Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia

Jakarta, HMI Tegal Kab. Sikap teguh terhadap tradisi, pengkajian kitab-kitab klasik, peneguhan moderatisme Islam, dan garda depan nasionalisme harus terus dilakukan NU untuk menginspirasi dunia. Karakter-karakter tersebut dibutuhkan dunia Islam saat ini yang seolah tak ada hentinya dengan tragedi perang dan anasir-anasir kebencian.

Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia

Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Teologi dan Filsafat Universitas Zaitunah Tunisia, Prof Dr Muhammad al-Mestiri, Kamis (20/10) saat menjadi pembicara utama dalam Kuliah Umum (Studium Generale) yang diselenggarakan Pascasarjana STAINU Jakarta di Gedung PBNU Jakarta Pusat.

Dalam kuliah umum bertema Wasathiyyatul Islam: Stratijiyyah Limuwajahatit Thatharruf al-Fikriy wa al-Dini (Moderatisme Islam; Strategi Melawan Ekstremitas Pemikiran dan Keberagamaan) ini, Al-Mestiri menggarisbawahi bahwa peneguhan Islam moderat saat ini bisa dilakukan dengan jalan tetap menjaga geneologi sejarah.?

Hal ini dilakukan agar Islam tidak tercerabut dari akar tradisinya sehingga moderatisme bisa terus dikembangkan.?

HMI Tegal Kab

“Memahami kitab-kitab klasik (thurats) karya ulama perlu terus dilakukan. Selain itu, kita jug harus memahami paham Barat sehingga dapat menemukan persmasalahan yang ada,” ujar alumni Universitas Sorbonne Prancis ini didampingi Ahmad Ginanjar Sya’ban (Dosen STAINU Jakarta) sebagai penerjemah.

Al-Mestiri juga menjelaskan tentang universalisme (al-kauniyah) yang berbeda dalam persepsi Islam dan Barat. Dalam persepsi Islam, menurutnya, universalisme lahir dari karakter wasathiyah. “Sedangkan universalisme menurut Barat lebih cenderung dimaknai sebagai hegemoni,” jelas Profesor yang tinggal di Prancis lebih dari 18 tahun ini.

Wasathiyah, prinsip keadilan

HMI Tegal Kab

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, lebi jauh al-Mestiri menjelaskan bahwa membincang moderatisme Islam tidak bisa dilepaskan dari apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali Imran: 110)

“Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, makna wasath dalam ayat tersebut adalah bermakna umat yang adil dan terbaik. Jadi, makna umat wasath adalah umat yang berpegang pada prinsip keadilan,” ujar al-Mestiri. ? ?

Selain para mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta, turut hadir dalam acara ini Waketum PBNU HM. Maksoem Makfoedz, Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi yang sekaligus Wakil Rektor UNU Indonesia, Asisten Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta Dr Muh. Ulinnuha dan Hamdani, Ph.D serta sejumlah dosen Pascasarjana STAINU Jakarta lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Syariah, RMI NU, PonPes HMI Tegal Kab

Selasa, 06 Maret 2018

Peserta Perempuan Tak Mau Ketinggalan

Program pengenalan dan pemanfaatan perangkat lunak (software) kitab kuning yang dipelopori Nahdlatul Ulama (NU) Japan dan Situs Pesantren Virtual (http://www.pesantrenvirtual.com) bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Rabithah Maahid al-Islamiyah Jawa Timur (RMI) Jawa Timur, tampaknya semakin diminati kalangan pondok pesantren (ponpes) di Jawa Timur.

Ahad (8/4) lalu, kegiatan bertajuk "Halaqah Pemanfaatan Software Kitab Kuning dan Pengembangan Perpustakaan Digital di Pondok Pesantren" tersebut digelar di Ponpes Nurul Ikhlas, Sepande, Candi, Sidoarjo. Halaqah di pondok pesantren asuhan KH Mukhlas Kurdi yang juga Ketua PC RMI Sidoarjo ini merupakan halaqah ketiga yang digelar oleh PW RMI Jatim. Sebelumnya, dua kali halaqah telah digelar di Probolinggo (16/12/06) dan Tulungagung (17/3/07).

Minggu, 04 Februari 2018

Pesan Sekretaris PWNU Jabar kepada PMII

Bandung, HMI Tegal Kab - Sekretaris PWNU Jawa Barat H. Asep Saefudin Abdillah mengatakan, tugas dan tanggung jawab warga NU Jawa Barat sangat besar. Karena menjadi warga NU berarti berada di dalam organisasi yang tidak biasa.

Tidak biasa karena NU, kata dia, adalah organisasi keagamaan warisan para ulama dan peninggalan para aulia.

Pesan Sekretaris PWNU Jabar kepada PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Sekretaris PWNU Jabar kepada PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Sekretaris PWNU Jabar kepada PMII

Maka dari itu, ia beraharap PMII mampu dan tidak ragu-ragu untuk terlibat setiap acara yang menyangkut ke-NU-an di Jawa Barat.

"Saya beraharap PMII mampu dan tidak ragu-ragu untuk ambil bagian, mendukung dan membantu dalam setiap acara ke-NU-an," ujarnya di hadapan peserta napak tilas Mahbub Djunaidi dan pelatihan jurnalistik yang diadakan PKC PMII Jawa Barat di gedung dakwah PWNU pada Ahad (6/11).

HMI Tegal Kab

Mantan Ketua PKC PMII Jawa Barat periode 1992-1993 tersebut, juga mengapresisasi pelatihan jurnalistik ini karena menurutnya sebagai bagian dari warga NU harus seimbang dalam setiap aspek.

HMI Tegal Kab

"Saya sangat mengapresiasi, PMII itu harus seimbang baik segi Intelektual, keislaman dan keIndonesian atau kebangsaannya," pungkasnya.

Napak tilas Mahbub Djunaidi? dan pelatihan jurnalistik ditutup dengan ziarah ke makam Ketua Umum pertama PB PMII Ahad sore (6/11). Sekitar 30 peserta dan panitia serta pengurus PKC turut berziarah di pemakaman berlokasi di Kelurahan Babakan Ciparay, Kecamatan Babakan.

"Selain menjaga tradisi dan mendoakan kedatangan ke sini untuk merefleksi kita semua, khususnya peserta pelatihan jutnalistik, agar benar-benar mampu menjadi Mahbub-Mahbub selanjutnya sesuai dengan tujuan agenda ini," ujar Dhamiry Al-Ghazaly, sekretaris panitia kegiatan.

Salah seorang peserta asal Bekasi, Eman Sulaeman, berpendapat bahwa ziarah tersebut untuk memotivasi dan memantik spirit dalam meneladani Mahbub di bidang tulis-menulis.

Tidak kurang dari 30 menit peserta dari Cabang PMII berbagai kabupaten itu berada di makam. Mereka berdoa dan diakhiri dengan pembagian sertifikat secara seremonial oleh panitia. (Naseh Kamal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hikmah, Syariah, Bahtsul Masail HMI Tegal Kab

Senin, 29 Januari 2018

Angon Wedus Dituduh Wedus

Oleh Aswab Mahasin

Akhir-akhir ini, Indonesia seringkali dihebohkan oleh fenomena “kiro-kiro” (kira-kira). Sayangnya, fenomena “kiro-kiro” tersebut tidak diukur melalui proses benar/salah, sesuai/tidak, dan nyambung/tidak. Melainkan langsung jatuh vonis: Anda salah, Anda menyimpang, dan Anda keliru. Seringkali masyarakat kita terjebak dengan ‘nampak luar’ dan ‘nampak isu’. Pengandaiannya begini, orang angon wedus (gembala kambing) sering dituduh kalau dia wedus dan orang masuk kandang ayam sering dituduh kalau dia bagian dari ayam.

Angon Wedus Dituduh Wedus (Sumber Gambar : Nu Online)
Angon Wedus Dituduh Wedus (Sumber Gambar : Nu Online)

Angon Wedus Dituduh Wedus

Masih kental diingatan kita, Gus Dur pernah membuka wacana kerja sama dagang dengan Israel. Namun, tidak sedikit masyarakat yang menuduh Gus Dur adalah antek Yahudi, antek zionis, dan antek-antek lainnya. Padahal yang Gus Dur lakukan adalah “angon wedus” dengan kata lain “angon Israel”.

Gus Dur dalam wacananya tidak begitu saja membuka kerja sama dengan Israel, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Israel itu sendiri, seperti: mempertimbangkan nasib rakyat Palestina dan dilibatkannya Indonesia dalam proses perdamaian di Timur Tengah (notabene Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar).

Gus Dur sebelumnya melakukan pertemuan dengan 16 Duta Besar Negara-negara Arab, termasuk Dubes Palestina saat itu Ribhi Y Awad. Kata Awad, “Gus Dur dan Indonesia tidak akan melakukan hubungan diplomatik dengan Israel sebelum bangsa Palestina mendapatkan kemerdekaan, dan Indonesia juga tidak akan membuka hubungan kerjasama dengan Israel, sebelum Israel melepas tawanan Palestina, dan sebelum Israel mengembalikan wilayah-wilayah Arab yang diduduki Israel”.

Jika kita lihat konteksnya, Gus Dur sedang mencoba ngangon Israel, bukan menjadi Israel. Namun, kebiasaan masayarakat kita setiap “angon” dikira “menjadi apa yang di-angon”. Ini yang dinamakan “angon wedus dituduh wedus” sama dengan “angon Israel dituduh Israel”. Padahal Gus Dur ngangonitu supaya wedus (baca: Israel) tidak liar, dan bisa dikendalikan secara sikap politiknya. Untuk mengendalikan sesuatu yang liar maka harus dibimbing, diarahkan, dan diikat emosionalnya, dengan cara ‘angon’.

HMI Tegal Kab

Belum lama juga, kita ingat geger tentang Cak Nun perihal kedekatannya dengan orang-orang HTI. Bagi pemahaman saya sekarang, itu adalah pancingan yang dilakukan oleh Cak Nun, dengan lebih awal menembak NU dulu. Karena HTI paling tidak klop dengan NU. Ini adalah cara Cak Nun untuk berdialog hangat dengan HTI, dan memberikan pemahaman utuh tentang keindonesiaan kepada HTI. 

Tepatlah sasaran Cak Nun, orang-orang HTI itu akhirnya soan ke kediaman Cak Nun (tanpa disangka dan tanpa diduga), dan meminta petuah kepada Cak Nun, dan di sinilah Cak Nun mencoba menggiring mereka kepada pemahaman utuh tentang khilafah dan keindonesiaan. Cak Nun mengatakan, pemahaman khilafah saya dengan khilafah Anda sebagai HTI berbeda. Namun, apa yang terjadi? 

Cak Nun, mencoba masuk kandang ayam, dan beliau-pun dikira ayam oleh kebanyakan orang. Padahal niat Cak Nun, ingin membersihkan kandang ayam, memandikan ayam, dan menyemprot ayam agar terhidar dari bakteri-bakteri yang menyimpang. Tapi Cak Nun, dibredel habis-habisan, dengan mengatakan, “Cak Nun, ayam, Cak Nun, ayam, Cak Nun, ayam”.

Baru kemaren, medsos ‘geger berat’ masalah Banser yang dituding membubarkan pengajian Felix Siauw di Bangil, Pasuruan.Memang,Banser akhir-akhir ini getol menindaklanjuti orasi-orasi terselubung yang dilakukan orang-orang HTI. Namun, di Bangil ini gegernya gementus. Saya lihat banyak anggapan miring yang diarahkan kepada Banser. Dalam hal ini, kita harus mendudukkan pada pikiran yang jernih dan jiwa yang lapang. Jangan hanya gara-gara Felix sebagai objek, lantas Banser yang salah, tidak begitu.

HMI Tegal Kab

Faktanya, Ansor/Banser ingin mencoba meminimalisir kemungkinan pencuri ikan di meja makan Indonesia ini. Banser tidak mau, pancasila sedikit demi sedikit digerogoti keutuhannya, NKRI dirongrong kesatuannya, dan Indonesia digantikan sistem pemerintahannya. Namun, tuduhan demi tuduhan itu datang kepada Banser, disangkanya banser melakukan perbuatan semena-mena terhadap suatu kelompok atau orang tertentu. Jelas, ini anggapan keliru. Banser melakukan itu, tanpa kekerasan, tanpa pentungan, dan tanpa ancaman. Karena itu, ini bukan pembubaran.

Banser mengajukan penawaran, agar seseorang itu menandatangani poin-poin tertentu yang diajukan, seperti: mengakui pancasila, tidak menyebarkan faham-faham negara Islam, dan menyatakan tidak ada sangkutpautnya dengan HTI. Namun, seseorang tersebut menolak dan memilih untuk pergi. Logikanya jelas tidak utuh kalau itu dinyatakan sebagai pembubaran, Banser ingin berdialog, berdamai, dan tidak mau ada keributan.

Banser ini sedang “angon” toleransi, sedang “angon” kesatuan, sedang “angon” pancasila, dan sedang “angon” Indonesia. Banser malah dituduh sebagai kepanjangan tangan penguasa, hanya berpihak kepada penguasa dan memuluskan kepentingan penguasa. Padahal aktifitas tersebut untuk kepentingan bersama—keuntuahan rumah kita, Indonesia Raya. Memang aneh, setiap berbicara pancasila maka dituduh bagian dari penguasa, dengan dalih—hanya penguasa yang boleh menafsirkan pancasila.

Namun, penjelasan seperti itu belum mampu meredam hiruk-pikuk di medsos yang kadung terperdaya oleh sumber-sumber berita menyudutkan. Dalam hal ini, saya hanya berharap Banser tetap istiqomah dan Banser bersabar atas tudingan ini-itu, meminjam istilah Gus Dur, “Nanti sejarah yang akan membuktikannya.”

Kita semua mengenal peribahasa, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, Di mana ranting dipatah, di situ air disauk, Masuk kandang kambing mengembek, masuk kandang kerbau menguak”. Peribahasa tersebut menyarankan agar kita selalu menyesuaikan dan mengikuti kebiasaan (cara hidup, cara pandang), dan adat istiadat di tempat kita berada.

Indonesia dengan berbagai intriknya bersepakat mengusung identitasnya Pancasila. Negara berdasar Pancasila bukan negara agama, tapi juga bukan negara sekuler, kata Prof. Dr. N. Drijakara tahun 1959. Bagaimana memahaminya? Bukan sekuler, karena negara mengakui dan memberi tempat buat religi. Bukan negara agama, karena tidak mendasarkan diri atas suatu agama tertentu.(Mahbub Djunaedi, Bukan Ini Bukan Itu, [Tempo, 15 Maret 1975])

Yang paling ruwet saat ini adalah dua kekuatan besar dibenturkan, di mana agama berbenturan dengan negara dan negara berbenturan dengan agama. Dan keduanya terkesan saling berlawanan. Ambil contoh pembubaran HTI, bagi sebagian orang menafsirkannya negara tidak berpihak kepada Islam. Namun, yang harus dipertanyakan ialah, kenapa hanya HTI yang dibubarkan?

Benturan itu terjadi tidak hanya dengan negara, namun dengan organisasi lainnya juga. Seharusnya HTI datang kepada pemerintah atau NU meminta bimbingan agar sesuai dengan misi dan visi pembangunan. Kalau HTI hanya ngambek di belakang, sampai kapanpun tidak akan ketemu titik pijaknya. Kita semua harus duduk bersama, dan HTI bertanya, saya salahnya dimana? Saya seharusnya bagaimana? Kalau HTI memang benar-benar ingin ikut andil dalam mencerdaskan dan membangun bangsa ini, HTI harus melakukan langkah-langkah yang cantik dan bijaksana.

Kita sebagai penonton, harus menghilangkan kebiasaan menduga-duga/mengira-ngira tuduhan-tuduhan yang belum tentu kebenarannya, lebih dulu harus dicek dan ditimang-timbang kesesuaiannya. Apalagi tuduhan-tuduhan yang mengarah pada perpecahan. Setiap ada yang “angon wedus” kita curigai, kalau semua kita curigai, lantas kita mau percaya kepada siapa dalam urusan dunia ini? Memang, kebenaran seringkali sepihak. Anehnya, ketika kita belajar tentang benar, itu untuk menyalahkan. Lantas, kalau semua disalahkan, siapa yang benar?

Sungguh, benar dan salah sudah tak terlihat di zaman medsos ini, apalagi zaman now, pemegang kuasa kebenaran tergantung bagaimana opini medsos yang berkembang, entah itu dituduh wedus atau dituduh ayam. Siapapun yang menentang kebenaran berita/informasi medsos maka ia akan dianggap salah dan siap-siap dihantam habis-habisan. Ketika kebenaran yang lebih valid datang, tidak akan diterima karena kebenaran yang sudah dianggap benar mendahului. Benar adagium yang menyatakan, “siapa yang menguasai media, ia menguasai dunia”. 

Efeknya adalah kita lebih menikmati “kentut” kita sendiri, dan tidak mau menerima “kentut” orang lain. Artinya, manusia selalu mengira apa yang dilakukannya itu putih (suci), padahal apa yang kita lakukan punya dua kemungkinan aroma, harum dan busuk. Karena itu, baiknya kita sama-sama bercermin dan introspeksi diri kita masing-masing.Bukan hal yang buruk berjalan memperbaiki diri, dalam posisi apapun dan dipihak manapun.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wa’ tashimu bi habli allaihi jami’an wa la tafarraqu” (Dan bepeganglah kalian kepada tali Allah (secara) keseluruhan dan janganlah bercerai-berai/terpisah belah) (QS. Ali Imran [3]: 103). Menurut Gus Dur, ayat ini menunjukan kepada kita, yang dilarang bukannya perbedaan pandangan melainkan bersikap terpecah-belah satu dari yang lainnya. Hal ini diperkuat sebuah ayat lain (QS. Al-Maidah [5]: 3), “ta’wanu ‘ala al-birri wa al-taqwa”.

Kata Gus Dur, di sinilah kita perlu membangun kembali “kesatuan umat”(ummatan wahidatan). Mudah diucapkan, tapi sulit diwujudkan bukan?

Penulis adalah Pembaca Setia HMI Tegal Kab.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Doa, Syariah HMI Tegal Kab

Minggu, 28 Januari 2018

Kembangkan Potensi Kader, PMII Bolmong Gelar Pelatihan Jurnalistik

Bolaang Mongondow, HMI Tegal Kab? . Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, menggelar pelatihan jurnalistik di Sekretariat PMII Jl. Amal Kelurahan Mogolaing Kecamatan, Kotamobagu Barat Sabtu-Ahad (19-20/12).

Kembangkan Potensi Kader, PMII Bolmong Gelar Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan Potensi Kader, PMII Bolmong Gelar Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan Potensi Kader, PMII Bolmong Gelar Pelatihan Jurnalistik

Menurut Ketua PMII Cabang Bolmong Inca Ing Bangki kegiatan tersebut bertujuan mengembangkan potensi kader di bidang jurnalistik untuk transformasi pengetahuan.

"Seluruh peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik, diharapkan tidak hanya sampai berakhir di sini, tetapi setelah ini dapat belajar lebih giat lagi sebagai bekal kita untuk ke depannya," ungkapnya pada pembukaan pelatihan tersebut.

HMI Tegal Kab

Sekitar 15 peserta kegiatan tersebut sangat antusias mengikuti Pelatihan jurnalistik yang baru pertama kali diselenggarakan oleh PMII Cabang Bolmong. Para pemateri adalah para alumnus organisasi tersebut yang berprofesi sebagai jurnalis di media lokal maupun regional Sulut.

Para pemateri itu adalah Yokman Muhaling (PC GP Ansor Kotamobagu), Supardi Bado (PC GP Ansor Kotamobagu), Andhika Dawangi (Alumni PMII Cabang Tondano) ? dan ? Amir Halatan.

HMI Tegal Kab

Supardi Bado berharap kegiatan tersebut tidak hanya sekali saja agar potensi-potensi kader PMII di bidang jurnalistik bisa berkembang maksimal. (Udi Masloman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Budaya, Syariah, Kiai HMI Tegal Kab

Minggu, 07 Januari 2018

Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi

Kendal, HMI Tegal Kab. Dukung mendukung calon gubenur dan wakil gubenur menjelang Pilgub Jateng 2008 yang akan dilaksanakan 22 Juni mendatang tidak akan merusak Khittah NU sepanjang dilakukan secara perorangan atau pribadi, bukan secara organisatoris. Warga NU yang mendukung M Adnan tentu tidak bisa dipersoalkan. Justru kalau M Adnan tidak didukung warga NU itu menjadi pertanyaan.

Demikian disampaikan KH Zuhri Ikhsan saat acara konsolidasi Tim Kemenangan Muhammad Adnan (TKMA) tingkat kabupaten Kendal di rumah makan Salsabil Brangsong, Senin (19/5) lalu.

Dukung Mendukung  dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi

“Orang NU yang tidak mendukung calon dari NU itu orang bodoh,” tegas kyai asal  Kaliwungu itu seperti dilaporkan oleh kontributor NU online, Fahroji.

HMI Tegal Kab

Sementara itu ketua TKMA kabupaten Kendal MH Mustamsikin, M.PdI yang juga wakil ketua PCNU Kendal mengatakan bahwa secara organisasi NU tetap netral. Kalau toh dalam  forum tersebut banyak hadir para ketua MWCNU se-kab. Kendal itu kapasitasnya sebagai pribadi warga NU. “Yang mengundang  bukan NU tetapi TKMA, undangannya juga bukan kepada ketua MWCNU, tetapi kepada perorangannya,” terangnya.

HMI Tegal Kab

Dalam acara konsolidasi TKMA yang dihadiri oleh pengurus TKMA tingkat kecamatan se-Kab. Kendal itu Mustamsikin banyak menjelaskan kronologi seputar pencalonan Adnan sebagai cawagub Jateng mendampingi Bambang Sadono yang diusung oleh partai Golkar.

Menurutnya pencalonan Adnan sudah melalui beberapa tahapan pertemuan. Mulai pertemuan Tanfidziyah PCNU se Jateng dalam Mukerwil PWNU di PP Al Itqon Tlogosari Semarang tanggal 14-15 Juli 2006 sampai dengan pertemuan PWNU dan PCNU se-Jateng di 6 eks Karesidenan Juli –Agustus 2007

Dari pertemuan-pertemuan yang jumlahnya tidak kurang dari enam kali pertemuan itu sepakat merekomendasikan H Muhammad Adnan untuk maju sebagai calon wakil Gubenur mendampingi H Bambang Sadono.  Dikatakan pula bahwa  hasil itu merupakan proses panjang yang melibatkan PWNU dan PCNU se-Jateng.

Lebih lanjut Mustamsikin juga menjeleaskan bahwa majunya Adnan berdasarkan surat PWNU Jateng No. PW. II/0589/A/XII/2007 yang isinya memberikan ijin dan rekomendasi persetujuan kepada Drs H Muhammad Adnan, MA selaku ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama jawa Tengah untuk: Pertama, maju dan mencalonkan diri dalam Pemilihan Gubenur Jawa Tengah 2008 sebagai calon wakil Gubenur. Kedua, memenuhi permintaan/menerima lamaran untuk menjadi wakil gubenur dari calon Gubenur H. Bambang Sadono melalui partai Golkar.

Dalam konsolidasi yang juga  dihadiri  Mbah Dim ( KH. Dimyati Rois )  ketua PCNU Kendal Drs HM Ali Hasan, Msi, anggota  DPR RI dari fraksi Golkar Drs H Mujib Rohmat itu farum memutuskan untuk segera melakukan konsolidari sampai ketingkat akar rumput. (fhj)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama, Syariah HMI Tegal Kab

Jumat, 29 Desember 2017

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta

Brebes, HMI Tegal Kab. Warga RW 08 Kelurahan Limbangan Wetan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, membangun mushola mengandalkan kocek mereka sendiri. Sampai kini, pembangunan telah menelan dana Rp 220 juta.

“Seluruh dana berasal dari swadaya masyarakat dan sumbangan lain yang sah dan tidak mengikat. “Insya Allah dalam waktu dekat, bisa selesai 100 persen karena tinggal finishing,” ujar bendahara pembangunan mushola, Asif Faozan.

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Barokah, Mushola Swadaya Habiskan 220 Juta

Mushola tersebut dibangun di atas tanah wakaf PT Eka Muda seluas 144 meter persegi. Atas usulan warga RW 08, sejak Juli 2013, pembangunan telah dilaksanakan, dan kini telah mencapai 90 persen.

HMI Tegal Kab

Meskipun belum selesai, kata Asif, mushola sudah digunakan untuk shalat Tarawih, shalat Ied.

HMI Tegal Kab

Lebih jauh Asif berharap, momentum hijriyah ini, mudah-mudahan bisa menambah gairah (semangat) beruat kebaikan dengan penambahan amal ibadah.

Dalam pantauan NU Onlinr pada Selasa (4/11) warga bahu membahu melakukan pengecoran. Sementara ibu-ibunya menyiapkan jajanan dan makanan penghilang lelah. “Tahun baru, juga harus guyub membangun kebaikan,” imbuh sekretaris panitia Mas Toto.

Ketua Panitia pembangunan mushola, Djuhaeri menjelaskan, ini bukti masyarakat bisa diajak gotong royong, swadaya, untuk memenuhi kebutuhan rumah ibadah mereka sendiri. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Syariah, Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock