Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Radikalisme Agama di Indonesia

Oleh Mohammad Sahlan



Pasca lengsernya Presiden Soeharto yang ditandai dengan berawalnya era reformasi Indonesia, rakyat Indonesia menghirup angin segar atas kebebasan berpendapat. Kabar baik ini dilegitimasikan oleh DPR dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum sekaligus menunjukkan komitmen negara sebagai penganut sistem demokrasi (Pancasila). Selain sebagai kabar baik, UU tersebut juga menjadi sebuah kabar buruk—ibarat dua belah mata pisau yang tajam ke depan dan belakang—bagi bangsa Indonesia, yakni terancam masuk dan berkembangnya ideologi non-Pancasila dalam masyarakat. Perkembangan ideologi non-Pancasila dalam konteks ini dianggap mengancam negara apabila dipahami secara radikal oleh penganutnya dan bertentangan dengan Pancasila sebagai dasar negara.

Radikalisme Agama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Radikalisme Agama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Radikalisme Agama di Indonesia

Ancaman fundamentalisme agama tidak hanya sekedar ancaman “penyakit nalar” seseorang dalam melihat sesuatu, akan tetapi lebih jauh dari itu. Di Jakarta pada tahun 1998 misalnya didirikan organisasi Laskar Pembela Islam (FPI) yang dipimpin oleh Muhammad Rizieq Shihab dan aktivitas utamanya adalah melakukan serangan secara fisik ke “tempat-tempat maksiat” menurut kacamata ideologi mereka. Tindakan main hakim sendiri ini dapat dinilai bahwa mereka telah melakukan kekerasan tanpa dasar hukum negara atas penegakan syariat Islam. Terjadi peristiwa mengenaskan juga, beberapa bom bunuh diri yang didalangi oleh kelompok JI (Jamaah Islamiyah)—yang merupakan organisasi fundamentalisme Islam—pada malam Natal tahun 2000 di Bali dan 2002 di hotel Marriot Jakarta memakan korban yang semuanya adalah non muslim. Kasus Bom bunuh diri ini juga terjadi lagi di tahun berikutnya: Bom Bali II 2005, Bom Tentena 2005, Bom Solo 2011 dan 2012, dan Bom Sarinah 2016 silam.

Di tahun 1982 bersamaan masih jayanya Orde Baru dibentuklah organisasi cabang Hizbut Tahrir Indonesia—yang merupakan organisasi pengusung sebuah negara dan masyarakat Islam global atau kekhalifahan universal, di tingkat internasional bernama Hizbut Tahrir Internasional—namun karena menolak demokrasi, organisasi ini baru dapat beroperasi lebih leluasa pasca jatuhnya rezim Soeharto. Di tahun berikutnya (1998) didirikan juga oleh aktivis gerakan tarbiyah yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin Mesir sebuah partai politik baru yang bernama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan bertujuan untuk memperjuangkan syariah Islam dengan jalur demokrasi. Kemudian di beberapa tahun terakhir (2004) partai ini bersifat lebih sedikit pragmatis agar memperoleh suara dalam pemilu, namun tidak meninggalkan unsur “syariat Islam”nya.?

HMI Tegal Kab

Data terkini terkait ideologi negara yang diinginkan mahasiswa pernah dihasilkan dari penelitian aktivis Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia (GMPI) tahun 2006 yang dimuat dalam Koran Kompas 4 Maret 2008 halaman 2. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa 4,5% mahasiswa tetap sepakat bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa. Dilanjutkan 80% mahasiswa berikutnya lebih menyetujui syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara, dan 15,5 % sisanya memilih sosialisme sebagai acuan hidup. Responden penelitian diambil dari 11 kampus besar di Indonesia, UI, UGM, ITB, IPB, Unair, Unibraw, Unpad, Unhas, Unand, Unsri, dan Unsyiah.

Di tahun 2016 lalu, Saidi dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) juga merilis hasil survey terhadap mahasiswa di kampus umum. Beberapa temuanya, 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan, sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru menyatakan setuju dengan penerapan syariat Islam. Sementara di tahun sebelumnya 4% penduduk Indonesia menyetujui negara ISIS, dan 5% diantaranya adalah mahasiswa. Beberapa organisasi yang disebut menyebarkan ideologi ini adalah KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), Salafi, dan HTI, di mana mereka juga disebut sebagai penguasa perpolitikan mahasiswa saat ini.

Selain dalam tingkat mahasiswa, terdapat penelitian juga yang menyebutkan bahwa radikalisasi agama telah menjangkit masyarakat sejak dari siswa. Penelitian ini dilakukan oleh Rokhmad (2012) dengan menghasilkan beberapa kesimpulan. Pertama, paham radikal telah merasuk ke siswa yang memiliki pengetahuan agama minim melalui guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang telah berideologi Islam radikal. Kedua, Kegiatan mabit dan daurah dalam organisasi ekstra Kerohanian Islam (rohis) di sekolah sangat rentan menjadi sasaran kegiatan ideologisasi Islam radikal khususnya di sekolah umum. Ketiga, dalam buku paket dan LKS bermunculan berbagai pernyataan yang mendorong siswa untuk membenci atau anti terhadap agama atau bangsa lain. Data-data di atas menunjukkan bagaimana penyebaran dan ancaman radikalisme di Indonesia saat ini.

Paham radikalisme agama di Indonesia sebenarnya sudah mulai nampak sebelum negara Indonesia terbentuk. Kebijakan politik etis Kolonial Belanda terhadap masyarakat Hindia Belanda (Nusantara) memberi kesempatan pada haji-haji pribumi untuk melakukan ibadah haji ke Makkah. Dengan intensitas yang awalnya minim, kemudian mendekati awal abad 20 menjadi semakin bertambah, banyak orang Nusantara yang juga belajar agama di Makkah. Pada saat itu kondisi politik di Arab juga sedang mengalami pergolakan, yakni banyak munculnya gerakan pembaharuan Islam yang ditokohi oleh Al Afghani, Rasyid Rida, dan Muhammad Abduh. Gerakan ini mengangkat kembali ide pemurnian Islam atau puritanisme—yang secara arti berdekatan dengan radikalisme Islam—namun konteksnya adalah untuk melawan penjajahan (Eropa) masa itu. Hasil dari pendidikan orang Nusantara tadi melahirkan tokoh seperti Ahmad Dahlan (Muhamadiyah), Hamka, Tahir Tamaluddin, Surkati (Persis) dan beberapa tokoh lainya, yang kemudian menjadi tokoh pembaharu Islam (modernisme Islam) yang berbeda dengan Islam tradisional.

HMI Tegal Kab

Demikian juga konteks sejarah muncul wacana radikalisme/fundamentalisme Islam yang kemudian dicap teroris—selain dari runtuhnya Orde Baru jika di Indonesia— oleh Barat adalah pasca peristiwa ditabraknya WTC pada 11 September 2001 oleh milisi Taliban. Peristiwa ini memberikan sebuah pukulan besar bagi Amerika, karena menewaskan banyak warganya. Atas dasar ini, mereka mencap Islam sebagai teroris. Pelabelan ini, bahkan tidak hanya ditujukan pada kaum fundamental Islam, tetapi semua umat Islam di dunia. Ketegangan ini juga mengakibatkan wacana dunia internasional tentang radikalisme agama (Islam) dan terorisme menjadi perhatian utama di abad 21. Hubungan antara Amerika dengan fundamentalis Taliban awalnya terjadi karena misi penguasaan minyak di Asia Tengah oleh Amerika. Meskipun akhirnya Taliban membelot dan malah menyerang WTC. Peristiwa ini dapat dilihat bahwa berkembangnya paham radikal berkaitan erat juga dengan geopolitik-ekonomi dunia. Sehingga tidak menutup kemungkinan ? juga dengan di Indonesia, bahwa gerakan radikalisme Islam juga memiliki keterkaitan yang sama dengan ekonomi-politik yang ada di Indonesia sendiri maupun di dunia. (bersambung)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Khutbah HMI Tegal Kab

Jumat, 23 Februari 2018

Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa

Rembang,HMI Tegal Kab. Pimpinan Ranting (PR) Ikatatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Kumbo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah membagikan seribu bungkus daging hewan kurban untuk warga dhuafa.

Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa

Daging kurban yang dibagikan pada Ahad dan Senin (5-6/10) tersebut merupakan kerja sama antara IPNU-IPPNU dan Yayasan Bina Dhuafa.

Pimpinan Ranting IPNU Desa Kumbo M Aan Ainun Najib mengatakan pembagian daging hewan pada duhafa merupakan bentuk solidaritas pelajar NU kepada masyarakat. Juga mengurangi kesenjangan bagi yang kaya dan dhuafa.

HMI Tegal Kab

"Kami berharap dengan adanya tebar kurban pedesaan yang kita laksanakan bersama Yayasan Bina Dhuafa ini, dapat terciptanya pemerataan pendistribusian hewan kurban", harapnya.

HMI Tegal Kab

Pembagian daging kurban ini dilakukan dibeberapa desa yang ada di Kecamatam Sedan dan Pamotan. Yakni Desa Kumbo, Lemah Putih, Ngroto, Dadapan, Sambong, Bogorejo, Gandrirojo Kecamatan Sedan dan Desa Palan Kecamatan Pamotan.

Ahmad Harnoto selaku ketua yayasan Bina Dhuafa mengatakan, kegiatan ini sudah berjalan sekitar lima tahun yang lalu. Kami berusaha untuk mengurangi penumpukan daging kurban yang ada di perkotaan.

"Kami berupaya untuk mendistribusikan daging kurban lebih luas lagi. Sehingga masyarakat dan anak-anak di pedesaam dapat merasakan kebahagiaan bersama kami," tutupnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam, Ubudiyah, Khutbah HMI Tegal Kab

Senin, 19 Februari 2018

IPPNU Kota Kudus Baca Peluang Perempuan di Era Globalisasi

Kudus, HMI Tegal Kab. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Kudus bersama 70 pelajar putri mendiskusikan perubahan tata nilai kehidupan manusia yang disebabkan globalisasi.  Dengan kemampuan menyeleksi dan menyesuaikan dengan budaya bangsa, mereka mengajak masyarakat untuk memosisikan diri sesuai perannya masing-masing.

Diskusi berlangsung di SMP NU Putri Nawa Kartika Kudus, Jumat (21/8). Tampak hadir sebagai peserta diskusi aktivis pelajar NU di komisariat-komisariat IPPNU. Pihak penyelenggara menghadirkan narasumber antara lain Ketua PAC Muslimat NU Kudus Hj Hidayati, Ketua IPPNU Kudus 1993-1996 Khamidah.

IPPNU Kota Kudus Baca Peluang Perempuan di Era Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Kota Kudus Baca Peluang Perempuan di Era Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Kota Kudus Baca Peluang Perempuan di Era Globalisasi

"Peran pendidik yang awal dan utama adalah dari seorang ibu, tak hanya itu seorang wanita juga menjadi tiangnya negara, tulang punggung negara. Jika wanita di negara tersebut baik, kokohlah bangunan negara tersebut," kata Hj Hidayati.

HMI Tegal Kab

Sementara Khamidah menyoroti soal moral dan akhlak sebagai pendidikan yang  utama. "Pendidikan yang terpenting terletak pada pendidikan moral dan akhlaknya, kita harus menanamkan akhlakul karimah di manapun dan semampu kita," kata pembina IPPNU Kota Kudus.

Masalah prestasi kaum perempuan juga menjadi pembahasan dalam diskusi ini.

HMI Tegal Kab

"Sekarang tak ada batasan untuk wanita yang ingin menjadi pemimpin, memang seharusnya perempuan tak harus selalu menjadi makmum, kadangkala harus pula berada di samping dan di  depan," ujar Ketua IPPNU Kudus 2000-2002 Noor Hidayah menambahkan. (Ilma/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Halaqoh, Khutbah, Santri HMI Tegal Kab

Sabtu, 13 Januari 2018

Presiden Soekarno Pun Dua Kali Sowan Ke TGH Shaleh Hambali

Mataram, HMI Tegal Kab. Penulis buku Pemikiran Islam Lokal: TGH M Shaleh Hambali Bengkel Adi Fadli mengatakan, Presiden Soekarno dua kali sowan ke Tuan Guru Haji (TGH) Shaleh Hambali Bengkel, yaitu tahun 1950 dan 1955. Selain itu, Wakil Presiden Mohammad Hatta juga datang ke Bengkel untuk silaturahim dengan Tuan Guru Shaleh Hambali.

Gak ada jadwal resmi Soekarno datang ke Bengkel. Yang mungkin ada jalur resminya Hatta,” kata Adi usai acara bedah buku di Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB), Rabu (22/11).

Presiden Soekarno Pun Dua Kali Sowan Ke TGH Shaleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Soekarno Pun Dua Kali Sowan Ke TGH Shaleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Soekarno Pun Dua Kali Sowan Ke TGH Shaleh Hambali

Sesuai dengan referensi yang ada, Adi menceritakan bahwa pada saat itu masyarakat Lombok bertaruh akan kehadiran Presiden Soekarno ke Bengkel. Namun, Tuan Guru Bengkel memastikan bahwa Soekarno akan mampir ke Bengkel.

“Dan itu sudah dipastikan. Mungkin beliau memiliki ilmu melewati kita. Itu hal-hal luar biasa,” jelasnya.

Menurut Doktor lulusan UIN Yogyakarta itu, kehadiran Presiden Soekarno ke Bengkel adalah sebagai wujud penghormatan presiden kepada Tuan Guru Bengkel. Mengingat untuk mendatangkan seorang presiden itu tidak mudah. 

“Itu sungguh sangat luar biasa,” ujarnya.

HMI Tegal Kab

Adi menambahkan, pada saat sampai di kediaman Tuan Guru Bengkel, Soekarno langsung berhenti, bersalaman, dan langsung berpidato di hadapan massa yang sudah menunggu kedatangannya.

“Tempat berdirinya Soekarno masih ada di Bengkel itu. Bangunannya sampai sekarang tidak boleh dirubah,” urainya.

Para alim ulama Nahdlatul Ulama (NU) dan jenderal juga banyak yang sowan ke Bengkel. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menginap di sana. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab AlaNu, Khutbah HMI Tegal Kab

Jumat, 12 Januari 2018

Pendidikan Anti-Kolonialisme ala Kiai Soleh Darat

Oleh Nur Ahmad

Kenalkah Anda dengan Kiai Muhammad Soleh bin Umar as-Samarani (1820-1903 M)? Tahukah Anda apa sumbangan terbesar Maha-guru Ulama Jawa ini bagi warga bangsa Indonesia? Bagi penulis jawabannya adalah pemikirannya tentang anti-kolonialisme. Dilahirkan di keluarga pendukung Pangeran Diponegoro, dan selalu dalam lingkungan yang demikian, menjadi fondasi bagi Kiai Soleh Darat untuk mengembangkan pandangan anti-kolonialisme Belanda hampir di semua karyanya.Pendidikan Anti-Kolonialismeala Kiai Sholeh Darat

Pendidikan Anti-Kolonialisme ala Kiai Soleh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Anti-Kolonialisme ala Kiai Soleh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Anti-Kolonialisme ala Kiai Soleh Darat

Setelah kekalahan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (1825-1830), para kiai pada masa itu menarik diri dari perang fisik dan kembali ke peperangan gagasan dan pemikiran (war of ideas). Sikap ini juga menjadikan fokus ulama kembali untuk meningkatkan pemahaman keislaman di antara masyarakat umum. Agenda perlawanan terhadap Hindia-Belanda yang terus-menerus berusaha memisahkan masyarakat dari agama mereka dilawan dengan menyadarkan masyarakat akan pentingnya ajaran agama bagi kehidupan mereka. Kiai Sholeh Darat adalah termasuk yang ikut menjadi pelaku utama dalam perang ide dan kebudayaan ini.

Cara pertama yang dilakukan Kiai Sholeh adalah dengan mempropagandakan kembali konsep pembeda antara penindas dan yang ditindas. Merujuk kepada sebuah hadits Nabi Muhammad, Kiai Sholeh mendeklarasikan keharaman bagi kaum Muslim meniru cara berpakaian orang Eropa (baca Belanda). Beliau berkata, “Beberapa‘ulama al-mu?aqqiq?n menyebutkan bahwa barangsiapa berpakaian selain dengan pakaian yang biasa dikenakan kaum Muslim seperti jas, topi, dan dasi, maka ia dinilai sebagai murtad.” Bahkan bukan hanya dalam berpakaian, kaum Muslim juga dilarang meniru segala tingkah laku yang khusus dilakukan di Budaya Barat (Salim, 1994:24-6). Sikap ini diikuti oleh muridnya, KHR. Asnawi Kudus yang suatu ketika dengan sangat marah menarik dasi yang dikenakan oleh seseorang di pertemuan nasional Ansor (Mas’ud, 2006:218).

Usaha lain dari Kiai Sholeh adalah dengan menjauhkan kaum Muslim dari menjalin hubungan sebagai bawahan dengan Kolonial-Belanda. Kiai Sholeh sebagaimana tertuang dalam karyanya Minh?j al-Atqiy?’ (Sholeh, 1325:67) menetapkan bahwa seorang santri yang menjadi pegawai pemerintah Belanda sama dengan menjadi “pembantu berlangsungnya pemerintahan yang zalim” (kh?dim al-?ulmah), dan hal itu merupakan suatu dosa besar. Dalam rangka mencegah santrinya menjadi pembantu di pemerintahan Hindia-Belanda, beliau menyatakan bahwa haram bagi ulamamengajarkan santri yang secara terang-terangan berniat dengan ilmu fiqih yang didapatkannya untuk menjadiseorang penghulu di pengadilan agama di pemerintahan Kolonial-Belanda. Beliau menilai tujuan duniawi ini bertentangan dengan tujuan yang diajarkanolehagama Islam dan semangat memerdekakan warga pribumi yang beliau rintis.

HMI Tegal Kab

Selain itu, Kiai Sholeh juga berusaha sekuat tenaga membentengi kaum wanita dari perilaku keji dan amoral yang ditunjukkan banyak dari orang Eropa di Jawa ketika itu. Misalnya, dalam sebuah makalah Ricklef (2009:113) yang mengutip G. Bruckner menjelaskan bahwa sebagian alasan dari munculnya sikap keras dari kaum Muslim di Semarang terhadap orang Eropa adalah sikap immoral mereka. Contoh lainnya, dalam suratnya, Raden Adjeng Kartini mendeskripsikan kebiasaan tak beretika yang terjadi di antara wanita pribumi dengan laki-laki Eropa, termasuk meminum arak. Dalam konteks ini, Suhandjati (2010:55-6) menyimpulkan bahwa untuk menghindari dampak budaya “baru”ini di masyarakat umum, Kiai Sholeh memerintahkan orang tua tidak mengajari putri mereka menulis dengan aksara Latin, yang sangat mungkin akan menjadi media berkomunikasi orang-orang Eropa dengan warga pribumi (Sholeh, tt:178).

Bahkan Kiai Sholeh juga dikabarkan ikut mengusahakan intervensi politik dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Pada tahun 1883, Konsul Belanda di Jeddah mengabarkan bahwa seorang bernama Sholeh dari Semarang meminta Kekhalifahan Turki Utsmani untuk melawan Hindia-Belandadi Jawa (Bruinessen, 1998).

Kesimpulan yang dapat kita tarik di sini adalah pandangan anti-Belanda yang Kiai Sholeh kembangkan didasarkan murni pada kajiannya yang mendalam di bidang ilmu Fikih. Metode tersebut sangat terikat kuat dengan konteks masyarakat tempat pandangan itu lahir, sehingga kondisi sosial masyarakat menjadi konsideran utama, misalnya penggunaan aksara Latin di masyarakat ketika itu. Dengan bersandar pada fondasi yang demikian, dalam kondisi masyarakat yang berbeda, maka hasil kesimpulan hukum dapat berubah. Misalnya, KHR. Asnawi memberikan padangan baru di masa kemerdekaan dengan mengizinkan kaum Muslim memakai jas dan dasi karena mengikuti teladan dari Kiai Abdul Wahid Hasyim, Menteri Agama Republik Indonesia pertama (Mas’ud, 2006:218).

HMI Tegal Kab

Selain itu, pemikiran anti-kolonialisme dari Kiai Sholeh pada akhirnya berhasil menumbuhkan semangat nasionalisme kepada murid-muridnya. Hal ini dibuktikan dengan tampilnya salah satu muridnya, Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari, dalam menggelorakan cinta tanah air di hati sanubari para santri dan Muslimin pada umumnya. Dengan jejak pemikiran yang demikian, maka wajarlah sebagian pecintanya mengusahakan Kiai Sholeh untuk diakui sebagai pahlawan bangsa ini, Bukan?

?

Daftar Pustaka

Bruinessen, Martin Van. “Saleh Darat.” dalam Dictionnaire Biographique Des Savants et Grandes Figures Du Monde Musulman Périphérique, Du XIXe Siècle À Nos Jours ed. Marc Gaborieau et al., vol. 2 (Paris: CNRS-EHESS, 1998): 25–26.

Hakim, Taufiq. Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX M. Yogyakarta: Indes Publishing, 2016.

Mas’ud, Abdurrachman. Dari Haramain ke Nusantara?: Jejak Intelektual Arsitek Pesantren. Jakarta, Indonesia: Kencana, 2006.

———. “The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teachings (1850-1950).” PhD diss., University of California. ProQuest (UMI 9714238), 1997.

Ricklefs, Merle Calvin. "The Middle East Connection and Reform and Revival Movements among the Putihan in the 19th-century Java." dalam Southeast Asia and the Middle East: Islam, Movement and the Longue Duree. Diedit oleh Eric Tagliacozzo. Singapore: NUS Press, 2009: 111-134.

Salim, Abdullah. Majm?àt al-Syar?át al-K?fiyat li al-‘Aww?m Karya Syaikh Muhammad Shalih ibn Úmar al-Samarani: Suatu Kajian Terhadap Kitab Fiqih Berbahasa Jawa Akhir Abad 19. PhD diss., Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 1994.

Sholeh as-Samarani, Muhammad. Majm?‘at al-Shar?‘at al-K?fiyat li al-‘Aww?m. Semarang: Toha Putera, n.d.

———. Minh?j al-Atqiy?’ f? Shar? Ma‘rifat al-Adhkiy?’ Il? ?ar?q al-Awliy?’. Bombay: Ma?ba‘at al-Kar?m?, 1325.

Suhandjati, Sri. Mitos Perempuan Kurang Akal dan Agamanya: Studi Terhadap Kitab Majmu’at Karya Kiai Saleh Darat. Semarang: Puslit IAIN Walisongo, 2010.

Toer, Pramoedya Ananta. Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta: Lentera Dipantara, 2003.

Penulis adalah santri Pondok Pesantren al-Itqon, Bugen, Semarang dan Alumni Miftahul Ulum, Ngemplak,

Demak.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Khutbah, News HMI Tegal Kab

Kamis, 11 Januari 2018

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan

Jakarta, HMI Tegal Kab. Kepala Perwakilan dan Direktur World Food Programme (WPF) Anthea Webb memberikan apresiasinya untuk Nahdlatul Ulama (NU) dalam perannya di segala bidang termasuk kemanusiaan dan bencana.

Dia menyambangi Kantor PBNU Jakarta, Senin (21/11) untuk mengajak NU bersinergi dan kerja sama dalam penanganan ketahanan pangan, bencana, dan kemanusiaan.

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan

Ditemui langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan pengurus PBNU lain, Webb menyampaikan bahwa dalam mencegah dan menangani bencana kemanusiaan akibat kelaparan dan gizi buruk, pihaknya tidak bisa bekerja sendirian.

“NU jelas perannya dan nyata mempunyai warga di akar rumput sehingga program ketahanan pangan bisa berjalan maksimal,” ujar Webb.

HMI Tegal Kab

Dia menjelaskan, WPF merupaka lembaga pangan bentukan PBB yang telah berdiri sejak 1963 dan pertama kali bekerja untuk Indonesia tahun 1964 dalam bencana Gunung Agung di Bali telah melakukan gerakan pencegahan kelaparan di banyak negara seperti Suriah, Irak, yaman, Palestina, dan Nigeria.

Lembaga yang berbasis di Kota Roma, Italia itu juga bergerak dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak di seluruh dunia. Dia pun meminta kepada NU untuk bekerja sama dalam pencegahan bencana alam yang selama ini nyata-nyata berdampak pada munculnya bencana kemanusiaan.

HMI Tegal Kab

Hadir dalam pertemuan terbatas itu di antaranya, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Wasekjen Imam Pituduh, Ketua PP LPBINU M. Ali Yusuf, Ketua PP LKNU Hisyam Said Budairy beserta Sekretarisnya Citra Fitri Agustina. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Khutbah, Internasional, Ulama HMI Tegal Kab

Rabu, 03 Januari 2018

IPNU Kota Surabaya Genjot Data Potensi Kader

Surabaya, HMI Tegal Kab -

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama atau PC IPNU Kota Surabaya terus mengintensifkan kunjungan ke kepengurusan di bawahnya. Sabtu (23/12) ini, mereka menyapa Pimpinan Anak Cabang (PAC) di kawasan Simokerto.

Kegiatan yang bertajuk Kader Care bertujuan mendiskusikan secara langsung kondisi kader IPNU yang ada di wilayah tersebut. Acara dilangsungkan di Aula Masjid Cungkup dan merupakan kegiatan kelima setelah acara serupa yang menyapa kawasan kampus serta PAC Gunung Anyar.

IPNU Kota Surabaya Genjot Data Potensi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Kota Surabaya Genjot Data Potensi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Kota Surabaya Genjot Data Potensi Kader

Ketua IPNU Kota Surabaya, Achnaf al-Ashbahani mengemukakan aktifitas ini sebagai sarana melihat langsung kondisi terkini para kader yang ada di kecamatan. “Selanjutnya bisa didata secara langsung melalui database online yang telah dibuat,” katanya. 

Setelah ada kepastian terkait data anggota dan pengurus sekaligus potensi yang dimiliki, nantinya akan digunakan untuk berbagai kegiatan yang mendukung data tersebut. “Ketika ada kegiatan entah itu di tingkat provinsi atau nasional, kita punya bukti kongkrit,” katanya di hadapan peserta.

Pendapat lain disampaikan Amirul Mukminin sebagai penanggungjawab bidang kaderisasi. "Saya dipasrahi bidang pengembangan organisasi untuk juga membahas tentang kondisi organisaai,” katanya. Diharapkan nantinya semua kader IPNU bisa beraktivitas di masjid sehingga secara perlahan bisa menggaet kader dari para remaja di sana, lanjutnya.

HMI Tegal Kab

Menurutnya, kondisi di kawasan ini sangat potensial untuk dimasuki kader dan nahdliyin. Hal tersebut sangat penting dalam upaya kian memperkokoh akidah Aswaja di kalangan aktifis dan keluarga besar masjid. 

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut Ketua IPNU Kota Surabaya, Achnaf Al Ashbahani, Wakil Ketua II, Amirul Mukminin, bendahara yakni Abdul Mujib, serta wakil bendahara M Ichwanul Arifin. Selain itu hadir pula para kader PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Simokerto serta kader dari kepengurusan Ranting.

Kader care yang dimulai dengan pembacaan shalawat Nabi tersebut diakhiri diskusi dan perbincangan secara santai.  (Hisam Malik/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Khutbah HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock