kab

Kapolres Sidoarjo, AKBP M Anwar Nuris mengatakan, dalam apel gelar pasukan pengamanan Natal 2015 dan tahun baru 2016, pihaknya melibatkan 410 personil gabungan yang terdiri dari jajaran Polsek Sidoarjo, TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo, Banser, Dinas Pemadam Kebakaran, Senkom dan penjinak bom (Jibom) Polda Jatim.

"Tahap pertama kami akan melakukan sterilisasi di sejumlah gereja yang ada di Sidoarjo. Sekitar 73 gereja itu akan kami sterilkan dengan bantuan pemuda gereja setempat dan Banser. Selanjutnya, pengamanan di luar gereja akan ada personil Jajaran Polres Sidoarjo dan Jibom," ucap mantan Kapolres Nganjuk Jawa Timur ini.

HMI Tegal Kab

Anwar mengungkapkan, pihaknya akan menyebar personilnya di sejumlah gereja yang ada di Sidoarjo. Baik itu gereja yang berkapasitas kecil maupun besar. "Hampir sama, di titik kerawanan jumlah yang cukup besar akan dijaga 6 personil polisi dan gereja yang kecil akan dijaga 2 personil polisi," ungkapnya.

Anwar menambahkan, pengamanan tersebut akan dilakukan sebelum dan sesudah kebaktian. Adapun operasi lilin semeru itu sendiri dimulai sejak tanggal 24 Desember 2015 hingga 2 Januari 2016. Pihaknya berharap kepada masyarakat pengguna jalan untuk mematuhi peraturan lalu lintas yang ada selama perayaan Natal dan tahun baru 2016 berlangsung.

Selain melakukan pengamanan disetiap gereja, Polres Sidoarjo juga mendirikan 11 pos terdiri dari 9 pos pam dan 2 pos pelayanan yang akan di tempatkan di Bungurasih Waru dan pintuk keluar (exit tol) Porong Sidoarjo. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Budaya, Quote HMI Tegal Kab

Jumat, 19 Januari 2018

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang (2)

Oleh M Rikza Chamami

Amaliyah di bulan Rajab memang banyak sekali. Itu dikarenakan betapa mulianya bulan Rajab menurut Allah Swt. Dalam memberikan pemahaman amaliyah di bulan Rajab ini, KH Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) menyebutkan amalan istighfar yang perlu dibaca setiap pagi dan sore sebanyak 70 kali agar terbebas dari neraka.

Perintah membaca istighfar itu ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam haditsnya: "Barangsiapa yang mengucapkan dalam Rajab, Syaban dan Ramadan pada waktu diantara dzuhur dan ashar:

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang (2)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Maka Allah memerintahkan dua malaikat untuk membakar buku tulisan amal jeleknya".

HMI Tegal Kab

Allah bahkan menegaskan bahwa setiap malam Rajab adalah malam di bulan milik Allah. Dan hamba yang mengikuti juga hambaKu dan rahmat juga milik Allah. Termasuk fadl (kemuliaan) berada pada kekuasaan Allah. Dan Allah akan memberikan ampunan pada hambaNya yang selalu memohon ampun.

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa barangsiapa melaksanakan puasa pada hari keduapuluh tujuh bulan Rajab dan mengeluarkan shadaqah, maka Allah akan menulis pahala puasa dengan seribu kebaikan dan memerdekakan seribu budak.

HMI Tegal Kab

Mbah Sholeh Darat juga menjelaskan tentang sebuah malam mulia di dalam bulan Rajab yang disebut sebagai lailatu raghaib (? ?). Keterangan mengenai itu diambil dari hadits: "Janganlah Anda sekalian lupakan bahwa dalam awal Jumat di bulan Rajab, maka malamnya disebut lailatu raghaib ketika berada pada sepertiga malam. Saat itu para Malaikat tujuh langit dan tujuh bumi berkumpul jadi satu di kanan kiri kabah dengan disaksikan oleh Allah. Saat melihat peristiwa itu, Allah menyampaikan bahwa apa yang diminta Malaikat akan dikabulkan. Dan Malaikat meminta pada Allah untuk memaafkan hambanya yang berpuasa Rajab. Dan Allah tegas menjawab telah memaafkan semua hambaNya itu".

Bersambung.....

Alfatihah.

Penulis adalah Wakil Ketua KOPISODA/Komunitas Pecinta Mbah Sholeh Darat, Alumni Qudsiyyah dan Dosen UIN Walisongo



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote, Hikmah HMI Tegal Kab

Minggu, 31 Desember 2017

Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab

Jakarta, HMI Tegal Kab. Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal (Pol) Sutarman akhirnya mengizinkan polisi wanita (polwan)menggunakan jilbab pada saat bertugas. Apa alasan mantan ajudan Gus Dur itu mengizinkan polwan berjilbab?

Menurut Jenderal Sutarman, penggunaan jilbab merupakan hak pribadi setiap warga negara, terkait keyakinan terhadap ajaran agamanya.

Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab

"Itu hak asasi seseorang, saya sudah sampaikan kepada anggota kalau misalnya ada anggota yang mau pakai, silakan!" katanya di sela-sela acara Silaturahmi Kapolri dengan Insan Pers di Ruang Rupatama Mabes Polri, Selasa (19/11) kemarin.

HMI Tegal Kab

Ketentuan mengenai seragam polisi, termasuk di dalamnya polwan, diatur dalam Surat Keputusan (SK) Kapolri No Pol: Skep/702/IX/2005. Memang tidak tertulis larangan berjilbab dalam surat keputusan Kapolri lama itu. Namun, SK itu sudah dianggap mewajibkan semua anggota untuk mengenakan seragam yang telah ditentukan itu, dan tidak ada jilbab untuk polisi wanita.

Pernyataan Kapolri Sutarman yang belum lama dilantik itu mengakhiri polemik di kalangan pejabat kepolisian terkait boleh tidaknya polwan berjilbab. Meski demikian sampai saat ini belum ada aturan resmi baru yang dikeluarkan Kapolri terkait penggunaan jilbab, terkait anggaran dan model jilbab yang boleh dipakai.

HMI Tegal Kab

Kata Kapolri, Polwan yang ingin menggunakan jilbab dipersilakan membeli sendiri. "Anggaran belum ada, kalau mau beli, silakan. Contohnya kan sudah ada. Mulai besok kalau ada yang mau pakai saat tugas tidak masalah," ujarnya enteng.? (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote, Olahraga, PonPes HMI Tegal Kab

Senin, 25 Desember 2017

Najwa Shihab Berani di Tivi, eh, Baca Puisi Ditemani Bapaknya

Jakarta,HMI Tegal Kab

Inayah Wulandari dan Ratih Sanggarwati didaulat sebagai pemandu acara “Doa untuk Palestina” di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis malam (24/8). Acara yang diinisiasi Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) itu menghadirkan belasan penyair dan tokoh untuk membaca puisi.  

Najwa Shihab Berani di Tivi, eh, Baca Puisi Ditemani Bapaknya (Sumber Gambar : Nu Online)
Najwa Shihab Berani di Tivi, eh, Baca Puisi Ditemani Bapaknya (Sumber Gambar : Nu Online)

Najwa Shihab Berani di Tivi, eh, Baca Puisi Ditemani Bapaknya

“Selanjutnya ini adalah...,” ucap Ratih Sanggarwati ketika akan memanggil Najwa Shihab untuk membacakan puisi.

“Selanjutnya ada seorang perempuan yang terkenal sangat berani. Perempuan ini punya acara sendiri di tv, dan di acara tivinya,” Inayah Wahid melanjutkan ucapan Ratih.

HMI Tegal Kab

Sepertinya hadirin sudah tahu siapa tahu meski Inayah dan Ratih belum menyebutkannya. Dengan deskripsi beberapa kalimat itu, mereka sudah  tahu siapa yang akan tampil. Tanpa dikomandoi siapa pun, mereka langsung bertepuk tangan.

“Geer ya, belum tentu kan apa yang mereka pikir,” kata Ratih.

HMI Tegal Kab

“Dipikir siapa? Wong saya ngomongin OK Jek kok,” jawab Inayah menyebutkan film yang dibintanginya.  

“Waduh, promosi,” kata Ratih.

“Di acara tivinya,” lanjut Inayah, “Mbak ini berani banget, selalu mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, dengan tajam. Tapi yang saya bingung, si mbak yang terkenal berani ini, malam ini, mungkin karena terbiasa bergaul dengan hal-hal politik, sosial, ekonomi, mungkin tidak paham puisi,” lanjut putri bungsu KH Abdurrahman Wahid. 

Ngenyek (menghina) banget,” sergah Ratih.

“Mungkin ketakutan. Soale enggak berani baca sendiri, Mbak, malam ini minta ditemani bapaknya.”

Kemudian mereka menyebutkan Najwa Shihab dan Quraish Shihab.

“Abah, sebetulnya ada satu Shihab lagi di ruangan ini, di Indonesia lho, Bah, maksudnya, yang ada di Indonesia, jangan keliru, bukan Shihab yang lain. Namanya Alwi Shihab. Ami Alwi, adiknya Abi. Tadi saya ajak ke panggung, katanya malam ini tugasnya cuma satu, foto kami berdua, dan kirim ke Watshaap grup keluarga Shihab, yang di Indonesia, sekali lagi.  

Najwa dan ayahnya yang penulis Tafsir Al-Misbah itu membacakan syair karya Samih Al-Qashim Risalatun minal Mu’taqad atau Surat dari Penjara. Sang ayah membaca versi bahasa Arab, sementara Najwa membaca terjemahannya, yang dilakukan Ulil Abshar Abdalla. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pendidikan, Quote HMI Tegal Kab

Minggu, 24 Desember 2017

Modernitas ala Kaum Tradisionalis

Oleh: Isnai Ilham Aufaduha

Sejak berdirinya pada tahun 1926 M, jam’iyyah diniyah islamiyah dan ijtima’iyah Nahdlatul Ulama yang berawal dari pembentukan Komite Hijaz ini memang ditujukan untuk menjadi wadah bagi berkumpulnya kiai-kiai beserta para pengikutnya yang berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, meskipun masyarakat lebih condong menggunakan istilah “Islam Tradisional”. Penggunaan istilah “Tradisional” ini kemudian menimbulkan dikotomi sehingga memunculkan istilah lainnya, “Islam Modern”, meskipun keduanya disandangkan pada kelompok-kelompok tertentu tanpa didasarkan pada faktor-faktor yang pasti, hanya didasarkan pada opini mayoritas masyarakat saja.

Modernitas ala Kaum Tradisionalis (Sumber Gambar : Nu Online)
Modernitas ala Kaum Tradisionalis (Sumber Gambar : Nu Online)

Modernitas ala Kaum Tradisionalis

KH. Abdurrahman Wahid dalam tulisannya yang berjudul “Tradisional Belum Tentu Kolot”, berpendapat: “Hampir semua tulisan tentang Nahdlatul Ulama (NU) menyimpulkan bahwa perkumpulan itu sangat tradisional. Ini tentu saja dapat dimengerti karena dalam kenyataan para pemimpin perkumpulan itu memang tradisional dalam bentuk lahiriah. Umumnya mereka mengenakan sarung.”? Di sini beliau menyoroti penggunaan istilah “tradisional” didasarkan pada kenyataan bahwa secara lahiriah baik dari segi penampilan, gaya hidup, dan wilayah penyebaran, NU memang cocok bila disebut sebagai “Islam Tradisional”.

HMI Tegal Kab

Label tradisional yang melekat pada NU tidak terlepas dari sejarah masuk dan tersebarnya Islam di Indonesia yang melalui pendekatan-pendekatan humanis, lewat jalur perdagangan, jalur pernikahan, dan yang paling utama, jalur pendekatan budaya. Meminjam istilah KH. Afifuddin Muhajir, Islam di Indonesia adalah “Hasil dialektika antara teks syariat dengan realitas dan budaya setempat”, Kiai Siad Aqil juga berpendapat bahwa Islam di Indonesia adalah “Islam yang tidak memberangus budaya, Islam yang tidak anti budaya selama tidak bertentangan dengan tauhid, justru Islam diperkuat oleh budaya, dan budaya diberi ruh dengan Islam”.

HMI Tegal Kab

Namun, kita akan menjumpai sisi yang berbeda dari NU jika kita memakai indikator yang lain. Dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, dikenal sebuah forum yang disebut Bahtsul Masail, yaitu metode pengambilan keputusan hukum Islam dimana tradisi intelektual ini sudah berlangsung sejak NU didirikan. Forum ini bertugas mengambil keputusan tentang hukum-hukum Islam baik yang berkaitan dengan masail fiqhiyah (masalah fiqih) maupun masalah ketauhidan dan bahkan masalah-masalah tasawuf (tarekat). Bahtsul masail biasanya diadakan dalam forum-forum besar seperti Muktamar NU, Munas Alim Ulama, dan Konferensi Besar, meskipun kerap juga diadakan dalam forum lainnya.

Dr (HC). KH. M. A. Sahal Mahfudh menjelaskan, “Dari segi historis maupun operasionalitas, bahtsul masail NU merupakan forum yang sangat dinamis, demokratis dan berwawasan luas. Dikatakan dinamis sebab persoalan (masail) yang digarap selalu mengikuti perkembangan (tren) hukum di masyarakat.” Pernyataan Kiai Sahal ini sangat menggambarkan itsbat al-ahkam ala NU ini. Masalah-masalah yang di-Bahtsul Masail-kan merupakan masalah yang sedang hangat di masyatakat. Penulis mengambil beberapa contoh; pembahasan mengenai hukum mengerjakan proses bayi tabung pada 1981; Kloning Gen pada Tanaman, Hewan, dan Manusia yang dibahas pada 1997; dan yang paling mutakhir pembahasan mengenai hukum asuransi BPJS dan penenggelaman kapal asing yang melanggar hukum, dibahas dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33. Hal ini cukup menarik di mata penulis jika kita mengaitkan sisi tradisionalitas NU dengan kemampuan istinbath yang begitu mendalam dan mutakhir.

Selain itu, kita juga bisa melihat sisi modernitas NU dalam perkembangan metode dakwahnya. Kini seiring dengan berkembang pesatnya teknologi informasi, NU sebagai organisasi massa terbesar di Indonesia turut memanfaatkan media massa elektronik dan media sosial sebagai sarana penyebaran paham Islam Ahlussunah wal Jamaah. Dari yang formal-official hingga yang bersifat personal, semuanya ada. Sebut saja Aswaja TV, TV9 Nusantara, dan redaksi HMI Tegal Kab yang membuka kanal di berbagai media sosial. Berbicara mengenai media sosial, kaum muda NU bisa dibilang sebagai ‘motor’nya. Mereka menyebarkan paham-paham “tradisional” dengan sarana yang “modern”, mempertahankan tradisionalitas dengan memberdayakan sarana yang bermakna sebaliknya. Seolah tanpa komando, akun-akun bernafaskan Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdliyyah tumbuh pesat bak jamur di musim penghujan di berbagai media sosial. Akun-akun ini senantiasa menyebarkan informasi-informasi ke-Aswaja-an dan ke-NU-an dengan kemasan yang menarik, dan terus berkembang dalam segi kuantitas dan kualitas. Kaum muda NU ini selaras dengan dawuh Sunan Kalijaga “Anglaras playuning banyu, Ngeli ning ojo keli” (Selaraskan diri dengan aliran air. Ikutilah arus tapi janganlah sampai terhanyut), tetap mempertahankan jati diri ditengah modernitas yang tidak selalu bermakna positif.

Tampaknya warga Nahdlatul Ulama benar-benar terampil menerapkan kaidah ushul fiqh al-muhafadatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil-jadidil ashlah (melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik). Yang demikian memang seharusnya diterapkan dalam segala lini kehidupan, bukan?

* Penulis adalah mahasiswa Universitas Indonesia



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama, Quote HMI Tegal Kab

Jumat, 22 Desember 2017

PBNU Sesalkan Sikap Presiden Terkait Interpelasi Nuklir Iran

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyesalkan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilainya kurang berani menghadapi interpelasi DPR terkait nuklir Iran.

"Kalau mau datang sejak awal, masalah interpelasi Iran sudah selesai. Kenapa harus dicicil dengan  ketemu pimpinan DPR dan interpelator terlebih dahulu," kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Rabu.

PBNU Sesalkan Sikap Presiden Terkait Interpelasi Nuklir Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sesalkan Sikap Presiden Terkait Interpelasi Nuklir Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sesalkan Sikap Presiden Terkait Interpelasi Nuklir Iran

Menurut Hasyim, sikap Presiden Yudhoyono itu justru bisa memunculkan kecurigaan dari berbagai kalangan. Publik bisa menduga bahwa Presiden telah menyembunyikan sesuatu di balik dukungan Indonesia terhadap resolusi DK PBB 1747 soal nuklir Iran.

"Jadi sekarang kesannya seperti ada yang dirahasiakan. Yang diinginkan DPR adalah alasan dan pertimbangan mengapa Indonesia sampai mendukung resolusi 1747 itu," katanya.

Agar masalah interpelasi nuklir Iran cepat tuntas, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) itu meminta Presiden Yudhoyono untuk berani memenuhi keinginan DPR yakni hadir langsung ke sidang paripurna.

HMI Tegal Kab

"Kalau mau selesai cepat, ya, harus datang ke sidang paripurna DPR. Kalau ditunda-tunda terus, interpelasi nuklir Iran tak akan selesai," kata pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jatim itu.

Menurut Hasyim, kehadiran Presiden Yudhoyono ke sidang DPR untuk memberi penjelasan secara langsung  tidak akan menjatuhkan pamor dan gengsi seorang presiden.  "Saya kira tidak sampai menurunkan gengsi Presiden. Legislatif dan eksekutif kan sama-sama lembaga negara. Kenapa harus takut. Jadi, gengsi Presiden tidak akan jatuh gara-gara interpelasi itu," katanya.

HMI Tegal Kab

Mengenai upaya interpelasi masalah lumpur Lapindo Kiai Hasyim menegaskan bahwa hal tersebut bisa disatukan sekaligus dengan interpelasi masalah Iran karena memang tidak ada aturan yang melarangnya.

“Sebenarnya target saya adalah pemerintah bisa menalangi dulu dana bagi para korban lumpur dengan persetujuan DPR, melalui dana-dana yang saat ini masih menganggur dan nanti baru dimintakan ke Lapindo, kasihan mereka,” paparnya.

Menurutnya dana yang diberikan kepada BPLS lebih dari satu trilyun untuk membangun infrastruktur yang rusak seharusnya didahulukan kepada para pengungsi, baru setelah daerah tersebut aman, maka pembangunan bisa dimulai. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote HMI Tegal Kab

Selasa, 19 Desember 2017

PAC Muslimat NU Rembang Ngaji 4 Pilar Kebangsaan

Rembang, HMI Tegal Kab. Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU kecamatan Rembang kota kabupaten Rembang menggelar seminar kebangsaan di Gedung Darul Khadlonah, Rembang, Sabtu (17/10) siang. sebanyak 150 anggota Muslimat datang dari 34 ranting Muslimat NU di kecamatan Rembang dan 9 PAC Muslimat.

Mantan Ketua Muslimat NU Rembang Hj Mahmudah Masykuri menyampaikan, seminar dilakukan sebagai upaya PAC Muslimat NU Rembang dalam memperkuat pengetahuan empat pilar kebangsaan NKRI yang kini kian terkikis oleh beberapa faktor.

PAC Muslimat NU Rembang Ngaji 4 Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PAC Muslimat NU Rembang Ngaji 4 Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PAC Muslimat NU Rembang Ngaji 4 Pilar Kebangsaan

"Kami sengaja mengadakan kegiatan seminar empat pilar kebangsaan untuk menguatkan pengetahuan kader Muslimat NU, serta memberikan pengetahuan mengenai perundang-undangan serta tata kelola pemerintahan.”

HMI Tegal Kab

Mahmudah berpendapat, sebagai warga Nahdlatul Ulama sebagai garda terdepan untuk mengawal empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, serta UUD 45 sangat wajib memiliki pengetahuan luas mengenai empat pilar kebangsaan.

"Jika NU yang senantiasa menjadi garda terdepan dalam mengawal empat pilar kebangsaan, maka kita sebagai pengurus Muslimat NU juga membantu langkah NU, dengan cara paham empat pilar kebangsaan serta tatakelola pemerintahan.”

HMI Tegal Kab

Muslimat NU Rembang menggandeng pihak DPD RI. Pertemuan ini disertai dengan penyerahan bantuan kepada sejumlah pesantren di kabupaten Rembang. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote HMI Tegal Kab

Minggu, 10 Desember 2017

PCNU Serukan Kafe-Karaoke Tutup Total

Grobogan, HMI Tegal Kab. Menyambut Bulan Ramadhan, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Grobogan Jawa tengah menyerukan semua tempat hiburan kafe-karaoke di wilayah tersebut supaya tutup total selama bulan puasa. Hal ini untuk menghormati bulan suci sehingga ummat muslim ? bisa menjalankan ibadah puasa secara khusuk.

Demikian seruan Ramadhan PCNU melalui press release Lajnah Ta’lif Wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Grobogan yang dikirim kepada HMI Tegal Kab, Sabtu (22/6). Dalam keterangannya, seruan ini dikeluarkan berdasarkan hasil rapat Pleno Gabungan Lengkap PCNU yang dihadiri jajaran Syuriah maupun Tanfidziyah, Lajnah, Lembaga, seluruh Banom dan MWCNU Se-Kabupaten Grobogan di Gedung PCNU Grobogan, Kamis (20/6).

PCNU Serukan Kafe-Karaoke Tutup Total (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Serukan Kafe-Karaoke Tutup Total (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Serukan Kafe-Karaoke Tutup Total

Ketua tanfidziyah PCNU Grobogan H Mat Said menegaskan, sebelum memasuki bulan Ramadhan wilayah ini harus benar-benar telah bersih dari aktifitas dunia hiburan, khususnya kafe-karaoke. Ia mendesak Tiga hari sebelum masuk ? 1 Ramadhan 1434 H, kafe-karaoke di seluruh wilayah Kabupaten Grobogan hendaknya sudah berhenti beroperasi.

HMI Tegal Kab

“Dengan begitu memasuki malam 1 Ramadhan diharapkan seluruh umat Islam Kabupaten Grobogan akan dapat lebih khusuk dalam menjalankan ibadah di Bulan Suci Ramadhan 1434 H nanti,” tegasnya.

Disamping itu, tempat-tempat penjual makanan, seperti halnya Warung-Warung, Kedai Makan, Rumah Makan (RM) dan restoran di wilayah Kabupaten Grobogan untuk tidak berjualan di siang hari. Namun, apabila terpaksa masih ? buka karena menyediakan makan bagi orang yang lagi musyafir dan sejenisnya, maka diharapkan dapat mendesign warungnya sedemikian rupa sehingga nampak sopan dan arif.?

HMI Tegal Kab

“Untuk kepentingan ini, Pemda Kabupaten Grobogan harus menertibkan secara sungguh-sungguh, maksimal dan istikamah selama Ramadhan. Dengan langkah seperti itu Grobogan benar-benar bersih dari Warung-Warung, Kedai Makan, Rumah Makan (RM) dan juga Lestoran yang buka di siang hari,” tandas Said.?

PCNU juga meminta masyarakat yang tidak ? puasa supaya menghormati ummat yang menjalankan rukun keempat dengan tidak makan, minum dan merokok di tempat-tempat umum dan tempat terbuka pada siang hari.?

“Begitu pula, kami mengajak seluruh masyarakat muslim khususnya bagi warga Nahdliyyin dalam memulai dan mengakhiri Puasa Ramadhan 1434 H setelah ada pengumuman resmi dari Pemerintah Republik Indonesia,” imbuh Said.

Senada dengan Ketua Tanfidziyah, Rais Syuriah PCNU Grobogan KH Ali Manshur mengharapkan agar seluruh masyarakat Grobogan, baik yang beragama Islam maupun non Islam hendaknya dapat bersama-sama merealisasikan seruan Ramadhan PCNU ini.?

“Mengingat pentingnya seruan Ramadhan ini, maka saya harap seluruh komponen serta elemen yang ada di Grobogan secara totalitas ikut mendukung terealisasinya seruan tersebut” ungkap Kiai Ali Manshur yang didampingi Ketua LTNNU Grobogan Saifudin Alia.

Seruan Ramadhan PCNU Grobogan ini juga dikirim pada Bupati Grobogan, Ketua DPRD, Kapolres, Dandim, Kesbanglinmas dan Satpol PP Kabupaten Grobogan.

Redaktur ? ? : Syaifullah Amin?

Kontributor :Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Makam, Quote HMI Tegal Kab

Selasa, 05 Desember 2017

Pendidikan di Indonesia

Oleh KH Azka Hammam Syaerozi

Dewasa ini pendidikan formal dipandang oleh masyarakat sebagai pendidikan yang sesungguhnya. Dengan beranggapan bahwa hanya dengan pendidikan formal seseorang bisa dianggap berpendidikan. Hal ini tentu berakibat fatal bagi pendidikan yang berada di luar pendidikan formal atau yang biasa disebut sebagai pendidikan informal (baca: pesantren). Ada beberapa faktor yang menjadikan pola pikir masyarakat kita seperti itu.

Pertama, pendidikan formal adalah program pendidikan yang digalakkan langsung oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadikan ukuran pendidikan di negara kita ini condong dengan apa yang dianjurkan oleh pemerintah. Karena diadakan oleh pemerintah, maka banyak program-program dan fasilitas yang diberikan pemerintah bagi pendidikan ini. Sangat berbeda dengan pendidikan informal yang sepertinya dianggap anak tiri oleh pemerintah, meski beberapa dianggap keberadaannya, tetapi pendidikan informal tetap dipandang sebelah mata dan tetap tidak dijadikan ukuran seseorang dianggap berpendidikan.

Pendidikan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan di Indonesia

Kedua, dalam pendidikan formal tenaga pengajar mendapatkan upah yang pasti dan terjamin langsung oleh pemerintah. Berbeda dari pendidikan pesantren pemerintah tidak memberikan jaminan secara pasti bagi setiap pengajarnya. Hal ini menjadikan pendidikan formal lebih dipercaya dan dianggap lebih prospektif dibandingkan dengan pendidikan pesantren.

HMI Tegal Kab

Ketiga, pendidikan formal memberikan ijazah yang secara de jure dianggap dan legal di kancah nasional maupun internasional. Hal ini berlawanan dengan pendidikan pesantren yang ijazahnya tidak diakui, atau bahkan tidak memiliki ijazah sama sekali.

Apa Hubungan antara Keduanya?

Sebenarnya, hubungan antara ilmu agama yang diadakan pesantren dan pendidikan umum yang diadakan sekolah formal itu sangat erat sekali. Ilmu pesantren adalah sebuah ‘asal’ yang menjadi tetap dan kokohnya sesuatu. Sedangkan ilmu umum adalah ‘cabang’ yang membentang luas dalam segala bidang kehidupan. Jika diibaratkan, pendidikan pesantren adalah makanan pokok, dan pendidikan formal adalah lauk pauknya. Maka tidaklah dinamakan makan jika seseorang hanya menyantap lauk pauk saja, dan jika hanya nasi saja maka tidak tercukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

HMI Tegal Kab

Mana Yang Mesti Didahulukan?

Secara kurikulum, pendidikan pesantren (baca: agama) harus didahulukan karena pendidikan agama menanamkan tauhid, hukum dan akhlaq. Manusia hidup di dunia itu tentu harus bermodalkan tauhid yang benar dan kuat, mengetahui hukum-hukum agar tidak sembarang berperilaku dan juga harus bisa menerapkan akhlaqul karimah sebagai modal dasar dalam etika pergaulan sosial yang selaras dengan prinsip ajaran agama sebagai kasih sayang bagi seluruh alam.

Kurikulum di sekolah formal, meski telah mengajarkan pengenalan pendidikan agama dan moral dalam pendidikan kewarganegaraan, tetapi pengajaran yang hanya diberikan selama dua sampai tiga jam saja per pekan, tentu belumlah bisa mencukupi tujuan pendidikan agama sebagai penanaman karakter bagi siswa. Sebab pendidikan agama, tak cukup dengan hanya sebatas pengenalan. Di sinilah perlunya pendidikan madrasah diniyah, sebagai sarana menanamkan pendidikan karakter bagi siswa yang tidak berkesempatan untuk mempelajari nilai-nilai pendidikan pesantren.

Di tengah dua kutub tersebut sebagian pesantren telah menerapkan kurikulum terpadu yang mengajarkan para santrinya untuk menguasai materi pelajaran yang di sekolah formal, sekaligus dididik sebagaimana pesantren pada umumnya. Kombinasi kurikulum pendidikan pesantren dan kurikulum pendidikan formal ini telah berlaku di berbagai pesantren selama puluhan tahun silam. Banyak pesantren, kini telah membuktikan bahwa pelaksanakan pendidikan pesantren dan formal tidaklah harus meninggalkan salah satunya melainkan secara bersama-sama berjalan beriringan. Dengan berjalan beriringan seperti itu, maka akan terbentuklah pribadi yang berpendidikan secara kâffah.

Di antara Yang Menekuni Salah Satu dari Keduanya, Siapakah Yang Lebih Berkompeten?

Pribadi yang benar-benar berkompeten adalah yang benar-benar belajar, paham akan ilmu yang dipelajarinya, lalu mengamalkannya kepada masyarakat. Sebab jika tidak diamalkan, keduanya sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa bagi masyarakat. Jika salah satu dari keduanya memandang sebelah mata, itu karena mereka tidak memaklumi nilai min dan plus yang ada pada keduanya.

Bagaimana Kita Menerapkan Ilmu Formal dan Ilmu Salaf di Tengah Masyarakat?

Kita bisa menerapkan keduanya dengan selalu berupaya berkarya semampunya ? ? dengan didasari tauhid yang benar, hukum, dan akhlaq. Sebagai komunitas pesantren yang hidup di antara dua dimensi ini, kalangan santri tidak perlu ikut memandang sebelah mata pada yang lain. Kita cukup menjaga hal-hal lama yang baik dan masih layak dan menyempurnakannya dengan mengadopsi hal-hal baru yang lebih baik dan layak.

Bagaimana Sebaiknya Sikap Pemerintah Menyikapi Hal Ini?

Pemerintah sebaiknya memandang kedua sistem ini sebagai unsur yang saling menguatkan dalam membangun sumber daya manusia pada yang lebih baik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

*) Pengasuh Pesantren Putra-Putri Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon. Kini ia diamanahi sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat. (Tulisan ini sudah dimodofikasi setelah dikutip dari Majalah Salafuna, Edisi 32 Tahun 2013).

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Halaqoh, Tegal, Quote HMI Tegal Kab

Rabu, 29 November 2017

Telusuri Kehidupan Wali dari Tebuireng, KH Adlan Aly

Tebuireng, HMI Tegal Kab. Berbicara soal Tebuireng, hampir semua orang merujuk kepada KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim atau Gus Dur. Kali ini pengurus Badan Eksekutif Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari membincangkan perjuangan salah satu kiai Tebuireng KH Adlan Aly di gedung Yusuf Hasyim lantai dua, Kamis (25/9).

Mereka membedah buku baru yang mengisahkan riwayat perjuangan Kiai Adlan Tebuireng. Forum ini menghadirkan penulisnya Anang Firdaus, pengasuh pesantren Walisongo KH amir Jamiluddin sebagai narasumber.

Telusuri Kehidupan Wali dari Tebuireng, KH Adlan Aly (Sumber Gambar : Nu Online)
Telusuri Kehidupan Wali dari Tebuireng, KH Adlan Aly (Sumber Gambar : Nu Online)

Telusuri Kehidupan Wali dari Tebuireng, KH Adlan Aly

“Pengasuh pesantren Tebuireng meminta saya menulis buku ini, menyusul buku biografi yang sebelumnya telah diterbitkan,” kata Anang yang semasa kecil pernah dibopong Kiai Adlan di hadapan 105 pelajar yang terdiri atas kalangan mahasantri, mahasiswa, dan santri.

HMI Tegal Kab

Dalam buku setebal 258 halaman ini, Kiai Adlan Aly digambarkan sebagai sosok yang sangat karismatik dan memiliki banyak karomah. “Air degan saja bisa buat mobil jalan,” kata moderator M Septian melontarkan kalimat pembuka.

“Sifat Mbah Kiai yang saya kenal dan patut diteladani adalah kesabaran, keikhlasan dan kedermawanannya,” kata Kiai Jamil. (Fatim/Alhafiz K)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Daerah, Quote HMI Tegal Kab

Minggu, 26 November 2017

Bantu Warga Miskin, Program Ansor Brebes Peduli Diluncurkan

Brebes, HMI Tegal Kab - Guna memfasilitasi para donatur yang akan menyisihkan sebagian rezeki atau hartanya ke kaum dhuafa dan fakir miskin, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mencanangkan program bernama Ansor Brebes Peduli. ?

Secra resmi Ansor Brebes Peduli diluncurkan di Gedung PCNU Brebes, akhir pekan kemarin (7/8) bersamaan dengan acara halal bihalal pengurus PC GP Ansor setempat yang dihadiri pengurus pimpinan anak cabang (PAC) GP Ansor se-Kabupaten Brebes.

Bantu Warga Miskin, Program Ansor Brebes Peduli Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantu Warga Miskin, Program Ansor Brebes Peduli Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantu Warga Miskin, Program Ansor Brebes Peduli Diluncurkan

Edy Tristiyanto selaku koordinator Ansor Brebes Peduli menyampaikan bahwa program ini bertujuan untuk membantu mereka yang tidak mampu atau sedang tertimpa musibah. Dana saat ini sudah terkumpul Rp4.075.000 hasil dari swadaya pengurus GP Ansor dan akan disalurkan kepada Umiyatun, warga RW 4 Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Brebes. Umiyatun merupakan seorang janda beranak tiga penderita penyakit paru-paru yang sehari sehari-hari bekerja sebagai pemulung.

“Mudah-mudahan ke depan makin banyak lagi donasi yang terkumpul dari para donatur sehingga Ansor bisa membantu lebih banyak warga yang tidak mampu,” lanjut Edy.

HMI Tegal Kab

Sementara, Ahmad Munsip selaku Ketua PC GP Ansor Kabupaten Brebes menambahkan bahwa pihaknya mempunyai beberapa bidang garapan termasuk bidang sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, pengurus GP Ansor di semua tingkatan harus peka terhadap kondisi sosial yang ada di masyarakat, salah satunya para kaum dhuafa. “Slogan GP Ansor yaitu ngaji, ngader, makaryo (mengaji, mengader, dan berkarya) itu yang harus kita laksanakan sehingga kiprah, eksistensi dan karya GP Ansor di masyarakat bisa dirasakan,” tutup Munsip.

HMI Tegal Kab

Acara peluncuran Ansor Brebes Peduli diisi Business Opportunity Presentation oleh Bumiputera Syariah Cabang Tegal untuk calon tenaga Financial Consultant Syari’ah sebagai tindak lanjut nota kesepahaman antara Pimpinan Wilayah GP Ansor Jateng dan Bumiputera. Turut Hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua PCNU Kabupaten Brebes H Sodikin Rahman serta penasihat PC GP Ansor Kabupaten Brebes sekaligus Ketua KPU Brebes Muamar Riza Pahlevi. (Red: Mahbib)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hadits, AlaNu, Quote HMI Tegal Kab

Sabtu, 18 November 2017

Idul Fitri, Merangkai Kembali Jalinan Silaturahim

Hari raya Idul Fitri di Indonesia identik dengan silaturahim dan permohonan maaf atas kesalahan yang kita buat selama satu tahun belakangan. Idul Fitri menjadi perayaan keagamaan dan budaya terbesar di negeri maritim ini. Perjalanan mudik dari lokasi-lokasi urban di mana masyarakat mencari nafkah untuk kembali ke daerah asal dilakukan dengan penuh perjuangan. Kemacetan panjang dan ongkos yang mahal tidak dipedulikan demi momen kumpul keluarga selama Lebaran. Ini menunjukkan betapa berartinya perayaan Lebaran bagi Muslim Indonesia.

Idul Fitri semakin bermakna saat nilai hubungan sesama manusia semakin mengalami degradasi. Sekalipun zaman semakin canggih dengan munculnya beraneka ragama alat untuk mempermudah manusia, tetapi waktu luang yang kita miliki semakin sedikit. Kita malah semakin disibukkan dengan berbagai macam tuntutan hidup agar tetap bisa menikmati kemudahan-kemudahan yang memanjakan ini. Kita dipaksa untuk bekerja keras agar tetap bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi ini. Semuanya perlu ongkos tinggi untuk mendapatkan dan mengoperasikannya. Bahkan, banyak di antara kita akhirnya terjebak dalam pengejaran teknologi ini dengan obsesi atas sesuatu yang terbaru dan tercanggih, sekalipun belum tentu dibutuhkan. Eksistensi diri sudah ditentukan seberapa canggih atau mahal peralatan yang kita miliki dan kita gunakan. ?

Idul Fitri, Merangkai Kembali Jalinan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Idul Fitri, Merangkai Kembali Jalinan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Idul Fitri, Merangkai Kembali Jalinan Silaturahim

Manusia bukan lagi mengendalikan alat-alat modern tersebut, tetapi peralatan canggih sesungguhnya telah memperbudak manusia. Banyak orang merasa kehilangan separuh dirinya jika ketinggalan telepon cerdas. Kita merasa tak bisa bergerak ke mana-mana tanpa kendaraan. Kita mati kutu saat listrik mati. Semakin lama, ketergantungan kita semakin tinggi pada peralatan hidup. Manusia, menjadi semakin lemah dan rentan di hadapan masin dan teknologi. Manusia semakin terasing dengan sesamanya.

Seusai kerja keras yang melelahkan untuk mempertahankan akses pada beragam kemudahan dan teknologi, waktu rehat sebagian besar orang disibukkan dengan hiburan, yang juga semakin personal. Dulu, hanya ada satu atau dua TV dalam satu kampung. Dalam satu kampung, semua warga berkumpul dalam satu titik. Di sela-sela siaran, orang bisa mengobrol dengan tetangganya sehingga mendekatkan hubungan. Saat TV masuk ke ruang-ruang keluarga, interaksi sosial menjadi semakin terbatas. Semakin jarang acara kumpul-kumpul sekedar untuk mengobrol. Dari hiburan di ruang keluarga yang diakses secara bersama-sama, revolusi teknologi memindahkan segalanya dalam genggaman dalam satu gawai atau telepon cerdas. Ruang keluarga pun semakin sepi. Semuanya semakin personal. Hampir-hampir kita tidak membutuhkan orang lain untuk menghibur diri. Di ruang tunggu dan saat mengantri, kini semuanya sibuk dengan gawainya. Semakin jarang kita ketemu kenalan baru dalam pertemuan-pertemuan seketika itu. Tanpa kita sadari sisi kemanusiaan kita sebagai makhluk sosial semakin tergerus.

HMI Tegal Kab

Ketika kita semakin sibuk dengan diri sendiri, hubungan antarmanusia juga menjadi semakin pragmatis. Kita berhubungan dengan orang lain saat memiliki kepentingan. Banyak orang menjadi semakin menghamba pada orang yang berkuasa, yang memiliki akses pada beragam sumberdaya.

Teknologi sesungguhnya telah memperluas jangkauan. Kita bisa bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat dan ongkos yang relatif murah. Transportasi umum semakin banyak dan terjangkau. Ongkos pesawat dari waktu ke waktu semakin murah, seiring semakin canggihnya teknologi. Revoluasi paling fenomenal pada abad 21 ini adalah ditemukannya internet yang kemudian memunculkan teknologi turunannya, yaitu media sosial.

HMI Tegal Kab

Media sosial telah merubah secara mendasar hubungan sesama manusia. Mereka yang jauh, yang sudah lama tak bersua seperti teman sekolah, teman sekampung yang masing-masing sudah bertebaran di berbagai penjuru dunia. Kini disatukan kembali dalam pertemanan dan grup-grup di media sosial. Sesaat sebelum tidur dan seketika setelah bangun tidur, banyak di antara kita langsung meraih gawainya untuk melihat pesan-pesan yang masuk. Teman kita semakin banyak, tetapi tingkat hubungan di media sosial sangatlah dangkal dengan komitmen yang rendah. Pertemanan yang kita temukan di media sosial tidak dapat dikatakan sebagai pertemanan sesungguhnya sebagaimana di dunia nyata. Kita memiliki kedekatan emosional pada teman yang kita miliki dalam interaksi nyata sehingga dengan mudah kita dapat memberikan pertolongan pada orang-orang yang kita kenal baik ini. Kita bisa berbagi rahasia-rahasia kecil pada teman yang kita percayai. Semuanya susah kita dapatkan dalam hubungan yang kita dapat di media sosial.

Itulah dua sisi dari teknologi media sosial, satu sisi semakin mendekatkan yang jauh, tetapi di sisi lain, mereka yang dekat secara fisik menjadi sangat berjarak. Yang kita perlukan adalah sebuah keseimbangan. Interaksi sesama manusia tidak dapat sepenuhnya tergantikan dengan media sosial. Media sosial tidak dapat menggantikan banyak hal dari kekerabatan, persahabatan, dan pertemanan yang dibangun melalui interaksi secara langsung. Media sosial bisa memperkuat hubungan tersebut menjadi semakin kokoh. Hubungan yang mendalam, saling pengertian, dan kerelaan untuk membantu sesama susah dibangun sekedar melalui media sosial.

Karena itu, Idul Fitri tidak cukup dengan menyampaikan pesan selamat berlebaran dan permintaan maaf melalui media sosial. Kita juga tidak boleh terlena oleh kemudahan hidup melalui berbagai alat berteknologi canggih itu. Mari kita manfaatkan momen ini untuk mengembalikan fitrah kita sebagai manusia sosial, yang saling berhubungan, berinteraksi sesama tanpa motif-motif lain, tanpa pertimbangan ekonomi, politik, atau kepentingan lainnya. Mudik dan interaksi hubungan manusia secara langsung, menemukan kembali momennya pada Idul Fitri ini. Biarkan semuanya mengalir, menciptakan kesejukan batin, memuaskan dahaga jiwa yang mengering karena terpaan berbagai tuntutan. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul, Quote, Sejarah HMI Tegal Kab

Rabu, 15 November 2017

Ansor Lumajang Protes Ketua Umumnya Dipecat

Jember, HMI Tegal Kab. Puluhan kader Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lumajang menggelar unjuk rasa di perempatan Adipura Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (28/6). Mereka memprotes tindakan sepihak DPP Partai Golkar yang telah memecat Ketua Umum GP Ansor Nusron wahid dari keanggotaanya di partai beringin itu.

Menurut mereka, tindakan tersebut telah mencederai demokrasi. “Kami tidak ingin  demokrasi di Indonesia mati. Kami menuntut Partai Golkar meninjau ulang pemecatan  ketua umum kami,” kata Mansyur Hidayat, salah satu orator aksi.

Ansor Lumajang Protes Ketua Umumnya Dipecat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Lumajang Protes Ketua Umumnya Dipecat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Lumajang Protes Ketua Umumnya Dipecat

Adam Bahiro, Ketua PC GP Ansor Lumajang, juga mengecam pemecatan Nusron. Menurutnya, Nusron adalah kader terbaik NU yang membawa aspirasi warga nahdliyyin di Partai Golkar. Ia berharap DPP Partai Golkar melakukan  dialog internal untuk mencari solusi.

HMI Tegal Kab

“Saya pikir, Golkar juga rugi memecat dia. Dia peraih suara terbanyak di Golkar. Kalau hanya karena berbeda pilihan politik di Pilpres, lantas dia dipecat, itu jelas tidak demokratis,” tukasnya.

Usai menggelar orasi, para pengunjuk rasa bergerak menuju kantor DPD Partai Golkar Lumajang, dan disambut pimpinan Golkar setempat, seperti Soedjatmiko (ketua), Hartono (sekretaris) dan beberapa pengurus yang lain. “Kami terima aspirasi kawan-klawan Ansor. Dan ini akan kami teruskan ke DPP,” ucap Soedjatmiko. .

HMI Tegal Kab

Selanjutnya, Ketua PC GP Ansor Lumajang memberikan kado berupa songkok kepada Ketua DPD Partai Golkar Lumajang. (Aryudi Arazaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote, Daerah HMI Tegal Kab

Kamis, 02 November 2017

Masyakat Perlu Pahami Fikih Kemasjidan

Pasuruan, HMI Tegal Kab

Masjid merupakan tempat publik yang pengelolaannya telah memiliki kaidah tertentu. Terdapat fikih yang secara spesifik mengatur pengelolaan aset masjid yang disebut fikih kemasjidan.

Masyakat Perlu Pahami Fikih Kemasjidan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyakat Perlu Pahami Fikih Kemasjidan (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyakat Perlu Pahami Fikih Kemasjidan

Takmir masjid, selain mengelola masjid biasanya juga menjadi pengurus majelis taklim atau pemuka agama setempat. Ada diantaranya yang kurang mampu membedakan peran-peran tersebut.

“Misalnya, karpet atau tikar masjid tidak boleh digunakan untuk tahlilan karena aset masjid menurut fikhul masjid tidak boleh dipinjamkan karena pengurus masjid sekaligus tokoh agama di desa tersebut,” kata Habibullah, ketua LTMNU Pasuruan kepada HMI Tegal Kab ketika sedang mengadakan rapat pimpinan daerah di Pasuruan pekan lalu.

HMI Tegal Kab

Karena itu, pihaknya secara rutin menggelar pelatihan rutin tentang fikih kemasjidan agar kasus seperti itu tidak terulang. 

Untuk membantu pemberdayaan masjid, LTMNU membantu mengurus IBM dan sertifikasi tanah wakafnya. Selain itu, juga terdapat pemberdayaan para pemuda agar aktif dalam pengelolaan masjid.

HMI Tegal Kab

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ubudiyah, Quote HMI Tegal Kab

Senin, 30 Oktober 2017

Filosofi Kemandirian Santri Penting Bagi Perkembangan Ekonomi

Pringsewu, HMI Tegal Kab. Mustasyar PCNU Pringsewu yang juga Bupati Pringsewu KH Sujadi mengatakan bahwa kunci kesuksesan dalam bidang ekonomi adalah kemandirian. Hal tersebut dikatakannya saat membuka secara resmi Kegiatan Seminar Kewirausahaan dan Kemandirian Santri dalam Rangka Hari Santri Nasional 2017 Kabupaten Pringsewu di Gedung NU, Sabtu (21/10).

Filosofi Kemandirian Santri Penting Bagi Perkembangan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Filosofi Kemandirian Santri Penting Bagi Perkembangan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Filosofi Kemandirian Santri Penting Bagi Perkembangan Ekonomi

Bupati yang merupakan Alumni Pondok Pesantren Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah ini menambahkan bahwa  jiwa  kemandirian ini sudah ditanamkan di pondok pesantren kepada santri sejak dini. Sehingga menurutnya sebagai seorang santri, sudah seharusnya  memiliki ide dan gagasan bagaimana berkiprah dalam bidang ekonomi.

"Yang tidak berbicara ekonomi hanya di surga. Siapapun akan berbicara tentang ekonomi," kata Abah Sujadi, sapaannya, di depan para peserta seminar yang terdiri dari santri dan Alumni Pondok Pesantren se Kabupaten Pringsewu.

Seminar yang bertemakan "Santri Mandiri, NKRI Hebat" tersebut menghadirkan dua orang nara sumber yaitu Sekjen Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Muhammad Nur Hayid dan Rektor Universitas Malahayati Lampung Muhammad Kadafi.

Dalam pemaparannya, Sekjen HIPSI yang akrab dipanggil Gus Hayid menjelaskan dalam mengawali bisnis dibidang ekonomi diperlukan beberapa aspek yang dapat menghantarkan seseorang kepada kesuksesan.

HMI Tegal Kab

"Berbisnis tidak hanya belajar tapi membutuhkan mental. Berbisnis juga tidak hanya mencari uang tapi membutuhkan akses. Dalam berbisnis harus tetap belajar. Jangan berhenti untuk belajar tidak  tidak cukup hanya teori saja," tegasnya seraya mengingatkan agar jangan berputus asa dalam berusaha.

Senada dengan Gis Hayid, Rektor Universitas Malahayati Lampung Muhammad Kadafi mengatakan bahwa jiwa entrepeneurship harus terus ditumbuhkan kepada para pelajar dan santri.

Hal ini dapat ditempuh dengan memperluas gerakan entrepeneurship, menerapkan kurikulum entrepeneurship dilembaga pendidikan dan menciptakan jiwa-jiwa yang inovatif.

Ketua Kadin Provinsi Lampung ini juga mengingatkan bahwa dalam berusaha juga harus ditanamkan niat untuk beribadah.

HMI Tegal Kab

"Landasi dengan ketulusan dan keikhlasan. Semoga berkah. Kalau bisa berbuat 1000 kebaikan kenapa harus satu. Kalau kita bersungguh-sungguh pasti bisa," pungkas Wakil Ketua PWNU Lampung ini. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote HMI Tegal Kab

Minggu, 29 Oktober 2017

Selamat Hari Raya Idul Fitri Zaman KH Hasyim Asyari

Di majalah Berita Nahdlatul Oelama (BNO) tahun 1354 H, hoofdbestuur (pengurus besar) Nahdlatul Ulama menghaturkan selamat hari raya Idul Fitri. Di tahun itu Idul Fitri jatuh pada tanggal 7 Januari 1936 M, sepuluh tahun sejak NU didirikan dan Indonesia (Hindia Belanda) masih dijajah Belanda.

Pada kolom haturan selamat Idul Fitri di majalah yang terbit 1 Januari 1936 tersbut, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah Hoofdbestuur Nahdlatul Ulama dicantumkan di situ mulai Hadrotusyekh KH Hasyim Asy’ari dan pengurus lain. ?

Selamat Hari Raya Idul Fitri Zaman KH Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamat Hari Raya Idul Fitri Zaman KH Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamat Hari Raya Idul Fitri Zaman KH Hasyim Asyari

Diantara kiai-kiai yang disebut adalah KH Ridwan bin Abdullah Surabaya, Abdul Wahab bin Hasbullah Surabaya, Abdullah bin Ali, KH Hamim, KH Sahal, KH A Faqih dll. Sementara di Tanfidziyah KH M Noer, H S Samil, M Kariadi dan lain-lain.

Ucapan selamat Idul Fitri itu berbunyi, Menghatoerkan selamat hari raya A’Idil fitri kehadapan sekalian Ichwanul moeslimin wal moeslimat, pembaca BNO umuman, wachoesoeson qoum Nahdliijin, menghatoerkan poela beberapa jenis kesalahan, kelalaian, kehilapan dan koerangnya Ta’addoeb semasa doedoek dalam Bestoeran, maoepoen sebeloemnya; Maka atas hal demikian, tenteo sedjoemlah kami ampoenja doesa hak adami, moehoen di maafkan sekaliannja dari Doenia hingga Acherat kelak.

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Di samping inipoen ta’loepalah kami sekalian bersedia memafakan sekedar doesa saudara terhadap kami sekaliannja.

Dan mari kita berdo’ea pada Allah djoega bersama-sama, disampaikan Oemoer kita masing-masing sampai bertemu A’idilfitri tahoen jang akan datang 1355 Amin!!

Pada tahun 1936 beberapa sejarah penting NU tercatat, NU menggelar Kongres ke-11 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pada waktu itu Hidayah Islamiyah, sebuah organisasi Islam bergabung dengan NU. Pada tahun itu pula KH Wahid Hasyim mendirikan Ikatan Pelajar-Pelajar Islam di Jombang, membangun taman bacaan tak kurang 500 buku, termasuk majalah, surat kabar dalam bahasa Jawa dan Indonesia. ?

Menurut Ensiklopedi NU (terbit 2014), majalah BNO, diperkirakan terbit pertama kali tahun 1931. Majalah itu diupayakan oleh kiai-kiai NU dengan harapan berperan sebagai obor kaum muslimin pada umumnya dan nahdliyin khususnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab News, Doa, Quote HMI Tegal Kab

Selasa, 24 Oktober 2017

Islam Itu Mudah, Tapi Jangan Disepelekan

Bandung, HMI Tegal Kab. Pada pengajian mingguan PCNU Kota Bandung, KH Imron mengatakan, bahwa agama itu mudah, misalnya shalat, jika dalam perjalanan bisa dijamak-qashar. Bila dalam keadaan sakit, bisa shalat sambil duduk. Jika tak mampu, bisa sambil tiduran.

Islam Itu Mudah, Tapi Jangan Disepelekan (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Itu Mudah, Tapi Jangan Disepelekan (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Itu Mudah, Tapi Jangan Disepelekan

“Jadi agama itu tak memberatkan, tapi jangan sampai agama itu dienteng-enteng. Maksudnya menyepelekan perintah agama,” tutur Ketua Lembaga Kajian Aswaja ini saat mengaji kitab Mukhtarul Hadits di Kantor PCNU Kota Bandung, Jalan Sancang 6, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung.

Pengajian tersebut diikuti sekitar 150 orang dari daftar semestinya yang mencapai 250 orang. Mereka adalah kiai, pengurus dan jamaah NU. Dalam pengajian yang dimulai pukul 07.00 WIB ini, empat kiai turut mengisi. Mereka mengaji sekitar 45 menit.

HMI Tegal Kab

Pengajian kitab at-Tadzhib diasuh oleh Rais Syuriyah PCNU Kota Bandung KH Tajuddin Subki, kitab Ibanatul Ahkam oleh Ketua PCNU Kota Sukabumi KH Maftuh Kholil, kitab Tafsir Jalalain oleh KH Asep Syarif Hidayat, dan kitab Mukhtarul Hadits oleh KH Imron.

HMI Tegal Kab

Menurut Ketua PCNU Kota Bandung KH Maftuh Kholil, pengajian ini membawa beberapa manfaat. Pertama, silaturahim antarpengurus, jamaah, dan kiai. Kedua, sosialisasi program-program NU kepada jamaah.

“Kalau kita keliling, belum tentu selesai selama 7 bulan. Kalau melalui pengajian ini, bisa langsung sampai dengan cepat, sebab yang mengikuti pengajian (juga) memiliki jamaahnya sendiri di masjid-masjid dan majelis talim,” jelasnya.

Juga, tambah Kiai Maftuh, pengajian yang berlangsung sejak 2008 tersebut menunjukkan bahwa syiar NU di Kota Bandung itu hidup, berkembang, dan tumbuh. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock