Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur

Kediri, HMI Tegal Kab

Untuk mengenang jasa-jasa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kota Kediri yang didukung oleh Pemkot Kediri, PT Gudang Garam Tbk, Radio On, dan Kediri Jaya.com, menggelar kegiatan pameran lukisan Gus Dur dengan bahan dasar cekakik kopi.



Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Kediri Gelar Pemeran Lukisan Cekakik Kopi Bertema Gus Dur

Pameran resmi dibuka oleh Agus Sunyoto, Wakil Ketua Lesbumi NU, pada Ahad (25/7) kemarin, dan akan berlangsung hingga Rabu (28/7) di Musium Mastrip Perpustakaan Umum Kota Kediri JL Diponegoro.

Acara yang juga dihadiri Pendeta Kabul dari Gereja GBI Getsamani Kediri ini menarik perhatian publik khususnya warga Kota Kediri yang berduyun-duyun datang ke lokasi pameran.

HMI Tegal Kab

“Ini sungguh luar biasa – saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Gus Dur adalah bapak bangsa dan perekat antar umat beragama,” kata Pendeta Kabul seperti dikutip www.kedirijaya.com.

HMI Tegal Kab

Dalam acara ini juga dilaksanakan demo melukis dengan menggunakan bahan dasar cekakik kopi oleh pengunjung.

Bertempatan dengan bulan Jadi Hari Kota Kediri yang ke-1131, 70 lukisan akan dipamerkan, termasuk koleksi lukisan cekakik konjen Jepang di Surabaya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Olahraga, Pesantren HMI Tegal Kab

Rabu, 14 Februari 2018

Sarjana Kampus Agama Harus Memiliki Nilai Lebih

Surabaya, HMI Tegal Kab - Sebentar lagi ribuan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) akan diwisuda. Mereka harus mempersiapkan diri berkiprah t di masyarakat. Untuk itu, ratusan calon sarjana dari Fakultas Adab dan Humaniora serta Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA dibekali pengetahuan karir dunia kerja.

"Banyak orang sukses berangkat dari keprihatinan," kata KH Farmadi Hasyim, Selasa (1/3). Oleh sebab itu, Kiai Farmadi, sapaan akrabnya, berharap agar para calon sarjana yang sebentar lagi diwisuda untuk siap hidup apa adanya, tanpa terbebani dengan gelar yang disandang. "Kebanyakan mereka yang telah lulus berharap menjadi orang besar dan berlagak gengsi menggeluti sejumlah kiprah," kata Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Jawa Timur ini.

Sarjana Kampus Agama Harus Memiliki Nilai Lebih (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarjana Kampus Agama Harus Memiliki Nilai Lebih (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarjana Kampus Agama Harus Memiliki Nilai Lebih

Cukup banyak sarjana yang tidak siap mental ketika telah merampungkan studi. "Gelar sarjana bukan menjadi pelecut dalam berkhidmat, malah justru sebagai beban dalam hidup," kata kandidat doktor di UINSA ini.

HMI Tegal Kab

Di hadapan civitas akademika dan para alumni kedua fakultas tersebut yang didaulat sebagai narasumber, Kiai Farmadi berharap agar ilmu yang telah diraih selama kuliah dapat diamalkan minimal untuk diri sendiri. "Itu minimal peran yang harus diambil. Apalagi kalian sarjana dari kampus agama," katanya. Dan bila memang mampu serta dipercaya khalayak, maka ada baiknya ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama belajar dapat didermabhaktikan di lingkungan sekitar , lanjutnya.

Yang juga tidak kalah penting, para sarjana hendaknya memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan jangan mersa dirinya lebih unggul dari masyarakat dan komunitas yang ada. "Hal tersebut akan kontra produktif dengan niatan mulia seorang yang memiliki gelar akademik dan memiliki ilmu serta keterampilan," katanya memberikan alasan.

HMI Tegal Kab

"Kalian harus terus mengasah kemampuan dengan berinteraksi kepada berbagai kalangan," pesannya. Sebagai ilustrasi, Kepala Seksi Haji dan Umrah Kementerian Agama Kota Surabaya ini kemudian mengibaratkan dengan pisau. "Meskipun harganya murah, kalau sering diasah maka pisau akan menjadi tajam dan berdaya guna," ungkapnya.

Mental menjadi pegawai dan mencari pekerjaan juga harus dikesampingkan. "Justru kalian harus berupaya memanfaatkan jaringan dan keahlian, demikian pula disiplin keilmuan yang dimiliki untuk menciptakan peluang kerja," katanya. Sudah bukan zamannya lagi para sarjana berburu pekerjaan, malah idealnya menyediakan kesempatan kepada banyak kalangan untuk dioptimalkan menjadi kekuatan bagi terwujudnya kesempatan kerja baru. "Itulah nilai lebih sarjana dari kampus agama," tegasnya.

Sedangkan pesan terakhir dari penceramah yang kerap mengisi pengajian di sejumlah media baik televisi, radio dan majlis taklim ini agar para sarjana jangan mudah menyerah. Setiap ikhtiar pastinya akan diuji dengan kegagalan dan penolakan. "Akan tetapi, jadikan semuanya sebagai pelecut keberhasilan di kemudian hari," pungkas dai yang bulan depan mengisi tabligh akbar di Brunei Darussalam ini. (Ibnu Nawawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Olahraga, Daerah, Sejarah HMI Tegal Kab

Selasa, 06 Februari 2018

Kiai Dikeroyok Lima Orang, Hingga Kini Pelaku Masih Buron

Cianjur,HMI Tegal Kab

Para pelaku penganiayaan terhadap kiai di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat sampai saat ini masih bisa menghirup udara bebas. Polisi masih belum mampu meringkusnya. Salah seorang yang diduga pelaku pun, kini dibebaskan dengan alasan tidak cukup bukti.

Sebagaimana diketahui, seorang kiai di Cianjur atas nama Hasyim Asari bin KH Opan Sopyan, pengasuh Pondok Pesantren Al-Muin, Cibangban, Warungkondang dikeroyok empat orang pada Senin (28/6) atau tiga hari puasa Ramadhan. Ia adalah kiai yang hafiz Al-Qur’an 30 juz kelahiran 1987.

Kiai Dikeroyok Lima Orang, Hingga Kini Pelaku Masih Buron (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Dikeroyok Lima Orang, Hingga Kini Pelaku Masih Buron (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Dikeroyok Lima Orang, Hingga Kini Pelaku Masih Buron

Menurut kuasa hukum korban, Elis Rahayu, berdasarkan laporan korban, pelaku berjumlah lima orang. Mereka melakukan pengeroyokan dengan cara memukuli secara bersama-sama menggunakan kepalan tangan ke bagian muka dan kepala korban. Seorang pelaku memukul menggunakan sebuah batu ke kepala bagian belakang korban.

HMI Tegal Kab

Atas kejadian tersebut, korban mengalami luka sobek di bagian alis sebelah kanan, luka sobek di kepala bagian belakang, luka sobek di bagian bibir dan luka memar di pipi sebelah kanan. ?

“Hingga hari ini korban masih dalam perawatan. Ia masih sakit fisik, psikis dan mental akibat kejadian itu,” katanya kepada HMI Tegal Kab di kantor PCNU Kabupaten Cianjur, Senin (12/6). ?

HMI Tegal Kab

Elis menceritakan kronologi pengeroyokan itu. Mulanya Hasyim menegur seorang anak yang membakar mercon di yang dilemparkan ke rumah Hasyim.

“Anak itu tidak dipukul. Hanya memberi tahu dan menanyakan kenapa anak itu melakukan itu,” cerita aktivis Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama Kabupaten Cianjur itu.?

Lalu, anak itu menangis sambil berlari. Kemudian anak itu melaporkan bahwa ia dicekik korban kepada orang tuanya. Mendengar laporang itu, orang tua tidak menerima. Ia mendatangi korban hingga terjadi perkelahian.

Si orang tua kemudian mundur dari perkelahian itu. Namun, tidak sampai di situ. Ia menghubungi saudara-saudaranya untuk kembali mendatangi korban. Terjadilah pengeroyokan lima lawan satu.? ?

Dari kejadian tersebut, menurut Elis, kasus itu bisa dijerat dengan pengeroyokan berencana di muka umum.

Dan yang palinng memilukuan, lanjut jebolan Jurusan Ahwalus Syakhsiyah Fakultas Syariah dan Hukum Univeristas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung 2002, setelah korban dikeroyok, dipaksa pelaku untuk meminta maaf.

“Saat ini kasus tersebut telah dialihkan dari Polsek Warungkondang ke Polres Cianjur,” pungkas perempuan yang pernah menjadi aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu. (Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Olahraga, Nasional, News HMI Tegal Kab

Minggu, 04 Februari 2018

Kurban, Cinta Menundukkan Rasionalitas Nabi Ibrahim

Oleh Ahmad Khoiri

Salah satu bukti kontinuitas Islam dengan agama (millah) sebelumnya ialah adanya adopsi ajaran agama sebelumnya ke dalam Islam. Ini, umpamanya, dapat dilihat dalam perayaan Hari Raya Idul Adha. Perayaan setiap tanggal 10 Dzulhijjah ini merupakan momentum mengingat kembali ketulusan cinta Ibrahim AS sang khalil Allah, dalam mengorbankan putranya Ismail demi perintah Allah SWT melalui mimpinya.

Kurban, Cinta Menundukkan Rasionalitas Nabi Ibrahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurban, Cinta Menundukkan Rasionalitas Nabi Ibrahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurban, Cinta Menundukkan Rasionalitas Nabi Ibrahim

Di sini tidak hendak membahas bagaimana penanggalan peristiwa penyembelihan Ibrahim terhadap Ismail jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah sedangkan ketika itu kalender Hijriah belum ada, juga tidak akan membahas persoalan diskursif seputar apakah yang disembelih (al-dzabih) Ismail atau Ishak. Namun fokus tulisan ini ialah bagaimana kemudian spirit kecintaan seorang manusia terhadap Rabb-nya mampu menundukkan rasionalitas yang melekat dalam dirinya. Manusia tersebut tidak lain ialah bapak para Nabi, Ibrahim AS.

Berbicara tentang rasionalitas, kita pasti akan ter-mindset pada sederetan nama bapak logika seperti Thales (624-548 SM), filsuf asal Yunani yang telah meletakkan dasar-dasar berpikir logis atau kepada Abu Nashr al-Farabi (873-950 M), filsuf Muslim yang mendapat gelar Sang Guru Kedua karena telah menyalin logika Yunani Aristoteles dan memberikan ulasan serta komentar. Padahal jauh sebelum itu, sekitar lima belas abad sebelum filsuf-filsuf tersebut muncul, Nabi Ibrahim telah menjadi manusia dengan dengan nalar rasional yang menakjubkan. Demikian karena menurut Karen Armstrong, Nabi Ibrahim hidup pada abad kedua puluh sebelum Masehi.

Pendapat atas rasionalitas Nabi Ibrahim terekam dalam beberapa ayat al-Quran. Dalam pembuktian empiris tentang bagaimana Allah menghidupkan yang mati, misalnya, terekam jelas dalam surah al-Baqarah ayat 260. Nabi Ibrahim AS meminta kepada Allah agar Dia memperlihatkan kepadanya bagaimana cara Allah menghidupkan sesuatu yang mati. Tuntutan Ibrahim di sini bukanlah menampakkan bahwa intuisi seorang nabi seperti dirinya tidak mampu meyakinkan kekuasaan Allah, namun lebih tepat merupakan penjabaran secara implisit bahwa di samping intuisi sebagai hujjah kenabiannya, Ibrahim tidak mengesampingkan pikiran rasional-empiris. Allah pun mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim, sebagaimana dalam ayat tersebut.

HMI Tegal Kab

Kecerdasan nalar rasional Ibrahim tidak hanya itu. Al-Quran melukiskan bagaimana perdebatannya dengan seorang raja yang mengaku Tuhan. Dalam beberapa kitab tafsir raja yang mendebat Nabi Ibrahim tersebut adalah Namrud bin Kanan al-Jabbar. Ketika perdebatan berlangsung, Namrud meminta Ibrahim membuktikan ketuhanan Allah. Nabi Ibrahim menjawab bahwa Dialah Allah yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Sang raja merasa menang melawan hujjah Nabi Ibrahim dengan membunuh orang di sampingnya, membuktikan bahwa dia juga bisa membunuh. Namun kemudian Ibrahim mengatakan bahwa Allah yang menerbitkan matahari dari arah timur ke barat dan meminta Namrud menerbitkannya dari barat. Ketika itu pun sang raja kalah hujjah. Cerita ini Allah lukiskan dalam surah al-Baqarah ayat 258.

Di samping kedua kisah tersebut, kisah pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim merupakan bukti paling gamblang bahwa nalar rasionalnya tidak mudah ditundukkan. Ini dilukiskan al-Quran secara panjang dalam surah al-Anam ayat 74-78. Bermula dari ketidakterimaan akalnya melihat Azar (nama panggilan ayahnya, dalam sebagian literatur dikatakan bahwa dia adalah paman Ibrahim) menyembah berhala (ashnam) yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa memberi manfaat atau pun mudarat. Nabi Ibrahim akhirnya mantap diri menemukan Tuhannya, Sang Pencipta langit dan bumi, dan menganut teologi monoteistik (hanif) setelah rangkaian peristiwa rasional yang terekam secara indah pada ayat 76, 77 dan 78.

HMI Tegal Kab

Ketajaman pikiran rasional Nabi Ibrahim AS dalam beberapa ayat al-Quran di atas tidak lantas menjauhkan dirinya dari kebenaran, tetapi justru membawanya ke dalam imanensi akan yang haqq. Juga, rasionalitas Nabi Ibrahim tidak melenyapkan kemantapan terhadap kebenaran yang transenden seperti sebuah mimpi.

Suatu ketika Nabi Ibrahim bermimpi (ruyah) menyembelih putranya. Putra kesayangannya, yang merupakan hasil doa Ibrahim kepada Allah harus dikorbankan. Karena khawatir putranya tidak mau melaksanakan cobaan berat ini, dia mencoba meminta persetujuan terlebih dahulu. Putra Nabi Ibrahim setuju dan sabar, namun ketika hendak disembelih Allah mengganti putra Nabi Ibrahim dengan domba. Imam al-Thabari berpendapat bahwa domba yang menjadi pengganti adalah domba yang dikurbankan Habil, putra Nabi Adam, yang Allah menyimpannya di surga.

Jika muncul pertanyaan, bagaimana mungkin sosok Nabi Ibrahim yang rasionalis bisa langsung percaya dengan validitas sebuah mimpi (ruyah), lebih-lebih untuk menyembelih putra kesayangannya? Maka jawabannya adalah; cinta.

Kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah jauh melebihi kecintaan kepada putranya. Cinta tersebut yang telah menundukkan rasionalitasnya demi membenarkan mimpi yang sama sekali irasional. Pengorbanan Nabi Ibrahim dalam membenarkan mimpi adalah manifestasi kecintaan kepada Allah yang tidak tertandingi apa pun.

Putra Nabi Ibrahim adalah simbol dari sesuatu yang paling dicintai, tetapi jika demi ridha Allah SWT, maka apapun mesti dilakukan, sekalipun harus kehilangan sesuatu yang paling dicintai. Namun dalam konteks sekarang, kecintaan seringkali malah membuat enggan untuk mengorbankan sesuatu yang dicintai. Tidak heran, ketika sebagian orang yang secara finansial mampu untuk berkurban enggan melakukannya.

Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IQT) di STAIN Pamekasan.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Olahraga, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Senin, 29 Januari 2018

Forum Pesantren Se-Jateng Bahas Persoalan Kebersihan Pesantren

Semarang, HMI Tegal Kab

Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) wilayah Jawa Tengah H Abu Choir selaku pembicara menegaskan, An-Nadhafatu minal iman (kebersihan adalah sebagian dari iman) merupakan etika santri. Kebersihan merupakan sunnah Nabi, pelajaran etika, dan lingkungan yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW.?

Kebersihan inilah yang menjadi pembahasan dalam Pembahasan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat (PBPS) menjadi diskusi antara ketua FKPP cabang se-Jawa Tengah, Senin (29/2).

Forum Pesantren Se-Jateng Bahas Persoalan Kebersihan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Pesantren Se-Jateng Bahas Persoalan Kebersihan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Pesantren Se-Jateng Bahas Persoalan Kebersihan Pesantren

"Kebersihan menjadi gerbang hadirnya kesehatan pesantren, baik jasmani maupun rohani," papar pengurus Rabithah Maahid Islamiyyah NU Jateng itu.

?

HMI Tegal Kab

Bila kita tilik, tambahnya, dahulu para kiai mendirikan pesantren mengajarkan kebersihan sebagai laku utama. Petuah kiai mengajarkan bahwa bersih lingkungan dan suci batin menjadi identitas kaum santri. Ditambah nilai-nilai kebersihan di pesantren mengandung dimensi fisik, etik, estetik, dan spiritual.

?

Kalau dikaitkan dengan gerakan AyoMondok yang diusung berbagai elemen yang dimotori PP RMINU, hal ini bisa menjadi gerakan lanjutan untuk penguatan dari dalam bagi pesantren. Gerakan PBPS ini perlu ditindaklanjuti, karena efeknya akan cukup signifikan dalam membangun kepercayaan masyarakat.

?

PBPS ini terdiri atas pelatihan manajemen kebersihan, membentuk relawan kebersihan pesantren, sertifikasi manajemen PBPS oleh FKPP Jateng (ada bisyaroh bagi yang berhasil: sertifikat, fasilitasi, menjadi profil di website, dan rujukan pesantren lain).?

HMI Tegal Kab

Selian itu, imbuh Abu Choir, gerakan cinta PBPS dengan mengunjungi pesantren atau kegiatan tertentu, melakukan aksi bersih-bersih bersama relawan kebersihan. Hal ini secara tidak langsung akan merubah paradigma yang berkembang di pesantren tentang kebersihan.

?

"Merubah maindset warga pesantren tentang kebersihan ditambah menemukan tips dan trik manajemen lingkungan dan kebersihan pesantren karena karakter tiap pesantren berbeda-beda," tutup Abu Choir. (M Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Olahraga, Lomba HMI Tegal Kab

Tanamkan Kepedulian Siswa dengan Kemah Bakti

Solo, HMI Tegal Kab. Ratusan siswa dari Sekolah Dasar (SD) Ta’mirul Islam mengikuti kegiatan kemah Pramuka, selama dua hari (18-19/10). Acara yang diselenggarakan di Lapangan Kelurahan Gedangan Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo ini dirangkaikan dengan acara bakti sosial.

Kepala Sekolah SD Ta’mirul Islam, Slamet, menerangkan kegiatan kemah bakti ini merupakan acara rutin yang dihelat setiap setahun sekali pasca-agenda UTS (Ulangan Tengah Semester) I. “Harapannya dengan mengikuti kegiatan ini, anak-anak dapat lebih fresh pikiran mereka. Sekaligus juga dapat menanamkan rasa sosial kepada para siswa,” terang Slamet.

Tanamkan Kepedulian Siswa dengan Kemah Bakti (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanamkan Kepedulian Siswa dengan Kemah Bakti (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanamkan Kepedulian Siswa dengan Kemah Bakti

Dalam kegiatan yang bertajuk “Membangun Semangat Patriotisme, Bertanggung Jawab dan Berjiwa Sosial” ini para siswa medapatkan banyak pengalaman, mulai dari berlatih mendirikan tenda hingga ketrampilan lainnya.

HMI Tegal Kab

Ghazi Ata, salah satu siswa menuturkan kesannya usai mengikuti acara kemah ini. “Senang sekali dengan kegiatan ini. Paling seru saat ikut widegame, regu kami mesti melewati beberapa pos untuk menjadi yang terbaik,” ungkap siswa Kelas VI tersebut.

Acara kemah ditutup pada Ahad siang, dengan penyerahan hadiah untuk sejumlah regu yang memenangkan beberapa kategori lomba. (Ajie Najmuddin/Anam)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Budaya, Warta, Olahraga HMI Tegal Kab

Jumat, 26 Januari 2018

Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan

Demak, HMI Tegal Kab

Pimpinan anak canang (PAC) IPNU-IPPNU Mranggen, Demak, Jawa Tengah akan menggelar seminar pelajar pada Minggu (14/5) mendatang di Aula Yayasan Pondok Pesantren Al Ghozali Kebonbatur Mranggen asuhan KH Zaini Mawardi.

Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan

Seminar yang pesertanya dari pelajar Madrasah Aliyah, SMA dan SMK se-Kecamatan Mranggen tersebut mengangkat tema "Buka-bukaan Pendidikan" dengan narasumber yang akan dihadirkan diantaranya KH Ali Mahsun, Rais Syuriah MWCNU Mranggen, dan Hariyadi, pengawas pendidikan dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kecamatan Mranggen.

"Dalam seminar nanti akan mengundang seluruh pelajar Madrasah Aliyah dan SMA se-Kecamatan Mranggen serta Muspika," ujar Shofhal Jamil, ketua panitia, kepada HMI Tegal Kab (2/5).

Dalam seminar nanti, lanjut Jamil, akan membahas mengenai seluk-beluk pendidikan yang ada di Kecamatan Mranggen, sehingga hasil dari seminar setiap elemen pendidikan diharapkan bisa berubah menjadi lebih baik.

HMI Tegal Kab

"Dalam pandangan masyarakat, pendidikan sekarang hanya menjadi acuan untuk mencari kerja seusai mengenyam pendidikan, terutama formal," ucap Jamil.

Jamil menambahkan, bahwa sistem pendidikan saat ini sudah jauh keluar dari esensi pendidikan itu sendiri. Sehingga, nilai-nilai moral pendidikan tak jarang menjadi terabaikan. Tujuan utama pendidikan sebagai upaya menambah pengetahuan pun menjadi buram karena yang menjadi acuan hanyalah bagaimana pelajar mendapatkan pekerjaan setelah selesai mengenyam pendidikan formal.

"Dengan tema tersebut, kami mencoba merubah mindset masyarakat antara pendidikan dan kerja. Selain itu, sistem pendidikan sendiri sampai saat ini dirasa masih belum relevan. Sehingga, muncul solusi cemerlang dari seminar itu," imbuh Jamil.

HMI Tegal Kab

Sementara itu Syaefuddin Ahmad, Ketua IPNU PAC Mranggen mengungkapkan, bahwa seminar yang akan digelar nantinya, merupakan seminar yang ketiga kalinya. "Seminar pertama kami membahas mengenai pendidikan moral, seminar kedua membahas bahaya narkoba, hal itu kami laksanakan sebagai upaya membekali pelajar," ujar dia.

Ia menambahkan, bahwa IPNU-IPPNU Mranggen sangat konsen dalam mengusung kualitas kader dari sisi keaswajaan maupun intelektual. Dengan harapan sebagai kader pelajar NU, outputnya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. "Salah satu meningkatkan kualitas kader. Kami gelar seminar dan diskusi-diskusi kontemporer," pungkasnya. (A. Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pendidikan, Humor Islam, Olahraga HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock