Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Yayasan Darul Ma’arif Sumbar Gelar Pelatihan Guru PAUD

Pariaman, HMI Tegal Kab. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahapan pendidikan yang penting dalam melahirkan anak-anak cerdas bangsa ke depan. Untuk itu, apresiasi yang positif perlu diberikan kepada pengelola dan guru PAUD.

Yayasan Darul Ma’arif Sumbar Gelar Pelatihan Guru PAUD (Sumber Gambar : Nu Online)
Yayasan Darul Ma’arif Sumbar Gelar Pelatihan Guru PAUD (Sumber Gambar : Nu Online)

Yayasan Darul Ma’arif Sumbar Gelar Pelatihan Guru PAUD

Pembina Yayasan Darul Ma’arif Sumatera Barat Darmansyah mengungkapkan hal itu ketika membuka Pelatihan Pengelola dan Peningkatan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ma’arif Sumatera Barat tahun 2012, Ahad (23/9) di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Desa Kajai Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman. Pelatihan diikuti 50 orang pengelola dan guru PAUD Azzahrah Ma’arif di Kabupaten Padangpariaman dan Kota Pariaman.

Darmansyah mengingatkan, para guru dan pengelola jangan dipaksa anak-anak menguasai pelajaran matematika, hafalan tertentu. Karena dapat merugikan anak itu sendiri di kemudian hari.  “Kenapa anak PAUD lebih banyak bernyanyi, ketimbang belajar matematika. Karena masa anak-anak itu mudah menerima sesuatu dan cepat bosan. Anak-anak masih bersih dari dosa, hatinya suci, sehingga mudah ingat dan cepat bosan,” kata Darmansyah yang juga Wakil Ketua PWNU Sumatera Barat.

HMI Tegal Kab

Ketua Panitia Pelatihan Pengelola dan Peningkatan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ma’arif Sumatera Barat tahun 2012 Armaidi Tanjung menyebutkan, pelatihan menampilkan empat narasumber. Masing-masing  Ketua Yayasan Darul Ma’arif  Sumbar/Wakil Ketua PWNU Sumbar  Dasril (Penguatan Nilai-Nilai Aswaja Bagi Pengelola dan Guru PAUD), Pembantu Pimpinan  Bidang PAUD/PK-PLK Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat Wismawetti (Strategi Pembelajaran PAUD), Kasi Pendidikan Keagamaan Bidang Pekapontren Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat  H Syahrizal (Kebijakan Kementerian Agama Sumbar Terhadap Pengembangan PAUD dan Raudhatul Atfal (RA) di Sumatera Barat) dan Pembina PAUD Azzahrah Ma’arif Kab. Padangpariaman/Kota Pariaman  Armaidi Tanjung (Pentingnya  PAUD Dalam Melahirkan Generasi Bangsa Yang Cerdas).

HMI Tegal Kab

”Pelatihan dimaksudkan untuk memberikan informasi dan peningkatan wawasan bagi pengelola dan guru PAUD Azzahrah Ma’arif di Padangpariaman dan Kota Pariaman. Kegiatan ini difasilitasi oleh Yayasan Darul Ma’arif Sumatera Barat dan Kasubdit Kelembagaan dan Kemitraan Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Ditjen PAUDNI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta,” kata Armaidi Tanjung penulis buku Pariaman Dulu, Kini dan Masa Depan ini.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Doa HMI Tegal Kab

Rabu, 14 Februari 2018

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya

Jakarta, HMI Tegal Kab. Dewan Pembina Pimpinan Pusat Pagar Nusa KH Fuad Anwar meminta agar mengurus organisasi pencak silat di NU itu dengan pengibaratan nasi tumpeng. Ia menyampaikan hal itu pada istighasah rutin Selasa Kliwon di masjid An-Nahdlah, lantai dasar gedung PBNU, Jakarta, Selasa malam (21/1).

Menurut dia, nasi tumpeng itu pada bagian bawah terdapat beragam lauk-pauk, mulai daging ayam, kacang-kacangan, telor, lalapan, sambal, sampai urab. “Di tubuh Pagar Nusa itu pun seperti itu, di bagian bawah terdapat beragam anggota beraneka ragam,” katanya di hadapan puluhan pengurus.

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya

Tapi, semakin ke atas dari nasi tumpeng itu semakin mengerucut. “Pada pucuk tumpeng itulah posisi seorang pemimpin. Pemimpin harus memahami dan mengayomi keberagaman di bagian bawah organisasi,” jelasnya. ?

HMI Tegal Kab

Dengan pola semacam itu, kata mantan Ketua Umum PP Pagar Nusa periode sebelumnya tersebut, organisasi silat yang didirkan 28 tahun lalu itu bisa beragam dalam satu kesatuan. Fuad sangat menekankan sekali tentang kemenyatuan ini .

Kemenyetuan itu, tegas dia, harus diorganisir dengan baik. Ia kemudian memperkuat pernyataannya dengan mengutip sebuah peribahasa Arab. “Islam tidak akan sempurna kalau tidak diorganisir. Pengorganisiran tidak akan berjalan kalau pengurusnya tidak mengurus,” tegasnya.

HMI Tegal Kab

Kepengurusan pun, tambah dia, tidak akan bermanfaat kalau tidak bersatu dalam ketaaatan terhadap aturan organisasi.

Selain sebagai rutinan Selasa Kliwonan, potong tumpeng itu merupakan tasyakuran PP Pagar Nusa selepas sukses dua bedah buku di gedung PBNU, Selasa sore (21/1). Potong tumpeng dilakukan Sekretaris Jenderal PP Pagar Nusa M. Nabil Harun. Potongan tumpeng itu ia berikan kepada Ketua Umum PP Pagar Nusa Aizuddin Abdurrahman dan KH Fuad Anwar. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa, Pesantren HMI Tegal Kab

Jumat, 09 Februari 2018

Tiga Tujuan Bismillah

Malang, HMI Tegal Kab. Kalimat bismillah memiliki tiga tujuan. Pertama, melakukan sesuatu berdasarkan perintah Allah (awamirillahi). Kedua, selama prosesnya niat mencari pertolongan Allah (thaliban lima’unatihi) dan ketiga, untuk hasilnya memohon berkah Allah (barakatan linatijatihi).

Demikian ditegaskan oleh KH. Hasyim Muzadi dalam pengajian awal bulan, Ahad, (4/01) di Masjid Al-Ghazali, Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, Jawa Timur.

Tiga Tujuan Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Tujuan Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Tujuan Bismillah

Hasyim menjelaskan, bermula dari kata bismillah, bisa dimaknai dengan saya melakukan sesuatu atas nama siapa, atas nama nafsu atau kehendak sendiri.

HMI Tegal Kab

“Atas nama Allah swt adalah niat yang paling tinggi,” tuturnya.?

Hasyim melanjutkan, jika amal keduniaan diniati dengan kebaikan, maka amal itu akan menjadi amal akhirat. Sebaliknya kata Kiai Hasyim, jika diniati dengan salah, amal akhirat bisa menjadi amal dunia.?

HMI Tegal Kab

“Istigotsah kalau tujuannya untuk sukses pilkada ya kurang (berkualitas),” ucap pengasuh Pesantren mahasiswa Al-Hikam Malang dan Depok itu.?

Dalam kalimat bismillah ini Hasyim juga menjelaskan makna rahman dan rahim. Rahman, kata Sekjen ICIS ini, adalah kasih sayang Allah untuk semua makhluk, baik itu manusia, jin, hewan, malaikat, dan seterusnya. “Bahkan setan juga diberi Rahman Allah,” katanya.

Rahman Allah, tambahnya, harus disandingkan dengan sifat rahim. Rahim Allah, lanjut Hasyim, adalah kasih sayang Allah yang khusus diberikan kepada orang-orang muslim.?

“Kuncinya surga adalah tauhid kepada Allah, maka orang kafir yang melakukan kebaikan hanya akan dibalas di dunia, sedangkan muslim yang shalih akan dibalas sampai di akhirat,” papar Ketua Umum PBNU periode 1999-2010 ini.

Di akhir tausiahnya Hasyim menjelaskan, di tengah zaman yang sulit, dimana kebathilan dianggap benar dan kebenaran dianggap bathil, maka menurut dia, kuncinya kembali kepada Al-Quran dan shalawat Nabi.?

“Makanya jamaah khataman diperbanyak, masyarakat digerakan bershalawat,” pesan Hasyim. (Sabiq Al-Aulia Zulfa/Fathoni) ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Daerah, Doa HMI Tegal Kab

Rabu, 31 Januari 2018

IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo Rekrut Pelajar Baru

Banyumas, HMI Tegal Kab. Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo kabupaten Banyumas, mengadakan Makesta di awal tahun ajaran baru, Sabtu-Ahad (6-7/9). Kegiatan rutin setiap tahun ini dirancang untuk melibatkan peserta didik baru kelas sepuluh dalam gerakan pelajar NU.

Pembina IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo Khasan Mu’min mengatakan, pihak sekolah mewajibkan seluruh siswa untuk mengikuti kegiatan ini.

IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo Rekrut Pelajar Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo Rekrut Pelajar Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo Rekrut Pelajar Baru

“Makesta ini dirancang untuk membuka para siswa terhadap paham Aswaja NU di samping penanaman rasa cinta dan pengabdian kepada NU dan NKRI,” kata Khasan yang juga Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMK Ma’arif NU 1 Rawalo.

HMI Tegal Kab

Sebanyak 120 pelajar baru mengikuti makesta ini. Panitia menghadirkan pengurus MWCNU Rawalo sebagai pemateri ke-Nuan dan pengurus IPNU-IPPNU Banyumas sebagai pemateri kepemimpinan dan tantangan globalisasi.

