Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa

Rembang,HMI Tegal Kab. Pimpinan Ranting (PR) Ikatatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Kumbo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah membagikan seribu bungkus daging hewan kurban untuk warga dhuafa.

Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kumbo Bagikan Seribu Bungkus Daging untuk Dhuafa

Daging kurban yang dibagikan pada Ahad dan Senin (5-6/10) tersebut merupakan kerja sama antara IPNU-IPPNU dan Yayasan Bina Dhuafa.

Pimpinan Ranting IPNU Desa Kumbo M Aan Ainun Najib mengatakan pembagian daging hewan pada duhafa merupakan bentuk solidaritas pelajar NU kepada masyarakat. Juga mengurangi kesenjangan bagi yang kaya dan dhuafa.

HMI Tegal Kab

"Kami berharap dengan adanya tebar kurban pedesaan yang kita laksanakan bersama Yayasan Bina Dhuafa ini, dapat terciptanya pemerataan pendistribusian hewan kurban", harapnya.

HMI Tegal Kab

Pembagian daging kurban ini dilakukan dibeberapa desa yang ada di Kecamatam Sedan dan Pamotan. Yakni Desa Kumbo, Lemah Putih, Ngroto, Dadapan, Sambong, Bogorejo, Gandrirojo Kecamatan Sedan dan Desa Palan Kecamatan Pamotan.

Ahmad Harnoto selaku ketua yayasan Bina Dhuafa mengatakan, kegiatan ini sudah berjalan sekitar lima tahun yang lalu. Kami berusaha untuk mengurangi penumpukan daging kurban yang ada di perkotaan.

"Kami berupaya untuk mendistribusikan daging kurban lebih luas lagi. Sehingga masyarakat dan anak-anak di pedesaam dapat merasakan kebahagiaan bersama kami," tutupnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam, Ubudiyah, Khutbah HMI Tegal Kab

Sabtu, 10 Februari 2018

Al-Qur’an Terjemahan

Seseorang tamu berjenggot dan celana cingkrang bertamu ke rumah kiai di salah satu pesantren tahfid Al-Qur’an. Ada apa gerangan? Ia mengkritik kiai karena hanya mengajarkan menghafal Al-Quran kepada para santrinya tanpa memahami artinya.

Tamu: Maaf kiai, menurut saya, pesantren Anda tidak mencetak orang pintar cuman bisanya membunyikan Al-Quran!

Kiai: Ya maaf saya bisanya cuman itu.

Tamu: Tapi Kiai.. Kapan umat Islam bisa bebas buta makna Al-Quran kalau pondok ini cuma ngajar apalan doang?

Al-Qur’an Terjemahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Qur’an Terjemahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Qur’an Terjemahan

Kiai: Ya itulah kita harus berbagi tugas! Saya dan santri saya bagian hapalan Qurannya! Dan…. (Kiai terdiam sejenak. Tamu itu juga masih diam.)

Kiai: Dan.. Anda bagian terjemahannya. ? ----(Yahya)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Tokoh, Kajian Islam, Internasional HMI Tegal Kab

Jumat, 09 Februari 2018

9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI

Jombang, HMI Tegal Kab. Setelah mengikuti apel dan ikrar nusantara bersatu di Alun-alun Jombang bersama ribuan warga setempat, seluruh Pengurus Ansor dan Banser Jombang bergegas menggelar istighotsah dan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara di Masjid Baitul Mukminin, Rabu (30/11).?

Kegiatan ini diawali dengan sholat dhuha bersama. Selenjutnya, mereka berikrar untuk memperkuat komitmen terhadap Negara Republik Indonesia (NKRI) serta Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara.?

9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

9 Ikrar Ansor dan Banser Jombang untuk Perkuat Komitmen NKRI

"Kita nyatakan bahwa NKRI sudah harga mati, ideologi kita adalah Pancasila yang jaya, konstitusi kita adalah UUD 1945 dan tak bisa dikesampingkan adalah kebhinnekaan," kata Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang, H Zulfikar Damam Ikhwanto.

Dalam ikrar tersebut terdapat sembilan butir yang dibacakan secara serentak dan dipimpin langsung oleh Gus Antok, sapaan akrab Zulfikar Damam Ikhwanto. Tampak segenap Pengurus Ansor dan Banser menghayati setiap poin ikrar tersebut.

HMI Tegal Kab

Adapun sembilan poin ikrar sebagai berikut :

1. Berpegang teguh pada aqidah, ajaran, nilai dan tradisi Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyyah.

HMI Tegal Kab

2. Bertanah air satu tanah air Indonesia, berideologi satu ideologi Pancasila, berkonstitusi satu Undang Undang Dasar 1945, dan bersemboyan satu semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

3. Senantiasa siap siaga membela Tanah Air dan Bangsa Indonesia, mempertahankan kemerdekaan, persatuan dan kesatuan nasional serta mewujudkan perdamaian abadi.

4. Melawan setiap usaha yang membahayakan NKRI dan Pancasila serta melawan setiap ideologi yang bertentangan dengan semangat proklamasi Republik Indonesia dan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wujud bela negara.

5. Menghormati dan melaksanakan kewajiban dan hak sebagai warga Negara Indonesia dengan penuh tanggung jawab dan sebaik-baiknya.

6. Menghormati dan Menghargai sesama Warga Negara Indonesia serta menjunjung tinggi norma agama, sosial dan hukum.

7. Menghargai dan menghormati para ulama yang telah berjasa besar terhadap negara, bangsa dan agama, serta melestarikan keteladanannya.

8. Menciptakan dan memelihara rasa aman, tertib, nyaman, tentram dan humanis, demi terwujudnya situasi kamtibmas yang kondusif.

9. Turut berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan lahir-batin yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menuju baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.?

(Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam HMI Tegal Kab

Senin, 29 Januari 2018

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa

Bandung, HMI Tegal Kab

Peran mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai kaum muda intelektual yang menjadi estafet ulama akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat sebagai generasi yang aktif, inovatif dan kreatif. Sehingga bisa membawa NU dan Indonesia yang akan datang harus lebih baik.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj saat mengisi pembukaan Musyawarah Nasional Ke-2 Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung, Jum’at (22/1).

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa

Kiai Said mengajak kaum muda NU untuk memahami berbagai permasalahan yang dihadapi oleh NU dan bangsa Indonesia di masa sekarang dan mendatang. “Harus ada perubahan supaya kalian bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tuturnya dihadapan ratusan mahasiswa NU yang hadir pada acara tersebut.

Sementara itu, Kepala Biro Pelayanan Dasar Setda Provinsi Jawa Barat H Dady Iskandar mengatakan, kehadiran dan peran NU di Jawa Barat sebagaimana dalam Indonesia merupakan komponen yang tidak bisa dipisahkan, apalagi mayoritas kaum muslim di Jawa Barat adalah kaum Nahdliyyin.?

“Baik buruk, jasad maupun ruhnya muslim Jawa Barat yang di dalamnya termasuk kaum Nahdliyyin akan sangat menentukan maju atau mundurnya muslim di Jawa Barat,” ungkapnya membacakan sambutan dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

HMI Tegal Kab

Pihaknya meminta kepada mahasiswa, masyarakat, ulama dan pemerintah untuk senantiasa bahu-membahu menghadapi tantangan Indonesia ke depan. “Sekaligus Keluarga Mahasiswa NU melakukan gerakan untuk menghadirkan tatanan masyarakat madani,” harapnya.

Senada dengan sebelumnya, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat H Eman Suryaman menilai Indonesia kini menghadapi berbagai tantangan global, khususnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang saat ini sudah bergulir.

HMI Tegal Kab

Sehingga Eman meminta kepada kaum muda NU untuk ikut berperan aktif menghadapi tantangan tersebut dengan menggunakan ilmu pengetahuan. “Kita jangan jadi penonton, tapi juga pelaku,” terang pria asal Cirebon itu.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Furqon memaparkan bahwa suatu saat nanti Indonesia akan mengalami bonus demografi yang puncaknya diperkiraan sekitar tahun 2035.

Menurutnya, Indonesia yang kini menempati urutan ke-7 negara dengan kemajuan ekonomi bisa menjadi nomor satu tatkala generasi muda menyiapkan sumber daya manusianya. “Apalagi kader muda NU, harus tampil di depan,” tegas Prof Furqon yang menyambut baik terselenggaranya Munas Ke-2 KMNU di UPI. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat, Internasional, Kajian Islam HMI Tegal Kab

Senin, 22 Januari 2018

Mocoan

Mocoan adalah tradisi pembacaan karya sastra keagamaan lama di kawasan Banyuwangi, Jawa Timur. Mocoan Banyuwangi, demikian sering kali disebut, merupakan pembacaan lontar Yusuf yang berisi riwayat Nabi Yusuf dari sejak kecil hingga dewasa bertahta di Mesir.

Mocoan digelar sebagai bagian dari acara ruwatan, bersih desa, atau petik laut, serta juga pada acara-acara ritual peralihan (tujuh bulanan, kelahiran, khitanan, pernikahan). Pembacaannya berlangsung semalam suntuk hingga lontar Yusuf itu khatam. 

Belakangan ini mocoan juga sering menjadi seni pertunjukan yang digelar di luar konteks ritualnya sehingga kebanyakan bentuknya telah dipadatkan dan dipersingkat.

Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mocoan

Mocoan Banyuwangi, seperti banyak tradisi tutur lainnya di Nusantara, merupakan produk dari proses akulturasi atau silang budaya dari Islam dan kepercayaan serta kebudayaan lokal, dalam hal ini kebudayaan masyarakat Osing. Persilangan budaya ini bisa ditelisik dari wujud karya sastra yang dibaca, isi, bentuk, tembang, cara melagukan, bahasa yang dipakai, dan fungsinya dalam masyarakat. 

HMI Tegal Kab

Yang disebut sebagai lontar Yusuf pada dasarnya adalah sebuah kitab beraksara Arab pegon dalam bahasa Jawa Madya. Kendati demikian, di dalamnya juga ditemukan banyak kosakata bahasa Osing. Kitab ini disalin dan turunkan dari generasi ke generasi. 

Sebutan “lontar” jelas mengingatkan pada lembaran daun lontar atau kulit ari pohon, media yang dulu digunakan untuk menerakan karya-karya sastra lama. Tradisi pembacaan lontar telah dikenal sejak zaman Hindu-Buddha. Rupanya meski media penulisannya telah berganti dari lontar menjadi kertas, sebutan “lontar” ini tetap lekat. 

HMI Tegal Kab

Lontar Yusuf, atau lebih tepatnya, kitab Yusuf yang tertua di wilayah Banyuwangi disimpan oleh sebuah keluarga dalam bungkusan kain dan tidak boleh dibuka karena dipercaya bisa menimbulkan kebutaan (ngaweng). Dengan demikian yang dibaca dan beredar di kalangan seniman mocoan sekarang ini adalah berupa salinannya.

Lontar Yusuf dituliskan dalam beberapa pupuh (bait), yang namanya mirip dengan tembang macapatan di Jawa. Ada yang terdiri empat pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, dan sinom, dan ada yang enam pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, kusumadiya, arum-arum, dan rancagan. Perbedaan jumlah pupuh ini terjadi karena proses penyalinan yang kadang-kadang berdasar pada hapalan dan perbedaan pertimbangan pengambilan kalimat yang diringkas. 

Kendati demikian, dalam mocoan Pacul Gowang terdapat tambahan beberapa pupuh, yaitu mijil, kesilir, andrian, delimoan, selobok, dan kedendha. Tetapi pupuh-pupuh tambahan ini dianggap bukan bagian dari lontar dan hanya berfungsi sebagai pupuh peralihan yang mengantarkan penyajian dari mocoan yang sifatnya religius menuju mocoan yang sifatnya sekuler (hiburan). 

Perbedaan jumlah salinan pupuh ini tidak mengakibatkan perbedaan dalam penyajian mocoan ketika mereka tampil bersama-sama. Kebanyakan mereka menghapal salinan beserta ding-dungnya, karena bagian ini selalu sama. Ding adalah konsep untuk menyebut kata-kata jawaban di akhir kalimat dalam setiap baris, sedangkan dung adalah konsep untuk menyebut kata jawaban di akhir pupuh.

Ding-dung memiliki kaitan dengan sahut-sahutan yang dilakukan seniman dalam menyajikan lontar. Satu pupuh bisa disajikan oleh seorang saja, tapi bisa juga bergantian. Seandainya disajikan oleh seorang saja, maka yang lain hanya akan ngedingi (menjawab). Ngedingi dilakukan dengan melihat kata akhir dalam kalimat, tetapi bisa juga setelah kata terakhir tersebut usai (endeg-endegan). 

Jika pembaca lain ingin mengganti baris selanjutnya, maka ia akan menyaup (menyahut) kata terakhir yang disajikan penyaji pertama. Biasanya saupan dilakukan dengan menunjukkan ketinggian nada yang berbeda dengan penyaji pertama. Jika sudah disaup, penyaji sebelumnya akan diam dan ganti menjadi tukang ngedingi atau bersiap menyaup bagian selanjutnya. Demikian seterusnya.

Meski tanpa berdasar pada susunan nada-nada instrumen, para etnomusikolog mengamati adanya kesan dua laras (tangga nada) yang dipakai, yaitu modus slendro dan pelog dalam vokal mocoan. Kesan slendro yang muncul beserta eluk-elukan dan gregel-nya dianggap memiliki kedekatan dengan slendro banyuwangen yang digunakan dalam gandrung Banyuwangi. Sedangkan kesan pelog yang lebih dekat ke pelog Jawa, bukan Bali, muncul dalam beberapa pupuh dan lebih banyak tampil sebagai varian penyajian. 

Meski disebut lontar Yusuf, sebenarnya isinya juga menghimpun riwayat nabi-nabi yang lain, seperti Sulaiman, Daud, Shaleh, dan Muhammad. Mocoan jelas merupakan suatu ikhtiar untuk mengambil barakah dari kemuliaan para nabi. Diyakini dengan pembacaan ini, harapan dan keinginan bisa terkabulkan. Meski arti bahasa lontar Yusuf ini tidak dimengerti, kesakralannya tetap diyakini. 

Oleh karena itu para pendengar mocoan kerap menitipkan benda-benda yang terkait dengan hajat mereka untuk diletakkan di bawah lontar yang akan dibaca agar terkabul harapan mereka, misalnya bedak dan sisir, ketika mereka ingin memiliki rupa yang menarik dan memesona sebagaimana Nabi Yusuf. (Sumber: Ensiklopedia NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Kajian Islam, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Minggu, 14 Januari 2018

Islam Sebagai Sarana Character Building

Dalam membangun bangsa yang maju besar dan beradab, agama memiliki peran yang sangat besar. Sebagai organisasi sosial keagamaan, sejak dulu NU berperan sangat besar dalam mengayomi dan membangun masyarakat, baik melalui pendidikan, dakwah dan lain sebagainya. Hal itu tidak lain karena NU merupakan organisasi keagamaan yang dipimpin oleh para ulama, sementara tugas ulama selain liyatafaqqahu fiddin, mengggali, merumuskan dan mengembangkan pemikiran keagamaan, tetapi juga memiliki tugas yang tidak kalah pentingnya dan bahkan sangat strategis yang berkaitan dengan masalah sosial dan kebangsaaan yaitu tugas liyundziru qaumahum (membangun masyarakat) yakni membentuk kepribadian. 

Dalam kaitan dengan masalah masyarakat, NU memiliki beberapa tugas pertama adalah pembangunan mental-spiritual, pembentukan kepribadian atau karakter masyarakat (character building) ini sangat penting agar lahir kader orang-orang  atau masyarakat yang memiliki sikap, memiliki ketegasan, memiliki prinsip serta memiliki tanggung jawab baik terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia dan terhadap bangsa dan Negara. Karena itu para ulama dan khususnya NU memiliki tugas kedua yaitu nation building (pembangunan bangsa). Dengan adanya pembantukan karakter (character building) itulah nation building (pembangunan bangsa) bisa dilaksanakan dan ini merupakan modal dasar bagi state building (membangun Negara). Dengan nation building ini maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani, karena memiliki kepribadian nasional yang kokoh, sehingga bisa berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa beradab yang lain.

 

Tugas ketiga adalah criticism buiding (membangun sikap kritis), ini sesuai dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana sering ditegaskan bahwa sikap NU terhadap negara taat mutlak bahwa negara harus dijaga dan dibela, tetapi terhadap pemerintah yang ada NU menerapkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sementara dalam melakukan amar ma’ruf sendiri perlu menggunakan etika.

Islam Sebagai Sarana Character Building (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Sebagai Sarana Character Building (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Sebagai Sarana Character Building

مَنْ كَانَ أَمْرُهُ مَعْرُوْفاً فَلْيَكُنْ بِمَعْرُوْفٍ

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

(Barangsiapa mengajak kebaikan maka dengan cara yang baik pula).

 

NU akan mendukung setiap kebijakan pemerintah yang adil dan benar, tetapi NU akan mengkritik setiap kebijakan pemerintah yang tidak benar dan tidak adil bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

 

Sikap kritis NU dalam mendukung atau mengkritik pemerintah ini didasari oleh pertimbangan etis, bukan oleh pertimbangan politis, karena itu akan dilakukan terus walaupun NU bukan partai politik tetapi organisasi keagamaan yang memang memiliki tugas moral atau etis.

 

Kembali pada upaya character building dan nation building, ini merupakan langkah yang sangat mendesak saat ini, karena ini merupakan persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini ketika sekolah dan lembaga pendidikan lain termasuk lembaga kebudayaan yang ada tidak melakukan tugas ini. Sementara gelombang globalisasi yang begitu besar menghancurkan sendi-sendi bangsa ini di semua sektor kehidupan, sehingga terjadi kemerosotan moral dan lunturnya karakter. Sementara NU sebagai organisasi keagamaan justru tidak pernah berhenti melakukan character and nation building ini.

 

Penanaman rasa cinta tanah air dan bangga terhadap sejarah serta peradaban sendiri itu dilakukan karena berdasarkan pertimbangan bahwa:

مَنْ لَيْسَ لَهُ اْلأَرْضُ لَيْسَ لَهُ تَارِيخ، وَمَنْ لَيْسَ لَهُ التَّارِيْخُ لَيْسَ لَهُ ذَاكْرَة

(barang siapa tidak memiliki tanah air dan tidak mencintai tanah air, maka tidak memiliki sejarah, barang siapa tidak memiliki sejarah maka tidak memiliki memori dan karakter).

 

Bagi orang atau bangsa yang tidak memiliki memori maka dia akan menjadi bangsa tidak memiliki karakter, dan bangsa yang tidak memiliki karakter akan kehilangan segalanya. Politiknya akan hilang, peradabannya akan merosot dan aset ekonominya pun akan dijarah bangasa lain akhirnya akan menjadi bangsa yang miskin dan tidak terhormat. Inilah pentingnya menanamkan rasa cinta tanah air, dan karena itu tidak henti-hentinya NU menanamkan rasa cinta tanah air. Penegasan pada Pancasila, UUD 1945 dan NKRI ini merupakan bentuk paling nyata dari rasa cinta tanah air tersebut. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman (hubbul wathan minal iman). Dalam pengertian itulah agama ditempatkan sebagai unsur mutlak dalam nation dan character building.

Jakarta,   6 Juni 2012. M

               16 Rajab 1433 H

 

 

Dr KH Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam, Pertandingan HMI Tegal Kab

Gus Mus: Idham Chalid Bapak Politik NU

Rembang, HMI Tegal Kab. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri  yang akrab disapa Gus Mus menilai mendiang KH Idham Chalid sebagai "Bapak  Politik" Nahdlatul Ulama (NU).



Gus Mus: Idham Chalid Bapak Politik NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Idham Chalid Bapak Politik NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Idham Chalid Bapak Politik NU

"Pemikiran-pemikiran politiknya sangat berpengaruh dan mengena di kalangan warga  Nahdliyin. apalagi beliau memang sangat lama berkecimpung di dunia politik,"  katanya, Ahad kemarin.

Menurut Wakil Rais Aam PBNU ini, KH Idham Chalid berperan besar dalam melahirkan  kader-kader NU di perpolitikan saat ini dan para tokoh NU yang saat ini berkarir  di jalur politik pasti mengakuinya.

HMI Tegal Kab

"Beliau memiliki pemikiran bahwa khidmat perjuangan  Indonesia dan agama paling efektif dicapai melalui jalan politik, dan jalan  politik itulah yang dipilihnya untuk berjuang," katanya.

Hal itu pulalah yang kemudian menginspirasi banyak kader NU agar terjun ke dunia  politik terlebih lagi KH Idham Chalid adalah tokoh berpengaruh yang pernah memegang tampuk kepemimpinan NU,” ujarnya.

HMI Tegal Kab

"Kalau belakangan ini ada semacam cemoohan atau anggapan sinis bahwa orang-orang  NU punya syahwat yang besar dalam politik, itu tidak bisa disalahkan karena  pemikiran beliau memang menginspirasi," tandasnya.

Bahkan, menurut Gus Mus, KH Idham Chalid adalah pemegang tampuk kepemimpinan  NU dalam waktu yang sangat lama sehingga pemikirannya sangat memengaruhi  kalangan warga nahdliyin hingga ke lapisan paling bawah.

Karena kemampuan politik KH Idham Chalid itu pula, muncul kesan sampai saat  ini bahwa orang-orang tanfidziyah lebih menonjol dibanding orang-orang di  jajaran syuriah NU,” imbuhnya.

Kesan itu muncul sejak kepemimpinan KH Idham Chalid sebagai Ketua Umum  Pengurus Besar NU (PBNU). Kesan tersebut semakin mengental sejak KH  Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memimpin organisasi Islam terbesar di Tanah Air itu.

"Beliau memang berkecimpung di perpolitikan, namun tidak lupa dengan  ke-NU-annya. Karena itu, langkah politiknya selalu sejalan dan tidak pernah  bertentangan dengan apa yang dicita-citakan NU," terangnya.

Sebagai buktinya, kata dia, Idham Chalid menjadi Ketua Umum PBNU termuda  dan terlama yang secara tidak langsung membuktikan kepercayaan warga NU terhadap  kiai kelahiran Setui, 27 Agustus 1922 itu.

Gus Mus bahkan sempat berkelakar bahwa mantan Presiden Soeharto mungkin berguru  mengaji dengan Idham Chalid sehingga dia sanggup mempertahankan  kekuasaannya dengan sangat lama.

"Lamanya Pak Harto menjadi presiden kan hampir sama dengan lamanya Pak Idham  menjadi Ketua Umum PBNU. Jangan-jangan Pak Harto dulu ngajinya sama Pak  Idham," kata budayawan itu berkelakar.

Gus Mus mengaku sangat meneladani sosok Idham Chalid, terutama kemampuannya  menjaga akhlak dan amaliyah selama bergelut di dunia politik. Hal itulah yang  kini tidak banyak dimiliki kader-kader NU yang terjun di politik saat ini.(ant/adb)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam HMI Tegal Kab

Senin, 18 Desember 2017

Akreditasi, Ansor Jombang Perbaiki Sistem Informasi dan Administrasi

Jombang, HMI Tegal Kab. Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang menggelar sosialisasi akreditasi, Sistem Informasi Anggota Gerakan Pemuda Ansor (SIGAP), dan pelatihan administasi organisasi di MI Al-Istiqomah, Yayasan Al-Istiqomah, Mojongapit, Jombang, Jawa Timur, Selasa (25/8).

Ketua PC GP Ansor Jombang, H. Zulfikar Damam Ikhwanto menyampaikan, kegiatan ini dihadiri Pimpinan Cabang, Ketua dan Sekretaris dari Seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor se-Kabupaten Jombang. "Adanya sosialisasi akreditasi ini dapat memberikan motivasi sekaligus kejelasan arah dalam mengelola organisasi," ungkapnya.

Akreditasi, Ansor Jombang Perbaiki Sistem Informasi dan Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Akreditasi, Ansor Jombang Perbaiki Sistem Informasi dan Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Akreditasi, Ansor Jombang Perbaiki Sistem Informasi dan Administrasi

Setidaknya ada beberapa indikator yang bisa dijadikan acuan dalam menata Ansor, yaitu majelis dzikir dan shalawat Rijalul Ansor atau kegiatan peringatan hari besar agama Islam, kaderisasi, lembaga keuangan mikro syariah, lembaga kursus dan pelatihan, kebanseran, struktur organisasi dan pendataan anggota Ansor dalam SIGAP online.

HMI Tegal Kab

"Sehingga kinerja organisasi bisa diukur dan kelayakan dalam pengelolaan organisasi juga dapat dinilai," katanya. Akhirnya reward dan punishment pun akan diberlakukan berdasar hasil akreditasi itu, lanjutnya.

HMI Tegal Kab

Sementara materi tertib administrasi, pengisian laporan akreditasi dan pelatihan aplikasi SIGAP online dipandu sekretaris umum PC GP Ansor Jombang, Muizzun Hakam. "Dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan pengurus PAC dapat menertibkan administrasi organisasi, melakukan pendataan anggota melalui SIGAP online, menjalankan kegiatan sebagaimana yang dijadikan indikator penilaian dalam akreditasi dan disampaikan ke ranting masing-masing," tandas Muiz, panggilan akrabnya.

Ditambahkan, di samping materi tersebut, peserta juga mendapatkan materi sekilas jurnalistik dari Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jombang, M. Afairur Ramadhan.

"Hal ini untuk memperkaya khazanah kepenulisan dalam rangka mempublikasikan kegiatan, baik di media sosial atau media online," terangnya.

Usai pelatihan, akan dilakukan tindak lanjut dari kegiatan untuk memantapkan materi yang didapat, utamanya melalui komunikasi intensif dan asistensi atau pendampingan. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Warta, Daerah, Kajian Islam HMI Tegal Kab

Senin, 06 November 2017

Korban Terorisme, dari Trauma Psikis hingga Gagal Menikah

Jakarta, HMI Tegal Kab

Rasa sakit dari luka fisik bisa hilang, rasa sakit dari luka batin terasa selamanya. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan keadaan para korban aksi terorisme. Apalagi luka fisik dapat dilihat, memberitahu orang lain tingkat keparahannya. Sedangkan luka batin atau trauma, hanya korban sendiri yang paling mengetahui dan merasakannya.

Seperti penuturan Nanda Olivia, salah satu korban Bom Kuningan 2004 dalam perbincangan dengan HMI Tegal Kab, sesaat setelah acara Short Course “Penguatan Perspektif? Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media” di Hotel Ibis Budget, Menteng Jakarta Pusat, Kamis (26/5) siang.

Korban Terorisme, dari Trauma Psikis hingga Gagal Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Korban Terorisme, dari Trauma Psikis hingga Gagal Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Korban Terorisme, dari Trauma Psikis hingga Gagal Menikah

Nanda mengatakan, setiap korban memiliki tingkat trauma yang berbeda-beda. Ada satu orang yang setelah kejadian hanya mengurung diri di kamar, ada yang bersikap biasa-biasa saja, seperti tidak mengalami kejadian berat.

HMI Tegal Kab

“Trauma itu baru ketahuan pada saat acara semacam ini (obrolan dengan media atau di depan publik). Saya salah satunya, saya merasa nggak ada masalah setelah sembuh secara fisik. Barulah pada saat sharing dan bertemu mantan pelaku, ketahuan aslinya,” tutur Nanda.

HMI Tegal Kab

Pada sesi sharing pun, ada korban yang diam saja, disuruh berbagi pengalaman tidak mau. Padahal di dalam hati mereka tampak seperti ada sesuatu yang masih membebani.

Menurut Nanda, jenis kelamin korban juga mempengaruhi sikap keterbukaan. Korban berjenis kelamin pria rata-rata lebih bisa mengatur emosi mereka. Sementara wanita sering dan mudah terbawa perasaan. Misalnya masih ada emosi kemarahan dan kesedihan setiap mendengar atau mengungkapkan cerita mereka.

Nanda berpendapat, bagi mereka yang lebih sering berbagi cerita, keadaan cenderung menjadi lebih baik. Dengan bercerita, secara tidak langsung sudah menerapi diri sendiri.

Korban lainnya yang merasa menjadi lebih baik dengan berbagi pengalaman adalah Wahyu Srirejeki dan Vivi Normarini. Wahyu yang juga korban Bom Kuningan 2004, kini berpembawaan lebih ceria. Wahyu bahkan sedang menyiapkan meneruskan studi S2.

Ada pun Vivi Normasari yang sempat kehilangan rasa percaya diri karena menjadi korban terorisme, bahkan batal menikah dengan kekasihnya yang hubungan mereka sudah terjalin selama 11 tahun dan melewati penantian yang panjang, kini? menyadari bahwa itu bukan jodohnya.

Vivi sebelumya merasa seakan-akan Tuhan tidak adil. Tetapi akhirnya Vivi sadar bahwa ia harus menatap ke depan. Bagi Vivi, yang utama sekarang adalah berdamai dengan diri sendiri

Baca: Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Terorisme

Persoalannya, dalam forum-forum diskusi atau wawancara, korban yang diminta untuk berbagi cerita biasanya itu-itu saja. Itu sebabnya para korban terorisme membutuhkan perhatian banyak pihak, termasuk media massa. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tegal, Kajian Islam, Kiai HMI Tegal Kab

Sabtu, 12 Agustus 2017

Hadirkan Sejumlah Pihak, LPNU Bahas Kedaulatan Pangan

Jakarta, HMI Tegal Kab. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) menggelar Seminar Nasional Pra Muktamar bertajuk “Menyoal Ekonomi Kerakyatan dan Kedaulatan Pangan di era Jokowi” di lantai 5 Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta, Rabu (1/7).

Ketua Pengurus Pusat LPNU H Mustholihin Madjid mengatakan, hasil seminar akan dibawa ke forum muktamar dan dijadikan acuan PBNU lima tahun mendatang. “Jika perlu, akan diteruskan acuan tersebut hingga 2026 saat memperingati 100 Tahun NU. Dengan catatan kalau hasilnya bagus,” ujarnya.

Hadirkan Sejumlah Pihak, LPNU Bahas Kedaulatan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadirkan Sejumlah Pihak, LPNU Bahas Kedaulatan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadirkan Sejumlah Pihak, LPNU Bahas Kedaulatan Pangan

Menurut dia, membincang soal ketahanan pangan tentu tidak bisa dihindari membicarakan tentang produk petani. “Bicara produk petani, otomatis kita bicara tentang petani. Nah, kalau tentang petani, merem saja 50 persennya akan ketahuan kalau mereka warga NU,” kata Mustholihin.

HMI Tegal Kab

Hadir dalam acara tersebut Ketua PBNU sekaligus Ketua Panitia Muktamar ke-33 NU H Imam Aziz dan Ketua PBNU bidang perekonomian Prof KH Maksum Mahfoedz. Para pimpinan lembaga di lingkungan PBNU juga tampak hadir, antara lain Ketua LTM NU KH A Manan A Ghani, Ketua PP Lakpesdam NU KH Yahya Mashum, Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik.

Seminar yang dimoderatori kader NU dari Universitas Indonesia Athor Subroto ini mengundang sejumlah narasumber antara lain Sekretaris Badan Ketahan Pangan Nasional Rochjat Darmawiredja, Direktur Irigasi, Rawa dan Air Kementerian PUPR Amir Hamzah, Kepala Biro Ekonomi BCA David Gumual, dan Rangga dari LSM Vasham.

HMI Tegal Kab

Para narasumber berbicara tentang tiga hal Kedaulatan Pangan, Kemandirian Pangan, dan Ketahanan Pangan yang mengacu pada UU No 18/2012 tentang Pangan.? Sementara paparan Rangga dari Vasham lebih kepada strategi swasembada pangan, yakni menyangkut corporate farming, dan pengembangan petani kecil. (Musthofa Asrori/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ubudiyah, Daerah, Kajian Islam HMI Tegal Kab

Selasa, 06 Juni 2017

Awal Mula Munculnya Gagasan Liga Santri Nusantara

Jakarta, HMI Tegal Kab. Salah seorang inisiator Liga Santri Nusantara (LSN) H. Abdul Muhaimin Iskandar mengungkapakan latar belakang muncul gagasan Liga Santri Nusantara (LSN).

Awal Mula Munculnya Gagasan Liga Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal Mula Munculnya Gagasan Liga Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal Mula Munculnya Gagasan Liga Santri Nusantara

Menurutnya, karena saat ramai sepakbola, tapi sulit mencari bibit-bibit pemain, dalam pertandingan sering kalah, maraknya kerusuhan, dan sumber rekrutmen yang terbatas.

“Maka ada gagasan santri itu punya pola pikir, Insyaallah gak berantem,” kata Muhaimin saat pidato acara Launching Liga Santri Nusantara (LSN) di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (27/7).

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa sumber daya manusia yang ada di pesantren itu sangat melimpa. Melihat itu, menurutnya, sangat mudah apabila dilakukan suatu kompetisi yang melibatkan para santri, pelajar yang ada di pesantren yang punya tradisi kuat dan kokoh dalam hal olahraga, kemandirian, ? dan potensi sportivitas.

HMI Tegal Kab

“Istilahnya tidak akan macem-macem, sak nakal-nakalnya santri itu gak kebengeten lah,” ujar pria yang akrab disapa Cak Imin ini.

Terlepas dari itu, lanjutnya, pesantren punya spirit kejujuran, keberanian, dan soprtifitas. Sehingga menjadi potensi untuk majunya olahraga nasional dan lahirnya bibit-bibit potensial pesepakbola dari pesantren.

Turut Hadir pada acara launching ini; Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil siroj, Menteri Pemuda dan Olahraga H Imam Nahrawi, ketua PBNU H Marsyudi Syuhud, Ketua PBNU H Robikin Emhas, dan lain-lain. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Kajian Islam HMI Tegal Kab

Kamis, 18 Mei 2017

Kisah Menarik dari Penjara Suci

“Kau punya uang Rp.5.000? Pokoknya aman, aku punya lapak (tempat) bagus, sunyi.” Ternyata temanku itu mau mengajak aku nyabu alias konsumsi narkoba. Pada saat itu, hatiku terketuk. Entah kenapa hatiku mengatakan aku harus pergi jauh, jauh sekali. Akhirnya terlintas di benakku sebuah ludah yang pernah kubuang dahulu, ‘pesantren’. Aku pun mengutarakannya kepada ayahku bahwa aku ingin masuk pesantren tapi harus jauh, di Jawa, tapi aku tidak tahu pesantren apa".?

Abu Dohak menceritakannya dengan bahasa yang cair dan mudah dipahami. Ia berasal dari Medan, yang kemudian menempuh pendidikan di sebuah pesantren di Jawa Timur, bahkan akhirnya ia meneruskan sampai kuliah di Hadralmaut, Yaman. Pesantren mampu mengubah hidupnya yang semula gelap menjadi terang.

Pangeran senja menyebut pesantren sebagai ? ‘negeri seribu budaya’, bukan karena aneka ragam suku dan bangsa penduduknya saja, lebih dari itu, karena pesantren mengajarkan santrinya merangkai seribu keinginan, seribu mimpi, seribu keajaiban, seribu keistimewaan, seribu keindahan di mata manusia serta di sisi Allah (hal.75).

Kisah Menarik dari Penjara Suci (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Menarik dari Penjara Suci (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Menarik dari Penjara Suci

Sementara Siti Rumiatin mengungkapkan, momen istimewa ketika di pesantren ialah ketika ada acara besar seperti haul, PHBI, Muharram, Mauludan, Haflah Akhirussanah. Adapun momen yang paling menyaedihkan adalah ketika ia mengingat orangtua yang bekerja untuk menghidupinya di “penjara suci itu”, sedangkan ia merasa belum bisa bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu (hal.110).

Selain kisah tersebut, masih banyak kisah-kisah lainnya. Buku ini ditulis oleh 30 santri dari Pesantren Langitan Tubah dan Tebuireng Jombang. Ada suka dan duka, inspirasi dan motivasi, serta humor dan kenakalan kaum santri di dalamnya.?

Mereka bergabung dalam komunitas yang mereka dirikan bernama Pesantren Indonesia Menulis (PIM). Buku ini adalah karya perdana bersama mereka dan akan dilanjut karya-karya selanjutnya. Selain itu, mereka juga ingin mengajak pesantren-pesantren lainnya untuk bisa menulis dan menerbitkan buku. PIM siap membimbing pesantren mana pun yang ingin ditraining menulis.?

HMI Tegal Kab

Berdasarkan data yang ada, kini di Indonesia telah berdiri lebih dari 25.785 pesantren dengan jumlah 3,65 juta santri. Rasanya sayang jika mereka hanya bergelut di pesantren tanpa berkarya dan dinikmati khalayak umum.?

Secara tidak langsung, buku yang diterbitan oleh Emir Devisi dari Penerbit Erlangga ini menjawab tudingan miring sebagian kalangan yang menyebut bahwa pesantren adalah biang teroris. Padahal pesantren sama sekali tidak mengajarkan hal itu. Terbukti dari kisah-kisah yang dituturkan jujur oleh para santri ini.?

HMI Tegal Kab

Alhasil, buku ini sangat layak dibaca oleh semua lapisan masyarakat. ? Bagi yang tidak kenal pesantren agar kenal dunia pesantren. Bagi yang pernah hidup di pesantren, buku ini bisa sebagai sarana nostalgia. Meski tidak dimungkiri, buku ini banyak istilah santri yang mungkin belum akrab di kalangan umum.





Data Buku

Judul : Kisah dari Bilik Pesantren

Penulis : Fathurrahman, Dkk.

Penerbit ? ? ? ? ? ? ? ? : Emir, Erlangga, Jakarta

Cetakan : Januari 2017

Tebal : 176

ISBN : 978-602-09-3556-0

Kode buku : 808-204-010-0

Peresensi : Nida Husna, Mahasiswi Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) Jakarta?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam, Pesantren HMI Tegal Kab

Sabtu, 25 Februari 2017

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji

Madinah, HMI Tegal Kab. Para jamaah haji diharapkan dapat memantapkan niat untuk beribadah selama berada di Tanah Suci Makkah dan Madinah. Niat ibadah yang telah sejak lama ditanamkan dalam jiwa hendaknya tidak dikotori oleh emosi diri dan keangkuhan.

Demikian selalu diingatkan oleh Maraposan Rambe (MBR), Ketua Kloter Mess 04 Medan, asal kabupaten Labuan Batu Sumatera Utara, kepada para jamaah haji yang dipimpinnya. Menurut MBR Tanda kepangkatan dan jabatan juga tidak perlu ditonjolkan selama menjalankan ibadah haji.

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji

"Saya selalu mengingatkan kepada para jamaah, agar tidak bertindak mentang-mentang. Orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji tidak mengenal tanda kepangkatan dan kekayaan, semuanya sama di hadapan Allah," tutur MBR kepada HMI Tegal Kab di Kantor Misi Haji Indonesia Daerah Kerja Madinah, Sabtu (23/10).

HMI Tegal Kab

Menurut MBR, jamaah haji mestinya tidak saling menyombongkan diri dan hanya bisa komplain saja. Karena hal itu akan mengurangi keutamaan ibadah seseorang.

HMI Tegal Kab

"Jadi jangan mentang-mentang dia orang kaya raya di Tanah Air atau orang berpangkat, lalu bisa seenaknya komplain atas kekurangan dan berbagai kendala yang muncul selama perjalanan ibadah. Karena semua jamaah haji akan diperlakukan sama oleh para petugas," tandas pria yang memiliki suara lantang ini. (min/Laporan langsung Syaifullah Amin dari Arab Saudi)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tegal, Hadits, Kajian Islam HMI Tegal Kab

Jumat, 26 Agustus 2016

Perbedaan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi

Sebagaimana kita ketahui, Allah telah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk untuk manusia. Secara pengertian, Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang menjadi mukjizat bagi beliau, serta membacanya adalah suatu ibadah.

Nabi menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah firman Tuhan yang harus disampaikan, sebagai tugas kerasulan beliau. Selanjutnya, para sahabat berbondong-bondong mulai menghafal Al-Qur’an, serta sebagian menulisnya di berbagai medium sesuai dengan teknologi yang ada di masyarakat Arab waktu itu. Selanjutnya, Al-Qur’an ini juga mulai disusun pada masa-masa Khulafaur Rasyidin pascawafatnya beliau, dan usai pada masa Khalifah Utsman bin Affan radliyallahu ‘anhu.

Perbedaan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbedaan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbedaan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi

Karena sebab inilah, Al-Qur’an menjadi terjaga, baik karena adanya hafalan para sahabat maupun tulisan-tulisan mushaf yang berhasil disusun. Dan Tuhan pun telah menjamin keterjagaan Al-Qur’an inidalam Surat Al Hijr ayat 9:

HMI Tegal Kab

? ? ? ? ? ?

HMI Tegal Kab

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan adz Dzikr, dan Kami-lah yang menjaganya.”

Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tafsir ath-Thabari menyebutkan bahwa yang dimaksud adz-dzikr dalam ayat tersebut adalah Al-Qur’an, dan Allah menjaganya dari penambahan, pengurangan, baik dari isinya maupun dari segi batasan hukum serta kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya.

Di sisi lain, selain mengucapkan Al-Qur’an, laku dan ucap Nabi juga ditulis oleh para sahabat. Karena kemuliaan dan keutamaan beliau, tentu mencatat teladan dari beliau juga mulia. Namun Nabi melarang untuk menulis apa pun dari beliau, kecuali Al-Qur’an. Ternyata, berlalu zaman, muncul urgensi untuk mengumpulkan perkataan, tindakan, maupun persetujuan (taqrîr) Nabi ini yang saat ini kita kenal sebagai hadits.

Seiring masa kodifikasi, pengumpulan hadits pada sekitar abad kedua Hijriah, diketahui bahwa Nabi pun selain menyebutkan ayat Al-Qur’an, juga menyatakan beberapa hal yang disandarkan pada Allah. Dalam ilmu hadits, hadits-hadits yang dituturkan Nabi dan disandarkan pada Allah ini disebut hadits Qudsi.

Kerap muncul pertanyaan: jika Al-Qur’an adalah wahyu Allah, mengapa masih ada hadits Qudsi? Bukankah Nabi adalah penutur wahyu Allah, dan setiap yang dikatakan beliau adalah wahyu? Bagaimana membedakan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi?

Secara sekilas, tentu saja hadits Qudsi akan kita temukan dalam kitab-kitab hadits beserta periwayatnya, sedangkan Al-Qur’an sudah terpaten dalam mushaf, serta secara mutawatir, telah dihafalkan turun temurun. Namun jika muncul pertanyaan kritis seperti di atas, mengenai hal ini, Syekh Muhammad bin Alawi Al Maliki, salah satu ulama kenamaan Mekkah, menjelaskan dalam kitabnya al-Qawaidul Asasiyyah fi ‘Ilmi Musthalahil Hadits.

Setidak-tidaknya, mengutip penjelasan Syekh Muhammad Al Maliki, ada beberapa hal yang patut kita cermati tentang perbedaan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi:

1. Al-Qur’an adalah mukjizat yang terjaga sepanjang masa dari segala pengubahan, serta lafal dan seluruh isinya sampai taraf hurufnya, tersampaikan secara mutawatir.

2. Al-Qur’an tidak boleh diriwayatkan maknanya saja. Ia harus dihafalkan sebagaimana adanya. Berbeda dengan hadits Qudsi, yang bisa sampai kepada kita dalam hadits yang diriwayatkan secara makna saja. Pun ia masih bisa dikritik secara sanad dan matan sebagaimana hadits-hadits lainnya.

3. Dalam mazhab Syafi’i, Mushaf Al-Qur’an tidak boleh dipegang dalam keadaan berhadats kecil, serta tidak boleh dibaca saat berhadats besar. Sedangkan pada hadits Qudsi, secara hukum, ia boleh dibaca dalam kondisi berhadats.

4. Hadits Qudsi tentu tidak dibaca saat shalat, berbeda dengan ayat Al-Qur’an.

5. Membaca Al-Qur’an, membacanya adalah ibadah, dan setiap huruf diganjar sepuluh kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits.

6. Al-Qur’an adalah sebutan yang memang berasal dari Allah, beserta nama-nama Al-Qur’an yang lainnya.

7. Al-Qur’an tersusun dalam susunan ayat dan surat yang telah ditentukan.

8. Lafal dan makna Al-Qur’an sudah diwahyukan secara utuh kepada Nabi Muhammad, sedangkan lafal hadits Qudsi bisa hanya diriwayatkan oleh para periwayat secara makna.

Sekurang-kurangnya, itulah perbedaan mendasar antara Al-Qur’an dan Hadits Qudsi. Jika ditelaah lebih lanjut, tentu masih banyak perbedaan yang bisa didapat. Tujuan mengenal perbedaan ini, supaya kita tidak dibingungkan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang Al-Qur’an. Selain itu, untuk menempatkan sumber-sumber hukum agama Islam dan pedoman iman kita secara benar dan proporsional. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam, Kajian Sunnah, AlaSantri HMI Tegal Kab

Minggu, 04 Mei 2014

Menyoal Reposisi Gerakan PMII

Oleh Abdul Rahman Wahid. --Peralihan negara dari otoriterianisme ke demokrasi menuntut organisasi mahasiswa untuk mengkaji ulang gerakannya, tak terkecuali PMII.

Berkaca pada sejarah, sikap PMII pada masa Orde Baru (Orba) yang vis a vis terhadap negara adalah suatu yang niscaya. Keterkungkungan dalam segala hal, baik politik ekonomi dan sosial membuat PMII harus mengambil sikap independen agar tetap survive mengawal negara. Tak heran, di bawah kepemimpinan sahabat Zamroni, PMII menyatakan independen, tidak ada ketergantungan terhadap organisasi manapun.

Menyoal Reposisi Gerakan PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyoal Reposisi Gerakan PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyoal Reposisi Gerakan PMII

Seiring berjalannya waktu, tragedi 98 telah membuat suatu sejarah baru di Indonesia. Kebebasan sudah bisa dirasakan oleh setiap warga negara. Semuanya serba terbuka, negara telah hadir dalam bentuk regulasi bukan lagi menghegemoni.

Menyikapi itu, pada perayaan Hari Lahir (Harlah) PMII ke-55 yang diselenggarakan di Masjid Al-Akbar Surabaya, PMII menyatakan sikap reposisi gerakan mahasiswa.[1] Suatu sikap responsif yang patut diapresiasi. Benar memang, itu harus dipahami oleh seluruh kader PMII. Karena hari ini kita berada pada kondisi zaman yang sangat jauh berbeda dengan kondisi PMII zaman dulu.

Reposisi gerakan itu disampaikan langsung ketua PB PMII, Aminudin Maruf di hadapan Presiden Joko Widodo pada perayaan Harlah PMII ke-55 di Surabaya. Menurutnya, aksi jalanan bukanlah suatu yang haram. Namun, gerakan intelektual, kaderisasi internal, kembali ke gerakan keagamaan lebih baik.

Melihat itu, dalam benak penulis langsung timbul beberapa pertanyaan. Pertama, soal gerakan intelektual. Sederhanya, materi-materi yang ada di PMII masih menggunakan materi lama. Tentunya materi itu dibuat dan digunakan untuk hadirnya negara yang represif. Jika benar PMII akan melakukan reposisi gerakan di wilayah gerakan intelektual, mengkaji ulang materi agar sesuai dengan kebutuhan zaman adalah suatu keharusan. Lantas, apakah pihak kaderisasi PB PMII sudah ada langkah untuk itu? Sependek yang penulis ketahui, masih belum ada.

HMI Tegal Kab

Momentum Harlah seharusnya menjadi ruang yang tepat untuk merefleksikan itu semua. Namun sayang, momen itu sudah terlewatkan. Mengangkat jargon "Mukatamar Pergerakan" ternyata acara yang disuguhkan lebih pada "Seminar Pergerakan." Apa yang dihasilkan dari perayaan akbar tersebut masih dalam ketidakjelasan. Kecuali hingar-bingar kegembiraan dengan sekian hiburan yang disuguhkan.

HMI Tegal Kab

Yang menarik, kesadaran itu sudah lebih dulu muncul di benak kader lapisan bawah. Beberapa materi yang sudah seharusnya dirumuskan ulang ramai diperbincangkan. Lagi-lagi, yang dihadapi kader-kader PMII level bawah adalah soal legitimasi. Seperti persoalan kembalinya PMII menjadi bagian struktur NU, suara di bawah sudah kencang tapi PB PMII sebagai pimpinan tertinggi masih terlihat diam.[2] Artinya, setingkat Rayon tidak punya hak untuk mengubah materi-materi yang menjadi konsumsi kader PMII. Sedangkan perengkrutan kader baru semakin dekat.

Lantas, masihkah mereka akan disuguhkan materi-materi yang menuntun untuk bersikap vis a vis terhadap negara, sedangkan PMII menyatakan sikap reposisi gerakan. Jika di tahun ajaran baru ini PMII masih belum bisa merumuskan materi-materi yang sesuai kebutuhan zaman. Maka, stagnasi gerakan adalah sebutan yang pantas daripada reposisi gerakan sebagaimana yang disuarakan oleh pimpinan.

Kedua, kaderisasi internal. Hal yang penting diperhatikan dalam kaderisasi internal adalah pemantapan ideologi. Jika sudah bicara pemantapan ideologi, tentunya kita tidak akan lepas dari materi-materi inti di PMII, semisal Aswaja, ke-PMII-an dan NDP (Nilai Dasar Pergerakan). Ketiga materi itu adalah materi kunci untuk memantapkan setiap kader agar memiliki rasa kepemilikan (secara jasmani dan rohani) terhadap PMII. Ketiganya harus benar-benar mengkristal pada diri kader PMII. Dengan demikian, kaderisasi internal sebagai reposisi gerakan tidak bisa diraih jika pemantapan ideologi tidak terlaksanakan. Sudahkah hal ini dirumuskan dan dilakukan?

Ketiga, kembali ke gerakan keagamaan. Jika berbicara gerakan keagamaan, maka internalisasi Aswaja menjadi kebutuhan yang tak terbantahkan. Sependek yang penulis ketahui. Aswaja yang dipakai dalam PMII adalah Aswaja dalam konteks umum. Hal itu bisa dilihat dari nilai empat (Tawasut, Tasamuh, Tawazun dan Taadul) yang dikaji dalam PMII. Bukan Aswaja sebagaimana yang diamalkan oleh warga NU (baik yang tertulis atau tidak). Meskipun PMII menganggap, Aswaja yang disuguhkan pada kader adalah Aswaja selayaknya NU. Karena, Aswaja belum tentu Aswaja sebagaimana yang diamalkan NU, tetapi Aswaja yang diamalkan NU sudah pasti Aswaja.

Artinya, PMII harus benar-benar mampu menginternalisasikan Aswaja ala NU. Jika benar-benar mau kembali ke gerakan keagamaan seperti yang termaktub dalam reposisi gerakan. Yang menjadi persoalan adalah, PMII hari ini lebih pada pengetahuan yang berbasis rasionalitas-empiris. Hampir semua argumentasi kader PMII lebih dibanggakan jika syarat akan refresensi rasionalitas-empiris. Atau lebih kita kenal dengan istilah positivistik, pengetahuan menutupi kebenaran.

Dengan demikian, kembali ke gerakan keagamaan harus diiringi dengan revolusi rohani, pembersihan diri. Revolusi rohani itu bisa terjadi jika PMII tidak hanya berpatokan pada dalil naqli dan waqii semata. Namun, dalil kasyfi menjadi landasan yang patut diperhitungkan.

Jika mengacu pada tradisi yang ada, dalil kasyfi selalu menjadi elemen yang tidak bisa dikesampingkan. Hal itu bisa dibuktikan dengan sekian kejadian yang pernah dialami oleh intelektual Islam Indonesia (Kiai), mungkin menurut pemahaman rasionalitas-empiris hal semacam itu tidak bisa dipercaya. Semisal, kebenaran yang datangnya melalui mimpi. Karena tidak bisa dibuktikan dengan data dan fakta yang tampak oleh mata. Namun, yang semacam itu adalah kebenaran yang sampai saat ini (terutama kalangan pesantren) masih mempercayai kebenarannya. Ya, singkatnya "membaca teks yang tak tertulis" itulah kasyfi yang dimaksud. Sebagai penerus perjuangan para Kiai, PMII sudah suharusnya berani mengakui akan posisi dalil kasyfi.

Tanpa dalil kasyfi mustahil revolusi rohani akan terjadi. Jika revolusi rohani tidak terjadi, kecenderungan pada hubbud dunya lebih mendominasi. Gerakan keagamaan yang dilakukan selalu dikaitkan dengan persoalan materi, bukan menegakkan kalimat Ilahi. Setinggi apapun ilmu yang diraih kader PMII, setinggi apapun pangkat dan jabatannya, namun menolak kebenaran dalil Kasyfi. Ujung-ujungnya akan menjadi penjahat dengan segala bentuknya. Alhasil, gerakan keagamaan tidak akan terealisasi. Karena untuk melakukan kebenaran sesuai kata hati telah tertutupi oleh matinya nyali. Lihatlah, sisi lain dari para Kiai.

Dari sekian pembahasan di atas, tentunya banyak pekerjaan rumah yang harus di kerjakan PMII. Gerakan intelektual, kaderisasi internal, kembali ke gerakan keagamaan bukan hanya menjadi dagangan dalam masa jabatan. Semua itu harus dilakukan dan dibuktikan dengan tindakan. Penulis sendiri sepakat dengan gagasan reposisi gerakan. Namun, jika PB PMII sebagai pimpinan tertinggi lamban seperti menyikapi "Kembalinya PMII ke NU". Reposisi gerakan bukanlah suatu yang niscaya seperti yang disampaikan sahabat Aminudin Maruf, Ketua Umum PB PMII. Tetapi, reposisi gerakan adalah sebuah kata tanpa makna. Seperti yang tertulis rapi dalam berita. Ingat, Reposisi gerakan bukan reposisi perhimpunan. Buktikan, karena ucapan saja bukanlah ciri dari kaum pergerakan.

 

Habislah sudah masa yang suram

Selesai sudah derita yang lama

 

Abdul Rahman Wahid, kader Rayon PMII Ashram Bangsa, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan kalijaga Yogyakarta.

 

[1] Lihat HMI Tegal Kab, PMII Nyatakan Reposisi Ulang Gerakan Mahasiswa, dipubliskasikan (Sabtu, 18/04/2015 18:01)

[2] Lihat HMI Tegal Kab, PB PMII Tunggu Hasil Kajian Tim Kaderisasi PBNU, dipublikasikan (Ahad, 01/02/2015 17:01)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam HMI Tegal Kab

Jumat, 25 Januari 2013

Tutup Tahun 2015, Pemuda NU Pringsewu Gelar Pendidikan Kader

Pringsewu, HMI Tegal Kab. Sekitar 100 orang pemuda di Pringsewu menyatakan siap berkhidmah untuk NU. Mereka mengikuti Pendidikan Kader Dasar (PKD) Ansor dan Diklatsar Banser Angkatan II tahun 2015 yang dimulai pada hari ini, Selasa hingga Jum’at (29/12-1/1).

Tutup Tahun 2015, Pemuda NU Pringsewu Gelar Pendidikan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Tutup Tahun 2015, Pemuda NU Pringsewu Gelar Pendidikan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Tutup Tahun 2015, Pemuda NU Pringsewu Gelar Pendidikan Kader

Selama empat hari mereka diberi pembekalan yang memadai di Kompleks Masjid Nurul Muttaqien Desa Banyuwangi Kecamatan Banyumas Kabupaten Pringsewu. Bupati Pringsewu H Sujadi hadir membuka pendidikan kepemudaan ini.

"Alhamdulillah, pada tahun ini GP Ansor Kabupaten Pringsewu dapat melaksanakan PKD dan Diklatsar 2 angkatan. Ini merupakan buah dari kekompakan dan antusias pengurus serta para pemuda di Kabupaten Pringsewu," ujar Ketua GP Ansor Pringsewu Muhammad Sofyan.

HMI Tegal Kab

Wakil Ketua MWCNU Banyumas Mustangin yang tampak hadir bersama Ketua MWCNU, Camat Banyumas, dan tokoh masyarakat setempat mengapresiasi pendidikan ini. Ia berharap kegiatan ini mampu membentuk karakter pemuda impian bangsa, yaitu pemuda yang berakhlak mulia.

HMI Tegal Kab

"Kami dan seluruh elemen warga Banyumas khususnya MWCNU sangat mendukung dan bangga atas penyelenggaraan kegiatan ini di Banyumas. Kami yakin kegiatan ini akan dapat menghasilkan kader-kader loyal dan siap berjuang di NU yang kita cintai," pungkas Mustangin. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sunnah, Kajian Islam HMI Tegal Kab

Kamis, 31 Mei 2012

Kang Said: Umat Islam harus Menyatukan Dua Ukhuwah

Jakarta, NU Onlilne. Umat Islam Indonesia harus menyatukan dua ukhwah, yaitu ukhwah Islamiyah dan ukhwah wathoniyah. Ukhwah Islamiyah artinya sebuah ikatan persaudaraan yang berdasarkan iman dan akidah Islam.

Hal itu ditegaskan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada sambutan Pengukuhan Pengurus Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), sebuah lembaga gabungan 13 ormas Islam, pada Jumat, (1/6) di gedung PBNU, Jakarta.

Kang Said: Umat Islam harus Menyatukan Dua Ukhuwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Umat Islam harus Menyatukan Dua Ukhuwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Umat Islam harus Menyatukan Dua Ukhuwah

“Semua umat Islam hendaknya punya spirit persaudaraan. Apa pun madzhabnya, ormasnya, atau tempat kelahirannya,” jelas Kiai Said yang juga Ketua Umum LPOI yang baru dikukuhkan tersebut. 

HMI Tegal Kab

Ukhwah Islamiyah, sambung kiai yang akrab disapa Kang Said ini, akan kokoh, ikhlas, jika tidak dibarengi kepentingan politik dan kekuasaan. Ukhwah yang betul-betul ingin membangun semangat persaudaraan sesama umat Islam. 

HMI Tegal Kab

“Dan tidak berhenti di situ. Ukhwah Islamiyah tidak cukup. Kalau berhenti, akan eksklusif. Akan tertutup dan jumud. Malah dikhawatirkan radikal. Malah bisa-bisa ekstrem. Malah naudzubillah, jadi teroris,” tambah kiai asal Cirebon ini. 

Oleh karena itu, sambung Kang Said, ukhuwah Islamiyah harus paralel dengan ukhwah wathoniyah, yaitu persaudaraan sebangsa setanah air, yang berangkat dari budaya, peradaban, tradisi manusia Nusantara ini. 

“Tidak pandang agamanya apa. Kita satukan dalam bangsa Indonesia,” ujarnya.

Sebaliknya, kalau ukhwah wathoniyah saja, juga tidak cukup. Dampaknya adalah menjadi Islam abangan atau sekuler. Kedua-duanya, yaitu ukhwah Islamiyah dan wathoniyah harus bersatu dan integral. 

Redaktur: Mukafi NIam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Olahraga, Kajian Islam, Makam HMI Tegal Kab

Kamis, 10 Maret 2011

Kang Said: Khotib Harus Kuasai "Fathul Qarib"

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengimbau pengurus masjid untuk menyeleksi para khotib jumat di masjid.

Pengurus masjid diminta untuk memastikan pemahaman kajian fikih seorang khotib.? “Minimal khotib harus menguasai Fathul Qarib,” kata Kang Said di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (10/10) petang. Fathul Qarib adalah nama satu kitab fikih standar yang diajarkan di pesantren.

Penyampai agama mulai dari kelas khotib tingkat RW sampai nasional, harus menguasai fikih, ujarnya. Kitab Fathul Qarib, menjadi syarat minimal seorang khotib. Kitab Fathul Mu’in, buat penyampai agama tingkat kecamatan. Kitab Iqna atau Tuhfatul Muhtaj, buat penyampai agama tingkat provinsi.

Kang Said: Khotib Harus Kuasai Fathul Qarib (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Khotib Harus Kuasai Fathul Qarib (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Khotib Harus Kuasai "Fathul Qarib"

Kang Said menambahkan bahwa seorang penyampai agama harus benar-benar menguasai materi keagamaan. Orang yang tidak menguasai materi, hanya akan merusak kehidupan beragama di tengah masyarakat.

HMI Tegal Kab

Fikih hanya syarat minimal bagi seorang penyampai agama, imbuh Kang Said. Karena, Fikih berisi pedoman dasar sikap beragama seorang muslim. Tanpa modal itu, penyampai agama akan jauh dari nilai Islam yang paling mendasar sekali.

Pendalaman terhadap materi agama, adalah tugas penyampai agama, tambah Kang Said. Penyampai agama belum memenuhi kecukupan bagi aktifitasnya jika tidak melakukan upaya menerus-terus dalam mendalami fikih.

HMI Tegal Kab

Penyampai agama juga harus melanjutkan kajiannya di bidang lain seperti kajian tasawuf, ilmu kalam, ushul fikih, dan disiplin khazanah lainnya, tandas Ketum PBNU.

?

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Islam, Khutbah HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock