Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak

Apakah kita boleh menghadiahkan pahala bacaan dan shadaqah kepada mayit? Apakah hadiah tersebut sampai? Menurut KH Ali Masum, Rais Aam PBNU 1981-1984, masalah semacam ini merupakan masalah furu’ khilafiyah yang seharusnya tidak mendorong terjadinya fitnah, pertengkaran, perdebatan, dan sikap antipati baik terhadap orang yang setuju ataupun yang menolaknya. Walaupun berbeda pendapat, kedua belah pihak seharusnya tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh sesama saudara Muslim. Masing-masing pihak tentu memiliki dasar yang diyakini.

Meski demikian, santri dan warga NU penting mengetahui dasar setiap amal ibadahnya. Oleh karena itu KH Ali Ma’sum merasa perlu menyusun kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah ini, khususnya untuk para santri Pondok Pesantren Krapyak Yogjakarta. Dengan mengetahui dasar amal ibadah yang kita lakukan, diharapkan kita tidak ragu, was-was, salah sangka, tertipu dan tergoda oleh setan sehingga tersesat pada kelompok ahli hawa nafsu.

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)
Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak

Hadirnya kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jam’ah ini diharapkan dapat membuat pembaca mengetahui dan yakin bahwa apa yang telah dilakukan oleh ulama kuno yang saleh (salafus shalih) merupakan kebenaran yang perlu diikuti. Hadirnya kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jam’ah ini tidak diharapkan sebagai bahan untuk berdebat dengan pihak yang berbeda pendapat.

Dengan tawadhu’ KH Ali Ma’shum menyatakan bahwa, dalam kitab ini beliau hanya mampu mengumpulkan dan menukil pendapat-pendapat dari para ulama’. Kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah merupakan kumpulan dari beberapa pendapat para tokoh tentang beberapa amalan Aswaja seperti shalat qabliyah Jumat dan talqin mayit setelah dikubur.

HMI Tegal Kab

Salah satu keistimewaan kitab ini adalah KH Ali Masum mengawali uraian tentang amaliyah-amaliyah nahdhiyah seperti hadiah pahala kepada mayit dengan mengutip pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, baru kemudian mengutip beberapa pendapat ulama dari empat madzhab Aswaja.

HMI Tegal Kab

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Mayit dapat mengambil manfaat dari pahala bacaan ayat Al-Qur`an orang lain yang dihadiahkan kepadanya, sebagaimana ia juga dapat mengambil manfaat dari pahala ibadah amaliyah seperti shadaqah dan sejenisnya.

Sedangkan Ibnul Qayyim mengatakan, “Sebaik-baik pahala yang dihadiahkan kepada mayit adalah pahala shadaqah, istighfar, doa untuk kebaikan mayit, dan ibadah haji atas nama mayit. Adapun pahala bacaan ayat Al-Qur`an yang dihadiahkan kepada mayit secara sukarela (bukan karena dibayar), dapat sampai seperti juga pahala puasa dan haji untuk mayit.

Menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, orang yang melakukan amal ibadah, shadaqah, bacaan ayat Al-Qur`an, atau amal saleh lainnya, boleh menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan kiriman pahala tersebut sampai.

Ulama syafi’iyah sepakat bahwa pahala shadaqah dapat sampai kepada mayit.

Di kalangan ulama madzhab Maliki pada umumnya tidak ada perselisihan pendapat dalam hal sampainya pahala shadaqah kepada mayit. Namun pada prinsipnya, madzhab Maliki memakruhkan menghadiahkan pahala bacaan (Qur`an dan kalimat thayyibah lainnya) kepada mayit.

Imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Adzkar menukil pendapat dari sekelompok ashabus-syafi’iy (para ulama madzhab Syafi’i), bahwa pahala bacaan (Al-Qur`an dan kalimat thayyibah lainnya) dapat sampai kepada si mayit, sama seperti pendapat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan sekelompok ulama lainnya.

Menurut KH Ahmad Subki Masyhadi dari Pekalongan, kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah sangat penting bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu kaum Muslimin yang aqidahnya mengikuti imam Abil Hasan Al-Asy’ari atau imam Abu Manshur Al-Maturidi, dan fiqihnya mengikuti salah satu dari empat madhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad ibnu Hambal). Oleh karena itu, ketika Syekh KH Ali Ma’sum bersilaturrahmim ke kediaman KH Ahmad Fauzi Masyhadi Sampangan Pekalongan, KH Ahmad Subki Masyhadi ikut menemui sang tamu mulia dari Yogjakarta tersebut dan memohon izin untuk mencetak kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah beserta terjemahan dan tambahan-tambahan yang diperlukan.

KH Ahmad Subki menerjemahkan kitab berbahasa Arab ini ke dalam bahasa Jawa dengan model makna gandul dilengkapi dengan terjemah singkat dalam bentuk uraian dan kadang ditambah dengan beberapa keterangan. Kitab terjemah ini diberi nama Ad-Durratul Lami’ah.

Pada sela-sela terjemahan, seperti pada bahasan tentang hadiah pahala terhadap mayit, KH Ahmad Subkhi menambahkan beberapa pendapat ulama tentang tata cara membayar utang mayit yang berupa shalat dan puasa.

"Bila ada mayit Muslim mempunyai hutang shalat, maka sebaiknya di-qadha dengan niat shalat untuk mayit tersebut. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, bila si mayit wasiat maka setiap hutang satu shalat dibayar dengan fidyah satu mud. Bila ada mayit Muslim mempunyai hutang puasa Ramadhan, maka keluarganya dapat membayarkannya dengan puasa qadha. Hal ini berdasarkan suatu hadits muttafaqun alaihi..."

Ada sembilan bahasan yang dapat kita ikuti dalam kitab Ad-Durratul Lami’ah yang biasanya dijual dengan harga hanya sepuluh ribu rupiah ini: (1) pengiriman pahala untuk mayit, (2) shalat sunah qabliyah jum’at, (3) talqin mayit setelah dikubur, (4) shalat tarawih, (5) penetapan bulan Ramadhan dan Syawal, (6) ziarah kubur, (7) nikmat dan siksa kubur, (8) ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw, dan (9) tawasul.



Data Buku


Judul? ? ? ? ? ? ? ? : Ad-Durratul Lami’ah, Tarjamah Hujjah Ahlis Sunnah? wal Jama’ah karya Syekh Al-‘Allamah KH Ali Ma’sum al-Jogjawi

Penerjemah : KH Ahmad Subki Masyhadi

Khath? ? ? ? ? ? : Ma’mun Muhammad bin Badawi

Penerbit? ? ? ? : Ibnu Masyhadi Pekalongan

Ukuran? ? ? ? : 14,5 x 20,5 cm, 228 halaman

Peresensi? : Faiq Aminuddin, Kepala MTs NU Irsyaduth Thullab, Tedunan, Wedung, Demak

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita, Kiai, Halaqoh HMI Tegal Kab

Sabtu, 24 Februari 2018

Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah

Jakarta, HMI Tegal Kab. Dosen Universitas King Fahd Arab Saudi Sumanto Al Qurtuby menilai, ada banyak kesalahpahaman yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam di Indonesia terkait dengan apa yang terjadi di Timur Tengah, terutama dengan konflik dan radikalisme yang ada di sana.

Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah

Di antara kesalahpahaman tersebut adalah bahwa banyak kelompok Islam di Indonesia yang menganggap konflik yang terjadi di Timur Tengah itu disebabkan oleh Barat, Yahudi, dan sekutu-sekutunya.

 

Menurutnya, itu adalah hal yang kurang tepat karena konflik yang terjadi di Timur Tengah sudah ada sebelum Negara-negara Barat seperti Amerika dan juga Yahudi ada. 

HMI Tegal Kab

“Kekerasan itu bukan melulu produk dari non-muslim, tetapi muslim sendiri juga terlibat. Bahwa benar Amerika terlibat, ada non-muslim yang terlibat, iya. Tetapi kelompok-kelompok Islam juga terlibat,” urainya saat menjadi narasumber dalam acara diskusi publik dengan tema Radikalisme di Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia di Auditorium Gedung PPSDM Jakarta, Sabtu (22/7) sore.

Misalnya, jelas Sumanto, apa yang terjadi di Suriah juga tidak terlepas dari umat Islam. Di dalam sebuah studi disebutkan bahwa ada 160 faksi kelompok Islam garis keras di Suriah. Ini juga yang menyebabkan konflik yang berkepanjangan.

Kesalahpahaman kedua adalah konflik yang terjadi di Timur Tengah dianggap sebagai konflik Sunni-Syiah. Hal itu tidak melulu demikian. Bahkan, ia menceritakan bahwa di beberapa daerah di Arab Saudi dan beberapa negara teluk lainnya terjadi kawin-mawin antara Sunni dan Syiah. Di Qatar pun demikian, belum ada sejarahnya konflik antara Sunni dan Syiah. 

HMI Tegal Kab

Namun demikian, ia tidak menampik bahwa konflik yang disebabkan oleh Sunni-Syiah. Tetapi itu tidak bisa dijadikan sebagai representasi. Menurutnya Sumanto, kekerasan yang terjadi di beberapa negara Arab dilakukan oleh para ekstremis. 

“Kadang di dalam satu keluarga ada yang Sunni, ada yang Syiah. Meski satu klan tidak masalah. Jadi tidak melulu Sunni-Syiah bertengkar. Tergantung konteksnya,” katanya.

Kesalahpahaman terakhir adalah soal konflik Islam, Kristen, dan Yahudi. Ia menganggap, ini juga hal yang tidak selamanya benar. Di beberapa negara seperti Lebanon dan Yahudi, baik Islam, Kristen, maupun Yahudi memiliki hubungan yang baik. Bahkan mereka bekerjasama dalam menjalankan roda pemerintahan.

“20 persen masyarakat (Negara) Yahudi itu adalah Arab. Mereka juga banyak yang menduduki posisi strategis seperti polisi dan militer,” jelasnya.

Menurut dia, kesalahpahaman-kesalahpahaman tersebut sengaja disebarkan oleh sebagian kelompok Islam Indonesia dan dijadikan sebagai alat propaganda di Indonesia. Oleh karena itu, ia meminta kepada umat Islam Indonesia untuk belajar lebih seksama terkait dengan apa yang terjadi di Timur Tengah.

“Agar tidak gampang dibelokkan ke sana-ke sini untuk kepentingan politik,” tegasnya didampingi narasumber lain yaitu Direktur Eksekutif The Wahid Foundationa Yenny Wahid dan Kepala BNPT Suhardi Alius. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita HMI Tegal Kab

Selasa, 20 Februari 2018

Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin

?Jakarta, HMI Tegal Kab. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan, agar prahara hukum yang menimpa Mahkamah Konstitusi (MK) tak terulang kembali.

Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin

"Semua hakim MK harus siap hidup miskin agar selama menjadi hakim tak mau menerima suap terkait perkara yang sedang dihadapi," kata Hasyim Muzadi saat menjadi tampil sebagai pakar pada uji kelayakan dan kepatuhan calon hakim MK di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (3/3/2014).

Karena itulah, sebelum menjadi hakim, mereka harus mamantapkan niat tulusnya menjadi hakim agar di tengah jalan tak mudah tergoda oleh rayuan menerima suap. "Termasuk meminta izin dan meminta kesediaan istrinya untuk hidup miskin. Karena istri bisa menjadi salah satu provokator terjadinya suap," katanya.

HMI Tegal Kab

Hukum di Indonesia, kata Hasyim, sekarang terasa jauh dari keadilan. Padahal tujuan hukum sebenarnya adalah keadilan. "Hukum di Indonesia masih prosedural. Karena. Itu, hukum kerap jauh dari rasa keadilan," jelas pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini.

Pada kesempatan tersebut, mantan Ketua Umum PBNU juga menekankan pentingnya kejujuran hakim saat berhadapan langsung dengan suap. Calon hakim yang sekarang seorang akademisi, misalnya, sulit melakukan korupsi karena di kampus tak ada yang dikorupsi.

HMI Tegal Kab

"?Kalau sudah berada di MK, rayuan untuk menerima suap sangat besar. Seperti yang menimpa Akil Mochtar. Karena itulah, kejujuran menjadi kunci utama untuk tegaknya hukum yang berkeadilan di Indonesia," katanya.

Hasyim Muzadi lebih menekankan kejujuran karena dalam pandangannya mencari orang pintar dan ahli hukum sangat mudah. Yang sulitnya, katanya, adalah mencari orang yang jujur. "Orang pintar banyak. Yang sulit orang jujur. Sayangnya, orang jujur banyak yang tak pintar-pintar," terangnya. (Ahmad Millah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ubudiyah, Nusantara, Cerita HMI Tegal Kab

Senin, 19 Februari 2018

Tiga Syarat Menuju Kebangkitan Islam

Memasuki abad ke-21 ini, Islam memang menjadi harapan baru untuk menyelamatkan dunia kita dari degradasi beradaban dan kehidupan manusia hampir dalam segala aspeknya. Tapi untuk terjadinya kebangkitan itu, umat Islam memerlukan keberanian untuk melakukan “mandi besar” dari berbagai penyimpangan-penyimpangan besar dari nilai-nilai dasar Islam. Salah satu penyimpangan umat ini dari Islam adalah berbagai perilaku atas nama Islam yang justru tidak mencerminkan akhlaqul karimah yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. ?

Begitu komentar Imam Shamsi Ali, Imam besar Islamic Center New York, Amerika Serikat, asal Indonesia, untuk buku Kebangkitan Kedua Umat Islam karya Yusuf Effendi. Dalam endorsment-nya, tokoh kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, itu mengaitkan antara semangat kebangkitan Islam tak ubahnya dengan semangat kelahiran Islam, sama-sama memiliki misi penyelamatan masa depan dunia. Dahulu, Islam datang menyelamatkan bangsa Arab dari degradasi peradaban dan kehidupan, menyelamatkan Roma dan Persia dari arogansi militerisme dan perang. Dan, kini untuk menyelamatkan dunia dari degradasi beradaban dan kehidupan manusia hampir dalam segala aspek.

Tiga Syarat Menuju Kebangkitan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Syarat Menuju Kebangkitan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Syarat Menuju Kebangkitan Islam

Komentar Imam Shamsi Ali yang menekankan pada aspek akhlak itu memperkuat ide dasar buku karya Yusuf Effendi ini. Ada tiga syarat menuju kebangkitan Islam yang diajukan oleh Yusuf Effendi: kematangan berdemokrasi, kemuliaan akhlak, dan kecintaan pada ilmu.?

HMI Tegal Kab

Mengelaborasi tiga syarat kebangkitan itu, buku ini menyajikan tiga bagian utama. Bagian pertama mengulas sistem demokrasi ala empat sahabat Nabi, bagian kedua memotret masa kerajaan absolut, dan bagian ketiga formula menuju kebangkitan umat Islam. Ketiga bagian itu saling pilin-memilin, satu dengan yang lain tak dapat dipisahkan. Bagian pertama menjadi inspirasi, bagian kedua sebagai bahan introspeksi, dan bagian ketiga mengambil semangat bagian pertama dan mengambil pelajaran berharga dari bagian kedua. ? ?

Penulis buku ini percaya bahwa demokrasi itu selaras dengan Islam. Ia memberi bukti, bahwa empat pemimpin Islam pasca Nabi (khalifah rasyidah) menganut pola republik, karena mereka ditetapkan oleh dan berasal dari rakyat yang diwakili oleh tokoh. Selain itu, kebijakan khalifah ditetapkan melalui musyawarah. Demokrasi yang dijalankan adalah demokrasi yang memiliki “batas” (hudud) berupa nilai-nilai agama. (hlm 39-40)?

HMI Tegal Kab

Basis demokrasi kala itu tak lain adalah akhlak para khalifah, mereka menerapkan nila-nilai agama. Abu Bakar menolak gelar “Khalifah Allah”, dan meluruskannya menjadi “Khalifah Rasul”. Berkat kearifan itu, Islam tidak terjerumus menjadi agama pembenar teokrasi. Dengan kemuliaan akhlak, khalifah rasyidah menjaga kesetaraan, yang membuat kebebasan berbicara dan berpendapat terjamin. Pada masa Khalifah Umar, demokrasi semakin kukuh karena adanya “check and balances” dengan memisahkan kewenangan peradilan dari kewenangan khalifah selaku eksekutif. Bahkan diletakkan pula dasar-dasar “good governance” dalam pengaturan tunjangan Negara. Khalifah Usman meneguhkan demokrasi dengan kegandrungannya terhadap dialog, kendati dapat mengancam keselamatan dirinya. Terakhir, Khalifah Ali memperkuatnya dengan keadilan sosial, karena menilai keadilan—di samping cinta kasih—adalah kebajikan utama Islam.

Setelah memutar-ulang kisah awal Islam dengan empat khalifah itu, buku ini lantas mengulas masa peralihan kekhilafahan ke era kerajaan. Dengan menerapkan tata-pemerintahan yang berbeda dengan empat khalifah, Umayyah dan Abbasiyah menganut sistem dinasti. Dengan sangat gamblang, penulis buku ini menyajikan gambaran kelam masa ini. Sejumlah peristiwa berdarah terjadi di antara keluarga istana, ada pula yang dilakukan oleh penguasa terhadap masyarakat.?

Namun, selain sisi kelam, Yusuf Effendi juga mengulas sisi kemajuan umat Islam di masa itu. Pada masa Abbasiyah, kaum muslim mengalami kemajuan di bidang keilmuan. Para pemuka kaum Abbasiyah menempuh dua strategi. Pertama, rekayasa sosial, dengan menyebarkan paradigma kemuliaan dari khazanah Islam, seperti mencari ilmu maupun mendirikan sekolah; dan kedua, memfasilitasi kemudahan pembelajaran dengan mendirikan pabrik kertas, membangun rumah sakit, peneropongan bintang (observatorium), berbagai pusat kajian ilmu dan biro penerjemahan.?

Adopsi ilmu dari budaya asing melandasi seluruh upaya tersebut sebelum dikembangkan sendiri oleh kaum Abbasiyah. Dengan cara itu, hanya dalam waktu dua generasi, kaum Abbasiyah sudah berhasil menjadi pusat kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan dunia, baik pada ilmu-ilmu murni maupun ilmu terapan.

Kaum Abbasiyah berhasil menghadirkan penemuan yang mengagumkan di bidang matematika, fisika, astronomi dan ilmu bumi, kedokteran, farmasi dan teknologi militer. Di bidang agama, kodifikasi hadis maupun rumusan ilmu kalam; sejarah dan lain-lain juga dituntaskan pada zaman ini. Namun, di bidang ilmu politik walaupun berhasil dirumuskan pemikiran cemerlang dari al-Mawardi dengan “Teori Kontrak Sosial” atau Ibnu Kaldun dengan “Teori Konstitusi”, namun keduanya tidak berhasil mengubah sistem kerajaan mutlak Abbasiyah. Zaman kemunduran Islam juga ditandai oleh kemunduran di bidang demokrasi dan akhlak, walaupun di bidang ilmu tidak mundur melainkan stagnan. Masa kemunduran itu dimulai terutama pada jaman Abbasiyah akhir, yaitu pasca penghancuran Baghdad oleh kaum Mongol.

Berkaca dari pengalaman panjang umat Islam, pada bagian terakhir buku ini, penulis menawarkan formula kebangkitan. Ia memaparkan strategi kebangkitan dengan terlebih dahulu mencatat bukti-bukti kemiskinan dan keterbelakangan umat Islam di seluruh dunia. Kemiskinan dan keterbelakangan yang relatif merata itu menurut Yusuf Effendi disebabkan oleh tiga hal. Pertama, terlantarnya keadilan sosial selama 1000 tahun masa kerajaan mutlak. Kedua, karena penjajahan bangsa Eropa yang telah merampas peran kaum Muslim sebagai pedagang antar Negara. Ketiga, kegagalan usaha kebangkitan pasca penjajahan karena tidak berhasil mengalahkan kekuatan sistem penjajahan modern di semua bidang.

Yusuf Effendi memaparkan dua kemungkinan strategi: melalui perbaikan manusia atau “alatnya”. Pilihannya melalui perbaikan manusia yang paling utama adalah aspek akhlak. Di atas segalanya, akhlak atau ihsan adalah bagian dari agama, tepatnya sebagai pilar ketiga di samping pilar iman (akidah, tauhid) dan Islam yang di dalamnya ada syariat. Pilihan melalui “alatnya” yakni perbaikan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan. (hlm 396-400).?

Karena kebangkitan adalah upaya budaya yang kompleks, maka perlu disederhanakan melalui pendekatan sistem (system approach). Dalam sistem itu, kebangkitan dianalogikan dengan “transformasi” melalui usaha politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan yang telah disinergikan dengan pengaruh global di bidang politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan dengan menggunakan “saringan akhlak dan ilmu” kemudian diperkuat oleh faktor-faktor positif (pengaruh internal) dari dunia kaum Muslim.?

Jika umat melakukan semua itu dengan kesungguhan, dalam waktu 100-150 tahun (kaum Abbasiyah dalam 70 tahun), umat Islam dapat meraih kembali kejayaannya. Tetap dengan dalil demokrasi, akhlak, ilmu.?

Selain kaya informasi sejarah, penyajian bergaya popular dan gaya tutur yang lugas menjadi keunggulan yang paling menonjol dari buku ini. Kita dapat mengetahui sejarah bagaimana dinamika pembentukan Dewan Pemilih Khalifah, ahlul-halli wal-‘aqdi pada masa Umar ibn Khattab. Kita juga dapat membaca kisah “petualangan” politik dan intelektual Ibnu Khaldun. Banyak narasi lain yang tidak sebatas kisah tapi diletakkan dalam konteks kekinian. Dari situ kita menyerap optimisme, bahwa Islam dapat bangkit menuju kemuliaan.?

Data buku

Judul Buku : Kebangkitan Kedua Umat Islam, Jalan Menuju Kemuliaan

Penulis : Yusuf Effendi

Penerbit: Naura Books (Mizan Grup)

Cetakan : I, Februari 2015

Halaman : lii + 557

ISBN : 978-602-0989-34-1

Peresensi: Banani Bahrul-Hassan, pecinta kajian hukum, demokrasi, dan keislaman

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita, Meme Islam HMI Tegal Kab

Minggu, 04 Februari 2018

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19

Solo, HMI Tegal Kab -

Ribuan jamaah membanjiri serambi Masjid Agung Surakarta, Jawa Tengah pada acara peringatan Hari Lahir (Harlah) Majelis Ahbabul Musthofa yang ke-19, Sabtu (24/12) malam. Pantauan HMI Tegal Kab, kehadiran mereka bahkan ikut meluber hingga ke halaman masjid.

Dalam sambutannya, Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, mengatakan sangat bergembira atas terselenggaranya peringatan ini.

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini. Ini merupakan Harlah yang ke-19, sedangkan untuk penyelenggaraan di Masjid Agung, ini yang ke-7,” kata dia.

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur Jateng, Pangdam Diponegoro, Kapolda Jateng, dan para tokoh ulama dan pemerintahan di lingkup Kota Surakarta. “Terima kasih kepada bapak Gubernur, dalam kesibukannya, masih sempat ikut keliling shalawat, semoga Jateng tambah berkah dengan shalawat,” ujar Habib Syech.

Dalam kesempatan itu, Habib Syech juga berpesan kepada segenap jamaah untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan. “Kalau ingin mulia, siapapun manusia di muka bumi ini, ikutilah Nabi Muhammad,” tutur dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Cerita, Habib, Fragmen HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Kamis, 18 Januari 2018

Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu

Solo, HMI Tegal Kab. Menjelang berakhirnya Ramadhan, sejumlah masjid di Solo memberikan santunan kepada para anak yatim piatu. Seperti yang dilakukan oleh takmir Masjid Agung Surakarta, Rabu (23/7) lalu, mereka membagikan bantuan kepada puluhan anak.

Sekretaris Masjid Agung Surakarta Abdul Basyid menjelaskan, momentum menjelang lebaran ini sengaja dipilih, untuk membagi kebahagiaan kepada anak-anak tersebut. “Ya, ini sebagai hadiah untuk lebaran, sekaligus juga dapat dimanfaatkan untuk awal memasuki tahun ajaran baru sekolah,” terangnya.

Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu

Basyid menambahkan, untuk santunan kali ini pihaknya membatasi hanya kepada anak-anak yang berusia maksimal kelas 3 SMP. Ia berharap, dengan adanya bantuan ini menjadi sarana kesuksesan anak.

HMI Tegal Kab

“Semoga mereka menjadi anak yang pintar, dan ke depannya bahkan menjadi orang yang sukses,” ungkap mantan pengurus Gerakan Pemuda Ansor Solo itu.

Harapan tersebut rupanya tak jauh berbeda dengan yang diutarakan panitia Santunan Anak Yatim yang diselenggarakan di Masjid Tegalsari Solo, di hari yang sama. Mereka berharap dengan adanya santunan secara rutin, dapat memberikan efek yang lebih besar, yakni diharapkan anak-anak tersebut kelak bahkan dapat menjadi orang yang sukses dan ikut menjadi penyantun. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Cerita HMI Tegal Kab

Selasa, 16 Januari 2018

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Adakan Shalat Ghaib untuk Korban AirAsia

Surabaya, HMI Tegal Kab. Sebagai wujud solidaritas, takmir Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya menggelar shalat ghaib untuk korban musibah pesawat AirAsia QZ8501. Shalat ghaib dilangsungkan usai Shalat Jumat di masjid terbesar di Jawa Timur ini, (2/1).

Usai pelaksanaan shalat ghaib, Humas Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, H Helmy M Noor menandaskan bahwa sudah sepatutnya shalat itu dilaksanakan. "Ini panggilan sebagai sesama muslim yang diperintahkan untuk memupuk ukhuwah islamiyah," katanya kepada HMI Tegal Kab.

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Adakan Shalat Ghaib untuk Korban AirAsia (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Adakan Shalat Ghaib untuk Korban AirAsia (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Adakan Shalat Ghaib untuk Korban AirAsia

Bagi alumnus Universitas Darul Ulum Jombang Jawa Timur ini, musibah jatuhnya pesawat AirAsia yang memakan korban hingga ratusan nyawa hendaknya menjadi media untuk meningkatkan ukhuwah. "Musibah yang dirasakan umat Islam di belahan penjuru manapun pada hakikatnya adalah musibah bagi kita sendiri," tandasnya.

HMI Tegal Kab

Karena dalam pandangannya, antara muslim yang satu dengan muslim yang lain ibarat satu tubuh. "Bahkan ilustrasi menarik telah disampaikan Nabi bahwa kalau ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain juga turut merasakan," terangnya.

HMI Tegal Kab

"Karena itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap penderitaan dan musibah yang menimpa korban, maka shalat ghaib dilangsungkan di masjid ini," ungkapnya.? Dan tradisi shalat ghaib sudah menjadi kebiasaan bila ada permintaan dari sebagian jamaah yang berkenan untuk dishalati. "Namun untuk musibah kali ini adalah inisiatif dari takmir masjid," ungkapnya.

Dan dalam pantauan HMI Tegal Kab, sejumlah jamaah Shalat Jumat sangat antusias melangsungkan shalat ghaib dengan penuh khidmat. Rata-rata jamaah enggan beranjak dan mengikuti prosesi shalat ghaib yang dilanjutkan dengan doa demi para korban pesawat naas tersebut.

Salah seoramg jamaah terlihat khusyuk dan berharap agar proses evakuasi korban pesawat AirAsia dapat berjalan dengan lancar. "Meskipun terkendala cuaca yang kurang bersahabat, kami berharap semuanya akan berjalan sesuai harapan," kata Muhammad Iqbal, salah seorang jamaah dari Surabaya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hikmah, Nasional, Cerita HMI Tegal Kab

Sabtu, 13 Januari 2018

Boyolali Alami Kekeringan, Ansor Terus Salurkan Air Bersih

Boyolali, HMI Tegal Kab. Setelah sebelumnya mengirimkan bantuan air ke beberapa wilayah di Kabupaten Boyolali yang mengalami krisis kekeringan air, Ahad (17/9) kemarin, giliran warga di Kecamatan Musuk yang disambangi para kader Gerakan Pemuda Ansor dan Banser Boyolali, Jawa Tengah.

Boyolali Alami Kekeringan, Ansor Terus Salurkan Air Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)
Boyolali Alami Kekeringan, Ansor Terus Salurkan Air Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)

Boyolali Alami Kekeringan, Ansor Terus Salurkan Air Bersih

Dengan membawa 23 truk tangki berisi air bersih, para kader muda NU tersebut bahu membahu membagikan air ke warga yang tersebar di Desa Lampar, Dragan, Jemowo, Sumur, Lanjaran, Priyan, Sukorejo dan Ringinlarik.

Kasatkorcab Banser Boyolali Abdullah menerangkan kegiatan sosial berupa penyaluran bantuan air bersih ini merupakan tahap yang kedua. Sebelumnya mereka juga membagikan air ke daerah Juwangi, Wonosegoro dan Kemusu.

“Kita targetkan total 50 tangki bisa kita salurkan ke warga, insyaallah masih ada penyaluran tahap ketiga,” terang Abdullah.

Ditambahkan Abdullah, kegiatan kali ini diadakan bersamaan dengan Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Diklatsar di Desa Ringinlarik Musuk. “Dengan dilibatkan dengan kegiatan semacam ini, semoga semakin mengasah rasa solidaritas para kader,” ungkapnya.

HMI Tegal Kab

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Boyolali Khoirudin Ahmad menambahkan, dana bantuan air ini didapatkan dari sumbangan kader Ansor dan Banser se-Boyolali.

“Kita juga infokan ke daerah lain di Soloraya, terkait bantuan air bersih ini. Harapannya semakin banyak yang peduli akan warga yang benar-benar membutuhkan air,” kata dia.

Bantuan air bersih ini, lanjut Khoirudin, akan terus digerakkan ke wilayah Boyolali lainnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Santri, Aswaja, Cerita HMI Tegal Kab

Jumat, 05 Januari 2018

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia

Jakarta, HMI Tegal Kab. Kepala Badan Litbang Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Masud menegaskan bahwa Indonesia berada pada urutan terdepan negara-negara dunia dalam konteks kerukunan. Banyak negara mengakui keberhasilan Indonesia dalam menjaga harmoni dalam kemajemukan.

Menurut Masud, kerukunan Indonesia tidak terlepas dari kekayaan kearifan lokal yang telah diwariskan pendahulu bangsa sejak ratusan tahun lalu. Kekayaan kearifan lokal itu, kata Masud, antara lain berupa tradisi lisan yang sarat akan nilai dan pesan kerukuan, persatuan, dan kesatuan.

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia

“Tradisi lisan di daerah yang menjadi bagian dari kearifan lokal mempunyai korelasi dengan kerukunan daerah. Tradisi itu terbukti menjadi perekat kerukunan warga dan karenanya bisa dijadikan bahan kampanye perdamaian nusantara,” demikian penegasan Abdurrahman Masud sebagaimana dilansir di laman kemenag.go.id, Jumat (29/4).

Merujuk pada hasil penelitian Balai Litbang Keagamaan DKI Jakarta yang dilakuan sejak awal tahun ini. Penelitian yang bertajuk “Nilai Keagamaan dan Nilai Kerukunan dalam Tradisi Lisan Nusantara” mengungkap data dan fakta bahwa suku-suku bangsa di Indonesia sangat agamis dan rukun. Masyarakat Indonesia juga memiliki kekhasan dalam ? beragama yang terkait dengan kebudayaannya, dan salah satu wujudnya adalah tradisi lisan. Tradisi lisan itu diwariskan secara turun-temurun menjadikan pesan keagamaan dan kerukunan lebih mudah disampaikan dan diterima.

Anik Farida, selaku ketua tim peneliti mengungkapkan, ada delapan wilayah yang dijadikan sasaran penelitian, yakni: Jakarta, Banten, Bandung, Cirebon, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau. Penelitian dilakukan dengan menggali nilai keagamaan dan kerukunan yang tersirat dalam tradisi lisan pada sejumlah tradisi, yaitu: ? Ritual Akikah di Jakarta, Tradisi Panjang Mulud di Banten, Petatah-Petitih Sunan Gunung Jati di Cirebon, Tradisi Warahan di Lampung, Tradisi Tadud di Sumatera Selatan, Tradisi Teater Rakyat Mendu di Natuna Kepulauan Riau, dan Tradisi Pasambahan di Sumatera Barat. ? ? ?

HMI Tegal Kab

“Potensi harmoni di negara kita itu jauh lebih kuat dan dahsyat dibanding potensi disharmoni atau ? intoleransi. Makanya tidak aneh jika hasil penelitian kita, termasuk soal KUB, indeks kerukunan 2015, kita mencapai 75,36%. Bahkan yang nomor satu seperti di NTT dan Bali di atas 80%,” tandasnya. (Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Cerita, Budaya HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Rabu, 03 Januari 2018

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit

Jakarta, HMI Tegal Kab - Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur menyatakan keprihatinannya melihat aksi-aksi intoleran yang belakangan marak. Menurutnya, para pelaku aksi intoleransi kadang mengatasnamakan Pancasila untuk aksi intoleransinya itu.

Demikian disampaikan Ghopur saat membuka seminar perdana Otokritik Indonesia perihal toleransi yang diselenggarakan LKSB di Gedung PBNU lantai 8, Jakarta, Jumat (16/12) siang.

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit

Ia melihat adanya kesalahpahaman di kalangan pemuda terutama dalam hal berbangsa dan bernegara. Kesalahpahaman ini, menurutnya, dipicu oleh kurang maksimalnya transfer pengetahuan kebangsaan atau tidak menyebar secara merata di kalangan generasi muda saat ini.

“Tidak heran kalau itu penyebabnya banyak orang menafsirkan Pancasila secara sempit,” kata Ghopur yang juga Wakil Ketua PP Lesbumi.

HMI Tegal Kab

Sementara Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Crhisman Damanik menegaskan, banyak anak bangsa sekarang tercerabut dari akar historis Pancasila. Mereka kehilangan arah.

HMI Tegal Kab

“Mereka melakukan praktik-praktik sosial dan politik yang jauh dari cita-cita persatuan dan semangat keadilan sosial yang digariskan para pendiri bangsa Indonesia,” kata Chrisman.

Diskusi ini sebelumnya diberi sambutan oleh Wakil Ketua Umum PBNU Prof Dr M Maksum Machfoedz. Forum ini diikuti oleh puluhan aktivis pemuda yang tergabung dalam gerakan-gerakan kemahasiswaan dari pelbagai latar belakang agama. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah, Lomba, Cerita HMI Tegal Kab

Rabu, 06 Desember 2017

Konjen Amerika Ziarahi Makam Gus Dur

Jombang, HMI Tegal Kab. Konsul Jenderal (Konjen) Amerika di Surabaya Joaquin Monserrate mengunjungi Pesantren Tebuireng Jombang. Konjen yang baru dua bulan menjabat ini juga berziarah dan tabur bunga di makam presiden RI ke-4 KH Abdurrahman wahid (Gus Dur), Rabu (29/11).

“Tidak ada agenda tertentu, hanya memperkenalkan diri dan ingin mengetahui pesantren saja,” ujar KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), pengasuh pesantren Tebuireng usai mendampingi Joaquin Monserrate melakukan tabor bunga di makam Gus Dur.

Konjen Amerika Ziarahi Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Konjen Amerika Ziarahi Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Konjen Amerika Ziarahi Makam Gus Dur

Usai berkunjung ke Tebuireng, Konjen pengganti Kristen F. Bauer ini kemudian melanjutkan safarinya bertemu dengan bupati Jombang Suyanto di pendopo kabupaten. 

HMI Tegal Kab

Joaquin adalah Konjen baru yang menggantikan yang pindah ke kantor Konjen AS di Jakarta. Joaquin mengatakan dirinya adalah pengagum Gus Dur. Ia datang ke Jombang untuk lebih mendekatkan diri dengan tokoh-tokoh besar Jombang seperti Gus Sholah. “Saya pikir Gus Sholah adalah salah satu tokoh besar Indonesia,” ujarnya saat berbincang santai dengan Bupati Suyanto 

HMI Tegal Kab

Sebagai pengagum Gus Dur, Joaquin mengatakan ingin dekat dengan kultur budaya yang ada di Jombang. Bagaimana sejarah perjuangan Gus Dur sehingga menjadi sosok yang mendunia.

“Saya adalah pengagum sosok Gus Dur dan saya ingin mendekatkan diri dengan Bupati Jombang, Gus Sholah, Universitas Pesantren dan mahasiswanya,” tandas Joaquin. 

Selain bertanya seputar Gus Dur dan pesantrennya, Joaquin juga mengungkapkan rasa ingin tahu yang besar terhadap Jombang yang memiliki keanekaragaman budaya dan agama.

“Jombang ini memiliki keunikan tersendiri, selain tidak pernah ada konflik langsung antara rakyat dan pemerintah, di Jombang juga tidak pernah ada konflik antar agama,” tegas Bupati Suyanto.

Bupati  lantas memberi contoh sebuah desa yang masyarakatnya memiliki beragam agama. Bahkan jarak antara tempat ibadah seperti masjid, pura dan gereja juga tak terlampau jauh. 

“Tidak pernah ada konflik antar agama, bahkan tempat ibadah jaraknya sangat dekat tak kurang dari 200 meter,” kata Suyanto. Hingga kini, lanjutnya, kebersamaan itu masih tetap terjalin dengan indahnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita, Budaya HMI Tegal Kab

Senin, 27 November 2017

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab

Jember, HMI Tegal Kab. Para pesilat Pagar Nusa Jember, terus menunjukkan eksistensinya.  Selain aktif melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap pelajar dan santri organisasi pencak silat NU tersebut bersilaturrahim dan Latihan Gabungan (Latgab) di Mayang. 

Kegiatan Senin (24/3) di rumah Ketua Pagar Nusa H. FB. Zamroni tersebut juga dihadiri Ketua DPW Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Timur, H. Faidhul Mannan. 

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab

Selain memantau latihan gabungan, H. Faidol juga berkenan mengukuhkan 75 pelatih Pagar Nusa. "Kami berharap agar anggota Pagar Nusa, bisa bekerja sama dengan berbagai pihak untuk turut serta dalam menjaga keteritiban dan keamanan, termasuk bekerjasama dengan pihak kepolisian," katanya.

HMI Tegal Kab

Dalam kesempatan itu, H. Faidhul juga menyerahkan Surat Keputusan (SK) PSNU Pagar Nusa Jember hasil revisi periode 2012-2017. Di SK tersebut, ketua tetap dipegang oleh H. FB. Zamroni dan sekretaris dijabat oleh H. Ismail Iskandar.

Menurut salah seorang pengurus Pagar Nusa Jember, H. Thoif Zamroni, ke depan pihaknya akan lebih giat lagi untuk memperkenalkan Pagar Nusa ke lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren dan sekolah-sekolah di bawah naungan LP. Maarif. 

HMI Tegal Kab

"Kegiatan pencak silat Pagar Nusa ini, bisa menjadi agenda ekstrakurikuler di pesantren-pesantren. Karena kami dan pesantren itu punya kesamaan visi, yaitu sebagai sokoguru Nahdlatul Ulama," ucap Ketua DPRD Kabupaten Jember itu. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Cerita HMI Tegal Kab

Pencetak Banyak Hafidzah

Hari itu, langit dan bumi pesantren Babakan-Ciwaringin-Cirebon tiba-tiba ‘basah’. Bukan karena hujan lebat yang menimbulkan genangan banjir, melainkan karena para keluarga, santri, dan masyarakat meneteskan tangis air mata. Salah seorang ulama perempuan yang hafizhah itu wafat meninggalkan semuanya.

Sosok ulama perempuan hafizhah itu tak lain, Nyai Hj Izzah Syathori Fuad Amin, salah seorang pengasuh pesantren Bapenpori (Balai Pendidikan Pondok Putri) al-Istiqomah, putri dari al-Maghfurlah KH Abdullah Syathori (sesepuh pesantren Dar al-Tauhid, Arjawinangun), dan istri mendiang KH Fuad Amin (sesepuh pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan-Ciwaringin). Beliau dipanggil oleh-Nya, 3 September 2013.

Nyai Izzah adalah sosok yang istiqomah dalam mencerdaskan umat, melalui pengajian rutin; pengajian kitab kuning maupun al-Qur’an. Tak mengenal kata lelah dan bosan dalam hal mengajar ngaji kepada para santri maupun masyarakat luas. Ini terbukti, salah satunya saat upacara pemakaman mendiang. Tak seperti biasanya, ribuan orang berjejalan dan sesak memenuhi areal maqbarah Raudlatut Tholibin.

Tak tahu ada berapa kali sesi shalat jenazah saat itu, baik yang berlangsung di pelataran masjid maupun saat sudah dimakamkan. Saya begitu yakin, ini karomah dan keistimewaan dari seorang hamba yang begitu mencintai dan mengabdikan sepenuh hidupnya demi dan untuk kelestarian al-Qur’an.

Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencetak Banyak Hafidzah

Pengajian yang istiqomah dilakukan Nyai Izzah pun sederhana. Untuk pengajian jami’iyah rutin mingguan, beliau hadir di hadapan para ibu-ibu menjelaskan berbagai macam ilmu. Pengajian seperti ini berlangsung di Babakan dan Arjawinangun. Jamaah pun menyimak dan berikutnya menampung banyak pertanyaan bernada keluh kesah seputar kehidupan agama, sosial, dan ekonomi rumah tangganya.

Nyai Maryam Abdullah, salah seorang menantu mendiang pernah bercerita: “Sering kali saya menyaksikan setiap malam Jum’at, beliau (al-Marhumah) hendak pergi mengajar pengajian ibu-ibu di Arjawinangun, walaupun dalam kondisi hujan, dan sekalipun harus naik becak tetap dilakoninya. Sebagai pemimpin jami’iyah di Babakan dan Arjawinangun beliau dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas dan memiliki karakter mobilisator.”

HMI Tegal Kab

Sementara saat di pesantren, Nyai Izzah akan setia membimbing para santriwati. Mengaji al-Qur’an misalnya, para santriwati berbaris rapi, bergiliran menyetorkan bacaan al-Qur’annya. Saking banyaknya santriwati yang ingin belajar mengaji al-Qur’an kepada beliau, setiap sesi setoran bacaan, beliau sanggup menyimak tidak kurang dari enam orang sekaligus secara bersamaan, masing-masing tiga orang santriwati di baris sebelah kanan dan kiri.

Tak hanya para santriwati, semua para Nyai yang ada di pesantren Babakan-Ciwaringin belajar mengaji al-Qur’an kepadanya. Beliaulah memang ulama perempuan paling otoritatif dalam bidang al-Qur’an baik di wilayah pesantren Babakan-Ciwaringin, pada khususnya, Cirebon dan Jawa Barat pada umumnya.

Jika ditelusuri jejak intelektualnya, Nyai Izzah sendiri mesantren dan belajar mengaji langsung kepada al-Maghfurlah KH Mahfudh Mas’ud, pimpinan pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Ia pun mampu menghafal al-Qur’an (hafizhah) dalam waktu yang relatif singkat, hanya 9 bulan.

Demikianlah, maka pesantren Bapenpori al-Istiqomah, masyhur sebagai pesantren yang istiqomah mencetak para hafizhah, santriwati penghafal al-Qur’an. Putera-putrinya pun demikian, cerdas dan hafizh-hafizhah. Itu semua tak lain merupakan buah dari keberkahan, kecerdasan, dan keistiqomahan Nyai Izzah sebagai pengasuh dan pendidik di pesantren.

Yang sangat mengesankan, banyak di antara kaum ibu yang awalnya buta huruf al-Qur’an atau bahkan lidahnya susah untuk melafadzkan ayat-ayat al-Qur’an tetapi akhirnya fasih dan hafal surat-surat penting

HMI Tegal Kab

Saking istiqomahnya beliau dalam hal mengaji, saat hendak bepergian jauh pun beliau selalu mempertimbangkan agar tidak ketinggalan waktu mengaji. Setahu saya beliau juga orangnya ulet dan telaten dalam mengajar. Siapapun yang ingin mengaji kepada beliau mulai dari kalangan anak-anak sampai orang tua pasti dilayaninya dengan senang hati.

KH Thohari Shodiq, salah seorang pengasuh pesantren Raudlatut Tholibin, berkali-kali menegaskan bahwa Nyai Izzah adalah satu-satunya Nyai sepuh yang alim, terutama dalam hal kajian kitab kuning. Selain alim dalam kajian al-Qur’an.

Akhirnya, kita memanjatkan do’a, semoga Nyai Izzah berbahagia di bawah naungan surga-Nya. Demikian juga yang ditinggalkan, baik para santri, keluarga, dan masyarakat dapat tabah serta menimba keteladanan, keistiqomahan, dan keikhlasan dari seorang ulama perempuan yang hafizhah ini. Amin.

?

Mamang M. Haerudin

Ketua LP3M STID AL-Biruni Cirebon, khadim al-Ma’had pesantren Raudlatut Tholibin Babakan-Ciwaringin.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Cerita, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Senin, 20 November 2017

GP Ansor Diminta Matangkan Proses Berorganisasi

Kudus, HMI Tegal Kab - Kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor diminta mematangkan proses tahapan berorganisasi. Sebab, selangkah lagi kader Ansor akan menjadi tumpuan dalam meneruskan perjuangan Nahdlatul Ulama.

Demikian yang disampaikan Ketua Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Kabupaten Kudus H. Asyrofi Maysitho di kediamananya Dukuh Sudimoro Karangmalang Gebog Kudus saat menerima kunjungan silaturahim Ramadlan pengurus Ranting GP Ansor desa setempat, Sabtu malam (18/6).

GP Ansor Diminta Matangkan Proses Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Diminta Matangkan Proses Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Diminta Matangkan Proses Berorganisasi

Asyrofi mengatakan kematangan berorganisasi di Ansor merupakan tahapan persiapan bagi kader guna melanjutkan estafet kepemimpinan NU pada masa mendatang. Karenanya, GP Ansor tanggung jawab yang berat mencetak kader-kader muda NU.

HMI Tegal Kab

"Tahapan proses harus tetap berlangsung, jangan berhenti menggerakkan organisasi terutama yang berkaitan kaderisasi," ujarnya memberi motivasi.

HMI Tegal Kab

Mantan ketua umum PC GP Ansor Kudus ini menambahkan GP Ansor adalah badan otonom yang keberadaannya di tengah-tengah antara IPNU dan NU. Hal ini mempunyai konsekuensi tanggung jawab yang besar mengangkat proses kaderisasi IPNU serta menopang program-progam Nahdlatul Ulama.

"Ansor punya adik (IPNU) yang harus bisa memberi contoh atau mendidik mereka lewat kaderisasi, sedangkan NU sebagai? organisasi besar wajib didukung dan ditopang kebesarannya oleh anak-anak muda NU," kata Asyrofi.

Ia mengharapkan kader – pengurus Ansor mampu mengukir catatan sejarah baik dalam mengegerakkan organisasi.? Setiap orang,katanya, tidak pernah bisa melupakan catatan sejarah yang ditorehkan oleh generasi sebelumnya.

"Sejarah itu tidak dapat dihapus. Karenanya isi sejarah Ansor dengan kegiatan maupun prestasi organisasi," tandas Asyrofi yang juga mantan ketua DPRD Kudus ini.

Kegiatan silaturahim pengurus Ansor d ini merupakan rangkaian acara tarawih keliling ke masjid dan musholla se desa Karangmalang selama bulan Ramadhan. Selepas tarawih, mereka melakukan silatrurahim ke sejumlah tokoh desa untuk mencari pencerahan dan masukan yang berkaitan pengembangan Ansor. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita, Olahraga HMI Tegal Kab

Kamis, 19 Oktober 2017

Inilah Perubahan Logo NU Hasil Muktamar Ke-33

Jakarta, HMI Tegal Kab. Muktamar Ke-33 NU di Jombang, 1-5 Agustus lalu, menghasilkan sejumlah perubahan pasal pada beberapa bab di Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Nahdlatul Ulama. Muktamirin di antaranya menyepakati penambahan unsur gambar dalam logo NU.

Pada AD/ART sebelumnya, pasal tentang logo ? tertulis bahwa lambang Nahdlatul Ulama berupa gambar bola dunia yang dilingkari tali tersimpul, dikitari oleh 9 (sembilan) bintang, 5 (lima) bintang terletak melingkari di atas garis khatulistiwa yang terbesar di antaranya terletak di tengah atas, sedang 4 (empat) bintang lainnya terletak melingkar di bawah garis khatulistiwa, dengan tulisan Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab yang melintang dari sebelah kanan bola dunia ke sebelah kiri, semua terlukis dengan warna putih di atas dasar hijau.

Sementara pada perubahan hasil Muktamar Ke-33 NU, muktamirin menyisipkan kalimat “dan ada huruf ‘N’ di bawah kiri dan ‘U’ di bawah kanan” sebelum kalimat “semua terlukis dengan warna putih di atas dasar hijau”.

Inilah Perubahan Logo NU Hasil Muktamar Ke-33 (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Perubahan Logo NU Hasil Muktamar Ke-33 (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Perubahan Logo NU Hasil Muktamar Ke-33

Hasil muktamar ini sekaligus meluruskan kekeliruan logo NU yang tersebar di masyarakat. Logo NU yang bertebaran ternyata memiliki beragam versi, selain bentuk huruf, perbedaan juga terletak pada warna latar dan tulisan. Bahkan, hingga kini masih dijumpai logo NU yang salah tulis.

HMI Tegal Kab

Berdasarkan pantauan HMI Tegal Kab setidaknya ada tiga buku yang menggunakan logo NU secara keliru. Yakni, NU dan Bangsa 1914-2010: Pergulatan Politik dan Kekuasaan karya Nur Khalik Ridwan dan Dari Kiai NU ke NU Miring yang merupakan kumpulan tulisan dengan penyunting Binhad Nurrohmat. Keduanya adalah terbitan pertama Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2010.

Pada sampul kedua buku itu terpasang logo dengan tulisan mirip Nahdlatul Ulama. Namun jika diperhatikan, diketahui ada penambahan huruf alif pada penggalan kata akhir, sehingga lebih tepat dibaca ”nahdlatul u-lama”.

HMI Tegal Kab

Sementara buku yang terakhir, Dinamika NU Perjalanan Sosial dari Muktamar Cipasung (1994) ke Muktamar Kediri (1999). Buku terbitan Harian Kompas bekerja sama dengan Lakpesdam NU, 1999, ini memasang logo bertuliskan “nahdlatul ummah”. Secara isi, pembahasan ketiga buku tersebut memang bertema ke-NU-an.

Di dunia maya, logo sejenis juga bertebaran cukup banyak, baik di akun facebook maupun sejumlah blog pribadi dan komunitas NU. Dengan kata kunci ”logo nahdlatul ulama”, mesin pecarian google akan memunculkan logo keliru NU itu pada deretan keempat gambar teratas.?

Para peselancar dunia maya sekarang bisa mengunduh logo resmi NU hasil perubahan Muktamar Ke-33 NU di situs Radio NU (radio.nu.or.id) pada kanal "Download". (Mahbib Khoiron)

?

Foto: Gambar logo NU hasil perubahan AD/ART pada Muktamar Ke-33 NU



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Lomba, Cerita HMI Tegal Kab

Selasa, 17 Oktober 2017

NU Diminta Jadi Penengah Solusi Perdamaian

Jakarta, HMI Tegal Kab

Konflik yang terjadi di Timur Tengah dan beberapa kawasan di dunia, berakar pada ketegangan antara prinsip agama dan konsep negara. Tidak adanya titik temu antara agama dan negara, menjadi penyebab meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Pada titik ini, Nahdlatul Ulama diminta menjadi penengah untuk mencari solusi perdamaian.?

NU Diminta Jadi Penengah Solusi Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Diminta Jadi Penengah Solusi Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Diminta Jadi Penengah Solusi Perdamaian

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkopolhukham) Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa Indonesia harus mengambil peran dalam perdamaian internasional.?

“Selama ini, yang menjadi juru damai konflik Israel dan Palestina hanya Amerika Serikat. Saya lihat, Indonesia bisa menjadi pendamai konflik internasional. Kita harus mengambil peran strategis ini. Dukungan para kiai dan ulama Nahdlatul Ulama sangat penting untuk agenda ini,” terang Luhut, pada agenda International Summit of the Islamic Moderate Leaders (Isomil) PBNU pada Senin (9/5), di Jakarta.?

Agenda Isomil diselenggarakan akan atas prakarsa PBNU untuk menghadirkan inspirasi perdamaian internasional, sekaligus mencari solusi bersama atas konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Menkopolhukham yang hadir bersama Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Republik Indonesia, Jendral Purn. Sutiyoso, menyampaikan strategi pemerintah Indonesia untuk menghadapi radikalisme dan kekerasan di dalam negeri, juga mengambil peran strategis di level internasional.?

Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, menyatakan bahwa Nahdlatul Ulama dengan gagasan Islam Nusantara, sudah saatnya mengeskpor gagasan-gagasan tentang Islam yang damai, ramah dan menghargai kebudayaan.?

HMI Tegal Kab

“Para kiai telah memberi teladan berupa titik temu antara konsep Islam dan kebangsaan, antara agama dan negara. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari telah menegaskan pentingnya menjaga titik temu agama dan negara. Sudah saatnya kita mengeskspor gagasan Islam Nusantara ke level internasional,” terang Kiai Said.?

Agenda Isomil merupakan pertemuan para ulama dan cendekiawan dari negeri Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat. Agenda ini, dihadiri sekitar 400 peserta, yang berlangsung pada 9-11 Mei 2016, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Isomil menjadi media dialog ulama internasional untuk mencari solusi perdamaian internasional. Red: Mukafi Niam

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita, Amalan HMI Tegal Kab

Selasa, 26 September 2017

Tiga Hal Rapuhnya Konsep Khilafah

Jakarta, HMI Tegal Kab. Pada 19 Juli 2017 lalu, pemerintah secara resmi telah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melalui Perppu No 2 tahun 2017 tentang Ormas dan mencabut badan hukumnya karena terbukti berupaya merongrong dasar negara dan anti-Pancasila. Khilafah sebagai sistem politik yang diusung HTI menjadi polemik, ada yang pro, tidak sedikit pula yang kontra.

Tiga Hal  Rapuhnya Konsep Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Hal Rapuhnya Konsep Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Hal Rapuhnya Konsep Khilafah

Muhammad Sofi Mubarok mengurai tiga hal kerapuhan konsep khilafah pada diskusi yang digelar pada Rabu (9/8), di aula Gedung Joang, Menteng, Jakarta. Pertama, konstruk normatifnya.

 

Al-Qur’an dan hadis mengurai banyak varian sistem, tidak hanya satu. Jika dilihat dari maqashid-nya, Indonesia sudah sangat sesuai. Indonesia mengatur urusan keagamaan, semisal haji dan zakat. Agama tidak pernah mengkritik sistem, tetapi implikasinya.

HMI Tegal Kab

“Kalau berbicara implikasi, berarti berbicara orangnya. Kenapa kita tidak mengkritik orangnya?” tegasnya. Kedua, sosio-kultural. Dalil khilafah sudah tidak inheren dengan kondisi Indonesia sekarang.

“Konteks dalil-dalil khilafah yang sudah dijelaskan oleh HTI sesungguhnya tidak inheren dengan Indonesia saat ini,” ujar penulis buku Kontroversi Dalil-dalil Khilafah itu.

Ketiga, sejarah. Yang dipraktikkan oleh orang masa lalu itu sangat dinamis. Sofi mencontohkan bahwa Nabi pernah kedatangan orang tua yang melaporkan bahwa dirinya melakukan hubungan suami istri di siang hari saat bulan puasa. Nabi pun memintanya untuk berpuasa dua bulan berturut-turut.

HMI Tegal Kab

 

Tetapi orang tua itu pun menjawab, bahwa dirinya sudah tidak lagi kuat berpuasa. Kemudian Nabi memintanya untuk bersedekah ke 60 orang miskin. Ia pun menjawab lagi, bagaimana mau sedekah, sementara ia sendiri juga miskin.

Akhirnya Nabi memberinya makanan yang harus ia bagikan ke 60 orang miskin tersebut di daerahnya. Ia masih juga menjawab, bahwa ia adalah orang paling miskin di daerahnya. Tetangganya adalah orang-orang kaya. Nabi pun meminta pada orang tua tersebut untuk membagi makanan tersebut ke anak dan istrinya.

Hal tersebut menunjukkan betapa dinamisnya Rasulullah SAW dalam menetapkan hukum. Tidak bisa terbayangkan bagaimana sistem syariat itu dibakukan.

“Bagaimana jika Indonesia menetapkan Alquran dan hadis sebagai konstitusi? Kekhawatirannya, mengutip Arroisuni, bahwa orang yang bukan mukallaf jadi terkena taklif,” kata kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Sementara itu, penulis buku Khilafah dalam Timbangan, Ainur Rofiq Al-Amin mengatakan, bahwa khilafah merupakan hasil ijtihad. Hal tersebut menunjukkan bahwa, khilafah tidak bisa dianggap sebagai suatu hal yang paling benar.

 

Sebab ijtihad bisa benar, bisa salah. terlebih dalam kitab al-Asybah wa al-Nadhair, Ainur Rofiq mengutip, terdapat kaidah al-ijtihad laa yunqadlu bi al-ijtihad, bahwa ijtihad tidak dapat membatalkan ijtihad lainnya.

“NKRI sebagai ijtihad para ulama tidak bisa digugurkan dengan ide dar  al-Islam Kartosurwiryo ataupun ide khilafah,” ujar dosen UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. (Syakirnf/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pendidikan, Kiai, Cerita HMI Tegal Kab

Sabtu, 22 Juli 2017

Peran Kiai Asad dalam Perebutan Senjata Belanda

Pada tahun 2014, Wakil Gubernur Syaifullah Yusuf membuka tapak tilas dalam rangka menyusuri jalur perjuangan KH. R. Asad Syamsul Arifin melintasi 100 desa untuk berebut senjata Belanda di gudang mesiu Desa Dabasan Bondowoso pada tahun 1947. Tak kurang dari 4000 peserta mengikuti kegiatan tersebut.

Pada 2002, Gus Dur membuka acara tersebut. Diikuti sekitar 5000 santri Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo.

Peran Kiai Asad dalam Perebutan Senjata Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Kiai Asad dalam Perebutan Senjata Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Kiai Asad dalam Perebutan Senjata Belanda

Memang Kiai Asad memiliki peran penting dalam merebut senjata Belanda. Beliau turun langsung berbaur dengan bromocorah yang menjadi binaannya (disebut Pelopor) memimpin perebutan senjata sambil berpuasa pada 20 Juli 1947 untuk mendukung perlawanan gerilyawan atas agresi militer Belanda.

Para Pelopor sebenarnya meminta Kiai Asad untuk tidak turun langsung ke dalam hutan. Mereka khawatir terkena serangan Belanda. Namun, beliau bukan tipe orang yang suka duduk manis di atas kursi melihat orang lain bekerja. Beliau bersikeras ikut serta merebut senjata dan siap berperang melawan Belanda.

HMI Tegal Kab

Kiai Asad menyadari cinta tanah air bagian dari iman, dan pentingnya sebuah tanah air untuk mengamalkan ajaran agama. Agama tanpa tanah air sulit untuk direalisasikan. Sementara tanah air tanpa agama akan amburadul. Keduanya ibarat sebuah mata uang, sisi yang satu dengan yang lain tak bisa dipisahkan.

HMI Tegal Kab

"Perang itu harus niat menegakkan agama dan arebbuk negere (merebut negara), jangan hanya arebbuk negere! Kalau hanya arebbuk negere, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang! Niatlah menegakkan agama dan membela negara sehingga kalau kalian mati, akan mati syahid dan masuk surga" (hlm. 138).

Demikian motivasi yang Kiai Asad tanamkan kepada para Pelopor. Dengan motivasi itu, para Pelopor semangat menyusuri jalan cadas nan berbatu menanjak melintasi 100 desa, dan tak takut mati untuk memperoleh senjata demi mempertahankan tanah air sebagai bentuk pengamalan orang beriman.

"Kalian tidak boleh mundur. Kalau mati, akan syahid dan masuk surga. Namun, jika lari ke belakang, kalian akan meninggal dalam keadaan kafir," dawuh Kiai Asad kepada para Pelopor sebelum berangkat merampas senjata Belanda (hlm. 107).

Misi mengambil senjata tak mengalami hambatan berarti, namun satu anggota Pelopor tewas. Anggota Pelopor berhasil mengambil 24 senjata api dan amunisi, termasuk senapan jenis bren, sten gun, lee enfield, mortir, light machine gun, serenteng peluru tajam, dan granat (hlm. 136-137).

Sementara pesantren Salafiyah Syafiiyah menjadi tempat berlindung dan menyusun strategi para gerilyawan. Sehingga, pasukan Belanda menggerebek pesantren untuk mencari gerilyawan dan senjata. Bahkan, pesantren hendak dibom karena dinilai membahayakan tapi pesawatnya meledak terlebih dahulu di udara, sementara gerilyawan berhasil kabur dari pesantren termasuk Kiai Asad.

Namun, ada penyusup dan yang dipandu oleh orang dalam Pesantren Sukorejo sendiri yang berkhianat. Penggerebekan pesantren menjadi ajang fitnah di media dan Kiai Asad dituduh melakukan makar pada NKRI dan terlibat dalam DI/TII. Akhirnya Kiai Asad menjadi tahanan politik selama enam bulan. Kiai Asad kembali ke Sukorejo tahun 1954.

Buku K. H. R. Asad Syamsul Arifin, Kesantria Kuda Putih Santri Pejuang membawa imajinasi pembaca menyusuri perjuangan Kiai Asad mulai merebut senjata Belanda hingga kembali ke Sukorejo setelah dipenjara. Penting dibaca negeri muda di tengah lunturnya rasa memiliki terhadap tanah air.

Berbeda dengan buku Kharisma Kiai Asad di Mata Umat (LKiS, 2013) dan Sang Pelopor (Pena Salsabila, 2014) yang penulisnya menggunakan pendekatan non fiksi sehingga harus menggunakan bahasa ilmiah, Ahmad Sufiatur Rahman menulis dalam bentuk fiksi sejarah. Buku setebal 210 halaman jauh dari membosankan layaknya buku sejarah pada umumnya.

Data buku:

Judul: K. H. R. Asad Syamsul Arifin, Kesantria Kuda Putih Santri Pejuang

Penulis: Ahmad Sufiatur Rahman

Penerbit: Tinta Medina, Solo

Terbitan: Pertama, Mei 2015

Tebal: XXXVIII+210 halaman

ISBN: 978-602-72129-7-8

Peresensi: M. Kamil Akhyari, kader muda NU, pecinta buku sejarah

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita, Sholawat, Syariah HMI Tegal Kab

Senin, 19 Juni 2017

Khutbah Idul Adha: Mengurai Makna Ibadah Kurban dan Haji

Khutbah I

? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.



Khutbah Idul Adha: Mengurai Makna Ibadah Kurban dan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Idul Adha: Mengurai Makna Ibadah Kurban dan Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Idul Adha: Mengurai Makna Ibadah Kurban dan Haji



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?. ? ? ?. ? ? ? ? .? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

HMI Tegal Kab

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Ungkapan rasa syukur sudah seharusnya kita ungkapkan biqouli alhamdulillah karena sampai dengan saat ini kita masih mendapat kepercayaan dari Allah SWT untuk tetap bisa menikmati karunia Allah untuk tetap dapat menginjakan kaki kita di atas bumi-Nya. Terlebih lagi saat ini kita masih di berikan-Nya kesempatan untuk bertemu dengan Hari Raya Idul Adha 1438 H. Mudah-mudahan semua ini mampu menjadi motivasi kita untuk meningkatkan dan memperkuat keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

HMI Tegal Kab

Maasyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Idul Adha adalah salah satu hari raya dalam agama Islam yang di dalamnya menyimpan berbagai peristiwa monumental dari peradaban kehidupan di bumi. Peristiwa tersebut selanjutnya diabadikan dalam sebuah ritual ibadah. Dua ibadah yang sangat identik dengan Hari Raya Idul Adha adalah ibadah kurban dan haji. Kedua ibadah ini mengandung nilai keteguhan dan keimanan dan menjadi bukti pengorbanan yang di dasari dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.





? ? ? ? ? ? ? ?

Hadirin Rahimakumullah?

Ibadah kurban adalah ibadah yang berawal dari sejarah ketika Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk mengorbankan putranya, Ismail, dengan cara disembelih. Berbekal keimanan yang tinggi, Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah yang disampaikan Allah melalui sebuah mimpi. Namun, sebelum Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, malaikat membawa seekor kambing dari surga sebagai ganti untuk disembelih. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Asshoffat: 102





? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Dari sejarah inilah umat Islam diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban yang pada hakikatnya merupakan sebuah ibadah untuk mengingatkan kita semua untuk kembali kepada tujuan hidup, yaitu beribadah kepada Allah. Disebutkan dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzaariyaat: 56





? ? ? ? ? ?

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.”

Hikmah dari ujian Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya adalah keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT. Keikhlasan menjadi salah satu kunci untuk memperoleh ridha Allah dengan menjalankan apa yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Jika kita melaksanakan ibadah tanpa didasari oleh keikhlasan maka niscaya yang kita lakukan akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka.





? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: Allah tidak menerima amal, kecuali amal (ibadah) yang dilandasi keikhlasan dan karena mencari keridhaan Allah SWT (HR. Nasa’i)

Dalam berkurban kita harus ikhlas dan siap mengorbankan sebagian harta kita untuk orang lain yang pada hakikatnya perlu kita camkan bahwa semuanya adalah milik Allah SWT. Dikarenakan ibadah kurban adalah untuk Allah SWT maka sudah seharusnya kita memberikan hewan kurban yang terbaik yang kita punya. Prinsip ini akan menjadi bagian dari ketaatan kita kepada Allah.

Hikmah lain dari ibadah kurban dapat dilihat dari makna kata kurban itu sendiri. Kurban dalam Bahasa Indonesia berarti dekat. Oleh karena itu, kurban dapat diartikan mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya melalui wasilah hewan ternak yang dikurbankan atau disembelih.





? ? ? ? ? ? ? ?


Maasyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Ibadah selanjutnya yang identik dengan Hari Raya Idul Adha adalah ibadah haji ke Tanah Suci Makkah. Ibadah haji merupakan kewajiban bagi kita umat Islam yang memiliki kemampuan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 97:





? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.“

Mampu melaksanakan Rukun Islam yang kelima ini memiliki artian siap untuk mengorbankan harta yang dimiliki sebagai wujud syukur atas nikmat harta dan kesehatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kesiapan kita mengorbankan harta untuk menjadi tamu Allah di Baitullah sekaligus mengajarkan kepada kita untuk menjauhi sifat kikir dan cinta terhadap kekayaan materi.

Pengorbanan kita dalam berhaji juga mengajarkan kepada kita untuk tidak membangga-banggakan kekayaan ataupun kelebihan yang kita miliki karena pada dasarnya semua itu adalah karunia dan anugerah dari Allah. Sudah seharusnya semua itu kita syukuri untuk menjadi modal kita untuk tekun beribadah kepada Allah SWT.

Ibadah haji juga mengajarkan kepada kita untuk saling membantu dan saling bekerja sama dengan orang lain. Seperti yang kita ketahui, perjalanan ibadah haji ditempuh dengan berduyun-duyun dalam sebuah perjalanan yang penuh dengan tantangan kesulitan dan pengorbanan.

Di dalamnya harus diikuti dengan semangat juang tinggi tanpa putus asa disertai dengan kedisiplinan dan kesabaran untuk mencapai sebuah tujuan. Akhlaqul Karimah kepada sesama manusia juga harus dikedepankan diiringi dengan kesadaran bahwa niat kebaitullah adalah untuk beribadah. Bukan untuk yang lain.

Dengan niat yang benar, ibadah haji harus dapat membangkitkan semangat dan kesadaran diri untuk saling mengingatkan dalam kebenaran, menasehati dalam kesabaran dan menebarkan kasih sayang kepada seluruh ciptaan Allah SWT.

?

? ? ? ? ? ? ? ?

Maasyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Ibadah haji juga merupakan wujud ketaatan dan ketundukan kita kepada perintah Allah SWT. Ibadah haji adalah ibadah yang sudah ditentukan waktunya dengan artian harus meninggalkan aktifitas duniawi untuk fokus beribadah bagi kepentingah ukhrowi.

Dalam ibadah haji para jamaah melakukan rangkaian ibadah sebagai upaya membersihkan diri dari dosa seraya mengharapkan ampunan, rahmat, dan ridha Allah SWT. Mereka juga melatih kesabaran dengan kedisiplinan rangkaian ibadah sekaligus melupakan urusan dunia yang sering membuat hati manusia lalai mengingat Allah SWT.

Dengan hanya mengenakan kain ihram berwarna putih, para jamaah diingatkan dengan kain kafan ciri khas dari kematian yang pasti akan datang kepada setiap yang bernyawa. Kita berasal dari Allah dan hanya kepada-Nyalah kita akan kembali. Kita pasti akan berpisah dengan semua yang kita cintai dan berpisah dengan yang mencintai kita. Semua akan kembali kepada sang pemilik yang hakiki, Allah SWT.

Dalam ibadah haji, jamaah juga melakukan ibadah lainnya seperti Tawaf mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali dan melakukan lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah yang dinamakan dengan Sai. Dalam ibadah ini para jamaah berdoa untuk senantiasa mendapatkan pertolongan Allah SWT dan perlindungan dari dosa yang timbul dari hawa nafsu dan godaan Setan.

Ibadah Towaf dan Sai memiliki makna yang mendalam agar kita senantiasa berusaha tanpa henti dan berhijrah melalui bentuk aktivitas berlari untuk meraih kemuliaan dengan berserah diri kepada Allah. Dengan senantiasa membersihkan hati dari sifat yang tercela, kita harus menanamkan tekad untuk mencapai puncak kesucian.





? ? ? ? ? ? ? ?

Maasyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Allah SWT telah menjanjikan Surga Allah SWT kepada umat Islam yang melaksanakan haji dengan niat tulus karena Allah dan dapat meraih predikat mabrur.

? ? ? ? ? ? ?

Artinya: haji yang mabrur tiada balasan baginya kecuali surga (HR. Nasa’i).

Lalu, apa yang dimaksud dengan haji mabrur? Haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri kemaksiatan. Hal ini sesuai dengan makna kata “al-mabrur” yang diambil dari kata al-birr yang artinya adalah ketaatan. Dengan kata lain haji mabrur adalah haji yang dijalankan dengan penuh ketaatan sehingga tidak tercampur dengan dosa. Haji mabrur juga merupakan haji yang maqbul atau diterima oleh Allah dan akan dibalas dengan al-birr (kebaikan) yaitu pahala.

Haji mabrur dapat ditandai dengan terlihatnya seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi perbuatan maksiat dan dosa yang ia lakukan.

Maasyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Dengan hikmah dua ibadah ini yaitu kurban dan haji, sudah merupakan kewajiban bagi kita selaku umat Islam untuk menyakini bahwa Allah memiliki tujuan dalam memberikan setiap perintah kepada manusia. Allah pasti akan memberikan yang terbaik kepada kita jika kita juga berbuat baik dan mematuhi perintah-Nya. Keyakinan dan keikhlasan untuk mematuhi perintah-Nya akan membawa kebaikan kepada kita.





? ? ? ? ? ? ? ?

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Akhirnya marilah kita berdoa memohon kepada Allah SWT agar semua ibadah yang kita lakukan akan mendapatkan ridha dari Allah SWT. Ya Allah, ya Rahman, limpahkanlah Rahman Rahim-Mu. Curahkanlah hidayah-Mu sehingga kami dapat meraih keridhaan-Mu. Hanya kepada Engkaulah kami mempercayakan diri kami. Janganlah Engkau membiarkan kami berjalan sendiri tanpa kendali hidayah-Mu. Ya Allah......

Ya Allah, ya Rahim, kami mempersembahkan ke hadirat-Mu, sekelumit pengorbanan berupa hewan kurban, yang nilainya jauh tak sebanding dengan luas pemberianmu dan kasih sayang-Mu, yang tiada terhingga banyaknya dan kami tidak mampu memperhitungkannya.?

Ya Allah perkenankanlah kami untuk sampai ke Mekkah, Madinah, dan Arafah untuk menjadi tamu-Mu menjalankan ibadah haji. Berikanlah kami rezeki menjadi haji mabrur. Anugerahkanlah ridha-Mu dan sayangilah kami.





? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II





? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.





? ?3X ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ?3 X ? ? ? ? ? :

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?





? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammad Faizin, Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita HMI Tegal Kab

Sabtu, 20 Mei 2017

MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir

Bojonegoro, HMI Tegal Kab. Patut diapresiasi, sebagai wujud rasa kemanusiaan, untuk meringankan bencana banjir di Kecamatan Balen. Majelis Wakil Cabang Nahlatul Ulama (MWC NU) Balen membantu para korban banjir di wilayahnya.

MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir

Ketua MWC NU Balen Mulazim menyampaikan keprihatinannya yang mendalam atas musibah tersebut. Ia juga meminta tetap sabar meskipun seluruh tanaman padi dan palawija warga musnah, serta terancam puso akibat bencana banjir Bengawan Solo.

"Meski demikian tetap saja semangat dalam beribadah, mengembangkn organisasi NU dan bekerja keras. Pasalnya semua musibah datangnya dari Allah, manusia hanya berusaha segala ketentuan dari-Nya. Semoga bantuan ? ini bisa sedikit meringankan beban korban banjir, terutama warga Nahdliyin," terangnya.

HMI Tegal Kab

Bantuan yang diberikan diantaranya 15 dus mie instan untuk tiga desa diantaranya Desa Pilanggede, Kedungdowoo dan Sarirejo. Barang tersebut diserahkan langsung di depan rumah ketua Ranting NU Pilanggede, Bashiron oleh ketua MWC NU Balen, Mulazim. Setelah diterima, bantuan itu langsung disalurkan kepada warga korban banjir saat itu juga.

Saat di Desa Sarirejo diberikan ketua Ranting NU Sultonil Adzim. Di Desa Kedungdowo diberikan koordinator Muzamil yang juga pengurus Ansor dan pengurus Fatayat Darwati.

HMI Tegal Kab

Sementara itu, ketua LPBI NU Balen, M. Yasin mengungkap, ia menyamput dengan senang hati kepedulian MWC NU Balen.?

"Sebenarnya ingin semua warga menerima bantuan ini, namun karena jumlahnya tidak mencukupi maka minta maaf. mudah-mudahan masih akan ada lagi bantuan-bantuan yang sekiranya bisa mencukupi untuk semua korban," harapnya.

Selain itu bantuan 50 paket dari SER NU Jawa Timur melalui LPBI NU Cabang Bojonegoro diserahkan kepada korban banjir di Desa Pilanggede Kecamatan Balen. Serta dari Fatayat NU dan Muslimat NU Balen menyerahkan 1000 nasi bungkus kepada warga Pilanggede dan Sarirejo. Penyerahan bantuan langsung dilakukan ketua Fatayat NU Balen Halimatus Sadiyah.

Ketua LPBI NU Cabang Bojonegoro, Rakhmad Maulana mengapresiasi MWC Balen yang telah melakukan aksi solidaritas untuk membantu korban banjir. Pasalnya belum tentu di kecamatan lain yang terdampak banjir maupun tidak, mau membantu korban banjir terutama kepada warga Nahdiyin yang menjadi korban.

"MWC NU Balen agar dicontoh MWC lainnya, semoga kerukunan dan keakraban sesama pengurus ditingkatan atas sampai ke bawah dapat bersinergi," pungkasnya.(yazid/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock