Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Komisi Waqi’iyah Godok Draf Soal Ekologi

Jakarta, HMI Tegal Kab. Penanggung jawab sidang komisi bahtsul masail diniyah waqi’iyah kini tengah menyiapkan bahan perihal lingkungan hidup untuk di bahas pada Muktamar Ke-33 NU mendatang. Mereka resah atas aktivitas pertambangan yang memiliki daya rusak luar biasa terhadap lingkungan.

Komisi Waqi’iyah Godok Draf Soal Ekologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Komisi Waqi’iyah Godok Draf Soal Ekologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Komisi Waqi’iyah Godok Draf Soal Ekologi

“Bayangkan di sebagian daerah sudah ada bupati yang mengharuskan warganya untuk mengenakan batu akik,” kata staf Syuriyah PBNU Mahbub Ma’afi Romadhon, Selasa (17/3).

Dampak kerusakan lingkungan termasuk kerusakan sarana umum seperti jalanan akibat penambangan batu, pasir, emas, atau jenis logam, perlu dibahas di muktamar. Pasalnya, dampak kerusakan alamnya akibat penambangan itu luar biasa. Penambangan emas di Jember sempat mengemuka pada rapat komisi kemarin, kata Mahbub.

HMI Tegal Kab

Menurut Mahbub, isu ekologi ini sengaja diangkat untuk menggenapi 5 bahan bahasan yang ditetapkan rapat komisi waqi’iyah di Jakarta pada Kamis (12/3) sore.

Untuk merumuskan soal lingkungan hidup, pihak komisi waqi’iyah kini menampung masukan dari daerah dan juga masukan dari para ahli.?

HMI Tegal Kab

“Setelah 5 masalah itu, komisi waqi’iyah masih akan menambahkan 3 hingga 4 masalah yang meliputi ekologi, bio medis, dan muamalah. Maksudnya, agar isu di muktamar nanti beragam,” tandas Mahbub. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Warta HMI Tegal Kab

Sabtu, 24 Februari 2018

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon

Karanganyar, HMI Tegal Kab. Menyongsong Ramadhan, GP Ansor Karanganyar mengadakan serangkaian kegiatan mulai dari silaturahmi akbar, pengajian,  ziarah, hingga penanaman pohon. Kegiatan yang berlangsung, Ahad (8/6), bertempat di pesantren Miftahul Ulum desa Pablengan Matesih, Karanganyar.

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon

Kegiatan yang digelar keluarga besar GP Ansor Karanganyar ini, merupakan kegiatan rutin tahunan yang digelar menjelang bulan suci Ramadhan.

“Kegiatan rutin menjelang Ramadhan, kami harapkan ke depan bisa terus dilaksanakan secara istiqomah,” kata Ketua GP Ansor Karanganyar Jamaluddin saat memberikan sambutan.

HMI Tegal Kab

Silaturahmi dan pengajian ini yang diawali pembacaan maulid Simthud Duror, dilanjutkan dengan pengajian yang diisi Habib Hasan Al-Kaff dari Solo.

Sebelum penanaman pohon, para pengurus serta anggota Ansor berziarah ke makam Kiai Khusnan Rosyidi, pendiri pesantren Miftahul Ulum Matesih.  Kiai Khusnan tidak lain ialah tokoh dan penggerak NU di Karanganyar.

HMI Tegal Kab

Pesantren Miftahul Ulum sendiri merupakan salah satu pesantren tua di Karanganyar. Sampai saat ini, pesantren itu masih eksis dengan beberapa jenjang pendidikan yang dimiliki. GP Ansor Karanganyar tercatat sudah tiga kali menggelar acara yang sama di pesantren ini. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Pondok Pesantren, Ulama HMI Tegal Kab

PAC dan Ranting GP Ansor Kabupaten Tangerang Dilantik

Tangerang, HMI Tegal Kab

GP Ansor sebagai Organisasi Pemuda terbesar di Kabupaten Tangerang kembali menguatkan institusi kelembagaanya dengan melantik? 29 Pengurus Anak Cabang (PAC) dan 274 Ranting se-Kabupaten Tangerang Periode 2016-2019.

?

PAC dan Ranting GP Ansor Kabupaten Tangerang Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
PAC dan Ranting GP Ansor Kabupaten Tangerang Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

PAC dan Ranting GP Ansor Kabupaten Tangerang Dilantik

Acara yang digelar di gedung Serbaguna Tigaraksa Sabtu (10/12) tersebut bertema "Merawat Kebinekaan dalam bingkai Keberagamaan". Tema tersebut sengaja diambil dalam rangka merespon situasi nasional yang cukup pelik, terutama terkait dengan kebinekaan dan toleransi.

?

Khoirun Huda selaku Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang menyampaikan bahwa acara tersebut juga dirangkai dengan launching Sorban Nusantara Tour & Travel yang bergerak di bidang umroh dan haji plus, serta Dialog Kebangsaan, dan Diklat Terpadu Dasar (DTD).

?

HMI Tegal Kab

Huda juga menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan tersebut dimaksudkan untuk melakukan konsolidasi organisasi dalam rangka kemandirian organisasi serta membangun militansi kader. "Ke depan, GP Ansor harus menjadi organisasi yang mandiri dan terus memberikan pengabdian kepada masyarakat," ucapnya melalui siaran pers yang diterima HMI Tegal Kab (14/12).

?

Huda juga berharap kader Ansor mampu menjadi pribadi yang unggul, memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, berkepribadian unggul, berakhlak mulia dan rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.

HMI Tegal Kab

"Kader Ansor harus memiliki paradigma terlatih, terampil dan berdaya guna dan memiliki kesadaran bahwa keterlibatannya di dalam organisasi Ansor mampu menjadi agen pembaharu bagi masyarakat disekitarnya," tandasnya.

?

Ali Zaenal Abidin, Ketua Pelaksana Kegiatan, mengatakan kegiatan ini merupakan upaya pembelajaran dan pemberdayaan yang dilakukan secara berjenjang, mulai dari yang paling dasar, lanjutan dan tinggi.

"Hal ini guna mempersiapkan kader yang mampu meneruskan estafet perjuangan organisasi NU yang dapat menjawab tantangan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara," ujarnya.

Acara ini juga dihadiri undangan dari berbagai latar belakang, seperti partai politik, organisasi kepemudaan, pimpinan pesantren, pengurus organisasi Nahdatul Ulama, serta unsur pemerintahan daerah di Kabupaten Tangerang. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab RMI NU, Jadwal Kajian, Pendidikan HMI Tegal Kab

Jumat, 23 Februari 2018

PMII Bandung Kutuk Kekerasan Terhadap Aktivis Indramayu

Bandung, HMI Tegal Kab. Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Bandung mengutuk keras aksi kekerasan yang dilakukan oleh Mapolres Indramayu kepada para aktivis PMII Kabupaten Indramayu.

PMII Bandung Kutuk Kekerasan Terhadap Aktivis Indramayu (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandung Kutuk Kekerasan Terhadap Aktivis Indramayu (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandung Kutuk Kekerasan Terhadap Aktivis Indramayu

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum PC PMII Kabupaten Bandung, Dhamiry Al Ghazaly saat melakukan orasi dalam aksisolidaritas di Mapolda Jawa Barat, Jalan Soekarno-Hatta Bandung. Rabu (28/8).

Menurut Dhamir, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Mapolres Indramayu terhadap aktifis PMII tersebut sudah termasuk kriminal dan segala kriminalitas tak dibenarkan oleh hukum.

HMI Tegal Kab

“Yang dilakukan aparat kepolisian Indramayu sudah termasuk tindakan kriminal!” tegas Damir.

HMI Tegal Kab

Oleh karena itu, sambung Dhamir, PC PMII Kabupaten Bandung menyerukan empat tuntutan, pertama, menolak dengan tegas pembangunan waduk Bubur Gadung yang ada di Indramayu dan biarkan masyarakat menggarapnya. Kedua, sebagai aksi solidaritas, PMII Kabupaten Bandung menuntut segera bebaskan para petani dan kader PMII yang ditahan. Ketiga, mengusut tuntas tindakan kekerasan yang dilakukan oknum aparat kepolisian dalam aksi yang dilakukan aktifis PMII Indtamayu. Keempat, mendesak Kapolda Jawa Barat untuk mencopot Kapolres Indramayu dan menangkap para preman yang terlibat.

Dhamir pun mengancam, jika Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat tidak segera membebaskan petani dan Kader PMII Indramayu yang di tahan, PC PMII Kabupaten Bandung akan melakukan aksi besar-besarandan mengepung kantor Polda Jawa Barat.

“Jika tidak ada respon terhadap tuntutan ini, PC PMII Kabupaten Bandung akan mengerahkan massa besar-besaran,” pungkasnya.

Seperti diketahui, pada Ahad (25/8) kemarin, sedikitnya 500 massa dari PMII Indramayu datang melakukan aksi bersama massa dari Serikat Tani Indramayu (STI) ke daerah proyek Waduk Bubur Gadung di Desa Loyang Kecamatan Trisi, Kabupaten Indramayu, namun aksi ini tak berlangsung lama karena ratusan massa tersebut dipukul mundur oleh aparat kepolisian, beberapa orangbahkan dipukuli dan ditangkap oleh aparat dari Polres Indramayu.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor : Bakti Habibie

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, News HMI Tegal Kab

Kamis, 15 Februari 2018

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar

Bandung, HMI Tegal Kab. Perubahan sosial begitu cepat. Indonesia tengah mengalami wabah gemar mencaci maki. Seolah menjadi orang paling mulia sehingga kita berhak mencaci dan yang tercaci seakan makhluk paling hina sejagat raya.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan, mungkin saja yang tercaci itu mendapat tempat yang mulia sebab begitu banyaknya orang yang mencacinya.

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar

“Ini orang luar biasa.Dia akan diampuni dosanya oleh Allah dan mungkin dia akan memperoleh tempat yang mulia karena didzolimi oleh semua orang,” katanya saat memberikan sambutan mewakili Ketua PWNU Jawa Barat pada gelaran pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) di Hotel Asrilia, Bandung, Sabtu (18/11).

Indonesia merupakan negara hukum sehingga hukum menjadi punggawa. Menurutnya, kita tidak bisa menyalahkan orang lain secara sepihak tanpa melalui proses persidangan.

“Padahal republik ini mengajarkan bahwa tidak boleh menghukumi seseorang sebelum melalui proses pengadilan,” lanjut Guru Besar UIN Sunan Gunung Jati Bandung tersebut.

HMI Tegal Kab

Selain itu, cepatnya perkembangan teknologi memudahkan semua orang untuk mengakses segala keinginannya. Secara instan, pelajar saat ini mudah saja bertanya kepada mesin pencari di internet tentang hal apapun.

“Mereka (pelajar) bertanya pada Kiai Google, Ajengan Yahoo, kemudian Ustadz Bing,” katanya.

HMI Tegal Kab

Ruang-ruang di dunia internet itu harus menjadi segmen garapan IPNU selanjutnya guna memberikan paham Islam ahlussunnah wal jamaah.

Oleh karena itu,ia menyampaikan dua hal penting yang harus IPNU garap sebagai organisasi yang fokus pada dunia pelajar, yakni IPNU harus memberikan ruang pembelajaran bagaimana menghormati hukum sebagai pilar utama  dan bagaimana IPNU harus mengisi ruang-ruang non-mainstream seperti mencuci otak dengan informasi yang viral.

Pada kesempatan tersebut, hadir Deputi II Bidang Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga Asrorun Niam Soleh, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU Hilmi Muhammadiyyah, Anggota Komisi X DPR RI Dony Ahmad Munir, Pengurus PWNU Jawa Barat, dan alumni IPNU se-Jawa Barat serta para perwakilan organisasi kepemudaan dan badan otonom NU yang lain. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Sunnah, Jadwal Kajian HMI Tegal Kab

Kamis, 08 Februari 2018

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail HMI Tegal Kab, saya mau bertanya. Pada sembahyang Id, ada saja masyarakat yang tertinggal jamaah. Ia menjadi makmum. Ia ketinggalan beberapa takbir sunah pada sembahyang Id pada rakaat pertama. Apakah ia harus melengkapi takbir sunah sebanyak tujuh kali atau mengikuti sedapatnya takbir si imam? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nurfadhilah/Banjarmasin)

Jawaban

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Shalat Id merupakan shalat sunah yang paling dianjurkan untuk dihadiri setiap Muslim. Bahkan, perempuan yang berhalangan sekalipun dianjurkan untuk menghadiri upacara shalat Id dan khutbahnya hingga selesai. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa hukum shalat Id adalah wajib.

HMI Tegal Kab

Shalat sunah Id ini memiliki keistimewaan. Setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama. Sedangkan pada rakaat kedua, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak lima kali. Takbir pada shalat Id ini sunah. Kalau ditinggalkan, tidak membatalkan shalat, tetapi membuat makruh.

HMI Tegal Kab

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sebelum membaca Surat Al-Fatihah, ia bertakbir sebanyak tujuh kali dengan hitungan yakin yang berbarengan dengan mengangkat kedua tangan; (7 takbir ini) tepatnya (dilakukan) di antara doa iftitah dan ta‘wudz Al-Fatihah. Di rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Shalat Id sunahnya dikerjakan secara berjamaah. Kalau ada anggota masyarakat yang ikut berjamaah shalat Id saat imam telah melangsungkan takbir yang disunahkan, maka ia cukup mengikuti seberapa banyak imam bertakbir. Ia tidak perlu menggenapi kekurangannya hingga tujuh takbir bila tertinggal pada rakaat pertama, atau lima takbir bila tertinggal pada rakaat kedua.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

Artinya, “Sedangkan masbuq (makmum yang tertinggal beberapa saat) hanya bertakbir sedapatnya mengikut sisa takbir imamnya. Di dalam Syarah dikatakan, kalau masbuq mengikuti imam di rakaat pertama misalkan, dan ia mendapati sisa sekali takbir imam, maka ia cukup sekali bertakbir. Atau kalau masbuq mengikuti imam pada rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali. Sedangkan di rakaat keduanya (setelah imam salam), ia cukup bertakbir sebanyak lima kali karena kalau mengqadha takbir yang luput, ia justru meninggalkan sunah lainnya,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa makmum shalat Id yang mendapati imamnya telah membaca surat Al-Fatihah atau surat yang disunahkan, tidak perlu lagi mengerjakan takbir sunah. Ia cukup mengerjakan takbiratul ihram, lalu mendengarkan bacaan imamnya.

Saran kami, kita sebaiknya menghadiri upacara shalat Id meskipun kita tertinggal beberapa takbir atau tertinggal satu rakaat. Karena shalat Id memiliki keutamaan luar biasa bahkan perempuan yang berhalangan sekalipun sangat dianjurkan untuk menghadiri shalat Id beserta khutbahnya hingga selesai. Bagi mereka yang tidak sempat ikut berjamaah, sebaiknya sebelum Zuhur ia mengerjakan shalat Id sendiri tanpa khutbah

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Berita HMI Tegal Kab

Minggu, 28 Januari 2018

Akar Sejarah dan Pola Gerakan Radikalisme di Indonesia

Oleh Sa’dullah Affandy



Sehari menjelang Iedul Fitri, Indonesia kembali diuji dengan kabar memprihatinkan. Bom bunuh diri yang meledak di depan Mapolres Surakarta. Ledakan serupa terjadi di dekat Masjid Nabawi, di Madinah. Dalam sepekan terakhir Ramadan tahun ini, serangkaian bom juga meledak di Konsulat Amerika di Jeddah, Istanbul, Dhaka, Baghdad dan Libanon.

Akar Sejarah dan Pola Gerakan Radikalisme di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Akar Sejarah dan Pola Gerakan Radikalisme di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Akar Sejarah dan Pola Gerakan Radikalisme di Indonesia

Mengapa Indonesia kerap menjadi sasaran terorisme. Mengapa pelakunya justru warga negara Indonesia, yang sering teridentifikasi berkaitan dengan kelompok-kelompok tertentu?

Reformasi dan Lahirnya Ormas-ormas Radikal

HMI Tegal Kab



Pasca reformasi yang ditandai dengan terbukanya kran demokratisasi telah menjadi lahan subur tumbuhnya kelompok Islam radikal. Fenomena radikalisme di kalangan umat Islam seringkali disandarkan dengan paham keagamaan, sekalipun pencetus radikalisme bisa lahir dari berbagai sumbu, seperti ekonomi, politik, sosial dan sebagainya.

Dalam konstelasi politik di Indonesia, masalah radikalisme Islam telah makin membesar karena pendukungnya juga semakin meningkat. Akan tetapi, gerakangerakan radikal ini kadang berbeda pandangan serta tujuan, sehingga tidak memiliki pola yang seragam. Ada yang sekedar memperjuangkan implementasi syariat Islam tanpa keharusan mendirikan “negara Islam”, namun ada pula yang memperjuangkan berdirinya “negara Islam Indonesia”, disamping itu pula da yang memperjuangkan berdirinya “khilafah Islamiyah”.

HMI Tegal Kab

Pola organisasinya juga beragam, mulai dari gerakan moral ideology seperti Majelis Mujahidin Indonesai (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia serta yang mengarah pada gaya militer seperti Laskar Jihad, Front Pembela Islam, dan Front Pemuda Islam Surakarta. Meskipun demikian, ada perbedaan dikalangan mereka, ada yang kecenderungan umum dari masyarakat untuk mengaitkan gerakan-gerakan ini dengan gerakan radikalisme Islam di luar negeri.

Radikalisme yang berujung pada terorisme menjadi masalah penting bagi umat Islam Indonesia dewasa ini. Dua isu itu telah menyebabkan Islam dicap sebagai agama teror dan umat Islam dianggap menyukai jalan kekerasan suci untuk menyebarkan agamanya. Sekalipun anggapan itu mudah dimentahkan, namun fakta bahwa pelaku teror di Indonesia adalah seorang Muslim garis keras sangat membebani psikologi umat Islam secara keseluruhan.

Berbagai aksi radikalisme terhadap generasi muda kembali menjadi perhatian serius oleh banyak kalangan di tanah air. Bahkan, serangkaian aksi para pelaku dan simpatisan pendukung, baik aktif maupun pasif, banyak berasal dari berbagai kalangan.

Oleh sebab itu perlu adanya upaya dalam rangka menangkal gerakan radikalisme di Indonesia. Disini peran NU di uji, sejauh mana peran NU dalam menghadapi gerakan tersebut. Dengan semangat toleransi dalam menebarkan Islam yang penuh kedamaian serta rahmatanlilAlamin, penulis yakin NU mampu menghadapi gerakan tersebut.

Gerakan Radikalisme di Indonesia

Radikalisme agama yang dilakukan oleh gerakan Islam garis keras dapat ditelusuri lebih jauh ke belakang. Gerakan ini telah muncul pada masa kemerdekaan Indonesia, bahkan dapat dikatakan sebagai akar gerakan Islam garis keras era reformasi. Gerakan dimaksud adalah DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) dan Negara Islam Indonesia (NII) yang muncul era 1950- an (tepatnya 1949). Darul Islam atau NII mulanya di Jawa Barat, Aceh dan Makassar. Gerakan ini disatukan oleh visi dan misi untuk menjadikan syariat sebagai dasar negara Indonesia. Gerakan DI ini berhenti setelah semua pimpinannya atau terbunuh pada awal 1960- an. Sungguhpun demikian, bukan berarti gerakan semacam ini lenyap dari Indonesia. Pada awal tahun 1970-an dan 1980-an gerakan Islam garis keras muncul kembali, seperti Komando Jihad, Ali Imron, kasus Talangsari oleh Warsidi dan Teror Warman di Lampung untuk mendirikan negara Islam, dan semacamnya.

Pada awalnya, alasan utama dari radikalisme agama atau gerakan-gerakan Islam garis keras tersebut adalah dilatarbelakangi oleh politik lokal: dari ketidakpuasan politik, keterpinggiran politik dan semacamnya. Namun setelah terbentuknya gerakan tersebut, agama meskipun pada awalnya bukan sebagai pemicunya, kemudian menjadi faktor legitimasi maupun perekat yang sangat penting bagi gerakan Islam garis keras. Sungguhpun begitu, radikalisme agama yang dilakukan oleh sekelompok muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Islam sebagai biang radikalisme. Yang pasti, radikalisme berpotensi menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia.

Gerakan radikalisme ini awalnya muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap komunisme di Indonesia. Selain itu, perlawanan mereka terhadap penerapan Pancasila sebagai asas Tunggal dalam politik. Bagi Kaum radikalis agama sistem demokrasi pancasila itu dianggap haram hukumnya dan pemerintah di dalamnya adalah kafir taghut (istilah bahasa arab merujuk pada “setan”), begitu pula masyarakat sipil yang bukan termasuk golongan mereka. Oleh sebab itu bersama kelompoknya, kaum ini menggaungkan formalisasi syariah sebagai solusi dalam kehidupan bernegara.

Ada 3 kelompok kekuatan yang mendukung formalisasi syariah: Salafi-Wahabi, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir yang memengaruhi mahasiswa-mahasiswa dari berbagai belahan dunia yang belajar di Timur Tengah, khususnya Mesir, Saudi Arabia dan Syiria. Bedanya, kalau Salafi-Wahaby cenderung ke masalah ibadah formal yang berusaha “meluruskan” orang Islam. Ikhwan bergerak lewat gerakan usroh yang beranggotakan 7-10 orang dengan satu amir. Mereka hidup sebagaimana layaknya keluarga di mana amir bertanggungjawab terhadap kebutuhan anggota usrohnya. Kelompok ini menamakan diri kelompok Tarbiyah yang merupakan cikal bakal PKS.

HT punya konstitusi yang terdiri dari 187 pasal. Di dalamnya ada program jangka pendek dan jangka panjang. Di sana ditulis, dalam jangka 13 tahun sejak berdirinya (1953), Negara Arab sudah harus menjalankan sistem Khilafah Islamiyah. TN juga menargetkan, dalam 30 tahun dunia Islam sudah harus punya khalifah. Ini semua tidak terbukti.

HT masuk Indonesia melalui orang Libanon, Abdurrahman Al-Baghdadi. Ia bermukim di Jakarta pada tahun 1980-an atas ajakan KH. Abdullah bin Nuh dari Cianjur. Sebelumnya KH. Abdullah bin Nuh bertemu aktifis HT di Australia dan mulai menunjukkan ketertarikannya pada ide-ide persatuan umat Islam dan Khilafah Islamiyah. Puteranya, Mustofa bin Abdullah bin Nuh lulusan Yordania kemudian juga ikut andil menyebarluaskan paham HT di wilayah Jawa Barat dan Banten didukung oleh saudara-saudara dan kerabatnya.

HT membentuk beberapa tahapan dalam menuju pembentukan Khilafah Islamiah:

(1) Taqwimasy-syakhsyiahal-Islamiyah; membentuk kepribadian Islam. Mereka membagi wilayah, karena gerakan mereka transnasional, termasuk Indonesia. Tapi sekarang pusatnya tidak jelas di mana karena di negara asalnya sendiri sangat rahasia, dilarang bahkan dikejar-kejar. Tapi mereka sudah ada di London, Austria, di Jerman dan sebagainya. Di Indonesia sendiri, mereka tidak bisa rahasia, karena negara ini sangat terbuka. Maka kita mengenal tokoh-tokoh seperti Ismail Yusanto dll. (2) At-taw’iyah atau penyadaran. (3) At-ta’amulma’al-ummah; interaksi dengan masyarakat secara keseluruhan. Mereka membantu kepentingan-kepentingan. Saya dengar di Surabaya, di Unair dan ITS saja, dalam urunan mereka bisa menghasilkan uang Rp 30 Juta tiap bulan. (4) Harkatut Tatsqif; gerakan intelektualisasi, dan (5) Taqwim al-daulah al-Islamiah, membentuk Kekuasaan Imperium Islam.

Ijtihad para pemimpin HT sendiri sesungguhnya banyak yang kontrversial, tetapi karena proses transfer pengetahuannya sangat tertutup dan ketat, maka kemungkinan besar kader-kader HT tidak mengetahuinya. Inilah yang membuat kader-kader mereka menjadi radikal.

Tahun 2011, Hasil Survey Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) dgn responden guru PAI dan siswa SMP Sejadebotabek menunjukkan potensi radikal yang kuat di klngan guru dan pelajar dgn indikasi resistensi yg lemah thd kekerasan ats nama agama, intoleransi, sikap ekslusif serta keraguan thd ideologi Pancasila.

Tahun 2015 Survey Setara Institute thd siswa dari 114 Sekolah Menengah Umum

(SMU) di Jakarta dan Bandung. Dalam survei ini, sebanyak 75,3% mengaku tahu tentang ISIS. Sebanyak 36,2 responden mengatakan ISIS sebagai kelompok teror yang sadis, 30,2% responden menilai pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama, dan 16,9% menyatakan ISIS adalah pejuang-pejuang yang hendak mendirikan agama Islam.

Pandangan NU terhadap gerakan Radikalisme



Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 Hijriyah/31 Januari 1926 Masehi, pada awal lahirnya sebagai respon atau counter terhadap paham/gerakan radikalisme. Motivasi utamanya adalah untuk mempertahankan paham Ahlus Sunnah Waljamaah (Aswaja). Aswaja merupakan paham yang menekankan pada aktualisasi nilai-nilai ajaran Islam berupa keadilan (ta’âdul), kesimbangan (tawâzun), moderat (tawassuth), toleransi (tasâmuh) dan perbaikan/reformatif (ishlâhîyah). Nilai-nilai Islam yang dirumuskan dalam Aswaja itu kemudian dijadikan ke dalam Fikrah Nahdhîyah. Fikrah Nahdhîyah adalah kerangka berpikir atau paradigma yang didasarkan pada paham Aswaja yang dijadikan landasan berpikir NU (Khiththah Nahdhîyah) untuk menentukan arah perjuangan dalam rangka ishlâh al-ummah (perbaikan umat).

Dalam sejarah perkembangannya, NU menerima sistem hukum penjajah dalam keadaan darurat. Karena negara tidak boleh kosong dari hukum. Selanjutnya, NU berjuang agar hukum yang berlaku di negara ini bisa menjadikan fikih sebagai salah satu sumber dari hukum nasional kita. Dari situ, NU ikut ambil saham dalam penerapan UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang saat ini berlaku di Indonesia. Tentu HT belum punya saham dalam memperjuangkan hukum Islam di negara nasional ini, sehingga tidak logis jika HT langsung menentang negara nasional ini gara-gara tidak memberlakukan syariah Islam secara kaffah.

Solusi yang harus dilakukan dalam mencegah meluasnya gerakan radikalisme agama atau gerakan Islam garis keras, di antaranya adalah dengan mengaktualisasikan kembali nilai-nilai Aswaja NU ke dalam masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan. Aktualisasi berarti menghidupkan dan mempraksiskan kembali nilai-nilai Aswaja NU dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, agar mendapatkan elan vitalnya, manfaat bagi terbangunnya kehidupan yang damai dan negara Indonesia yang kokoh khususnya, dan perdamaian dunia pada umumnya.

Dengan cara demikian, diharapkan gerakan Islam garis keras tidak semakin meluas. Demikikian pula genarasi muda diharapkan menjadi warga negara yang menjungjung tinggi nilai-nilai Aswaja NU yang mencerminkan Piagam Madinah dan sekaligus sejalan dengan konstitusi UUD 1945, falsafah Pancasila dan semboyang Bhineka Tunggal Ika.

Konsep Negara Menurut NU?



NU berdiri tahun 1926 dalam proses menuju pembentukan negara Indonesia. Sedang HT berdiri ketika nation state di tempat ia berdiri telah terbentuk, yaitu tahun 1953. Dari segi latar belakang waktu yang berbeda ini, dipahami bahwa sejak awal NU memberi saham besar terhadap pembentukan nation state yang kemudian menjadi negara Indonesia merdeka.Sedang HT berhadapan dengan negara yang sudah terbentuk. Maka wajarlah, jika HT menganggap bahwa nasionalisme itu sebagai jahiliyah. Karena mereka anggap menjadi penghalang dari pembentukan internasionalisme Islam, apalagi nasionalisme tersebut tidak memberlakukan syariat Islam dan lebih banyak mengadopsi sistem hukum sekuler Barat.

NU menerima sistem hukum penjajah dalam keadaan darurat. Karena negara tidak boleh kosong dari hukum. Selanjutnya, NU berjuang agar hukum yang berlaku di negara ini bisa menjadikan fikih sebagai salah satu sumber dari hukum nasional kita. Dari situ, NU ikut ambil saham dalam penerapan UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang saat ini berlaku di Indonesia. Tentu HT belum punya saham dalam memperjuangkan hukum Islam di negara nasional ini, sehingga tidak logis jika HT langsung menentang negara nasional ini gara-gara tidak memberlakukan syariah Islam secara kaffah.

Antara NU dan HTI itu memang ada perbedaan prinsip, tapi ada juga kesamaan. Keinginan untuk melaksanakan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan itu sama antara keduanya. Hanya perbedaannya, adalah bagaimana cara merealisasikannya. NU lebih realistis, sedang HTI utopis.

Dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama pada 1-2 Nopember 2104 di Cirebon memutuskan beberapa poin penting sehubungan dengan khilafah yaitu:

1. Islam sebagai agama yang komprehensif (din syamil kamil) tidak mungkin melewatkan masalah negara dan pemerintahan dari agenda pembahasannya. Kendati tidak dalam konsep utuh, namun dalam bentuk nilai-nilai dan prinsipprinsip dasar (mabadi` asasiyyah). Islam telah memberikan panduan (guidance) yang cukup bagi umatnya.

2. Mengangkat pemimpin (nashbal-imam) wajib hukumnya, karena kehidupan manusia akan kacau (fawdla/chaos) tanpa adanya pemimpin. Hal ini diperkuat oleh pernyataan para ulama terkemuka, antara lain, Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya` ‘Ulum al-Din:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Agama dan kekuasaan negara adalah dua saudara kembar. Agama merupakan fondasi, sedangkan kekuasaan negara adalah pengawalnya. Sesuatu yang tidak memiliki fondasi, akan runtuh, sedangkan sesuatu yang tidak memiliki pengawal, akan tersia-siakan

Juga pendapat Ibn Taimiyyah dalam as-Siyasah al-Syar’iyyah fi Ishlah al-Ra’i wa al-Ra’iyyah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Sesungguhnya tugas mengatur dan mengelola urusan orang banyak (dalam sebuah pemerintahan dan negara) adalah termasuk kewajiban agama yang paling agung. Hal itu disebabkan oleh tidak mungkinnya agama dapat tegak dengan kokoh tanpa adanya dukungan negara."

Islam tidak menentukan apalagi mewajibkan suatu bentuk negara dan sistem pemerintahan tertentu bagi para pemeluknya. Umat diberi kewenangan sendiri untuk mengatur dan merancang sistem pemerintahan sesuai dengan tuntutan perkembangan kemajuan zaman dan tempat. Namun yang terpenting suatu pemerintahan harus bisa melindungi dan menjamin warganya untuk mengamalkan dan menerapkan ajarankan agamanya dan menjadi tempat yang kondusif bagi kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan.

Islam melihat substansi negara dengan teritorialnya sebagai tempat yang kondusif bagi kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan bagi warganya. Mereka menggunakan ungkapan, Al-‘ibratu bil Jauhar la bil Mazhhar (Yang menjadi pegangan pokok adalah substansi, bukan simbol atau penampakan lahiriyah). Khilafah itu memang fakta sejarah, pernah dipraktikkan di masa Al-Khulafa’ur Rasidyunyang sesuai dengan eranya di mana kehidupan manusia belum berada di bawah naungan negara bangsa (nationstate). “Pasalnya, perangkat pemerintahan dan kesiapan masyarakat saat era khilafah masih sederhana. Pada saat itu belum ada birokrasi yang tersusun rapi seperti sekarang, sehingga dibutuhkan orang dengan kemampuan lebih dalam pelbagai hal untuk menjadi khalifah. Sementara sekarang, kondisi masyarakat dan kesiapan pranata pemerintahan yang terus berkembang, menuntut bentuk pemerintahan yang berbeda

Pancasila sebagai Representasi Nilai-nilai Keislaman



Peran Pancasila terlihat masih dibutuhkan dalam menumpas radikalisme agama di Indonesia. Pancasila sebagai ideologi berarti suatu pemikiran yang yang memuat pandangan dasar dan cita-cita mengenai sejarah manusia masyarakat dan negara Indonesia yang bersumber dari kebudayaan Indonesia, oleh karena itu Pancasila dalam pengertian ideologi ini sama artinya dengan pandangan hidup bangsa atau falsafah hidup bangsa (Rukiyati, M.Hum.,dkk, 2008: 89).

Pancasila adalah penjelmaan falsafah bangsa Indonesia yang paling realistis karena berpijak pada proses perjalanan sejarah pembentukan nusantara itu sendiri. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang membujur di titik strategis persilangan antarbenua dan antarsamudera, dengan daya tarik kekayaan sumberdaya yang melimpah, Indonesia sejak lama menjadi titik temu penjelajahan bahari yang membawa pelbagai arus peradaban (Yudi Latif, 2011: 3). Selain hal-hal di atas, keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam juga tercermin dari kelima silanya yang selaras dengan ajaran Islam. Keselarasan masing-masing sila dengan ajaran Islam.

Solusi yang Ditawarkan



Gerakan radikalisme di Indonesia dapat merugikan ketatanegaraan NKRI dan juga tidak sesuai dengan Pancasila. Radikalisme dapat menjadikan negera dipandang rendah oleh bangsa lain sehingga ekonomi negara memburuk, sehingga Pemerintahan Indonesia harus berupaya memulihkan hal tersebut yang tentu merugikan ketatanegaraan. Selain itu radikalisme bertentangan dengan pancasila sila pertama. Tidak ada satupun agama yang di Indonesia yang mengajarkan radikalisme untuk mencapai tujuan dari suatu umat beragama.

NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sangat konsen dalam memberantas gerakan radikalisme di Indonesia. Bagi NU, gerakan radikalisme sangat mengganggu terhadap kedamaian yang ada di Indonesia.

Sebagai Bangsa Muslim terbesar di dunia, Indonesia pun menggenggam legitimasi yang amat kuat untuk memulai inisiatif perdamaian. Indonesia juga memiliki wawasan Islam Nusantara, yaitu wawasan keislaman yang mengedepankan harmoni sosial dengan vitalitas untuk secara kreatif terus-menerus mendialogkan sumber-sumber ajaran dengan perubahan-perubahan konteks yang terjadi di lingkungan sosial-budayanya.

Wawasan Islam Nusantara telah terbukti ketangguhannya dalam membimbing masyarakat Muslim Indonesia melalui perjalanan sejarahnya hingga mewujud dalam tatanan sosial-politik yang moderen dan demokratis sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wawasan Islam Nusantara menawarkan inspirasi bagi seluruh dunia Islam untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran dan modelmodel interaksi yang damai dengan realitas kekinian dan pada gilirannya berkontribusi secara lebih konstruktif bagi keseluruhan peradaban umat manusia.

Melalui cara pandangan tersebut, NU selalu mengambil posisi sikap yang akomodatif, toleran dan menghindari sikap ekstrim (tafrîth, ifrâth) dalam berhadapan dengan spektrum budaya apapun. Sebab paradigma Aswaja di sini mencerminkan sikap NU yang selalu dikalkulasikan atas dasar pertimbangan hukum yang bermuara pada aspek mashlahah dan mafsadah. Inilah nilai-nilai Aswaja yang melekat di tubuh NU yang menjadi penilaian dan pencitraan Islam rahmatan lil ‘alamin di mata dunia.

Penulis adalah Katib Syuriyah PBNU; Dosen Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan STAINU Jakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Kajian Sunnah, Tegal HMI Tegal Kab

Jumat, 26 Januari 2018

Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim

Sidoarjo, HMI Tegal Kab - Rais ‘Aam PBNU KH Maruf Amin menyatakan, Istighotsah Kubro yang digelar PWNU Jawa Timur di Stadion Gelora Delta Sidoarjo itu merupakan keinginan para ulama agar bermunajat kepada Allah SWT dalam rangka menjaga umat, bangsa, dan negara dari berbagai malapetaka.

?

"Kita bersyukur dan bangga bahwa ulama tidak hanya sibuk di pesantren mencetak santri menjadi ulama. Tapi ulama mempunyai perhatian yang besar terhadap kehidupan bangsa dan negara. Oleh karena itu, para ulama mengajak untuk berkumpul mengetuk ‘pintu langit’ memohon nurullah, cahaya di atas segala cahaya," kata Kiai Maruf Amin saat memberikan pengarahan pada acara istighotsah kubro, Ahad (9/4).

Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam: Presiden Jokowi Apresiasi Istighotsah Kubro NU Jatim

?

Kiai Maruf menceritakan, minggu lalu pihaknya bertemu Presiden Joko Widodo. Kiai Maruf mengatakan kepada Presiden bahwa warga NU dan seluruh warga Nahdliyin di Jawa Timur akan mengadakan Istighotsah Kubro mendoakan negara agar aman, tenteram, sejahtera, dan damai. “Dan beliau (Presiden Jokowi) terharu sekali,” katanya.

?

HMI Tegal Kab

Lebih lanjut Kiai Maruf menegaskan, upaya lahiriah yang dilakukan oleh pemerintah dari atas sampai ke bawah harus didukung melalui upaya batiniah. Bahkan kalau semua manusia memperoleh rahmat Allah, upaya betatapun kecil yang dilakukan akan berdampak besar.

"Dan itu sudah pernah diakui ketika bangsa Indonesia merebut kemerdekaan dari Belanda, meski menggunakan peralatan seadanya, bangsa Indonesia bisa merdeka," tegas Ketua MUI pusat itu. (Moh Kholidun/Mahbib)

HMI Tegal Kab

?


Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Doa, Meme Islam HMI Tegal Kab

Minggu, 21 Januari 2018

Pagar Nusa Tandatangani MoU dengan LP Ma’arif dan PGRI

Semarang, HMI Tegal Kab. Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU dan Pengurus Besar Persatuan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). MoU ini terkait pelatihan pencak silat Pagar Nusa sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah.

Pagar Nusa Tandatangani MoU dengan LP Ma’arif dan PGRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Tandatangani MoU dengan LP Ma’arif dan PGRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Tandatangani MoU dengan LP Ma’arif dan PGRI

MoU ditandatangani ketua Umum PP Pagar Nusa Aizuddin Abdurrahman, Ketua PP LP Ma’arif Arifin Junaidi dan Ketua Umum PB PGRI Sulistyo yang disaksikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, di lokasi Rapimnas Pagar Nusa di Pesantren Az Zuhri Semarang, Jum’at (27/3).

Ketua PP LP Ma’arif Arifin Junaidi mengatakan, MoU ini merupakan formalisasi dari apa yang ditelah dijalankan selama ini. Sebelumnya, sudah ada kegiatan ekstrakurikuler pencak silat Pagar Nusa di sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan LP Ma’arif.

HMI Tegal Kab

“Ada 13 ribu sekolah dan madrasah di bawah naungan LP Ma’arif. Berarti Pagar Nusa harus menyiapkan 13 ribu pelatih,” katanya yang disambut “siap...” oleh ratusan para pemimpin Pagar Nusa dan ratusan pendekar yang hadir.

HMI Tegal Kab

Menurut Arifin, selain mengajarkan pencak silat, diharapkan Pagar Nusa dapat menanamkan jiwa kesatria, daya juang dan semangat yang positif.

Ketua PB PGRI Sulistyo mengatakan, pihaknya menyambut baik tawaran Pagar Nusa untuk mengadakan kegiatan pelatihan Pagar Nusa di sekolah-sekolah. “Semoga penandatanganan MoU ini tidak sekedar formalitas, dan bisa kita tindaklanjuti secara serius,” katanya.

Sebelumya Ketua Umum Pagar Nusa Aizuddin Abdurrahman berpesan kepada pimpinan Pagar Nusa untuk mensosialisasikan kerjasama dengan LP Ma’arai dan PGRI ke daerah-daerah.

“Hasil Rapimnas ini saya harapkan dilaksanakan sampai ke bawah. MoU ini kita sosialisasikan di tingkat wilayah, cabang, sampai ke tingkat ranting,” katanya.

Rapimnas Pencak Silat NU Pagar Nusa dilaksanakan di Pondok Pesantren Azzuhri Ketileng Semarang, sejak Kamis (26/3). Rapimnas akan ditutup dengan Apel Kesetiaan pada Pancasila dan NKRI di lapangan Simpang Lima Semarang, Ahad (29/3) pagi, yang akan diikuti sekitar lima ribu pendekar Pagar Nusa. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Budaya, Tegal, Jadwal Kajian HMI Tegal Kab

Mahfud MD: Korupsi Biang Tumbuhnya Radikalisme

Bandung, HMI Tegal Kab. Tumbuh dan suburnya paham radikalisme tak lepas dari praktik ketidakadilan yang terjadi di Indonesia.? Salah satu tanda ketidakadilan itu ada maraknya korupsi yang terjadi di semua lapisan masyarakat.

Mahfud MD: Korupsi Biang Tumbuhnya Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahfud MD: Korupsi Biang Tumbuhnya Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahfud MD: Korupsi Biang Tumbuhnya Radikalisme

Demikian salah satu kesimpulan dari halaqah kebangsaan yang digelar di Pondok Pesantren Darul Maarif, Bandung, Jawa Barat, pada Sabtu (14/5).

Mantan Ketua MK, Mahfud MD mengatakan, tumbuhnya radikalisme membahayakan Indonesia. Apalagi sampai mereka berhasil membentuk sebuah negara. "Ideologi mereka membahayakan Indonesia," kata Mahfud.

HMI Tegal Kab

Menurut Mahfud, salah satu alasan mereka mengembangkan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila itu, adalah adanya rasa ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. "Salah satunya kasus korupsi," katanya.

?Karena itu, Mahfud berpandangan korupsi di Indonesia harus dibabat habis. Untuk menimbulkan efek jera, Mahfud setuju koruptor yang merampok uang negara dalam jumlah besar dihukum mati. "Undang undang sekarang koruptor maksimal dihukum mati, tapi dengan syarat. Kalau menurut saya tak perlu pakai syarat," katanya.

HMI Tegal Kab

Mahfud menjelaskan, syarat yang disebutkan dalam undang undang adalah jika negara dalam kondisi krisis. "Krisis itu bisa ditafsirkan macam-macam. Makanya tak perlu ada syarat. Jadi Koruptor maksimal dihukum mati," terangnya.

Namun, untuk mengubah undang-undang koruptor dihukum mati membutuhkan pemimpin yang jujur dan berani. "Jadi tergantung siapa nanti yang terpilih menjadi presiden. Kalau yang terpilih didukung oleh koruptor ya pasti sulit," katanya.

Halaqah nasional kebangsaan ini dihadiri oleh ratusan ulama dan cendekiawan pondok pesantren. Selain membahas masalah kebangsaan, halaqah ini juga membahas masalah keumatan dan keagamaan.

Sejumlah tokoh nasional dijadwal menjadi narasumber. Antara lain KH Hasyim Muzadi, Menteri Pendidikan dan kebudayaan Mohammad Nuh, Mahfud MD, Abuya Mukhtar, Yudi Latif, KH Masdar Farid Mas’udi, Rokhmin Dahuri, Rizal Ramli, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Ketua PBNU KH Slamet Effendi Yusuf, KH Malik Madani, Prof Dr Gumilar RS, dan Jimly Ashiddiqie. (Ahmad Millah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Tegal, Hadits HMI Tegal Kab

Kamis, 18 Januari 2018

Majalah Api Islam

Api Islam, majalah mingguan yang diterbitkan oleh Yayasan Sosial Keagamaan Lembaga Penggali dan penyebar Api Islam. Sebagaimana dijelaskan dalam terbitan perdananya, penggagas majalah ini adalah para tokoh Islam, ulama dan zu’ama yang secara khusus menganut faham ahlussunnah waljama’ah.

Nomor pertama majalah ini, No. 1 Th. I Djuli 1965, terbit pada 12 Juli 1965, dengan gambar kulit Dr. KH Idham Chalid, yang ketika itu menjabat sebagai Menko Wakil Ketua MPRS, Ketua Umum PBNU, dan juga sebagai Ketua Presidium Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA).?

Majalah Api Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Api Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Api Islam

Dalam susunan pengasuh dan pengelolanya tercantum nama-nama seperti Dr. KH Idham Chalid, Prof. KH Saifuddin Zuhri, H. Djamaludin Malik (Pinisepuh/Penasehat); Hadji Achmad Notosoetardjo (Pemimpin Redaksi/Penanggungjawab); H. Mas’uddin Nur, Kiai Ridwan Fadhil, Sistaputra N.s., H. M. Arief Lubis, H. Hasbullah Chalid (Dewan Redaksi); KH Anwar Musaddad, Iskandar Sukarno M.A., Dr. Agustina, Dra. Zakijah Deradjat, Dra. Nurlela Dahlan, Nurhasni B.A. (Pembantu Ahli); dan Mohd. Ridwan Fadhali (Tata Usaha).?

Pada edisi-edisi selanjutnya, masuk nama-nama baru seperti Solichin Salam dan Ashar Daliwara di jajaran dewan redaksi dan Dra. Nurlela Dahlan di jajaran pembantu ahli. Majalah ini beralamat di Jalan Tanah Abang Barat 80 A, Jakarta. ?

HMI Tegal Kab

Menurut Kiai Idham Chalid dalam sambutannya sebagai pinisepuh dalam edisi perdana, majalah ini digagas di rumah kediamannya dan nama “Api Islam” sendiri diusulkan oleh Prof. KH Saifuddin Zuhri.?

HMI Tegal Kab

Namun istilah Api Islam sendiri diakui berasal dari Sukarno yang sejak tahun 1930an telah mendorong umat Islam untuk terus menggali api Islam, inti dari ajaran Islam. Sukarno sendiri mengambil istilah ini dari buku terkenal karya pemikir Muslim India, Syed Amir Ali, The Spirit of Islam, yang pada tahun 1966 ? itu telah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Idham Chalid menghendaki “Api Islam” untuk “...bekerja dan berpikir dengan landasan bahwa Api Islam adalah Nur-nya Islam. Api Islam adalah Roh dan Semangat Islam. Api Islam adalah dinamiknya cara berpikir umat Islam. Api Islam adalah pembawa ajaran agama untuk segala zaman, Api Islam pembawa kedinamikan untuk menghidupkan daya amal dam jihadnya Islam, Api menunjukkan suatu yang harus progresif-revolusioner, Api Islam adalah jihadnya Islam di segala bidang, Api Islam membuka pintu ijtihad, Api Islam mengobarkan apinya perjuangan, Api Islam melahirkan filsafah history-d’gress, Api Islam adalah Islam-Science yang berdasarkan Qur’an dan Hadits yang berpengetahuan luas , Api Islam menghendaki scientific-feeling, Api Islam adalah Qur’an dan Hadits yang mewajibkan tiap manusia menjadi cakwati di segala lapangan pengetahuan dan kemajuan, dan Api Islam berbicara yang masuk akal dan up to date.

”Sementara bagi Hadji Achmad Notosoetardjo, “Api Islam” mengandung makna sama dengan “Api Agama”, oleh karena walaupun ia memakai nama “Islam”, bukan berarti mengenyampingkan agama lainnya. “Api Islam” adalah sahabat karib semua aliran agama, karena itu agama-agama lainnya mendapat tempat yang akrab di dalam majalah ini. “Api Islam” menjadi alat revolusi dan berjuang untuk kejayaan revolusi Indonesia, serta bernaung dalam satu barisan ? yang berporoskan Nasakom.?

Dalam kerangka mendorong dan membangkitkan semangat revolusioner di atas, “Api Islam” menampilkan beragam tulisan dan topik. Sebagian tulisan diwadahi dalam beberapa rubrik tetap seperti “Bung Karno menjawab,” “Haluan Politik,” “Dari Wanita untuk Wanita”, “Mimbar Djum’at”, “Gelora Islam,” “Seni Budaya,” “Drama Sebabak,” “Menjawab Surat”, “Masalah Fakta Militer,” “Galian Sejarah,” “Kesehatan,” dan “Tjeramah dan Kuliah.” Di luar itu ada beberapa tulisan lepas yang tidak masuk dalam rubrik.?

Kebanyakan tulisan diisi oleh para pengelola sendiri seperti H. M. Arief Lubis, Hasbullah Chalid, Solichin Salam, Zakijah Daradjat, dan lainnya. Pada edisi kedua, redaksi mengundang sastrawan, penulis, ulama dan lainnya untuk mengirimkan tulisan-tulisan dan karya-karya mereka dengan dijanjikan honorarium jika dimuat. Beberapa penulis di luar redaksi yang biasa muncul adalah Nur Arafah, Darto Wahab, Marwan Sarijo, dan lain-lain.? ? ?

Ceramah-ceramah dan kuliah-kuliah tokoh NU seperti KH Idham Chalid, KH Saifuddin Zuhri, ? KH Achmad Sjaichu dan lain-lain sering memperoleh tempat. Gagasan-gagasan Sukarno dan seluk-beluk keluarganya juga selalu muncul di setiap edisi. Tulisan Soekarno yang terkenal “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” misalnya dimuat ulang secara bersambung sejak edisi awal. Hal yang menarik, “Api Islam” juga mempunyai rubrik seni budaya yang diisi dengan puisi, cerita pendek atau naskah drama.?

Dalam edisi perdana dikemukakan bahwa “Api Islam” dijual dengan harga Rp 200,- untuk Pulau Jawa dan Rp 220,- untuk luar Jawa. Selain dijual eceran, ‘Api Islam” juga memiliki pelanggan tetap. Sementara tarif iklan 1 halaman Rp 35.000, ½ halaman Rp 20.000, dan ¼ halaman Rp 17.000,-. Beberapa iklan yang pernah muncul dalam terbitan “Api Islam” adalah semir sepatu ‘Bastol’, Hotel Brantas, PT Perusahaan Pelayaran Arafat, PT Bank Siliwangi, J.H. Goldberg, sebuah perusahaan alat-alat optik, dan beberapa produk dari perusahaan negara.

Dari segi pengelolanya “Api Islam” jelas merupakan majalah dari kalangan NU dan mencerminkan ideologi-politik NU saat itu. Meski demikian, isinya tidak melulu hal ikhwal mengenai NU, bahkan bisa dikatakan isinya bersifat sangat umum dan luas serta ditulis dengan perpektif Islam yang revolusioner.?

Majalah ini terbit kurang lebih satu tahun setengah dan melewati suatu periode kritis dalam sejarah transisi politik Indonesia, 1965-1966. Nomor terakhirnya No. 41. Th. II Nopember 1966, dengan gambar kulit Masjid Besar Surakarta. (Hairus Salim HS) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Budaya, Hadits, Jadwal Kajian HMI Tegal Kab

Rabu, 10 Januari 2018

Model Open House KH Muhyiddin Abdusshomad

Jember, HMI Tegal Kab. Jika tokoh masyarakat menggelar open house (dalam rangka lebaran), biasanya waktunya dibatasi ? sekian hari. Tapi ini tidak berlaku bagi Rais Syuriyah PCNU Jember, KH. Muhyiddin Abdusshomad. Penulis beberapa buku Aswaja ini, justru tak pernah membatasi dalam hitungan hari bagi siapapun yang mau berkunjung ke rumahnya.?

Model Open House KH Muhyiddin Abdusshomad (Sumber Gambar : Nu Online)
Model Open House KH Muhyiddin Abdusshomad (Sumber Gambar : Nu Online)

Model Open House KH Muhyiddin Abdusshomad

"Pintu rumah kiai selalu terbuka untuk siapapun yang mau datang, kapanpun itu," tukas Hollan Umar, santri senior Kiai Muhyiddin, kepada HMI Tegal Kab di Jember, Jumat (8/7).

Tidak hanya waktu lebaran, sepanjang tahun pintu rumah Kiai Muhyiddin senantiasa terbuka untuk masyarakat. Keperluan tamu pun beragam, mulai dari sekadar silaturrahmi, mohon nasehat, hingga soal politik. Latar belakang ? tamunnya juga beragam. Mulai dari wali santri, pengurus NU, rektor ? hingga bupati. Tapi diakui Hollan, di musim lebaran, yang datang bersialurahmi memang banyak dari kalangan tokoh NU. "Selama kiai masih sehat, siapapun tamunya pasti dilayani," lanjut Hollan.

Dalam kunjungan HMI Tegal Kab ke kediaman Kiai Muhyiddin, tampak beberapa tamu penting datang bersilaturrahmi, di antaranya Wakil Ketua DPRD Jember, (Ayub Junaidi), seorang Dosen Universitas Jember, bahkan seorang anggota fraksi Gerindra DPRD Purbalingga, Jawa Tengah. Ruang tamu yang disediakan cukup sederhana. Ruang berukuran 3,5x4 meter persegi itu hanya disediakan tempat duduk biasa, dengan mejanya. Tidak mewah. Semua tamu dari kalangan apapun, tempatnya sama di ruang tersebut. Tidak ada ruang ? khusus bagi ? tamu penting, misalnya. Di pandangan Kiai Muhyiddin semua tamu penting.

Kesederhanaan memang tampak dalam kehidupan santri Kiai Umar Sumberwringin itu. Dalam melayani tamu juga apa adanya. Bahkan kalau tidak ada santri, dirinya terkadang membawa sendiri minuman dan kue dari dalam untuk dipersembahkan kepada tamunya.

HMI Tegal Kab

Kesederhanaan Kiai Muhyiddin juga bisa dilihat dari aktivitas ? perjalanannya untuk memenuhi undangan. Jika mendapat undangan di luar kota, misalnya di Jakarta, Bogor dan sebagainya, Kiai Muhyiddin tak pernah mau naik pesawat. Dia lebih memilih naik kereta kelas bisnis. Ketika itu Kiai Muhyiddin hendak ke Jakarta untuk memenuhi undangan NGO, beliau naik kereta Gumarang. Di dalam kereta juga berdesak-desakan dengan pedagang dan penumpang umum. Kalau ? kantuk datang, dia tidur sekenanya di kursi kereta.

Kiai Muhyiddin memang bersahaja, kendatipun peluang hidup lebih juga sangat besar. Apalagi posisinya, kerap kali menjadi referensi politik para pejabat publik, baik di daerah, regional maupun pusat. Sekian kali beliau ditawari umroh, selalu ditolaknya dengan halus. Beliau hanya haji satu kali selama hidup.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, aktivitas Kiai Muhyiddin di luar pesantren sudah dikurangi. Untuk undangan acara-acara Aswaja, sering didelegasikan kepada ustadz Idrus Ramli dan beberapa pengurus LBM dan Aswaja Center NU Jember. Sedangkan untuk undangan pengajian, juga dikurangi, lebih-lebih di luar kota. Beliau sekarang fokus mengurus pesanten Nurul Islam (Nuris) Antirogo, Jember dibantu putranya, Ra Robith Qashidi. Alumni Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir inilah yang akan meneruskan kiprah ? Kiai Muhyiddin ke depan. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Olahraga, News HMI Tegal Kab

Minggu, 24 Desember 2017

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional

Jakarta, HMI Tegal Kab. Banyaknya persoalan yang mendera bangsa Indonesia mulai dari korupsi, suap, asusila, kekerasan rumah tangga, dan segudang persoalan lainnya, menuntut warga Indonesia yang mayoritas beragama untuk mengintrospeksi diri. Mereka perlu mempertanyakan kembali sejauh mana makna keberagamaan itu sendiri.

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional

Demikian dikatakan Katib Aam PBNU KH Malik Madani ketika ditanya HMI Tegal Kab perihal semangat harlah 91 tahun NU, Senin (19/5) malam.

Kiai Malik menilai perhatian umat beragama terfokus pada kesalehan ritual. “Umat beragama di Indonesia tampak hanya mengejar peribadatan formal. Mereka sudah merasa cukup beragama hanya dengan melakukan rutinitas ibadah formal.”

HMI Tegal Kab

Padahal, tujuan puncak dari agama ialah kesalehan moral baik secara individu maupun sosial. Tujuan pengutusan Nabi Muhammad Saw dimaksudkan untuk membenahi moral masyarakat yang bobrok.

HMI Tegal Kab

“Selain ‘makarimal akhlaq’, riwayat Ahmad menyatakan Rasulullah diutus untuk menyempurnakan shalihal akhlaq, kesalehan moral. Karena ritual itu wasilah, bukan tujuan,” terang Kiai Malik.

Kalau pengamalan beragama berhenti pada kesalehan ritual, maka tidak heran banyak orang yang tampak rajin ibadah tetapi terjerumus dalam kejahatan sosial seperti korupsi atau melakukan praktik suap.

Mereka yang tidak pernah absen dalam ibadah formal, justru di lain pihak melakukan kejahatan-kejahatan, penipuan, dan kekerasan, kata Kiai Malik memberi contoh. Ia mengajak segenap warga Indonesia yang terkenal sebagai umat beragama untuk menyoal keberagamaannya.

“Introspeksi ini bukan hanya ditujukan kepada para politikus dan pengusaha, tetapi juga masyarakat secara umum,” tandas Kiai Malik. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian HMI Tegal Kab

Selasa, 19 Desember 2017

Penghormatan Kiai Ishaq untuk Muridnya

Tahun 1972, mobil masih tergolong barang langka. Dalam satu kampung, pemilik mobil bisa dihitung dengan jari. Kampung jenis apa saja bisa, kampung di desa maupun di kota. Tentu saja, pasti ada kekecualiannya. Dengan kata lain, ada kampung yang warganya pada punya mobil. Tapi silakan cari sendiri, kampung mana yang banyak mobilnya.

Gandaria, sebuah kampung di Jakarta Selatan, ada seorang yang terkenal gara-gara punya mobil, lebih terkenal lagi, karena ia seorang ulama, Kyai Ishaq Yahya namanya. “Wah, hebat nih ulama kite, bukan hanya punya ilmu agama, tapi juga punya ilmu lari kenceng,” begitu orang berdecak pada Kyai Ishaq. Maksudnya punya ilmu lari kenceng adalah punya mobil.

Penghormatan Kiai Ishaq untuk Muridnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Penghormatan Kiai Ishaq untuk Muridnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Penghormatan Kiai Ishaq untuk Muridnya

Ishaq terbilang kiai kondang Jakarta di zamannya. Tentu saja, popularitasnya hadir jauh sebelum masyarakat mendengar nama KH Zainuddin MZ, yang juga asal Gandaria. Karena mobilnya itu, sebuah sedan yang sudah berumur, rutin menyambangi sejumlah titik di Jakarta. Sedan itu membuat kyai kita ini mudah ke mana-mana, bahkan tampak sigap dan cepat.

HMI Tegal Kab

Selain mendatangi majelis taklim, Kiai Ishaq juga guru agama di sejumlah yayasan pendidikan agama, dan tentu saja ceramah di acara yang diadakan masyarakat, entah itu kawinan, maulidan, dan lain-lain. Dan penguasaannya yang baik dalam “bahasa orang sekolah”, membuatnya sering diundang ke sekolah-sekolah.

Namun, itu semua tidak berlaku untuk kasus berikut. Satu malam, Hasbullah mengadakan kenduri pertemuan (upacara pelepasan naik haji). 

HMI Tegal Kab

Hasbullah seusia dengan kiai Ishaq. Meski begitu, Hasbullah tetap berguru dan menaruh takzim kepadanya. Hasbullah pernah mengaji dua kitab pada Kyai Ishaq, Riyadlus Shalihin dan Mawahibus Shamad.

Mendengar kabar murid mengadakan kenduri, ia langsung menjulurkan tangan. Kunci mobil diraihnya. Mobil pun melesat cepat dari Gandaria menuju Pondok Pinang Bletan (Timur), kediaman Hasbullah. Tidak jauh, kedua desa ini hanya dipisahkan oleh aliran sungai. Namun, perjalanan akan lama ditempuh dengan jalan kaki karena medan persawahan dan rawa-rawa. Karenanya, Kyai Ishaq memilih mobil, meski harus memutar sedikit jauh.

Sampai di tujuan, masyarakat menghentikan sejenak rangkaian wirid untuk menyongsong kiai. Hasbullah tidak menyana kiai Ishaq datang. Keguggupan Hasbullah sedikit reda setelah menemukan tempat bagi gurunya.

“Ah Ente, kenapa kagak bilang-bilang ada acara?” tanya Kiai kepada muridnya usai pembacaan wirid.“Bukan begitu Kiai, ane khawatir Kiai kerepotan, teganggu,” tanggap Hasbullah sambil menyuguhkan teh pahit.

“Jangan begitu dong. Ente kan ama ana bukan orang lain?” jawabnya enteng sambil merenggut pisang rebus.

Pertemuan ditutup dengan saling mendoakan antara kiai dan muridnya.

Kilasan Kyai Ishaq Yahya

Ishaq Yahya lahir pada 28 April 1928 di Jakarta. Ia mendirikan Pondok Pesantren Miftahul Ulum di halaman rumahnya. Waktunya dihabiskan untuk mengajar dan berorganisasi.

Sejak kecil, ia sangat gemar menuntut ilmu. Tamat di Jamiatul Khair 1949, ia melanjutkan pendidikannya di Mekkah. Di tanah suci, ia menahan diri selama 8 tahun untuk menimba ilmu. Dari kota ini, ia banyak mengambil ilmu dan pengalaman.

Lembaga pendidikan yang dimasukinya adalah Darul Ulum. Nama ini pula yang mengilhami nama pesantrennya di Jakarta. Di lembaga ini, ia belajar kepada banyak guru ahlusunnah wal jamaah. Mereka antara lain Syekh Yasin Alfadani, Guru Muhajirin asal Bekasi, Guru Abdurrazak Makmun asal Mampang, Kiai Ali Syibromalisi asal Mampang, Sayyid Alwy Almaliki, dan lain-lain.

Ia pun aktif dalam NU. Baginya, kiai mesti melek banyak hal, termasuk organisasi. Keorganisasian yang menunjang kekuatan umat, adalah perihal penting. Pendidikannya di Mekkah, menautkannya dengan NU. Karena, banyak kiai NU berjejaring ke Mekkah. Ia Wafat di Jakarta, 28 September 1980 (AlHafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Jadwal Kajian, Habib HMI Tegal Kab

Selasa, 07 November 2017

Muktamar NU 2015 Akhirnya "Kembali" ke Jombang

Jakarta, HMI Tegal Kab. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di kantor PBNU Jakarta, Jum’at (5/12), akhirnya memilih Jombang sebagai tuan rumah Muktamar ke-33 NU yang akan dilaksanakan pada 1-5 Agustus 2015 mendatang.

Muktamar NU 2015 Akhirnya Kembali ke Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar NU 2015 Akhirnya Kembali ke Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar NU 2015 Akhirnya "Kembali" ke Jombang

Rapat berlangsung cukup alot. Beberapa pengurus menyampaikan pendapat masing-masing mengenai tempat muktamar yang paling pas dari tiga wilayah telah? diusulkan dalam munas kemarin, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Utara dan Jawa Timur.

Dari tiga usulan, forum akhirnya menjurus ke dua tempat yakni Medan Sumatera Utara dan Jombang Jawa Timur. Sekitar separuh dari jumlah pengurus mengusulkan perlunya muktamar di Medan dengan alasan utama agar NU tidak terkonsentrasi di Jawa, terutama Jawa Timur.

HMI Tegal Kab

“Sumatera Utara ini juga secara geopolitik dengan negara tetangga Malaysia, Singapura dan Thailand. Ini cukup strategis apalagi pada 2015 akan mulai diberlakukan Masyakarat Ekonomi ASEAN,” kata Wakil Sekjen PBNU H Enceng? Shobirin Najd.

HMI Tegal Kab

Sementara itu usulan pelaksanaan muktamar di Jombang dimaksudkan untuk menggembalikan semangat NU seperti pada awal berdirinya. Para ulama pendiri NU berasal dari Jombang.

Rais Syuriyah PBNU KH Mas Subadar mengatakan, muktamar di Jombang juga sangat penting dalam rangka menggembalikan ruh NU yang akan mendekati usia 100 tahun.

Berdasarkan berbagai pertimbangan, Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri (Gus Mus) akhirnya memilih muktamar dilaksanakan di Jombang. “Sambil muktamar nanti para pengurus NU seluruh Indonesia akan berziarah ke makam para muassis NU,” tambah Gus Mus.

Sebagai jalan tengah Gus Mus, dalam keempatan itu juga menyepakati usulan Ketua PBNU Imam Azis agar berbagai kegiatan pramuktamar dipusatkan di dua alternatif tempat yang diusulkan, yakni NTB dan Sumatera Utara.

Selain menyepakati tempat Muktamar, Rapat Harian yang dipimpin oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj juga menetapkan dua ketua PBNU, masing-masing H Slamet Effendi Yusuf sebagai ketua pengarah (SC) dan H Imam Aziz sebagai ketua pelaksana (OC) muktamar ke-33. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Selasa, 05 September 2017

Siang Berjualan, Malam Kami Bertugas Jaga Keamanan

Jombang, HMI Tegal Kab. Sistem keamanan dalam forum Muktamar merupakan hal yang sangat penting. Banser adalah komponen keamanan bagi warga Nahdliyin. Dalam Muktamar kali ini terdapat Banser inspiratif dari Pasuruan. Ia menyempatkan diri berjualan tanpa mengabaikan tugas pengamanan Muktamar NU.

Siang Berjualan, Malam Kami Bertugas Jaga Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Siang Berjualan, Malam Kami Bertugas Jaga Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Siang Berjualan, Malam Kami Bertugas Jaga Keamanan

Selain menjaga kondusivitas kemanan acara, gabungan dari Banser, Ansor, dan Fatayat Pasuruan ini juga mengembangkan ekonomi kreatif dengan menjajakkan album kaset yang berisikan bermacam Himne dengan video di sudut Alun-alun Jombang, Senin (3/8) pagi.

Qosim, salah satu Banser yang sedang menjaga lapaknya saat itu menjelaskan bahwa kaset video yang berisikan bermacam Himne ini adalah inisiatif dari Banser, Ansor, dan Fatayat Pasuruan. Menurutnya, hasil penjualan kaset ini nantinya akan disalurkan ke organisasi.

HMI Tegal Kab

"Inisiatif ini memang ditujukan untuk ajang Muktamar Ke-33 NU di Jombang. Sementara kami berharap melalui dokumentasi kaset Himne ini, juga dalam rangka pengakderan. Supaya, khalayak masyarakat mengenal bermacam Himne dari NU melalui kaset ini, Insya Allah," ungkapnya.

HMI Tegal Kab

Saat ditanya soal tugas menjaga keamanan acara Muktamar, ia menjelaskan bahwa istirahat para Banser sangat minim. “Bukan apa-apa. Tapi semata untuk menjaga keamanan dan kelangsungan Muktamar ini.”

"Selain itu, kami gabungan dari Banser, Ansor, dan Fatayat Pasuruan, setiap pagi bergantian menjaga lapak kaset Himne ini, sementara petang dan malam harinya kami bertugas," pungkasnya. (Anwar Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian HMI Tegal Kab

Kamis, 31 Agustus 2017

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan

Lazimnya semua peperangan yang terjadi di beberapa belahan bumi sepanjang sejarah, tim medis mempunyai peran sentral dalam memberikan pertolongan kepada para prajurit yang masih bisa diselamatkan. Di antara layanan medis yang sangat penting di medan tempur ialah proses transfusi darah (bloodtransfoesie).

Para pelaku peperangan sebagian besar mengalami pendarahan hebat disebabkan terkena tembak maupun serangan yang lain. Hal ini menjadi perhatian para ulama Indonesia yang tergabung di MIAI (al-Majlisul Islami A’la Indonesia) untuk membahas bagaimana hukum transfusi darah untuk kepentingan perang dan penjajahan.

Organisasi yang merupakan wadah semua kelompok umat Islam Indonesia ini didirikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Ahmad Dahlan (tokoh NU yang pernah menjadi wakil Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam kepengurusan NU 1926) pada 12-15 Rajab 1356 H (18-21 September 1937) di Pondok Kebondalem Surabaya, Jawa Timur. Kedua tokoh pendiri NU itu dibantu oleh KH Mas Mansur Pimpinan Muhammadiyah serta W. Wondoamiseno dari Syarikat Islam (SI).

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan

Para tokoh NU berperan penting dalam kemajuan badan federasi perkumpulan Islam itu. Agenda cukup sentral dalam organisasi tersebut di antaranya Kongres Al-Islam. Namun, para tokoh NU mengubah istilah tersebut dengan Kongres Muslimin Indonesia (KMI) untuk menunjukkan bahwa umat Islam di Indonesia kuat meski terbagi menjadi beberapa kelompok.

Singkatnya, puncak perjuangan MIAI terlihat pada KMI ketiga pada 5-8 Juli 1941 di Solo, Jawa Tengah. Kongres ini didahului sidang pleno Dewan MIAI untuk membahas persoalan penting dan mendesak di antaranya, 1) perubahan tata negara; 2) soal milisi; dan Bloodtransfoesie (pemindahan/transfusi darah). (Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

HMI Tegal Kab

Tentang perubahan tata negara, sidang Dewan MIAI memberikan kesempatan kepada dua pembicara utama, yaitu A.Ghoffar Ismail (Wakil PB PII) dan Abikoesno Tjokrosoejoso (PSII). Untuk masalah milisi-diestplicht, sidang mempersilakan kepada Wakil HBNO/Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Ilyas untuk membuat pertimbangan (konsiderannya). Sedangkan untuk persoalan bloodtransfoesie terjadi perbedaan pendapat yang cukup sengit antara Persatuan Islam (Persis), PB PII, dan HBNO.

Dalam perdebatana tersebut, Persis membolehkan bloodtransfoesie karena hal itu (sama halnya dengan) ikhtiar menolong atau mengobati orang sakit, terutama yang kekurangan darah dengan cara memindahkan darah dari orang yang sehat kepada orang yang sakit. Namun, atas persoalan bloodtransfoesie ini, HBNO dan PB PII memberikan dua alternatif.

HMI Tegal Kab

Pertama, pemindahan darah ke lain tubuh yang kekurangan darah guna pengobatan, maka hukumnya seperti pemberian. Kedua, jika karena pemberian itu akan terjadi suatu perkara terlarang, mislanya untuk peperangan yang tidak diridhoi Allah SWT, maka hukumnya terlarang atau tidak diperbolehkan. Dengan kata lain, hukumnya haram.

Atas argumen syar’i dari HBNO, Kongres Muslimin Indonesia ketiga itu berakhir dengan keputusan bulat, yakni melarang atau mengharamkan bloodtransfoesie untuk kepentingan membantu peperangan Belanda, dan mengharamkan milisi-diestplicht karena perbuatan tersebut berarti membantu penjajah (kolonial). Sedangkan mengenai perubahan tata negara, menuntut Indonesia berparlemen atas dasar pijakan nilai-nilai agama. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hadits, Jadwal Kajian, Doa HMI Tegal Kab

Senin, 06 Februari 2017

Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media

Cimahi, HMI Tegal Kab. Menjadi penggagas dalam menciptakan kota inklusi bukanlah hal yang mudah. Inklusi dalam pengertian mengembangkan lingkungan yang terbuka, mengikutsertakan semua orang, saling merangkul dan menghargai dengan beragam perbedaan dan multi karakter etnik, agama, ras, budaya hingga disabilitas.

Nah, butuh kerja keras dan aksi? nyata dalam mengampanyekan pentingnya inklusi sosial kepada seluruh pihak termasuk masyarakat, pemerintah, dan organisasi sosial kemasyarakatan.

Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Cimahi Adakan Pelatihan Literasi Media

Tidak ada alasan untuk menyerah dan berhenti bergerak. Inilah yang terus diupayakan Lakpesdam NU Cimahi melalui Program Peduli dalam membangun inklusi sosial. Ada banyak agenda dengan berbagai kegiatan, semisal seminar, pelatihan dan kampanye serta aksi turun yang terus digalakkan Lakpesdam NU cimahi dalam mencapai tujuan di atas.

HMI Tegal Kab

Minggu lalu, tepatnya 23-24 Juli 2016, Lakpesdam NU Cimahi mengadakan Pelatihan Literasi Media ke-2. Pelatihan tersebut bertajuk Pengembangan Jurnalisme Warga untuk Perdamaian dan Inklusi Sosial. Hadirnya acara ini bertujuan untuk menguatkan pengetahuan dan keterampilan para aktivis perdamaian untuk bisa memproduksi informasi dan konten tentang inklusi sosial dalam berbagai bentuk.

HMI Tegal Kab

Dengan bertempat di gedung BPPKS Dinas Sosial Cimahi, acara pelatihan literasi media 2 berjalan lancar dengan diikuti oleh peserta yang berasal dari latar belakang agama dan institusi yang berbeda. Tercatat Perwakilan dari IPNU, IPPNU, OMK, Masyarakat Adat Cireunde dan organisasi lainnya turut meramaikan acara tersebut.

Hari pertama, acara pelatihan diisi dengan kegiatan berlatih menulis khususnya menulis tulisan-tulisan yang berisi kampanye perdamaian. Sesi ini difasilitasi oleh seorang dosen dan praktisi perdamaian UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Bambang Q. Anees.

Tidak hanya pelatihan menulis, pada hari kedua, peserta juga diajak untuk berkenalan dan mencoba membuat suatu bentuk media kampanye yaitu video dan design grafis. Dengan difasilitasi oleh Imam Ma’ruf, salah satu pakar media lakpesdam PBNU, peserta mendapatkan ilmu yang luar biasa berharga tentang pembuatan video yang unik dan mudah dibuat.

Dari hasil testimoni para peserta, kebanyakan mengaku sangat antusias mengikuti acara tersebut. Menurut mereka, pelatihan tersebut telah memberi kesadaran bahwa kemampuan menulis ternyata tidak mustahil untuk dilakukan selama menjadikannya kebiasaan. Mereka mengaku akan terus mengembangkan bakat mereka dalam menulis, terkhusus dalam membuat tulisan-tulisan yang bertemakan perdamaian.

Acara tersebut juga memberikan mereka ruang untuk terlibat aktif dalam perbaikan masyarakat dengan salah satunya menjalankan program yang disebut “Design For Change”. Mereka mengatakan bahwa projek tersebut sangat menginspirasi dan harus segera dilaksanakan.

Kesuksesan Lakpesdam NU cimahi dalam menyelenggarakan pelatihan-pelatihan, diskusi, kunjungan dan menginisiasi adanya gerakan pemuda untuk inklusi cimahi (GRADASI) merupakan satu bukti yang nyata bahwa inklusi sosial bukan hanya buaian yang ingin dicapai oleh tim program yang pimpin Diana Handayani.

Pencapaian yang telah dilakukan adalah bukti telah hadirnya gerakan-gerakan inklusi untuk membuat Cimahi yang damai dan bertoleransi. Selamat dan sukses selalu untuk Lakpesdam NU Cimahi! (Yeni Latifah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, Daerah, Jadwal Kajian HMI Tegal Kab

Senin, 02 Januari 2017

Hasyim: Aswaja Harus Diselamatkan

Bandung, HMI Tegal Kab. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyerukan para kader muda NU untuk mensosialisasikan pemahaman yang benar mengenai ajaran ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) baik dalam tataran pemikiran keagamaan maupun implementasi sosialnya.

Saat memberikan taushiyah pada Rapat kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Cigondewah, Bandung, Kamis (30/8) malam, Kiai Hasyim berpesan agar pengertian pengenai Aswaja tidak diselewengkan. “Aswaja harus diselamatkan,” katanya.

“Saya sudah mengkoordinaskan kepada seluruh jajaran kepengurusan syuriah NU untuk menerbitkan kembali dan menyebarkan kembali buku-buku Aswaja yang berisi penjelasan tentang dasar-dasar hukum dari ubudiyah warga NU yang selama sering dibid’ahkan,” kata Kiai Hasyim.

Hasyim: Aswaja Harus Diselamatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Aswaja Harus Diselamatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Aswaja Harus Diselamatkan

Ditambahkan, keragaman budaya telah dikukuhkan keberadaanya di dalam kitab suci Al-Qur’an, Surat Al-Hujurat  (49) ayat 13, yang berkisah mengenai bangsa-bangsa dan suku-suku manusia yang diciptakan untuk saling mengenal. Ayat ini sekaligus menjadi dasar dari nasionalisme.

“Kita ini berfikir dobel, menerapkan ajaran syariat Islam sekaligus mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jadi kemudian dianggap kurang Islam,” katanya tersenyum.

HMI Tegal Kab

Di hadapan delegasi Pimpinan Wilayah IPPNU dan ratusan warga masyarakat sekitar Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Kiai Hasyim mengingatkan kembali adanya bahaya masuknya ideologi politik transnasional, baik dari Timur Tengah maupun dari Barat yang mengacaukan format ketatanegaraan Republik Indonesia.

Ideologi politik transnasional dengan leluasa masuk dan berkembang di Indonesia sejak dimulainya era reformasi. “Jadi kalau masa Orde Baru kita kegerahan karena semua akses ditutup, sekarang kita malah masuk angin karena semua ideologi dari luar masuk,” katanya.(nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Ubudiyah, Berita, Jadwal Kajian HMI Tegal Kab

Rabu, 06 Juli 2016

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka

Jakarta, HMI Tegal Kab. Setiap tahun, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama menggelar sidang itsbat dalam menentukan 1 Syawal. Namun demikian, dalam satu tahun belakangan, pemerintah melakukan sidang itsbat secara tertutup setelah 11 tahun digelar secara terbuka. Hal ini sangat disayangkan oleh PBNU karena sidang itsbat terbuka mempunyai manfaat besar bagi umat.

“Kita menyayangkan sekali dalam satu tahun ini sidang itsbat diadakan secara tertutup. Padahal manfaat sidang itsbat yang disiarkan langsung secara terbuka manfaatnya besar sekali, kami mengimbau kembali dilakukan secara terbuka,” ujar Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A Ghozali Masroeri dalam konferensi pers penentuan 1 Syawal 1436 H, Kamis (2/7) di lantai 5 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta.?

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka

Kiai Ghozali Masroeri menerangkan, paling tidak ada lima manfaat sidang itsbat terbuka, yaitu pertama, manfaat syiar di tengah hiruk-pikuknya informasi negatif di tengah masyarakat. Kedua, lanjutnya, silaturrhim antar ormas, baik secara siaran langsung melalui televisi atau saat sidang itsbat itu.

HMI Tegal Kab

“Ketiga, dengan sidang itsbat terbuka merupakan media pencerdasan umat. Jadi tak hanya pencerdasan di bidang Iptek tetapi juga pencerdasan di bidang pemgetahuan dalam menentukan awal bulan kepada umat. Keempat, mudah diakses oleh umat, cepat dan murah dengan catatan tidak bertele-tele,” paparnya.

Kelima, lanjut Kiai Ghozali, mendorong adanya sikap percaya masyarakat terhadap metode-metode yang digunakan pemerintah. Artinya, imbuh Kiai sepuh ini, dengan manfaat sidang itsbat terbuka, umat lebih memilih mengikuti pemerintah setelah 11 tahun lalu umat selalu mendasarkan diri pada organisasinya masing-masing.

HMI Tegal Kab

“Pemerintah jangan terlalu percaya diri dengan mengatakan bahwa perayaan Idul Fitri akan bersamaan. Karena kenyataannya jalan menuju penyatuan masih terlalu jauh,” jelas Kiai Ghozali. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock