Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri

Batam, NU? Online.

Wakil Ketua Umum PP GP Ansor, Dhohir Farizi, di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (25/11) menegaskan, generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) harus meningkatkan kapasitas diri, satu diantaranya di bidang informasi dan teknologi.

Menurut dia, kader muda NU harus mampu mendapatkan dan mengelola informasi dengan baik, jangan sampai informasi memporakporandakan hubungan seperti diakibatkan media sosial dengan baik.

Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri

"Kita telah melewati berbagai fase, kalau tidak up grade pasti akan ketinggalan," ujar pria karib dipanggil Gus Dhohir itu pula.

Ia lalu mencontohkan pola komunikasi, tahun 1970 hingga 2000 yang mengalami perubahan-perubahan.

Menurut dia didampingi jajaran Assisten Informasi dan Komunikasi Satkornas Banser, hal tersebut bukan tren. Tapi kebutuhan eksistensi yang diperlukan seiring kebutuhan zaman.

HMI Tegal Kab

"Kita harus ada, kalau tidak maka akan ? tenggelam," kata dia lagi pada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III, digelar di Asrama Haji Batam Centre, Engku Putri, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Pada kegiatan bertema Meningkatkan Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mewujudkan Kemandirian Bangsa, Gus Dhohir mengingatkan kader Ansor yang mengikuti Susbanpim untuk menjadi pimpinan yang berkarakter.

"Selain itu, jangan tinggalkan NU, alim ulama dan umat. Ansor adalah organisasi yang jelas, kedepan setiap pimpinan, anggota dari pusat hingga ranting bisa diketahui publik," pungkasnya. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pesantren, IMNU, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Senin, 26 Februari 2018

Pemimpin itu Harus Es Fanta dan Coca Cola

Pringsewu, HMI Tegal Kab. Seorang pemimpin akan dimintai tanggung jawab tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim mengatakan bahwa pemimpin itu harus memenuhi berbagai macam kriteria.

Pemimpin itu Harus Es Fanta dan Coca Cola (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin itu Harus Es Fanta dan Coca Cola (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin itu Harus Es Fanta dan Coca Cola

"Pemimpin itu minumannya es fanta dan coca cola," katanya mengawali perbincangan seputar kriteria pemimpin yang harus dimiliki umat Islam, Rabu (22/6).

Es fanta merupakan kependekan dari shidiq, fathonah, amanah dan tabligh. Taufiq menambahkan bahwa ketika pemimpin memiliki sifat seperti Rasulullah tersebut, maka bisa dipastikan ia adalah tipe pemimpin ideal.

HMI Tegal Kab

Selain itu minuman seorang pemimpin adalah coca cola yang merupakan akronim dari komunikatif, karisma, komitmen dan landscape atau berpengalaman.

HMI Tegal Kab

"Seorang pemimpin harus memiliki track record yang baik dalam memimpin. Jangan sampai kita memilih pemimpin yang hanya mencoba-coba yang di baliknya hanya ingin mencari keuntungan pribadi," tandasnya.

Apalagi, tambahnya, kultur dalam NU tidak mengajarkan untuk memburu jabatan, mengajukan diri untuk menjadi pemimpin apalagi sampai melakukan hal hal yang melanggar hukum syariat Islam untuk tujuan kekuasaan.

Taufiq berharap agar semua ummat Islam selalu memgedepankan kriteria tersebut dalam memilih seorang pemimpin. "Pilihan tepat dalam memilih seorang pemimpin, akan membawa kemaslahatan untuk semua, namun ketika tidak tepat dalam memilih pemimpin, siap-siap untuk menelan rasa kecewa," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU HMI Tegal Kab

Rabu, 07 Februari 2018

Dicatut Wahabi Musuhi Syiah, PCNU Balikpapan Tolak Keras

Balikpapan, HMI Tegal Kab. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Balikpapan menyatakan tidak memiliki keterkaitan dengan deklarasi kelompok ANNAS (Aliansi Nasional Anti-Syiah) yang diselenggarakan di Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan.

Dicatut Wahabi Musuhi Syiah, PCNU Balikpapan Tolak Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
Dicatut Wahabi Musuhi Syiah, PCNU Balikpapan Tolak Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

Dicatut Wahabi Musuhi Syiah, PCNU Balikpapan Tolak Keras

Rais Syuriah PCNU Balikpapan KH Abbas Alfas mengungkapkan hal itu dalam rangka mengklarifikasi adanya isu yang menyebutkan NU Balikpapan terlibat dalam deklarasi ANNAS pada Ahad 8 Maret 2015. ANNAS merupakan organisasi yang mulanya dideklarasikan di Bandung Jawa Barat dan diketuai oleh KH Athian Ali Dai (tokoh Wahabi).

"Saya nggak ikut-ikut ANNAS. Memang ada orang yang datang kepada saya. Dia datang kepada saya bersama temannya mengungkapkan masalah ANNAS dan Syiah, saya bilang (kepada mereka) ‘Kalau NU sudah jelas meskipun tidak pakai acara deklrasi-deklarasi, tapi punya cara-cara sendiri, artinya dalam penolakan terhadap Syiah, namun lebih moderat. Kecuali kalau NU itu ditikam baru ‘mengamuk’,” tutur Kiai yang sempat diajak bergabung ke ANNAS tersebut.

HMI Tegal Kab

Menurut Kiai Abbas, mereka berusaha melibatkan NU hanya untuk memanfaatkan semata. "Saya mencermati, mereka ingin melibatkan kita, dan itu cara ‘politik’ mereka, kita akan dijadikan ‘bemper’. Sebetulnya itu olahan mereka. Jadi kita ini mau dipolitikan (dimanfaatkan) oleh mereka," katanya dalam pengajian rutin bulanan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Kaltim, sehari setelah deklarasi itu (9/3).

HMI Tegal Kab

Sementara Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Balikpapan KH Muhlasin menyatakan sangat tidak berminat dengan ANNAS. "Bila beliau (Kiai Abbas) tidak minat, maka saya lebih tidak berminat lagi.", tegas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Izzah Km 15 Balikpapan Utara tersebut.

Kiai Muhlasin juga sempat dihubungi untuk bergabung tetapi tidak bersedia. Sebelum acara deklarasi ANNAS, ia mewakili NU sempat menghadiri pertemuan di kantor Kementrian Agama Kota Balikpapan. Salah satu poin pertemuan itu bahwa Kemenag pun tidak menginginkan adanya deklarasi tersebut.

"Dari pihak Kementrian Agama (Balikpapan) juga sangat tidak menginginkan adanya deklrasi tersebut di Balikpapan, karena tentunya hal tersebut sangat berpotensi terjadinya gesekan di antara warga Kota Balikpapan. Itu yang disampaikan di Kemenag," terangnya.

Terima Risiko

Sikap tasamuh (toleran) dan tidak bersedia beraliansi dengan ANNAS bukan tanpa risiko. Menurutnya, risikonya akan ada semacam propaganda bahwa yang tidak ikut mereka berarti dianggap mendukung Syiah.

"Mengedepankan sikap toleran, walaupun tentunya berisiko. Risikonya pastinya ada semacam propaganda, warga NU yang tidak mendukung ANNAS sekurang-kurangnya (dianggap) mendukung ajaran Syiah. Itu prilaku mereka seperti itu sejak dahulu.", ungkapnya.

Kiai Muhlasin berharap warga Nahdliyyin tidak terpengaruh oleh propaganda mereka. Sedangkan berkaitan dengan Habib Ahmad Zain Al-Kaff yang menjadi narasumber pada acara deklarasi tersebut, Kiai Muhlasin mengatakan bahwa ia tidak mewakili PWNU Jatim.

"Habib Ahmad Zain Al-Kaff di brosur-brosurnya disebutkan PWNU Jawa Timur dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Sekalipun Habib Ahmad Zain Al-Kaff dari jajaran PWNU, beliau tidak mewakili organisasi PWNU, tetapi atas nama pribadi. Kalau pun toh menyebutkan PWNU-nya, ya itu salah satu strategi mereka, sebagaimana mereka juga mencantumkan Kiai Abbas, termasuk saya," jelasnya.

Penjelasan senada juga disampaikan oleh Sekretaris PCNU Balikpapan Ust. Imam Warosy bahwa NU Balikpapan mengambil posisi tidak terkait dengan ANNAS. "Kita, PCNU Balikpapan, mengambil sikap tidak ikut dalam masalah itu. Meskipun Rais kita dan Ketua kita di-"lamar-lamar" untuk ikut mereka," tuturnya.

Dalam pandangannya, NU tidak perlu ikut mendeklarasikan dan beraliansi dengan mereka. Sebab berdirinya NU memang untuk membendung aliran seperti Wahabi dan Syiah agar masyarakat tetap berpegang kepada Ahlussunnah wal Jamaah. Ia juga mengatakan bahwa beraliansi dengan mereka sama saja merendahkan martabat Nahdlatul Ulama.

"Kalau kita membaca khutbah KH. Hasyim Asyari (Muqaddimah Qanun Asasi) di Nahdlatul Ulama, berdirinya NU memang untuk membendung aliran seperti ini, yaitu Wahabi dan Syiah, agar masyarakat tetap dalam aqidah Ahlussunnah wal Jamaah meskipun tidak dideklarasikan, meskipun tidak dialiansikan dengan yang lain,” ujarnya. (Muhammad Al-Fatih/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU HMI Tegal Kab

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah

Sumenep, HMI Tegal Kab - Satkorcab Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kabupaten Sumenep tidak hanya mengedepankan kedisiplinan dan pengamanan daerahnya. Mereka juga memedulikan pentingnya penguatan marwah NKRI.

Salah satu upaya yang dilakukannya ialah dengan melangsungkan istighotsah berjamaah secara rutin. Marwah NKRI diyakini dapat tercapai manakala diiringi dengan penajaman spiritualitas orang-orang yang memperjuangkannya.

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah

"Sudah tak terhitung berapa kali kegiatan istighotsah yang dilakukan sahabat-sahabat Banser Kabupaten Sumenep. Mereka semangat berpijak pada kedisiplinan dan pengamanan negara, juga mengedepankan penajaman spiritualitas lewat rutin istighotsah," ujar Ketua GP Ansor Sumenep M Muhri.

HMI Tegal Kab

Istighotsah yang dilakukan Satkorcab Banser Sumenep masih terlihat di sekretariat GP Ansor Sumenep, Jumat (3/2). Mereka tampak khusuk dalam berzikir dan berdoa.

Usai istighotshah, sahabat-sahabat Banser Sumenep melanjutkan rapat koordinasi (rakor) internal bersama para wakil Ketua GP Ansor Sumenep. Acara tersebut diihadiri Ketua GP Ansor Sumenep M Muhri.

HMI Tegal Kab

Rakor tersebut juga menyinggung ragam kegaduhan yang sering dipertontonkan para pejabat di negeri ini. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, Sejarah, AlaSantri HMI Tegal Kab

Kamis, 01 Februari 2018

Belajar dari Keluarga Luqman Hakim yang Diabadikan Al-Qur’an

Oleh Muhammad Yunus



Upaya pemerintah dalam mempersiapkan generasi muda yang berkarakter kuat patut diacungi jempol. Beberapa langkah strategis sebagai langkah ikhtiar sudah dilakukan. Instrument pendidikan digodok. Aturan mainpun dikeluarkan. Hal ini terlihat dari usaha Presiden mengeluarkan Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Yang menarik adalah pidato presiden ketika menyampaikan isi Perpers ini dihadapan ulama dengan mengatakan “Perpres tersebut jadi pekerjaan besar bagi pemerintah dan pondok pesantren.”

Belajar dari Keluarga Luqman Hakim yang Diabadikan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Keluarga Luqman Hakim yang Diabadikan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Keluarga Luqman Hakim yang Diabadikan Al-Qur’an

Pidato Pak Presiden tersebut mengindikasikan akan sinergisitas umara dan ulama yang begitu kuat. Mr. Presiden menyakini dengan sepenuh hati bahwa hanya dengan usaha bersama (ulama  dan pemerintah) cita-cita mempersiapakn generasi muda berkarakter kuat tersebut dapat tercapai. Seperti yang kita ketahui bersama arus informasi yang begitu dahsat dan massif tidak dapat membendung  virus budaya dari luar negeri yang tidak sejalan dengan budaya Indonesia. 

Menurut Jokowi Indonesia mempunyai budaya kesopanan, kesantuan, integritas, kejujuran, hormat pada ulama, para kiai, para ustadz, para gurunya, dan kepada sesamanya. Hal ini harus terus diperkuat melalui pendidikan yang ada di Indonesia mulai dari sekolah, madrasah, pondok pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Sebagai usaha ikut serta mensukseskan program PPK  tersebut, sebagai orang tua, hemat penulis perlu untuk aktif membina putra putri kita. Anak kita tidak sekedar menjadi tanggung jawab sekolah, pondok pesantren, orang tua sebagai pendidikan pertama dan utama harus menyadari akan pentingnya menanamkan pendidikan karakter yang disebutkan di atas. Dalam konteks inilah ada baiknya kita mencontoh kehidupan keluarga Luqman yang diabadikan dalam Al Quran QS Al Luqman ayat 13-19. 

HMI Tegal Kab

Dalam ayat-ayat tersebut disebutkan sedikitnya tujuh ajaran utama dan pertama yang patut kita renungkan dan implementasikan kepada putra-putri kita. Pertama adalah ajaran kepada putra putri kita tentang ketauhidan. Ajaran untuk tidak mempersekutukan Allah adalah langkah awal agar manusia dapat sukses hidup di dunia sampai di akherat. Karena sesungguhnya ilmu yang dimiliki manusia ini hanya oleh dan karena kehendak Allah SWT. Tidak ada daya dan upaya manusia selain kekuatan Allah SWT. Putra putri kita harus disadarkan akan hal itu dan ini menjadi pendidikan yang utama dan pertama. 

Berikutnya adalah pendidikan untuk berbakti dan menghormat kepada kedua orang tua. Luqman mengingatkan kepada anaknya bahwa ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka menghormat kepada kedua orang tua adalah bentuk syukur kepada Allah SWT dan kepada kedua orang tua. Tidak cukup hanya kepada orang tua, Luqman juga meminta kepada anaknya untuk berbuat baik kepada sesama meskipun hanya seberat biji sawi, niscaya Allah akan memberinya balasan berupa kebaikan juga. Jika pendidikan hormat kepada sesama ini berhasil maka radikalisme dan fundamentalisme atas dasar agama tidak akan terjadi. Karena manusia akan sadar bahwa keluarga terbentuk atas ikatan. Seluruh manusia ini adalah keluarga Karena terikat dalam penciptaan yang sama yaitu dari Allah SWT.

Selanjutnya, Luqman meminta anaknya untuk mendirikan shalat. Perintah mendirikan shalat ini disandingkan dengan perintah untuk selalu melakukan hal yang baik dan mencegah kemungkran. Shalat adalah tiang agama. Shalatlah yang menjaga hubungan manusia dengan Rabnya tetap tersambung. Shalat adalah kebutuhan hidup yang hakiki. Shalatlah yang merawat manusia istiqomah menjadi hamba dan mengantarkannya menjadi khalifah yang kuat. Pendidikan karakter akan kuat jika generasi muda mampu menjaga shalatnya. Jika generasi muda sudah lalai akan shalatnya maka karakter tidak akan dicapai.

Pesan Luqman berikutnya kepada anaknya adalah tidak bersikap sombong dan angkuh. Sombong dan angkuh bukanlah karakter manusia, melainkan karakter jin, ciptaan Allah dari api. Seperti yang kita ketahui, jin dikeluarkan dari surga-Nya karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap ciptaan Allah yang lain. Jin tidak patut ketika diminta sujud kapada Adam hanya karena dirinya merasa lebih baik dari Adam. Perasaan lebih baik inilah yang menjadi persoalan dan petaka kehidupan manusia. Tidak jarang kerusakan di muka bumi ini karena kesombongan dan keangkuhan manusia. Jika manusia sadar akan dirinya yang hina maka sombong dan angkuh tidak patut berada dalam dirinya.

Terakhir pesan Luqman adalah perintah untuk hidup sederhana dan melunakkan suara. Akhir-akhir ini kehidupan semakin hedon. Suka memamerkan kekayaan kepada manusia yang lain. Suara seringkali sudah tidak santun lagi. Suara bukan hanya apa yang keluar dari mulut manusia, tapi suara tulisan juga dalam katagori ini. Zaman hoax akhir-akhir ini mengindikasikan suara kita tidak lagi lunak. Ujaran kebencian kepada sesama seakan-akan hal mudah yang dilakukan manusia saat ini. Jika generasi muda kita tidak diajarin untuk melunakkan suara dalam artian hati-hati dalam membuat status atau tulisan dimedia sosial maka karakter yang kuat tersebut akan sulit dicapai.

HMI Tegal Kab

Inilah sejatinya yang menjadi pekerjaan rumah ulama dan umara dan kita semuanya. Mari berjuang bersama dalam program PPK  ini. Masa depan bangsa ini bergantung dari para generasi muda saat ini. Akhirnya ada baiknya kita renungkan lanjutan ayat dalam QS Al Luqman tersebut ayat 20 yang berbunyi: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang  membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.” Tidak ada keraguan untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat jika kita mampu menjalankan pendidikan karakter dalam kisah keluarga Luqman ini.





Penulis adalah Wakil Dekan III FKIP Unisma, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU HMI Tegal Kab

Senin, 08 Januari 2018

Sambangi KMNU UNUD, Sekjen Ingatkan Pentingnya Dakwah Virtual

Bali, HMI Tegal Kab. Perkembangan dunia teknologi informasi yang semakin pesat menuntut masyarakat untuk terus beradaptasi dengannya jika tidak ingin ketinggalan. Perkembangan teknologi informasi tersebut melaju begitu dahsyat termasuk sampai sendi-sendi agama.?

Kanal-kanal media sosial merupakan salah satu sarana penting dalam berdakwah. Hal tersebut tidak bisa dimungkiri sebab menurut beberapa survei dikatakan bahwa facebook misalnya merupakan ‘negara’ ketiga dengan penduduk terpadat di dunia. Pentingnya berdakwah dengan memanfaatkan teknologi tersebut disampaikan oleh Sekjen HA Helmy Faishal Zaini saat memberi pengarahan pada forum Harlah ke-2 KMNU Universitas Udayana Bali (9/10).

Sambangi KMNU UNUD, Sekjen Ingatkan Pentingnya Dakwah Virtual (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambangi KMNU UNUD, Sekjen Ingatkan Pentingnya Dakwah Virtual (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambangi KMNU UNUD, Sekjen Ingatkan Pentingnya Dakwah Virtual

Di hadapan mahasiswa-mahasiswi NU tersebut Sekjen menyampaikan bahwa anak muda harus melek teknologi. Dakwah harus memanfaatkan sarana teknologi. “Anak muda tidak boleh ketinggalan informasi. Anak muda harus pandai memanfaatkan teknologi, termasuk dalam berdakwah. Kreativitas dalam berdakwah dengan membuat konten-konten menarik dan segar pasti akan lebih membuat semarak keberagamaan kita menjadi sejuk dan juga indah,” jelas Sekjen. (Red: Fariz Alniezar)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, Meme Islam, Kajian Sunnah HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Minggu, 31 Desember 2017

Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi

Bandung, HMI Tegal Kab

Jalaluddin Rumi, seorang tokoh sufi berpengaruh di dunia Islam dilahirkan di Balkh (sekarang Afganistan) pada tahun 604 H/1207 M. Ia dikenal sangat piawai dalam pemikiran esoteriknya melalui ungkapan syair-syair yang indah. Pemikiran Rumi berbeda dari sebagian tokoh sufi lainya.

"Rumi itu sosok yang berbeda. Dia tidak punya aliran, dia tidak punya mazhab, dia tidak punya ajaran khusus tentang tasawuf. Disebut sufi karena dalam seluruh aspek kehidupannya senantiasa terjun pada dunia spiritual," kata Prof Muhtar Sholihin, Wakil Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dalam Seminar Internasional "The Beauty of Persian Peotries and The Teaching Of Islamic Mysticism of Maulana Jalaluddin Rumi" di gedung Aula Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati, Jalan AH Nasution, Bandung, Senin (24/2).

Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi

Pengurus LTNU Jawa Barat ini menambahkan bahwa dalam konteks pemahaman pemikiran, Rumi beserta kajian tasawuf dan filsafatnya lebih menyulitkan daripada memahami Ibnu Arobi dan Al Hallaj.

HMI Tegal Kab

"Kenapa demikian? Karena Rumi ini adalah seorang fiosofi dan filsufi yang pemahaman-pemahaman wihdatul wujudnya dan sebagainya dituangkan dalam karya sastra," tegasnya.

Sebuah contoh karya Jalaluddin Rumi adalah tentang penciptaan alam semesta ini yang dihubungkan dengan cinta, sebab katanya hal pertama yang di ciptakan oleh Tuhan adalah cinta.

HMI Tegal Kab

"Cinta adalah samudra (tak bertepi) tempat langit menjadi sekadar serpihan-serpihan busa, (mereka kacau balau) bagaikan perasaan Zulaikha yang menghasrati Yusuf," kata Prof Muhtar menyebutkan salah satu karya rumi tentang "Cinta Universal"

Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Bandung ini pun menjelaskan mengapa cinta digambarkan sebagai sebuah samudra yang tak bertepi dalam kata lain pengkiasan bumi, tetapi bumi yang kita pijaki ini adalah sebuah serpihan, karena bumi itu di ciptakan karena cinta.

"Jadi yang disebut hukum alam atau sunatullah itu adalah sebuah proses bergerak oleh cinta," jelasnya

Dalam perspektif Rumi, lanjutnya, dalam sebuah contoh, dua orang yang saling membenci, pada saat ketika bisa melakukan sikap saling membenci? Menurut pandangan Rumi kedua orang tersebut dilandasi karena cinta, sebab dibalik kebencian terdapat rasa sayang.

"Seperti dalam teori es, ketika berada pada titik 4 derajat Celcius menjadi sangat beku dan dingin, turun di titik 0 Celcius masih dingin, dan pada titik negatif ke bawah menjadi panas. Itu artinya karena bencinya kepada orang, itu menjadi cinta, maksud saya adalah kebencian itu ialah wujud cinta yang teramat cinta," imbuhnya

Acara seminar International yang bertajuk Keindahan sastra Persia dan tasawuf Maulana Jalaluddin Rumi ini diselenggarakan oleh Iranian Corner, nampak hadir pembicara Dr. Hujjatullah Ibrahimnion (Republik Islam Iran), Prof. Dr. Muhtar Sholihin M.Ag (Wakil Rektor II UIN Bandung), Bastian Zulyeno (Dosen Bahasa dan sastra Universitas Indonesia Jakarta), Dr. Ali Masrur M.Ag (Direktur Iranian Corner). Ratusan mahasiswa memadati Aula Fakultas Usuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Bakti Habibie/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, RMI NU, PonPes HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock