Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Taushiyah PBNU Soal Pemilu 2014

? ? ? ?

Alhamdulillah, berkat taufiq, hidayah, i’anah dan ‘inayah-Nya, bangsa Indonesia telah selesai melaksanakan agenda kenegaraan yang sangat penting, yakni Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif pada tanggal 9 April 2014.

Kendati di sana-sini masih terdapat berbagai kekurangan dan kelemahan yang perlu dibenahi di masa-masa mendatang, namun secara umum Pemilu telah berlangsung dengan aman dan damai.

Tiga bulan setelah selesainya Pemilu Legislatif, tepatnya pada tanggal 9 Juli 2014 bertepatan dengan bulan Ramadlan 1435 H, bangsa Indonesia kembali menyelenggarakan agenda kenegaraan yang tak kalah pentingnya, yakni Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (Pilpres).

Taushiyah PBNU Soal Pemilu 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Taushiyah PBNU Soal Pemilu 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Taushiyah PBNU Soal Pemilu 2014

Agar supaya Pilpres berlangsung dengan aman dan lancar serta menghasilkan pemimpin yang terbaik bagi bangsa, negara dan agama, maka Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menganggap perlu untuk menyampaikan taushiyah berikut ini:

Keikutsertaan secara aktif warga negara dalam pilpres merupakan perwujudan dari rasa tanggung jawab akan kelangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah menjadi kesepakatan kita bersama untuk menjaganya. Bahwa partisipasi dalam pilpres dapat dianggap sebagai bentuk ibadah, selama hal itu dilakukan dengan cara-cara yang baik dan benar, yang mengindahkan nilai-nilai agama dan moral. Sebaliknya, manakala partisipasi itu dilakukan dengan menghalalkan segala cara (al-ghayah tubarrir al-wasilah), maka hal itu merupakan bentuk kedurhakaan (maksiat) kepada Allah swt dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara. Bahwa money politics yang terbukti telah terjadi dalam pemilu legislatif yang lalu, baik yang melibatkan para calon anggota legislatif (caleg), tim sukses dan masyarakat pemegang hak pilih maupun aparat penyelenggara pemilu, tidak boleh berulang kembali pada pilpres yang akan datang. Money politics adalah bentuk suap (risywah). Ia merupakan risywah siyasiyyah (suap yang berdimensi politik), sehingga baginya berlaku sabda Nabi saw:

 ? ? ? ? - ? ?

HMI Tegal Kab

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? - ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ?

Mengimbau kepada warga NU khususnya dan masyarakat serta bangsa Indonesia pada umumnya, untuk melakukan istighatsah, memohon pertolongan Allah swt agar pilpres nanti dapat berlangsung dengan aman, damai, dan lancar. Semoga Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih nanti benar-benar merupakan sosok pemimpin yang amanah, yang mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan. Pemimpin yang memiliki kemampuan untuk membawa bangsa Indonesia menuju kehidupan yang adil, makmur dan bermartabat. Mengimbau kepada warga NU khususnya dan segenap anak bangsa pada umumnya untuk menjaga ikatan tali persaudaraan (ukhuwwah), kendati terjadi perbedaan pilihan dan dukungan di antara mereka. Kita wajib bersama-sama menciptakan iklim dan suasana damai, jauh dari hiruk pikuk provokasi dan agitasi yang mengancam keutuhan bangsa dan negara.  

Semoga Allah SWT berkenan mengabulkan harapan kita dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Amin ya Mujibas-sailin!

HMI Tegal Kab

Wa akhiru da’wana ‘anil-hamdu lillahi Rabbil-‘alamin, wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.

 

Jakarta, 30 Jumadal-Akhirah 1435 H

                  30  April 2014 M

 

 

Dr. KH. A. Mustofa Bisri (Pj. Rais Aam)



Dr. KH. A. Malik Madaniy, MA (Katib Aam)



Dr. KH, Said Aqil Siroj, MA (Ketua Umum)



Dr. H. Marsudi Syuhud (Sekretaris Jenderal)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri HMI Tegal Kab

Selasa, 20 Februari 2018

Seputar Bidah dan Inovasi Beragama

Oleh Munandar Harits Wicaksono

Islam sebagai agama, dianggap penting karena memiliki dua rujukan yang dengan keduanya manusia diatur sedemikian rupa. Al-Qur’an, sebagai rujukan yang pertama merupakan sebutan untuk lafadh yang Tuhan turunkan kepada Nabi Muhammad di mana bacaannya mengandung sisi ijaz (melemahkan; mukjizat) bagi penentangnya dan bernilai ibadah dengan membacanya. Sementara hadits, sebagai rujukan kedua adalah ucapan Nabi Muhammad pasca ia diangkat Tuhan menjadi utusannya.

Seputar Bidah dan Inovasi Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Seputar Bidah dan Inovasi Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Seputar Bidah dan Inovasi Beragama

Keduanya merupakan wasilah Tuhan memperkenalkan diri-Nya, mengingatkan manusia mengenai hakikat hidup, dan tak luput mengatur segala aspek mulai dari skala mayor dan urgen seperti perkara ketuhanan, konsep interaksi dengan sesama manusia, hingga perkara kecil nan sepele seperti halnya berpakaian dan lain-lain.

HMI Tegal Kab

Di masa awal pembentukan syariat, keberadaan Nabi Muhammad sebagai penyambung lidah Tuhan sangat dibutuhkan. Hadits sebagai ucapannya punya kedudukan tidak hanya sebagai penjelas, tapi dalam berbagai masalah menjadi pijakan hukum atas hukum yang belum tersebut dalam Al-Qur’an. Maka ketika muncul suatu masalah yang belum diketahui hukumnya, mudah saja orang di masa itu akan segera bertanya kepada beliau. Kemudian dalam beberapa kasus Tuhan akan mengklarifikasi maupun memperkuat jawaban Rasulullah tersebut.

Meskipun demikian, Islam di masa itu tidak serta-merta menetapkan hukum sepihak semacam diktator. Dalam berbagai kesempatan Nabi Muhammad mengatakan, "Permudahlah, jangan mempersulit!" Bahkan ucapan itu diulang-ulang sampai tiga kali, menunjukkan betapa kuatnya anjuran tersebut.

HMI Tegal Kab

Hal ini jelas kontradiktif dengan apa yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini. Kita dihadapkan pada fenomena merebaknya pemikiran-pemikiran kaku yang sangat enggan berinovasi dalam beragama. Menggunakan dalih hadits "Setiap perbuatan bidah atau yang tidak dicontohkan Muhammad adalah sesat" mereka seenaknya sendiri menyalah-nyalahkan golongan lain.

Padahal, hadits yang diucapkan ini sejatinya masih sangat global. Dalam redaksi bahasa Arab lafadh kullun yang memiliki makna setiap (seperti dalam hadits di atas) memiliki 2 padanan makna. Terkadang lafadh kullun ini digunakan untuk makna jam , yang berarti ia tidak menerima pengecualian. Kadang pula ia bermakna jami dimana ia menerima pengecualian.

Berkaca pada hal tersebut, para cendikiawan muslim moderat memberikan definisi yang relevan dengan makna bidah yang dikehendaki Nabi. Salah satu definisi yang adil menyebutkan bidah adalah sebuah ajaran baru yang dibuat-buat untuk menandingi syariat.

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah semisal acara 40 hari memperingati kematian yang di dalamnya terdapat kandungan silaturahim, membaca Al-Qur’an bersama dan segala perbuatan baik lainnya dibuat untuk menandingi syariat? Tentu tidak.

Seperti inilah yang kami maksudkan sebagai fenomena pemikiran kaku dan enggan berinovasi di atas. Hal ini diperparah dengan masyarakat kita yang cenderung hanya melihat cover dan mengabaikan substansi sebenarnya. Padahal, sejatinya sudah menjadi maklum bersama, mengingat Wali Songo di masa penyebaran Islam di Tanah Jawa juga membungkus ajaran-ajarannya dengan budaya.

Satu yang menarik terkait inovasi dalam beragama adalah sebuah riwayat hadits yang disebutkan dalam kumpulan hadits Imam Nawawi dalam kitab Riyadlush Shalihin. Disebutkan suatu ketika seorang Baduwi melakukan tawaf mengelilingi kabah menyebutkan kata-kata yâ karîm (yang tentu tidak pernah diajarkan Nabi Muhammad) berulang kali. Heran akan hal tersebut, Nabi Muhammad menghampirinya bersamaan dengan turunnya Jibril. Lalu terjadilah percakapan yang sejatinya melibatkan 4 subjek. Tuhan, Jibril, Muhammad dan orang Baduwi tadi.

Singkat cerita, Tuhan melalui Jibril, disampaikan oleh Muhammad, bertanya pada Baduwi tersebut, "Apakah kau kira dengan mengucapkan yâ karîm (wahai Yang Maha Mulia), Tuhan akan mengampuni dosa dan memperingan timbangan burukmu?" Secara spontan baduwi itu menjawab "Kalau Tuhan berani menimbang amalanku, akan kutimbang balik Ia!" Mendengar jawaban tersebut Nabi Muhammad kaget bukan kepalang. Lantas ia bertanya, "Bagaimana bisa?" Baduwi segera menjawab "kalau Tuhan menimbang amalan burukku, akan kutimbang pula rahmat dan kasih sayangNya. Saya yakin rahmat-Nya jauh lebih besar daripada dosa saya." Lalu apa kata Tuhan? Tuhan justru berkata "Muhammad, sampaikan pada Baduwi itu, aku tidak akan menimbang-nimbang amal buruknya."

Menarik. Ada dua poin utama dalam hadits tersebut yang bisa kita ambil kesimpulan. Yang pertama adalah bagaimana baduwi tersebut melakukan sebuah perbuatan yang tidak pernah diajarkan Nabi Muhanmad. Ia berinovasi dengan melakukan perbuatan yang membuat Rasulullah terheran-heran, namun secara substansial ia menyetujuinya.

Poin kedua adalah terkait pola pikir inovatif Baduwi tersebut. Bagaimana ia dengan cerdas justru hendak menggugat Tuhan. Pola pikir seperti inilah yang mati suri dalam masyarakat kita dewasa ini. Kita terlampau asyik dalam pola pikir jumud yang tidak kunjung usai. Padahal, justru dengan pola pikir inovatif dan sedikit “nakal” seperti inilah Islam bisa maju dan berkembang. Selama, ia tidak keluar dari batas koridor kewajaran.[]

Penulis adalah Alumnus MAPK Surakarta tahun 2013/2014. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Al Ahqoff, Tarim, Hadramaut, Yaman. Menyukai puisi, sastra dan sedikit kopi. Bisa dihubungi lewat akun twiter @munandarharits1



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Santri, AlaSantri HMI Tegal Kab

Senin, 12 Februari 2018

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis

Jakarta, HMI Tegal Kab. Pengurus Koordinator Cabang PMII DKI Jakarta membentuk forum kajian strategis menyangkut persoalan lokal Jakarta, nasional, maupun global. Forum dwi mingguan mewadahi kader PMII DKI untuk cepat merespon persoalan kekinian.

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis

Ketua PMII DKI Jakarta Mulyadin Permana mengatakan, mahasiswa khususnya kader PMII harus memahami kosmos (alam semesta) yang di dalamnya terdapat relasi manusia dan alam.

"KKS adalah wadah bagi kader PMII untuk belajar dan menggali ilmu dari para tokoh NU dan tokoh-tokoh lainnya untuk menjadi landasan gerakan PMII DKI Jakarta ke depan" kata Mulyadin saat peluncuran forum KKS di Gedung PBNU, Jumat (5/12) siang.

HMI Tegal Kab

Mantan Sekjen PMII Usman Sadikin menekankan pentingnya pembangunan karakter manusia. Menurut Usman, orang kini lebih menyalahkan sistem politik. Mereka lalu beramai-ramai memperbaiki sistem. Padahal sebenarnya yang tidak baik adalah orang-orang yang ada dalam sistem itu.

HMI Tegal Kab

"Aturan dan sistem yang baik hanya dilahirkan oleh orang baik. Bukan sistem demokrasi, sistem kerajaan, dan seterusnya yang tidak baik, tetapi sistem itu menjadi tidak baik ketika orang lupa kepada Tuhan," kata Usman.

Sementara Amsar A Dulmanan dalam forum perdana ini mengingatkan misi manusia sebagai khalifah di muka bumi.

"Manusia di bumi bukan untuk penghambaan, tetapi sebagai kholifah yang mengatur kosmos (alam semesta) untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia," tandas Amsar. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Tokoh, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Rabu, 07 Februari 2018

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah

Sumenep, HMI Tegal Kab - Satkorcab Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kabupaten Sumenep tidak hanya mengedepankan kedisiplinan dan pengamanan daerahnya. Mereka juga memedulikan pentingnya penguatan marwah NKRI.

Salah satu upaya yang dilakukannya ialah dengan melangsungkan istighotsah berjamaah secara rutin. Marwah NKRI diyakini dapat tercapai manakala diiringi dengan penajaman spiritualitas orang-orang yang memperjuangkannya.

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah

"Sudah tak terhitung berapa kali kegiatan istighotsah yang dilakukan sahabat-sahabat Banser Kabupaten Sumenep. Mereka semangat berpijak pada kedisiplinan dan pengamanan negara, juga mengedepankan penajaman spiritualitas lewat rutin istighotsah," ujar Ketua GP Ansor Sumenep M Muhri.

HMI Tegal Kab

Istighotsah yang dilakukan Satkorcab Banser Sumenep masih terlihat di sekretariat GP Ansor Sumenep, Jumat (3/2). Mereka tampak khusuk dalam berzikir dan berdoa.

Usai istighotshah, sahabat-sahabat Banser Sumenep melanjutkan rapat koordinasi (rakor) internal bersama para wakil Ketua GP Ansor Sumenep. Acara tersebut diihadiri Ketua GP Ansor Sumenep M Muhri.

HMI Tegal Kab

Rakor tersebut juga menyinggung ragam kegaduhan yang sering dipertontonkan para pejabat di negeri ini. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, Sejarah, AlaSantri HMI Tegal Kab

Kamis, 25 Januari 2018

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan

Jakarta, HMI Tegal Kab. NU Care-LAZISNU Lampung mengagendakan terbentuknya seluruh struktur kepengurusan UPZISNU se-Lampung Timur. Untuk menyukseskan agenda tersebut dilakukan sosialisasi sejak September 2017.

Mengingat banyaknya kecamatan sebagai sasaran sosialisasi, tim NU Care-LAZISNU Lampung Timur mengunjungi kecamata-kecamatan tersebut setiap Ahad. Seperti pada 10 Desember lalu sosialisasi dilakukan di Pesantren Miftahul Ulum, Desa Raman Aji, Kecamatan Raman Utara.

“Ada 24 MWC (kecamatan) dan 264 desa di Lampung Timur. Insyaallah, sosialisasi dan pembentukan UPZISNU akan selesai awal bulan April 2018,” kata Ketua LAZISNU Lampung Timur, Makruf, Senin (11/12).

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan

Setelah sosialisasi dan pembentukan UPZISNU di semua desa, akan diadakan pelatihan Managemen Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah bulan Mei 2018.

“Pelatihan akan diikuti oleh seluruh pengurus UPZISNU se-Lampung Timur.

Sosialisasi sambil berbagi

HMI Tegal Kab

Di sela-sela kegiatan sosialisasi, NU Care-LAZISNU Lampung Timur juga mengadakan penyaluran, salah satunya lewat Jumat Berkah Berbagi. Pada program tersebut rata-rata dibagikan 40 paket sembako setiap minggunya.

“Kegiatan Jumat Berkah Berbagi sangat membantu masyarakat kurang mampu yang selama ini kesusahan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya,” kata Imam Mutakkin, salah satu pengurus LAZISNU Lampung Timur.

Kegiatan berbagi sendiri bergeliat semenjak mulai terbentuknya kepengurusan UPZISNU di setiap kecamatan Lampung Timur.

HMI Tegal Kab

Hal ini bisa dilihat dari beberapa waktu, kepengurusan MWCNU Pasir Sakti bersama pengurus NU Care LAZISNU Kecamatan Pasir Sakti telah berhasil menghimpun bantuan dari masyarakat dengan pencapaian 180 juta untuk program peduli Rohingnya.

“Atas perolehan itu, oleh PBNU diberangkatkan dua orang pengurus UPZISNU Pasir Sakrti untuk presentasi pada Munas Konbes NU di NTB, tentang keberhasilan menggalang donasi tersebut,” Makruf menambahkan.

Mengikuti keberhasilan Pasir Sakti, desa-desa lain mulai bergerak untuk melaksanakan program gerakan Koin NU. Makruf optimis, upaya tersebut akan mampu membangun kemandirian NU di Lampung Timur. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh, AlaSantri HMI Tegal Kab

Senin, 22 Januari 2018

Mocoan

Mocoan adalah tradisi pembacaan karya sastra keagamaan lama di kawasan Banyuwangi, Jawa Timur. Mocoan Banyuwangi, demikian sering kali disebut, merupakan pembacaan lontar Yusuf yang berisi riwayat Nabi Yusuf dari sejak kecil hingga dewasa bertahta di Mesir.

Mocoan digelar sebagai bagian dari acara ruwatan, bersih desa, atau petik laut, serta juga pada acara-acara ritual peralihan (tujuh bulanan, kelahiran, khitanan, pernikahan). Pembacaannya berlangsung semalam suntuk hingga lontar Yusuf itu khatam. 

Belakangan ini mocoan juga sering menjadi seni pertunjukan yang digelar di luar konteks ritualnya sehingga kebanyakan bentuknya telah dipadatkan dan dipersingkat.

Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mocoan

Mocoan Banyuwangi, seperti banyak tradisi tutur lainnya di Nusantara, merupakan produk dari proses akulturasi atau silang budaya dari Islam dan kepercayaan serta kebudayaan lokal, dalam hal ini kebudayaan masyarakat Osing. Persilangan budaya ini bisa ditelisik dari wujud karya sastra yang dibaca, isi, bentuk, tembang, cara melagukan, bahasa yang dipakai, dan fungsinya dalam masyarakat. 

HMI Tegal Kab

Yang disebut sebagai lontar Yusuf pada dasarnya adalah sebuah kitab beraksara Arab pegon dalam bahasa Jawa Madya. Kendati demikian, di dalamnya juga ditemukan banyak kosakata bahasa Osing. Kitab ini disalin dan turunkan dari generasi ke generasi. 

Sebutan “lontar” jelas mengingatkan pada lembaran daun lontar atau kulit ari pohon, media yang dulu digunakan untuk menerakan karya-karya sastra lama. Tradisi pembacaan lontar telah dikenal sejak zaman Hindu-Buddha. Rupanya meski media penulisannya telah berganti dari lontar menjadi kertas, sebutan “lontar” ini tetap lekat. 

HMI Tegal Kab

Lontar Yusuf, atau lebih tepatnya, kitab Yusuf yang tertua di wilayah Banyuwangi disimpan oleh sebuah keluarga dalam bungkusan kain dan tidak boleh dibuka karena dipercaya bisa menimbulkan kebutaan (ngaweng). Dengan demikian yang dibaca dan beredar di kalangan seniman mocoan sekarang ini adalah berupa salinannya.

Lontar Yusuf dituliskan dalam beberapa pupuh (bait), yang namanya mirip dengan tembang macapatan di Jawa. Ada yang terdiri empat pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, dan sinom, dan ada yang enam pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, kusumadiya, arum-arum, dan rancagan. Perbedaan jumlah pupuh ini terjadi karena proses penyalinan yang kadang-kadang berdasar pada hapalan dan perbedaan pertimbangan pengambilan kalimat yang diringkas. 

Kendati demikian, dalam mocoan Pacul Gowang terdapat tambahan beberapa pupuh, yaitu mijil, kesilir, andrian, delimoan, selobok, dan kedendha. Tetapi pupuh-pupuh tambahan ini dianggap bukan bagian dari lontar dan hanya berfungsi sebagai pupuh peralihan yang mengantarkan penyajian dari mocoan yang sifatnya religius menuju mocoan yang sifatnya sekuler (hiburan). 

Perbedaan jumlah salinan pupuh ini tidak mengakibatkan perbedaan dalam penyajian mocoan ketika mereka tampil bersama-sama. Kebanyakan mereka menghapal salinan beserta ding-dungnya, karena bagian ini selalu sama. Ding adalah konsep untuk menyebut kata-kata jawaban di akhir kalimat dalam setiap baris, sedangkan dung adalah konsep untuk menyebut kata jawaban di akhir pupuh.

Ding-dung memiliki kaitan dengan sahut-sahutan yang dilakukan seniman dalam menyajikan lontar. Satu pupuh bisa disajikan oleh seorang saja, tapi bisa juga bergantian. Seandainya disajikan oleh seorang saja, maka yang lain hanya akan ngedingi (menjawab). Ngedingi dilakukan dengan melihat kata akhir dalam kalimat, tetapi bisa juga setelah kata terakhir tersebut usai (endeg-endegan). 

Jika pembaca lain ingin mengganti baris selanjutnya, maka ia akan menyaup (menyahut) kata terakhir yang disajikan penyaji pertama. Biasanya saupan dilakukan dengan menunjukkan ketinggian nada yang berbeda dengan penyaji pertama. Jika sudah disaup, penyaji sebelumnya akan diam dan ganti menjadi tukang ngedingi atau bersiap menyaup bagian selanjutnya. Demikian seterusnya.

Meski tanpa berdasar pada susunan nada-nada instrumen, para etnomusikolog mengamati adanya kesan dua laras (tangga nada) yang dipakai, yaitu modus slendro dan pelog dalam vokal mocoan. Kesan slendro yang muncul beserta eluk-elukan dan gregel-nya dianggap memiliki kedekatan dengan slendro banyuwangen yang digunakan dalam gandrung Banyuwangi. Sedangkan kesan pelog yang lebih dekat ke pelog Jawa, bukan Bali, muncul dalam beberapa pupuh dan lebih banyak tampil sebagai varian penyajian. 

Meski disebut lontar Yusuf, sebenarnya isinya juga menghimpun riwayat nabi-nabi yang lain, seperti Sulaiman, Daud, Shaleh, dan Muhammad. Mocoan jelas merupakan suatu ikhtiar untuk mengambil barakah dari kemuliaan para nabi. Diyakini dengan pembacaan ini, harapan dan keinginan bisa terkabulkan. Meski arti bahasa lontar Yusuf ini tidak dimengerti, kesakralannya tetap diyakini. 

Oleh karena itu para pendengar mocoan kerap menitipkan benda-benda yang terkait dengan hajat mereka untuk diletakkan di bawah lontar yang akan dibaca agar terkabul harapan mereka, misalnya bedak dan sisir, ketika mereka ingin memiliki rupa yang menarik dan memesona sebagaimana Nabi Yusuf. (Sumber: Ensiklopedia NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Kajian Islam, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Minggu, 21 Januari 2018

Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah

Depok, HMI Tegal Kab. Ketua Muslimat NU Kota Depok Hj Dedeh Rosyidah mengatakan, istri harus mandiri tidak boleh hanya menggantungkan nafkah pada suami. Istri adalah mitra suami dalam rumah tangga, dan harus bersinergi diantara keduanya.



Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah

Hj Dedeh Rosyidah yang dalam acara ceramah agama di salah satu strasiun televisi swasta dipanggil Mamah Dedeh berpesan, meskipun sang suami sudah menafkahi, istri harus mampu memberikan penghasilan untuk keluarga dan membantu suami.

Hal itu disampaikan Mamah dalam acara Halal Bihalal Muslimat NU Kota Depok yang dihadiri sekitar 1000 orang. Acara bertempat di gedung MUI kota Depok, Senin (2/11) lalu. Halal bi halal? ini dihadiri mayoritas dari kaum ibu baik dari Muslimat sendiri maupun dari undangan organisasi perempuan kota Depok, dengan? mengambil tema ”Dengan Halal bi Halal Kita Pererat Tali Ukhuwah Islamiyah”.

HMI Tegal Kab

”Siti Khodijah Istri Nabi Muhammad SAW merupakan sosok perempuan yang sangat istimewa, bukan hanya sebagai bisnisman, tapi, ia mampu memenuhi kebutuhan keluarga Rosulullah dan membantu perjuangan penyebaran Islam,” kata Mamah.

HMI Tegal Kab

Mamah Dedeh menyatakan, seorang istri harus bekerja sesuai dengan kemampuannya masing-masing dan harus memberdayakan potensi yang sudah ada sejak lahir. Keuntungan dari perempuan yang memiliki penghasilan dan mandiri diantaranya adalah kepercayaan diri bertambah dan lebih bahagia.

Halal bihalal itu, kata Mamah, merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun, hanya saja waktunya yang agak mundur. Program kegiatan Muslimat NU kota Depok, sampai saat ini diantaranya pengajian rutin, kegiatan sosial lainnya.

Beruntung sekali warga Depok adalah warga yang selalu tanggap terhadap keadaan, terbukti ketika terjadi musibah di Aceh, padang, Situ gintung, Sumatera Barat selalu aktif dalam memberikan bantuan.

Kontributor HMI Tegal Kab Aan Humaidi melaporkan, untuk mengembangkan potensi perempuan, Muslimat NU Depok memiliki program pelatihan-pelatihan kewirausahaan, koperasi dll. Ia berharap pemerintahan baru SBY, agar perempuan lebih diberdayakan lagi dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada perempuan dalam mengembangakan potensi yang sudah ada.

Namun, Ketua PCNU kota Depok KH Burhanuddin Marzuki dalam kesempatan itu mengingatkan, kemandirian perempuan tidak boleh keblabasan. Kemandirian harus ditempatkan pada tempatnya. Seorang istri harus menghormati suami, katanya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Aswaja, Nahdlatul, AlaSantri HMI Tegal Kab

Sabtu, 13 Januari 2018

Mahasiswa NU Sukabumi Serahkan Bantuan Korban Banjir Subang

Subang, HMI Tegal Kab. Mahasiswa NU dari Keluarga Besar Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) Syamsul Ulum Kota Sukabumi yang terdiri dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Syamsul Ulum, BEM Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIP), BEM Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI), dan OSIS SMK Syamsul Ulum Kota Sukabumi serahkan bantuan untuk korban banjir di Kabupaten Subang, Selasa (29/1).

Mahasiswa NU Sukabumi Serahkan Bantuan Korban Banjir Subang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa NU Sukabumi Serahkan Bantuan Korban Banjir Subang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa NU Sukabumi Serahkan Bantuan Korban Banjir Subang

Bantuan ini langsung diberikan oleh Presiden BEM STISIP Syamsul Ulum Nunu Nugraha, didampingi Ketua PMII Komisariat Syamsul Ulum Kota Sukabumi Ahmad Fauzi. Secara simbolis bantuan ini diberikan langsung kepada Ketua PMII Cabang Kabupaten Subang Ade Mahmudin di sekretariat PMII Cabang Subang, Jalan Rancasari, Pamanukan, Subang untuk kemudian disalurkan kepada korban banjir yang saat ini masih melanda di Kabupaten Subang.

Presiden BEM STISIP Nunu Nugraha menegaskan, berangkat dari rasa keprihatinan dan kepedulian kepada para korban banjir di Kabupaten Subang pihaknya merasa terpanggil untk bagaimana bisa mengurangi beban para korban banjir.

HMI Tegal Kab

“Kami merasa prihatin dan terpanggil untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah banjir yang ada di Kabupaten Subang. Terlepas dari besar kecilnya nilai yang kami berikan, tapi mudah-mudahan hal ini bisa meringankan beban mereka yang saat ini sedang membutuhkan,” tegas Nunu kepada HMI Tegal Kab.

HMI Tegal Kab

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PMII Komisariat STAI Syamsul Ulum Kota Sukabumi, Ahmad Fauzi bahwa hal ini merupakan upaya penyadaran kepada masyarakat terkait betapa pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai solidaritas.

“Bantuan ini hasil dari upaya sahabat-sahabat dari Keluarga Besar YAPI Syamsul Ulum Kota Sukabumi yang pada beberapa waktu lalu melakukan aksi penggalangan dana disejumlah titik di Kota Sukabumi. Mudah-mudahan saja ini bisa kita ambil hikmahnya terkait penyadaran kepada masyarakat betapa pentingnya rasa solidaritas terhadap sesama sebagai wujud dari jati diri Bangsa Indonesia,” papar Fauzi.

Sementara, Ketua PMII Cabang Kabupaten Subang, Ade Mahmudin menyambut baik dengan saluran bantuan ini yang nantinya akan langsung diberikan kepada para korban banjir di Kabupaten Subang.

"Kami sangat apresiatif dan berterimakasih kepada sahabat-sahabat dari Kota Sukabumi yang sudah jauh-jauh datang ke Subang hanya untuk memberikan bantuan ini kepada para korban banjir. Dan Insya Allah, nanti juga kita akan berikan bersamaan dengan hasil yang kami dapatkan, dimana pada saat yang lalu juga PMII Cabang Subang melakukan aksi penggalangan dana untuk korban banjir,” pungkas Ade.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Habib, Olahraga, AlaSantri HMI Tegal Kab

Jumat, 05 Januari 2018

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia

Jakarta, HMI Tegal Kab. Kepala Badan Litbang Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Masud menegaskan bahwa Indonesia berada pada urutan terdepan negara-negara dunia dalam konteks kerukunan. Banyak negara mengakui keberhasilan Indonesia dalam menjaga harmoni dalam kemajemukan.

Menurut Masud, kerukunan Indonesia tidak terlepas dari kekayaan kearifan lokal yang telah diwariskan pendahulu bangsa sejak ratusan tahun lalu. Kekayaan kearifan lokal itu, kata Masud, antara lain berupa tradisi lisan yang sarat akan nilai dan pesan kerukuan, persatuan, dan kesatuan.

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Lisan Jadi Kunci Kerukunan Masyarakat Indonesia

“Tradisi lisan di daerah yang menjadi bagian dari kearifan lokal mempunyai korelasi dengan kerukunan daerah. Tradisi itu terbukti menjadi perekat kerukunan warga dan karenanya bisa dijadikan bahan kampanye perdamaian nusantara,” demikian penegasan Abdurrahman Masud sebagaimana dilansir di laman kemenag.go.id, Jumat (29/4).

Merujuk pada hasil penelitian Balai Litbang Keagamaan DKI Jakarta yang dilakuan sejak awal tahun ini. Penelitian yang bertajuk “Nilai Keagamaan dan Nilai Kerukunan dalam Tradisi Lisan Nusantara” mengungkap data dan fakta bahwa suku-suku bangsa di Indonesia sangat agamis dan rukun. Masyarakat Indonesia juga memiliki kekhasan dalam ? beragama yang terkait dengan kebudayaannya, dan salah satu wujudnya adalah tradisi lisan. Tradisi lisan itu diwariskan secara turun-temurun menjadikan pesan keagamaan dan kerukunan lebih mudah disampaikan dan diterima.

Anik Farida, selaku ketua tim peneliti mengungkapkan, ada delapan wilayah yang dijadikan sasaran penelitian, yakni: Jakarta, Banten, Bandung, Cirebon, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau. Penelitian dilakukan dengan menggali nilai keagamaan dan kerukunan yang tersirat dalam tradisi lisan pada sejumlah tradisi, yaitu: ? Ritual Akikah di Jakarta, Tradisi Panjang Mulud di Banten, Petatah-Petitih Sunan Gunung Jati di Cirebon, Tradisi Warahan di Lampung, Tradisi Tadud di Sumatera Selatan, Tradisi Teater Rakyat Mendu di Natuna Kepulauan Riau, dan Tradisi Pasambahan di Sumatera Barat. ? ? ?

HMI Tegal Kab

“Potensi harmoni di negara kita itu jauh lebih kuat dan dahsyat dibanding potensi disharmoni atau ? intoleransi. Makanya tidak aneh jika hasil penelitian kita, termasuk soal KUB, indeks kerukunan 2015, kita mencapai 75,36%. Bahkan yang nomor satu seperti di NTT dan Bali di atas 80%,” tandasnya. (Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Cerita, Budaya HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Kamis, 28 Desember 2017

Lulusan LP Maarif Harus Miliki Kesalehan Pribadi dan Sosial

Magelang, HMI Tegal Kab. Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU,  HZ Arifin Junaidi menyatakan lembaga pendidikan di bawah naungan Nahdlatul Ulama harus mampu mencetak lulusan yang memiliki kesalehan pribadi dan sosial. Pasalnya, banyak sekolah diluar LP Maarif NU yang mampu mencetak lulusan yang cakap secara intelektual tapi tidak shalih. 

 “Hari ini, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU sudah genap berusia 88 tahun. Tema yang diambil pada ulang tahun kali ini adalah Membentuk Generasi Bangsa yang Berkarakter Mandiri dan Berinovasi,” ungkap Arifin Junaidi saat memimpin upacara peringatan hari lahir LP Ma’arif NU di lapangan Tembak Akademi Militer, Magelang, Selasa (19/9). 

Lulusan LP Maarif Harus Miliki Kesalehan Pribadi dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Lulusan LP Maarif Harus Miliki Kesalehan Pribadi dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Lulusan LP Maarif Harus Miliki Kesalehan Pribadi dan Sosial

Pada kesempatan itu, Arifin Junaidi mengingatkan bahwa LP Ma’arif NU lahir karena diharapkan mampu melakukan inovasi pada pendidikan di lingkungan NU. 

“Seperti yang dilakukan oleh salah satu pendiri LP Ma’arif, yakni KH. Wahid Hasyim. Beliau melakukan inovasi dengan mendirikan sekolah formal yang di situ diajarkan bahasa asing,” ujarnya. 

Model lembaga pendidikan formal yang didirikan oleh Kiai Wahid Hasyim itu lalu diikuti oleh pengurus NU di berbagai daerah. Dan sejak didirikan, LP Ma’arif sudah merintis sebagai lembaga pendidikan di bidang hukum, perdagangan, pertukangan, pertanian dan sekolah untuk fakir miskin.

HMI Tegal Kab

“Pada Muktamar di Purworejo, Jawa Tengah, Rais Akbar PBNU KH. Hasyim As’yari pernah berpidato agar memusatkan perhatian untuk mendidik dan menjaga generasi NU. Itu semua harus dijalankan dengan tenang dan tidak gaduh,” tandasnya. 

Lebih lanjut, Arifin Junaidi menambahkan, sebagai Lembaga Pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama, LP Maarif harus selalu menanamkan Islam ramah dan Islam jalan tengah kepada para peserta didik. 

“Presiden telah mengeluarkan peraturan pendidikan karakter yang salah satu pointnya, memperkuat peserta didik dengan harmonisasi olah pikir, olah rasa dan olah hati. Itu sudah sesuai dengan yang dilakukan oleh LP Ma’arif bertahun-tahun,” pungkas Arifin Junaidi. (Nur Rokhim/Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Halaqoh, AlaSantri HMI Tegal Kab

Rabu, 27 Desember 2017

CBB dan KPP Banyuwangi Gelar Kemah Kebangsaan Pelajar

Banyuwangi, HMI Tegal Kab - Dewan Koordinasi Cabang (DKC) Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korp Pelajar Putri (KPP) Kabupaten Banyuwangi menggelar acara kemah pelajar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dusun Simbar, Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Jumat-Ahad (15-17/12). Hal ini dilakukan sebagai langkah konkret penanaman jiwa kebangsaan sekaligus mencetak pelajar cinta tanah air.

Kegiatan ini bermula dari kegelisahan pengurus kepada para pelajar zaman ini yang menjadi sasaran kelompok yang mengampanyekan radikalisme dan terorisme.

CBB dan KPP Banyuwangi Gelar Kemah Kebangsaan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
CBB dan KPP Banyuwangi Gelar Kemah Kebangsaan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

CBB dan KPP Banyuwangi Gelar Kemah Kebangsaan Pelajar

CBB dan KPP dalam kegiatan yang sekaligus memeriahkan acara pra-konferensi cabang ini berinisiatif melibatkan ratusan pelajar putra-putri dari madrasah aliyah dan sekolah menengah kejuruan (MA/SMK) pilihan. Mereka adalah pelajar MA Nahdlatul Wathan Licin, SMK Darunnajah, SMA NU Genteng, SMAN 1 Glagah, SMK Darussalam, SMKN 1 Tegalsari, SMK NU Al-Futuhiyah Muncar.

Komandan DKC CBP Kabupaten Banyuwangi M Ridho Tantowi mengatakan, kemah pelajar ini merupakan awalan untuk menanamkan idologi keaswajaan serta penanaman kebangsaan sebagai benteng pelajar dari rongrongan ideologi radikal dan terorisme. Forum ini merupakan sarana untuk mengajak pelajar sekolah-sekolah umum untuk terlibat dalam organisasi IPNU-IPPNU.

HMI Tegal Kab

"Terkadang kita kesulitan menjaring kader-kader yang berasal dari sekolah umum. Selama ini, kita terlalu sering menjaring kader di naungan pesantren atau sekolah-sekolah berada di naungan LP Maarif. Dari sana, kita buat kegiatan yang temanya lebih umum agar sekolah-sekolah umum dapat terlibat. Alhamdulillah langkah ini sukses," jelas Towi.

Untuk mewujudkan menjadikan kader yang militan dan cinta tanah air, lanjutnya, selama kegiatan para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas tujuh sampai sepuluh orang. Kemudian mereka mendapatkan beberapa materi keagamaan, kebangsaan, edukasi narkoba, juga berbagai perlombaan.

HMI Tegal Kab

"Di antara materi yang diajarkan adalah ke-Aswajaan, ke-Nuan, CBPP-KPP, ke-Indonesiaan, Islam Moderat, Kepemimpinan, public speaking, dan lain-lain. Ajang perlombaan yang digelar adalah ajang pentas seni, jurnalistik, membuat design logo banom NU, menyanyikan lagu mars Syubanul Wathan," ujar Towi.

Ketua IPNU Banyuwangi M Yahya Muzakki memberikan apresiasi tersendiri atas inisiatif badan IPNU dan IPPNU satu ini dengan jalannya inovasi kegiatan ini.

"Apresiasi ini dikarenakan mampu menjadikan media kepedulian terhadap penanaman moralitas karakter yang penuh dengan toleransi serta menjadi upaya gerakan deradikalisasi terhadap di kalangan pelajar sekolah umum. Juga media penjaringan kader yang berada di sekolah umum yang masih belum tergarap secara intens, terang Yahya.

Salah satu peserta kemah pelajar asal SMA 1 Glagah Kevin Fadhilah bertekad ke depan untuk aktif terlibat intensif dalam organisasi IPNU. Ia mengaku selama ini hanya aktif terlibat dalam organisasi remaja masjid yang ada di sekolahnya.

"Dengan aktif di IPNU nantinya saya mendapatkan nilai kemanfaatan yang lebih. Selama ini kegitan di remaja masjid sekolah hanya berkutat di dalam masjid saja. Jarang sekali melakukan kegiatan-kegiatan di luar dengan penanaman nilai-nilai kebangsaan," ujar Kevin, pelajar kelas X yang bercita-cita menjadi teknisi pesawat terbang.

Hadir dalam acara ini Komandan DKW KPP Anggita Putri Ningrum, Ketua PC IPNU Banyuwangi M Yahya Muzakki, Ketua PC IPPNU Banyuwangi Halimah, Komandan DKC CBP Banyuwangi M Ridho Tantowi, Komandan DKC KPP Banyuwangi Novita.

Sementara yang berhasil menggondol nominasi juara umum berasal dari sekolah MA Nahdlatul Wathan Licin. Berhasil meraih poin tertinggi dalam adalah juara I lomba pendirian tenda, juara I lomba yel-yel beserta gerakan, juara II lomba pembuatan logo banom NU, dan juara III lomba pentas seni. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri HMI Tegal Kab

Selasa, 19 Desember 2017

Penghormatan Kiai Ishaq untuk Muridnya

Tahun 1972, mobil masih tergolong barang langka. Dalam satu kampung, pemilik mobil bisa dihitung dengan jari. Kampung jenis apa saja bisa, kampung di desa maupun di kota. Tentu saja, pasti ada kekecualiannya. Dengan kata lain, ada kampung yang warganya pada punya mobil. Tapi silakan cari sendiri, kampung mana yang banyak mobilnya.

Gandaria, sebuah kampung di Jakarta Selatan, ada seorang yang terkenal gara-gara punya mobil, lebih terkenal lagi, karena ia seorang ulama, Kyai Ishaq Yahya namanya. “Wah, hebat nih ulama kite, bukan hanya punya ilmu agama, tapi juga punya ilmu lari kenceng,” begitu orang berdecak pada Kyai Ishaq. Maksudnya punya ilmu lari kenceng adalah punya mobil.

Penghormatan Kiai Ishaq untuk Muridnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Penghormatan Kiai Ishaq untuk Muridnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Penghormatan Kiai Ishaq untuk Muridnya

Ishaq terbilang kiai kondang Jakarta di zamannya. Tentu saja, popularitasnya hadir jauh sebelum masyarakat mendengar nama KH Zainuddin MZ, yang juga asal Gandaria. Karena mobilnya itu, sebuah sedan yang sudah berumur, rutin menyambangi sejumlah titik di Jakarta. Sedan itu membuat kyai kita ini mudah ke mana-mana, bahkan tampak sigap dan cepat.

HMI Tegal Kab

Selain mendatangi majelis taklim, Kiai Ishaq juga guru agama di sejumlah yayasan pendidikan agama, dan tentu saja ceramah di acara yang diadakan masyarakat, entah itu kawinan, maulidan, dan lain-lain. Dan penguasaannya yang baik dalam “bahasa orang sekolah”, membuatnya sering diundang ke sekolah-sekolah.

Namun, itu semua tidak berlaku untuk kasus berikut. Satu malam, Hasbullah mengadakan kenduri pertemuan (upacara pelepasan naik haji). 

HMI Tegal Kab

Hasbullah seusia dengan kiai Ishaq. Meski begitu, Hasbullah tetap berguru dan menaruh takzim kepadanya. Hasbullah pernah mengaji dua kitab pada Kyai Ishaq, Riyadlus Shalihin dan Mawahibus Shamad.

Mendengar kabar murid mengadakan kenduri, ia langsung menjulurkan tangan. Kunci mobil diraihnya. Mobil pun melesat cepat dari Gandaria menuju Pondok Pinang Bletan (Timur), kediaman Hasbullah. Tidak jauh, kedua desa ini hanya dipisahkan oleh aliran sungai. Namun, perjalanan akan lama ditempuh dengan jalan kaki karena medan persawahan dan rawa-rawa. Karenanya, Kyai Ishaq memilih mobil, meski harus memutar sedikit jauh.

Sampai di tujuan, masyarakat menghentikan sejenak rangkaian wirid untuk menyongsong kiai. Hasbullah tidak menyana kiai Ishaq datang. Keguggupan Hasbullah sedikit reda setelah menemukan tempat bagi gurunya.

“Ah Ente, kenapa kagak bilang-bilang ada acara?” tanya Kiai kepada muridnya usai pembacaan wirid.“Bukan begitu Kiai, ane khawatir Kiai kerepotan, teganggu,” tanggap Hasbullah sambil menyuguhkan teh pahit.

“Jangan begitu dong. Ente kan ama ana bukan orang lain?” jawabnya enteng sambil merenggut pisang rebus.

Pertemuan ditutup dengan saling mendoakan antara kiai dan muridnya.

Kilasan Kyai Ishaq Yahya

Ishaq Yahya lahir pada 28 April 1928 di Jakarta. Ia mendirikan Pondok Pesantren Miftahul Ulum di halaman rumahnya. Waktunya dihabiskan untuk mengajar dan berorganisasi.

Sejak kecil, ia sangat gemar menuntut ilmu. Tamat di Jamiatul Khair 1949, ia melanjutkan pendidikannya di Mekkah. Di tanah suci, ia menahan diri selama 8 tahun untuk menimba ilmu. Dari kota ini, ia banyak mengambil ilmu dan pengalaman.

Lembaga pendidikan yang dimasukinya adalah Darul Ulum. Nama ini pula yang mengilhami nama pesantrennya di Jakarta. Di lembaga ini, ia belajar kepada banyak guru ahlusunnah wal jamaah. Mereka antara lain Syekh Yasin Alfadani, Guru Muhajirin asal Bekasi, Guru Abdurrazak Makmun asal Mampang, Kiai Ali Syibromalisi asal Mampang, Sayyid Alwy Almaliki, dan lain-lain.

Ia pun aktif dalam NU. Baginya, kiai mesti melek banyak hal, termasuk organisasi. Keorganisasian yang menunjang kekuatan umat, adalah perihal penting. Pendidikannya di Mekkah, menautkannya dengan NU. Karena, banyak kiai NU berjejaring ke Mekkah. Ia Wafat di Jakarta, 28 September 1980 (AlHafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Jadwal Kajian, Habib HMI Tegal Kab

Selasa, 12 Desember 2017

NU Ranting Bener Adakan Pengajian Akbar

Wonosobo, HMI Tegal Kab. Ribuan Jamaah, Ahad, 10/3/2013, menghadiri pengajian Akbar yang diadakan oleh NU beserta badan otonomnya, yaitu Muslimat, Fatayat, Ansor dan IPNU/IPPNU Ranting Bener. 

Kegiatan ini bertempat di halaman Masjid Bener Kidul Kepil Wonosobo.

NU Ranting Bener Adakan Pengajian Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Ranting Bener Adakan Pengajian Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Ranting Bener Adakan Pengajian Akbar

Pengajian yang diisi oleh Kiai Muzammil dari Sapuran Wonosobo ini dihadiri ribuan jamaah tersebut terdiri dari pengurus dan anggota Badan Otonom NU serta umat Islam se-desa Bener dan sekitarnya.

HMI Tegal Kab

Ketua Ranting NU Bener Kiai Saefur Arifin mengatakan ”Acara ini diselenggarakan secara bersama oleh seluruh Banom NU di Ranting Desa Bener. Sesuai dengan kesepakatan bersama kegiatan ini akan dilaksanakan rutin setiap tiga bulanan.”

Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama agar acara terlaksana jauh lebih baik dan lebih besar ketimbang dilakukan secara sendiri-sendiri.

HMI Tegal Kab

Hadir pula dalam acara tersebut Kepala Desa Bener, yang dalam sambutannya mengapresiasi positif terhadap inisiatif panitia dalam menyelenggarakan kegiatan Maulid ini, bahkan ia menghimbau kegiatan-kegiatan seperti ini dilestarikan sebagai ukhuwah islamiyah.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Irwan Sahidin

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Syariah, Sejarah HMI Tegal Kab

Sabtu, 09 Desember 2017

Bagaimana Mahbub Dujunaidi Kenalkan NU kepada Anaknya?

Jakarta, HMI Tegal Kab 



H. Mahbub Djunaidi aktif di NU sejak masih pelajar dengan menjadi anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Kemudian menjadi Ketua UMum Pergerakan Mahasiswa Indonesia pertama, kedua dan ketiga. Ia juga pernah aktif di GP Ansor. Ketika umurnya makin, ia menjadi pengurus PBNU. Sampai wafatnya ia adalah Mustasyar PBNU. 

Menurut pengakuan anak-anaknya, Mahbub yang dikenal orang sebagai Pendekar Pena itu memang tidak pernah menjelaskan apa itu NU, tapi mengajak ke kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan NU. 

Bagaimana Mahbub Dujunaidi Kenalkan NU kepada Anaknya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Mahbub Dujunaidi Kenalkan NU kepada Anaknya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Mahbub Dujunaidi Kenalkan NU kepada Anaknya?

“Dulu pernah diajak main ke PBNU,” kata Yuri Mahatma, salah seorang anaknya di sela Haul H. Mahbub Djunaidi ke-22 bertajuk "Jazz dan Esai-esai H. Mahbub Djunaidi" yang digelar Omah Aksoro dan PMII UNUSIA di lapangan parkir UNISIA, Jakarta, Kamis malam (5/10).  

Yuri mengaku pernah diajak ke pantai utara dalam misi penggembosan Partai Persatuan Pembangunan ketika dipimpin Naro yang diduga didesain penguasa Orde Baru. Waktu itu, NU sebagai pemilik massa terbanyak, malah tersisihkan.  

“Saya diajak ke kantong-kantong NU di Jawa Timur. Sampai saat itu saya tidak bahwa dia itu tokoh dan banyak dikenal orang. Baru ketika diajak jalan, oh beneran…hahaha. Saya SMP kelas 2, sekitar usia 14 tahun waktu itu,” kenang musisi jazz yang tinggal di Bali itu.  

HMI Tegal Kab

Mahbub Djunaidi menjelaskan kepada Yuri, yang tadinya NU dengan PPP sebegitu akurnya, akhirnya oleh Soeharto, Naro tiba-tiba masuk menjadi Ketua Umum PPP. 

“Terus merasa NU disepak begitu...haha, Bapak marah. Akhirnya gerilya ke kantong-kantong NU supaya tak usah masuk PPP lagi. Tapi ya lucu juga ya hahaha,” kenang pria yang dihadiahi buku 80 Hari Keliling Dunia karya Jules Verne oleh ayahnya saat ulang tahun kedelapan itu. 

HMI Tegal Kab

Anak Mahbub Djunaidi yang lain, Isfandiari juga pernah diajak keliling pesantren oleh ayahnya. Salah satu yang paling ingat adalah ke Pesantren Salafiyah Syafiiyah Asembagus, Situbondo yang dipimpin KH As’ad Syamsul Arifin. Mahbub memang memiliki hubungan yang erat dengan kiai itu. 

Bahkan Isfan menyaksikan ayahnya mengajak Kiai As’ad untuk berkeliling ke pesantren NU di Bali. Tapi ketika hendak sampai di pesantren, Mahbub meminta Kiai Asad mengubah niatnya. 

“Udah jangan ke pesantren mulu, bosen. Kita ke pantai Kuta saja,” kenang Isfan yang vokalis band Jentre yang beraliran rock itu. 

Pada saat itu, lanjut Isfan, akhirnya kiai kharismatik yang merupakan narahubung pendirian NU atara Syaikhona Cholil Bangkalan dengan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari mengikuti ajakan ayahnya. (Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Olahraga, Hikmah HMI Tegal Kab

Jumat, 08 Desember 2017

Gus Hasan: Warga NU Harus Melihat Sejarah

Banyumas, HMI Tegal Kab - Ketua PCNU Banyumas KH Maulana Ahmad Hasan (Gus Hasan) menganjurkan warga NU untuk melihat sejarah perjalanan panjang NKRI yang tak lepas dari peran NU. Komitmen NU untuk menjaga Islam Ahlissunah wal Jamaah di Indonesia telah berlangsung sejak dulu dan itu harus dijaga oleh semua elemen masyarakat nahdiyin.

Sebelum merdeka, Tahun 1934 KH Wahab Chasbullah ulama NU yang alim dan penuh dengan keilmuan telah berjuang untuk Indonesia. Kiai Wahab mengarang lagu Yalal Wathan dan menyatakan Indonesia negeriku, kata Gus Hasan pada sambutan pelantikan GP Ansor Banyumas Rabu (7/3) malam.

Gus Hasan: Warga NU Harus Melihat Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Hasan: Warga NU Harus Melihat Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Hasan: Warga NU Harus Melihat Sejarah

Ia melanjutkan, saat situasi genting pascakemerdekaan KH Hasyim? Asyari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad untuk menjaga NKRI 22 Oktober-10 November 1945.

“Jadi kalau yang lain baru teriak-teriak takbir, NU sudah berkali-kali menjaga NKRI dari dulu hingga sekarang. Saat terjadi gejolak 65, NU dengan? Bansernya juga berjuang mempertahankan NKRI, lanjutnya.

HMI Tegal Kab

Menurut Gus Hasan, hanya dengan melihat sejarah yang inilah, terbukti bahwa NU adalah bagian dari pendiri NKRI. Makanya jika ada orang atau golongan tertentu yang mau mengusik NKRI, mau mengganti NKRI dengan paham lain, maka ia akan berhadapan dengan NU.

Makanya bagi warga nahdiyin dan bangsa Indonesia umumnya, jangan mau dipecah belah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Pertahankan NKRI sampai mati dengan memperkuat ajaran-ajaran para ulama dan kyai, serta patuhi aturan pemerintah, tegasnya. (Kifayatul Akhyar/Alhafiz K)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh, AlaSantri HMI Tegal Kab

Sabtu, 02 Desember 2017

Ini Alasan-alasan Mendasar Kenapa NU Menolak FDS

Jakarta, HMI Tegal Kab. Nahdlatul Ulama menanggapi serius persoalan Full Day School (FDS) yang diberlakukan melalui Permendikbud. Di tingkat pusat, PBNU telah mengintruksikan kepada PWNU dan PCNU untuk menolak kebijakan tersebut. ?

Ini Alasan-alasan Mendasar Kenapa NU Menolak FDS (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan-alasan Mendasar Kenapa NU Menolak FDS (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan-alasan Mendasar Kenapa NU Menolak FDS

Menurut Ketua PBNU Bidang Hukum H. Robikin Emhas, bagi NU, persoalan FDS ini serius sekali dan tak ada tawar-menawar. “Permendikbud itu kabarnya, mau dievaluasi melalui Perpres yang di dalamnya ada norma yang diatur, di antaranya FDS itu diterapkan secara optional (pilihan); artinya bagi yang sudah siap, silakan diterapkan. Bagi yang tidak, ya silakan,” jelasnya di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (9/8).

Namun, kata alumnus Pondok Pesantren Qiyamul Manar Gresik dan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang, itu berdasarakan pengalaman di lapangan, seluruh regulasi, meskipun sifatnya optional, pelaksanaannya sangat bergantung pada pemikiran orang yang melaksanakannya. Sehingga meski Perpres mengatur optional, bisa saja di lapangan dipaksakan untuk diterapkan. “Nah, NU tidak ada tawar-menawar sama sekali. Tidak. FDS no. Optional sekali pun tidak.” ?

HMI Tegal Kab

Seandainya Perpres itu ditetapkan dan isinya seperti Permendikbud yang ada sekarang, sikap NU jelas akan tetap menolak. Alasannya, berdasarkan hasil penelitiannya Setara Institute, Wahid Institute dan penelitian-penelitian lembaga indevenden lain, bahkan Kemenag, tumbuhnya radikalisme dan intoleransi di sekolah-sekolah umum sudah pada 6,8 persen. “Itu angka yang sangat mengkhawatirkan.”

HMI Tegal Kab

Pihak yang berandil besar menumbuhkan anak hingga 6,8 persen itu, adalah mereka yang selama ini mengusung gagasan-gagasan Islam formal. “Padahal kalau ngomong mengenai kenapa Indonesia selama ini sebagai negara besar dengan ragam, etnik, budaya, agama dan sebagainya, tapi tetap damai, jawabannya satu, karena di Indonesia ada pesantren, madrasah diniyah,” jelasnya. ?

Kalau FDS diterapkan, pertumbuhan intoleransi dan radikalisme yang 6, 8 persen itu, jika diperpanjang waktunya, maka potensi pertumbuhannya akan semakin inggi. “Di sisi lain, pada waktu yang bersamaan, gudangnya Islam moderat yang basis pendidikannya adalah madrasah diniyah, dengan sendirinya mati.”

Maka, ketika pertumbuhan Islam moderat berkurang, sementara Islam garis keras, intoleran semakin tinggi, diperkirakan 15 tahun yang akan datang, Indonesia bisa perang saudara. Sepertinya, pemerintah belum sepenuhnya menyadari hal itu.

Anehnya, berdasar informasi yang didapat, asal-muasal pemerintah menerbitkan kebijakan itu lahir dalam Rapat Terbatas (Ratas) kabinet, mengenai pariwisata. “Rapatnya pada bulan Februari kalau tidak salah, tahun ini. Rapat itu adalah tentang pariwisata, bukan tentang pendidikan, penguatan karakter, bukan. Agar pariwisata ini meningkat, seyogiayanya libur sekolah, libur murid, disamakan dengan libur orang tuanya. Itu artinya mengasumsikan orang tua anak didik ini, adalah pegawai negeri.”

Penjelasannya, selama pariwisata terhambat karena anak-anak masih masuk sekolah pada Sabtu. “Coba sesembrono itu. Pada akhirnya kemudian lahir kebijakan itu,” tegas Managing Director pada ART PARTNER Law Firm tersebut.

Padahal, berdasarkan data 6,8 persen tadi, risiko masa depan, Indonesia akan menjadi semacam negara-negara Timur Tengah yang berkecamuk dengan saudaranya itu. “Sehingga saya katakan, yang terancam bukan madrasah diniyah, tapi NKRI. Ini yang perlu nyampe pada pikiran itu.”

Tentang pertumbuhan Islam radikal, intoleran, Robikin yakin hal itu bukan niat kebijakan Mendikbud, tetapi ada pihak lain yang bekerja untuk menumbuhkannya. Dan terbukti sampai sekarang pemerintah dalam hal ini Mendikbud, tidak berhasil untuk mengatasi persoalan itu (mengurangi angka 6,8 persen itu).” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Warta, AlaSantri HMI Tegal Kab

Senin, 27 November 2017

Piagam Madinah, Model Dakwah Nabi di Tengah Masyarakat Plural

Palu, HMI Tegal Kab - Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menjelaskan, di dalam Islam kerangka berpikir antara dakwah dan hukum itu berbeda. Bila kerangka pikir hukum harus tegas dan hitam putih maka kerangka pikir dakwah harus strategis dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Artinya, dalam berdakwah tidak semua kebenaran langsung disampaikan dan dilaksanakan. Tetapi, para dai harus melihat kondisi dan situasi masyarakat serta menyesuaikan dengan tahapan masyarakat yang akan diberikan dakwah.

Piagam Madinah, Model Dakwah Nabi di Tengah Masyarakat Plural (Sumber Gambar : Nu Online)
Piagam Madinah, Model Dakwah Nabi di Tengah Masyarakat Plural (Sumber Gambar : Nu Online)

Piagam Madinah, Model Dakwah Nabi di Tengah Masyarakat Plural

"Bahkan dalam dakwah itu harus mengenal kompromi antarelemen masyarakat demi mencapai kemaslahatan," kata Kiai Cholil saat mengisi acara dialog kebangsaan dengan tema “Indonesia dan Masa Depan Gerakan Dakwah” di Hotel Shantika Palu, Rabu (30/8).

HMI Tegal Kab

Ia mencontohkan, apa yang dilakukan Nabi Muhammad di Madinah adalah model dakwah yang strategis dan kompromistis. Saat memimpin Madinah, Nabi Muhammad melakukan kompromi dengan seluruh elemen masyarakat Madinah yang plural.

"Hal ini dapat kita lihat dari konstitusi pertama dalam Islam, yaitu Piagam Madinah," jelasnya.

Menurut Kiai Cholil, di dalam Piagam Madinah Nabi Muhammad tidak menyebutkan Madinah sebagai negara Islam. Tetapi pada pasal pertama piagam tersebut disebutkan tentang persatuan umat di Madinah tanpa membedakan ras, suku, dan agama.

HMI Tegal Kab

"Semua penduduk Madinah harus bersatu untuk hidup membangun Madinah," kata Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia itu.

Dari situ, Kiai Cholil menilai bahwa dalam berdakwah hendaknya bertahap agar apa yang disampaikan bisa diterima dan diamalkan oleh masyarakat. Nabi Muhammad tidak mendirikan negara Islam di Madinah meski Nabi Muhammad adalah seorang rasul. Rasulullah membangun negara Madinah atau persatuan mengingat masyarakat Madinah yang begitu plural pada saat itu.

"Jadi dakwah itu sifatnya tadarruj (bertahap)," tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri HMI Tegal Kab

Kamis, 16 November 2017

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Oleh Nur Rohman Suwardi

Filantropi atau kedermawanan sudah menjadi roh dari kebangkitan ulama yang lahir sejak 1926, dengan nama Nahdlatul Ulama. Perjalanan ormas Islam terbesar di dunia ini dibiayai oleh kedermawanan dari para anggota atau simpatisan Nahdliyin. Kedermawanan yang dalam istilah Islam disebut dengan zakat, infak, atau sedekah, menjadi kekuatan penunjang prinsip pokok dalam perjuangan Nahdlatul Ulama.

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Zakat sebagai rukun Islam dan tiang dalam agama Islam mempunyai peran yang sangat vital. Islam dan perjuangan para pengggerak Islam akan kuat jika kedermawanan masih dijalankan oleh para pemeluknya. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an tentang sinergi antara rukun shalat dan zakat dalam mengatasi persoalan hidup. Zakat dan shalat menjadi tawaran solusi dahsyat? yang Allah berikan kepada hambanya. Zakat sebagai penjaga hubungan dengan manusia dan shalat sebagai penjaga hubungan dengan Allah secara vertikal.

HMI Tegal Kab

Perjalanan filantropi Islam di Nahdlatul Ulama secara konsisten didakwahkan dan disosialisasikan dan ini menjadi komitmen semua warga Nahdliyin dalam memeluk ajaran Islam sampai sekarang. Kebangkitan zakat dan gairah perzakatan di Indonesia pun tumbuh. Atas dasar Undang-Undang Zakat nomor 38 tahun 1999, lembaga amil zakat, infak dan sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dibentuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Donoyudan Solo tahun 2005. Dari situ perkembangan filantropi Islam di tubuh Nahdlatul Ulama juga mengalami perkembangan yang menggembirakan.

Perjalanan lembaga filantropi di Nahdlatul Ulama yang dinamakan LembagaAmil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) mengalami perkembangan dari waktu ke waktu semenjak didirikan secara resmi di Muktamar Donoyudan Solo, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Fathurrahman Rouf. Sebagai lembaga baru di tubuh Nahdlatul Ulama, LAZISNU sudah mengumpulkan rata-rata Rp800 juta per tahun, dari tahun 2004 sampai dengan 2010.

HMI Tegal Kab

Perkembangan mulai dirasakan ketika fase kedua setelah Muktamar di Makassar, LAZISNU dipimpin oleh KH. Masyhuri Malik, pada perkembangan di era ini LAZISNU berkembang dengan performa manajemen yang lebih modern. Potret yang bisa kita lihat dari perolehan LAZISNU setiap tahunnya di rata-rata Rp6 miliar dimulai dari 2010 sampai dengan 2015.

Kemudian selepas Muktamar ke-33 NU di Jombang, LAZISNU dipimpin oleh Syamsul Huda SH Harus berjuang keras untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat karena beban yang harus ditanggung sebagai Lembaga Zakat Nasional. Lembaga Zakat Nasional seperti LAZISNU harus mampu mengumpulkan perolehan fundraising minimal Rp50 miliar. Tapi alhamdulillah pada awal 2016, beban yang diwajibkan kepada LAZISNU dalam perolehan minimal satu tahun Rp50 miliar sudah terpenuhi. Sekarang, saatnya LAZISNU yang melakukan rebranding NU CARE-LAZISNU harus mengerakkan spirit NU dalam kesadaran “berbagi bagi sesama.”

Sosialisasi tentang pentingnya filantropi selalu digalakkan sampai sekarang. Filantropi berbeda dari charity. Filantropi lebih terlihat sebagai gagasan yang terstruktur dan teratur ketimbang hanya memberi kepada yang lain dan terlebih kepengen mendapatkan dampak secara langsung bagi para donatur (direct impact).

Secara umum, konsep zakat itu harus diatur supaya teratur. Nidham (manajemen) menjadi hal yang sangat penting di warga Nahdliyin. “Kalau sudah ngasih ya sudah yang lillahita’ala,” sering ada ucapan begitu. Ini seolah-olah melegitimasi tentang tidak penting melaporkan akan kinerja yang dilakukan oleh para amilin. Padahal, pelaporan tersebut sama sekali bukan hendak menghilangkan aspek keikhlasan, melainkan sebagai konsekuensi logis nidham itu.

Kini LAZISNU diuji dan ditantang dengan harus menunjukkan keberanian untuk menjadi Lembaga Zakat Nasional, berdasar Undang-Undang 23 tahun 2011. Sesungguhnya, Undang-Undang 23 tahun 2011 ada plus dan minus dalam era kebangkitan gerakan filantropi NU. Tuntutan untuk eksis menjadi lembaga yang trusted, kredibel, dan tranparan menjadi tuntutan tidak hanyaUndang-Undang, tapi juga para donatur dan masyarakat. Pimpinan organisasi para ulama ini, Rais ‘Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin menggelorakan “Gerakan NU Berzakat Menuju Kemandirian Umat”. Ini bukan tidak ada sebab, tapi gerakan ini justru yang menjadi embrio dan spirit bagi gerakan zakat di warga Nahdliyin.



Tiga Titik Tolak


Ada tiga hal yang harus menjadi titik tolak bangkitnya filatropi NU, pertama adalah memberikan pengertian kepada masyarakat Nahdliyin tentang pentingnya berjamaah, tidak hanya berjamaah shalat, tahlilan, zikiran saja tapi harus diperluas dan diperlebar jamaah terlebih berjamaah untuk aksi berbagi kepada sesama. Masyarakat modern ini lebih suka kalau ada kegiatan aksi, bukan hanya kegiatan seremoni. Membangkitkan jamaah dengan aksi kepada sesama ini harus menjadi spirit yang digelorakan di? warga Nahdliyin. Berjamaah atau sinergi ini akan mejadi lebih sempurna jika ulama, umara (pemerintah), aghniya (kalangan berpunya) dan umat menjadi satu kesatuan dalam menyelesaikan masalah bersama terlebih isu yang menjadi pesan utama Muktamar Jombang, yaitu ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Kedua, adalah pentingnya manajemen yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pentingnya manajemen ini yang kemudian Lazisnu Pusat berinisiatif untuk menstandarkan manajemen dengan menggunakan ISO 9001-2015 dengan nomor sertifikat izin 49224. Ini membuktikan komitmen yang tinggi terhadap kebangkitan filantropi di NU untuk menjadi yang lebih baik dalam rangka mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Betapa pentingnya motto “kerjakan apa yang ditulis, dan tulis apa yang akan dikerjakan,” itulah manajemen. Semua harus berbasis data, bukan hanya katanya atau ucapan mulut.

Ketiga, pergerakannya harus dibangkitkan lagi, harakah an-nahdliyyah lizzakah, itulah gerakan yang dimotori Rais ‘Aam PBNU, supaya komitmen membangun NU lewat jalur filantropi menjadi lebih hidup dan berkembang sesuai dengan cita-cita mulia para pendiri NU. Pelopor sekaligus model percontohan yang di gerakkan almarhum Abuya KH. Abdul Basit Sukabumi menjadi contoh yang patut di tiru dan diteladani. Abuya mampu membuat konsep Allah yang termaktub didalam Al Qur’an dan Hadist Baginda Nabi Muhammad SAW menjadi membumi dan gampang di kerjakan dan diaplikasina umat dalam kehidupan sehari-hari. Kekuatan sedekah mampu memberikan manfaat kepada umat dengan pola yang sangat sederhana dan bisa di aplikasikan di mana saja kita berapa. Konsep membumikan sedekah merupakan konsep lama yang dalam Bahasa sederhana kita sehari-hari kita sebut denga? konsep gotong royong. Sedekah atau gotong royong menjadi mahluk mulia yang mampu memberikan manfaat bagi umat jika dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong (sedekah berjamaah).

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keberkahan NU Care-LAZISNU dalam memegang amanat yang mulia untuk memberikan manfaat kepada umat. Amiin.

Penulis adalah Direktur Fundraising NU Care



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri HMI Tegal Kab

Rabu, 15 November 2017

Disayangkan, Perjuangan NU Hilang Dalam Sejarah

Pekalongan, HMI Tegal Kab

Peran Nahdlatul Ulama sebelum dan sesudah kemerdekaan sesungguhnya sangat besar baik dalam skala nasional maupun regional dalam hal ini Pekalongan, akan tetapi sebagaimana yang dicatat dalam sejarah perjuangan bangsa, tak satupun yang dilakukan NU tercatat dengan baik, meski hal itu bukan tujuan NU.

Demikian ditegaskan H Asif Qolbihi, ketua DPRD Kabupaten Pekalongan yang bertindak sebagai keynote addres pada acara "Napak tilas kebangkitan dan kemimpinan NU Kabupaten Pekalongan" yang berlangsung di Gedung PCNU setempat Jumat (25/1).

Disayangkan, Perjuangan NU Hilang Dalam Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Disayangkan, Perjuangan NU Hilang Dalam Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Disayangkan, Perjuangan NU Hilang Dalam Sejarah

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pra konferensi cabang NU Kabupaten Pekalongan sebagai upaya untuk mendokumentasikan paparan dan bukti bukti sejarah yang muncul baik yang disampaikan oleh pelaku sejarah maupun pemerhati dengan bukti bukti yang dimiliki saat ini.

HMI Tegal Kab

Menurut Asif, salah satu bukti bahwa Nahdlatul Ulama Pekalongan telah berdiri sebelum kemerdekaan ialah ditunjuknya Pekalongan menjadi salah satu tempat muktamar NU sebanyak 2 kali sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

HMI Tegal Kab

Hal ini bukan kebetulan, akan tetapi sebagai bentuk pengakuan, dimana NU Pekalongan memiliki andil yang cukup besar terhadap berkembangnya Nahdlatul Ulama hingga seperti sekarang ini.

"Saat ini sedang kami lakukan merunut kembali sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama sebelum dan sesudah kemerdekaan di Pekalongan berdasarkan bukti bukti sejarah yang ada, dan kini sedang dalam proses yang dilakukan oleh tim," ujarnya.

Salah satu dokumen sejarah NU ialah dalam pertempuran 3 Oktober 1945, para tokoh ulama NU terlibat aktif mengusir penjajah, akan tetapi anehnya, tak satupun para tokoh NU yang terlibat dalam pertempuran itu tercatat dalam sejarah pertempuran 3 Oktober 1945.

Dikataan Asif, jika NU tidak berupaya meluruskan kembali sejarah yang bengkok, dikawatirkan kepada generasi muda NU tidak bisa membaca secara jelas fakta fakta sejarah yang telah dilakukan NU yang nampaknya memang disengaja dihilangkan, agar NU tidak dianggap ikut berjuang dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Jika NU Pekalongan sebelum tahun 1962 masih menjadi satu wilayah dengan Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan, maka setelah Muktamar ke 19 yang berlangsung di Palembang, NU Pekalongan dipecah menjadi 3 wilayah mengikuti wilayah administrasi, yakni berubah menjadi NU Kabupaten Batang, NU Kabupaten Pekalongan dan NU Kota Pekalongan.

Sementara itu Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan, KH Muslih Khudlori mengatakan, acara menapak tilas perjuangan NU menjadi sangat penting dilakukan dan penting diketahui oleh generasi muda NU. Pasalnya, jangan sampai anak anak muda NU tidak tahu sejarah perjuangan NU khususnya di Kabupaten Pekalongan.

Dengan kegiata ini, harap KH Muslih yang masih diharapkan memimpin NU Kabupaten Pekalongan untuk lima tahun ke depan ini, dapat dilacak kembali kesejarahan NU di Kabupaten Pekalongan termasuk mengembalikan nama nama jalan yang dahulu pernah diberi nama nama pejuang NU dan sekarang hilang entah kemana. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz PKL

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri HMI Tegal Kab

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara!

Jakarta, HMI Tegal Kab. Persoalan yang sering ditanyakan terkait dengan pemilihan tidak langsung atau ahlul halli wal aqdi adalah apakah pemilihan ini menyalahi prinsip-prinsip demokrasi dan kedaulatan pengurus cabang dan wilayah NU?

Wakil sekjen PBNU Masduki Baidlawi menjelaskan, rais aam syuriyah merupakan “wilayah khusus” dimana warga atau pengurus tanfidziyah sudah samikna waathona (mendengar dan mematuhi), bukan lagi persoalan cabang terlibat atau tidak, karena syuriyah punya legitimasi kuat dalam syariah Islam.

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara! (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara! (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara!

Pola pemilihan ahlul halli ini dicontohkan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab. Sebelum meninggal, ia menunjuk beberapa orang untuk memilih penggantinya. Cerita ini kemudian dikodifikasi oleh Imam Mawardi dalam kitabnya Al Ahkamus Sulthoniyah yang kemudian dijadikan landasan oleh para ulama NU terkait kebijakan pemerintahan.

HMI Tegal Kab

Faktor kedua, kata Masduki, ketika supremasi ulama tergerogoti, maka persoalan kewenangan cabang dan wilayah dalam memilih dipinggirkan dulu. Ketika tantangan politik eksternal begitu kuat, ada alasan dilakukan melalui ahlul hallli wal aqdi.

“Demokrasi itu alat untuk mencapai tujuan. Bisa saja dalam situasi tertentu dilakukan asal secara ideologis tidak terganggu, tetapi ketika ruh dan jantung organisasi terganggu, yang akhirnya jantung organisasi dirampas orang. Ya ngak bisa begitu,” tegasnya.?

HMI Tegal Kab

Belajar dari Syarekat Islam

Ia menyatakan, organissi NU tidak bisa dibiarkan terlalu terbuka sehingga sembarang orang bisa menjadi pengurus tanpa pernah terlibat dalam proses didalamnya, sementara tantangan di luar semakin keras.?

Kelompok Islam transnasional merupakan tantangan baru yagn harus diwaspadai infiltrasinya dalam lingkungan NU. Di beberapa daerah, sudah terindikasi penyusupan tersebut dan akhirnya bisa dikeluarkan. Orang makin kabur antara NU dan Islam transnasional. Ada yang sudah permisif ‘ngak papa yang penting sama-sama Islamnya’ padahal orientasi politiknya berbeda.?

Ia menyatakan, NU harus belajar dari keruntuhan Syarekat Islam (SI) yang pada zaman kolonial, merupakan organisasi Islam paling besar dan berjaya. Tapi puluhan tahun kemudian habis karena terlalu terbuka, akhirnya ada kelompok SI hijau dan SI merah yang dimasuki anasir-anasir komunis.

“Ini tidak ada urusan demokratis dan tidak demokratis, ini urusannya eksistensi NU untuk masa depannya seperti apa, yang 12-13 tahun lagi sudah 100 tahun. Kalau dibiarkan, NU bisa seperti SI. Jadi orang yang mengurus NU merupakan orang yang betul-betul secara ideologi adalah orang NU, jelas, aswajanya seperti apa, pengkaderannya seperti apa,” tandasnya.

Muktamar Situbondo

Ia mencontohkan pola ahlul halli sudah pernah digunakan dalam muktamar ke-27 NU yang berlangsung di Sitobondo yang akhirnya memilih Gus Dur sebagai ketua umum PBNU.

Masa itu ditandai dengan munculnya kader-kader muda NU yang cemerlang seperti Fahmi Syaifuddin, Gus Dur, Masdar F Mas’udi, Slamet Effendy Yusuf, Ichwan Syam dan lainnya. Dikalangan para ulama, juga ada pikiran baru yang reformis seperti KH Ali Maksum, KH Mahrus Ali, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Ahmad Siddiq dan lainnya.?

Kelompok tersebut sangat resah dan gundah dengan kondisi NU yang terlalu terbawa ke politik praktis. Lalu dicarilah cara bagaimana yang memimpin NU memiliki visi yang sama dan sejalan dengan ulama.?

“Kalau dilakukan pemilihan one man one vote, yang akan terpilih lagi Kiai Idham Chalid. Maka dicarilah model pemilihan agar Gus Dur terpilih ketua umum PBNU. Jadi konteksnya begitu. Untuk konteks sekarang, ya alasannya seperti yang saya sebutkan di atas.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul, Aswaja, AlaSantri HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock