Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon

Karanganyar, HMI Tegal Kab. Menyongsong Ramadhan, GP Ansor Karanganyar mengadakan serangkaian kegiatan mulai dari silaturahmi akbar, pengajian,  ziarah, hingga penanaman pohon. Kegiatan yang berlangsung, Ahad (8/6), bertempat di pesantren Miftahul Ulum desa Pablengan Matesih, Karanganyar.

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon

Kegiatan yang digelar keluarga besar GP Ansor Karanganyar ini, merupakan kegiatan rutin tahunan yang digelar menjelang bulan suci Ramadhan.

“Kegiatan rutin menjelang Ramadhan, kami harapkan ke depan bisa terus dilaksanakan secara istiqomah,” kata Ketua GP Ansor Karanganyar Jamaluddin saat memberikan sambutan.

HMI Tegal Kab

Silaturahmi dan pengajian ini yang diawali pembacaan maulid Simthud Duror, dilanjutkan dengan pengajian yang diisi Habib Hasan Al-Kaff dari Solo.

Sebelum penanaman pohon, para pengurus serta anggota Ansor berziarah ke makam Kiai Khusnan Rosyidi, pendiri pesantren Miftahul Ulum Matesih.  Kiai Khusnan tidak lain ialah tokoh dan penggerak NU di Karanganyar.

HMI Tegal Kab

Pesantren Miftahul Ulum sendiri merupakan salah satu pesantren tua di Karanganyar. Sampai saat ini, pesantren itu masih eksis dengan beberapa jenjang pendidikan yang dimiliki. GP Ansor Karanganyar tercatat sudah tiga kali menggelar acara yang sama di pesantren ini. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Pondok Pesantren, Ulama HMI Tegal Kab

Belajar dari NU Australia-Selandia Baru

Pelan tapi pasti, kebanggan saya sebagai nahdliyin megembang kembali saat mengikuti Konfercab PCI NU Australia-Selandia Baru, 29-30 Agustus 2014. Perwakilan dari 5 negara bagian ikut hadir: Victoria (Melbourne), New South Wales (Sydney & Wollongong), South Australia (Adelaide), Western Australia (Perth), dan Australian Capital Territory (Canberra).

Sementara dari Selandia Baru dan Northern Territory (Darwin) berhalangan hadir dan di negara bagian Tasmania belum ada kepengurusan NU. Mereka rata-rata adalah calon master dan doktor dari berbagai kampus se-Australia. Sebagain lagi sudah menjadi warga tetap atau permanen residen.

Belajar dari NU Australia-Selandia Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari NU Australia-Selandia Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari NU Australia-Selandia Baru

Konfercab ini istimewa. Pesertanya datang dengan biaya sendiri, menyediakan waktu di sela-sela kesibukan studi dan bekerja. Tak ada janji dari calon ketua yang akan mengganti biaya tiket, misalnya. Begitu pula panitia lokal di Melbourne berjibaku selama sekitar dua minggu untuk menjadi tuan rumah yang baik. Untuk apakah gerangan mereka melakukan ini semua? Saya menemukan satu jawaban yang mungkin tidak canggih: tabarrukan. Ngalap berkah dari para pendiri NU yang sudah visioner menghendaki NU sebagai lembaga yang mengglobal, sebagaimana diperlihatkan oleh lambangnya. Kalau Wahabi yang lahir di Saudi bisa mendunia, Ahmadiyah dari Pakistan bisa mendunia, kini ISIS dari Iraq juga mengguncang dunia, mengapakah NU yang sejak awal berlambang bola dunia tak bisa meraih capaian yang sama? Apa yang kurang dari NU sehingga masih gagap untuk menjadi bagian integral dari warga dunia?

Tiga dari Habib Aji

Ismail Fajrie Alatas memberikan jawaban yang jernih dan jenial. Dalam teleconference (29/8/’14) sebagai prolog Konfercab, Habib Aji, demikian ia biasa disapa, menyampaikan tiga hal yang luput diperhatikan selama ini. Tiga hal yang tidak perlu dicari-cari karena sebenarnya melekat di dalam diri aktivis NU. Pertama, menjaga otoritas keilmuan sebagai ciri mandiri NU. Menjaga sanad keilmuan dan menyebarkannya kepada yang memerlukan. Otoritas keilmuan itu harus dijaga karena hanya dengan itulah nama NU masih layak dipergunakan. Menjadi berbahaya jika otoritas ini semakin tergerus dan setiap orang bisa mengklaim sebagai ulama. Bukankah dunia intelektual Barat itu kita hargai, hingga dikejar untuk kepentingan studi, karena mereka berhasil menjaga otoritas keilmuannya?

HMI Tegal Kab

Implementasi dari sikap ini ialah menerapkan cara pengajaran ulama-ulama NU terdahulu, yaitu memberikan pengajian dengan membacakan kitab-kitab khas pesantren, misalnya kitab-kitab seperti Safinatun Naja, Sullamut Taufiq, Aqidatul Awam. Bukan hanya ceramah lepas yang baik pendakwah maupun pendengarnya susah mengingat-ingat kembali materinya. Kitab-kitab itu dibacakan kepada jamaah di lingkungan PCI NU dengan tidak lupa menjelaskan sanadnya. Dengan demikian, jamaah yang ikut mengaji akan merasa bangga karena mendapatkan ilmu yang sanadnya tersambung kepada ulama-ulama besar, para muallif penyebar berkah keilmuan itu.

HMI Tegal Kab

Kedua, mulai bergabung dengan aliansi Aswaja internasional, misalnya dengan Tabah Foundation yang digerakkan oleh Habib Ali Aljufri (http://www.tabahfoundation.org/en) yang berpusat di Abu Dhabi. Lembaga ini menjadi thing tank? kelas global yang memberikan sumbangsih pemikiran dari perspektif Aswaja, untuk kehidupan yang lebih baik di tingkat dunia. Menurut Habib Aji, intelektual dan cendekiawan NU yang alumni dari mancanegara, sangat ditunggu kiprahnya untuk ikut membesarkan lembaga tersebut. Untuk tingkat Australia, ia menyarankan agar mulai dibangun kegiatan bersama dengan pendatang Malaysia, Brunai, Pattani, yang memiliki tradisi yang sama dengan NU.

Ketiga, pandai-pandai menyikapi perkembangan sosial-media untuk memperluas dakwah dan tidak terjebak dalam budaya baru yang dilahirkan oleh setiap perangkat sosial-media itu. Inilah tantangan yang sulit tapi bukan berati tidak mungkin untuk dilakukan.

Paparan kandidat doktor di Michingan University itu menyadarkan aktivis NU di luar negeri untuk kembali pada dirinya sendiri, pada khazanah pesantren. NU dengan basis pesantren, menurutnya, mempunyai semua modal untuk menjadi bagian dari kegiatan dakwah di tingkat global. Tentu terpulang pada aktivis NU sendiri, apakah peluang yang sebenarnya terbuka itu mau diambil atau disia-siakan. Apakah cukup sebagai jago kandang yang beraninya hanya dengan “pihak tertentu”, atau mulai siap berekspansi menjajal tantangan dan peluang dari warga lokal dan pendatang dari manca negara.

Konfercab Paling Sukses

Saat Konfercab berlangsung, saya lebih banyak diam. Tugas resmi saya adalah bidang media dan publikasi, jadi memang harus lebih banyak menyimak dan mencatat dari pada bicara. Saya menyimak beragam pendapat kawan-kawan dari berbagai latar belakang. Kagum karena tidak semua bergenetika NU, tapi mau bergabung sebagai nahdliyyin.

Ada dua orang utusan yang berhasil membetot perhatian saya: Muhammad Khodafi dari Canberra dan Kiai Muhammad Mubarok Omo dari Perth, yang populer dengan sebutan Ustadz Mumu. Saya kagum dengan idealisme Khodafi saat mengelola majalah Santri yang diterbitkan oleh PP RMI. Rasanya, idealisme saya selama ini tak ada apa-apanya dibandingkan Khodafi. Saya bisa tetap idealis karena jauh dari “godaan“, sementara dia tetap teguh tak tergoyahkan di tengah godaan-rayuan di depan matanya. Saya membayangkan dari tangannya kelak masih akan lahir media NU atau pesantren yang berwibawa dan sukses secara keredaksian dan komersial.

Sementara Ajengan Mumu mengagumkan karena pengalaman panjangnya berdakwah di luar negeri, mulai dari Malaysia hingga Australia. Ia mau "turun gunung“ untuk menghadiri Konfercab dan bersedia menjadi Mustasyar dalam kepengurusan PCI NU 2014-2016. Tanpa ragu ia menyatakan sebagai nahdliyyin dan mengakui berasal dari keluarga nahdliyyin. Ternyata ia asli dari Sukahurip, Galunggung, Tasikmalaya. Tak jauh dari Kikisik. Masih ingat letusan gunung Galunggung 1982 dan misteri sebuah kampung yang lolos dari terjangan lahar? Ajengan Kikisik yang fenomenal itu ternyata masih terhitung kakeknya. Tak heran jika ia menyampaikan bahwa ajakan dzikir bisa menyatukan umat. "Ajakan berdzikir itu bisa meredam konflik internal di antara umat Islam,“ ujarnya. Ia bukan sedang berteori, tapi memaparkan pengalamannya selama ini. Pengalaman ajengan yang tak kehilangan lentong Sunda-nya itu layak dipraktikkan dalam berdakwah di semua negara bagian di Australia.

Diam-diam saya coba mencari-cari suasana khas NU jika mengadakan acara. Suasana ger-geran ala pesantren memang mulai mencairkan suasana. Tapi kekhasan itu saya temukan saat Ustadz Mumu memipin doa penutup acara pembukaan di KJRI. Ia hanya membacakan surat Al-Fatihah, tapi suaranya itu, mengingatkan saya ke dalam suasana riungan NU di tanah air. Ia memang seorang qari yang bersuara berat nan mantap. Suasana NU itu semakin kental saat ia memimpin tahlilan di penghujung seluruh rangkaian Konfercab. Lantunan ayat suci dengan suara merdunya di tengah-tengah tahlilan, benar-benar me-refresh semua rasa lelah, lahir dan batin.

“Inilah Konfercab paling sukses selama ini,” ujar Gus Nadir mengapresiasi seluruh panitia dan peserta. Posisi intelektual dengan dua gelar doktor ini memang sentral bagi PCI NU. Sosoknya dapat menjadi pemacu sekaligus penyeimbang laju roda organisasi. Tanpa segan ia menuangkan minuman bagi para peserta, atau mencarikan kursi bagi yang tidak kebagian tempat duduk. Tak mengherankan jika pakar demografi dari Macquarie University, Dr. Salut Muhidin, mengamini ajakannya untuk bergabung membesarkan PCI NU.

Fase Ketiga

Terpilihnya Tufel Musyadad, alumni IAIN Walisongo Semarang, menandai fase ketiga perkembangan PCI NU. Ia mendampingi Gus Nadir selaku Rais Syuriyah dan Ustad Mumu sebagai salah satu Mustasyar. Fase pertama ialah kelahiran dan peresmian keberadaan PCI NU Australia-Selandia Baru di Canberra pada 2005. Banyak organisasi massa cabang luar negeri yang berhenti pada fase ini. Fase kedua ialah penyesuaian susunan kepengurusan sesuai kebutuhan, pencarian bentuk program, dan? penyesuaian gerak organisasi dengan lingkungan sekitar. Konflik dengan “pihak tertentu” merupakan bumbu dominan dalam fase ini. Tak sedikit ormas Islam yang terpaksa tiarap akibat deraan konflik internal ini. Lalu fase ketiga adalah fase konsolidasi, dimana tiga serangkai permanen residen menjadi figur sentral PCI NU. Sebelumnya, Ketua Tanfidziyah selalu dijabat oleh pelajar yang hanya memegang visa sementara.

Tantangan Tufel ialah mengawal PCI NU memasuki fase keempat, yaitu penguatan fondasi, yang ditandai dengan tampilnya seorang warga Australia, kelak di kemudian hari, sebagai pimpinan. Tidak harus bule, bisa saja ia adalah seorang Muslim Aborigin atau generasi kedua pedatang Indonesia yang sudah menjadi citizen. Namun, itu bukan hanya tugas alumni Stony Brook University, New York itu sendirian, melainkan tugas bersama-sama semua pengurus dan anggota PCI NU. Dengan tampilnya warga Australia sebagai pimpinan NU, maka dalil “NU yashluh li kulli zaman wa makan” menjadi sah adanya. Dan itulah bukti NU yang mendunia, yakni bergabungnya warga dunia ke dalam NU.

Dari Konfercab kali ini saya bisa mendapatkan gambaran yang nyaris utuh mengenai harapan perkembangan PCI NU ke depan. Potensi (kekuatan), tantangan, peluang, dan hambatan yang akan dihadapi terpapar melalui persidangan dan diskusi-diskusi kecil di luar acara resmi. Misalnya kegiatan non pengajian yang selama ini ditunggu-tunggu, dapat terwadahi dalam gagasan Gus Dur Memorial Lecture yang dilontarkan peneliti muda LIPI Muhammad Khoirul Muqtafa. Apalagi nama Gus Dur adalah jaminan mutu bagi dunia intelektual Australia.

PCI NU di seluruh dunia sesungguhnya merupakan aset besar NU. Menarik untuk melihat “pertarungan” di arena Muktamar NU XXXIII 2015 nanti. Apakah PCI NU akan mendapatkan perhatian besar dari induknya kembali atau lagi-lagi kurang dianggap? penting. Dengan dukungan penuh dari PBNU, PCI NU memang akan leluasa bergerak secara terstruktur, sistematis, dan masif. Namun, dengan dukungan seadanya pun, ruang gerak PCI NU tidak harus terhambat. Justru hal itu bisa mendorongnya untuk menjadi otonom dan menumbuhkan dirinya sendiri hingga mencapai tahap kematangan, baik secara organisasi maupun program. Insyaallah.

Rasanya, dengan figur karismatik Nadirsyah Hosen, nyala api harapan dari PCI NU Australia-Selandia Baru akan awet dan tahan dari tiupan angin, bahkan dapat menyinari rumah induknya. ?

Kini, tepat waktunya untuk berkirim hadiah fatihah kepada semua pendiri NU, khususnya Mbah Ridwan Abdullah, sang pencipta lambang NU yang futuristik itu. Alfatihah …

Iip Dzulkipli Yahya, penulis partikelir, saat ini tinggal di Clayton, Victoria, Australia.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama HMI Tegal Kab

Jumat, 23 Februari 2018

Puluhan MTs Ikuti Porseni dan Olimpiade Tingkat Nasional

Jepara, HMI Tegal Kab. Puluhan MTs dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat mengikuti Porseni dan Olimpiade #3 Mapel PAI dan Bahasa Arab Fokus MTs PSA Aidep berlangsung di pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang, Jepara, Selasa-Rabu (15-16/12). Mereka akan memperebutkan juara dari perlombaan PAI, Bahasa Arab, Tenis Meja, Bola Voli dan Futsal.

Puluhan MTs hadir mewakili kabupaten Jepara, Brebes, Banyumas, Cilacap, Semarang, Kabupaten Semarang, Grobogan, Sragen, Boyolali, Sukoharjo, Solo, Pati, Blora, Cianjur, Tasikmalaya, Garut, Lamongan,Tuban dan Bangkalan.

Puluhan MTs Ikuti Porseni dan Olimpiade Tingkat Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan MTs Ikuti Porseni dan Olimpiade Tingkat Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan MTs Ikuti Porseni dan Olimpiade Tingkat Nasional

Miftahuddin yang mewakili Jepara mengatakan, Forum Komunikasi (Fokus) Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pesantren Satu Atap (PSA) Aidep Indonesia merupakan komunitas yang berjalan sudah 9 tahun. Ia berharap komunitas itu semakin berkualitas.

HMI Tegal Kab

Ketua Fokus MTs PSA Aidep Indonesia Saifur Rohman menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan untuk memelihara kerja sama Indonesia dengan Australia. "Ada 504 MTs dari 9 Provinsi yang memperoleh bantuan. Saat ini kita bisa melihat kemajuan secara fisik maupun kualitas pendidikannya," ungkap Saifur.

HMI Tegal Kab

Wujud dari kerja sama yang harmonis itu diharapkan mengantar generasi MTs menuju kesalehan dan berkarakter. Kegiatan yang dilaksanakan saban 3 tahun sekali itu merupakan ajang silaturahmi madrasah penerima bantuan.

Kasi Sarana Prasarana MA Kemenag RI Ruchman Bashori dalam sambutannya menyampaikan, menurut penelitian Mikency Institut tahun 2030 Indonesia memperoleh bonus demografi penduduk yang lebih banyak. Hal itu menurut Ruchman menjadi kekuatan bangsa Indonesia.

"Sehingga anak-anak yang lahir hari ini 20 tahun mendatang ialah yang akan memimpin bangsa," lanjut mantan Kasi Sarpras Kopontren Kemenag RI.

Ia menegaskan, keberadaan madrasah tidak boleh diremehkan. Madrasah harus sejajar dengan sekolah. Seiring dengan olimpiade madrasah kualitas pendidikan berbasis agama itu semakin baik.

"Madrasah lebih baik. Lebih baik madrasah," begitu semboyan di pengujung sambutannya.

Hadir dalam pembukaan kegiatan Kepala Kemenag Jepara Muhdi, Kepala Dinas Pendidikan Jepara Khusairi dan Kasi Kopontren Kanwil Kemenag Jawa Tengah Muhtasit. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pendidikan, Ulama HMI Tegal Kab

Kamis, 08 Februari 2018

Nusron Ingatkan Teladan Pemberdayaan Ekonomi ala Mbah Hasyim

Jombang, HMI Tegal Kab

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid mengatakan, GP Ansor sudah memasuki usia ke-81. Menurutnya, hal ini berarti badan otonom NU ini tergolong sangat dewasa dan karenanya harus bisa mandiri.

Nusron menyampaikan hal itu dalam acara pelantikan pengurus baru Pimpinan GP Ansor Jombang yang diketuai Zulfikar D Ikhwanto, di Gedung PSBR Jombang, Jawa Timur, Ahad (3/5). Ia juga mengingatkan agar GP Ansor setempat tidak mengandalkan bantuan sosial dari seorang Bupati.

"Karena bantuan bisa merusak kemandirian. SDM kita ini sangat besar. Tapi selama ini yang terjadi pengurus tidak concern ngurusi organisasi dan jamaah malah menjadi urusan," sindirnya.

Nusron Ingatkan Teladan Pemberdayaan Ekonomi ala Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron Ingatkan Teladan Pemberdayaan Ekonomi ala Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron Ingatkan Teladan Pemberdayaan Ekonomi ala Mbah Hasyim

Menurutnya, persoalan ke depan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah kemiskinan dan juga menata soal kebhinekaan. "Soal kebhinekaan ini Ansor menjadi pioner. Indonesia pasti terganggu jika tidak ada NU dan Ansor. Jihad kita adalah menata problem kebhinekaan ini," tandas Nusron.

Sementara soal kemiskinan, Nusron mengungkapkan masih ada sekitar 82 juta warga yang miskin dan itu berada di pedasaan khususnya paling besar adalah pulau Jawa. Dan jelas mereka adalah warga Nahdliyin.

“Bagaiman kader Ansor mulai sekarang melakukan transformasi potensi SDM (sumber daya manusia) kepada jamaah, terutama terkait pengembangan ekonomi. Ini juga yang harus digelokarakan pada Muktamar ke-33 NU di Jombang," imbuhnya.

HMI Tegal Kab

Karena itu, menurutnya, persolan kemiskinan tidak bisa hanya diselesaikan dengan pemberian bantuan langsung oleh pemerintah. "Tidak ada ceritanya masyarakat miskin berubah menjadi kaya setelah menerima bantuan, termasuk bantuan sosial, bantuan peternakan, dan lainnya. Silahkan cek, bisa jadi setelah menerima bantuan, sapinya dijual, ini akhirnya menjadi masalah," ungkapnya.

HMI Tegal Kab

Kemiskinan, lanjutnya, hanya bisa diselesaikan dengan legal akses yakni pemberian modal. Dan GP Ansor harus kembali ke awal perjuangan pendiri NU dengan menggali nilai-nilai perjuangan yang diajarkan KH Hasyim Asyari saat mendirikan Syirkatul Inan li Murabahati Ahli al-Tujjar semacam koperasi.

"Dan saya? baca dokumen, bagaimana KH Hasyim memberikan permodalan 50 golden untuk diputar itu pada tahun 1919, yang merupakan cikal bakal berdirinya Nahdhatut Tujjar (Kebangkitan Kaum Pedagang),” ujarnya.

Sementara itu Ketua PCNU Jombang Dr ? KH Isrofil Amar berpesan, usai dilantik pengurus baru GP Ansor Jombang harus giat, santun, berani, dan tetap koordinasi. "Giat ? artinya bekerja dan menggerakkan organisasi, santun tawadluk? kepada kiai dan ulama. Berani, tidak ingah ingih, dan kordinasi dengan NU dan banom banom lainnya, insyaallah jika bisa dilakukan bersama NU dan banom lain maka tujuan NU akan tercapai,"tandasnya. ? (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama HMI Tegal Kab

Kamis, 11 Januari 2018

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan

Jakarta, HMI Tegal Kab. Kepala Perwakilan dan Direktur World Food Programme (WPF) Anthea Webb memberikan apresiasinya untuk Nahdlatul Ulama (NU) dalam perannya di segala bidang termasuk kemanusiaan dan bencana.

Dia menyambangi Kantor PBNU Jakarta, Senin (21/11) untuk mengajak NU bersinergi dan kerja sama dalam penanganan ketahanan pangan, bencana, dan kemanusiaan.

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Pangan PBB Apresiasi NU dalam Peran Kemanusiaan

Ditemui langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan pengurus PBNU lain, Webb menyampaikan bahwa dalam mencegah dan menangani bencana kemanusiaan akibat kelaparan dan gizi buruk, pihaknya tidak bisa bekerja sendirian.

“NU jelas perannya dan nyata mempunyai warga di akar rumput sehingga program ketahanan pangan bisa berjalan maksimal,” ujar Webb.

HMI Tegal Kab

Dia menjelaskan, WPF merupaka lembaga pangan bentukan PBB yang telah berdiri sejak 1963 dan pertama kali bekerja untuk Indonesia tahun 1964 dalam bencana Gunung Agung di Bali telah melakukan gerakan pencegahan kelaparan di banyak negara seperti Suriah, Irak, yaman, Palestina, dan Nigeria.

Lembaga yang berbasis di Kota Roma, Italia itu juga bergerak dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak di seluruh dunia. Dia pun meminta kepada NU untuk bekerja sama dalam pencegahan bencana alam yang selama ini nyata-nyata berdampak pada munculnya bencana kemanusiaan.

HMI Tegal Kab

Hadir dalam pertemuan terbatas itu di antaranya, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Wasekjen Imam Pituduh, Ketua PP LPBINU M. Ali Yusuf, Ketua PP LKNU Hisyam Said Budairy beserta Sekretarisnya Citra Fitri Agustina. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Khutbah, Internasional, Ulama HMI Tegal Kab

Rabu, 10 Januari 2018

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta

Bogor, HMI Tegal Kab. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar kuliah umum Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kuliah yang bertemoat di Kampus B STAINU Jakarta, Parung, Bogor, Jawa Barat itu mengangkat tema “Membangun Peradaban Bangsa dengan Tasawuf”.

Dalam kuliah umum pada (24/12), Kiai Said mengupas secara mendalam seluk-beluk ilmu taswuf serta korelasinya dengan pembangunan peradaban. “Sesungguhnya yang paling utama dan yang terpenting dari manusia adalah hatinya,” kata kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta

Hati yang baik, kata Kang Said, secara langsung akan berimbas kepada akhlak yang baik. Maka untuk merawat hati kita membutuhkan piranti yang bernama tasawuf. “Mengamalkan nilai-nilai tasawuf itulah yag saya sebut kemudian sebagai revolusi spiritual,” tutur Kang Said.

HMI Tegal Kab

Ia juga mengatakan bahwa revolusi spiritual lebih penting untuk membenahi bangsa ini dibandingkan dengan revolusi mental. Namun ia menjelaskan bahwa spiritualitas yang baik dapat juga dibangun melalui mental yang sehat.

HMI Tegal Kab

Sebelumnya, Ketua STAINU Jakarta dr. Syahrizal Syarif, PhD mengatakan bahwa kuliah umum STAINU Jakarta sengaja mengabil tema tasawuf. Hal tersebut merupakan respon sivitas akademika STAINU Jakarta yang prihatin dengan semakin lunturnya nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan seharai-hari.

“Kami berharap dengan terangkatnya tema ini, segenap sivitas akademika maupun pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam acara ini kembali menyadari akan vitalnya mengembalikan nilai-nilai tasawuf guna membangun peradaban yang lebih baik dan mapan,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama Syahrizal menjelaskan bahwa pemilihan tema dan narasumber ini juga bertepatan dengan momentum pengukuhan guru besar Prof Dr kepada KH Said Aqil Siroj dalam bidang ilmu tasawuf di UIN Sunan Ampel Surabaya beberapa waktu lalu.

“Kiai Said Adalah pakar tasawuf, dan kami percaya pada beliau. Wujud kepercayaan kami adalah dengan meminta beliau untuk bersedia menjadi narasumber pada kuliah yang memang bertemakan keahlian beliau yaitu Ilmu Tasawuf” tuturnya.

Pada kesempatan itu hadir pelbagai pihak dan pengurus teras PBNU antara lain Bina Suhendra (Bendahara Umum), KH Maksum Machfudz (Ketua PBNU), H. Danial Tanjung (aktivis NU) dan beberapa pejabat daerah kabupaten Bogor dan pengurus PCNU Bogor. (Red: Abdullah Alawi)?

Ketum PBNU Sampaikan Kuliah Umum Tasawuf di STAINU Jakarta

?

Bogor, HMI Tegal Kab

Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar kuliah umum Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kuliah yang bertemoat di Kampus B STAINU Jakarta, Parung, Bogor, Jawa Barat itu mengangkat tema “Membangun Peradaban Bangsa dengan Tasawuf”.

Dalam kuliah umum pada (24/12), Kiai Said mengupas secara mendalam seluk-beluk ilmu taswuf serta korelasinya dengan pembangunan peradaban. “Sesungguhnya yang paling utama dan yang terpenting dari manusia adalah hatinya,” kata kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

Hati yang baik, kata Kang Said, secara langsung akan berimbas kepada akhlak yang baik. Maka untuk merawat hati kita membutuhkan piranti yang bernama tasawuf. Mengamalkan nilai-nilai tasawuf itulah yag saya sebut kemudian sebagai revolusi spiritual,” tutur Kang Said.

Ia juga mengatakan bahwa revolusi spiritual lebih penting untuk membenahi bangsa ini dibandingkan dengan revolusi mental. Namun ia menjelaskan bahwa spiritualitas yang baik dapat juga dibangun melalui mental yang sehat.

Sebelum, Ketua STAINU Jakarta dr. Syahrizal Syarif, PhD mengatakan bahwa kuliah umum STAINU Jakarta sengaja mengabil tema tasawuf. Hal tersebut merupakan respon sivitas akademika STAINU Jakarta yang prihatin dengan semakin lunturnya nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan seharai-hari.

? “Kami berharap dengan terangkatnya tema ini, segenap sivitas akademika maupun pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam acara ini kembali menyadari akan vitalnya mengembalikan nilai-nilai tasawuf guna membangun peradaban yang lebih baik dan mapan,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama Syahrizal menjelaskan bahwa pemilihan tema dan narasumber ini juga bertepatan dengan momentum pengukuhan guru besar Prof Dr kepada KH Said Aqil Siroj dalam bidang ilmu tasawuf di UIN Sunan Ampel Surabaya beberapa waktu lalu.

“Kiai Said Adalah pakar tasawuf, dan kami percaya pada beliau. Wujud kepercayaan kami adalah dengan meminta beliau untuk bersedia menjadi narasumber pada kuliah yang memang bertemakan keahlian beliau yaitu Ilmu Tasawuf ” tuturnya.

Pada kesempatan itu hadir pelbagai pihak dan pengurus teras PBNU antara lain Bina Suhendra (Bendahara Umum), KH Maksum Machfudz (Ketua PBNU), H. Danial Tanjung (aktivis NU) dan beberapa pejabat daerah kabupaten Bogor dan pengurus PCNU Bogor.? ?

?



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Pondok Pesantren, Meme Islam HMI Tegal Kab

Kamis, 04 Januari 2018

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Dalam kitab suci Al-Quran, istilah pelecehan agama memang tidak ada. Namun dalam konteks yang sama, ada istilah-istilah tertentu yang bisa dipahami sebagai padanan dari pelecehan. Adapun bahaya tindakan melecehkan itu bukan cuma mengancam mereka yang melecehkan, namun juga merugikan objek, pihak, atau orang yang dilecehkan.

Dalam buku ini, Imanuddin dan Zaenal mengidentifikasi adanya tiga kata atau istilah dalam Al-Quran yang bisa dipadankan dengan kata pelecehan. Tiga kata itu bukan cuma berkaitan dengan ajaran agama Islam secara langsung. Namun juga kisah-kisah dari berbagai zaman yang mengeksplorasi tindakan pelecehan berikut bahaya dan bencana yang mengiringinya.

Ketiga kata itu meliputi Huzuw, Laib, dan Sakhira (hlm.71). Kata Huzuw bisa dipadankan dengan kata mengolok-olok. Namun bisa juga diartikan sebagai gurauan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dengan tujuan melecehkan.

Kata Laib bisa diartikan dengan kata bermain atau bermain-main. Namun dalam konteks pelecehan, kata ini bisa diartikan segala aktifitas yang dilakukan bukan pada tempatnya atau untuk tujuan yang tidak benar. Sementara Sakhira adalah mengejek ? (hlm.78-86). Yaitu, menjadikan suatu agama berikut ajaran dan pemeluknya sebagai bahan ejekan yang berorientasi merendahkan atau meremehkan.

Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Bentuk-bentuk pelecehan agama memang banyak ragamnya. Ada pelecehan yang dinyatakan secara verbal, ada pula yang non-verbal. Pelecehan yang berbentuk verbal, cenderung mudah diketahui oleh pihak yang menjadi korban pelecehan secara langsung. Namun tidak demikian pada pelecehan berbentuk non-verbal. Terkadang, malah pihak atau orang ketigalah yang justru mengetahui lebih dahulu adanya tindak pelecehan agama.

Buku ini bukan hanya menyajikan bahasan seputar pelecehan agama secara langsung. Namun juga membahas pelecehan agama yang bermula dari pelecehan terhadap ajaran, pemeluk, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan suatu agama. Karena buku ini berangkat dari wawasan Al-Quran, maka secara tidak langsung, buku ini menitik-tekankan bahasan pada larangan keras bagi umat Islam yang ingin melecehkan agama Islam maupun agama lain.

HMI Tegal Kab

Sebagai bangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat berbagai pemeluk agama dan keyakinan, sudah semestinya bagi kita untuk tetap saling menghormati dan tenggang-rasa. Khususnya seputar keberagamaan dan keberagaman. Sebab dengan menahan diri dan minat dari melecehkan agama lain, kedamaian akan mudah terbentuk dan terjaga dengan sendirinya. Selanjutnya, kita bisa beribadah dengan tenang dan nyaman sesuai agama dan keyakinan masing-masing.?





Info Buku

Judul ? ? ? ? ? ? ? : Jangan Nodai Agama: Wawasan Al-Quran tentang Pelecehan Agama

HMI Tegal Kab

Penulis ? ? ? ? ? : Imanuddin bin Syamsuri, Lc. MA dan M. Zaenal Arifin, MA

Penerbit ? ? ? ? : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Cetakan ? ? ? ? : I (pertama), 2015

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : xviii+190 halaman

ISBN ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-229-457-3





Peresensi

Muhammad Ghannoe

Aktif di komunitas Nandha, Bantul.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Humor Islam, Aswaja HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock