Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Jelang Rajab, Ketika Siswa Madrasah Belajar Melihat Hilal

Jombang, HMI Tegal Kab. Rombongan dua bis dan dua mobil MPV bergerak dari halaman Kantor Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang tepat pukul 11.00 WIB, Selasa (23/06) kemarin, bertepatan 29 Jumadal Tsaniyah 1433 H.



Jelang Rajab, Ketika Siswa Madrasah Belajar Melihat Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Rajab, Ketika Siswa Madrasah Belajar Melihat Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Rajab, Ketika Siswa Madrasah Belajar Melihat Hilal

Rombongan dua mobil MPV yang berangkat lebih dulu, ditumpangi kepala Madrasah Muallimin Enam Tahun Bahrul Ulum, KH Abd Nashir Fattah, para guru serta pengiring. Sedangkan 2 bis yang berangkat kemudian, diisi para siswa dan para guru Madrasah Muallimin Enam Tahun Bahrul Ulum. Tujuan dari rombongan tersebut adalah kota Tuban. Kota pesisir utara Jawa yang memiliki bentangan pantai puluhan kilometer dari arah timur ke barat. 

HMI Tegal Kab

Setelah memasuki kota Tuban, rombongan masih menuju ke suatu tempat, sekitar 10-15 kilometer ke arah barat dari kota Tuban. Tempat tersebut adalah pelabuhan Pt. Semen Gresik yang berada di wilayah kecamatan Jenu Tuban.

Angin yang berhembus kencang cukup terasa begitu rombongan keluar dari kendaraan. Hembusan angin tersebut, menghapus bayangan sebagian besar orang dalam rombongan yang sebelumnya melihat dari kejauhan teriknya matahari yang menerpa pelabuhan. Mereka membayangkan, suhu di pelabuhan pasti sangat panas. Tetapi setelah semua rombongan berada di pelabuhan yang menjorok ke tengah laut. Udaranya cukup sejuk bahkan cenderung terasa kebanyakan angin.

HMI Tegal Kab

Rombongan yang diikuti oleh 100 siswa Muallimin, 15 orang guru dan 5 orang undangan tersebut, adalah dalam rangka praktek ruk’atul hilal mata pelajaran Ilmu Falak siswa Madrasah Muallimin. Karena menurut guru pengampu mata pelajaran Ilmu Falak di Madrasah Muallimin, KH. Mujib Adnan, sebenarnya Hilal sudah bisa terlihat kemarin sore (22/06).

“Tapi rupanya kemarin sorepun, hilal yang tingginya lebih dari 2 (dua) derajat belum bisa dilihat, karena tertutup mendung,” kata Kiyai Mujib.

“Namun karena ini adalah pelatihan bagi siswa-siswa, maka kita melakukan ru’yatul hilal pada hari ini. Karena pada hari ini, diperkirakan hilal sudah bisa terlihat dengan jelas. Tujuannya adalah agar siswa bisa mengamati sendiri bagaimana wujud hilal sebenarnya,” tambahnya.

Maksum Chudlori, panitia pelaksana kegiatan ru’yatul hilal mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari program madrasah yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa, tidak hanya dalam teori tetapi juga dalam praktek.

Tujuan lainnya adalah untuk mempersiapkan kader-kader ajaran Aswaja Annahdliyah dalam menentukan awal bulan dengan ru’yatul hilal. Karena bagi orang NU penentuan awal bulan selalu dilakukan dengan ru’yatul hilal, termasuk dalam menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal.

Disamping itu, menurut pria yang akrab disapa Gus Maksum ini, praktek ini memiliki nilai akademik. “Praktek ru’yatul hilal ini merupakan bagian dari ujian yang harus dijalani siswa, karena nilai dari kegiatan ini akan menjadi nilai rapot,” tambahya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslimin Abdilla

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kiai, Ubudiyah, Daerah HMI Tegal Kab

Kamis, 01 Maret 2018

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak

Apakah kita boleh menghadiahkan pahala bacaan dan shadaqah kepada mayit? Apakah hadiah tersebut sampai? Menurut KH Ali Masum, Rais Aam PBNU 1981-1984, masalah semacam ini merupakan masalah furu’ khilafiyah yang seharusnya tidak mendorong terjadinya fitnah, pertengkaran, perdebatan, dan sikap antipati baik terhadap orang yang setuju ataupun yang menolaknya. Walaupun berbeda pendapat, kedua belah pihak seharusnya tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh sesama saudara Muslim. Masing-masing pihak tentu memiliki dasar yang diyakini.

Meski demikian, santri dan warga NU penting mengetahui dasar setiap amal ibadahnya. Oleh karena itu KH Ali Ma’sum merasa perlu menyusun kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah ini, khususnya untuk para santri Pondok Pesantren Krapyak Yogjakarta. Dengan mengetahui dasar amal ibadah yang kita lakukan, diharapkan kita tidak ragu, was-was, salah sangka, tertipu dan tergoda oleh setan sehingga tersesat pada kelompok ahli hawa nafsu.

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)
Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak

Hadirnya kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jam’ah ini diharapkan dapat membuat pembaca mengetahui dan yakin bahwa apa yang telah dilakukan oleh ulama kuno yang saleh (salafus shalih) merupakan kebenaran yang perlu diikuti. Hadirnya kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jam’ah ini tidak diharapkan sebagai bahan untuk berdebat dengan pihak yang berbeda pendapat.

Dengan tawadhu’ KH Ali Ma’shum menyatakan bahwa, dalam kitab ini beliau hanya mampu mengumpulkan dan menukil pendapat-pendapat dari para ulama’. Kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah merupakan kumpulan dari beberapa pendapat para tokoh tentang beberapa amalan Aswaja seperti shalat qabliyah Jumat dan talqin mayit setelah dikubur.

HMI Tegal Kab

Salah satu keistimewaan kitab ini adalah KH Ali Masum mengawali uraian tentang amaliyah-amaliyah nahdhiyah seperti hadiah pahala kepada mayit dengan mengutip pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, baru kemudian mengutip beberapa pendapat ulama dari empat madzhab Aswaja.

HMI Tegal Kab

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Mayit dapat mengambil manfaat dari pahala bacaan ayat Al-Qur`an orang lain yang dihadiahkan kepadanya, sebagaimana ia juga dapat mengambil manfaat dari pahala ibadah amaliyah seperti shadaqah dan sejenisnya.

Sedangkan Ibnul Qayyim mengatakan, “Sebaik-baik pahala yang dihadiahkan kepada mayit adalah pahala shadaqah, istighfar, doa untuk kebaikan mayit, dan ibadah haji atas nama mayit. Adapun pahala bacaan ayat Al-Qur`an yang dihadiahkan kepada mayit secara sukarela (bukan karena dibayar), dapat sampai seperti juga pahala puasa dan haji untuk mayit.

Menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, orang yang melakukan amal ibadah, shadaqah, bacaan ayat Al-Qur`an, atau amal saleh lainnya, boleh menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan kiriman pahala tersebut sampai.

Ulama syafi’iyah sepakat bahwa pahala shadaqah dapat sampai kepada mayit.

Di kalangan ulama madzhab Maliki pada umumnya tidak ada perselisihan pendapat dalam hal sampainya pahala shadaqah kepada mayit. Namun pada prinsipnya, madzhab Maliki memakruhkan menghadiahkan pahala bacaan (Qur`an dan kalimat thayyibah lainnya) kepada mayit.

Imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Adzkar menukil pendapat dari sekelompok ashabus-syafi’iy (para ulama madzhab Syafi’i), bahwa pahala bacaan (Al-Qur`an dan kalimat thayyibah lainnya) dapat sampai kepada si mayit, sama seperti pendapat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan sekelompok ulama lainnya.

Menurut KH Ahmad Subki Masyhadi dari Pekalongan, kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah sangat penting bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu kaum Muslimin yang aqidahnya mengikuti imam Abil Hasan Al-Asy’ari atau imam Abu Manshur Al-Maturidi, dan fiqihnya mengikuti salah satu dari empat madhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad ibnu Hambal). Oleh karena itu, ketika Syekh KH Ali Ma’sum bersilaturrahmim ke kediaman KH Ahmad Fauzi Masyhadi Sampangan Pekalongan, KH Ahmad Subki Masyhadi ikut menemui sang tamu mulia dari Yogjakarta tersebut dan memohon izin untuk mencetak kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah beserta terjemahan dan tambahan-tambahan yang diperlukan.

KH Ahmad Subki menerjemahkan kitab berbahasa Arab ini ke dalam bahasa Jawa dengan model makna gandul dilengkapi dengan terjemah singkat dalam bentuk uraian dan kadang ditambah dengan beberapa keterangan. Kitab terjemah ini diberi nama Ad-Durratul Lami’ah.

Pada sela-sela terjemahan, seperti pada bahasan tentang hadiah pahala terhadap mayit, KH Ahmad Subkhi menambahkan beberapa pendapat ulama tentang tata cara membayar utang mayit yang berupa shalat dan puasa.

"Bila ada mayit Muslim mempunyai hutang shalat, maka sebaiknya di-qadha dengan niat shalat untuk mayit tersebut. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, bila si mayit wasiat maka setiap hutang satu shalat dibayar dengan fidyah satu mud. Bila ada mayit Muslim mempunyai hutang puasa Ramadhan, maka keluarganya dapat membayarkannya dengan puasa qadha. Hal ini berdasarkan suatu hadits muttafaqun alaihi..."

Ada sembilan bahasan yang dapat kita ikuti dalam kitab Ad-Durratul Lami’ah yang biasanya dijual dengan harga hanya sepuluh ribu rupiah ini: (1) pengiriman pahala untuk mayit, (2) shalat sunah qabliyah jum’at, (3) talqin mayit setelah dikubur, (4) shalat tarawih, (5) penetapan bulan Ramadhan dan Syawal, (6) ziarah kubur, (7) nikmat dan siksa kubur, (8) ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw, dan (9) tawasul.



Data Buku


Judul? ? ? ? ? ? ? ? : Ad-Durratul Lami’ah, Tarjamah Hujjah Ahlis Sunnah? wal Jama’ah karya Syekh Al-‘Allamah KH Ali Ma’sum al-Jogjawi

Penerjemah : KH Ahmad Subki Masyhadi

Khath? ? ? ? ? ? : Ma’mun Muhammad bin Badawi

Penerbit? ? ? ? : Ibnu Masyhadi Pekalongan

Ukuran? ? ? ? : 14,5 x 20,5 cm, 228 halaman

Peresensi? : Faiq Aminuddin, Kepala MTs NU Irsyaduth Thullab, Tedunan, Wedung, Demak

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita, Kiai, Halaqoh HMI Tegal Kab

Selasa, 27 Februari 2018

Humor Pesantren dan Gus Dur

KH Abdurrahman Wahid terkenal sebagai kiai humoris. Di mana-mana ia menebar humor. Saat mengobrol santai, mengisi acara diskusi atau seminar serius, selalu saja menyelipkan humor-humor yang membuat semua pendengar tertawa, atau minimal senyum simpul.

Bahkan ketika menjadi presiden (1999-2001), Gus Dur tak pernah melupakan humor untuk mencairkan pidato-pidato resminya agar tidak kaku dan membosankan.

Humor Pesantren dan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Humor Pesantren dan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Humor Pesantren dan Gus Dur

Sebagai orang pesantren, yang pernah mengembara mencari ilmu ke Mesir dan Irak, Gus Dur pasti memiliki perbendaharaan humor bergudang-gudang. Bagi orang yang menguasai bahasa Arab, berikut segala perangkat keilmuannya, seperti mahraj (phonetic), nahwu (syntaxis), sharaf (morfologi), dan balaghah (stylistic) tidak sulit menelusuri khazanah literatur Arab, termasuk literatur humor yang tampaknya menjadi keahlian para penulis Arab untuk mengumpulkannya.

Tradisi kepenulisan di kalangan bangsa Arab memang sudah mendarah daging. Hampir setiap peristiwa besar, silsilah, sejarah, nama, dan reputasi seseorang selalu dicatat baik-baik, dikembangkan dari generasi ke generasi. Umpamanya, peristiwa perang antara kabilah-kabilah Arab jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw., dapat terwariskan hingga kini melalui buku Ayyamul Arab (hari-Hari Arab).

Begitu pula dengan folklore, berbentuk puisi, nyanyian, anekdot, dan sebagainya, sebagian besar sudah terdokumentasikan. Beberapa di antaranya diadaptasi terus-menerus sesuai dengan keadaan zaman. Diaktualisasikan sesuai dengan kebutuhan.

HMI Tegal Kab

Gus Dur merupakan salah seorang yang pandai mengaktualisasikan karya-karya itu menjadi humor spontan yang lucu dan menarik perhatian. Walaupun koleksi buku (kitab) di pesantren-pesantren sebagian besar berupa ilmu fikih (hukum), tafsir Quran, hadis, akidah, akhlak, dan tata bahasa (Arab), tetapi ada juga buku/kitab di luar itu, terutama buku-buku kumpulan humor tadi yang berguna untuk mengasah kecerdasan, mempertajam pemahaman, dan melatih sikap kritis.

Gus Dur sendiri, ketika memberi pengantar buku humor Mati Ketawa Cara Rusia (1986), menyatakan, "Rasa humor dari sebuah masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan. Kemampuan untuk mentertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain. Kepahitan akibat kesengsaraan diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesengsaraan tanpa patahnya semangat untuk hidup. Dengan demikian, humor adalah sublimasi dan kearifan sebuah masyarakat. Mengapakah kemampuan mentertawakan diri sendiri menjadi demikian menentukan? Karena orang harus mengenal diri sendiri sebelum mampu melihat yang aneh-aneh dari perilaku diri sendiri itu," (hal.XI).

HMI Tegal Kab

Dari penelusuran melalui berbagai katalog perpustakaan literatur Arab, terdapat banyak sekali buku himpunan humor atau anekdot dalam bahasa itu. Ada yang satu jilid, ada yang mencapai tiga puluhan jilid. Antara lain Akhbarul Hamqa wal Mughafalien disusun oleh Jamaluddin Abdurahman bin Ali Ibnu Jauzi (abad 6 Hijriah/12 Masehi), mengisahkan ketololan dan kedunguan orang-orang di berbagai bidang profesi (petani, pedagang, hakim, jaksa, ulama, akademisi, menteri, bahkan sultan atau raja). Ugalaul Majanien susunan Abu Qasim an Naisabury, mengisahkan orang-orang yang dianggap gila tetapi pendapat-pendapatnya mengandung kebenaran melebihi orang waras. Al Bukhala susunan Jahidz, mengisahkan perilaku orang-orang kikir yang menyebalkan sekaligus menggelikan.

Banyak lagi buku himpunan humor dengan beragam tema. Seperti Jami’ul Jawahir susunan Syekh Abu Ishaq Qairawani, Al Kasykul Bahauddin Amili, Iqdul Farid Ibnu Abi Rabih al Andalusi, Uyunul Akhbar Ibnu Qutaibah Dinwari, Nihayatul Arab Syihabudin Nuwairi, Al Aghani Abu Faraj an Nisaburi, dan lain-lain. Tokoh humor yang kemudian populer pada masa kini, antara lain Nasrudin Hoja, Juha al Arabi, Abu Nawas, Asy’ab al Majnuni, Bahlul, Qarahqus, dan lain-lain, dengan berbagai modifikasi humor-humor mereka.

Pantaslah Gus Dur tak pernah kehabisan cadangan humor. Bacaan di pesantren, ditambah aneka macam referensi yang ditemukan di Timur Tengah telah memperkaya wawasan pengetahuan dan penguasaan materi humor yang terus-menerus diperbaharui dalam berbagai versi pengungkapan dan penceritaan kembali.

Seandainya Gus Dur bukan orang pesantren, dan tidak pernah mengembara di negara-negara Arab sehingga benar-benar mengenal tradisi kebahasaan dan kesastraan dengan penutur dan penuturan asli pemilik bahasa (native speaker, ummul lughah), mungkin humor-humornya akan kering dan penuh pengulangan-pengulangan yang membosankan.

Sayang, ia keburu wafat (30 Desember 2009), sebelum sempat mencetak kader tukang humor yang punya gaya bicara menarik dan punya bahan-bahan melimpah. Sehingga jaringan lintas kultural pesantren-literatur Arab-dan penyampainya kemungkinan akan terputus.***

H. Usep Romli H.M., peminat literatur Arab, tinggal di perdesaan Cibiuk, Kab. Garut.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kiai, Meme Islam HMI Tegal Kab

Sabtu, 03 Februari 2018

Puisi Gus Mus: Selamat Idul Fitri

selamat idul fitri, bumi

maafkan kami

selama ini

Puisi Gus Mus: Selamat Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi Gus Mus: Selamat Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)

Puisi Gus Mus: Selamat Idul Fitri

tidak semena-mena

kami memerkosamu

?

selamat idul fitri, langit

HMI Tegal Kab

maafkan kami

selama ini

HMI Tegal Kab

tidak henti-hentinya

kami mengelabukanmu

?

selamat idul fitri, mentari? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

maafkan kami

selama ini

tidak bosan-bosan

kami mengaburkanmu

?

selamat idul fitri, laut

maafkan kami

selama ini

tidak segan-segan

kami mengeruhkanmu

?

selamat idul fitri, burung-burung

maafkan kami

selama ini

tidak putus-putus

kami membrangusmu

?

selamat idul fitri, tetumbuhan

maafkan kami

selama ini

tidak puas-puas

kami menebasmu

?

selamat idul fitri, para pemimpin

maafkan kami

selama ini

tidak habis-habis

kami membiarkanmu

?

selamat idul fitri, rakyat

maafkan kami

selama ini

tidak? sudah-sudah

kami mempergunakanmu.







Puisi ini pernah dipublikasikan KH A Mustofa Bisri di akun Facebook pribadinya pada 29 Agustus 2011


Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Bahtsul Masail, Kiai, Pahlawan HMI Tegal Kab

Minggu, 28 Januari 2018

Kembangkan Potensi Kader, PMII Bolmong Gelar Pelatihan Jurnalistik

Bolaang Mongondow, HMI Tegal Kab? . Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, menggelar pelatihan jurnalistik di Sekretariat PMII Jl. Amal Kelurahan Mogolaing Kecamatan, Kotamobagu Barat Sabtu-Ahad (19-20/12).

Kembangkan Potensi Kader, PMII Bolmong Gelar Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan Potensi Kader, PMII Bolmong Gelar Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan Potensi Kader, PMII Bolmong Gelar Pelatihan Jurnalistik

Menurut Ketua PMII Cabang Bolmong Inca Ing Bangki kegiatan tersebut bertujuan mengembangkan potensi kader di bidang jurnalistik untuk transformasi pengetahuan.

"Seluruh peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik, diharapkan tidak hanya sampai berakhir di sini, tetapi setelah ini dapat belajar lebih giat lagi sebagai bekal kita untuk ke depannya," ungkapnya pada pembukaan pelatihan tersebut.

HMI Tegal Kab

Sekitar 15 peserta kegiatan tersebut sangat antusias mengikuti Pelatihan jurnalistik yang baru pertama kali diselenggarakan oleh PMII Cabang Bolmong. Para pemateri adalah para alumnus organisasi tersebut yang berprofesi sebagai jurnalis di media lokal maupun regional Sulut.

Para pemateri itu adalah Yokman Muhaling (PC GP Ansor Kotamobagu), Supardi Bado (PC GP Ansor Kotamobagu), Andhika Dawangi (Alumni PMII Cabang Tondano) ? dan ? Amir Halatan.

HMI Tegal Kab

Supardi Bado berharap kegiatan tersebut tidak hanya sekali saja agar potensi-potensi kader PMII di bidang jurnalistik bisa berkembang maksimal. (Udi Masloman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Budaya, Syariah, Kiai HMI Tegal Kab

Sabtu, 27 Januari 2018

Hukum Belanja di Minimarket hingga Warung Kecil Gulung Tikar

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail HMI Tegal Kab, kehadiran minimarket menjamur hingga pelosok kampung. Sebagaimana kita ketahui sebagian dari masyarakat kita juga membuka warung. Pertanyaan saya, bagaimana hukum berbelanja di berbagai minimarket setempat yang berakibat kematian atau penutupan toko-toko warga? Terima kasih atas penjelasannya. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Syamsul Bahri/Lampung Timur).

Jawaban

Hukum Belanja di Minimarket hingga Warung Kecil Gulung Tikar (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Belanja di Minimarket hingga Warung Kecil Gulung Tikar (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Belanja di Minimarket hingga Warung Kecil Gulung Tikar

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kehadiran minimarket menjadi problematis di tengah perkampungan. Pasar swalayan kecil ini dianggap oleh sebagian masyarakat lebih berdaya tarik. Secara otomatis, kehadiran minimarket seperti ini menurunkan omset warung-warung di sekitarnya dan perlahan mematikan mereka.

HMI Tegal Kab

Masalah ini diangkat juga dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyyah pada Musyawarah Nasional Alim Ulama NU yang berlangsung di Mataram pada 23-25 November 2017.

Forum para kiai waktu itu menjawab bahwa masyarakat boleh secara syar‘i berbelanja di minimarket tersebut. Hanya saja forum ini menganjurkan masyarakat untuk berbelanja di toko milik saudara atau tetangga sendiri karena mengandung nilai silaturahmi. Mereka mengutip salah satunya Kitab Al-Majmu‘ karya Imam An-Nawawi sebagai berikut:

HMI Tegal Kab

?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Ini satu cabang masalah) Imam Al-Ghazali mengatakan, ‘Aktivitas penjualan dan pengambilan lapak di dalam bangunan pasar yang difasilitasi pemerintah dengan biaya yang haram, juga haram dilakukan. Kalau seseorang menempatinya dengan biaya sewa tertentu dan ia membuka usaha dengan cara syar‘i, maka ia terbilang bermaksiat atas pengambilan lapaknya. Sedangkan usahanya sendiri tidak diharamkan. Masyarakat juga boleh menurut syar‘i berbelanja kepadanya. Tetapi jika ada pasar alternatif, masyarakat tentu lebih utama berbelanja di pasar alternatif tersebut karena aktivitas belanja di pasar sebelumnya itu tidak lain menolong penjual yang menempati lapak, membuat ‘nyaman’ penempatan lapak, dan tentu saja memperbanyak modal bagi penjual untuk biaya sewa lapak,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majmu‘ Syarhul Muhadzdzab, Kairo, Maktabah At-Taufiqiyyah, tanpa catatan tahun, juz IX, halaman 321).

Melalui pandangan Imam An-Nawawi itu, forum para kiai ini melakukan pembelaan bagi warung-warung kecil yang dikelola masyarakat. Mereka mengatakan, selagi ada pasar atau toko alternatif di luar minimarket yang juga menyediakan kebutuhan masyarakat, sebaiknya warga berbelanja di warung tersebut.

Kadar pahala berbelanja di toko atau warung masyarakat jauh lebih besar dibanding berbelanja di minimarket sebagai pandangan Sayyidina Ali RA yang dikutip Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sifat keenam adalah pertalian kerabat dan hubungan darah sehinga bernilai sedekah dan silaturahmi sekaligus. Silaturahmi sendiri mengandung banyak pahala yang tak terhingga. Sayyidina Ali RA mengatakan, ‘Silaturahmi sambil memberikan satu dirham kepada salah seorang saudaraku lebih kusukai dibanding sedekah 20 dirham (kepada orang lain). Silaturahmi sambil memberikan 20 dirham kepada salah seorang saudaraku lebih kusukai dibanding sedekah 100 dirham (kepada orang lain). Silaturahmi sambil memberikan 100 dirham kepada salah seorang saudaraku lebih kusukai dibanding sedekah dengan cara memerdekakan seorang budak perempuan,’” (Lihat Imam Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, Mesir, Maktabah Musthafa Al-Babi Al-Halabi, 1939 M/1358 H, juz I, halaman 227).

Sebagaimana diketahui bahwa harga budak saat itu tidak murah. Meskipun demikian, Sayyidina Ali RA lebih memilih bersedekah 100 dirham untuk kerabat atau tetangga karena sedekah kepada kerabat dan silaturahmi adalah sebuah kebaikan yang tak terhingga.

Dari dua kutipan di atas, para kiai tidak menyarankan masyarakat berbelanja di minimarket selagi kebutuhan mereka terpenuhi oleh warung atau toko kecil yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kiai HMI Tegal Kab

Selasa, 23 Januari 2018

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia

Malang, HMI Tegal Kab

UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang menggelar sidang senat terbuka dalam rangka penganugerahan doktor Honoris Causa (HC) kepada Grand Syekh Al-Azhar Prof Dr Ahmad Mohammad Ahmad al-Tayyeb, Rabu (24/2). Gelar kehormatan ini diberikan UIN sebagai apresiasi atas jasa Grand Syekh dalam pengembangan pendidikan Islam, khususnya di Al-Azhar.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap metode pendidikan dakwah di Universitas Al-Azhar yang moderat dan toleran bisa dikembangkan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Harapan itu disuarakan Menag saat memberikan sambutan di hadapan 500 civitas akademika UIN Maliki Malang dan tamu undangan pada acara penganugerahan doktor kehormatan kepada Syekh Ahmad ath-Tayyeb di UIN Malang, Rabu (24/02) sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia

Menag menilai, Grand Syekh Al-Azhar yang juga Ketua Majelis Hukama al-Muslimin adalah sosok ulama par-excellence dan intelektual Muslim dunia penebar kedamaian. Sikap demikian itu ditunjukkan selama masa transisi politik di Mesir, di mana Syekh Ahmad ath-Tayyeb mengedepankan ishlah dan berusaha memediasi pihak-pihak yang berkonflik agar bersatu kembali demi kejayaan Mesir dan Islam. Hal ini dikatakan Menag, sesuai pernyataan Grand Syeikh pada saat terjadi konflik di Mesir. Ia mengatakan, “Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan dan saya himbau agar anda semua membuka pintu untuk perdamaian demi persatuan bangsa Mesir!”

“Sosok Syekh Ahmad ath-Thayyib boleh jadi tidak membutuhkan penganugerahan Dr HC, karena reputasinya sudah diakui dunia internasional. Kita justru yang berkepentingan menganugerahkan gelar kehormatan,” tambahnya. 

HMI Tegal Kab

Selain itu, metode pendidikan dakwah Al-Azhar yang moderat dan toleran juga relevan dengan konteks Indonesia sebagai negara yang majemuk dan plural. Apalagi. Al-Azhar merupakan ikon institusi keislaman dunia dan namanya harum di kalangan Muslim Indonesia. 

“Studi di Al-Azhar asy-Syarif ibarat ‘menimba air’ dari sumber aslinya,” papar Menag.

“Al-Azhar secara konsisten mengembangkan faham sunni dan mengamalkannya dalam tindakan keberagamaan. Syekh Ahmad al-Tayyeb sebagai ulama moderat dan selalu menyerukan pentingnya ukhuwwah dan perdamaian,” tambahnya.

HMI Tegal Kab

Menag berharap, kehadiran Grand Syekh Al-Azhar ke Indonesia selain memperkuat hubungan bilateral antara dua negara, juga menjadi simbol kedekatan masyarakat Muslim Mesir dan Indonesia, serta bisa memperkuat kajian Islam di Indonesia. 

Dikatakan Menag,  awal kemunculan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia pada tahun 1960-an juga mengacu pada model kajian Islam Al-Azhar. Saat sejumlah IAIN bertransformasi menjadi UIN (Universitas Islam Negeri), gagasan integrasi ilmu yang dikembangkan sedikit banyak juga diinspirasi oleh modernisasi pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar. 

Selain itu, hubungan Mesir dan Indonesia juga memiliki sejarah yang panjang. Para ulama dari kedua negara pernah terjalin jaringan intelektual yang intensif dalam hubungan guru-murid sejak abad ke-19. Bahkan, Mesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1945, di saat negara-negara Eropa mengingkari kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. 

Surat Keputusan Rektor tentang Penganugerahan Doktor Honoris Causa Bidang Pendidikan Islam kepada Grand Syeikh Prof Dr Ahmad Mohammad Ahmad al-Tayyeb dibacakan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Maliki Malang Muhammad Zainuddin. Sementara itu, Rektor UIN  Malang Mudjia Raharja dalam sambutannya menyampaikan bahwa Grand Syeikh Al-Azhar merupakan sosok yang menginspirasi dalam tugas mengembangkan dan merawat cendekiawan muslim. Selain itu, Syekh Ath-Tahyeb juga merupakan ulama besar yang disegani, intelektual Muslim yang diakui dunia, serta tokoh yang selalu menyerukan kebenaran dan menebarkan kedamaian dunia. 

“Al-Azhar menjadi rujukan kami dalam mengembangkan UIN Malang, suatu saat nanti UIN Malang akan menjadi seperti Universitas Al-Azhar, yang mengembangkan ajaran Islam Rahmatan lil Alamin,” tutup Mudjia Raharja. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kiai, PonPes, Sunnah HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock