Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

IPNU-IPPNU Siapkan Mental Hadapi UN

Malang, HMI Tegal Kab. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Bululawang, Malang, menggelar kegiatan bertajuk “Motivasi dan Doa Bersama” di SMP NU Bululawang, Malang, Rabu (4/4). Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan kesiapan mental bagi para siswa terutama yang menganggap UN sebagai momok yang menakutkan.

IPNU-IPPNU Siapkan Mental Hadapi UN (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Siapkan Mental Hadapi UN (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Siapkan Mental Hadapi UN

Untuk memberikan motivasi kepada para peserta UN, IPNU-IPPNU setempat menghadirkan narasumber yang berpengalaman dan bersertifikat yang bergerak di bidang emosional spiritual quotient (ESQ). Para narasumber tergabung dalam Moster atau Motivasi Spiritual Center yang digawangi oleh Sekretaris pengurus Cabang IPNU Kota Malang, Mufarrihul Hazin.

Ujian Nasional sampai saat ini menjadi momok yang menakutkan, bukan hanya bagi para peserta didik, tetapi juga orang tua murid dan guru. Ketika telah memasuki kelas 3 maka bayang-bayang UN semakin menakutkan. Semakin dekat pelaksanaan UN, soal-soal latihan terasa semakin susah.

HMI Tegal Kab

Tak heran banyak siswa yang mengikuti kegiatan ini menangis histeris, terutama pada saat doa bersama.

HMI Tegal Kab

“Saya senang sekali dan heran anak-anak saya khususnya yang nakal-nakal malah menangis lebih histeri Harapan saya semoga acara seperti ini tetap berlanjut,” tutur Mahmudi, Kepala Sekolah SMP NU Bululawang.

Narasumber mengingatkan, para siswa harus melawan momok yang menakutkan itu. Para siswa harus berani, siap dan penuh percaya diri menghadapi momok tersebut.  

Kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan mengenai IPNU dan IPPNU dalam upaya kaderisasi dan  regenerasi organisasi melalui komisariat IPNU-IPPNU di sekolah. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Afifuddin Ibad

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat HMI Tegal Kab

Senin, 12 Februari 2018

PMII UPI Kenalkan Aswaja kepada Anggota Baru

Bandung, HMI Tegal Kab. Sebanyak 31 mahasiswa mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) Pengurus Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Mapaba bertajuk “Membentuk Kader PMII agar Tanggap terhadap Tantangan Global sesuai dengan Nilai-nilai Aswaja” tersebut berlangsung Jumat-Ahad (13-15/3), di kantor PWNU Jawa Barat di Jalan Terusan Galunggung No. 9, Kota Bandung, Jawa Barat.

PMII UPI Kenalkan Aswaja kepada Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UPI Kenalkan Aswaja kepada Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII UPI Kenalkan Aswaja kepada Anggota Baru

Irfan Iskandar, ketua panitia Mapaba, menjelaskan bahwa tema Mapaba kali ini dimaksudkan untuk menanamkan keyakinan kepada peserta tentang PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang tepat untuk mengembangkan diri mahasiswa di era global, serta tanggap akan isu-isu sosial di lingkungan sekitar.

HMI Tegal Kab

“Menanamkan keyakinan bahwa PMII adalah organisasi mahasiswa Islam yang tepat untuk memperjuangkan idealisme, memiliki keyakinan bahwa apa yang diperjuangkan PMII adalah suara bangsa Indonesia, mengikuti Aswaja sebagai prinsip pemahaman, pengalaman, dan penghayatan Islam di Indonesia di era global,” jelas Irfan.

HMI Tegal Kab

Dia menekankan, Mapaba mampu menjadi media untuk mengembangkan serta membangun kesadaran, terutama tanggung sosial yang perlu disadari oleh mahasiswa. Adapun materi yang disajikan kepada para calon anggota baru meliputi Paradigma PMII, Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial, Aswaja, Gender, Sejarah Kebangkitan Nasional, Nilai Dasar Pergerakan, Antropologi Kampus, Manajemen Aksi, dan Manajemen Organisasi.

Dalam kesempatan yang sama, Ridwan Hidayat, Sekretaris Pengurus Cabang PMII Kota Bandung mengatakan bahwa kaderisasi di kampus umum, apalagi negeri? memang lumayan sulit. Pengalamannya sebagai kader PMII UPI, bahwa kampus tempat dia studi terdapat kondisi dan kultur yang tidak mendukung bagi mahasiswa untuk mengikuti organisasi ekstra kampus.

“Secara potensi banyak, hanya saja (kendalanya) seperti itu, tuntutan kuliah dan akademis membuat kemauan organisasi cenderung melemah,” ungkap mahasiswa jurusan Pendidikan Islam UPI itu.

Melalui Mapaba ini, dia berharap akan tercipta anggota PMII yang siap menghadapi berbagai tantangan, baik di kampus, masyarakat, dan secara luas tantangan global. “Dan diharapkan anggota baru ini dapat mengimplementasikan nilai-nilai Aswaja sebagai landasan dalam pergerakan dan perjuangannya,” pungkasnya.? (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat HMI Tegal Kab

Rabu, 07 Februari 2018

Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja?

Assalamu’alaikum. Pak Ustadz, saya bekerja di Jakarta sejak tahun 2005 lalu dan sekarang tinggal di Depok bersama keluarga. Setiap akhir Ramadhan saya rutin pulang ke kampung halaman saya di Probolinggo, Jawa Timur. Yang ingin saya tanyakan apakah zakat fitrah saya nanti lebih baik disalurkan di Depok (mengingat saya setiap hari tinggal di sana dan di sana juga banyak masyarakat yang berhak menjadi mustahiq zakat), atau lebih baik saya sampaikan zakat fitrah untuk saya dan anak istri saya di Probolinggo? Syukron atas jawabannya. (Sobirin M.)

Jawaban

Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja? (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja? (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja?

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa hukum zakat fitrah itu adalah wajib. Salah satu hadits yang menjadi dasarnya adalah hadits berikut ini:

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ?, ? ? ? ?: ? ? ?, ?, ?, ?, ?, ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

“Dari Ibnu ‘Umar ra ia berkata, Rasulullah saw mewajibkan zakat fithr satu sha` dari kurma atau satu sha` dari gandum baik kepada budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kalangan orang muslim. Dan Rasulullah saw memerintah zakat tersebut ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk menunaikan sahalat ‘id." (Muttafaq ‘alaih)”.

Kewajiban menunaikan zakat fitrah harus memenuhi tiga syarat. Yaitu, Islam, terbenamnya matahari pada akhir puasa Ramadlan (meskipun hukumnya boleh disalurkan di bulan Ramadhan), dan adanya kelebihan makanan pokok baginya dan keluarganya pada hari itu (malam idul fitri).

Sedang mengenai penyaluran zakat menurut mayoritas ulama berpendapat harus diberikan di tempat kita tinggal dan tempat mencari nafkah. Namun menurut madzhab Hanafi boleh zakat tersebut disalurkan ke daerah lain.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Jika didapati golongan penerima zakat atau sebagiannya di suatu wilayah maka wajib memberikan zakat kepada mereka baik wilayah itu luas maupun kecil, dan haram memindahkan zakat ke tempat lain dan tidak diperbolehkan kecuali oleh madzhab hanafi yang berpendapat atas kebolehannya. Pendapat madzhab Hanafi kemudian dipilih oleh banyak ulama (ashab) dari kita khususnya ketika penyalurannya diberikan kepada keluarga dekat, teman atau orang yang memiliki keutamaan. Dan mereka berkata, dengan model seperti itu gugurlah kewajiban zakatnya. Dengan demikian ketika zakat itu didistribusikan ke keluar daerah disertai mengikuti aturan yang terdapat dalam madzhab Hanafi itu diperbolehkan. Inilah yang menjadi dasar kami dan selain kami dalam mempraktikkannya. Karena terdapat beberapa alasan”. (Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, Bairut-Dar al-Fikr, tt, h. 217)

Pandangan madzhab Hanafi yang memperbolehkan pemindahan distribusi zakat ke daerah lain itu juga dikemukakan oleh Wahbah az-Zuhaili:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Madzhab Hanafi berpendapat, memindahkan distribusi zakat dari satu wilayah ke wilayah lain hukumnya makruh tahzih (boleh), kecuali pemindahan tersebut diberikan kepada keluarga dekatnya yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka, ke suatu kaum yang paling membutuhkannya, yang lebih baik, yang lebih wirai, yang lebih bermanfaat buat kalang muslim, atau dari dar al-harb (wilayah perang) ke dar al-islam, kalangan penuntut ilmu, orang-orang yang zuhud, atau zakat tersebut disegerakan penunaiannya sebelum masa haul tiba. Dalam konteks ini maka tidak makruh untuk memindahkan distribusi zakat ke wilayah lain. Dan seandainya pemindahan zakat tersebut bukan dalam konteks ini maka boleh karena penerima zakat adalah orang-orang faqir secara mutlak”. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-3, 1409 H/1989 M, juz, 2, h. 892)

Penjelasan singkat ini jika ditarik dalam konteks pertanyaan di atas maka dapat dipahami bahwa pada dasarnya pemindahan distribusi zakat fitrah dari tempat tinggal sekaligus tempat mencari nafkah tidak diperbolehkan. Jadi lebih baik disalurkan di tempat tinggal dan tempat bekerja, atau sebelum mudik atau pulang kampung.

Tetapi hal ini diperbolehkan dalam pandangan madzhab Hanafi dengan catatan zakat fitrah diberikan kepada orang-orang dengan kriteria yang telah dijelaskan dalam madzhab Hanafi, atau zakat fitrah itu diberikan sebelum jatuh temponya (haul). Dan jika demikian maka pemindahan distribusi zakat tersebut ke daerah lain dihukumi makruh tanzih atau boleh-boleh saja.

Namun pendapat madzhab Hanafi ini dapat diamalkan sepanjang kita mengikuti aturan main yang terdapat dalam madzhab Hanafi. Seperti misalnya zakat fitrah diberikan kepada kerabat kita di kampung yang membutuhkan atau orang-orang yang lebih membutuhkan. Jadi yang menjadi pertimbangan dalam hal kebolehan pemindahan distribusi zakat ke daerah lain adalah kemaslahatan atau kemanfaatan.

Demikian jawaban dapat kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat. Dan sebelum memutuskan untuk memindahkan zakat fitrah ke kampung halaman maka sebaiknya mempertimbangkan aspek kemaslahatannya. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat HMI Tegal Kab

Senin, 29 Januari 2018

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa

Bandung, HMI Tegal Kab

Peran mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai kaum muda intelektual yang menjadi estafet ulama akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat sebagai generasi yang aktif, inovatif dan kreatif. Sehingga bisa membawa NU dan Indonesia yang akan datang harus lebih baik.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj saat mengisi pembukaan Musyawarah Nasional Ke-2 Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung, Jum’at (22/1).

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa

Kiai Said mengajak kaum muda NU untuk memahami berbagai permasalahan yang dihadapi oleh NU dan bangsa Indonesia di masa sekarang dan mendatang. “Harus ada perubahan supaya kalian bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tuturnya dihadapan ratusan mahasiswa NU yang hadir pada acara tersebut.

Sementara itu, Kepala Biro Pelayanan Dasar Setda Provinsi Jawa Barat H Dady Iskandar mengatakan, kehadiran dan peran NU di Jawa Barat sebagaimana dalam Indonesia merupakan komponen yang tidak bisa dipisahkan, apalagi mayoritas kaum muslim di Jawa Barat adalah kaum Nahdliyyin.?

“Baik buruk, jasad maupun ruhnya muslim Jawa Barat yang di dalamnya termasuk kaum Nahdliyyin akan sangat menentukan maju atau mundurnya muslim di Jawa Barat,” ungkapnya membacakan sambutan dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

HMI Tegal Kab

Pihaknya meminta kepada mahasiswa, masyarakat, ulama dan pemerintah untuk senantiasa bahu-membahu menghadapi tantangan Indonesia ke depan. “Sekaligus Keluarga Mahasiswa NU melakukan gerakan untuk menghadirkan tatanan masyarakat madani,” harapnya.

Senada dengan sebelumnya, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat H Eman Suryaman menilai Indonesia kini menghadapi berbagai tantangan global, khususnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang saat ini sudah bergulir.

HMI Tegal Kab

Sehingga Eman meminta kepada kaum muda NU untuk ikut berperan aktif menghadapi tantangan tersebut dengan menggunakan ilmu pengetahuan. “Kita jangan jadi penonton, tapi juga pelaku,” terang pria asal Cirebon itu.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Furqon memaparkan bahwa suatu saat nanti Indonesia akan mengalami bonus demografi yang puncaknya diperkiraan sekitar tahun 2035.

Menurutnya, Indonesia yang kini menempati urutan ke-7 negara dengan kemajuan ekonomi bisa menjadi nomor satu tatkala generasi muda menyiapkan sumber daya manusianya. “Apalagi kader muda NU, harus tampil di depan,” tegas Prof Furqon yang menyambut baik terselenggaranya Munas Ke-2 KMNU di UPI. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat, Internasional, Kajian Islam HMI Tegal Kab

Minggu, 21 Januari 2018

PBNU Mendorong Perubahan Paradigma Tata Kelola SDA di Indonesia

“Ada tiga macam sumber alam, itu harus direbut kembali, dipakai untuk memakmurkan Bangsa kita…Satu, sumber hutan; kedua, sumber pertambangan dalam negeri; tiga, sumber kekayaan laut.” [Gus Dur]

Muqaddimah

PBNU Mendorong Perubahan Paradigma Tata Kelola SDA di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Mendorong Perubahan Paradigma Tata Kelola SDA di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Mendorong Perubahan Paradigma Tata Kelola SDA di Indonesia

Konflik Sumber Daya Alam (SDA) adalah salah satu masalah terbesar di Indonesia. Berbagai konflik yang melibatkan banyak pihak baik antara perusahaan dengan warga maupun warga dengan aparat keamanan tak jarang diwarnai intimidasi dan kekerasan yang memakan korban pihak-pihak yang terlibat. Bahkan akibat meluasnya intensitas dan kedalaman konflik itu berlangsung, telah terbukti  menyebabkan kerugian sosial, budaya dan ekonomi yang tak ternilai harganya.

HMI Tegal Kab

Kami menyadari bahwa sikap parsial dan reaktif dalam menyelesaikan konflik SDA tidak lagi memadai, tanpa mencari akar permasalahan konflik itu sendiri. Dalam pengelolaan sumber daya alam, sistem pengelolaan SDA yang sangat kapitalistik meletakkan korporasi sebagai pihak yang dominan dalam menentukan hitam-putih jalannya operasi dan pengelolaan tanpa mau mendengarkan aspirasi masyarakat setempat. Triad negara-korporasi-masyarakat yang tadinya dibayangkan memiliki kekuatan yang setara dengan negara sebagai regulator, pada kenyataannya tidaklah demikian. Korporasi mendominasi, diikuti oleh negara yang seringkali tunduk pada korporasi, dan masyarakat dalam posisi yang paling lemah. Hukum bukan cuma tidak ditegakkan, tetapi sudah menjadi bagian dari bagian penyuksesan penetrasi korporasi ini.

Dalam banyak kasus korporasi mengklaim diri telah berkonsultasi dengan rakyat setempat melalui penyusunan dokumen usaha seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Namun kenyataannya bentuk partisipasi warga yang dimaksud adalah mobilisasi sekelompok orang demi memenuhi tertib prosedural AMDAL, tanpa menyentuh substansi masalah orientasi pembangunan yang melibatkan rakyat. Sistem ekonomi kapitalisme memang membuka keran partisipasi, tapi faktanya itu tak lebih untuk kelanggengan ekspansi kapital itu sendiri. Partisipasi hanya pelengkap, bukan inti dari bagaimana sebuah arah pembangunan/kebijakan yang berhubungan dengan orang banyak diputuskan.

HMI Tegal Kab

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi kemasyarakatan yang memiliki tujuan di bidang ekonomi untuk “mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat” memandang bahwa tata kelola SDA demikian itu sangat tidak adil dan mengkhianati cita-cita ekonomi yang termaktub dalam UUD 1945. Dan tak ada jalan lain, kita harus menilik ulang Tata kelola SDA yang amburadul tersebut dan mencari upaya untuk membangun paradigma baru Tata Kelola Sumber daya alam (SDA) yang mampu menjamin sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka dengan ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA) dan elemen-elemen masyarakat sipil menyatakan sikap untuk:

1. Mendukung sepenuhnya aksi warga Rembang dalam menuntut penghentian pendirian Pabrik Semen di Kabupaten Rembang, atas pertimbangan besarnya daya rusak ekologis yang dialami masyarakat setempat di masa yang akan datang.

2. Menyerukan kepada aparat untuk mengusut kasus-kasus intimidasi terhadap penduduk di sekitar wilayah tambang dan memperlakukan para pemrotes secara manusiawi dengan sungguh-sungguh menjamin perlindungan hak-hak asasi mereka

3. Menyerukan kepada Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Rembang untuk menghentikan semua kegiatan PT. Semen Indonesia di Rembang dan operasi perusahaan-perusahaan tambang lainnya di wilayah Kabupaten Rembang untuk kemudian dilakukan audit lingkungan secara menyeluruh terhadap perusahaan-perusahaan tersebut

4. Mendukung sepenuhnya upaya yang dilakukan oleh Gerakan Samarinda Menggugat (GSM) dalam menegakkan kedaulatan lingkungan bagi warga kota Samarinda dan Provinsi Kalimantan Timur.

5. Mendukung langkah-langkah bagi digelarnya pembicaraan yang substansial menuju konsensus nasional tentang paradigma tata kelola ekonomi SDA secara komprehensif demi menjamin terlaksananya asas kepentingan rakyat banyak dan pemeliharaan lingkungan hidup.

6. Demi kepentingan konsensus nasional tersebut di atas, maka di perlukan langkah-langkah perubahan paradigma tata kelola sumber daya alam. Karena itu, kami  mendesak pemerintahan nasional yang akan datang untuk membentuk suatu instansi yang menangani permasalahan konflik sumber daya alam (SDA) di seluruh Indonesia. Tugas pertama dari instansi ini adalah me-review semua bentuk perizinan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia.  

7. Mendorong pemerintah untuk membentuk badan konstitusi di bagian hulu sebelum perumusan rancangan undang-undang agar fungsi MK yang berada di hilir dan pasif, tertutupi di daerah “hulu” menjadi aktif dan preventif agar produk hukum sesuai dengan rel konstitusi.

8. Mendorong pemerintahan nasional untuk menginisiasi pengadilan lingkungan dengan salah satu tugas utamanya melakukan eksaminasi terhadap dokumen AMDAL. Hal ini sekaligus untuk mengantisipasi pendangkalan makna “partisipasi” dalam penyusunan dokumen AMDAL, dimana selama ini “partisipasi” telah berubah menjadi “mobilisasi,” prosedural, dan meminggirkan kualitas dan substansi partisipasi itu sendiri.

9. PBNU menginstruksikan jajaran NU untuk berperan aktif dalam pengawasan praktek-praktek ekstraksi SDA di lingkungan masing-masing dalam konteks memperjuangkan kepentingan rakyat banyak dan memelihara kemaslahatan alam.

Demikian pernyataan ini disusun sebagai bahan acuan dan pertimbangan bagi semua pihak terkait.

 

Jakarta, 15 Agustus 2014

Inisiator pertemuan:

1. KH Yahya Staquf Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

2. KH Abbas Muin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama  (PBNU)

3. M. Imam Aziz Pengurus Besar Nahdlatul Ulama  (PBNU)

4. Mas Ubaidillah  Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA)

5. Bosman Batubara Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA)

6. Roy Murtadlo  Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA)

Pendukung:

KH. Masdar F Masudi (Rais Syuriyah PBNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat HMI Tegal Kab

Rabu, 17 Januari 2018

Mbah Moen: Saya Sering Dianggap Pro Ahok

Rembang, HMI Tegal Kab. Bukan orang NU jika tidak bisa melucu. Dan semakin tua atau semakin dituakan, selera humornya semakin tinggi. Tampaknya hal itu juga berlaku untuk tokoh paling sepuh di NU saat ini, yaitu Kiai Maimoen Zubair.?

Mbah Moen: Saya Sering Dianggap Pro Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Moen: Saya Sering Dianggap Pro Ahok (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Moen: Saya Sering Dianggap Pro Ahok

Mustasyar PBNU berusia 89 tahun ini mengundang decak tawa saat memberikan sambutan selaku tuan rumah dalam Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara yang diadakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di pondok pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah Kamis (16/3).?

Ketika menyampaikan tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia dan perjuangan umat Islam, ia tiba tiba berseloroh tentang kondisi politik yang lagi hangat di tanah air. "Saya sering dianggap pro Ahok," ucapnya sambil terkekeh ringan.

"Hahahaa...." hadirin tertawa terbahak-bahak, geli sekaligus terkejut. Beberapa detik hadirin terdiam menunggu penjelasan ulama sepuh yang biasa dipanggil Mbah Moen ini.?

Diteruskannya, ia sering menceritakan bahwa Islamnya orang sarang itu berasal dari dakwahnya orang Belitung dan Bangka. Bukan para wali dari Demak.?

HMI Tegal Kab

Sejarahnya, kata dia, ketika Kubilai Khan menguasai Kerajaan China dan mengirim pasukan ekpedisi ke Jawa, prajuritnya dipotong telinganya oleh Raja Singosari Kertanegara.?

HMI Tegal Kab

Kemudian ketika Pasukan Tartar dikirim untuk menyerang Raja Jawa itu, Singosari telah tiada dan diganti Kerajaan Majapahit. Pasukan dari China itu dikalahkan oleh Majapahit sehingga banyak yang berlarian ke berbagai daerah dan ada yang kembali ke negeri asal.?

Namun, ungkap Mbah Moen, sebagian pasukan Kubilai ? Khan itu ada yang muslim. Dan Prajurit muslim itu setelah lari dari Majapahit lantas menetap di Bangka dan Belitung. Lalu mereka berubah menjadi petani atau guru. Di antaranya ada yang berdakwah hingga ke Sarang. Itu terjadi sebelum era Demak. (Ichwan/Abdullah Alawi)





Catatan: berita ini telah diedit karena kurangnnya akurasi kontributor. HMI Tegal Kab meminta maaf kepada seluruh pembaca dan pihak-pihak terkait atas kekeliruan ini.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Habib, Sholawat HMI Tegal Kab

Jumat, 12 Januari 2018

IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa

Banyuwangi, HMI Tegal Kab - Sebelum membuat kebijakan atau kegiatan, para kader NU harus menyiapkan konsep yang jelas. Mulai dari latar belakang masalah, segmentasi, waktu dan tempat, sampai apa kegiatan lanjutan setelah kegiatan itu dilakukan.

Demikian dikatakan Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar NU (IPNU) Jawa Timur Haikal Atiq Zamzami saat memberikan materi "Advokasi Kebijakan Publik" pada Latihan Kader Utama (Lakut) yang digelar Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Banyuwangi, 16-19 Februari 2016, di Pondok Pesantren Baitussalam, Tampo, Cluring, Banyuwangi, Jatim.

IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa

Menurutnya, masih banyak para kader IPNU melakukan beberapa kegiatan yang belum terkonsep dengan jelas dan rapi. "Sehingga hasilnya jelas, kegiatan yang telah dilakukan tidak memiliki manfaat yang signifikan," tegas Haikal.

Sumber daya manusia di setiap kader yang dimiliki juga masih banyak yang kurang kompeten dan profesional. "Betapa fatalnya jika selama ini hanya menjaring dan membentuk kader di setiap desa, akan tetapi tidak sebanding lurus dengan pelatihan pengembangan sumberdaya kader di masing-masing desa," imbuh Haikal.

HMI Tegal Kab

"Untuk itu, saya pribadi selaku pimpinan wilayah kedepan bertekad untuk mengumpulkan seluruh pimpinan cabang yang ada di Jatim, untuk kita didik melakukan inovasi-inovasi gerakan terbaru. Di antaranya, akan ada program ngaji Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)," tutur Haikal.

HMI Tegal Kab

Pelatihan Lakut ini adalah upaya positif yang terus didorong. "Dengan ini potensi SDM kader-kader yang kita miliki lebih baik. Juga akan menjadi muharrik (penggerak) di setiap desa. Ini investasi gerakan grass root (akar rumput)," tuturnya.

Pelatihan ini diikuti oleh puluhan perwakilan pengurus PC IPNU dan IPPNU Banyuwangi. Selama empat hari mereka dididik dengan 15 materi lanjutan selepas latihan kader muda (Lakmud). (M. Sholeh Kurniawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Bahtsul Masail, Sholawat HMI Tegal Kab

Jumat, 15 Desember 2017

Mendedah 3 Dimensi Aswaja

Ada tiga pilar utama peyangga agama ini. Sebagaimana dalam hadits riwayat Sayyidina Umar RA tentang pertanyaan Malaikat Jibril pada Rasulullah SAW. Tiga pilar yang dimaksud adalah Islam, Iman dan Ihsan. Ketiga hal ini ibarat kesatuan utuh yang tak bisa dipisahkan.

Benar, semula ketiganya memang merupakan satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Namun dalam perkembangan selanjutnya bagian-bagian itu dielaborasi oleh para ulama sehingga menjadi bagian ilmu yang berbeda. Perhatian terhadap Iman memunculkan ilmu tauhid atau akidah. Perhatian khusus terhadap aspek Islam (dalam arti sempit) melahirkan ilmu fikih atau syariah. Sedangkan perhatian terhadap aspek Islam melahirkan ilmu tasawuf atau akhlak. (Pemikiran KH Achmad Siddiq, 1-2).

Mendedah 3 Dimensi Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendedah 3 Dimensi Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendedah 3 Dimensi Aswaja

Pertanyaan yang muncul berikutnya, seperti apakah gambaran yang benar dari ketiga dimensi: akidah, syariah dan tasawuf ini ? Sedangkan seperti diketahui, hari ini ada begitu banyak pendapat berbeda tentang definisi ketiga dimensi tersebut. Satu hal yang jamak difahami, bahwa pemahaman yang lurus tentang ketiga dimensi ini adalah pemahaman Ahlusunnah wal Jama’ah.

Hal ini bersumber dari keterangan sebuah hadist bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda “Umat Yahudi terpecah menjadi 71 golongan. Umat Nasrani menjadi 72 golongan. Sedangkan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Yang selamat dari 73 golongan itu hanya satu, sedangkan yang lainnya celaka“ lalu ditanyakan (pada Nabi Saw) “Siapakah golongan yang selamat itu?” Beliau bersabda, “Ahlusunnah wal Jamaah” ditanyakan lagi (kepada beliau) “Siapakah Ahlusunnah wal Jamaah itu?” Beliau menjawab,”Apa yang dipegang olehku dan para sahabatku”

HMI Tegal Kab

Hadist ini disebukan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Qaul al-Musaddah, Imam asy Syahrastani dalam al Milal wan Nihal, serta disebut oleh Imam al Ghalai dalam Ihya’ Ulumiddin. Menariknya, dalam kitab-kitab-kitab tersebut, hadist ini tidak disebutkan bersama  sanadnya, sehingga sulit untuk menentukan sejauh mana kapasitas hadist tersebut untuk bisa dijadikan pijakan (halaman 3).

Sementara itu, ada banyak hadist bersanad yang cukup mirip dengan hadis di atas, tapi hanya menggunakan redaksi “al Jama’ah”, bukan Ahlusunnah wal Jama’ah. Jadi sebenarnya kapan awal mula munculnya istilah Ahlusunnah wal Jama’ah ini? Oleh sebab tidak ditemukan riwayat sahih yang secara langsung menyebutkan istlah Ahlusunnah wal Jama’ah, banyak ulama menilai bahwa istilah ini baru muncul setelah masa Rasulullah Saw.

HMI Tegal Kab

Sebagaimana tafsiran Sayyidina Ibnu Abbbas RA, pada surat Ali Imran ayat 106-107. Ibnu Abbas menafsiri firman Allah “Muka yang putih berseri” ini dengan menyebut Ahlusunnah wal Jama’ah sedangkan orang yang “hitam wajahnya” di hari kiamat adalah orang yang ahli bid’ah dan kesesatan. (Lihat Tafsir Ibni Katsir Juz 1).

Lepas dari asal-usul istilah Ahlusunnah, satu hal penting yang harus dicatat bahwa satu golongan yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw akan selamat di hari akhir nanti, adalah golongan pengikut Rasulullah dan para sahabatnya.

Maka sudah semestinya pendedahan pada makna 3 dimensi : Akidah, Syariah dan  Tasawuf pun disandarkan pada pengajaran Rasulullah pada para sahabatnya. Menarik membaca habis buku Trilogi Ahlusunnah, karena di buku inilah satu persatu dimensi agama itu dikaji secara detail dan lengkap berdasarkan pemahaman Ahlusunnah wal Jama’ah.

 

 

Judul Buku : Trilogi Ahlusunnah: Akidah, Syariah dan Tasawuf

Penulis : Tim Penulis Batartama Pesantren Sidogiri

Tebal : xv, 318 

Penerbit : Pustaka Sidogiri Pondok Pesantren Sidogiri

Cetakan : pertama, Agustus 2012

Peresensi : In’am Al Fajar (Pustakawan di Pesantren Al Hikmah 2 Brebes)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hikmah, Sejarah, Sholawat HMI Tegal Kab

Minggu, 03 Desember 2017

Cerita Tentang Gus Dur, Voorijder, dan Mobil Jenazah di Papua

 Jakarta, HMI Tegal Kab. Sekretaris Jenderal Majelis Muslim Papua Thaha Al-Hamid mengaku sering satu mobil dengan KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid setiap kali Presiden keempat Indonesia itu bertolak ke Papua.

Thaha menceritakan, suatu ketika ia berada dalam satu mobil dengan Gus Dur untuk menghadiri undangan Dewan Adat Papua. Dalam perjalanan itu, Gus Dur dikawal oleh voorijder atau iring-iringan mobil pengawal agar perjalanan tidak terhambat.

Cerita Tentang Gus Dur, Voorijder, dan Mobil Jenazah di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Tentang Gus Dur, Voorijder, dan Mobil Jenazah di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Tentang Gus Dur, Voorijder, dan Mobil Jenazah di Papua

Saat melintasi suatu jalan, jelas Thaha, tiba-tiba Gus Dur meminta untuk berhenti dan memerintahkan voorijder untuk berhenti pula. 

“Tiba-tiba Gus Dur bilang, perintahkan voorijder berhenti,” kata Thaha menirukan Gus Dur di Graha Gus Dur, Rabu (26/7).

Kemudian, imbuh Thaha, para pengawal itu protes karena prosedur yang ada tidak memperkenankan voorijder tersebut berhenti di tengah jalan seperti itu.

Thaha menambahkan, karena voorijder tidak mau berhenti, maka mereka diminta untuk memperlambat mobilnya. 

HMI Tegal Kab

“Jadi voorijder (iring-iringan pengawal) terpaksa memperlambat (mobilnya), dan tidak lama kemudian mobil ambulan lewat bawa seorang jenazah,” ungkap Thaha.

Setelah mobil jenazah tersebut lewat, lalu rombongan Gus Dur kembali melanjutkan perjalanan dan mempercepat mobilnya sebagaimana sedia kala. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Sholawat HMI Tegal Kab

Sabtu, 02 Desember 2017

Ketua NU Lampung Tengah: Orang yang Biasa Membid’ahkan Ngajinya Belum Khatam

Lampung Tengah, HMI Tegal Kab. Setelah dilantik satu bulan yang lalu, jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lampung Tengah, langsung aksi turun kebawah (turba) melakukan kegiatan safari Ramadlan ke Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se Kabupaten Lampung Tengah.

Safari perdana dimulai dari MWCNU Punggur, bertempat di Masjid Jami’ Taqwa Kampung Tanggulangin Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah, Sabtu (3/6) malam.

Ketua NU Lampung Tengah: Orang yang Biasa Membid’ahkan Ngajinya Belum Khatam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua NU Lampung Tengah: Orang yang Biasa Membid’ahkan Ngajinya Belum Khatam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua NU Lampung Tengah: Orang yang Biasa Membid’ahkan Ngajinya Belum Khatam

Ketua PC NU Lampung Tengah, KH Imam Suhadi dalam taushiyahnya mengatakan, agar warga Nahdlatul Ulama di wilayah Kecamatan Punggur dan sekitarnya senantiasa terus istiqomah nguri-nguri ? atau merawat tradisi yang sudah diwariskan oleh para kiai-kiai terdahulu. “Tradisi yang sudah ada dan baik dimasyarakat, mulai dari tradisi kehamilan, ? seperti telon-telon, piton-piton? saat kelahiran, brokohan hingga marhabanan mari terus dirawat,” tuturnya.?

KH Imam yang juga Pengasuh Pesantren Nurul Qodiri Kecamatan Way Pangubuan, menambahkan, tradisi budaya yang dijalankan NU tidak bertentangan dengan agama, ? mulai dari kelahiran hingga manusia yang telah meninggal dunia dan seterusnya semua tradisi warga Nahdlatul Ulama tersebut diisi dengan doa-doa, sholawat dan bacaan ayat-ayat suci Al-Quran.?

“Orang yang mengkafir-kafirkan, mengharam-haramkan, membid’ahkan amalan-amalan NU bahkan hingga menyesatkan kiai-kiai NU pasti orang tersebut tidak punya ilmu alias ngajinya tidak khatam,” imbuhnya.?

Sementara itu, tekait program kerja PCNU Lampung Tengah kedepan, KH Imam mengatakan, pada periode ini diharapkan dapat mendirikan Perguruan Tinggi dan mampu menjadi NU percontohan dan teladan di Propinsi Lampung.

HMI Tegal Kab

“Kami atas nama jajaran keluarga besar PCNU Lampung Tengah mohon doa restu segenap warga NU di sini agar dapat menjalankan roda organisasi yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan amanah, dan langsung bisa dirasakan warga NU,” tandas alumni Pesantren Darussa’adah Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah ini mengatakan.?

HMI Tegal Kab

Safari Ramadlan PCNU Kabupaten Lampung Tengah diakhiri dengan pemberian cinderamata seratus lebih sarung untuk anggota Ranting NU dan imam masjid dan musholla se Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah.?

“Kami selaku keluarga besar Nahdliyyin di Kecamatan Punggur sangat senang dan terbuka dengan kedatangan rombongan PCNU Lampung Tengah yang melakukan kegiatan safari Ramadlan, dan kami berharap silaturahim pada malam ini menambah semangat (ghirah) dalam melestarikan mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an Nahdliyah di sembilan desa di wilayah Kecamatan Punggur ini,” kata Kiai Mahmudi Ketua MWCNU Punggur dalam sambutannya.

Turut hadir dalam safari Ramadlan PCNU Lampung Tengah diantaranya adalah Kiai Budi Sriono, Katib Syuriyah PC NU, H Wagimin Sekretaris PCNU, H Syarief Kusen, Ketua PC LP Ma’arif NU. Ketua PC GP Ansor, Saryono, Sekretaris PC PAGAR NUSA, Edi Susanto Nur Hayati, SH, Anggota DPR RI F-PKB yang juga Sekretaris PW Fatayat NU Lampung, Andi Shobihin, Ketua PC IPNU, H Midi Iswanto, Anggota DPRD Propinsi Lampung F-PKB, KH Slamet Anwar Anggota DPRD Lampung Tengah ? dari F-PKB serta beberapa pengasuh pesantren, pengurus ranting NU se Kecamatan Pungur. ? (Akhmad Syarief Kurniawan /Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat HMI Tegal Kab

Selasa, 28 November 2017

NU Diminta Jaga Sinergitas dengan Banom

Semarang, HMI Tegal Kab. Untuk pengembangan organisasi ke depan, kepengurusan wilayah NU mendatang harus selalu menjaga sinergitas yang sudah terbangun sebelumnya dengan badan otonom (Banom). Termasuk pula, program kerja yang akan dihasilkan melalui Konferensi wilayah (Konferwil) ini diharapkan seirama program banom NU.

Demikian kesimpulan harapan para pimpinan badan otonom NU Jawa Tengah yang dihubungi HMI Tegal Kab melalui handphone terkait pelaksanaan Konferwil NU yang dihelat pada Ahad (23/6) di SMP/SMA Semesta Gunungpati Semarang.

NU Diminta Jaga Sinergitas dengan Banom (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Diminta Jaga Sinergitas dengan Banom (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Diminta Jaga Sinergitas dengan Banom

Ketua PW Fatayat Jateng Khizanaturrahma mengatakan konferwil harus mampu menghasilkan keputusan yang bisa menjawab persoalan ummat. Begitu pula, hubungan komunikasi dan program NU selalu terjaga sinergis bersama banom NU Jateng.

HMI Tegal Kab

“Meskipun berbeda segmentasinya, program yang direncanakan PWNU bisa seirama dengan banom sehingga bisa tetap sambung terutama perihal kaderisasinya,” ujarnya, Sabtu (22/6).

HMI Tegal Kab

Ia mengharapkan PWNU juga harus mampu merengkuh kembali elemen-elemen yang berserakan serta memaksimalkan pengurus sesuai dengan job discription-nya.

“Dari sini pentingnya bangunan komunikasi yang baik antar sesama komponen NU,” tandas mbak Khiz sapaan akrabnya.

Pernyatan senada disampaikan Ketua PW IPNU Jateng Amir Musthofa. Ia mengharapkan keberpihakan NU terhadap kaderisasi supaya lebih diperjelas dan nyata demi menyongsong masa depan yang lebih gemilang.

 

“Suksesi kepemimpinan NU yang amanah harus dilanjutkan tanpa meninggalkan potensi baru yang lebih baik,” ujarnya kepada HMI Tegal Kab.

 

Sementara IPPNU Jateng berharap.PWNU ke depan lebih peka dan tanggap terhadap kondisi masyarakat nahdliyin yang masih banyak dibawah garis kemiskinan dan berpendidikan rendah. 

“Mereka (Nahdliyin) masih sangat membutuhkan perhatian yang serius dari NU,” kata Ketua PW IPPNU Jateng Ida Sangadah.

Menyikapi kondisi bangsa ini, Ida mengharapkan konferwil mampu meneguhkan kembali semangat nasionalisame dikalangan nahdliyin. “NU dapat memberikan sumbangsih yang lebih besar untuk NKRI melalui keputusan yang menguatkan semangat nasionalisme,” imbuh kader kelahiran kebumen ini. 

Sebagai banom NU, pihaknya menginginkan PWNU memberikan perhatian dan pengawalan yang intens terutama kaderisasi pelajar di IPPNU. 

“Dengan demikian, tidak tidak ada keterputusan antara NU dan badan otonomnya,” ucapnya melalui telepon seraya berharap konferwil berjalan sukses dan lancar. 

Mengenai kandidat ketua tanfidziyah, ketiga banom NU ini enggan menyebut dukungan.Mereka hanya berharap kandidat ketua tanfidziyah nantinya mampu berkomunikasi yang baik dengan internal maupun eksternal NU.

“Untuk kandidat terserah peserta, yang penting siapapun yang terpilih bisa membangun komunikasi yang baik dan merangkul semua komponen NU,”pungkas Ketua Fatayat Jateng Khizanaturrahma.

 

Redaktur     : Syaifullah Amin 

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat HMI Tegal Kab

Kamis, 23 November 2017

Habib Syech: Pesan Mbah Idris, Nikmatilah Hidup Meskipun Susah

Boyolali, HMI Tegal Kab. Ribuan orang menghadiri peringatan Haul KH Muhammad Idris di Kacangan Andong Boyolali Jawa Tengah, Senin (27/4) malam. Tokoh yang akrab disapa Mbah Idris tersebut, merupakan salah satu ulama guru Thariqah Syadziliyyah.

Habib Syech: Pesan Mbah Idris, Nikmatilah Hidup Meskipun Susah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Pesan Mbah Idris, Nikmatilah Hidup Meskipun Susah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Pesan Mbah Idris, Nikmatilah Hidup Meskipun Susah

Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf menyampaikan pesannya kepada para jamaah, serta kesaksiannya atas pribadi Mbah Idris.

“Dulu saya sering sowan ke Mbah Idris. Alhamdulillah saya mendapat dua kitab susunan beliau,” ungkap Habib Syech.

HMI Tegal Kab

Dikisahkan Habib Syech pernah mendapat pesan, yang sampai saat ini masih ia ingat. “Thariqah Syadzili yang dianut Mbah Idris, itu thariqah yang suka memperlihatkan nikmat. Fa amma bini’mati rabbika fahaddist. Pernah Mbah Idris berpesan kepada saya: Bib, pokoe urip iku tuduhake ni’mat. Hidup itu perlihatkan nikmat, meskipun susah. Kabeh iku nek dinikmati dadine ni’mat (semua kalau dinikmati akan menajdi nikmat),” kata Habib Syech menirukan ucapan Mbah Idris.

HMI Tegal Kab

Sementara itu, dijelaskan pula oleh Pengasuh Pesantren Alqur’aniyy Surakarta, KH Abdul Karim Ahmad. Acara haul ini diadakan dan diperingati dalam rangka untuk memenuhi kewajiban seorang murid terhadap gurunya.

“Kalau engkau diberi kebaikan seseorang, maka balaslah kebaikan tersebut dengan lebih baik atau setimpal. Kita semua ibadah bisa sah, bisa baca alquran alif-ba-ta, sebab jasa para guru dan ulama. Termasuk salah satunya, Mbah Kiai Muhammad Idris. Maka, kewajiban kita untuk membalas jasa mereka, salah satunya dengan menggelar haul seperti ini,” tuturnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Sholawat, Internasional HMI Tegal Kab

Jumat, 17 November 2017

Komar: Merdeka itu Saling Senyum

Brebes, HMI Tegal Kab. Pelawak Nasional yang juga Rektor Universitas Muhadi Setiabudi (Umus) Brebes H Nurul Komar mengajak kepada warga Brebes dalam mengartikan kemerdekaan harus saling menebar cinta, saling senyum. Dengan senyum akan tercipta kedamaian dan lancar dalam membangun. Bahkan seluruh ikhtiar, kerja bersama yang dilakukan bertekadlah agar Allah tersenyum.

“Buatlah Allah tersenyum, dengan apa yang kita lakukan,” pesan H Komar, saat mengisi uraian hikmah Dzikir Kebangsaan, Sarasehan dan Tasyakuran HUT ke-72 RI di Pendopo Bupati Brebes, Jawa Tengah, Rabu (16/8).

Komar: Merdeka itu Saling Senyum (Sumber Gambar : Nu Online)
Komar: Merdeka itu Saling Senyum (Sumber Gambar : Nu Online)

Komar: Merdeka itu Saling Senyum

Senyum itu, kata Komar, merupakan perwujudan dari Istiqomah dengan selalu tersenyum dalam hidupnya. Selalu senang menatap cakrawala yang luas tanpa batas, mengarungi samudara yang tak bertepi. Dengan senyum berarti sodakoh, dan bersedekah menjadikan hidup kita berkah, Indonenesia butuh orang orang yang tersenyum.?

Saatnya beristiqomah dengan Pancasila, tuturnya, ? orang yang senang, kaya hati, kokoh bagi tiang pancang yang tak goyang. Indonesia butuh orang orang istiqomah, dengan mencintai apa yang kamu kerjakan, kerjakan apa yang kamu cintai.?

“All out, Indonesia membutuhkan orang yang kaffah, jangan setengah setengah,” tegasnya.

Orang yang kerjanya setengah setengah tidak berhasil, demikian juga dengan orang yyang ngajinya setengah setengah, tidak mendalami Islam secara kaffah maka menjjadi teroris.

HMI Tegal Kab

Yakinlah dengan kemampuan diri, percaya diri. Sebab, orang yang tidak percaya diri mengindikasikan tidak percaya pada Allah, tidak yakin kalau Allah bersama kita.?

Hal yang perlu disikapi, kata Komar, Ngaji dengan rasa jangan mengedepankan logika belaka. Harus total menggunakan logika dan rasa, kalau Cuma logika jadi orientalis. Total kaffah, simultan antara logika dan rasa, Indonesia butuh orang orang yang ngaji rasa. Seperti halnya mengaji Al-Qur’an tidak hanya dibaca tapi juga harus dirasa. Jangan ngaji hanya ibarat ngupas bawang yang ketemu hanya kulit saja, kulit lagi.?

Istiqomah juga bisa diartikan konsisten, konsekwen, selalu bersyukur. Bagaimana bisa menikmati naik motor kalau iri dengan seandainya yang dinaiki mobil. Jangan sampai merasakan bagaimana naik mobil kalau yang dirasa pesawat terbang. Hidup itu tergantung pada perasaan kita.?

HMI Tegal Kab

“Nikmatilah naik motor, ketimbang disampingnya hanya naik sepeda onthel,” tandasnya.

Indonesia saat ini butuh orang orang kerja yang rahman rohim, penuh kasih sayang. Yang dilandasi spiritual. Pemberani bisa memaafkan, lupakan kebaikan kita kepada orang lain, lupakan ketidakbaikan orang lain para kita.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti dalam sambutannya mengajak kepada warga masyarakat Brebes untuk terus menggelorakan semangat juang 45 menuju kesejahteraan dan kemakmuran. Bekerja dan beribadah, menjadi satu kesatuan yang terus dilakukan.

Dzikir kebangsaan dipimpin pengasuh Pondok pesanteren Darussalam Jatibarang Brebes KH Syekh Sholeh Basalamah.

Tampak hadir jajaran Forkopimda, Wakil Bupati, Sekda, para Kepala OPD, Pelajar, Mahasiswa, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan dan undangan lainnya.?

Usai sarasehan dilanjutkan dengan malam renungan di Taman Makam Pahlawan Kusumatama Brebes. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat, Syariah HMI Tegal Kab

Minggu, 12 November 2017

Jalani Kelas Darurat, Pelajar-Santri Pandanaran Tetap Gembira

Sleman, HMI Tegal Kab. Para siswa-santri pesantren Sunan Pandanaran kabupaten Sleman tidak surut sedikitpun dalam belajar di tengah rangkaian perhelatan Kongres XV GP Ansor. Kelas darurat di tenda-tenda belajar tetap menggembirakan. Suasana belajar juga antusias, walaupun ruang kelas dan fasilitas belajar sangat terbatas. Ditambah lagi, kebutuhan MCK juga darurat dan terbatas.

Ini tercermin dari suasana belajar yang dijalani di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Sunan Pandanaran. Alex, salah satu siswa kelas VII MTs Sunan Pandanaran, mengungkapkan bahwa dirinya dan teman-temannya tetap semangat dan gembira, walaupun gedung belajarnya digunakan untuk Kongres XV GP Ansor.

Jalani Kelas Darurat, Pelajar-Santri Pandanaran Tetap Gembira (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalani Kelas Darurat, Pelajar-Santri Pandanaran Tetap Gembira (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalani Kelas Darurat, Pelajar-Santri Pandanaran Tetap Gembira

Sementara, Syamsul Arifin, salah satu pengurus siswa-santri Pesantren Pandanaran mengatakan bahwa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ini tetap berlangsung lantaran kurang memungkinkan jika santri diliburkan.

HMI Tegal Kab

Sebagaimana dinyatakan oleh Bapak Pengasuh KH Mutashim Billah yang mengimbau supaya KBM tetap berjalan. Hal ini dikarenakan rata-rata santri berasal dari daerah yang terhitung jauh jaraknya. Dan itu akan memakan waktu jika pesantren diliburkan saat kongres berlangsung. Sementara selepas kongres para santri harus mengikuti ujian akhir semester sesuai tingkatnya maing-masing.

HMI Tegal Kab

"Dan dalam praktiknya, alhamdulillah semua kegiatan, baik dari sisi jam pengajian al-Quran bada shubuh dan maghrib, serta kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap terkontrol dan dapat dikondisikan," imbuh salah satu vokalis Hadrah Pandanaran ini.

Syamsul menambahkan, untuk penempatan para santri, seluruh siswa-santri putra ditempatkan di komplek IV pesantren Pandanaran, atau sekitar setengah kilometer dari UII. Sementara untuk santri putri ditempatkan bersama para santri-mahasiswi komplek II Pesantren Pandanaran yang lazim disebut komplek pusat. (Anwar Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sunnah, Sholawat, Doa HMI Tegal Kab

Kamis, 09 November 2017

Festival Jenang Bahari di Kota Solo

Solo, HMI Tegal Kab. Warga kota Solo menyelenggarakan Festival Jenang Bahari selama beberapa hari. Pada puncak festival di Ngarsopuran kota Solo, Selasa (17/2) itu, mereka membagikan sebanyak 33.720 takir jenang. Tampak sekitar 50 stan menyajikan aneka jenang atau bubur dengan berbagai rasa.

Sebagian jenang berbahan hasil laut seperti jenang ikan tenggiri dan jenang ikan kakap. Ada juga jenang yang biasa ditemukan di daerah Solo seperti jenang sungsum dan jenang tumpang.

Festival Jenang Bahari di Kota Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Festival Jenang Bahari di Kota Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Festival Jenang Bahari di Kota Solo

Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo yang ikut menghadiri acara itu mengapresiasi festival jenang ini. Menurutnya, Festival Jenang Bahari merupakan salah satu event yang sangat menarik.

HMI Tegal Kab

“Jenang merupakan salah satu makanan yang sarat filosofi. Biasanya orang membuat jenang ketika memperingati sesuatu, sebagai simbol permohonan dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Rudy. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tegal, Sejarah, Sholawat HMI Tegal Kab

Senin, 06 November 2017

Tingkatkan Layanan dan Mutu, STISNU Tangerang Gerak Menuju Institut

Jakarta, HMI Tegal Kab - Pengelola Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang mengadakan rapat kerja civitas akademika di Cisarua Kabupaten Bogor, Rabu-Kamis (24-25/2). Mereka mencoba mencari pola kerja dalam rangka meningkatkan layanan dan mutu sekolah tinggi yang tengah dikelola.

KH A Baijuri Khotib dalam pengarahannya  meminta  civitas akademika untuk meningkatkan mutu dan layanan. Target tahun ini yang harus harus dicapai adalah kuantitas mahasiswa, sembari memperbaiki kualitas kampus NU Tangerang.

Tingkatkan Layanan dan Mutu, STISNU Tangerang Gerak Menuju Institut (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Layanan dan Mutu, STISNU Tangerang Gerak Menuju Institut (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Layanan dan Mutu, STISNU Tangerang Gerak Menuju Institut

"Tahun ini, kita agendakan membuka program studi baru sehingga kampus ini bisa segera alih status menjadi institut," kata Kiai Baijuri.

HMI Tegal Kab

Wakil Ketua Bidang Kemasiswaan Nurulloh memaparkan bahwa dalam dua tahun ini kita menargetkan 15 doktor pengajar. STISNU akan merekomendasikan dan mengkuliahkan para dosen dengan catatan  wajib berikrar setia membesarkan kampus NU.

"Kita harus siapkan SDM. Ketika alih status menjadi institut kita sudah siapkan tenaga yang berijazah doktor".

Pada kegiatan ini dibahas pula konsep KKN yang akan diterapkan oleh STISNU Nusantara dengan mengedepankan penelitian, pengabdian, dan pemberdayaan.

HMI Tegal Kab

Wakil Ketua Bidang Akademik STISNU Tangerang H M Qustulani menjelaskan, konsep KKN di STISNU akan diarahkan pada pengabdian ke-NU-an, yaitu menjaga tradisi dan budaya lokal keislaman masyarakat.

Penelitian akan diarahkan pada deteksi bahaya radikalisme di sekolah-sekolah se-Tangerang Raya sekaligus memberikan penyuluhan dan membuka wawasan generasi muda perihal pentingnya menerapkan ajaran Pancasila dan UUD 1945 yang sejatinya sesuai dengan ajaran Islam.

Sebab itu, kita akan menggandeng stakeholder NU untuk menjadikan mahasiswa sebagai laboratorium terdepan di bawah sebagai pioner yang bertanggung jawab atas ajaran Ahlussunnah wal Jamaah Nahdlatul Ulama di masa depan.

Tampak hadir pada rapat ini Waka STISNU Kemahasiswaan DR Bahruddin, ulama sesepuh Tangerang Abah Kiai Aliyuddin Zein, dan dosen-dosen di lingkungan STISNU Nusantara. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat, Olahraga HMI Tegal Kab

Minggu, 05 November 2017

TNC Gandeng LAZISNU untuk Kelestarian Alam di Berau

Jakarta, HMI Tegal Kab. Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama dan The Nature Conservancy menyepakati kerja sama untuk pemeliharaan alam di daerah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kesapakatan ditandatangani kedua belah pihak di kantor Pengurus Pusat LAZISNU, gedung PBNU, Jakarta, Rabu (22/10).

TNC Gandeng LAZISNU untuk Kelestarian Alam di Berau (Sumber Gambar : Nu Online)
TNC Gandeng LAZISNU untuk Kelestarian Alam di Berau (Sumber Gambar : Nu Online)

TNC Gandeng LAZISNU untuk Kelestarian Alam di Berau

Menurut Director of External Affar TNC Sapto Handoyo Sakti, Kalimantan Timur merupakan salah satu daerah yang memiliki keanekaragaman hayati di Indonesia. Tapi sayangnya tingkat kesadaran masyarakat untuk memilihara sangat kurang.

Menurut dia, alam itu relatif statis, yang dinamis itu manusia. Kebanyakan yang membuat alam rusak itu ya manusia sendiri. Supaya tidak terjadi perusakan, manusia-manusia di sekitar itu harus diberi pemahaman memelihara alam.

HMI Tegal Kab

Tetapi, sambung dia, motif merusak alam biasanya bersumber dari kebutuhan ekonomi. Nelayan di Ajengan misalnya, menangkapl ikan dengan cara dibom. Ia dapat untung banyak seketika, tapi akan mengalami kerugian jangka panjang karena terumbu karangnya rusak. Ikan akan semakin langka dan jelajah penangkapan harus semakin ke tengah.

HMI Tegal Kab

Di sisi lain, hasil tangkapan ikan dengan cara semacam itu tidak baik untuk kesehatan karena mengandung racun. “Motif merusak ekonomi sehingga upaya menanggulanginya dengan ekonomi pula,” simpulnya. ?

Menggandeng NU melalui LAZISNU, sambung dia, karena mayoritas penduduk di sana warga NU. TNC akan mengajak kiai-kiai NU untuk memberikan pemahaman keagamaan yang menganjurkan untuk menyahabati alam.

Kedua, melalui LAZISNU, akan dilakukan pemberdayaan dan pelatihan supaya mereka mendapatkan penghasilan dengan cara tidak merusak alam. “Sudah saatnya kami memelihara alam tidak hanya dengan pendekatan sains, tapi juga agama,” katanya.

Ia menambahkan, setiap agama pada dasarnya mengajurkan umatnya untuk memlihara alam dengan baik.

Direktur Eksekutif PP LAZISNU Amir Ma’ruf sudah melakukan pemberdayaan manusia di beberapa daerah. Melalui kerja sama ini, ia menyambut gembira, selain bisa memberdayakan warga NU, di sisi lain memilki nilai plus yaitu memelihara alam.

LAZISNU, kata Amir, juga melakukan hal yang sama di daerah Kepulauan Seribu. Bagi penduduk yang punya kecenderungan menjaga alam seperti menanam mangrove, LAZISNU membantu mereka dengan menyediakan keramba ikan. Di samping menjaga lingkungan dia juga bisa menghasilkan ekonomi untuk menghidupi keluarganya.

Hadir pada kesempatan itu, Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik dan Ketua PBNU H Arvin Hakim Toha. Sementara TNC, Sapto ditemani Strategic Alliance Associate Director TNC Dino V. Prayoga. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat HMI Tegal Kab

Minggu, 29 Oktober 2017

Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed

Riyadh, HMI Tegal Kab. Kepolisian di ibu kota Saudi, Senin (12/12), mengatakan bahwa mereka menangkap seorang perempuan karena melepas jilbabnya di hadapan umum dan mengunggah gambar aksinya di Twitter.

Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed (Sumber Gambar : Nu Online)
Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed (Sumber Gambar : Nu Online)

Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed

Juru bicara polisi Fawaz al Maiman tidak menyebutkan nama perempuan itu, tetapi beberapa situs web menyebut namanya Malak al Shehri, yang memicu kehebohan di media sosial setelah berpose tanpa memakai jilbab di sebuah jalan utama di Riyadh bulan lalu.

Maiman mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa polisi di kerajaan yang sangat konservatif itu bertindak sesuai dengan kewajiban mereka untuk mengawasi “pelanggaran moral umum.”

Dia mengatakan perempuan itu mengunggah tweet dirinya sedang berdiri di samping sebuah kafe terkenal di Riyadh tetapi tanpa memakai kerudung yang diwajibkan dalam masyarakat Saudi.

HMI Tegal Kab

Perempuan yang berusia sekitar 20 tahun itu dibawa ke penjara, katanya. Dia juga dituduh “berbicara secara terbuka mengenai hubungan terlarang dengan pria (tanpa ikatan).”

“Polisi Riyadh menekankan bahwa aksi perempuan ini melanggar undang-undang yang diberlakukan di negara ini,” ujar Maiman, mendesak masyarakat untuk “mematuhi ajaran Islam.”

HMI Tegal Kab

Kerajaan kaya minyak tersebut memberlakukan pembatasan paling ketat di dunia terhadap perempuan dan merupakan satu-satunya negara yang tidak mengizinkan perempuan untuk mengendarai mobil. Demikian laporan AFP. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat HMI Tegal Kab

Khofifah Berikan Bansos di Bondowoso

Bondowoso, HMI Tegal Kab?



Menteri Sosial Republik Indonesia Hj. Khofifah Indar Parawansa menyerahkan bansos non-tunai Program Keluarga Harapan (PKH) di pendopo Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (3/8). Bantuan itu diserahkan kepada ibu-ibu Keluaga Penerima Manfaat (KPM) untuk anak sekolah (pendidikan).

Khofifah Berikan Bansos di Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Berikan Bansos di Bondowoso (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Berikan Bansos di Bondowoso

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU itu mengatakan, bantuan itu juga agar digunakan untuk ibu hamil, balita untuk menambah gizi supaya ana sehat. Sementarta ibu yang memilik anak di SD, SMP dan SMA untuk biaya tambahan sekolah.

"Saya ingin ibu memanfaatkan bantuan ini sebaik-baiknya. Bapak Presiden berpesan, kalau ada yang menggunakan di luar dari tambah gizi dan anak sekolah; awas lho kartunya bisa dicabut. Jadi, manfaatkan sebaik-baiknya," pintanya.

Ia mengutip perkataan Presiden Joko Widodo, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini terus membaik. Dengan demikian, jika pertumbuhan itu terjaga dan terus membaik, bantuan seperti itu akan ditambah.?

HMI Tegal Kab

“Alhamdulillah," kata Khofifah yang diikuti alhamdulillah ibu-ibu KPM.

“Doakan Bapak Presiden sehat. Doakan Pak Wapres sehat. Doakan ekonomi kita membaik. Doakan bangsa kita aman," pinta Khofifah lagi.

Pada kesempatan itu, Khofifah menyaksikan simulasi penarikan bantuan sosial PKH non-tunai oleh aagen BNI dan atm mobil BNI. Hadir pada kesempatan itu Bupati Bondowoso H Amin Said Husni beserta wakilnya, Ketua DPRD Bondowoso H Ahmad Dhafir, Sekda Bondowoso, Forpimda, Polres, dan Dandim 0822. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Syariah, Nasional, Sholawat HMI Tegal Kab

Rabu, 25 Oktober 2017

Benedict Anderson dan NU

Oleh Muhammad Nashirulhaq



Sebuah tulisan untuk memeringati 40 hari wafatnya Pak Ben.

Setelah wafatnya Benedict Anderson pada 13 Desember 2015 lalu, hampir tak ditemukan reaksi tokoh NU atau intelektual mudanya, kecuali mereka yang memang meminati kajian ilmu sosial, sejarah, dan atau budaya, baik berupa obituari atau catatan singkat demi mengenang Indonesianis besar ini. Wajar, memang. Dibanding para Indonesianis lain yang memang fokus pada kajian Islam, terlebih lagi yang menyangkut NU, nama Ben, begitu kerap ia disapa, memang tak begitu populer bagi kalangan muda NU yang pada umumnya tertarik pada isu keislamaan dan ke-NU-an (atau dalam istilah Ahmad Baso: NU-studies). Tak seperti Martin van Bruinessen, Andree Feillard, Greg Fealy, Greg Barton, atawa Mitsuo Nakamura yang tekun meneliti dan mengamati perkembangan NU (bahkan rutin menghadiri acara-acara akbar NU seperti muktamar, sehingga mengenal dan dikenal sebagian tokoh NU), serta menghasilkan karya-karya yang bertema ke-NU-an, Ben memang tak pernah meneliti, menulis, atau menelurkan karya khusus tentang NU. Karena itu, sekali lagi, sangat wajar bila namanya cukup asing bagi mereka yang fokus pada isu keorganisasian, kultur, dan dinamika internal serta wacana yang berkembang dalam tubuh NU selama ini.

Benedict Anderson dan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Benedict Anderson dan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Benedict Anderson dan NU

Namun, apakah dengan begitu, berarti Ben sama sekali tak menaruh perhatian dan tak punya hubungan langsung dengan kajian terkait ormas Islam terbesar di Indonesia ini? Apakah ia tak punya kontribusi sama sekali terhadap perkembangan tema kajian ini?

Kalau kita menengok karya-karya Indonesianis yang mengambil tema tentang NU secara spesifik, yang kita temukan justru sebaliknya. Robert Hefner, misalnya, dalam tulisannya di jurnal Indonesia yang kemudian menjadi kata pengantar edisi Bahasa Indonesia dari buku Andree Feillard, NU vis-a-vis Negara, ia menyatakan bahwa Ben Anderson bisa dibilang merupakan Indonesianis mula-mula yang menaruh perhatian terhadap pentingnya kajian mengenai NU ditinjau dari berbagai aspeknya. Ia juga menjadi pendorong utama bagi peneliti-peneliti lain untuk menekuni kajian ini. Melalui tulisannya yang terbit pada tahu 1977, “Religion and Politics in Indnesia Since Independence”, Ben, kata Hefner, “meratapi langkanya karya ilmiah Barat yang serius mengenai NU dan kecenderungan di kalangan pengamat politik Indonesia yang memandang organisasi tersebut sepenuhnya korup dan oportunis”.

HMI Tegal Kab

Tulisan ini bisa dianggap sebagai tonggak sekaligus pionir yang menandai awal diliriknya NU sebagai objek kajian yang serius. Buktinya, kata Hefner lagi, sejak saat itu kajian mengenai NU mulai menjadi populer di kalangan akademisi Barat dan mereka tidak bisa lagi memandang organisasi tersebut secara sinis dan dengan pandangan meremehkan. (Feillard, 1999: xv)

Perlu menjadi catatan, selama periode 1950-an-1970-an (dan bahkan sebelum itu, sejak era kolonial), dibandingkan dengan organisasi bercorak modernis, NU tidak banyak mendapat perhatian dari kalangan ilmiah. Ia lebh sering disebut sambil lalu, karena dianggap tidak begitu penting dan tidak memegang peran urgen dalam menentukan arah politik negara. Kalaupun ia dibicarakan dan disebut, ia sering digambarkan dengan atribusi yang benar-benar negatif (anti-modernisasi, kolot, anti-pembaruan, dll) (van Bruinessen, 1994: 8). Di saat ilmuwan sosial Barat yang mengkaji Indonesia terlalu berorientasi pada modernisasi (modernization-oriented) sehingga melihat potensi terbesar ada pada kalangan modernis, Ben Anderson, menurut Martin van Bruinessen, sudah sejak tulisan-tulisan awalnya “berusaha memberikan perhatian yang sepatutnya kepada pesantren dan NU”. Karenanya, van Bruinessen tak ragu menyebut Ben Anderson dan karyanya sebagai “perkecualian” dari tren akademisi Barat pada masanya, dalam hubungannya dengan kelompok tradisionalis.

HMI Tegal Kab

Greg Fealy tak jauh berbeda dengan van Bruinessen dalam menilai peran Ben Anderson terhadap kajian ke-NU-an. Pada mulanya, Fealy membagi arus utama dalam pendekatan historiografi NU menjadi dua bagian. Pertama, adalah wacana atau pendekatan “yang didominasi modernis”, sedangkan yang kedua adalah wacana “yang menghargai tradsi”, yang lebih simpatik dalam memandang NU. Pandangan pertama mulai digunakan dan menjadi pandangan konvensional sejak dasawarsa 1950-an sampai 1970-an, dengan pendukung utamanya adalah intelektual Muslim modernis dan akademisi Barat. 

Hal ini cukup wajar, sebenarnya. Pada tahun-tahun itu, belum banyak kalangan Muslim tradisionalis yang menempuh pendidikan formal “ala Barat”, apalagi menjadi akademisi. Karenanya, kelompok Muslim tradisional menjadi—meminjam istilah Anthony Reid—kelompok yang tidak efektif dalam menjelaskan dirinya kepada dunia luar. Akibatnya, gambaran tentang Islam tradisional memang dikonstruksikan oleh cendekiawan modernis yang sejak dalam pikiran memang sudah berbeda scara diametral dengan kelompok Muslim tradisionalis. NU, misalnya, karena memisahkan diri dari Masyumi pada tahun 1952, lalu mereka sebut sebagai kelompok oportunis yang rela menjilat (Soekarno) dan mencari untungnya sendiri. Mereka (yang tak memahami prinsip dan kaidah berpolitik kaum tradisionalis) juga menganggap NU tak sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan Islam, karena prinsipnya yang tawassuth (moderat), luwes, elastis, dan akomodasionis, tak seperti Masyumi yang berani mengritik bahkan menentang kebijakan rezim Orde Lama dan Soekarno.

Pendekatan model pertama ini kemudian mendapat antitesanya dengan kemunculan kelompok yang menyuarakan pendekatan kedua, yang lebih simpatik dan coba memahami kelompok tradisionalis. Menurut Fealy, meskipun kalangan ini dipelopori oleh Ken Ward—yang meneliti Partai NU dalam Pemilu 1971—, namun kecenderungan ini baru menguat seiring hadirnya tulisan-tulisan Ben Anderson dan Mitsuo Nakamura. Dalam hal ini, Ben berkontribusi misalnya dalam membalik anggapan yang sudah mapan sebelumnya, bahwa NU hanya “menunggangi” agama untuk kepentingan politik, jabatan, dan kekuasaan. Ia menegaskan, yang benar justru sebaliknya, yaitu bahwa NU selalu mengaggap politik hanya sebagai medium (wasilah) demi meraih tujuan-tujuan yang lebih besar, yang didorong oleh motif dan semangat keagamaan. (Fealy, 2003: 12)

Meskipun termasuk sosok yang mula-mula mendorong peneltian tentang NU dan mempromosikan NU sebagai objek penelitian, Ben sendiri hampir tak pernah meneliti dan menghasilkan karya khusus tentang NU. Saya kira, ada beberapa alasan yang bisa diajukan untuk menjelaskan hal ini. Pertama, dicekalnya Ben untuk memasuki Indonesia sejak tahun 1973 sampai 1999 oleh rezim Ore Baru-nya Soeharto jelas tidak memungkinkannya mengadakan penelitian lapangan, bukan saja tentang NU, tapi juga tema-tema lainnya, di Indonesia. Karena itu, pada masa-masa ini ia mengalihkan fokus kajiannya dari Indonesia ke negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Thailand dan Filipina.

Kedua, ia mungkin juga menyadari, seorang yang meneliti NU seyogyanya memang mempunyai modal pemahaman akan Islam tradisional, karena NU-studies memang tidak bisa dilepaskan dari Islamic-studies. Fealy sendiri, yang bertolak dari basic ilmu politik mengakui, “sebagaimana pengetahuan tentang Marxisme diperlukan untuk mempelajari ideologi PKI, pengetahuan tentang fiqih merupakan syarat utama untuk memahami pemikiran politik NU”. (Fealy, 2003:10).

Namun, meskipun tak banyak tulisannya yang menyangkut soal NU, pandangannya yang simpatik terhadap organisasi tradisional ini tak pernah berubah. Pada tahun 2008, misalnya, dalam tulisannya tentang obituari Soeharto, “Obituary for a Mediocre Tyrant”, ia menggambarkan NU sebagai kelompok “’traditional’ Islam who in many ways are showing thmselves to be far more modern than the ‘modernist’”. Dalam tulisan yang sama, ia juga mengapresiasi dan menaruh harapan besar pada kelompok intelektual muda dan aktivis sosial dari kalangan ini, yang mempunyai potensi besar dan sudah mencoba membangun rekonsiliasi dan memulihkan kehormatan orang-orang yang menjadi korban pelanggaran HAM di masa lalu.

Sebuah penilaian yang mengingatkan saya pada penilaian serupa yang dinyatakan oleh Mitsuo Nakamura, misalnya. Pada tahun 1981, Nakamura menyebut NU sebagai “radical traditionalism”, yang setelah perubahan rezim politik,berhasil mengembangkan kombinasi antara sikap oposisi menentang otoritarianisme rezim dengan sikap akomodatif dalam beberapa hal demi tetap menyelamatkan kehidupan organisasi, yang tak kalah pentingnya. Ketika saudara modernisnya “memperoleh keuntungan dari sikap akomodatif terhadap Orde Baru” tetapi berhasil dikooptasi oleh rezim.

Sebuah penilaian, yang juga mengingatkan saya pada fase cukup pajang dari Matin van Bruinessen. “Ketika itu saya percaya bahwa modernisme Islam lebih dinamis dan secara intelektual lebih menarik ketimbang kaum pemelihara tradisi. Saya menghubungkan NU dengan oportunisme politik, konservatisme sosial, dan keterbelakangan kultural. Saya segera menemukan bahwa kenyataannya berbeda, dan kaum modernis, dan pembaharu tidak selalu merupakan pemikir Muslim paling progresif di Indonesia. Banyak di antara mereka yang nampaknya sudah memegang teguh paradigma–paradigma Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, dan Abul-A’la Maududi, sebuah bentuk taklid yang bisa menjadi lebih kaku ketimbang sikap taklid kaum tradisionalis kepada empat imam madzhab. Saya seringkali bertemu dengan orang-orang muda berlatar belakang pesantren yang secara intelektual berpikiran lebih terbuka dan lebih besar rasa ingin tahunya ketimbang kebanyakan modernis yang saya kenal...... Dalam kenyataannya, sebagian dari pemikir Muslim paling menarik di Indonesia berasal dari latar belakang tradisionalis, bukan modernis.

..........Tradisionalisme pesantren dan otoritarianisme kiai jelas tidak menghalangi munculnya arus-arus pemikiran tandingan. Kenyataannya, saya sering terpesona oleh kemandirian berpikir dan sikap kritis generasi muda pesantren dibandingkan para lulusan sekolah bertipe modern di Indonesia”. (van Bruinessen, 1994: 12, 220).





* Mahasiswa FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan anggota PMII Ciputat

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kiai, Sholawat HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock