Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2018

PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur

Jombang, HMI Tegal Kab

Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ya’qub Husein (YH) STIT al-Urwatul Wutsqo Jombang, Jawa Timur berkomitmen membangun kesolidan antarpengurus komisariat dan pengurus rayon (PR) sebagai prioritas utama dalam menjalankan mandat organisasi selama satu periode.

PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur

Kesolidan terus berupaya dibangun di tengah dominasi pengurus komisariat yang berasal dari suku atau daerah-daerah tertentu, yaitu Madura. Hal itu dimungkinkan akan menimbulkan pandangan yang miring kepada pengurus yang lain, di samping itu juga sangat berhubungan dengan intensitas pengurus untuk merealisasikan program-programnya.

Iis Sholihah, Ketua Komisariat Ya’qub Husein mengatakan akan berupaya mengubah pola pikir pengurus yang masih normatif dan cenderung membeda-bedakan kultur, suku, ras dalam dunia pergerakan. Sebab demikian itu akan menimbulkan keharmonisan, persaudaraan atau solidaritas warga PMII. Bahkan tak ada aturan di PMII untuk membeda-bedakan asal-usul pengurus.?

“Kita sedang membangun pola untuk mematuhi pada AD/ART PMII dengan baik, semua gerakan kita tetap mengacu pada AD/ART. Di sana tidak ada pembedaan-pembedaan atau bahkan diskriminasi. Semua wewenang, hak dan garis koordinasi masing-masing pengurus sudah diatur jelas,” katanya kepada HMI Tegal Kab, Selasa (15/3).

Namun demikian, Iis sapaan akrabnya mengemukakan bahwa perbedaan pada aspek kultur dan budaya dari masing-masing pengurus akan menciptakan pondasi yang sangat kuat di tubuh organisasi tatkala sudah bisa bersinergi dengan baik.?

HMI Tegal Kab

“Malah sebenarnya perbedaan kultur itu sangat mendukung terciptanya pondasi yang kokoh,” ujarnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab PonPes, Kajian Sunnah, News HMI Tegal Kab

Jumat, 09 Maret 2018

Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia

Jakarta, HMI Tegal Kab. Sikap teguh terhadap tradisi, pengkajian kitab-kitab klasik, peneguhan moderatisme Islam, dan garda depan nasionalisme harus terus dilakukan NU untuk menginspirasi dunia. Karakter-karakter tersebut dibutuhkan dunia Islam saat ini yang seolah tak ada hentinya dengan tragedi perang dan anasir-anasir kebencian.

Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia

Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Teologi dan Filsafat Universitas Zaitunah Tunisia, Prof Dr Muhammad al-Mestiri, Kamis (20/10) saat menjadi pembicara utama dalam Kuliah Umum (Studium Generale) yang diselenggarakan Pascasarjana STAINU Jakarta di Gedung PBNU Jakarta Pusat.

Dalam kuliah umum bertema Wasathiyyatul Islam: Stratijiyyah Limuwajahatit Thatharruf al-Fikriy wa al-Dini (Moderatisme Islam; Strategi Melawan Ekstremitas Pemikiran dan Keberagamaan) ini, Al-Mestiri menggarisbawahi bahwa peneguhan Islam moderat saat ini bisa dilakukan dengan jalan tetap menjaga geneologi sejarah.?

Hal ini dilakukan agar Islam tidak tercerabut dari akar tradisinya sehingga moderatisme bisa terus dikembangkan.?

HMI Tegal Kab

“Memahami kitab-kitab klasik (thurats) karya ulama perlu terus dilakukan. Selain itu, kita jug harus memahami paham Barat sehingga dapat menemukan persmasalahan yang ada,” ujar alumni Universitas Sorbonne Prancis ini didampingi Ahmad Ginanjar Sya’ban (Dosen STAINU Jakarta) sebagai penerjemah.

Al-Mestiri juga menjelaskan tentang universalisme (al-kauniyah) yang berbeda dalam persepsi Islam dan Barat. Dalam persepsi Islam, menurutnya, universalisme lahir dari karakter wasathiyah. “Sedangkan universalisme menurut Barat lebih cenderung dimaknai sebagai hegemoni,” jelas Profesor yang tinggal di Prancis lebih dari 18 tahun ini.

Wasathiyah, prinsip keadilan

HMI Tegal Kab

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, lebi jauh al-Mestiri menjelaskan bahwa membincang moderatisme Islam tidak bisa dilepaskan dari apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali Imran: 110)

“Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, makna wasath dalam ayat tersebut adalah bermakna umat yang adil dan terbaik. Jadi, makna umat wasath adalah umat yang berpegang pada prinsip keadilan,” ujar al-Mestiri. ? ?

Selain para mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta, turut hadir dalam acara ini Waketum PBNU HM. Maksoem Makfoedz, Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi yang sekaligus Wakil Rektor UNU Indonesia, Asisten Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta Dr Muh. Ulinnuha dan Hamdani, Ph.D serta sejumlah dosen Pascasarjana STAINU Jakarta lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Syariah, RMI NU, PonPes HMI Tegal Kab

Selasa, 06 Maret 2018

Peserta Perempuan Tak Mau Ketinggalan

Program pengenalan dan pemanfaatan perangkat lunak (software) kitab kuning yang dipelopori Nahdlatul Ulama (NU) Japan dan Situs Pesantren Virtual (http://www.pesantrenvirtual.com) bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Rabithah Maahid al-Islamiyah Jawa Timur (RMI) Jawa Timur, tampaknya semakin diminati kalangan pondok pesantren (ponpes) di Jawa Timur.

Ahad (8/4) lalu, kegiatan bertajuk "Halaqah Pemanfaatan Software Kitab Kuning dan Pengembangan Perpustakaan Digital di Pondok Pesantren" tersebut digelar di Ponpes Nurul Ikhlas, Sepande, Candi, Sidoarjo. Halaqah di pondok pesantren asuhan KH Mukhlas Kurdi yang juga Ketua PC RMI Sidoarjo ini merupakan halaqah ketiga yang digelar oleh PW RMI Jatim. Sebelumnya, dua kali halaqah telah digelar di Probolinggo (16/12/06) dan Tulungagung (17/3/07).

Minggu, 04 Maret 2018

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyambut baik usulan adanya hari santri yang disampaikan oleh Joko Widodo dalam kampanyenya beberapa waktu lalu, tetapi ia menyarankan sebaiknya hari santri diperingati pada 22 Oktober sesuai dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad.

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad

“Saya menyambut baik, bahkan saya tagih realisasinya. Akan tetapi menurut saya, bukan tanggal 1 Hijriyah, ini sudah jadi penanggalan Islam internasional. Hari santri sebaiknya 22 Oktober,” katanya.?

Ia menjelaskan, pada tanggal 22 Oktober tersebut KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad yang mendorong kaum santri, tentara dan masyarakat pada umumnya untuk melawan Belanda di Surabaya, yang akhirnya pecah pertempuran 10 November.?

HMI Tegal Kab

“Disitu jelas sekali peran santri,” tandasnya.

Kalau hari santri diperingati pada satu Muharram, menurutnya tidak ada lagi ciri keindonesiaannya karena pada hari itu sudah diperingati secara internasional sebagai tahun baru Islam.?

HMI Tegal Kab

“Nanti tenggelam oleh perayaan tahun baru hijriyah,” tandasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab PonPes, Kajian, Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Jumat, 23 Februari 2018

Pesantren Hati Sembelih 131 Ekor Hewan Kurban

Probolinggo, HMI Tegal Kab - Pada Hari Raya Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1437 H, Pondok Pesantren Hati di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo menyembelih 131 ekor hewan kurban, Senin (12/9). Terdiri dari 28 ekor sapi dan 3 ekor kambing ditambah 100 ekor kambing dari Persatuan Guru dan Ulama Singapura.

Prosesi penyembelihan hewan kurban ini dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Hati Hj. Puput Tantriana Sari yang juga Bupati Probolinggo serta jajaran pengurus PCNU Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo.

Pesantren Hati Sembelih 131 Ekor Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Hati Sembelih 131 Ekor Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Hati Sembelih 131 Ekor Hewan Kurban

Ketua Panitia Kurban Pondok Pesantren Hati Zulmi Noor Hasani mengungkapkan bahwa pelaksanaan penyembelihan hewan kurban ini akan dirampungkan dalam waktu 1 (satu) hari. Tetapi jika dalam penyembelihan tersebut tidak selesai, maka akan dilanjutkan hari kedua, Selasa (13/9) di lokasi yang sama.

HMI Tegal Kab

“Dari hasil penyembelihan hewan kurban, dagingnya akan disalurkan kepada masyarakat kurang mampu di 20 desa di Kecamatan Kraksaan, Krejengan dan Besuk. Dimana masing-masing desa akan menerima 100 bungkus. Sehingga total untuk 20 desa mencapai 2.000 bungkus daging kurban,” katanya.

HMI Tegal Kab

Sementara Hj. Puput Tantriana Sari mengharapkan agar daging kurban ini mampu berbagi kebahagiaan dengan masyarakat kurang mampu. “Setidaknya masyarakat dari kalangan kurang mampu bisa bersama-sama merayakan Hari Raya Idul Adha 1437 H,” uangkapnya.

Dalam penyembelihan hewan kurban ini, panitia kurban sendiri mengerahkan sedikitnya 75 orang petugas jagal yang akan menyembelih ratusan hewan kurban tersebut. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab PonPes, Daerah HMI Tegal Kab

Jumat, 02 Februari 2018

PMII Pemalang Adakan Reuni Akbar Lintas Regional

Pemalang, HMI Tegal Kab. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Ki Patih Sampun Pemalang menggelar pertemuan akbar antara kader dan alumni di Gedung PCNU Pemalang, Rabu (28/6).

Acara tersebut bertemakan Merajut Soliditas Kader dan Alumni Sebagai Manifesto Pergerakan. Acara berskala nasional itu dihadiri dari pelbagai regional PMII seperti regional PMII Ciputat, Semarang, Purwokerto, Surabaya, Malang, Jakarta, Wonosobo, Pekalongan, Jogja, dan Pemalang yang berjumlah sekitar 100 peserta kader dan alumni dari berbagai angkatan.

PMII Pemalang Adakan Reuni Akbar Lintas Regional (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pemalang Adakan Reuni Akbar Lintas Regional (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pemalang Adakan Reuni Akbar Lintas Regional

Sukanto selaku ketua panitia mengatakan, acara ini merupakan perdana dan sebagai ajang silaturahim diantara kader dan alumni yang notabene PMII orang Pemalang.

Seperti lazimnya sebuah pertemuan, agenda tersebut menjadi arena dialog interaktif dan sebagai bentuk ingatan perjuangan saat menjadi kader PMII di masing-masing regional. Sekaligus menumbuhkan semangat kolektif kader dan alumni PMII dalam menghadapi zaman kedepan khususnya di Pemalang.

HMI Tegal Kab

Bahkan Riski selaku Ketua Umun Komisariat Ki Patih Sampun menegaskan saat memberikan sambutannya bahwa acara ini jangan hanya dijadikan ? seremonial semata. Karena PMII di Pemalang kenyataan dinamika saat ini, benar-benar miris dalam pergerakannya.?

Sehingga kita sebagai tuan rumah membutuhkan kekuatan sumber daya manusia yang memiliki integritas dan loyalitas yang tinggi dalam menyongsong suatu pergerakan revolusi di Pemalang.?

"Mengapa demikian. Karena dalam sejarah bangsa PMII, mampu memberikan dedikasi dan prestasi-prestasinya. Itulah yang senantiasa menjadi spirit gerakan yang dibangun oleh kader-kader PMII," katanya.

HMI Tegal Kab

Selain itu, koordinator lintas angkatan Saefudin Zuhri memaparkan bahwa momentum diadakannya acara ini menjadi fase penting dalam menegaskan dan memposisikan peran serta PMII di Pemalang. Sehingga, PMII di Pemalang memiliki perubahan yang lebih baik di masa yang akan datang.

?

“Rangkaian pertemuan kader dan alumni Se-Pemalang ini menghasilkan suatu tujuan yaitu membentuk IKA PMII dan mendirikan Cabang di Pemalang," ucapnya. (Rozik/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab PonPes HMI Tegal Kab

Rabu, 31 Januari 2018

IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo Rekrut Pelajar Baru

Banyumas, HMI Tegal Kab. Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo kabupaten Banyumas, mengadakan Makesta di awal tahun ajaran baru, Sabtu-Ahad (6-7/9). Kegiatan rutin setiap tahun ini dirancang untuk melibatkan peserta didik baru kelas sepuluh dalam gerakan pelajar NU.

Pembina IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo Khasan Mu’min mengatakan, pihak sekolah mewajibkan seluruh siswa untuk mengikuti kegiatan ini.

IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo Rekrut Pelajar Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo Rekrut Pelajar Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU SMK Ma’arif NU 1 Rawalo Rekrut Pelajar Baru

“Makesta ini dirancang untuk membuka para siswa terhadap paham Aswaja NU di samping penanaman rasa cinta dan pengabdian kepada NU dan NKRI,” kata Khasan yang juga Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMK Ma’arif NU 1 Rawalo.

HMI Tegal Kab

Sebanyak 120 pelajar baru mengikuti makesta ini. Panitia menghadirkan pengurus MWCNU Rawalo sebagai pemateri ke-Nuan dan pengurus IPNU-IPPNU Banyumas sebagai pemateri kepemimpinan dan tantangan globalisasi.

HMI Tegal Kab

Khasan berharap makesta kali ini dapat membawa perubahan signifikan dan kemajuan di bidang pendidikan khususnya di SMK Ma’arif NU 1 Rawalo. (Azka Miftahudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa, PonPes, Hadits HMI Tegal Kab

Kamis, 25 Januari 2018

Tak Banyak, Tiga Program MWCNU Pacet Ini Sukses Terlaksana

Bandung, HMI Tegal Kab. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung periode 2015-2020 hanya memiliki tiga program. Mereka bukan tidak memiliki banyak cita-cita, tapi membuat prioritas untuk tiga hal itu.

“Waktu Konfercam (Konferensi Kecamatan) itu tidak banyak program, satu ingin membuat kantor, kedua, merestrukturiasi kepengurusan, ketiga, turba melalui pengajian,” kata Sekretaris MWCNU Engan Abdul Wahid di kediamannya, Yayasan Pendidikan Islam Al-Halimiyah, Desa Maruyung, Sabtu (18/11).

Tak Banyak, Tiga Program MWCNU Pacet Ini Sukses Terlaksana (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Banyak, Tiga Program MWCNU Pacet Ini Sukses Terlaksana (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Banyak, Tiga Program MWCNU Pacet Ini Sukses Terlaksana

(Baca: Sowan PBNU, NU Pacet Rencanakan Pelatihan Muharrik Masjid)

HMI Tegal Kab



Program pertama, saat ini MWCNU dalam proses membangun gedung sekretariat sebagai pusat kegiatan, lokasinya di desa Pangauban. Kantor yang dibangun sejak Mei tahun ini baru selesai 50 persen.

Kedua, kata dia, merestrukturisasi pengurus NU se-kecamatan NU Pacet, termasuk di Ranting-Ranting NU.

HMI Tegal Kab

Restrukturasi di sini, sambungnya, adalah mendorong kembali pengurus-pengurus yang tidak aktif agar menjadi aktif, yang aktif menjadi lebih aktif. Juga mengaktifkan serta membentuk Ranting yang belum terbentuk. Pembentukan dilakukan melalui pendekatan-pendekatan kepada tokoh masyarakat, pengasuh pondok pesantren, dan kiai.

“Alhamdulillah mereka merespon dengan cepat, yang tidak aktif menjadi aktif, yang belum terbentuk mengadakan musyawarah pembentukan Ranting. Alhamdulillah hari ini seluruh Ranting di 13 desa sudah terbentuk,” tambahnya.

Ketiga, lanjut Engan adalah program turba dengan pengajian rutinan di setiap Ranting. Di Ranting itu, mereka bekerja sama dengan DKM masjid-masjid besar untuk menjadwalkan pengajian bulanan tersebut secara bergiliran.

“Setiap bulan, pengurus MWCNU harus menghadiri tiga sampai empat pengajian yang dilakukan Ranting. Tiap minggu selalu ada. Alhamdulillah pengajian rutin Ranting selalu dihadiri ratusan warga NU, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak,” jelasnya.

Wakil Sekretaris MWCNU Pacet A. Hasan Nurhuda menambahkan, format turba itu adalah ceramah dan tanya jawab serta penguatan kelembagaan untuk pengurus. Pada setiap pengajian biasanya diisi oleh beberapa kiai, termasuk kiai Ranting.

“Kita memberdayakan kiai Ranting untuk tampil. Di sisi lain setiap pengurus MWCNU yang tidak bisa hadir harus ada yang mewakili agar komunikasi antara MWCNU dan Ranting selalu terjalin dengan baik.”

Lebih lanjut ia mengapresiasi daya juang pengurus dan warga NU Pacet dalam menggerakkan NU, terutama Rais Syuriyah MCNU KH Masluh Sakandari dan Ketua MWCNU KH Abdul Ghani.

(Baca: Ribuan Santri Pacet Ngariung di Lapangan Cipeujeuh)

“Di bawah kepemimpinan beliau, meski tidak banyak program, tapi berjalan dengan baik.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tegal, PonPes, Sejarah HMI Tegal Kab

Selasa, 23 Januari 2018

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia

Malang, HMI Tegal Kab

UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang menggelar sidang senat terbuka dalam rangka penganugerahan doktor Honoris Causa (HC) kepada Grand Syekh Al-Azhar Prof Dr Ahmad Mohammad Ahmad al-Tayyeb, Rabu (24/2). Gelar kehormatan ini diberikan UIN sebagai apresiasi atas jasa Grand Syekh dalam pengembangan pendidikan Islam, khususnya di Al-Azhar.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap metode pendidikan dakwah di Universitas Al-Azhar yang moderat dan toleran bisa dikembangkan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Harapan itu disuarakan Menag saat memberikan sambutan di hadapan 500 civitas akademika UIN Maliki Malang dan tamu undangan pada acara penganugerahan doktor kehormatan kepada Syekh Ahmad ath-Tayyeb di UIN Malang, Rabu (24/02) sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia

Menag menilai, Grand Syekh Al-Azhar yang juga Ketua Majelis Hukama al-Muslimin adalah sosok ulama par-excellence dan intelektual Muslim dunia penebar kedamaian. Sikap demikian itu ditunjukkan selama masa transisi politik di Mesir, di mana Syekh Ahmad ath-Tayyeb mengedepankan ishlah dan berusaha memediasi pihak-pihak yang berkonflik agar bersatu kembali demi kejayaan Mesir dan Islam. Hal ini dikatakan Menag, sesuai pernyataan Grand Syeikh pada saat terjadi konflik di Mesir. Ia mengatakan, “Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan dan saya himbau agar anda semua membuka pintu untuk perdamaian demi persatuan bangsa Mesir!”

“Sosok Syekh Ahmad ath-Thayyib boleh jadi tidak membutuhkan penganugerahan Dr HC, karena reputasinya sudah diakui dunia internasional. Kita justru yang berkepentingan menganugerahkan gelar kehormatan,” tambahnya. 

HMI Tegal Kab

Selain itu, metode pendidikan dakwah Al-Azhar yang moderat dan toleran juga relevan dengan konteks Indonesia sebagai negara yang majemuk dan plural. Apalagi. Al-Azhar merupakan ikon institusi keislaman dunia dan namanya harum di kalangan Muslim Indonesia. 

“Studi di Al-Azhar asy-Syarif ibarat ‘menimba air’ dari sumber aslinya,” papar Menag.

“Al-Azhar secara konsisten mengembangkan faham sunni dan mengamalkannya dalam tindakan keberagamaan. Syekh Ahmad al-Tayyeb sebagai ulama moderat dan selalu menyerukan pentingnya ukhuwwah dan perdamaian,” tambahnya.

HMI Tegal Kab

Menag berharap, kehadiran Grand Syekh Al-Azhar ke Indonesia selain memperkuat hubungan bilateral antara dua negara, juga menjadi simbol kedekatan masyarakat Muslim Mesir dan Indonesia, serta bisa memperkuat kajian Islam di Indonesia. 

Dikatakan Menag,  awal kemunculan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia pada tahun 1960-an juga mengacu pada model kajian Islam Al-Azhar. Saat sejumlah IAIN bertransformasi menjadi UIN (Universitas Islam Negeri), gagasan integrasi ilmu yang dikembangkan sedikit banyak juga diinspirasi oleh modernisasi pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar. 

Selain itu, hubungan Mesir dan Indonesia juga memiliki sejarah yang panjang. Para ulama dari kedua negara pernah terjalin jaringan intelektual yang intensif dalam hubungan guru-murid sejak abad ke-19. Bahkan, Mesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1945, di saat negara-negara Eropa mengingkari kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. 

Surat Keputusan Rektor tentang Penganugerahan Doktor Honoris Causa Bidang Pendidikan Islam kepada Grand Syeikh Prof Dr Ahmad Mohammad Ahmad al-Tayyeb dibacakan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Maliki Malang Muhammad Zainuddin. Sementara itu, Rektor UIN  Malang Mudjia Raharja dalam sambutannya menyampaikan bahwa Grand Syeikh Al-Azhar merupakan sosok yang menginspirasi dalam tugas mengembangkan dan merawat cendekiawan muslim. Selain itu, Syekh Ath-Tahyeb juga merupakan ulama besar yang disegani, intelektual Muslim yang diakui dunia, serta tokoh yang selalu menyerukan kebenaran dan menebarkan kedamaian dunia. 

“Al-Azhar menjadi rujukan kami dalam mengembangkan UIN Malang, suatu saat nanti UIN Malang akan menjadi seperti Universitas Al-Azhar, yang mengembangkan ajaran Islam Rahmatan lil Alamin,” tutup Mudjia Raharja. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kiai, PonPes, Sunnah HMI Tegal Kab

Minggu, 31 Desember 2017

Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi

Bandung, HMI Tegal Kab

Jalaluddin Rumi, seorang tokoh sufi berpengaruh di dunia Islam dilahirkan di Balkh (sekarang Afganistan) pada tahun 604 H/1207 M. Ia dikenal sangat piawai dalam pemikiran esoteriknya melalui ungkapan syair-syair yang indah. Pemikiran Rumi berbeda dari sebagian tokoh sufi lainya.

"Rumi itu sosok yang berbeda. Dia tidak punya aliran, dia tidak punya mazhab, dia tidak punya ajaran khusus tentang tasawuf. Disebut sufi karena dalam seluruh aspek kehidupannya senantiasa terjun pada dunia spiritual," kata Prof Muhtar Sholihin, Wakil Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dalam Seminar Internasional "The Beauty of Persian Peotries and The Teaching Of Islamic Mysticism of Maulana Jalaluddin Rumi" di gedung Aula Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati, Jalan AH Nasution, Bandung, Senin (24/2).

Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Cinta dari Jalaluddin Rumi

Pengurus LTNU Jawa Barat ini menambahkan bahwa dalam konteks pemahaman pemikiran, Rumi beserta kajian tasawuf dan filsafatnya lebih menyulitkan daripada memahami Ibnu Arobi dan Al Hallaj.

HMI Tegal Kab

"Kenapa demikian? Karena Rumi ini adalah seorang fiosofi dan filsufi yang pemahaman-pemahaman wihdatul wujudnya dan sebagainya dituangkan dalam karya sastra," tegasnya.

Sebuah contoh karya Jalaluddin Rumi adalah tentang penciptaan alam semesta ini yang dihubungkan dengan cinta, sebab katanya hal pertama yang di ciptakan oleh Tuhan adalah cinta.

HMI Tegal Kab

"Cinta adalah samudra (tak bertepi) tempat langit menjadi sekadar serpihan-serpihan busa, (mereka kacau balau) bagaikan perasaan Zulaikha yang menghasrati Yusuf," kata Prof Muhtar menyebutkan salah satu karya rumi tentang "Cinta Universal"

Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Bandung ini pun menjelaskan mengapa cinta digambarkan sebagai sebuah samudra yang tak bertepi dalam kata lain pengkiasan bumi, tetapi bumi yang kita pijaki ini adalah sebuah serpihan, karena bumi itu di ciptakan karena cinta.

"Jadi yang disebut hukum alam atau sunatullah itu adalah sebuah proses bergerak oleh cinta," jelasnya

Dalam perspektif Rumi, lanjutnya, dalam sebuah contoh, dua orang yang saling membenci, pada saat ketika bisa melakukan sikap saling membenci? Menurut pandangan Rumi kedua orang tersebut dilandasi karena cinta, sebab dibalik kebencian terdapat rasa sayang.

"Seperti dalam teori es, ketika berada pada titik 4 derajat Celcius menjadi sangat beku dan dingin, turun di titik 0 Celcius masih dingin, dan pada titik negatif ke bawah menjadi panas. Itu artinya karena bencinya kepada orang, itu menjadi cinta, maksud saya adalah kebencian itu ialah wujud cinta yang teramat cinta," imbuhnya

Acara seminar International yang bertajuk Keindahan sastra Persia dan tasawuf Maulana Jalaluddin Rumi ini diselenggarakan oleh Iranian Corner, nampak hadir pembicara Dr. Hujjatullah Ibrahimnion (Republik Islam Iran), Prof. Dr. Muhtar Sholihin M.Ag (Wakil Rektor II UIN Bandung), Bastian Zulyeno (Dosen Bahasa dan sastra Universitas Indonesia Jakarta), Dr. Ali Masrur M.Ag (Direktur Iranian Corner). Ratusan mahasiswa memadati Aula Fakultas Usuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Bakti Habibie/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, RMI NU, PonPes HMI Tegal Kab

Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab

Jakarta, HMI Tegal Kab. Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal (Pol) Sutarman akhirnya mengizinkan polisi wanita (polwan)menggunakan jilbab pada saat bertugas. Apa alasan mantan ajudan Gus Dur itu mengizinkan polwan berjilbab?

Menurut Jenderal Sutarman, penggunaan jilbab merupakan hak pribadi setiap warga negara, terkait keyakinan terhadap ajaran agamanya.

Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab

"Itu hak asasi seseorang, saya sudah sampaikan kepada anggota kalau misalnya ada anggota yang mau pakai, silakan!" katanya di sela-sela acara Silaturahmi Kapolri dengan Insan Pers di Ruang Rupatama Mabes Polri, Selasa (19/11) kemarin.

HMI Tegal Kab

Ketentuan mengenai seragam polisi, termasuk di dalamnya polwan, diatur dalam Surat Keputusan (SK) Kapolri No Pol: Skep/702/IX/2005. Memang tidak tertulis larangan berjilbab dalam surat keputusan Kapolri lama itu. Namun, SK itu sudah dianggap mewajibkan semua anggota untuk mengenakan seragam yang telah ditentukan itu, dan tidak ada jilbab untuk polisi wanita.

Pernyataan Kapolri Sutarman yang belum lama dilantik itu mengakhiri polemik di kalangan pejabat kepolisian terkait boleh tidaknya polwan berjilbab. Meski demikian sampai saat ini belum ada aturan resmi baru yang dikeluarkan Kapolri terkait penggunaan jilbab, terkait anggaran dan model jilbab yang boleh dipakai.

HMI Tegal Kab

Kata Kapolri, Polwan yang ingin menggunakan jilbab dipersilakan membeli sendiri. "Anggaran belum ada, kalau mau beli, silakan. Contohnya kan sudah ada. Mulai besok kalau ada yang mau pakai saat tugas tidak masalah," ujarnya enteng.? (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote, Olahraga, PonPes HMI Tegal Kab

Selasa, 19 Desember 2017

Santri Tak Hanya Cerdas, Tapi Amalkan Ilmu

Sumenep, HMI Tegal Kab - Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka, Bluto, Sumenep menyelenggarakan haul akbar pendiri dan pengasuh serta reuni alumni. Pada kegiatan yang dihadiri lebih dari seribu alumni ini, pengasuh mengingatkan pentingnya menjaga perilaku sebagai pembeda dari mereka yang bukan santri.

"Semua perbuatan walaupun baik, harus ada adabnya," kata KH Ramdlan Siraj, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Sabtu (20/5).

Santri Tak Hanya Cerdas, Tapi Amalkan Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Tak Hanya Cerdas, Tapi Amalkan Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Tak Hanya Cerdas, Tapi Amalkan Ilmu

Bahkan membaca Al-Quran, berdoa, bahkan orang minta amal untuk masjid harus ada adabnya, lanjut mantan Bupati Sumenep tersebut.

Kiai Ramdlan tidak menampik kalau santri zaman sekarang telah mengalami pergeseran perilaku atau adab. "Santri sekarang tidak betah tinggal di pondok dan hanya datang ke pondok ketika belajar," katanya. Yang membuat prihatin, mereka beralasan karena ingin naik motor. Padahal, anak ini masih berada di bawah umur, lanjutnya.

HMI Tegal Kab

"Bagaimana anak tersebut mendapatkan keberkahan ilmu kalau yang dilakukan tidak menggunakan adab," sergahnya. Padahal secara aturan telah dinyatakan bahwa pemerintah melarang anak di bawah umur untuk mengendarai motor.

HMI Tegal Kab

Di hadapan ribuan para alumni yang hadir, alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini mengingatkan bahwa sejak dulu pesantren tidak bermaksud mencetak santri yang semata cerdas. "Tapi yang lebih penting adalah santri yang benar," ungkapnya.

Di pesantren ini telah berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Nurul Islam atau Stiqnis. "Jangan sampai para mahasiswanya hanya pandai berbicara, berdiskusi tentang tafsir dan sebagainya," pesannya.

Yang harus lebih menjadi penekanan adalah pengamalan dari ilmu yang diperoleh. Termasuk.gelar yang diperoleh harus sesuai dengan keilmuannya sehingga gelar strata satu hingga strata tiga tidak semata pandai bicara, lanjutnya.

Karenanya, Kiai Ramdlan merasa malu dan risih untuk mendapat gelar doktor karena takut tidak adanya kesesuaian antara gelar dan perilaku keseharian. "Apalagi gelar akademis sekarang bisa dibeli dengan uang dan semata untuk tampil gagah," sentilnya.

Dengan sedikit berseloroh, ia mengungangkapkan pada prinsipnya santri sudah dapat menyandang gelar sarjana strata dua. "Santri yang tidak kuliah sekalipun sudah dapat gelar strata dua yakni lulus Sullam Safina," tegasnya.

Di akhir uraiannya, Kiai Ramdlan mengingatkan para santri serta alumni agar menghiasi perbuatan dengan adab, norma serta tata krama. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tegal, PonPes, Nusantara HMI Tegal Kab

Rabu, 13 Desember 2017

Pelatihan Menulis Itu Penting, Praktik Lebih Penting

Banyumas, HMI Tegal Kab?

Lima puluhan kader muda NU Banyumas yang tergabung dalam komunitas Critical Community Forum mengadakan diskusi sekaligus pelatihan jurnalistik.

Kegiatan berlangsung di Padepokan Gatra Mandiri Jl.Tentara pelajar no 1 Desa Pamijen Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas Senin (15/5) tersebut menghadirkan narasumber Okky Tirto (dosen UNUSIA) dan Amsar A. Dulmanan (Kornas FK-GMNU).?

Pelatihan Menulis Itu Penting, Praktik Lebih Penting (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Menulis Itu Penting, Praktik Lebih Penting (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Menulis Itu Penting, Praktik Lebih Penting

Amsar A.Dulmanan menyampaikan, menulis dimulai dengan kebiasaan, jika dilanjutkan dengan terus-menerus berlatih, lama-lama akan menjadi terbiasa.?

"Biasakan menulis dulu, nanti lama-lama terbiasa dari terbiasa terus jadi bisa," katanya.

HMI Tegal Kab

Kecenderungan jenis tulisan, akan terbentuk dengan kebiasaan. "Pelatihan menulis seperti ini penting tapi, praktik sendiri juga lebih penting," lanjutnya.?

Sedangkan Okky Tirto menyampaikan, kalau ingin bisa menulis harus fokus dan memperbanyak membaca.?

HMI Tegal Kab

"Fokuskan menulis, jangan banyak memikirkan hal lain," katanya sembari mengatakan, membaca juga penting untuk memperkaya kosa kata tulisan. (Kifayatul Akhyar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hadits, Nusantara, PonPes HMI Tegal Kab

Selasa, 07 November 2017

Imam Abu Hanifah dan Tuduhan Kebaikan

Dalam kitab Tadzkirah al-Auliya, Fariruddin Attar mencatat sebuah kisah menarik tentang kemuliaan hati Imam al-A’dham, Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit (699-767 M) rahimahu Allah. Diceritakan:

Imam Abu Hanifah dan Tuduhan Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Abu Hanifah dan Tuduhan Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Abu Hanifah dan Tuduhan Kebaikan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?, ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?, ?: ? ? ? ? ? ? ?. ? ?" ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: (? ? ? ? ? ?)

HMI Tegal Kab

Imam Abu Hanifah memiliki kebiasaan shalat tiga ratus rakaat setiap malam. Suatu hari ada orang melintas ketika ia sedang melaksanakan shalat. Seorang wanita berkata pada wanita lainnya: “Orang ini (Imam Hanafi) shalat setiap malam lima ratus rakaat.”

Imam Abu Hanifah mendengar perkataan itu dan berniat shalat lima ratus rakaat untuk membenarkan persangkaan wanita tersebut. Setelah itu ia shalat lima ratus rakaat setiap malam sampai sekumpulan anak-anak yang tengah bermain melintas dan berkata satu sama lainnya: “Orang ini shalat setiap malam seribu rakaat.”

Imam Abu Hanifah mendengarnya dan berkata: “Aku akan shalat, insya Allah, setiap malam seribu rakaat, agar persangkaan anak-anak itu tidak salah.”

HMI Tegal Kab

Imam Abu Hanifah melaksanakan shalat seribu rakaat setiap malam cukup lama, kemudian sebagian dari murid-muridnya berkata kepadanya: “Orang-orang meyangka bahwa guru tidak tidur di malam hari.”

Imam Abu Hanifah berkata: “Aku berjanji tidak akan tidur.” Setelah itu, ia meninggalkan tidur malam sama sekali.

(Mendengar itu) murid-muridnya bertanya: “Kenapa wahai guru?”

Imam Abu Hanifah menjawab: “Agar aku tidak termasuk ke dalam orang-orang yang digambarkan Allah SWT (Q.S. Ali Imran [3]: 188), yaitu,“Orang-orang yang suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan.” (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashîliy al-Wasthâni al-Syâfi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009 hlm 260-261)

****

Apa yang dilakukan Imam Abu Hanifah merupakan tafsir terapan dari firman Allah di atas. Secara lengkap dikatakan (Q.S. Ali Imran [3]: 188):

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Jangan sekali-kali kamu menyangka orang-orang yang gembira dengan apa yang mereka telah kerjakan dan orang-orang yang senang dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siska, bagi mereka siksa yang pedih.”

Di zaman sekarang ini, menemukan orang seperti Imam Abu Hanifah bisa dibilang hampir mustahil. Ia tidak hanya takut termasuk ke dalam golongan “orang yang suka dipuji atas perbuatan yang belum dikerjakannya”, tapi juga takut persangkaan itu memberi dosa kepada orang-orang yang menyangkanya terlalu shaleh. Untuk menghindari dua hal tersebut, ia selalu melaksanakan apa yang dituduhkan orang-orang kepadanya. Tidak peduli hal itu menyusahkan fisiknya atau tidak.

Sisi lainnya, Imam Abu Hanifah takut terjebak pada perasaan riya. Pujian adalah pintu masuk paling lembut di hati manusia, menjadi pupuk untuk berkembang biaknya sifat-sifat tidak terpuji itu. Orang-orang yang shalat pun akan celaka ketika shalatnya ditujukan untuk pamer (riya)—wailul lil-mushallîn, alladzîna hum yura’un. Imam Abu Hanifah berusaha agar terhindar dari pesona jebakan “pujian” itu. 

Dari pandangan tersebut, keadaan pamer (riya) manusia bisa diawali dari beberapa hal. Pertama, diawali oleh hasrat ingin dipuji. Orang-orang semacam ini biasanya akan memperbanyak ibadah di saat ramai, dan menyedikitkan ibadah di saat sunyi. Tujuan ibadahnya untuk mendapatkan pujian dari manusia.

Kedua, diawali dari niat ibadah yang tulus, kemudian terjebak oleh pujian orang-orang yang melihat kekhusyuan ibadahnya. Perlahan-lahan perasaan bangga dipuji muncul, meskipun pujian itu tidak sesuai dengan ibadah yang dilakukannya, seperti pujian orang-orang kepada Imam Abu Hanifah. Untuk menghindari keterjebakan tersebut, Imam Abu Hanifah berusaha membenarkan sangkaan baik orang-orang kepadanya dengan melaksanakan semua sangkaan itu.

Ketiga, diawali karena takut dipuji oleh manusia. Riya semacam ini termasuk riya dengan tingkatan tinggi, dalam arti baik. Tetapi, masih menyisakan ruang masuknya sifat-sifat buruk di hati manusia. Sebab, ibadahnya bukan semata-mata karena Allah, tapi karena takut dipuji manusia. Seseorang yang hatinya telah tenang, menjalankan semua ibadah hanya karena Allah, bukan karena takut dipuji atau dibenci oleh manusia.

Namun, kita semua tahu, hati manusia itu berubah-ubah. Iman sendiri dalam hadits Rasul, “yazid wa yanqush—bertambah dan berkurang.” Semua orang pasti mengalami perasaan hati yang bergejolak. Apa yang dilakukan Imam Abu Hanifah dalam kisah di atas, disebabkan pengetahuannya tentang hati yang berubah-ubah. Ada banyak jebakan dalam kehidupan. Tindakannya dalam menjalankan semua tuduhan kebaikan kepadanya, adalah usahanya untuk menjaga hatinya dari jebakan kesenangan dipuji.

Dengan kata lain, kesenangan untuk dipuji (riya) seharusnya dijadikan sebagai penjaga yang mengawal kesadaran kita.Karena tidak mungkin riya itu hilang dari hati manusia.Allah telah menginstal di hati kita berbagai sifat buruk. Tetapi, sifat buruk itu sebenarnya sifat baik jika digunakan sebagai sensor kesadaran kita. Contohnya, ketika kita sedang membenci, kita sadar akan kebencian kita, dan berusaha melembutkannya. Ketika kita sedang sombong, kita sadar akan kesombongan kita, dan berusaha menjinakkannya. Tanpa sifat-sifat buruk itu, perjuangan kita sebagai manusia tidak akan berarti.

Manusia berbeda dengan malaikat. Malaikat adalah makluk statis yang tidak memiliki sifat-sifat buruk. Karenanya wajar jika malaikat tidak pernah berbuat jahat.Mereka ditakdirkan oleh Allah sebagai makhluk yang tidak memiliki sifat-sifat buruk. Sedangkan manusia, di dalamnya bercampur sifat baik dan sifat buruk, yang membuat manusia memiliki kemampuan menjadi lebih mulia dari malaikat dan lebih hina dari binatang.

Maka dari itu, kita harus berhati-hati dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenali teriakan nurani yang mengatakan ini atau itu salah. Jangan abaikan suara-suara itu. Semakin sering diabaikan, suara-suara itu tidak akan terdengar lagi. Seperti orang yang pertama kali melakukan kejahatan, dia gemetar, takut dan resah. Semakin sering dia melakukannya, perasaan itu semakin lama memudar, dan kemudian tidak ada sama sekali.

Begitupun dalam hal ibadah, kita harus berhati-hati dalam menjaga kesadaran kita, agar tidak mudah dikuasai oleh kesenangan dipuji. Inilah alasan kenapa ada istilah husnul khatimah (akhir yang baik) dan su’ul khatimah(akhir yang jelek)dalam kematian. Artinya, hati itu sangat rentan dikuasai oleh sifat buruk yang tidak mengarah pada kesadaran kita. Dengan adanya istilah tersebut dalam kematian, kita menjadi waspada agar terus menjaga hati kita sampai Allah memanggil kita.Sebab, kita tidak tahu akan mati dalam keadaan apa. 

Imam Abu Hanifah, dalam kisah di atas, memberikan contoh baik. Semoga kita dapat mengambil hikmah darinya. Sebagai penutup, perkataan Imam Yahya bin Muadz (830-971 M)perlu kita renungkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dosa yang membuatku butuh ampunanNya lebih kusenangi daripada ketaatan yang membuatku menyombongkan diri dengannya.”(Ibnu Jauzi, Shifat al-Shafwah, Kairo: Darul Hadits, 2000, juz 2, 292).

Muhammad Afiq Zahara, pernah Nyantri di Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Lomba, PonPes, Santri HMI Tegal Kab

Senin, 25 September 2017

Anggie Sebut 40% Rakyat Indonesia Kurang Gizi

Manado, HMI Tegal Kab - Ketua Umum PP Fatayat NU Anggi Ermarini mengatakan, kondisi masyarakat Indonesia saat ini tercatat 40 persen dinyatakan kekurangan gizi. Menurut Anggi, kondisi ini diperparah dengan tingginya tingkat kematian ibu dan bayi sehingga target Millinium Development Goals (MDG) tidak tercapai di Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan Anggi Ermarini pada pelantikan Fatayat NU Kabupaten/Kota se-Sulawesi Utara, di Hotel Sahid Kawanua Manado, Ahad (21/02).

Anggie Sebut 40% Rakyat Indonesia Kurang Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggie Sebut 40% Rakyat Indonesia Kurang Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggie Sebut 40% Rakyat Indonesia Kurang Gizi

"Karena itu menjadi tugas Fatayat NU untuk memperkuat program di bidang kesehatan. Kalau ibunya sehat, sudah pasti anak dan suami akan sehat."

Ia menyampaikan bahwa bulan Juli mendatang Fatayat NU diundang menjadi salah satu pembicara di forum PBB. “Karena itu kita patut berbangga dengan kepercayaan ini," ujar Anggi.

HMI Tegal Kab

Anggi yang ditemani Efri Nasution dan Enung Maryati dari pengurus PP Fatayat NU menegaskan beberapa hal terkait program kerjanya selama memimpin Fatayat NU hingga lima tahun mendatang.

Selain persoalan gizi, masalah kekerasan terhadap anak makin marak akhir-akhir ini. Untuk itu Fatayat bertekad membebaskan perempuan Indonesia dari perlakuan diskriminatif yang dialami di berbagai lapangan kehidupan seperti ekonomi, politik, sosial dan budaya. Serta memberikan kesempatan perempuan kita untuk mengembangkan kapasitas dirinya sebagai manusia.

HMI Tegal Kab

“Untuk merealisasikan semua itu tentu ada syaratnya, yakni makan makanan yang cukup, kesehatan yang baik, pendidikan, dan kemerdekaan untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri," tegas Anggi.

Terkait dengan maraknya LGBT, peredaran narkoba dan prostitusi online, Anggi tak ingin berkomentar banyak. "Semua itu kembali kepada diri kita masing-masing sebagai perempuan. Kalau memang hal tersebut dilarang, sebaiknya jangan dilakukan dan sebisa mungkin dijauhi.” (Asep Sabar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab PonPes, Halaqoh HMI Tegal Kab

Rabu, 13 September 2017

Demonstrasi, Muslim Israel Kecam Tindakan Myanmar atas Rohingya

Tel Aviv, HMI Tegal Kab - Krisis kemanusiaan yang berlangsung di Myanmar mengundang aksi protes dari berbagai kalangan, tak terkeuali umat Islam yang tinggal Israel.

Puluhan warga Arab Israel telah menggelar demonstrasi di luar kantor kedutaan besar Myanmar di Tel Aviv untuk memprotes perlakuan pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya. Demonstrasi pada Senin (11/9) itu diselenggarakan oleh Gerakan Islam di Israel.

Demonstrasi, Muslim Israel Kecam Tindakan Myanmar atas Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Demonstrasi, Muslim Israel Kecam Tindakan Myanmar atas Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Demonstrasi, Muslim Israel Kecam Tindakan Myanmar atas Rohingya



(Baca: Polisi Rusia Tahan Para Demosntran soal Krisis Rohingya)


Koordinator aksi, Ibrahim Sarsour, sebagaimana diktuip AP, mengatakan bahwa pihaknya hari itu berkumpul untuk mengutuk kekejaman yang dilancarkan pemerintah Myanmar.

HMI Tegal Kab

"Merupakan tanggung jawab masyarakat internasional untuk bergerak, untuk bertindak, secepatnya menghentikan pertumpahan darah," katanya. "Saya menilai ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan."

Badan pengungsi U.N melaporkan bahwa 270.000 orang telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh dalam tiga minggu terakhir. Dikatakan ada laporan, yang didukung oleh citra satelit, "pasukan keamanan dan milisi lokal yang membakar desa Rohingya" dan melakukan pembunuhan di luar hukum.

HMI Tegal Kab

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Senin, seperti diwartakan AFP, melaporkan bahwa total orang Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh sejak 25 Agustus mencapai 313.000 jiwa.

Selain Israel, umat Islam di Rusia juga melakukan aksi serupa pada akhir pekan kemarin. Sekitar 200 orang pendemo turun ke jalan di Saint Petersburg, Rusia, dan membuat lebih dari seratus orang di antara mereka di tahan polisi setempat karena dianggap tanpa izin. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab News, PonPes HMI Tegal Kab

Selasa, 20 Juni 2017

Kiai Said: Ahlul Halli Sebaiknya untuk Rais Aam Saja

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpendapat konsep pemilihan ahlul halli wal aqdi atau penunjukan oleh orang-orang terpilih sebaiknya dilaksanakan untuk jabatan rais aam saja, sedangkan untuk posisi ketua umum PBNU dilaksanakan pemilihan langsung sebagaimana yang berlaku selama ini.

Kiai Said: Ahlul Halli Sebaiknya untuk Rais Aam Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Ahlul Halli Sebaiknya untuk Rais Aam Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Ahlul Halli Sebaiknya untuk Rais Aam Saja

“Ini untuk pemilihan jajaran syuriyah saja, kalau ketua umum tetap pemilihan langsung,” katanya kepada HMI Tegal Kab baru-baru ini.

Ia berpendapat, sistem ahlul halli untuk kalangan syuriyah ini untuk menjaga martabat kiai sepuh yang akan menjadi rais aam supaya tidak kelihatan sekali dilombakan atau diadu. 

HMI Tegal Kab

“Minimal tidak ada benturan atau ketegangan antara dua kandidat rais aam atau pendukungnya.”

Kiai Said menjelaskan ahlul halli pernah dilakukan untuk memilih Gus Dur sebagai ketua umum, namun demikian yang penting saat ini jika konsep tersebut dipakai kembali adalah mekanisme seperti apa yang disepakati, atas dasar apa kiai-kiai yang akan menjadi anggota ahlul halli, semuanya masih belum jelas.

HMI Tegal Kab

Beberapa prasyarat yang menurutnya penting diataranya adalah keilmuan, kewiraian, sikap mental, perilakunya, dan juga posisinya di tengah masyarakat. 

“Kalau kiai yang tidak dikenal masyarakat juga sulit nantinya, minimal dikenal di pihak luar seperti pemerintah kenal, mabes TNI kenal, DPR kenal, kalau ngak, repot,” tandasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab PonPes HMI Tegal Kab

Minggu, 18 Juni 2017

Banser Korsel Tanggapi Tragedi Penganiayaan Kejam terhadap Kancil

Jakarta, HMI Tegal Kab. Aparatur negara sudah selayaknya berpartisipasi menjaga lingkungan hidup dan tidak tergoda iming-iming uang. Karena, dampak kerusakan lingkungan hidup akan menjadi tanggung jawab bersama.

Banser Korsel Tanggapi Tragedi Penganiayaan Kejam terhadap Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Korsel Tanggapi Tragedi Penganiayaan Kejam terhadap Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Korsel Tanggapi Tragedi Penganiayaan Kejam terhadap Kancil

Demikian disampaikan Komandan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Korea Selatan Sukaryadi di Ansan, Korea Selatan, Rabu (30/9) ketika menanggapi kasus pembunuhan petani penolak penambangan pasir, Salim di desa Selo Awar-Awar kecamatan Pasirian, Lumajang.

"Saya sepakat pelakunya mendapat hukuman setimpal. Kami berharap kasus ini diusut dengan tuntas," ujar Sukaryadi kepada HMI Tegal Kab saat diwawancarai.

HMI Tegal Kab

Salim alias Kancil dibunuh sebelum demo penolakan tambang pasir di desa Selo Awar-Awar, Pasirian oleh pihak pro-penambangan pasir. Sementara warga lain yang juga menolak penambangan pasir Tosan mengalami luka serius. Kini ia dirawat secara intensif di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang.

HMI Tegal Kab

"Penganiayaan berlangsung di balai desa tentu menimbulkan kecurigaan adanya kongkalikong oknum aparatur negara dalam hal ini oknum aparatur desa dengan para pelaku pembunuhan sadis itu," ujar Sukaryadi.

Senada Sukaryadi, Ketua Dewan Penasehat GP Ansor Waykanan Yozi Rizal juga menanggapi terbunuhnya Kancil. Ia menyayangkan orang-orang yang demi materi menggelapkan mata.

"Sama di tempat kita, demi harta mereka tega mengeruhkan sungai, menghancurkan ekosistem dengan merugikan lebih banyak manusia," ujar Yozi.

Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto meminta negara tidak lagi melakukan pembiaran berulang. Menurutnya, negara sudah berulang kali alpa dan berulang melakukan pembiaran atas penganiayaan dan pembunuhan terhadap warga?

"Narapidana bersalah saja masih bisa mungkin mendapatkan grasi, mengapa orang-orang benar seolah-olah dan melulu dibiarkan untuk dibunuh?" ujar Gatot yang baru saja menggelar kelas menulis lingkungan hidup, "Berdamai dengan Lingkungan Hidup. Berdamai dengan Masa Depan Yang Hidup" itu. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab PonPes, Kajian Sunnah HMI Tegal Kab

Senin, 07 Maret 2016

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim

Mungkin jarang bagi kita mendengarkan nama Saridin Syarif. Namun terlepas dari populer atau pun tidaknya sosok Syaridin Syarif, ia adalah seorang tokoh yang cukup memiliki peranan penting dalam sejarah penyatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terutama seputar penyatuan kembali pulau Sumatera setelah meletusnya pemberontakan PRRI di Sumatera Barat.

Saridin Syarif adalah tokoh yang berhasil melunakkan pemerintah pusat agar tidak meneruskan pengejaran terhadap PRRI (1958) dan mengampuni Syafruddin Prawiranegara sebagai dalang pemberontakan dengan tebusan berupa pengembalian seluruh kekayaan rampasan Syafruddin yang digunakan sebagai modal pemberontakannya.<br />

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendiri NU yang Menyayangi Anak Yatim

Saridin Syarif juga adalah seorang tokoh yang sangat berjasa dalam pengembangan cabang-cabang NU di Sumatera Barat dan sekitarnya. Beliau merintis NU tahun di pelosok-pelosok Sumatera Barat sejak tahun 1954 bersama Nurain Datuk Patih, teman sekampungnya, dengan melakukan banyak sekali kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah di Lubuk Limpang, Sawah Lunto, Bonjol, Solok dan Painan dan lain-lain.

Dalam kunjungan-kunjungannya ini Saridin Sarif juga ditemani oleh orang-orang dari Maninjau. Terutama sekali Saridin memang menemani Bapak Thoha Ma’ruf sebagai ketua, sedangkan Beliau sendiri berlaku sebagai sekretaris. Di mana wilayah kunjungannya mencapai Rengat dan Jambi. Sementara bergiat istrinya mendirikan Muslimat NU pada tahun 1956 bersama Ibu Rosma Burhan dari Bonjol. Kegiatan mendirikan cabang-cabang dan ranting-ranting NU ini diisi dengan mendirikan sekolah-sekolah, yang sampai sekarang masih ada. Hingga saat ini sekolah-sekolah tersebut, masih dikelola oleh para penerusnya.

HMI Tegal Kab

Latar Belakang Peran kepemimpinan

HMI Tegal Kab

Mayoritas jaringan Ulama Sumatera Barat pada dasawarsa 1930 hingga 1950-an berada di bawah naungan Perti yang telah menjadi organisasi berskala nasional dengan memiliki cabang di berbagai wilayah Indonesia. Namun Perti lebih tampak sebagai organisnasi etnis karena begitu kentalnya dominasi ulama Minangkabau.

Kekurangan Perti inilah yang pada gilirannya, memberikan pencerahan kepada beberapa kader terbaik mereka untuk membina sebuah hubungan lintas ulama dalam spekrum yang lebih luas. Para kader terbaik ini beranggapan bahwa untuk mempertahankan dan mengembangkan keislaman ala Ahlussunnah Waljamaah, terutama ala syafi’iyyah, di Indonesia, mestilah ditopang dengan suatu keorganisasian yang mampu menaungi segala etnis dan diterima oleh etnis-etnis yang lain tanpa membeda-bedakan. Artinya mereka menginginkan sebuah interaksi yang sejajar di antara para pejuang Ahlussunnah Waljamaah. Maka menurut mereka, NU adalah bahtera yang sesuai keinginan mereka. Terutama sekali mereka juga tidak menginginkan Muhammadiyah dan Masyumi mengambil peran tunggal dalam sosio religius Sumatera Barat.

Maka mereka pun menaruh sebuah harapan besar agar NU dapat didirikan di Sumatera Barat. Meskipun demikian, sebenarnya orientasi ke-NU-an di antara masyarakat Sumatera Barat telah terjalin sejak lama, terutama di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan tapanuli Selatan. Hal ini sikarenakan Tapanuli Selatan sudah menjadi basis Nu sejak tahun 1940-an, sementara telah sejak lama santri-santri asal Sumatera Barat, khususnya wilayah Pasaman yang menuntut ilmu di Tapanuli selatan.

Di samping itu, aktivitas perdagangan mengakibatkan interaksi semakin intens terjadi antara orang-orang NU Tapanuli Selatan de santri-santri Minangkabau. Sehingga beberapa tokoh dan pendiri Nu di Sumatera Barat, beberapa di antaranya berasal dari Tapanuli Selatan, seperti Djamaluddin Tarigan dan Djabonar Lubis yang merupakan orang-orang Melayu asal Tapanuli Selatan. Setelah beberapa lama menjalin hubungan dagang dengan penduduk pasaman, Keduanya mendirikan Pesantren di sana. Dengan demikian pesantren-pesantren ini jeas berafiliasi kepada NU meskipun belum secara formal.

Maka tak heran ketika cabang resmi NU lahir pertama kali di Rao Mapattunggal, Kabupaten Pasaman, justru cabang NU ini merupakan cabang Istimewa dari Wilayah NU Sumatera Utara (bukan Sumatera Barat atau Sumatera Tengah) karena Sumatera Barat belum memiliki kepengurusan Wilayah. Cabang NU Mapattunggal ini pertama kali diketuai oleh Djabonar Lubis.

Harapan besar kepada NU ini mendapatkan momentumnya ketika Zarkawi, salah seorang Tokoh Muda Perti menghimpun teman-temannya karena tidak puas dengan keputusan Perti yang berpegang ”hidup mati” hanya pada satu Madzhab saja, yakni Syafi’iyah. Zarkawi dan teman-temannya, Abu al-Ma’ani, Saudin Yusuf, Thoha Ma’ruf, yaridin Syarif dan A. Razak Tuanku tanah Air, menggodok tiga opsi yang akan mereka pilih dalam memperjuangkan Ahlussunnah Waljamaah di Sumatera Barat.

Ketiga opsi tersebut adalah, pertama, memperjuangkan pembaharuan pemikiran di Perti agar dapat lebih berkembang dan tidak hanya terpaku pada satu madzhab saja. Kedua, mendirikan organisasi baru yang yang sesuai dengan keinginan mereka. Ketiga, berafiliasi dengan NU yang dianggap juga telah sukup memenuhi kriteria yang mereka inginkan. Meski tentu saja ketiga opsi ini mengandung makna yang mendalam dalam masing-masing jiwa mereka, karena bagaimanapun juga Perti selama ini adalah bahtera mereka dalam memperjuangkan Islam Ahlussunnah Waljamaah.

Hingga pada tahun 1954 M. diadakanlah pertemuan para ulama Sumatera Barat di Bukittinggi yang bertempat di Rumah Ustadz Syarif, seorang ulama alumni perantren Tarbiyah, murid langsung dari Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan sudagar kaya yang mampu membiayai seluruh akomodasi pertemuan tersebut. Hasil kesepakatan bulat dalam pertemuan ini adalah bergabung dengan NU yang segera didukung secara serentak oleh seluruh ulama yang berafiliasi NU.

Satu hal yang cukup menggembirakan bagi kelanjutan keputusan ini adalah adanya kenyataan bahwa Kyai Muslih, seorang tokoh NU dari Jakarta, sedang bertugas sebagai Kepala Jawatan Urusan Agama Sumatera tengah yang berkedudukan di Bukittinggi. Selama ini Kyai Muslih tidak pernah mengajak mereka untuk bergabung dengan NU karena menganggap bahwa masyarakat Sumatera Barat telah memiliki organisasinya sendiri, yakni Perti. Karenanya, Kyai Muslih cukup terkejut mendengar keinginan kader-kader terbaik Perti ini untuk bergabung dengan NU. Kyai Muslih pun kemudian menerima pernyataan dan hujjah mereka untuk bergabung dengan NU. Maka dengan demikian tiada lagi halangan untuk mendirikan kepengurusan NU Wilayah Sumatera Barat.

Di tingkat wilayah, KH Zarqowi Wahid yang telah bergelar Syeikh Tabik Gadang dipercaya memimpin Suriah karena ketokohan dan garis kebangsawanan ulamanya yang tidak tertandingi di sana. Beliau adalah anak kandung dari pemangku Pesantren Tabik Gadang, Syeikh Abdul Wahid yang sangat dihormati. Sementara untuk mengisi kepemimpinan Tanfidziyah rupanya cukup sulit, karena beberapa tokoh memiliki kapabilitas dan kredibilitas yang sepadan. Mereka antara lain adalah, Saridin Syarif, Abul Ma’ani, Thoha Ma’ruf, Yasir Syafi’i dan Hasan Basri. Namun karena Thaha Ma’ruf dianggap memiliki jangkauan lebih luas karena darah Banjar-nya, maka ia pun dinobatkan sebagai ketua Tanfidziyah. Secara kebetulan KH. Idham Khalid (Ketua PBNU waktu itu) adalah ulama keturunan Banjar. Sedangkan Saridin Syarif dipercaya sebagai sekretaris tanfidziyah.

Terlahir demi NU

Saridin terlahir sebagai Sulung dari tiga bersaudara di Payakumbuh, Sumatera Barat pada 22 Desember 1929 dari pasangan suami istri guru ngaji, Muhammad Syarif yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar dan Ibu Darusah, seorang ibu rumah tangga, sebuah keluarga sederhana dan religius.

Saridin kecil memulai pelajarannya dari asuhan kedua orang tuanya dan menamatkan pendidikan dasar di Payakumbuh di bawah naungan PERTI, kemudian tetap di kampung halamannya untuk belajar hingga menamatkan SMA di Bukit Tinggi.

Semenjak masa mudanya, Saridin telah aktif di dunia organisasi dengan mengikuti kursus-kursus jurnalistik dan pendidikan kader. Beliau banyak sekali mengikuti pelatihan-pelatihan keorganisasian dan politik sejak muda. Sehingga Ketua Umum PBNU Idham Kholid menawari dirinya untuk melanjutkan belajar ke luar negeri. Namun orang tuanya tidak mengijinkan, maka Beliau pun tidak jadi pergi ke sana.

Saridin Syarif memiliki hobi mendirikan sekolah yang berafiliasi ke NU, mulai dari Payakumbuh (tanah kelahirannya) hingga di Depok (tempat tinggalnya yang terakhir) juga didirikan sekolah dan panti asuhan.

Menurut penuturan Isterinya, ketika mendirikan wilayah NU Sumatera Barat yang berkedudukan di Bukit Tinggi, yang meresmikan adalah Bapak Idham Kholid. Sempat mampir ke Rumah Beliau di Payakumbuh untuk beberapa tahun kemudian datang lagi dan meresmikan cabang NU di sana.

Sejak awal isterinya-lah yang turut mendampingi perjuangannya dalam memperluas dakwah Nahdlatul Ulama. Di mana mereka tidak menalami banyak halangan, karena telah memiliki banyak pengikut kultural yang sebelumnya berasal dari PERTI. Bersama Thoha Ma’ruf dan isterinya, Saridin Syarif yang baru saja menikah kemudian menyumbangkan andil dalam mendirikan cabang-cabang NU di wilayah Sumatera Barat. Betapa pun demikian, harus diakui bahwa cabang-cabang NU di Sumatera Barat lebih muda usianya dibandingkan dengan cabang-cabang PERTI dan Muhammadiyah.

Pada waktu tersebut memang cuaca politik di Indonesia sedang bergejolak. Sekitar waktu pemilu pertama (1955) Saridin Syarif dan isterinya tinggal di Bukit Tinggi, tinggal serumah dengan Thoha Ma’ruf dan isterinya. Sebuah rumah berlantai dua, dengan di lantai bawahnya tinggal keluarga Thaha Ma’ruf sementara di lantai atas tinggal Saridin Syarif dan keluarga. Kemana-mana mereka selalu berdua saja.

Saridin Syarif mengabdikan seluruh hidupnya untuk organisasi. Hingga ia merantau ke Jakarta tahun 1977 dan mengharuskannya selalu pulang balik Jakarta-Padang untuk urusan-urusan NU. Sebenarnya ia telah memulai ke Jakarta sejak tahun 1960-an (sendirian) dan tinggal bersama Bapak thoha Makruf di Kebon Nanas Jakarta Timur. Ia harus bolak-balik ke Jakarta sebagai anggota DPRD Kabupaten 50 Koto.

PKI dan PRRI serta Emas

Pada masa PKI Pak Saridin termasuk dalam daftar yang akan dibunuh oleh PKI (1948) dengan indikasi sudah dibuatkan lubang sumur sehingga ia harus merantau keluar dari kampungnya. Ini pulalah yang menjadi pertimbangan Saridin pada saatnya nanti untuk merantau ke Jakarta, terutama karena penghasilan, ketika anak-anaknya sudah mulai sekolah, sawah-sawah sudah tidak kuat menghasilkan pendapatan yang cukup banyak.

Sementara PKI juga banyak merampas harta-benda kekayaan seperti mesin jahit dan lain-lainnya, maka untuk menghidupi keluarganya, Saridin harus dapat ke luar dari kampungnya. Karena pada zaman PKI, Saridin senantiasa mengalami kesulitan-kesulitan dan dikambinghitamkan. Padahal kenyataan ini tidak dialaminya secara langsung ketika ia memperjuangkan NU tanpa dimusuhi oleh PKI.

Isteri Saridin Syarif (Ibu Nurani Yusuf), berhasil ditemui oleh penulis menyatakan bahwa para pembesar PRRI seperti Syafruddin Prawiranegara dan Muhammad Natsir, pernah membangun markas selama beberapa minggu di kampung halamannya. Sehingga suaminya sempat bertemu dengan mereka pada masa-masa yang rawan tersebut.

Nurani Yusuf adalah saksi mata yang hingga kini masih hidup yang dapat menerangkan bahwa para pemberontak PRRI telah sempat mengendalikan pemerintahan setempat dengan mencetak uang dan mengendalikan transaksi perdagangan di level yang terendah sekalipun. Ia menuturkan bahwa PRRI membuat sendiri uangnya di hutan dengan mengangkat percetakan ke hutan. Bahkan Beliau pernah tinggal serumah dengan isteri Syafruddin Prawira Negara di rumah mertuanya, (ibunya Pak Saridin). Setiap hari istri Syafruddin ini mengantarkan nasi dan bekal-bekal lainnya ke hutan tempat para tentaranya bermarkas.

Istri Syafruddin Prawiranegara sendiri mengajarkan masak dan menjahit kepada rakyatnya waktu itu, dan bahkan sempat mendirikan sekolah untuk anak-anak para pendukung PRRI, bahkan setelah mereka terdesak ke hutan dan gunung-gunung.

Syafruddin bersama keluarganya dan banyak sekali keluarga-keluarga pendukungnya saling berbelanja di kampung dengan menggunakan uang (yang dicetak oleh) mereka sendiri. Hal ini dapat berlaku karena Syafruddin Prawiranegara sendirilah yang menyuruh. Dicetak sendiri, dibelanjakan di antara mereka sendiri. Mereka juga membawa pemancar radio yang setiap hari selalu mengudarakan siaran tentang berita-berita kemenangan PRRI dan menjelek-jelekkan Soekarno. Hal ini jugalah yang menjadikan Muhammad Natsir dan Syafruddin dapat mempercayai pada Saridin Syarif.

Setelah PRRI kalah, rupanya Pak Syafrudin membawa emas yang sempat disembunyikan ditanam di bawah kolong rumah panggung ayah Saridin, sementara sang pemilik rumah justru tidak mengetahui bahwa yang ditanam di bawah rumah mereka adalah emas murni. Menurut yang menanam, peti-peti tersebut berisi senjata. Hingga setelah kalah barulah ketahuan bahwa isinya ternyata emas.

Maka setelah kalah emas yang ditanam di bawah rumah Saridin tersebut inilah yang dijadikan tebusan kepada pemerintah pusat sebagai tanda penyerahan diri mereka. Saridin Syarif sendiri yang mengantarkannya ke Jakarta sebagai tebusan atas nyawa Pak Syafruddin dengan dikawal ketat oleh tentara dari Jakarta. Emas ini kemudian oleh Presiden Soekarno dijadikan sebagai bahan dasar puncak Monumen Nasional (Monas) di jantung kota Jakarta.

Tentara pusat menyita seluruh barang rampasan perang yang tersisa setelah PRRI kalah. Saridin Syarif beserta tokoh-tokoh NU Sumatera Barat lainnya seperti Bagindo Letter, bagindo Jamhar, Bagindo Nukman dan Bagindo Baha’uddin Syarif tidak ditahan. Sementara Thoha Ma’ruf sedang berada di Jakarta, sehingga selama masa-masa terjadinya pemberontakan PRRI maupun seteahnya, NU tidak vakum. Hanya orang-orang Masyumi saja yang ditahan. Padahal ketika meletusnya pemberontakan PRRI, tidak ada utusan dari PBNU yang datang ke sana.

Dengan Thaha Ma’ruf

Persahabatan dengan Thaha Ma’ruf tetap terjalin hingga ke Jakarta, karena Beliau pulalah yang memintanya untuk membawa keluarga saridin ke Jakarta. Istri Thaha ma’ruf pulalah yang mengajarai Istri Saridin Syarif mendirikan majlis ta’lim dan panti asuhan. Bahkan hingga memberikan bantuan dan modal awal untuk membeli tanah.

Sebagai anak perempuan dari kampung yang dididik dengan pendidikan keagamaan yang kuat di pesantren, tentu saja Istri Saridin ingin menularkan ilmunya kepada masyarakat. Maka ketika isteri Saridin ini telah menyusul ikut ke Jakarta, tentu saja ia pun ingin mendirikan majlis ta’lim dan pesantren.

Dengan latar belakang yang berasal dari pedalaman Sumatera barat yang religius, maka hingga masa-masa senjanya Beliau selalu berpesan kepada keluarganya, ”Buatlah pesantren, mengasuh anak-anak yatim. Karena walaupun anak kita banyak, belum tentu setia (maksudnya selalu menunggui/berdekatan). Bisa jadi anak-anak kita dibawa ke mana-mana (menunjuk arti tempat) sama suaminya. Maka kita di hari tua harus menyayangi anak-anak yatim.”

Hingga akhir hayatnya, Beliau selalu memelihara silaturrahmi dengan para teman seperjuangannya dan kolega-koleganya, termasuk sangat akrab dengan Idham Khalid.(Syaifullah Amin)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab PonPes, Budaya, Amalan HMI Tegal Kab

Senin, 04 Mei 2015

Terpilih Lagi, Gus A’ab Fokus Pemberdayaan Ekonomi Warga

Jember, HMI Tegal Kab. Duet kepemimpinan KH. Muhyiddin Abdusshomad dan KH Abdullah Syamsul Arifin di NU Jember terus berlanjut. Ini menyusul terpilihnya kedua tokoh tersebut dalam pemilihan rais dan ketua dalam Konfercab NU Jember, Ahad (1/6) lalu.

Dalam konfercab NU yang digelar di Pesantren Darul Arifin, Desa Curahkalong, Bangsalsari tersebut, Kiai Muhyidin dan Gus A’ab –sapaan akrabnya- terpilih secara aklamasi setelah bakal calon yang lain tidak memenuhi syarat perolehan suara minimal untuk maju dalam tahap pencalonan ketua dan rais.

Terpilih Lagi, Gus A’ab Fokus Pemberdayaan Ekonomi Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Terpilih Lagi, Gus A’ab Fokus Pemberdayaan Ekonomi Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Terpilih Lagi, Gus A’ab Fokus Pemberdayaan Ekonomi Warga

Dalam tahap penyaringan,? ada 8 nama yang masuk untuk memperebutkan 337 suara.? Namun perolehan suara ke delapan nama itu tidak sampai 10 kecuali Kiai Muhyiddin yang memperoleh 292 suara.? Padahal, syarat untuk maju dalam tahap pencalonan minimal mengantongi 99 suara.? Diantara 8 nama itu adalah Gus A’ab, Gus Firjon Barlaman (putra KH. Ahmad Shiddiq). “Dengan komposisi perolehan seperti itu, maka otomatis Kiai Muhyiddini dtetapkan secara aklamasi sebagai Rais Syuriyah,” ujar panitia pengarah, MN. Harisuddin.

HMI Tegal Kab

Kondisi yang sama juga terjadi dalam pemilihan ketua tanfidziyah. Dalam tahap penjaringan nama calon kwtua tanfidziyah, Gus A’ab langsung unggul dengan mengantongi 294 suara. Sementara Gus Firjon yang digadang-gadang bisa memenangi pemilihan ketua, hanya mendapat 9 suara. Sedangkan tiga nama lain hanya memperoleh suara di bawah 5. Dengan demikian, Gus A’ab langsung ditetapkan sebagai ketua terpilih.

HMI Tegal Kab

Usai pemilihan, Gus A’ab menyatakan akan memperioritaskan pemberdyaan ekonomi umat dalam kepemimpinnanya pada periode mendatang. “Sesuai dengan rekomendasi komisi, ke depan PCNU akan mencoba meningkatkan peran pemberdayaan ekonomi umat. Jadi kemiskinan dan keterbelakangan, memang jadi problem kita semua,” ujarnya kepada sejumlah wartawan yang mengerumuninya. (Aryudi A. Razaq/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Anti Hoax, PonPes, Hikmah HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock