Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri

Batam, NU? Online.

Wakil Ketua Umum PP GP Ansor, Dhohir Farizi, di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (25/11) menegaskan, generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) harus meningkatkan kapasitas diri, satu diantaranya di bidang informasi dan teknologi.

Menurut dia, kader muda NU harus mampu mendapatkan dan mengelola informasi dengan baik, jangan sampai informasi memporakporandakan hubungan seperti diakibatkan media sosial dengan baik.

Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Generasi Muda NU Harus Meningkatkan Kapasitas Diri

"Kita telah melewati berbagai fase, kalau tidak up grade pasti akan ketinggalan," ujar pria karib dipanggil Gus Dhohir itu pula.

Ia lalu mencontohkan pola komunikasi, tahun 1970 hingga 2000 yang mengalami perubahan-perubahan.

Menurut dia didampingi jajaran Assisten Informasi dan Komunikasi Satkornas Banser, hal tersebut bukan tren. Tapi kebutuhan eksistensi yang diperlukan seiring kebutuhan zaman.

HMI Tegal Kab

"Kita harus ada, kalau tidak maka akan ? tenggelam," kata dia lagi pada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III, digelar di Asrama Haji Batam Centre, Engku Putri, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Pada kegiatan bertema Meningkatkan Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mewujudkan Kemandirian Bangsa, Gus Dhohir mengingatkan kader Ansor yang mengikuti Susbanpim untuk menjadi pimpinan yang berkarakter.

"Selain itu, jangan tinggalkan NU, alim ulama dan umat. Ansor adalah organisasi yang jelas, kedepan setiap pimpinan, anggota dari pusat hingga ranting bisa diketahui publik," pungkasnya. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pesantren, IMNU, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Senin, 26 Februari 2018

Pemimpin itu Harus Es Fanta dan Coca Cola

Pringsewu, HMI Tegal Kab. Seorang pemimpin akan dimintai tanggung jawab tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim mengatakan bahwa pemimpin itu harus memenuhi berbagai macam kriteria.

Pemimpin itu Harus Es Fanta dan Coca Cola (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin itu Harus Es Fanta dan Coca Cola (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin itu Harus Es Fanta dan Coca Cola

"Pemimpin itu minumannya es fanta dan coca cola," katanya mengawali perbincangan seputar kriteria pemimpin yang harus dimiliki umat Islam, Rabu (22/6).

Es fanta merupakan kependekan dari shidiq, fathonah, amanah dan tabligh. Taufiq menambahkan bahwa ketika pemimpin memiliki sifat seperti Rasulullah tersebut, maka bisa dipastikan ia adalah tipe pemimpin ideal.

HMI Tegal Kab

Selain itu minuman seorang pemimpin adalah coca cola yang merupakan akronim dari komunikatif, karisma, komitmen dan landscape atau berpengalaman.

HMI Tegal Kab

"Seorang pemimpin harus memiliki track record yang baik dalam memimpin. Jangan sampai kita memilih pemimpin yang hanya mencoba-coba yang di baliknya hanya ingin mencari keuntungan pribadi," tandasnya.

Apalagi, tambahnya, kultur dalam NU tidak mengajarkan untuk memburu jabatan, mengajukan diri untuk menjadi pemimpin apalagi sampai melakukan hal hal yang melanggar hukum syariat Islam untuk tujuan kekuasaan.

Taufiq berharap agar semua ummat Islam selalu memgedepankan kriteria tersebut dalam memilih seorang pemimpin. "Pilihan tepat dalam memilih seorang pemimpin, akan membawa kemaslahatan untuk semua, namun ketika tidak tepat dalam memilih pemimpin, siap-siap untuk menelan rasa kecewa," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU HMI Tegal Kab

Rabu, 07 Februari 2018

Dicatut Wahabi Musuhi Syiah, PCNU Balikpapan Tolak Keras

Balikpapan, HMI Tegal Kab. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Balikpapan menyatakan tidak memiliki keterkaitan dengan deklarasi kelompok ANNAS (Aliansi Nasional Anti-Syiah) yang diselenggarakan di Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan.

Dicatut Wahabi Musuhi Syiah, PCNU Balikpapan Tolak Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
Dicatut Wahabi Musuhi Syiah, PCNU Balikpapan Tolak Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

Dicatut Wahabi Musuhi Syiah, PCNU Balikpapan Tolak Keras

Rais Syuriah PCNU Balikpapan KH Abbas Alfas mengungkapkan hal itu dalam rangka mengklarifikasi adanya isu yang menyebutkan NU Balikpapan terlibat dalam deklarasi ANNAS pada Ahad 8 Maret 2015. ANNAS merupakan organisasi yang mulanya dideklarasikan di Bandung Jawa Barat dan diketuai oleh KH Athian Ali Dai (tokoh Wahabi).

"Saya nggak ikut-ikut ANNAS. Memang ada orang yang datang kepada saya. Dia datang kepada saya bersama temannya mengungkapkan masalah ANNAS dan Syiah, saya bilang (kepada mereka) ‘Kalau NU sudah jelas meskipun tidak pakai acara deklrasi-deklarasi, tapi punya cara-cara sendiri, artinya dalam penolakan terhadap Syiah, namun lebih moderat. Kecuali kalau NU itu ditikam baru ‘mengamuk’,” tutur Kiai yang sempat diajak bergabung ke ANNAS tersebut.

HMI Tegal Kab

Menurut Kiai Abbas, mereka berusaha melibatkan NU hanya untuk memanfaatkan semata. "Saya mencermati, mereka ingin melibatkan kita, dan itu cara ‘politik’ mereka, kita akan dijadikan ‘bemper’. Sebetulnya itu olahan mereka. Jadi kita ini mau dipolitikan (dimanfaatkan) oleh mereka," katanya dalam pengajian rutin bulanan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Kaltim, sehari setelah deklarasi itu (9/3).

HMI Tegal Kab

Sementara Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Balikpapan KH Muhlasin menyatakan sangat tidak berminat dengan ANNAS. "Bila beliau (Kiai Abbas) tidak minat, maka saya lebih tidak berminat lagi.", tegas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Izzah Km 15 Balikpapan Utara tersebut.

Kiai Muhlasin juga sempat dihubungi untuk bergabung tetapi tidak bersedia. Sebelum acara deklarasi ANNAS, ia mewakili NU sempat menghadiri pertemuan di kantor Kementrian Agama Kota Balikpapan. Salah satu poin pertemuan itu bahwa Kemenag pun tidak menginginkan adanya deklarasi tersebut.

"Dari pihak Kementrian Agama (Balikpapan) juga sangat tidak menginginkan adanya deklrasi tersebut di Balikpapan, karena tentunya hal tersebut sangat berpotensi terjadinya gesekan di antara warga Kota Balikpapan. Itu yang disampaikan di Kemenag," terangnya.

Terima Risiko

Sikap tasamuh (toleran) dan tidak bersedia beraliansi dengan ANNAS bukan tanpa risiko. Menurutnya, risikonya akan ada semacam propaganda bahwa yang tidak ikut mereka berarti dianggap mendukung Syiah.

"Mengedepankan sikap toleran, walaupun tentunya berisiko. Risikonya pastinya ada semacam propaganda, warga NU yang tidak mendukung ANNAS sekurang-kurangnya (dianggap) mendukung ajaran Syiah. Itu prilaku mereka seperti itu sejak dahulu.", ungkapnya.

Kiai Muhlasin berharap warga Nahdliyyin tidak terpengaruh oleh propaganda mereka. Sedangkan berkaitan dengan Habib Ahmad Zain Al-Kaff yang menjadi narasumber pada acara deklarasi tersebut, Kiai Muhlasin mengatakan bahwa ia tidak mewakili PWNU Jatim.

"Habib Ahmad Zain Al-Kaff di brosur-brosurnya disebutkan PWNU Jawa Timur dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Sekalipun Habib Ahmad Zain Al-Kaff dari jajaran PWNU, beliau tidak mewakili organisasi PWNU, tetapi atas nama pribadi. Kalau pun toh menyebutkan PWNU-nya, ya itu salah satu strategi mereka, sebagaimana mereka juga mencantumkan Kiai Abbas, termasuk saya," jelasnya.

Penjelasan senada juga disampaikan oleh Sekretaris PCNU Balikpapan Ust. Imam Warosy bahwa NU Balikpapan mengambil posisi tidak terkait dengan ANNAS. "Kita, PCNU Balikpapan, mengambil sikap tidak ikut dalam masalah itu. Meskipun Rais kita dan Ketua kita di-"lamar-lamar" untuk ikut mereka," tuturnya.

Dalam pandangannya, NU tidak perlu ikut mendeklarasikan dan beraliansi dengan mereka. Sebab berdirinya NU memang untuk membendung aliran seperti Wahabi dan Syiah agar masyarakat tetap berpegang kepada Ahlussunnah wal Jamaah. Ia juga mengatakan bahwa beraliansi dengan mereka sama saja merendahkan martabat Nahdlatul Ulama.

"Kalau kita membaca khutbah KH. Hasyim Asyari (Muqaddimah Qanun Asasi) di Nahdlatul Ulama, berdirinya NU memang untuk membendung aliran seperti ini, yaitu Wahabi dan Syiah, agar masyarakat tetap dalam aqidah Ahlussunnah wal Jamaah meskipun tidak dideklarasikan, meskipun tidak dialiansikan dengan yang lain,” ujarnya. (Muhammad Al-Fatih/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU HMI Tegal Kab

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah

Sumenep, HMI Tegal Kab - Satkorcab Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kabupaten Sumenep tidak hanya mengedepankan kedisiplinan dan pengamanan daerahnya. Mereka juga memedulikan pentingnya penguatan marwah NKRI.

Salah satu upaya yang dilakukannya ialah dengan melangsungkan istighotsah berjamaah secara rutin. Marwah NKRI diyakini dapat tercapai manakala diiringi dengan penajaman spiritualitas orang-orang yang memperjuangkannya.

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah

"Sudah tak terhitung berapa kali kegiatan istighotsah yang dilakukan sahabat-sahabat Banser Kabupaten Sumenep. Mereka semangat berpijak pada kedisiplinan dan pengamanan negara, juga mengedepankan penajaman spiritualitas lewat rutin istighotsah," ujar Ketua GP Ansor Sumenep M Muhri.

HMI Tegal Kab

Istighotsah yang dilakukan Satkorcab Banser Sumenep masih terlihat di sekretariat GP Ansor Sumenep, Jumat (3/2). Mereka tampak khusuk dalam berzikir dan berdoa.

Usai istighotshah, sahabat-sahabat Banser Sumenep melanjutkan rapat koordinasi (rakor) internal bersama para wakil Ketua GP Ansor Sumenep. Acara tersebut diihadiri Ketua GP Ansor Sumenep M Muhri.

HMI Tegal Kab

Rakor tersebut juga menyinggung ragam kegaduhan yang sering dipertontonkan para pejabat di negeri ini. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, Sejarah, AlaSantri HMI Tegal Kab

Kamis, 01 Februari 2018

Belajar dari Keluarga Luqman Hakim yang Diabadikan Al-Qur’an

Oleh Muhammad Yunus



Upaya pemerintah dalam mempersiapkan generasi muda yang berkarakter kuat patut diacungi jempol. Beberapa langkah strategis sebagai langkah ikhtiar sudah dilakukan. Instrument pendidikan digodok. Aturan mainpun dikeluarkan. Hal ini terlihat dari usaha Presiden mengeluarkan Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Yang menarik adalah pidato presiden ketika menyampaikan isi Perpers ini dihadapan ulama dengan mengatakan “Perpres tersebut jadi pekerjaan besar bagi pemerintah dan pondok pesantren.”

Belajar dari Keluarga Luqman Hakim yang Diabadikan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Keluarga Luqman Hakim yang Diabadikan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Keluarga Luqman Hakim yang Diabadikan Al-Qur’an

Pidato Pak Presiden tersebut mengindikasikan akan sinergisitas umara dan ulama yang begitu kuat. Mr. Presiden menyakini dengan sepenuh hati bahwa hanya dengan usaha bersama (ulama  dan pemerintah) cita-cita mempersiapakn generasi muda berkarakter kuat tersebut dapat tercapai. Seperti yang kita ketahui bersama arus informasi yang begitu dahsat dan massif tidak dapat membendung  virus budaya dari luar negeri yang tidak sejalan dengan budaya Indonesia. 

Menurut Jokowi Indonesia mempunyai budaya kesopanan, kesantuan, integritas, kejujuran, hormat pada ulama, para kiai, para ustadz, para gurunya, dan kepada sesamanya. Hal ini harus terus diperkuat melalui pendidikan yang ada di Indonesia mulai dari sekolah, madrasah, pondok pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Sebagai usaha ikut serta mensukseskan program PPK  tersebut, sebagai orang tua, hemat penulis perlu untuk aktif membina putra putri kita. Anak kita tidak sekedar menjadi tanggung jawab sekolah, pondok pesantren, orang tua sebagai pendidikan pertama dan utama harus menyadari akan pentingnya menanamkan pendidikan karakter yang disebutkan di atas. Dalam konteks inilah ada baiknya kita mencontoh kehidupan keluarga Luqman yang diabadikan dalam Al Quran QS Al Luqman ayat 13-19. 

HMI Tegal Kab

Dalam ayat-ayat tersebut disebutkan sedikitnya tujuh ajaran utama dan pertama yang patut kita renungkan dan implementasikan kepada putra-putri kita. Pertama adalah ajaran kepada putra putri kita tentang ketauhidan. Ajaran untuk tidak mempersekutukan Allah adalah langkah awal agar manusia dapat sukses hidup di dunia sampai di akherat. Karena sesungguhnya ilmu yang dimiliki manusia ini hanya oleh dan karena kehendak Allah SWT. Tidak ada daya dan upaya manusia selain kekuatan Allah SWT. Putra putri kita harus disadarkan akan hal itu dan ini menjadi pendidikan yang utama dan pertama. 

Berikutnya adalah pendidikan untuk berbakti dan menghormat kepada kedua orang tua. Luqman mengingatkan kepada anaknya bahwa ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka menghormat kepada kedua orang tua adalah bentuk syukur kepada Allah SWT dan kepada kedua orang tua. Tidak cukup hanya kepada orang tua, Luqman juga meminta kepada anaknya untuk berbuat baik kepada sesama meskipun hanya seberat biji sawi, niscaya Allah akan memberinya balasan berupa kebaikan juga. Jika pendidikan hormat kepada sesama ini berhasil maka radikalisme dan fundamentalisme atas dasar agama tidak akan terjadi. Karena manusia akan sadar bahwa keluarga terbentuk atas ikatan. Seluruh manusia ini adalah keluarga Karena terikat dalam penciptaan yang sama yaitu dari Allah SWT.

Selanjutnya, Luqman meminta anaknya untuk mendirikan shalat. Perintah mendirikan shalat ini disandingkan dengan perintah untuk selalu melakukan hal yang baik dan mencegah kemungkran. Shalat adalah tiang agama. Shalatlah yang menjaga hubungan manusia dengan Rabnya tetap tersambung. Shalat adalah kebutuhan hidup yang hakiki. Shalatlah yang merawat manusia istiqomah menjadi hamba dan mengantarkannya menjadi khalifah yang kuat. Pendidikan karakter akan kuat jika generasi muda mampu menjaga shalatnya. Jika generasi muda sudah lalai akan shalatnya maka karakter tidak akan dicapai.

Pesan Luqman berikutnya kepada anaknya adalah tidak bersikap sombong dan angkuh. Sombong dan angkuh bukanlah karakter manusia, melainkan karakter jin, ciptaan Allah dari api. Seperti yang kita ketahui, jin dikeluarkan dari surga-Nya karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap ciptaan Allah yang lain. Jin tidak patut ketika diminta sujud kapada Adam hanya karena dirinya merasa lebih baik dari Adam. Perasaan lebih baik inilah yang menjadi persoalan dan petaka kehidupan manusia. Tidak jarang kerusakan di muka bumi ini karena kesombongan dan keangkuhan manusia. Jika manusia sadar akan dirinya yang hina maka sombong dan angkuh tidak patut berada dalam dirinya.

Terakhir pesan Luqman adalah perintah untuk hidup sederhana dan melunakkan suara. Akhir-akhir ini kehidupan semakin hedon. Suka memamerkan kekayaan kepada manusia yang lain. Suara seringkali sudah tidak santun lagi. Suara bukan hanya apa yang keluar dari mulut manusia, tapi suara tulisan juga dalam katagori ini. Zaman hoax akhir-akhir ini mengindikasikan suara kita tidak lagi lunak. Ujaran kebencian kepada sesama seakan-akan hal mudah yang dilakukan manusia saat ini. Jika generasi muda kita tidak diajarin untuk melunakkan suara dalam artian hati-hati dalam membuat status atau tulisan dimedia sosial maka karakter yang kuat tersebut akan sulit dicapai.

HMI Tegal Kab

Inilah sejatinya yang menjadi pekerjaan rumah ulama dan umara dan kita semuanya. Mari berjuang bersama dalam program PPK  ini. Masa depan bangsa ini bergantung dari para generasi muda saat ini. Akhirnya ada baiknya kita renungkan lanjutan ayat dalam QS Al Luqman tersebut ayat 20 yang berbunyi: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang  membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.” Tidak ada keraguan untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat jika kita mampu menjalankan pendidikan karakter dalam kisah keluarga Luqman ini.





Penulis adalah Wakil Dekan III FKIP Unisma, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU HMI Tegal Kab

Senin, 08 Januari 2018

Sambangi KMNU UNUD, Sekjen Ingatkan Pentingnya Dakwah Virtual

Bali, HMI Tegal Kab. Perkembangan dunia teknologi informasi yang semakin pesat menuntut masyarakat untuk terus beradaptasi dengannya jika tidak ingin ketinggalan. Perkembangan teknologi informasi tersebut melaju begitu dahsyat termasuk sampai sendi-sendi agama.?

Kanal-kanal media sosial merupakan salah satu sarana penting dalam berdakwah. Hal tersebut tidak bisa dimungkiri sebab menurut beberapa survei dikatakan bahwa facebook misalnya merupakan ‘negara’ ketiga dengan penduduk terpadat di dunia. Pentingnya berdakwah dengan memanfaatkan teknologi tersebut disampaikan oleh Sekjen HA Helmy Faishal Zaini saat memberi pengarahan pada forum Harlah ke-2 KMNU Universitas Udayana Bali (9/10).

Sambangi KMNU UNUD, Sekjen Ingatkan Pentingnya Dakwah Virtual (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambangi KMNU UNUD, Sekjen Ingatkan Pentingnya Dakwah Virtual (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambangi KMNU UNUD, Sekjen Ingatkan Pentingnya Dakwah Virtual

Di hadapan mahasiswa-mahasiswi NU tersebut Sekjen menyampaikan bahwa anak muda harus melek teknologi. Dakwah harus memanfaatkan sarana teknologi. “Anak muda tidak boleh ketinggalan informasi. Anak muda harus pandai memanfaatkan teknologi, termasuk dalam berdakwah. Kreativitas dalam berdakwah dengan membuat konten-konten menarik dan segar pasti akan lebih membuat semarak keberagamaan kita menjadi sejuk dan juga indah,” jelas Sekjen. (Red: Fariz Alniezar)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, Meme Islam, Kajian Sunnah HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Minggu, 31 Desember 2017

Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi

Bandung, HMI Tegal Kab

Jalaluddin Rumi, seorang tokoh sufi berpengaruh di dunia Islam dilahirkan di Balkh (sekarang Afganistan) pada tahun 604 H/1207 M. Ia dikenal sangat piawai dalam pemikiran esoteriknya melalui ungkapan syair-syair yang indah. Pemikiran Rumi berbeda dari sebagian tokoh sufi lainya.

"Rumi itu sosok yang berbeda. Dia tidak punya aliran, dia tidak punya mazhab, dia tidak punya ajaran khusus tentang tasawuf. Disebut sufi karena dalam seluruh aspek kehidupannya senantiasa terjun pada dunia spiritual," kata Prof Muhtar Sholihin, Wakil Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dalam Seminar Internasional "The Beauty of Persian Peotries and The Teaching Of Islamic Mysticism of Maulana Jalaluddin Rumi" di gedung Aula Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati, Jalan AH Nasution, Bandung, Senin (24/2).

Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi

Pengurus LTNU Jawa Barat ini menambahkan bahwa dalam konteks pemahaman pemikiran, Rumi beserta kajian tasawuf dan filsafatnya lebih menyulitkan daripada memahami Ibnu Arobi dan Al Hallaj.

HMI Tegal Kab

"Kenapa demikian? Karena Rumi ini adalah seorang fiosofi dan filsufi yang pemahaman-pemahaman wihdatul wujudnya dan sebagainya dituangkan dalam karya sastra," tegasnya.

Sebuah contoh karya Jalaluddin Rumi adalah tentang penciptaan alam semesta ini yang dihubungkan dengan cinta, sebab katanya hal pertama yang di ciptakan oleh Tuhan adalah cinta.

HMI Tegal Kab

"Cinta adalah samudra (tak bertepi) tempat langit menjadi sekadar serpihan-serpihan busa, (mereka kacau balau) bagaikan perasaan Zulaikha yang menghasrati Yusuf," kata Prof Muhtar menyebutkan salah satu karya rumi tentang "Cinta Universal"

Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Bandung ini pun menjelaskan mengapa cinta digambarkan sebagai sebuah samudra yang tak bertepi dalam kata lain pengkiasan bumi, tetapi bumi yang kita pijaki ini adalah sebuah serpihan, karena bumi itu di ciptakan karena cinta.

"Jadi yang disebut hukum alam atau sunatullah itu adalah sebuah proses bergerak oleh cinta," jelasnya

Dalam perspektif Rumi, lanjutnya, dalam sebuah contoh, dua orang yang saling membenci, pada saat ketika bisa melakukan sikap saling membenci? Menurut pandangan Rumi kedua orang tersebut dilandasi karena cinta, sebab dibalik kebencian terdapat rasa sayang.

"Seperti dalam teori es, ketika berada pada titik 4 derajat Celcius menjadi sangat beku dan dingin, turun di titik 0 Celcius masih dingin, dan pada titik negatif ke bawah menjadi panas. Itu artinya karena bencinya kepada orang, itu menjadi cinta, maksud saya adalah kebencian itu ialah wujud cinta yang teramat cinta," imbuhnya

Acara seminar International yang bertajuk Keindahan sastra Persia dan tasawuf Maulana Jalaluddin Rumi ini diselenggarakan oleh Iranian Corner, nampak hadir pembicara Dr. Hujjatullah Ibrahimnion (Republik Islam Iran), Prof. Dr. Muhtar Sholihin M.Ag (Wakil Rektor II UIN Bandung), Bastian Zulyeno (Dosen Bahasa dan sastra Universitas Indonesia Jakarta), Dr. Ali Masrur M.Ag (Direktur Iranian Corner). Ratusan mahasiswa memadati Aula Fakultas Usuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Bakti Habibie/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, RMI NU, PonPes HMI Tegal Kab

Jumat, 29 Desember 2017

Nuansa Budaya Meriahkan Takbir Keliling IPNU-IPPNU

Jepara, HMI Tegal Kab . Pimpinan Ranting (PR) IPNU-IPPNU desa Petekeyan bekerja sama dengan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU MTs-MA NU Nahdlatul Fata desa Petekeyan kecamatan Tahunan kabupaten Jepara menyelenggarakan Takbir Keliling malam 1 Syawal 1435 H yang dilaksanakan Ahad (27/7) malam.

Nuansa Budaya Meriahkan Takbir Keliling IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Nuansa Budaya Meriahkan Takbir Keliling IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Nuansa Budaya Meriahkan Takbir Keliling IPNU-IPPNU

Tahun ini kegiatan yang sudah berjalan 10 kali ini akan mengusung tema Budaya. Dipilihnya tema tersebut menurut ketua panitia, Muhammad Damar Utomo lantaran untuk menyukseskan Petekeyan sebagai kampung sembada ukir.

“Jadi nuansa budaya yang kami usung misalnya peserta membuat miniatur ukir. Hal itu dalam rangka menyongsong desa swasembada ukir. Disamping itu peserta juga boleh mengangkat budaya Islami. Intinya bertema budaya,” jelas Utomo.

HMI Tegal Kab

Rencananya ada 30 peserta yang merupakan perwakilan tiap RT maupun Musholla se-desa Petekeyan.

Ia menambahkan kegiatan yang juga didukung Pimpinan Ranting (PR) NU Desa Petekeyan tersebut bertujuan menyiarkan agama Islam dengan takbir kemenangan. (Syaiful Mustaqim/Anam)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pahlawan, News, IMNU HMI Tegal Kab

Jumat, 22 Desember 2017

PP Lakpesdam NU Bedah “Pesantren Studies”

Jakarta, HMI Tegal Kab. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) mengadakan diskusi dan bedah buku "Pesantren Studies" karya Ahmad Baso di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (31/7). 

PP Lakpesdam NU Bedah “Pesantren Studies” (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Lakpesdam NU Bedah “Pesantren Studies” (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Lakpesdam NU Bedah “Pesantren Studies”

Ketua PP Lakpesdam Yahya Ma’sum saat membuka diskusi mengatakan, kegiatan diadakan untuk memberikan apresiasi kepada salah seorang pengurus PP Lakpesdam yang telah berhasil menyelesaikan salah satu dari buku tentang pesantren yang digagasnya. Ahmad Baso adalah Wakil Ketua PP Lakpesdam NU yang telah banyak menulis buku tentang NU dan pesantren.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj juga memberikan kata pengnatar dalam diskusi ini. Selain penulisnya, bedah buku menghadirkan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Nur Syam, dan pengamat pendidikan Dharmaningtyas..

HMI Tegal Kab

Buku yang ditulis Ahmad Baso tersebut salah satu dari sembilan seri Pesantren Studies yang direncakan. Isinya membahas pesantren, jaringan pengetahuan, dan karakter kosmopolitan-kebangsaannya. 

Seri ini terdiri dari tiga juz, yaitu Jaringan Pengetahuan Pesantren; Jaringan Teks Penulis dan Pembaca Pesantren, dan Pengetahuan dan Siyasah Pesantren Berhadapan Pengetahuan Kolonial .

HMI Tegal Kab

Menurut Dharmaningtyas , buku ini sangat lengkap membicarakan pesantren, “Saya mengikuti buku-buku pesantren. Menurut saya, buku ini adalah seri pesantren terbaik dalam 10 tahun ini, kata pengurus Taman Siswa itu.  

Karya Ahmad Baso ini, sambung Dharmaningtyas, harus diapresiasi bukan hanya dari segi pemasarannya, namun juga penghargaan terhadap penulisnya yang mendokumentasikan banyak hal terkait proses yang ada di pesantren selama ini. 

Bedah buku ini dimoderatori  Wakil Sekretaris Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Enceng Shobirin Najd. Hadir pada kesempatan itu sejumlah pengurus NU, lembaga, lajnah, dan banom di lingkungan PBNU, serta para aktivis NU dan akademisi perguruan tinggi.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis    : Abdullah Alawi 

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, Humor Islam, Olahraga HMI Tegal Kab

Selasa, 05 Desember 2017

Piala Presiden, IPNU Pamekasan Apresiasi Suporter Bawa Sajadah

Pamekasan, HMI Tegal Kab - Pengurus harian IPNU Pamekasan mengapresiasi imbauan Bupati Pamekasan Achmad Syafii supaya pendukung kesebelasan membawa sajadah ke stadion Gelora Ratu Pamelingan Pamekasan. Itu guna menjaga keutuhan shalat selama Piala Presiden 2017 bergulir.

"Apalagi Pemkab Pamekasan sudah membangun mushalla di area stadion. Itu sangat bagus dan mungkin satu-satunya stadion di Indonesia yang menjunjung tinggi religiusitas supporternya," kata Ketua IPNU Pamekasan Kadarisman, Rabu (8/2).

Piala Presiden, IPNU Pamekasan Apresiasi Suporter Bawa Sajadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Piala Presiden, IPNU Pamekasan Apresiasi Suporter Bawa Sajadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Piala Presiden, IPNU Pamekasan Apresiasi Suporter Bawa Sajadah

Kadarisman berharap, imbauan Bupati Syafii betul-betul diperhatikan oleh panitia pelaksana dan supporter. Dengan begitu, hiburan dunia berupa sepakbola tidak begitu mengganggu rutinitas ibadah.

Ia mengatakan, Kabupaten Pamekasan layak menjadi salah satu tuan rumah Piala Presiden 2017. Terdapat 4 tim yang bersaing di grup E di stadion Gelora Ratu Pamelingan Pamekasan: Madura United FC sebagai tuan rumah, Semen Padang FC, PSCS Cilacap, dan Perseru Serui.

HMI Tegal Kab

Pertandingan pertama berlangsung pada Rabu (8/2) sore pukul 15.00 WIB yang mempertemukan Perseru Serui melawan PSCS Cilacap. Pukul 18.30 berikutnya, Madura United menjamu Semen Padang di stadion yang diklaim berkapasitas 35.000 penonton.

"Imbauan bupati sudah kami sambungkan ke pimpinan 4 Suporter Madura Bersatu dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Yaitu, Taretan Dhibik, Trunojoyo Mania, Peccot Mania, dan K-ConK Mania," kata Ketua Panitia Muhammad Alwi. (Hairul Anam/Alhafiz K)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pendidikan, IMNU HMI Tegal Kab

Senin, 04 Desember 2017

Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU

Jakarta, HMI Tegal Kab. Menurut Asia Development Bank (ADB), kelas menengah adalah mereka yang memiliki pengeluaran dua hingga dua puluh dollar Amerika atau dua puluh tujuh ribu hingga dua ratus tujuh puluh ribu rupiah per kapita per hari.

Berdasarkan data BCG tahun 2012, jumlah kelas menengah di Indonesia adalah tujuh puluh empat juta. Bahkan, ada yang menyebut kalau jumlah kelas menengah Indonesia adalah seratus empat puluh satu juta.

Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU

Sedangkan muslim adalah mereka yang memeluk agama Islam dan mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan Islam. Maka dengan demikian, kelas menengah muslim adalah mereka yang memiliki daya beli dan juga memiliki tingkat religiusitas yang tinggi.

Beberapa waktu lalu, Alvara Research Center melakukan survei terhadap kalangan muslim kelas menengah. Dalam survei tersebut ditemukan fakta bahwa mayoritas kelas menengah muslim tersebut dekat dan berafiliasi dengan ormas Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. 

HMI Tegal Kab

Dengan masing-masing prosetase 40,6 persen mengaku berafiliasi terhadap NU dan 20,7 persen mengaku menjadi anggota NU. Sedangkan 13,3 persen berafiliasi dengan Muhammadiyah dan 7,8 persen responden mengaku sebagai anggotanya. 

Namun yang menarik adalah kelas menengah muslim yang mayoritas NU dan Muhammadiyah tersebut sebagian besar tidak menyalurkan dermanya ke lembaga amil zakat dua ormas tersebut. Lalu, ke lembaga mana mereka berderma?  

CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali menjelaskan, sebetulnya kelas menengah muslim itu ringan tangan dalam berderma. Umumnya, mereka memiliki pendapatan dan jiwa sosial keagamaan yang tinggi. Maka dari itu, mereka tidak segan-segan untuk membantu sesama saudaranya yang seiman yang memang membutuhkan.

Hasil riset menunjukkan bahwa dari 1200 responden atau 100 persen menyatakan pernah menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui musholla, 40,5 persen menyalurkan langsung kepada yang membutuhkan, dan 20,9 persen pernah menyalurkan melalui lembaga zakat.

“Dari 20 persen kelas menengah yang menyatakan pernah menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui LAZIS mereka menyatakan menyalurkannya melalui Dompet Dhuafa 31,5 persen, Rumah Zakat 23,9 persen, dan Rumah Yatim 12,7 persen,” kata Hasan usai menyampaikan rilis hasil survei di Jakarta, Senin (23/10).

HMI Tegal Kab

Dengan demikian, jika menyebut lembaga amil zakat di kalangan kelas menengah muslim, maka yang paling diingat adalah Dhompet Dhuafa dan Rumah Zakat. Hal disebabkan karena dua lembaga amil zakat tersebut merupakan pelopor dalam transformasi lembaga zakat dengan pengelolaan yang profesional dan modern.

“Mayoritas NU dan Muhammadiyah, tapi mereka tidak meyalurkan zakatnya (infak dan sedekah) ke LAZISNU atau LAZISMU,” tandas Hasan. (Muchlishon Rochmat/Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah, IMNU HMI Tegal Kab

Selasa, 28 November 2017

MUI dan Depsos Akan Tertibkan Kuis SMS

Jakarta, HMI Tegal Kab. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Departemen Sosial (Depsos) akan menyatukan persepsi tentang tayangan pesan singkat (SMS) berhadiah di televisi yang dianggap haram agar segera dilakukan penertiban terhadap operator SMS tersebut.

"Besok (5/9), MUI dan Depsos akan bertemu membahas Fatwa haram SMS berhadiah di TV," kata Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin, di Jakarta, Senin, menindaklanjuti fatwa haram MUI terhadap SMS berhadiah yang marak di Stasiun TV.

Menurut , Kiai Maruf, pertemuan tersebut untuk menyamakan persepsi diantara dua institusi tersebut terkait tayangan SMS di TV yang mengandung unsur judi.

MUI dan Depsos Akan Tertibkan Kuis SMS (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI dan Depsos Akan Tertibkan Kuis SMS (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI dan Depsos Akan Tertibkan Kuis SMS

Selain itu, dari pertemuan tersebut juga diharapkan dihasilkan kesepakatan terkait kriteria SMS yang mengandung unsur judi untuk kemudian dijadikan dasar dalam penertibannya.

Sementara MUI, menurut Rais Syuriah PBNU itu, tidak memiliki kewenangan untuk menertibkan SMS berhadiah tersebut, walaupun Komisi B Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia telah menyatakan bahwa SMS berhadiah tersebut haram hukumnya.

"Dengan adanya pertemuan dan penyatuan persepsi, kami minta Depsos sebagai lembaga pemerintah yang berwenang menertibkan (SMS berhadiah-red) segera bertindak," kata Kiai Maruf.

HMI Tegal Kab

Sebelumnya Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menyatakan bahwa PT Infokom Elektrindo (EI), penyedia kuis SMS premium 6288, baru akan menarik produknya itu apabila sudah ada surat keputusan Menteri Sosial.

Walaupun demikian, kata anggota BRTI Heru Sutadi, pihak PT EI telah menyatakan kesediaannya menghentikan layanan SMS tersebut.

"Mereka (Infokom) telah mengirim surat ke BRTI, mengenai kesediaan menghentikan layanan SMS itu," katanya.

HMI Tegal Kab

PT Infokom bekerjasama dengan operator telekomunikasi menyelenggarakan layanan kuis di media televisi yaitu, Goyang Pol ditanyangkan di RCTI, Klop dan Kira-kira (Global TV), dan Iseng-Iseng (TPI), yang diduga banyak kalangan, mengandung unsur judi. (ant/din)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU HMI Tegal Kab

Minggu, 26 November 2017

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng

Kudus, HMI Tegal Kab. Kejuaraan Daerah (Kejurda) II  Pagar Nusa Jateng-DIY Yogyakarta di pesantren Azzuhri, Semarang (11-14/1), menobatkan kontingen Kudus sebagai juara umum. Mengungguli daerah lain, Pagar Nusa Kudus mengantongi  14 emas, 3 perak, dan 3 perunggu.

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Kudus Raih Juara Umum Kejurda Pagar Nusa Jateng

Dari daftar hasil Kejurda yang dirilis panitia, kontingen Kudus sangat mendominasi pada kategori remaja dengan meraih 10 emas, 1 perak, 2 perunggu. Sedangkan sisanya diperoleh dari kategori dewasa 4 emas dan 2 perak. Satu perunggu diraih pada semua kelas.

Bahkan, salah satu pesilat Kudus Arum Maharani memperoleh predikat pesilat putri terbaik kategori remaja.

HMI Tegal Kab

Wakil Ketua Pagar Nusa Kudus Miftah Baidhowi mengatakan. hasil juara umum yang diraih merupakan hasil kerja keras kesungguhan, keseriusan, dan kebersamaan antara atlet dan pelatih dalam menghadapi ajang bergengsi itu.

HMI Tegal Kab

“Saya bangga anak-anak mampu menjaga diri baik kondisi maupun mental sehingga meraih prestasi luar biasa,” terang Miftah kepada HMI Tegal Kab di sela-sela porseni IPNU-IPPNU Kudus, Selasa (14/1).

Menghadapi kejurda ini, Pagar Nusa Kudus mempersiapkan sejak dini dengan menggembleng setiap hari latihan serius di kantor NU Kudus.

Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi mengapresiasi hasil yang diraih Pagar Nusa. Prestasi ini, menurutnya, harus dijaga dan dilanjutkan melalui konsistensi latihan dan kedisiplinan.

“Yang lebih penting lagi, Pagar Nusa harus mampu menjadi benteng Aswaja, NU dan para kiai. Termasuk pula Pagar Nusa harus istiqomah mengembangkan diri untuk menjadi lebih besar memasyarakat di kalangan nahdliyyin,” harapnya kepada HMI Tegal Kab.

Setelah Kudus, peraih juara umum kedua dan ketiga pada kejurda yang diikuti 236 atlet wiralaba dan 23 kontingen seni jurus ini adalah kontingen Pagar Nusa Demak dengan 3 emas, 6 perak, 8 perunggu dan Pati 2 emas, 3 perak, dan 4 perunggu. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Berita, Nahdlatul Ulama, IMNU HMI Tegal Kab

Sabtu, 11 November 2017

Fatayat NU Maroko Gelar Kajian Kewanitaan

Kenitra, HMI Tegal Kab. Perempuan berdaya adalah perempuan yang tidak hanya memenuhi takdir feminitasnya. Ia juga memiliki sisi maskulin yang membuatnya sanggup menjalankan banyak peran sekaligus, baik dalam kehidupan keluarga, dunia akademik, dan kemasyarakatan secara luas.

Fatayat NU Maroko Gelar Kajian Kewanitaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Maroko Gelar Kajian Kewanitaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Maroko Gelar Kajian Kewanitaan

Hal ini muncuat dalam disukusi seputar kewanitaan yang digelar Pimpinan Cabang Istimewa Fatayat Nahdlatul Ulama Maroko dalam rangka memperingati tahun baru hijriah 1436 H di griya STAINU Kenitra, Ahad (26/10). Acara ini menghadirkan mahasiswi doktoral di Universitas Moulay Ismail Meknes Maroko, Subi Nur Isnaini.

Isna menyampaikan tentang bagaimana seorang perempuan mampu menjalankan banyak peran mulai dari ibu rumah tangga, istri, ibu, mahasiswi, dan orang yang berperan aktif di lingkup sosial.

HMI Tegal Kab

Isna yang sedang menunggu kelahiran anak kedua ini meraih gelar masternya di Universitas Sidi Mohamed Ben Abdillah Fes Maroko dalam kurun waktu kurang 2, tahun saat mengandung anak pertama. Dan sebelum mengenyam pendidikan tinggi di Maroko, ia adalah sarjana lulusan Universitas Al Azhar sekaligus aktivis Fatayat PCINU Mesir.

HMI Tegal Kab

Dalam kesempatan diskusi kali ini, Isna berbagi pengalaman dan kiat kepada para mahasiswi dan mahasiswa perihal takdir feminitas perempuan dan usaha menampilkan ruh maskulin dalam berbagai aspek kehidupan, seperti keluarga, akademik, dan sosial.

Diskusi yang dimoderatori Ketua Fatayat NU Maroko Sarah Lathoiful Isyaroh kali ini juga menghadirkan dosen pengajar bahasa Indonesia di Maroko, Marmuah.

Menurutnya, ada dua faktor penting perempuan dapat memberdayakan dirinya sendiri. Marmuah menyebut faktor internal dari perempuan adalah penentu garis takdir yang akan dihadapinya, selain faktor eksternal yang juga tak kalah penting dalam rangka meneguhkan langkah.

"Faktor internal yang dimaksud adalah kemauan, usaha, dan doa. Seorang perempuan harus memiliki kemauan untuk mengubah nasib dirinya dan orang sekelilingnya menuju ke arah yang lebih baik. Dalam rangka mengimplementasikan apa yang diinginkan maka seorang perempuan mesti melakukan langkah konkret untuk mencapai tujuannya,” tuturnya.

Faktor eksternal pun tak kalah penting. Dukungan seorang suami yang mampu mengerti cita-cita mulia seorang istri dalam pendidikan menjadi kunci dari semua hal yang akan dijalani. Jika restu dari suami tak didapatkan, maka tak akan ada apa-apa kecuali angan-angan yang tak kunjung mengkristal.

Dalam kesempatan ini, ibu Marmuah menambahkan bahwa dalam hal berkeluarga, seorang perempuan harus menjadi ibu yang cerdas, jujur dan terbuka bagi anak-anaknya agar mampu menjadi teladan yang baik bagi pendidikan dan perilaku anak-anaknya ke depan.

Pada penghujung acara Ketua Fatayat NU Maroko menyerahkan sertifikat kepada narasumber kemudian dilanjutkan dengan foto bersama. Turut hadir Wakil Rais Syuriah PCINU Maroko H. Ali Syahbana, Ketua Tanfidziyah PCINU Maroko Kusnadi El Ghezwa, anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko, dan sejumlah staf KBRI Rabat. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, Sejarah, Hikmah HMI Tegal Kab

Senin, 30 Oktober 2017

Ini Pesan Ketum PBNU kepada Dubes Indonesia untuk Aljazair

Jakarta, HMI Tegal Kab

Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj mengungkapkan rasa bangganya atas terpilihnya Hj Safira Machrusah, tokoh wanita NU, sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Demokratik Rakyat Aljazair.

Hal itu disampaikan saat Kang Said saat memberikan pidato sambutan sekaligus pembekalan kepada Hj Safira Machrusah, Sabtu (27/2/2016) di Gedung PBNU Jakarta Pusat.

Ini Pesan Ketum PBNU kepada Dubes Indonesia untuk Aljazair (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Ketum PBNU kepada Dubes Indonesia untuk Aljazair (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Ketum PBNU kepada Dubes Indonesia untuk Aljazair

Kang Said berharap agar Safira dapat membangun hubungan antara Indonesia dengan Aljazair. Apalagi kedua negara tersebut sama-sama memiliki jumlah penduduk Islam yang besar. Beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang belajar di Aljazair juga dapat dirintis.?

Menurut Kang Said, mahasiswa Indonesia yang berada di negara yang orang Indonesia-nya sedikit, itu lebih bagus. Kang Said mengatakan bahwa di Mesir, misalnya ada sekitar 3000-an mahasiswa Indonesia. ? “Tetapi, bahasa Arab-nya tidak bisa karena sama-sama dari Indonesia, akhirnya lebih banyak memakai Bahasa Indoenesia,” tutur Kang Said.?

“Di Cairo, Bahasa Arab mahasiswa Indonesia juga mentah karena mereka hidup mengelompok,” tambah Kang Said.

HMI Tegal Kab

Kepada Safira yang sering dipanggil Mbak Rosa, Kang Said juga mengharapkan supaya dapat mempromosikan pariwisata Indonesia bagi masyarakat Aljazair. “Nanti (di Kedutaan Besar Indonesia di Aljazair) bisa diperbanyak foto-foto pegunungan, pantai, atau air terjun yang ada di Indonesia,” ungkap Kang Said.

Kang Said mengingatkan bahwa warga Aljazair suka makan daging kambing. Ini bisa membahayakan bagi kesehatan, karena konsumsi daging kambing yang berlebihan dan kurang olahraga, dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah.?

“Selamat bertugas. Semoga Mbak Rosa diberi kekuatan dan mendapatkan ketenangan, dapat membangun pertemanan yang baik. Jaga kesehatan. Jangan makan (daging) kambing terus,” kata Kang Said di akhir sambutannya yang disusul tepuk tangan hadirin. (Kendi Setiawan/Fathoni)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, Aswaja HMI Tegal Kab

Jumat, 27 Oktober 2017

Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana

Jakarta, HMI Tegal Kab. Pengurus Pusat Lembaga Penanunggalan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) peluncuran program “Peningkatan Kapasitas dalam Kesiapsiagaan Bencana untuk Respon yang Cepat dan Efektif” di Gedung PBNU Lantai 5 Jakarta Pusat, Selasa (14/6) sore.

Ketua LPBINU M Ali Yusuf memaparkan, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama tahun 2015 menunjukkan dari jumlah kejadian, jumlah korban dan kerugian yang disebabkan longsor merupakan yang pertama, disusul banjir, dan puting beliung.?

BNPB juga menyebut ada lebih dari 1.500 bencana terjadi di Indonesia dan menyebabkan lebih dari 240 korban jiwa serta lebih dari 837 ribu orang mengungsi, serta kerugian material yang sangat besar.

Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana

Pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya termasuk masyarakat telah melakukan berbagai hal. Namun, penanggulangan bencana khususnya tanggap darurat bencana dirasakan belum maksimal. Banyaknya kejadian bencana yang terjadi belum dapat ditangani secara cepat, kurang efektif dan masih berdampak besar. Hal tersebut disebabkan di antaranya oleh minimnya kompetensi pemangku kepentingan. Tidak adanya sistem tanggap darurat bencana yang efektif yang dapat digunakan dalam aktivitas respon darurat, kurangnya koordinasi antara pemangku kepentingan, dan kurangnya korelasi antara kegiatan kesiapsiagaan dengan implementasi pada saat tanggap darurat.

Oleh karena itu, sambung Ali, Nahdlatul Ulama melalui LPBINU bekerjasama dengan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) akan melaksanakan program “Mendukung Pemerintah dan Masyarakat Lokal untuk Meningkatkan Kapasitas dalam Kesiapsiagaan Bencana untuk Respon Bencana yang Cepat dan Efektif (SLOGAN-STEADY)”.

HMI Tegal Kab

Tujuan umum dari program ini adalah untuk mengelola risiko dan dampak bencana melalui penguatan kapasitas kesiapsiagaan dan respon bencana. Upaya kesiapsiagaan bencana dibutuhkan untuk memastikan sistem dan prosedur dapat diimplementasikan. Kemudian sumber daya siap dimobilisasi secepat mungkin demi efektifitas kegiatan pemberian bantuan sehingga mempermudah tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi agar risiko dan dampak bencana dapat diminimalkan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ani Isgiyati dari BNPB, Natalie Cohen ? dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, Bina Suhendra ? dan Sultonul Huda dari PBNU. (Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab IMNU, Pendidikan HMI Tegal Kab

12 Jam Bersama Ketua NU Magelang

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun



Orang itu sudah aku kenal sebelumnya. Sore itu, aku kembali bertemu dengannya di Sekretariat Panitia Pengkaderan NU dan Banom di Sutoragan, Kemiri, Purworejo. Namanya Pak Mahsun. Lengkapnya adalah Dr Kiai Mahsun SAg MAg. Kami pun kemudian berdiskusi seputar NU dan problematika Indonesia. Selain sebagai dosen dan ketua tanfidziyah PCNU Kabupaten Magelang, kini ia juga dipercaya masyarakat memimpin pesantren serta ceramah kemana-mana.

12 Jam Bersama Ketua NU Magelang (Sumber Gambar : Nu Online)
12 Jam Bersama Ketua NU Magelang (Sumber Gambar : Nu Online)

12 Jam Bersama Ketua NU Magelang

Sampai malam, usai mengisi materi, kami diskusi hangat dengan ditemani tempe goreng, arem-arem, kopi dan rokok. Progres dan problem ke-NU-an menjadi bahasan pertama kami. Lalu dengan panjang lebar kami diskusi soal kepemimpinan nasional dan masa transisi Orde Baru menuju Reformasi. Setelah itu, ideologi komunis dan pengadilan “abal-abal” internasional di Belanda yang membela PKI atas kedok HAM di negeri yang dulu menjajah itu, menjadi topik hangat kami, sampai pukul 11.00 malam. Sampai di situ, aku mengeluh belum mendapatkan buku Benturan NU-PKI 1948-1965, terbitan sekaligus sikap resmi PBNU atas peristiwa berdarah yang mengerikan itu.

HMI Tegal Kab

“Aku punya buku itu,” ungkapnya. “Berapa, Pak?”, sahutku. “Dua”, jawabnya. “Satu buat saya, Pak!”. “Boleh, asalkan kamu main ke rumah, nanti jam 23.30 saya pulang, ikutlah sekalian.” “Siap, Pak”jawabku dengan semangat.

Mobil meluncur dengan cepat, menembus kegelapan malam, menuju kota Magelang. Sampai di kediamannya, aku langsung dikasih buku itu. Kubaca selembar demi selembar, sampai kumandang adzan memecah kesunyian. Usai shalat berjamaah kembali kubaca, di sudut rumah samping pesantren yang baru akan di cor itu, sampai matahari tergelincir menghapus embun-embun dalam ujung daun-daun.

Usai shalat Subuh, Pak Mahsun membacakan Tafsir Shawy di beranda masjid kepada jamaahnya. Kemudian ia pindah ke ruang tamu rumahnya, membacakan kitab untuk santri-santrinya. Sambil membaca buku itu, sayup-sayup kudengar pengajian di pagi itu. Pak Mahsun membacakan pengakuan Imam Besar Ahmad Bin Hanbal (Imam Hambali): bahwa ia bisa seperti itu karena setiap kali menerima ilmu baru selalu mengucapkan Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah. Kemudian, Pak Mahsun mengajak santri-santrinya untuk meniru apa yang dialami oleh salah satu Imam Madzhab yang dianut NU itu. Para santri mencatat dan menyimak dengan seksama, sampai selesai.

HMI Tegal Kab

Kemudian, ia memberi pengumuman: “Besok Ahad kita akan ada pengecoran. Jadi, tolong kabarkan kepada bapak-bapak kalian, yang bisa membantu agar membantu proses pengecoran. Yang kerja atau tidak bisa, tidak usah ikut tidak apa-apa.” Kemudian pertemuan diakhiri.

“Ayo, minum dan sarapan dulu, nanti langsung ke kantor PCNU, ada Pengajian Rutin Ahad Pagi,” ucap Pak Mahsun kepadaku. “Siap, Pak” sahutku, yang masih membaca buku putih Benturan NU-PKI itu. Pagi itu, aku sudah membaca hampir setengah dari tebal buku. Kami pun, minum dan makan sambil bercengkerama.

Perjalanan dimulai, menuju kantor NU Magelang. Sepanjang perjalanan, kami tak henti ngobrol berbagai hal, soal ilmu dan kehidupan.

Di depan kantor yang cukup megah bercat hijau itu, para Banser sudah sibuk mengatur lalu-lintas menyeberangkan para jamaah pengajian yang lalu lalang dijalan. Kami turun dari mobil. Kuantarkan Pak Mahsun memasuki Aula, lalu aku pergi untuk menyendiri ke lantai dua. Terdengar, gemuruh shalawat menggema menyambut Pak Mahsun. Kehadirannya begitu ditunggu oleh jamaahnya, warga Nahdliyyin yang menyambut pemimpinnya.

Ketika aku menyendiri itu, seorang Banser tua yang tadi bertugas di depan, menyambangiku: duduk di dekatku yang tengah larut dalam buku. Kemudian kami berkenalan dan terlibat dalam obrolan panjang. Ia mengaku sudah 30 tahun lebih menjadi Banser, dan masih aktif sampai hari ini, disaat kebanyakan temannya sudah pensiun dimakan usia atau meninggal dunia. Selain aktiv di Banser, ia adalah pensiunan perangkat desa: seorang kadus. Ia mengaku, menjadi Banser adalah kebanggaan, passion dan panggilan hati. Ia merasa ada sesuatu yang menenteramkan saat memakai seragam Banser: mengamankan pengajian orang NU, khususnya para kiai penerus risalah Kanjeng Nabi.

Ia juga bercerita pengalamannya dalam ambil bagian menjadi Pasukan Berani Mati ketika dulu almarhum KH Abdurrahman Wahid akan dilengserkan dari kursi Presiden oleh Amin Rais.

"Sebelumnya kami dilatih, digembleng dan di isi. Lalu, dengan bus kami diberangkatkan ke Jakarta. Kebanyakan, waktu itu adalah banser dari Kedu khususnya Magelang dan dari Kediri"ungkapnya sambil menerawang jauh kebelakang.

"Bagaimana perasaan njenengan, Pak? Apa benar-benar siap perang dan mati?"sahutku, yang salut dengan keberanian dan pertaruhan itu.

"Kami saman wa thoatan, siap sedia untuk NU dan para kiai, Mas. Apalagi waktu itu, suasana politik benar-benar panas, kami sudah siap dengan segala kemungkinan dan resiko. Rencanya, operasi akan dilakukan jam dua pagi sampai empat pagi: hanya dua jam dan bersih, setelah itu kami pergi. Kami sudah punya daftar siapa saja yang perlu "diamankan" dan ditindaklanjuti di dinihari itu. Namun, ketika kami sudah berkobar hatinya, siap perang, siap mati, Gus Dur menelfon Mbah Wongso yang saat itu menjadi Koordinator Pasukan Berani Mati. Sedikitnya, 3000 pasukan Banser di malam itu juga sedang bergerak di pantai utara dari Jawa Timur, menuju Jakarta. Dalam telfon, Gus Dur berbicara langsung kepada Mbah Wongso:

"Sudah, Mbah, jangan teruskan. Jangan sampai ada setetes darah pun terjatuh membasahi bumi pertiwi ini karena perang saudara. Di dunia ini tak ada jabatan yang layak diperjuangkan secara mati-matian"

Koordinator Banser yang gagah berani itu, seketika lemas, tak berdaya. Ia menangis. Yah, air matanya bercucuran dengan deras membasahi bajunya. Ia terharu, betapa luasnya hati seorang Gus Dur, melebihi luas samudera. Dikala pasukan dan pembelanya siap membela mati-matian untuknya, beliau malah mengalah, menghindari pertumpahan darah. Gus Dur pun keluar dari istana tidak dengan jas kebesaran, namun celana pendek dan kaos oblong; sebuah "penghinaan" atau peremehan Gus Dur atas kekuasaan. Juga, agar rivalnya menertawakannya, dingin hatinya, tidak marah dengan senyum sinis melihatnya keluar dari Istana.

Kemudian perbincangan terhenti, seiring dengan selesainya Pengajian Rutin Ahad Pagi di kantor PCNU Magelang yang ada di Jalan Magelang-Jogja itu. Sang Banser keluar, aku mengikuti dibelakangnya.

Jamaah yang rata-rata ibu-ibu itu, bagai lebah yang keluar dari sarangnya. Beberapa angkot telah menunggu diluar, menjaring kesempatan rizki tiba. Di depan jalan, kulihat seorang nenek kurus dengan dagangan di tas besarnya, berlari kedalam Aula. Setelah kuperhatikan, ternyata ia memasukkan uang ke kotak infaq. Tak lama berselang, ia kembali dan melayani para pembeli, yang semuanya para jamaah pengajian tadi. Kuperhatikan lagi, ternyata yang dijual oleh nenek dengan rok jarit batik dan baju Jawa serta kerudung lusuh itu, adalah remukan atau rontokan gorengan. Remukan gorengan itu dibungkus dalam plastik putih ukuran sedang. Meski “hanya” remukan yang ia dagangkan, usai pengajian para jamaah terlihat menyerbu. Mungkin sudah menjadi pelanggannya. Mungkin juga berkah berlipat atas uang infaq-sedekahnya.

Aku menjemput Pak Mahsun. Kamipun pergi menuju jalan raya, bersama dengan ribuan kendaraan-kendaraan yang meraung raung lainnya, ditengah panasnya kota.

"Tadi sebenarnya mau udahan ngajiannya. Namun, saya lihat ada ibu-ibu baru datang menjajakan jualannya. Ibu itu muter dan belum selesai. Saya teruskan saja pengajiannya, sambil menunggu ibu muda itu menawarkan dagangan dengan senyap kepada jamaah ditengah pengajian" Pak Mahsun membuka, sekaligus mengajariku salahsatu cara membantu sesama.

"Kita tidak langsung pulang dulu. Saya tadi diminta mampir di kediaman KH Nawawi, ia koordinator Pengajian Rutin Ahad Pagi ini", lanjutnya. "Siap, Pak" jawabku.

Kemudian kami sampai di kediaman KH Nawawi. Di depan rumahnya tertulis sebuah spanduk: “Pengajian Ahad Pagi Persaudaraan Jamaah Haji Srumbung Magelang”. Kami disilakan masuk. Aneka makanan dan minuman telah berderet manis di sana. Aku sungkem dengan kiai tua itu. Kemudian ia menyuruh kami makan, sebelum para jamaah haji yang berkumpul itu makan. “Kebetulan sekali, perutku sudah mulai keroncongan” gumamku dalam hati. Tanpa basa-basi, aku mengikuti langkah Pak Mahsun, menuju jamuan itu. Gurameh-gurameh besar tersaji, dengan aneka sayur, pecel dan tentunya nasi.

KH Nawawi memberikanku bungkusan plastik hitam berisi aneka makanan khas pribumi Jawa: peyek, klepon, agar-agar dan jajanan pasar. Sementara menunggu Pak Mahsun selesai ceramah, kubawa bungkusan itu ke mobil, sekalian ngadem di AC sambil menikmati lagu Iwan Fals.

Pengajian usai. Kami bergerak pulang. Aku hendak pamitan, untuk melanjutkan perjalanan menuju Tegal, mengisi Lakut, sebuah pengkaderan tingkat akhir di IPNU-IPPNU. Namun, Ibu dr Ma’shumah, istri Pak Mahsun, mencegahku dan mengajak untuk pergi bersama ke pusat buah durian. Aku tak kuasa dan tak dapat menyia-nyiakan kesempatan.

Bersama keluarga Pak Mahsun, aku pergi ke sebuah desa di Lereng Gunung Merapi. Di dalam sebuah rumah sedrhana itu, berjejer durian yang siap untuk dinikmati. Sang tuan rumah dengan penuh kejutan datang dari dalam, membawa lima durian sebesar helm SNI. Kami menikmatinya, memakan hasil bumi yang kemungkinan besar ditanam oleh orang tua penjualnya.

Usai pesta kecil-kecilan itu, kami pun pulang, membawa dua kardus durian. Dua kardus itu adalah hadiah yang disediakan oleh Ibu dr Ma’shumah untuk menjamu para teman lamanya semasa SMA, yang akan reunian di rumahnya. Sampai di Terminal Magelang, aku pamit turun untuk melanjutkan perjalanan, dengan tidak lupa mengucap terima kasih kepada kiai pakar ushul fiqh yang begitu baik, cerdas dan penuh perhatian itu. Akupun melanjutkan perjalanan, sambil meneteng buku yang bisa membenarkan kesalahpahaman orang dan bahkan kader muda NU sendiri, yang agak dan sok ke kiri-kirian itu.

Kantor PCNU Kabupaten Tegal, 02 Februari 2016

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Bahtsul Masail, Humor Islam, IMNU HMI Tegal Kab

Sabtu, 21 Oktober 2017

BI Belum Optimal Dorong Pembangunan Nasional

Jakarta, HMI Tegal Kab. Bank Indonesia (BI) dinilai belum bisa mendorong aktivitas ekonomi secara optimal. Tujuan dan kebijakannya masih tidak selaras dengan kepentingan pembangunan nasional.

BI Belum Optimal Dorong Pembangunan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
BI Belum Optimal Dorong Pembangunan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

BI Belum Optimal Dorong Pembangunan Nasional

Demikian asumsi pokok Komisi Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Qanuniyah dalam penetapan pembahasan UU No. 3 tahun 2004 tentang Bank Indonesia pada Munas dan Konbes NU 2012 di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, 14-17 Septermber nanti.

Komisi yang fokus pada perundang-undangan ini sedikitnya akan mempermasalahkan empat ayat yang tersebar di beberapa pasal berbeda. “Pasal-pasal yang akan dikaji antara lain, Pasal 4 ayat 2, Pasal 7 ayat 1, Pasal 41 ayat 1, Pasal 62 ayat 1,” jelas Sekretaris Komisi Sarmidi Husna, Senin (10/9), di Jakarta.

HMI Tegal Kab

Dalam forum yang dihadiri ratusan kiai itu, NU di antaranya akan mempertanyakan independensi BI yang terlalu liberal. Akibatnya, BI selalu mengacu pada hukum pasar yang dikendalikan oleh modal besar. 

“BI juga dianggap hanya mementingkan pertumbuhan makro ekonomi, tidak mendorong tersedianya modal bagi anak bangsa, perbankan nasional, dan tidak mendorong sektor riil,” ujarnya.

HMI Tegal Kab

PBNU berharap, setelah Munas dan Konbes NU nanti, kebijakan BI lebih berorientasi pada penguatan ekonomi nasional dan ekonomi kerakyatan. “Terutama penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja melalui pengembangan UMKM,” pungkasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote, Tokoh, IMNU HMI Tegal Kab

Minggu, 01 Oktober 2017

PBNU Tak Menolak RUU Ormas

Jakarta, HMI Tegal Kab. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak menolak RUU Ormas yang segera disahkan oleh DPR RI. Namun karena terdapat sejumlah pasal yang dinilai harus dirumuskan ulang, PBNU meminta pengesahan RUU ini ditunda.

PBNU Tak Menolak RUU Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tak Menolak RUU Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tak Menolak RUU Ormas

Demikian ditegaskan Wakil Sekjen PBNU Abdul Munim DZ kepada HMI Tegal Kab, Jum’at (5/3) terkait beredarnya isu yang menyebutkan PBNU menolak RUU Ormas.

Menurutnya, dalam konferensi pers di kantor PBNU Kamis (4/3) kemarin PBNU hanya meminta pengesahan RUU Ormas oleh DPR RI yang sebelumnya dijadwalkan pekan depan, untuk segera ditunda.

HMI Tegal Kab

“Dalam hal ini PBNU telah menyampaikan sejumlah catatan dan meminta beberapa poin dalam RUU Ormas itu dirumuskan ulang terlebih dahulu,” katanya.

Sementara itu Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Said Ali dalam konferensi pers kemarin mengatakan, NU menginginkan substansi RUU ini ditinjau kembali. Pengesahan RUU Ormas menjadi UU Ormas bila dipaksakan sesuai jadwal semula, dikhawatirkan akan menimbulkan sejumlah dampak negatif.

HMI Tegal Kab

"Permintaan ini kami sampaikan untuk menghindari berbagai dampak negatif yang bisa ditimbulkan dari pengesahan RUU tersebut," kata Asad didampingi Sekjen PBNU H. Marsudi Syuhud, Ketua PBNU Imam Azis, Wakil Sekjend PBNU H Abdul Munim DZ, dan Adnan Anwar.

PBNU tetap menghargai langkah Pemerintah dan DPR yang telah menyempurnakan UU No 8 tahun 1985 tentang Ormas. Tapi ada sejumlah pasal yang harus dirumuskan ulang, seperti pengertian Ormas dalam RUU yang masih general.

"RUU ini belum melihat sejarah, peran, dan kontribusi Ormas seperti NU, Muhammadiyah, Perti, Nahdlatul Waton, Alkhairat, Syarikat Islam, dan masih banyak lainnya yang ada sebelum negara ini berdiri," tegas Asad.

Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud menambahkan, Ormas-ormas di Indonesia merupakan jangkar negara Kesatuan Republik Indponesia (NKRI). “Banyak negara yang hancur karena tidak ditopang ormas,” katanya.

Selain pasal substansi Ormas, yang juga harus dirumuskan ulang terkait pembedaan antara yayasan, perkumpulkan dan Ormas yang sudah lama berdiri, yang kontribusinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak ditemukan selain di Indonesia.

Lebih jauh PBNU juga keberatan dengan beberapa pasal dalam RUU tersebut yang mengatur keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing, terlebih dengan cara menyamakan aturan dan persyaratan yang dikenakan kepada Ormas. Jika LSM asing diberi landasan hukum, maka harus diatur dalam Undang-undang tersendiri.

As’ad Ali menambahkan, PBNU berharap pemerintah dan DPR mempertimbangkan aspirasi yang disampaikan oleh NU. “Kalau pemerintah tetap ingin mengesahkan ya kita serahkan ke pemerintah saja, tapi kita punya umat,” katanya. “Kita tidak pernah menjadi oposisi, maka kami percaya pemerintah akan menerima pemikiran NU,” pungkasnya.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, Fragmen HMI Tegal Kab

Kamis, 20 Juli 2017

Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa

Pamekasan, HMI Tegal Kab - Pencak Silat Pagar Nusa NU Pamekasan tahun lalu gencar melatih para santri di berbagai pesantren untuk dijadikan anggota. Tahun ini, organisasi yang diketuai Salman Al-Farisi ini menyasar kalangan mahasiswa.

"Kita bekali mereka keterampilan pencak silat yang bernapaskan paham Aswaja An-Nahdliyah. Diharapkan, mereka menjadi pendekar yang membentengi NKRI dengan keterampilan pencak silat penebar kebajikan," tegas Salman Al-Farisi saat dihubungi HMI Tegal Kab via telepon, Ahad (29/1) pagi.

Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa

Menurutnya, kalangan mahasiswa rentan bertindak anarkis. Itu bisa dicermati tawuran antarmahasiswa di beberapa kampus. Tindak kekerasan oknum mahasiswa tidak lepas dari arogansi diri yang tidak ada yang mengendalikannya.

"Dengan bergabung di Pagar Nusa NU, kita doakan dan upayakan agar mereka menjadi pendekar sejati. Yaitu, tangguh menghadapi tantangan hidup tanpa harus berperan dalam kerusakan tatahan hidup bersosial," tegasnya.

HMI Tegal Kab

Bulan ini, para mahasiswa Universitas Islam Madura (UIM) digembleng secara intensif oleh Pagar Nusa NU Pamekasan. Usai berlatih, mereka akan mendapat siraman rohani berkaitan dengan keagamaan dan kebangsaan. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, IMNU, Kyai HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock