Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Hukum Jual Kotoran Hewan

Assalamu alaikum wr. wb.

Saya ingin bertanya, apa hukumnya menjual kotoran hewan seperti kotoran ayam, kambing, lembu. Kalau boleh mohon dijelaskan dan kalau tak boleh juga dijelaskan. Trims Pak Ustad. (Ahmad Zuhri, Tulung Agung)

Wa’alaikumsalam wa rahmatullah.

Hukum Jual Kotoran Hewan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Jual Kotoran Hewan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Jual Kotoran Hewan

Saudara Zuhri yang dimuliakan Allah.

Guna memenuhi kebutuhan hidup, banyak diantara kita yang menjalankan profesi dan bergerak di sektor perdagangan yang meniscakan adanya berbagai barang (komoditas) yang diperjualbelikan.?

Dalam pandangan ulama madzhab Syafi’i, barang yang diperjual belikan harus memenuhi persyaratan diantaranya adalah barang tersebut harus suci dan bermanfaat. Mengingat kotoran ayam, kambing dan lembu dalam madzhab Syafi’i dihukumi najis oleh sebagian ulama, maka jual beli barang-barang tersebut dinyatakan tidak sah.

HMI Tegal Kab

Namun ulama syafiiyah atau pengikut madzhab Syafii memberikan tawaran solusi begini: Barang-barang ini dapat dimiliki dengan cara akad serah terima barang yang ditukar dengan barang lain tanpa transaksi jual beli.

Sebenarnya ada pandangan ulama madzhab Hanafi yang membolehkan proses jual beli kotoran-kotoran hewan tersebut, karena ada unsur manfaat di dalamnya. Adapun dasar pengambilan hukum yang kami gunakan adalah:

HMI Tegal Kab

Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dan ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan syarat ini (barang yang dijualbelikan harus suci, bukan najis dan terkena najis). Maka mereka memperbolehkan jualbeli barang-barang najis, seperti bulu babi dan kulit bangkai karena bisa dimanfaatkan. Kecuali barang yang terdapat larangan memperjual-belikannya, seperti minuman keras, (daging) babi, bangkai dan darah, sebagaimana mereka juga memperbolehkan jualbeli binatang buas dan najis yang bisa dimanfaatkan untuk dimakan.Dan parameternya menurut mereka (ulama Hanafiyah) adalah, semua yang mengandung manfaat yang halal menurut syara.’, maka boleh menjual-belikannya. Sebab, semua makhluk yang ada itu memang diciptakan untuk kemanfaatan manusia.

Demikian jawaban yang bisa kami sampaikan. Mudah-mudahan dengan jawaban ini, kita lebih bijak dalam menjalani aktifitas hidup sehari-hari. (Maftuhan Tafdhil)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Amalan HMI Tegal Kab

Selasa, 06 Februari 2018

Hukum Baca Doa Tasyahud Sebelum Salam

Tasyahud akhir termasuk bagian dari rukun shalat. Kalau tasyahud akhir tidak dikerjakan shalatnya tidak sah dan harus diulang. Hal ini berbeda dengan tasyahud awal, menurut sebagian ulama tasyahud awal tidak wajib, namun bagian dari sunah ab‘ad yang sangat dianjurkan sujud sahwi bila lupa mengerjakannya.

Pada saat tasyahud akhir diharuskan membaca tahiyat akhir dan bershalawat kepada Nabi setelahnya. Kemudian dianjurkan membaca doa setelah baca tahiyat akhir dan shalawat, bahkan makruh meninggalkannya. Syekh Zainuddin Al-Malibari menjelaskan dalam Fathul Muin:

Hukum Baca Doa Tasyahud Sebelum Salam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Baca Doa Tasyahud Sebelum Salam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Baca Doa Tasyahud Sebelum Salam

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

HMI Tegal Kab

Artinya, “Disunahkan pada tasyahud akhir berdoa setelah membaca doa tahiyat akhir seluruhnya. Sementara pada tasyahud awal makruh berdoa (setelah selesai baca doa tahiyat) karena tujuannya untuk meringankan (mempercepat), kecuali kalau imam belum selesai tasyahud awal. Dalam kondisi itu dibolehkan berdoa,” (Lihat Syekh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in, Jakarta, Darul Kutub Islamiyyah, 2009 M, halaman 47).

Disunahkan membaca doa tertentu setelah selesai membaca tahiyat akhir dan shalawat yang termasuk dalam rukun qauli. Membaca doa itu tidak disunahkan pada tasyahud awal, bahkan makruh. Karena tasyahud awal dianjurkan untuk mempercepat. Namun perlu diketahui, membaca doa tidak makruh pada tasyahud awal bila imam belum selesai tasyahud awal.

HMI Tegal Kab

Menurut Syekh Zainuddin Al-Malibari, doa yang paling utama dibaca ketika itu adalah doa yang ma’tsur dari Nabi SAW. Di antara doa yang ma’tsur tersebut adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allâhumma innî a’ûdzubika min adzâbil qabri wa min ‘adzâbin nar, wa min fitnatil mahyâ wal mamât wa min fitnatil masîhid Dajjâl.

Artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan kubur, siksa api neraka, fitnah kehidupan dan kematian, serta berlindung dari fitnah dajjal”

Selain doa di atas, dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan redaksi doa yang lain, yaitu:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allâhumma innî zhalamtu nafsî zhulman katsîran kabîran wa lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta, faghfir lî maghfiratan min ‘indika, warhamnî innaka antal ghafûrur rahîm.

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, tidak ada yang mengampuni dosa selain engkau. Ampunilah aku dengan ampunan di sisi-Mu dan kasihilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Itulah beberapa doa yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim yang bisa dibaca setelah membaca doa tahiyat akhir. Doa ini sangat disunahkan, bahkan menurut Syekh Zainuddin Al-Malibari, makruh meninggalkan doa setelah membaca tahiyat akhir. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Amalan HMI Tegal Kab

Jumat, 05 Januari 2018

Sejumlah Tokoh Bakal Ramaikan Peringatan Hari Toleransi di Klaten

Klaten, HMI Tegal Kab - Peringatan Hari Toleransi Internasional di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, bakal menghadirkan beberapa tokoh nasional. Menurut salah satu perwakilan panitia, Marzuki, acara yang digagas Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB Kebersamaan) Klaten ini, akan dihelat mulai Sabtu (12/11).

“Acara pembuka yakni apel dan karnaval Antar-Iman, dari Alun-alun menuju Monumen Joeang Klaten,” terang Marzuki, yang juga Ketua PC GP Ansor Klaten, Ahad (13/11).

Sejumlah Tokoh Bakal Ramaikan Peringatan Hari Toleransi di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Tokoh Bakal Ramaikan Peringatan Hari Toleransi di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Tokoh Bakal Ramaikan Peringatan Hari Toleransi di Klaten

Lebih lanjut dipaparkan Marzuki, kegiatan akan berlangsung selama lima hari, yakni pada tanggal 12-16 November. “Acara utamanya adalah pertemuan luas (nasional) para penggerak aktivitas dan karya lintas iman dan budaya se-Indonesia. Mereka akan mempresentasikan, berefleksi dan sharing atas peran yang digelutinya selama ini,” papar dia.

HMI Tegal Kab

Adapun tokoh yang rencananya akan hadir, antara lain KH Imam Aziz (PBNU), Alissa Wahid (Gusdurian), Romo Beny S (Katolik, aktivis perdamaian), Muhammad Al-Fayyadl (Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam, Probolinggo), Dr Pradjarta (Yayasan Percik, Salatiga), Bikhu Panyavaro (Rohaniawan, Aktivis Lingkungan Hidup, Purwokerto), dan lain sebagainya.

Pada kesempatan tersebut, para peserta juga akan diajak untuk mengunjungi "Desa Muktikultur" di Klaten yang memiliki kekayaan budaya dan keragaman agama yang dapat bersinergi, hidup damai berdampingan dengan penuh keramahan dan keberdayaan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Ubudiyah, Nusantara, Amalan HMI Tegal Kab

Jumat, 29 Desember 2017

Sikapi Aksi 4 November, PWNU Jabar Imbau Nahdlyin Baca "Qunut Nazilah"

Bandung, HMI Tegal Kab. Ketua Tanfidiziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, KH Hasan Nuri Hidayatullah imbau warga Nahdlyin untuk membaca "Qunut Nazilah" selepas shalat dalam menyikapi aksi 4 November yang dilakukan berbagai kelompok Muslim di Indonesia.

Sikapi Aksi 4 November, PWNU Jabar Imbau Nahdlyin Baca Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikapi Aksi 4 November, PWNU Jabar Imbau Nahdlyin Baca Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sikapi Aksi 4 November, PWNU Jabar Imbau Nahdlyin Baca "Qunut Nazilah"

Baik perorangan maupun berjamaah, Ketua PWNU yang terpilih dari Konferwil NU Jabar di Garut beberapa waktu lalu itu bisa dilaksanakan di tempat masing-masing.

"Kita warga NU Jabar harus patuh pada maklumat resmi PBNU. Soal aksi 4 November kita demonya kepada Allah SWT saja. Membaca Qunut Nazilah, memohon kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia khususnya umat Islam diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan kecil maupun besar, sekaligus mendoakan agar Negara Republik ? Indonesia menjadi negara yang diridlai Allah SWT serta terjaga persatuan dan kesatuan Bangsanya," kata KH Hasan Nuri, Kamis (3/11/2016).

Menurut Kiai Muda Kelahiran 1978 Banyuwangi Jawa Timur yang "mukim" Karawang Jawa Barat ini perlu sikap bijak dan arif dari para pendukung maupun yang tidak ikut dalam aksi. Sebagai Umat Islam yang berada di negara yang berpegang teguh pada asas persamaan di depan hukum, tentu berharap penyelesaian hukum yang melilit Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) berlaku secara proposional dan profesional, tidak terintervensi oleh kepentingan politik siapapun.

HMI Tegal Kab

"Aparat hukum harus menunjukkan kapasitasnya sebagai pengayom dan pelindung ? masyarakat, tidak hanya sekedar tajam ke bawah tumpul ke atas. Pasalnya aksi tersebut sudah lepas dari kepentingan politik pasca Pilpres 2014 maupun Pilkada DKI 2017. Karena saya pandang lebih cenderung pada fenomena gunung es kekecewaan yang dirasakan masyarakat," ujarnya.

KH Hasan Nuri pun berharap, aksi berjalan aman dan damai sesuai aturan ? yang berlaku. Dan berdoa agar tujuan utama aksi yakni mengawal proses hukum Ahok tidak ditunggangi kelompok tertentu yang hobi memecah belah umat dan bangsa. (Nurjani/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hadits, News, Amalan HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Senin, 11 Desember 2017

PMII Jombang Ingatkan Kader Komit dengan Jalan Pemikiran Aswaja

Jombang, HMI Tegal Kab?

Sebagai basis kaderisasi Nahdhatul Ulama (NU) di tingkatan mahasiswa, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) konsisten menjadikan Aswaja sebagai manhajul fikr (metode berpikir) dalam gerakannya.

PMII Jombang Ingatkan Kader Komit dengan Jalan Pemikiran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jombang Ingatkan Kader Komit dengan Jalan Pemikiran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jombang Ingatkan Kader Komit dengan Jalan Pemikiran Aswaja

Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) PMII Jombang, Aziz Dwi Prasetyo saat acara pelantikan pengurus rayon (PR) PMII Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Komisariar Umar Tamim Unipdu Jombang masa khidmat 2016-2017, menegaskan bahwa Aswaja sebagai metode berpikir dan sejumlah ajaran lain di PMII adalah pola aktivis PMII mengabdi kepada bangsa dan negara.

"Dengan senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam Ahlussunah Waljamaah, Nilai Dasar Pergerakan, AD/ART, nilai-nilai, norma-norma, dan produk hukum PMII lainnya serta cinta tanah air dan bangsa, adalah cara aktivis PMII mencintai agama dan bangsa," ujarnya di hadapan seluruh tamu undangan yang memadati Balai Desa Peterongan, Jumat (13/01/2017) siang.

Dijelaskan, Aswaja sebagai manhajul fikr ini yang membedakan PMII sebagai mahasiswa NU yang tidak hanya meyakini dan melalukan (manhajul qaul), namun tetap adanya proses berpikir yang identik dengan kemahasiswaanya. Hal itu juga menjadi pembedahan antar organisasi PMII dengan organisasi lainnya.

Di saat yang sama, Aziz juga berpesan kepada seluruh jajaran pengurus rayon yang baru saja dilantik agar amanah dalam mengemban tanggung jawab organisasi.

HMI Tegal Kab

"Semoga Pengurus Rayon PMII FIK Umar Tamim Unipdu Jombang mampu mengemban amanah organisasi selama satu periode ke depan dengan baik dan benar," terangnya.

Sementara Ketua Rayon FIK, Qiky Kai Khumaira mengajak seluruh anggota PMII khususnya yang baru dilantik itu untuk komitmen dalam berorganisasi. "Komitmen dan kebersamaan adalah kunci untuk aktif dalam menggerakkan anggota dan kader Fakultas Ilmu Kesehatan yang akademis dan organisatoris," tegas Kiki, sapaan akrabnya.

Acara ini juga dihadiri sekretaris umum PC PMII Jombang, sahabat Irham Ali, Komisariat dan Rayon se-Jombang, juga Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang baru saja terpilih beberapa hari yang lalu. (Syamsul Arifin/Fathoni)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, Amalan HMI Tegal Kab

Rabu, 29 November 2017

Rakernas, Muslimat NU Bahas Penguatan Organisasi Menuju Kemandirian

Jakarta, HMI Tegal Kab. Muslimat Nahdlatul Ulama menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dengan menghadirkan pengurus wilayah dari seluruh Indonesia, Kamis-Jumat (3-4/12), di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Pembukaan dilaksanakan Kamis (3/12) usai maghrib oleh Ketua Umum PP Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa. Untuk Rakernas kali ini, Muslimat NU secara keseluruhan akan memabahas ‘Penguatan Organisasi menuju Kemandirian Muslimat NU’.

Rakernas, Muslimat NU Bahas Penguatan Organisasi Menuju Kemandirian (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas, Muslimat NU Bahas Penguatan Organisasi Menuju Kemandirian (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas, Muslimat NU Bahas Penguatan Organisasi Menuju Kemandirian

Menurut koordinator panitia Rakernas, Hj Haniq Rofiqoh, Rakernas kali ini akan fokus membahas beberapa materi diantaranya Rencana Strategis (Renstra), peraturan organisasi Muslimat, AD/ART, dan materi lain yang terbagi dalam beberapa komisi.

Komisi I akan membahas AD/ART, Komisi II mengulas peraturan organisasi atau yang disebut POAM, Komisi III: Bahtsul Masail, Komisi IV membahas Renstra untuk tahun 2016-2021, teakhir Komisi V yakni Komisi Rekomendasi.

HMI Tegal Kab

“Rakernas ini juga akan dimanfaatkan untuk mempersiapkan Kongres Muslimat NU tahun 2016,” jelas Haniq.

HMI Tegal Kab

Sebelum pembukaan Rakernas secara resmi, Muslimat NU telah melakukan Seminar dengan membahas beberapa persoalan penting. Seminar ini telah dilaksanakan Rabu, (2/12) di Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Adapun materi-materi yang dibahas yaitu Sosialisasi Perizinan dan Manajemen Klinik Pratama, Upaya Pembiayaan Kesehatan melalui BPJS, Pengelolaan Taman Anak Sejahtera, Pencegahan dan Rahbilitasi NAPZA Berbasis Masyarakat, Internal Muslimat, juga pembahasan tentang Karta Tanda Muslimat (Kartamus). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Amalan, Humor Islam HMI Tegal Kab

Jumat, 24 November 2017

Unicef Indonesia Kunjungi Kiai NU di Brebes

Brebes, HMI Tegal Kab. Spesialis komunikasi United Nations Childrens Fund (Unicef) PBB yang ada di Indonesia, Iwan Hasan, mengunjungi beberapa kiai NU di Brebes, Jawa Tengah, antara lain di Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Tanjung, MWCNU Larangan, dan MWCNU Wanasari, serta Pesantren Assalafiyah Luwungragi.

Unicef Indonesia Kunjungi Kiai NU di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Unicef Indonesia Kunjungi Kiai NU di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Unicef Indonesia Kunjungi Kiai NU di Brebes

Kunjungan sehari yang dilakukan pada Senin (24/3 ) ini untuk melihat langsung bagaimana para pemuka agama  yang pernah mengikuti pelatihan menyampaikan pesan kesehatan ibu dan gizi khususnya masalah stunting (balita pendek).

“Perlu alat peraga pembelajaran saat sosialisasi karena media ini sangat dibutuhkan  bagi masyarakat, sementara ini yang dipakai hanya model penyuluhan di pengajian dan tanya jawab” ujar Sholikhin, sekretaris MWC NU Tanjung.

HMI Tegal Kab

Ustadz Sholikhin juga menuturkan sudah melakukan koordinasi dengan pejabat di Kecamatan Tanjung dan juga sosialisasi di desa-desa di wilayah Tanjung terutama di pengajian jamaah ibu-ibu. Salah satu kendala ketika menyampaikan masalah kesehatan ibu dan anak di daerahnya karena dianggap bukan pakar yang membidangi dalam bidangnya. Namun, menurutnya, ini adalah bagian dari upaya ulama untuk membantu program pemerintah.

HMI Tegal Kab

“Gerakan 1000 hari pertama kehidupan, ibu memberikan kolostrum dan memberikan air susu ibu (ASI ekslusif) kepada bayi sangat penting biar kekebalan tubuh dan kesehatan bayi terjamin karena ini bagian pemenuhan hak anak,” ujar Ustadz Tarmidzi.

Dunarso dari MWC NU Larangan juga menuturkan pengalamannya sebagai peserta yang sudah mendapatkan pelatihan stunting yang diselenggarakan Lembaga Kesehatan NU (LKNU) di Benda, Sirampog, Brebes. Baginya, pelatihan yang diterima sangat membantu dalam tugasnya sebagai tokoh agama apalagi sebagai lebe di desa Siandong kepada masyarakat terutama saat pengajian.

“Ada 4 acara yang biasa digunakan untuk menyampaikan sosialisasi, yaitu saat pernikahan, 4 bulan kehamilan, 7 bulan kehamilan dan aqiqah. Hasil pelatihan yang ada sangat aplikatif dan sejalan dengan nilai-nilai islam.

“Satu sedotan bayi dari susu ibu dapat menghapus dosa ibu sehari. Bila bayi disusui selama 40 hari dari sejak lahir tanpa diberikan apapun selain ASI (termasuk air, madu, pisang) membuat usus bayi bisa kuat. Jarak kehamilan bagi ibu sebaiknya 30 bulan. Hal ini sesuai anjuran dalam hadits Nabi,” ujar KH. Subhan Makmun selaku ulama kharismatik di Brebes, pengasuh  Pesantren Assalafiyah Luwungragi. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Lomba, Amalan HMI Tegal Kab

Selasa, 21 November 2017

Menlu Bantah Ada Tekanan Barat tentang Sanksi Iran

Jakarta, HMI Tegal Kab. Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menegaskan, Indonesia tidak mendapat tekanan dari negara-negara besar, khususnya Barat, dalam mendukung resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai tambahan sanksi bagi Iran yang menolak menghentikan program pengembangan nuklirnya.

Dalam pertemuan dengan sejumlah pemimpin redaksi media massa, anggota DPR dan kalangan organisasi kemasyarakatan di Gedung Deplu, Selasa, Menlu Wirajuda mengatakan, sikap Indonesia itu sudah melewati proses pertimbangan dan melihat situasi yang berkembang.

Ia berharap masyarakat juga memahami keputusan tersebut dan tidak mengartikannya sebagai sikap mengkhianati Iran, atau mendukung Israel serta lebih pro kepada Amerika Serikat (AS) atau Barat.

Menlu Bantah Ada Tekanan Barat tentang Sanksi Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
Menlu Bantah Ada Tekanan Barat tentang Sanksi Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

Menlu Bantah Ada Tekanan Barat tentang Sanksi Iran

"Salah satu yang menjadi pertimbangan kami adalah perubahan sikap Rusia dan Cina, dua negara yang sebelumnya gigih menentang sanksi atas Iran, tapi justru ikut menyusun draf resolusi," kata Wirajuda.

"Berarti ada sesuatu dengan perubahan sikap itu. Cina dan Rusia, yang siap menyediakan tempat bagi pengembangan nuklir damai Iran, tampaknya akhirnya juga kecewa dengan sikap Iran," katanya.

Menurut Wirajuda, jika Iran memang benar-benar mengembangkan nuklir hanya untuk tujuan damai, negara tersebut seharusnya lebih terbuka, termasuk dengan IAEA (Badan Energi Atom Internasional) dan mempertimbangkan tawaran dari Rusia.

HMI Tegal Kab

Dalam proses perundingan pun, Iran cenderung lebih mementingkan perundingan dengan negara-negara besar, seperti anggota tetap DK PBB (AS, Rusia, Cina, Inggris, Perancis) ditambah Jerman.

"Sementara Indonesia dan sejumlah negara lainnnya kurang dilibatkan dalam perundingan. Kita tentunya tidak ingin memberi dukungan buta," tambah Wirajuda.

HMI Tegal Kab

Indonesia sendiri, kata Wirajuda, sudah berupaya agar dalam pembicaraan soal Iran tetap dikedepankan usaha untuk menghindari kemungkinan sanksi yang justru akan lebih memanaskan siatusi. Sanksi militer tentunya akan ditentang oleh Indonesia karena hal itu bisa berbahaya bagi kawasan sekitarnya dan negara-negara di dunia.

Indonesia juga mendesak agar ada keadilan dalam soal upaya perlucutan senjata nuklir, sehingga tidak hanya Iran yang menjadi sasaran tembak.

Dalam Resolusi Nomor 1747, ada sejumlah hal yang merupakan masukan dari Indonesia yang intinya agar faktor keadilan itu menjadi pertimbangan.

Dicontohkan, pasal yang menyebutkan desakan kepada semua negara dalam perjanjian nonproliferasi nuklir agar memenuhi kewajiban-kewajibannya.

Demikian juga dengan kalimat yang menyebutkan dorongan merealisasikan zona bebas senjata pemusnah massal di Timur Tengah. Meskipun tidak disebutkan nama-nama negaranya, dalam zona itu tentunya termasuk Israel. (ant/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Amalan HMI Tegal Kab

Jumat, 10 November 2017

Pengusaha NU dan Aljazair Jajaki Kerja Sama

Jakarta, HMI Tegal Kab - Sejumlah pengusaha Nahdlatul Ulama yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) dan Himpunan Pengusaha Santri (Hipsi) menerima kunjungan beberapa pengusaha asal Aljazair, Rabu (12/10) malam, di Lantai 5, Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Rombongan dari Aljazair datang ke kantor PBNU disambut Dubes RI untuk Aljazair Safira Machrusah, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Ketua HPN Abdul Kholik, Ketua Hipsi Muhammad Ghazali, dan beberapa pengusaha muda NU.

Pengusaha NU dan Aljazair Jajaki Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengusaha NU dan Aljazair Jajaki Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengusaha NU dan Aljazair Jajaki Kerja Sama

Salah satu anggota rombongan dari Aljazair, Damu Abdul Hakim mengaku ingin sekali menjalin kemitraan dengan pengusaha-pengusaha Indonesia, khususnya NU. Hal itu didasari atas kekagumannya dengan kualitas produk di Indonesia.

"Saya baru saja mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI). Ternyata bagus-bagus produknya, baik olahan makanan, perkayuan, ataupun lainnya," ujar? pengusaha bidang konstruksi dan pekerjaan umum ini melalui penerjemah.

HMI Tegal Kab

Sebelumnya Ketua HPN Abdul Kholik menyambut hangat tamu luar negeri ini dan menjelaskan profil singkat HPN dan Hipsi. Menurutnya, HPN yang kini memiliki ratusan anggota tak hanya menjunjung tinggi moralitas dalam berbisnis, melainkan pula profesionalitas. Ia membuka peluang bagi kemungkinan kerja sama yang saling menguntungkan.

Sementara Ketua Hipsi Muhammad Ghazali mengungkapkan rencana pihaknya dalam waktu dekat untuk melakukan lawatan ke Aljazair dalam agenda pameran usaha. Sebanyak 61 pengusaha akan menampilkan berbagai produk usahanya, mulai dari kopi, coklat, teh, logam, busana, hingga rendang kemasan kaleng. (Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Halaqoh, Warta, Amalan HMI Tegal Kab

Rabu, 08 November 2017

Sang Guru Pesantren dari Situbondo

Judul         : Keteladanan KHR. Ahmad Fawaid As’ad

Penulis      : KH. Muhyiddin Abdusshomad 

Editor        : Suparman

Sang Guru Pesantren dari Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Sang Guru Pesantren dari Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Sang Guru Pesantren dari Situbondo

Penerbit    : Khalista, Surabaya

Cetakan    : I, April 2012

Tebal         : xi+ 46 hlm.

Peresensi : Ach. Tirmidzi Munahwan*

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Akan datang kehancuran yang melanda bumi ini, yaitu ketika Allah mencabut ilmunya dari muka bumi ini. Allah mencabut ilmu bukan menghilangkan pengetatahuan, bukan pula melenyapkan ilmu pengetahuan. Tapi, dengan cara mengambil (meninggalnya) orang-orang yang berilmu. Maka, bumi ini tidak akan dipimpin oleh orang-orang yang berilmu dan dikuasai oleh orang-orang bodoh.

Ulama ialah orang yang menguasai ilmu agama. Orang yang menyerukan kepada umatnya untuk berbuat amar makruf nahi mungkar. Jika bumi ini telah kehilangan ulama, maka segera keburukan akan merajalela dan hanya tinggal menunggu waktu untuk sebuah kehancuran.

Di awal tahun 2012 di pulau Jawa telah kehilangan empat ulama yaitu KH Munif Djazuli wafat (Ploso), KH Imam Yahya Mahrus (Lirboyo, KH. Abdullah Faqih (Langitan) dan KHR. Ahmad Fawaid As’ad salah satu putra dari Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Almagfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus Situbondo. Innalillahi wainna ilahi raji’un (seungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali). Semoga Allah mengampuni, mengasihi, melindungi, dan memaafkan beliau. Dan semoga Allah memberi kita kekuatan untuk meneladani, melanjutkan apa yang selama ini diperjuangkan oleh kedua ulama besar tersebut.

KHR. Fawaid As’ad adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo generasi ketiga. Sebagai penerus beliau telah mampu membuktikan bahwa beliau tidak hanya mampu melanjutkan, tetapi juga bisa mampu mengembangkan serta melakukan inovasi dengan terobosan baru sehingga pesantren Salafiyah Syafi’iyah bisa berkembang pesat dengan memadukan pesantren salaf dan modern. Pesantren ini didirikan pada tahun 1914 oleh KH. Syamsul Arifin (kakek Kiai Fawaid). Dan saat ini santrinya diperkirakan 13.000 santri dari berbagai daerah bahkan diantaranya bersal dari Malaysia dan Brunei Darussalam.  

Kepergian KHR. Ahmad Fawaid As’ad pada hari Jumat 9 Maret 2012, jam 12.15 di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya telah mengisahkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga dilingkungan pesantren tetapi juga masyarakat luar yang menghormati  dan mencintai sepenuh hati. KHR. Ahmad Fawaid A’ad sebagai seorang pengasuh pondok pesantren yang besar di daerah ujung timur pulau jawa, mempunyai banyak aktivitas padat yaitu salalu meluangkan waktunya melakukan rapat langsung dengan para pengurus pondok, sehingga menimalisir jarak sosial antara kiai dan santrinya. 

Kiai Fawaid juga berupaya meningkatkan taraf hidup penduduk dilingkungan pesantren dengan melibatkan mereka untuk memenuhi kebutuhan para santri. Sehingga penduduk merasakan dampak positif tidak hanya segi spiritual tapi juga taraf hidup mereka yang lebih baik. Kepedulian sosial beliau terhadap masyarakat luar biasa dan tak diragukan lagi, bahkan beberapa hari sebelum meninggal beliau masih sempat memberikan santunan kepada 500 anak yatim dan fakir mikin masing-masing berjumlah Rp. 500.0000 (hal.13).

Tentu menyadari sebagai ulama, Kiai Fawaid hidupnya didunia tidak akan lama lagi, meski tidak tahu pasti kapan ia akan dipanggil oleh Allah. Namun, beliau telah mempersiapkan penerusnya sebagai pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah, yaitu menunjuk Gus Ahmad Azaim Ibrahimi putra pasangan KH. Dhafir Munawar dan Nyai Hj. Zainiyah As’ad. Sehingga kepergiannya yang secara tiba-tiba kembali ke Rahmatullah, tidak menjadikan pesantren kalang kabut, tapi tetap tegak berdiri meski telah kehilangan pengasuhnya. Kiai Fawaid telah mempersipakan sistem dan pengelolaan yang matang untuk masa depan pesantren.

Buku ini menyajikan tentang beberapa prilaku KHR. Ahmad Fawaid As’ad yang patut diteladani oleh para generasi muda, santri, khususnya para pengasuh pesantren. Istiqamah membaca al-Qur’an, shalat berjama’ah setiap hari dalam kondisi apapun adalah amaliah yang tidak pernah ditinggalkannya. Bahkan dalam melakukan perjalanan, Kiai Fawaid selalu membaca al-Qur’an. Jadi tidak heran jika dalam satu minggu Kiai Fawaid selalu menghatamkan al-Qur’an minimal satu kali.

Walaupun buku ini amat sangat tipis dan sederhana, namun bisa sebagai pegangan untuk mengetahui sifat-sifat yang patut diteladani, dan bisa dijadikan refrensi bagi orang yang tertarik menulis biografi Kiai Fawaid secara umum. Buku kecil ini, ditulis oleh Kiai Muhyiddin Abdusshomad yang produktif menulis, juga dilengkapi dali-dalil penyelengaraan tahlil sekaligus teks tahlilnya yang biasa dibaca di pondok pesantren Salafiyah Syaf’iyah. Agar pengamal tahlil tidak ada keraguan dalam melaksanakan tradisi agung warisan ulama salaf ini. Wallahu a’lam

*Peresensi Adalah, Dosen Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Humor Islam, Amalan HMI Tegal Kab

Senin, 06 November 2017

Tugas IPNU dan IPPNU Sama

Probolinggo, HMI Tegal Kab. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) diharapkan selalu menjadi teman dalam perjuangan. Tugas IPNU dan IPPNU sama.

“Baik IPNU maupun IPPNU memiliki tugas menjalankan beberapa program NU di tingkat pelajar dan santri putra maupun puteri,” ujar Ketua PC IPNU Kota Kraksaan Muhlisun, Jum’at (31/5), terkait terbentuknya kepengurusan PC IPPNU setempat.

Tugas IPNU dan IPPNU Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Tugas IPNU dan IPPNU Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Tugas IPNU dan IPPNU Sama

PC IPPNU Kota Kraksaan sempat vakum. Ketua terpilih Nur Indah Muktamaroh bersama tim formatur Jum’at (31/5) kemarin menggelar rapat untuk menyusun kepengurusan PC IPPNU Kota Kraksaan periode 2013-2014 di auditorium PCNU Kota Kraksaan,.

HMI Tegal Kab

Rapat tim formatur ini dihadiri oleh Sekretaris PCNU Kota Kraksaan Fauzan dan Ketua PC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)  Kota Kraksaan Muhlisun beserta segenap pengurus IPNU-IPPNU se Cabang Kraksaan.

Dalam daftar kepengurusan baru PC IPPNU Kota Kraksaan tersebut, Siti Musyarofah diangkat sebagai Wakil Ketua mendampingi Ketua terpilih Nur Indah Muktamaroh. Sementara Sekretaris dipercayakan kepada Uswatun Hasanah. Selain itu, tim formatur juga berhasil menyusun departemen-departemen secara lengkap.

HMI Tegal Kab

Dengan terbentuknya kepengurusan PC IPPNU Kota Kraksaan ini, Ketua PC IPNU Kota Kraksaan Muhlisun berharap dua organisasi pelajar NU ini bisa saling bersinergi. “Kita sadari bersama bahwa dalam menjalankan programnya IPNU harus bersama dengan IPPNU,” katanya.

Pemilihan Ketua PC IPPNU Kota Kraksaan sendiri dikawal langsung oleh Pengurus Wilayah (PW) IPPNU Jawa Timur. Pengawalan ini dilakukan karena vakumnya kepengurusan tersebut dianggap sebagai permasalahan organisasi yang cukup serius. Melalui musyawarah mufakat, secara aklamasi Nur Indah Muktamaroh terpilih sebagai Ketua PC IPPNU Kota Kraksaan.

Sekretaris PCNU Kraksaaan Fauzan mengatakan vakumnya kepengurusan IPPNU disebabkan minimnya kader. “Sebab masyarakat mengatakan bahwa kepengurusan IPPNU harus berasal dari kalangan pelajar, padahal tidak demikian. Ada AD/ART yang telah mengatur tentang kepengurusan IPPNU ini,” ujarnya singkat.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Khutbah, Amalan, Bahtsul Masail HMI Tegal Kab

Sabtu, 04 November 2017

Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran

Sidoarjo, HMI Tegal Kab. Banyak cara yang dilakukan setiap umat Muslim untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, tak terkecuali Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU-IPPNU) Tanggulangin Sidoarjo ini.

Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran

Dalam memuliahkan Hari Kelahiran Nabi akhir zaman ini, PAC IPNU-IPPNU Tanggulangin bersama ratusan warga se-Kecamatan Tanggulangin mengkhatamkan (khotmil) Al-Quran di masjid Al-Istiqomah desa Gempolsari Tanggulangin Sidoarjo, Ahad (13/12). Kemudian, malam harinya, dilanjutkan dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan membaca diba.

"PAC IPNU-IPPNU Tanggulangin mengajak kepada warga se-Kecamatan Tanggulangin Sidoarjo untuk turut serta meneladani dan memuliahkan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Agar kita semua senantiasa mendapatkan safaatnya kelak di akhirat," kata ketua PAC IPNU Tanggulangin, M Ilmi Abdillah.

HMI Tegal Kab

Abdillah berharap, momen seperti itu tidak hanya berhenti saat ini saja, akan tetapi bisa terlaksana setiap tahunnya. Menurutnya, dengan memperingati Maulid Nabi Muhammad, PAC IPNU-IPPNU Tanggulangin Sidoarjo kembali mengingatkan dan mengajak warga NU agar bisa mengikuti jejak-jejak sang Reformasi iman dan Islam ini.

HMI Tegal Kab

"Semoga acara tersebut tidak sekadar menjadi peringatan semata. Namun, kita mampu mencontoh dan mengaplikasikan segala sifat terpuji Nabi Muhammad. Tidak hanya itu saja, bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW juga untuk menjaga amaliyah NU yang telah diajarkan oleh para pendiri," tukas Abdillah. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Amalan, Pahlawan HMI Tegal Kab

Rabu, 25 Oktober 2017

Habib Luthfi Beri Wejangan Pengurus MATAN Kudus

Kudus, HMI Tegal Kab. Rais Am Jamiyyah Ahlih Thariqoh Al-Muktabarah An-Nahdliyyah Habib Luthfi Bin Ali Bin Yahya mengatakan, terbentuknya organisasi  mahasiswa penganut tarekat  MATAN merupakan ikhtiar awal perjuangan kader-kader muda Nahdlatul Ulama yang mengedepankan Akhlaqul Karimah.

"Tambah semangatmu dengan kedepankan akhlakul karimah dalam mengemban amanah sebagai Pengurus MATAN. Besar harapan saya, dari organisasi inilah  nantinya muncul para guru Mursyid," ujarnya memberi pesan kepada pengurus Cabang Mahasiswa Ahlit Thariqoh Ab-Nahdliyyah (MATAN) Kudus disela-sela acara baiat jamaah Jatman di gedung Syadziliyyah Kaliwungu Kudus, Jumat (5/10) lalu.

Habib Luthfi Beri Wejangan Pengurus MATAN Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Beri Wejangan Pengurus MATAN Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Beri Wejangan Pengurus MATAN Kudus

Habib menandaskan keberadaan  MATAN pada masa mendatang akan berkembang menjadi organisasi besar. 

HMI Tegal Kab

"Oleh karenanya, jangan heran manakala ada kelompok yang mencoba mengganggu perjalanannya."pesannya lagi.

HMI Tegal Kab

Habib menilai mahasiswa merupakan agen pembawa perubahan dan calon-calon pemimpin masa depan. 

"Makanya saya merasa perlu membentuk MATAN sebagai gerbong pengawal ajaran Ahlussunnah wal Jamaah," terangnya.

Kelahiran MATAN, kata Habib, berawal dari hilangnya rasa kepedulian pengurus NU dan sudah tidak merasa rugi pada waktu ditinggalkan oleh PMII.

"Saya sangat prihatin dengan kondisi NU yang sangat semangat dalam ngrumati politik yang tidak ada hasilnya dari pada ngrumati umat," tandas Habib Luthfi bernada otokritik.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, MATAN Kudus sudah dideklarasi dan dilantik kepengurusannya pada Sabtu (29/9) lalu di kantor NU Kudus. Habib Lutfiy yang direncanakan hadir pada waktu itu berhalangan. 

"Pada baiat Jamaah thariqah di kaliwungu Kudus ini, kami menyempatkan meminta wejangan secara khusus kepada  beliau," jelas Ketua MATAN Kudus Muhammad Mawahib.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Amalan, Budaya HMI Tegal Kab

Selasa, 17 Oktober 2017

NU Diminta Jadi Penengah Solusi Perdamaian

Jakarta, HMI Tegal Kab

Konflik yang terjadi di Timur Tengah dan beberapa kawasan di dunia, berakar pada ketegangan antara prinsip agama dan konsep negara. Tidak adanya titik temu antara agama dan negara, menjadi penyebab meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Pada titik ini, Nahdlatul Ulama diminta menjadi penengah untuk mencari solusi perdamaian.?

NU Diminta Jadi Penengah Solusi Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Diminta Jadi Penengah Solusi Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Diminta Jadi Penengah Solusi Perdamaian

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkopolhukham) Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa Indonesia harus mengambil peran dalam perdamaian internasional.?

“Selama ini, yang menjadi juru damai konflik Israel dan Palestina hanya Amerika Serikat. Saya lihat, Indonesia bisa menjadi pendamai konflik internasional. Kita harus mengambil peran strategis ini. Dukungan para kiai dan ulama Nahdlatul Ulama sangat penting untuk agenda ini,” terang Luhut, pada agenda International Summit of the Islamic Moderate Leaders (Isomil) PBNU pada Senin (9/5), di Jakarta.?

Agenda Isomil diselenggarakan akan atas prakarsa PBNU untuk menghadirkan inspirasi perdamaian internasional, sekaligus mencari solusi bersama atas konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Menkopolhukham yang hadir bersama Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Republik Indonesia, Jendral Purn. Sutiyoso, menyampaikan strategi pemerintah Indonesia untuk menghadapi radikalisme dan kekerasan di dalam negeri, juga mengambil peran strategis di level internasional.?

Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, menyatakan bahwa Nahdlatul Ulama dengan gagasan Islam Nusantara, sudah saatnya mengeskpor gagasan-gagasan tentang Islam yang damai, ramah dan menghargai kebudayaan.?

HMI Tegal Kab

“Para kiai telah memberi teladan berupa titik temu antara konsep Islam dan kebangsaan, antara agama dan negara. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari telah menegaskan pentingnya menjaga titik temu agama dan negara. Sudah saatnya kita mengeskspor gagasan Islam Nusantara ke level internasional,” terang Kiai Said.?

Agenda Isomil merupakan pertemuan para ulama dan cendekiawan dari negeri Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat. Agenda ini, dihadiri sekitar 400 peserta, yang berlangsung pada 9-11 Mei 2016, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Isomil menjadi media dialog ulama internasional untuk mencari solusi perdamaian internasional. Red: Mukafi Niam

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Cerita, Amalan HMI Tegal Kab

Kamis, 05 Oktober 2017

Fenomena Jilboobs

Oleh Novi Arizatul Mufidoh

Banyak pernyataan yang menyebutkan bahwa wanita atau muslimah lebih mudah masuk surga. Islam telah mengajarkan berbagai aturan yang mengatur norma dan etika bagi para penganutnya, terutama untuk muslimah. Sedangkan, salah satu ciri wanita yang bisa dikatakan mampu menjadi penghuni surga ialah wanita yang pandai menjaga kehormatan dirinya.

Dari pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa tolak ukur kemuliaan seorang wanita muslimah, dapat dilihat dari sejauh mana ia bisa menjaga kehormatan dirinya melalui cara berbusana, bertutur kata, berjalan, dan sebagainya. Dalam hal ini, yang seringkali menjadi sebuah permasalahan dalam dunia kemasyarakatan yang mengutamakan norma-norma Islam adalah bagaimana cara seorang muslimah dalam berbusana sehari-harinya.

Allah SWT dan Rasul-Nya telah memberikan perintah khusus yang hanya dibebankan kepada kaum wanita, yaitu memakai jilbab, tidak keluar selain dengan mahramnya, tidak melembutkan ucapan di hadapan orang fasik, dan tidak berlebihan dalam menghias diri seperti kaum jahiliyah. Namun, sudah selayaknya sebagai seorang muslimah tidaklah menganggap hal itu menjadi sebuah beban, tetapi menjadi sebuah kewajiban yang harus dilakukannya.

Fenomena Jilboobs (Sumber Gambar : Nu Online)
Fenomena Jilboobs (Sumber Gambar : Nu Online)

Fenomena Jilboobs

Mengenai kewajiban berjilbab atau menutup aurat bagi wanita, Allah SWT telah berfirman, “Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

Firman Allah di atas telah menerangkan secara tegas bahwa setiap wanita yang mengaku muslimah beriman haruslah mengenakan jilbab. Allah SWT juga memberikan jaminan bagi wanita mukminat yang berjilbab, bahwa mereka akan lebih aman dari gangguan pandangan orang-orang nakal, dibandingkan dengan mereka yang biasa memakai pakaian mini dan terbuka auratnya. Namun, apabila ada seorang wanita yang di masa lalu tidak berjilbab dan kini berjilbab, maka Allah SWT akan mengampuni dosa mereka karena tidak memakai jilbab pada masa lalunya, karena Allah SWT maha pengampun lagi maha penyayang, sesuai dengan pengertian? yang tertuang dalam ayat di atas.

Jilbab dan Kontaminasi ‘Jilboobs’

HMI Tegal Kab

Secara bahasa, jilbab berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata “jalbaba, yujalbibu, jilbaaban”, artinya, baju kurung yang panjang. Jadi, pengertian jilbab adalah pakaian yang luas atau lapang, yang berarti pakaian yang dapat menutupi anggota tubuh seorang wanita kecuali wajah dan telapak tangan. Karena, pada dasarnya seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan.

Meski demikian, tidaklah sedikit muslimah zaman sekarang yang telah menyimpang dari aturan memakai jilbab sesuai dengan arti jilbab itu, karena mereka telah terkontaminasi oleh budaya baru. Mereka lebih bangga mengikuti trend zaman dalam berbusana yang sebenarnya tidaklah sesuai dengan syariat Islam. Masalah berbu sana yang saat ini sedang marak terjadi diantara para muslimah Indonesia adalah gaya berbusana ala ‘Jilboobs’.

HMI Tegal Kab

‘Jilboobs’ diadopsi dari? gabungan kata jilbab (disini diartikan kerudung/penutup kepala) dan boobs (payudara). Maksudnya, jilbab yang mereka pakai tidak difungsikan sebagai penutup aurat, melainkan hanya sebagai pembungkus sebagian tubuhnya saja. Gaya busana ini memang tidaklah sesuai dengan ajaran Islam, dan seharusnya tidak perlu ditiru oleh para muslimah. Karena, meski mereka memakai jilbab, namun mereka membiarkan bagian lekak-lekuk dadanya itu tetap terlihat dengan jelas, apalagi bagi mereka yang memakai pakaian ketat. Padahal, sejatinya seorang muslimah yang memakai jilbab, hendaknya mereka juga berbusana dengan pakaian yang dapat menutupi aurat, yang sekiranya tidak menebar syahwat bagi siapa saja yang melihatnya.

Bagi orang awam yang tidak mengerti hukum Islam sebenarnya, mereka masih bisa dimaklumi jika mengikuti trend seperti itu. Karena, mungkin dengan mengikuti gaya ‘Jilboobs’, lambat laun mereka akan terbiasa mengenakan jilbab, dan setelah mereka mengetahui aturan berbusana muslimah, mereka dapat menutupi auratnya dengan smpurna.

Nilai Ibadah dibalik Jilbab

Perlu diketahui dan disadari oleh kaum wanita, bahwa ketika dirinya memakai jilbab itu mengandung nilai ibadah tersendiri. Di samping sebagai ketaatannya kepada hukum Allah, memakai jilbab dan berbusana yang menutup aurat merupakan tindakan preventif atau pencegahan dari pandangan mata lelaki yang dapat menimbulkan berbagai keinginan yang barangkali bertentangan dengan ajaran agama. Jadi, tak perlu lagi bagi seorang muslimah untuk mengenakan busana ala ‘Jilboobs’ karena hal itu dapat menjadi gerbang terjadinya perzinahan.

Sekarang, perlu diingat bahwa kewajiban mengenakan jilbab tanpa kontaminasi dari ‘Jilboobs’ merupakan ajaran Islam yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh wanita manapun. Selain berjilbab, wanita muslimah juga harus mengenakan busana yang setidaknya memenuhi kriteria busana tidak transparan, longgar, dan dapat menutupi aurat, tidak hanya sekedar membungkusnya saja. Wanita muslimah juga dilarang untuk menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali memang yang biasa nampak. Namun, boleh saja seorang wanita menampaakannya kepada segolongan mahramnya dan suaminya. Wallahu A’lam bi al-shawab.

?

Novi Arizatul Mufidoh, pengajar Paud Islam Mellatena-Semarang

?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Olahraga, Amalan HMI Tegal Kab

Senin, 10 Juli 2017

Hilal Awal Bulan Terlihat di Gresik

Jakarta, HMI Tegal Kab. Hilal atau bulan sabit awal bulan Shafar 1434 H terlihat di balai rukyat bukit Condro Dipo Gresik dalam kegiatan rukyatul hilal, Jum’at (14/12) petang.

Demikian diinformasikan oleh Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri. “Dengan demikian tanggal 1 Shafar jatuh pada hasi Sabtu 15 Desember 2012, atau dimulai malam ini,” katanya kepada HMI Tegal Kab, Jum’at malam.

Hilal Awal Bulan Terlihat di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Awal Bulan Terlihat di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Awal Bulan Terlihat di Gresik

Rukyatul hilal yang dilakukan pada 29 Dzulhijjah atau jelang tahun baru hijriyah kemarin di berbagai titik tidak berhasil melihat hilal, sehingga tanggal 29 Muharram atau pelaksanaan rukyat awal Shafar baru dilaksanakan hari ini, atau mundur satu hari dari tanggal yang tertera dalam almanak NU.

HMI Tegal Kab

Menurut KH Ghazalie, posisi ketinggian hilal pada saat dilakukan rukyat Jum’at petang sudah cukup tinggi sekitar 9 derajat di atas ufuk. Kondisi di Gresik cukup cerah sehingga hilal dapat terlihat dengan jelas oleh beberapa orang yang melakukan rukyat.

Penulis : A. Khoirul Anam

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Daerah, Amalan HMI Tegal Kab

Kamis, 06 Juli 2017

PMII Sikapi Belum Jelasnya Pengalihan Penanganan Sampah di Pamekasan

Pamekasan, HMI Tegal Kab

Rencana adanya pengalihan bidang persampahan dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cikatarung ke Badan Lingkungan Hidup (BLH), hingga saat ini tampak sebatas wacana belaka. Padahal, rencana itu mulai dimatangkan sejak Oktober 2015 lalu.

PMII Sikapi Belum Jelasnya Pengalihan Penanganan Sampah di Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sikapi Belum Jelasnya Pengalihan Penanganan Sampah di Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sikapi Belum Jelasnya Pengalihan Penanganan Sampah di Pamekasan

Tokoh PMII Kabupaten Pamekasan Moh Elman mengatakan, jika langkah pengalihan tersebut tidak segera dilakukan, maka tidak menutup kemungkinan wilayah perkotaan di Pamekasan makin jorok. Salah satu fakta di lapangan saat ini, adalah maraknya trotoar tanpa tutup dan berserakannya sampah.

Harusnya, kata Elman, rencana pengalihan tugas itu sudah terlaksana di awal tahun 2016. Mengingat, pergantian tahun merupakan salah satu langkah untuk berbenah menjadi lebih baik. Sayangnya, rencana pengalihan tugas hanya sebatas perencanaan yang tak kunjung diterapkan. Akibatnya, itu menghambat keoptimalan program yang sudah direncanakan.

"Bukankah Bupati Syafii sudah berjanji akan memindahkan tugas tersebut. Itu mengingat Pamekasan sekarang ini jorok. Terutama di daerah perkotaan," ujarnya, Jumat (12/2/2016).

Selain menghambat program yang sudah direncanakan, tambah mahasiswa Pascasarjana STAIN Pamekasan itu, tidak jelasnya pengalihan tugas tersebut juga akan berdampak terhadap kinerja masing-masing ? satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Karena sudah jelas, beban PU Cikatarung dalam mengemban tanggung jawab berkenaan dengan program terlalu banyak.

HMI Tegal Kab

"Lagi pula untuk bidang persampahan ini memang tidak cocok menjadi tanggung jawab PU Cikatarung. Akibatnya, kurang maksimal dalam mengawal tanggung jawab ini," tuturnya.

Sebelumnya, terdapat beberapa SKPD yang akan dievaluasi keberadaannya. Masing-masing bidang Komunikasi dan Informatika di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Inforamatika (Dishubkominfo), Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga, PU Cipta Karya dan Tata Ruang (Cikatarung), Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan beberapa Bagian Administasi Sekretariat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan ? .

Di antara SKPD maupun bidang kerja tersebut, akan ada yang ditiadakan atau digabung ? dengan SKPD lainnya. Yakni, yang dianggap tidak terlalu produktif akan ditiadakan. "Kami sedang mengevaluasi terhadap struktur organisasi pemkab, ada beberapa bidang SKPD yang ditiadakan, digabung atau direvitasilasi kembali," kata Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Pamekasan Alwi Beiq.

HMI Tegal Kab

Selain bidang Kominfo, Badan Lingkungan Hidup (BLH) juga akan dikembalikan menjadi dinas. Sebab, saat ini ada kewenangan yang tidak bisa dilakukan oleh BLH dalam bidang persampahan. Kewenangan itu, kini diambil oleh Dinas PU Cikartarung.

Sementara itu, PU Cikartarung punya volume beban kerja cukup berat. Sehingga, membuat penyelesaian masalah persampahan lambat dan bahkan terbengkalai. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab News, Lomba, Amalan HMI Tegal Kab

Selasa, 15 November 2016

LPBINU Gelar Rapat Pleno Evaluasi Program

Jakarta, HMI Tegal Kab. Pengurus Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) mengadakan Rapat Pleno, Kamis (5/6), di Hotel Gren Alia Jakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan kapasitas dan tata kelola organisasi kelembagaan LPBINU.

Ketua panitia yang juga sekretaris PP LPBINU, Ja’farAmiruddin, mengatakan bahwa  kegiatan ini merupakan sarana evaluasi terhadap pelaksanaan rencana strategi (renstra) LPBINU 2010, baik dari sisi program, manajemen, dan kelembagaan LPBINU. Hasil rapat pleno rencananya akan disampaikan pada Rakernas LPBINU serta Munas dan Konbes NU 2014 pada Agustus mendatang.

LPBINU Gelar Rapat Pleno Evaluasi Program (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Gelar Rapat Pleno Evaluasi Program (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Gelar Rapat Pleno Evaluasi Program

Forum rapat dihadiri 46 pengurus LPBINU dan dibuka KH Abbas Mu’in, Ketua PBNU yang membidangi masalah Sosial Kemasyarakatan.  Pembicara dari ITS, Ir Imam Subchi  MT juga turut diundang  untuk  berbicara tentang teknologi pengolahan sampah.

HMI Tegal Kab

Secara kelembagaan, LPBINU telah memiliki perwakilannya di daerah, tercatat ada 7 PW LPBI NU dan 25 PC LPBI NU. Hasil pleno ini juga menjadi bahan  untuk  merancang kegiatan koordinasi nasional antara Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang LPBINU yang sudah terbentuk.

Ketua PP LPBINU Ir. Avianto Muhtadi mengatakan, perkembangan isu  lingkungan  hidup dan bencana secara global saat ini adalah terkonsentrasi terhadap MDGs (Millenium Development Goals) yang  merupakan kesepakatan bangsa di dunia  untuk  mengurangi risiko dan meningkatkan perbaikan pembangunan.

HMI Tegal Kab

Salah satu klausul MDGs adalah pelestarian  lingkungan  dan perngurangan risiko bencana, yang tertuang dalam dokumen HFA (Hyaogo Framework for Action for Disaster Reduction). HFA ini akan dievaluasi oleh UN ISDR (United Nation International Strategic or Disaster Reduction) melalui World Conference Disaster Risk Reduction (WCDRR) yang dilakukan setiap 15 tahun sekali.

“Alhamdulillah LPBINU ikut bagian dari proses ini. Namun demikian tidak semua hasil internasional baik penelitian, UN act, dan sebagainya diterima secara bulat-bulat, NU harus melakukan filterisasi yang disesuaikan dengan karakter dan sifat bangsa ini serta moral,” katanya.

Selain itu, katanya, NU harus mampu melakukan advokasi kebijakan  untuk  meningkatkan pembangunan, mengurangi risiko kerusakan  lingkungan  bahkan bencana. Menurutnya, hutang Indonesia dari tahun ke tahun selalu meningkat. Pada tahun 2013 hutang Indonesia adalah Rp 1.937 Triliun, yang meningkat Rp. 134 Triliun dari tahun 2012.

Pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam yang baik, katanya, dapat meningkatkan pemasukan APBN. “Lemahnya pengelolaan dampak kerusakan lingkungan, apalagi jika ada bencana bisa-bisa pembangunan yang ada bisa kembali ke titik nol dan hutang tidak akan pernah terbayar,” ujarnya. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Lomba, Santri, Amalan HMI Tegal Kab

Rabu, 23 Maret 2016

Ini Doa Hamba Allah yang Menembus Langit Menurut Ibnu Athaillah

Tidak sedikit dari kita kerap berburuk sangka kepada Allah. Kita sering mengira bahwa Allah mengabaikan hamba-Nya hanya karena bencana dan derita yang kita alami. Padahal ujian dan cobaan yang kemudian “memaksa” kita untuk bermunajat kepada-Nya adalah cara Allah memilih hamba-Nya. Hal ini disinggung dengan jelas oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ini Doa Hamba Allah yang Menembus Langit Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Doa Hamba Allah yang Menembus Langit Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Doa Hamba Allah yang Menembus Langit Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “Ketika Allah SWT menggerakkan lidahmu melalui sebuah doa, ketahuilah bahwa Dia ingin memberikan karunia-Nya kepadamu.”

HMI Tegal Kab

Dari sini kita dapat memahami bahwa orang-orang yang berdoa dan bermunajat merupakan hamba-hamba pilihan Allah. Ketika Allah menjatuhkan pilihan-Nya kepada kita atas sebuah cobaan, pada hakikatnya Dia mengasihi kita yang kemudian memperkenankan kita untuk bermunajat kepada-Nya. Demikian uraian Syekh Ibnu Abbad atas hikmah ini.

HMI Tegal Kab

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Anas bin Malik RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Bila Allah jatuh cinta kepada salah seorang hamba-Nya, maka Allah mengucurkan dan mengalirkan ujian kepadanya. Kalau ia lantas bermunajat, malaikat bergumam, ‘suara orang ini tak asing.’ Lalu Jibril memberanikan diri, ‘Ya Allah, itu suara si fulan, hamba-Mu. Penuhilah permintaannya.’ Allah menjawab, ‘Para malaikat, biarkanlah ia. Aku senang mendengar suara munajatnya.’ Kalau ia menyeru, ‘Tuhanku.’ Allah menjawab, ‘Labbaik wa sa‘daik (aku sambut panggilanmu) wahai kekasih-Ku. Tiada satupun yang kau doakan, melainkan pasti Kukabulkan. Tiada satupun permintaanmu, melainkan pasti Kuberikan. Bisa jadi Kukabulkan segera doamu. Bisa jadi Kutangguhkan permintaanmu dan Kuganti dengan yang lebih baik. Bisa jadi juga Kuhindarkan dirimu dari bala yang lebih berat ketimbang bencana itu,’’” (Lihat Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz I, halaman 76).

Syekh Ibnu Abbad mengutip hadits Rasulullah SAW bahwa mereka yang dikasihi dan dicintai Allah adalah hamba-hamba-Nya yang diperkenankan untuk bermunajat kepada-Nya berlama-lama melalui pintu ujian dan cobaan. Allah menginginkan mereka yang menerima cobaan untuk sering-sering menghadap-Nya.

Lalu bagaimana dengan pengabulan doa dan permohonan dalam munajat kita? Lagi-lagi, kita tidak perlu khawatir. Allah takkan mengingkari dan menelantarkan hamba-Nya sebagai disinggung Syekh Syarqawi berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang dikaruniakan ibadah doa, maka ia takkan luput dari ijabah,’ baik ijabah atas hajat yang disebutkannya di dalam doa maupun ijabah atas hajat yang tidak disebutkan (substitusi) entah dalam waktu seketika atau ditangguhkan. Sebagian ulama memahami bahwa itu berlaku pada doa yang didasarkan pada saat orang memiliki pilihan dan disengaja. Untuk doa yang terlompat begitu saja dari mulut tanpa sengaja dan terencana, ijabah atas hajat yang terucap hampir-hampir tidak meleset dan tidak tertunda,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Ihyail Kutub Al-Arabiyah, juz I, halaman 75).

Penjelasan Syekh Syarqawi ini jelas bahwa doa pasti dikabulkan tetapi dalam tempo yang tidak bisa ditentukan dan dalam bentuk yang tidak bisa kita pastikan. Bisa jadi kita menunggu-tunggu pengabulan doa dan hajat kita, padahal Allah sudah kabulkan dalam bentuk yang lain. Ini juga yang kerap membuat kita berburuk sangka kepada Allah.

Di samping itu, orang yang berdoa terbagi atas dua kondisi. Ada mereka yang sedang dalam kondisi lapang sehingga mereka berdoa dengan terencana. Tetapi ada orang yang bermunajat kepada Allah dalam kondisi darurat, terjepit, kepepet, sehingga mereka tidak lagi berdoa secara terencana. Mereka yang kepepet dan dalam kondisi darurat kerap diijabah Allah sesuai bentuk hajat yang mereka perlukan, yaitu mereka yang kelaparan, yang mebutuhkan jaminan perlindungan dan keamanan, mereka yang membutuhkan hak hidup, mereka yang dalam kondisi sulit dan sempit lainnya.

Doa atau munajat di sini bisa dalam bentuk ubudiyah (semata penghambaan kepada Allah dan menganggap bahwa doa memang bagian dari ibadah). Tetapi ada juga mereka yang berdoa dan bermunajat kepada Allah karena spontanitas semata-mata lantaran kepepet dan tidak menemukan jalan lain (yang memang tidak menganggap doa sebagai salah satu bentuk ibadah) sebagaimana disinggung Syekh Zarruq (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 99). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pendidikan, Amalan, Habib HMI Tegal Kab

Senin, 07 Maret 2016

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim

Mungkin jarang bagi kita mendengarkan nama Saridin Syarif. Namun terlepas dari populer atau pun tidaknya sosok Syaridin Syarif, ia adalah seorang tokoh yang cukup memiliki peranan penting dalam sejarah penyatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terutama seputar penyatuan kembali pulau Sumatera setelah meletusnya pemberontakan PRRI di Sumatera Barat.

Saridin Syarif adalah tokoh yang berhasil melunakkan pemerintah pusat agar tidak meneruskan pengejaran terhadap PRRI (1958) dan mengampuni Syafruddin Prawiranegara sebagai dalang pemberontakan dengan tebusan berupa pengembalian seluruh kekayaan rampasan Syafruddin yang digunakan sebagai modal pemberontakannya.<br />

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim

Saridin Syarif juga adalah seorang tokoh yang sangat berjasa dalam pengembangan cabang-cabang NU di Sumatera Barat dan sekitarnya. Beliau merintis NU tahun di pelosok-pelosok Sumatera Barat sejak tahun 1954 bersama Nurain Datuk Patih, teman sekampungnya, dengan melakukan banyak sekali kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah di Lubuk Limpang, Sawah Lunto, Bonjol, Solok dan Painan dan lain-lain.

Dalam kunjungan-kunjungannya ini Saridin Sarif juga ditemani oleh orang-orang dari Maninjau. Terutama sekali Saridin memang menemani Bapak Thoha Ma’ruf sebagai ketua, sedangkan Beliau sendiri berlaku sebagai sekretaris. Di mana wilayah kunjungannya mencapai Rengat dan Jambi. Sementara bergiat istrinya mendirikan Muslimat NU pada tahun 1956 bersama Ibu Rosma Burhan dari Bonjol. Kegiatan mendirikan cabang-cabang dan ranting-ranting NU ini diisi dengan mendirikan sekolah-sekolah, yang sampai sekarang masih ada. Hingga saat ini sekolah-sekolah tersebut, masih dikelola oleh para penerusnya.

HMI Tegal Kab

Latar Belakang Peran kepemimpinan

HMI Tegal Kab

Mayoritas jaringan Ulama Sumatera Barat pada dasawarsa 1930 hingga 1950-an berada di bawah naungan Perti yang telah menjadi organisasi berskala nasional dengan memiliki cabang di berbagai wilayah Indonesia. Namun Perti lebih tampak sebagai organisnasi etnis karena begitu kentalnya dominasi ulama Minangkabau.

Kekurangan Perti inilah yang pada gilirannya, memberikan pencerahan kepada beberapa kader terbaik mereka untuk membina sebuah hubungan lintas ulama dalam spekrum yang lebih luas. Para kader terbaik ini beranggapan bahwa untuk mempertahankan dan mengembangkan keislaman ala Ahlussunnah Waljamaah, terutama ala syafi’iyyah, di Indonesia, mestilah ditopang dengan suatu keorganisasian yang mampu menaungi segala etnis dan diterima oleh etnis-etnis yang lain tanpa membeda-bedakan. Artinya mereka menginginkan sebuah interaksi yang sejajar di antara para pejuang Ahlussunnah Waljamaah. Maka menurut mereka, NU adalah bahtera yang sesuai keinginan mereka. Terutama sekali mereka juga tidak menginginkan Muhammadiyah dan Masyumi mengambil peran tunggal dalam sosio religius Sumatera Barat.

Maka mereka pun menaruh sebuah harapan besar agar NU dapat didirikan di Sumatera Barat. Meskipun demikian, sebenarnya orientasi ke-NU-an di antara masyarakat Sumatera Barat telah terjalin sejak lama, terutama di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan tapanuli Selatan. Hal ini sikarenakan Tapanuli Selatan sudah menjadi basis Nu sejak tahun 1940-an, sementara telah sejak lama santri-santri asal Sumatera Barat, khususnya wilayah Pasaman yang menuntut ilmu di Tapanuli selatan.

Di samping itu, aktivitas perdagangan mengakibatkan interaksi semakin intens terjadi antara orang-orang NU Tapanuli Selatan de santri-santri Minangkabau. Sehingga beberapa tokoh dan pendiri Nu di Sumatera Barat, beberapa di antaranya berasal dari Tapanuli Selatan, seperti Djamaluddin Tarigan dan Djabonar Lubis yang merupakan orang-orang Melayu asal Tapanuli Selatan. Setelah beberapa lama menjalin hubungan dagang dengan penduduk pasaman, Keduanya mendirikan Pesantren di sana. Dengan demikian pesantren-pesantren ini jeas berafiliasi kepada NU meskipun belum secara formal.

Maka tak heran ketika cabang resmi NU lahir pertama kali di Rao Mapattunggal, Kabupaten Pasaman, justru cabang NU ini merupakan cabang Istimewa dari Wilayah NU Sumatera Utara (bukan Sumatera Barat atau Sumatera Tengah) karena Sumatera Barat belum memiliki kepengurusan Wilayah. Cabang NU Mapattunggal ini pertama kali diketuai oleh Djabonar Lubis.

Harapan besar kepada NU ini mendapatkan momentumnya ketika Zarkawi, salah seorang Tokoh Muda Perti menghimpun teman-temannya karena tidak puas dengan keputusan Perti yang berpegang ”hidup mati” hanya pada satu Madzhab saja, yakni Syafi’iyah. Zarkawi dan teman-temannya, Abu al-Ma’ani, Saudin Yusuf, Thoha Ma’ruf, yaridin Syarif dan A. Razak Tuanku tanah Air, menggodok tiga opsi yang akan mereka pilih dalam memperjuangkan Ahlussunnah Waljamaah di Sumatera Barat.

Ketiga opsi tersebut adalah, pertama, memperjuangkan pembaharuan pemikiran di Perti agar dapat lebih berkembang dan tidak hanya terpaku pada satu madzhab saja. Kedua, mendirikan organisasi baru yang yang sesuai dengan keinginan mereka. Ketiga, berafiliasi dengan NU yang dianggap juga telah sukup memenuhi kriteria yang mereka inginkan. Meski tentu saja ketiga opsi ini mengandung makna yang mendalam dalam masing-masing jiwa mereka, karena bagaimanapun juga Perti selama ini adalah bahtera mereka dalam memperjuangkan Islam Ahlussunnah Waljamaah.

Hingga pada tahun 1954 M. diadakanlah pertemuan para ulama Sumatera Barat di Bukittinggi yang bertempat di Rumah Ustadz Syarif, seorang ulama alumni perantren Tarbiyah, murid langsung dari Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan sudagar kaya yang mampu membiayai seluruh akomodasi pertemuan tersebut. Hasil kesepakatan bulat dalam pertemuan ini adalah bergabung dengan NU yang segera didukung secara serentak oleh seluruh ulama yang berafiliasi NU.

Satu hal yang cukup menggembirakan bagi kelanjutan keputusan ini adalah adanya kenyataan bahwa Kyai Muslih, seorang tokoh NU dari Jakarta, sedang bertugas sebagai Kepala Jawatan Urusan Agama Sumatera tengah yang berkedudukan di Bukittinggi. Selama ini Kyai Muslih tidak pernah mengajak mereka untuk bergabung dengan NU karena menganggap bahwa masyarakat Sumatera Barat telah memiliki organisasinya sendiri, yakni Perti. Karenanya, Kyai Muslih cukup terkejut mendengar keinginan kader-kader terbaik Perti ini untuk bergabung dengan NU. Kyai Muslih pun kemudian menerima pernyataan dan hujjah mereka untuk bergabung dengan NU. Maka dengan demikian tiada lagi halangan untuk mendirikan kepengurusan NU Wilayah Sumatera Barat.

Di tingkat wilayah, KH Zarqowi Wahid yang telah bergelar Syeikh Tabik Gadang dipercaya memimpin Suriah karena ketokohan dan garis kebangsawanan ulamanya yang tidak tertandingi di sana. Beliau adalah anak kandung dari pemangku Pesantren Tabik Gadang, Syeikh Abdul Wahid yang sangat dihormati. Sementara untuk mengisi kepemimpinan Tanfidziyah rupanya cukup sulit, karena beberapa tokoh memiliki kapabilitas dan kredibilitas yang sepadan. Mereka antara lain adalah, Saridin Syarif, Abul Ma’ani, Thoha Ma’ruf, Yasir Syafi’i dan Hasan Basri. Namun karena Thaha Ma’ruf dianggap memiliki jangkauan lebih luas karena darah Banjar-nya, maka ia pun dinobatkan sebagai ketua Tanfidziyah. Secara kebetulan KH. Idham Khalid (Ketua PBNU waktu itu) adalah ulama keturunan Banjar. Sedangkan Saridin Syarif dipercaya sebagai sekretaris tanfidziyah.

Terlahir demi NU

Saridin terlahir sebagai Sulung dari tiga bersaudara di Payakumbuh, Sumatera Barat pada 22 Desember 1929 dari pasangan suami istri guru ngaji, Muhammad Syarif yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar dan Ibu Darusah, seorang ibu rumah tangga, sebuah keluarga sederhana dan religius.

Saridin kecil memulai pelajarannya dari asuhan kedua orang tuanya dan menamatkan pendidikan dasar di Payakumbuh di bawah naungan PERTI, kemudian tetap di kampung halamannya untuk belajar hingga menamatkan SMA di Bukit Tinggi.

Semenjak masa mudanya, Saridin telah aktif di dunia organisasi dengan mengikuti kursus-kursus jurnalistik dan pendidikan kader. Beliau banyak sekali mengikuti pelatihan-pelatihan keorganisasian dan politik sejak muda. Sehingga Ketua Umum PBNU Idham Kholid menawari dirinya untuk melanjutkan belajar ke luar negeri. Namun orang tuanya tidak mengijinkan, maka Beliau pun tidak jadi pergi ke sana.

Saridin Syarif memiliki hobi mendirikan sekolah yang berafiliasi ke NU, mulai dari Payakumbuh (tanah kelahirannya) hingga di Depok (tempat tinggalnya yang terakhir) juga didirikan sekolah dan panti asuhan.

Menurut penuturan Isterinya, ketika mendirikan wilayah NU Sumatera Barat yang berkedudukan di Bukit Tinggi, yang meresmikan adalah Bapak Idham Kholid. Sempat mampir ke Rumah Beliau di Payakumbuh untuk beberapa tahun kemudian datang lagi dan meresmikan cabang NU di sana.

Sejak awal isterinya-lah yang turut mendampingi perjuangannya dalam memperluas dakwah Nahdlatul Ulama. Di mana mereka tidak menalami banyak halangan, karena telah memiliki banyak pengikut kultural yang sebelumnya berasal dari PERTI. Bersama Thoha Ma’ruf dan isterinya, Saridin Syarif yang baru saja menikah kemudian menyumbangkan andil dalam mendirikan cabang-cabang NU di wilayah Sumatera Barat. Betapa pun demikian, harus diakui bahwa cabang-cabang NU di Sumatera Barat lebih muda usianya dibandingkan dengan cabang-cabang PERTI dan Muhammadiyah.

Pada waktu tersebut memang cuaca politik di Indonesia sedang bergejolak. Sekitar waktu pemilu pertama (1955) Saridin Syarif dan isterinya tinggal di Bukit Tinggi, tinggal serumah dengan Thoha Ma’ruf dan isterinya. Sebuah rumah berlantai dua, dengan di lantai bawahnya tinggal keluarga Thaha Ma’ruf sementara di lantai atas tinggal Saridin Syarif dan keluarga. Kemana-mana mereka selalu berdua saja.

Saridin Syarif mengabdikan seluruh hidupnya untuk organisasi. Hingga ia merantau ke Jakarta tahun 1977 dan mengharuskannya selalu pulang balik Jakarta-Padang untuk urusan-urusan NU. Sebenarnya ia telah memulai ke Jakarta sejak tahun 1960-an (sendirian) dan tinggal bersama Bapak thoha Makruf di Kebon Nanas Jakarta Timur. Ia harus bolak-balik ke Jakarta sebagai anggota DPRD Kabupaten 50 Koto.

PKI dan PRRI serta Emas

Pada masa PKI Pak Saridin termasuk dalam daftar yang akan dibunuh oleh PKI (1948) dengan indikasi sudah dibuatkan lubang sumur sehingga ia harus merantau keluar dari kampungnya. Ini pulalah yang menjadi pertimbangan Saridin pada saatnya nanti untuk merantau ke Jakarta, terutama karena penghasilan, ketika anak-anaknya sudah mulai sekolah, sawah-sawah sudah tidak kuat menghasilkan pendapatan yang cukup banyak.

Sementara PKI juga banyak merampas harta-benda kekayaan seperti mesin jahit dan lain-lainnya, maka untuk menghidupi keluarganya, Saridin harus dapat ke luar dari kampungnya. Karena pada zaman PKI, Saridin senantiasa mengalami kesulitan-kesulitan dan dikambinghitamkan. Padahal kenyataan ini tidak dialaminya secara langsung ketika ia memperjuangkan NU tanpa dimusuhi oleh PKI.

Isteri Saridin Syarif (Ibu Nurani Yusuf), berhasil ditemui oleh penulis menyatakan bahwa para pembesar PRRI seperti Syafruddin Prawiranegara dan Muhammad Natsir, pernah membangun markas selama beberapa minggu di kampung halamannya. Sehingga suaminya sempat bertemu dengan mereka pada masa-masa yang rawan tersebut.

Nurani Yusuf adalah saksi mata yang hingga kini masih hidup yang dapat menerangkan bahwa para pemberontak PRRI telah sempat mengendalikan pemerintahan setempat dengan mencetak uang dan mengendalikan transaksi perdagangan di level yang terendah sekalipun. Ia menuturkan bahwa PRRI membuat sendiri uangnya di hutan dengan mengangkat percetakan ke hutan. Bahkan Beliau pernah tinggal serumah dengan isteri Syafruddin Prawira Negara di rumah mertuanya, (ibunya Pak Saridin). Setiap hari istri Syafruddin ini mengantarkan nasi dan bekal-bekal lainnya ke hutan tempat para tentaranya bermarkas.

Istri Syafruddin Prawiranegara sendiri mengajarkan masak dan menjahit kepada rakyatnya waktu itu, dan bahkan sempat mendirikan sekolah untuk anak-anak para pendukung PRRI, bahkan setelah mereka terdesak ke hutan dan gunung-gunung.

Syafruddin bersama keluarganya dan banyak sekali keluarga-keluarga pendukungnya saling berbelanja di kampung dengan menggunakan uang (yang dicetak oleh) mereka sendiri. Hal ini dapat berlaku karena Syafruddin Prawiranegara sendirilah yang menyuruh. Dicetak sendiri, dibelanjakan di antara mereka sendiri. Mereka juga membawa pemancar radio yang setiap hari selalu mengudarakan siaran tentang berita-berita kemenangan PRRI dan menjelek-jelekkan Soekarno. Hal ini jugalah yang menjadikan Muhammad Natsir dan Syafruddin dapat mempercayai pada Saridin Syarif.

Setelah PRRI kalah, rupanya Pak Syafrudin membawa emas yang sempat disembunyikan ditanam di bawah kolong rumah panggung ayah Saridin, sementara sang pemilik rumah justru tidak mengetahui bahwa yang ditanam di bawah rumah mereka adalah emas murni. Menurut yang menanam, peti-peti tersebut berisi senjata. Hingga setelah kalah barulah ketahuan bahwa isinya ternyata emas.

Maka setelah kalah emas yang ditanam di bawah rumah Saridin tersebut inilah yang dijadikan tebusan kepada pemerintah pusat sebagai tanda penyerahan diri mereka. Saridin Syarif sendiri yang mengantarkannya ke Jakarta sebagai tebusan atas nyawa Pak Syafruddin dengan dikawal ketat oleh tentara dari Jakarta. Emas ini kemudian oleh Presiden Soekarno dijadikan sebagai bahan dasar puncak Monumen Nasional (Monas) di jantung kota Jakarta.

Tentara pusat menyita seluruh barang rampasan perang yang tersisa setelah PRRI kalah. Saridin Syarif beserta tokoh-tokoh NU Sumatera Barat lainnya seperti Bagindo Letter, bagindo Jamhar, Bagindo Nukman dan Bagindo Baha’uddin Syarif tidak ditahan. Sementara Thoha Ma’ruf sedang berada di Jakarta, sehingga selama masa-masa terjadinya pemberontakan PRRI maupun seteahnya, NU tidak vakum. Hanya orang-orang Masyumi saja yang ditahan. Padahal ketika meletusnya pemberontakan PRRI, tidak ada utusan dari PBNU yang datang ke sana.

Dengan Thaha Ma’ruf

Persahabatan dengan Thaha Ma’ruf tetap terjalin hingga ke Jakarta, karena Beliau pulalah yang memintanya untuk membawa keluarga saridin ke Jakarta. Istri Thaha ma’ruf pulalah yang mengajarai Istri Saridin Syarif mendirikan majlis ta’lim dan panti asuhan. Bahkan hingga memberikan bantuan dan modal awal untuk membeli tanah.

Sebagai anak perempuan dari kampung yang dididik dengan pendidikan keagamaan yang kuat di pesantren, tentu saja Istri Saridin ingin menularkan ilmunya kepada masyarakat. Maka ketika isteri Saridin ini telah menyusul ikut ke Jakarta, tentu saja ia pun ingin mendirikan majlis ta’lim dan pesantren.

Dengan latar belakang yang berasal dari pedalaman Sumatera barat yang religius, maka hingga masa-masa senjanya Beliau selalu berpesan kepada keluarganya, ”Buatlah pesantren, mengasuh anak-anak yatim. Karena walaupun anak kita banyak, belum tentu setia (maksudnya selalu menunggui/berdekatan). Bisa jadi anak-anak kita dibawa ke mana-mana (menunjuk arti tempat) sama suaminya. Maka kita di hari tua harus menyayangi anak-anak yatim.”

Hingga akhir hayatnya, Beliau selalu memelihara silaturrahmi dengan para teman seperjuangannya dan kolega-koleganya, termasuk sangat akrab dengan Idham Khalid.(Syaifullah Amin)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab PonPes, Budaya, Amalan HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock