Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyambut baik usulan adanya hari santri yang disampaikan oleh Joko Widodo dalam kampanyenya beberapa waktu lalu, tetapi ia menyarankan sebaiknya hari santri diperingati pada 22 Oktober sesuai dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad.

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Usulkan Hari Santri 22 Oktober Saja, Pas Resolusi Jihad

“Saya menyambut baik, bahkan saya tagih realisasinya. Akan tetapi menurut saya, bukan tanggal 1 Hijriyah, ini sudah jadi penanggalan Islam internasional. Hari santri sebaiknya 22 Oktober,” katanya.?

Ia menjelaskan, pada tanggal 22 Oktober tersebut KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad yang mendorong kaum santri, tentara dan masyarakat pada umumnya untuk melawan Belanda di Surabaya, yang akhirnya pecah pertempuran 10 November.?

HMI Tegal Kab

“Disitu jelas sekali peran santri,” tandasnya.

Kalau hari santri diperingati pada satu Muharram, menurutnya tidak ada lagi ciri keindonesiaannya karena pada hari itu sudah diperingati secara internasional sebagai tahun baru Islam.?

HMI Tegal Kab

“Nanti tenggelam oleh perayaan tahun baru hijriyah,” tandasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab PonPes, Kajian, Nahdlatul Ulama HMI Tegal Kab

Rabu, 24 Januari 2018

Harlah Ke-84, Jadikan GP Ansor sebagai Banom Bermartabat

Jombang, HMI Tegal Kab. Dalam hitungan hijriyah, Gerakan Pemuda Ansor telah berumur 84 tahun. Salah satu Badan Otonom (Banom) di jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) ini dilahirkan 10 Muharram tepatnya tahun 1353 Hijriyah. Usia yang tidak lagi muda ini hendaknya dapat memacu semua elemen di dalamnya untuk terus berkhidmat bagi NU, bangsa dan masyarakat.

"Para aktivis Gerakan Pemuda Ansor hendaknya dapat menjadikan momentum hari lahir ini sebagai sarana untuk semakin memantapkan diri untuk menjadi bagian dari organisasi sosial kepemudaan dan keagamaan yang mandiri," kata Ketua PC GP Ansor Jombang Jawa Timur, H Zulfikar Damam Ikhwanto kepada HMI Tegal Kab, Sabtu (24/10).

Harlah Ke-84, Jadikan GP Ansor sebagai Banom Bermartabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-84, Jadikan GP Ansor sebagai Banom Bermartabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-84, Jadikan GP Ansor sebagai Banom Bermartabat

Bentuk kemandirian itu dalam pandangan Gus Antok, sapaan akrabnya, adalah dengan berupaya menggali potensi ekonomi setiap warga dan peluang yang ada di wilayah masing-masing untuk bisa memiliki badan usaha yang menghasilkan. "Karena tanpa kemandirian secara ekonomi, sangat sulit Ansor bisa memiliki ketegasan dalam sikap," ungkapnya.

HMI Tegal Kab

Sejumlah kader yang telah berhasil dalam membangun ekonomi sebisa mungkin dapat dihimpun sehingga menjadi jaringan yang kuat. "Kalau selama ini para kader hanya berkutat dengan ekonomi secara parsial, sudah waktunya bisa dihimpun dalam jaringan sehingga menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh," terangnya.

HMI Tegal Kab

"Yang dibutuhkan adalah kekuatan dan kemampuan untuk menyapa dan meyakinkan simpul ekonomi tersebut sehingga menjadi jaringan ekonomi yang tertata dengan manajerial yang amanah," tandasnya.

Bila kemampuan ekonomi ini bisa digarap dengan baik, maka unsur manfaat akan bisa dirasakan oleh warga dan anggota di berbagai level masyarakat. "Kita yakin, para warga dan fungsionaris Ansor adalah mereka yang berkutat dengan ekonomi kelas menengah dan kecil," katanya. Bila mampu mengentas potensi ekonomi tersebut, maka dengan sendirinya bisa menyelesaikan kesenjangan ekonomi yang ada di akar rumput, lanjutnya.

Kendati demikian, persoalan umat serta merta tidaklah selesai. "Karena jaringan ekonomi yang akan dibangun juga harus menjunjung tinggi akhlakul karimah," pesannya. Karenanya, pendekatan simultan dengan mendorong kemandirian ekonomi yang di dalamnya juga diimbangi dengan perilaku terpuji, menjadi syarat yang tidak dapat ditinggalkan.

Gus Antok mengingatkan bahwa pada Muktamar Ke-9 NU di Banyuwangi, yakni 10 Muharram 1353 H yang bertepatan dengan 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua HM Thohir Bakri, Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam.

Tanggal 24 April memang kemudian dikenal sebagai tanggal kelahiran GP Ansor. "Namun  mengingatkan bahwa tanggal 10 Muharram sebagai bagian tidak terpisahkan dari perjalanan Ansor juga sangatlah penting," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab RMI NU, Tokoh, Kajian HMI Tegal Kab

Selasa, 16 Januari 2018

Iwak Telu Sirah Sanunggal: Simbol Tarekat Cirebon

Ketika masuk dalam kompleks Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabon kerap terlihat simbol-simbol yang terpampang, salah satunya simbol tiga ikan yang kepalanya menyatu (iwak telu sirah sanunggal), yang terukir indah di beberapa daun pintu, ada pula yang menempel di sisi-sisi atas dinding keraton.

Kenapa simbol itu digunakan dan apa landasan maknanya. Raffan S Hasyim, sejarawan Cirebon menguraikan, asal mula simbol ikan bersumber dari manuskrip-manuskrip Cirebon abad 19 yang belakangan kemudian dijadikan lambang resmi Keraton Kacirebonan. Ia merupakan ilustrasi ajaran tarekat Syattariyah yang menjelaskan makna ora pecat (kebersatuan), baik antara Adam (manusia) Mahammad (syariat) dan Allah, antara jasad, roh dan Allah, maupun kesatuan tauhid antara zat, sifat dan af al (perbuatan).

Iwak Telu Sirah Sanunggal: Simbol Tarekat Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Iwak Telu Sirah Sanunggal: Simbol Tarekat Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Iwak Telu Sirah Sanunggal: Simbol Tarekat Cirebon

Dengan mengutip Kitab Babon Petarekatan. Opan, panggilan akrab Raffan S Hasyim menambahkan, simbol ikan dapat juga dimaknai sebagai ilustrasi konsep manunggaling kawula gusti (wihdatul wujud) atau penggambaran dari penjelasan ayat? wallahu ‘ala kulli syaiin mukhit (Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu Maha Meliputi).

Simbolisme ikan dalam ajaran tarekat menurut Mahrus El-Mawa, filolog Cirebon, menunjukkan bahwa sejak dulu di Cirebon telah terjadi pribumisasi Islam atau yang lebih khusus, pribumisasi tarekat. Dalam konteks ini, tarekat Syattariyah yang berasal dari negeri luar (India), oleh kecerdasan dan kreatifitas para ulama Cirebon disesuaikan dengan kultur lokal masyarakat Cirebon melalui proses akulturasi.

HMI Tegal Kab

Kenapa ikan, bukan ilustrasi benda lainnya? Dalam disertasinya di Universitas Indonesia yang meneliti isi manuskrip Cirebon, Sattariyyah wa Muhammadiyyah, Mahrus berhipotesa bahwa masyarakat Cirebon yang merupakan masyarakat nelayan, masyarakat pesisir, sangat akrab dengan ikan. Jadi, simbolisasi ikan akan lebih mudah dimengerti oleh masyarakat Cirebon dalam memahami ajaran tasawuf, yang kemudian diamalkan menjadi laku spiritual kehidupan sehari-hari.

HMI Tegal Kab

Tarekat di Cirebon

Tidak ada, atau tepatnya belum ditemukan catatan historis yang dapat memastikan kapan dan tarekat mana yang mula-mula berkembang dan menjadi terlembagakan sebagai organisasi spiritual yang hadir di Nusantara. Kendati demikian, Martin van Bruinessen berpandangan bahwa berdasarkan Serat Banten Rante-rante, Sunan Gunung Jati pernah melakukan perjalanan ke tanah Suci dan berjumpa dengan Syaikh Najmuddin Kubra dan Syaikh Abu Hasan Asy- Syadzili.

Dalam bukunya, Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat, Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Martin menduga, dari kedua tokoh berlainan masa itu sang sunan konon menjadi pengikut Tarekat Kubrawiyyah dan Syadziliyyah sekaligus memperoleh ijazah kemursyidan dari keduanya. Meski jika mengacu pada data kronologi sejarah tentu saja pertemuan fisik antara Sunan Gunung Jati yang hidup di abad 16 dengan Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili yang wafat di abad 13, apalagi dengan Syaikh Najmudin Kubra yang wafat pada tahun 1221 M, secara faktual tidaklah mungkin.

Terlepas dari kebenaran cerita dalam Serat Banten Rante-rante, Agus Sunyoto justru menyuguhkan data yang berbeda, meski tidak terlembagakan, mengacu pada naskah-naskah Wangsakerta, dalam buku Suluk Abdul Jalil, Agus menyebut bahwa tarekat yang awal mula berkembang di Cirebon adalah tarekat Syattariyah yang dibawa oleh Syekh Datuk Kahfi, guru spritualnya Syekh Siti Jenar, pembawa ajaran tarekat Akmaliyah. Mengapa tidak terlembagakan, karena, lanjut Agus, dalam tradisi tarekat pertama kali tidak mengenal konsep jamaah dalam mujahadah sehingga dilakukan sendiri-sendiri.

Dinamika Syattariyah di Cirebon kemudian mengalami perkembangan seiring dengan kemunculan tokoh-tokoh Syattariyah lokal di Cirebon. Para tokoh tersebut mengembangkan Syattariyah di lingkungan kraton dan pesantren sesuai dengan silsilah wirid dan dzikir dari setiap guru (mursyid). Kiai Muhammad Arjain diduga mengembangkan Syattariyah di Kraton Kacirebonan dan Kanoman melalui jalur Syekh Abd al-Muhyi. Kiai Muqayyim mengembangkan Syattariyah di lingkungan tertentui. Kiai Anwaruddin Kriyan diyakini mengembangkan Syattariyah di Pesantren Buntet dan Pesantren Bendakerep. Pangeran Jatmaningrat Muhammad Safiuddin diyakini mengembangkan Syattariyah di Kraton Keprabonan, Kanoman, Kasepuhan, dan Pesantren Balerante. Yang disebut terakhir inilah silsilah Syattariyah Cirebon memiliki kekhasan simbolisme iwak telu sirah sanunggal yang tidak dapat ditemui dalam silsilah Syattariyah Pamijahan, Minangkabau, Aceh maupun daerah lainnya. Wallahu a’lam. (Abro)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hadits, Kajian HMI Tegal Kab

Selasa, 09 Januari 2018

Masyarakat Adat Papua Serahkan Penghargaan Kepada Gus Dur

Jayapura, HMI Tegal Kab

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menerima penganugerahan penghargaan masyarakat adat Papua yang diserahkan Ketua Dewan Adat Papua, Tom Beanal, di Gedung Olahraga (GOR) Cendrawasih Jayapura, Selasa (14/11) kemarin.

Penyerahan penghargaan berupa plakat yang diawali dengan tari-tarian khas Papua itu disaksikan Wakil Ketua DPRP, Komarudin Watubun, dan Ketua Majelis Rakyat Papua, Agus Alua, dihadiri sekitar 250 warga masyarakat.

Seusai menerima penghargaan tersebut, Gus Dur menyatakan, sangat berterima kasih kepada kaum adat dan masyarakat di Papua yang telah memberikan penghargaan ini. “Saya tahu ini nilainya sangat tinggi dan ini juga pernah saya terima dari masyarakat Timika yang datang ke Jakarta dan memberikan keladi bakar sebagai penghargaan. Mudah-mudahan dengan demikian mempererat hubungan saya dengan teman-teman di Papua,” kata Gus Dur.

Masyarakat Adat Papua Serahkan Penghargaan Kepada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Adat Papua Serahkan Penghargaan Kepada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Adat Papua Serahkan Penghargaan Kepada Gus Dur

Ketika ditanya rencananya mewujudkan Theys Eluay menjadi pahlawan nasional, Gus Dur mengatakan dia telah membicarakan rencana tersebut dengan Tom Beanal yang (Ketua Dewan Adat Papua/DAP) selanjutnya diharapkan dapat menyurati DPR Papua untuk kemudian diusulkan ke pemerintah pusat.

“Saya juga, sekembalinya nanti ke Jakarta akan menyurati DPRP Papua, sehingga dapat diproses dan diusulkan,” jelas Gus Dur seraya menambahkan dirinya akan terus memperjuangkan hingga rencana tersebut dapat terwujud.

Sebelumnya, dalam sambutannya, Gus Dur mengatakan, alm. Theys Eluay sudah seharusnya mendapat penghargaan tersebut karena beliau mengorbankan hidupnya untuk rakyat semua, walaupun apa yang diperjuangkan itu salah diartikan oleh beberapa orang.

HMI Tegal Kab

Namun rakyat Papua mencatat apa yang sangat penting, sehingga dirinya belum puas bila Theys belum menjadi `pahlawan nasional`, tegas Gus Dur. (ant/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, Sejarah, Pahlawan HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Minggu, 31 Desember 2017

ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung

Sidoarjo, HMI Tegal Kab. Bencana puting beliung yang melanda Desa Terungkulon dan Keboharan Krian beberapa hari lalu, masih menyisahkan rasa trauma bagi warga terutama bagi anak-anak. Untuk mengobati rasa itu, Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Sidoarjo melakukan pemulihan psikis anak-anak korban puting beliung di Desa Terung Kulon dengan memberikan motivasi spiritual dan mengajak mereka bermain, Ahad (19/2).

ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung

Ketua PC ISNU Sidoarjo, Sholehuddin menyampaikan bahwa sedikit anak-anak yang tidak masuk sekolah karena masih trauma atas kejadian yang mencekam beberapa waktu yang lalu. Karena itu, PC ISNU Sidoarjo memutuskan program pemulihan kejiwaan para korban, mengingat hal ini belum ada yang menangani, padahal ini persoalan serius.

Ia menegaskan bahwa, setiap musibah itu datang dari Allah SWT. Sebagai hamba-Nya yang beriman, harus menerima ujian itu dengan penuh kesabaran, karena Allah bersama dan cinta orang-orang yang sabar.

"Yakinlah, ada hikmah di balik setiap musibah. Semoga dengan kesabaran kita, Allah SWT membalas dengan berlipat lipat pahala dan kebaikan," katanya.

HMI Tegal Kab

Berdasarkan masukan dari berbagai pihak, selain logistik, kesehatan dan recovery bangunan yang rusak adalah pemulihan psikis korban yang alami trauma. Oleh sebab itu, kegiatan yang digagas oleh ISNU Sidoarjo ini mendapatkan respon positif dari anak-anak terutama Kepala Desa setempat.

Kegiatan pemulihan psikis akibat trauma pasca bencana yang bertajuk Ceria Bersama ISNU itu diikuti sekitar 70 anak. Mereka benar-benar menikmati kegiatan dengan penuh keceriaan. Pasalnya, tim trauma center ISNU yang dikoordinir oleh M Nuh, bersama anggotanya, menyajikan berbagai permainan, dari tanpa alat sampai dengan permainan dengan menngunakan alat. Tepuk tanga dengan variasi, latihan konsentrasi, mencari kelompok, dan lain sebagainya.

Di akhir sesi, acara ditutup dengan istighfar dan doa sebagai refleksi. Dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan berupa alat-alat tulis dan snack, yang diserahkan oleh Ketua ISNU Sidoarjo, Sholehuddin dan diserahkan kepada tokoh pemuda Desa Terung Kulon, Dartok yang mewakili Kepala Desa setempat. Dengan diiringi Shalawat Badar, seluruh bingkisan diserahkan oleh PC ISNU Sidoarjo kepada perwakilan kades. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Nusantara, Sejarah, Kajian HMI Tegal Kab

Rabu, 27 Desember 2017

IPNU Karawang Nilai Kurikulum 2013 Penuh Masalah

Karawang, HMI Tegal Kab. Penerapan Kurikulum 2013 saat Ujian Akhir Semester (UAS) tampak menunjukkan kelemahanya bagi sekolah berstandard nasional yang ditunjuk sebagai model uji coba tahun ini. Berdasarkan riset IPNU Karawang, sistem penilaian dalam Kurikulum 2013 juga terkesan menyamaratakan kapasitas guru dengan muridnya.

IPNU Karawang Nilai Kurikulum 2013 Penuh Masalah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Karawang Nilai Kurikulum 2013 Penuh Masalah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Karawang Nilai Kurikulum 2013 Penuh Masalah

Sekretaris IPNU Karawang Benny Ferdiansyah menilai,  Kurikulum 2013 bertentangan dengan UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Karena, dalam Kurikulum 2013 penekanan pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis. Sementara sistem KTSP 2006 tidak dijadikan patokan evaluasi terlebih dahulu di samping memastikan normal tidaknya pelaksanaan sistem tersebut.

"Kami yakin pihak guru dan pemangku pendidikan mengalami kesulitan akhir-akhir ini. Alasan konkretnya satu, karena mereka belum siap," kata Benny, Rabu (2/7).

HMI Tegal Kab

IPNU Karawang memandang ketidaksinkronan pemberlakuan Kurikulum 2013 dalam Ujian Nasional. Kalau UN hanya mendorong orientasi pendidikan pada hasil utamanya perihal pengetahuan, sementara Kurikulum 2013 lebih menekankan penilaian sikap siswa dalam  proses pembelajaran.

Dampaknya, siswa akan menyampingkan mata pelajaran yang tidak masuk dalam UN. Sedangkan di satu sisi, mata pelajaran non-UN ternyata memberikan kontribusi besar untuk mewujudkan tujuan pendidikan dalam Kurikulum 2013.

HMI Tegal Kab

IPNU Karawang mendesak dinas kementerian terkait dan pembuat kebijakan untuk meninjau ulang Kurikulum 2013. Hal itu belum termasuk masalah draft UU Kurikulum 2013 yang belum selesai, tandas Benny. (Deden Ismatullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nahdlatul Ulama, Kajian HMI Tegal Kab

Senin, 11 Desember 2017

PMII Jombang Ingatkan Kader Komit dengan Jalan Pemikiran Aswaja

Jombang, HMI Tegal Kab?

Sebagai basis kaderisasi Nahdhatul Ulama (NU) di tingkatan mahasiswa, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) konsisten menjadikan Aswaja sebagai manhajul fikr (metode berpikir) dalam gerakannya.

PMII Jombang Ingatkan Kader Komit dengan Jalan Pemikiran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jombang Ingatkan Kader Komit dengan Jalan Pemikiran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jombang Ingatkan Kader Komit dengan Jalan Pemikiran Aswaja

Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) PMII Jombang, Aziz Dwi Prasetyo saat acara pelantikan pengurus rayon (PR) PMII Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Komisariar Umar Tamim Unipdu Jombang masa khidmat 2016-2017, menegaskan bahwa Aswaja sebagai metode berpikir dan sejumlah ajaran lain di PMII adalah pola aktivis PMII mengabdi kepada bangsa dan negara.

"Dengan senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam Ahlussunah Waljamaah, Nilai Dasar Pergerakan, AD/ART, nilai-nilai, norma-norma, dan produk hukum PMII lainnya serta cinta tanah air dan bangsa, adalah cara aktivis PMII mencintai agama dan bangsa," ujarnya di hadapan seluruh tamu undangan yang memadati Balai Desa Peterongan, Jumat (13/01/2017) siang.

Dijelaskan, Aswaja sebagai manhajul fikr ini yang membedakan PMII sebagai mahasiswa NU yang tidak hanya meyakini dan melalukan (manhajul qaul), namun tetap adanya proses berpikir yang identik dengan kemahasiswaanya. Hal itu juga menjadi pembedahan antar organisasi PMII dengan organisasi lainnya.

Di saat yang sama, Aziz juga berpesan kepada seluruh jajaran pengurus rayon yang baru saja dilantik agar amanah dalam mengemban tanggung jawab organisasi.

HMI Tegal Kab

"Semoga Pengurus Rayon PMII FIK Umar Tamim Unipdu Jombang mampu mengemban amanah organisasi selama satu periode ke depan dengan baik dan benar," terangnya.

Sementara Ketua Rayon FIK, Qiky Kai Khumaira mengajak seluruh anggota PMII khususnya yang baru dilantik itu untuk komitmen dalam berorganisasi. "Komitmen dan kebersamaan adalah kunci untuk aktif dalam menggerakkan anggota dan kader Fakultas Ilmu Kesehatan yang akademis dan organisatoris," tegas Kiki, sapaan akrabnya.

Acara ini juga dihadiri sekretaris umum PC PMII Jombang, sahabat Irham Ali, Komisariat dan Rayon se-Jombang, juga Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang baru saja terpilih beberapa hari yang lalu. (Syamsul Arifin/Fathoni)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, Amalan HMI Tegal Kab

Rabu, 06 Desember 2017

PTNU Turut Semarakkan University Expo 2014

Jepara, HMI Tegal Kab. Tiga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) yakni Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang dan Akademi Komunitas Balekambang (AKB) Jepara turut menyemarakkan University Expo (Uniex) 2014 yang diselenggarakan Alumni Pesantren Kilat (Sanlat) Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, di gedung Wanita Jepara, Sabtu-Ahad (8-9/2).

Selain ketiga PTNU tersebut, puluhan PTN dan PTS yang juga menyemarakkan kegiatan diantaranya adalah Unissula Semarang, UAD Yogyakarta, Akademi Komunitas Jepara (AKJ), Undip Semarang, UMY, UII Yogyakarta, Unnes, UMK, IAIN Walisongo Semarang dan Poltekkes.

PTNU Turut Semarakkan University Expo 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
PTNU Turut Semarakkan University Expo 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

PTNU Turut Semarakkan University Expo 2014

Manajer Mata Air Cabang Jepara, Adib Khoiruzzaman menyatakan kegiatan yang sudah berlangsung dua kali bertujuan memberikan informasi gratis kepada peserta didik SMA sederajat yang hendak meneruskan ke PT. “Alhamdulillah respon pelajar antusias,” paparnya disela-sela kegiatan.

HMI Tegal Kab

Menurut Gus Adib, sapaan akrabnya meski hanya berlangsung dua hari ia berharap pelajar di Jepara memanfaatkannya dengan baik. “Mumpung mereka bisa ketemu langsung, baiknya apapun yang hendak ditanyakan, dipaparkan pada stan kampus yang diinginkan,” imbuhnya.

HMI Tegal Kab

Cari Informasi

Dari pantauan HMI Tegal Kab, Sabtu (8/2) pagi hingga sore meski hujan namun tak menyurutkan ratusan pelajar SMA/ MA/ SMK di Jepara untuk datang. M Jefri Amiruddin, misalnya. Jefri sapaan akrabnya setelah lulus dari SMK Az Zahra Mlonggo Jepara berkeinginan melanjutkan jurusan TI di Unnes. Disitu, ia mencari informasi di kampus yang diidamkannya.

Senada dengan Jefri (17), Widodo Mugi Prasetyo dari sekolah yang sama ingin kuliah di jurusan yang sama. Namun, lelaki 17 tahun dari desa Kancilan, kecamatan Kembang itu masih bingung hendak memilih PT yang mana. “Saya masih bingung mas mau kuliah dimana? Tetapi yang penting TI,” jelas Widodo.

Jeniar Hawa C, siswi SMA Walisongo Pecangan itu lebih memilih jurusan Akuntansi di Unnes. Namun dilema masih terjadi di keluarganya, orang tuanya menginginkan Jeniar kerja namun saudara-saudaranya mengizinkannya. Alhasil, sementara ia mengkases banyak beasiswa harapannya mengurangi beban orang tua dan restu agar bisa kuliah.

Salah satu penjaga stan Unwahas Semarang, Luluk Muthoharoh mengungkapkan kebanyakan pelajar yang datang untuk mencari informasi. “Rata-rata yang kesini cuma nyari informasi. Selain kami berikan leaflet mereka juga mengisi daftar pengunjung,” terang Luluk, mahasiswi Fakultas Ilmu Hukum semester 8.

Di stan Unisnu, Fakultas Sain dan Teknologi, Shella Septiana menyampaikan hal yang sama. Namun Anis Hariyati dari stan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan (FTIK) Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) saat HMI Tegal Kab sambangi untuk menarik minat calon mahasiswa menjelaskan kelebihan jurusan baru di kampus tersebut, yakni blended learning, penggabungan pembelajaran online dan tradisional. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Kajian HMI Tegal Kab

Selasa, 05 Desember 2017

Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim

Surabaya, HMI Tegal Kab. Setelah keputusan deadlock 14 kali 24 jam, akhirnya Konferensi Wiayah (Konferwil) XIX Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jatim kembali dilangsungkan, Ahad (18/12). Bertempat di Aula Kertoharjo Gedung Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, Nurul Hidayati kader IPPNU asal Bangil terpilih untuk menjadi nakoda organisasi tersebut selanjutnya.

Sebelumnya, Konferwil XIX IPPNU Jatim ? diselenggarakan di Gedung SMPN 1 Sidoarjo mulai tanggal 2-4 Desember. Dalam forum ini, muncul dua nama kandidat ketua PW IPPNU Jatim yaitu Amidatus Sholihat dan Nurul Hidayati. Masing-masing mendapatkan 16 suara sampai lima kali putaran pemungutan suara.

Pada sidang lanjutan ini, pimpinan sidang yang ditugaskan dari Pimpinan Pusat (PP) IPPNU tidak sama dengan sebelumnya. Kali ini sidang dipimpin oleh Herawati dan sebagai sekretarisnya Zaimah.

Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferwil Alot, Nurul Hidayati Akhirnya Terpilih Pimpin IPPNU Jatim

Di awal forum peserta sidang sempat menolak adanya pergantian pimpinan sidang yang ditugaskan. Terjadi pro-kontra antara peserta yang hadir di forum yang akhirnya bisa diselesaikan oleh pimpinan sidang, sebab mereka memiliki Surat Tugas.

"Pada Konferwil lanjutan ini juga hadir PWNU yang diwakili KH Sholeh Hayat. Hal ini tidak lain untuk menjadi penengah dan pengayom sebab mempelajari sidang sebelumnya yang diputuskan deadlock," terang Ida Fitriani, ketua Steering Commitee.

Benar saja, terjadi silang pendapat kembali di kalangan peserta Konferwil saat mulai membahas status aktif pimpinan cabang. Karena adanya perbedaan asumsi masa aktif antara pimpinan sidang sekarang dengan yang memimpin sebelumnya.

HMI Tegal Kab

"Pimpinan ? Pusat yang hadir sekarang lebih saklek pada Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PDPRT). Dimana didalamnya tidak ada yang menyebutkan masa tenggang 3 bulan dari tanggal akhir jabatan yang tertulis di Surat Pengesahan (SP)," jelas Ida.

Ida yang pada forum di Sidoarjo memimpin sidang tata tertib juga mengingatkan kembali kepada peserta tentang keputusan yang dibuat sebelumnya. Yang mana pada sidang tata tertib telah disepakati tidak adanya masa tenggang tiga bulan dari SP. Dan keputusan inilah yang tidak diindahkan pimpinan sidang yang pertama.

Dengan pimpinan sidang baru yang saklek PDPRT ini akhirnya tiga cabang yaitu Situbondo, Jember dan Pacitan tidak lagi memiliki hak suara. Dalam SP tertulis masa aktif PC IPPNU Situbondo adalah sampai tanggal 10 Oktober 2016, Jember sampai 28 September 2016 dan Pacitan sampai 9 November 2016. Dari sini beberapa PC mulai mengajukan protes.

Forum kembali ricuh sampai akhirnya KH Sholeh Hayat perwakilan PWNU memberikan solusi. Solusi yang diberikan yaitu peserta sidang tetap sebagaimana forum sebelumnya di Sidoarjo.

HMI Tegal Kab

Terang solusi PWNU ini dianggap mencederai PDPRT yang ada. Forum pun akhirnya ricuh kembali sampai kemudian KH Sholeh Hayat mencabut apa yang disampaikannya dan memohon maaf kepada forum. Tidak sampai disitu saja KH Sholeh Hayat juga menutup forum tersebut.

"Pimpinan Pusat mendapatkan perintah dari Jakarta untuk pulang. Hasil Konferwil kali ini adalah apa yang ada di depan mata kalian sekarang. Maka saya nyatakan Konferwil ditutup," jelas Kiai Sholeh.

Beberapa peserta tidak terima dengan ditututpnya forum. Mereka memohon agar forum tetap dilanjutkan. Bahkan hampir setengah jam beberapa peserta ini tidak mengizinkan KH Sholeh Hayat keluar ruangan.

"Mereka memblokade pintu masuk ruangan, dan terus memohon kepada Kiai untuk melanjutkan sidang. Beberapa peserta lain tampak berurai air mata melihat Kiai diperlakukan demikian itu," ungkap Isnaini kader IPPNU Jombang yang saat kejadian masih di dalam ruangan.

Sidang pun akhirnya dilanjutkan kembali dengan Zaimah yang sebelumnya adalah sekretaris sidang beralih menjadi pimpinan sidang. Sedangkan Herawati menjadi sekretarisnya.

"Peralihan ini dilakukan sebab Mbak Herawati tidak bisa mengatasi segala kericuhan yang terjadi," terang Iffatul Wahidah ketua PC IPPNU Ponorogo yang juga menjadi peserta.

Keberadaan PC IPPNU Nganjuk sebagai peserta dalam sidang ini juga dipermasalahkan. Sebab menurut beberapa peserta PC tersebut sudah melaksanakan Konfercab pada hari yang sama dengan Konferwil. Dan pada saat itu pula sudah menyatakan demisioner, meskipun ketuanya ada di lokasi Konferwil.

"Domisioner itu tidak sah karena PCNU tidak diberi mandat untuk mendemisionerkan PC IPPNU. Justru PCNU nganjuk meminta panitia Konfercab untuk segera mengirimkan surat ke pusat, karena yang punya wewenang itu adalah pusat," terang Arum Ketua PC IPPNU Nganjuk.

Masih menurut Arum, Konfercab tersebut juga tidak melibatkan Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah yang secara organisasi memiliki tingkat di atas Pimpinan Cabang. Dan pengurus yang menyatakan demisioner hanyalah 4 orang saja.

"Tentang demisioner itu, saya sebagai ketua juga tidak pernah memandatkan kepada siapapun untuk melakukannya. Masa khidmat PC Nganjuk pun tertulis di SP sampat tanggal 1 Maret 2017," terang Arum. Oleh sebab itu PC Nganjuk akhirnya tetap dibolehkan menjadi peserta dengan hak suara.

Meskipun protes yang disampaikan peserta tak juga berhenti Pimpinan Sidang tetap melanjutkan forum dengan saklek berpatokan pada PDPRT. Dengan begitu hanya ada 29 Cabang saja yang memiliki hak suara.

Masuk tahap pemilihan suara, hasilnya adalah tetap 16 suara untuk Nurul Hidayati, dan 13 Suara untuk Amidatus Sholihat. Maka selanjutnya Nurul Hidayati mendapatkan mandat untuk menahkodai PW IPPNU Jawa Timur selama satu periode ke depan atau tiga tahun. (Nafisatul Husniah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab News, Kajian, Humor Islam HMI Tegal Kab

Minggu, 03 Desember 2017

Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Tiga Penyakit Perusak Rumah Tangga

Brebes, HMI Tegal Kab

Mengarungi mahligai rumah tangga, tentu tak luput dari gelombang dan juga dalam perjalanannya tidak sedikit menemui onak dan duri. Sehingga di tengah perjalanan, bahtera itu kadang kandas dan berakhir di meja perceraian. Tentu, hal hal tersebut tidak kita inginkan, untuk itu perlu mewaspadai adanya penyakit nikah.

Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Tiga Penyakit Perusak Rumah Tangga (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Tiga Penyakit Perusak Rumah Tangga (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PBNU Ingatkan Tiga Penyakit Perusak Rumah Tangga

Atas dasar itu Rais Syuriyah PBNU KH Subhan Makmun mengingatkan, ada tiga penyakit nikah yang bisa memporakporandakan kehidupan rumah tangga. Sebagaimana dikatakannya saat mengisi forum bimbingan mental bagi PNS Kabupaten Brebes di Pendopo Bupati, Jumat (27/1).

Penyakit itu tumbuh, katanya, pertama, ketika suami mencari nafkah yang tidak halal. Hasil yang tidak halal bisa mengakibatkan keluarga menjadi tidak tentram. Termasuk keturunannya juga tidak akan berhasil, sulit mencapai kesuksesan. “Sepahit apa pun, kita harus mencari nafkah dengan hasil yang halal,” ajaknya.

HMI Tegal Kab

Bekerjalah dengan sekuat tenaga agar diperoleh hasil yang maksimal dan halal. “Kalau cuma bertopang dagu, bermalas-malasan maka ‘yang siang nanti makan bubur lauknya urab’, suami nganggur, istrinya lari ke Arab,” ucap Kiai disambut tertawa hadirin.

HMI Tegal Kab

Penyakit kedua, kurang menghibur istri dan tidak menghargai istri. Seorang istri, tidak bisa dipandang sebelah mata meskipun ketika dinikahi suami mengetahui berbagai kelemahan yang dimilikinya. Walaupun istri tidak bisa masak seperti warung sebelah, katanya, tetap harus kita puji bahwa masakan istrilah yang paling enak sedunia.

“Ketika Nabi menghadapi Aisyah tidak menyediakan lauk dan Aisyah berkata hanya ada cuka, maka Nabi berucap bahwa sebaik-baik lauk adalah cuka,” ujar Kiai Subhan menceritakan sebuah kisah.

Penyakit ketiga, lanjutnya, suami-istri meninggalkan shalat dan kewajiban lainnya. Bila di dalam rumah tangga Muslim tidak mendirikan shalat lima waktu, maka keresahan batin akan terus bergolak. Akibatnya, rumah tangga menjadi goyah, perkawinan tidak bermakna.

Kewajiban lainnya yang perlu diperhatikan, yakni dengan lebih banyak bersedekah dan ngaji. Dengan shalat, sedekah, dan ngaji maka penyakit nikah tidak akan menempel.

Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes ini mengajak kepada para lajang untuk segera menikah dengan memperhatikan penyakit nikah. Jangan takut tidak mendapatkan rezeki, jangan takut dengan kenikmatan yang abadi, berupa istiqamah dalam memegang tali Allah SWT.

“Sejarah membuktikan, tidak ada bujang sugih (kaya). Wujudkanlah rumahku adalah surgaku, dengan membina keluarga yang sakinah mawadah warahmah,” pungkasnya.

Plt Bupati Brebes Budi Wibowo mengungkapkan, berdasarkan data dari Pengadilan Agama Brebes terjadi kasus perceraian selama tahun 2015 sebanyak  5.600. Tahun 2016 meningkat menjadi 6600, dan Januari 2017 ini ada 570 kasus perceraian di Brebes. “Mayoritas, dipicu karena persoalan dunia terbalik, yakni banyak warga Brebes yang menjadi TKI/TKW,” tuturnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, News, Sejarah HMI Tegal Kab

Kamis, 30 November 2017

Meriahnya Peringatan Maulid di Berbagai Tempat

Jakarta, HMI Tegal Kab. Masyarakat Indonesia sangat antusias dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad pada 12 Rabiul Awal. Berbagai kegiatan mereka selenggarakan sebagai rasa syukur. Banyak diantaranya melibatkan para tokoh NU setempat.

Rais Syuriyah PCNU Rembang KH Chazim Mabrur dalam pengajian maulid di Masjid At taqwa Desa Babadan Kecamatan Kaliori Rembang. Selasa Malam (14/1) menyampaikan pentingnya menjalankan tata cara sholat yang benar.

Meriahnya Peringatan Maulid di Berbagai Tempat (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriahnya Peringatan Maulid di Berbagai Tempat (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriahnya Peringatan Maulid di Berbagai Tempat

Dalam pidatonya, tak segan Syuriyah yang telah kembali menjabat secara aklamasi itu, mempraktekkan gerakan sholat, dihadapan para hadirin. 

HMI Tegal Kab

“Ketika kita menjalankan salat takbir jangan terlalu tinggi. Pasalnya beribadah itu, harus menurut pantas dan tidaknya.

 Kebanyakan, masyarakat menyepelekan tata cara menjalankan ibadah rukun islam yang kedua itu. “Jadi saya mengajak agar kita menjalankan ibadah sebagai mana yang ada dalam tuntunan para ulama,”  katanya, seperti dilaporkan oleh kontributor HMI Tegal Kab Ahmad Asmu’i.

HMI Tegal Kab

Di desa  Kebonagung, kecamatan Tegowanu, Kabupaten, Grobogan, Jawa Tengah, Habib Hasan  Al-Jufri (Semarang) bersama jama’ah asuhannya “Nurudz dzolam” mengajak warga Kebonagung untuk bershalawat kepada Rasullah sebagai salah satu bukti kecintaan mereka terhadap Rasulullah pada Ahad (12/1) malam.

Dua kiai didaulat sebagai pengisi tausiyah setelah rampung pembacaan shalawat Simtud Duror. Sebagai penceramah pertama, KH Abdul Hamid dari desa Ngetuk, Tanggungharjo, Grobogan yang dalam tausiyahnya lebih menitikberatkan kepada sejarah rasul. Dilanjutkan tausiyah kedua yang disampaikan oleh KH Ihsan dari Pedurungan, Semarang dengan uraian tema mengenai keistimewaan rasul. Demikian laporan yang disampaikan oleh kontributor HMI Tegal Kab Asnawi Lathif.

Kemariahan yang sama terjadi di Pekalongan. Ribuan warga ikut menghadiri acara peringatan muludan di Kompleks Masjid Jami’ Kranji Kedungwuni Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, Selasa (14/1). 

Acara diawali dengan pembacaan zikir, dilanjutkan dengan pembacaan kitab maulid Diba’ bersama para kiai dan habaib.

Usai bersholawat para jamaah mendengarkan beberapa petuah dari para ulama, di antaranya dari Rais Syuriyah NU Kabupaten Pekalongan, KH Muhammadun Raden Jundi. Dalam ceramahnya, Kiai Madun mengingatkan para jamaah untuk menanamkan cinta nabi kepada anak-anaknya. 

“Ajarkan anakmu untuk mahabbah kepada nabi,”

Dari Surakarta, Aji Najmuddin melaporkan puncak perayaan Sekaten 2014, ditandai dengan acara Grebek Mulud di halaman Masjid Agung Surakarta, Selasa (14/1). Ribuan warga yang hadir, ikut memperebutkan gunungan yang menjadi simbol prosesi ini.

Sebelum acara gunungan sekaten dimulai, masyarakat sudah memenuhi depan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sekitar pukul 07.30 WIB. Mereka menunggu acara puncak gunungan Sekaten di depan Masjid Agung. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab News, Warta, Kajian HMI Tegal Kab

Selasa, 28 November 2017

Ingin Ikuti Pengkaderan PMII Se-Jatim, Hubungi Nomor Kontak Ini!

Jombang, HMI Tegal Kab

Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas Jombang menyiapkan Pelatihan Kader Dasar (PKD) se-Jawa Timur. Pelatihan ini merupakan proses kaderisasi tingkat lanjutan setelah Masa Penerimaan Angota Baru (Mapaba).

Ingin Ikuti Pengkaderan PMII Se-Jatim, Hubungi Nomor Kontak Ini! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Ikuti Pengkaderan PMII Se-Jatim, Hubungi Nomor Kontak Ini! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Ikuti Pengkaderan PMII Se-Jatim, Hubungi Nomor Kontak Ini!

Ketua Komisariat Wahab Hasbullah (WH) Elik Khoirun Nisa menjelaskan sebagai antisipasi tidak tersebarnya TOR (term of reference) sebagai acuan para calon PKD di Jawa Timur, panitia menyediakan nomor kontak yang bisa dihubungi kapan saja.

"Untuk anggota PMII yang ingin daftar, lebih lanjut bisa menghubungi 085731032008," kata Elik sapaan akrabnya kepada HMI Tegal Kab, Rabu (1/2).

HMI Tegal Kab

Dijelaskan Elik, dalam pelatihan yang bertema "Harakah Kami adalah Aqwamitthoriq" akan disuguhi 11 materi, setiap materi akan dipandu langsung oleh pemateri-pemateri mumpuni.

HMI Tegal Kab

"Nantinya akan ada 11 materi, diantaranya, Aswaja sebagai Manhajul Fikr Wal Harakah, Antropologi dan Pengorganisasian Kampus, Paradigma PMII, Strategi Pengembangan PMII, Pengelolaan Opini dan Gerakan Massa, Analisis Sosial, Nahdlatun Nisa, Peta Gerakan Islam di Indonesia, Teknik Loby dan Membangun Jaringan, Studi Advokasi dan Pendampingan Masyarakat, dengan pemateri-pemateri handal," ujarnya.

PKD tersebut akan berlangsung Kamis hingga Ahad, (9-12/2) di Balai Desa Mojongapit Jombang. Dalam waktu yang masih tersisa ini, Elik mengajak seluruh anggota PMII, khususnya di Jombang untuk segera mendaftar ke panitia pelaksana. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Berita, Kajian HMI Tegal Kab

Senin, 27 November 2017

Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu

Jombang, HMI Tegal Kab. Tiga Rumah Sakit di Jombang siap memberikan diskon biaya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat pemegang Kartu Anggota NU (Kartanu). Ketiga RS itu adalah, Rumah Sakit NU, Rumah Sakit Medika Pesantren Darul Ulum serta Rumah Sakit Muslimat NU.

Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu

Hal ini disampaikan, Ketua PCNU saat sosialisasi Kartanu yang diikuti seluruh Badan Otonom NU, diantaranya GP Ansor, IPNU-IPPNU, Fatayat NU, Muslimat NU dan Pagar Nusa, ISNU serta Pergunu di kediaman Sholahul Am Notobuwono yang juga ketua PC GP Ansor di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Kamis (31/1).?

“Insyaallah Tiga Rumah Sakit (RSNU, RS Media Darul Ulum dan RS Muslimat,) sudah siap memberikan diskon bagi pemegang Kartanu,”bebernya mengatakan.

HMI Tegal Kab

Mengenai berapa prosentasi diskon yang bakal diterima, Ketua Tanfidziah PCNU Jombang dua periode ini menargetkan warga NU di kota santri ikut terdaftar dan memiliki kartu tanda anggota. Karena menurutnya program Kartanu adalah sebagai bentuk kedisiplinan anggota terhadap organisasi.

”Targetnya Rp 200 ribu lebih, dan ini sebagai wujud kedisiplinan organisasi, sebagai anggota sudah selayaknya bisa memiliki kartu anggota, apalagi Jombang kota santri,”imbuh kyai yang juga dosen Unipdu Peterongan Jombang ini menambahkan.?

HMI Tegal Kab

Sementara itu, Mahwal Huda, Koordinator pelaksanaan Kartanu meminta seluruh Banom ikut aktif mensosialisasikan program PWNU Jatim ini. Dengan keterlibatan Banom target pelaksanaan kartanu di Kabupaten Jombang akan berhasil. “ Kita juga berharap kalangan pesantren juga ikut berperan mensukseskan Kartanu ini,” tandasnya.

Mahwal menambahakan, ada beberpa manfaat dengan adanya Kartanu ini diantaranya adalah untuk konsolidasi organisasi karena semuanya terlibat hingga ranting. “Termasuk ? manfaatnya adalah pemegang juga mendapatkan adanya potongan biaya ketika berobat di RS NU, RS Medika Darul Ulum dan RS Muslimat,”tandasnya.

Ditambahkannya, PCNU Jombang telah melakukan sosialisasi awal yang langsung diikuti ratusan pengurus MWCNU dan ranting. Dan dalam sosisialisasi juga dilakukan pemotretan.

”Antusias pengurus sangat tinggi, terbukti sosialisasi pertama sebanyak 313 Kartanu langsung tercetak,”imbuh wakil sekretaris PCNU Jombang seraya mengatakan pemotretan hingga kartanu bisa jadi hanya membutuhkan waktu 10 menit.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, Lomba, Internasional HMI Tegal Kab

Senin, 09 Oktober 2017

Saatnya NU Kembali Berkesenian

Jakarta, HMI Tegal Kab. Nahdlatul Ulama (NU) perlu kembali menempatkan kesenian sebagai medan terpenting untuk melakukan kerja-kerja sosial-keagamaan. Sebagai organisasi Islam yang paling gencar mengampanyekan terma “kebudayaan Nusantara” NU akhir-akhir ini semakin jauh dari dunia kesenian.

Hal itu diungkapkan Ahmad Tohari, salah seorang novelis asal pesantren, dalam diskusi bulanan HMI Tegal Kab bertajuk “Sastrawan Santri Menatap Realitas Nusantara” di gedung PBNU, Jakarta, Jum’at (30/6).

Saatnya NU Kembali Berkesenian (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya NU Kembali Berkesenian (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya NU Kembali Berkesenian

Dikatakan Tohari, para pemeluk Islam awal di Nusantara ini sangat antusias dengan berbagai kesenian tradisional. Belakangan kesenian ini tergusur oleh banyak hal, terutama munculnya pemahaman Islam yang kaku dan serba Arab.

“Yang kita butuhkan sebenarnya dalam komunitas NU adalah memberikan kesempatan kepada para seniman dan budayawan, misalnya, kalau ada acara-acara NU dari tingkat Nasional sampai desa. Jadi ada semacam perubahan pikiran yang diharapkan, agar kita kembali berkesenian seperti dulu,” kata Tohari.

Kesenian yang islami, menurut Tohari, tidak hanya berbentuk kasidah, hadrah, nasyid, dan sejenisnya yang biasa diadakan di mesjid-mesjid atau majelis ta’lim. “Apa salahnya nanggap dalang, wayang, menaggap siteran, dan sejenisnya. Sunan Kalijogo itu ngeronggeng beneran lho,” katanya.

HMI Tegal Kab

Satrawan lain yang hadir dalam diskusi terbatas itu, Danarto, menimpali, Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah Islam adalah sosok yang sangat senang dengan puisi? yang sangat digandrungi di Arab waktu itu. “Nabi kalau pengen denger puisi langsung memanggil para penyair dari Hanifiah untuk berlomba membaca puisi di hadapan Beliau,” katanya.

Ahmad Tohari menambahkan, dalam rangka menggeluti kembali dunia kesenian, NU tidak perlu membuat institusi seni? semacam Lembaga Sei Budaya Muslim NU (Lesbumi). Lesbumi sempat berjaya di era Soekarno dan saat ini dalam keadaan hidup-mati, namun, menurutnya, menghidupkan kembali Lesbumi? sangat tidak kontektual.

“Lesbumi waktu itu kan hanya untuk menyaingi Lekra. Biarkan saja para seniman lahir dari rahim NU, ndak usah memberi label NU. Lagi pula, memberikan lebel dalam kesenian? itu adalah suatu pemasungan yang luar biasa. Biarlah kesenian menjalankan tugasnya, meninggikan martabat manusia,” kata Tohari. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Kajian, Kyai, Tokoh HMI Tegal Kab

Selasa, 26 September 2017

Semarak Seni Tradisi dalam 50 Tahun LESBUMI

Jogjakarta, HMI Tegal Kab. Siang yang terik tidak menghalangi orang-orang Dusun Klenggotan Bantul untuk berkumpul di Pesantren Kaliopak, Bantul Rabu (2/5). Tua, muda, dan anak-anak sibuk sendiri-sendiri, bermain, ngobrol, membeli jajanan dan sebagainya.



Semarak Seni Tradisi dalam 50 Tahun LESBUMI (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Seni Tradisi dalam 50 Tahun LESBUMI (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Seni Tradisi dalam 50 Tahun LESBUMI

Namun, keramaian itu mendadak terhenti, ketika seorang perempuan paruh baya menembangkan lagu-lagu Jawa. Alunan musik gamelan mengiringinya. Makin lama makin rancak terdengar. Lagu-lagu Jawa tersebut menjadi penanda acara tasakuran 50 Tahun Lesbumi yang dilesenggarakan Pengurus Wilayah Lesbumi Jogjakarta.

Tak lama para pasukan berkuda masuk ke tengah-tengah arena. Dengan formasi lengkap, seni Jathilan bergerak, menari, mengikuti musik dengan gerakan harmonis. Geraka kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu memancing hadirin untuk tepuk tangan. Suasana ramau, meriah, dan guyub.

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Tapi sesaat setelah itu, penontot sontak, tergaket-kaget, padangan mereka tertuju salah seroang penonton. “Wonten sing kerasukan, (ada yang kerasukan, red.),” kata salah seorang penonton.

Semua orang penonton berhamburan menjauhi yang kerasukan, tapi seorang anggota Jathilan langsung mendekat memberi pertolongan. Tidak lama setelah itu, penonton yang diketahui bernama Aris kembali tersadar. 

Jathilan adalah salah satu dari seni budaya yang menjadi tradisi di Jawa. Tiap kali akan mengadakan acara, orang Jawa dahulu pada umumnya akan menanggap Jathilan sebagai hiburan. Kini, Ditengah derasnya arus globalisme yang kian mengikis seni tradisi nusantara, kesenian Jathilan mulai tersisihkan. 

Acara yang mengetengahkan tema “Menggali Kearifan Hidup Berbangsa dalam Khazanah Seni Nusantara” ini, selain Jathilan, juga menampilakan Tari Saman Jolosutro, Emprak, Ibu-ibu PKK, Pentas Musik Ki Ageng Ganjur pimpin Sastro Ngatawi serta pidato kebudayaan Budaya oleh Agus Sunyoto.Malam harinya, halaman Pesantren Kaliopak juga dipenuhi oleh masyarakat sekitar, mahasiswa dan pemerhati budaya. Mereka sengaja datang untuk menyaksikan satu-satunya seni Saman asli Yogyakarta. 

Menurut M. Jadul Maula, Pengasuh Pesantren Kaliopak, “Tari Saman adalah seni yang sangat tua. Meski selama ini tari Saman diindentikkan dengan Aceh, tapi ternyata sejak abad ke-XVI sudah ada di Yogyakarta. Tentu ada ciri-ciri yang sama, tapi tentu juga banyak variasi-variasi lokal yang berbeda.”

Setelah Tari Saman, ibu-ibu pemenang Lomba Kartini Rukun Tetangga setempat turut menunjukkan kebolehan menampilkan paduan suara. Kemudian tampil grup musik Ki Ageng Ganjur berkolaborasi dengan Seni Emprak yang merupakan asuhan Pesantren Kaliopak.

“Acara ini sangat bagus untuk generasi bangsa, biar mereka sadar bahwa bangsa ini mempunyai identitas. Seni merupakan media yang bagus untuk kita pertahankan,” komentar Muhyidin, mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga. 

Sementara itu, Agus Sunyoto dalam pidatonya menegaskan bahwa seni tradisi nusantara penting untuk dipertahankan, karena di dalamnya terkandung ajaran-ajaran atau nilai-nilai yang dapat membentuk karakter dan jati diri bangsa. “Hilangnya jati diri bangsa bukan tidak mungkin dalam era globalisasi ini. Sebab saat ini, gejala-gejala ancaman globalisasi sudah tampak. Kita tak lagi menjadi subyek, melainkan telah terjajah untuk selalu menjadi obyek,” jelas Sunyoto.

Menurutnya, sebagai salah satu tulang punggung khittah Nahdatul Ulama, Lesbumi memiliki arti tersendiri bagi NU. 

“Salah satu makna keberadaan Lesbumi di dalam NU adalah meneguhkan kecintaan NU pada tanah air dengan cara memelihara dan mengembangkan budaya bangsa dalam keragaman bentuknya,” terangnya.

Bulan Budaya

Tasyakuran 50 tahun Lesbumi tersebut juga menjadiacara pembukaan bulan budaya yang diselenggarakan Lesbumi Jogjakarta. 

Ketua Lesbumi Jogjakarta M. Jadul Maula menjelaskan bulan budaya akan diisi Lomba Cipta Film, Penulisan Esai, Pekan Film dan Launching Bioskop Lesbumi yang akan diadakan pada 20-24 Mei 2012 di Ngeban Resto, Pagelaran Seni Nusantara yang akan dilaksanakan pada 1-3 Juni 2012 di Pesantren Kaliopak. 

“Semua rangkaian Harlah 50 Tahun Lesbumi akan ditutup dengan acara Lesbumi Award yang insya allah akan dilaksanakan 29 Juni 2012 di Gedung PBNU,”kata Jadul. 

 

Kontributor: Khanif Rosidin dan Windha Larasati

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, Humor Islam, Daerah HMI Tegal Kab

Jumat, 15 September 2017

Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren

Alkisah, ada seorang guru yang bernama Sayyid Ismail Fahmi Albadr, seorang dosen dan pengajar bantu di Pesantren Al-Asyariyyah Kalibeber dan Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jawa Tengah di Wonosobo (sekarang UNSIQ). Dia merupakan tenaga pengajar dari Universitas Al-Azhar Kairo yang selama dua tahun sekitar 1991-1992 menjadi tenaga pengajar bantu di kampus dan pesantren tersebut. ?

Sebagaimana dikisahkan kembali oleh Elis Suyono dan Samsul Munir Amin dalam buku biografinya KH Muntaha Alhafidz, Ustadz Fahmi (begitu ia kerap dipanggil) bercerita, suatu ketika dia diberi beras 10 kilogram dan gula satu kilogram oleh almaghfurlah KH Muntaha Alhafidz, pengasuh Pesantren Al-Asyariah dan Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) waktu itu. Beras dan gula tersebut dibawa dan diberikan sendiri oleh Mbah Muntaha ke rumah Ustadz Fahmi yang letaknya tidak jauh dari kantor pondok.

Oleh istrinya, beras dan gula pemberian Mbah Muntaha itu digunakan sebagaimana kebutuhan biasanya. Beras itu dipakai untuk konsumsi keseharian keluarga Ustadz Fahmi yang jumlahnya lima orang beserta istri dan anak-anaknya. Begitu pula gula yang satu kilogram digunakan seperti biasanya untuk minim teh, susu, kopi dan kebutuhan lainnya. Tapi berbeda dengan biasanya, meski beras dan gula tersebut sudah dipakai dalam satu bulan, beras dan gula pemberian Mbah Mun itu belum habis juga.

Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren

Geganjilan tersebut membuat Ustadz Fahmi pada suatu waktu bertanya kepada istrinya, "Apakah beras dan gula itu tak pernah digunakan sehingga selama satu bulan itu keluarganya tidak pernah membeli beras dan gula?” tanya Ustad Fahmi.

Namun di luar dugaan, istrinya menjawab, bahwa beras dan gula itu tetap digunakannya sebagaimana kebutuhan kesehariannya. Ustadz Fahmi tentu saja heran, soalnya biasanya keluarga yang semuanya berjumlah lima orang itu bisa menghabiskan beras sekitar 30 kg dan 3 kg gula untuk kebutuhan konsumsi selama satu bulan. Tatapi kelaziman tersebut tidak berlaku pada kasus satu bulan itu.

HMI Tegal Kab

Karena merasa penasaran dengan keganjilan di atas, maka pada suatu kesempatan Ustadz Fahmi menanyakan langsung hal itu kepada Mbah Muntaha, mengapa beras dan gula pemberian beliau tidak habis-habis kendati tetap digunakan.

"Hadza min barokatil Quran," jawab Mbah Muntaha. (M Haromain)

HMI Tegal Kab

Disarikan dari Elis Suyono dan Samsul Munir Amin, Biografi KH. Muntaha Alhafidz: Ulama Multidimensi, diterbitkan: UNSIQ Wonosobo dan Pesantren Al-Asyariah Kalibeber.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Budaya, Kajian HMI Tegal Kab

Senin, 04 September 2017

Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon

Rembang, HMI Tegal Kab



Di kalangan Nahdlatul Ulama berlaku pameo, jika tidak ada guyonan atau ledekan, maka itu bukan pertemuannya NU. Demikiian lekat pameo itu melekat NU, sehingga bisa dipastikan setiap ada pertemuan ulama atau para kiai NU, pasti ada humor segar yang terlontar. Spontan dan tentu saja menggelikan.?

Seperti terjadi di acara Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara yang diadakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Ponpes Al Anwar, Sarang, Rembang, Kamis (16/3. Meski masalah yang dibahas para kiai khos (kiai sepuh) NU adalah masalah genting negara dan bangsa, tetap saja terjadi ger-geran karena adanya guyonan yang dilontarkan.?

Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon

Bahkan guyonan itu juga terjadi ketika pembacaan naskah deklarasi hasil pertemuan yang dinamai Risalah Sarang. Di penghujung acara, ketika para kiai mendapuk Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri untuk membacakan naskah risalah, mantan Rais Am PBNU yang biasa dipanggil Gus Mus ini pun membacakan naskah dengan gaya pidatonya yang puitis.?

Dengan nada sastra yang tartil, ia membacakan mukaddimah yang berisi ayat ayat suci Al-Qur’an. Rangkaian ayat yang dikutip dari naskah Muqoddimah Qonun Asasi NU yang disusun Hadratusyekh KH Hasyim Asyari, dibacakan Gus Mus dengan penuh khidmat. Hadirin dan para wartawan pun seksama mendengarkan, seraya merekam suara atau merekam video dengan kamera profesional atau smarthphone masing masing.?

Tiba tiba, pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin ini nyeletuk: "WAH, di sini gak ada Al Maidah ini...."

HMI Tegal Kab

Spontan hadirin pun tertawa; "Gerrr... Hahahaa...."

HMI Tegal Kab

Beberapa orang di barisan belakang menyeletuk: Wah, ini menohok ini... Hehehe....

Dan Gus Mus pun melanjutkan membaca poin-poin naskah risalah itu sambil sesekali melontarkan canda. Seperti ketika membacakan tentang komitmen terhadap NKRI, kiai yang pandai bersyair ini mencandai tuan rumah, Kiai Maimun Zubair.?

Mbah Maimun itu suka menyebut saya orang NU nomor satu. Karena saya dinilai selalu menomorsatukan NU. Sedangkan bagi beliau, nomor satu itu Garuda Pancasila, nomor dua baru NU. Tapi saya kan selalu bilang bahwa NU itu selalu ada dan selalu berada di depan untuk NKRI. Jadi tetap saja Republik Indonesia adalah nomor satu.?

"Gerrrr..." lagi lagi hadirin tertawa. Mbah Maimun yang persis berada di sampingnya ikut terkekeh meski tak sampai bersuara.?

Wah...mbulet tenan iki, sahut seorang peserta Silatnas. (Ichwan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, Ubudiyah HMI Tegal Kab

Selasa, 29 Agustus 2017

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis

Probolinggo, HMI Tegal Kab - Bulan suci Ramadhan membawa berkah bagi masyarakat yang berjualan makanan-minuman (mamin). Sudah menjadi fenomena selama bulan Ramadhan, masyarakat senantiasa menyerbu para pedagang mamin takjil mulai habis Ashar hingga menjelang adzan Maghrib tiba.

Saat Ramadhan, pedagang takjil berjualan dengan berkelompok dan sendirian.? Apapun bentuknya, menjelang bedug Maghrib, dagangan mereka laris diburu pembeli. Ramainya transaksi jual-beli mamin takjil itu terlihat di Alun-alun Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo.

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis

Pemandangan di bagian timur Alun-alun Kota Kraksaan kembali ramai dengan pedagang takjil seperti tahun sebelumnya. Puluhan stand takjil yang didirikan, mulai Sabtu (27/6) lalu itu seluruhnya terisi. Banyaknya pedagang yang berjualan masih kalah banyak dibandingkan dengan konsumen yang berbelanja.

HMI Tegal Kab

Ratusan pedagang musiman ini dikelola oleh persatuan PKL “Semarak” Kraksaan. Hanya dengan menyetor iuran sebesar Rp 75.000 mereka berhak menempati lapak yang sudah disediakan dengan fasilitas tenda sebagai pengaman saat hujan.

Lia, salah satu penjual kuliner musiman ini mengungkapkan, seperti tahun sebelumnya biasanya 10 hari pertama dan 10 hari terakhir adalah paling ramai dikunjungi pembeli. “Ayam krispi saya sehari bisa laku 5-6 kilogram, bahkan sebelum Maghrib sudah habis, kalau pas ramai pembeli,” katanya, Jum’at (2/6) sore.

HMI Tegal Kab

Sementara Dita, seorang pengunjung mengaku lebih leluasa dan nyaman untuk berbelanja tahun ini karena lokasi penataannya lebih teratur dan rapi. “Kalau dulu penataannya semrawut dan harus berdesak-berdesakan kalau mau belanja,” ungkapnya.

Sedangkan Muhammad Anshori, salah satu pengurus persatuan PKL “Semarak” menyampaikan bahwa kehadiran para pedagang musiman ini tidak berdampak negatif pada penghasilan para PKL di Alun-alun Kota Kraksaan, bahkan sebaliknya dengan ramainya? pengunjung juga membawa berkah tersendiri bagi mereka.

“Mereka buka usahanya hanya sore hari, sedangkan kita para PKL bisa sampai waktu sahur jadi walaupun sama-sama jualan kuliner tidak berpengaruh kepada pendapatan kami,” ujarnya.

Untuk tahun ini jelas Muhammad Anshori, pihaknya mengatur ulang lokasi para pedagang takjil ini sehingga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kami atur memanjang supaya tidak menimbulkan macet dan pelanggan dari PKL ‘Semarak’ masih bisa masuk dan belanja seperti biasanya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, Santri, Kyai HMI Tegal Kab

Jumat, 28 Juli 2017

Tempaan Santri di Pesantren Harus Didukung Perhatian Orang Tua

Jombang, HMI Tegal Kab. Tempaan selama di pesantren akan semakin kuat kalau saat di rumah, para orang tua turut memberikan perhatian. Hal itu agar ada kesinambungan, sehingga pembinaan terus berlanjut.

"Saat di pesantren dan madrasah, para santri maupun peserta didik ditempa dengan jadwal yang demikian padat. Akan sangat disayangkan bila kesempatan saat pulang di rumah ternyata orang tua tidak memberikan perhatian yang sepadan," kata Ustadz Faizun, Sabtu (15/7).

Tempaan Santri di Pesantren Harus Didukung Perhatian Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Tempaan Santri di Pesantren Harus Didukung Perhatian Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Tempaan Santri di Pesantren Harus Didukung Perhatian Orang Tua

Hal tersebebut disampaikan Kepala Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh (MAU WH) Tambakberas Jombang Jawa Timur ini pada Silaturahim dan Halal Bihalal Wali Peserta Didik di madrasah setempat.

?

Alumnus pasca sarjana Universitas Islam Malang (Unisma) tersebut menyampaikan bahwa saat di pesantren hingga di lembaga pendidikan formal, kegiatan harian para santri demikian padat. "Dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali, seluruhnya diisi dengan kegiatan yang demikian padat dan tentunya bermanfaat," kata Ustadz Faiz, sapaan akrabnya.

HMI Tegal Kab

?

Dalam pandangan Sekretaris PC Lembaga Takmir Masjid NU Jombang tersebut, nyaris tidak ada aktifitas harian yang luput dari perhatian pengurus dan pengelola lembaga pendidikan formal di pesantren. "Bahkan kalau mereka terlambat shalat jamaah saja, akan ada sanksi yang diberikan," ungkapnya.

?

HMI Tegal Kab

Pembentukan karakter yang telah dilakukan sekian lama tersebut akan sia-sia kalau saat di rumah tidak juga diawasi oleh orang tua. "Jangan kemudian lantaran alasan liburan, para peserta didik dan santri dibiarkan tanpa pengawasan," harapnya. Justru di sinilah peran orang tua sangat diharapkan sehingga tempaan saat di madrasah dan pesantren dapat berkesinambungan, lanjutnya.

?

Adanya sejumlah santri yang kemudian tidak betah di pesantren, antara lain karena orang tua tidak memberikan perhatian secara seksama. "Di rumah mereka merasa bebas lantaran para wali santri memberikan kebebasan yang sangat longgar," ulasnya.

?

Sejumlah fasilitas yang diberikan kepada anak kala di rumah, dari penggunaan smartphone, menikmati tayangan televisi dan sarana hiburan lainnya secara tanpa batas adalah tindakan tidak dibenarkan. "Itu terlalu memanjakan dan akan merusak bentukan karakter yang dibangun ketika di pesantren," terangnya.

?

Ustadz Faiz mengajak peran aktif orang tua untuk turut bersama-sama menjaga tempaan yang telah dilakukan saat di pesantren. Caranya dengan mengajak mereka tetap disiplin dan menjaga rutinitas yang telah dilakukan selama berada di pondok.

"Mengawasi dan mendidik para santri dan siswa saat di pesantren dan madrasah adalah tugas kami, sedangkan ketika di rumah adalah tugas orang tua," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pendidikan, Kajian HMI Tegal Kab

Kamis, 20 Juli 2017

Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa

Pamekasan, HMI Tegal Kab - Pencak Silat Pagar Nusa NU Pamekasan tahun lalu gencar melatih para santri di berbagai pesantren untuk dijadikan anggota. Tahun ini, organisasi yang diketuai Salman Al-Farisi ini menyasar kalangan mahasiswa.

"Kita bekali mereka keterampilan pencak silat yang bernapaskan paham Aswaja An-Nahdliyah. Diharapkan, mereka menjadi pendekar yang membentengi NKRI dengan keterampilan pencak silat penebar kebajikan," tegas Salman Al-Farisi saat dihubungi HMI Tegal Kab via telepon, Ahad (29/1) pagi.

Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa

Menurutnya, kalangan mahasiswa rentan bertindak anarkis. Itu bisa dicermati tawuran antarmahasiswa di beberapa kampus. Tindak kekerasan oknum mahasiswa tidak lepas dari arogansi diri yang tidak ada yang mengendalikannya.

"Dengan bergabung di Pagar Nusa NU, kita doakan dan upayakan agar mereka menjadi pendekar sejati. Yaitu, tangguh menghadapi tantangan hidup tanpa harus berperan dalam kerusakan tatahan hidup bersosial," tegasnya.

HMI Tegal Kab

Bulan ini, para mahasiswa Universitas Islam Madura (UIM) digembleng secara intensif oleh Pagar Nusa NU Pamekasan. Usai berlatih, mereka akan mendapat siraman rohani berkaitan dengan keagamaan dan kebangsaan. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian, IMNU, Kyai HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock