Sumenep, HMI Tegal Kab - Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka, Bluto, Sumenep menyelenggarakan haul akbar pendiri dan pengasuh serta reuni alumni. Pada kegiatan yang dihadiri lebih dari seribu alumni ini, pengasuh mengingatkan pentingnya menjaga perilaku sebagai pembeda dari mereka yang bukan santri.
"Semua perbuatan walaupun baik, harus ada adabnya," kata KH Ramdlan Siraj, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Sabtu (20/5).
| Santri Tak Hanya Cerdas, Tapi Amalkan Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online) |
Santri Tak Hanya Cerdas, Tapi Amalkan Ilmu
Bahkan membaca Al-Quran, berdoa, bahkan orang minta amal untuk masjid harus ada adabnya, lanjut mantan Bupati Sumenep tersebut.Kiai Ramdlan tidak menampik kalau santri zaman sekarang telah mengalami pergeseran perilaku atau adab. "Santri sekarang tidak betah tinggal di pondok dan hanya datang ke pondok ketika belajar," katanya. Yang membuat prihatin, mereka beralasan karena ingin naik motor. Padahal, anak ini masih berada di bawah umur, lanjutnya.
HMI Tegal Kab
"Bagaimana anak tersebut mendapatkan keberkahan ilmu kalau yang dilakukan tidak menggunakan adab," sergahnya. Padahal secara aturan telah dinyatakan bahwa pemerintah melarang anak di bawah umur untuk mengendarai motor.HMI Tegal Kab
Di hadapan ribuan para alumni yang hadir, alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini mengingatkan bahwa sejak dulu pesantren tidak bermaksud mencetak santri yang semata cerdas. "Tapi yang lebih penting adalah santri yang benar," ungkapnya.Di pesantren ini telah berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Nurul Islam atau Stiqnis. "Jangan sampai para mahasiswanya hanya pandai berbicara, berdiskusi tentang tafsir dan sebagainya," pesannya.
Yang harus lebih menjadi penekanan adalah pengamalan dari ilmu yang diperoleh. Termasuk.gelar yang diperoleh harus sesuai dengan keilmuannya sehingga gelar strata satu hingga strata tiga tidak semata pandai bicara, lanjutnya.
Karenanya, Kiai Ramdlan merasa malu dan risih untuk mendapat gelar doktor karena takut tidak adanya kesesuaian antara gelar dan perilaku keseharian. "Apalagi gelar akademis sekarang bisa dibeli dengan uang dan semata untuk tampil gagah," sentilnya.
Dengan sedikit berseloroh, ia mengungangkapkan pada prinsipnya santri sudah dapat menyandang gelar sarjana strata dua. "Santri yang tidak kuliah sekalipun sudah dapat gelar strata dua yakni lulus Sullam Safina," tegasnya.
Di akhir uraiannya, Kiai Ramdlan mengingatkan para santri serta alumni agar menghiasi perbuatan dengan adab, norma serta tata krama. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)
Dari Nu Online: nu.or.id
HMI Tegal Kab Tegal, PonPes, Nusantara HMI Tegal Kab

EmoticonEmoticon