HMI Tegal Kab

Khasan berharap makesta kali ini dapat membawa perubahan signifikan dan kemajuan di bidang pendidikan khususnya di SMK Ma’arif NU 1 Rawalo. (Azka Miftahudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa, PonPes, Hadits HMI Tegal Kab

Senin, 29 Januari 2018

Angon Wedus Dituduh Wedus

Oleh Aswab Mahasin

Akhir-akhir ini, Indonesia seringkali dihebohkan oleh fenomena “kiro-kiro” (kira-kira). Sayangnya, fenomena “kiro-kiro” tersebut tidak diukur melalui proses benar/salah, sesuai/tidak, dan nyambung/tidak. Melainkan langsung jatuh vonis: Anda salah, Anda menyimpang, dan Anda keliru. Seringkali masyarakat kita terjebak dengan ‘nampak luar’ dan ‘nampak isu’. Pengandaiannya begini, orang angon wedus (gembala kambing) sering dituduh kalau dia wedus dan orang masuk kandang ayam sering dituduh kalau dia bagian dari ayam.

Angon Wedus Dituduh Wedus (Sumber Gambar : Nu Online)
Angon Wedus Dituduh Wedus (Sumber Gambar : Nu Online)

Angon Wedus Dituduh Wedus

Masih kental diingatan kita, Gus Dur pernah membuka wacana kerja sama dagang dengan Israel. Namun, tidak sedikit masyarakat yang menuduh Gus Dur adalah antek Yahudi, antek zionis, dan antek-antek lainnya. Padahal yang Gus Dur lakukan adalah “angon wedus” dengan kata lain “angon Israel”.

Gus Dur dalam wacananya tidak begitu saja membuka kerja sama dengan Israel, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Israel itu sendiri, seperti: mempertimbangkan nasib rakyat Palestina dan dilibatkannya Indonesia dalam proses perdamaian di Timur Tengah (notabene Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar).

Gus Dur sebelumnya melakukan pertemuan dengan 16 Duta Besar Negara-negara Arab, termasuk Dubes Palestina saat itu Ribhi Y Awad. Kata Awad, “Gus Dur dan Indonesia tidak akan melakukan hubungan diplomatik dengan Israel sebelum bangsa Palestina mendapatkan kemerdekaan, dan Indonesia juga tidak akan membuka hubungan kerjasama dengan Israel, sebelum Israel melepas tawanan Palestina, dan sebelum Israel mengembalikan wilayah-wilayah Arab yang diduduki Israel”.

Jika kita lihat konteksnya, Gus Dur sedang mencoba ngangon Israel, bukan menjadi Israel. Namun, kebiasaan masayarakat kita setiap “angon” dikira “menjadi apa yang di-angon”. Ini yang dinamakan “angon wedus dituduh wedus” sama dengan “angon Israel dituduh Israel”. Padahal Gus Dur ngangonitu supaya wedus (baca: Israel) tidak liar, dan bisa dikendalikan secara sikap politiknya. Untuk mengendalikan sesuatu yang liar maka harus dibimbing, diarahkan, dan diikat emosionalnya, dengan cara ‘angon’.

HMI Tegal Kab

Belum lama juga, kita ingat geger tentang Cak Nun perihal kedekatannya dengan orang-orang HTI. Bagi pemahaman saya sekarang, itu adalah pancingan yang dilakukan oleh Cak Nun, dengan lebih awal menembak NU dulu. Karena HTI paling tidak klop dengan NU. Ini adalah cara Cak Nun untuk berdialog hangat dengan HTI, dan memberikan pemahaman utuh tentang keindonesiaan kepada HTI. 

Tepatlah sasaran Cak Nun, orang-orang HTI itu akhirnya soan ke kediaman Cak Nun (tanpa disangka dan tanpa diduga), dan meminta petuah kepada Cak Nun, dan di sinilah Cak Nun mencoba menggiring mereka kepada pemahaman utuh tentang khilafah dan keindonesiaan. Cak Nun mengatakan, pemahaman khilafah saya dengan khilafah Anda sebagai HTI berbeda. Namun, apa yang terjadi? 

Cak Nun, mencoba masuk kandang ayam, dan beliau-pun dikira ayam oleh kebanyakan orang. Padahal niat Cak Nun, ingin membersihkan kandang ayam, memandikan ayam, dan menyemprot ayam agar terhidar dari bakteri-bakteri yang menyimpang. Tapi Cak Nun, dibredel habis-habisan, dengan mengatakan, “Cak Nun, ayam, Cak Nun, ayam, Cak Nun, ayam”.

Baru kemaren, medsos ‘geger berat’ masalah Banser yang dituding membubarkan pengajian Felix Siauw di Bangil, Pasuruan.Memang,Banser akhir-akhir ini getol menindaklanjuti orasi-orasi terselubung yang dilakukan orang-orang HTI. Namun, di Bangil ini gegernya gementus. Saya lihat banyak anggapan miring yang diarahkan kepada Banser. Dalam hal ini, kita harus mendudukkan pada pikiran yang jernih dan jiwa yang lapang. Jangan hanya gara-gara Felix sebagai objek, lantas Banser yang salah, tidak begitu.

HMI Tegal Kab

Faktanya, Ansor/Banser ingin mencoba meminimalisir kemungkinan pencuri ikan di meja makan Indonesia ini. Banser tidak mau, pancasila sedikit demi sedikit digerogoti keutuhannya, NKRI dirongrong kesatuannya, dan Indonesia digantikan sistem pemerintahannya. Namun, tuduhan demi tuduhan itu datang kepada Banser, disangkanya banser melakukan perbuatan semena-mena terhadap suatu kelompok atau orang tertentu. Jelas, ini anggapan keliru. Banser melakukan itu, tanpa kekerasan, tanpa pentungan, dan tanpa ancaman. Karena itu, ini bukan pembubaran.

Banser mengajukan penawaran, agar seseorang itu menandatangani poin-poin tertentu yang diajukan, seperti: mengakui pancasila, tidak menyebarkan faham-faham negara Islam, dan menyatakan tidak ada sangkutpautnya dengan HTI. Namun, seseorang tersebut menolak dan memilih untuk pergi. Logikanya jelas tidak utuh kalau itu dinyatakan sebagai pembubaran, Banser ingin berdialog, berdamai, dan tidak mau ada keributan.

Banser ini sedang “angon” toleransi, sedang “angon” kesatuan, sedang “angon” pancasila, dan sedang “angon” Indonesia. Banser malah dituduh sebagai kepanjangan tangan penguasa, hanya berpihak kepada penguasa dan memuluskan kepentingan penguasa. Padahal aktifitas tersebut untuk kepentingan bersama—keuntuahan rumah kita, Indonesia Raya. Memang aneh, setiap berbicara pancasila maka dituduh bagian dari penguasa, dengan dalih—hanya penguasa yang boleh menafsirkan pancasila.

Namun, penjelasan seperti itu belum mampu meredam hiruk-pikuk di medsos yang kadung terperdaya oleh sumber-sumber berita menyudutkan. Dalam hal ini, saya hanya berharap Banser tetap istiqomah dan Banser bersabar atas tudingan ini-itu, meminjam istilah Gus Dur, “Nanti sejarah yang akan membuktikannya.”

Kita semua mengenal peribahasa, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, Di mana ranting dipatah, di situ air disauk, Masuk kandang kambing mengembek, masuk kandang kerbau menguak”. Peribahasa tersebut menyarankan agar kita selalu menyesuaikan dan mengikuti kebiasaan (cara hidup, cara pandang), dan adat istiadat di tempat kita berada.

Indonesia dengan berbagai intriknya bersepakat mengusung identitasnya Pancasila. Negara berdasar Pancasila bukan negara agama, tapi juga bukan negara sekuler, kata Prof. Dr. N. Drijakara tahun 1959. Bagaimana memahaminya? Bukan sekuler, karena negara mengakui dan memberi tempat buat religi. Bukan negara agama, karena tidak mendasarkan diri atas suatu agama tertentu.(Mahbub Djunaedi, Bukan Ini Bukan Itu, [Tempo, 15 Maret 1975])

Yang paling ruwet saat ini adalah dua kekuatan besar dibenturkan, di mana agama berbenturan dengan negara dan negara berbenturan dengan agama. Dan keduanya terkesan saling berlawanan. Ambil contoh pembubaran HTI, bagi sebagian orang menafsirkannya negara tidak berpihak kepada Islam. Namun, yang harus dipertanyakan ialah, kenapa hanya HTI yang dibubarkan?

Benturan itu terjadi tidak hanya dengan negara, namun dengan organisasi lainnya juga. Seharusnya HTI datang kepada pemerintah atau NU meminta bimbingan agar sesuai dengan misi dan visi pembangunan. Kalau HTI hanya ngambek di belakang, sampai kapanpun tidak akan ketemu titik pijaknya. Kita semua harus duduk bersama, dan HTI bertanya, saya salahnya dimana? Saya seharusnya bagaimana? Kalau HTI memang benar-benar ingin ikut andil dalam mencerdaskan dan membangun bangsa ini, HTI harus melakukan langkah-langkah yang cantik dan bijaksana.

Kita sebagai penonton, harus menghilangkan kebiasaan menduga-duga/mengira-ngira tuduhan-tuduhan yang belum tentu kebenarannya, lebih dulu harus dicek dan ditimang-timbang kesesuaiannya. Apalagi tuduhan-tuduhan yang mengarah pada perpecahan. Setiap ada yang “angon wedus” kita curigai, kalau semua kita curigai, lantas kita mau percaya kepada siapa dalam urusan dunia ini? Memang, kebenaran seringkali sepihak. Anehnya, ketika kita belajar tentang benar, itu untuk menyalahkan. Lantas, kalau semua disalahkan, siapa yang benar?

Sungguh, benar dan salah sudah tak terlihat di zaman medsos ini, apalagi zaman now, pemegang kuasa kebenaran tergantung bagaimana opini medsos yang berkembang, entah itu dituduh wedus atau dituduh ayam. Siapapun yang menentang kebenaran berita/informasi medsos maka ia akan dianggap salah dan siap-siap dihantam habis-habisan. Ketika kebenaran yang lebih valid datang, tidak akan diterima karena kebenaran yang sudah dianggap benar mendahului. Benar adagium yang menyatakan, “siapa yang menguasai media, ia menguasai dunia”. 

Efeknya adalah kita lebih menikmati “kentut” kita sendiri, dan tidak mau menerima “kentut” orang lain. Artinya, manusia selalu mengira apa yang dilakukannya itu putih (suci), padahal apa yang kita lakukan punya dua kemungkinan aroma, harum dan busuk. Karena itu, baiknya kita sama-sama bercermin dan introspeksi diri kita masing-masing.Bukan hal yang buruk berjalan memperbaiki diri, dalam posisi apapun dan dipihak manapun.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wa’ tashimu bi habli allaihi jami’an wa la tafarraqu” (Dan bepeganglah kalian kepada tali Allah (secara) keseluruhan dan janganlah bercerai-berai/terpisah belah) (QS. Ali Imran [3]: 103). Menurut Gus Dur, ayat ini menunjukan kepada kita, yang dilarang bukannya perbedaan pandangan melainkan bersikap terpecah-belah satu dari yang lainnya. Hal ini diperkuat sebuah ayat lain (QS. Al-Maidah [5]: 3), “ta’wanu ‘ala al-birri wa al-taqwa”.

Kata Gus Dur, di sinilah kita perlu membangun kembali “kesatuan umat”(ummatan wahidatan). Mudah diucapkan, tapi sulit diwujudkan bukan?

Penulis adalah Pembaca Setia HMI Tegal Kab.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Doa, Syariah HMI Tegal Kab

Jumat, 26 Januari 2018

Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim

Sidoarjo, HMI Tegal Kab - Rais ‘Aam PBNU KH Maruf Amin menyatakan, Istighotsah Kubro yang digelar PWNU Jawa Timur di Stadion Gelora Delta Sidoarjo itu merupakan keinginan para ulama agar bermunajat kepada Allah SWT dalam rangka menjaga umat, bangsa, dan negara dari berbagai malapetaka.

?

"Kita bersyukur dan bangga bahwa ulama tidak hanya sibuk di pesantren mencetak santri menjadi ulama. Tapi ulama mempunyai perhatian yang besar terhadap kehidupan bangsa dan negara. Oleh karena itu, para ulama mengajak untuk berkumpul mengetuk ‘pintu langit’ memohon nurullah, cahaya di atas segala cahaya," kata Kiai Maruf Amin saat memberikan pengarahan pada acara istighotsah kubro, Ahad (9/4).

Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim

?

Kiai Maruf menceritakan, minggu lalu pihaknya bertemu Presiden Joko Widodo. Kiai Maruf mengatakan kepada Presiden bahwa warga NU dan seluruh warga Nahdliyin di Jawa Timur akan mengadakan Istighotsah Kubro mendoakan negara agar aman, tenteram, sejahtera, dan damai. “Dan beliau (Presiden Jokowi) terharu sekali,” katanya.

?

HMI Tegal Kab

Lebih lanjut Kiai Maruf menegaskan, upaya lahiriah yang dilakukan oleh pemerintah dari atas sampai ke bawah harus didukung melalui upaya batiniah. Bahkan kalau semua manusia memperoleh rahmat Allah, upaya betatapun kecil yang dilakukan akan berdampak besar.

"Dan itu sudah pernah diakui ketika bangsa Indonesia merebut kemerdekaan dari Belanda, meski menggunakan peralatan seadanya, bangsa Indonesia bisa merdeka," tegas Ketua MUI pusat itu. (Moh Kholidun/Mahbib)

HMI Tegal Kab

?


Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Doa, Meme Islam HMI Tegal Kab

Minggu, 21 Januari 2018

Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji

Surabaya, HMI Tegal Kab. Jelang Kongres PMII ke-XVIII pada 30 Mei hingga 5 Juni mendatang di Jambi, sejumlah kandidat ketua umum akan diuji terlebih dahulu perihal pemikiran dan kapasitas. Komunitas Pondok Budaya IKON Surabaya berencana menggelar “Forum Rembuk Sahabat” bersama para kandidat di Coffe Toffe JX Internasional, Surabaya, Jumat (16/5).

Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji

"Selain menghadirkan kandidat Ketua PMII, juga akan menghadirkan sejumlah Ketua Ikatan Keluarga Alumni PMII Jatim, akademisi, dan pengurus NU Jatim sebagai panelis," kata Sekretaris Eksekutif Pondok Budaya IKON Surabaya Abdul Hady JM kepada HMI Tegal Kab, Senin, (12/5). 

Berdasarkan informasi yang beredar, tidak sedikit kandidat ketua PMII berasal dari Jawa Timur. "Ternyata banyak kandidat potensial berasal dari Jawa Timur yang akan maju memperebutkan jabatan ketua umum," kata Abdul Hady.

HMI Tegal Kab

Karenanya, kami terpanggil untuk mengorbitkan mereka sekaligus untuk mencermati proyeksi mereka bila nantinya terpilih, lanjut Hady. Prinsipnya, Forum Rembuk Sahabat menjadi ajang mengomunikasikan pikiran, gagasan, visi dan misi dari kandidat agar dapat diketahui khalayak, khususnya bagi mereka yang memiliki hak pilih saat kongres.

HMI Tegal Kab

Selama ini tampak sejumlah nama kandidat yang diperkirakan akan meramaikan bursa ketua umum. Mereka antara lain Mukaffi Makki (Surabaya), Zaini Mustaqim (Kota Malang), Abdul Aziz (Jombang), Deny Mahmud Fauzi (Surabaya), Arif Taufiqurrahman (Jombang), Abidurrahman (Tulungagung), Erfandi Efendi (Bangkalan), Heri Kristianto (Jember), dan Iwan Adi Kusuma (Tulungagung).

kandidat nantinya akan diuji kemampuan dan komitmennya oleh tiga panelis. Mereka ialah Ketua IKA PMII Jatim RPA Mujahid Anshori, Mantan Rektor Unitomo Ulul Albab, dan Sekretaris PWNU Jatim Muzakki.

"Alhamdulillan sejumlah kandidat telah mengkonfirmasi dan bersedia untuk hadir pada kegiatan ini, demikian juga para panelis," kata sekretaris panitia RPA Faqih Zamany. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa, Humor Islam, Pahlawan HMI Tegal Kab

Jumat, 19 Januari 2018

Berjalan Kaki 18 Km. ke Gunung Muria untuk Mengajar

Kudus adalah daerah yang terkenal dengan nama kota Kretek dan kota Santri dalam wilayah propinsi Jawa Tengah. Kota ini dibangun oleh Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shodiq) dengan rentetan historisitas yang berpusat pada kerajaan Islam pertama di Jawa (Demak). Hal ini ditengarai dari inskripsi batu nisan yang ada di atas mihrab Masjid al-Aqsha Menara Kudus.

Di belakang Masjid al-Aqsa Menara Kudus inilah, di Komplek Makam Sunan Kudus, hampir selalu ada saja yang mengaji. Baik yang dengan tujuan untuk berziarah, maupun santri yang niat tabarrukan agar diberi kemudahan dalam berbagai urusan. Di antara deretan nisan di komplek makam tersebut, terdapat makam KH Raden Asnawi. Salah seorang ulama keturunan ke-14 Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 KH Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati.

Berjalan Kaki 18 Km. ke Gunung Muria untuk Mengajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Berjalan Kaki 18 Km. ke Gunung Muria untuk Mengajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Berjalan Kaki 18 Km. ke Gunung Muria untuk Mengajar

Kelahiran

Pada hari Jum’at Pon, kisaran tahun 1861 M (1281 H) di daerah Damaran lahir seorang bayi yang diberi nama Raden Ahmad Syamsyi. Putra dari pasangan H. Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah ini lahir di sebuah rumah milik Mbah Sulangsih. Tempat tinggal Mbah Sulang begitu ia akrab disapa menjadi ramai didatangi oleh sanak saudara dan tetangga sekitar lantaran kelahiran anak pembarep. Sudah menjadi tradisi masyarakat Kudus, setiap ada babaran (melahirkan bayi), tetangga ikut merasakan bahagia dengan menjenguk ibu dan anak yang dilahirkan.

HMI Tegal Kab

H. Abdullah Husnin terkenal seorang pedagang konfeksi yang tergolong besar. Memang sudah menjadi hal yang lumrah, rata-rata penduduk di desa ini mempunyai penggautan (kerja) di bidang konfeksi. Potensi ekonomi masyarakatnya mengandalkan kreatifitas memproduksi kain menjadi pakain, kerudung, rukuh, dan lain sebagainya.

HMI Tegal Kab

Sejak kecil, Ahmad Syamsyi diasuh oleh kedua orang tuanya, dikenalkan pada pelajaran agama dan tata cara bermasyarakat menurut ajaran-ajaran Islam. Selain itu, Ahmad Syamsyi juga diajarkan berdagang sejak dini. Kemudian semenjak usia 15 tahun, pada kisaran tahun 1876 M. orang tuanya memboyong ke Tulungagung Jawa Timur. Di sana H Abdullah Husnin mengajari anaknya berdagang pagi hingga siang.

Keinginannya mencetak putra sholih mengantarkan Husnin untuk mengikutsertakan Syamsi mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung. Waktu mengaji adalah sepulang dari berdagang mulai sore hingga malam. Tidak diketahui apa kitab yang ditekuni kala itu. Selain mengaji di Tulungagung, Ahmad Syamsi kemudian melanjutkan mengaji kepada KH. Irsyad Naib Mayong, Jepara.

Pergantian Nama dan Mengajar Agama

Sewaktu umur 25 tahun, kira-kira pada tahun 1886 M. Ahmad Syamsi menunaikan ibadah haji yang pertama dan sepulangnya dari ibadah haji ini, KHR. Asnawi mulai mangajar dan melakukan tabligh agama.

Kira-kira umur 30 tahun KHR. Asnawi diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun. Selama itu KHR. Asnawi juga pernah pulang ke Kudus beberapa kali untuk menjenguk ibunya yang masih hidup beserta adik yang bernama H. Dimyati yang menetap di Kudus hingga wafat. Ibunya wafat di Kudus sewaktu KHR. Asnawi telah kembali ke tanah suci untuk meneruskan cita-citanya.

Sepulangnya dari haji pertamanya, nama Raden Ahmad Syamsi diganti dengan Raden Haji Ilyas. Pergantian nama sepulang dari tanah suci sudah menjadi hal yang wajar, namun nama Ilyas juga tidak menjadi nama hingga wafatnya. Nama Ilyas ini kemudian diganti lagi dengan Raden Haji Asnawi, setelah pulang dari menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya.

Selanjutnya nama Asnawi ini yang menjadi terkenal dalam pengembanagan Ahlussunnah Waljama’ah di daerah Kudus dan sekitarnya. Dari sinilah kharismanya muncul dan masyarakat memanggilnya dengan sebutan Kiai. Sehingga nama harum yang dikenal masyarakat luas menyebut dengan Kiai Haji Raden Asnawi (KHR. Asnawi).

Sebagaimana lazimnya, sebutan Kiai ini tidaklah muncul begitu saja, atau dedeklarasikan dalam sebuah peristiwa, namun ia diperoleh melalui pengakuan masyarakat yang diajarkan agama secara berkesinambungan sejak KHR. Asnawi berumur 25 tahun. Pada setiap Jumu’ah Pahing, sesudah shalat Jumu’ah, KHR. Asnawi mengajar Tauhid di Masjid Muria (Masjid Sunan Muria) yang berjarak + 18 Km dari kota Kudus, dan jalan pegunungan yang menanjak ini ditempuhnya dengan berjalan kaki. KHR. Asnawi juga selalu berkeliling mengajar dari masjid ke masjid sekitar kota saat shalat Shubuh.

Secara khusus KHR. Asnawi juga mengadakan pengajian rutin, seperti Khataman TafsirJalalain dalam bulan Ramadlan di pondok pesantren Bendan Kudus. Khataman kitab Bidayatul Hidayah dan al-Hikam dalam bulan Ramadlan di Tajuk Makam Sunan Kudus. Membaca kitab Hadist Bukhari yang dilakukan setiap jamaah fajar dan setiap sesudah jama’ah shubuh selama bulan Ramadhan bertempat di Masjid al-Aqsha Kauman Menara Kudus, sampai KHR. Asnawi wafat, kitab ini belum khatam, makanya diteruskan oleh al-Hafidh KHM. Arwani Amin sampai khatam.

Kegiatan tabligh KHR. Asnawi untuk menyebarkan akidah Ahlusunnah wal Jamaah tidaklah terbatas daerah Kabupaten Kudus saja, melainkan juga menjangkau ke daerah lain seperti Demak, Jepara, Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Cepu, dan Blora.

Di antara ilmu yang diutamakan oleh KHR. Asnawi adalah Tauhid dan Fiqih. Karenanya, bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya, KHR. Asnawi hingga kini masih selalu diingat melalui karya populernya yang kini dikenal dengan “Shalawat Asnawiyyah.”  Selain itu karya Asnawi seperti Soal Jawab Mu’taqad Seket, Fasholatan Kyai Asnawi (yang disusun oleh KH. Minan Zuhri), Syiir Nasihat, Du’aul ‘Arusa’in, Sholawat Asnawiyyah dan syi’iran lainnya juga tetap diajarkan di pengajian-pengajian pesantren dan masjid-masjid hingga saat ini.

Mukim di Tanah Suci

Di Makkah, KHR. Asnawi tinggal di rumah Syeikh Hamid Manan (Kudus). Namun setelah menikahi Nyai Hj. Hamdanah (janda Almaghfurlah Syeikh Nawawi al-Bantani), KHR. Asnawi pindah ke kampung Syami’ah. Dalam perkawinannya dengan Nyai Hj. Hamdanah ini, KHR. Asnawi dikaruniai 9 putera. Namun hanya 3 puteranya yang hidup hingga tua. Yaitu H. Zuhri, Hj. Azizah (istri KH. Shaleh Tayu) dan Alawiyah (istri R. Maskub Kudus).

Selama bermukim di Tanah Suci, di samping menunaikan kewajiban sebagai kepala rumah tangga, KHR. Asnawi masih mengambil kesempatan untuk memperdalam ilmu agama dengan para ulama besar, baik dari Indonesia (Jawa) maupun Arab, baik di Masjidil Haram maupun di rumah. Para Kyai Indonesia yang pernah menjadi gurunya adalah KH. Saleh Darat (Semarang), KH. Mahfudz (Termas), KH. Nawawi (Banten) dan Sayid Umar Shatha.

Selain itu, KHR. Asnawi juga pernah mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya, di antara yang ikut belajar padanya, antara lain adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), KH. Bisyri Sansuri (Pati/Jombang), KH. Dahlan (Pekalongan), KH. Shaleh (Tayu pati), KH. Chambali Kudus, KH. Mufid Kudus dan KHA. Mukhit (Sidoarjo). Di samping belajar dan mengajar agama Islam, KHR. Asnawi turut aktif mengurusi kewajibannya sebagai seorang Komisaris SI (Syariat Islam) di Mekah bersama dengan kawan-kawannya yang lain.

Pada waktu bermukim ini, KHR. Asnawi pernah mengadakan tukar pikiran dengan salah seorang ulama besar, Mufti Mekah bernama Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tentang beberapa masalah keagamaan. Pembahasan ini dilakukan secara tertulis dari awal masalah hingga akhir, meskipun tidak memperoleh kesepakatan pendapat antara keduanya. Karena itu KHR. Asnawi bermaksud ingin memperoleh fatwa dari seorang Mufti di Mesir, maka semua catatan baik dari tulisan KHR. Asnawi dan Syeikh Ahmad Khatib tersebut dikirim ke alamat Sayid Husain Bek seorang Mufti di Mesir, akan tetapi Mufti Mesir itu tidak sanggup memberi fatwanya. (sayang, catatan-catatan itu ketinggalan di Mekah bersama kitab-kitabnya dan sayang keluarga KHR. Asnawi lupa masalah apa yang dibahas, meskipun sudah diberitahu).

Melihat tulisan dan jawaban KHR. Asnawi terhadap tulisan Syeikh Ahmad Khatib itu, tertariklah hati Sayid Husain Bek untuk berkenalan dengan KHR. Asnawi. Karena belum kenal, maka Mufti Mesir itu meminta bantuan Syeikh Hamid Manan untuk diperkenalkan dengan KHR. Asnawi Kudus. Akhirnya disepakati waktu perjumpaan yaitu sesudah shalat Jum’ah. Oleh Syeikh Hamid Manan maksud ini diberitahukan kepada KHR. Asnawi dan diatur agar KHR. Asnawi nanti yang melayani mengeluarkan jamuan.

Sesudah shalat Jum’ah datanglah Sayyid Husain Bek ke rumah Syeikh Hamid Manan dan KHR. Asnawi sendiri yang melayani mengeluarkan minuman. Sesudah bercakap-cakap, bertanyalah tamu itu: “Fin, Asnawi?” (Dimana Asnawi?), “Asnawi? Hadza Huwa” (Asnawi ? Inilah dia) sambil menunjuk KHR. Asnawi yang sedang duduk di pojok, sambil mendengarkan percakapan tamu dengan tuan rumah. Setelah ditunjukkan, Mufti segera berdiri dan mendekat KHR. Asnawi, seraya membuka kopiah dan diciumlah kepala KHR. Asnawi sambil berkenalan. Kata Mufti Sayyid Husain Bek kepada Syeikh Hamid Manan: "Sungguh saya telah salah sangka, setelah berkenalan dengan Asnawi. Saya mengira tidaklah demikian, melihat jasmaniahnya yang kecil dan rapih".

Madrasah, Masjid Menara dan Penjara

Saat menjenguk kampung halamannya, bersama kawan-kawannya KHR. Asnawi mendirikan Madrasah Madrasah Qudsiyyah (1916 M). Dan tidak berselang lama, KHR. Asnawi juga memelopori pembangunan Masjid Menara secara gotong royong. Malam hari para santri bersama-sama mengambil batu dan pasir dari Kaligelis untuk dikerjakan pada siang harinya. Di tengah-tengah melaksanakan pembangunan itulah, terjadi huru-hara pada tahun 1918 H. Di mana KHR. Asnawi dan kawan-kawannya terpaksa menghadapi tantangan kaki tangan kaum penjajah Belanda yang menghina Islam.

Di tengah-tengah umat Islam bergotong royong membangun Masjid Menara siang malam, orang-orang Cina malah mengadakan pawai yang akan melewati depan Masjid Menara. Para Ulama dan pemimpin-pemimpin Islam pun mengirim surat kepada pemimpin Cina, agar tidak menjalankan pawai lewat depan masjid Menara, karena banyak umat Islam yang melakukan pengambilan batu dan pasir pada malam hari.

Permintaan itu tidak digubris. Pawai tetap digelar. Ironisnya, dalam rentetan pawai itu, juga menampilkan adegan yang sangat menghina umat Islam. Di mana ada dua orang Cina yang memakai pakaian haji dengan merangkul seorang wanita yang berpakaian seperti wanita nakal. Orang awam menyebutnya Cengge. Pawai Cina yang datang dari depan masjid Manara menuju selatan, itu pun berpapasan dengan santri-santri yang sedang bergotongroyong mengambil pasir dan batu dengan grobak dorong (songkro). Kedua pihak tidak ada yang mengalah. Hingga terjadi pemukulan terhadap seorang santri oleh orang Cina.

Pemukulan terhadap salah seorang santri ditambah adanya Cengge itulah, insiden Cina-Islam di Kudus yang dikenal dengan huru hara Cina, terjadi. Ejekan dan hinaan dari orang-orang Cina terus saja terjadi. Hingga orang-orang Islam terpaksa mengadakan perlawanan. Para Ulama memandang beralasan untuk mengadakan pembelaan, namun tidak sampai pada pembunuhan.

Ironisnya, dalam insiden tersebut, ada pihak ketiga yang mengambil kesempatan untuk mengambil barang-barang orang Cina. Dan tanpa sengaja, menyentuh lampu gas pom yang menimbulkan kebakaran beberapa rumah, baik milik orang Cina maupun orang Jawa.

Kejadian inilah yang berbuntut penangkapan terhadap KH. Asnawi dan rekannya KH. Ahmad Kamal Damaran, KH. Nurhadi dan KH. Mufid Sunggingan dan lain-lain, dengan dalih telah mengadakan pengrusakan dan perampasan oleh pemerintah penjajah. Mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam penjara dengan masa hukuman 3 tahun.

Tidak sekali saja KHR. Asnawi di penjara. Pada zaman penjajahan Belanda, KHR. Asnawi  sering dikenakan hukuman denda karena pidatonya tentang Islam serta menyisipkan ruh nasionalisme dalam pidatonya. Pun pada masa pendudukan Jepang. KHR. Asnawi pernah dituduh menyimpan senjata api, sehingga rumah dan pondok KHR. Asnawi dikepung oleh tentara Dai Nippon. KHR. Asnawi pun dibawa ke markas Kempetai di Pati.

Meski sering menghadapi ancaman hukuman, namun KHR. Asnawi tidak pernah berhenti berdakwah, amar maruf nahi munkar. Bahkan di dalam penjara sekalipun, KHR. Asnawi tetap melakukan amar maruf nahi munkar. KHR. Asnawi tetap membuka pengajian di penjara. Banyak kemudian di antara para penjahat kriminal yang dipenjara bersamanya, kemudian menjadi murid KHR. Asnawi.

Pada masa-masa revolusi kemerdekaan terutama menjelang agresi militer Belanda ke-1, KHR. Asnawi mengadakan gerakan ruhani dengan membaca sholawat Nariyah dan do’a surat Al-Fiil. Tidak sedikit pemuda-pemuda yang tergabung dalam laskar-laskar bersenjata berdatangan meminta bekal ruhaniyah sebelum berangkat ke medan pertempuran melawan penjajah.

Larangan Berdasi dan Prinsip Perjuangan

Dalam memperjuangkan Islam, KHR. Asnawi memiliki pendirian yang teguh. Prinsip-prinsip hidupnya sangat keras dan watak perjuangnnya terkenal galak, sebab kala itu bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan kaum kafir. Keyakinan inilah yang dipeganginya sangat kokoh sekali. Bagi KHR. Asnawi, segala hal yang dilaksanakan oleh Belanda tidak boleh ditiru. Bahkan tidak segan-segan KHR. Asnawi memfatwakan hukum agama dengan sangat tegas, anti-kolonialisme, seperti mengharamkan segala macam bentuk tasyabbuh (menyerupai) perilaku para penjajah dan antek-anteknya.

Salah satu diantara fatwanya yang keras ini adalah larangan untuk memakai berdasi dan menghidupkan radio, termasuk menyerupai gaya jalan orang-orang kafir (Belanda dan China). Fatwa larangan berdasinya ini sangat terkenal, hingga suatu ketika KH Saifuddin Zuhri melepaskan dasi dan sepatunya ketika mengunjungi KHR. Asnawi. KH Saifuddin Zuhri kala itu sedang menjabat Menteri Agama, namun demi menghormati KHR. Asnawi, ia bertamu hanya dengan memakai sandal tanpa dasi.

Kemauan keras KHR. Asnawi agar Islam tetap eksis tanpa campur tangan penjajah kafir sudah menjadi pertaruhan jiwa dan raganya. KHR. Asnawi memadukan pola keulamaan dan gerakan taushiyah dengan pesan melaksanakan jihad atas pemberontakan bangsa kafir.

Pada kisaran tahun 1927 M. KHR. Asnawi membangun pondok pesantren di Desa Bendan Kerjasan Kudus, di atas tanah wakaf dari KH. Abdullah Faqih (Langgar Dalem) dan dukungan dari para dermawan dan umat Islam. Pada tahun ini pula, Charles Olke Van Der Plas (1891-1977), seorang pegawai sipil di Hindia Belanda, pernah datang ke rumah KHR. Asnawi untuk meminta kesediaannya memangku jabatan penghulu di Kudus. Secara tegas KHR. Asnawi menolak penawaran tersebut.

Dalam pandangan KHR. Asnawi, jika dirinya diangkat sebagai penghulu, maka tidak akan lagi dapat bebas melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap para pejabat. Beda halnya jika tetap menjadi orang partikelir, ia dapat berdakwah tanpa harus menanggung rasa segan (ewuh pakewuh).

Pada tahun 1924 M. KHR. Asnawi ditemui oleh KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang untuk bermusyawarah guna membentengi pertahanan akidah Ahlussunah wal Jamaah dan menyetujui gagasan tamu yang pernah belajar kepadanya ini. Selanjutnya, bersama-sama dengan para Ulama yang hadir di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 H./31 Januari 1926 M. KHR. Asnawi turut membidani lahirnya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Semasa hidupnya, KHR. Asnawi KH. Raden Asnawi telah berjasa besar bagi Islam dan bangsa Indonesia melalui keterlibatannya dalam organisasi pergerakan kemerdekaan. Selain itu, KHR. Asnawi juga menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional dari berbagai kalangan, seperti Semaun, H Agus Salim dan HOS. Cokroaminoto.

Syahadatain Terakhir

KHR. Asnawi berpulang ke rahmatullah pada Sabtu Kliwon, 25 Jumadil Akhir 1378 H. bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M. pukul 03.00 WIB. KHR. Asnawi meninggal dunia dalam usia 98 tahun, dengan meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit (buyut).

Kepulangan ulama besar Kudus ke rahmatullah ini tidak terduga. Sebab satu minggu sebelum wafatnya KHR. Asnawi masih masih nampak segar bugar ketika turut bermusyawarah dalam muktamar NU XII di Jakarta.

Pukul 02.30 WIB Sabtu itu Asnawi bangun dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi yang tidak jauh dari kamarnya untuk mengambil air wudlu. Setelah dari kamar mandi Asnawi dengan didampingi istrinya, Nyai Hj. Hamdanah, kembali berbaring di atas tempat tidur. Kondisinya semakin tidak berdaya. Dan dua kalimat syahadat (syahadatain/Asyhadu an laa ilaaha illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah) adalah kalimat terakhir yang mengantarkan arwahnya ke rahmatullah.

Kabar wafatnya KH.R Asnawi disiarkan di Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat Jakarta lewat berita pagi pukul 06.00 WIB. Penyiaran itu atas inisiataif Menteri Agama RI KH Wahab Chasbullah yang ditelephon oleh HM. Zainuri Noor. (Disadur dari berbagai sumber oleh Syaifullah Amin)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa HMI Tegal Kab

Rabu, 03 Januari 2018

Segera Terbentuk Forum Mahasiswa Aswaja di UIN Maliki Malang

Surabaya, HMI Tegal Kab. Selasa, (8/12) siang, sejumlah mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang Jawa Timur mengunjungi PW Aswaja NU Center di Surabaya. Kunjungan ketiga kalinya ini sebagai kalender akademik yang akan ditindaklanjuti dengan pendirian Forum Mahasiswa Aswaja atau Formas.

"Ini adalah kunjungan kali ketiga dari kunjungan sebelumnya pada bulan kemarin," kata KH Abdurrahman Navis. Direktur PW Aswaja NU Center Jawa Timur ini menandaskan bahwa silaturahim tersebut sebagai rangakain dari kuliah yang diselenggarakan di luar kelas.

Segera Terbentuk Forum Mahasiswa Aswaja di UIN Maliki Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Segera Terbentuk Forum Mahasiswa Aswaja di UIN Maliki Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Segera Terbentuk Forum Mahasiswa Aswaja di UIN Maliki Malang

Kedua belah pihak memiliki komitmen bersama untuk semakin mengintensifkan kajian dan pendalaman Aswaja. "Dalam waktu dekat diharapkan akan terselenggara kajian hingga daurah yang membahas Aswaja dalam berbagai aspek," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Bahkan bila tidak ada kendala, dalam waktu yang tidak lama akan juga segera dideklarasikan terbentuknya Forum Mahasiswa Aswaja atau Formas di salah satu kampus negeri di Malang ini.

HMI Tegal Kab

"Target kami adalah bagaimana kajian dan pendalaman Aswaja bisa dilangsungkan dengan lebih intensif di kampus UIN Maliki," tandas Kiai Navis, sapaan akrabnya. Karena tantangan Aswaja di kampus tidak kalah berat lantaran melibatkan para cendekiawan dan akademisi.

HMI Tegal Kab

"Pendekatan untuk kalangan kampus tentu berbeda dengan masyarakat pada umumnya," terang Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini. Penjelasan sejumlah persoalan keaswajaan harus disampaikan dengan logika dan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, lanjutnya.

Kendati demikian, hal tersebut bukanlah penghalang bagi Aswaja NU Center untuk berkiprah. "Kami memiliki para tutor baik dari kalangan alumni pesantren salaf dan akademisi, sehingga akan mampu melayani kebutuhan narasumber sesuai kalangan kampus," terangnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa, AlaNu, Sejarah HMI Tegal Kab

Sabtu, 23 Desember 2017

Fatihul Faizun Terpilih Aklamasi Ketua IKA PMII Sidoarjo

Sidoarjo,HMI Tegal Kab. Musyawarah Cabang ke II Ikatan Alumni Mahasiswa Pergerakan Islam Indonesia (IKA PMII) Sidoarjo menetapkan Fatihul Faizun sebagai Ketua IKA PMII secara aklamasi untuk lima tahun ke depan, yaitu periode 2016-2021.

Fatihul Faizun Terpilih Aklamasi Ketua IKA PMII Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatihul Faizun Terpilih Aklamasi Ketua IKA PMII Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatihul Faizun Terpilih Aklamasi Ketua IKA PMII Sidoarjo

Musyawarah yang digelar di pondok pesantren Nurul Ikhlas Desa Spande Kecamatan Candi Sidoarjo juga menetapkan sejumlah majelis pertimbangan IKA PMII Sidoarjo di antaranya Abdul Aziz (Ketua ISNU Jatim), M Zainal Abidin (ketua KPUD Sidoarjo), Arly Fauzi (mantan ketua DPRD Sidoarjo), H Kalim (mantan anggota DPRD Sidoarjo) dan M Yusuf (mantan ketua garda bangsa Sidoarjo).

Ketua terpilih IKA PMII Sidoarjo, Fatihul Faizun mengungkapkan rasa syukur atas terpilihnya sebagai Ketua IKA PMII Sidoarjo. Ia mengaku siap mengemban anamah untuk lima tahun ke depan.

HMI Tegal Kab

Pria yang ahli dalam bidang kajian anggaran dan pendapatan dan belanja daerah itu mengajak kepada semua alumni PMII Sidoarjo untuk tetap solid dan merapatkan barisan. "Kami mohon doa restunya kepada semua pihak agar bisa menjalankan amanah ini dengan baik. Mari kita satukan barisan," ucapnya, Jumat (26/8).

HMI Tegal Kab

Terselenggranya acara Musyawarah Cabang ke II IKA PMII Sidoarjo mendapatkan respon positif dari Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Sidoarjo.

Ketua PC PMII Sidoarjo, M Mahmuda menyatakan bersyukur atas terpilihnya Fatihul Faizun sebagai Ketua IKA PMII Sidoarjo. Pihaknya berharap, ketua terpilih IKA PMII Sidoarjo mampu mengemban amanah dengan baik dan bisa memberikan perubahan bagi kemajuan IKA PMII.

"Semoga ketua terpilih mampu memberikan perubahan dan memperkuat tali silaturrahim seluruh ikatan alumni PMII yang ada di Sidoarjo dan amanah dalam menjalankan roda ikatan alumni lebih baik," harap Mahmuda. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa, Tegal, RMI NU HMI Tegal Kab

Kamis, 14 Desember 2017

Asa Bafaqih, Wartawan dan Diplomat Andal Indonesia

Keberadaan Duta Masyarakat sebagai media Nahdlatul Ulama (NU) tak terlepas dari jasa Asa Bafaqih. Pria yang akrab dipanggil Wan Asa itu merupakan salah satu penggagas sekaligus pimpinan redaksi Duta Masyarakat saat pertama kali diterbitkan.

Saat itu tepatnya tahun 1954 dengan rekomendasi langsung dari Rais Aam PBNU KH Wahab Chasbullah dibentuklah surat kabar sebagai wahana kader Nahdliyin untuk belajar jurnalistik yakni Duta Masyarakat yang dipimpin Wan Asa. Meski dirinya tak lama memegang tanggung jawab dalam keredaksian Duta Masyarakat, namun Wan Asa telah cukup memberikan pondasi penting sebagai bahan untuk dikembangkan generasi muda NU dalam mengumpulkan, mengolah dan menyajikan berita kepada khalayak melalui media massa.

Asa Bafaqih, Wartawan dan Diplomat Andal Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Asa Bafaqih, Wartawan dan Diplomat Andal Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Asa Bafaqih, Wartawan dan Diplomat Andal Indonesia

Pengalaman Wan Asa di dunia jurnalistik diawalinya sebagai penerjemah berita-berita atau artikel berbahasa Arab ke dalam bahasa Melayu di Kabar Harian Pemandangan. Sebelumnya dia berprofesi sebagai guru agama di sekolah.

Selain sebagai penerjemah pria kelahiran 1915 di Tanah Abang, Jakarta itu juga penulis lepas di dua media yang berpengaruh saat itu yakni harian Pemandangan dan majalah mingguan Pandji. Bahkan Wan Asa pernah menjadi pimpinan harian Pemandangan. Namun, karena dinilai seringkali menghambat pemerintahan Hindia Belanda, Pemandangan dilarang terbit lagi.

HMI Tegal Kab

Mengetahui kenyataan itu, Wan Asa tetap berusaha berkecimpung dalam dunia tinta dengan masuk Kantor Berita Jepang, Domei, sebagai Redaktur. Keberadaannya di Domei dimanfaatkan pula oleh Wan Asa untuk kepentingan tanah air tercinta, Indonesia salah satunya ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan.

HMI Tegal Kab

Ketika itu Wan Asa diberi amanah oleh Adam Malik untuk menyelipkan berita kemerdekaan Indonesia dalam Domei. Usaha itu pun berhasil dan akhirnya berita kemerdekaan Indonesia diperdengarkan melalui Kantor Berita Jepang. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia seutuhnya, Domei beralih nama menjadi Antara dengan Pimpinan Redaksi Asa Bafaqih dibantu Mochtar Lubis.

Usai kemerdekaan pula, harian surat kabar Pemandangan kembali beroperasi. Melalui harian Pemandangan, Asa seringkali membuat geram pemerintah dengan tajuk-tajuk berita yang ditulisnya salah satunya tentang rencana gaji baru PNS serta tentang modal asing yang diterima 21 perusahaan industri. Dua tajuk tersebut dinilai telah membocorkan rahasia negara serta hal sensitif untuk dibuka di ruang publik.

Akibatnya, Asa Bafaqih dituntut dengan dakwaan membocorkan rahasia negara sebab kedua tajuk yang ditulisnya belum diumumkan secara resmi kepada masyarakat. Saat persidangan Asa diminta memberitahukan siapa narasumber yang menginformasikan terkait hal itu.

Jelas saja, sebagai Jurnalis yang bertanggungjawab dan mengerti kode etik Jurnalistik, Asa menolak permintaan yang diajukan kepadanya di persidangan. Asa menggunakan Hak Tolak sebagai wartawan. Akhirnya, Jaksa Agung kala itu R. Soeprapto memutuskan menghentikan penyelidikan dan mengakhiri dakwaan atas Asa Bafaqih tepat pada tanggal 15 Agustus 1953.

Dia juga pernah menjadi anggota DPR GR mewakili wartawan dan anggota dewan mewakili Partai NU. Ketika Partai NU menjadi faktor politik yang diperhitungkan di mana Asa Bafaqih salah seorang tokoh “di belakang layar”, wartawan didikan madrasah ini diangkat Presiden Soekarno menjadi duta besar di Srilangka.

Dia dinilai sebagai seorang diplomat yang berhasil. Hubungannya sangat dekat dengan Perdana Menteri Nyonya Bandaranaike. Laporan-laporannya oleh Jakarta dinilai sangat berbobot. Asa Bafaqih di samping menguasai bahasa Arab dan Inggris, ia juga menguasai bahasa Tamil, bahasa pribumi Srilangka. Asa Bafaqih termasuk seorang di antara pelumas politik Konferensi Bandung dan Non-Blok yang dinilai positif dan sukses.

Selepas mengabdi sebagai Duta Besar RI untuk Srilanka (1960-1964), Asa Bafaqih lantas dipercaya menjadi duta besar di Aljazair merangkap Tunisia (1964-1965). Selama di Aljazair, ia memiliki hubungan dekat dengan Presiden Boumedienne maupun Menlu Botafika dan tkoh-tokoh nasional Aljazair. Namun, di luar jabatan formal sebagai wakil Negara Republik Indonesia, Asa Bafaqih memiliki nama baik di kalangan masyarakat Islam Aljazair berkat penguasaannya terhadap bahasa Arab dan Perancis.

Kiprahnya sebagai jurnalis, birokrat dan politisi berakhir ketika dia mengembuskan napas terakhir di Solo, Jawa Tengah tepat pada tanggal 13 Desember 1978. Jasadnya dikebumikan di Pemakaman Karet, Jakarta.



Daftar Pustaka:


Imam Azis (et al), Ensiklopedia NU, 2014 (Jakarta: PBNU dan Mata Bangsa)

Saifuddin Zuhri, Kaleidoskop Politik di Indonesia, 1982, (Jakarta: Gunung Agung)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Pahlawan, Doa HMI Tegal Kab

Minggu, 10 Desember 2017

Basmi Miras, PMII Temanggung Gelar Aksi Teaterikal

Temanggung, HMI Tegal Kab - Sebanyak 1.895 botol minuman beralkohol atau minuman keras (miras) dimusnahkan Polres Temanggung di alun-alun Temanggung, Sabtu (4/6) kemarin. Seusai pemusnahan miras, PMII Temanggung menggelar pementasan teaterikal di hadapan Bupati Temanggung, Kapolres, Dandim, Kajari, Ketua DPRD Temanggung, masyarakat umum dan pelajar.

Para mahasiswa itu selama 15 menit memperagakan adegan pesta miras, bahaya miras, serta adegan penggrebekan pesta miras oleh petugas Polres Temanggung.

Basmi Miras, PMII Temanggung Gelar Aksi Teaterikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Basmi Miras, PMII Temanggung Gelar Aksi Teaterikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Basmi Miras, PMII Temanggung Gelar Aksi Teaterikal

Dalam pemusnahan miras ini, pihak Polres mengundang Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompida) Temanggung, organisasi masyarakat (ormas), organisasi pemuda, mahasiswa, dan pelajar.

Kapolres Temanggung AKBP Wim Wahyu Hardjanto menuturkan, pemusnahan miras ini merupakan simbol, untuk memerangi semua penyakit masyarakat (pekat), baik miras, narkoba, kekerasan seksual, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, aksi radikalisme serta kejahatan lainya.

HMI Tegal Kab

"Pemusnahan miras ini secara simbolik. Tapi kita bersama semua komponen masyarakat berkomitmen untuk memberantas semua penyakit masyarakat," janji Wahyu di sela acara pemusnahan miras.

HMI Tegal Kab

Ketua PMII Temanggung Arief Safrodin mengatakan, lewat aksi treatikal ini kita ingin mengajak generasi muda dan masyarakat pada umumnya bersama-sama menjauhi miras. Menurutnya, miras merupakan akar timbulnya segala kejahatan seperti perkelahian, pencurian, pembunuhan, pemerkosaan atau aksi pencabulan.

"Sebagaimana data di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Temanggung sampai pertengahan 2016 ini setidaknya ada sekitar 20 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Dari 20 kasus tersebut, sebagian besar karena pelaku dipengaruhi miras," ucap Arief.

Sementara itu, Bupati Temanggung Bambang Sukarno berjanji, Temanggung harus bersih dari miras. Hiburan malam juga tidak kita perbolehkan. "Jika ada yang nekat, laporkan saja. Kita akan menutupnya," pungkasnya. (Ahsan Fauzi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Aswaja, Doa, Nasional HMI Tegal Kab

Sabtu, 09 Desember 2017

PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina

Jakarta, HMI Tegal Kab. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengutuk keras aksi brutal militer Israel baru-baru ini terhadap rakyat Palestina yang mengakibatkan puluhan korban jiwa dari kalangan penduduk sipil, termasuk ibu-ibu dan anak-anak.

“Dari dulu Israel selalu seperti itu, tidak pernah mengindahkan kecaman dunia internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Kamis (10/7).

PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina

Meski demikian, kiai yang akrab disapa Kang Said ini menyerukan kepada warga Indonesia untuk tetap cerdas dalam menyikapi situasi tersebut. Ia mengatakan tak sepakat apabila ada warga Indonesia hendak pergi jihad ke Palestina.

HMI Tegal Kab

Menurutnya, pergi jihad ke sana justru akan menambah runyam persoalan. Kontribusi warga Indonesia terhadap Palestina, katanya, bisa diwujudkan dengan berdoa atau penggalangan bantuan kemanusiaan.

“Kita minta pemerintah Indonesia mengeluarkan sikap tegas terhadap tragedi di Palestina,” ujarnya.

HMI Tegal Kab

PBNU juga mengaku prihatin terhadap kemelut yang terjadi di Iraq belakangan ini. Namun demikian, Kang Said menegaskan, baik konflik yang menimpa Palestina, Iraq, Suriah, Afganistan, dan Somalia, semuanya berlatar belakang politik, bukan agama.

“Konflik sudah membawa agama, padahal konflik tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan substansi ajaran agama,” ujarnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa HMI Tegal Kab

Selasa, 21 November 2017

LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah

Jakarta, HMI Tegal Kab

Kontroversi usulan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) mendapat tanggapan dari Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU). Organisasi yang menaungi 12 ribu lembaga pendidikan NU di seluruh Indonesia ini meminta pemerintah untuk bersikap arif dan bijaksana dengan menggelar UN ulang mengingat banyaknya jumlah siswa yang tidak lulus ujian tersebut.

“Kami minta pemerintah bisa arif dan bijaksana. Beri kesempatan bagi siswa yang tidak lulus untuk ikut ujian (UN) susulan,” kata Ketua Umum PP LP Maarif NU Nadjid Muchtar kepada wartawan di kantornya Jalan Taman Amir Hamzah, Matraman Timur, Jakarta, Kamis (29/6)

LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah

LP Ma’arif NU, kata Nadjid, menilai akan terasa tidak adil jika standar kelulusan seorang siswa diukur dengan UN. Pasalnya, lanjutnya, pendidikan di Indonesia belum merata. “Problemnya kan pemerataan. Di daerah (desa) dan di kota kan tidak sama. Jadi, tidak adil kalau Ujian Nasional itu jadi standar kelulusan,” katanya.

Menurut Nadjid, UN seharusnya digelar hanya menjadi alat ukur untuk memetakan kualitas pendidikan secara nasional. ”Unas mestinya untuk alat pemetaan saja, bukan meluluskan siswa. Pihak sekolah, saya kira lebih tahu soal kualitas siswanya,” katanya.

Tak Setuju Tawaran Paket C

HMI Tegal Kab

LP Ma’rif NU, kata Nadjid, juga tidak setuju tawaran pemerintah tentang penyelenggaraan program Paket C bagi siswa yang tidak lulus. Tawaran tersebut dinilai cukup memberatkan siswa, karena biayanya mahal.

Nggak usah pake Paket C segala. Paket C itu mahal, Rp 180 ribu biayanya,” ujar Nadjid. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Minggu, 12 November 2017

Jalani Kelas Darurat, Pelajar-Santri Pandanaran Tetap Gembira

Sleman, HMI Tegal Kab. Para siswa-santri pesantren Sunan Pandanaran kabupaten Sleman tidak surut sedikitpun dalam belajar di tengah rangkaian perhelatan Kongres XV GP Ansor. Kelas darurat di tenda-tenda belajar tetap menggembirakan. Suasana belajar juga antusias, walaupun ruang kelas dan fasilitas belajar sangat terbatas. Ditambah lagi, kebutuhan MCK juga darurat dan terbatas.

Ini tercermin dari suasana belajar yang dijalani di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Sunan Pandanaran. Alex, salah satu siswa kelas VII MTs Sunan Pandanaran, mengungkapkan bahwa dirinya dan teman-temannya tetap semangat dan gembira, walaupun gedung belajarnya digunakan untuk Kongres XV GP Ansor.

Jalani Kelas Darurat, Pelajar-Santri Pandanaran Tetap Gembira (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalani Kelas Darurat, Pelajar-Santri Pandanaran Tetap Gembira (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalani Kelas Darurat, Pelajar-Santri Pandanaran Tetap Gembira

Sementara, Syamsul Arifin, salah satu pengurus siswa-santri Pesantren Pandanaran mengatakan bahwa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ini tetap berlangsung lantaran kurang memungkinkan jika santri diliburkan.

HMI Tegal Kab

Sebagaimana dinyatakan oleh Bapak Pengasuh KH Mutashim Billah yang mengimbau supaya KBM tetap berjalan. Hal ini dikarenakan rata-rata santri berasal dari daerah yang terhitung jauh jaraknya. Dan itu akan memakan waktu jika pesantren diliburkan saat kongres berlangsung. Sementara selepas kongres para santri harus mengikuti ujian akhir semester sesuai tingkatnya maing-masing.

HMI Tegal Kab

"Dan dalam praktiknya, alhamdulillah semua kegiatan, baik dari sisi jam pengajian al-Quran bada shubuh dan maghrib, serta kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap terkontrol dan dapat dikondisikan," imbuh salah satu vokalis Hadrah Pandanaran ini.

Syamsul menambahkan, untuk penempatan para santri, seluruh siswa-santri putra ditempatkan di komplek IV pesantren Pandanaran, atau sekitar setengah kilometer dari UII. Sementara untuk santri putri ditempatkan bersama para santri-mahasiswi komplek II Pesantren Pandanaran yang lazim disebut komplek pusat. (Anwar Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sunnah, Sholawat, Doa HMI Tegal Kab

Kamis, 09 November 2017

Awali Belajar, Tadarus Al-Qur’an 30 Menit

Demak, HMI Tegal Kab. Selama Ramadhan, Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU)  Demak, Jawa Tengah, sebelum proses belajar-mengajar dimulai, seluruh dewan guru dan para murid diwajibkan mengikuti tadarrus Al-Qur’an secara tekstual bersama-sama. 

Awali Belajar, Tadarus Al-Qur’an 30 Menit (Sumber Gambar : Nu Online)
Awali Belajar, Tadarus Al-Qur’an 30 Menit (Sumber Gambar : Nu Online)

Awali Belajar, Tadarus Al-Qur’an 30 Menit

Salah satu Dewan Guru Pembimbing yang juga Pengurus Ansor Demak, Fauzan Nugroho mengatakan, dari pihak sekolah memberikan pengertian kepada murid bahwa di antara ibadah yang diutamakan pada Bulan Ramadhan adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an. 

Hal ini, kata dia, sebagai penghormatan dan tabarrukan atas pertama kali diturunkannya Al-Qur’an oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah pada malam 17 Ramadhan, yang terkenal dengan sebutan Nuzulul Qur’an. Makanya awal kegiatan di sekolah dimulai dengan belajar membaca Al-Qur’an selama 30 menit dengan target 25 kali khataman selama Ramadhan. 

HMI Tegal Kab

“Ramadhan ini masuk tetap pukul 7 pagi. Sebelum pelajaran dimulai, anak anak dan guru diwajibkan belajar baca Al-Qur’an 30 menit tiap hari masuk secara bersama sama,” kata Fauzan.

Fauzan menambahkan, setelah baca Al-Qur’an, murid murid MANU juga diwajibkan mengikuti pengajian kitab kuning yang diampu guru pembimbing dari sekolah tersebut. Kitab yang dibaca antara lain Tsalasa Rosail, Arba’u Rosail, dan At-Tarbiyah. Pengampunya Ustadz Sholikin, Abdul Halim, dan Asrohim.

HMI Tegal Kab

Masih menurut Fauzan, sebelum libur, akan diadakan pemberian bantuan ke mushola-mushola di wilayah siswa MANU. Bantuan itu adalah karpet, kipas angin, dan takjil zakat fitrah kepada warga sekitar yang dikumpulkan dari dewan guru, murid, dan pihak sekolah.



Redaktur: Abdullah Alawi 

Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa HMI Tegal Kab

Rabu, 08 November 2017

Aqiqah Bayi Lelaki dengan 1 Ekor Kambing?

Kalau ada penduduk baru keluar dari rahim seorang perempuan, otomatis orang tuanya disunahkan menyembelih kambing. Tentu saja sebelum aqiqah orang tua akan bersyukur lebih dahulu. Tetapi perihal berapa jumlah kambing yang mesti diaqiqahkan dan berapa kali aqiqah harus diadakan, bisa dibicarakan lebih lanjut tergantung keadaan.

Muhammad bin Qasim dalam karyanya Fathul Qarib menyebutkan, aqiqah disunahkan kembali bagi orang tua seiring dengan kelahiran anak berikutnya.

Aqiqah Bayi Lelaki dengan 1 Ekor Kambing? (Sumber Gambar : Nu Online)
Aqiqah Bayi Lelaki dengan 1 Ekor Kambing? (Sumber Gambar : Nu Online)

Aqiqah Bayi Lelaki dengan 1 Ekor Kambing?

? ? ? ?

Untuk bayi perempuan, lazim disunahkan menyembelih seekor kambing. Sementara aqiqah bayi laki-laki disunahkan menyembelih dua ekor. Jumlah ini menjadi ketentuan. Tetapi kalau keadaan mendesak, aqiqah dengan seekor kambing untuk anak laki-laki bisa mungkin. Tidak mesti dua ekor.

HMI Tegal Kab

Jangan sampai keadaan seperti keterbatasan kemampuan atau kendala lainnya menghalangi orang tua untuk mengamalkan sunah aqiqah. Syekh Nawawi Banten dalam Hasyiyah Fathil Qarib yang lebih dikenal Tausyih ala Ibni Qasim mengatakan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

HMI Tegal Kab

Artinya, orang tua sudah terhitung mengamalkan sunah aqiqah bagi anak laki-lakinya kendati menyembelih hanya seekor kambing. Pasalnya, Rasulullah SAW sendiri mengaqiqahkan dua cucunya Hasan dan Husein dengan dua ekor domba. Masing-masing satu ekor.

Perihal jumlah aqiqah ini Syekh Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi angkat bicara dalam karyanya, Hasyiyatus Syarqawi ala Tuhfatit Thullab sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sebenarnya satu ekor kambing menjadi batas minimal aqiqah untuk bayi lelaki dan bayi perempuan. Sementara dua ekor kambing merupakan batas minimal kesempurnaan aqiqah untuk bayi laki-laki. Agama sendiri tidak membatasi jumlah kambing untuk kesempurnaan aqiqah.

Dengan kata lain, agama hanya menyebutkan jumlah minimal. Sementara jumlah maksimalnya tidak ada pembatasan. Artinya silakan saja menyembelih berapa ekor kambing untuk bayi laki-laki atau bayi perempuan sesuai kemampuan si orang tua.

Gampangannya, dua ekor kambing buat bayi laki-laki, aqiqah sempurna di garis minimal. Satu ekor saja, aqiqah terbilang cukup tanpa sempurna. Seberapa banyak kambing aqiqah sesuai kemampuan, terhitung sempurna. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Olahraga, Ulama, Doa HMI Tegal Kab

Kamis, 02 November 2017

Belum Ada Ongkos, Belum Wajib Haji

Jakarta, HMI Tegal Kab. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Saifuddin Amsir menyatakan kewajiban haji bagi setiap muslim bergantung pada sejumlah kesiapan yang bersangkutan. Kesiapan itu antara lain mencakup ongkos perjalanan menuju tanah suci.

Belum Ada Ongkos, Belum Wajib Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Belum Ada Ongkos, Belum Wajib Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Belum Ada Ongkos, Belum Wajib Haji

“Kalau belum ada ongkos, seseorang belum berkewajiban menjalankan ibadah haji,” kata KH Saifuddin kepada HMI Tegal Kab di kediamannya di bilangan Cipinang Melayu, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, Rabu (11/9) malam.

Lain soal kalau seseorang berangkat haji diongkosi orang lain. Atau misalnya ia mengongkosi hajinya dengan cara berhutang di mana ia memiliki cadangan pasti investasi buat membayar hutangnya kelak. Ini sah-sah saja, tambah KH Saifuddin.

HMI Tegal Kab

KH Saifuddin merinci ongkos yang meliputi segala biaya perjalanannya berangkat dan pulang. Segala kebutuhannya selama melaksanakan ibadah haji pun masuk dalam daftar ongkos ibadah haji.

Kecuali itu, caloh jemaah haji juga wajib memasukkan biaya kebutuhan orang rumahnya selama peribadatan haji dalam daftar anggaran ongkos haji, jelas KH Saifuddin. 

HMI Tegal Kab

Kalau orang punya tanah seluas 80 hektar, tentu ia sudah kena kewajiban berangkat haji,tegas KH Saifuddin.

Masalah kemampuan ini penting untuk diperhatikan karena menyangkut wajib-tidaknya haji, tutup KH Saifuddin.  

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Daerah, Doa, Berita HMI Tegal Kab

Minggu, 29 Oktober 2017

Selamat Hari Raya Idul Fitri Zaman KH Hasyim Asyari

Di majalah Berita Nahdlatul Oelama (BNO) tahun 1354 H, hoofdbestuur (pengurus besar) Nahdlatul Ulama menghaturkan selamat hari raya Idul Fitri. Di tahun itu Idul Fitri jatuh pada tanggal 7 Januari 1936 M, sepuluh tahun sejak NU didirikan dan Indonesia (Hindia Belanda) masih dijajah Belanda.

Pada kolom haturan selamat Idul Fitri di majalah yang terbit 1 Januari 1936 tersbut, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah Hoofdbestuur Nahdlatul Ulama dicantumkan di situ mulai Hadrotusyekh KH Hasyim Asy’ari dan pengurus lain. ?

Selamat Hari Raya Idul Fitri Zaman KH Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamat Hari Raya Idul Fitri Zaman KH Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamat Hari Raya Idul Fitri Zaman KH Hasyim Asyari

Diantara kiai-kiai yang disebut adalah KH Ridwan bin Abdullah Surabaya, Abdul Wahab bin Hasbullah Surabaya, Abdullah bin Ali, KH Hamim, KH Sahal, KH A Faqih dll. Sementara di Tanfidziyah KH M Noer, H S Samil, M Kariadi dan lain-lain.

Ucapan selamat Idul Fitri itu berbunyi, Menghatoerkan selamat hari raya A’Idil fitri kehadapan sekalian Ichwanul moeslimin wal moeslimat, pembaca BNO umuman, wachoesoeson qoum Nahdliijin, menghatoerkan poela beberapa jenis kesalahan, kelalaian, kehilapan dan koerangnya Ta’addoeb semasa doedoek dalam Bestoeran, maoepoen sebeloemnya; Maka atas hal demikian, tenteo sedjoemlah kami ampoenja doesa hak adami, moehoen di maafkan sekaliannja dari Doenia hingga Acherat kelak.

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Di samping inipoen ta’loepalah kami sekalian bersedia memafakan sekedar doesa saudara terhadap kami sekaliannja.

Dan mari kita berdo’ea pada Allah djoega bersama-sama, disampaikan Oemoer kita masing-masing sampai bertemu A’idilfitri tahoen jang akan datang 1355 Amin!!

Pada tahun 1936 beberapa sejarah penting NU tercatat, NU menggelar Kongres ke-11 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pada waktu itu Hidayah Islamiyah, sebuah organisasi Islam bergabung dengan NU. Pada tahun itu pula KH Wahid Hasyim mendirikan Ikatan Pelajar-Pelajar Islam di Jombang, membangun taman bacaan tak kurang 500 buku, termasuk majalah, surat kabar dalam bahasa Jawa dan Indonesia. ?

Menurut Ensiklopedi NU (terbit 2014), majalah BNO, diperkirakan terbit pertama kali tahun 1931. Majalah itu diupayakan oleh kiai-kiai NU dengan harapan berperan sebagai obor kaum muslimin pada umumnya dan nahdliyin khususnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab News, Doa, Quote HMI Tegal Kab

Selasa, 24 Oktober 2017

Mengkhayal Saat Shalat?

Shalat diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Takbiratul ihram dianggap sebagai pintu masuk untuk mengingat Allah SWT.? Segala bentuk kegiatan yang diperbolehkan di luar shalat, seketika takbir semuanya mesti ditinggalkan, alias diharamkan.

Setelah berniat dan melakukan takbir, seharusnya pikiran dan hati kita fokus untuk beribadah dan tertuju pada Allah SWT. Namun masalahnya, mengendalikan pikiran bukanlah perkara mudah.

Mengkhayal Saat Shalat? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengkhayal Saat Shalat? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengkhayal Saat Shalat?

Seringkali pikiran lain muncul tiba-tiba di benak kita seperti soal pekerjaan, anak, harta, dan dagangan. Bahkan dalam shalat pun, terkadang khayalan aneh datang menghantui pikiran. Sehingga, semua itu membuat kekhusyukan ibadah menjadi terganggu dan berkurang. Lalu bagaimana hukumnya? Apakah masih sah shalat orang yang mengkhayal ketika shalat?

HMI Tegal Kab

Terkait masalah ini, Imam An-Nawawi punya jawaban di dalam kitabnya Fatawa Al-Imam An-Nawawi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?..

HMI Tegal Kab

Artinya, “Bila seorang mengkhayal maksiat dan kezalimaan pada saat shalat sehingga hatinya tidak fokus dan dia tidak meresapi bacaannya, apakah shalatnya masih sah? ‘Shalatnya sah, namun makruh,’” jawab Imam An-Nawawi.”

Orang yang mengkayal, pikirannya melayang ke mana-mana, bahkan memikirkan sesuatu yang buruk, shalatnya masih dihukumi sah. Meskipun sah, shalatnya dianggap makruh karena hatinya tidak hadir dan dia tidak meresapi bacaan yang dilafalkannya.

Kekhusyukan memang tidak menjadi kewajiban di dalam shalat, namun bukan berarti kita mengabaikannya. Kita mesti? mengupayakan dan mengusahkannya. Minimal kita berusaha merenungi dan meresapi setiap bacaan yang dilafalkan ketika shalat. Di sini kita mengerti betapa kekhusyukan adalah barang mahal tiada tara. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Khutbah, Doa HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock