Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru

Semarang, HMI Tegal Kab. Sebanyak 15 Madrasah Tsanawiyah di Semarang, Jawa Tengah, yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif Nadhaltul Ulama mengikuti pelatihan instruktur kurikulum 2013, 18-20 September 2014.

Kegiatan yang digelar di MTs Al Uswah? Bergas, Semarang, ini dimaksudkan untuk mempersiapkan para guru menghadapi kurikulum 2013 yang direncanakan pemerintah serentak diterapkan pada 2014.

15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

15 Tsanawiyah NU Semarang Siap Terapkan Kurikulum Baru

KKM MTs Ma’arif Kabupaten Semarang menyelenggarakan pelatihan instruktur kurikulum 2013 dengan menghadirkan pemateri dari Balai Diklat Keagamaan Semarang, antara lain Agus Mujiono, Bisri Musthofa, dan H. Suyatno.

HMI Tegal Kab

Ketua LP Ma’arif Kabupaten Semarang Moch Solichin menyambut baik kegiatan ini. Ia berharap pelatihan dapat mengatarkan guru untuk lebih siap dalam menghadapi kurikulum? 2013. Menurutnya, madrasah-madrasah di lingkungan Ma’arif Kabupaten Semarang mesti mendapatkan pelatihan kurikulum baru ini secara menyeluruh.

HMI Tegal Kab

Secara resmi kegiatan tersebut dibuka Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Semarang Subadi. Kemenag Semarang menyatakan dukungan penuh pelatihan yang digelar secara mandiri ini. Subadi yang juga memberikan materi “Penguatan Kebijakan Kementrian Agama dalam Implementasi Kurikulum 2013” mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk perhatian yang konkret pada kemajuan pendidikan khususnya madrasah.

Menurut Ketua KKM MTs Ma’arif Isro’i, pelatihan instruktur kurikulum 2013 diprogramkan dalam enam angkatan. Angkatan pertama untuk guru Quran-Hadits dan Aqidah-Akhlak, dan angkatan kedua untuk guru Fiqih dan SKI yang dilaksanakan di MTs Al Uswah Bergas. Angkatan ketiga dan keempat untuk guru mata pelajaran umum di MTs NU Ungaran dan angkatan kelima keenam untuk guru bahasa direncanakan menempati aula MTs Darul Ma’arif Pringapus. (Suharsini/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Humor Islam HMI Tegal Kab

Selasa, 06 Februari 2018

Lebanon Sediakan 10-50 Beasiswa untuk Kader NU

Jakarta, HMI Tegal Kab. Peluang menimba ilmu bagi para kader NU kini semakin terbuka lebar. Kali ini kesempatan beasiswa datang dari Lebanon yang menyediakan kuota 10-50 orang untuk belajar di Global University Lebanon.

Tawaran ini disampaikan oleh Sheikh Dr. Tarek Muhammad Nageeb Al lahman dalam kunjungannya ke PBNU yang diterima oleh KH Hasyim Muzadi, Rabu (26/3).

Lebanon Sediakan 10-50 Beasiswa untuk Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebanon Sediakan 10-50 Beasiswa untuk Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebanon Sediakan 10-50 Beasiswa untuk Kader NU

“Jumlah yang berangkat nanti tergantung kemampuan calon mahasiswa dan kemampuan PBNU membantu,” kata Hasyim.

Sebelumnya PBNU telah mengirimkan mahasiswa ke Sudan, Libya, Marokko dan negara Timur Tengah lainnya untuk meningkatkan SDM di lingkungan NU.

Kiai Hasyim juga menuturkan Dr. Tarek yang juga menjadi guru tarekat ini akan mengirimkan buku-buku perbandingan ajaran ahlusunnah wal jamaah, tetapi dengan perbandingan terhadap Syiah, Hizabut Tahrir atau ajaran lainnya.

“Ini sangat penting buat kita sekarang ini dalam menghadapi tantangan-tantangan baru,” ujarnya.

HMI Tegal Kab

Kebutuhan buku ini semakin mendesak dengan kembali dipertanyakannya amalan-amalan yang selama ini dilakukan oleh warga NU akibat masuknya jaringan Islam trans nasional ke Indonesia dengan ajaran-ajaran yang berbeda.

Pertentangan terbaru terjadi di Jawa Timur dengan terbitnya buku Mantan Kiai NU Menggugat yang dikarang oleh Mahrus Ali yang menganggap amalan-amalan yang dijalankan nahdliyyin syirik dan bid’ah. Meskipun sudah dibuat buku tandingan, hal ini menunjukkan memanasnya hubungan diantara golongan umat Islam. (mkf)



HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Humor Islam HMI Tegal Kab

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Magetan, HMI Tegal Kab. Kiai Sholikhin menjelaskan, kenduri tahlilan yang biasa dilakukan masyarakat pada hakikatnya adalah dzikir kepada Allah SWT. Dalam Al-Quran dzikir diperintahkkan melalui ayat “fadzkurullaha dzikron kasira”(perbanyaklah dzikir kepada Allah).

Ia menambahkan, dalam tahlilan juga ada bacaan tasbih yang diperintahkan Al-Quran pada ayat “fasabihu bukrota waashila”. Juga shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta bacaan lain yang diperintahkan dalam Al Qur’an.

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahlilan Ibarat Wedang Jahe dari Sumur Al-Qur’an

Meski demikian, Kiai Sholikhin menganjurkan agar warga masyarakat, khususnya orang NU juga harus menyadari imbauan secara langsung tentang tahlilan di dalam Al Qur’an tidak ada. ”Tidak ada ayat yang mengimbau secara langsung untuk tahlilan misal yaayuhaladzina amanu hallilu tahlillan, tidak ada,” tegasnya pada pengajian di halaman kator PCNU Magetan, Ahad (8/6).

HMI Tegal Kab

Kemudian ia menukil perkataan kiai Mukhtar Syafa’at Blok Agung Banyuwangi yang mengumpamakan tahlilan dan Al Qur’an itu seperti wedang jahe dan air sumur.

HMI Tegal Kab

“Kulo nante mireng dawuhe almaghfurlah kiai Mukhtar Syafa’at nyontoheke sing cocok antarane Al Qur’an karo tahlilan iku koyok banyu sumur karo wedang jahe. Wedang jahe itu tahlilan, Al Qur’an itu air sumur.”

Kiai asal Surabaya tersebut menjelaskan maksud perkataannya, “jika kamu hendak mencari wedang jahe di sumur maka tak akan ketemu sampai kapan pun, tapi sadarilah bahwa wedang jahe ini airnya berasal dari air sumur.”

Hal ini, tambah dia, sama ketika mencari perintah tahlilan di dalam Al Qur’an, maka tidak akan ketemu, namun harus diketahui bahwa isi bacaan tahlilan itu berasal dari perintah Al Qur’an. (?Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Pesantren, Humor Islam HMI Tegal Kab

Kamis, 01 Februari 2018

Ansor di Era Perang Media

Oleh M. Fathoni Mahsun



Akhir-akhir ini, sampai pada harlahnya ? yang ke-83, Gerakan Pemuda Ansor menjadi media darling, mulai dari tingkat Pengurus Pusat (PP) yang berada di Jakarta sampai yan tingkat Pengurus Anak Cabang (PAC) yang berada di kecamatan-kecamatan. Obyek masalahnya berkisar pada Pilkada, isu kebangsaan dan konfrontasi dengan kelompok-kelompok radikal. Tentu hal tersebut menjadi isu yang ngeri-ngeri sedap, di tengah-tengah kondisi perang media yang terjadi setiap hari.

Ansor di Era Perang Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor di Era Perang Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor di Era Perang Media

Kita masih ingat dengan peristiwa yang terjadi di Gedangan Sidoarjo (4/3/2017), dimana Ansor setempat bereaksi dengan kehadirian Khalid Basalama, yang diagendakan mengisi pengajian di Masjid Salahuddin perumahan Puri. Khalid Basalama dipandang sering menyampaikan pengajian-pengajian yang mengumbar kebencian ini, tidak dikehendaki Ansor setempat. Setelah koordinasi dengan Kapolres dan penyelenggara, akhirnya Basalama diganti dengan ustad lain.

Namun berita yang berkembang sebaliknya, Ansor melakukan pembubaran pengajian. Padahal pengajian ketika itu masih berlanjut dengan ustadz pengganti. Namun berita ? pembubaran ini sudah kadung menyebar kemana-mana. Sampai-sampai Mahfud MD pun ikut-ikut bereaksi. Pada kondisi demikian, berita tidak hanya tersebar melalui media-media mainstream, tapi juga melalui media-media sosail, seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, dan lain-lain. Skemanya biasanya, apa yang tayang di media mainstream kemudian menjadi berita viral di medsos dengan aneka bumbu, sehingga menggelinding bak bola salju. Walhasil kader Ansor sendiri sering kali kabur melihat permasalahan yang terjadi.?

Pilkada Jakarta yang baru saja usai menjadi bukti, dimana secara mengejutkan bahtsul masail Ansor yang dilaksanakan pada ? (11-12/3/2017), mengeluarkan keputusan mengenai bolehnya pemimpin non-Muslim. Respon keras segera menyeruak, baik yang datang dari kelompok yang selama ini dikenal berseberangan dengan Ansor, maupun dari kalangan NU sendiri. Dalam konteks Pilkada DKI putaran kedua, keputusan tersebut jelas membangun opini publik bahwa Ansor mendukung incumbent. Suasana seketika menjadi panas, tidak bisa dibayangkan bagaimana ramainya media-media sosial, yang mengiringi gemuruhnya media-media mainstream.?

Menyikapi kesimpang-siuran yang terjadi dari hasil bahtsul masail, Pengurus Pusat Ansor akhirnya harus turun gunung untuk menjelaskan pada kalangan grassroot. Untuk membendung bola liar yang sedang menggelinding, agar kader-kader Ansor di daerah-daerah tahu apa sebenarnya yang terjadi. Gus Latif Malik, salah satu tim yang menandatangani hasil bahtsul masail tersebut, dalam forum Rijalul Ansor PAC Ansor Jombang Kota menjelaskan, Ansor tidak pernah memberikan dukungan pada pemimpin non-Muslim. Karena di Al-Qur’an memang sudah jelas larangan tersebut.?

HMI Tegal Kab

Namun manakala isu agama dipolitisir sedemikian rupa sehingga memicu potensi konflik, maka Ansor harus bertindak. Dalam hal ini Ansor berusaha menunjukkan konsistensinya menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. “Jangan sampai isu agama yang dipolitisir sedemikian rupa, sebagaimana yang dilakukan DI/TII terulang kembali. Sabab kalau itu terjadi maka yang dihadapai adalah negara melalu aparat kemanannya, baik TNI maupun Polri.” Gus Latif juga mengingatkan, dengan kelompok-kelompok Islam yang berhaluan keras tersebut, kita masih bersaudara. Sebagai saudara kalau mereka melakukan hal yang membahayakan, maka harus kita ingatkan sebelum diingatkan oleh orang lain.

Kita mengenal prinsip ? cover both side di dunia jurnalistik, yaitu pemberitaan yang berimbang. Dalam berita-berita konfliktatif, prinsip cover both side ini harus dipegang kuat-kuat, dengan wujud mengkonfirmasi dua pihak yang berseberangan. Sebab kalau hanya diambil salah satu pihak saja, maka akan dianggap sebagai berita yang tidak berimbang.?

Penerapan prinsip cover both side ini dalam pengamatan saya menjadi kacamata yang cukup efisien dalam membaca berita. Kalau berita hanya mengeksplor pendapat satu pihak, maka segera saja putuskan: ini berita sampah. Prinsip ini juga biasanya cukup ampuh membedakan bahwa berita yang sedang beredar dibuat media profesional, atau ? media tendensius.

HMI Tegal Kab

Beberapa pihak akhirnya mengkodifikasi mana media-media yang berpihak kepada “kita”, dan mana media-media yang berada di pihak “mereka”. Hal ini dimaksudkan agar Nahdliyin mudah mengidentifikasi sumber berita mana saja yang boleh dikonsumsi, dan sumber berita mana yang tidak boleh dikonsumsi. Tentunya media yang dimaksud bukanlah meda-media mainstream yang sudah akrab di kalangan publik.

Maka, aksi konkritnya adalah dengan membuat daftar media-media yang berseberangan dengan ? Aswaja. Lalu daftar tersebut di share ke grup-grup media sosial. Saya mengapresiasi usaha demikian, namun apakah usaha ini sudah cukup? Menurut hemat saya agar masyarakat Nahdliyin, wabil khusus Ansor bisa cerdas memamah berita, harus melengkapi diri dengan kacamata cover both side sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Sebab untuk menghafal list media “terlarang” yang ternyata cukup banyak, tidak lah mudah.

Pasca kedatangan Basalama di Gedangan Sidoarjo, Ansor Jawa Timur mendapat PR lagi dengan kedatangan Habib Riziq, yang diagendakan mengisi pengajian di masjid Ampel Surabaya pada (14//4/2017). Ansor Surabaya kali ini yang terpanggil, sebagaimana banyak elemen masyarakat Surabaya lainnya, yang tidak menginginkan Habib Rizieq mengusik kedaimaian dan kerukunan masyarakat Jawa Timur.

Sebagai yang punya wilayah, Ansor Surabaya mempunyai kewajiban moral untuk bersikap. Namun, pengalaman Ansor Sidoarjo nampaknya menjadi catatan penting. Sehingga agar tidak menjadi korban bully, Ansor Surabaya tidak sampai menurunkan massa, mereka hanya berstatemen di media. Tapi kenyataannya, mucul juga berita dengan judul “Berulah Lagi, Ansor Surabaya Mau Gagalkan Pengajian Habib Rizieq di Masjid Ampel” ? di http://publik-news.com. Kehadiran Habib Rizieq ini hampir saja luput dari perhatian, karena seluruh elemen NU Jawa Timur ketika itu baru saja mempunyai gawe besar berupa Istighotsah Kubro pada (9/4/2017).

Pola gerakan yang memanfaatkan kelengahan warga Nahdliyin ini terulang kembali, kali ini terjadi di Jombang. Setelah Ansor dan Banser masih kelelahan seusai mengawal Konfercab PCNU Jombang pada (21-23/4/2017), secara mengjutkan tiba-tiba terdengar kabar ada unjuk rasa HTI di dekat RSNU Jombang. Unjuk rasa itu terjadi ketika beberapa anggota Ansor dan Banser masih terlelap, setelah beberapa jam sebelumnya begadang sampai dini hari.

Masihkah para kader Ansor tidak merasa bahwa saat ? ini kita sedang berada pada era perang media? Pilihannya adalah bermedsos sebagaimana biasa, atau ambil bagian menjadi pasukan perang Ansor yang saat ini sudah mulai dibentuk. Kalau pilihan kedua yang diambil maka pertama, wajib hukumnya kader Ansor mempunyai Twitter, karena saat ini popularitas berita banyak dipengaruhi oleh trending topik Twitter. Tidak zamannya lagi kader Ansor tidak punya account Twitter, sebab kalau ada undangan nge-twit tidak bisa ikut berperan mendongkrak isu yang sedang diusung. Kedua, kemampuan ber-Facebook tidak cukup hanya dengan update status, tapi juga harus bisa melaporkan account-account penyebar hoax dan berita ujaran kebencian agar segera diblokir oleh Facebook. Tiga, kader Ansor tidak cukup mengkonsumsi meme, tapi juga harus bisa memproduksi meme.?

Sederhana sebenarnya.

Penulis adalah kader Ansor Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Humor Islam HMI Tegal Kab

Jumat, 26 Januari 2018

Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan

Demak, HMI Tegal Kab

Pimpinan anak canang (PAC) IPNU-IPPNU Mranggen, Demak, Jawa Tengah akan menggelar seminar pelajar pada Minggu (14/5) mendatang di Aula Yayasan Pondok Pesantren Al Ghozali Kebonbatur Mranggen asuhan KH Zaini Mawardi.

Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Mranggen Akan Buka-bukaan tentang Pendidikan

Seminar yang pesertanya dari pelajar Madrasah Aliyah, SMA dan SMK se-Kecamatan Mranggen tersebut mengangkat tema "Buka-bukaan Pendidikan" dengan narasumber yang akan dihadirkan diantaranya KH Ali Mahsun, Rais Syuriah MWCNU Mranggen, dan Hariyadi, pengawas pendidikan dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kecamatan Mranggen.

"Dalam seminar nanti akan mengundang seluruh pelajar Madrasah Aliyah dan SMA se-Kecamatan Mranggen serta Muspika," ujar Shofhal Jamil, ketua panitia, kepada HMI Tegal Kab (2/5).

Dalam seminar nanti, lanjut Jamil, akan membahas mengenai seluk-beluk pendidikan yang ada di Kecamatan Mranggen, sehingga hasil dari seminar setiap elemen pendidikan diharapkan bisa berubah menjadi lebih baik.

HMI Tegal Kab

"Dalam pandangan masyarakat, pendidikan sekarang hanya menjadi acuan untuk mencari kerja seusai mengenyam pendidikan, terutama formal," ucap Jamil.

Jamil menambahkan, bahwa sistem pendidikan saat ini sudah jauh keluar dari esensi pendidikan itu sendiri. Sehingga, nilai-nilai moral pendidikan tak jarang menjadi terabaikan. Tujuan utama pendidikan sebagai upaya menambah pengetahuan pun menjadi buram karena yang menjadi acuan hanyalah bagaimana pelajar mendapatkan pekerjaan setelah selesai mengenyam pendidikan formal.

"Dengan tema tersebut, kami mencoba merubah mindset masyarakat antara pendidikan dan kerja. Selain itu, sistem pendidikan sendiri sampai saat ini dirasa masih belum relevan. Sehingga, muncul solusi cemerlang dari seminar itu," imbuh Jamil.

HMI Tegal Kab

Sementara itu Syaefuddin Ahmad, Ketua IPNU PAC Mranggen mengungkapkan, bahwa seminar yang akan digelar nantinya, merupakan seminar yang ketiga kalinya. "Seminar pertama kami membahas mengenai pendidikan moral, seminar kedua membahas bahaya narkoba, hal itu kami laksanakan sebagai upaya membekali pelajar," ujar dia.

Ia menambahkan, bahwa IPNU-IPPNU Mranggen sangat konsen dalam mengusung kualitas kader dari sisi keaswajaan maupun intelektual. Dengan harapan sebagai kader pelajar NU, outputnya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. "Salah satu meningkatkan kualitas kader. Kami gelar seminar dan diskusi-diskusi kontemporer," pungkasnya. (A. Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pendidikan, Humor Islam, Olahraga HMI Tegal Kab

Minggu, 21 Januari 2018

Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji

Surabaya, HMI Tegal Kab. Jelang Kongres PMII ke-XVIII pada 30 Mei hingga 5 Juni mendatang di Jambi, sejumlah kandidat ketua umum akan diuji terlebih dahulu perihal pemikiran dan kapasitas. Komunitas Pondok Budaya IKON Surabaya berencana menggelar “Forum Rembuk Sahabat” bersama para kandidat di Coffe Toffe JX Internasional, Surabaya, Jumat (16/5).

Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Kongres, Para Kandidat Ketum PMII Asal Jatim Diuji

"Selain menghadirkan kandidat Ketua PMII, juga akan menghadirkan sejumlah Ketua Ikatan Keluarga Alumni PMII Jatim, akademisi, dan pengurus NU Jatim sebagai panelis," kata Sekretaris Eksekutif Pondok Budaya IKON Surabaya Abdul Hady JM kepada HMI Tegal Kab, Senin, (12/5). 

Berdasarkan informasi yang beredar, tidak sedikit kandidat ketua PMII berasal dari Jawa Timur. "Ternyata banyak kandidat potensial berasal dari Jawa Timur yang akan maju memperebutkan jabatan ketua umum," kata Abdul Hady.

HMI Tegal Kab

Karenanya, kami terpanggil untuk mengorbitkan mereka sekaligus untuk mencermati proyeksi mereka bila nantinya terpilih, lanjut Hady. Prinsipnya, Forum Rembuk Sahabat menjadi ajang mengomunikasikan pikiran, gagasan, visi dan misi dari kandidat agar dapat diketahui khalayak, khususnya bagi mereka yang memiliki hak pilih saat kongres.

HMI Tegal Kab

Selama ini tampak sejumlah nama kandidat yang diperkirakan akan meramaikan bursa ketua umum. Mereka antara lain Mukaffi Makki (Surabaya), Zaini Mustaqim (Kota Malang), Abdul Aziz (Jombang), Deny Mahmud Fauzi (Surabaya), Arif Taufiqurrahman (Jombang), Abidurrahman (Tulungagung), Erfandi Efendi (Bangkalan), Heri Kristianto (Jember), dan Iwan Adi Kusuma (Tulungagung).

kandidat nantinya akan diuji kemampuan dan komitmennya oleh tiga panelis. Mereka ialah Ketua IKA PMII Jatim RPA Mujahid Anshori, Mantan Rektor Unitomo Ulul Albab, dan Sekretaris PWNU Jatim Muzakki.

"Alhamdulillan sejumlah kandidat telah mengkonfirmasi dan bersedia untuk hadir pada kegiatan ini, demikian juga para panelis," kata sekretaris panitia RPA Faqih Zamany. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa, Humor Islam, Pahlawan HMI Tegal Kab

Kamis, 04 Januari 2018

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Dalam kitab suci Al-Quran, istilah pelecehan agama memang tidak ada. Namun dalam konteks yang sama, ada istilah-istilah tertentu yang bisa dipahami sebagai padanan dari pelecehan. Adapun bahaya tindakan melecehkan itu bukan cuma mengancam mereka yang melecehkan, namun juga merugikan objek, pihak, atau orang yang dilecehkan.

Dalam buku ini, Imanuddin dan Zaenal mengidentifikasi adanya tiga kata atau istilah dalam Al-Quran yang bisa dipadankan dengan kata pelecehan. Tiga kata itu bukan cuma berkaitan dengan ajaran agama Islam secara langsung. Namun juga kisah-kisah dari berbagai zaman yang mengeksplorasi tindakan pelecehan berikut bahaya dan bencana yang mengiringinya.

Ketiga kata itu meliputi Huzuw, Laib, dan Sakhira (hlm.71). Kata Huzuw bisa dipadankan dengan kata mengolok-olok. Namun bisa juga diartikan sebagai gurauan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dengan tujuan melecehkan.

Kata Laib bisa diartikan dengan kata bermain atau bermain-main. Namun dalam konteks pelecehan, kata ini bisa diartikan segala aktifitas yang dilakukan bukan pada tempatnya atau untuk tujuan yang tidak benar. Sementara Sakhira adalah mengejek ? (hlm.78-86). Yaitu, menjadikan suatu agama berikut ajaran dan pemeluknya sebagai bahan ejekan yang berorientasi merendahkan atau meremehkan.

Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Bentuk-bentuk pelecehan agama memang banyak ragamnya. Ada pelecehan yang dinyatakan secara verbal, ada pula yang non-verbal. Pelecehan yang berbentuk verbal, cenderung mudah diketahui oleh pihak yang menjadi korban pelecehan secara langsung. Namun tidak demikian pada pelecehan berbentuk non-verbal. Terkadang, malah pihak atau orang ketigalah yang justru mengetahui lebih dahulu adanya tindak pelecehan agama.

Buku ini bukan hanya menyajikan bahasan seputar pelecehan agama secara langsung. Namun juga membahas pelecehan agama yang bermula dari pelecehan terhadap ajaran, pemeluk, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan suatu agama. Karena buku ini berangkat dari wawasan Al-Quran, maka secara tidak langsung, buku ini menitik-tekankan bahasan pada larangan keras bagi umat Islam yang ingin melecehkan agama Islam maupun agama lain.

HMI Tegal Kab

Sebagai bangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat berbagai pemeluk agama dan keyakinan, sudah semestinya bagi kita untuk tetap saling menghormati dan tenggang-rasa. Khususnya seputar keberagamaan dan keberagaman. Sebab dengan menahan diri dan minat dari melecehkan agama lain, kedamaian akan mudah terbentuk dan terjaga dengan sendirinya. Selanjutnya, kita bisa beribadah dengan tenang dan nyaman sesuai agama dan keyakinan masing-masing.?





Info Buku

Judul ? ? ? ? ? ? ? : Jangan Nodai Agama: Wawasan Al-Quran tentang Pelecehan Agama

HMI Tegal Kab

Penulis ? ? ? ? ? : Imanuddin bin Syamsuri, Lc. MA dan M. Zaenal Arifin, MA

Penerbit ? ? ? ? : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Cetakan ? ? ? ? : I (pertama), 2015

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : xviii+190 halaman

ISBN ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-229-457-3





Peresensi

Muhammad Ghannoe

Aktif di komunitas Nandha, Bantul.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ulama, Humor Islam, Aswaja HMI Tegal Kab

Jumat, 22 Desember 2017

PP Lakpesdam NU Bedah “Pesantren Studies”

Jakarta, HMI Tegal Kab. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) mengadakan diskusi dan bedah buku "Pesantren Studies" karya Ahmad Baso di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (31/7). 

PP Lakpesdam NU Bedah “Pesantren Studies” (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Lakpesdam NU Bedah “Pesantren Studies” (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Lakpesdam NU Bedah “Pesantren Studies”

Ketua PP Lakpesdam Yahya Ma’sum saat membuka diskusi mengatakan, kegiatan diadakan untuk memberikan apresiasi kepada salah seorang pengurus PP Lakpesdam yang telah berhasil menyelesaikan salah satu dari buku tentang pesantren yang digagasnya. Ahmad Baso adalah Wakil Ketua PP Lakpesdam NU yang telah banyak menulis buku tentang NU dan pesantren.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj juga memberikan kata pengnatar dalam diskusi ini. Selain penulisnya, bedah buku menghadirkan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Nur Syam, dan pengamat pendidikan Dharmaningtyas..

HMI Tegal Kab

Buku yang ditulis Ahmad Baso tersebut salah satu dari sembilan seri Pesantren Studies yang direncakan. Isinya membahas pesantren, jaringan pengetahuan, dan karakter kosmopolitan-kebangsaannya. 

Seri ini terdiri dari tiga juz, yaitu Jaringan Pengetahuan Pesantren; Jaringan Teks Penulis dan Pembaca Pesantren, dan Pengetahuan dan Siyasah Pesantren Berhadapan Pengetahuan Kolonial .

HMI Tegal Kab

Menurut Dharmaningtyas , buku ini sangat lengkap membicarakan pesantren, “Saya mengikuti buku-buku pesantren. Menurut saya, buku ini adalah seri pesantren terbaik dalam 10 tahun ini, kata pengurus Taman Siswa itu.  

Karya Ahmad Baso ini, sambung Dharmaningtyas, harus diapresiasi bukan hanya dari segi pemasarannya, namun juga penghargaan terhadap penulisnya yang mendokumentasikan banyak hal terkait proses yang ada di pesantren selama ini. 

Bedah buku ini dimoderatori  Wakil Sekretaris Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Enceng Shobirin Najd. Hadir pada kesempatan itu sejumlah pengurus NU, lembaga, lajnah, dan banom di lingkungan PBNU, serta para aktivis NU dan akademisi perguruan tinggi.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis    : Abdullah Alawi 

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, Humor Islam, Olahraga HMI Tegal Kab

Selasa, 12 Desember 2017

Kemendes Gandeng Fatayat dan IPNU Lakukan Pengembangan SDM

Jakarta, HMI Tegal Kab. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi terus berupaya meningkatkan indeks pembangunan manusia melalui peningkatkan keterampilan masyarakat. Untuk tujuan ini, mereka menggandeng Fatayat dan Ikatan Pelajar Putra Nahdlatul Ulama sebagai mitra strategis dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) di berbagai bidang, terutama ekonomi.

Kerja sama ini diteken, Senin (8/8) di Lanati 5 Gedung PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat. Hadir dalam penandatnganan kerja sama ini Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini, Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid, Direktur Pengembangan SDM Kemendes Priyanto, dan jajarannya.

Kemendes Gandeng Fatayat dan IPNU Lakukan Pengembangan SDM (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendes Gandeng Fatayat dan IPNU Lakukan Pengembangan SDM (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendes Gandeng Fatayat dan IPNU Lakukan Pengembangan SDM

Dalam paparannya, Anggia Ermarini mengatakan, selama ini Fatayat telah melakukan upaya pengembangan sumber daya manusia melalui pemberdayaan perempuan di banyak bidang yaitu ekonomi, koperasi, produk kreatif, dan keterampilan-keterampilan. Menurutnya, program Kemendes yang menitikberatkan kepada pemberdayaan perempuan merupakan titik temu strategis untuk mewujudkan misi pengembangan SDM.

“Fatayat memiliki potensi kuat dalam mengembangkan produk-produk kreatif, karena perangkat organisasi di beberapa daerah telah ada yang sampai sekarang membuka koperasi dan berbagai jenis industri kreatif,” terang Anggi.

HMI Tegal Kab

Jika potensi ini dikerjasamakan, tambahnya, tentu akan memunculkan prestasi luar biasa di bidang pengembangan manusia sehingga kerja sama ini merupakan langkah strategis antara unsur pemerintah dengan organisasi kemasyarakatan.

“Fatayat juga sekaligus punya misi penguatan organisasi melalui bidang ekonomi sehingga program pengembangan manusia akan terus menguat di seluruh daerah,” ujar perempuan kelahiran Sragen, Jawa Tengah ini.

Senada dengan Anggi, Asep Irfan Mujahid juga menilai bahwa pengembangan sumber daya manusia juga harus dimulai dari pemudanya sehingga hal ini merupakan tantangan yang harus dikerajan secara bersama-sama untuk mewujudkan tujuan tersebut. “Pengembangan kreativitas harus dimulai sejak muda, sebab itu IPNU sangat strategis karena mempunyai jejaring hingga ke level akar rumput,” ujar Asep.

HMI Tegal Kab

Sementara itu, Direktur Pengembangan SDM Kemendes Priyanto menegaskan tentang indeks pembangunan manusia yang harus terus ditingkatkan, terutama pemberdayaan dalam bidang ekonomi kreatif. Dia menjelaskan, sebenarnya langkah ini telah dilakukan pihaknya sejak 2003 silam.

“Karena keterbatasan sumber daya, maka hal ini tidak bisa dilakukan sendirian sehingga harus dijalin sebuah kemitraan dengan organisasi strategis seperti Fatayat dan IPNU,” ujar Priyanto.

Dia menandaskan, agar program berjalan dengan optimal, pihaknya meminta semua unsur organisasi harus melakukan pekerjaan secara tuntas dengan turun langsung ke lapangan. Hal ini dia sampaikan karena Fatayat dan IPNU memiliki potensi yang bisa secara langsung digarap.?

“Program ini menekankan praktik pengalaman (practice excersice) sehingga harus disiapkan, baik dari sisi pelatihan sampai ke tahap pemasaran produk-produk kreatif yang harus dikontrol secara optimal,” jelasnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Humor Islam, Budaya HMI Tegal Kab

Selasa, 05 Desember 2017

Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim

Surabaya, HMI Tegal Kab. Setelah keputusan deadlock 14 kali 24 jam, akhirnya Konferensi Wiayah (Konferwil) XIX Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jatim kembali dilangsungkan, Ahad (18/12). Bertempat di Aula Kertoharjo Gedung Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, Nurul Hidayati kader IPPNU asal Bangil terpilih untuk menjadi nakoda organisasi tersebut selanjutnya.

Sebelumnya, Konferwil XIX IPPNU Jatim ? diselenggarakan di Gedung SMPN 1 Sidoarjo mulai tanggal 2-4 Desember. Dalam forum ini, muncul dua nama kandidat ketua PW IPPNU Jatim yaitu Amidatus Sholihat dan Nurul Hidayati. Masing-masing mendapatkan 16 suara sampai lima kali putaran pemungutan suara.

Pada sidang lanjutan ini, pimpinan sidang yang ditugaskan dari Pimpinan Pusat (PP) IPPNU tidak sama dengan sebelumnya. Kali ini sidang dipimpin oleh Herawati dan sebagai sekretarisnya Zaimah.

Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim

Di awal forum peserta sidang sempat menolak adanya pergantian pimpinan sidang yang ditugaskan. Terjadi pro-kontra antara peserta yang hadir di forum yang akhirnya bisa diselesaikan oleh pimpinan sidang, sebab mereka memiliki Surat Tugas.

"Pada Konferwil lanjutan ini juga hadir PWNU yang diwakili KH Sholeh Hayat. Hal ini tidak lain untuk menjadi penengah dan pengayom sebab mempelajari sidang sebelumnya yang diputuskan deadlock," terang Ida Fitriani, ketua Steering Commitee.

Benar saja, terjadi silang pendapat kembali di kalangan peserta Konferwil saat mulai membahas status aktif pimpinan cabang. Karena adanya perbedaan asumsi masa aktif antara pimpinan sidang sekarang dengan yang memimpin sebelumnya.

HMI Tegal Kab

"Pimpinan ? Pusat yang hadir sekarang lebih saklek pada Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PDPRT). Dimana didalamnya tidak ada yang menyebutkan masa tenggang 3 bulan dari tanggal akhir jabatan yang tertulis di Surat Pengesahan (SP)," jelas Ida.

Ida yang pada forum di Sidoarjo memimpin sidang tata tertib juga mengingatkan kembali kepada peserta tentang keputusan yang dibuat sebelumnya. Yang mana pada sidang tata tertib telah disepakati tidak adanya masa tenggang tiga bulan dari SP. Dan keputusan inilah yang tidak diindahkan pimpinan sidang yang pertama.

Dengan pimpinan sidang baru yang saklek PDPRT ini akhirnya tiga cabang yaitu Situbondo, Jember dan Pacitan tidak lagi memiliki hak suara. Dalam SP tertulis masa aktif PC IPPNU Situbondo adalah sampai tanggal 10 Oktober 2016, Jember sampai 28 September 2016 dan Pacitan sampai 9 November 2016. Dari sini beberapa PC mulai mengajukan protes.

Forum kembali ricuh sampai akhirnya KH Sholeh Hayat perwakilan PWNU memberikan solusi. Solusi yang diberikan yaitu peserta sidang tetap sebagaimana forum sebelumnya di Sidoarjo.

HMI Tegal Kab

Terang solusi PWNU ini dianggap mencederai PDPRT yang ada. Forum pun akhirnya ricuh kembali sampai kemudian KH Sholeh Hayat mencabut apa yang disampaikannya dan memohon maaf kepada forum. Tidak sampai disitu saja KH Sholeh Hayat juga menutup forum tersebut.

"Pimpinan Pusat mendapatkan perintah dari Jakarta untuk pulang. Hasil Konferwil kali ini adalah apa yang ada di depan mata kalian sekarang. Maka saya nyatakan Konferwil ditutup," jelas Kiai Sholeh.

Beberapa peserta tidak terima dengan ditututpnya forum. Mereka memohon agar forum tetap dilanjutkan. Bahkan hampir setengah jam beberapa peserta ini tidak mengizinkan KH Sholeh Hayat keluar ruangan.

"Mereka memblokade pintu masuk ruangan, dan terus memohon kepada Kiai untuk melanjutkan sidang. Beberapa peserta lain tampak berurai air mata melihat Kiai diperlakukan demikian itu," ungkap Isnaini kader IPPNU Jombang yang saat kejadian masih di dalam ruangan.

Sidang pun akhirnya dilanjutkan kembali dengan Zaimah yang sebelumnya adalah sekretaris sidang beralih menjadi pimpinan sidang. Sedangkan Herawati menjadi sekretarisnya.

"Peralihan ini dilakukan sebab Mbak Herawati tidak bisa mengatasi segala kericuhan yang terjadi," terang Iffatul Wahidah ketua PC IPPNU Ponorogo yang juga menjadi peserta.

Keberadaan PC IPPNU Nganjuk sebagai peserta dalam sidang ini juga dipermasalahkan. Sebab menurut beberapa peserta PC tersebut sudah melaksanakan Konfercab pada hari yang sama dengan Konferwil. Dan pada saat itu pula sudah menyatakan demisioner, meskipun ketuanya ada di lokasi Konferwil.

"Domisioner itu tidak sah karena PCNU tidak diberi mandat untuk mendemisionerkan PC IPPNU. Justru PCNU nganjuk meminta panitia Konfercab untuk segera mengirimkan surat ke pusat, karena yang punya wewenang itu adalah pusat," terang Arum Ketua PC IPPNU Nganjuk.

Masih menurut Arum, Konfercab tersebut juga tidak melibatkan Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah yang secara organisasi memiliki tingkat di atas Pimpinan Cabang. Dan pengurus yang menyatakan demisioner hanyalah 4 orang saja.

"Tentang demisioner itu, saya sebagai ketua juga tidak pernah memandatkan kepada siapapun untuk melakukannya. Masa khidmat PC Nganjuk pun tertulis di SP sampat tanggal 1 Maret 2017," terang Arum. Oleh sebab itu PC Nganjuk akhirnya tetap dibolehkan menjadi peserta dengan hak suara.

Meskipun protes yang disampaikan peserta tak juga berhenti Pimpinan Sidang tetap melanjutkan forum dengan saklek berpatokan pada PDPRT. Dengan begitu hanya ada 29 Cabang saja yang memiliki hak suara.

Masuk tahap pemilihan suara, hasilnya adalah tetap 16 suara untuk Nurul Hidayati, dan 13 Suara untuk Amidatus Sholihat. Maka selanjutnya Nurul Hidayati mendapatkan mandat untuk menahkodai PW IPPNU Jawa Timur selama satu periode ke depan atau tiga tahun. (Nafisatul Husniah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab News, Kajian, Humor Islam HMI Tegal Kab

Rabu, 29 November 2017

Rakernas, Muslimat NU Bahas Penguatan Organisasi Menuju Kemandirian

Jakarta, HMI Tegal Kab. Muslimat Nahdlatul Ulama menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dengan menghadirkan pengurus wilayah dari seluruh Indonesia, Kamis-Jumat (3-4/12), di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Pembukaan dilaksanakan Kamis (3/12) usai maghrib oleh Ketua Umum PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa. Untuk Rakernas kali ini, Muslimat NU secara keseluruhan akan memabahas ‘Penguatan Organisasi menuju Kemandirian Muslimat NU’.

Rakernas, Muslimat NU Bahas Penguatan Organisasi Menuju Kemandirian (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas, Muslimat NU Bahas Penguatan Organisasi Menuju Kemandirian (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas, Muslimat NU Bahas Penguatan Organisasi Menuju Kemandirian

Menurut koordinator panitia Rakernas, Hj Haniq Rofiqoh, Rakernas kali ini akan fokus membahas beberapa materi diantaranya Rencana Strategis (Renstra), peraturan organisasi Muslimat, AD/ART, dan materi lain yang terbagi dalam beberapa komisi.

Komisi I akan membahas AD/ART, Komisi II mengulas peraturan organisasi atau yang disebut POAM, Komisi III: Bahtsul Masail, Komisi IV membahas Renstra untuk tahun 2016-2021, teakhir Komisi V yakni Komisi Rekomendasi.

HMI Tegal Kab

“Rakernas ini juga akan dimanfaatkan untuk mempersiapkan Kongres Muslimat NU tahun 2016,” jelas Haniq.

HMI Tegal Kab

Sebelum pembukaan Rakernas secara resmi, Muslimat NU telah melakukan Seminar dengan membahas beberapa persoalan penting. Seminar ini telah dilaksanakan Rabu, (2/12) di Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Adapun materi-materi yang dibahas yaitu Sosialisasi Perizinan dan Manajemen Klinik Pratama, Upaya Pembiayaan Kesehatan melalui BPJS, Pengelolaan Taman Anak Sejahtera, Pencegahan dan Rahbilitasi NAPZA Berbasis Masyarakat, Internal Muslimat, juga pembahasan tentang Karta Tanda Muslimat (Kartamus). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Amalan, Humor Islam HMI Tegal Kab

Rabu, 15 November 2017

Ketua Bersama Konferensi Tokyo : Sesalkan Gagalnya Perundingan

Jakarta, NU.Online
Uni Eropa, Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Bank Dunia yang merupakan Ketua Bersama Konferensi Persiapan Tokyo untuk Perdamaian dan Pembangunan Kembali di Aceh, sangat menyesal bahwa Pemerintah Indonesia dan kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) gagal mengambil kesempatan unik untuk menyelesaikan masalahnya secara damai.

Gagalnya upaya ini merupakan pertanda kembalinya kekerasan di propinsi yang dilanda bentrokan antara GAM dengan TNI dalam 26 tahun terakhir dan menewaskan sedikitnya 10 ribu orang.

Ini juga menandakan gagalnya persetujuan damai bulan Desember, yang memberikan GAM otonomi terbatas dan diharapkan pengamat internasional dapat menghentikan kekerasan.

Siaran pers Kedutaan Besar AS di Jakarta, Senin, sebagaimana dikutip ANTARA, mengatakan, Perjanjian Penghentian Permusuhan (COHA) yang dicapai di Jenewa, Swiss, pada 9 Desember 2002 memberi kesempatan kepada rakyat Aceh untuk menikmati masa damai yang jarang mereka peroleh setelah bertahun-tahun mengalami pertumpahan darah.

Dikatakannya, COHA adalah kerangka kerja yang paling baik untuk penyelesaikan masalah Aceh dalam suatu proses yang berdasarkan pada demokrasi dan penghormatan kepada hak asasi manusia.

Sepuluh Unit Gedung Sekolah Dibakar Di Aceh

Sedikitnya sepuluh unit gedung sekolah dibakar sekelompok orang bersenjata di Provinsi NanggroeAceh Darussalam (NAD), masing-masing delapan unit di Kabupaten Bireuen dan dua unit di Aceh Besar, sepanjang Senin.

Aksi pembakaran sarana pendidikan di Kabupaten Aceh Besar, Senin malam, menghanguskan gedung Sekolah Dasar (SD) Keude Bieng dan SMU Lampeuneurut, hingga pukul 22.00 WIB, petugas pemadam kebakaran dilaporkan terus berupaya memadamkan api untuk menyelamatkan ruangan yang belum terbakar.

Di kawasan Keude Bieng, Kecamatan Lhoknga, sekitar 14 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh, selain gedung SD, sebuah gardu listrik PT PLN juga tidak luput dari aksi pembakaran yang dilakukan orang tak bertanggungjawab itu. (BBC/IIN/Cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Humor Islam HMI Tegal Kab

Ketua Bersama Konferensi Tokyo : Sesalkan Gagalnya Perundingan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Bersama Konferensi Tokyo : Sesalkan Gagalnya Perundingan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Bersama Konferensi Tokyo : Sesalkan Gagalnya Perundingan

Jumat, 10 November 2017

Enterpreneurship untuk Kemandirian Ekonomi Perempuan

Yogyakarta, HMI Tegal Kab

Masalah kemandirian ekonomi bagi kaum perempuan merupakan hal penting. Karena  pemberdayaan perempuan dalam berbagai bidang akan bisa dilakukan secara optimal jika didukung dengan  pekonomian yang kuat dan mandiri.  

Fatayat NU harus berperan sebagai ruang kreatif perempuan dalam membangun kemandirian ekonomi. Makanya, jiwa enterpreneurship bagi Fatayat NU mesti digerakkan, sehingga agenda pemberdayaan bisa terealisasi dengan maksimal.

Enterpreneurship untuk Kemandirian Ekonomi Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Enterpreneurship untuk Kemandirian Ekonomi Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Enterpreneurship untuk Kemandirian Ekonomi Perempuan

Demikian yang mengemuka dalam Pelatihan Enterpreneurship bertajuk “Menumbuhkembangkan jiwa Enterpreneur Menuju Kemandirian Ekonomi Perempuan” di Aula Gedung PCNU Sleman (07/04). 

HMI Tegal Kab

Acara yang diselenggarakan PW Fatayat NU DIY bekerjasama dengan PC Fatayat NU Sleman dan Himpunan  Pengusaha-Santri Indonesia (HIPSI) dihadiri oleh 70 orang perempuan dari perwakilan pengurus cabang Fatayat se DIY dan pengurus anak cabang Fatayat se-kabupaten Sleman.

HMI Tegal Kab

Acara ini dibuka oleh H Muslimin, wakil ketua PCNU Sleman. Dalam sambutannya, Muslimin merasa bangga Fatayat bisa melaksanakan pelatihan wirausaha ini, karena semangat wirausaha harus terus ditumbuhkan bagi masyarakat NU.

“Warga NU harus paham wirausaha. Keuntungannya sangat gamblang dan riil. Jangan sampai terlewatkan,” tegasnya.

Sementara itu, Moh Ghozali ketua HIPSI Pusat, menjelaskan bahwa kaum perempuan harus mampu mengubah pola pikir dari tidak bisa menjadi bisa. Baginya, pola pikir ini harus dirubah, sehingga perempuan berani melangkah.

“Harus kita rubah pola pikir kita. Perempuan jangan terjebak menjadi tidak bisa. Semua hal yang halal dan baik, pasti bisa dilaksanakan. Ayo kita rubah dan kita bangkitkan diri kita menjadi pengusaha,” tegasnya.  

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Muyassaroh, Rokhim

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Humor Islam HMI Tegal Kab

Rabu, 08 November 2017

Sang Guru Pesantren dari Situbondo

Judul         : Keteladanan KHR. Ahmad Fawaid As’ad

Penulis      : KH. Muhyiddin Abdusshomad 

Editor        : Suparman

Sang Guru Pesantren dari Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Sang Guru Pesantren dari Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Sang Guru Pesantren dari Situbondo

Penerbit    : Khalista, Surabaya

Cetakan    : I, April 2012

Tebal         : xi+ 46 hlm.

Peresensi : Ach. Tirmidzi Munahwan*

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Akan datang kehancuran yang melanda bumi ini, yaitu ketika Allah mencabut ilmunya dari muka bumi ini. Allah mencabut ilmu bukan menghilangkan pengetatahuan, bukan pula melenyapkan ilmu pengetahuan. Tapi, dengan cara mengambil (meninggalnya) orang-orang yang berilmu. Maka, bumi ini tidak akan dipimpin oleh orang-orang yang berilmu dan dikuasai oleh orang-orang bodoh.

Ulama ialah orang yang menguasai ilmu agama. Orang yang menyerukan kepada umatnya untuk berbuat amar makruf nahi mungkar. Jika bumi ini telah kehilangan ulama, maka segera keburukan akan merajalela dan hanya tinggal menunggu waktu untuk sebuah kehancuran.

Di awal tahun 2012 di pulau Jawa telah kehilangan empat ulama yaitu KH Munif Djazuli wafat (Ploso), KH Imam Yahya Mahrus (Lirboyo, KH. Abdullah Faqih (Langitan) dan KHR. Ahmad Fawaid As’ad salah satu putra dari Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Almagfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus Situbondo. Innalillahi wainna ilahi raji’un (seungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali). Semoga Allah mengampuni, mengasihi, melindungi, dan memaafkan beliau. Dan semoga Allah memberi kita kekuatan untuk meneladani, melanjutkan apa yang selama ini diperjuangkan oleh kedua ulama besar tersebut.

KHR. Fawaid As’ad adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo generasi ketiga. Sebagai penerus beliau telah mampu membuktikan bahwa beliau tidak hanya mampu melanjutkan, tetapi juga bisa mampu mengembangkan serta melakukan inovasi dengan terobosan baru sehingga pesantren Salafiyah Syafi’iyah bisa berkembang pesat dengan memadukan pesantren salaf dan modern. Pesantren ini didirikan pada tahun 1914 oleh KH. Syamsul Arifin (kakek Kiai Fawaid). Dan saat ini santrinya diperkirakan 13.000 santri dari berbagai daerah bahkan diantaranya bersal dari Malaysia dan Brunei Darussalam.  

Kepergian KHR. Ahmad Fawaid As’ad pada hari Jumat 9 Maret 2012, jam 12.15 di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya telah mengisahkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga dilingkungan pesantren tetapi juga masyarakat luar yang menghormati  dan mencintai sepenuh hati. KHR. Ahmad Fawaid A’ad sebagai seorang pengasuh pondok pesantren yang besar di daerah ujung timur pulau jawa, mempunyai banyak aktivitas padat yaitu salalu meluangkan waktunya melakukan rapat langsung dengan para pengurus pondok, sehingga menimalisir jarak sosial antara kiai dan santrinya. 

Kiai Fawaid juga berupaya meningkatkan taraf hidup penduduk dilingkungan pesantren dengan melibatkan mereka untuk memenuhi kebutuhan para santri. Sehingga penduduk merasakan dampak positif tidak hanya segi spiritual tapi juga taraf hidup mereka yang lebih baik. Kepedulian sosial beliau terhadap masyarakat luar biasa dan tak diragukan lagi, bahkan beberapa hari sebelum meninggal beliau masih sempat memberikan santunan kepada 500 anak yatim dan fakir mikin masing-masing berjumlah Rp. 500.0000 (hal.13).

Tentu menyadari sebagai ulama, Kiai Fawaid hidupnya didunia tidak akan lama lagi, meski tidak tahu pasti kapan ia akan dipanggil oleh Allah. Namun, beliau telah mempersiapkan penerusnya sebagai pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah, yaitu menunjuk Gus Ahmad Azaim Ibrahimi putra pasangan KH. Dhafir Munawar dan Nyai Hj. Zainiyah As’ad. Sehingga kepergiannya yang secara tiba-tiba kembali ke Rahmatullah, tidak menjadikan pesantren kalang kabut, tapi tetap tegak berdiri meski telah kehilangan pengasuhnya. Kiai Fawaid telah mempersipakan sistem dan pengelolaan yang matang untuk masa depan pesantren.

Buku ini menyajikan tentang beberapa prilaku KHR. Ahmad Fawaid As’ad yang patut diteladani oleh para generasi muda, santri, khususnya para pengasuh pesantren. Istiqamah membaca al-Qur’an, shalat berjama’ah setiap hari dalam kondisi apapun adalah amaliah yang tidak pernah ditinggalkannya. Bahkan dalam melakukan perjalanan, Kiai Fawaid selalu membaca al-Qur’an. Jadi tidak heran jika dalam satu minggu Kiai Fawaid selalu menghatamkan al-Qur’an minimal satu kali.

Walaupun buku ini amat sangat tipis dan sederhana, namun bisa sebagai pegangan untuk mengetahui sifat-sifat yang patut diteladani, dan bisa dijadikan refrensi bagi orang yang tertarik menulis biografi Kiai Fawaid secara umum. Buku kecil ini, ditulis oleh Kiai Muhyiddin Abdusshomad yang produktif menulis, juga dilengkapi dali-dalil penyelengaraan tahlil sekaligus teks tahlilnya yang biasa dibaca di pondok pesantren Salafiyah Syaf’iyah. Agar pengamal tahlil tidak ada keraguan dalam melaksanakan tradisi agung warisan ulama salaf ini. Wallahu a’lam

*Peresensi Adalah, Dosen Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Humor Islam, Amalan HMI Tegal Kab

Selasa, 07 November 2017

Ajengan Ahli “Alat” Haurkuning Wafat

Jakarta, HMI Tegal Kab 

Berita duka dari Haurkuning, Tasikmalaya, Jawa Barat. Pengasuh Pondok Pesantren Baitulhikmah yang juga Musytasyar PCNU Kabupaten Tasikmalaya, yaitu KH Saefudin Zuhri wafat pada Jumat malam (30/8). Ia tutup usia selepas berjamaah Shalat Isya sekitar pukul 19.30.

Menurut kabar yang diterima HMI Tegal Kab dari salah seorang santrinya, ia dikebumikan di komplek pesantren yang terletak di Kampung Haurkuning Desa Mandalaguna Kecamatan Salopa Kabupaten Tasikmalaya pada Sabtu (31/8).  

Ajengan Ahli “Alat” Haurkuning Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Ahli “Alat” Haurkuning Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Ahli “Alat” Haurkuning Wafat

Kiai tersebut meninggalkan 4 putra dan 3 putri serta 1500 santri. Kiai yang wafat pada usia 75 tahun tersebut adalah seorang santri kelana. Ia pernah nyantri di Pesantren Cibeuti, Cilendek, Ciharashas, Bantar Gedang, Keresek, Sayuran, Sadang, Sagaranten, dan Sirnasari.  

HMI Tegal Kab

Yeris Supriatna, pria yang pernah nyantri di Baitulhikmah selama 4 tahun, memberikan kesaksian tentang Ajengan Saef melalui surat elektronik. Ajengan tersebut dikenal sangat ahli ilmu gramatika bahasa Arab, yaitu nahwu dan sharaf. “Yang sangat digemari beliau adalah kitab Alfiyah ibnu Malik,” katanya.

Yeris menambahkan, ada 6 wasiyat KH Saepudin Zuhri kepada santri-santrinya, yang pertama, wajib mempertahankan aqidah, syariah, akhlak Ahlussunah wal Jamaah. Kedua, wajib shalat berjamaah awal waktu di masjid. Ketiga, ulah eureun ngaji (jangan berhenti mengaji, red).

HMI Tegal Kab

Keempat, anak, incu (cucu) wajib dipasantrenkeun, kelima kudu jadi NU (harus menjadi NU). Keenam Hate ulah nyantel kana dunya, sing nyantel ka akherat (hati jangan tertaut pada urusan duniawi, tapi kepada urusan akhirat). 

Salah seorang aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tasikmalaya Eris Zamzam Noor berpendapat, Ajengan Saef sangat menjaga tradisi NU, menghormati NU, “Sampe pengajian santri diliburkan kalo ada acara NU,” katanya yang bertemu terakhir dengan almarhum di Masjid Agung Tasikmalaya, pada Senin (26/8) pada acara Halal Bihalal Kemenag Tasikmalaya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Humor Islam, Nahdlatul, Tegal HMI Tegal Kab

Rabu, 01 November 2017

Hukum Mewakilkan Penyembelihan Kepada Panitia Kurban

Sebagaimana diketahui, kurban pada saat ini sudah diatur dengan baik: mulai dari proses pencarian peserta kurban, pembelian hewan kurban, penyembelihan, dan distribusi daging kurban. Di kebanyakan daerah, pengurus masjid biasanya menjadi pihak yang bertanggung jawab untuk mewujudkan ini.

Model kepanitiaan seperti ini tentu sangat bermanfaat dan berguna. Terutama untuk pendistribusian daging kurban. Pasalnya bila dikelola secara personal, pendistribusiannya mungkin tidak merata dan tidak tepat sasaran.

Hukum Mewakilkan Penyembelihan Kepada Panitia Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Mewakilkan Penyembelihan Kepada Panitia Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Mewakilkan Penyembelihan Kepada Panitia Kurban

Namun bagaimana hukumnya bila penyembelihan hewan kurban tersebut diserahkan semuanya kepada panitia? Bukankah peserta kurban itu sendiri lebih utama untuk menyembelihnya? Anas bin Malik mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Artinya, "Nabi SAW menyembelih sendiri dua ekor domba yang berwarna putih campur hitam dan bertanduk.”

Berdasarkan hadis ini, para ulama menyimpulkan bahwa penyembelihan hewan kurban seyogianya dilakukan sendiri oleh orang yang berkurban. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ini sekaligus merupakan sifat tawaddu’ dan kerendahan hati Rasulullah SAW. Penyembelihan ini perlu dilakukan sendiri karena kurban termasuk bagian dari ibadah. Sangat diutamakan dalam beribadah dilaksanakan oleh orang yang bersangkutan dan tidak mewakilkannya kepada orang lain.

Al-Qasthalani dalam Irsyadus Sari mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ini menjadi dalil disyariatkan penyembelihan kurban dengan tangan sendiri, dengan syarat dia pandai menyembelihnya. Sebab kurban merupakan ibadah dan ibadah lebih utama dilakukan oleh pihak yang bersangkutan.”

Meskipun penyembelihan sendiri lebih diutamakan, hal ini bukan berarti jika diwakilkan kepada orang lain tidak diperbolehkan. Faktanya, memang tidak semua orang mampu menyembelih hewan kurban. Bagi yang tidak pandai menyembelih, mewakilkan kepada orang lain tentu lebih maslahat. Sebab jika ia memaksakan dirinya, padahal dia tidak pandai, ini akan berdampak buruk dan menyiksa hewan kurban.

Badruddin Al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ulama menyepakati kebolehan mewakilkan penyembelihan kurban dan tidak ada keharusan menyembelihnya sendiri. Akan tetapi, ada satu riwayat dari madzhab Malik yang menyatakan tidak sah bila ia mampu menyembelihnya, sementara menurut kebanyakan pendapat madzhab Malik hukumnya makruh. Disunahkan bagi orang yang mewakilkan penyembelihan hewan kepada orang lain untuk menyaksikan prosesnya dan dihukumi makruh bila diwakilkan kepada wanita haidh, anak kecil, dan ahli kitab.”

Zakariya al-Anshari dalam Fathul Wahab berpendapat:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Disunahkan menyembelih hewan kurban sendiri bila ia pandai? menyembelihnya dan dianjurkan pula menyaksikan proses penyembelihannya bila diwakilkan, sebagaimana terdapat di riwayat Syaikhani (Bukhari-Muslim). Rasul berkata kepada Fatimah, ‘Pergilah untuk melihat penyembelihan hewan kurbanmu, karena pada tetes darah pertama akan diampuni dosamu yang telah berlalu’. Hadis ini diriwayatkan Hakim dan sanadnya shahih.”

Berdasarkan pemaparan di atas, penyembelihan hewan kurban lebih baik dilakukan sendiri, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ini dianjurkan selama orang yang berkurban pandai dan mampu menyembelihnya sendiri. Apabila tidak mampu, diperbolehkan mewakilkannya kepada orang lain atau panitia kurban yang diamanahkan. Meskipun demikian, tetap disunahkan untuk melihat prosesnya dan mengikutinya hingga selesai.

Panitia kurban dalam hal ini misalnya pengurus masjid juga dituntut bijak untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang berkurban untuk menyembelih sendiri kurbannya. Sementara distribusinya menjadi tanggung jawab panitia. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pesantren, Humor Islam HMI Tegal Kab

Resmi Dibuka, SMK NU Jogoroto Terima 30 Murid

Jombang, HMI Tegal Kab. Sekolah Menengah Kejuruan Nahdlatul Ulama (SMKNU) di Desa Ngumpul Kecamatan Jogoroto, Sabtu (4/7) resmi dibuka dan menerima siswa baru. Sekolah di bawah naungan LP Maarif PCNU Jombang ini langsung menerima sebanyak 30 siswa untuk tahun ajaran baru 2015 ini.

"Insya Allah yang sudah daftar ada 30 anak, jadi sudah bisa berjalan melakukan proses belajar mengajar," ujar Sekretaris PCNU Jombang Muslimin di sela sela pembukaan dan peresmian SMKNU yang dilakukan Bupati Jombang, Nyono Suharli, dan dihadiri Wagub Jatim Saifullah Yusuf.

Resmi Dibuka, SMK NU Jogoroto Terima 30 Murid (Sumber Gambar : Nu Online)
Resmi Dibuka, SMK NU Jogoroto Terima 30 Murid (Sumber Gambar : Nu Online)

Resmi Dibuka, SMK NU Jogoroto Terima 30 Murid

Sebelumnya, dikatakan Muslimin, pihak sekolah hampir tidak dapat membuka dan memulai menerima pendaftaran pada tahun ini. Karena ada beberapa pihak yang tidak ingin sekolah ini membuka ajaran baru pada tahun 2015 ini." Tapi setelah kita komunikasikan, akhirnya bisa, alhamdulillah," imbuhnya.

HMI Tegal Kab

Peresmian SMK NU ini dilakukan langsung oleh Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko dan juga Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau Gus Ipul disaksikan Ketua PCNU jombang Dr KH Isrofil Amar kepala Dinas Pendidikan Muntholib dan sejumlah banom NU.

"Dengan bacaan Bismillahirrahmanirrahim, SMK NU pertama di Jombang ini saya nyatakan didirikan dan dibuka," kata Bupati Nyono menyampaikan.

HMI Tegal Kab

Dikatakan Nyono, pihaknya siap membantu untuk pembangunan SMK milik NU ini, dengan harapan ikut membantu mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

"Saya siap membantu, soal sharing anggaran dengan pemerintah propinsi. Untuk besarannya kita manut saja. Saat ini luas lahan untuk sekolah itu kurang, bisa ditambah lagi. Kita siap membantu," tandasnya mengatakan.

Dalam kesempatan itu, juga di lantik pengurus SMK NU dilakukan langsung oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang Dr KH Isrofil Amar. "Alhamdulillah, meski sibuk persiapan muktamar ke-33, namun kami tetap bisa mendirikan SMK NU. Semoga berdirinya sekolah ini membawa manfaat," ujar KH Isrofil seraya berpesan, agar lembaga pendidikan tersebut dikelola dengan baik, sehingga bisa mencerdaskan umat. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Bahtsul Masail, Humor Islam, Pahlawan HMI Tegal Kab

Jumat, 27 Oktober 2017

12 Jam Bersama Ketua NU Magelang

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun



Orang itu sudah aku kenal sebelumnya. Sore itu, aku kembali bertemu dengannya di Sekretariat Panitia Pengkaderan NU dan Banom di Sutoragan, Kemiri, Purworejo. Namanya Pak Mahsun. Lengkapnya adalah Dr Kiai Mahsun SAg MAg. Kami pun kemudian berdiskusi seputar NU dan problematika Indonesia. Selain sebagai dosen dan ketua tanfidziyah PCNU Kabupaten Magelang, kini ia juga dipercaya masyarakat memimpin pesantren serta ceramah kemana-mana.

12 Jam Bersama Ketua NU Magelang (Sumber Gambar : Nu Online)
12 Jam Bersama Ketua NU Magelang (Sumber Gambar : Nu Online)

12 Jam Bersama Ketua NU Magelang

Sampai malam, usai mengisi materi, kami diskusi hangat dengan ditemani tempe goreng, arem-arem, kopi dan rokok. Progres dan problem ke-NU-an menjadi bahasan pertama kami. Lalu dengan panjang lebar kami diskusi soal kepemimpinan nasional dan masa transisi Orde Baru menuju Reformasi. Setelah itu, ideologi komunis dan pengadilan “abal-abal” internasional di Belanda yang membela PKI atas kedok HAM di negeri yang dulu menjajah itu, menjadi topik hangat kami, sampai pukul 11.00 malam. Sampai di situ, aku mengeluh belum mendapatkan buku Benturan NU-PKI 1948-1965, terbitan sekaligus sikap resmi PBNU atas peristiwa berdarah yang mengerikan itu.

HMI Tegal Kab

“Aku punya buku itu,” ungkapnya. “Berapa, Pak?”, sahutku. “Dua”, jawabnya. “Satu buat saya, Pak!”. “Boleh, asalkan kamu main ke rumah, nanti jam 23.30 saya pulang, ikutlah sekalian.” “Siap, Pak”jawabku dengan semangat.

Mobil meluncur dengan cepat, menembus kegelapan malam, menuju kota Magelang. Sampai di kediamannya, aku langsung dikasih buku itu. Kubaca selembar demi selembar, sampai kumandang adzan memecah kesunyian. Usai shalat berjamaah kembali kubaca, di sudut rumah samping pesantren yang baru akan di cor itu, sampai matahari tergelincir menghapus embun-embun dalam ujung daun-daun.

Usai shalat Subuh, Pak Mahsun membacakan Tafsir Shawy di beranda masjid kepada jamaahnya. Kemudian ia pindah ke ruang tamu rumahnya, membacakan kitab untuk santri-santrinya. Sambil membaca buku itu, sayup-sayup kudengar pengajian di pagi itu. Pak Mahsun membacakan pengakuan Imam Besar Ahmad Bin Hanbal (Imam Hambali): bahwa ia bisa seperti itu karena setiap kali menerima ilmu baru selalu mengucapkan Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah. Kemudian, Pak Mahsun mengajak santri-santrinya untuk meniru apa yang dialami oleh salah satu Imam Madzhab yang dianut NU itu. Para santri mencatat dan menyimak dengan seksama, sampai selesai.

HMI Tegal Kab

Kemudian, ia memberi pengumuman: “Besok Ahad kita akan ada pengecoran. Jadi, tolong kabarkan kepada bapak-bapak kalian, yang bisa membantu agar membantu proses pengecoran. Yang kerja atau tidak bisa, tidak usah ikut tidak apa-apa.” Kemudian pertemuan diakhiri.

“Ayo, minum dan sarapan dulu, nanti langsung ke kantor PCNU, ada Pengajian Rutin Ahad Pagi,” ucap Pak Mahsun kepadaku. “Siap, Pak” sahutku, yang masih membaca buku putih Benturan NU-PKI itu. Pagi itu, aku sudah membaca hampir setengah dari tebal buku. Kami pun, minum dan makan sambil bercengkerama.

Perjalanan dimulai, menuju kantor NU Magelang. Sepanjang perjalanan, kami tak henti ngobrol berbagai hal, soal ilmu dan kehidupan.

Di depan kantor yang cukup megah bercat hijau itu, para Banser sudah sibuk mengatur lalu-lintas menyeberangkan para jamaah pengajian yang lalu lalang dijalan. Kami turun dari mobil. Kuantarkan Pak Mahsun memasuki Aula, lalu aku pergi untuk menyendiri ke lantai dua. Terdengar, gemuruh shalawat menggema menyambut Pak Mahsun. Kehadirannya begitu ditunggu oleh jamaahnya, warga Nahdliyyin yang menyambut pemimpinnya.

Ketika aku menyendiri itu, seorang Banser tua yang tadi bertugas di depan, menyambangiku: duduk di dekatku yang tengah larut dalam buku. Kemudian kami berkenalan dan terlibat dalam obrolan panjang. Ia mengaku sudah 30 tahun lebih menjadi Banser, dan masih aktif sampai hari ini, disaat kebanyakan temannya sudah pensiun dimakan usia atau meninggal dunia. Selain aktiv di Banser, ia adalah pensiunan perangkat desa: seorang kadus. Ia mengaku, menjadi Banser adalah kebanggaan, passion dan panggilan hati. Ia merasa ada sesuatu yang menenteramkan saat memakai seragam Banser: mengamankan pengajian orang NU, khususnya para kiai penerus risalah Kanjeng Nabi.

Ia juga bercerita pengalamannya dalam ambil bagian menjadi Pasukan Berani Mati ketika dulu almarhum KH Abdurrahman Wahid akan dilengserkan dari kursi Presiden oleh Amin Rais.

"Sebelumnya kami dilatih, digembleng dan di isi. Lalu, dengan bus kami diberangkatkan ke Jakarta. Kebanyakan, waktu itu adalah banser dari Kedu khususnya Magelang dan dari Kediri"ungkapnya sambil menerawang jauh kebelakang.

"Bagaimana perasaan njenengan, Pak? Apa benar-benar siap perang dan mati?"sahutku, yang salut dengan keberanian dan pertaruhan itu.

"Kami saman wa thoatan, siap sedia untuk NU dan para kiai, Mas. Apalagi waktu itu, suasana politik benar-benar panas, kami sudah siap dengan segala kemungkinan dan resiko. Rencanya, operasi akan dilakukan jam dua pagi sampai empat pagi: hanya dua jam dan bersih, setelah itu kami pergi. Kami sudah punya daftar siapa saja yang perlu "diamankan" dan ditindaklanjuti di dinihari itu. Namun, ketika kami sudah berkobar hatinya, siap perang, siap mati, Gus Dur menelfon Mbah Wongso yang saat itu menjadi Koordinator Pasukan Berani Mati. Sedikitnya, 3000 pasukan Banser di malam itu juga sedang bergerak di pantai utara dari Jawa Timur, menuju Jakarta. Dalam telfon, Gus Dur berbicara langsung kepada Mbah Wongso:

"Sudah, Mbah, jangan teruskan. Jangan sampai ada setetes darah pun terjatuh membasahi bumi pertiwi ini karena perang saudara. Di dunia ini tak ada jabatan yang layak diperjuangkan secara mati-matian"

Koordinator Banser yang gagah berani itu, seketika lemas, tak berdaya. Ia menangis. Yah, air matanya bercucuran dengan deras membasahi bajunya. Ia terharu, betapa luasnya hati seorang Gus Dur, melebihi luas samudera. Dikala pasukan dan pembelanya siap membela mati-matian untuknya, beliau malah mengalah, menghindari pertumpahan darah. Gus Dur pun keluar dari istana tidak dengan jas kebesaran, namun celana pendek dan kaos oblong; sebuah "penghinaan" atau peremehan Gus Dur atas kekuasaan. Juga, agar rivalnya menertawakannya, dingin hatinya, tidak marah dengan senyum sinis melihatnya keluar dari Istana.

Kemudian perbincangan terhenti, seiring dengan selesainya Pengajian Rutin Ahad Pagi di kantor PCNU Magelang yang ada di Jalan Magelang-Jogja itu. Sang Banser keluar, aku mengikuti dibelakangnya.

Jamaah yang rata-rata ibu-ibu itu, bagai lebah yang keluar dari sarangnya. Beberapa angkot telah menunggu diluar, menjaring kesempatan rizki tiba. Di depan jalan, kulihat seorang nenek kurus dengan dagangan di tas besarnya, berlari kedalam Aula. Setelah kuperhatikan, ternyata ia memasukkan uang ke kotak infaq. Tak lama berselang, ia kembali dan melayani para pembeli, yang semuanya para jamaah pengajian tadi. Kuperhatikan lagi, ternyata yang dijual oleh nenek dengan rok jarit batik dan baju Jawa serta kerudung lusuh itu, adalah remukan atau rontokan gorengan. Remukan gorengan itu dibungkus dalam plastik putih ukuran sedang. Meski “hanya” remukan yang ia dagangkan, usai pengajian para jamaah terlihat menyerbu. Mungkin sudah menjadi pelanggannya. Mungkin juga berkah berlipat atas uang infaq-sedekahnya.

Aku menjemput Pak Mahsun. Kamipun pergi menuju jalan raya, bersama dengan ribuan kendaraan-kendaraan yang meraung raung lainnya, ditengah panasnya kota.

"Tadi sebenarnya mau udahan ngajiannya. Namun, saya lihat ada ibu-ibu baru datang menjajakan jualannya. Ibu itu muter dan belum selesai. Saya teruskan saja pengajiannya, sambil menunggu ibu muda itu menawarkan dagangan dengan senyap kepada jamaah ditengah pengajian" Pak Mahsun membuka, sekaligus mengajariku salahsatu cara membantu sesama.

"Kita tidak langsung pulang dulu. Saya tadi diminta mampir di kediaman KH Nawawi, ia koordinator Pengajian Rutin Ahad Pagi ini", lanjutnya. "Siap, Pak" jawabku.

Kemudian kami sampai di kediaman KH Nawawi. Di depan rumahnya tertulis sebuah spanduk: “Pengajian Ahad Pagi Persaudaraan Jamaah Haji Srumbung Magelang”. Kami disilakan masuk. Aneka makanan dan minuman telah berderet manis di sana. Aku sungkem dengan kiai tua itu. Kemudian ia menyuruh kami makan, sebelum para jamaah haji yang berkumpul itu makan. “Kebetulan sekali, perutku sudah mulai keroncongan” gumamku dalam hati. Tanpa basa-basi, aku mengikuti langkah Pak Mahsun, menuju jamuan itu. Gurameh-gurameh besar tersaji, dengan aneka sayur, pecel dan tentunya nasi.

KH Nawawi memberikanku bungkusan plastik hitam berisi aneka makanan khas pribumi Jawa: peyek, klepon, agar-agar dan jajanan pasar. Sementara menunggu Pak Mahsun selesai ceramah, kubawa bungkusan itu ke mobil, sekalian ngadem di AC sambil menikmati lagu Iwan Fals.

Pengajian usai. Kami bergerak pulang. Aku hendak pamitan, untuk melanjutkan perjalanan menuju Tegal, mengisi Lakut, sebuah pengkaderan tingkat akhir di IPNU-IPPNU. Namun, Ibu dr Ma’shumah, istri Pak Mahsun, mencegahku dan mengajak untuk pergi bersama ke pusat buah durian. Aku tak kuasa dan tak dapat menyia-nyiakan kesempatan.

Bersama keluarga Pak Mahsun, aku pergi ke sebuah desa di Lereng Gunung Merapi. Di dalam sebuah rumah sedrhana itu, berjejer durian yang siap untuk dinikmati. Sang tuan rumah dengan penuh kejutan datang dari dalam, membawa lima durian sebesar helm SNI. Kami menikmatinya, memakan hasil bumi yang kemungkinan besar ditanam oleh orang tua penjualnya.

Usai pesta kecil-kecilan itu, kami pun pulang, membawa dua kardus durian. Dua kardus itu adalah hadiah yang disediakan oleh Ibu dr Ma’shumah untuk menjamu para teman lamanya semasa SMA, yang akan reunian di rumahnya. Sampai di Terminal Magelang, aku pamit turun untuk melanjutkan perjalanan, dengan tidak lupa mengucap terima kasih kepada kiai pakar ushul fiqh yang begitu baik, cerdas dan penuh perhatian itu. Akupun melanjutkan perjalanan, sambil meneteng buku yang bisa membenarkan kesalahpahaman orang dan bahkan kader muda NU sendiri, yang agak dan sok ke kiri-kirian itu.

Kantor PCNU Kabupaten Tegal, 02 Februari 2016

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Bahtsul Masail, Humor Islam, IMNU HMI Tegal Kab

Kamis, 05 Oktober 2017

Ida Fauziyah Harapkan Kongres Fatayat Demokratis

Surabaya, HMI Tegal Kab

Ketua Umum PP Fatayat NU Dra Hj Ida Fauziyah berharap, Kongres XV Fatayat Nahdlatul Ulama berlangsung demokratis. Artinya, meski dimungkinkan pemungutan suara untuk memilih ketua umum yang baru, seluruh keputusan sebaiknya diambil secara musyawarah.

“Kalau tidak bisa mufakat atau aklamasi, baru ditempuh voting. Biasa aja itu,” ujar Ida Fauziyah kepada HMI Tegal Kab usai seminar di arena kongres Fatayat yang digelar di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Sabtu (19/9) malam.

Perempuan kelahiran Mojokerto, 16 Juli 1969, ini berharap proses regerenasinya berlangsung smooth. “Saya ingin kongres berlangsung lancar. Tapi tetap dinamis,” harapnya.

Ida Fauziyah Harapkan Kongres Fatayat Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Ida Fauziyah Harapkan Kongres Fatayat Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Ida Fauziyah Harapkan Kongres Fatayat Demokratis

Terkait kaderisasi, secara khusus Ida Fauziyah berpesan untuk generasi muda NU. IPPNU, misalnya, harus menjadi bagian dari kaderisasi di lingkungan NU. “Proses internalisasi ideologi Aswaja kan dimulai dari IPPNU. Kemudian, Fatayat itu pengembangannya. Lalu diteruskan lagi di Muslimat,” paparnya.

Menurut Ida, sejak remaja, anak muda NU sudah masuk di IPPNU. Setelah masuk usia produktif, 20-25 tahun, ia lalu masuk Fatayat. Setelah selesai dari Fatayat pada usia maksimal 40 tahun, lalu aktif di Muslimat. Jika rute ini dilewati para kader, NU akan memiliki kader handal.

HMI Tegal Kab

“Saya yakin, jika ini ditempuh Insya Allah kita akan memiliki? kader yang militan dan tangguh. Sebab, internalisasi ideologinya cukup kuat,” tandasnya.

Bagi dia, yang terpenting adalah menjaga koordinasi dan sistematisasi kaderisasi antarbanom di lingkungan NU. “Mereka yang di IPPNU, setelah selesai lalu lanjut ke Fatayat. Tidak berhenti di situ, lalu terus ke Muslimat,” harapnya.

Untuk menjembatani pengkaderan, Ida mengaku pada kepengurusan Fatayat yang dipimpinnya sudah melibatkan pengurus IPPNU. Hal itu ia lakukan demi menjaga kesinambungan kaderisasi.

“Ketua Umum IPPNU waktu itu bahkan sudah saya libatkan dan saya rekrut di Fatayat. Tentu tidak di posisi pengurus harian, tapi masuk dalam struktur pengurus pusat. Ini agar terjadi kesinambungan,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Humor Islam, Internasional HMI Tegal Kab

Selasa, 26 September 2017

Semarak Seni Tradisi dalam 50 Tahun LESBUMI

Jogjakarta, HMI Tegal Kab. Siang yang terik tidak menghalangi orang-orang Dusun Klenggotan Bantul untuk berkumpul di Pesantren Kaliopak, Bantul Rabu (2/5). Tua, muda, dan anak-anak sibuk sendiri-sendiri, bermain, ngobrol, membeli jajanan dan sebagainya.



Semarak Seni Tradisi dalam 50 Tahun LESBUMI (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Seni Tradisi dalam 50 Tahun LESBUMI (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Seni Tradisi dalam 50 Tahun LESBUMI

Namun, keramaian itu mendadak terhenti, ketika seorang perempuan paruh baya menembangkan lagu-lagu Jawa. Alunan musik gamelan mengiringinya. Makin lama makin rancak terdengar. Lagu-lagu Jawa tersebut menjadi penanda acara tasakuran 50 Tahun Lesbumi yang dilesenggarakan Pengurus Wilayah Lesbumi Jogjakarta.

Tak lama para pasukan berkuda masuk ke tengah-tengah arena. Dengan formasi lengkap, seni Jathilan bergerak, menari, mengikuti musik dengan gerakan harmonis. Geraka kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu memancing hadirin untuk tepuk tangan. Suasana ramau, meriah, dan guyub.

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Tapi sesaat setelah itu, penontot sontak, tergaket-kaget, padangan mereka tertuju salah seroang penonton. “Wonten sing kerasukan, (ada yang kerasukan, red.),” kata salah seorang penonton.

Semua orang penonton berhamburan menjauhi yang kerasukan, tapi seorang anggota Jathilan langsung mendekat memberi pertolongan. Tidak lama setelah itu, penonton yang diketahui bernama Aris kembali tersadar. 

Jathilan adalah salah satu dari seni budaya yang menjadi tradisi di Jawa. Tiap kali akan mengadakan acara, orang Jawa dahulu pada umumnya akan menanggap Jathilan sebagai hiburan. Kini, Ditengah derasnya arus globalisme yang kian mengikis seni tradisi nusantara, kesenian Jathilan mulai tersisihkan. 

Acara yang mengetengahkan tema “Menggali Kearifan Hidup Berbangsa dalam Khazanah Seni Nusantara” ini, selain Jathilan, juga menampilakan Tari Saman Jolosutro, Emprak, Ibu-ibu PKK, Pentas Musik Ki Ageng Ganjur pimpin Sastro Ngatawi serta pidato kebudayaan Budaya oleh Agus Sunyoto.Malam harinya, halaman Pesantren Kaliopak juga dipenuhi oleh masyarakat sekitar, mahasiswa dan pemerhati budaya. Mereka sengaja datang untuk menyaksikan satu-satunya seni Saman asli Yogyakarta. 

Menurut M. Jadul Maula, Pengasuh Pesantren Kaliopak, “Tari Saman adalah seni yang sangat tua. Meski selama ini tari Saman diindentikkan dengan Aceh, tapi ternyata sejak abad ke-XVI sudah ada di Yogyakarta. Tentu ada ciri-ciri yang sama, tapi tentu juga banyak variasi-variasi lokal yang berbeda.”

Setelah Tari Saman, ibu-ibu pemenang Lomba Kartini Rukun Tetangga setempat turut menunjukkan kebolehan menampilkan paduan suara. Kemudian tampil grup musik Ki Ageng Ganjur berkolaborasi dengan Seni Emprak yang merupakan asuhan Pesantren Kaliopak.

“Acara ini sangat bagus untuk generasi bangsa, biar mereka sadar bahwa bangsa ini mempunyai identitas. Seni merupakan media yang bagus untuk kita pertahankan,” komentar Muhyidin, mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga. 

Sementara itu, Agus Sunyoto dalam pidatonya menegaskan bahwa seni tradisi nusantara penting untuk dipertahankan, karena di dalamnya terkandung ajaran-ajaran atau nilai-nilai yang dapat membentuk karakter dan jati diri bangsa. “Hilangnya jati diri bangsa bukan tidak mungkin dalam era globalisasi ini. Sebab saat ini, gejala-gejala ancaman globalisasi sudah tampak. Kita tak lagi menjadi subyek, melainkan telah terjajah untuk selalu menjadi obyek,” jelas Sunyoto.

Menurutnya, sebagai salah satu tulang punggung khittah Nahdatul Ulama, Lesbumi memiliki arti tersendiri bagi NU. 

“Salah satu makna keberadaan Lesbumi di dalam NU adalah meneguhkan kecintaan NU pada tanah air dengan cara memelihara dan mengembangkan budaya bangsa dalam keragaman bentuknya,” terangnya.

Bulan Budaya

Tasyakuran 50 tahun Lesbumi tersebut juga menjadiacara pembukaan bulan budaya yang diselenggarakan Lesbumi Jogjakarta. 

Ketua Lesbumi Jogjakarta M. Jadul Maula menjelaskan bulan budaya akan diisi Lomba Cipta Film, Penulisan Esai, Pekan Film dan Launching Bioskop Lesbumi yang akan diadakan pada 20-24 Mei 2012 di Ngeban Resto, Pagelaran Seni Nusantara yang akan dilaksanakan pada 1-3 Juni 2012 di Pesantren Kaliopak. 

“Semua rangkaian Harlah 50 Tahun Lesbumi akan ditutup dengan acara Lesbumi Award yang insya allah akan dilaksanakan 29 Juni 2012 di Gedung PBNU,”kata Jadul. 

 

Kontributor: Khanif Rosidin dan Windha Larasati

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, Humor Islam, Daerah HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock