Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak

Apakah kita boleh menghadiahkan pahala bacaan dan shadaqah kepada mayit? Apakah hadiah tersebut sampai? Menurut KH Ali Masum, Rais Aam PBNU 1981-1984, masalah semacam ini merupakan masalah furu’ khilafiyah yang seharusnya tidak mendorong terjadinya fitnah, pertengkaran, perdebatan, dan sikap antipati baik terhadap orang yang setuju ataupun yang menolaknya. Walaupun berbeda pendapat, kedua belah pihak seharusnya tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh sesama saudara Muslim. Masing-masing pihak tentu memiliki dasar yang diyakini.

Meski demikian, santri dan warga NU penting mengetahui dasar setiap amal ibadahnya. Oleh karena itu KH Ali Ma’sum merasa perlu menyusun kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah ini, khususnya untuk para santri Pondok Pesantren Krapyak Yogjakarta. Dengan mengetahui dasar amal ibadah yang kita lakukan, diharapkan kita tidak ragu, was-was, salah sangka, tertipu dan tergoda oleh setan sehingga tersesat pada kelompok ahli hawa nafsu.

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)
Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak

Hadirnya kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jam’ah ini diharapkan dapat membuat pembaca mengetahui dan yakin bahwa apa yang telah dilakukan oleh ulama kuno yang saleh (salafus shalih) merupakan kebenaran yang perlu diikuti. Hadirnya kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jam’ah ini tidak diharapkan sebagai bahan untuk berdebat dengan pihak yang berbeda pendapat.

Dengan tawadhu’ KH Ali Ma’shum menyatakan bahwa, dalam kitab ini beliau hanya mampu mengumpulkan dan menukil pendapat-pendapat dari para ulama’. Kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah merupakan kumpulan dari beberapa pendapat para tokoh tentang beberapa amalan Aswaja seperti shalat qabliyah Jumat dan talqin mayit setelah dikubur.

HMI Tegal Kab

Salah satu keistimewaan kitab ini adalah KH Ali Masum mengawali uraian tentang amaliyah-amaliyah nahdhiyah seperti hadiah pahala kepada mayit dengan mengutip pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, baru kemudian mengutip beberapa pendapat ulama dari empat madzhab Aswaja.

HMI Tegal Kab

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Mayit dapat mengambil manfaat dari pahala bacaan ayat Al-Qur`an orang lain yang dihadiahkan kepadanya, sebagaimana ia juga dapat mengambil manfaat dari pahala ibadah amaliyah seperti shadaqah dan sejenisnya.

Sedangkan Ibnul Qayyim mengatakan, “Sebaik-baik pahala yang dihadiahkan kepada mayit adalah pahala shadaqah, istighfar, doa untuk kebaikan mayit, dan ibadah haji atas nama mayit. Adapun pahala bacaan ayat Al-Qur`an yang dihadiahkan kepada mayit secara sukarela (bukan karena dibayar), dapat sampai seperti juga pahala puasa dan haji untuk mayit.

Menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, orang yang melakukan amal ibadah, shadaqah, bacaan ayat Al-Qur`an, atau amal saleh lainnya, boleh menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan kiriman pahala tersebut sampai.

Ulama syafi’iyah sepakat bahwa pahala shadaqah dapat sampai kepada mayit.

Di kalangan ulama madzhab Maliki pada umumnya tidak ada perselisihan pendapat dalam hal sampainya pahala shadaqah kepada mayit. Namun pada prinsipnya, madzhab Maliki memakruhkan menghadiahkan pahala bacaan (Qur`an dan kalimat thayyibah lainnya) kepada mayit.

Imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Adzkar menukil pendapat dari sekelompok ashabus-syafi’iy (para ulama madzhab Syafi’i), bahwa pahala bacaan (Al-Qur`an dan kalimat thayyibah lainnya) dapat sampai kepada si mayit, sama seperti pendapat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan sekelompok ulama lainnya.

Menurut KH Ahmad Subki Masyhadi dari Pekalongan, kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah sangat penting bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu kaum Muslimin yang aqidahnya mengikuti imam Abil Hasan Al-Asy’ari atau imam Abu Manshur Al-Maturidi, dan fiqihnya mengikuti salah satu dari empat madhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad ibnu Hambal). Oleh karena itu, ketika Syekh KH Ali Ma’sum bersilaturrahmim ke kediaman KH Ahmad Fauzi Masyhadi Sampangan Pekalongan, KH Ahmad Subki Masyhadi ikut menemui sang tamu mulia dari Yogjakarta tersebut dan memohon izin untuk mencetak kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah beserta terjemahan dan tambahan-tambahan yang diperlukan.

KH Ahmad Subki menerjemahkan kitab berbahasa Arab ini ke dalam bahasa Jawa dengan model makna gandul dilengkapi dengan terjemah singkat dalam bentuk uraian dan kadang ditambah dengan beberapa keterangan. Kitab terjemah ini diberi nama Ad-Durratul Lami’ah.

Pada sela-sela terjemahan, seperti pada bahasan tentang hadiah pahala terhadap mayit, KH Ahmad Subkhi menambahkan beberapa pendapat ulama tentang tata cara membayar utang mayit yang berupa shalat dan puasa.

"Bila ada mayit Muslim mempunyai hutang shalat, maka sebaiknya di-qadha dengan niat shalat untuk mayit tersebut. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, bila si mayit wasiat maka setiap hutang satu shalat dibayar dengan fidyah satu mud. Bila ada mayit Muslim mempunyai hutang puasa Ramadhan, maka keluarganya dapat membayarkannya dengan puasa qadha. Hal ini berdasarkan suatu hadits muttafaqun alaihi..."

Ada sembilan bahasan yang dapat kita ikuti dalam kitab Ad-Durratul Lami’ah yang biasanya dijual dengan harga hanya sepuluh ribu rupiah ini: (1) pengiriman pahala untuk mayit, (2) shalat sunah qabliyah jum’at, (3) talqin mayit setelah dikubur, (4) shalat tarawih, (5) penetapan bulan Ramadhan dan Syawal, (6) ziarah kubur, (7) nikmat dan siksa kubur, (8) ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw, dan (9) tawasul.



Data Buku


Judul? ? ? ? ? ? ? ? : Ad-Durratul Lami’ah, Tarjamah Hujjah Ahlis Sunnah? wal Jama’ah karya Syekh Al-‘Allamah KH Ali Ma’sum al-Jogjawi

Penerjemah : KH Ahmad Subki Masyhadi

Khath? ? ? ? ? ? : Ma’mun Muhammad bin Badawi

Penerbit? ? ? ? : Ibnu Masyhadi Pekalongan

Ukuran? ? ? ? : 14,5 x 20,5 cm, 228 halaman

Peresensi? : Faiq Aminuddin, Kepala MTs NU Irsyaduth Thullab, Tedunan, Wedung, Demak

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita, Kiai, Halaqoh HMI Tegal Kab

Sabtu, 24 Februari 2018

Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah

Jakarta, HMI Tegal Kab. Dosen Universitas King Fahd Arab Saudi Sumanto Al Qurtuby menilai, ada banyak kesalahpahaman yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam di Indonesia terkait dengan apa yang terjadi di Timur Tengah, terutama dengan konflik dan radikalisme yang ada di sana.

Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Kekeliruan dalam Memahami Konflik di Timur Tengah

Di antara kesalahpahaman tersebut adalah bahwa banyak kelompok Islam di Indonesia yang menganggap konflik yang terjadi di Timur Tengah itu disebabkan oleh Barat, Yahudi, dan sekutu-sekutunya.

 

Menurutnya, itu adalah hal yang kurang tepat karena konflik yang terjadi di Timur Tengah sudah ada sebelum Negara-negara Barat seperti Amerika dan juga Yahudi ada. 

HMI Tegal Kab

“Kekerasan itu bukan melulu produk dari non-muslim, tetapi muslim sendiri juga terlibat. Bahwa benar Amerika terlibat, ada non-muslim yang terlibat, iya. Tetapi kelompok-kelompok Islam juga terlibat,” urainya saat menjadi narasumber dalam acara diskusi publik dengan tema Radikalisme di Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia di Auditorium Gedung PPSDM Jakarta, Sabtu (22/7) sore.

Misalnya, jelas Sumanto, apa yang terjadi di Suriah juga tidak terlepas dari umat Islam. Di dalam sebuah studi disebutkan bahwa ada 160 faksi kelompok Islam garis keras di Suriah. Ini juga yang menyebabkan konflik yang berkepanjangan.

Kesalahpahaman kedua adalah konflik yang terjadi di Timur Tengah dianggap sebagai konflik Sunni-Syiah. Hal itu tidak melulu demikian. Bahkan, ia menceritakan bahwa di beberapa daerah di Arab Saudi dan beberapa negara teluk lainnya terjadi kawin-mawin antara Sunni dan Syiah. Di Qatar pun demikian, belum ada sejarahnya konflik antara Sunni dan Syiah. 

HMI Tegal Kab

Namun demikian, ia tidak menampik bahwa konflik yang disebabkan oleh Sunni-Syiah. Tetapi itu tidak bisa dijadikan sebagai representasi. Menurutnya Sumanto, kekerasan yang terjadi di beberapa negara Arab dilakukan oleh para ekstremis. 

“Kadang di dalam satu keluarga ada yang Sunni, ada yang Syiah. Meski satu klan tidak masalah. Jadi tidak melulu Sunni-Syiah bertengkar. Tergantung konteksnya,” katanya.

Kesalahpahaman terakhir adalah soal konflik Islam, Kristen, dan Yahudi. Ia menganggap, ini juga hal yang tidak selamanya benar. Di beberapa negara seperti Lebanon dan Yahudi, baik Islam, Kristen, maupun Yahudi memiliki hubungan yang baik. Bahkan mereka bekerjasama dalam menjalankan roda pemerintahan.

“20 persen masyarakat (Negara) Yahudi itu adalah Arab. Mereka juga banyak yang menduduki posisi strategis seperti polisi dan militer,” jelasnya.

Menurut dia, kesalahpahaman-kesalahpahaman tersebut sengaja disebarkan oleh sebagian kelompok Islam Indonesia dan dijadikan sebagai alat propaganda di Indonesia. Oleh karena itu, ia meminta kepada umat Islam Indonesia untuk belajar lebih seksama terkait dengan apa yang terjadi di Timur Tengah.

“Agar tidak gampang dibelokkan ke sana-ke sini untuk kepentingan politik,” tegasnya didampingi narasumber lain yaitu Direktur Eksekutif The Wahid Foundationa Yenny Wahid dan Kepala BNPT Suhardi Alius. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita HMI Tegal Kab

Selasa, 20 Februari 2018

Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin

?Jakarta, HMI Tegal Kab. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan, agar prahara hukum yang menimpa Mahkamah Konstitusi (MK) tak terulang kembali.

Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin

"Semua hakim MK harus siap hidup miskin agar selama menjadi hakim tak mau menerima suap terkait perkara yang sedang dihadapi," kata Hasyim Muzadi saat menjadi tampil sebagai pakar pada uji kelayakan dan kepatuhan calon hakim MK di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (3/3/2014).

Karena itulah, sebelum menjadi hakim, mereka harus mamantapkan niat tulusnya menjadi hakim agar di tengah jalan tak mudah tergoda oleh rayuan menerima suap. "Termasuk meminta izin dan meminta kesediaan istrinya untuk hidup miskin. Karena istri bisa menjadi salah satu provokator terjadinya suap," katanya.

HMI Tegal Kab

Hukum di Indonesia, kata Hasyim, sekarang terasa jauh dari keadilan. Padahal tujuan hukum sebenarnya adalah keadilan. "Hukum di Indonesia masih prosedural. Karena. Itu, hukum kerap jauh dari rasa keadilan," jelas pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini.

Pada kesempatan tersebut, mantan Ketua Umum PBNU juga menekankan pentingnya kejujuran hakim saat berhadapan langsung dengan suap. Calon hakim yang sekarang seorang akademisi, misalnya, sulit melakukan korupsi karena di kampus tak ada yang dikorupsi.

HMI Tegal Kab

"?Kalau sudah berada di MK, rayuan untuk menerima suap sangat besar. Seperti yang menimpa Akil Mochtar. Karena itulah, kejujuran menjadi kunci utama untuk tegaknya hukum yang berkeadilan di Indonesia," katanya.

Hasyim Muzadi lebih menekankan kejujuran karena dalam pandangannya mencari orang pintar dan ahli hukum sangat mudah. Yang sulitnya, katanya, adalah mencari orang yang jujur. "Orang pintar banyak. Yang sulit orang jujur. Sayangnya, orang jujur banyak yang tak pintar-pintar," terangnya. (Ahmad Millah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ubudiyah, Nusantara, Cerita HMI Tegal Kab

Senin, 19 Februari 2018

Tiga Syarat Menuju Kebangkitan Islam

Memasuki abad ke-21 ini, Islam memang menjadi harapan baru untuk menyelamatkan dunia kita dari degradasi beradaban dan kehidupan manusia hampir dalam segala aspeknya. Tapi untuk terjadinya kebangkitan itu, umat Islam memerlukan keberanian untuk melakukan “mandi besar” dari berbagai penyimpangan-penyimpangan besar dari nilai-nilai dasar Islam. Salah satu penyimpangan umat ini dari Islam adalah berbagai perilaku atas nama Islam yang justru tidak mencerminkan akhlaqul karimah yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. ?

Begitu komentar Imam Shamsi Ali, Imam besar Islamic Center New York, Amerika Serikat, asal Indonesia, untuk buku Kebangkitan Kedua Umat Islam karya Yusuf Effendi. Dalam endorsment-nya, tokoh kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, itu mengaitkan antara semangat kebangkitan Islam tak ubahnya dengan semangat kelahiran Islam, sama-sama memiliki misi penyelamatan masa depan dunia. Dahulu, Islam datang menyelamatkan bangsa Arab dari degradasi peradaban dan kehidupan, menyelamatkan Roma dan Persia dari arogansi militerisme dan perang. Dan, kini untuk menyelamatkan dunia dari degradasi beradaban dan kehidupan manusia hampir dalam segala aspek.

Tiga Syarat Menuju Kebangkitan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Syarat Menuju Kebangkitan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Syarat Menuju Kebangkitan Islam

Komentar Imam Shamsi Ali yang menekankan pada aspek akhlak itu memperkuat ide dasar buku karya Yusuf Effendi ini. Ada tiga syarat menuju kebangkitan Islam yang diajukan oleh Yusuf Effendi: kematangan berdemokrasi, kemuliaan akhlak, dan kecintaan pada ilmu.?

HMI Tegal Kab

Mengelaborasi tiga syarat kebangkitan itu, buku ini menyajikan tiga bagian utama. Bagian pertama mengulas sistem demokrasi ala empat sahabat Nabi, bagian kedua memotret masa kerajaan absolut, dan bagian ketiga formula menuju kebangkitan umat Islam. Ketiga bagian itu saling pilin-memilin, satu dengan yang lain tak dapat dipisahkan. Bagian pertama menjadi inspirasi, bagian kedua sebagai bahan introspeksi, dan bagian ketiga mengambil semangat bagian pertama dan mengambil pelajaran berharga dari bagian kedua. ? ?

Penulis buku ini percaya bahwa demokrasi itu selaras dengan Islam. Ia memberi bukti, bahwa empat pemimpin Islam pasca Nabi (khalifah rasyidah) menganut pola republik, karena mereka ditetapkan oleh dan berasal dari rakyat yang diwakili oleh tokoh. Selain itu, kebijakan khalifah ditetapkan melalui musyawarah. Demokrasi yang dijalankan adalah demokrasi yang memiliki “batas” (hudud) berupa nilai-nilai agama. (hlm 39-40)?

HMI Tegal Kab

Basis demokrasi kala itu tak lain adalah akhlak para khalifah, mereka menerapkan nila-nilai agama. Abu Bakar menolak gelar “Khalifah Allah”, dan meluruskannya menjadi “Khalifah Rasul”. Berkat kearifan itu, Islam tidak terjerumus menjadi agama pembenar teokrasi. Dengan kemuliaan akhlak, khalifah rasyidah menjaga kesetaraan, yang membuat kebebasan berbicara dan berpendapat terjamin. Pada masa Khalifah Umar, demokrasi semakin kukuh karena adanya “check and balances” dengan memisahkan kewenangan peradilan dari kewenangan khalifah selaku eksekutif. Bahkan diletakkan pula dasar-dasar “good governance” dalam pengaturan tunjangan Negara. Khalifah Usman meneguhkan demokrasi dengan kegandrungannya terhadap dialog, kendati dapat mengancam keselamatan dirinya. Terakhir, Khalifah Ali memperkuatnya dengan keadilan sosial, karena menilai keadilan—di samping cinta kasih—adalah kebajikan utama Islam.

Setelah memutar-ulang kisah awal Islam dengan empat khalifah itu, buku ini lantas mengulas masa peralihan kekhilafahan ke era kerajaan. Dengan menerapkan tata-pemerintahan yang berbeda dengan empat khalifah, Umayyah dan Abbasiyah menganut sistem dinasti. Dengan sangat gamblang, penulis buku ini menyajikan gambaran kelam masa ini. Sejumlah peristiwa berdarah terjadi di antara keluarga istana, ada pula yang dilakukan oleh penguasa terhadap masyarakat.?

Namun, selain sisi kelam, Yusuf Effendi juga mengulas sisi kemajuan umat Islam di masa itu. Pada masa Abbasiyah, kaum muslim mengalami kemajuan di bidang keilmuan. Para pemuka kaum Abbasiyah menempuh dua strategi. Pertama, rekayasa sosial, dengan menyebarkan paradigma kemuliaan dari khazanah Islam, seperti mencari ilmu maupun mendirikan sekolah; dan kedua, memfasilitasi kemudahan pembelajaran dengan mendirikan pabrik kertas, membangun rumah sakit, peneropongan bintang (observatorium), berbagai pusat kajian ilmu dan biro penerjemahan.?

Adopsi ilmu dari budaya asing melandasi seluruh upaya tersebut sebelum dikembangkan sendiri oleh kaum Abbasiyah. Dengan cara itu, hanya dalam waktu dua generasi, kaum Abbasiyah sudah berhasil menjadi pusat kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan dunia, baik pada ilmu-ilmu murni maupun ilmu terapan.

Kaum Abbasiyah berhasil menghadirkan penemuan yang mengagumkan di bidang matematika, fisika, astronomi dan ilmu bumi, kedokteran, farmasi dan teknologi militer. Di bidang agama, kodifikasi hadis maupun rumusan ilmu kalam; sejarah dan lain-lain juga dituntaskan pada zaman ini. Namun, di bidang ilmu politik walaupun berhasil dirumuskan pemikiran cemerlang dari al-Mawardi dengan “Teori Kontrak Sosial” atau Ibnu Kaldun dengan “Teori Konstitusi”, namun keduanya tidak berhasil mengubah sistem kerajaan mutlak Abbasiyah. Zaman kemunduran Islam juga ditandai oleh kemunduran di bidang demokrasi dan akhlak, walaupun di bidang ilmu tidak mundur melainkan stagnan. Masa kemunduran itu dimulai terutama pada jaman Abbasiyah akhir, yaitu pasca penghancuran Baghdad oleh kaum Mongol.

Berkaca dari pengalaman panjang umat Islam, pada bagian terakhir buku ini, penulis menawarkan formula kebangkitan. Ia memaparkan strategi kebangkitan dengan terlebih dahulu mencatat bukti-bukti kemiskinan dan keterbelakangan umat Islam di seluruh dunia. Kemiskinan dan keterbelakangan yang relatif merata itu menurut Yusuf Effendi disebabkan oleh tiga hal. Pertama, terlantarnya keadilan sosial selama 1000 tahun masa kerajaan mutlak. Kedua, karena penjajahan bangsa Eropa yang telah merampas peran kaum Muslim sebagai pedagang antar Negara. Ketiga, kegagalan usaha kebangkitan pasca penjajahan karena tidak berhasil mengalahkan kekuatan sistem penjajahan modern di semua bidang.

Yusuf Effendi memaparkan dua kemungkinan strategi: melalui perbaikan manusia atau “alatnya”. Pilihannya melalui perbaikan manusia yang paling utama adalah aspek akhlak. Di atas segalanya, akhlak atau ihsan adalah bagian dari agama, tepatnya sebagai pilar ketiga di samping pilar iman (akidah, tauhid) dan Islam yang di dalamnya ada syariat. Pilihan melalui “alatnya” yakni perbaikan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan. (hlm 396-400).?

Karena kebangkitan adalah upaya budaya yang kompleks, maka perlu disederhanakan melalui pendekatan sistem (system approach). Dalam sistem itu, kebangkitan dianalogikan dengan “transformasi” melalui usaha politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan yang telah disinergikan dengan pengaruh global di bidang politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan dengan menggunakan “saringan akhlak dan ilmu” kemudian diperkuat oleh faktor-faktor positif (pengaruh internal) dari dunia kaum Muslim.?

Jika umat melakukan semua itu dengan kesungguhan, dalam waktu 100-150 tahun (kaum Abbasiyah dalam 70 tahun), umat Islam dapat meraih kembali kejayaannya. Tetap dengan dalil demokrasi, akhlak, ilmu.?

Selain kaya informasi sejarah, penyajian bergaya popular dan gaya tutur yang lugas menjadi keunggulan yang paling menonjol dari buku ini. Kita dapat mengetahui sejarah bagaimana dinamika pembentukan Dewan Pemilih Khalifah, ahlul-halli wal-‘aqdi pada masa Umar ibn Khattab. Kita juga dapat membaca kisah “petualangan” politik dan intelektual Ibnu Khaldun. Banyak narasi lain yang tidak sebatas kisah tapi diletakkan dalam konteks kekinian. Dari situ kita menyerap optimisme, bahwa Islam dapat bangkit menuju kemuliaan.?

Data buku

Judul Buku : Kebangkitan Kedua Umat Islam, Jalan Menuju Kemuliaan

Penulis : Yusuf Effendi

Penerbit: Naura Books (Mizan Grup)

Cetakan : I, Februari 2015

Halaman : lii + 557

ISBN : 978-602-0989-34-1

Peresensi: Banani Bahrul-Hassan, pecinta kajian hukum, demokrasi, dan keislaman

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita, Meme Islam HMI Tegal Kab

Minggu, 04 Februari 2018

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19

Solo, HMI Tegal Kab -

Ribuan jamaah membanjiri serambi Masjid Agung Surakarta, Jawa Tengah pada acara peringatan Hari Lahir (Harlah) Majelis Ahbabul Musthofa yang ke-19, Sabtu (24/12) malam. Pantauan HMI Tegal Kab, kehadiran mereka bahkan ikut meluber hingga ke halaman masjid.

Dalam sambutannya, Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, mengatakan sangat bergembira atas terselenggaranya peringatan ini.

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini. Ini merupakan Harlah yang ke-19, sedangkan untuk penyelenggaraan di Masjid Agung, ini yang ke-7,” kata dia.

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur Jateng, Pangdam Diponegoro, Kapolda Jateng, dan para tokoh ulama dan pemerintahan di lingkup Kota Surakarta. “Terima kasih kepada bapak Gubernur, dalam kesibukannya, masih sempat ikut keliling shalawat, semoga Jateng tambah berkah dengan shalawat,” ujar Habib Syech.

Dalam kesempatan itu, Habib Syech juga berpesan kepada segenap jamaah untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan. “Kalau ingin mulia, siapapun manusia di muka bumi ini, ikutilah Nabi Muhammad,” tutur dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Cerita, Habib, Fragmen HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Kamis, 18 Januari 2018

Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu

Solo, HMI Tegal Kab. Menjelang berakhirnya Ramadhan, sejumlah masjid di Solo memberikan santunan kepada para anak yatim piatu. Seperti yang dilakukan oleh takmir Masjid Agung Surakarta, Rabu (23/7) lalu, mereka membagikan bantuan kepada puluhan anak.

Sekretaris Masjid Agung Surakarta Abdul Basyid menjelaskan, momentum menjelang lebaran ini sengaja dipilih, untuk membagi kebahagiaan kepada anak-anak tersebut. “Ya, ini sebagai hadiah untuk lebaran, sekaligus juga dapat dimanfaatkan untuk awal memasuki tahun ajaran baru sekolah,” terangnya.

Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu

Basyid menambahkan, untuk santunan kali ini pihaknya membatasi hanya kepada anak-anak yang berusia maksimal kelas 3 SMP. Ia berharap, dengan adanya bantuan ini menjadi sarana kesuksesan anak.

HMI Tegal Kab

“Semoga mereka menjadi anak yang pintar, dan ke depannya bahkan menjadi orang yang sukses,” ungkap mantan pengurus Gerakan Pemuda Ansor Solo itu.

Harapan tersebut rupanya tak jauh berbeda dengan yang diutarakan panitia Santunan Anak Yatim yang diselenggarakan di Masjid Tegalsari Solo, di hari yang sama. Mereka berharap dengan adanya santunan secara rutin, dapat memberikan efek yang lebih besar, yakni diharapkan anak-anak tersebut kelak bahkan dapat menjadi orang yang sukses dan ikut menjadi penyantun. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Cerita HMI Tegal Kab

Selasa, 16 Januari 2018

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Adakan Shalat Ghaib untuk Korban AirAsia

Surabaya, HMI Tegal Kab. Sebagai wujud solidaritas, takmir Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya menggelar shalat ghaib untuk korban musibah pesawat AirAsia QZ8501. Shalat ghaib dilangsungkan usai Shalat Jumat di masjid terbesar di Jawa Timur ini, (2/1).

Usai pelaksanaan shalat ghaib, Humas Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, H Helmy M Noor menandaskan bahwa sudah sepatutnya shalat itu dilaksanakan. "Ini panggilan sebagai sesama muslim yang diperintahkan untuk memupuk ukhuwah islamiyah," katanya kepada HMI Tegal Kab.

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Adakan Shalat Ghaib untuk Korban AirAsia (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Adakan Shalat Ghaib untuk Korban AirAsia (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Adakan Shalat Ghaib untuk Korban AirAsia

Bagi alumnus Universitas Darul Ulum Jombang Jawa Timur ini, musibah jatuhnya pesawat AirAsia yang memakan korban hingga ratusan nyawa hendaknya menjadi media untuk meningkatkan ukhuwah. "Musibah yang dirasakan umat Islam di belahan penjuru manapun pada hakikatnya adalah musibah bagi kita sendiri," tandasnya.

HMI Tegal Kab

Karena dalam pandangannya, antara muslim yang satu dengan muslim yang lain ibarat satu tubuh. "Bahkan ilustrasi menarik telah disampaikan Nabi bahwa kalau ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain juga turut merasakan," terangnya.

HMI Tegal Kab

"Karena itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap penderitaan dan musibah yang menimpa korban, maka shalat ghaib dilangsungkan di masjid ini," ungkapnya.? Dan tradisi shalat ghaib sudah menjadi kebiasaan bila ada permintaan dari sebagian jamaah yang berkenan untuk dishalati. "Namun untuk musibah kali ini adalah inisiatif dari takmir masjid," ungkapnya.

Dan dalam pantauan HMI Tegal Kab, sejumlah jamaah Shalat Jumat sangat antusias melangsungkan shalat ghaib dengan penuh khidmat. Rata-rata jamaah enggan beranjak dan mengikuti prosesi shalat ghaib yang dilanjutkan dengan doa demi para korban pesawat naas tersebut.

Salah seoramg jamaah terlihat khusyuk dan berharap agar proses evakuasi korban pesawat AirAsia dapat berjalan dengan lancar. "Meskipun terkendala cuaca yang kurang bersahabat, kami berharap semuanya akan berjalan sesuai harapan," kata Muhammad Iqbal, salah seorang jamaah dari Surabaya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hikmah, Nasional, Cerita HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock