Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis

Jakarta, HMI Tegal Kab. Pengurus Koordinator Cabang PMII DKI Jakarta membentuk forum kajian strategis menyangkut persoalan lokal Jakarta, nasional, maupun global. Forum dwi mingguan mewadahi kader PMII DKI untuk cepat merespon persoalan kekinian.

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis

Ketua PMII DKI Jakarta Mulyadin Permana mengatakan, mahasiswa khususnya kader PMII harus memahami kosmos (alam semesta) yang di dalamnya terdapat relasi manusia dan alam.

"KKS adalah wadah bagi kader PMII untuk belajar dan menggali ilmu dari para tokoh NU dan tokoh-tokoh lainnya untuk menjadi landasan gerakan PMII DKI Jakarta ke depan" kata Mulyadin saat peluncuran forum KKS di Gedung PBNU, Jumat (5/12) siang.

HMI Tegal Kab

Mantan Sekjen PMII Usman Sadikin menekankan pentingnya pembangunan karakter manusia. Menurut Usman, orang kini lebih menyalahkan sistem politik. Mereka lalu beramai-ramai memperbaiki sistem. Padahal sebenarnya yang tidak baik adalah orang-orang yang ada dalam sistem itu.

HMI Tegal Kab

"Aturan dan sistem yang baik hanya dilahirkan oleh orang baik. Bukan sistem demokrasi, sistem kerajaan, dan seterusnya yang tidak baik, tetapi sistem itu menjadi tidak baik ketika orang lupa kepada Tuhan," kata Usman.

Sementara Amsar A Dulmanan dalam forum perdana ini mengingatkan misi manusia sebagai khalifah di muka bumi.

"Manusia di bumi bukan untuk penghambaan, tetapi sebagai kholifah yang mengatur kosmos (alam semesta) untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia," tandas Amsar. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Tokoh, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Sabtu, 10 Februari 2018

GP Ansor Gebog Gelar Pelatihan Penanganan Risiko Bencana

Kudus, HMI Tegal Kab. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gebog Kudus, Jawa Tengah mengadakan kegiatan pelatihan penanganan risiko bencana (PRB) di Aula Balaidesa Besito, Jumat (8/1). ? Kegiatan yang berlangsung sehari ini diikuti 80 kader dari kalangan IPNU-IPPNU, Fatayat, GP Ansor, dan Banser Kecamatan Gebog.

GP Ansor Gebog Gelar Pelatihan Penanganan Risiko Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Gebog Gelar Pelatihan Penanganan Risiko Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Gebog Gelar Pelatihan Penanganan Risiko Bencana

Menurut Ketua GP Ansor Gebog, Dasa Susila, pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalitas kader dalam turut serta penanganan korban bencana. Setiap terjadi bencana, katanya, Ansor-Banser bersama komponen NU lainnya ? selalu ? turun membantu ? sehingga membutuhkan bekal keterampilan dalam menangani bencana.

"Belajar dari pengalaman terjadinya bencana dua tahun lalu, teman-teman masih kurang ilmu dan ketarampilan menangani korban bencana," ujarnya.

HMI Tegal Kab

Ia mengatakan, GP Ansor bersama badan otonom NU akan terus mengasah kemampuan dalam menangani dan mengatasi korban bencana. Bahkan, pihaknya akan mengagendakan kegiatan rutin semacam ini minimal tiap bulan sekali.

"Kita menyadari teknik ini butuh proses yang panjang, tidak hanya sebulan atau dua bulan. Makanya kita akan asah terus kapasitas kader sehingga betul-betul siap segalanya menghadapi bencana," imbuhnya.

HMI Tegal Kab

Dasa menegaskan, pelatihan ini sebagai awal menata manajemen penanganan bencana sehingga kader-kader NU tidak gagap manakala terjadi bencana. Apalagi, GP Ansor bersama badan otonom lainya telah komitmen bangun kepedulian antara sesama.

"Akhirnya ketika semua tertata mulai pra, saat, dan pasca bencana, kita tidak akan kebingungan. NU ? tinggal komando ini, kita sudah siap segalanya," tandasnya.

Kegiatan yang dibuka ketua MWCNU Gebog Suwanto ini, peserta mendapat materi tentang ke-bencana-an, ? manajemen penanganan darurat bencana dan praktik pertolongan pertama korban bencana. Semua materi disampaikan dari Tim Badan penanganan Bencana Daerah (BPBD) Kudus dengan difasitasi dari tim Korp Peduli Bencana Alam Nahdlatul Ulama (KPBANU) Kudus. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh, Makam HMI Tegal Kab

Al-Qur’an Terjemahan

Seseorang tamu berjenggot dan celana cingkrang bertamu ke rumah kiai di salah satu pesantren tahfid Al-Qur’an. Ada apa gerangan? Ia mengkritik kiai karena hanya mengajarkan menghafal Al-Quran kepada para santrinya tanpa memahami artinya.

Tamu: Maaf kiai, menurut saya, pesantren Anda tidak mencetak orang pintar cuman bisanya membunyikan Al-Quran!

Kiai: Ya maaf saya bisanya cuman itu.

Tamu: Tapi Kiai.. Kapan umat Islam bisa bebas buta makna Al-Quran kalau pondok ini cuma ngajar apalan doang?

Al-Qur’an Terjemahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Qur’an Terjemahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Qur’an Terjemahan

Kiai: Ya itulah kita harus berbagi tugas! Saya dan santri saya bagian hapalan Qurannya! Dan…. (Kiai terdiam sejenak. Tamu itu juga masih diam.)

Kiai: Dan.. Anda bagian terjemahannya. ? ----(Yahya)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Tokoh, Kajian Islam, Internasional HMI Tegal Kab

Selasa, 06 Februari 2018

Masjid Agung Brebes Raih Juara 1 Masjid Percontohan Nasional 2015

Brebes, HMI Tegal Kab. Masjid Agung Brebes yang terletak di sebelah barat alun-alun Kota Brebes mewakili Provinsi Jawa Tengah sebagai Masjid Agung Percontohan Nasional 2015. Keunggulan masjid agung ini antara lain masih mempertahankan bangunan kuno dan pelayanan umat 24 jam non stop.

Masjid Agung Brebes Raih Juara 1 Masjid Percontohan Nasional 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Agung Brebes Raih Juara 1 Masjid Percontohan Nasional 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Agung Brebes Raih Juara 1 Masjid Percontohan Nasional 2015

“Alhamdulillah, keberadaan Masjid Agung Brebes mendapat apresiasi dari Tim Penilaian Provinsi menjadi juara 1 dan berhak maju ke tingkat Nasional,” ujar Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kantor Kementerian Agama Brebes H Imam Gozali di kantornya, Kamis (17/9).

Masjid Agung Brebes, kata Imam, mendapat nilai 295 sehingga menjadi juara 1 dari 35 Masjid Agung se-Jawa Tengah. Juara 2 diraih Masjid Agung Purbalingga dengan nilai 245, dan juara 3 Masjid Agung Semarang dengan angka 197.

HMI Tegal Kab

Menurut Imam, penilaian dilakukan tim provinsi Jateng yang bertujuan menilai model tipologi yang menjadi rujukan dalam pengelolaan masjid. “Penilaian dilakukan melalui beberapa tahap meliputi visitasi dokumen, visitasi dan wawancara lapangan,” ungkapnya.

Lomba ini digelar Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI. Saat ini, pengurus takmir masjid tengah mempersiapkan segala sesuatunya, dengan harapan bisa menjadi yang terbaik di tingkat nasional. “Dengan penilaian ini, pelayanan umat diharapkan makin meningkat pula,” tegasnya.

HMI Tegal Kab

Menurut Imam Besar Masjid Agung Brebes Drs KH Rosyidi, Masjid Agung Brebes dibangun tahun 1836 pada zaman Bupati Raden Adipati Ariya Singasari Panatayuda I (Kiai Sura). Masjid ini mengalami beberapa kali renovasi. Antara lain pada 1932, 1979 dan 2007.

“Bangunan asli masjid yang berarsitektur Jawa kuno, dengan kubah berbentuk limas, tetap dipertahankan hingga sekarang,” ujarnya.

Awalnya, masjid itu dibangun di atas tanah seluas 666 m2 dengan ditopang kayu jati pilihan dan fondasinya ditinggikan 1 meter. Tapi kini luasnya menjadi 2000 M2. Keaslian Masjid Agung terus dipertahankan terutama bangunan utama di bagian depan. Bangunan ini sudah menjadi cagar budaya dan tidak boleh diutak-utik,” terangnya.

Dia mengungkapkan, mempertahankan bangunan lama diharapkan karomah dan kharismatik masjid itu masih tetap utuh. Terbukti, sampai sekarang masih banyak dikunjungi peziarah.

Masjid yang letaknya tidak jauh dari pendopo Kabupaten Brebes tepatnya di jalan Ustad Abbas Brebes terbuka penuh 24 jam. Hal tersebut dengan pertimbangan untuk memberi ruang ibadah seluas-luasnya pada masyarakat yang habis melaksanakan ziarah di sejumlah daerah di Jateng atau Jatim. “Sepulangnya dari sana, dan sebelum melanjutkan perjalanan kembali lebih dulu singgah di Masjid Agung, begitu pun sebaliknya,” paparnya.

Masjid berlantai dua ini dilengkapi dengan menara setinggi 33 meter. Kamar mandi dan wudlu lengkap untuk putra dan putri. Juga di sediakan kantor sekretariat. Masjid sengaja tidak berpintu gerbang, untuk memberikan keleluasaan para jamaah dan area parkir. Tersedia juga ruang perpustakaan untuk menambah khasanah keislaman masyarakat pembaca. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh HMI Tegal Kab

Sabtu, 03 Februari 2018

Menag Pimpin Upacara Kenegaraan Pemakaman

Bogor, HMI Tegal Kab. Menteri Agama (Menag), Suryadharma Ali, memimpin upacara kenegaraan dalam pemakaman KH Idham Chalid, mantan Ketua DPR/MPR dan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang dimulai sekitar pukul 12.00 WIB.



Menag Pimpin Upacara Kenegaraan Pemakaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Pimpin Upacara Kenegaraan Pemakaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Pimpin Upacara Kenegaraan Pemakaman

Para pelayat termasuk ulama dan anak-anak yatim turut mengantarkan kepergian almarhum KH Idham Chalid ke tempat peristirahatan terakhir di kompleks Pondok Pesantren Darul Quran di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Senin.

Suryadharma Ali dalam sambutannya atas nama negara menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya KH Idham Chalid. Ia juga meminta seluruh warga untuk turut mendoakan agar almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Allah.

HMI Tegal Kab

"Banyak hal-hal yang telah diperbuat almarhum semasa hidupnya yang bisa dijadikan suri tauladan bagi kita yang masih hidup," katanya.

HMI Tegal Kab

Upacara kenegaraan ini, lanjut dia, dilakukan untuk menghormati jasa-jasa almarhum.

Hadir pada upacara tersebut di antaranya Bupati Bogor Rahmat Yasin serta para ulama termasuk KH Didin Hafiduddin dan KH Syukron Makmun, salah seorang murid KH Idham Chalid.

Sementara itu, Bupati Bogor, Rahmat Yasin, yang memberikan sambutan atas nama keluarga almarhum mengucapkan terima kasih atas bantuan semua pihak dalam proses pemakaman almarhum.

KH Idham Chalid wafat di usia 88 tahun pada Minggu (11/7) pukul 08.00 WIB di kediamannya di kawasan pendidikan Darrul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, karena sakit yang diderita selama 10 tahun terakhir.

Idham Chalid lahir di Setui, Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1922.

Ia adalah tokoh agama, tokoh bangsa, dan tokoh organisasi besar Islam Nahdlatul Ulama dan juga deklarator sekaligus pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sebelum meninggal, almarhum pernah bernazar ingin dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Darul Quran di Cisarua, Bogor.

Pesantren sederhana tersebut didirikan KH Idham Chalid pada tahun 1969.

Warga yang mengikuti jalannya upacara pemakaman terpaksa berdesak-desakan karena area pemakaman di kompleks tersebut relatif sempit hanya seluas 100 meter persegi.

Sebagian anak-anak yatim yang menghuni asrama di pondok pesantren tersebut menyaksikan jalannya pemakaman dari depan kamar mereka karena jarak antara asrama dengan area pemakaman sangat dekat dan hanya dibatasi oleh pagar.

Beberapa warga juga naik ke atas bangunan masjid yang tengah dibangun untuk bisa menyaksikan upacara pemakaman tersebut. (ant/mad)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh HMI Tegal Kab

Kamis, 25 Januari 2018

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan

Jakarta, HMI Tegal Kab. NU Care-LAZISNU Lampung mengagendakan terbentuknya seluruh struktur kepengurusan UPZISNU se-Lampung Timur. Untuk menyukseskan agenda tersebut dilakukan sosialisasi sejak September 2017.

Mengingat banyaknya kecamatan sebagai sasaran sosialisasi, tim NU Care-LAZISNU Lampung Timur mengunjungi kecamata-kecamatan tersebut setiap Ahad. Seperti pada 10 Desember lalu sosialisasi dilakukan di Pesantren Miftahul Ulum, Desa Raman Aji, Kecamatan Raman Utara.

“Ada 24 MWC (kecamatan) dan 264 desa di Lampung Timur. Insyaallah, sosialisasi dan pembentukan UPZISNU akan selesai awal bulan April 2018,” kata Ketua LAZISNU Lampung Timur, Makruf, Senin (11/12).

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan

Setelah sosialisasi dan pembentukan UPZISNU di semua desa, akan diadakan pelatihan Managemen Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah bulan Mei 2018.

“Pelatihan akan diikuti oleh seluruh pengurus UPZISNU se-Lampung Timur.

Sosialisasi sambil berbagi

HMI Tegal Kab

Di sela-sela kegiatan sosialisasi, NU Care-LAZISNU Lampung Timur juga mengadakan penyaluran, salah satunya lewat Jumat Berkah Berbagi. Pada program tersebut rata-rata dibagikan 40 paket sembako setiap minggunya.

“Kegiatan Jumat Berkah Berbagi sangat membantu masyarakat kurang mampu yang selama ini kesusahan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya,” kata Imam Mutakkin, salah satu pengurus LAZISNU Lampung Timur.

Kegiatan berbagi sendiri bergeliat semenjak mulai terbentuknya kepengurusan UPZISNU di setiap kecamatan Lampung Timur.

HMI Tegal Kab

Hal ini bisa dilihat dari beberapa waktu, kepengurusan MWCNU Pasir Sakti bersama pengurus NU Care LAZISNU Kecamatan Pasir Sakti telah berhasil menghimpun bantuan dari masyarakat dengan pencapaian 180 juta untuk program peduli Rohingnya.

“Atas perolehan itu, oleh PBNU diberangkatkan dua orang pengurus UPZISNU Pasir Sakrti untuk presentasi pada Munas Konbes NU di NTB, tentang keberhasilan menggalang donasi tersebut,” Makruf menambahkan.

Mengikuti keberhasilan Pasir Sakti, desa-desa lain mulai bergerak untuk melaksanakan program gerakan Koin NU. Makruf optimis, upaya tersebut akan mampu membangun kemandirian NU di Lampung Timur. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh, AlaSantri HMI Tegal Kab

Rabu, 24 Januari 2018

Harlah Ke-84, Jadikan GP Ansor sebagai Banom Bermartabat

Jombang, HMI Tegal Kab. Dalam hitungan hijriyah, Gerakan Pemuda Ansor telah berumur 84 tahun. Salah satu Badan Otonom (Banom) di jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) ini dilahirkan 10 Muharram tepatnya tahun 1353 Hijriyah. Usia yang tidak lagi muda ini hendaknya dapat memacu semua elemen di dalamnya untuk terus berkhidmat bagi NU, bangsa dan masyarakat.

"Para aktivis Gerakan Pemuda Ansor hendaknya dapat menjadikan momentum hari lahir ini sebagai sarana untuk semakin memantapkan diri untuk menjadi bagian dari organisasi sosial kepemudaan dan keagamaan yang mandiri," kata Ketua PC GP Ansor Jombang Jawa Timur, H Zulfikar Damam Ikhwanto kepada HMI Tegal Kab, Sabtu (24/10).

Harlah Ke-84, Jadikan GP Ansor sebagai Banom Bermartabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-84, Jadikan GP Ansor sebagai Banom Bermartabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-84, Jadikan GP Ansor sebagai Banom Bermartabat

Bentuk kemandirian itu dalam pandangan Gus Antok, sapaan akrabnya, adalah dengan berupaya menggali potensi ekonomi setiap warga dan peluang yang ada di wilayah masing-masing untuk bisa memiliki badan usaha yang menghasilkan. "Karena tanpa kemandirian secara ekonomi, sangat sulit Ansor bisa memiliki ketegasan dalam sikap," ungkapnya.

HMI Tegal Kab

Sejumlah kader yang telah berhasil dalam membangun ekonomi sebisa mungkin dapat dihimpun sehingga menjadi jaringan yang kuat. "Kalau selama ini para kader hanya berkutat dengan ekonomi secara parsial, sudah waktunya bisa dihimpun dalam jaringan sehingga menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh," terangnya.

HMI Tegal Kab

"Yang dibutuhkan adalah kekuatan dan kemampuan untuk menyapa dan meyakinkan simpul ekonomi tersebut sehingga menjadi jaringan ekonomi yang tertata dengan manajerial yang amanah," tandasnya.

Bila kemampuan ekonomi ini bisa digarap dengan baik, maka unsur manfaat akan bisa dirasakan oleh warga dan anggota di berbagai level masyarakat. "Kita yakin, para warga dan fungsionaris Ansor adalah mereka yang berkutat dengan ekonomi kelas menengah dan kecil," katanya. Bila mampu mengentas potensi ekonomi tersebut, maka dengan sendirinya bisa menyelesaikan kesenjangan ekonomi yang ada di akar rumput, lanjutnya.

Kendati demikian, persoalan umat serta merta tidaklah selesai. "Karena jaringan ekonomi yang akan dibangun juga harus menjunjung tinggi akhlakul karimah," pesannya. Karenanya, pendekatan simultan dengan mendorong kemandirian ekonomi yang di dalamnya juga diimbangi dengan perilaku terpuji, menjadi syarat yang tidak dapat ditinggalkan.

Gus Antok mengingatkan bahwa pada Muktamar Ke-9 NU di Banyuwangi, yakni 10 Muharram 1353 H yang bertepatan dengan 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua HM Thohir Bakri, Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam.

Tanggal 24 April memang kemudian dikenal sebagai tanggal kelahiran GP Ansor. "Namun  mengingatkan bahwa tanggal 10 Muharram sebagai bagian tidak terpisahkan dari perjalanan Ansor juga sangatlah penting," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab RMI NU, Tokoh, Kajian HMI Tegal Kab

Senin, 22 Januari 2018

Supremasi Wali Songo

Oleh Fathoni

“Tokoh-tokoh ini, bukan tokoh-tokoh fiktif. Namun, benar-benar ada secara historis.” Itulah statement Agus Sunyoto, penulis buku Atlas Wali Songo dalam peristiwa penganugerahan sebagai buku terbaik 2014 versi Islamic Book Fair (IBF) dalam kategori Buku Nonfiksi Dewasa di Gedung Istora Gelora Bung Karno Sabtu 1 Maret 2014.

Ya, buku Atlas Wali Songo: Buku Pertama Yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah karya sejarawan NU ini meraih pengahargaan IBF Award dalam pameran buku-buku Islam ini. Melalui proses seleksi yang ketat, Atlas Wali Songo (Pustaka IIMaN) menyisihkan beberapa nominasi di antaranya adalah Cak Nur, Banyak Jalan Menuju Tuhan karya Budhy Munawar Rachman (Mizan), Hijama or Oxidant Drainage Therapy (ODT) karya Azib Susiyanto, Sy (Gema Insani), Kaidah Tafsir karya Quraish Shihab (Lentera Hati), The New World Order karya Jagad A.Purbawati (Pustaka Al-kautsar).

Supremasi Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Supremasi Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Supremasi Wali Songo

Tak sekadar itu, penulis melihat bahwa penghargaan ini juga sekaligus mematahkan persepsi sekelompok orang yang menganggap bahwa sejarah tokoh-tokoh Wali Songo tak lebih dari sekadar dongeng dan legenda. Dengan kata lain, sejarah yang menceritakan mereka adalah fiktif atau tidak ada.

Dari persepsi inilah yang menjadikan probabilitas terbesar akan sejarah Wali Songo dalam mengislamkan Nusantara secara kompromis dan smooth tidak tercantum dalam buku Ensiklopedi Islam terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve sebagai tokoh-tokoh penyebar Islam di Nusantara.

Tak hanya itu, menurut Agus Sunyoto dalam buku tersebut tidak terdapat satu kalimat pun menyebut Wali Songo, tokoh-tokoh penyebar Islam pada zaman Wali Songo, kazanah kekayaan budaya Islam pada zaman Wali Songo seperti karya sastra, seni musik, seni rupa, seni pertunjukan, seni suara, desain, arsitektur, filsafat, tasawuf, hukum, tata negara, etika, ilmu falak, sistem kalender, dan ilmu pengobatan yang lahir dan berkembang pada masa Wali Songo dan sesudahnya. Bagaimana mungkin?

HMI Tegal Kab

Selain faktor berbeda paham, terkadang itulah kekeliruan bangsa Indonesia dalam memahami sejarahnya sendiri. Kita tidak bisa mengelak bahwa basis akademik kita belum sampai pada titik jenuh untuk selalu mengambil referensi paham arab (wahabi) dan keilmuan barat khususnya yang bersifat postivistik, dapat di nalar dan masuk logika akal atau rasionya dalam memahami sejarah Nusantara bahkan dalam membaca sejarah para tokoh Wali Songo yang menurut perspektif mereka penuh dengan mistifikasi dan klenik sehingga menurut mereka Wali Songo tak lebih dari sekadar dongeng.

Tentu kita tidak bisa memotong batu dengan menggunakan gunting. Sebab, simbol gunting akan kalah dengan simbol batu yang diperagakan oleh tangan dalam permainan suit-suitan anak kecil. Artinya, tentu saja dalam membaca sejarah Wali Songo yang konon penuh dengan dunia metafisik dan supranatural hendaknya tidak memakai pisau analisis barat dengan ilmuwan yang berpaham positivistik tadi atau paham Wahabi yang sangat tidak kompromistik.

Persoalan keajaiban, karomah, ilmu kanuragan, dan keramat para Wali Songo yang menyebabkan masyarakat pada waktu itu seakan mengunggulkan tak lebih dari sekadar keistimewaan yang diberikan Allah kepada hambanya yang begitu ikhlas, taat dan tunduk sebagai media dalam berdakwah yang penuh dengan tantangan yang tidak teramat ringan.

Respon masyarakat seperti itulah yang menjadikan kaum Islam fundamentalis Wahabi berasumsi bahwa cerita sejarah Wali Songo dapat menjurus pada kesesatan akidah dan penuh dengan tahayul sehingga semua ini adalah mitos, klenik, dongeng, dan lain-lain. Sedangkan paham ilmuwan barat menganggap ini bukan sebuah peristiwa sejarah sebab tidak bersifat postivistik.

Nalar postivistik berdampak pada materialisme berpikir. Paham materialisme selalu menempatkan segala sesuatu dapat dilihat bentuknya atau berwujud, sebab semua materi pada intinya berwujud. Dalam hal inilah Islam modernis yang merepresentasikan barat hanya mencenderungkan diri pada ilmu hushuli yaitu ilmu segala sesuatu yang tampak. Sebaliknya, tidak meyakini ilmu yang bersumber langsung dari Allah yang disebut ilmu hudhuri atau lebih populer dinamakan ilmu laduni yang menurut mereka jauh dari kata ilmiah. Ilmu ini hanya dimiliki oleh manusia yang benar-benar dekat dengan Allah, bahkan menjadi kekasihnya yang disebut Wali. Dalam hal ini, materialistiknya fundamentalis wahabi yaitu hanya menyandarkan diri pada al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan materialistiknya barat yaitu berwujud.

HMI Tegal Kab

Sebetulnya, ilmu yang dimiliki oleh para Wali Songo tidak serta-merta karomah dari Allah tanpa kecerdasan mereka dalam berpikir. Jika para Wali dominan dengan ilham dan karomah, sesungguhnya dalam dunia keilmuan modern juga diakui. Sebut saja ilmu psikologi, dalam disiplin kelimuan ini ada yang disebut kecerdasan ilhami (intelegensi intuitif). Kecerdasan ini muncul atas keyakinan bahwa semua adalah petunjuk kebenaran dari Allah jika baik untuk kemaslahatan umat manusia.

Artinya dalam hal ini, dunia keilmuan barat pun sesungguhnya mengetahui akan keistimewaan dan karomah seorang jika benar-benar yakin akan Tuhannya. Sebab itulah, intelegensi intuitif dalam ilmu psikologi sesungguhnya adalah karomah atau keistimewaan yang lekat kepada para Wali Songo. Dengan demikian, apakah karomah yang memang di luar nalar manusia biasa itu adalah sebuah klenik yang tak rasional?

Sesunggunhya pemahman ini tidak akan muncul jika mereka memahami bahwa para wali membawa risalah Nabi. Nabi dan wali sama-sama kekasih Allah, perbedaannya bahwa Nabi SAW bersifat ma’shum sedangkan wali tidak demikian. Nabi menerima wahyu secara langsung, tetapi wali hanya menerima apa yang disebut ilham. Kemudian, keistimewaan Nabi disebut dengan mukjizat, sedangkan keistimewaan wali diistilahkan karomah. Kalimatus sawa’-nya sama, yaitu kekasih Allah.

Maka dengan demikian, mempersepsikan karomah seorang wali dengan sebuah klenik, tahayul, dan lain-lain sama saja menegasikan atau menafikan mukjizat Nabi bukan? Sebab, ilmu semua kiai, ulama, dan wali berasal dari Nabi SAW, merekalah pewaris para Nabi. Al-‘Ulama warotsatu al-Anbiya. Istilah warisan bersifat sambung-menyambung, tidak putus. Adanya seorang kiai, ulama, dan wali yaitu untuk memudahkan kita dalam mempelajari ilmu Allah dan Nabi yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. Sehingga jika tidak berpijak kepada mereka, dapat dipastikan mempersulit diri sendiri dalam memahami agama Allah.

Dari rasionalisasi inilah supremasi Wali Songo tegak dalam membungkam asumsi bahwa cerita mereka hanyalah dongeng belaka. Penghargaan prestisius IBF Award 2014 sebagai buku terbaik dari kategori Nonfiksi Dewasa pada buku Atlas Wali Songo ikut menguatkan bahwa sejarah wali songo sama sekali bukan fiktif, namun nyata secara historis dalam mengislamkan Nusantara dengan segala mistifikasinya.

 Jika yang diinginkan oleh kaum-kaum modernis berpaham postivistik-materilaistik bahwa sejarah itu mesti dapat tangkap nalar dan berwujud, atau kaum fundamentalis yang menganggap bahwa sejarah Wali Songo hanya mitos, klenik dan menyesatkan, Agus Sunyoto dalam buku Atlas Wali Songo telah melakukan penelitian secara ilmiah dengan menyajikan bukti-bukti secara material berupa naskah-naskah kuno, artefak, dan berbagai situs-situs lain yang ikut berkelindan dalam perjalanan sejarah Wali Songo.

Tak hanya itu, dalam buku ini Agus Sunyoto juga  menulis dengan sangat rasional untuk membuktikan secara ilmiah bahwa Wali Songo beserta cerita-cerita yang melingkupinya adalah sebuah fakta sejarah. Dengan demikian, layaklah jika Wali Songo mendapatkan supremasinya di pameran buku-buku Islam yang katanya terbesar di Indonesia itu, bukan?

 

Fathoni, Mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh, Pendidikan HMI Tegal Kab

Senin, 15 Januari 2018

PMII Yaqub Husein Perkuat Kajian Gerakan Kampus

Jombang, HMI Tegal Kab



Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Yaqub Husein STIT Al-Urawatul Wutsqo Jombang tengah memperkuat kajian-kajian tentang gerakan aktivis di lingkungan kampus.

Dunia kampus memang tak bisa dipisahkan dengan gerakan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi ekstra kampus. Mereka justru menjadikan kampus sebagai medan juang untuk merealisasikan nilai pergerakan yang biasa disebut NDP (nilai dasar pergerakan) di PMII, nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) juga nilai kekritisannya.

PMII Yaqub Husein Perkuat Kajian Gerakan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Yaqub Husein Perkuat Kajian Gerakan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Yaqub Husein Perkuat Kajian Gerakan Kampus

Kajian serius yang berlangsung di aula kantor PMII Yaqub Husein itu secara khusus mendiskusikan sejumlah peluang dan potensi SDM Pengurus PMII saat berada di BEM (badan eksekutif mahasiswa), bahkan diupayakan untuk lebih mewarnai BEM dengan kegiatan-kegiatan yang mencerdaskan mahasiswa.

Chairul Rizal, fasilitator kajian yang juga mantan ketua I bidang Internal PC PMII Jombang periode 2015-2016 ini mengajak kader PMII untuk berkomitmen menjadi bagian penggerak, dan pengambil kebijakan di BEM sebagai ketua. "Kader PMII mesti menjaga konsistensi untuk andil dalam organisasi intra kampus, termasuk BEM," tandasnya di hadapan peserta diskusi, Sabtu (20/8/2016).

HMI Tegal Kab

Sementara itu, Syamsul Arifin, Koordinator Biro Kajian dan Pengembangan SDM Komisariat menyepakati perihal PMII menjadi bagian dari BEM yang paling berpengaruh, mengingat bulan depan terdengar info dilaksanakannya momen penerimaan mahasiswa baru.

"Kita yakin bahwa ilmu bukan hanya untuk ilmu kajian semata, namun ilmu adalah untuk amal dan diniati ibadah, apalagi saat ini momen penerimaan mahasiswa baru, PMII adalah rumah yang tepat untuk mahasiswa baru menimbah ilmu karena kaderisasi di PMII jelas terukur dari output senior dan alumninya," jelasnya.

HMI Tegal Kab

Ia menambahkan jika PMII di kampus juga berperan sebagai kontrol dari berbagai pemahaman Islam yang berkembang. Menurutnya, momen itu sangat berpotensi organisasi kemahasiswaan yang berbau radikal juga masuk.

"Jadi kewajiban kader PMII untuk membendung keberadaan organisasi mahasiswa yang merupakan kaki tangan organisasi berpaham radikal yang sedang gencar-gencarnya masuk ke dunia kemahasiswaan atau kampus", tandasnya.

Sekedar diketahui, PK PMII Yaqub Husein saat ini menaungi dua rayon persiapan yang hendak definitif. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh, Kajian Sunnah HMI Tegal Kab

Kamis, 04 Januari 2018

Fifi, Ketua IPPNU yang Siap Kontes Da’i

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Pengurus Anak Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPPNU) Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas Afifatur Rohmania bersama rekan-rekannya dari IPNU-IPPNU mengunjungi kantor redaksi HMI Tegal Kab, Senin (9/6) siang.

Kunjungan ini dalam rangka silaturrahim sekaligus mohon doa restu bagi Fifi yang akan mengikuti kontes Akademi Sahur Indonesia (AKSI) yang segera tayang di sebuah stasiun televisi nasional.

Fifi, Ketua IPPNU yang Siap Kontes Da’i (Sumber Gambar : Nu Online)
Fifi, Ketua IPPNU yang Siap Kontes Da’i (Sumber Gambar : Nu Online)

Fifi, Ketua IPPNU yang Siap Kontes Da’i

Fifi (17), panggilan akrabnya, akan turut memeriahkan program yang dihelat tiap tahun sekali ini. Gadis yang baru lima bulan dilantik sebagai Ketua PAC IPPNU Kecamatan Kalibagor periode 2014-2016 ini merasa terpanggil untuk turut serta dalam kontes da’i tersebut.

HMI Tegal Kab

“Motivasi saya ingin mensyiarkan agama melalui mimbar ceramah yang tayang di TV. Kegiatan AKSI periode II ini akan tayang tanggal 15 Juni live di Indosiar,” ujar Fifi.

HMI Tegal Kab

Dua tahun silam, Fifi pernah tercatat sebagai Dai Pilihan di ANTV. Namun, karena baru berumur 15 tahun, dirinya disarankan untuk mengikuti kembali. “Akhirnya, saya dapat golden tiket untuk ikut kontes lagi. Saya pun langsung datang ke Jakarta untuk mendaftar,” terang Fifi.

Selain diantar keluarga, kedatangan Fifi di kantor PBNU untuk menghadap Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj didampingi Wakil Ketua PAC Anshor Sokaraja Asyik Gesang Sugiarto (40) yang juga menjabat Kepala Desa Sokaraja Tengah Kecamatan Sokaraja, Banyumas.

Fifi menceritakan, suatu ketika di desanya digelar pengajian dalam rangka halal bi halal.? Fifi, naik mimbar gara-gara pembicara asal Kebumen yang sedianya diminta berceramah di forum itu terlambat lama hingga membuat gusar para jamaah. Fifi masih ingat waktu itu dia kelas III SD pada tahun 2003.

“Saya gemes karena lama banget nunggu kiainya. Lalu saya nekat naik mimbar untuk menggantikannya ceramah. Saya sejak kecil memang mengidolakan Kiai Ma’ruf Islamudin. Saya bahkan hafal materi-materi ceramahnya. Dengan bekal tersebut saya lalu berceramah,” ujarnya bangga.

Ia menambahkan, dewan juri pada AKSI periode dua besok, lanjutnya, antara lain Mama Dedeh, Ustadz Wijayanto, Ustadz Maulana, dan Ustadz Ahmad al-Habsy. “Mohon doanya bagi seluruh kaum Nahdliyin, semoga kader muda NU ini memenangi kontes da’i besok,” harapnya. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh HMI Tegal Kab

Jumat, 08 Desember 2017

Gus Hasan: Warga NU Harus Melihat Sejarah

Banyumas, HMI Tegal Kab - Ketua PCNU Banyumas KH Maulana Ahmad Hasan (Gus Hasan) menganjurkan warga NU untuk melihat sejarah perjalanan panjang NKRI yang tak lepas dari peran NU. Komitmen NU untuk menjaga Islam Ahlissunah wal Jamaah di Indonesia telah berlangsung sejak dulu dan itu harus dijaga oleh semua elemen masyarakat nahdiyin.

Sebelum merdeka, Tahun 1934 KH Wahab Chasbullah ulama NU yang alim dan penuh dengan keilmuan telah berjuang untuk Indonesia. Kiai Wahab mengarang lagu Yalal Wathan dan menyatakan Indonesia negeriku, kata Gus Hasan pada sambutan pelantikan GP Ansor Banyumas Rabu (7/3) malam.

Gus Hasan: Warga NU Harus Melihat Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Hasan: Warga NU Harus Melihat Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Hasan: Warga NU Harus Melihat Sejarah

Ia melanjutkan, saat situasi genting pascakemerdekaan KH Hasyim? Asyari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad untuk menjaga NKRI 22 Oktober-10 November 1945.

“Jadi kalau yang lain baru teriak-teriak takbir, NU sudah berkali-kali menjaga NKRI dari dulu hingga sekarang. Saat terjadi gejolak 65, NU dengan? Bansernya juga berjuang mempertahankan NKRI, lanjutnya.

HMI Tegal Kab

Menurut Gus Hasan, hanya dengan melihat sejarah yang inilah, terbukti bahwa NU adalah bagian dari pendiri NKRI. Makanya jika ada orang atau golongan tertentu yang mau mengusik NKRI, mau mengganti NKRI dengan paham lain, maka ia akan berhadapan dengan NU.

Makanya bagi warga nahdiyin dan bangsa Indonesia umumnya, jangan mau dipecah belah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Pertahankan NKRI sampai mati dengan memperkuat ajaran-ajaran para ulama dan kyai, serta patuhi aturan pemerintah, tegasnya. (Kifayatul Akhyar/Alhafiz K)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh, AlaSantri HMI Tegal Kab

Rabu, 29 November 2017

Meletakkan Pondasi Pengelolaan Tanah Wakaf di Indonesia

Oleh Ahmad Yahya

Wakaf merupakan perbuatan hukum yang suci dan mulia, artinya selama barang yang diwakafkan dapat dimanfaatkan, pahalanya akan tetap mengalir, meskipun si wakif  telah meninggal dunia. Wakaf secara signifikan menyumbangkan pertumbuhan budaya dan intelektual, dan berperan positif dalam menegakkan keadilan sosial, serta mendorong mereka yang kaya untuk mendirikan wakaf. 

Meletakkan Pondasi Pengelolaan Tanah Wakaf di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Meletakkan Pondasi Pengelolaan Tanah Wakaf di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Meletakkan Pondasi Pengelolaan Tanah Wakaf di Indonesia

Catatan sejarah, wakaf terbukti mampu menyejahterakan umat secara umum. Hanya saja perwakafan di Indonesia masih belum maksimal dalam mencapai spirit yang disyariatkan wakaf, padahal potensi wakaf di Indonesia luar biasa. Hal ini banyak faktor yang terdistorsi, diantaranya pemahaman masyarakat akan wakaf, manajeman wakaf, harta yang diwakafkan dan nadzir. 

Untuk itu perlu perubahan paradigma pengelolaaan wakaf secara profesional dan dapat dipertanggung jawabkan. Dalam UU No. 41 Tahun 2004 pasal 5 fungsi wakaf adalah mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis. Harta benda wakaf digunakan untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum. 

Secara umum, ada beberapa macam sifat permasalahan yang berkaitan sengeketa tanah wakaf, antara lain; pertama masalah yang menyangkut prioritas dapat ditetapkan sebagai pemegang hak yang sah atas tanah yang berstatus hak atau atas tanah yang belum ada haknya. 

HMI Tegal Kab

Kedua, bantahan terhadap sesuatu alasan hak atau bukti perolehan yang digunakan sebagai dasar pemberian hak. Ketiga, kekeliruan atau kesalahan pemberian hak yang disebabkan penerapan peraturan yang kurang atau tidak benar. Keempat, sengketa atau masalah lain yang mengandung aspek-aspek sosial.

 

Konflik pertanahan sesungguhnya merupakan bentuk ekstrim dan keras dari persaingan. Secara makro, sumber konflik bersifat struktural misalnya beragam kesenjangan. Secara mikro, sumber koflik dapat timbul karena adanya perbedaan atau benturan nilai, perbedaan tafsir mengenai informasi, data atau gambaran obyektif kondisi pertanahan setempat, atau benturan kepentingan ekonomi, yang terlihat pada kesenjangan struktur pemilikan dan penguasaan tanah.

HMI Tegal Kab

Dalam UU No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf, pada pasal 1 dinyatakan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum wakif, untuk memisahkan dan menyerahkan sebagian harta benda miliknya, untuk dimanfaatkan selamanya, atau untuk jangka waktu tertentu, sesuai dengan kepentingannya, guna keperluan ibadah atau kesejahteraan umum menurut syariah.

Adanya perkembangan lembaga perwakafan tanah milik, yang berkembang di Indonesia, mengilhami perancang UUPA di mana salah satu pasal dalam UUPA, yang mengatur khusus mengenai Perwakafan Tanah Milik ini, yaitu Pasal 49 yang berbunyi sebagai berikut: Pertama  Hak milik tanah benda-benda keagamaan dan sosial, sepanjang dipergunakan untuk usaha dalam bidang keagamaan, dan sosial diakui dan dilindungi. 

Kedua Badan-badan tersebut dijamin pula, akan memperoleh tanah yang cukup untuk bangunan dan usahanya, dalam bidang keagamaan dan sosial. Untuk keperluan peribadatan dan keperluan suci lainnya, sebagai dimaksud dalam Pasal 14 dapat diberikan tanah yang dikuasai langsung oleh negara dengan hak pakai. Ketiga Perwakafan tanah milik dilindungi, dan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Mengacu pada ketentuan yang termaktub dalam Pasal 49 UUPA di atas. Maka, ini merupakan pengakuan secara yuridis formal keberadaan perwakafan tanah milik oleh negara sehingga telah disejajarkan dengan hak-hak yang terdapat dalam UUPA lainnya, misalnya Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai.

 

Kegunaan tanah wakaf adalah sebagaimana fungsi wakaf pada umumnya, yaitu untuk kemaslahatan umat, namun secara khusus UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf mengatur bahwa peruntukan tanah wakaf adalah tergantung pada ikrar wakaf yang dibuat. Ikrar wakaf merupakan pengucapan sah yang diucapkan secara ikhlas untuk menyerahkan hartanya yang akan dipergunakan di jalan Allah. 

Hal pokok yang sering menimbulkan permasalahan perwakafan dalam praktik adalah masih banyaknya wakaf tanah yang tidak ditindaklanjuti dengan pembuatan akta ikrar wakaf. Pelaksanaan wakaf yang terjadi masih banyak yang dilakukan secara agamis atau mendasarkan pada rasa saling percaya. 

Kondisi ini, pada akhirnya menjadikan tanah yang diwakafkan tidak memiliki dasar hukum, sehingga apabila dikemudian hari terjadi permasalahan mengenai kepemilikan tanah wakaf penyelesaiannya akan menemui kesulitan, khususnya dalam hal pembuktian. 

Hal lain yang sering menimbulkan permasalahan dalam praktik wakaf di Indonesia adalah dimintanya kembali tanah wakaf oleh ahli waris wakif dan tanah wakaf dikuasai secara turun temurun oleh Nadzir yang penggunaannya menyimpang dari akad wakaf.  Dalam praktik sering didengar dan dilihat adanya tanah wakaf yang diminta kembali oleh ahli waris wakif setelah wakif tersebut meninggal dunia. 

Dan lagi, salah satu penghambat pemberdayaan wakaf di Indonesia adalah pertama masalah pemahaman masyarakat tentang hukum wakaf, kedua pengelolaan dan manajemen wakaf setengah hati, ketiga benda yang diwakafkan dan nazhir. 

Kenyataan adanya berbagai problem terkait dengan sengketa dan pengelolaan tanah wakaf yang terjadi di tengah masyarakat harus di urus dan diselesaikan secara bijak dan benar. Agar supaya tujuan dari adanya wakaf itu sendiri dapat terjaga kesuciannya dan dapat digunakan sebagaimana mestinya. 

Beberapa solusi untuk meletakkan pondasi pengelolaan tanah wakaf dari berbagai hal yang tidak diinginkan adalah; pertama melakukan pemberdayaan wakaf secara produktif. Kedua, Badan Wakaf Indonesia melaksanakan pembinaaan dan pemberdayaan kepada para pengelola wakaf secara intens. 

Ketiga, melakukan penegakan hukum dalam pengelolaan wakaf secara prioritas. Keempat melakukan pengawasan dan pendataan terhadap harta wakaf. Kelima adanya i’tikad baik untuk memberi atau mengurus tanah wakaf. Keenam memaksimalkan peran dan fungsi KUA sebagai wakil pemerintah di daerah dalam pembinaan dan penyuluhan di bidang perwakafan. 

Memahamkan akan pentingya pengelolaan tanah wakaf secara profesional adalah sebuah cita-cita mulia yang harus selalu didengungkan, karena tanah wakaf merupakan aset untuk pemberdayakan dan pengembangan ummat dalam berbagai bidang, dan untuk itu tanah wakaf harus dimanfaatkan secara optimal, agar terwujud  masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan. Wallahu A’lam.

Penulis adalah Pegiat Lingkar Study Kajian Ilmu Hukum, tinggal di Kota Semarang.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh, Syariah HMI Tegal Kab

Minggu, 26 November 2017

Dubes Inggris Harap Pelajarnya Lihat Kelenturan Islam Indonesia

Jakarta, HMI Tegal Kab. Duta Besar Inggris untuk Indonesia Muazzam Malik menginginkan para pelajar dan mahasiswa Eropa khususnya Inggris melihat langsung pola keberagamaan orang-orang Indonesia menjalankan ajaran agama Islam. Dalam kunjungan kerja samanya dengan PBNU, Muazzam menyatakan dirinya terpikat dengan pemahaman dan praktik muslim Indonesia yang sangat toleran dan lentur dalam beragama.

“Menurut saya, masyarakat muslim di Inggris masih terfokus ke Timur Tengah ketika melihat Islam. Padahal kalau saja mereka mau melirik gerakan Islam di Indonesia ini, mereka akan tercengang,” kata Muazzam ketika berkunjung ke Kantor PBNU, Jakarta, Senin (21/9) sore.

Dubes Inggris Harap Pelajarnya Lihat Kelenturan Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Inggris Harap Pelajarnya Lihat Kelenturan Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Inggris Harap Pelajarnya Lihat Kelenturan Islam Indonesia

Ia sendiri terpana ketika melihat wanita berkerudung mengendarai sendiri sepeda motor di Yogyakarta. “Jujur saja, saya ini muslim. Tetapi menyaksikan pemandangan begini di Inggris atau di luar Indonesia, belum pernah,” kata Muazzam yang agak lancar berbahasa Indonesia.

HMI Tegal Kab

Melihat pemandangan itu, ia mengambil gambar lalu mengirimkannya via whathapp kepada anaknya dan beberapa temannya. “Kamu semua harus lihat bagaimana orang Islam di Indonesia. Mereka sangat maju. Kalian harus melihat sendiri pemandangan ini,” kata Muazzam.

HMI Tegal Kab

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menyarankan tamunya untuk berkunjung ke pesantren-pesantren di pedalaman Jawa.

“Saudara akan menemukan banyak pemandangan baru di pesantren-pesantren itu. Bagaimana para santri itu sangat terikat pada tradisi seperti bersarung dan berkopiah, tetapi bacaan mereka menjangkau pemikiran Timur hingga Barat,” kata Kang Said.

Muazzam berharap Inggris dan NU melanjutkan kerja sama terutama di bidang pendidikan dengan pertukaran pelajar. “Saya senang kalau pelajar Inggris berkunjung ke sini sehingga dapat membuka pandangan mereka. Saya ingin mereka sadar bahwa kekerasan Islam selama ini hanya stigma.”

Selama ini, menurut Muazzam, pelajar Inggris hanya melihat citra Islam Wahabi dan Salafi di Timur Tengah. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Halaqoh, Tokoh HMI Tegal Kab

Minggu, 12 November 2017

Tiga Kiai Penggagas Dzikrul Ghofilin

Judul: Dzikir Agung Para Wali Allah

Penyunting: Muhammad Nurul Ibad

Editor: Abdillah Halim

Tiga Kiai Penggagas Dzikrul Ghofilin (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Kiai Penggagas Dzikrul Ghofilin (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Kiai Penggagas Dzikrul Ghofilin

Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta

Cetakan: I, 2012

Tebal: vi+ 233 hlm.

Peresensi: Ach. Tirmidzi Munahwan*

HMI Tegal Kab

Awal kemunculan “Dzikrul Ghofilin” bermula sejak tahun 1960, yang digagas oleh tiga kiai yakni, Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Hamim Jazuli (Gus Miek), dan Kiai Achmad Shiddiq. Tiga kiai tersebut sudah dikenal oleh banyak kalangan khususnya dikalangan warga NU. Kiai Hamid Pasuruan dikenal sebagai kiai yang memiliki kemampuan spiritual tinggi. Selain dikenal mempunyai kemampuan spritualitas yang tinggi, Mbah Hamid juga dikenal oleh masyarakat sebagai seorang waliyullah, kekasih Allah yang sampai saat ini pesareannya setiap hari dipenuhi oleh para peziarah.

Kiai Hamim Jazuli atau yang panggilan akrabnya (Gus Miek), adalah sosok kiai yang nyentrik dan kontroversial. Namun meskipun dikenal sebagai sosok kiai yang nyeleneh, nyentrik, dan kontroversial ia mendapat pengakuan dari beberapa kiai khos seperti, Kiai Abdul Madjid, Kiai Mubasyir Mundzir, Kiai Abdullah Umar Kediri, Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Hamid Kajoran. Gus Miek mempunyai keistimewaan yang tinggi, dan kemampuan supranatural. Kemampuan supranatural Gus Miek itu dalam istilah orang pesantren disebut “khariqul adat”, kejadian-kejadian aneh yang sulit dijangkau oleh akal manusia.

HMI Tegal Kab

Kiai Achmad Shiddiq adalah kiai yang dikenal sebagai perumus Pancasila, dan peletak dasar khittah NU 1926 yang diputuskan di Situbondo. Gagasan dan ide-ide segarnya tentang pembaharuan NU banyak bermunculan darinya, juga kekonsistenannya mengabdi pada NU dan bangsa Indonesia tidak pernah diragukan. Di tahun 1972 Kiai Achmad Shiddiq menjadi pengikut pemula Gus Miek, dan berdakwah bersamanya melalui Dzikrul Ghofilin. Jadi munculnya berdirinya Dzikrul Ghofilin itu tidak terlepas dari tiga kiai, yakni Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Hamim Jazuli (Gus Miek), dan Kiai Achmad Shiddiq. Sehingga tidak berlebihan kiranya jika muncul istilah “tritunggal”, sebuah istilah yang masyhur dikalangan pengikut Gus Miek.

Adapun penggagas utamanya sekaligus penulis teks Dzikrul Ghofilin adalah Kiai Hamim Jazuli (Gus Miek). Beliau banyak mencurahkan perhatian dan tenaga sepenuhnya demi memperjuangkan Dizikrul Ghofilin. Di Surabaya, Gus Miek memulai kegiatan Dzikrul Ghofilin yang hanya diikuti oleh beberapa orang hingga menjadi belasan orang jama’ah. Tempat kegiatannnya berpindah-pindah dari jama’ah yang satu ke jamaa’ah yang lainnya. Sebelum acara Dzikrul Ghofilin dimulai, Gus Miek mengajak jama’ahnya terlebih dahulu berkumpul di makam Sunan Ampel, dengan membaca al-Fatihah 500 kali, baru kemudian berangkat ke rumah yang menerima giliran acara Dzikrul Ghofilin.

Buku “Dzikir Agung Para Wali Allah” yang ditulis oleh Muhammad Nurul Ibad ini, di dalamnya menguraikan sejarah Dzikrul Ghofilin dan pengikut ajaran Gus Miek. Adapun yang menjelaskan sejarah Dzikrul Ghofilin yakni Kiai Ahmad Shiddiq dan Kiai Maftuh Basthul Birri, pengikut dan hafizh al-Qur’an yang aktif mengikuti kegiatan Jantiko Mantab sejak periode pertama. Kiai Maftuh Basthul Birri menilai bahwa amalan dalam Dzikrul Ghofilin seperti al-Fatihah, shalawat, tahlil, dan lain sebagainya adalah amalan yang biasa dilakukan oleh umat Islam sejak dulu. Dan amalan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran akidah ahlussunnah waljama’ah yang dalil dan rujukannya sangat jelas dalam al-Qur’an dan hadits.

Inti ajaran Dzikrul Ghofilin adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan cara berdzikir. Menurut Gus Miek, fadhilah utama Dzikrul Ghofilin adalah murni tujuan akhirat, murni kebahagiaan di akhirat, dan biasanya orang yang benar-benar menata akhiratnya urusan duniawinya juga akan ikut tertata. Dengan demikian, cara termudah menurut Gus Miek adalah dengan mencintai para kekasih Allah dan orang-orang yang shaleh. Jika kita mencintai auliya’ kekasih Allah, dan sholihin orang-orang shaleh, maka besok kita akan dikumpulkan bersama mereka (hal.65).

Dengan membaca buku ini pembaca akan diajak mengetahui lebih jauh apa itu Dzikrul Ghofilin, siapa penggas utamanya, dan apa isi ajaran didalamnya? Penulis buku ini memberikan penjelasan ringkas, dengan bahasa yang komunikatif, sistematis, dan mudah dimengerti. Di dalam buku ini juga dilengkapi beberapa teks bacaan yang dipakai pada acara Dzikrul Ghofilin. 

Meneladani dan mengikuti jejak spiritual Gus Miek sangatlah penting, lebih-lebih menghidupkan kegiatan Dzikrul Ghofilin yang akhir-akhir ini mulai jarang masyarakat melakukannya. Saat ini umat Islam lebih tertarik kepada hal-hal yang sifatnya duniawi saja, tidak memprioritaskan untuk kepentingan akhirat. Padahal tujuan awal didirikannya Dzikrul Ghofilin yang digagas oleh Gus Miek bukanlah untuk kepentingan dunia, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun meskipun sampai saat ini yang melakukan dan melaksanakan Dzikrul Ghofilin mulai jarang, setiap malam Ahad kliwon di pesantren Luhur Al-Husna Surabaya asuhan Prof Dr KH Ali Maschan Moesa masih istiqamah melaksanakan, dan melanjutkan jejak spritual Gus Miek (Dzikrul Ghofilin), yang diikuti oleh masyarakat dan para santri. Wallahu a’lam

* Peresensi Adalah, Dosen Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh HMI Tegal Kab

Sabtu, 11 November 2017

NU Kembali Tegaskan Pancasila

Cirebon, HMI Tegal Kab  

Nahdlatul Ulama kembali menegaskan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang sudah final.

Hal itu mengemuka pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama di komisi Komisi Bahtsul Masail Diniyah -Maudlu’iyah, di Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat.

NU Kembali Tegaskan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kembali Tegaskan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kembali Tegaskan Pancasila

Katib Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir sebagai narasumber memaparkan makalah “Negara Pancasila dalam Perspektif Islam.”

HMI Tegal Kab

Menurutnya, dalam pandangan Islam, sistem pemerintahan masuk dalam kategori wasilah (media), bukan ghayah (tujuan). Sedangkan apa yang masuk dalam kategori ghayah adalah ditegakkannya kesejahteraan dan kemakmuran yang berkeadilan dan berketuhanan.

”Karenanya menjadi masuk akal jika dalam teks wahyu, sistem pemerintahan itu tidak disebutkan secara tersurat dan terperinci. Sebaliknya, teks wahyu banyak berbicara dalam soal negara dan pemerintahan ini secara makro dan universal.”

HMI Tegal Kab

Hal ini, sambung Kiai Afifi, seperti tercermin dalam prinsip-prinsip umum tentang syura (permusyawaratan), ’adalah (keadilan), musawat (persamaan), dan hurriyyah (kebebasan).

“Kalau begitu, maka negara yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negaranya, tidak menjadi persoalan. Meski negara Indonesia bukanlah negara Islam, tetap sah menurut Islam.”

Dalam muktamar NU di Situbondo, sambung Kiai Afif, Pancasila bukanlah agama dan tidak bisa menjadi acuan dalam beragama. Dengan kata lain Pacasila bukanlah syariat. Atau sebaliknya.

Para alim ulama dari seluruh Indonesia menyepakati apa yang dipaparkan narasumber. Misalnya KH Cecep dari Jawa Barat. “Sepakat,” ujarnya “kita tidak perlu mendirikan negara Islam. Tapi cukup dengan negara Pancasila.

KH Imran dari Sumatera Selatan menyatakan hal serupa. “Pada intinya, kami dari Sumsel setuju dengan apa yang disampaikan beliau. Mohon keputusan yang diampil sesuai dengan syar’i.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Anti Hoax, AlaSantri, Tokoh HMI Tegal Kab

Rabu, 08 November 2017

800 Siswa Namira Sumbang Sampah ke LPBINU Sumut

Medan, HMI Tegal Kab. Program Gerakan Amal Sumbang Sampah (GASS) yang digagas Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Utara (Sumut), terus mendapat dukungan dari masyarakat. Kali ini, 800-an siswa Sekolah Namira, Jalan Setiabudi Pasar I Tanjung Sari Medan, mendonasikan sampah anorganiknya untuk LPBI-PWNU Sumut.

Tidak tanggung-tanggung, para siswa Namira bukan hanya mengumpul sampah dari sekolah tapi juga dari rumah masing-masing. Lalu, saecara tertib para siswa mulai dari tingkat TK, SD, hingga SMA dan SMK menyerahkan langsung sampah anorganiknya kepada pengurus LPBI-PWNU, Jumat (9/9) lalu.

800 Siswa Namira Sumbang Sampah ke LPBINU Sumut (Sumber Gambar : Nu Online)
800 Siswa Namira Sumbang Sampah ke LPBINU Sumut (Sumber Gambar : Nu Online)

800 Siswa Namira Sumbang Sampah ke LPBINU Sumut

Sebelum pengumpulan sampah, terlebih dahulu dilakukan penandatanganan naskah Memorandum of Understanding (MoU) atau kerjasama antara LPBI-PWNU Sumut dan Sekolah Namira. Naskah MoU ditandatangani Ketua LPBI-PWNU Sumut Mrwan Azhari Harahap, Ketua Yayasan Fajar Diinul Islam (YFDI) drg H Amir Salim MKes diawakili Sekretaris Muzanni Lubis SPdI, ? Kepala TK Namira Aryani Tarigan, Kepala SD Syafrizal, Kepala SMP Syafrina Khairatun Nizwah, dan Kepala SMK Nurhaida O Siregar.

Penandatangan naskah MoU disaksikan Bendahara LPBI-PWNU Sumut Tamrin Harahap, dan Wakil Ketua Ishak Juharsa Harahap, serta para guru Sekolah Namira. ? ?

HMI Tegal Kab

Dalam acara yang digelar di halaman Sekolah Namira, Jalan Setiabudi Pasar I Tanjung Sari Medan, Ketua LPBI-PWNU Sumut Marwan Azhari Harahap mengatakan, program Gerakan Amal Sumbang Sampah (GASS) bertujuan menggerakkan potensi umat untuk beramal dengan menyumbangkan sampah, atau barang bekas yang masih bernilai ekonomi. Selanjutnya sampah tersebut akan dikonversi menjadi aneka kebutuhan pokok atau uang untuk membantu para korban bencana dan kegiatan kemanusiaan lainnya.

Adapun jenis sampah yang dapat disumbangkan adalah sampah anorganik, yakni sampah yang tidak bisa terurai atau tidak membusuk, seperti sampah plastik, karton atau kertas, dan sampah logam.

"LPBI ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Karena dalam sampah anorganik ? terkandung nilai ekonomi. Hampir 50 jenis sampah bisa dimanfaatkan. Jadi ketimbang dibuang yang bisa mengakibatkan banjir, lebih baik disumbangkan untuk bantuan kemanusiaan lewat ? LPBI-PWNU Sumut," kata Marwan.

Marwan menyatakan siap menjemput ke rumah atau kantor yang ingin mendonasikan sampahnya untuk korban bencana dan kemanusiaan. "Saya siap dihubungi melalui telepon 082370704321," tutur penggiat pelesatrian lingkungan hidup.

Sekretaris YFDI Muzanni Lubis menyatakan, bersedakah kini tak mesti pakai uang, tapi bisa lewat sampah anorganik yang selama ini dibuang begitu saja. "Ayo terus sumbang sampah ke LPBI-PWNU, pahalanya sangat besar karena untuk korban bencana dan kemanusiaan," kata Muzanni yang juga Kepala SMA Namira.

HMI Tegal Kab

Kepala SMK Namira Nurhaida O Siregar berharap, sumbang sampah akan dilakukan secara berkesinambungan. Sebab, program ini akan mendatangkan kebajikan dengan cara sederhana. Karena itu, pihaknya akan membentuk komunitas sumbang sampah di sekolah tersebut.

"Selain beramal untuk korban bencana dan kemanusiaan, sumbang sampah ini akan mendukung program sekolah Adiwiyata, yakni sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan," kata Nurhaida. (Hamdani Nasution/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Aswaja, Tokoh, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Senin, 06 November 2017

GP Ansor Jakbar Gelar Pelatihan Penyembelihan Qurban Steril dan Syari

Jakarta Barat, HMI Tegal Kab - Menjelang Idul Adha, GP Ansor Jakarta Barat menggelar Pelatihan Juru Sembelih Hewan Halal (Juleha) di Masjid Raya Hasyim Asy’ari Daan Mogot, Jakara Barat, Ahad (20/8). Pelatihan ini diadakan sebagai bentuk GP Ansor terhadap hari raya Idul Adha

“Sebagai Banom NU, Ansor ingin mensosialisasikan tata cara penyembelihan qurban yang sesuai syariat Islam dan higienis secara medis,” kata Ketua GP Ansor Jakarta Barat Alfanny.

GP Ansor Jakbar Gelar Pelatihan Penyembelihan Qurban Steril dan Syari (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jakbar Gelar Pelatihan Penyembelihan Qurban Steril dan Syari (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jakbar Gelar Pelatihan Penyembelihan Qurban Steril dan Syari

Instruktur pelatihan ini adalah Drh Elliata dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian Jakarta Barat, KH Yusuf Ismail dari Rijalul Ansor Jakarta Barat, dan Lukman dari Aqiqah Bilik Kambing/Aspaqin.

Pada pelatihan ini peserta mendapatkan teori penyembelihan qurban di kelas. Peserta juga diajak untuk melakukan praktik langsung penyembelihan hewan qurban.

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Ketua Panitia Nahraji Zen mengatakan, panitia menyediakan dua ekor domba untuk simulasi praktik di lapangan.

Alhamdulillah, panitia mendapatkan dukungan dari Aqiqah Bilik Kambing yang dipimpin Sahabat Reza Noval sehingga bisa menyembelih dua ekor domba. Tujuannya adalah peserta dapat melihat langsung penyembelihan sesuai syariat Islam,” kata Zen yang juga mantan Ketua IPNU Jakarta Barat.

Selain mengadakan pelatihan ini, GP Ansor Jakarta Barat bekerja sama dengan Aqiqah Bilik Kambing juga membuka kandang hewan qurban di dekat Masjid KH Hasyim Asy’ari Daan Mogot yang menyediakan hewan qurban layak dengan harga grosir. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Santri, Tokoh, Halaqoh HMI Tegal Kab

Sabtu, 21 Oktober 2017

BI Belum Optimal Dorong Pembangunan Nasional

Jakarta, HMI Tegal Kab. Bank Indonesia (BI) dinilai belum bisa mendorong aktivitas ekonomi secara optimal. Tujuan dan kebijakannya masih tidak selaras dengan kepentingan pembangunan nasional.

BI Belum Optimal Dorong Pembangunan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
BI Belum Optimal Dorong Pembangunan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

BI Belum Optimal Dorong Pembangunan Nasional

Demikian asumsi pokok Komisi Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Qanuniyah dalam penetapan pembahasan UU No. 3 tahun 2004 tentang Bank Indonesia pada Munas dan Konbes NU 2012 di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, 14-17 Septermber nanti.

Komisi yang fokus pada perundang-undangan ini sedikitnya akan mempermasalahkan empat ayat yang tersebar di beberapa pasal berbeda. “Pasal-pasal yang akan dikaji antara lain, Pasal 4 ayat 2, Pasal 7 ayat 1, Pasal 41 ayat 1, Pasal 62 ayat 1,” jelas Sekretaris Komisi Sarmidi Husna, Senin (10/9), di Jakarta.

HMI Tegal Kab

Dalam forum yang dihadiri ratusan kiai itu, NU di antaranya akan mempertanyakan independensi BI yang terlalu liberal. Akibatnya, BI selalu mengacu pada hukum pasar yang dikendalikan oleh modal besar. 

“BI juga dianggap hanya mementingkan pertumbuhan makro ekonomi, tidak mendorong tersedianya modal bagi anak bangsa, perbankan nasional, dan tidak mendorong sektor riil,” ujarnya.

HMI Tegal Kab

PBNU berharap, setelah Munas dan Konbes NU nanti, kebijakan BI lebih berorientasi pada penguatan ekonomi nasional dan ekonomi kerakyatan. “Terutama penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja melalui pengembangan UMKM,” pungkasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote, Tokoh, IMNU HMI Tegal Kab

Rabu, 11 Oktober 2017

Hukum Berzakat untuk Masjid

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail HMI Tegal Kab yang kami hormati. Bahwa masjid di kampung kami sedang dalam tahap renovasi besar-besaran karena memang sudah sangat tua. Tentunya hal ini sangat membutuhkan biaya yang tidak kecil. Yang ingin kami tanyakan adalah bagaimana hukum berzakat untuk masjid. Atas jawabannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Tarno/Pemalang)

Jawaban

Hukum Berzakat untuk Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Berzakat untuk Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Berzakat untuk Masjid

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa zakat adalah salah satu rukun Islam. Muslim yang memang sudah memenuhi ketentuan diwajibkan menunaikan zakat.

HMI Tegal Kab

Lantas didistribusikan kepada siapa zakat tersebut? Dalam konteks pendistribusian zakat, Al-Qur`an dengan gamblang menyebutkan delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat.

HMI Tegal Kab

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sesungguhnya zakat hanya untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Mahamengetahui, Mahabijaksana,” (QS At-Taubah [9]: 60).

Dari ayat ini maka kita dapat memahami bahwa ada delapan golongan yang berhak menerima zakat. Dan dari ke delapan golongan tersebut tak satu pun menyebutkan tentang masjid. Dari sini kemudian kita bisa mengerti kenapa zakat tidak boleh didistribusikan untuk pembangunan masjid. Inilah yang menjadi pendapat empat imam madzhab, yaitu imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Imam empat madzhab telah sepakat bahwa tidak boleh mendistribusikan zakat untuk pembangunan masjid atau mengafani orang mati,” (Lihat Abdul Wahhab Asy-Sya’rani, Al-Mizanul Kubra, Indonesia, Darul Kutub Al-Islamiyyah, juz II, halaman 13).

Namun kendati demikian, pendapat tersebut bukan berarti serta merta sepi dari penyangkalan. Ada saja kalangan yang menyatakan bahwa diperbolehkan untuk memberikan zakat ke masjid. Argumentasi yang dibangun untuk menguatkan padangan ini adalah terletak pada pemahaman makna “fi sabilillah” (untuk jalan Allah) dalam ayat di atas.

Menurut pandangan ini, firman Allah “fi sabilillah” dilihat dari sisi zhahirul lafzh-nya tidak hanya membatasi (al-qashar) pada orang-orang yang berperang. Maka atas dasar inilah, diajukan nukilan Al-Qaffal dari pendapat sebagaian pakar hukum Islam yang menyatakan bahwa boleh mendistribusikan zakat kepada pelbagai sektor kebaikan, seperti mengafani orang mati, membangun benteng, dan memperbaiki masjid.

? ? ? ? ? ? : {? ? ?} ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : {? ? ?} ? ? ?.

Artinya, “Ketahuilah, bahwa zhahir lafazh dalam firman Allah SWT: “fi sabilillah” tidak mengandung kepastian hanya mencakup setiap orang yang berperang. Atas dasar pengertian ini, maka Al-Qaffal menukil pendapat—dalam tafsirnya—dari sebagian pakar hukum yang membolehkan mendistribusikan zakat ke semua sektor kebaikan seperti mengkafani orang mati, membangun benteng, dan memperbaiki masjid. Sebab, firman Allah swt: “fi sabilillah” adalah bersifat umum mencakup semuanya,” (Lihat Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1419 H/1998 M,? juz X, halaman 127).

Berangkat dari penjelasan di atas maka dalam status hukum zakat ke masjid ada dua pendapat. Pendapat pertama yang dipegang oleh empat imam madzhab menyatakan tidak boleh zakat untuk pembangunan masjid. Sedangkan pendapat kedua ada memperbolehkannya.

Namun sayangnya Al-Qaffal sebagai ulama yang menukil dari sebagian fuqaha` tidak menyebutkan dengan jelas siapa para fuqaha` yang memiliki pendapat tersebut. Kendati demikian, pendapat ini dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu semisal di suatu kampung tidak ada orang yang mau menyumbang untuk pembangunan masjid padahal masjid tersebut sudah tidak layak dan harus diperbaiki.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan jelas. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh, Pondok Pesantren, Olahraga HMI Tegal Kab

Senin, 09 Oktober 2017

Saatnya NU Kembali Berkesenian

Jakarta, HMI Tegal Kab. Nahdlatul Ulama (NU) perlu kembali menempatkan kesenian sebagai medan terpenting untuk melakukan kerja-kerja sosial-keagamaan. Sebagai organisasi Islam yang paling gencar mengampanyekan terma “kebudayaan Nusantara” NU akhir-akhir ini semakin jauh dari dunia kesenian.

Hal itu diungkapkan Ahmad Tohari, salah seorang novelis asal pesantren, dalam diskusi bulanan HMI Tegal Kab bertajuk “Sastrawan Santri Menatap Realitas Nusantara” di gedung PBNU, Jakarta, Jum’at (30/6).

Saatnya NU Kembali Berkesenian (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya NU Kembali Berkesenian (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya NU Kembali Berkesenian

Dikatakan Tohari, para pemeluk Islam awal di Nusantara ini sangat antusias dengan berbagai kesenian tradisional. Belakangan kesenian ini tergusur oleh banyak hal, terutama munculnya pemahaman Islam yang kaku dan serba Arab.

“Yang kita butuhkan sebenarnya dalam komunitas NU adalah memberikan kesempatan kepada para seniman dan budayawan, misalnya, kalau ada acara-acara NU dari tingkat Nasional sampai desa. Jadi ada semacam perubahan pikiran yang diharapkan, agar kita kembali berkesenian seperti dulu,” kata Tohari.

Kesenian yang islami, menurut Tohari, tidak hanya berbentuk kasidah, hadrah, nasyid, dan sejenisnya yang biasa diadakan di mesjid-mesjid atau majelis ta’lim. “Apa salahnya nanggap dalang, wayang, menaggap siteran, dan sejenisnya. Sunan Kalijogo itu ngeronggeng beneran lho,” katanya.

HMI Tegal Kab

Satrawan lain yang hadir dalam diskusi terbatas itu, Danarto, menimpali, Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah Islam adalah sosok yang sangat senang dengan puisi? yang sangat digandrungi di Arab waktu itu. “Nabi kalau pengen denger puisi langsung memanggil para penyair dari Hanifiah untuk berlomba membaca puisi di hadapan Beliau,” katanya.

Ahmad Tohari menambahkan, dalam rangka menggeluti kembali dunia kesenian, NU tidak perlu membuat institusi seni? semacam Lembaga Sei Budaya Muslim NU (Lesbumi). Lesbumi sempat berjaya di era Soekarno dan saat ini dalam keadaan hidup-mati, namun, menurutnya, menghidupkan kembali Lesbumi? sangat tidak kontektual.

“Lesbumi waktu itu kan hanya untuk menyaingi Lekra. Biarkan saja para seniman lahir dari rahim NU, ndak usah memberi label NU. Lagi pula, memberikan lebel dalam kesenian? itu adalah suatu pemasungan yang luar biasa. Biarlah kesenian menjalankan tugasnya, meninggikan martabat manusia,” kata Tohari. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Kajian, Kyai, Tokoh HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock