Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa

Rembang,HMI Tegal Kab. Pimpinan Ranting (PR) Ikatatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Kumbo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah membagikan seribu bungkus daging hewan kurban untuk warga dhuafa.

Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa

Daging kurban yang dibagikan pada Ahad dan Senin (5-6/10) tersebut merupakan kerja sama antara IPNU-IPPNU dan Yayasan Bina Dhuafa.

Pimpinan Ranting IPNU Desa Kumbo M Aan Ainun Najib mengatakan pembagian daging hewan pada duhafa merupakan bentuk solidaritas pelajar NU kepada masyarakat. Juga mengurangi kesenjangan bagi yang kaya dan dhuafa.

HMI Tegal Kab

"Kami berharap dengan adanya tebar kurban pedesaan yang kita laksanakan bersama Yayasan Bina Dhuafa ini, dapat terciptanya pemerataan pendistribusian hewan kurban", harapnya.

HMI Tegal Kab

Pembagian daging kurban ini dilakukan dibeberapa desa yang ada di Kecamatam Sedan dan Pamotan. Yakni Desa Kumbo, Lemah Putih, Ngroto, Dadapan, Sambong, Bogorejo, Gandrirojo Kecamatan Sedan dan Desa Palan Kecamatan Pamotan.

Ahmad Harnoto selaku ketua yayasan Bina Dhuafa mengatakan, kegiatan ini sudah berjalan sekitar lima tahun yang lalu. Kami berusaha untuk mengurangi penumpukan daging kurban yang ada di perkotaan.

"Kami berupaya untuk mendistribusikan daging kurban lebih luas lagi. Sehingga masyarakat dan anak-anak di pedesaam dapat merasakan kebahagiaan bersama kami," tutupnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam, Ubudiyah, Khutbah HMI Tegal Kab

Sabtu, 10 Februari 2018

Al-Qur’an Terjemahan

Seseorang tamu berjenggot dan celana cingkrang bertamu ke rumah kiai di salah satu pesantren tahfid Al-Qur’an. Ada apa gerangan? Ia mengkritik kiai karena hanya mengajarkan menghafal Al-Quran kepada para santrinya tanpa memahami artinya.

Tamu: Maaf kiai, menurut saya, pesantren Anda tidak mencetak orang pintar cuman bisanya membunyikan Al-Quran!

Kiai: Ya maaf saya bisanya cuman itu.

Tamu: Tapi Kiai.. Kapan umat Islam bisa bebas buta makna Al-Quran kalau pondok ini cuma ngajar apalan doang?

Al-Qur’an Terjemahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Qur’an Terjemahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Qur’an Terjemahan

Kiai: Ya itulah kita harus berbagi tugas! Saya dan santri saya bagian hapalan Qurannya! Dan…. (Kiai terdiam sejenak. Tamu itu juga masih diam.)

Kiai: Dan.. Anda bagian terjemahannya. ? ----(Yahya)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Tokoh, Kajian Islam, Internasional HMI Tegal Kab

Jumat, 09 Februari 2018

9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI

Jombang, HMI Tegal Kab. Setelah mengikuti apel dan ikrar nusantara bersatu di Alun-alun Jombang bersama ribuan warga setempat, seluruh Pengurus Ansor dan Banser Jombang bergegas menggelar istighotsah dan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara di Masjid Baitul Mukminin, Rabu (30/11).?

Kegiatan ini diawali dengan sholat dhuha bersama. Selenjutnya, mereka berikrar untuk memperkuat komitmen terhadap Negara Republik Indonesia (NKRI) serta Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara.?

9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI

"Kita nyatakan bahwa NKRI sudah harga mati, ideologi kita adalah Pancasila yang jaya, konstitusi kita adalah UUD 1945 dan tak bisa dikesampingkan adalah kebhinnekaan," kata Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang, H Zulfikar Damam Ikhwanto.

Dalam ikrar tersebut terdapat sembilan butir yang dibacakan secara serentak dan dipimpin langsung oleh Gus Antok, sapaan akrab Zulfikar Damam Ikhwanto. Tampak segenap Pengurus Ansor dan Banser menghayati setiap poin ikrar tersebut.

HMI Tegal Kab

Adapun sembilan poin ikrar sebagai berikut :

1. Berpegang teguh pada aqidah, ajaran, nilai dan tradisi Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyyah.

HMI Tegal Kab

2. Bertanah air satu tanah air Indonesia, berideologi satu ideologi Pancasila, berkonstitusi satu Undang Undang Dasar 1945, dan bersemboyan satu semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

3. Senantiasa siap siaga membela Tanah Air dan Bangsa Indonesia, mempertahankan kemerdekaan, persatuan dan kesatuan nasional serta mewujudkan perdamaian abadi.

4. Melawan setiap usaha yang membahayakan NKRI dan Pancasila serta melawan setiap ideologi yang bertentangan dengan semangat proklamasi Republik Indonesia dan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wujud bela negara.

5. Menghormati dan melaksanakan kewajiban dan hak sebagai warga Negara Indonesia dengan penuh tanggung jawab dan sebaik-baiknya.

6. Menghormati dan Menghargai sesama Warga Negara Indonesia serta menjunjung tinggi norma agama, sosial dan hukum.

7. Menghargai dan menghormati para ulama yang telah berjasa besar terhadap negara, bangsa dan agama, serta melestarikan keteladanannya.

8. Menciptakan dan memelihara rasa aman, tertib, nyaman, tentram dan humanis, demi terwujudnya situasi kamtibmas yang kondusif.

9. Turut berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan lahir-batin yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menuju baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.?

(Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam HMI Tegal Kab

Senin, 29 Januari 2018

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa

Bandung, HMI Tegal Kab

Peran mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai kaum muda intelektual yang menjadi estafet ulama akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat sebagai generasi yang aktif, inovatif dan kreatif. Sehingga bisa membawa NU dan Indonesia yang akan datang harus lebih baik.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj saat mengisi pembukaan Musyawarah Nasional Ke-2 Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung, Jum’at (22/1).

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa

Kiai Said mengajak kaum muda NU untuk memahami berbagai permasalahan yang dihadapi oleh NU dan bangsa Indonesia di masa sekarang dan mendatang. “Harus ada perubahan supaya kalian bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tuturnya dihadapan ratusan mahasiswa NU yang hadir pada acara tersebut.

Sementara itu, Kepala Biro Pelayanan Dasar Setda Provinsi Jawa Barat H Dady Iskandar mengatakan, kehadiran dan peran NU di Jawa Barat sebagaimana dalam Indonesia merupakan komponen yang tidak bisa dipisahkan, apalagi mayoritas kaum muslim di Jawa Barat adalah kaum Nahdliyyin.?

“Baik buruk, jasad maupun ruhnya muslim Jawa Barat yang di dalamnya termasuk kaum Nahdliyyin akan sangat menentukan maju atau mundurnya muslim di Jawa Barat,” ungkapnya membacakan sambutan dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

HMI Tegal Kab

Pihaknya meminta kepada mahasiswa, masyarakat, ulama dan pemerintah untuk senantiasa bahu-membahu menghadapi tantangan Indonesia ke depan. “Sekaligus Keluarga Mahasiswa NU melakukan gerakan untuk menghadirkan tatanan masyarakat madani,” harapnya.

Senada dengan sebelumnya, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat H Eman Suryaman menilai Indonesia kini menghadapi berbagai tantangan global, khususnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang saat ini sudah bergulir.

HMI Tegal Kab

Sehingga Eman meminta kepada kaum muda NU untuk ikut berperan aktif menghadapi tantangan tersebut dengan menggunakan ilmu pengetahuan. “Kita jangan jadi penonton, tapi juga pelaku,” terang pria asal Cirebon itu.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Furqon memaparkan bahwa suatu saat nanti Indonesia akan mengalami bonus demografi yang puncaknya diperkiraan sekitar tahun 2035.

Menurutnya, Indonesia yang kini menempati urutan ke-7 negara dengan kemajuan ekonomi bisa menjadi nomor satu tatkala generasi muda menyiapkan sumber daya manusianya. “Apalagi kader muda NU, harus tampil di depan,” tegas Prof Furqon yang menyambut baik terselenggaranya Munas Ke-2 KMNU di UPI. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat, Internasional, Kajian Islam HMI Tegal Kab

Senin, 22 Januari 2018

Mocoan

Mocoan adalah tradisi pembacaan karya sastra keagamaan lama di kawasan Banyuwangi, Jawa Timur. Mocoan Banyuwangi, demikian sering kali disebut, merupakan pembacaan lontar Yusuf yang berisi riwayat Nabi Yusuf dari sejak kecil hingga dewasa bertahta di Mesir.

Mocoan digelar sebagai bagian dari acara ruwatan, bersih desa, atau petik laut, serta juga pada acara-acara ritual peralihan (tujuh bulanan, kelahiran, khitanan, pernikahan). Pembacaannya berlangsung semalam suntuk hingga lontar Yusuf itu khatam. 

Belakangan ini mocoan juga sering menjadi seni pertunjukan yang digelar di luar konteks ritualnya sehingga kebanyakan bentuknya telah dipadatkan dan dipersingkat.

Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mocoan

Mocoan Banyuwangi, seperti banyak tradisi tutur lainnya di Nusantara, merupakan produk dari proses akulturasi atau silang budaya dari Islam dan kepercayaan serta kebudayaan lokal, dalam hal ini kebudayaan masyarakat Osing. Persilangan budaya ini bisa ditelisik dari wujud karya sastra yang dibaca, isi, bentuk, tembang, cara melagukan, bahasa yang dipakai, dan fungsinya dalam masyarakat. 

HMI Tegal Kab

Yang disebut sebagai lontar Yusuf pada dasarnya adalah sebuah kitab beraksara Arab pegon dalam bahasa Jawa Madya. Kendati demikian, di dalamnya juga ditemukan banyak kosakata bahasa Osing. Kitab ini disalin dan turunkan dari generasi ke generasi. 

Sebutan “lontar” jelas mengingatkan pada lembaran daun lontar atau kulit ari pohon, media yang dulu digunakan untuk menerakan karya-karya sastra lama. Tradisi pembacaan lontar telah dikenal sejak zaman Hindu-Buddha. Rupanya meski media penulisannya telah berganti dari lontar menjadi kertas, sebutan “lontar” ini tetap lekat. 

HMI Tegal Kab

Lontar Yusuf, atau lebih tepatnya, kitab Yusuf yang tertua di wilayah Banyuwangi disimpan oleh sebuah keluarga dalam bungkusan kain dan tidak boleh dibuka karena dipercaya bisa menimbulkan kebutaan (ngaweng). Dengan demikian yang dibaca dan beredar di kalangan seniman mocoan sekarang ini adalah berupa salinannya.

Lontar Yusuf dituliskan dalam beberapa pupuh (bait), yang namanya mirip dengan tembang macapatan di Jawa. Ada yang terdiri empat pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, dan sinom, dan ada yang enam pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, kusumadiya, arum-arum, dan rancagan. Perbedaan jumlah pupuh ini terjadi karena proses penyalinan yang kadang-kadang berdasar pada hapalan dan perbedaan pertimbangan pengambilan kalimat yang diringkas. 

Kendati demikian, dalam mocoan Pacul Gowang terdapat tambahan beberapa pupuh, yaitu mijil, kesilir, andrian, delimoan, selobok, dan kedendha. Tetapi pupuh-pupuh tambahan ini dianggap bukan bagian dari lontar dan hanya berfungsi sebagai pupuh peralihan yang mengantarkan penyajian dari mocoan yang sifatnya religius menuju mocoan yang sifatnya sekuler (hiburan). 

Perbedaan jumlah salinan pupuh ini tidak mengakibatkan perbedaan dalam penyajian mocoan ketika mereka tampil bersama-sama. Kebanyakan mereka menghapal salinan beserta ding-dungnya, karena bagian ini selalu sama. Ding adalah konsep untuk menyebut kata-kata jawaban di akhir kalimat dalam setiap baris, sedangkan dung adalah konsep untuk menyebut kata jawaban di akhir pupuh.

Ding-dung memiliki kaitan dengan sahut-sahutan yang dilakukan seniman dalam menyajikan lontar. Satu pupuh bisa disajikan oleh seorang saja, tapi bisa juga bergantian. Seandainya disajikan oleh seorang saja, maka yang lain hanya akan ngedingi (menjawab). Ngedingi dilakukan dengan melihat kata akhir dalam kalimat, tetapi bisa juga setelah kata terakhir tersebut usai (endeg-endegan). 

Jika pembaca lain ingin mengganti baris selanjutnya, maka ia akan menyaup (menyahut) kata terakhir yang disajikan penyaji pertama. Biasanya saupan dilakukan dengan menunjukkan ketinggian nada yang berbeda dengan penyaji pertama. Jika sudah disaup, penyaji sebelumnya akan diam dan ganti menjadi tukang ngedingi atau bersiap menyaup bagian selanjutnya. Demikian seterusnya.

Meski tanpa berdasar pada susunan nada-nada instrumen, para etnomusikolog mengamati adanya kesan dua laras (tangga nada) yang dipakai, yaitu modus slendro dan pelog dalam vokal mocoan. Kesan slendro yang muncul beserta eluk-elukan dan gregel-nya dianggap memiliki kedekatan dengan slendro banyuwangen yang digunakan dalam gandrung Banyuwangi. Sedangkan kesan pelog yang lebih dekat ke pelog Jawa, bukan Bali, muncul dalam beberapa pupuh dan lebih banyak tampil sebagai varian penyajian. 

Meski disebut lontar Yusuf, sebenarnya isinya juga menghimpun riwayat nabi-nabi yang lain, seperti Sulaiman, Daud, Shaleh, dan Muhammad. Mocoan jelas merupakan suatu ikhtiar untuk mengambil barakah dari kemuliaan para nabi. Diyakini dengan pembacaan ini, harapan dan keinginan bisa terkabulkan. Meski arti bahasa lontar Yusuf ini tidak dimengerti, kesakralannya tetap diyakini. 

Oleh karena itu para pendengar mocoan kerap menitipkan benda-benda yang terkait dengan hajat mereka untuk diletakkan di bawah lontar yang akan dibaca agar terkabul harapan mereka, misalnya bedak dan sisir, ketika mereka ingin memiliki rupa yang menarik dan memesona sebagaimana Nabi Yusuf. (Sumber: Ensiklopedia NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Kajian Islam, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Minggu, 14 Januari 2018

Islam Sebagai Sarana Character Building

Dalam membangun bangsa yang maju besar dan beradab, agama memiliki peran yang sangat besar. Sebagai organisasi sosial keagamaan, sejak dulu NU berperan sangat besar dalam mengayomi dan membangun masyarakat, baik melalui pendidikan, dakwah dan lain sebagainya. Hal itu tidak lain karena NU merupakan organisasi keagamaan yang dipimpin oleh para ulama, sementara tugas ulama selain liyatafaqqahu fiddin, mengggali, merumuskan dan mengembangkan pemikiran keagamaan, tetapi juga memiliki tugas yang tidak kalah pentingnya dan bahkan sangat strategis yang berkaitan dengan masalah sosial dan kebangsaaan yaitu tugas liyundziru qaumahum (membangun masyarakat) yakni membentuk kepribadian. 

Dalam kaitan dengan masalah masyarakat, NU memiliki beberapa tugas pertama adalah pembangunan mental-spiritual, pembentukan kepribadian atau karakter masyarakat (character building) ini sangat penting agar lahir kader orang-orang  atau masyarakat yang memiliki sikap, memiliki ketegasan, memiliki prinsip serta memiliki tanggung jawab baik terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia dan terhadap bangsa dan Negara. Karena itu para ulama dan khususnya NU memiliki tugas kedua yaitu nation building (pembangunan bangsa). Dengan adanya pembantukan karakter (character building) itulah nation building (pembangunan bangsa) bisa dilaksanakan dan ini merupakan modal dasar bagi state building (membangun Negara). Dengan nation building ini maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani, karena memiliki kepribadian nasional yang kokoh, sehingga bisa berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa beradab yang lain.

 

Tugas ketiga adalah criticism buiding (membangun sikap kritis), ini sesuai dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana sering ditegaskan bahwa sikap NU terhadap negara taat mutlak bahwa negara harus dijaga dan dibela, tetapi terhadap pemerintah yang ada NU menerapkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sementara dalam melakukan amar ma’ruf sendiri perlu menggunakan etika.

Islam Sebagai Sarana Character Building (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Sebagai Sarana Character Building (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Sebagai Sarana Character Building

مَنْ كَانَ أَمْرُهُ مَعْرُوْفاً فَلْيَكُنْ بِمَعْرُوْفٍ

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

(Barangsiapa mengajak kebaikan maka dengan cara yang baik pula).

 

NU akan mendukung setiap kebijakan pemerintah yang adil dan benar, tetapi NU akan mengkritik setiap kebijakan pemerintah yang tidak benar dan tidak adil bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

 

Sikap kritis NU dalam mendukung atau mengkritik pemerintah ini didasari oleh pertimbangan etis, bukan oleh pertimbangan politis, karena itu akan dilakukan terus walaupun NU bukan partai politik tetapi organisasi keagamaan yang memang memiliki tugas moral atau etis.

 

Kembali pada upaya character building dan nation building, ini merupakan langkah yang sangat mendesak saat ini, karena ini merupakan persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini ketika sekolah dan lembaga pendidikan lain termasuk lembaga kebudayaan yang ada tidak melakukan tugas ini. Sementara gelombang globalisasi yang begitu besar menghancurkan sendi-sendi bangsa ini di semua sektor kehidupan, sehingga terjadi kemerosotan moral dan lunturnya karakter. Sementara NU sebagai organisasi keagamaan justru tidak pernah berhenti melakukan character and nation building ini.

 

Penanaman rasa cinta tanah air dan bangga terhadap sejarah serta peradaban sendiri itu dilakukan karena berdasarkan pertimbangan bahwa:

مَنْ لَيْسَ لَهُ اْلأَرْضُ لَيْسَ لَهُ تَارِيخ، وَمَنْ لَيْسَ لَهُ التَّارِيْخُ لَيْسَ لَهُ ذَاكْرَة

(barang siapa tidak memiliki tanah air dan tidak mencintai tanah air, maka tidak memiliki sejarah, barang siapa tidak memiliki sejarah maka tidak memiliki memori dan karakter).

 

Bagi orang atau bangsa yang tidak memiliki memori maka dia akan menjadi bangsa tidak memiliki karakter, dan bangsa yang tidak memiliki karakter akan kehilangan segalanya. Politiknya akan hilang, peradabannya akan merosot dan aset ekonominya pun akan dijarah bangasa lain akhirnya akan menjadi bangsa yang miskin dan tidak terhormat. Inilah pentingnya menanamkan rasa cinta tanah air, dan karena itu tidak henti-hentinya NU menanamkan rasa cinta tanah air. Penegasan pada Pancasila, UUD 1945 dan NKRI ini merupakan bentuk paling nyata dari rasa cinta tanah air tersebut. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman (hubbul wathan minal iman). Dalam pengertian itulah agama ditempatkan sebagai unsur mutlak dalam nation dan character building.

Jakarta,   6 Juni 2012. M

               16 Rajab 1433 H

 

 

Dr KH Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam, Pertandingan HMI Tegal Kab

Gus Mus: Idham Chalid Bapak Politik NU

Rembang, HMI Tegal Kab. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri  yang akrab disapa Gus Mus menilai mendiang KH Idham Chalid sebagai "Bapak  Politik" Nahdlatul Ulama (NU).



Gus Mus: Idham Chalid Bapak Politik NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Idham Chalid Bapak Politik NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Idham Chalid Bapak Politik NU

"Pemikiran-pemikiran politiknya sangat berpengaruh dan mengena di kalangan warga  Nahdliyin. apalagi beliau memang sangat lama berkecimpung di dunia politik,"  katanya, Ahad kemarin.

Menurut Wakil Rais Aam PBNU ini, KH Idham Chalid berperan besar dalam melahirkan  kader-kader NU di perpolitikan saat ini dan para tokoh NU yang saat ini berkarir  di jalur politik pasti mengakuinya.

HMI Tegal Kab

"Beliau memiliki pemikiran bahwa khidmat perjuangan  Indonesia dan agama paling efektif dicapai melalui jalan politik, dan jalan  politik itulah yang dipilihnya untuk berjuang," katanya.

Hal itu pulalah yang kemudian menginspirasi banyak kader NU agar terjun ke dunia  politik terlebih lagi KH Idham Chalid adalah tokoh berpengaruh yang pernah memegang tampuk kepemimpinan NU,” ujarnya.

HMI Tegal Kab

"Kalau belakangan ini ada semacam cemoohan atau anggapan sinis bahwa orang-orang  NU punya syahwat yang besar dalam politik, itu tidak bisa disalahkan karena  pemikiran beliau memang menginspirasi," tandasnya.

Bahkan, menurut Gus Mus, KH Idham Chalid adalah pemegang tampuk kepemimpinan  NU dalam waktu yang sangat lama sehingga pemikirannya sangat memengaruhi  kalangan warga nahdliyin hingga ke lapisan paling bawah.

Karena kemampuan politik KH Idham Chalid itu pula, muncul kesan sampai saat  ini bahwa orang-orang tanfidziyah lebih menonjol dibanding orang-orang di  jajaran syuriah NU,” imbuhnya.

Kesan itu muncul sejak kepemimpinan KH Idham Chalid sebagai Ketua Umum  Pengurus Besar NU (PBNU). Kesan tersebut semakin mengental sejak KH  Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memimpin organisasi Islam terbesar di Tanah Air itu.

"Beliau memang berkecimpung di perpolitikan, namun tidak lupa dengan  ke-NU-annya. Karena itu, langkah politiknya selalu sejalan dan tidak pernah  bertentangan dengan apa yang dicita-citakan NU," terangnya.

Sebagai buktinya, kata dia, Idham Chalid menjadi Ketua Umum PBNU termuda  dan terlama yang secara tidak langsung membuktikan kepercayaan warga NU terhadap  kiai kelahiran Setui, 27 Agustus 1922 itu.

Gus Mus bahkan sempat berkelakar bahwa mantan Presiden Soeharto mungkin berguru  mengaji dengan Idham Chalid sehingga dia sanggup mempertahankan  kekuasaannya dengan sangat lama.

"Lamanya Pak Harto menjadi presiden kan hampir sama dengan lamanya Pak Idham  menjadi Ketua Umum PBNU. Jangan-jangan Pak Harto dulu ngajinya sama Pak  Idham," kata budayawan itu berkelakar.

Gus Mus mengaku sangat meneladani sosok Idham Chalid, terutama kemampuannya  menjaga akhlak dan amaliyah selama bergelut di dunia politik. Hal itulah yang  kini tidak banyak dimiliki kader-kader NU yang terjun di politik saat ini.(ant/adb)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock