Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Mambaul Ulum Riwayatmu Kini

Solo, HMI Tegal Kab

Salah satu jejak yang menjadi saksi sejarah perjalanan awal terbentuknya Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama di Kota Solo, yakni Madrasah Mambaul ‘Ulum (MU) Surakarta. 

Dari madrasah yang pada masa pemerintahan Pakubuwono X merupakan Pusat Pendidikan Islam (Modern) ini, banyak melahirkan ulama besar, pemimpin bangsa, intelektual dan teknokrat. Diantaranya yakni tokoh-tokoh seperti KHR Moh. Adnan (tokoh NU dari Solo), Saifuddin Zuhri, Kyai Ali Darokah, Munawir Sadzali (Mantan Menteri Agama RI), Prof. Dr Baiquni (Bapak Atom/Nuklir Indonesia) dan lain sebagainya.

Mambaul Ulum Riwayatmu Kini (Sumber Gambar : Nu Online)
Mambaul Ulum Riwayatmu Kini (Sumber Gambar : Nu Online)

Mambaul Ulum Riwayatmu Kini

Madrasah ini juga pernah terdengar namanya dalam Muktamar NU kesepuluh. 

Pada waktu itu, di antara hasil keputusan muktamar, yakni pernyataan menyokong berdirinya “Madrasah Mamba’ul Ulum” yang didirikan oleh Keraton Kasunanan Surakarta pada tahun 1905 sebagai salah satu usaha untuk mencetak kader ulama.

HMI Tegal Kab

MU yang terletak di kompleks Masjid Agung Surakarta, kemudian beralih fungsi menjadi sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) Negeri Surakarta. Menjelang tahun 1955, di sekolah ini terdapat beberapa muridnya, yang secara intensif sering mengadakan diskusi tentang perlunya keberadaan organisasi pelajar putri di kalangan Nahdliyyin. Berawal dari diskusi yang diadakan Umroh Mahfudzoh dkk. itulah kemudian IPNU Putri lahir.

HMI Tegal Kab

Kepala Sekolah MAN 2 Solo, H Dimyati BA, menjelaskan dulu ketika menjadi PGA kegiatan belajar dibagi di dua tempat, yakni di gedung di depan Stadion Maladi Jl.. Slamet Riyadi Sriwedari, "Untuk di Slamet Riyadi itu dari kelas I sampai IV, sedangkan yang di Mambaul Ulum untuk kelas V dan VI,"

Mambaul Ulum Bermetamorfosa

Rekam jejak keberadaan Mamba’ul Ulum dalam kontribusi mencetak sumber daya manusia handal yang memiliki pengaruh perubahan pada masyarakat baik pada taraf lokal dan global beberapa waktu yang lalu mengundang penasaran para peneliti sejarah diantaranya Prof. Nishino Setsuo dari Nagoya University, Dr. Murni Ramli dari Pusat Studi Asia UNDIP, Yuki Nakata MA dari Toyo University Japan dan peneliti dari UIN Yogyakarta.

Dari hasil feasibility study (studi kelayakan) yang dilakukan oleh Tim Task Force Studi Kelayakan yang  melalui analisis SWOT dengan mempertimbangkan berbagai trend perubahan lokal dan global, tim merekomendasikan dibukanya program Boarding School “Mamba’ul ‘Ulum” Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Surakarta berlokasi di Jl Dr. Radjiman No. 2 Surakarta (Kompleks Masjid Agung Surakarta).

Kini bangunan Mambaul Ulum atau PGA Surakarta, telah bermetamorfosa menjadi MAN 2 Surakarta. Adanya konsep baru pada sekolah tersebut diharapkan dapat menghasilkan kembali tokoh-tokoh besar, yang syukur-syukur datang dari kalangan Nahdliyin.

Redaktur    : Hamzah Sahal

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pemurnian Aqidah HMI Tegal Kab

Rabu, 03 Januari 2018

Negara Wajib Fasilitasi Kaum Difabel

Mataram, HMI Tegal Kab. Islam memandang semua manusia adalah setara. Yang membedakannya adalah tingkat ketakwaannya. Tak terkecuali bagi para penyandang disabilitas. Mereka berhak mendapat perlakuan manusiawi dan layanan fasilitas bagi keterbatasan yang mereka alami.

Demikian di antara poin yang disepakati dalam Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Maudluiyah yang salah satunya menyoroti konsep fiqih penyandang disabilitas di Pondok Pesantren Darul Falah, Jalan Banda Seraya 47, Kecamatan Pagutan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat (24/11). Sidang dipimpin oleh Katib Syuriyah PBNU KH Abdul Ghofur Maimoen.

Negara Wajib Fasilitasi Kaum Difabel (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Wajib Fasilitasi Kaum Difabel (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Wajib Fasilitasi Kaum Difabel

Dalam rumusan yang disusun dinyatakan bahwa Islam tak memandang penyandang disabilitas itu secara negatif. Islam memandang hal itu sebagai ujian. Pertama, ujian bagi yang penyandang disabilitas, apakah yang bersangkutanbisa sabar atau tidak. Kedua, juga ujian bagi pihak lain, apakah mereka memiliki kepedulian pada penyandang disabilitas atau tidak.

Secara fiqih, mereka tetap dibebani kewajiban menjalankan kewajiban syariat (taklif) selama akal mereka masih mampu bekerja dengan baik. Hanya saja Islam memberikan keringanan menurut kondisinya. Mereka diperbolehkan menjalankan kewajiban sesuai dengan batas kemampuannya.

“Karena sebagian penyandang disabilitas tetap diwajibkan menjalankan syariat Islam, maka negara punya kewajiban bukan hanya membuat kebijakan melainkan juga menyediakan fasilitas publik yang ramah terhadap kaum penyandang disabilitas-kaum difabel,” bunyi rumusan tersebut.

HMI Tegal Kab

Dalam konteks penyandang disabilitas, negara memiliki tanggung jawab membuat penyandang disabilitas bisa menjalani kehidupan secara nyaman. Ruang publik dibuat ramah terhadap penyandang disabilitas.

Begitu juga dengan ruang-ruang komunal seperti rumah ibadah. Khutbah-khutbah keagamaan yang disampaikan juga perlu mempertimbangkan keberadaan kaum difabel netra, difabel rungu, dan sebagainya. Karena itu ketika khutbah disampaikan, masjid-masjid di Indonesia perlu menyediakan bahasa isyarat, teks tertulis, dan sebagainya.

“Tentu pemenuhan segala kebutuhan warga negara harus mempertimbangkan kemampuan negara. Sebab, tidak jarang dijumpai ketimpangan antara daftar kebutuhan yang harus dipenuhi dan keterbatasan anggaran yang tak bisa dihindari. Jika itu terjadi, maka negara perlu membuat skala prioritas dengan mendahulukan orang yang sangat membutuhkan daripada yang sekedar butuh.” 

HMI Tegal Kab

Forum sidang komisi ini juga menyinggung soal keterkaitan konsep disabilitas dengan faktor sosial. Seseorang disebut penyandang disabilitas ketika ia tidak memiliki akses yang sama dengan orang normal pada umumnya lantaran fasilitas yang terbatas atau masyarakat yang tidak ramah dengan keadaan orang tersebut.

Hasil diskusi peserta bahtsul masail ini akan dibawa ke sidang pleno pada Sabtu (25/11) besok untuk ditinjau bersama lalu ditetapkan secara resmi. Selain soal fiqih disabilitas, musyawirin juga mendiskusikan tentang ujaran kebencian, distribusi lahan/aset, konsep amil dalam negara modern menurut pandangan fiqih, konsep taqrir jama’i, dan konsep ilhaqul masail binadhairiha.

Komisi Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Maudluiyah lebih fokus pada pembahasan isu-isu tematik-konseptual ketimbang menemukan hukum halal-haram. Rumusannya dipaparkan dalam narasi dekriptif. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah HMI Tegal Kab

Rabu, 27 Desember 2017

Harlah, Ini Pesan Ketua NU Kudus Kepada IPNU-IPPNU

Kudus, HMI Tegal Kab. Sebagai perkumpulan yang mewadahi para pelajar Nahdlatul Ulama, IPNU dan IPPNU selayaknya sering menjalin komunikasi kepada para pengurus Badan Otonom NU lainnya yang lebih dewasa.?

Hal ini disampaikan oleh Ketua Tanfidziyyah NU cabang Kudus, H Abdul Hadi pada pembukaan peringatan Hari Lahir IPNU ke-61 dan IPPNU ke-60 di aula Gedung NU Kudus Selasa, (24/2).

Harlah, Ini Pesan Ketua NU Kudus Kepada IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah, Ini Pesan Ketua NU Kudus Kepada IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah, Ini Pesan Ketua NU Kudus Kepada IPNU-IPPNU

Usai menghaturkan ucapan selamat hari kelahiran beserta doa harapan, Abdul Hadi kemudian memberikan beberapa pesan kepada ratusan pengurus IPNU-IPPNU se-kabupaten Kudus yang hadir pada acara tersebut.

HMI Tegal Kab

“Pengurus IPNU-IPPNU harus sering-sering silaturrahim dan konsultasi kepada NU, LP Ma’arif, juga kepada sesama pimpinan IPNU-IPPNU, jangan sampai putus,” ujar Abdul Hadi.?

Disampaikannya, bahwa ketika IPNU-IPPNU menghadapi masalah, apapun itu, sebaiknya disampaikan saja. Menurutnya, NU dan Banom sudah sepantasnya saling terbuka dan membantu.

HMI Tegal Kab

Di ulang tahun ini, diharapkan agar IPNU bersama IPPNU semakin mampu menjalankan tugas dengan disiplin dan tertata rapi. “Buatlah kegiatan yang sederhana saja, yang terjangkau, tapi terorganisir dengan baik,” paparnya.

Menurutnya, IPNU-IPPNU juga harus menjalankan organisasi dengan transparansi yang maksimal, sedari administrasi hingga persoalan dana. Organisasi dijalankan dengan ikhlas untuk kepentingan meningkatkan kualitas dan kuantitas NU.

Perayaan Harlah diresmikan dengan pemotongan tumpeng oleh KH M Ulil Albab, Rois Syuriah NU Kudus dan diserahkan kepada pengurus IPNU dan IPPNU Kudus, Joni Prabowo dan Septiyanti.?

Acara dilanjutkan dengan sarasehan bersama alumni dan nonton bareng video dokumentasi perjalanan IPNU-IPPNU Kudus dari masa ke masa. Terakhir, dibacakan doa manaqib. (Istahiyyah/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Khutbah, Pemurnian Aqidah HMI Tegal Kab

Minggu, 17 Desember 2017

Ini Harapan Ratusan Santri di Sragen kepada Pemerintah

Sragen, HMI Tegal Kab. Ratusan santri Pondok Pesantren An-Najah Gondang Sragen Jawa Tengah mengikuti kegiatan karnaval dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2015 dan Tahun Baru Hijriah 1437 H 1 Muaharam lalu, Rabu (21/10) pagi.

Para santri yang berjumlah sekitar 250-an tersebut berjalan menyusuri jalanan dengan memakai busana ala santriwan dan santriwati. Sebagian santri membawa spanduk yang bertuliskan ucapan “Selamat Tahun Baru Hijriyah” dan “Hari Santri Nasional”.

Ini Harapan Ratusan Santri di Sragen kepada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Harapan Ratusan Santri di Sragen kepada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Harapan Ratusan Santri di Sragen kepada Pemerintah

Menurut Wakil Kepala bagian Kesiswaan, Sobirin, kegiatan karnaval ini diikuti seluruh Keluarga Besar Pesantren An-Najah. “Semua siswa, guru dan karyawan ikut, mulai dari SMP, SMK serta MANU Gondang,” terang Sobirin.

HMI Tegal Kab

Selain acara karnaval, pada momentum mengenang peristiwa Resolusi Jihad ini, pihaknya juga mengadakan kegiatan upacara Hari Santri, Kamis (22/10). “Peserta upacara untuk santri laki-laki memakai sarung,” ungkap dia.

Sobirin berharap dengan adanya peresmian Hari Santri Nasional ini, akan menjadikan para santri lebih bersemangat dalam menuntut ilmu. “Kita juga berharap agar pemerintah lebih peduli pada pondok pesantren dan para santri,” tutupnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Pemurnian Aqidah HMI Tegal Kab

Rabu, 13 Desember 2017

Model Islam Nusantara Dipromosikan di Denmark

Jakarta, HMI Tegal Kab?



Ektremisme agama tidak hanya menjadi persoalan di sebuah negara, tapi merupakan masalah global yang harus diselesaikan melalui kerja sama antarnegara. Hal itu mengamuka pada kerja sama antara pemerintah Denmark dan Wahid Foundation dalam menyelenggarakan Tur Dialog Lintas Agama ke Denmark pekan lalu.?

Model Islam Nusantara Dipromosikan di Denmark (Sumber Gambar : Nu Online)
Model Islam Nusantara Dipromosikan di Denmark (Sumber Gambar : Nu Online)

Model Islam Nusantara Dipromosikan di Denmark

Salah satu pertanyaan yang kerap mengemuka di dalam pertemuan-pertemuan di Denmark adalah bagaimana cara menghentikan laju ektremisme agama di dunia. Dalam hal itu, Direktur Utama Wahid Founation Yenny Wahid mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang berpenduduk Islam terbesar di dunia termasuk negara yang berhasil membendung laju ektremisme agama.?

Menurut putri Gus Dur itu, keberhasilan tersebut tidak hanya mengangkat nama Indonesia sebagai negara damai, namun sekaligus membantah persepsi dunia tentang agama Islam, yang selalu diidentikkan dengan agama teror dan kebencian.

Yenny mengungkapkan, salah satu kunci keberhasilan Indonesia adalah kerja sama yang baik antara pemerintah dan kelompok agama dalam mengatasi masalah keagamaan termasuk ektremisme agama.?

HMI Tegal Kab

“Kerja sama dengan komunitas agama atau masyarakat sipil dengan pemerintah adalah kunci mengatasi radikalisme agama di Indonesia,” katanya menceritakan kunjungannya dari Denmark di Jakarta (29/3). Tanpa keterlibatan masyarakat sipil terutama melalui lembaga keagamaan, pemerintah akan kewalahan menghadapi gelombang ekstrimisme agama.

Islam model Indonesia atau dikenal luas dengan Islam Nusantara, menurutnya, merupakan sebuah sistem ajaran keislaman yang moderat dan tidak ekstrim. Ajaran Islam ini sudah teruji sepanjang Indonesia, bahkan sebelum Indonesia dikenal sebagai sebuah negara.?

Ungkapan serupa juga disampaikan oleh Ketua PBNU KH Yahya Cholil Stafuq, yang juga ikut berkunjung ke Denmark. Lebih lagi, Islam Nusantara dengan konsep Islam berkemajuan dianggap dapat menjadi model gagasan Islam yang paling pas untuk merespon radikalisme dunia.?

“Islam Nusantara ini perlu dijadikan percontohan untuk melawan radikalisme oleh masyarakat dunia,” ujar KH Yahya Cholil Stafuq.?

HMI Tegal Kab

Sementara itu, Duta Besar Denmark untuk Indonesia Casper Klynge menganggap bahwa Indonesia merupakan mitra yang penting bagi Denmark untuk memperkuat dan memperdalam hubungan kerjasama di berbagai aspek termasuk penanggulangan terorisme agama.

“Di dunia dimana agama, sayangnya, dijadikan alat untuk memicu konflik, Indonesia menjadi suara yang penting bagi keberagaman, toleransi beragama dan dialog lintas agama,” ujar Casper Klynge.?

Sebelumnya, Kedutaan Besar Denmark di Indonesia bekerja sama dengan Wahid Foundation menyelenggarakan Tur Dialog Lintas Agama ke Denmark pada 20 hingga 24 Maret 2017 lalu. Tur ini bertujuan untuk memperkuat hubungan bilateral dan hubungan antar individu Indonesia dan Denmark, mempromosikan keberagaman, dialog lintas agama dan toleransi.?

Yenny wahid dan KH Yahya Cholis Staquf merupakan dua dari delegasi Indonesia yang berkunjung ke Denmark selain Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal), Dr. Frans Magnis Suseno (Pastor dan Direktur Sekolah Tinggi Filosofi Driyarkara, Dr. Abdul Mu’ti (Muhammadiyah), dan Sakdiyah Ma’ruf (stand-up komedian). (Ahmad Rozali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Pemurnian Aqidah HMI Tegal Kab

Minggu, 10 Desember 2017

IPNU-IPPNU Bandung Gelar Makesta Raya dan Maulid

Bandung, HMI Tegal Kab. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kota Bandung mengelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad di Pesantren Al-Munawwaroh, Gede Bage, Bandung, pada Sabtu (26/01) lalu.

IPNU-IPPNU Bandung Gelar Makesta Raya dan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Bandung Gelar Makesta Raya dan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Bandung Gelar Makesta Raya dan Maulid

Makesta yang diikuti ratusan pelajar putra-putra NU dari 30 kecamatan se-Kota Bandung tersebut bertema “Optimalisasi Proses Kaderisasi Menuju Keberlangsungan Organisasi yang Lebih Baik”.

Kegiatan tersebut diawali dengan pembacaan Al-Barzanji, dilanjutkan dengan semarak marawis anggota IPNU bernama “Al Anshar”. Lalu tabligh akbar dengan penceramah Ajengan Muhammad Nurdin, alumni Pesantren Al Munawwaroh.

HMI Tegal Kab

Makesta Raya tersebut dibuka Ketua PCNU Kota Bandung, KH MaftuhKhalil. Dalam taushiyahnya ia berpesan agar para kader IPNU-IPPNUtetap bersemangat memajukan negara Indonesia dibawah panji IPNU danIPPNU.

HMI Tegal Kab

Selepas resepsi pembukaan, peserta dibekali materi-materi ke-NU-an, ke-IPNU-IPPNU-an, keorganisasian, dan kepemimpinan.

Ketua Pimpinan Cabang IPNU Kota Bandung, Fajar Nugraha mengatakan bahwa Makesta Raya ini merupakan gerbang awal para kader memasuki ranah IPNU dan IPPNU dan sejatinya kepada NU sendiri.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Makam, Pemurnian Aqidah, Pertandingan HMI Tegal Kab

Rabu, 20 September 2017

Keunikan Kultur dan Struktur NU Menjadi Kekuatan Jamiyyah

Pringsewu, HMI Tegal Kab. Nahdlatul Ulama memang organisasi yang unik. Organisasi yang didirikan oleh para ulama ini tidak melulu bertumpu pada sistem dan struktur dan hirarki yang kaku. Hal ini karena kultur yang menopang NU justru lebih kuat daripada struktur yang ada.

Pernyataan tersebut disampaikan Mustasyar PCNU Pringsewu KH. Sujadi saat ditemui di kediamannya, Komplek Pondok Pesantren Nurul Ummah Pagelaran Lampung, Rabu (1/11).

Keunikan Kultur dan Struktur NU Menjadi Kekuatan Jamiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keunikan Kultur dan Struktur NU Menjadi Kekuatan Jamiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keunikan Kultur dan Struktur NU Menjadi Kekuatan Jamiyyah

"NU itu unik. Sampai-sampai, walaupun tidak ada pengurusnya pun kegiatan NU masih tetap bisa berjalan," kata ulama yang juga Bupati Pringsewu ini.

Kekuatan kultur inilah yang menjadi kekuatan tersendiri dalam jamiyyah NU. Tidak seperti organisasi lain yang bertopang kepada struktur organisasi, NU justru ditopang dengan kekuatan kultur jamiyyah yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.

HMI Tegal Kab

"Struktur dan kultur saling melengkapi sehingga menjadikan NU kuat dan mengakar sampai ke bawah," lanjut alumni Pondok Pesantren Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah ini.

Katib Syuriyah PCNU Pringsewu KH. Munawir mengamini pernyataan tersebut. Kiai Munawir menegaskan sosok ulama dalam Jamiyyah NU juga merupakan kekuatan tersendiri dalam roda organisasi.

"Para kiai ataupun pengasuh pondok pesantren yang memiliki kharisma dan pengaruh kepada jamaah sering membuat lumer dan lentur kekuatan struktural NU," katanya.

Ini juga tidak terlepas dari sejarah bahwa pesantren bukan hanya memiliki kekuatan otonom dalam struktur NU, namun para kiai kharismatik pondok pesantrenlah yang menjadi motor penggerak sekaligus menjadi pencetus berdirinya NU pada 1926.

Eksistensi struktur dan kultur yang ada dalam Jamiyyah Diniyyah terbesar di dunia inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti dan menjadi bahan diskusi menarik bagi para pemerhati organisasi.

HMI Tegal Kab

"Apalagi menjelang satu dekade pada 2026 mendatang NU memasuki usia satu abad, NU akan menjadi organisasi yang akan terus menjadi perbincangan. Kira-kira bagaimana wajah NU kedepan dan masihkan ada tokoh kharismatik yang berpengaruh dalam struktur organisasi walaupun secara struktur tidak di dalamnya?" tanyanya mengajak merenung.

Oleh karenanya ia menilai diperlukan formula untuk menemukan hubungan antara kekuatan kultural dan struktural dalam NU.

"Yang penting juga kita bisa membuat format organisasi yang mengkombinasikan antara kekuatan modern yang terus bergulir dengan nilai-nilai tradisional yang sangat kental pada warga NU," katanya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pemurnian Aqidah, Quote HMI Tegal Kab

Rabu, 19 April 2017

Imam NU, Pelindung Keyakinan Ma’mum

Bekasi, HMI Tegal Kab. Imam masjid berhaluan Islam Ahlussunah wal-Jamaah yang dipraktikan NU adalah pelindung keyakinan ma’mun pada shalat berjamaah di masjid. Hal itu terjadi terutama pada masjid dengan jamaah heterogen (campuran keyakinan furu’iyah) seperti di kota-kota besar. ?

Imam NU, Pelindung Keyakinan Ma’mum (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam NU, Pelindung Keyakinan Ma’mum (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam NU, Pelindung Keyakinan Ma’mum

Demikian diyakinkan Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi kepada ratusan peserta Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) dalam rangka revitalisasi masjid di gedung PCNU Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/5).

Sebelum menjelaskan pendapatnya, Kiai Masdar menceritakan dulu jenis masjid berdasar pendirian. Pertama, masjid yang didirikan kelompok Ahlussunah wal-Jamaah (NU). Kedua, masjid yang didirikan kelompok lain seperti Muhammadiyah, Persis dan Ormas-ormas lain. Ketiga, masjid yang dibangun pemerintah, pasar, perumahan, dan lembaga-lembagai publik.

HMI Tegal Kab

Masjid NU adalah tempat ibadah dengan cara NU. Aturan mainnya, pihak manapun tidak boleh mengganggu dan mengubah, apalagi mengafirkan cara beribadah jamaah. Begitu juga dengan masjid kelompok lain, “Kita tak boleh mengganggu cara beribadah mereka,” tegasnya.

Namun, masjid umum yang bisa dipastikan jamaah campuran, aturan main yang harus dipegang adalah imam yang melindungi keyakinan ma’mum. Jika imam tak pakai qunut mislanya, jelas ia tak melindungi ma’mum yang berqunut.

HMI Tegal Kab

“Kalau imamnya pakai qunut, ma’mum yang tidak pakai qunut bisa tidak melakukan. Ia bisa diam saja. Ini berarti keyakinan tidak berqunut terlindungi. Sebaliknya, jika imam tidak pakai qunut, maka ma’mum yang pakai qunut terhalang menjalankan keyakinannya.”

Menurut Kiai masdar imam tak berqunut dengan ma’mum berqunut akan melanggar UUD 1945 pasal 29 ayat 2. Bunyi pasal itu adalah “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

“Jadi, imam pelindung jamaah di masjid campuran itu harus berkarakter Ahlussunah wal-Jamaah sebagaimana yang dipraktikan NU,” pungkasnya. ?

Rapimda bertema “Wujudkan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat” tersebut diikuti para imam, khotib, dan DKM-DKM NU Kota Bekasi. Kegiatan tersebut diselenggarakan Lembaga Ta’mir Masjid PCNU Kota Bekasi yang difasilitasi PP LTMNU bekerja sama dengan PT Sinde Budi Sentosa dan PT TOA.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kyai, Pemurnian Aqidah HMI Tegal Kab

Senin, 17 April 2017

Perwimanas Upaya Merekatkan Keindonesiaan Generasi Muda Aswaja

Magelang, HMI Tegal Kab. Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional (Perwimanas) II yang diselenggarakan di Lapangan Tembak Akmil Magelang, Jawa Tengah telah memasuki hari keempat, Kamis (21/9).

Perkemahan yang dibuka Presiden Joko Widodo tersebut diikuti oleh 6000 peserta dari sekolah dan madrasah Ma’arif NU dari 34 provinsi ini merupakan upaya merekatkan keindonesiaan generasi muda Aswaja An-Nahdliyah.?

Ditemui HMI Tegal Kab di arena Perwimanas II, para peserta mengaku senang bisa mengikuti ajang kemah yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif NU.

Perwimanas Upaya Merekatkan Keindonesiaan Generasi Muda Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Perwimanas Upaya Merekatkan Keindonesiaan Generasi Muda Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Perwimanas Upaya Merekatkan Keindonesiaan Generasi Muda Aswaja

“Ya senang. Bisa mendapatkan ilmu banyak dan teman. Saya kan dapat tugas di bagian konsumsi. Jadi senang bisa belajar masa untuk teman-teman,” ujar Dina peserta dari Kontingen Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Hal senada juga disampaikan oleh Muhammad peserta kemah dari Kontingen Magelang. “Asik tambah teman banyak. Tambah pengalaman dunia organisasi kepramukaan. Semoga Pramuka di Indonesia tambah berjaya. Jangan pantang menyerah untuk teman-teman Pramuka Ma’arif,” ungkap Muhammad dari SMK Ma’arif Salaman.

“Senang. Seru-seruan bareng teman-teman. Enak tempatnya di sini,” ungkap Ahmad Dahlan dari MA Ma’arif Kota Batu Malang.

HMI Tegal Kab

Peserta asal Kalimantan Selatan Banjarmasin, juga mengungkapkan kegemberiaannya bisa mengikuti acara Perwimanas II ini.?

“Senang sekali. Nggak merasa capek karena bareng teman-teman. Senangnya dapat berkumpul bareng teman-teman dari seluruh Indonesia. Yang awalnya tidak kenal menjadi kenal,” ujar Muhammad Arifin ? dari Sekolah NU Banjarmasin.?

Arifin berpesan kepada seluruh teman-teman Pramuka Ma’arif di seluruh Indonesia supaya lebih mandiri lagi setelah mengikuti acara ini.?

HMI Tegal Kab

“Ditingkatkan lagi belajarnya supaya Sekolah Ma’arif NU terus berkembang maju dan jaya selalu,” tandas Arifin. (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh, Pemurnian Aqidah HMI Tegal Kab

Kamis, 28 Januari 2016

Pihak Berwenang Tak Tegas Tindak Kelompok Anti-Pancasila

Jombang, HMI Tegal Kab

Belakangan ini tak sedikit paham atau gerakan anti pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara. Mereka justru mempunyai misi untuk mendirikan Negara Islam atau sistem khilafah di bumi Indonesia ini, baik secara sembunyi-sembunyi atau dilakukan dengan terang-terangan.

Pihak Berwenang Tak Tegas Tindak Kelompok Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Pihak Berwenang Tak Tegas Tindak Kelompok Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Pihak Berwenang Tak Tegas Tindak Kelompok Anti-Pancasila

Gerakan-gerakan tersebut terkadang diremehkan oleh banyak kalangan tatkala mereka tidak muncul ke permukaan yang sebenarnya tetap menjadi ancaman, khususunya bagi warga nahdliyin. Pada saat kondisi demikian, pihak berwenang juga tidak bertindak tegas terhadap gerakan tersebut.

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Anor Jombang, H Zulfikar Damam Ikhwanto mengimbau agar warga nahdliyin berkomitmen bahwa Pancasila dan Negara Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati dan harus diimplementasikan oleh bangsa Indonesia.

“Langsung buat komitmen bersama soal Pancasila dan NKRI harga mati itu dan benar-benar diimplementasikan, soalnya banyak gerakan yg mulai berani anti pancasila tapi tidak ada tindakan dari pihak berwenang,” tegasnya, Ahad (28/2) lalu di Jombang.

HMI Tegal Kab

Ia mengaku tak jarang pengikut gerakan tersebut mengelak tatkala ditegur dan diingatkan, mereka beralasan tidak ada aturan atau larangan memperluas misi dan gerakan mereka. “ketika diingatkan jawabnya gak ada aturan. Nah, komitmen tadi bisa buat referensi untuk membuat dan mempertegas aturan itu, yg lantas dibutuhkan untuk mengambil tindakan,” imbuhnya.

Sementara sosialisasi pemerintah tentang Pancasila dan empat pilar republik Indonesia sebagai salah satu solusi dinilai tidak begitu berpengaruh tanpa adanya tindakan tegas untuk menghadang gerakan mereka yang sudah menjamur. “Jangan hanya kampanye bolak balik soal pancasila atau empat pilar tapi tidak ndang (cepat) ditindak siapa yang sudah mulai berani melawan 4 pilar itu,” ujarnya.

HMI Tegal Kab

Lebih lanjut Wakil Sekretaris PCNU Jombang, Ahamad Samsul Rijal mengatakan bahwa warga nahdliyin memiliki tugas penting untuk menindak lanjuti maraknya gerakan tersebut, saat ini mereka sudah melakukan berbagai cara untuk mempengaruhi masyarakat kecil khususnya.

“Sebuah penyadaran sekaligus gerakan dengan semangat nahdliyyah agar seluruh tatanan bangsa dikembalikan, disemangati dan berpedoman kepada Pancasila sebagai azas tunggal dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. No khilafah, No Negara Islam, No sosialis dan No liberal,” ucapnya.

Saat ini, lanjut Rijal sapaan akrabnya Pancasila tidak seperti yang kita kenal selama bersekolah. lima sila dalam Pancasila yang kita kenal telah berubah yaitu kemanusiaan yang maha esa (humanisme yang liberal), ketuhanan yang adil dan beradab (ideologi agama yang liberal), pluralisme universal (kesatuan sebagai pasar besar yang bebas), demokrasi langsung, bebas dan terbuka (liberalisme dalam politik) dan keadilan untuk semua bangsa (liberalisme dalam berbangsa-bernegara).

Ia menambahkan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur juga akan membahas terkait gerakan anti pancasila pada tanggal 1 Maret 2016 di Hotel Mirama Surabaya dengan bentuk seminar.?

“Alhamdulillah, kemarin di PWNU Jawa Timur bertemu dengan ketua PWNU, beliau matur untuk disampaikan kepada PCNU Jombang bahwa pada tanggal 1 Maret 2016 PWNU mengundang PCNU empat orang dan Pesantren dua orang dalam Seminar Nasional "kembali ke pancasila" di Hotel Mirama Surabaya. Ada empat narasumber yang akan menyampaikan,” katanya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Pemurnian Aqidah, Nahdlatul HMI Tegal Kab

Kamis, 31 Desember 2015

Bangun Gedung, PCNU Kota Banjar Adakan Istighotsah

Banjar, HMI Tegal Kab. Ratusan warga NU beristighotsah atas pembangunan gedung baru PCNU kota Banjar di desa Mulyasari kecamatan Pataruman kota Banjar, Ahad (15/3) pagi. Mereka melantunkan zikir dan doa di lahan yang akan dibangun agar proyek pembangunan kantor PCNU Banjar berjalan lancar.

Hadir di antara mereka kader GP Ansor, Muslimat, Fatayat, IPNU, dan IPPNU. Tampak hadir tokoh masyarakat, jajaran Pemkot Banjar.

Bangun Gedung, PCNU Kota Banjar Adakan Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Gedung, PCNU Kota Banjar Adakan Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun Gedung, PCNU Kota Banjar Adakan Istighotsah

Agenda pembangunan PCNU Banjar ini dimaksudkan agar warga NU memiliki tempat berkumpul termasuk pengurus NU, Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU, IPPNU dan LP Maarif.

HMI Tegal Kab

Ketua PCNU kota Banjar Lili Hasanudin menyampaikan  kepada HMI Tegal Kab, "Sekarang warga NU tidak hanya nama, tetapi ada bentuk nyata pusat kegiatannya, di gedung yang akan dibangun ini."

HMI Tegal Kab

Di atas lahan itu rencananya akan dibangun gedung dengan tiga lantai. Gedung ini diperuntukkan bagi kantor pengurus NU, banom, dan juga aula, kata Lili, Ahad (15/3).

Sekretaris GP Ansor kota Banjar Muhtar menambahkan, "Ini merupakan bentuk nyata program PCNU kota Banjar periode sekarang. Dengan ini nahdliyin memiliki basis dari agenda wahabisasi di Banjar." (Ahmad Muhafid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tegal, Pemurnian Aqidah HMI Tegal Kab

Jumat, 25 September 2015

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem

Jepara, HMI Tegal Kab. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengimbau warga NU untuk memasyarakatkan cara beragama yang moderat. Kiai Said mengingatkan mereka untuk berjuang untuk itu. Karena, banyak pihak asing yang memprovokasi agar bangsa Indonesia terlibat dalam gerakan ekstrem.

“Bangsa Barat sangat mendambakan Indonesia menjadi radikal. Jika sudah radikal, mereka memiliki alasan untuk menggempur Nusantara,” kata Kang Said saat menyampaikan sambutan di Harlah ke-71 Yayasan Mathaliul Huda di desa Bugel kecamatan Kedung kabupaten Jepara, Rabu (17/9) malam.

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem

Sebab itu, sikap ke-NUan tegasnya harus tetap dijaga. “Orang NU jangan mudah terpancing pada kelompok yang suka mengebom. Sebab NU cinta damai. Jangan sampai ikut-ikutan ISIS. Gerombolan garis keras itu sudah bukan Islam, karena suka membunuh saudaranya sendiri,” pesan Kang Said di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

HMI Tegal Kab

Kepada hadirin, pengasuh pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini mengingatkan orang tua untuk benar-benar mengawasi anaknya dari pengaruh paham ekstrem. “Ciri lahiriahnya kelompk wahabi antara lain berjenggot panjang, bergamis, bercelana cingkrang, atau tanda hitam di jidat.”

Pengurus masjid juga lebih cermat. Jangan sampai wahabi menguasai kepengurusan masjid. Bogor, Tangerang, dan Bekasi merupakan kota yang dikuasai kelompok wahabi. “Untungnya LTM PBNU lekas bertindak sehingga masjid-masjid yang direbut kelompok tersebut bisa kembali,” imbuh Kang Said. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Daerah, Kajian Sunnah, Pemurnian Aqidah HMI Tegal Kab

Selasa, 20 Mei 2008

Jangan Belajar Agama dari ‘Al-Quran dan Terjemahnya’

Oleh Kiai Ahmad Ishomuddin



Ilmu-ilmu untuk memahami ajaran Islam sangatlah banyak dan luas. Ilmu-ilmu tersebut hanya bisa dipelajari dengan cara belajar langsung kepada para ahli agama (kiai, ulama) yang memiliki spesialisasi di bidangnya masing-masing. Jika seseorang mau terus menekuni satu spesialisasi bidang ilmu agama saja, niscaya umurnya akan habis sebelum penguasaan ilmu tersebut sempurna.

Jangan Belajar Agama dari ‘Al-Quran dan Terjemahnya’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Belajar Agama dari ‘Al-Quran dan Terjemahnya’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Belajar Agama dari ‘Al-Quran dan Terjemahnya’

Belajar ilmu-ilmu terkait agama hanya melalui buku-buku/kitab-kitab tanpa guru (syekh) yang berilmu mendalam, yang berpengalaman, yang mampu membimbingnya berpotensi terjerumus dalam pemahaman agama yang sesat dan setidaknya sempit. Belajar agama secara otodidak itu, tanpa disadari telah membawanya berada di jalan yang dianggapnya benar. Padahal boleh jadi sebaliknya, ia sedang berjalan cepat menapaki pemahaman agama yang salah karena salah paham yang akibatnya bisa membahayakan kemanusiaan. Sudah berapa banyak bom bunuh diri dengan alasan mengamalkan ayat-ayat tentang jihad dalam situasi damai?

Belajar mendalami ajaran Islam secara langsung (talaqqi) kepada para ahlinya sangat bermanfaat. Di antara manfaatnya adalah bahwa jiwa para murid selain akan langsung tercerahkan, juga bisa langsung meneladani tutur kata dan sikap keseharian dari para guru/syekhnya.?

Apabila keteladanan dari para guru ini terus berlangsung sepanjang waktu para murid belajar, niscaya kalimat-kalimat bijak berdasarkan ilmu dan perilaku-perilaku mulia menjadi terbiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya adalah manusia-manusia berilmu agama sangat mendalam dan berakhlak mulia, seperti selalu rendah hati, ? tidak merasa benar sendiri, tidak suka mencaci maki, tidak mudah menyalahkan orang lain yang berbeda, tidak mencari pengaruh dan popularitas, serta tidak pula cinta berlebihan kepada jabatan dan kedudukan.

Seringkali ada orang yang tidak menemukan guru ahli ilmu-ilmu agama yang bisa membimbingnya, sehingga ia belajar agama kepada sembarang orang yang tidak diketahui kepada siapa sebelumnya ia mendapatkan ilmu agama, tidak memiliki sanad (mata rantai) keilmuan yang jelas bersambung. Berbeda halnya dengan para kiai, tuan guru, ajengan di berbagai pondok pesantren lawas yang tersebar di seantero nusantara, utamanya di tanah Jawa, yang mata rantai ilmu keagamaannya jelas diperoleh secara bersambung dari para syekh/guru mereka sebelumnya.?

HMI Tegal Kab

Kepada mereka, yakni para kiai alumni berbagai pesantrenlah atau kepada siapa saja yang ilmu-ilmu agamanya diakui mendalam secara luas, seharusnya kita belajar memahami agama sesuai keperluan, sehingga ilmu-ilmu agama dan ekspresi keberagamaan bermanfaat untuk kemajuan, kemanusiaan, dan perbaikan keadaan.

Belajar agama sangat tidak memadai, sangat mungkin salah paham dan membawa paham yang salah jika hanya mengandalkan buku-buku agama terjemahan dan tidak pula cukup hanya dengan membaca Al-Quran dan Terjemahnya. Sangat banyak ayat Al-Quran ditafsirkan dengan pikiran sendiri yang seringkali tidak didasari ilmu, padahal maksudnya hanya bisa dipahami setelah dijelaskan oleh hadits-hadits Nabi. Tersesatlah pemahaman agama pembacanya karena mengandalkan arti terjemahan dengan mengabaikan penjelasan ilmiah dari para mufasir. Maksud ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi itu hanya dapat dipahami dengan benar dengan merujuk berbagai referensi yang otoritatif atau berdasarkan penjelasan dari para ulama dalam arti yang sesungguhnya.

HMI Tegal Kab

Saat ini kekerasan atas nama agama antara lain banyak dilakukan oleh orang yang baru belajar agama kepada orang-orang yang tidak jelas sanad (mata rantai) ilmunya diperoleh dari siapa dan tidak pula mendalam penguasaan ilmu agamanya. Mereka belajar ayat-ayat Al-Quran dari terjemahan yang maksudnya disesuaikan dengan hawa nafsunya sendiri, dipahami semau sendiri, dan disimpulkan sendiri hukum-hukumnya tanpa proses-proses penalaran yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.?

Ayat-ayat al-Quran yang suci itu diperkosa dengan tafsiran yang sempit dan kaku, ? tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi manusia muslim yang keras terhadap siapa saja, dan menyempitkan apa saja yang dilapangkan oleh Allah Taala untuk para hamba-Nya. Wallahu a ’lam.?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pemurnian Aqidah, Nusantara, Kajian HMI Tegal Kab

Sabtu, 13 Agustus 2005

Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits

Perilaku dan tindakan ekstrem atas nama agama kerap menjadi stigma bagi masyarakat dunia (baca: Barat) untuk menjustifikasi bahwa Islam adalah agama teroris. Brand ini bukan tanpa alasan karena yang seringkali melakukan teror mematikan dengan menggunakan bom, dan lain-lain tidak lain adalah seorang Muslim.

Tentu tindakan tersebut hanya dilakukan oknum, baik dalam bentuk kelompok, organisasi, maupun individu. Namun, sebagian orang Barat nampaknya memmukul rata (generalisir) untuk menjustifikasi orang Islam sehingga mereka pun terkadang mengalami diskriminasi di negara-negara Barat atas perbuatan segelintir oknum yang nyata-nyata membuat wajah Islam tidak baik di mata dunia.

Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits

Pada prinsipnya, kelompok-kelompok ekstrem (tatharruf) kerap menggunakan ayat-ayat pedang (qital) untuk melegitimasi aksi kejinya atas nama jihad menegakkan agama Allah, perjuangan mendirikan negara Islam, dan sejumlah argumentasi utopia lainnya.?

Kelompok paling nyata yang sering mempropagandakan kekejaman teror atas nama agama adalah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dengan mendeligitimasi ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits. Kajian serius tentang ISIS yang keliru dan melenceng dalam menggunakan Hadits dikupas secara mendalam oleh M. Najih Arromadloni dalam bukunya, Bid’ah Ideologi ISIS: Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits.

Awalnya buku ini merupakan penelitian Tesisnya yang berhasil ia pertahankan di depan para penguji di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Buku setebal 202 halaman ini juga bukan hanya mengkaji penistaan ISIS terhadap hadits, tetapi juga berupaya mengenalkan lebih jauh tentang ISIS kepada para pembaca. Seperti apa sepak terjang ISIS semenjak dideklarasikan pada tahun 2014 lalu, namun jauh sebelum itu, yakni ketika veteran perang Afghanistan mulai menciptakan embriologinya di tahun 1990-an.

HMI Tegal Kab

Dalam pandangan penulis buku, ISIS sebagaimana organisasi radikal lain yang berlabel agama tidak lebih dari sekadar organisasi politik yang menggunakan dan menyajikan ayat-ayat pedang dengan dalih menegakkan agama Allah untuk tujuan pendirian Daulah Islamiyah. Gerakan ini secara berkelindan membuat ISIS sering memahami hadits secara politis atau dengan kata lain melakukan politisasi hadits.

Buku ini juga menerangkan secara jelas mana hadits-hadits yang sering terpolitisir oleh paham ekstrem-radikal Abu Bakar Al-Baghdadi dan kroni-kroni kejinya di ISIS. Mereka bukan hanya melenceng jauh dari konteks diturunkannya nash, tetapi juga tidak mampu memahami bahwa keberadaan Al-Qur’an maupun Hadits tidak berdiri sendiri melainkan saling bertautan. Tautan antara ayat satu dengan yang lain dan hadits satu dengan hadits lain mewujudkan pemahaman agama secara mendalam, tidak dangkal dan radikal seperti tampak dalam nalar kelompok ISIS.

Salah satu yang disebut dalam buku ini mengenai ISIS adalah merupakan kelompok takfiri radikal. Artinya mereka tidak hanya mudah mengafirkan dengan hadits-hadits yang dieksploitir secara politis, tetapi juga berlaku brutal dengan cara kekerasan, merampas, hingga membunuh orang lain yang dianggap kufur oleh mereka. Bahkan sampai menghalalkan seorang perempuan untuk dijadikan budak seks dan dijual bebas.

Di era teknologi informasi yang terbuka bebas dan serba cepat, ISIS memanfaatkan betul kecanggihan tersebut, utamanya melalui media sosial. Tercatat pada tahun 2014 lalu, mereka menciptakan sekitar 50.000 akun lebih di media sosial untuk melakukan propaganda radikalnya. Nampaknya, mereka sengaja menciptakan keresahan dan ketakutan di tengah masyarakat dunia lewat aksi kejinya seperti memberondong dengan tembakan kepada sejumlah orang secara hidup-hidup, membakar, hingga menggorok secara tidak berperikemanusiaan dan diunggah di media sosial? You Tube.?

Lebih keji lagi, korban mereka tidak hanya dari kalangan Muslim, tetapi juga dari agama dan kelompok-kelompok lain seperti Yahudi, Kristen, Katolik, Sunni, Syiah, dan kelompok serta suku-suku lainnya. Artinya, keberadaan mereka seperti tanda-tanda akhir zaman dengan hadirnya fitnah kubro (fitnah besar untuk seluruh manusia), seseorang atau sekelompok orang yang tidak sepaham dan tidak mau mengikuti ISIS, maka jaminannya adalah nyawa yang siap melayang dengan cara keji. Wallahu a’lam bisshowab.

HMI Tegal Kab

Dalam buku tersebut juga dijelaskan, pada awal April 2014 lalu, salah seorang juru bicara ISIS Abu Muhammad al-‘Adnani menyatakan, Nabi Muhammad adalah seorang yang diutus untuk mengemban pedang sebagai Rahmat bagi alam semesta. (Halaman 18)

Ia mendasarkan pendapatnya itu pada sebuah hadits berikut: Nabi SAW bersabda, “Aku diutus dengan pedang, menjelang datangnya hari kiamat, sampai Allah disembah secara esa bayang-bayang busurku dan akan ditimpakkan kehinaan dan kerendahan atas orang yang menyalahi aturanku, dan barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari mereka.” (HR Ahmad dalam al-Musnad dari Ibnu Umar dan dijadikan Shahid oleh al-Bukhori)

Hadits di atas bukan hanya dieksploitir untuk melegalkan aksi keji mereka, tetapi mereka juga tidak berupaya memahami konteks diturunkannya (asbabul wurud) hadits tersebut. Di titik ini, ISIS atau kelompok ekstrem sejenis hanya menghadirkan ayat-ayat pedang atau perang, padahal ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang menyatakan bahwa Islam adalah agama kedamaian, rahmat, dan toleran tidak kalah banyaknya. Lantas, mengapa mereka hanya memilih ayat-ayat perang dalam memanifestasikan keagamaan mereka?

Sebetulnya ISIS merupakan salah satu kelompok yang mewujudkan ekstrem radikalnya melalui tindakan langsung secara keji yang berawal dari radikalisme. Jika digambarkan secara jelas, radikalisme bisa dibagi menjadi tiga, bertindak secara radikal (melakukan teror), radikalisme pemikiran, dan radikalisme secara pemahaman. Konteks Indonesia sendiri, saat ini eskalasi penguatan radikalisme ada pada aspek pemikiran dan pemahaman. Yang jelas, muara dari semua itu adalah tindakan teror.

Kajian holistik yang dilakukan oleh penulis buku ini membawa pembaca untuk menyelami ISIS hingga ke akar-akarnya. Pembaca dapat memahami ISIS secara historis, geneologis, dan ideologis. Tokoh-tokoh utama beserta jaringan organisasinya juga dapat pembaca temukan di dalam buku yang banyak menghadirkan rujukan kitab-kitab secara otoritatif ini.

Kajian buku yang mendasarkan diri dari Majalah Dabiq yang disebarluaskan ISIS di internet ini, penulis buku berupaya menganalisis penistaan Hadits yang dilakukan oleh ISIS tentang khilafah, jihad, hijrah, Iman, dan al-Malahim. Review buku secara singkat ini tentu belum menghadirkan semua informasi dan gagasan penulis buku secara utuh sehingga pembaca dapat memahami lebih jauh lagi dengan membaca bukunya secara langsung. Selamat membaca!

Identitas buku:

Judul Buku: Bidah Ideologi ISIS: Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits

Penulis : M. Najih Arromadloni

Tebal: 202 halaman

Cetakan : Pertama, Maret 2017

Penerbit : Daulat Press Jakarta

ISBN : 9786021813157

Peresensi: Fathoni Ahmad

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pemurnian Aqidah, Budaya, RMI NU HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock