Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyambut baik usulan adanya hari santri yang disampaikan oleh Joko Widodo dalam kampanyenya beberapa waktu lalu, tetapi ia menyarankan sebaiknya hari santri diperingati pada 22 Oktober sesuai dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad.

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad

“Saya menyambut baik, bahkan saya tagih realisasinya. Akan tetapi menurut saya, bukan tanggal 1 Hijriyah, ini sudah jadi penanggalan Islam internasional. Hari santri sebaiknya 22 Oktober,” katanya.?

Ia menjelaskan, pada tanggal 22 Oktober tersebut KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad yang mendorong kaum santri, tentara dan masyarakat pada umumnya untuk melawan Belanda di Surabaya, yang akhirnya pecah pertempuran 10 November.?

HMI Tegal Kab

“Disitu jelas sekali peran santri,” tandasnya.

Kalau hari santri diperingati pada satu Muharram, menurutnya tidak ada lagi ciri keindonesiaannya karena pada hari itu sudah diperingati secara internasional sebagai tahun baru Islam.?

HMI Tegal Kab

“Nanti tenggelam oleh perayaan tahun baru hijriyah,” tandasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab PonPes, Kajian, Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Rabu, 24 Januari 2018

Majalah Afkar Perekat Ukhuwah Nahdliyah di Mesir

Kairo, HMI Tegal Kab

Majalah Afkar menjadi media yang sangat efektif dalam merekatkan ukhuwah nahdliyah atau tali silaturrahim warga Nahdlatul Ulama di Mesir.

Katua Tanfidziyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir Muhlashon Jaluddin saat memberikan sambutan dalam acara "Upgrading Majalah Afkar periode 2007-2008", Selasa (14/8) di Sekretariat NU Mesir, berharap media yang dikelola warga NU Mesir ini juga mampu menunjukkan semangat "pencerahan" ala NU.

"Pencerahan ala NU adalah sebagaimana motto NU sendiri, yaitu "al-muhafadlotu ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah" namun dewasa ini kita sering hanya mengambil yang baru-baru saja atau al-akhdzu bil jadidi jiddin," kata Muhlashon seperti dikutip situs PCINU Mesir www.numesir.org .

Majalah Afkar Perekat Ukhuwah Nahdliyah di Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Afkar Perekat Ukhuwah Nahdliyah di Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Afkar Perekat Ukhuwah Nahdliyah di Mesir

Selain mengangkat isu-isu internasional, majalah Afkar juga menyajikan isu-isu lokal yang berkenaan dengan dunia kemahasiswaan di Mesir (Masisir).

"Afkar kalau perlu ada visi dan misi yang membumi tentang keberadaan kita di sini, sehingga jelas bagi warga NU Mesir yang ingin tahu tentang bagaimana perkembangan NU Mesir, termasuk yang kontroversial," katanya.

HMI Tegal Kab

Berbicara managemen, dikatakan Muhlason, majalah Afkar telah mempunyai tempat tersendiri dihati Masisir. Oleh sebab itu para pengelola media ini perlu menciptakan seni tersendiri bagi para pembacanya. "Yang membedakan antara managemen yang satu dengan yang lain adala seni, dan seni adalah metode," katanya.

"Afkar juga perlu menciptakan sebuah pesaing baik yang datang dari dalam maupun luar, dan juga perlu adanya komunikasi dan interaksi langsung dengan konsumen sehingga dengan begitu Afkar akan mengalami sebuah kemajuan," tambah Mukhlason.

HMI Tegal Kab

Upgrading majalah Afkar dilaksakan selama dua hari, pada 13 dan 14 Agustus 2007. Muhlashon awalnya direncanakan memberikan sambutan sekaligus membuka acara pada hari pertama, Senin (13/08), namun dirinya berhalagan hadir sehingga baru sempat berbicara di hadapan para peserta upgrading pada Selasa.(aan/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Sabtu, 20 Januari 2018

UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal

Bandarlampung, HMI Tegal Kab - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid mengatakan bahwa terbitnya UU No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), memberikan peluang dan peran Organisasi Kemasyarakatan keagamaan untuk menangani proses Sertifikasi Produk Halal Melalui Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) yang dimiliki masing-masing ormas.

Proses mendapatkan sertifikat yang diatur dalam Undang-Undang tersebut, menurutnya, diawali dengan pemeriksaan data usulan dari industri yang dilakukan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal

"Kalau data usulannya tidak lengkap maka akan dikembalikan oleh BPJPH kepada pengusul. Jika lengkap, maka usulan tersebut akan diteruskan kepada Lembaga Pemeriksa Halal (LPH)," tambahnya tentang kebijakan baru yang renacananya akan diimplementasikan pada 2018 ini.

HMI Tegal Kab

Setelah diperiksa oleh LPH selanjutnya usulan tersebut diserahkan ke MUI dan akan di putuskan oleh Komisi Fatwa MUI apakah produk yang diusulkan halal melalui beberapa kajian dan tinjauan.

HMI Tegal Kab

"Secara tertulis MUI yang mengeluarkan fatwa apakah usulan produk dinyatakan halal. Dari MUI diserahkan ke BPJPH untuk kemudian dikeluarkan sertifikasi halal-nya," tambahnya, di kediamannya, Senin (25/9) malam.

Selain ormas keagamaan, UU Jaminan Produk Halal ini terangnya juga memberi kesempatan perguruan tinggi keagamaan (PTK) maupun perguruan tinggi umum (PTU) untuk memiliki LPH.

"Lembaga ini dalam UU JPH memiliki peran untuk memeriksa kandungan sebuah produk. Namun LPH harus bekerja sama dengan MUI yang akan menentukan siap saja petugas yang berwenang memeriksa kehalalan produk," jelasnya.

Ke depan Pemerintah melalui Komite Akreditasi Nasional (KAN) juga akan melakukan akreditasi secara intensif dan berkala untuk mengetahui kinerja Lembaga Penjamin Halal di Indonesia.

"Skema akreditasi dan sertifikasi untuk sistem jaminan halal ini berbasis standar Halal Assurance System (HAS) 23000," kata Kiai yang juga Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung ini.

Sementara posisi BPJPH lanjutnya menjadi bagian dari struktur Kementerian Agama sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Agama No 42 Tahun 2016 tentang Organisasi Tata Kerja (Ortaker) Kementerian Agama. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama, Meme Islam, Fragmen HMI Tegal Kab

Jumat, 19 Januari 2018

PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah

Makassar, HMI Tegal Kab - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Makassar memperingati pergantian tahun baru hijriyah di Masjid Al-Hamzah, Jalan Monginsidi Baru. Peringatan ini dikemas bersama acara lailatul ijtima yang secara rutin dilaksanakan setiap malam Jumat ketiga bulan berjalan.

Ketua MUI Sulawesi Selatan Agh Sanusi Baco menyampaikan hikmah yang begitu besar dan penting dalam kisah hijrah Rasulullah SAW dan termasuk di antaranya pengorbanan tokoh muda sahabat Ali bin Abi Thalib yang menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW saat menghadapi rencana jahat kaum musyrikin Mekkah.

PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah

“Hijrah adalah pengorbanan, di antaranya pengorbanan meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, harta kekayaan yang tentu saja merupakan nilai yang jika dijiwai dan diaplikasikan oleh umat Islam akan melahirkan generasi Islam yang dibanggakan oleh Rasulullah SAW," kata Agh Sanusi Baco.

HMI Tegal Kab

Peringatan tahun baru Hijriyah di Masjid Al-Hamzah dihadiri juga oleh Rais Syuriyah PCNU Makassar Agh Baharuddin,  Sekretaris PCNU Makassar KH Masykur Yusuf, Katib Syuriyah H Saifullah Rusmin, beberapa pengurus PCNU Makassar,  Ketua MWC Kecamatan dan nahdliyin di Kecamatan Makassar. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Kamis, 18 Januari 2018

Jadi Pengurus Harus Bangga Mewarisi Organisasi NU

Pringsewu, HMI Tegal Kab. Sepuluh Kepengurusan Nahdlatul Ulama tingkatan Ranting atau desa dikukuhkan oleh Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H. Taufiqurrohim, Ahad (6/11). Pengukuhan tersebut bebarengan dengan kegiatan Pengajian Triwulan PAC Muslimat NU Kecamatan Pagelaran yang bertempat di Majelis Taklim Ainul Yaqin Patoman Pagelaran.

Jadi Pengurus Harus Bangga Mewarisi Organisasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Pengurus Harus Bangga Mewarisi Organisasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Pengurus Harus Bangga Mewarisi Organisasi NU

Sepuluh Ranting NU yang dikukuhkan tersebut yaitu Ranting NU Desa Pagelaran, Pasir Ukir, Bumi Ratu, Bumirejo, Patoman, Sidodadi, Padangrejo, Pujiharjo, Sukawangi dan Lugusari.

Hadir pada kegiatan yang dihadiri oleh ribuan Warga NU dan Muslimat ini Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu H. Sujadi, Pembina Muslimat NU Pringsewu H. Nurrohmah Sujadi, Ketua PC Muslimat NU Hj. Ani Fitriani, Ketua PC Fatayat NU Umi Laila dan Seluruh Pengurus NU dan Muslimat Kecamatan Pagelaran.

Pada kesempatan tersebut Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu H. Sujadi menyampaikan ucapan selamat kepada pengurus yang dilantik sekaligus berharap para pengurus yang dilantik untuk dapat terus berkhidmah bagi ummat. 

HMI Tegal Kab

"Jadi pengurus NU itu tidak digaji. Jadi pengurus NU itu siap berkorban. Jadi pengurus NU harus ikhlas. Jika ini selalu dimiliki pengurus NU dalam berjuang yakinlah akan diberi kebarokahan dalam kehidupan, dikaruniai keturunan soleh solehah, rezeki yang halal dan khusnul khotimah," katanya diamini oleh seluruh yang hadir.

Menjadi pengurus NU juga harus bangga karena mewarisi organisasi ulama yang berperan besar dalam mewujudkan NKRI. "Kita berikrar untuk meneruskan perjuangan para ulama yang telah mendirikan NU dan indonesia. Terus lakukan Ibadah Amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah warisan Ulama. Pengajian, wiridan, manakiban dan sejenisnya adalah kunci kesuksesan Indonesia Merdeka," tegasnya.

Abah Sujadi, begitu ia biasa disapa mengatakan bahwa amaliyah tersebutlah yang menjadi musabab para Ulama dan pejuang berkumpul dan bergerak untuk bangsa Indonesia dengan mendirikan Organisasi untuk mewujudkan kemerdekaan RI yang muaranya berupa pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Diakhir sambutannya Abah Sujadi menyampaikan pesan Pengasuh Pondok Pesantren Kalibeber Wonosobo KH. Muntaha dimana Ia pernah menjadi santri disana. "Dipakai berjuang badan kita akan rusak. Tidak dipakai berjuang badan kita juga akan rusak. Terus pilih yang mana?," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Selasa, 09 Januari 2018

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif

Salah satu tokoh Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) yang paling dikenal yakni Nyai Hj. Mahmudah Mawardi. Dalam kurun waktu kepemimpinannya selama delapan periode lamanya (1950-1979, Muslimat NU tampil sebagai sebuah organisasi wanita yang cukup progresif. Muslimat berperan aktif di dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Peran Muslimat selanjutnya yaitu pada tahun 1967 ketika Mahmudah Mawardi ikut mendirikan Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) sebagai wadah untuk mempersatukan gerak langkah organisasi-organisasi wanita Islam dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif

Lahir pada tanggal 12 Februari 1912, Mahmudah kecil dibesarkan di lingkup pesantren yang diasuh oleh ayahnya, Kiai Masjhud. Kiai Masjhud merupakan salah satu tokoh yang dianggap menjadi salah satu perintis berdirinya NU di Kota Solo.

HMI Tegal Kab

Mahmudah merupakan anak pertama dari lima saudari. Mereka adalah Mahmudah, Mahwiyah, Mahsunah, Mahdumah dan Mahmulah. Kelima putri ini dilahirkan dari rahim istri pertama Kiai Masjhud. Setelah istri pertamanya wafat, Kiai Masjhud kemudian memperistri Syuaibah, yang kemudian melahirkan salah satu tokoh pendiri IPNU dan PMII, H. Mustahal Ahmad.

Sejak kecil Mahmudah belajar kepada orang tuanya di Pondok Pesantren yang kelak dikenal sebagai Pesantren Al-Masjhudiyah. Kemudian ia belajar selama 6 tahun di Madrasah Ibtidaiyyah Sunniyah Solo, hingga tamat pada tahun 1923. Setelah itu, ia melanjutkan belajar di Madrasah Tsanawiyyah Sunniyah selama 3 tahun. Sunniyah merupakan sebuah nama langgar dan madrasah di daerah Keprabon Timur Solo. Letaknya sekitar 300 m ke arah utara dari rumah Mahmudah.

Seiring waktu berjalan, Mahmudah terus meningkatkan kemampuannya dengan mengikuti kursus-kursus keguruan. Ia juga pernah nyantri di Pesantren Jamsaren Solo, di bawah asuhan KH Mohammad Idris. Kesemuanya ini menjadikan dirinya sebagai pribadi yang terpelajar nan alim.

HMI Tegal Kab

Berdasarkan penuturan salah seorang keponakannya, Nashirul Umam, Mahmudah juga berhasil menjadi salah seorang penghafal Alquran atau hafidhah.



Kiprah Mahmudah


Mahmudah mengawali kiprah perjuangannya dengan menjadi guru di tempat belajarnya dahulu, Sunniyah, sejak tahun 1930. Bersama kaum perempuan muslim di Solo, ia kemudian mendirikan organisasi Nahdlatoel Moeslimat (NDM) di Kauman Surakarta pada bulan April 1931. Organisasi ini bergerak pada bidang pendidikan, khususnya untuk kaum perempuan. Dalam proses pendirian, Mahmudah menjadi ketua pendiri organisasi, hingga akhirnya membuka cabang di mana-mana.

Selama kurun waktu 1933-1945, Mahmudah menjadi kepala sekolah Madrasah Muallimat NDM. Pada kisaran tahun itu pula, Mahmudah menikah dengan salah seorang tokoh pergerakan PSII Solo, A. Mawardi. Nama inilah yang tersemat di belakang namanya hingga akhir hayat.

Dari pernikahan tersebut lahir putra-putri yang kelak juga menjadi tokoh besar. Di antaranya Chalid Mawardi (Ketua PP GP Ansor 1980-1985, mantan Dubes RI di Syiria dan Lebanon), Farida Purnomo (Ketua PP IPPNU 1963-1966) dan Lathifah Hasyim (Dewan Penasihat PP Muslimat NU 2011-2016).

Sebagai tokoh pergerakan, kehidupan Mawardi banyak menginspirasi Mahmudah untuk ikut aktif dalam dunia pergerakan. Mahmudah kemudian ikut aktif dalam organisasi kewanitaan. Hinggga pada tahun 1943, Mawardi meninggal. Sejak saat itu perjalanan panjang berkarir, berjuang dan membesarkan anak-anak, mesti dijalani sendiri oleh Mahmudah.

Tidak hanya itu, ketika pada tahun 1954 ayahnya wafat, ia diberi amanah untuk menggantikan sang ayah sebagai pengasuh pesantren yang kala itu terdapat 150 santri putri. Berbagai jalan kehidupan ini, semakin membentuk karakternya sebagai seorang wanita yang tangguh.

Pada masa ini, ia juga menjadi salah satu kunci terbentuknya IPPNU yang ketika awal berdiri berpusat di Solo. Hampir sebagian besar tokoh pendiri IPPNU, seperti Umroh Machfudzoh, Basyiroh Soimuri, Machmudah Nahrowi, Farida Mawardi dan lain-lain merupakan santriwati yang ikut mengaji di Pesantren Masjhudiyah.



Memimpin Muslimat


Bakatnya sebagai seorang pemimpin sudah terlihat sejak ia ikut membidani berdirinya NDM. Di Muslimat NU, karirnya juga terus melesat hingga pada tahun 1946 ia mengemban dua amanah sekaligus, sebagai ketua pertama Pimpinan Cabang Muslimat NU Surakarta dan ketua organisasi Federasi Wanita Islam Indonesia di Solo. Sebagai catatan, Muslimat NU baru diresmikan pada tanggal 29 Maret 1946 dalam Muktamar NU ke-XVI di Purwokerto.

Selang empat tahun kemudian, 1950, ketika diselenggarakan Muktamar NU ke-XVIII di Jakarta, Mahmudah terpilih sebagai ketua umum Muslimat NU. Sejak saat itu, ia memimpin hingga delapan periode lamanya (1950-1979).

Selain berjuang di Muslimat, Mahmudah juga banyak dipercaya untuk mengemban amanah di banyak hal. Di ranah politik, ia bahkan dijuluki sebagai ‘politisi wanita besi brilian dari NU’. karir politiknya diawali sejak 1946 ketika menjadi anggota DPRD Kota Besar Surakarta dari golongan wanita. Pada saat yang sama ia juga duduk sebagai anggota BP KNPI mewakili Masyumi (waktu NU masih bergabung dengan Masyumi). Tahun 1952 duduk sebagai anggota Liga Muslimin Indonesia dari NU.

Berlanjut pada masa pemerintahan RIS, ia duduk sebagai anggota DPR RIS di Jogjakarta (1959), kemudian sebagai Anggota DPR RI (1956-1971), Anggota DPR/MPR RI mewakili NU dan PPP (1971-1977), dan Anggota MPR RI dari PPP (1977-1982).

Pada perhelatan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) pada tahun 1965 dan 1970 ia dipercayai sebagai salah satu delegasi Indonesia.



Akhir Hayat


Begitu banyak jasa yang telah ia ukir, termasuk saat ia ikut aktif membantu perjuangan bangsa indonesia melalui Barisan Hizbullah di Surakarta (12 Oktober 1945 – 19 September 1947). Tugasnya kala itu, berada di garis belakang untuk membuka dapur umum, mengumpulkan obat-obatan, lauk-pauk dan menjadi kurir. Atas jasanya itu, ia mendapat tanda penghargaan Bintang Gerilya.

Menjelang wafatnya, ketika sakit, banyak tokoh NU yang menjenguknya, KH Ali Maksum dan Gus Dur termasuk diantaranya. Nyai Hj. Mahmudah Mawardi akhirnya wafat pada Rabu Wage, 26 Rabiul awal 1408 H/ 18 November 1987 pukul 14.00 di Keprabon Wetan Solo, usia 78 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Astana Pulo Laweyan Solo. (Ajie Najmuddin)

Sumber:

1. Wawancara kepada Nashirul Ulum (cucu KH Masjhud/putra H. Mustahal Ahmad) di Solo, 22 Juni 2014.

2. Sejarah Muslimat NU. PP Muslimat NU. Jakarta. 1979

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama, Pertandingan, Kiai HMI Tegal Kab

Minggu, 07 Januari 2018

Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi

Kendal, HMI Tegal Kab. Dukung mendukung calon gubenur dan wakil gubenur menjelang Pilgub Jateng 2008 yang akan dilaksanakan 22 Juni mendatang tidak akan merusak Khittah NU sepanjang dilakukan secara perorangan atau pribadi, bukan secara organisatoris. Warga NU yang mendukung M Adnan tentu tidak bisa dipersoalkan. Justru kalau M Adnan tidak didukung warga NU itu menjadi pertanyaan.

Demikian disampaikan KH Zuhri Ikhsan saat acara konsolidasi Tim Kemenangan Muhammad Adnan (TKMA) tingkat kabupaten Kendal di rumah makan Salsabil Brangsong, Senin (19/5) lalu.

Dukung Mendukung  dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi

“Orang NU yang tidak mendukung calon dari NU itu orang bodoh,” tegas kyai asal  Kaliwungu itu seperti dilaporkan oleh kontributor NU online, Fahroji.

HMI Tegal Kab

Sementara itu ketua TKMA kabupaten Kendal MH Mustamsikin, M.PdI yang juga wakil ketua PCNU Kendal mengatakan bahwa secara organisasi NU tetap netral. Kalau toh dalam  forum tersebut banyak hadir para ketua MWCNU se-kab. Kendal itu kapasitasnya sebagai pribadi warga NU. “Yang mengundang  bukan NU tetapi TKMA, undangannya juga bukan kepada ketua MWCNU, tetapi kepada perorangannya,” terangnya.

HMI Tegal Kab

Dalam acara konsolidasi TKMA yang dihadiri oleh pengurus TKMA tingkat kecamatan se-Kab. Kendal itu Mustamsikin banyak menjelaskan kronologi seputar pencalonan Adnan sebagai cawagub Jateng mendampingi Bambang Sadono yang diusung oleh partai Golkar.

Menurutnya pencalonan Adnan sudah melalui beberapa tahapan pertemuan. Mulai pertemuan Tanfidziyah PCNU se Jateng dalam Mukerwil PWNU di PP Al Itqon Tlogosari Semarang tanggal 14-15 Juli 2006 sampai dengan pertemuan PWNU dan PCNU se-Jateng di 6 eks Karesidenan Juli –Agustus 2007

Dari pertemuan-pertemuan yang jumlahnya tidak kurang dari enam kali pertemuan itu sepakat merekomendasikan H Muhammad Adnan untuk maju sebagai calon wakil Gubenur mendampingi H Bambang Sadono.  Dikatakan pula bahwa  hasil itu merupakan proses panjang yang melibatkan PWNU dan PCNU se-Jateng.

Lebih lanjut Mustamsikin juga menjeleaskan bahwa majunya Adnan berdasarkan surat PWNU Jateng No. PW. II/0589/A/XII/2007 yang isinya memberikan ijin dan rekomendasi persetujuan kepada Drs H Muhammad Adnan, MA selaku ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama jawa Tengah untuk: Pertama, maju dan mencalonkan diri dalam Pemilihan Gubenur Jawa Tengah 2008 sebagai calon wakil Gubenur. Kedua, memenuhi permintaan/menerima lamaran untuk menjadi wakil gubenur dari calon Gubenur H. Bambang Sadono melalui partai Golkar.

Dalam konsolidasi yang juga  dihadiri  Mbah Dim ( KH. Dimyati Rois )  ketua PCNU Kendal Drs HM Ali Hasan, Msi, anggota  DPR RI dari fraksi Golkar Drs H Mujib Rohmat itu farum memutuskan untuk segera melakukan konsolidari sampai ketingkat akar rumput. (fhj)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama, Syariah HMI Tegal Kab

Jumat, 29 Desember 2017

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta

Brebes, HMI Tegal Kab. Warga RW 08 Kelurahan Limbangan Wetan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, membangun mushola mengandalkan kocek mereka sendiri. Sampai kini, pembangunan telah menelan dana Rp 220 juta.

“Seluruh dana berasal dari swadaya masyarakat dan sumbangan lain yang sah dan tidak mengikat. “Insya Allah dalam waktu dekat, bisa selesai 100 persen karena tinggal finishing,” ujar bendahara pembangunan mushola, Asif Faozan.

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta

Mushola tersebut dibangun di atas tanah wakaf PT Eka Muda seluas 144 meter persegi. Atas usulan warga RW 08, sejak Juli 2013, pembangunan telah dilaksanakan, dan kini telah mencapai 90 persen.

HMI Tegal Kab

Meskipun belum selesai, kata Asif, mushola sudah digunakan untuk shalat Tarawih, shalat Ied.

HMI Tegal Kab

Lebih jauh Asif berharap, momentum hijriyah ini, mudah-mudahan bisa menambah gairah (semangat) beruat kebaikan dengan penambahan amal ibadah.

Dalam pantauan NU Onlinr pada Selasa (4/11) warga bahu membahu melakukan pengecoran. Sementara ibu-ibunya menyiapkan jajanan dan makanan penghilang lelah. “Tahun baru, juga harus guyub membangun kebaikan,” imbuh sekretaris panitia Mas Toto.

Ketua Panitia pembangunan mushola, Djuhaeri menjelaskan, ini bukti masyarakat bisa diajak gotong royong, swadaya, untuk memenuhi kebutuhan rumah ibadah mereka sendiri. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Syariah, Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Rabu, 27 Desember 2017

IPNU Karawang Nilai Kurikulum 2013 Penuh Masalah

Karawang, HMI Tegal Kab. Penerapan Kurikulum 2013 saat Ujian Akhir Semester (UAS) tampak menunjukkan kelemahanya bagi sekolah berstandard nasional yang ditunjuk sebagai model uji coba tahun ini. Berdasarkan riset IPNU Karawang, sistem penilaian dalam Kurikulum 2013 juga terkesan menyamaratakan kapasitas guru dengan muridnya.

IPNU Karawang Nilai Kurikulum 2013 Penuh Masalah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Karawang Nilai Kurikulum 2013 Penuh Masalah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Karawang Nilai Kurikulum 2013 Penuh Masalah

Sekretaris IPNU Karawang Benny Ferdiansyah menilai,  Kurikulum 2013 bertentangan dengan UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Karena, dalam Kurikulum 2013 penekanan pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis. Sementara sistem KTSP 2006 tidak dijadikan patokan evaluasi terlebih dahulu di samping memastikan normal tidaknya pelaksanaan sistem tersebut.

"Kami yakin pihak guru dan pemangku pendidikan mengalami kesulitan akhir-akhir ini. Alasan konkretnya satu, karena mereka belum siap," kata Benny, Rabu (2/7).

HMI Tegal Kab

IPNU Karawang memandang ketidaksinkronan pemberlakuan Kurikulum 2013 dalam Ujian Nasional. Kalau UN hanya mendorong orientasi pendidikan pada hasil utamanya perihal pengetahuan, sementara Kurikulum 2013 lebih menekankan penilaian sikap siswa dalam  proses pembelajaran.

Dampaknya, siswa akan menyampingkan mata pelajaran yang tidak masuk dalam UN. Sedangkan di satu sisi, mata pelajaran non-UN ternyata memberikan kontribusi besar untuk mewujudkan tujuan pendidikan dalam Kurikulum 2013.

HMI Tegal Kab

IPNU Karawang mendesak dinas kementerian terkait dan pembuat kebijakan untuk meninjau ulang Kurikulum 2013. Hal itu belum termasuk masalah draft UU Kurikulum 2013 yang belum selesai, tandas Benny. (Deden Ismatullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama, Kajian HMI Tegal Kab

Minggu, 24 Desember 2017

Modernitas ala Kaum Tradisionalis

Oleh: Isnai Ilham Aufaduha

Sejak berdirinya pada tahun 1926 M, jam’iyyah diniyah islamiyah dan ijtima’iyah Nahdlatul Ulama yang berawal dari pembentukan Komite Hijaz ini memang ditujukan untuk menjadi wadah bagi berkumpulnya kiai-kiai beserta para pengikutnya yang berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, meskipun masyarakat lebih condong menggunakan istilah “Islam Tradisional”. Penggunaan istilah “Tradisional” ini kemudian menimbulkan dikotomi sehingga memunculkan istilah lainnya, “Islam Modern”, meskipun keduanya disandangkan pada kelompok-kelompok tertentu tanpa didasarkan pada faktor-faktor yang pasti, hanya didasarkan pada opini mayoritas masyarakat saja.

Modernitas ala Kaum Tradisionalis (Sumber Gambar : Nu Online)
Modernitas ala Kaum Tradisionalis (Sumber Gambar : Nu Online)

Modernitas ala Kaum Tradisionalis

KH. Abdurrahman Wahid dalam tulisannya yang berjudul “Tradisional Belum Tentu Kolot”, berpendapat: “Hampir semua tulisan tentang Nahdlatul Ulama (NU) menyimpulkan bahwa perkumpulan itu sangat tradisional. Ini tentu saja dapat dimengerti karena dalam kenyataan para pemimpin perkumpulan itu memang tradisional dalam bentuk lahiriah. Umumnya mereka mengenakan sarung.”? Di sini beliau menyoroti penggunaan istilah “tradisional” didasarkan pada kenyataan bahwa secara lahiriah baik dari segi penampilan, gaya hidup, dan wilayah penyebaran, NU memang cocok bila disebut sebagai “Islam Tradisional”.

HMI Tegal Kab

Label tradisional yang melekat pada NU tidak terlepas dari sejarah masuk dan tersebarnya Islam di Indonesia yang melalui pendekatan-pendekatan humanis, lewat jalur perdagangan, jalur pernikahan, dan yang paling utama, jalur pendekatan budaya. Meminjam istilah KH. Afifuddin Muhajir, Islam di Indonesia adalah “Hasil dialektika antara teks syariat dengan realitas dan budaya setempat”, Kiai Siad Aqil juga berpendapat bahwa Islam di Indonesia adalah “Islam yang tidak memberangus budaya, Islam yang tidak anti budaya selama tidak bertentangan dengan tauhid, justru Islam diperkuat oleh budaya, dan budaya diberi ruh dengan Islam”.

HMI Tegal Kab

Namun, kita akan menjumpai sisi yang berbeda dari NU jika kita memakai indikator yang lain. Dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, dikenal sebuah forum yang disebut Bahtsul Masail, yaitu metode pengambilan keputusan hukum Islam dimana tradisi intelektual ini sudah berlangsung sejak NU didirikan. Forum ini bertugas mengambil keputusan tentang hukum-hukum Islam baik yang berkaitan dengan masail fiqhiyah (masalah fiqih) maupun masalah ketauhidan dan bahkan masalah-masalah tasawuf (tarekat). Bahtsul masail biasanya diadakan dalam forum-forum besar seperti Muktamar NU, Munas Alim Ulama, dan Konferensi Besar, meskipun kerap juga diadakan dalam forum lainnya.

Dr (HC). KH. M. A. Sahal Mahfudh menjelaskan, “Dari segi historis maupun operasionalitas, bahtsul masail NU merupakan forum yang sangat dinamis, demokratis dan berwawasan luas. Dikatakan dinamis sebab persoalan (masail) yang digarap selalu mengikuti perkembangan (tren) hukum di masyarakat.” Pernyataan Kiai Sahal ini sangat menggambarkan itsbat al-ahkam ala NU ini. Masalah-masalah yang di-Bahtsul Masail-kan merupakan masalah yang sedang hangat di masyatakat. Penulis mengambil beberapa contoh; pembahasan mengenai hukum mengerjakan proses bayi tabung pada 1981; Kloning Gen pada Tanaman, Hewan, dan Manusia yang dibahas pada 1997; dan yang paling mutakhir pembahasan mengenai hukum asuransi BPJS dan penenggelaman kapal asing yang melanggar hukum, dibahas dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33. Hal ini cukup menarik di mata penulis jika kita mengaitkan sisi tradisionalitas NU dengan kemampuan istinbath yang begitu mendalam dan mutakhir.

Selain itu, kita juga bisa melihat sisi modernitas NU dalam perkembangan metode dakwahnya. Kini seiring dengan berkembang pesatnya teknologi informasi, NU sebagai organisasi massa terbesar di Indonesia turut memanfaatkan media massa elektronik dan media sosial sebagai sarana penyebaran paham Islam Ahlussunah wal Jamaah. Dari yang formal-official hingga yang bersifat personal, semuanya ada. Sebut saja Aswaja TV, TV9 Nusantara, dan redaksi HMI Tegal Kab yang membuka kanal di berbagai media sosial. Berbicara mengenai media sosial, kaum muda NU bisa dibilang sebagai ‘motor’nya. Mereka menyebarkan paham-paham “tradisional” dengan sarana yang “modern”, mempertahankan tradisionalitas dengan memberdayakan sarana yang bermakna sebaliknya. Seolah tanpa komando, akun-akun bernafaskan Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdliyyah tumbuh pesat bak jamur di musim penghujan di berbagai media sosial. Akun-akun ini senantiasa menyebarkan informasi-informasi ke-Aswaja-an dan ke-NU-an dengan kemasan yang menarik, dan terus berkembang dalam segi kuantitas dan kualitas. Kaum muda NU ini selaras dengan dawuh Sunan Kalijaga “Anglaras playuning banyu, Ngeli ning ojo keli” (Selaraskan diri dengan aliran air. Ikutilah arus tapi janganlah sampai terhanyut), tetap mempertahankan jati diri ditengah modernitas yang tidak selalu bermakna positif.

Tampaknya warga Nahdlatul Ulama benar-benar terampil menerapkan kaidah ushul fiqh al-muhafadatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil-jadidil ashlah (melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik). Yang demikian memang seharusnya diterapkan dalam segala lini kehidupan, bukan?

* Penulis adalah mahasiswa Universitas Indonesia



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama, Quote HMI Tegal Kab

Senin, 18 Desember 2017

Sakinah Mawaddah Warahmah dalam Berbangsa Menurut Rais Aam PBNU

Jakarta, HMI Tegal Kab. Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa di tengah ancaman radikal terorisme serta perpecahan antar elemen bangsa perlu untuk membangun prinsip saling mencintai dan menyayangi (mawaddah warahmah) bukan hanya dalam rumah tangga saja, tetapi sebenarnya juga dalam sesama muslim.

Sakinah Mawaddah Warahmah dalam Berbangsa Menurut Rais Aam PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sakinah Mawaddah Warahmah dalam Berbangsa Menurut Rais Aam PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sakinah Mawaddah Warahmah dalam Berbangsa Menurut Rais Aam PBNU

“Sesama umat Islam itu di dalam ber-mawaddah dan ber-rahmah itu seperti tubuh yang satu, kalau salah satu tubuh sakit, semuatubuhnya sakit. Sakit satu sakit semua. Oleh karena itu, sesama bangsa sebaiknya begitu,” tuturnya saat pembukaan Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Teroris di Dunia Maya bersama Media OKP dan Ormas, Rabu (22/3) malam.

Kiai Ma’ruf, begitu ia disapa, mengutip semacam maqalah, “Matsalul indunisiyyina fi tawaddihim, watarakhumihim kal jasadil wahid. Sesama bangsa Indonesia, di dalam saling ber-mawaddah dan ber-rahmah, seperti tubuh yang satu.”

“Kita ini seperti satu tubuh, kalau salah satu anggota bangsa ini sakit maka seluruh bangsa itu harus menjadi sakit, bahkan juga seluruh globalseharusnya juga membangun mawaddah warahmah, kalau ada salah satu bangsa yang sakit, seluruh bangsa mestinya juga sakit,” sambung cicit Syekh Nawawi al-Bantani itu dalam acara yang diikuti oleh sekitar 200 pegiat media.

HMI Tegal Kab

Kiai Ma’ruf yang juga Ketua Umum MUI Pusat itu menegaskan apabila prinsip mawaddah warahmah tersebut dibangun baik dalam keluarga, masyarakat, sesama umat Islam, sesama bangsa, dan di dalam pergaulan global, maka akan terciptalah sakinah.

“Sakinah itu harmonis, tenang, tentram, baik keluarga, bangsa, pergaulan internasional,” tegas Kiai Ma’ruf.

Ia juga berharap kepada masyarakat untuk tidak saling membenci dan tidak saling memusuhi di tengah gejolak perbedaan madzhab, politik, bahkan agama.?

“Mari kita jaga negara ini, kita kuatkan persatuan, kita kuatkan NKRI, NKRI adalah harga mati bagi bangsa Indonesia,” pungkasnya. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama, Tegal, Aswaja HMI Tegal Kab

Kamis, 14 Desember 2017

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik

Oleh Mohammad Subhan Zamzami

Situasi politik tanah air pasca Pemilihan Presiden tahun 2014 lalu dinilai kurang kondusif. Tidak seperti Pilpres sebelumnya, Pilpres tahun 2014 seakan memecah rakyat Indonesia menjadi dua kubu. Perseteruan dua kubu ini sangat berbau SARA (suku, ras, agama, dan antargolongan), yang kemudian memuncak pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017, dan agaknya akan terus memanas hingga Pemilihan Presiden tahun 2019. Sayangnya, pihak yang berseteru ini tidak hanya memicu gesekan pemeluk antaragama, tapi juga menyulut kembali gesekan pemeluk seagama yang memiliki perbedaan pandangan keagamaan dan politik.

Dalam konteks Islam, situasi seperti ini seakan menggiring kita melihat pra dan pasca fitnah kubra (tragedi politik besar) yang merenggut banyak korban jiwa, baik dari kubu ‘Ali ibn Abu Thalib maupun dari kubu Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Imbas fitnah kubra ini masih sangat terasa hingga saat ini, seperti perbedaan pandangan keagamaan dan politik. Perbedaan pandangan keagamaan ini, misalnya, melahirkan aliran-aliran kalam di kalangan umat Islam. Sedangkan perbedaan pandangan politik di antara mereka setidaknya melahirkan empat kubu, yaitu kubu ‘Ali ibn Abu Thalib, kubu Mu’awiyah ibn Abu Sufyan, kubu Khawarij, dan kubu sebagian sahabat.

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Moderasi Ibn Umar dalam Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik

Kubu ‘Ali memainkan high politics dengan berusaha mempertahankan idealisme dan nilai luhur Islam dengan tidak terjebak pada politisasi agama, meski pada akhirnya mereka menyerah pada desakan sebagian pendukungnya yang kemudian membelot, sehingga mereka dikalahkan oleh kecerdikan ‘Amru ibn al-‘Ash, juru runding kubu Mu’awiyah. Kubu Mu’awiyah lihai memainkan isu-isu agama untuk melegitimasi kepentingan politiknya, sehingga mudah meraih simpati masyarakat dengan segudang prestasi dan kebobrokannya sekaligus.

?

Kubu Khawarij memainkan politik Islam simbolis yang kaku, sehingga mereka akan selalu beroposisi melawan siapa pun penguasa yang tidak sesuai dengan pandangan keagamaan dan politik mereka. Kubu terakhir, kubu sebagian sahabat, lebih suka mengasingkan diri dengan tidak melibatkan diri berlarut-larut dalam pertikaian politik, karena bagi mereka sikap seperti ini lebih baik meski mereka juga sadar bahwa pada akhirnya mereka juga akan dianggap salah oleh kubu lain. Perbedaan pandangan keagamaan dan politik mayoritas umat Islam saat ini hanya representasi dari masa tersebut.

HMI Tegal Kab

Salah satu tokoh besar pada masa itu adalah ‘Abdullah ibn ‘Umar (w. 72/73 H), sahabat sekaligus putra ‘Umar ibn al-Khatthab. Ibn ‘Umar merupakan sahabat terkemuka periwayat hadis terbanyak kedua dengan jumlah periwayatan sebanyak 2630 hadis. Dalam Shahih al-Bukhari, al-Bukhari menulis dua hadis tentang pandangan keagamaan dan politik ‘Ibn ‘Abbas, yang mengindikasikan bahwa ia berada pada kubu terakhir yang lebih suka mengasingkan diri dengan tidak larut dalam perselisihan, yaitu hadis ke-4513 dan hadis ke-4515. Hadis ke-4513, misalnya, mengisahkan Ibn ‘Abbas tidak ikut serta dalam tragedi Ibn al-Zubair, sehingga ada dua orang datang menghadap kepadanya untuk mempertanyakan sikapnya tersebut.

HMI Tegal Kab

Pada saat itu, ia berkata, “Saya tidak ikut karena sesungguhnya Allah mengharamkan pertumpahan darah atas saudaraku.” Mendengar jawaban tersebut, dua orang tadi menggunakan ayat Alquran wa qatiluhum hatta la takuna fitnah? (dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi) untuk menekannya. Tapi Ibn ‘Umar menyanggah mereka dengan berkata, “Kami berperang agar tidak terjadi fitnah sehingga ketaatan (agama) hanya semata-mata untuk Allah, sedangkan kalian ingin berperang agar terjadi fitnah sehingga ketaatan (agama) hanya semata-mata untuk selain Allah.”

Sedangkan hadis ke-4515 mengungkapkan pandangan politik Ibn ‘Umar. Dalam hadis tersebut, ada seorang laki-laki datang menghadapnya untuk mempertanyakan pandangannya tentang kepribadian ‘Utsman ibn ‘Affan dan ‘Ali ibn Abu Thalib. Sebagaimana diketahui, ‘Utsman mewakili Bani Umayah, sedangkan ‘Ali mewakili Bani Hasyim. Dua klan besar ini bertikai sejak sebelum masa Nabi Muhammad Saw. hingga beratus-ratus tahun setelahnya.

Mendapat pertanyaan tersebut, Ibn ‘Umar menjawab, “Allah telah mengampuni ‘Utsman, tapi kalian berat memaafkannya. Sedangkan ‘Ali adalah sepupu Rasulullah Saw.” Jawaban Ibn ‘Umar ini menunjukkan bahwa ia lebih suka mendamaikan pihak-pihak yang berseteru, bukan justru semakin memperkeruh keadaan.

? ? ? ? ? ?

Penting diketahui bahwa al-Bukhari mencantumkan dua hadis tersebut untuk menafsirkan salah satu ayat perang atau jihad yang kerap disalahtafsirkan oleh kaum jihadis, yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 193 Wa qatiluhum hatta la takuna fitnah wa yakuna al-din li Allah fa inintahau fa la ‘udwan illa ‘ala al-dzalimin (Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan [sehingga] ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti [dari memusuhi kalian], maka tidak ada permusuhan (lagi) kecuali terhadap orang-orang yang zalim), yang menunjukkan bahwa al-Bukhari sependapat dengan Ibn ‘Umar.

Nah, di tengah memanasnya situasi politik tanah air, moderasi Ibn ‘Umar dalam konflik menemukan relevansinya. Oleh karena itu, menggemakan kembali moderatisme Ibn ‘Umar dalam konflik sangat penting, sehingga sosok-sosok Ibn ‘Umar baru akan muncul untuk menjadikan kehidupan berbangsa dan bernegara kembali kondusif. Sebab salah satu faktor memanasnya situasi politik tersebut adalah penyalahgunaan simbol-simbol agama, baik karena disengaja untuk kepentingan politik maupun karena minimnya wawasan keislaman sebagian pihak yang selama ini selalu mengatasnamakan Islam untuk membenarkan aksi-aksinya.

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Jumat, 01 Desember 2017

KH Said Aqil: Pesantren Tak Pernah Ajarkan Terorisme

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj kembali menegaskan, pesantren di Indonesia tidak pernah mengajarkan terorisme. Bibit-bibit terorisme itu dikembangkan oleh “agen-agen” dari luar.

KH Said Aqil: Pesantren Tak Pernah Ajarkan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Said Aqil: Pesantren Tak Pernah Ajarkan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Said Aqil: Pesantren Tak Pernah Ajarkan Terorisme

“Lihat saja (teroris; red), tidak sama dengan budaya kita itu. Itu yang harus ditolak, impor itu,” ujarnya dalam Dialog Nasional Ormas Islam di Hotel Grand Sahid, Jakarta Selatan, Sabtu (11/5).

Ia mengungkapkan bahwa sekolah atau lembaga pendidikan yang memang menyemai bibit-bibit terorisme hanya ada di Afganistan dan Pakistan. ? "Pesantren radikal itu ada di Afganistan dan Pakistan," tambahnya.

HMI Tegal Kab

Sementara pondok pesantren di Indonesia yang diasuh oleh para kiai bertugas mengembangkan ajaran Islam yang rahmatal lil alamin yang mempertemukan ajaran lokal dengan ajaran Islam.

HMI Tegal Kab

Menurut Kang Said, terorisme berhasil merembes masuk ke Indonesia disebankan kebodohan, kebelakangan, kemiskinan, pengangguran, dan kesalahpahaman para agen tersebut dalam memahami ajaran Islam. ?

Ia menegaskan, terorisme tidak diajarkan oleh Islam. Lebih dari itu, menurutnya, agama apa pun, baik Islam, Kristen, Hindu, Budha dan lainnya tidak ada yang mengajarkan terorisme.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Lomba, Olahraga, Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Minggu, 26 November 2017

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng

Kudus, HMI Tegal Kab. Kejuaraan Daerah (Kejurda) II  Pagar Nusa Jateng-DIY Yogyakarta di pesantren Azzuhri, Semarang (11-14/1), menobatkan kontingen Kudus sebagai juara umum. Mengungguli daerah lain, Pagar Nusa Kudus mengantongi  14 emas, 3 perak, dan 3 perunggu.

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng

Dari daftar hasil Kejurda yang dirilis panitia, kontingen Kudus sangat mendominasi pada kategori remaja dengan meraih 10 emas, 1 perak, 2 perunggu. Sedangkan sisanya diperoleh dari kategori dewasa 4 emas dan 2 perak. Satu perunggu diraih pada semua kelas.

Bahkan, salah satu pesilat Kudus Arum Maharani memperoleh predikat pesilat putri terbaik kategori remaja.

HMI Tegal Kab

Wakil Ketua Pagar Nusa Kudus Miftah Baidhowi mengatakan. hasil juara umum yang diraih merupakan hasil kerja keras kesungguhan, keseriusan, dan kebersamaan antara atlet dan pelatih dalam menghadapi ajang bergengsi itu.

HMI Tegal Kab

“Saya bangga anak-anak mampu menjaga diri baik kondisi maupun mental sehingga meraih prestasi luar biasa,” terang Miftah kepada HMI Tegal Kab di sela-sela porseni IPNU-IPPNU Kudus, Selasa (14/1).

Menghadapi kejurda ini, Pagar Nusa Kudus mempersiapkan sejak dini dengan menggembleng setiap hari latihan serius di kantor NU Kudus.

Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi mengapresiasi hasil yang diraih Pagar Nusa. Prestasi ini, menurutnya, harus dijaga dan dilanjutkan melalui konsistensi latihan dan kedisiplinan.

“Yang lebih penting lagi, Pagar Nusa harus mampu menjadi benteng Aswaja, NU dan para kiai. Termasuk pula Pagar Nusa harus istiqomah mengembangkan diri untuk menjadi lebih besar memasyarakat di kalangan nahdliyyin,” harapnya kepada HMI Tegal Kab.

Setelah Kudus, peraih juara umum kedua dan ketiga pada kejurda yang diikuti 236 atlet wiralaba dan 23 kontingen seni jurus ini adalah kontingen Pagar Nusa Demak dengan 3 emas, 6 perak, 8 perunggu dan Pati 2 emas, 3 perak, dan 4 perunggu. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Berita, Nahdlatul Ulama, IMNU HMI Tegal Kab

Senin, 20 November 2017

Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran

Cirebon, HMI Tegal Kab. Ribuan warga Cirebon dan sekitarnya mengikuti tabligh akbar dalam rangka memperingati malam Nuzulul Qur’an di Masjid Raya At-Taqwa Kotamadya Cirebon, Kamis (25/7) malam.

Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Cirebon Peringati Malam Nuzulul Quran

Acara yang semula direncanakan akan menghadirkan taushiyah dari KH Habib Luthfi Bin Yahya, Pimpinan Jam’iyyah Tarekat NU ini terselenggara berkat kerjasama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) At-Taqwa Kota Cirebon dan PT. Berkah Pikiran Rakyat.

Ahmad Yani, ketua umum At-Taqwa Center dalam sambutannya mengungkapkan bahwa selain untuk mendapatkan berkah dan keutamaan dari Allah Swt, acara ini juga merupakan respon DKM At-Taqwa atas antusiasme masyarakat dalam acara serupa yang digelar tahun lalu saat ? menghadirkan KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU sebagai penceramah.

HMI Tegal Kab

“Untuk itu kami bersama masyarakat ingin sekali ? untuk kembali memanfaatkan malam yang baik ini guna mengaji dan mendapatkan pencerahan dari para ulama,” Ungkap Ahmad Yani.

HMI Tegal Kab

Selain itu, Nazrudin Azis, wakil walikota Cirebon yang berkesempatan hadir mengatakan dalam sambutannya bahwa kedekatan warga masyarakat Cirebon dengan para ulama harus tetap dipertahankan berdasarkan sebutannya yang terkenal sebagai kota wali. ?

“Peringatan seperti ini menjadi penting guna mendapatkan berkah bulan Ramadan, serta melestarikan kedekatan Cirebon sebagai kota wali dengan para alim ulama,” Tambah Azis.

Peringatan malam Nuzulul Qur’an ini pertama-tama dimulai dengan sambutan-sambutan, pembacaan shalawat, Maulid, serta mahallul qiyam, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian ceramah agama.

Pada mulanya acara yang juga memperingati hari ulang tahun yang ke 16 Harian Kabar Cirebon dari Grup Pikiran Rakyat ini akan diisi dengan penyampaian ceramah oleh KH Habib Luthfi Bin Yahya, namun panitia menerima konfirmasi bahwa Habib Luthfi berhalangan hadir dikarenakan terjebak macet di jalur alternatif Tol Pejagan, Tegal saat menuju ke arah Cirebon, namun hal tersebut tampaknya tidak menyurutkan antusias jamaah saat penyampaian taushiyah digantikan oleh KH Luthfi Fuad Hasyim, salah satu pengasuh Pesantren Buntet, Cirebon.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Kamis, 16 November 2017

Atraksi Drum Band Meriahkan Silatnas Gerakan Ayo Mondok

Pasuruan, HMI Tegal Kab. Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf didampingi Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok KH Luqman HD Attarmasi melepas parade drum band dalam rangka memeriahkan pembukaan Silatnas Ayo Mondok, Jumat (13/5) pagi.

"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, parade drum band kami berangkatkan," kata Irsyad di Lapangan SMA Negeri 1 Pandaan.

Atraksi Drum Band Meriahkan Silatnas Gerakan Ayo Mondok (Sumber Gambar : Nu Online)
Atraksi Drum Band Meriahkan Silatnas Gerakan Ayo Mondok (Sumber Gambar : Nu Online)

Atraksi Drum Band Meriahkan Silatnas Gerakan Ayo Mondok

Adik Wakil Gubenur Jatim ini juga mengucapkan terima kasih pada panitia Silatnas Ayo Mondok yang telah mempercayakan Kabupaten Pasuruan sebagai tuan rumah gelaran silatnas yang akan dihadiri oleh perwakilan pesantren dari seluruh indonesia ini.

"Terima kasih kepada Gus Lukman dan panitia. Melalui silatnas ini, semoga potensi Kabupaten Pasuruan makin dikenal masyarakat luas," katanya.

Bupati menghimau kepada seluruh masyarakat Pasuruan dan sekitarnya untuk dapat menghadiri pembukaan Silatnas yang akan digelar Jumat malam nanti.

HMI Tegal Kab

Parade drum band diikuti oleh sedikitnya 10 Grup. Mereka berasal dari perwakilan beberapa sekolah ternama di Kecamatan Pandaan Pasuruan. Dengan aktraktif, mereka menyuguhkan atraksi drum band dihadapan ribuan penonton yang memadati jalan menuju taman Candra Wilwatikta.

Parade drum band diberangkatkan oleh Bupati Pasuruan dari SMAN 1 Pandaan menuju kawasan Taman Candra Wilwatikta Pandaan dengan menempuh rute satu kilometer.

HMI Tegal Kab

Sepanjang jalan, masyarakat sekitar sangat antusias menyaksikan parade ini. Tak sedikit pula yang mengabadikan acara ini dengan kamera HP pintar mereka.

Pantauan di lokasi, pihak kepolisian dari Ditlantas Polres Pasuruan memberlakukan sistem buka tutup kendaraan pada jalur yang dilalui peserta parade drum band.

Sementara itu, Bupati Pasuruan siang ini pukul 13.00 Wib secara resmi akan membuka expo dan bazar yang menampilkan produk unggulan potensi Kabupaten Pasuruan. (Rof Maulana/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Rabu, 20 September 2017

IAI Nurul Jadid Probolinggo Menggelar Gebyar Aroby

Probolinggo, HMI Tegal Kab. Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam (IAI) Nurul Jadid Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur menggelar Gebyar Aroby, Rabu (2/8). Kegiatan ini digelar di aula IAI Nurul Jadid Paiton.

Dalam Gebyar Aroby ini, jenis lomba yang dilaksanakan diantaranya meliputi Khitobah Arobiah, Qisshoh Arobiyah, Qiroatul Kutub, Hifdzil Qur’an dan Ranking 1. Lomba ini diikuti oleh seluruh perwakilan mahasiswa IAI Nurul Jadid Paiton.

IAI Nurul Jadid Probolinggo Menggelar Gebyar Aroby (Sumber Gambar : Nu Online)
IAI Nurul Jadid Probolinggo Menggelar Gebyar Aroby (Sumber Gambar : Nu Online)

IAI Nurul Jadid Probolinggo Menggelar Gebyar Aroby

“Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh Prodi PBA dalam bentuk kegiatan lomba kebahasaan untuk siswa tingkat SLTP dan SLTA se-Jawa Timur,” ungkap Dekan Fakultas Tarbiyah IAI Nurul Jadid Paiton Hasan Baharun.

Sementara Rektor IAI Nurul Jadid Paiton Abdul Wahid Hamid menyampaikan bahwa kata yang paling penting dalam persaingan itu adalah saling bahu membahu atau beraliansi ? untuk bisa maju.?

HMI Tegal Kab

“Salah satunya adalah penguasaan di bidang kebahasaan sebagai media komunikasi dalam era global. Bagaimana kita bisa mampu berkomunikasi, khususnya bahasa Arab kalau tidak secara berjamaah dan bahu membahu dengan yang lainnya,” ungkapnya.

Menurut Abdul Wahid Hamid, di Bahasa Arab ada nilai penting jauh dari apa yang ada saat ini. “Dimana ada 2 (dua) sisi seperti mata pedang ketika kita belajar dan mengkaji ? bahasa Arab. Tajam dalam masa pendek dan tajam dalam jangka panjang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Warta, Nahdlatul Ulama, Syariah HMI Tegal Kab

Selasa, 27 Juni 2017

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder

Jakarta, HMI Tegal Kab. Wakil Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin ? Indonesia (Lesbumi) H Agus Sunyoto mengatakan, kalangan akademisi Indonesia kerap merasa kurang percaya diri di dalam mengembangkan pengetahuan. Rasa rendah diri akut itu hadir dalam bentuk pembenaran final atas eksperimen pengetahuan Barat.

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder

Dalam kursus singkat bertajuk Tasawuf Sebagai Etika Sosial di Pesantren Al-Tsaqafah Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (19/12), Agus menambahkan, “Kalangan akademisi pun seolah ‘kurang afdhal’ jika tidak mengutip pernyataan orang Barat.”

Kelakuan akademisi itu sering membuatnya jengkel. Terlampau jengkel, Agus dengan kawannya dalam sebuah diskusi berseloroh kepada orang yang selalu mengutip pendapat orang Barat.

HMI Tegal Kab

Agus mencontohkan, akademisi yang menjadi narasumber mengatakan, “Menurut Ben Parker, bahwa politik itu adalah ini, ini, ini.” Ketika salah seorang peserta diskusi bertanya Ben Parker itu siapa? Saya jawab, “Ben Parker itu pamannya Spiderman."

Bahkan, lanjut Agus, dalam benak kita sudah tertanam bahwa bangsa Indonesia adalah inferior, bangsa yang di bawah. Sedangkan orang bule adalah superior, bangsa yang ada di atas kita.

HMI Tegal Kab

Jika keadaan ini tidak segera dibenahi, maka diprediksi 30 tahun lagi Bangsa Indonesia akan hilang ditelan bumi, tegas Agus. Untuk itu ia mendesak agar ada pembenahan secara serius dalam menghadapi salah satu persoalan bangsa ini. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Minggu, 11 Juni 2017

Memecah Kebuntuan Komunikasi dengan Dzikir

Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menggagas sebuah majelis dzikir yang dinamakan Hubbul Wathon. Majelis tersebut dideklarasikan di hotel Borobudur, Jakarta, pada Kamis (13/7). Deklarasi yang dihadiri 700 kiai itu juga dihadiri Presiden Joko Widodo.

Apa dan bagaimana gerak dan cita majelis dzikir itu ke depan? Abdullah Alawi dari HMI Tegal Kab berhasil mewawancarai Sekretaris Jenderal Majelis Dzikir Hubbul Wathon Hery Haryanto Azumi. Berikut petikannya: ?

Memecah Kebuntuan Komunikasi dengan Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)
Memecah Kebuntuan Komunikasi dengan Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)

Memecah Kebuntuan Komunikasi dengan Dzikir

Setelah dideklarasikan, apa rencana terdekat Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW)?

.

HMI Tegal Kab

Saat ini yang sedang dilakukan adalah mematangkan organisasi dan jaringannya karena kita sedang membangun infrastruktur organisasi nasional. Nanti kita akan mengajak para habaib, para kiai untuk bergabung bersama-sama. Ini kombinasinya para habaib, masyaikh, kiai-kiai kita. Kita tersentral pada visi dan misi. Visi misinya adalah kita ingin menjadi jembatan untuk mengatasi kebuntuan komunikasi, kebuntuan silaturahim yang hari ini terjadi, kelompok dalam rumah Indonesia ini tidak berkomunikasi dengan baik.

HMI Tegal Kab

Bagaimana caranya?

. Dzikir itu kan bahasa spiritual, bahasa hati, bahasa bagaimana orang masuk ke dalam upaya meyelesaikan problem itu dari dalam dirinya sendiri, dan resistensi tidak ada. Kalau kita mau berdzikir, dari partai mana pun, dari kelompok mana pun, mereka pasti suka. Di situ kita masuk. Banyak problem ini bukan terjadi karena subtansi masalah, tapi karena problem komunikasi. Kita mencoba membantu mengatasi dari situ, mengatasi problem-problem dengan silaturahim.

Problem komunikasi diselesaikan dengan cara dzikir dalam praktiknya itu bagaimana?

. Begini, dzikir itu, wahana ya. Kalau kita ketemu, yang kita omongkan kan macam-macam, bisa politik, ekonomi, bisa macam-macam. Intinya, kalau orang ketemu, pasti akan komunikasi. Nah, jangankan untuk ketemu, menyelesaikan masalah, cara komunikasinya pun, orang sekarang tidak bisa. Beda pikiran. Beda macam-macam. Tidak nyambung. Kita bertengkar hari ini, tidak nyambung masalahnya ini. Kita ingin masuk melampaui itu semua. Bayangkan bagaimana jika suatu hari di Istana, Jokowi mengundang semua kelompok oposisi untuk berdzikir bersama. Atau sebaliknya, di kelompok oposisi mengundang Istana untuk berdzikir di situ. Ini kan bisa menjadi sesuatu yang bisa jadi jembatan.

Lalu, bagaimana bisa menjadi alat komunikasi bagi orang tidak suka dzikir? ?

. Dzikir kan memang bahasa kelompok yang suka dzikir memang. Kita tidak mau masuk kepada wilayah orang yang tidak suka dzikir.

Oh ya, tadi disebutkan akan melibatka habib-habib. Siapa di antaranya?

. Kita rencananya akan meminta Habib Zen bin Smith selaku Rabithah Alawiyah untuk jadi semacam Dewan Khosnya, juga Habib Ali Abdurrahman Al-Habsyi, insyaallah jadi Korwil Jawa Timur.

Bagaimana dengan pelibatan anak muda?

. Ini yang kerja hari ini anak muda. Panitia. Yang berdzikirnya juga pasti melibatkan anak muda. Kita mengundang gus-gus yang setara dengan kita, para putra kiai yang muda-muda, dengan harapan mampu menjadi gerakan anak muda. Gus Wafi, putranya Mbah Moen, ada Gus Salam, cucunya Mbah Bisri, dan gus gus lain, yang alhamdulillah bersedia menjadi bagian majelis dzkir ini.

Bacaan dzikirnya itu bagaimana?

. Tadi sudah meminta ijazah dari Mbah Moen, mohon dibuatkan, dipersiapkan dzikir yang bisa diaplikasikan, sederhana, untuk kalangan umum karena kita kan bukan pengamal thoriqoh seperti thoriqoh tertentu ya. Kita ini majelis dzikir, dzikir yang umum untuk khalayak karena tujuannya kan menyatukan masyarakat dalam nuansa spiritualitas, jadi mencari model yang sederhana yang bisa diterapkan.

Kita berdzikir sebagaimana orang-orang berdzikir, tapi sebagaimana Kiai Ma’ruf sampaikan; ada halaqah, ada tahswirul afkarnya, ada tukar-menukar pikirannya, disamping juga ada istightsah, ada program sosial dan program ekonomi, modelnya korwil.



Tadi ada informasi majelis dzikir ini akan diundang ke Istana, bisa diceritakan?

. Tanggal satu itu kan menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari kemerdekaan. Yang kita undang perwakilan dari habaib, kiai-kiai, umat sendiri. Intinya akan rolling nanti. Rolling ke berbagai daerah di Indonesia.

Kenapa dinamakan Majelis Dzikir Hubbul Wathon?

. Penamaan, saya tidak berani mengklaim itu dari saya, tapi itu menunjukkan semangat hubbul wathon hari ini bagitu luar biasa. Kemarin memutuskannya, dapat itu.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Anti Hoax, Ulama, Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Senin, 20 Maret 2017

Penasehat Presiden Iran Ajak Ulama Indonesia Kerjasama Hadapi Barat

Jakarta, HMI Tegal Kab
Penasehat Presiden Republik Islam Iran, Ayatullah Taqi Misbah Yazdi mengajak ulama Indonesia, terutama ulama NU, untuk bekerjasama dalam rangka menghadapi musuh-musuh Islam.

“Kami berharap, kita (ulama, red) bisa bekerja sama membentuk sebuah front untuk menghadapi Barat, untuk menangkis dan menjawab upaya busuk musuh-musuh Islam,” ungkap Misbah, begitu ia akrab disapa, di hadapan sejumlah petinggi PBNU saat berkunjung ke Kantor PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin(22/5).

Hadir dalam acara yang merupakan hasil kerjasama Lajnah Ta’lief wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) dengan Islamic Cultural Center (ICC) itu Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, hadir pada acara itu sejumlah petinggi PBNU antara lain, KH Said Aqil Siradj, H M Rozy Munir, Abdul Azis, Sirodjul Munir, Taufiq R Abdullah dan sejumlah pengurus LTN-NU Mun’im Dz dan H Ahmad Baidlowi Adnan. Sementara Ayatullah Misbah didampingi oleh Ketua Divisi Budaya Lembaga Internasional Majma’ Ahlul Bait, Hojjatul Islam Sayed Rois Zadeh Musawi.

Dunia global, kata Misbah, harus disadari sebagai tantangan bagi umat Islam. Menurutnya, globalisasi pada industri media menuntut umat Islam memiliki peran dalam kehidupan ini. “Dalam dunia global, media global, kelompok kecil tidak punya peran dalam kehidupan ini,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut Misbah, kerjasama antar-ulama menjadi penting artinya. Kerjasama yang ia maksud tidak hanya antara ulama Indonesia dan Iran, melainkan ulama seluruh dunia sekaligus kaum intelektual lainnya.

Peran ulama, kata Misbah, tidak hanya sebatas menyampaikan ilmu, tapi juga menjadi jembatan penghubung dengan umat. Ulama juga memiliki tugas menyampaikan risalah nabi dan mengejawantahkan dalam kehidupan saat ini.

Selain itu, ia mengatakan bahwa ulama di suatu tempat, tidak hanya bertanggungjawab kepada umat setempat, melainkan kepada seluruh umat Islam di dunia. “Ulama di suatu tempat atau di suatu negara tidak hanya bertanggungjawab di tempat itu saja, tapi juga seluruh umat Islam di dunia,” katanya.

Disadarinya, jumlah ulama tidak sebanding dengan jumlah umat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Namun, hal itu tidak menjadi kendala selama para ulama mampu bersatu dan bekerjasama.

Di akhir pembicaraannya, Misbah mengundang ulama NU ke negaranya. “Kami menunggu ulama NU di negeri kami. Negeri kami adalah negeri kedua anda (ulama NU, red),” tuturnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama, Berita, Cerita HMI Tegal Kab

Penasehat Presiden Iran Ajak Ulama Indonesia Kerjasama Hadapi Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasehat Presiden Iran Ajak Ulama Indonesia Kerjasama Hadapi Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasehat Presiden Iran Ajak Ulama Indonesia Kerjasama Hadapi Barat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock