Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri

Batam, NU? Online.

Wakil Ketua Umum PP GP Ansor, Dhohir Farizi, di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (25/11) menegaskan, generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) harus meningkatkan kapasitas diri, satu diantaranya di bidang informasi dan teknologi.

Menurut dia, kader muda NU harus mampu mendapatkan dan mengelola informasi dengan baik, jangan sampai informasi memporakporandakan hubungan seperti diakibatkan media sosial dengan baik.

Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri

"Kita telah melewati berbagai fase, kalau tidak up grade pasti akan ketinggalan," ujar pria karib dipanggil Gus Dhohir itu pula.

Ia lalu mencontohkan pola komunikasi, tahun 1970 hingga 2000 yang mengalami perubahan-perubahan.

Menurut dia didampingi jajaran Assisten Informasi dan Komunikasi Satkornas Banser, hal tersebut bukan tren. Tapi kebutuhan eksistensi yang diperlukan seiring kebutuhan zaman.

HMI Tegal Kab

"Kita harus ada, kalau tidak maka akan ? tenggelam," kata dia lagi pada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III, digelar di Asrama Haji Batam Centre, Engku Putri, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Pada kegiatan bertema Meningkatkan Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mewujudkan Kemandirian Bangsa, Gus Dhohir mengingatkan kader Ansor yang mengikuti Susbanpim untuk menjadi pimpinan yang berkarakter.

"Selain itu, jangan tinggalkan NU, alim ulama dan umat. Ansor adalah organisasi yang jelas, kedepan setiap pimpinan, anggota dari pusat hingga ranting bisa diketahui publik," pungkasnya. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pesantren, IMNU, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Sabtu, 24 Februari 2018

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon

Karanganyar, HMI Tegal Kab. Menyongsong Ramadhan, GP Ansor Karanganyar mengadakan serangkaian kegiatan mulai dari silaturahmi akbar, pengajian,  ziarah, hingga penanaman pohon. Kegiatan yang berlangsung, Ahad (8/6), bertempat di pesantren Miftahul Ulum desa Pablengan Matesih, Karanganyar.

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon

Kegiatan yang digelar keluarga besar GP Ansor Karanganyar ini, merupakan kegiatan rutin tahunan yang digelar menjelang bulan suci Ramadhan.

“Kegiatan rutin menjelang Ramadhan, kami harapkan ke depan bisa terus dilaksanakan secara istiqomah,” kata Ketua GP Ansor Karanganyar Jamaluddin saat memberikan sambutan.

HMI Tegal Kab

Silaturahmi dan pengajian ini yang diawali pembacaan maulid Simthud Duror, dilanjutkan dengan pengajian yang diisi Habib Hasan Al-Kaff dari Solo.

Sebelum penanaman pohon, para pengurus serta anggota Ansor berziarah ke makam Kiai Khusnan Rosyidi, pendiri pesantren Miftahul Ulum Matesih.  Kiai Khusnan tidak lain ialah tokoh dan penggerak NU di Karanganyar.

HMI Tegal Kab

Pesantren Miftahul Ulum sendiri merupakan salah satu pesantren tua di Karanganyar. Sampai saat ini, pesantren itu masih eksis dengan beberapa jenjang pendidikan yang dimiliki. GP Ansor Karanganyar tercatat sudah tiga kali menggelar acara yang sama di pesantren ini. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Pondok Pesantren, Ulama HMI Tegal Kab

Selasa, 13 Februari 2018

Ini Modal Pemimpin GP Ansor Masa Kini

Majalengka, HMI Tegal Kab - Menjadi pemimpin harus menguasai tiga bagian keramahan di antaranya ramah media, ramah bahasa, dan ramah kamera. Kalau tiga hal ini dikuasai, maka peserta pelatihan kepemimpinan lanjutan (PKL) sudah siap menjadi seorang pemimpin.

“Peserta PKL harus mengusai tiga hal keramahan, ramah dalam media, keramahan bahasa, dan keramahan dalam kamera. Jangan sampai peserta PKL keseringan berkamera selfi,” kata Ketua GP Ansor Jabar Deni Ahmad Haidar pada PKL I GP Ansor se-Jawa Barat di Pesanrten Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka, Jumat-Ahad (12-14/8).

Ini Modal Pemimpin GP Ansor Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Modal Pemimpin GP Ansor Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Modal Pemimpin GP Ansor Masa Kini

Deni menambahkan bahwa jadi pemimpin harus menguasai bahasa asing agar menambah pergaulan. Pemimpin juga menunjukkan sikap sebagai seorang pemimpin.

HMI Tegal Kab

“Bisa ramah bahasa bermulai dengan menguasai bahasa asing,” kata Ketua Ansor Jabar ini.

Salah satu peserta PKL dari Majalengka, Wanding Nurdin Ahmad mengatakan, kegiatan ini tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya, pelatihan kepemimpinan dasar dari tiap daerahnya masih-masing. “Saya cukup antusias mengikuti PKL ini,” katanya. (Tata Irawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Senin, 12 Februari 2018

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis

Jakarta, HMI Tegal Kab. Pengurus Koordinator Cabang PMII DKI Jakarta membentuk forum kajian strategis menyangkut persoalan lokal Jakarta, nasional, maupun global. Forum dwi mingguan mewadahi kader PMII DKI untuk cepat merespon persoalan kekinian.

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis

Ketua PMII DKI Jakarta Mulyadin Permana mengatakan, mahasiswa khususnya kader PMII harus memahami kosmos (alam semesta) yang di dalamnya terdapat relasi manusia dan alam.

"KKS adalah wadah bagi kader PMII untuk belajar dan menggali ilmu dari para tokoh NU dan tokoh-tokoh lainnya untuk menjadi landasan gerakan PMII DKI Jakarta ke depan" kata Mulyadin saat peluncuran forum KKS di Gedung PBNU, Jumat (5/12) siang.

HMI Tegal Kab

Mantan Sekjen PMII Usman Sadikin menekankan pentingnya pembangunan karakter manusia. Menurut Usman, orang kini lebih menyalahkan sistem politik. Mereka lalu beramai-ramai memperbaiki sistem. Padahal sebenarnya yang tidak baik adalah orang-orang yang ada dalam sistem itu.

HMI Tegal Kab

"Aturan dan sistem yang baik hanya dilahirkan oleh orang baik. Bukan sistem demokrasi, sistem kerajaan, dan seterusnya yang tidak baik, tetapi sistem itu menjadi tidak baik ketika orang lupa kepada Tuhan," kata Usman.

Sementara Amsar A Dulmanan dalam forum perdana ini mengingatkan misi manusia sebagai khalifah di muka bumi.

"Manusia di bumi bukan untuk penghambaan, tetapi sebagai kholifah yang mengatur kosmos (alam semesta) untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia," tandas Amsar. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Tokoh, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Selasa, 23 Januari 2018

Pekik Kemerdekaan dari Dalam Pesantren

Demak, HMI Tegal Kab - Tak seperti malam biasanya, khusus menyambut peringatan hari kemerdekaan ke-72 RI kegiatan pondok? diliburkan. Sekitar 500-an santri berkumpul di halaman pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah, memakai sarung, baju lengan panjang, dan peci hitam pada Rabu (16/8)

Mereka membentuk barisan layakanya tentara. Menghadap kiblat. Beberapa lampu pondok sengaja dipadamkan. Hanya ada satu sumber cahaya, yaitu sebuah lampu yang digantung di pohon kelapa di muka barisan.

Pekik Kemerdekaan dari Dalam Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekik Kemerdekaan dari Dalam Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekik Kemerdekaan dari Dalam Pesantren

Di tengah-tengah halaman, sebuah bambu berdiri ditopang segitiga bambu yang menyerupai tripod dengan tali pengerek bendera menjulur. Di sebelah utara barisan berdiri sekelompok santri dengan seragam sarung, jas, dan peci hitam. Mereka adalah pasukan paskibraka pondok. Di samping mereka, berdiri secara terpisah komandan upacara, petugas pembaca undang-undang, dan pengiring inspektur.

Petugas pun memulai upacara. Sang komandan memasuki lapangan. Semua santri tampak tenang dan khidmat. Angin malam berembus sepoi-sepoi, menyapu daun, lalu menimbulkan bunyi sayup-sayup. Menambah khusyuk suasana.

HMI Tegal Kab

Segenap pengurus dan dewan asatidz pondok pun turut serta di dalamnya. Berbaris di sebelah selatan berhadapan dengan pasukan paskibraka pada jarak kurang lebih 20 meter. Salah satu pengurus, Kang Ahmad Sahal, bertindak sebagai inspektur upacara.

Begitu dipersilakan, Kang Sahal memasuki lapangan menaiki meja kecil yang sudah dipersiapkan. Sang komandan lalu mengintruksikan hormat pada inspektur dan seluruh peserta mengikutinya.

HMI Tegal Kab

Suasana menjadi semakin hening ketika petugas paskibraka bergerak. Saat bendera telah siap dan semua pasukan mengambil sikap hormat, semua santri bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka tampak bersemangat, suaranya melengking tinggi, seolah-olah ingin didengarkan oleh makhluk seantero jagad.

Pekik kemerdekaan menggema ketika inspektur upacara menyampaikan amanat. "Merdeka! Merdeka! Merdeka!" Semua santri memekik dengan tangan mengepal. Dalam amanatnya, Kang Sahal menekankan pentingnya mensyukuri kemerdekaan.

"Sebagai santri, cara mensyukuri kemerdekaan adalah dengan mengaji, mengaji, dan mengaji," ucapnya dengan lantang.

Kang Sahal juga mengingatkan bahwa NKRI adalah harga mati. Ia menuturkan bahwa sekarang banyak ormas yang tidak mencintai tanah airnya, tidak segaris dengan konstitusi.

"Kita harus mencintai tanah air, karena hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman)." tegasnya.

Upacara itu diakhiri dengan penyalaan petasan kembang api di beberapa sudut pesantren. Kembang api itu membubung tinggi ke langit, menciptakan cahaya yang indah dan bunyi-bunyi yang meriah.

Upacara kemerdekaan merupakan tradisi rutinan di pondok pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, sebagaimana di Pesantren-pesantren yang lain.

"Setiap malam tanggal 17 Agustus kami selalu melakukan upacara kemerdekaan. Bagi kami ini juga bagian dari mengamalkan hubbul wathan minal iman," ucap Kang Solihul Hadi, salah satu pengurus Futuhiyyah. (Muhammad Salafuddin/Ben Zabidy/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nasional, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Senin, 22 Januari 2018

Mocoan

Mocoan adalah tradisi pembacaan karya sastra keagamaan lama di kawasan Banyuwangi, Jawa Timur. Mocoan Banyuwangi, demikian sering kali disebut, merupakan pembacaan lontar Yusuf yang berisi riwayat Nabi Yusuf dari sejak kecil hingga dewasa bertahta di Mesir.

Mocoan digelar sebagai bagian dari acara ruwatan, bersih desa, atau petik laut, serta juga pada acara-acara ritual peralihan (tujuh bulanan, kelahiran, khitanan, pernikahan). Pembacaannya berlangsung semalam suntuk hingga lontar Yusuf itu khatam. 

Belakangan ini mocoan juga sering menjadi seni pertunjukan yang digelar di luar konteks ritualnya sehingga kebanyakan bentuknya telah dipadatkan dan dipersingkat.

Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mocoan

Mocoan Banyuwangi, seperti banyak tradisi tutur lainnya di Nusantara, merupakan produk dari proses akulturasi atau silang budaya dari Islam dan kepercayaan serta kebudayaan lokal, dalam hal ini kebudayaan masyarakat Osing. Persilangan budaya ini bisa ditelisik dari wujud karya sastra yang dibaca, isi, bentuk, tembang, cara melagukan, bahasa yang dipakai, dan fungsinya dalam masyarakat. 

HMI Tegal Kab

Yang disebut sebagai lontar Yusuf pada dasarnya adalah sebuah kitab beraksara Arab pegon dalam bahasa Jawa Madya. Kendati demikian, di dalamnya juga ditemukan banyak kosakata bahasa Osing. Kitab ini disalin dan turunkan dari generasi ke generasi. 

Sebutan “lontar” jelas mengingatkan pada lembaran daun lontar atau kulit ari pohon, media yang dulu digunakan untuk menerakan karya-karya sastra lama. Tradisi pembacaan lontar telah dikenal sejak zaman Hindu-Buddha. Rupanya meski media penulisannya telah berganti dari lontar menjadi kertas, sebutan “lontar” ini tetap lekat. 

HMI Tegal Kab

Lontar Yusuf, atau lebih tepatnya, kitab Yusuf yang tertua di wilayah Banyuwangi disimpan oleh sebuah keluarga dalam bungkusan kain dan tidak boleh dibuka karena dipercaya bisa menimbulkan kebutaan (ngaweng). Dengan demikian yang dibaca dan beredar di kalangan seniman mocoan sekarang ini adalah berupa salinannya.

Lontar Yusuf dituliskan dalam beberapa pupuh (bait), yang namanya mirip dengan tembang macapatan di Jawa. Ada yang terdiri empat pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, dan sinom, dan ada yang enam pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, kusumadiya, arum-arum, dan rancagan. Perbedaan jumlah pupuh ini terjadi karena proses penyalinan yang kadang-kadang berdasar pada hapalan dan perbedaan pertimbangan pengambilan kalimat yang diringkas. 

Kendati demikian, dalam mocoan Pacul Gowang terdapat tambahan beberapa pupuh, yaitu mijil, kesilir, andrian, delimoan, selobok, dan kedendha. Tetapi pupuh-pupuh tambahan ini dianggap bukan bagian dari lontar dan hanya berfungsi sebagai pupuh peralihan yang mengantarkan penyajian dari mocoan yang sifatnya religius menuju mocoan yang sifatnya sekuler (hiburan). 

Perbedaan jumlah salinan pupuh ini tidak mengakibatkan perbedaan dalam penyajian mocoan ketika mereka tampil bersama-sama. Kebanyakan mereka menghapal salinan beserta ding-dungnya, karena bagian ini selalu sama. Ding adalah konsep untuk menyebut kata-kata jawaban di akhir kalimat dalam setiap baris, sedangkan dung adalah konsep untuk menyebut kata jawaban di akhir pupuh.

Ding-dung memiliki kaitan dengan sahut-sahutan yang dilakukan seniman dalam menyajikan lontar. Satu pupuh bisa disajikan oleh seorang saja, tapi bisa juga bergantian. Seandainya disajikan oleh seorang saja, maka yang lain hanya akan ngedingi (menjawab). Ngedingi dilakukan dengan melihat kata akhir dalam kalimat, tetapi bisa juga setelah kata terakhir tersebut usai (endeg-endegan). 

Jika pembaca lain ingin mengganti baris selanjutnya, maka ia akan menyaup (menyahut) kata terakhir yang disajikan penyaji pertama. Biasanya saupan dilakukan dengan menunjukkan ketinggian nada yang berbeda dengan penyaji pertama. Jika sudah disaup, penyaji sebelumnya akan diam dan ganti menjadi tukang ngedingi atau bersiap menyaup bagian selanjutnya. Demikian seterusnya.

Meski tanpa berdasar pada susunan nada-nada instrumen, para etnomusikolog mengamati adanya kesan dua laras (tangga nada) yang dipakai, yaitu modus slendro dan pelog dalam vokal mocoan. Kesan slendro yang muncul beserta eluk-elukan dan gregel-nya dianggap memiliki kedekatan dengan slendro banyuwangen yang digunakan dalam gandrung Banyuwangi. Sedangkan kesan pelog yang lebih dekat ke pelog Jawa, bukan Bali, muncul dalam beberapa pupuh dan lebih banyak tampil sebagai varian penyajian. 

Meski disebut lontar Yusuf, sebenarnya isinya juga menghimpun riwayat nabi-nabi yang lain, seperti Sulaiman, Daud, Shaleh, dan Muhammad. Mocoan jelas merupakan suatu ikhtiar untuk mengambil barakah dari kemuliaan para nabi. Diyakini dengan pembacaan ini, harapan dan keinginan bisa terkabulkan. Meski arti bahasa lontar Yusuf ini tidak dimengerti, kesakralannya tetap diyakini. 

Oleh karena itu para pendengar mocoan kerap menitipkan benda-benda yang terkait dengan hajat mereka untuk diletakkan di bawah lontar yang akan dibaca agar terkabul harapan mereka, misalnya bedak dan sisir, ketika mereka ingin memiliki rupa yang menarik dan memesona sebagaimana Nabi Yusuf. (Sumber: Ensiklopedia NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Kajian Islam, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Rabu, 10 Januari 2018

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta

Bogor, HMI Tegal Kab. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar kuliah umum Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kuliah yang bertemoat di Kampus B STAINU Jakarta, Parung, Bogor, Jawa Barat itu mengangkat tema “Membangun Peradaban Bangsa dengan Tasawuf”.

Dalam kuliah umum pada (24/12), Kiai Said mengupas secara mendalam seluk-beluk ilmu taswuf serta korelasinya dengan pembangunan peradaban. “Sesungguhnya yang paling utama dan yang terpenting dari manusia adalah hatinya,” kata kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta

Hati yang baik, kata Kang Said, secara langsung akan berimbas kepada akhlak yang baik. Maka untuk merawat hati kita membutuhkan piranti yang bernama tasawuf. “Mengamalkan nilai-nilai tasawuf itulah yag saya sebut kemudian sebagai revolusi spiritual,” tutur Kang Said.

HMI Tegal Kab

Ia juga mengatakan bahwa revolusi spiritual lebih penting untuk membenahi bangsa ini dibandingkan dengan revolusi mental. Namun ia menjelaskan bahwa spiritualitas yang baik dapat juga dibangun melalui mental yang sehat.

HMI Tegal Kab

Sebelumnya, Ketua STAINU Jakarta dr. Syahrizal Syarif, PhD mengatakan bahwa kuliah umum STAINU Jakarta sengaja mengabil tema tasawuf. Hal tersebut merupakan respon sivitas akademika STAINU Jakarta yang prihatin dengan semakin lunturnya nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan seharai-hari.

“Kami berharap dengan terangkatnya tema ini, segenap sivitas akademika maupun pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam acara ini kembali menyadari akan vitalnya mengembalikan nilai-nilai tasawuf guna membangun peradaban yang lebih baik dan mapan,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama Syahrizal menjelaskan bahwa pemilihan tema dan narasumber ini juga bertepatan dengan momentum pengukuhan guru besar Prof Dr kepada KH Said Aqil Siroj dalam bidang ilmu tasawuf di UIN Sunan Ampel Surabaya beberapa waktu lalu.

“Kiai Said Adalah pakar tasawuf, dan kami percaya pada beliau. Wujud kepercayaan kami adalah dengan meminta beliau untuk bersedia menjadi narasumber pada kuliah yang memang bertemakan keahlian beliau yaitu Ilmu Tasawuf” tuturnya.

Pada kesempatan itu hadir pelbagai pihak dan pengurus teras PBNU antara lain Bina Suhendra (Bendahara Umum), KH Maksum Machfudz (Ketua PBNU), H. Danial Tanjung (aktivis NU) dan beberapa pejabat daerah kabupaten Bogor dan pengurus PCNU Bogor. (Red: Abdullah Alawi)?

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta

?

Bogor, HMI Tegal Kab

Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar kuliah umum Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kuliah yang bertemoat di Kampus B STAINU Jakarta, Parung, Bogor, Jawa Barat itu mengangkat tema “Membangun Peradaban Bangsa dengan Tasawuf”.

Dalam kuliah umum pada (24/12), Kiai Said mengupas secara mendalam seluk-beluk ilmu taswuf serta korelasinya dengan pembangunan peradaban. “Sesungguhnya yang paling utama dan yang terpenting dari manusia adalah hatinya,” kata kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

Hati yang baik, kata Kang Said, secara langsung akan berimbas kepada akhlak yang baik. Maka untuk merawat hati kita membutuhkan piranti yang bernama tasawuf. Mengamalkan nilai-nilai tasawuf itulah yag saya sebut kemudian sebagai revolusi spiritual,” tutur Kang Said.

Ia juga mengatakan bahwa revolusi spiritual lebih penting untuk membenahi bangsa ini dibandingkan dengan revolusi mental. Namun ia menjelaskan bahwa spiritualitas yang baik dapat juga dibangun melalui mental yang sehat.

Sebelum, Ketua STAINU Jakarta dr. Syahrizal Syarif, PhD mengatakan bahwa kuliah umum STAINU Jakarta sengaja mengabil tema tasawuf. Hal tersebut merupakan respon sivitas akademika STAINU Jakarta yang prihatin dengan semakin lunturnya nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan seharai-hari.

? “Kami berharap dengan terangkatnya tema ini, segenap sivitas akademika maupun pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam acara ini kembali menyadari akan vitalnya mengembalikan nilai-nilai tasawuf guna membangun peradaban yang lebih baik dan mapan,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama Syahrizal menjelaskan bahwa pemilihan tema dan narasumber ini juga bertepatan dengan momentum pengukuhan guru besar Prof Dr kepada KH Said Aqil Siroj dalam bidang ilmu tasawuf di UIN Sunan Ampel Surabaya beberapa waktu lalu.

“Kiai Said Adalah pakar tasawuf, dan kami percaya pada beliau. Wujud kepercayaan kami adalah dengan meminta beliau untuk bersedia menjadi narasumber pada kuliah yang memang bertemakan keahlian beliau yaitu Ilmu Tasawuf ” tuturnya.

Pada kesempatan itu hadir pelbagai pihak dan pengurus teras PBNU antara lain Bina Suhendra (Bendahara Umum), KH Maksum Machfudz (Ketua PBNU), H. Danial Tanjung (aktivis NU) dan beberapa pejabat daerah kabupaten Bogor dan pengurus PCNU Bogor.? ?

?



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Pondok Pesantren, Meme Islam HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock