Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyambut baik usulan adanya hari santri yang disampaikan oleh Joko Widodo dalam kampanyenya beberapa waktu lalu, tetapi ia menyarankan sebaiknya hari santri diperingati pada 22 Oktober sesuai dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad.

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad

“Saya menyambut baik, bahkan saya tagih realisasinya. Akan tetapi menurut saya, bukan tanggal 1 Hijriyah, ini sudah jadi penanggalan Islam internasional. Hari santri sebaiknya 22 Oktober,” katanya.?

Ia menjelaskan, pada tanggal 22 Oktober tersebut KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad yang mendorong kaum santri, tentara dan masyarakat pada umumnya untuk melawan Belanda di Surabaya, yang akhirnya pecah pertempuran 10 November.?

HMI Tegal Kab

“Disitu jelas sekali peran santri,” tandasnya.

Kalau hari santri diperingati pada satu Muharram, menurutnya tidak ada lagi ciri keindonesiaannya karena pada hari itu sudah diperingati secara internasional sebagai tahun baru Islam.?

HMI Tegal Kab

“Nanti tenggelam oleh perayaan tahun baru hijriyah,” tandasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab PonPes, Kajian, Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Rabu, 24 Januari 2018

Majalah Afkar Perekat Ukhuwah Nahdliyah di Mesir

Kairo, HMI Tegal Kab

Majalah Afkar menjadi media yang sangat efektif dalam merekatkan ukhuwah nahdliyah atau tali silaturrahim warga Nahdlatul Ulama di Mesir.

Katua Tanfidziyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir Muhlashon Jaluddin saat memberikan sambutan dalam acara "Upgrading Majalah Afkar periode 2007-2008", Selasa (14/8) di Sekretariat NU Mesir, berharap media yang dikelola warga NU Mesir ini juga mampu menunjukkan semangat "pencerahan" ala NU.

"Pencerahan ala NU adalah sebagaimana motto NU sendiri, yaitu "al-muhafadlotu ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah" namun dewasa ini kita sering hanya mengambil yang baru-baru saja atau al-akhdzu bil jadidi jiddin," kata Muhlashon seperti dikutip situs PCINU Mesir www.numesir.org .

Majalah Afkar Perekat Ukhuwah Nahdliyah di Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Afkar Perekat Ukhuwah Nahdliyah di Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Afkar Perekat Ukhuwah Nahdliyah di Mesir

Selain mengangkat isu-isu internasional, majalah Afkar juga menyajikan isu-isu lokal yang berkenaan dengan dunia kemahasiswaan di Mesir (Masisir).

"Afkar kalau perlu ada visi dan misi yang membumi tentang keberadaan kita di sini, sehingga jelas bagi warga NU Mesir yang ingin tahu tentang bagaimana perkembangan NU Mesir, termasuk yang kontroversial," katanya.

HMI Tegal Kab

Berbicara managemen, dikatakan Muhlason, majalah Afkar telah mempunyai tempat tersendiri dihati Masisir. Oleh sebab itu para pengelola media ini perlu menciptakan seni tersendiri bagi para pembacanya. "Yang membedakan antara managemen yang satu dengan yang lain adala seni, dan seni adalah metode," katanya.

"Afkar juga perlu menciptakan sebuah pesaing baik yang datang dari dalam maupun luar, dan juga perlu adanya komunikasi dan interaksi langsung dengan konsumen sehingga dengan begitu Afkar akan mengalami sebuah kemajuan," tambah Mukhlason.

HMI Tegal Kab

Upgrading majalah Afkar dilaksakan selama dua hari, pada 13 dan 14 Agustus 2007. Muhlashon awalnya direncanakan memberikan sambutan sekaligus membuka acara pada hari pertama, Senin (13/08), namun dirinya berhalagan hadir sehingga baru sempat berbicara di hadapan para peserta upgrading pada Selasa.(aan/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Sabtu, 20 Januari 2018

UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal

Bandarlampung, HMI Tegal Kab - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid mengatakan bahwa terbitnya UU No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), memberikan peluang dan peran Organisasi Kemasyarakatan keagamaan untuk menangani proses Sertifikasi Produk Halal Melalui Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) yang dimiliki masing-masing ormas.

Proses mendapatkan sertifikat yang diatur dalam Undang-Undang tersebut, menurutnya, diawali dengan pemeriksaan data usulan dari industri yang dilakukan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

UU Jaminan Produk Halal Beri Peran Ormas Proses Sertifikat Halal

"Kalau data usulannya tidak lengkap maka akan dikembalikan oleh BPJPH kepada pengusul. Jika lengkap, maka usulan tersebut akan diteruskan kepada Lembaga Pemeriksa Halal (LPH)," tambahnya tentang kebijakan baru yang renacananya akan diimplementasikan pada 2018 ini.

HMI Tegal Kab

Setelah diperiksa oleh LPH selanjutnya usulan tersebut diserahkan ke MUI dan akan di putuskan oleh Komisi Fatwa MUI apakah produk yang diusulkan halal melalui beberapa kajian dan tinjauan.

HMI Tegal Kab

"Secara tertulis MUI yang mengeluarkan fatwa apakah usulan produk dinyatakan halal. Dari MUI diserahkan ke BPJPH untuk kemudian dikeluarkan sertifikasi halal-nya," tambahnya, di kediamannya, Senin (25/9) malam.

Selain ormas keagamaan, UU Jaminan Produk Halal ini terangnya juga memberi kesempatan perguruan tinggi keagamaan (PTK) maupun perguruan tinggi umum (PTU) untuk memiliki LPH.

"Lembaga ini dalam UU JPH memiliki peran untuk memeriksa kandungan sebuah produk. Namun LPH harus bekerja sama dengan MUI yang akan menentukan siap saja petugas yang berwenang memeriksa kehalalan produk," jelasnya.

Ke depan Pemerintah melalui Komite Akreditasi Nasional (KAN) juga akan melakukan akreditasi secara intensif dan berkala untuk mengetahui kinerja Lembaga Penjamin Halal di Indonesia.

"Skema akreditasi dan sertifikasi untuk sistem jaminan halal ini berbasis standar Halal Assurance System (HAS) 23000," kata Kiai yang juga Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung ini.

Sementara posisi BPJPH lanjutnya menjadi bagian dari struktur Kementerian Agama sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Agama No 42 Tahun 2016 tentang Organisasi Tata Kerja (Ortaker) Kementerian Agama. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama, Meme Islam, Fragmen HMI Tegal Kab

Jumat, 19 Januari 2018

PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah

Makassar, HMI Tegal Kab - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Makassar memperingati pergantian tahun baru hijriyah di Masjid Al-Hamzah, Jalan Monginsidi Baru. Peringatan ini dikemas bersama acara lailatul ijtima yang secara rutin dilaksanakan setiap malam Jumat ketiga bulan berjalan.

Ketua MUI Sulawesi Selatan Agh Sanusi Baco menyampaikan hikmah yang begitu besar dan penting dalam kisah hijrah Rasulullah SAW dan termasuk di antaranya pengorbanan tokoh muda sahabat Ali bin Abi Thalib yang menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW saat menghadapi rencana jahat kaum musyrikin Mekkah.

PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Makassar Rayakan Tahun Baru Hijriyah

“Hijrah adalah pengorbanan, di antaranya pengorbanan meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, harta kekayaan yang tentu saja merupakan nilai yang jika dijiwai dan diaplikasikan oleh umat Islam akan melahirkan generasi Islam yang dibanggakan oleh Rasulullah SAW," kata Agh Sanusi Baco.

HMI Tegal Kab

Peringatan tahun baru Hijriyah di Masjid Al-Hamzah dihadiri juga oleh Rais Syuriyah PCNU Makassar Agh Baharuddin,  Sekretaris PCNU Makassar KH Masykur Yusuf, Katib Syuriyah H Saifullah Rusmin, beberapa pengurus PCNU Makassar,  Ketua MWC Kecamatan dan nahdliyin di Kecamatan Makassar. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Kamis, 18 Januari 2018

Jadi Pengurus Harus Bangga Mewarisi Organisasi NU

Pringsewu, HMI Tegal Kab. Sepuluh Kepengurusan Nahdlatul Ulama tingkatan Ranting atau desa dikukuhkan oleh Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H. Taufiqurrohim, Ahad (6/11). Pengukuhan tersebut bebarengan dengan kegiatan Pengajian Triwulan PAC Muslimat NU Kecamatan Pagelaran yang bertempat di Majelis Taklim Ainul Yaqin Patoman Pagelaran.

Jadi Pengurus Harus Bangga Mewarisi Organisasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Pengurus Harus Bangga Mewarisi Organisasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Pengurus Harus Bangga Mewarisi Organisasi NU

Sepuluh Ranting NU yang dikukuhkan tersebut yaitu Ranting NU Desa Pagelaran, Pasir Ukir, Bumi Ratu, Bumirejo, Patoman, Sidodadi, Padangrejo, Pujiharjo, Sukawangi dan Lugusari.

Hadir pada kegiatan yang dihadiri oleh ribuan Warga NU dan Muslimat ini Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu H. Sujadi, Pembina Muslimat NU Pringsewu H. Nurrohmah Sujadi, Ketua PC Muslimat NU Hj. Ani Fitriani, Ketua PC Fatayat NU Umi Laila dan Seluruh Pengurus NU dan Muslimat Kecamatan Pagelaran.

Pada kesempatan tersebut Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu H. Sujadi menyampaikan ucapan selamat kepada pengurus yang dilantik sekaligus berharap para pengurus yang dilantik untuk dapat terus berkhidmah bagi ummat. 

HMI Tegal Kab

"Jadi pengurus NU itu tidak digaji. Jadi pengurus NU itu siap berkorban. Jadi pengurus NU harus ikhlas. Jika ini selalu dimiliki pengurus NU dalam berjuang yakinlah akan diberi kebarokahan dalam kehidupan, dikaruniai keturunan soleh solehah, rezeki yang halal dan khusnul khotimah," katanya diamini oleh seluruh yang hadir.

Menjadi pengurus NU juga harus bangga karena mewarisi organisasi ulama yang berperan besar dalam mewujudkan NKRI. "Kita berikrar untuk meneruskan perjuangan para ulama yang telah mendirikan NU dan indonesia. Terus lakukan Ibadah Amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah warisan Ulama. Pengajian, wiridan, manakiban dan sejenisnya adalah kunci kesuksesan Indonesia Merdeka," tegasnya.

Abah Sujadi, begitu ia biasa disapa mengatakan bahwa amaliyah tersebutlah yang menjadi musabab para Ulama dan pejuang berkumpul dan bergerak untuk bangsa Indonesia dengan mendirikan Organisasi untuk mewujudkan kemerdekaan RI yang muaranya berupa pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Diakhir sambutannya Abah Sujadi menyampaikan pesan Pengasuh Pondok Pesantren Kalibeber Wonosobo KH. Muntaha dimana Ia pernah menjadi santri disana. "Dipakai berjuang badan kita akan rusak. Tidak dipakai berjuang badan kita juga akan rusak. Terus pilih yang mana?," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Selasa, 09 Januari 2018

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif

Salah satu tokoh Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) yang paling dikenal yakni Nyai Hj. Mahmudah Mawardi. Dalam kurun waktu kepemimpinannya selama delapan periode lamanya (1950-1979, Muslimat NU tampil sebagai sebuah organisasi wanita yang cukup progresif. Muslimat berperan aktif di dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Peran Muslimat selanjutnya yaitu pada tahun 1967 ketika Mahmudah Mawardi ikut mendirikan Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) sebagai wadah untuk mempersatukan gerak langkah organisasi-organisasi wanita Islam dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif

Lahir pada tanggal 12 Februari 1912, Mahmudah kecil dibesarkan di lingkup pesantren yang diasuh oleh ayahnya, Kiai Masjhud. Kiai Masjhud merupakan salah satu tokoh yang dianggap menjadi salah satu perintis berdirinya NU di Kota Solo.

HMI Tegal Kab

Mahmudah merupakan anak pertama dari lima saudari. Mereka adalah Mahmudah, Mahwiyah, Mahsunah, Mahdumah dan Mahmulah. Kelima putri ini dilahirkan dari rahim istri pertama Kiai Masjhud. Setelah istri pertamanya wafat, Kiai Masjhud kemudian memperistri Syuaibah, yang kemudian melahirkan salah satu tokoh pendiri IPNU dan PMII, H. Mustahal Ahmad.

Sejak kecil Mahmudah belajar kepada orang tuanya di Pondok Pesantren yang kelak dikenal sebagai Pesantren Al-Masjhudiyah. Kemudian ia belajar selama 6 tahun di Madrasah Ibtidaiyyah Sunniyah Solo, hingga tamat pada tahun 1923. Setelah itu, ia melanjutkan belajar di Madrasah Tsanawiyyah Sunniyah selama 3 tahun. Sunniyah merupakan sebuah nama langgar dan madrasah di daerah Keprabon Timur Solo. Letaknya sekitar 300 m ke arah utara dari rumah Mahmudah.

Seiring waktu berjalan, Mahmudah terus meningkatkan kemampuannya dengan mengikuti kursus-kursus keguruan. Ia juga pernah nyantri di Pesantren Jamsaren Solo, di bawah asuhan KH Mohammad Idris. Kesemuanya ini menjadikan dirinya sebagai pribadi yang terpelajar nan alim.

HMI Tegal Kab

Berdasarkan penuturan salah seorang keponakannya, Nashirul Umam, Mahmudah juga berhasil menjadi salah seorang penghafal Alquran atau hafidhah.



Kiprah Mahmudah


Mahmudah mengawali kiprah perjuangannya dengan menjadi guru di tempat belajarnya dahulu, Sunniyah, sejak tahun 1930. Bersama kaum perempuan muslim di Solo, ia kemudian mendirikan organisasi Nahdlatoel Moeslimat (NDM) di Kauman Surakarta pada bulan April 1931. Organisasi ini bergerak pada bidang pendidikan, khususnya untuk kaum perempuan. Dalam proses pendirian, Mahmudah menjadi ketua pendiri organisasi, hingga akhirnya membuka cabang di mana-mana.

Selama kurun waktu 1933-1945, Mahmudah menjadi kepala sekolah Madrasah Muallimat NDM. Pada kisaran tahun itu pula, Mahmudah menikah dengan salah seorang tokoh pergerakan PSII Solo, A. Mawardi. Nama inilah yang tersemat di belakang namanya hingga akhir hayat.

Dari pernikahan tersebut lahir putra-putri yang kelak juga menjadi tokoh besar. Di antaranya Chalid Mawardi (Ketua PP GP Ansor 1980-1985, mantan Dubes RI di Syiria dan Lebanon), Farida Purnomo (Ketua PP IPPNU 1963-1966) dan Lathifah Hasyim (Dewan Penasihat PP Muslimat NU 2011-2016).

Sebagai tokoh pergerakan, kehidupan Mawardi banyak menginspirasi Mahmudah untuk ikut aktif dalam dunia pergerakan. Mahmudah kemudian ikut aktif dalam organisasi kewanitaan. Hinggga pada tahun 1943, Mawardi meninggal. Sejak saat itu perjalanan panjang berkarir, berjuang dan membesarkan anak-anak, mesti dijalani sendiri oleh Mahmudah.

Tidak hanya itu, ketika pada tahun 1954 ayahnya wafat, ia diberi amanah untuk menggantikan sang ayah sebagai pengasuh pesantren yang kala itu terdapat 150 santri putri. Berbagai jalan kehidupan ini, semakin membentuk karakternya sebagai seorang wanita yang tangguh.

Pada masa ini, ia juga menjadi salah satu kunci terbentuknya IPPNU yang ketika awal berdiri berpusat di Solo. Hampir sebagian besar tokoh pendiri IPPNU, seperti Umroh Machfudzoh, Basyiroh Soimuri, Machmudah Nahrowi, Farida Mawardi dan lain-lain merupakan santriwati yang ikut mengaji di Pesantren Masjhudiyah.



Memimpin Muslimat


Bakatnya sebagai seorang pemimpin sudah terlihat sejak ia ikut membidani berdirinya NDM. Di Muslimat NU, karirnya juga terus melesat hingga pada tahun 1946 ia mengemban dua amanah sekaligus, sebagai ketua pertama Pimpinan Cabang Muslimat NU Surakarta dan ketua organisasi Federasi Wanita Islam Indonesia di Solo. Sebagai catatan, Muslimat NU baru diresmikan pada tanggal 29 Maret 1946 dalam Muktamar NU ke-XVI di Purwokerto.

Selang empat tahun kemudian, 1950, ketika diselenggarakan Muktamar NU ke-XVIII di Jakarta, Mahmudah terpilih sebagai ketua umum Muslimat NU. Sejak saat itu, ia memimpin hingga delapan periode lamanya (1950-1979).

Selain berjuang di Muslimat, Mahmudah juga banyak dipercaya untuk mengemban amanah di banyak hal. Di ranah politik, ia bahkan dijuluki sebagai ‘politisi wanita besi brilian dari NU’. karir politiknya diawali sejak 1946 ketika menjadi anggota DPRD Kota Besar Surakarta dari golongan wanita. Pada saat yang sama ia juga duduk sebagai anggota BP KNPI mewakili Masyumi (waktu NU masih bergabung dengan Masyumi). Tahun 1952 duduk sebagai anggota Liga Muslimin Indonesia dari NU.

Berlanjut pada masa pemerintahan RIS, ia duduk sebagai anggota DPR RIS di Jogjakarta (1959), kemudian sebagai Anggota DPR RI (1956-1971), Anggota DPR/MPR RI mewakili NU dan PPP (1971-1977), dan Anggota MPR RI dari PPP (1977-1982).

Pada perhelatan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) pada tahun 1965 dan 1970 ia dipercayai sebagai salah satu delegasi Indonesia.



Akhir Hayat


Begitu banyak jasa yang telah ia ukir, termasuk saat ia ikut aktif membantu perjuangan bangsa indonesia melalui Barisan Hizbullah di Surakarta (12 Oktober 1945 – 19 September 1947). Tugasnya kala itu, berada di garis belakang untuk membuka dapur umum, mengumpulkan obat-obatan, lauk-pauk dan menjadi kurir. Atas jasanya itu, ia mendapat tanda penghargaan Bintang Gerilya.

Menjelang wafatnya, ketika sakit, banyak tokoh NU yang menjenguknya, KH Ali Maksum dan Gus Dur termasuk diantaranya. Nyai Hj. Mahmudah Mawardi akhirnya wafat pada Rabu Wage, 26 Rabiul awal 1408 H/ 18 November 1987 pukul 14.00 di Keprabon Wetan Solo, usia 78 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Astana Pulo Laweyan Solo. (Ajie Najmuddin)

Sumber:

1. Wawancara kepada Nashirul Ulum (cucu KH Masjhud/putra H. Mustahal Ahmad) di Solo, 22 Juni 2014.

2. Sejarah Muslimat NU. PP Muslimat NU. Jakarta. 1979

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama, Pertandingan, Kiai HMI Tegal Kab

Minggu, 07 Januari 2018

Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi

Kendal, HMI Tegal Kab. Dukung mendukung calon gubenur dan wakil gubenur menjelang Pilgub Jateng 2008 yang akan dilaksanakan 22 Juni mendatang tidak akan merusak Khittah NU sepanjang dilakukan secara perorangan atau pribadi, bukan secara organisatoris. Warga NU yang mendukung M Adnan tentu tidak bisa dipersoalkan. Justru kalau M Adnan tidak didukung warga NU itu menjadi pertanyaan.

Demikian disampaikan KH Zuhri Ikhsan saat acara konsolidasi Tim Kemenangan Muhammad Adnan (TKMA) tingkat kabupaten Kendal di rumah makan Salsabil Brangsong, Senin (19/5) lalu.

Dukung Mendukung  dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi

“Orang NU yang tidak mendukung calon dari NU itu orang bodoh,” tegas kyai asal  Kaliwungu itu seperti dilaporkan oleh kontributor NU online, Fahroji.

HMI Tegal Kab

Sementara itu ketua TKMA kabupaten Kendal MH Mustamsikin, M.PdI yang juga wakil ketua PCNU Kendal mengatakan bahwa secara organisasi NU tetap netral. Kalau toh dalam  forum tersebut banyak hadir para ketua MWCNU se-kab. Kendal itu kapasitasnya sebagai pribadi warga NU. “Yang mengundang  bukan NU tetapi TKMA, undangannya juga bukan kepada ketua MWCNU, tetapi kepada perorangannya,” terangnya.

HMI Tegal Kab

Dalam acara konsolidasi TKMA yang dihadiri oleh pengurus TKMA tingkat kecamatan se-Kab. Kendal itu Mustamsikin banyak menjelaskan kronologi seputar pencalonan Adnan sebagai cawagub Jateng mendampingi Bambang Sadono yang diusung oleh partai Golkar.

Menurutnya pencalonan Adnan sudah melalui beberapa tahapan pertemuan. Mulai pertemuan Tanfidziyah PCNU se Jateng dalam Mukerwil PWNU di PP Al Itqon Tlogosari Semarang tanggal 14-15 Juli 2006 sampai dengan pertemuan PWNU dan PCNU se-Jateng di 6 eks Karesidenan Juli –Agustus 2007

Dari pertemuan-pertemuan yang jumlahnya tidak kurang dari enam kali pertemuan itu sepakat merekomendasikan H Muhammad Adnan untuk maju sebagai calon wakil Gubenur mendampingi H Bambang Sadono.  Dikatakan pula bahwa  hasil itu merupakan proses panjang yang melibatkan PWNU dan PCNU se-Jateng.

Lebih lanjut Mustamsikin juga menjeleaskan bahwa majunya Adnan berdasarkan surat PWNU Jateng No. PW. II/0589/A/XII/2007 yang isinya memberikan ijin dan rekomendasi persetujuan kepada Drs H Muhammad Adnan, MA selaku ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama jawa Tengah untuk: Pertama, maju dan mencalonkan diri dalam Pemilihan Gubenur Jawa Tengah 2008 sebagai calon wakil Gubenur. Kedua, memenuhi permintaan/menerima lamaran untuk menjadi wakil gubenur dari calon Gubenur H. Bambang Sadono melalui partai Golkar.

Dalam konsolidasi yang juga  dihadiri  Mbah Dim ( KH. Dimyati Rois )  ketua PCNU Kendal Drs HM Ali Hasan, Msi, anggota  DPR RI dari fraksi Golkar Drs H Mujib Rohmat itu farum memutuskan untuk segera melakukan konsolidari sampai ketingkat akar rumput. (fhj)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama, Syariah HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock