Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

LDNU Kembali Selengarakan Pesantren Dai Transmigran

Jakarta, HMI Tegal Kab. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) kembali menyelenggarakan pesantren kilat untuk para dari daerah transmigrasi. Menurut rencananya, pesantren kilat ini akan dibuka oleh Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar di Pesantren al-Manar Azhari Depok, Senin (9/11).? ?

Pesantren kilat ini diikuti oleh sekitar seratus dai yang telah menetap sebagai transmigran dari berbagai daerah transmigrasi. Acara ini akan berlangsung selama 15 hari, sejak Senin besok hingga Ahad (22/11).

LDNU Kembali Selengarakan Pesantren Dai Transmigran (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Kembali Selengarakan Pesantren Dai Transmigran (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Kembali Selengarakan Pesantren Dai Transmigran

Demikian dinyatakan ketua panitia, Ustadz Bukhori Muslim kepada HMI Tegal Kab di Jakarta, Ahad (8/11). Menurut Bukhori, pelatihan akan dilaksanakan di dua pesantren, yakni pesantren Ash-Shiddiqiyah di Jakarta Barat dan Pesantren al-Manar Azhari Depok.

HMI Tegal Kab

"Namun untuk pembukaan esok hari, kita akan konsentrasikan menjadi satu di? al-Manar Azhari Depok. Pembukaan insya Allah akan dihadiri oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Ketua LDNU KH Nuril Huda dan para Dirjen terkait," terang Bukhori.

Lebih lanjut, Bukhori menyatakan, pelatihan para dai ini akan memiliki manfaat sangat penting bagi perkembangan Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke depan di daerah-daerah transmigrasi. Karena para dai peserta pesantren kilat inilah yang akan menjadi ujung tombak dakwah Islam di pedalaman-pedalaman Indonesia yang akan dibangun sinergis ke depan.

HMI Tegal Kab

"Para peserta akan dilatih dan disiapkan untuk menjadi para pemimpin agama di daerahnya masing-masing. Selain itu mereka juga akan dilatuh agar dapat menjalin komunikasi yang intens di antara sesama dai untuk dapat bertukan informasi dan bersinergi dalam dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah," tandas Bukhori. (min)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Hikmah HMI Tegal Kab

Minggu, 18 Februari 2018

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Bantul, HMI Tegal Kab. Lahan terbatas sama sekali bukan alasan untuk berani berkreasi atau berkarya. Tampak dalam foto, Pengasuh Pondok Pesantren Alimdad, KH M Habib A Syakur, sedang berusaha meluruskan batang tanaman lombok dan terong di media tanam polybag di terik sinar matahari.

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Beberapa puluh polybag berisi tanaman lombok dan terong memang sengaja ditata sedemikian rupa oleh Habib di pekarangan kediamannya, yang masih masuk dalam kawasan komplek Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul. Dalam keterangannya, Habib menyebutkan bahwa ia telah menyiapkan sekira 500 polybag untuk kedua jenis tanaman tersebut.

"Sejatinya, saya juga ingin mempersiapkan beberapa ratus polybag lagi untuk berbagai jenis tanaman lain, seperti tomat, timun, dan kacang panjang. Tapi, saya kira hal ini akan saya lakukan secara berjenjang dahulu," ujar Habib.

HMI Tegal Kab

Media tanam polybag yang dirawat oleh Habib ini terdiri dari campuran tanah dengan pupuk kandang dan kompos yang keduanya merupakan hasil dari pengolahan limbah di Pondok Limbah yang dimiliki PP Al-Imdad Bantul. Hal ini adalah ejawantah dari visi pesantren Al-Imdad sendiri, yaitu SANTRI SALIH--Santun, Agamis, Nasionalis, Terampil, Ramah, Inovatif dan SAdar LIngkungan Hidup.

"Saya gak punya pengetahuan apa-apa tentang tanaman polybag ini, tapi saya beranikan diri untuk mencobanya, sebab berdasarkan teori dan pengalaman sebagian orang, hal semacam ini mungkin saja dilakukan," jawab Habib saat ditanya perihal pengalamannya menekuni tanaman polybag ini.

HMI Tegal Kab

Habib lantas memungkasi, "Kalau usaha saya berhasil, ini akan meringankan anggaran belanja untuk makan santri dan kalaupun gagal, saya kira tak jadi masalah. Sebab, dalam prosesnya saja, saya sudah terhibur dengan merawatnya."(Yusuf Anas/Anam) Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen HMI Tegal Kab

Sabtu, 17 Februari 2018

Yayasan Darul Ma’arif Sumbar Gelar Pelatihan Guru PAUD

Pariaman, HMI Tegal Kab. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahapan pendidikan yang penting dalam melahirkan anak-anak cerdas bangsa ke depan. Untuk itu, apresiasi yang positif perlu diberikan kepada pengelola dan guru PAUD.

Yayasan Darul Ma’arif Sumbar Gelar Pelatihan Guru PAUD (Sumber Gambar : Nu Online)
Yayasan Darul Ma’arif Sumbar Gelar Pelatihan Guru PAUD (Sumber Gambar : Nu Online)

Yayasan Darul Ma’arif Sumbar Gelar Pelatihan Guru PAUD

Pembina Yayasan Darul Ma’arif Sumatera Barat Darmansyah mengungkapkan hal itu ketika membuka Pelatihan Pengelola dan Peningkatan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ma’arif Sumatera Barat tahun 2012, Ahad (23/9) di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Desa Kajai Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman. Pelatihan diikuti 50 orang pengelola dan guru PAUD Azzahrah Ma’arif di Kabupaten Padangpariaman dan Kota Pariaman.

Darmansyah mengingatkan, para guru dan pengelola jangan dipaksa anak-anak menguasai pelajaran matematika, hafalan tertentu. Karena dapat merugikan anak itu sendiri di kemudian hari.  “Kenapa anak PAUD lebih banyak bernyanyi, ketimbang belajar matematika. Karena masa anak-anak itu mudah menerima sesuatu dan cepat bosan. Anak-anak masih bersih dari dosa, hatinya suci, sehingga mudah ingat dan cepat bosan,” kata Darmansyah yang juga Wakil Ketua PWNU Sumatera Barat.

HMI Tegal Kab

Ketua Panitia Pelatihan Pengelola dan Peningkatan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ma’arif Sumatera Barat tahun 2012 Armaidi Tanjung menyebutkan, pelatihan menampilkan empat narasumber. Masing-masing  Ketua Yayasan Darul Ma’arif  Sumbar/Wakil Ketua PWNU Sumbar  Dasril (Penguatan Nilai-Nilai Aswaja Bagi Pengelola dan Guru PAUD), Pembantu Pimpinan  Bidang PAUD/PK-PLK Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat Wismawetti (Strategi Pembelajaran PAUD), Kasi Pendidikan Keagamaan Bidang Pekapontren Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat  H Syahrizal (Kebijakan Kementerian Agama Sumbar Terhadap Pengembangan PAUD dan Raudhatul Atfal (RA) di Sumatera Barat) dan Pembina PAUD Azzahrah Ma’arif Kab. Padangpariaman/Kota Pariaman  Armaidi Tanjung (Pentingnya  PAUD Dalam Melahirkan Generasi Bangsa Yang Cerdas).

HMI Tegal Kab

”Pelatihan dimaksudkan untuk memberikan informasi dan peningkatan wawasan bagi pengelola dan guru PAUD Azzahrah Ma’arif di Padangpariaman dan Kota Pariaman. Kegiatan ini difasilitasi oleh Yayasan Darul Ma’arif Sumatera Barat dan Kasubdit Kelembagaan dan Kemitraan Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Ditjen PAUDNI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta,” kata Armaidi Tanjung penulis buku Pariaman Dulu, Kini dan Masa Depan ini.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Doa HMI Tegal Kab

Minggu, 11 Februari 2018

Tatacara dan Ketentuan Qashar Shalat

Seseorang yang melakukan bepergian jauh diberi keringanan (rukhsah) dalam tatacara pelaksanaan shalat. Agama memperbolehkan seorang musafir melakukan peringkasan (qashar) dalam shalat berjumlah empat rakaat menjadi dua rakaat, yakni shalat zhuhur, ashar dan isya. Konsensus (ijma) ulama tidak memperbolehkan qashar untuk shalat maghrib dan subuh.

Allah SWT berfirman di dalam Surat An-Nisa’ ayat 101.

Tatacara dan Ketentuan Qashar Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tatacara dan Ketentuan Qashar Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tatacara dan Ketentuan Qashar Shalat

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

HMI Tegal Kab

Artinya, “Ketika kalian bepergian di bumi, maka bagi kalian tidak ada dosa untuk meringkas shalat.”

HMI Tegal Kab

Perincian hukum melaksanakan qashar dibedakan sebagai berikut.

1. Jawaz (boleh).

Seseorang boleh melakukan qashar bila perjalanan sudah mencapai 84 mil/16 Farsakh atau 2 Marhalah/80,640 km (8 kilometer lebih 640 m), tetapi belum mencapai 3 Marhalah/120, 960 km (120 kilometer lebih 960 meter). Qashar boleh dilakukan oleh mereka yang selalu bepergian di darat maupun laut, baik mempunyai tempat tinggal ataupun tidak. Dalam jarak sekian ini mereka semua sunah/lebih baik tidak melakukan qashar.

2. Lebih baik (Afdhal) melakukan qashar.

Orang lebih baik melakukan qashar bila jarak tempuh mencapai 3 marhalah atau lebih.

3. Wajib

Apabila waktu shalat tidak cukup untuk digunakan kecuali dengan cara meringkas shalat (qashar), maka ia wajib qashar.

Syarat-Syarat Qashar Shalat

1. Bepergian tidak untuk bertujuan maksiat, yaitu yang mencakup bepergian wajib seperti untuk membayar hutang, bepergian sunah seperti untuk menyambung persaudaraan, atau bepergian yang mubah seperti dalam rangka berdagang.

2. Jarak yang akan ditempuh minimal 2 marhalah/16 farsakh (48 mil)/4 barid/perjalanan 2 hari. Sedangkan dalam menentukan standar jarak menurut ukuran sekarang terdapat beberapa pendapat:

a. Jarak 80,64 km (8 km lebih 640 m) (Lihat Al-Kurdi, Tanwirul Quluub, Thoha Putra, juz I hal 172).

b. Jarak 88, 704 km (Lihat Al-Fiqhul Islami, juz I, halaman 75).

c. Jarak 96 km bagi kalangan Hanafiyah.

d. Jarak 119,9 km bagi mayoritas ulama.

e. Jarak 94,5 km menurut Ahmad Husain Al-Mishry.

Kemudian, seorang musafir diperkenankan melaksanakan qashar setelah melewati batas desa (pada desa yang ada batasnya) atau melewati bangunan atau perumahan penduduk. Begitu pula batas akhir dia boleh menggunakan hak qashar adalah ketika dia pulang dan sampai pada batas-batas di atas atau sampai pada tempat tujuan yang telah ia niati untuk dijadikan tempat mukim.

3. Shalat yang di-qashar adalah shalat ada (shalat yang dikerjakan pada waktunya/bukan qadha) atau shalat qadha yang terjadi dalam perjalanan. Sedangkan shalat qadha dari rumah tidak boleh di-qashar.

4. Niat qashar shalat saat takbiratul ihram. Sedangkan niatnya sebagai berikut.

? ? ? ? ? ?

Artinya, “Saya niat shalat fardhu zhuhur dengan qashar karena Allah ta’ala.”

Atau bisa dengan niat sebagai berikut.

? ? ? ? ? ?

Artinya, “Saya niat shalat dhuhur dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Niat di atas diharuskan terjaga selama shalat berlangsung, dan seandainya terjadi keraguan pada seseorang ketika shalat (semisal ragu-ragu qashar ataukah menyempurnakan, sudah melakukan niat qashar ataukah belum dan sebagainya), maka baginya diwajibkan untuk menyempurnakan shalat (itmam), namun tidak harus membatalkan shalatnya akan tetapi langsung diteruskan tanpa meng-qashar.

5. Tidak dilakukan dengan cara mengikuti (bermakmum) kepada imam yang melaksanakan shalat itmam (tidak meng-qashar), baik imam tersebut berstatus musafir ataukah muqim (tidak bepergian) atau pada imam yang masih diragukan keadaan bepergiannya.

6. Mengetahui tentang diperbolehkannya melakukan shalat dengan cara qashar. Bukan hanya sekadar ikut tanpa mengetahui boleh dan tidaknya qashar.

7. Dilaksanakan ketika masih yakin dirinya (Al-Qashir) masih dalam keadaan bepergian sehingga ketika di tengah-tengah shalat muncul keraguan atau bahkan yakin dirinya telah sampai di daerah muqimnya (desanya) kembali, maka ia berkeharusan menyempurnakan shalatnya.

8. Bepergian dengan tujuan yang jelas (daerah/tempat tertentu) sehingga seperti orang yang kebingungan mencari tempat tujuan (Al-Haim), orang yang pergi mencari sesuatu yang tidak jelas tempatnya, dan sebagainya tidak diperkenankan untuk meng-qashar shalat. Wallahu a‘lam. (Muhammad Subromulisi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen HMI Tegal Kab

Kamis, 08 Februari 2018

NU Tidak Mau Terjebak Kontroversi Konser Lady Gaga

Surabaya, HMI Tegal Kab. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menjawab pertanyaan sejumlah kalangan mengenai sikap NU terkait rencana kedatangan diva pop Lady Gaga ke Indonesia. Kiai Said menegaskan NU tidak menolak dan tidak mendukung rencana kegiatan tersebut. 

"Mereka yang mendatangkan (Lady Gaga) itu ada sponsornya, ada kekuatan politik di belakangnya. Dan mereka yang menolak juga memiliki sponsor dan dukungan politik. Saya mewakili NU menyatakan kami ada di tengah, tidak mendukung salah satunya," tegas Kiai Said di hadapan pengurus PCNU dalam kegiatan Kunjungan Kerja PBNU ke PWNU Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (26/5). 

NU Tidak Mau Terjebak Kontroversi Konser Lady Gaga (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tidak Mau Terjebak Kontroversi Konser Lady Gaga (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tidak Mau Terjebak Kontroversi Konser Lady Gaga

Pertanyaan sejumlah kalangan atas sikap NU tersebut mengemuka setelah Kiai Said sebelumnya menyampaikan pandangan yang dinilai abu-abu di acara Indonesia Lawyer Club TV One beberapa saat lalu. Saat itu Kiai Said mengatakan sekalipun yang datang ke Indonesia seribu Lady Gaga, keimanan warga NU tidak akan goyah. 

HMI Tegal Kab

"Saya berkata demikian karena tidak ingin terperangkap jebakan politik. Saya ingin NU tetap ada di tengah, tidak terjebak perangkap mereka yang mendatangkan ataupun yang menolak. Mohon itu bisa dipahami dengan benar," tambah Kang Said, demikian Kiai Said disapa. 

Kang Said juga menyampaikan, dirinya secara pribadi maupun  sebagai Ketua Umum PBNU tidak memiliki kepentingan dengan rencana kedatangan dan penolakan Lady Gaga. "Percayalah, saya secara pribadi, dari dalam hati juga tidak suka, juga tidak berkepentingan dengan Lady Gaga. Kalaupun ada tawaran menonton, gratis dan dijemput sekalipun, saya akan menolaknya. Bagaimanapun saya juga lulusan Lirboyo, pernah nyantri di Krapyak yang masih mengerti norma-norma Islam yang benar," tandasnya. 

HMI Tegal Kab

Dalam keterangannya Kang Said juga mengatakan, makna seni sesungguhnya adalah yang mengangkat harkat dan martabat manusia. Kesenian seperti yang ditampilkan Lady Gaga adalah salah satu yang menjatuhkan martabat manusia dan harus ditolak. 

"Tapi tidak hanya Lady Gaga yang harus ditolak. Tari perut dari Mesir, atau penyanyi dari Arab sekalipun, kalau tampil telanjang kita harus menolaknya. Saya mengatakan ini tidak atas dasar agama, tidak karena mendukung kelompok tertentu, tapi atas dasar makna seni secara umum, yang apabila menjatuhkan martabat manusia itu harus ditolak," pungkas Kang Said. 

Penulis: Nabiel Harun

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Makam, Berita, Fragmen HMI Tegal Kab

Minggu, 04 Februari 2018

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19

Solo, HMI Tegal Kab -

Ribuan jamaah membanjiri serambi Masjid Agung Surakarta, Jawa Tengah pada acara peringatan Hari Lahir (Harlah) Majelis Ahbabul Musthofa yang ke-19, Sabtu (24/12) malam. Pantauan HMI Tegal Kab, kehadiran mereka bahkan ikut meluber hingga ke halaman masjid.

Dalam sambutannya, Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, mengatakan sangat bergembira atas terselenggaranya peringatan ini.

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini. Ini merupakan Harlah yang ke-19, sedangkan untuk penyelenggaraan di Masjid Agung, ini yang ke-7,” kata dia.

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur Jateng, Pangdam Diponegoro, Kapolda Jateng, dan para tokoh ulama dan pemerintahan di lingkup Kota Surakarta. “Terima kasih kepada bapak Gubernur, dalam kesibukannya, masih sempat ikut keliling shalawat, semoga Jateng tambah berkah dengan shalawat,” ujar Habib Syech.

Dalam kesempatan itu, Habib Syech juga berpesan kepada segenap jamaah untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan. “Kalau ingin mulia, siapapun manusia di muka bumi ini, ikutilah Nabi Muhammad,” tutur dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Cerita, Habib, Fragmen HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Rabu, 31 Januari 2018

NU Diminta Intens Advokasi Warganya

Purworejo, HMI Tegal Kab. Nahdlatul Ulama, termasuk Gerakan Pemuda Ansor, diminta untuk lebih intens melakukan advokasi terhadap anggotanya. Pasalnya, sebagai ormas dan OKP terbesar di Indonesia, masih banyak anggotanya yang belum memperoleh hak-hak dari negara.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Muhammad Maksum Mahfoed saat menyampaikan sambutannya usai menyaksikan pelantikan pengurus Pengurus Cabang NU (PCNU) masa khidmah 2014-2019 dan Pimpinan Cabang GP Ansor masa khidmah 2014-2018 Kabupaten Purworejo di pendapa rumah dinas Bupati, Ahad (8/3).

NU Diminta Intens Advokasi Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Diminta Intens Advokasi Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Diminta Intens Advokasi Warganya

"Turun dan lihatlah apa yang dirasakan oleh warga NU. Saya yakin banyak persoalan yang dialami oleh warga kita karena orang-orang NU memang tersebar lintas profesi," katanya.

HMI Tegal Kab

Ia mencontohkan dalam persoalan pembagian beras miskin oleh pemerintah, banyak masyarakat yang tidak memperolah beras tidak layak konsumsi. Dalam persoalan tersebut pengurus NU memiliki potensi yang sangat besar untuk membantu masyarakat agar memperoleh beras yang layak.

"Jalin komunikasi dengan para pemangku kebijakan bagaimana caranya supaya masalah yang dihadapi masyarakat tersebut dapat terurai. Dengan begitu masyarakat akan merasakan manfaat organisasi karena NU atau Ansor hadir dalam persoalan yang mereka hadapi," tandasnya.

HMI Tegal Kab

Lebih lanjut dikatakannya, saat ini PBNU tengah mengusulkan revisi UU tentang pangan kepada DPR RI. PBNU menilai, UU tersebut mesti diganti menjadi UU Kedaulatan Pangan agar masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun depan.

"Ini sekadar contoh dari apa yang kami lakukan sebagai bagian dari memperjuangkan kepentingan rakyat. Saya yakin persoalan-persoalan dalam bidang pertanian, kelautan, sosial atau masalah lain di Kabupaten Purworejo membutuhkan peranan pengurus NU agar turun tangan dengan memberikan masukan kepada eksekutif maupun legislatif," tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH Habib Hasan Agil Al Babud dan KH Hamid AK kembali dilantik menjadi Syuriah dan Tanfidziah PCNU Purworejo. Sedangkan KH Muhamad Haekal dilantik sebagai ketua GP Ansor Purworejo.

Hadir dalam pelantikan tersebut Muspida, sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, ormas, organisasi kepemudaan (OKP), segenap pengurus organisasi badan otonom NU dan pengurus-pengurus MWCNU serta PAC Ansor tingkat kecamatan se-Kabupaten Purworejo.

Usai pelantikan, PCNU dan Ansor langsung melakukan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) untuk membahas program kerja yang akan dilaksanakan selama satu periode kepengurusan.

Sementara itu, Rais Syuriah PC NU, KH Habib Hasan Agil Al Babud dalam sambutannya berharap kepada seluruh pengurus NU dan GP Ansor untuk bekerja semaksimal mungkin sebagai bentuk pengabdian kepada organisasi dan umat. Untuk itu dalam Rakercab nanti ia berharap agar program-program yang telah disusun betul-betul dapat direalisasikan.

"Jangan sampai hanya menjadi tulisan tanpa dikerjakan agar apa yang kita lakukan hari ini ridak sia-sia. Pasalnya banyak sekali persoalan umat yang harus diselesaikan," tandasnya. (Lukman Hakim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ubudiyah, Fragmen HMI Tegal Kab

Senin, 29 Januari 2018

Angon Wedus Dituduh Wedus

Oleh Aswab Mahasin

Akhir-akhir ini, Indonesia seringkali dihebohkan oleh fenomena “kiro-kiro” (kira-kira). Sayangnya, fenomena “kiro-kiro” tersebut tidak diukur melalui proses benar/salah, sesuai/tidak, dan nyambung/tidak. Melainkan langsung jatuh vonis: Anda salah, Anda menyimpang, dan Anda keliru. Seringkali masyarakat kita terjebak dengan ‘nampak luar’ dan ‘nampak isu’. Pengandaiannya begini, orang angon wedus (gembala kambing) sering dituduh kalau dia wedus dan orang masuk kandang ayam sering dituduh kalau dia bagian dari ayam.

Angon Wedus Dituduh Wedus (Sumber Gambar : Nu Online)
Angon Wedus Dituduh Wedus (Sumber Gambar : Nu Online)

Angon Wedus Dituduh Wedus

Masih kental diingatan kita, Gus Dur pernah membuka wacana kerja sama dagang dengan Israel. Namun, tidak sedikit masyarakat yang menuduh Gus Dur adalah antek Yahudi, antek zionis, dan antek-antek lainnya. Padahal yang Gus Dur lakukan adalah “angon wedus” dengan kata lain “angon Israel”.

Gus Dur dalam wacananya tidak begitu saja membuka kerja sama dengan Israel, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Israel itu sendiri, seperti: mempertimbangkan nasib rakyat Palestina dan dilibatkannya Indonesia dalam proses perdamaian di Timur Tengah (notabene Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar).

Gus Dur sebelumnya melakukan pertemuan dengan 16 Duta Besar Negara-negara Arab, termasuk Dubes Palestina saat itu Ribhi Y Awad. Kata Awad, “Gus Dur dan Indonesia tidak akan melakukan hubungan diplomatik dengan Israel sebelum bangsa Palestina mendapatkan kemerdekaan, dan Indonesia juga tidak akan membuka hubungan kerjasama dengan Israel, sebelum Israel melepas tawanan Palestina, dan sebelum Israel mengembalikan wilayah-wilayah Arab yang diduduki Israel”.

Jika kita lihat konteksnya, Gus Dur sedang mencoba ngangon Israel, bukan menjadi Israel. Namun, kebiasaan masayarakat kita setiap “angon” dikira “menjadi apa yang di-angon”. Ini yang dinamakan “angon wedus dituduh wedus” sama dengan “angon Israel dituduh Israel”. Padahal Gus Dur ngangonitu supaya wedus (baca: Israel) tidak liar, dan bisa dikendalikan secara sikap politiknya. Untuk mengendalikan sesuatu yang liar maka harus dibimbing, diarahkan, dan diikat emosionalnya, dengan cara ‘angon’.

HMI Tegal Kab

Belum lama juga, kita ingat geger tentang Cak Nun perihal kedekatannya dengan orang-orang HTI. Bagi pemahaman saya sekarang, itu adalah pancingan yang dilakukan oleh Cak Nun, dengan lebih awal menembak NU dulu. Karena HTI paling tidak klop dengan NU. Ini adalah cara Cak Nun untuk berdialog hangat dengan HTI, dan memberikan pemahaman utuh tentang keindonesiaan kepada HTI. 

Tepatlah sasaran Cak Nun, orang-orang HTI itu akhirnya soan ke kediaman Cak Nun (tanpa disangka dan tanpa diduga), dan meminta petuah kepada Cak Nun, dan di sinilah Cak Nun mencoba menggiring mereka kepada pemahaman utuh tentang khilafah dan keindonesiaan. Cak Nun mengatakan, pemahaman khilafah saya dengan khilafah Anda sebagai HTI berbeda. Namun, apa yang terjadi? 

Cak Nun, mencoba masuk kandang ayam, dan beliau-pun dikira ayam oleh kebanyakan orang. Padahal niat Cak Nun, ingin membersihkan kandang ayam, memandikan ayam, dan menyemprot ayam agar terhidar dari bakteri-bakteri yang menyimpang. Tapi Cak Nun, dibredel habis-habisan, dengan mengatakan, “Cak Nun, ayam, Cak Nun, ayam, Cak Nun, ayam”.

Baru kemaren, medsos ‘geger berat’ masalah Banser yang dituding membubarkan pengajian Felix Siauw di Bangil, Pasuruan.Memang,Banser akhir-akhir ini getol menindaklanjuti orasi-orasi terselubung yang dilakukan orang-orang HTI. Namun, di Bangil ini gegernya gementus. Saya lihat banyak anggapan miring yang diarahkan kepada Banser. Dalam hal ini, kita harus mendudukkan pada pikiran yang jernih dan jiwa yang lapang. Jangan hanya gara-gara Felix sebagai objek, lantas Banser yang salah, tidak begitu.

HMI Tegal Kab

Faktanya, Ansor/Banser ingin mencoba meminimalisir kemungkinan pencuri ikan di meja makan Indonesia ini. Banser tidak mau, pancasila sedikit demi sedikit digerogoti keutuhannya, NKRI dirongrong kesatuannya, dan Indonesia digantikan sistem pemerintahannya. Namun, tuduhan demi tuduhan itu datang kepada Banser, disangkanya banser melakukan perbuatan semena-mena terhadap suatu kelompok atau orang tertentu. Jelas, ini anggapan keliru. Banser melakukan itu, tanpa kekerasan, tanpa pentungan, dan tanpa ancaman. Karena itu, ini bukan pembubaran.

Banser mengajukan penawaran, agar seseorang itu menandatangani poin-poin tertentu yang diajukan, seperti: mengakui pancasila, tidak menyebarkan faham-faham negara Islam, dan menyatakan tidak ada sangkutpautnya dengan HTI. Namun, seseorang tersebut menolak dan memilih untuk pergi. Logikanya jelas tidak utuh kalau itu dinyatakan sebagai pembubaran, Banser ingin berdialog, berdamai, dan tidak mau ada keributan.

Banser ini sedang “angon” toleransi, sedang “angon” kesatuan, sedang “angon” pancasila, dan sedang “angon” Indonesia. Banser malah dituduh sebagai kepanjangan tangan penguasa, hanya berpihak kepada penguasa dan memuluskan kepentingan penguasa. Padahal aktifitas tersebut untuk kepentingan bersama—keuntuahan rumah kita, Indonesia Raya. Memang aneh, setiap berbicara pancasila maka dituduh bagian dari penguasa, dengan dalih—hanya penguasa yang boleh menafsirkan pancasila.

Namun, penjelasan seperti itu belum mampu meredam hiruk-pikuk di medsos yang kadung terperdaya oleh sumber-sumber berita menyudutkan. Dalam hal ini, saya hanya berharap Banser tetap istiqomah dan Banser bersabar atas tudingan ini-itu, meminjam istilah Gus Dur, “Nanti sejarah yang akan membuktikannya.”

Kita semua mengenal peribahasa, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, Di mana ranting dipatah, di situ air disauk, Masuk kandang kambing mengembek, masuk kandang kerbau menguak”. Peribahasa tersebut menyarankan agar kita selalu menyesuaikan dan mengikuti kebiasaan (cara hidup, cara pandang), dan adat istiadat di tempat kita berada.

Indonesia dengan berbagai intriknya bersepakat mengusung identitasnya Pancasila. Negara berdasar Pancasila bukan negara agama, tapi juga bukan negara sekuler, kata Prof. Dr. N. Drijakara tahun 1959. Bagaimana memahaminya? Bukan sekuler, karena negara mengakui dan memberi tempat buat religi. Bukan negara agama, karena tidak mendasarkan diri atas suatu agama tertentu.(Mahbub Djunaedi, Bukan Ini Bukan Itu, [Tempo, 15 Maret 1975])

Yang paling ruwet saat ini adalah dua kekuatan besar dibenturkan, di mana agama berbenturan dengan negara dan negara berbenturan dengan agama. Dan keduanya terkesan saling berlawanan. Ambil contoh pembubaran HTI, bagi sebagian orang menafsirkannya negara tidak berpihak kepada Islam. Namun, yang harus dipertanyakan ialah, kenapa hanya HTI yang dibubarkan?

Benturan itu terjadi tidak hanya dengan negara, namun dengan organisasi lainnya juga. Seharusnya HTI datang kepada pemerintah atau NU meminta bimbingan agar sesuai dengan misi dan visi pembangunan. Kalau HTI hanya ngambek di belakang, sampai kapanpun tidak akan ketemu titik pijaknya. Kita semua harus duduk bersama, dan HTI bertanya, saya salahnya dimana? Saya seharusnya bagaimana? Kalau HTI memang benar-benar ingin ikut andil dalam mencerdaskan dan membangun bangsa ini, HTI harus melakukan langkah-langkah yang cantik dan bijaksana.

Kita sebagai penonton, harus menghilangkan kebiasaan menduga-duga/mengira-ngira tuduhan-tuduhan yang belum tentu kebenarannya, lebih dulu harus dicek dan ditimang-timbang kesesuaiannya. Apalagi tuduhan-tuduhan yang mengarah pada perpecahan. Setiap ada yang “angon wedus” kita curigai, kalau semua kita curigai, lantas kita mau percaya kepada siapa dalam urusan dunia ini? Memang, kebenaran seringkali sepihak. Anehnya, ketika kita belajar tentang benar, itu untuk menyalahkan. Lantas, kalau semua disalahkan, siapa yang benar?

Sungguh, benar dan salah sudah tak terlihat di zaman medsos ini, apalagi zaman now, pemegang kuasa kebenaran tergantung bagaimana opini medsos yang berkembang, entah itu dituduh wedus atau dituduh ayam. Siapapun yang menentang kebenaran berita/informasi medsos maka ia akan dianggap salah dan siap-siap dihantam habis-habisan. Ketika kebenaran yang lebih valid datang, tidak akan diterima karena kebenaran yang sudah dianggap benar mendahului. Benar adagium yang menyatakan, “siapa yang menguasai media, ia menguasai dunia”. 

Efeknya adalah kita lebih menikmati “kentut” kita sendiri, dan tidak mau menerima “kentut” orang lain. Artinya, manusia selalu mengira apa yang dilakukannya itu putih (suci), padahal apa yang kita lakukan punya dua kemungkinan aroma, harum dan busuk. Karena itu, baiknya kita sama-sama bercermin dan introspeksi diri kita masing-masing.Bukan hal yang buruk berjalan memperbaiki diri, dalam posisi apapun dan dipihak manapun.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wa’ tashimu bi habli allaihi jami’an wa la tafarraqu” (Dan bepeganglah kalian kepada tali Allah (secara) keseluruhan dan janganlah bercerai-berai/terpisah belah) (QS. Ali Imran [3]: 103). Menurut Gus Dur, ayat ini menunjukan kepada kita, yang dilarang bukannya perbedaan pandangan melainkan bersikap terpecah-belah satu dari yang lainnya. Hal ini diperkuat sebuah ayat lain (QS. Al-Maidah [5]: 3), “ta’wanu ‘ala al-birri wa al-taqwa”.

Kata Gus Dur, di sinilah kita perlu membangun kembali “kesatuan umat”(ummatan wahidatan). Mudah diucapkan, tapi sulit diwujudkan bukan?

Penulis adalah Pembaca Setia HMI Tegal Kab.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Doa, Syariah HMI Tegal Kab

Rabu, 24 Januari 2018

Amankan Natal dan Tahun Baru, Banser Sidoarjo Terjunkan 1000 Personil

Sidoarjo, HMI Tegal Kab. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Sidoarjo akan menerjunkan 1000 personil untuk melakukan pengamanan perayaan Natal 2015 disejumlah gereja yang ada di Sidoarjo. Selain itu, Banser juga akan melakukan pengamanan saat perayaan tahun baru 2016.

"Sekitar 1000 personil Banser gabungan dari Satkaryon akan dibagi disetiap kecematan untuk membantu Polres Sidoarjo dalam melakukan pengamanan Natal 2015 dan tahun baru 2016," kata Satkorcab Banser Sidoarjo M Hasanudin di Mapolres Sidoarjo usai gelar apel pasukan pengamanan natal dan tahun baru, Rabu (23/12).

Amankan Natal dan Tahun Baru, Banser Sidoarjo Terjunkan 1000 Personil (Sumber Gambar : Nu Online)
Amankan Natal dan Tahun Baru, Banser Sidoarjo Terjunkan 1000 Personil (Sumber Gambar : Nu Online)

Amankan Natal dan Tahun Baru, Banser Sidoarjo Terjunkan 1000 Personil

Sekitar 10 hingga 15 personil Banser akan ditempatkan di setiap gereja yang ada. "Bagaimana pun sebagai Banser, atau badan semi otonom Ansor punya kewajiban membantu Polres Sidoarjo untuk pengamanan Natal dan tahun baru," tegas Hasan.

HMI Tegal Kab

Kapolres Sidoarjo, AKBP M Anwar Nuris mengatakan, dalam apel gelar pasukan pengamanan Natal 2015 dan tahun baru 2016, pihaknya melibatkan 410 personil gabungan yang terdiri dari jajaran Polsek Sidoarjo, TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo, Banser, Dinas Pemadam Kebakaran, Senkom dan penjinak bom (Jibom) Polda Jatim.

"Tahap pertama kami akan melakukan sterilisasi di sejumlah gereja yang ada di Sidoarjo. Sekitar 73 gereja itu akan kami sterilkan dengan bantuan pemuda gereja setempat dan Banser. Selanjutnya, pengamanan di luar gereja akan ada personil Jajaran Polres Sidoarjo dan Jibom," ucap mantan Kapolres Nganjuk Jawa Timur ini.

HMI Tegal Kab

Anwar mengungkapkan, pihaknya akan menyebar personilnya di sejumlah gereja yang ada di Sidoarjo. Baik itu gereja yang berkapasitas kecil maupun besar. "Hampir sama, di titik kerawanan jumlah yang cukup besar akan dijaga 6 personil polisi dan gereja yang kecil akan dijaga 2 personil polisi," ungkapnya.

Anwar menambahkan, pengamanan tersebut akan dilakukan sebelum dan sesudah kebaktian. Adapun operasi lilin semeru itu sendiri dimulai sejak tanggal 24 Desember 2015 hingga 2 Januari 2016. Pihaknya berharap kepada masyarakat pengguna jalan untuk mematuhi peraturan lalu lintas yang ada selama perayaan Natal dan tahun baru 2016 berlangsung.

Selain melakukan pengamanan disetiap gereja, Polres Sidoarjo juga mendirikan 11 pos terdiri dari 9 pos pam dan 2 pos pelayanan yang akan di tempatkan di Bungurasih Waru dan pintuk keluar (exit tol) Porong Sidoarjo. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Budaya, Quote HMI Tegal Kab

Selasa, 23 Januari 2018

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menggunakan Media Sosial?

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Pokja Cyber MUI Thobib Al-Asyhar mengatakan, media sosial memiliki efek positif tapi juga ada dampak negatifnya, tergantung siapa dan digunakan untuk apa. Lalu bagaimana seharusnya seorang Muslim menggunakan media sosial? Thobib menyebutkan, seorang Muslim harus memperhatikan empat hal ketika bermedia sosial. 

“Pertama, membangun kesadaran siapa sesungguhnya kita. Kalau kita tahu siapa kita, maka kita tidak akan sembarangan membuat status dan komen,” kata Thobib di Jakarta, Kamis (14/12).

Kedua, memahami dosa yang tidak terbatas. Apabila informasi yang disebarkan di media sosial itu tidak benar dan hoaks, maka orang yang menyebarkannya tersebut akan menanggung dosa atas informasi yang tersebar luas tersebut. Bagi Alumni Pesantren Futihiyyah Demak itu, seorang Muslim harus lebih hati-hati dalam bermedia sosial dan menyebarkan informasi.  

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menggunakan Media Sosial? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menggunakan Media Sosial? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menggunakan Media Sosial?

“Jika ingin mengorfimasi berita, tanyakan ke orang yang bersangkutan langsung,” tegasnya.

Ketiga, memahami bahwa setiap pikiran dan kata adalah kekuatan. Orang yang memiliki pikiran yang positif, maka hidupnya akan tenang. Begitupun dalam bermedia sosial, seorang Muslim harus menulis status yang positif dan bermanfaat kepada orang lain. 

HMI Tegal Kab

“Jangan hanya curhat dan mengeluh di media sosial,” kata Dosen di Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia itu.  

Keempat, mematuhi adab komunikasi dan menyebarkan berita. Seorang Muslim harus menggunakan adab dan akhlak yang mulia dalam bermedia sosial. (Muchlishon Rochmat)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Fragmen HMI Tegal Kab

Minggu, 21 Januari 2018

Kader Muda NU Diminta Lanjutkan Perjuangan Kiai Hasyim

Palu, HMI Tegal Kab. Ketua Tanfidz Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Tengah Abdullah Latopada meminta seluruh warga NU khususnya kader-kader muda NU untuk melanjutkan semangat nasionalisme dan pluralisme almarhum KH Hasyim Muzadi.

Kader Muda NU Diminta Lanjutkan Perjuangan Kiai Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muda NU Diminta Lanjutkan Perjuangan Kiai Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muda NU Diminta Lanjutkan Perjuangan Kiai Hasyim

"Almarhum adalah orang tua kita, guru kita, tugas kitalah melanjutkan semangat keindonesiaan yang almarhum perjuangkan selama ini," katanya pada malam pertama pembacaan doa tahlil dan tazia yang dilaksanakan Badan Otonom NU Sulawesi Tengah Gerakan Pemuda Ansor dan Fatayat di Sekretariat NU di Palu, Kamis malam.

Pembacaan doa tahlil yang dipimpin Ketua Majelis Dzikir Rijalul Ansor Provinsi Sulawesi Tengah Suhban Lasawedi tersebut dihadiri mayoritas kader-kader Gerakan Pemuda Ansor dan sejumlah tokoh dan sesepuh NU.

Pembacaan doa tahlil tersebut berlangsung khikmad di tengah suasana duka yang mendalam bagi bangsa Indonesia atas meninggalnya mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi.?

Selain pembacaan doa tahlil juga dilakukan ceramah agama yang mengupas sepak terjang sang kiyai Hasyim Muzadi oleh Wakil Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Faisal Attamimi.

HMI Tegal Kab

Abdullah mengatakan bangsa Indonesia khususnya warga NU kembali kehilangan seorang tokoh panutan yang telah memiliki hubungan baik terhadap dunia internasional.

Mantan Ketua GP Ansor Provinsi Sulawesi Tengah itu mengatakan perilaku, pikiran dan karakter Hasyim Muzadi pantaslah diteruskan oleh kader-kader muda NU karena ketokohan almarhum tidak diragukan lagi.

HMI Tegal Kab

"Ketika Hasyim Muzadi terpilih menggantikan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) sebagai Ketua PBNU, maka saya melihat bahwa NU kembali dipimpin oleh orang yang tepat," katanya mengisahkan sejumlah perjalan Hasyim Muzadi terpilih sebagai Ketua PBNU menggantikan Gus Dur pada 1999.

Sementara itu Wakil Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor Faisal Attamimi mengatakan Hasyim Muzadi bukan hanya milik NU tetapi milik bangsa sehingga kepergiannya tidak saja kehilangan bagi masyarakat NU tetapi negara dan bangsa juga ikut kehilangan seorang tokoh.?

Faisal juga mengajak seluruh kader GP Ansor agar bercermin kepada Hasyim Muzadi yang memiliki komitmen dalam memperjuangkan Islam di mata dunia internasional melalui berbagai pikirannya.

Doa untuk Hasyim Muzadi akan dilakukan oleh NU bersama organisasi badan otonomnya hingga malam ke tujuh wafatnya mantan ketua umum PBNU itu. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hadits, Fragmen HMI Tegal Kab

Sabtu, 20 Januari 2018

UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal

Bandarlampung, HMI Tegal Kab - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid mengatakan bahwa terbitnya UU No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), memberikan peluang dan peran Organisasi Kemasyarakatan keagamaan untuk menangani proses Sertifikasi Produk Halal Melalui Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) yang dimiliki masing-masing ormas.

Proses mendapatkan sertifikat yang diatur dalam Undang-Undang tersebut, menurutnya, diawali dengan pemeriksaan data usulan dari industri yang dilakukan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal

"Kalau data usulannya tidak lengkap maka akan dikembalikan oleh BPJPH kepada pengusul. Jika lengkap, maka usulan tersebut akan diteruskan kepada Lembaga Pemeriksa Halal (LPH)," tambahnya tentang kebijakan baru yang renacananya akan diimplementasikan pada 2018 ini.

HMI Tegal Kab

Setelah diperiksa oleh LPH selanjutnya usulan tersebut diserahkan ke MUI dan akan di putuskan oleh Komisi Fatwa MUI apakah produk yang diusulkan halal melalui beberapa kajian dan tinjauan.

HMI Tegal Kab

"Secara tertulis MUI yang mengeluarkan fatwa apakah usulan produk dinyatakan halal. Dari MUI diserahkan ke BPJPH untuk kemudian dikeluarkan sertifikasi halal-nya," tambahnya, di kediamannya, Senin (25/9) malam.

Selain ormas keagamaan, UU Jaminan Produk Halal ini terangnya juga memberi kesempatan perguruan tinggi keagamaan (PTK) maupun perguruan tinggi umum (PTU) untuk memiliki LPH.

"Lembaga ini dalam UU JPH memiliki peran untuk memeriksa kandungan sebuah produk. Namun LPH harus bekerja sama dengan MUI yang akan menentukan siap saja petugas yang berwenang memeriksa kehalalan produk," jelasnya.

Ke depan Pemerintah melalui Komite Akreditasi Nasional (KAN) juga akan melakukan akreditasi secara intensif dan berkala untuk mengetahui kinerja Lembaga Penjamin Halal di Indonesia.

"Skema akreditasi dan sertifikasi untuk sistem jaminan halal ini berbasis standar Halal Assurance System (HAS) 23000," kata Kiai yang juga Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung ini.

Sementara posisi BPJPH lanjutnya menjadi bagian dari struktur Kementerian Agama sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Agama No 42 Tahun 2016 tentang Organisasi Tata Kerja (Ortaker) Kementerian Agama. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama, Meme Islam, Fragmen HMI Tegal Kab

Selasa, 16 Januari 2018

LP Maarif NU Adakan Diklat Penjaminan Mutu SMA-SMK

Yogyakarta, HMI Tegal Kab. Selama dua hari, Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan Maarif NU menggelar pelatihan sistem penjaminan mutu pendidikan SMA dan SMK Maarif NU seprovinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Penguatan para guru SMK ini berlangsung di Asrama Haji Yogyakarta, Rabu-Kamis (22-23/10).

LP Maarif NU Adakan Diklat Penjaminan Mutu SMA-SMK (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif NU Adakan Diklat Penjaminan Mutu SMA-SMK (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif NU Adakan Diklat Penjaminan Mutu SMA-SMK

"Diklat ketiga di Yogyakarta ini merupakan program berkelanjutan dari pimpinan pusat. Sebelumnya, kami telah melaksanakan diklat penjaminan mutu di Jawa Barat dan Lampung," kata Wakil Sekretaris LP Ma’arif NU Haryanto Oghie, Kamis (23/10).

Ia juga menerangkan, program ini juga menjadi bagian dari pendataan sekolah dan guru yang menjadi agen perubahan di daerahnya untuk meningkatkan mutu pendidikan Maarif NU.

HMI Tegal Kab

"Peserta dari diklat ini diikuti kepala sekolah dan guru Maarif NU yang berdomisili di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dari Jawa Tengah ada 20 guru SMK/SMA. Dari Yogyakarta, 30 guru," ujar Haryanto.

Ia berharap guru-guru NU dari diklat ini bisa menjadi pioner utama penjaminan mutu bagi pendidikan Maarif. (Nur Solikhin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Fragmen HMI Tegal Kab

Jumat, 12 Januari 2018

Pendidikan Anti-Kolonialisme ala Kiai Soleh Darat

Oleh Nur Ahmad

Kenalkah Anda dengan Kiai Muhammad Soleh bin Umar as-Samarani (1820-1903 M)? Tahukah Anda apa sumbangan terbesar Maha-guru Ulama Jawa ini bagi warga bangsa Indonesia? Bagi penulis jawabannya adalah pemikirannya tentang anti-kolonialisme. Dilahirkan di keluarga pendukung Pangeran Diponegoro, dan selalu dalam lingkungan yang demikian, menjadi fondasi bagi Kiai Soleh Darat untuk mengembangkan pandangan anti-kolonialisme Belanda hampir di semua karyanya.Pendidikan Anti-Kolonialismeala Kiai Sholeh Darat

Pendidikan Anti-Kolonialisme ala Kiai Soleh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Anti-Kolonialisme ala Kiai Soleh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Anti-Kolonialisme ala Kiai Soleh Darat

Setelah kekalahan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (1825-1830), para kiai pada masa itu menarik diri dari perang fisik dan kembali ke peperangan gagasan dan pemikiran (war of ideas). Sikap ini juga menjadikan fokus ulama kembali untuk meningkatkan pemahaman keislaman di antara masyarakat umum. Agenda perlawanan terhadap Hindia-Belanda yang terus-menerus berusaha memisahkan masyarakat dari agama mereka dilawan dengan menyadarkan masyarakat akan pentingnya ajaran agama bagi kehidupan mereka. Kiai Sholeh Darat adalah termasuk yang ikut menjadi pelaku utama dalam perang ide dan kebudayaan ini.

Cara pertama yang dilakukan Kiai Sholeh adalah dengan mempropagandakan kembali konsep pembeda antara penindas dan yang ditindas. Merujuk kepada sebuah hadits Nabi Muhammad, Kiai Sholeh mendeklarasikan keharaman bagi kaum Muslim meniru cara berpakaian orang Eropa (baca Belanda). Beliau berkata, “Beberapa‘ulama al-mu?aqqiq?n menyebutkan bahwa barangsiapa berpakaian selain dengan pakaian yang biasa dikenakan kaum Muslim seperti jas, topi, dan dasi, maka ia dinilai sebagai murtad.” Bahkan bukan hanya dalam berpakaian, kaum Muslim juga dilarang meniru segala tingkah laku yang khusus dilakukan di Budaya Barat (Salim, 1994:24-6). Sikap ini diikuti oleh muridnya, KHR. Asnawi Kudus yang suatu ketika dengan sangat marah menarik dasi yang dikenakan oleh seseorang di pertemuan nasional Ansor (Mas’ud, 2006:218).

Usaha lain dari Kiai Sholeh adalah dengan menjauhkan kaum Muslim dari menjalin hubungan sebagai bawahan dengan Kolonial-Belanda. Kiai Sholeh sebagaimana tertuang dalam karyanya Minh?j al-Atqiy?’ (Sholeh, 1325:67) menetapkan bahwa seorang santri yang menjadi pegawai pemerintah Belanda sama dengan menjadi “pembantu berlangsungnya pemerintahan yang zalim” (kh?dim al-?ulmah), dan hal itu merupakan suatu dosa besar. Dalam rangka mencegah santrinya menjadi pembantu di pemerintahan Hindia-Belanda, beliau menyatakan bahwa haram bagi ulamamengajarkan santri yang secara terang-terangan berniat dengan ilmu fiqih yang didapatkannya untuk menjadiseorang penghulu di pengadilan agama di pemerintahan Kolonial-Belanda. Beliau menilai tujuan duniawi ini bertentangan dengan tujuan yang diajarkanolehagama Islam dan semangat memerdekakan warga pribumi yang beliau rintis.

HMI Tegal Kab

Selain itu, Kiai Sholeh juga berusaha sekuat tenaga membentengi kaum wanita dari perilaku keji dan amoral yang ditunjukkan banyak dari orang Eropa di Jawa ketika itu. Misalnya, dalam sebuah makalah Ricklef (2009:113) yang mengutip G. Bruckner menjelaskan bahwa sebagian alasan dari munculnya sikap keras dari kaum Muslim di Semarang terhadap orang Eropa adalah sikap immoral mereka. Contoh lainnya, dalam suratnya, Raden Adjeng Kartini mendeskripsikan kebiasaan tak beretika yang terjadi di antara wanita pribumi dengan laki-laki Eropa, termasuk meminum arak. Dalam konteks ini, Suhandjati (2010:55-6) menyimpulkan bahwa untuk menghindari dampak budaya “baru”ini di masyarakat umum, Kiai Sholeh memerintahkan orang tua tidak mengajari putri mereka menulis dengan aksara Latin, yang sangat mungkin akan menjadi media berkomunikasi orang-orang Eropa dengan warga pribumi (Sholeh, tt:178).

Bahkan Kiai Sholeh juga dikabarkan ikut mengusahakan intervensi politik dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Pada tahun 1883, Konsul Belanda di Jeddah mengabarkan bahwa seorang bernama Sholeh dari Semarang meminta Kekhalifahan Turki Utsmani untuk melawan Hindia-Belandadi Jawa (Bruinessen, 1998).

Kesimpulan yang dapat kita tarik di sini adalah pandangan anti-Belanda yang Kiai Sholeh kembangkan didasarkan murni pada kajiannya yang mendalam di bidang ilmu Fikih. Metode tersebut sangat terikat kuat dengan konteks masyarakat tempat pandangan itu lahir, sehingga kondisi sosial masyarakat menjadi konsideran utama, misalnya penggunaan aksara Latin di masyarakat ketika itu. Dengan bersandar pada fondasi yang demikian, dalam kondisi masyarakat yang berbeda, maka hasil kesimpulan hukum dapat berubah. Misalnya, KHR. Asnawi memberikan padangan baru di masa kemerdekaan dengan mengizinkan kaum Muslim memakai jas dan dasi karena mengikuti teladan dari Kiai Abdul Wahid Hasyim, Menteri Agama Republik Indonesia pertama (Mas’ud, 2006:218).

HMI Tegal Kab

Selain itu, pemikiran anti-kolonialisme dari Kiai Sholeh pada akhirnya berhasil menumbuhkan semangat nasionalisme kepada murid-muridnya. Hal ini dibuktikan dengan tampilnya salah satu muridnya, Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari, dalam menggelorakan cinta tanah air di hati sanubari para santri dan Muslimin pada umumnya. Dengan jejak pemikiran yang demikian, maka wajarlah sebagian pecintanya mengusahakan Kiai Sholeh untuk diakui sebagai pahlawan bangsa ini, Bukan?

?

Daftar Pustaka

Bruinessen, Martin Van. “Saleh Darat.” dalam Dictionnaire Biographique Des Savants et Grandes Figures Du Monde Musulman Périphérique, Du XIXe Siècle À Nos Jours ed. Marc Gaborieau et al., vol. 2 (Paris: CNRS-EHESS, 1998): 25–26.

Hakim, Taufiq. Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX M. Yogyakarta: Indes Publishing, 2016.

Mas’ud, Abdurrachman. Dari Haramain ke Nusantara?: Jejak Intelektual Arsitek Pesantren. Jakarta, Indonesia: Kencana, 2006.

———. “The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teachings (1850-1950).” PhD diss., University of California. ProQuest (UMI 9714238), 1997.

Ricklefs, Merle Calvin. "The Middle East Connection and Reform and Revival Movements among the Putihan in the 19th-century Java." dalam Southeast Asia and the Middle East: Islam, Movement and the Longue Duree. Diedit oleh Eric Tagliacozzo. Singapore: NUS Press, 2009: 111-134.

Salim, Abdullah. Majm?àt al-Syar?át al-K?fiyat li al-‘Aww?m Karya Syaikh Muhammad Shalih ibn Úmar al-Samarani: Suatu Kajian Terhadap Kitab Fiqih Berbahasa Jawa Akhir Abad 19. PhD diss., Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 1994.

Sholeh as-Samarani, Muhammad. Majm?‘at al-Shar?‘at al-K?fiyat li al-‘Aww?m. Semarang: Toha Putera, n.d.

———. Minh?j al-Atqiy?’ f? Shar? Ma‘rifat al-Adhkiy?’ Il? ?ar?q al-Awliy?’. Bombay: Ma?ba‘at al-Kar?m?, 1325.

Suhandjati, Sri. Mitos Perempuan Kurang Akal dan Agamanya: Studi Terhadap Kitab Majmu’at Karya Kiai Saleh Darat. Semarang: Puslit IAIN Walisongo, 2010.

Toer, Pramoedya Ananta. Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta: Lentera Dipantara, 2003.

Penulis adalah santri Pondok Pesantren al-Itqon, Bugen, Semarang dan Alumni Miftahul Ulum, Ngemplak,

Demak.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Khutbah, News HMI Tegal Kab

Kamis, 21 Desember 2017

Aklamasi, Azwar Anas Pimpin Kembali ISNU Jatim

Banyuwangi, HMI Tegal Kab - H Abdullah Azwar Anas didapuk kembali menjadi Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur masa khidmat 2017-2022. Sejumlah terobosan akan dilakukan agar keberadaan sarjana NU kian memiliki sumbangsih bagi perbaikan bangsa.

“Dengan ini, saudara Azwar Anas kita tetapkan sebagai ketua PW ISNU Jatim,” kata pimpinan sidang, Mohammad Koderi, di Gedung Balai Diklat Banyuwangi, Sabtu (4/11) malam.

Aklamasi, Azwar Anas Pimpin Kembali ISNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Aklamasi, Azwar Anas Pimpin Kembali ISNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Aklamasi, Azwar Anas Pimpin Kembali ISNU Jatim

Sebagaimana diatur dalam tatatertib pemilihan, sebelum ditetapkan sebagai calon ketua, Azwar Anas terlebih dahulu diminta untuk menyatakan kesedian. Saat itu, Azwar Anas mengaku awalnya tidak akan memimpin PW ISNU Jatim. Hal tersebut dengan alasannya, tidak memiliki waktu yang cukup lantaran kesibukannya sebagai Bupati Banyuwangi.

HMI Tegal Kab

“Tadi pagi saya dipanggil oleh Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil untuk bersedia memimpin lagi. Maka dengan mandat itu, saya bersedia,” kata mantan Ketua Umum PP IPNU ini di hadapan peserta konferensi.

Menurutnya, ada sejumlah terobosan yang akan dilakukan. “Termasuk dengan lebih mengefektifkan keberadaan website untuk koordinasi dan komunikasi,” katanya.

HMI Tegal Kab

Yang juga menjadi ikhtiarnya adalah memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menunjang efektifitas dalam konsolidasi. “Selanjutnya, untuk kebutuhan administrasi organisasi akan kita optimalkan keberadaan teknologi yang ada,” ungkapnya. Sehingga untuk kebutuhan SK misalnya, tidak perlu dalam bentuk kertas, tapi bisa dalam bentuk file sehingga lebih efektif, lanjutnya.

Azwar Anas juga mengajak sarjana NU yang memiliki kemampuan beragam untuk dapat dimaksimalkan perannya. “Kalau pada periode sebelumnya dirasa kurang, maka pada kepengurusan kali ini hendaknya bisa lebih ditingkatkan,” ungkapnya.

Konferwil ISNU IV Jatim itu dibuka secara resmi oleh Ketua PWNU Jawa Timur KH M Hasan Mutawakkil Alallah di Pendopo Sabha Swagata Banyuwangi, Sabtu (4/11).

Hadir pada pembukaan tersebut di antaranya Ketua Umum PP ISNU  H Ali Masykur Musa, PWNU Jatim, utusan dari badan otonom di lingkungan NU, aktivis mahasiswa, serta sejumlah tokoh lain.

Sidang komisi dan pleno diselenggarakan di Gedung Balai Diklat yang diikuti utusan PC ISNU se-Jatim. Kegiatan juga diisi dengan mengunjungi destinasi andalan yang ada di kota paling timur di Pulau Jawa ini. (Syaifullah Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen HMI Tegal Kab

Rabu, 13 Desember 2017

Model Islam Nusantara Dipromosikan di Denmark

Jakarta, HMI Tegal Kab?



Ektremisme agama tidak hanya menjadi persoalan di sebuah negara, tapi merupakan masalah global yang harus diselesaikan melalui kerja sama antarnegara. Hal itu mengamuka pada kerja sama antara pemerintah Denmark dan Wahid Foundation dalam menyelenggarakan Tur Dialog Lintas Agama ke Denmark pekan lalu.?

Model Islam Nusantara Dipromosikan di Denmark (Sumber Gambar : Nu Online)
Model Islam Nusantara Dipromosikan di Denmark (Sumber Gambar : Nu Online)

Model Islam Nusantara Dipromosikan di Denmark

Salah satu pertanyaan yang kerap mengemuka di dalam pertemuan-pertemuan di Denmark adalah bagaimana cara menghentikan laju ektremisme agama di dunia. Dalam hal itu, Direktur Utama Wahid Founation Yenny Wahid mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang berpenduduk Islam terbesar di dunia termasuk negara yang berhasil membendung laju ektremisme agama.?

Menurut putri Gus Dur itu, keberhasilan tersebut tidak hanya mengangkat nama Indonesia sebagai negara damai, namun sekaligus membantah persepsi dunia tentang agama Islam, yang selalu diidentikkan dengan agama teror dan kebencian.

Yenny mengungkapkan, salah satu kunci keberhasilan Indonesia adalah kerja sama yang baik antara pemerintah dan kelompok agama dalam mengatasi masalah keagamaan termasuk ektremisme agama.?

HMI Tegal Kab

“Kerja sama dengan komunitas agama atau masyarakat sipil dengan pemerintah adalah kunci mengatasi radikalisme agama di Indonesia,” katanya menceritakan kunjungannya dari Denmark di Jakarta (29/3). Tanpa keterlibatan masyarakat sipil terutama melalui lembaga keagamaan, pemerintah akan kewalahan menghadapi gelombang ekstrimisme agama.

Islam model Indonesia atau dikenal luas dengan Islam Nusantara, menurutnya, merupakan sebuah sistem ajaran keislaman yang moderat dan tidak ekstrim. Ajaran Islam ini sudah teruji sepanjang Indonesia, bahkan sebelum Indonesia dikenal sebagai sebuah negara.?

Ungkapan serupa juga disampaikan oleh Ketua PBNU KH Yahya Cholil Stafuq, yang juga ikut berkunjung ke Denmark. Lebih lagi, Islam Nusantara dengan konsep Islam berkemajuan dianggap dapat menjadi model gagasan Islam yang paling pas untuk merespon radikalisme dunia.?

“Islam Nusantara ini perlu dijadikan percontohan untuk melawan radikalisme oleh masyarakat dunia,” ujar KH Yahya Cholil Stafuq.?

HMI Tegal Kab

Sementara itu, Duta Besar Denmark untuk Indonesia Casper Klynge menganggap bahwa Indonesia merupakan mitra yang penting bagi Denmark untuk memperkuat dan memperdalam hubungan kerjasama di berbagai aspek termasuk penanggulangan terorisme agama.

“Di dunia dimana agama, sayangnya, dijadikan alat untuk memicu konflik, Indonesia menjadi suara yang penting bagi keberagaman, toleransi beragama dan dialog lintas agama,” ujar Casper Klynge.?

Sebelumnya, Kedutaan Besar Denmark di Indonesia bekerja sama dengan Wahid Foundation menyelenggarakan Tur Dialog Lintas Agama ke Denmark pada 20 hingga 24 Maret 2017 lalu. Tur ini bertujuan untuk memperkuat hubungan bilateral dan hubungan antar individu Indonesia dan Denmark, mempromosikan keberagaman, dialog lintas agama dan toleransi.?

Yenny wahid dan KH Yahya Cholis Staquf merupakan dua dari delegasi Indonesia yang berkunjung ke Denmark selain Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal), Dr. Frans Magnis Suseno (Pastor dan Direktur Sekolah Tinggi Filosofi Driyarkara, Dr. Abdul Mu’ti (Muhammadiyah), dan Sakdiyah Ma’ruf (stand-up komedian). (Ahmad Rozali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Pemurnian Aqidah HMI Tegal Kab

Selasa, 12 Desember 2017

Tekun Menabung, Penjual Sayur Ini Naik Haji

Probolinggo, HMI Tegal Kab. Menunaikan ibadah haji ke tanah suci tidak hanya didominasi oleh orang dari golongan atas. Orang golongan menengah ke bawah pun bisa juga berangkat haji asalkan ada kemauan dan usaha. Hal ini dialami Asizah (85), warga kelurahan Kanigaran kecamatan Kanigaran kota Probolinggo.

Tekun Menabung, Penjual Sayur Ini Naik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Tekun Menabung, Penjual Sayur Ini Naik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Tekun Menabung, Penjual Sayur Ini Naik Haji

Berkat kerja kerasnya, nenek yang memiliki 5 orang anak dan 10 cucu ini akan berangkat menunaikan ibadah haji tahun ini. Dalam kesehariannya, Asizah bekerja sebagai penjual sayur di pasar dadakan pagi Krempyeng Kota Probolinggo. Rumah yang ditempatinya pun sangat sederhana.

Selama 20 tahun, Asizah selalu menyisakan rejeki dari berjualan sayur untuk ditabung. Sedikit demi sedikit tabungan sang nenek digunakan untuk membeli emas yang disimpan sebagai perhiasan berharga. Setelah terkumpul cukup banyak, emas-emas itu ? kemudian dijual untuk pembiayaan ibadah haji dirinya dan sang suami.

HMI Tegal Kab

Asizah menerima kenyataan pelaksanaan ibadah haji bersama suaminya yakni Sadra’i harus pupus. Karena pada pertengahan tahun 2014 lalu, tepatnya setahun sebelum jadwal pemberangkatan haji keduanya, sang suami lebih dulu meninggal dunia.

HMI Tegal Kab

Menurut Muda, anak nenek Asizah, sejak dahulu ibunya memang berkeinginan naik haji, bahkan tiap ada orang berhaji, ibunya selalu rutin mengunjungi hanya untuk minta doa agar bisa juga berhaji.

“Rajin menabung selama 20 tahun, rencananya naik haji berdua sama bapak. Namun bapak keburu meninggal. Ibu saya juga rajin berdoa agar bisa menunaikan rukun Islam ke 5,” kata Muda, Sabtu (29/8).

Meski demikian, Asizah yang telah berusia senja dengan kondisi fisik renta ini tak patah niat dan semangat untuk menunaikan rukun Islam kelima, berangkat haji ke tanah suci Mekkah. “Sejak 20 tahun saya menabung, seadanya dari hasil jualan sayur Rp 2 ribu,” tutur Asizah.

Kelima anaknya selalu mendampingi rutininas keseharian sang nenek menjelang keberangkatan haji. Rencananya, Asizah akan berangkat pada 9 September 2015 mendatang bersama Calon Jamaah Haji (CJH) lain di Kota Probolinggo. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Tegal HMI Tegal Kab

Rabu, 06 Desember 2017

PTNU Turut Semarakkan University Expo 2014

Jepara, HMI Tegal Kab. Tiga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) yakni Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang dan Akademi Komunitas Balekambang (AKB) Jepara turut menyemarakkan University Expo (Uniex) 2014 yang diselenggarakan Alumni Pesantren Kilat (Sanlat) Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, di gedung Wanita Jepara, Sabtu-Ahad (8-9/2).

Selain ketiga PTNU tersebut, puluhan PTN dan PTS yang juga menyemarakkan kegiatan diantaranya adalah Unissula Semarang, UAD Yogyakarta, Akademi Komunitas Jepara (AKJ), Undip Semarang, UMY, UII Yogyakarta, Unnes, UMK, IAIN Walisongo Semarang dan Poltekkes.

PTNU Turut Semarakkan University Expo 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
PTNU Turut Semarakkan University Expo 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

PTNU Turut Semarakkan University Expo 2014

Manajer Mata Air Cabang Jepara, Adib Khoiruzzaman menyatakan kegiatan yang sudah berlangsung dua kali bertujuan memberikan informasi gratis kepada peserta didik SMA sederajat yang hendak meneruskan ke PT. “Alhamdulillah respon pelajar antusias,” paparnya disela-sela kegiatan.

HMI Tegal Kab

Menurut Gus Adib, sapaan akrabnya meski hanya berlangsung dua hari ia berharap pelajar di Jepara memanfaatkannya dengan baik. “Mumpung mereka bisa ketemu langsung, baiknya apapun yang hendak ditanyakan, dipaparkan pada stan kampus yang diinginkan,” imbuhnya.

HMI Tegal Kab

Cari Informasi

Dari pantauan HMI Tegal Kab, Sabtu (8/2) pagi hingga sore meski hujan namun tak menyurutkan ratusan pelajar SMA/ MA/ SMK di Jepara untuk datang. M Jefri Amiruddin, misalnya. Jefri sapaan akrabnya setelah lulus dari SMK Az Zahra Mlonggo Jepara berkeinginan melanjutkan jurusan TI di Unnes. Disitu, ia mencari informasi di kampus yang diidamkannya.

Senada dengan Jefri (17), Widodo Mugi Prasetyo dari sekolah yang sama ingin kuliah di jurusan yang sama. Namun, lelaki 17 tahun dari desa Kancilan, kecamatan Kembang itu masih bingung hendak memilih PT yang mana. “Saya masih bingung mas mau kuliah dimana? Tetapi yang penting TI,” jelas Widodo.

Jeniar Hawa C, siswi SMA Walisongo Pecangan itu lebih memilih jurusan Akuntansi di Unnes. Namun dilema masih terjadi di keluarganya, orang tuanya menginginkan Jeniar kerja namun saudara-saudaranya mengizinkannya. Alhasil, sementara ia mengkases banyak beasiswa harapannya mengurangi beban orang tua dan restu agar bisa kuliah.

Salah satu penjaga stan Unwahas Semarang, Luluk Muthoharoh mengungkapkan kebanyakan pelajar yang datang untuk mencari informasi. “Rata-rata yang kesini cuma nyari informasi. Selain kami berikan leaflet mereka juga mengisi daftar pengunjung,” terang Luluk, mahasiswi Fakultas Ilmu Hukum semester 8.

Di stan Unisnu, Fakultas Sain dan Teknologi, Shella Septiana menyampaikan hal yang sama. Namun Anis Hariyati dari stan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan (FTIK) Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) saat HMI Tegal Kab sambangi untuk menarik minat calon mahasiswa menjelaskan kelebihan jurusan baru di kampus tersebut, yakni blended learning, penggabungan pembelajaran online dan tradisional. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Kajian HMI Tegal Kab

Senin, 04 Desember 2017

Pengurus NU Bondowoso H Matkur Terima Satya Lencana Pendidikan

Bondowoso,HMI Tegal Kab. Pengurus PCNU Bondowoso H Matkur menerima penghargaan dari Pemerintah RI atas dedikasi dan prestasi dalam dunia pendidikan. Penghargaan diberikan pada puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor pada Ahad 27 November lalu.

Ia bersama pendidik lainnya yang terpilih menerima penghargaan Satya Lencana Pendidikan yang diberikan Presiden RI Joko Widodo.

Pengurus NU Bondowoso H Matkur Terima Satya Lencana Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Bondowoso H Matkur Terima Satya Lencana Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Bondowoso H Matkur Terima Satya Lencana Pendidikan

"Alhamdulillah saya mendapatkan penghargaan Satya lencana Pendidikan. Ini sebuah penghargaan yang diberikan Presiden RI pada orang-orang yang dianggap berprestasi luar biasa di bidang pendidikan," ungkapnya Ahad (27/11) malam.

HMI Tegal Kab

Menurut Wakil Rais Syuriah MWCNU Kota Bondowoso, ada 40 orang yang menerima penghargaan tersebut, tapi yang disematkan langsung Presiden RI ada 15 orang perwakilan di antaranya dari Gorontalo, Yogyakarta, Maluku.

Bapak beranak lima bersyukur kepada Allah, orang tua, keluarga, para guru dan sahabat-sahabat dengan penghargaan ini. “Semoga menjadi motivasi dan inspirasi bagi anak-anak, murid dan teman guru,” katanya.

HMI Tegal Kab

Salah satu prestasi yang pernah diraihnya juara satu lomba Kepala Madrasah berprestasi tingkat nasional dan Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2016 dari Menteri Agama. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Pertandingan, Syariah HMI Tegal Kab

Kamis, 23 November 2017

Habib Syech: Pesan Mbah Idris, Nikmatilah Hidup Meskipun Susah

Boyolali, HMI Tegal Kab. Ribuan orang menghadiri peringatan Haul KH Muhammad Idris di Kacangan Andong Boyolali Jawa Tengah, Senin (27/4) malam. Tokoh yang akrab disapa Mbah Idris tersebut, merupakan salah satu ulama guru Thariqah Syadziliyyah.

Habib Syech: Pesan Mbah Idris, Nikmatilah Hidup Meskipun Susah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Pesan Mbah Idris, Nikmatilah Hidup Meskipun Susah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Pesan Mbah Idris, Nikmatilah Hidup Meskipun Susah

Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf menyampaikan pesannya kepada para jamaah, serta kesaksiannya atas pribadi Mbah Idris.

“Dulu saya sering sowan ke Mbah Idris. Alhamdulillah saya mendapat dua kitab susunan beliau,” ungkap Habib Syech.

HMI Tegal Kab

Dikisahkan Habib Syech pernah mendapat pesan, yang sampai saat ini masih ia ingat. “Thariqah Syadzili yang dianut Mbah Idris, itu thariqah yang suka memperlihatkan nikmat. Fa amma bini’mati rabbika fahaddist. Pernah Mbah Idris berpesan kepada saya: Bib, pokoe urip iku tuduhake ni’mat. Hidup itu perlihatkan nikmat, meskipun susah. Kabeh iku nek dinikmati dadine ni’mat (semua kalau dinikmati akan menajdi nikmat),” kata Habib Syech menirukan ucapan Mbah Idris.

HMI Tegal Kab

Sementara itu, dijelaskan pula oleh Pengasuh Pesantren Alqur’aniyy Surakarta, KH Abdul Karim Ahmad. Acara haul ini diadakan dan diperingati dalam rangka untuk memenuhi kewajiban seorang murid terhadap gurunya.

“Kalau engkau diberi kebaikan seseorang, maka balaslah kebaikan tersebut dengan lebih baik atau setimpal. Kita semua ibadah bisa sah, bisa baca alquran alif-ba-ta, sebab jasa para guru dan ulama. Termasuk salah satunya, Mbah Kiai Muhammad Idris. Maka, kewajiban kita untuk membalas jasa mereka, salah satunya dengan menggelar haul seperti ini,” tuturnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Sholawat, Internasional HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock