Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Al-Qur’an Terjemahan

Seseorang tamu berjenggot dan celana cingkrang bertamu ke rumah kiai di salah satu pesantren tahfid Al-Qur’an. Ada apa gerangan? Ia mengkritik kiai karena hanya mengajarkan menghafal Al-Quran kepada para santrinya tanpa memahami artinya.

Tamu: Maaf kiai, menurut saya, pesantren Anda tidak mencetak orang pintar cuman bisanya membunyikan Al-Quran!

Kiai: Ya maaf saya bisanya cuman itu.

Tamu: Tapi Kiai.. Kapan umat Islam bisa bebas buta makna Al-Quran kalau pondok ini cuma ngajar apalan doang?

Al-Qur’an Terjemahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Qur’an Terjemahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Qur’an Terjemahan

Kiai: Ya itulah kita harus berbagi tugas! Saya dan santri saya bagian hapalan Qurannya! Dan…. (Kiai terdiam sejenak. Tamu itu juga masih diam.)

Kiai: Dan.. Anda bagian terjemahannya. ? ----(Yahya)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Tokoh, Kajian Islam, Internasional HMI Tegal Kab

Selasa, 06 Februari 2018

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Magetan, HMI Tegal Kab. Kiai Sholikhin menjelaskan, kenduri tahlilan yang biasa dilakukan masyarakat pada hakikatnya adalah dzikir kepada Allah SWT. Dalam Al-Quran dzikir diperintahkkan melalui ayat “fadzkurullaha dzikron kasira”(perbanyaklah dzikir kepada Allah).

Ia menambahkan, dalam tahlilan juga ada bacaan tasbih yang diperintahkan Al-Quran pada ayat “fasabihu bukrota waashila”. Juga shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta bacaan lain yang diperintahkan dalam Al Qur’an.

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Meski demikian, Kiai Sholikhin menganjurkan agar warga masyarakat, khususnya orang NU juga harus menyadari imbauan secara langsung tentang tahlilan di dalam Al Qur’an tidak ada. ”Tidak ada ayat yang mengimbau secara langsung untuk tahlilan misal yaayuhaladzina amanu hallilu tahlillan, tidak ada,” tegasnya pada pengajian di halaman kator PCNU Magetan, Ahad (8/6).

HMI Tegal Kab

Kemudian ia menukil perkataan kiai Mukhtar Syafa’at Blok Agung Banyuwangi yang mengumpamakan tahlilan dan Al Qur’an itu seperti wedang jahe dan air sumur.

HMI Tegal Kab

“Kulo nante mireng dawuhe almaghfurlah kiai Mukhtar Syafa’at nyontoheke sing cocok antarane Al Qur’an karo tahlilan iku koyok banyu sumur karo wedang jahe. Wedang jahe itu tahlilan, Al Qur’an itu air sumur.”

Kiai asal Surabaya tersebut menjelaskan maksud perkataannya, “jika kamu hendak mencari wedang jahe di sumur maka tak akan ketemu sampai kapan pun, tapi sadarilah bahwa wedang jahe ini airnya berasal dari air sumur.”

Hal ini, tambah dia, sama ketika mencari perintah tahlilan di dalam Al Qur’an, maka tidak akan ketemu, namun harus diketahui bahwa isi bacaan tahlilan itu berasal dari perintah Al Qur’an. (?Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Pesantren, Humor Islam HMI Tegal Kab

Minggu, 04 Februari 2018

206 Peserta Ikuti Diklatsar Banser dan Fatser

Banyumas, HMI Tegal Kab. Sebanyak 206 peserta mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser Fatayat Serba Guna (Fatser) di MI Maarif NU 1 Tipar dan aula Balai Desa Tipar, Kecamatan Rawalo, Banyumas, Jumat - Ahad (7-9/4).

Pembina PAC GP Ansor Rawalo, Habib Mahfud, mengatakan, pengkaderan Banser-Fatser di Desa Tipar sedikit berbeda dengan Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) lain. Penanaman ideologi aswaja an-Nahdliyah menghadirkan instruktur dari wilayah dan nasional.

206 Peserta Ikuti Diklatsar Banser dan Fatser (Sumber Gambar : Nu Online)
206 Peserta Ikuti Diklatsar Banser dan Fatser (Sumber Gambar : Nu Online)

206 Peserta Ikuti Diklatsar Banser dan Fatser

"Tujuan kegiatan ini secara prinsip, menanamkan paham aswaja an-Nahdliyah, patriotisme terhadap NKRI. Orang ber-NU itu adalah berislam Ahlusunnah wal Jamaah dan juga bernegara kesatuan Republik Indonesia," katanya.

Ia menambahkan, kewajiban pengurus Ansor untuk melakukan pengkaderan, karena sesungguhnya Ansor ini adalah organisasi kader, sehingga yang masuk di Ansor harus di kader untuk menjadi kader muda NU.

HMI Tegal Kab

"Karena Ansor adalah organisasi pengkaderan, maka kegiatan diklatsar adalah suatu kewajiban. Ini juga untuk semakin meningkatkan kapasitas anggota dalam rangka mencegah gerakan-gerakan radikal. Ini harus dimiliki oleh setiap kader," ujar Habib Mahfud yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Rawalo.

Pada kesempatan itu, Ketua Pengurus Cabang GP Ansor Banyumas, Khasis Munandar berpesan, kegiatan Diklatsar Banser ini diharapkan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para peserta.

"Ikutilah kegiatan Diklatsar Banser dengan gembira, ikuti semua rangkaian dari awal hingga akhir. Kami selalu mengingatkan untuk niat ikhlas dalam berjuang di Ansor-Banser, Ansor-Banser tidak butuh kita, tapi kita yang butuh Ansor Banser " tandasnya. (Miftah Ahmad/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Internasional HMI Tegal Kab

Senin, 29 Januari 2018

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa

Bandung, HMI Tegal Kab

Peran mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai kaum muda intelektual yang menjadi estafet ulama akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat sebagai generasi yang aktif, inovatif dan kreatif. Sehingga bisa membawa NU dan Indonesia yang akan datang harus lebih baik.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj saat mengisi pembukaan Musyawarah Nasional Ke-2 Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung, Jum’at (22/1).

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Muda NU Diminta Jadi Garda Depan Kemajuan Bangsa

Kiai Said mengajak kaum muda NU untuk memahami berbagai permasalahan yang dihadapi oleh NU dan bangsa Indonesia di masa sekarang dan mendatang. “Harus ada perubahan supaya kalian bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tuturnya dihadapan ratusan mahasiswa NU yang hadir pada acara tersebut.

Sementara itu, Kepala Biro Pelayanan Dasar Setda Provinsi Jawa Barat H Dady Iskandar mengatakan, kehadiran dan peran NU di Jawa Barat sebagaimana dalam Indonesia merupakan komponen yang tidak bisa dipisahkan, apalagi mayoritas kaum muslim di Jawa Barat adalah kaum Nahdliyyin.?

“Baik buruk, jasad maupun ruhnya muslim Jawa Barat yang di dalamnya termasuk kaum Nahdliyyin akan sangat menentukan maju atau mundurnya muslim di Jawa Barat,” ungkapnya membacakan sambutan dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

HMI Tegal Kab

Pihaknya meminta kepada mahasiswa, masyarakat, ulama dan pemerintah untuk senantiasa bahu-membahu menghadapi tantangan Indonesia ke depan. “Sekaligus Keluarga Mahasiswa NU melakukan gerakan untuk menghadirkan tatanan masyarakat madani,” harapnya.

Senada dengan sebelumnya, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat H Eman Suryaman menilai Indonesia kini menghadapi berbagai tantangan global, khususnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang saat ini sudah bergulir.

HMI Tegal Kab

Sehingga Eman meminta kepada kaum muda NU untuk ikut berperan aktif menghadapi tantangan tersebut dengan menggunakan ilmu pengetahuan. “Kita jangan jadi penonton, tapi juga pelaku,” terang pria asal Cirebon itu.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Furqon memaparkan bahwa suatu saat nanti Indonesia akan mengalami bonus demografi yang puncaknya diperkiraan sekitar tahun 2035.

Menurutnya, Indonesia yang kini menempati urutan ke-7 negara dengan kemajuan ekonomi bisa menjadi nomor satu tatkala generasi muda menyiapkan sumber daya manusianya. “Apalagi kader muda NU, harus tampil di depan,” tegas Prof Furqon yang menyambut baik terselenggaranya Munas Ke-2 KMNU di UPI. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sholawat, Internasional, Kajian Islam HMI Tegal Kab

Minggu, 28 Januari 2018

Sarasehan Kebangsaan IPPNU Semarang

Semarang, HMI Tegal Kab. Puluhan pelajar NU mengikuti sarasehan kebangsaan yang diselenggarakan IPPNU kota Semarang di pesantren Al-Asror, Gunungpati, Semarang, Sabtu (27/9). Mereka mengkaji implementasi nasionalisme dalam konteks globalisasi.

Ketua IPPNU kota Semarang Iin mengatakan, sarsehan ini diadakan mengingat pentingnya penanaman sikap dan mental nasionalisme. Menurut Iin, perspektif nasionalisme meningkatkan semangat perjuangan kader NU di bidang agama dan hidup sosial berbangsa dan bernegara.

Sarasehan Kebangsaan IPPNU Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarasehan Kebangsaan IPPNU Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarasehan Kebangsaan IPPNU Semarang

“Jika kader NU tidak memiliki sikap nasionalisme, pasti sedikit demi sedikit peradaban Indonesia akan runtuh. Mari kita bersama-sama tanamkan sikap nasionalisme. Di tangan pemuda sebuah bangsa akan maju,” kata Iin yang kini tercatat sebagai mahasiswi Unisula Semarang.

HMI Tegal Kab

Kader NU memang dituntut memiliki wawasan lebih. “Dengan wawasan yang luas, kita akan bisa memahami kebhinekaan. Sebab  di Indonesia itu ada agama, budaya, dan bahasa yang berbeda-beda,” kata narasumber sarasehan Rizka.

HMI Tegal Kab

Tanpa pengetahuan yang luas, maka warga Indonesia sulit menerima indahnya kebhinekaan di Indonesia.

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Walisongo ini juga mengimbau peserta sarsehan untuk teguh berjuang. “Jangan jadi kader yang lembek, tidak tahan banting dan tak percaya diri,’’ pungkas dosen berpenampilan menarik itu.  (M Sabiq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Hadits HMI Tegal Kab

Selasa, 23 Januari 2018

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menggunakan Media Sosial?

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Pokja Cyber MUI Thobib Al-Asyhar mengatakan, media sosial memiliki efek positif tapi juga ada dampak negatifnya, tergantung siapa dan digunakan untuk apa. Lalu bagaimana seharusnya seorang Muslim menggunakan media sosial? Thobib menyebutkan, seorang Muslim harus memperhatikan empat hal ketika bermedia sosial. 

“Pertama, membangun kesadaran siapa sesungguhnya kita. Kalau kita tahu siapa kita, maka kita tidak akan sembarangan membuat status dan komen,” kata Thobib di Jakarta, Kamis (14/12).

Kedua, memahami dosa yang tidak terbatas. Apabila informasi yang disebarkan di media sosial itu tidak benar dan hoaks, maka orang yang menyebarkannya tersebut akan menanggung dosa atas informasi yang tersebar luas tersebut. Bagi Alumni Pesantren Futihiyyah Demak itu, seorang Muslim harus lebih hati-hati dalam bermedia sosial dan menyebarkan informasi.  

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menggunakan Media Sosial? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menggunakan Media Sosial? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menggunakan Media Sosial?

“Jika ingin mengorfimasi berita, tanyakan ke orang yang bersangkutan langsung,” tegasnya.

Ketiga, memahami bahwa setiap pikiran dan kata adalah kekuatan. Orang yang memiliki pikiran yang positif, maka hidupnya akan tenang. Begitupun dalam bermedia sosial, seorang Muslim harus menulis status yang positif dan bermanfaat kepada orang lain. 

HMI Tegal Kab

“Jangan hanya curhat dan mengeluh di media sosial,” kata Dosen di Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia itu.  

Keempat, mematuhi adab komunikasi dan menyebarkan berita. Seorang Muslim harus menggunakan adab dan akhlak yang mulia dalam bermedia sosial. (Muchlishon Rochmat)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Fragmen HMI Tegal Kab

Kamis, 18 Januari 2018

Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu

Solo, HMI Tegal Kab. Menjelang berakhirnya Ramadhan, sejumlah masjid di Solo memberikan santunan kepada para anak yatim piatu. Seperti yang dilakukan oleh takmir Masjid Agung Surakarta, Rabu (23/7) lalu, mereka membagikan bantuan kepada puluhan anak.

Sekretaris Masjid Agung Surakarta Abdul Basyid menjelaskan, momentum menjelang lebaran ini sengaja dipilih, untuk membagi kebahagiaan kepada anak-anak tersebut. “Ya, ini sebagai hadiah untuk lebaran, sekaligus juga dapat dimanfaatkan untuk awal memasuki tahun ajaran baru sekolah,” terangnya.

Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Lebaran, Sejumlah Masjid di Solo Santuni Yatim-Piatu

Basyid menambahkan, untuk santunan kali ini pihaknya membatasi hanya kepada anak-anak yang berusia maksimal kelas 3 SMP. Ia berharap, dengan adanya bantuan ini menjadi sarana kesuksesan anak.

HMI Tegal Kab

“Semoga mereka menjadi anak yang pintar, dan ke depannya bahkan menjadi orang yang sukses,” ungkap mantan pengurus Gerakan Pemuda Ansor Solo itu.

Harapan tersebut rupanya tak jauh berbeda dengan yang diutarakan panitia Santunan Anak Yatim yang diselenggarakan di Masjid Tegalsari Solo, di hari yang sama. Mereka berharap dengan adanya santunan secara rutin, dapat memberikan efek yang lebih besar, yakni diharapkan anak-anak tersebut kelak bahkan dapat menjadi orang yang sukses dan ikut menjadi penyantun. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Cerita HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock