Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

YLKI Desak Pemerintah Usut Korban Meninggal Karena Kemacetan

Jakarta, HMI Tegal Kab. Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas kejadian 18 orang pemudik yang meninggal dunia saat mengalami kemacetan di jalan tol di Brebes Timur.

"YLKI mendesak Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kesehatan untuk mengusut tuntas terkait 18 orang meninggal dunia akibat bencana kemacetan di tol Brebes Timur," kata Tulus melalui siaran pers diterima di Jakarta, Jumat.

YLKI Desak Pemerintah Usut Korban Meninggal Karena Kemacetan (Sumber Gambar : Nu Online)
YLKI Desak Pemerintah Usut Korban Meninggal Karena Kemacetan (Sumber Gambar : Nu Online)

YLKI Desak Pemerintah Usut Korban Meninggal Karena Kemacetan

Bila perlu, Tulus mengusulkan agar pengusutan kejadian 18 orang meninggal dunia di jalan tol itu dilakukan atau melibatkan tim independen.

Hal itu penting untuk menunjukkan dan membuktikan kepada masyarakat penyebab kematian 18 orang itu disebabkan oleh efek kemacetan di jalan tol saat arus mudik atau tidak.

HMI Tegal Kab

"Bila benar meninggal karena dampak langsung kemacetan, maka pemerintah dan pengelola jalan tol harus bertanggung jawab baik secara perdata maupun pidana," tuturnya.

Menurut Tulus, secara perdata pengelola jalan tol wajib memberikan kompensasi dan ganti rugi kepada ahli waris korban yang meninggal dunia karena terkena dampak kemacetan di jalan tol.

Arus mudik Idul Fitri 2016 menyebabkan kemacetan parah di tol Brebes Timur yang baru diresmikan pemerintah beberapa waktu sebelumnya untuk memperlancar perjalanan pemudik menuju wilayah timur Jakarta.

HMI Tegal Kab

YLKI menyebut kemacetan parah itu sebagai bencana. Surat kabar daring dari Inggris bahkan sempat memberitakan kemacetan itu, karena pintu keluar tol Brebes Timur oleh sejumlah media massa dan pengguna media sosial disebut Brexit, nama serupa dengan kelompok pendukung Britania untuk keluar dari Uni Eropa. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Anti Hoax, AlaNu HMI Tegal Kab

Kamis, 08 Februari 2018

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah

Pati, HMI Tegal Kab. Ada yang menarik menjelang Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang dihelat di Masjid Darussalam Grogolan-Dukuhseti-Pati, Jawa Tengah, Selasa (19/5) malam. Pasalnya, sejak usai jamaah dzuhur terdengar nama ribuan arwah dibacakan oleh panitia.

Menurut Ketua Panitia Isra’ Mi’raj M Anwar Syafi’i, pembacaan nama arwah dilakukan bergantian oleh sejumlah anggota panitia. “Nama-nama arwah tersebut sengaja kami bacakan pakai pengeras suara demi syiar. Paling tidak, ahli waris juga bahagia nama keluarganya yang telah wafat disebut dalam majlis tahlil ini,” ujarnya.

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah

Tiap nama yang ditahlilkan, lanjut Anwar, keluarga menitipkan uang sebesar 2000 rupiah kepada panitia. “Hingga sore ini, dana yang masuk sudah 8 juta lebih. Kalau 2000 perorang, berarti ada empat ribuan arwah yang ditahlilkan. Seperti tahun lalu, menjelang Maghrib masih ada saja warga mengirim nama leluhurnya,” ungkap Anwar.

HMI Tegal Kab

Anwar Syafii menambahkan, tahlil akbar ini telah dimulai sejak tiga tahun silam. “Ini tahun keempat. Tiap tahun selalu naik jumlahnya, baik arwah maupun keluarga yang mendaftarkannya,” ujar Anwar.

Selain tahlil akbar, lanjut Anwar, kegiatan tahunan tersebut juga memberikan santunan kepada para yatim piatu yang dikemas dalam pengajian umum. “Pengajian malam ini akan dihadiri KH Mahrus Ali dari Jepara,” katanya.

HMI Tegal Kab

Di tempat terpisah, Imam Masjid Darussalam KH Ali Makhtum Salam menyatakan, kegiatan Isra Mi’raj diinisiasi Majlis Ta’lim Al-Istiqomah yang beranggotakan jamaah masjid Darussalam.

“Majlis ta’lim ini merupakan organisasi pengajian kitab tiap malam Selasa yang dirintis oleh Bapak (KH Abdussalam-red). Lalu, diteruskan Kiai Suyuthi A Hannan, kakak sepupu saya. Setelah beliau sakit-sakitan, saya diminta melanjutkan,” ujar Kiai Makhtum.

Pengajian kitab kuning, lanjutnya, telah dimulai saat Almaghfurlah KH Abdussalam masih hidup. Mbah Salamun, sapaan akrab Kiai Abdussalam, biasa memimpin pengajian dengan berbagai macam kitab, antara lain Majmuah al-Syariah al-Kafiyah li al-Awam karya KH Sholeh Darat Semarang.

Sementara itu, Koordinator Majlis Ta’lim Al-Istiqomah Masjid Darussalam Ahmad Ahsin mengatakan, nanti malam ada 35 anak yatim piatu yang akan diberi santunan. “Dana santunan, diambil dari sumbangan para donatur. Bukan dari dana pemasukan tahlil akbar,” tandasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pendidikan, AlaNu, Kyai HMI Tegal Kab

Jumat, 19 Januari 2018

Komisaris PT Garam Berbagi Pengalaman Bisnis dengan GP Ansor Pamekasan

Pamekasan, HMI Tegal Kab. Salah seorang Komisaris PT Garam, Taufadi, berbagi pengalaman bisnis dengan Gerakan Pemuda Kabupaten Pamekasan di SMP Maarif 2, Baddurih, Pademawu, Pamekasan, Ahad (5/3). Taufadi menjadi salah satu pemateri dalam "Rapat Kerja dan Temu Wicara Penguasaha Muda NU".?

Dalam acara yang diikuti pengurus dan kader GP Ansor se-Kabuapten Pamekasan tersebut, kader PMII dan NU yang sukses dengan ragam bisnis usahanya itu berbagi trik menjadi pengusaha sukses. Untuk menjadi pengusaha, kata Taufadi, tergolong sangat sederhana. Yaitu, kembalikan pada hobi.

Komisaris PT Garam Berbagi Pengalaman Bisnis dengan GP Ansor Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Komisaris PT Garam Berbagi Pengalaman Bisnis dengan GP Ansor Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Komisaris PT Garam Berbagi Pengalaman Bisnis dengan GP Ansor Pamekasan

"Kalau tidak punya hobi, kita punya ide apa untuk urusan usaha. Kalau sudah punya ide, selanjutnya kita mesti membedahnya," ujar pemuda yang punya bisnis LPJU di Kabupaten Sumenep tersebut.

Ketika ide sudah dibedah, selanjutnya ialah membaca pangsa pasar. Studi kelayakan apakah sasarannya kelas bawah, menengah, atau atas penting dilakukan. Setelah itu, bangun branding lewat promosi. Media promosi sangat penting dalam sebuah usaha.

HMI Tegal Kab

"Setelah itu, bangun sistem seperti legal standing, buatlah tata kelola perusahaan yang baik, manajemen keuangan, dan seterusnya. Itu beberapa hal yang perlu dilakukan untuk memulai usaha," tegas alumnus STAIN Pamekasan tersebut.

Menurut Taufadi, menjadi pengusaha itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Untuk memulainya, mesti punya percaya diri atau keyakinan sukses yang tinggi.

"Karakter dari seorang pengusaha ialah berani memulai dan berani terhadap resiko. Dalam memulai usaha, ada dua pengorbanan berupa materi dan nonmateri. Nonmateri ini mengarah pada pemikiran," pungkasnya.

Sebelumnya menjadi bagian dari petinggi BUMN, tiap idul Adlha, Taufadi mengirim 1.200 sapi ke Bogor dan Jakarta. Tapi sekarang sudah tak menekuninya lagi karena jadi Komisaris PT Garam. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

?

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaNu, Ubudiyah HMI Tegal Kab

Sabtu, 13 Januari 2018

Presiden Soekarno Pun Dua Kali Sowan Ke TGH Shaleh Hambali

Mataram, HMI Tegal Kab. Penulis buku Pemikiran Islam Lokal: TGH M Shaleh Hambali Bengkel Adi Fadli mengatakan, Presiden Soekarno dua kali sowan ke Tuan Guru Haji (TGH) Shaleh Hambali Bengkel, yaitu tahun 1950 dan 1955. Selain itu, Wakil Presiden Mohammad Hatta juga datang ke Bengkel untuk silaturahim dengan Tuan Guru Shaleh Hambali.

Gak ada jadwal resmi Soekarno datang ke Bengkel. Yang mungkin ada jalur resminya Hatta,” kata Adi usai acara bedah buku di Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB), Rabu (22/11).

Presiden Soekarno Pun Dua Kali Sowan Ke TGH Shaleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Soekarno Pun Dua Kali Sowan Ke TGH Shaleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Soekarno Pun Dua Kali Sowan Ke TGH Shaleh Hambali

Sesuai dengan referensi yang ada, Adi menceritakan bahwa pada saat itu masyarakat Lombok bertaruh akan kehadiran Presiden Soekarno ke Bengkel. Namun, Tuan Guru Bengkel memastikan bahwa Soekarno akan mampir ke Bengkel.

“Dan itu sudah dipastikan. Mungkin beliau memiliki ilmu melewati kita. Itu hal-hal luar biasa,” jelasnya.

Menurut Doktor lulusan UIN Yogyakarta itu, kehadiran Presiden Soekarno ke Bengkel adalah sebagai wujud penghormatan presiden kepada Tuan Guru Bengkel. Mengingat untuk mendatangkan seorang presiden itu tidak mudah. 

“Itu sungguh sangat luar biasa,” ujarnya.

HMI Tegal Kab

Adi menambahkan, pada saat sampai di kediaman Tuan Guru Bengkel, Soekarno langsung berhenti, bersalaman, dan langsung berpidato di hadapan massa yang sudah menunggu kedatangannya.

“Tempat berdirinya Soekarno masih ada di Bengkel itu. Bangunannya sampai sekarang tidak boleh dirubah,” urainya.

Para alim ulama Nahdlatul Ulama (NU) dan jenderal juga banyak yang sowan ke Bengkel. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menginap di sana. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab AlaNu, Khutbah HMI Tegal Kab

Rabu, 03 Januari 2018

Adab dan Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban

Pringsewu, HMI Tegal Kab. Anggota Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung Ahmad Rifai mengatakan bahwa dalam melakukan penyembelihan hewan hendaknya mengedepankan tata cara dan adab yang baik khususnya kepada hewan yang akan disembelih.?

Adab dan Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Adab dan Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Adab dan Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban

"Sebelum memotong perlakukan hewan dengan lembut, tidak menghardik dan robohkan dengan baik dan benar dalam artian tidak kasar dan menyakitkan hewan yang akan disembelih," katanya saat menjadi Pembicara Kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Pringsewu, Kamis (8/9).

?

Dalam mengasah alat atau pisau yang akan digunakan juga hendaknya tidak terlihat oleh hewan yang akan disembelih. "Inilah sebagian adab penyembelihan dengan berbuat baik kepada hewan," katanya sembari menyebutkan dalil dasar berbuat baik pada Kitab Al-Quran Surat Al-Araf ayat 157.

?

HMI Tegal Kab

Adab yang lain dalam menyembelih hewan lanjut pengurus PCNU Kabupaten Pringsewu ini adalah dengan membaringkan hewan disisi kiri dan meletakkan kaki disisi leher hewan. "Ucapkan Takbir dan hadapkan hewan kearah Qiblat dan lakukan penyembelihan," lanjutnya pada kegiatan yang dihadiri oleh para Pengurus Masjid dan Musholla yang akan melaksanakan Pemotongan hewan Qurban pada Idul Adha 1437 H di Kabupaten Pringsewu.

?

Berdasarkan Fatwa MUI pada 23 Oktober 1976, penyembelihan hewan qurban dilakukan maksimal tiga kali irisan dengan tidak boleh diangkat saat proses pengirisan. "Iris dibagian leher dengan memutuskan tiga saluran yaitu saluran nafas, saluran makanan dan saluran darah," jelasnya.

?

HMI Tegal Kab

Dalam kesempatan tersebut, Alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri ini juga ? menjelaskan dari sisi kajian fiqh tentang Syarat-Syarat Hewan Qurban. Ia menjelaskan bahwa hewan yang akan dijadikan sebagai qurban harus sehat secara fisik, tidak cacat berupa pincang, tanduk patah dan bermata juling. "Hewan Qurban juga harus cukup umur dan bagi hewan jantan memiliki testis yang lengkap," rincinya.

?

Untuk hewan qurban Sapi atau kerbau, lanjutnya, telah berumur 2 tahun dan untuk kambing atau domba telah berumur 1 tahun. " Kambingnya juga sudah mengalami pergantian gigi seri atau kalau bahasa jawanya poel," terangnya.

?

Selain menjelaskan qurban ditinjau dari kajian fiqh, Rifai juga menjelaskan tentang Hikmah berqurban yang bisa dirasakan bagi ummat Islam yang menjalankannya. Diantaranya menurut Dosen IAIN Raden Intan Bandarlampung ini adalah merupakan kecintaan kepada Allah melalui menegakkan Ibadah yang diperintahkanNya.?

"Qurban juga merupakan ungkapan syukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah dikaruniakan sekaligus menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hikmah, AlaNu HMI Tegal Kab

Segera Terbentuk Forum Mahasiswa Aswaja di UIN Maliki Malang

Surabaya, HMI Tegal Kab. Selasa, (8/12) siang, sejumlah mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang Jawa Timur mengunjungi PW Aswaja NU Center di Surabaya. Kunjungan ketiga kalinya ini sebagai kalender akademik yang akan ditindaklanjuti dengan pendirian Forum Mahasiswa Aswaja atau Formas.

"Ini adalah kunjungan kali ketiga dari kunjungan sebelumnya pada bulan kemarin," kata KH Abdurrahman Navis. Direktur PW Aswaja NU Center Jawa Timur ini menandaskan bahwa silaturahim tersebut sebagai rangakain dari kuliah yang diselenggarakan di luar kelas.

Segera Terbentuk Forum Mahasiswa Aswaja di UIN Maliki Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Segera Terbentuk Forum Mahasiswa Aswaja di UIN Maliki Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Segera Terbentuk Forum Mahasiswa Aswaja di UIN Maliki Malang

Kedua belah pihak memiliki komitmen bersama untuk semakin mengintensifkan kajian dan pendalaman Aswaja. "Dalam waktu dekat diharapkan akan terselenggara kajian hingga daurah yang membahas Aswaja dalam berbagai aspek," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Bahkan bila tidak ada kendala, dalam waktu yang tidak lama akan juga segera dideklarasikan terbentuknya Forum Mahasiswa Aswaja atau Formas di salah satu kampus negeri di Malang ini.

HMI Tegal Kab

"Target kami adalah bagaimana kajian dan pendalaman Aswaja bisa dilangsungkan dengan lebih intensif di kampus UIN Maliki," tandas Kiai Navis, sapaan akrabnya. Karena tantangan Aswaja di kampus tidak kalah berat lantaran melibatkan para cendekiawan dan akademisi.

HMI Tegal Kab

"Pendekatan untuk kalangan kampus tentu berbeda dengan masyarakat pada umumnya," terang Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini. Penjelasan sejumlah persoalan keaswajaan harus disampaikan dengan logika dan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, lanjutnya.

Kendati demikian, hal tersebut bukanlah penghalang bagi Aswaja NU Center untuk berkiprah. "Kami memiliki para tutor baik dari kalangan alumni pesantren salaf dan akademisi, sehingga akan mampu melayani kebutuhan narasumber sesuai kalangan kampus," terangnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Doa, AlaNu, Sejarah HMI Tegal Kab

Senin, 25 Desember 2017

Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani

Oleh: Muhammad Idris Masudi* Hingga tulisan ini dikerjakan, mungkin sudah puluhan tulisan terkait tema Islam Nusantara bertebaran di berbagai media baik cetak maupun elektronik, baik pro maupun kontra. Melejitnya isu ini ditengarai disebabkan oleh sejumlah faktor. 

Konon, tema yang awalnya “adem-ayem” ini, menjadi buah bibir perbincangan masyarakat luas, terutama di dunia sosial-media, mencapai momentumnya pasca acara di Istana Presiden, setelah munculnya pembacaan al-Quran dengan menggunakan “langgam Jawa”. 

Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani

Perlu ditegaskan di sini bahwa sebelum ramainya diskursus Islam Nusantara, pada tahun 2012, STAINU Jakarta telah mendapatkan izin dari kementerian Agama untuk membuka prodi Pascasarjana Sejarah Kebudayaan Islam dengan konsentrasi Islam Nusantara. Pembukaan prodi “baru” ini bahkan meminjam istilah Kiai Said, “jurusan Islam Nusantara ini merupakan jurusan satu-satunya di dunia dan akhirat”. 

HMI Tegal Kab

Sejumlah kalangan akademisi “mencibir” dengan mengatakan bahwa Islam Nusantara terlalu “jawa sentris”. Karena perbincangan tentang Nusantara yang ditulis oleh sejumlah kalangan yang pro terhadap istilah ini lebih banyak membicarakan soal Islam Jawa.

Tulisan pendek di bawah ini hendak mencoba menepis anggapan “miring” di atas dengan menyuguhkan sebuah ijtihad yang –sepanjang pembacaan penulis- hanya pernah dilakukan oleh ulama Nusantara. Yaitu ijtihad yang dilakukan oleh Syeikh Abdus Shamad al-Palimbani tentang keutamaan jihad di lautan dalam kitabnya berjudul “Nashihatul Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadhail Jihad wa Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah.”

HMI Tegal Kab

Sekilas tentang Syaikh Abdus Shamad al-Palimbani

Syeikh Abdusshamad al-Falimbani dilahirkan pada tahun 1116 H/ 1704 M,[1] di Palembang. Ayahnya, Syeikh Abdul Jalil bin Syeikh Abdul Wahab bin Syeikh Ahmad al-Mahdani adalah seorang ulama yang berasal dari Yaman dan dilantik menjadi Mufti di Kedah (sekarang daerah Malaysia) pada awal abad ke 18M. Sementara ibunya adalah wanita Palembang yang diperistri  oleh Syeikh Abdul Jalil setelah sebelumnya menikahi puteri Dato’ Sri Maharaja Dewa di Kedah.

Perjalanan Intelektual

Syaikh Abdushamad hidup dalam keluarga yang mencintai ilmu tasawuf.[2] Sebagai anak dari seorang mufti, Abdushamad kecil dididik langsung oleh ayahnya, Syeikh Abdul Jalil di Kedah. Kemudian Syeikh Abdushamad di bawah ayahnya untuk mendalami ilmu agama di negeri Patani; di antaranya adalah Pondok Bendang Gucil di Kerisik atau Pondok Kuala Berkah dan Pondok Semala yang kesemuanya berada di daerah Patani, Thailand. 

Pengembaraan intelektualnya tidak hanya berhenti di Patani, melainkan ke India[4], hingga sampai ke Madinah dan Makkah. Sebagaimana dijelaskan Azra dalam bukunya berjudul Jaringan Ulama Nusantara, Madinah dan Makkah (Haramayn) pada masa itu menjadi sebuah pusat intelektual dunia Islam. Sehingga wajar, bila Abdushamad memilih untuk singgah dan belajar di Haramayn.

Guru-Gurunya:

1. Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani

2. Muhammad bin Sulayman al-Kurdi

3. Abdul Mun’in al-Damanhuri

4. Ibrahim al-Rais, Muhammad Murad

5. Muhammad al-Mashri

6. Athaullah al-Mashri

Karya-Karyanya:

1. Zahratul Murid fi Bayani Kalimat al-Tauhid, 1178/1764 M.

2. Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah, 1179 H/ 1765

3. Hidayat al-Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin, 1192 H/1780

4. Siyar al-Salikin ila Ibadat Rabb al-Alamin, 1194 H/ 1780

5. al-Urwat al-Wutsqa wa Silsilat Waliyil Atqa

6. Ratib Syeikh Abdushamad al-Falimbani

7. Nashihat al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadhail Jihad wa Karamat al-Mujtahidin fi Sabilillah.

8. Al-Risalat fi Kayfiyat Ratib Laylat al-Jum’ah

9. Mulhiqun fi Bayan Fawaid al-Nafi’ah fi Jihad fi Sabilillah

10. Zadul Muttaqin fi Tawhid Rabbil ‘Alamin

11. Ilmu Tasawuf

12. Mulkhishut Tuhbat Mafdhah Min al-Rahmat al-Mahdhah ‘Alayhi al-Shalat wa al-Salam

13. Kitab Mi’raj

14. Anis Muttaqien

15. Puisi Kemenangan Kedah

Kontekstualisasi Keutamaan Hadis-Hadis Jihad Maritim

Bagi penulis, yang salah satu kontek menarik dalam karya Syeikh Abdus Shamad ini adalah bagaimana cara beliau mengkontekstualisasikan hadis-hadis nabi. Syaikh Abdus Shamad tentunya menyadari betul bahwa nusantara adalah Negara maritim yang memiliki luas lautan yang lebih besar ketimbang daratan (dua pertiga lautan dan sepertiga daratan). 

Hal ini menjadi salah satu poin penting untung menyerukan jihad di lautan. Melihat potensi ini, Syaikh Abdushamad mendasarkan seruan tersebut dengan mengutip sejumlah hadis tentang keutamaan jihad perang di laut yang di dalam teks hadisnya mencantumkan bahwa pahala perang di lautan lebih besar ketimbang jihad di daratan. Hemat penulis, apa yang dilakukan oleh Syaikh Abdushamad ini menjadi menarik karena dalam kitab-kitab fikih konvensional, jarang- untuk tidak menemukan tidak sama sekali- ditemukan pembahasan tentang jihad di lautan. Salah satu hadis yang dikutip oleh Syaikh Abdushamad dalam menjelaskan tentang keutamaan jihad di lautan adalah hadis riwayat  al-Thabrani:

? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?[3] 

Artinya: Keutamaan jihad di jalur lautan disbanding jihad di daratan sebagaimana keutamaan jihad di daratan dibandingkan orang yang tidak ikut berperang dan tidak menginfakkan hartanya untuk perang. 

Hadis lain (riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Hilyat al-Awliya’) yang cukup “kontroversial” (ditilik dalam cara penukilan hadis yang tidak menggunakan kitab-kitab hadis kanonik) dalam ranah hadis namun dikutip oleh Syaikh Abdushamad untuk memicu semangat jihad di jalur lautan adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [4] 

Artinya: Semua dosa orang yang mati syahid yang bertempur di daratan diampuni oleh Allah kecuali dalam masalah hutang (materi) dan amanah, sementara semua dosa orang mati syahid, bahkan hutang (hutang yang bersifat haqqullah, bukan haq adami, pent) dan amanah sekalipun.

Penutup

Dari pemaparan singkat ini, kita bisa mengambil banyak faidah dan teladan dari Syaikh Abdus Shamad dalam upayanya membumikan hadis-hadis Nabi dengan melihat pada konteks kekinian dan kedisinian. Sebagaimana para sarjana klasik sering kali mengatakan bahwa “al-Nash mutanahi wal waqa’i’ la tatanaha”, teks-teks al-Quran dan hadis Nabi terbatas sementara realitas terus menerus berjalan sesuai perkembangan zaman. 

Oleh karena itu, ijtihad-ijtihad kreatif harus tetap dilakukan untuk merespon tantangan zaman. Di sisi lain, tulisan ini juga menegaskan bahwa yang dimaksud Islam Nusantara di sini bukan “jawa sentris”, melainkan meliputi seluruh wilayah nusantara. Dan Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani ini salah satu contoh terbaik dari deretan ulama nusantara yang non-Jawa.  

*) Staff bidang Akademik Pascasarjana Islam Nusantara di STAINU Jakarta 

Sumber Bacaan:

[1] Sejumah sumber sejarah yang mengulas biografi Syaikh Abdushamad tidak menyebutkan tahun kelahirannya, konon, kata Azyumardi Azra, hanya dalam buku Tarikh Salasilah Negri Kedah yang memberikan angka tahun kelahiran dan wafatnya. Lihat, Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII (Jakarta; Kencana, 2007)cet.3, h.306 

[2] Ahmad Luthfi, Muqaddimah Tahqiq Nashihat al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadhail Jihad wa Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah, (Jakarta; Wuzarat al-Syuun al-Diniyyah Lil Jumhuriyyah al-Indunisiyah, 2009) cet.1, h.8

[3] Sanad hadis ini oleh al-Munawi dalam Fayd al-Qadir dinilai hasan, lihat Ahmad Luthfi dalam catatan kaki kitab Nashihat al-Muslimin, h. 80. 

[4] Hadis ini menurut muhaqqiqnya, Ahmad Luthfi, terdapat dalam kitab silsilat al-ahadits al-dhaifah wa al-Mawdhu’atnya al-Albani

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Berita, AlaNu HMI Tegal Kab

Minggu, 17 Desember 2017

Hasyim Usulkan Koalisi Nasionalis Tulen dan Islam Moderat

Surabaya, HMI Tegal Kab. Rais Syuriyah PBNU KHA Hasyim Muzadi mengusulkan presiden terpilih Jokowi Widodo-Jusuf Kalla untuk membangun koalisi nasionalis tulen dan Islamis moderat.

Hasyim Usulkan Koalisi Nasionalis Tulen dan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Usulkan Koalisi Nasionalis Tulen dan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Usulkan Koalisi Nasionalis Tulen dan Islam Moderat

"Idealnya, Jokowi-JK harus membangun kombinasi nasionalis tulen dan Islamis moderat, karena kombinasi keduanya yang menjamin keselamatan NKRI," ucap Hasyim Muzadi.

Mantan Ketua Umum PBNU itu mengaku kombinasi itu sering terganggu karena kelompok nasionalis sering "diganggu" oleh liberalis/atheis, sedangkan kelompok Islamis sering "diganggu" oleh radikalisme/terorisme yang mengatasnamakan agama.

HMI Tegal Kab

"Kedua gangguan itu harus dieliminasi dan hal itu dalam implementasi perlu kerja bersama, apalagi kalau kita ingin menuju Trisakti Indonesia yang berdaulat dalam politik, berdikari, dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya," ujarnya.

Hasyim Muzadi juga mengingatkan Jokowi-JK pasangan presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk berhati-hati dengan kelompok "a-nasional" yang menurut dia akani turut mengitari keduanya untuk kepentingan jabatan dalam kabinet.

HMI Tegal Kab

"Yang mengitari tentu banyak yang jujur, tapi lebih banyak lagi yang berminyak air sebagai lazimnya teori kepentingan." katanya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaNu HMI Tegal Kab

Senin, 04 Desember 2017

Tabayun Kunci Sukses Lawan Hoax

Jakarta,HMI Tegal Kab

Berita bohong atau dikenal hoax saat ini hampir meliputi beragam sendi kehidupan, mulai bisnis, kesehatan, pendidikan, politik, bahkan urusan agama. Hoax sengaja disebar pihak tertentu untuk dipercaya penerimanya. Biasanya tersebar luas melalui media sosial.

Hal itu dikatakan Ketua Litbang Lembaga Ta’lif wa Nasyr Nahdlatul Ulaa (LTNNU) Malik Mughni di sela diskusi dengan peserta menulis HMI Tegal Kab di kantor PBNU (12/5).

Tabayun Kunci Sukses Lawan Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)
Tabayun Kunci Sukses Lawan Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)

Tabayun Kunci Sukses Lawan Hoax

Apalagi ketika menjelang pemilihan umum baik pemilihan kepala daerah atau pemilihan presiden, hoax, semakin marak.

HMI Tegal Kab

“Tujuannya tidak lain untuk menjatuhkan dengan menggunakan berita bohong. Selain itu hoax juga sering digunakan untuk menebarkan kebencian dalam satu golongan dan pengagungan kepada golongan lain,” jelasnya.

HMI Tegal Kab

Agar terhindar dari hoax, menurut Malik, adalah melakukan tabayun atau konfirmasi. Artinya kita tidak begitu saja percaya dengan berita yang diperoleh sebelum memastikan kebenarannya. Terutama berita dengan sumber yang tidak jelas.

Malik juga menambahkan, saat ini NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sering dihantam hoax dari pihak-pihak tertentu.

“Tentu saja itu sangat merugikan NU. Parahnya, media mainstream juga ikut termakan hoax,” kata Malik menegaskan.

Untuk menangkal hoax terhadap NU, LTNNU menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Kerja sama itu melibatkan para peneliti, pendidik, organisasi kepemudaan, pengamat, dan jurnalis di media-media mainstream. Mereka akan dipertemukan LTNNU pada konsolidasi nasional untuk mempertemukan gagasan mengimbangi media-media radikal dan berita-berita hoax.

“Kenapa itu dilakukan? Karena yang hoax itu tidak sesuai dengan ajaran Islam,” pungkasnya. (Mistra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Daerah, AlaNu, Nusantara HMI Tegal Kab

Senin, 27 November 2017

Upacara Kemerdekaan, Santri Al-Wafa’ Kenakan Sarung dan Batik

Bandung, HMI Tegal Kab. Puluhan santri pesantren Al-Wafa’, Cileunyi kabupaten Bandung, Jawa Barat, menggelar upacara peringatan hari kemerdekaan Ke-70 RI, Senin (17/8) pagi. Dalam upacara ini, para santri laki-laki mengenakan baju batik, bersarung, dan mengenakan peci. Sedangkan santri perempuan mengenakan batik, rok, dan kerudung.

Upacara Kemerdekaan, Santri Al-Wafa’ Kenakan Sarung dan Batik (Sumber Gambar : Nu Online)
Upacara Kemerdekaan, Santri Al-Wafa’ Kenakan Sarung dan Batik (Sumber Gambar : Nu Online)

Upacara Kemerdekaan, Santri Al-Wafa’ Kenakan Sarung dan Batik

Inspektur upacara Ustadz Asep Qomaruddin dalam sambutannya mengingatkan santri-santri supaya mengetahui bahwa para pahlawan Indonesia dahulu mengorbankan dirinya bahkan nyawanya untuk membela dan mempertahankan Indonesia.

“Untuk itu, sebagai kaum yang berpendidikan, marilah para santri untuk giat belajar dalam rangka berpartisipasi mewujudkan kesejahteran da kedaulatan bangsa Indonesia,” tutur Pembina pesantren Al-Wafa’ ? itu.

HMI Tegal Kab

Firman Abdullah salah seorang santri mengemukakan, sebagai bagian dari wujud nasionalisme santri, upacara memakai batik merupakan ciri pakaian khas Indonesia, sedangkan sarung merupakan identitas santri.

HMI Tegal Kab

“Dengan memakai pakaian seperti itu diharapkan santri-santri semakin mencintai negaranya beserta kebudayaan yang ada,” ujar santri asal Palangkaraya itu kepada HMI Tegal Kab seusai upacara yang berlangsung di halaman setempat.

Selain mengadakan upacara kemerdekaan, santri-santri pesantren Al-Wafa’ juga menggelar berbagai perlombaan dalam rangka menyemarakkan Dirgahayu Ke-70 Kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya lomba untuk para santri, anak-anak di sekitar pesantren juga dilibatkan untuk mengikuti perlombaan yang disediakan. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Lomba, Pahlawan, AlaNu HMI Tegal Kab

Minggu, 26 November 2017

Bantu Warga Miskin, Program Ansor Brebes Peduli Diluncurkan

Brebes, HMI Tegal Kab - Guna memfasilitasi para donatur yang akan menyisihkan sebagian rezeki atau hartanya ke kaum dhuafa dan fakir miskin, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mencanangkan program bernama Ansor Brebes Peduli. ?

Secra resmi Ansor Brebes Peduli diluncurkan di Gedung PCNU Brebes, akhir pekan kemarin (7/8) bersamaan dengan acara halal bihalal pengurus PC GP Ansor setempat yang dihadiri pengurus pimpinan anak cabang (PAC) GP Ansor se-Kabupaten Brebes.

Bantu Warga Miskin, Program Ansor Brebes Peduli Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantu Warga Miskin, Program Ansor Brebes Peduli Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantu Warga Miskin, Program Ansor Brebes Peduli Diluncurkan

Edy Tristiyanto selaku koordinator Ansor Brebes Peduli menyampaikan bahwa program ini bertujuan untuk membantu mereka yang tidak mampu atau sedang tertimpa musibah. Dana saat ini sudah terkumpul Rp4.075.000 hasil dari swadaya pengurus GP Ansor dan akan disalurkan kepada Umiyatun, warga RW 4 Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Brebes. Umiyatun merupakan seorang janda beranak tiga penderita penyakit paru-paru yang sehari sehari-hari bekerja sebagai pemulung.

“Mudah-mudahan ke depan makin banyak lagi donasi yang terkumpul dari para donatur sehingga Ansor bisa membantu lebih banyak warga yang tidak mampu,” lanjut Edy.

HMI Tegal Kab

Sementara, Ahmad Munsip selaku Ketua PC GP Ansor Kabupaten Brebes menambahkan bahwa pihaknya mempunyai beberapa bidang garapan termasuk bidang sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, pengurus GP Ansor di semua tingkatan harus peka terhadap kondisi sosial yang ada di masyarakat, salah satunya para kaum dhuafa. “Slogan GP Ansor yaitu ngaji, ngader, makaryo (mengaji, mengader, dan berkarya) itu yang harus kita laksanakan sehingga kiprah, eksistensi dan karya GP Ansor di masyarakat bisa dirasakan,” tutup Munsip.

HMI Tegal Kab

Acara peluncuran Ansor Brebes Peduli diisi Business Opportunity Presentation oleh Bumiputera Syariah Cabang Tegal untuk calon tenaga Financial Consultant Syari’ah sebagai tindak lanjut nota kesepahaman antara Pimpinan Wilayah GP Ansor Jateng dan Bumiputera. Turut Hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua PCNU Kabupaten Brebes H Sodikin Rahman serta penasihat PC GP Ansor Kabupaten Brebes sekaligus Ketua KPU Brebes Muamar Riza Pahlevi. (Red: Mahbib)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hadits, AlaNu, Quote HMI Tegal Kab

Kamis, 23 November 2017

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu

Nganjuk, HMI Tegal Kab - Perjalanan hari ketiga Kirab Resolusi Jihad NU 2016 memasuki Kabupaten Nganjuk, Sabtu (15/10). Pondok Pesantren Miftahul Ula Nglawak Kertosono didatangi Tim Kirab. Tim kirab tiba di pesantren yang didirikan KH Abdul Kodir Al-Fatah dan telah berusia 92 tahun itu sekira pukul 22.00.

Wakil Bupati Nganjuk KH Abdul Wahid Badrus berkenan menyampaikan kata sambutan. Menurut Mustasyar PCNU Nganjuk ini, peringatan Hari Santri Nasional yang diisi salah satunya dengan Kirab Resolusi Jihad membuka mata pemerintah dan anak bangsa tentang semangat membela bangsa.

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu

Semangat yang melahirkan Resolusi Jihad pada dasarnya timbul karena suatu bangsa yang memasuki wilayah bangsa lain pasti menimbulkan kerusakan di wilayah negara yang dimasukinya.

Kiai Wahid menyinggung hal tersebut seperti kisah Ratu Saba setelah menerima surat dari Nabi Sulaiman, di mana Ratu Saba bersabda “Masuknya suatu bangsa ke sebuah negeri akan berbuat kerusakan di dalam negeri.”

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab

Kiai Wahid memandang resolusi tidak saja relevan pada masa perjuangan tahun 1945, tetapi kiranya menjadi semangat motivasi dan inspirator untuk menjadi manusia yang cinta kepada Indonesia, setia NKRI dan komitmen yang telah diputuskan dalam UUD 1945.

Di Indonesia ini ada satu buku karangan KH Saifudin Zuhri berjudul Orang-orang dari Pesantren. Dalam buku tersebut, digambarkan betapa para ulama mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap negara, saat terjadi cengkraman penjajahan dari Jepang dan Belanda. Dalam buku itu disebut pula peran para ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Kiai Wahid memandang peringatan Hari Santri Nasional, pelaksanaannya perlu didukung oleh pemerintah pada waktu mendatang. Karena itu ia berpesan kepada PBNU untuk mendorong pemerintah agar setiap Pemda di Indonesia menyelenggarakan peringatan Hari Santri, bukan hanya NU yang bergerak sendiri.

Pesan kedua, pantas sekali bahwa para kiai dan ulama kebih dihargai oleh negara. Memang beberapa ulama telah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Namun nyatanya masih banyak Kiai dan ulama yang dipandang sebelah mata oleh negara.

Kepada generasi muda dan santri, ia berpesan kepada mereka agar mempelajari sejarah. Sosok seperti Gus Dur atau KH Saifudin Zuhri dan tokoh lainnya dapat dijadikan inspirasi dan motivasi untuk berbuat bagi bangsa dan negara.

Selanjutnya generasi muda juga harus berjuang demi agama dan NU. Dalam rangka itu, NU struktural dan kultural harus bersatu.

"Melalui NU struktural kita rajut kerja sama dengan pemerintah. Melalui NU kultural kita rajut kerja sama dengan masyarakat. Mari kita rajut untuk kehidupan yang lebih baik," pungkas Kiai Wahid.

Mengakhiri upacara penyambutan, KH Jamaludin Abdullah memimpin doa sebelum akhirnya tim meneruskan perjalanan ke Pesantren Lirboyo Kediri. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pahlawan, AlaNu HMI Tegal Kab

Jumat, 17 November 2017

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi

Kudus, HMI Tegal Kab. Pernah suatu ketika Sayidina Utsman bin Affan merasa malu kepada Nabi Muhammad. Perasaan malu itu justru membuat Sayyidina Utsman memborong seluruh barang dagangan yang dilelang pedagang dari Syam. Kisah ini disampaikan oleh KH Sya’roni Achmadi pada Pengajian Tafsir Al-Qur’an di Masjid Al-Aqsho Menara, Kudus, Kamis (15/6).

“Ceritanya, dulu ketika waktu sholat Jumat dimulai rombongan pedagang dari Syam datang. Itu menyebabkan mayoritas umat Islam lari dan memilih ikut lelang dagangan daripada khutbah Nabi Muhammad SAW,” tutur Kiai Sya’roni mengawali cerita.

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi

Akibatnya, jamaah atau sahabat yang ikut khotbah dan sholat jumat tinggal 12 orang. Seketika itu Sayyidina Utsman merasa malu karena umat lebih memilih dagangan daripada khutbah Nabi.

“Dalam kondisi seperti itu, Sayyidina Utsman langsung ikut lelang dan menawar dengan harga tertinggi,” lanjut Kiai Sya’roni.

HMI Tegal Kab

KH Sya’roni menjelaskan setiap harga yang ditawarkan pedagang dan disetujui sahabat lain ditawar lebih oleh Sayyidina Utsman. Misalkan harga kain 10 juta Sayyidina Utsman berani membeli 11 juta.

“Kemudian sampai pada harga tertinggi akhirnya Sayyidina Utsman menang lelang. Seluruh barang dagangan terbeli oleh Sayyidina Utsman,” katanya.

Selanjutnya, semua sahabat yang kalah lelang itu meminta agar Sayyidina Utsman mau menjual beberapa kepada para sahabat yang tidak mendapat barang dagangan. Permintaan itu dituruti dengan syarat mau membeli sepuluh kali lipat dari harga belinya.

Sahabat-sahabat yang meminta itu semua tidak berani membelinya. Lalu Sayyidina Utsman bilang jika mau dijual sendiri. Namun, yang terjadi Sayyidina Utsman justru memanggil para fakir miskin dan membagikan barang yang dibeli itu kepada mereka.

HMI Tegal Kab

“Kok malah ngundang fakir miskin? Oo, dijual kepada Gusti Allah,” ujar Mbah Sya’roni seolah-olah menirukan kata sahabat.

Setelah membagikan itu Sayyidina Utsman berkata kepada sahabat yang tadi ikut lelang. “Memalukan, hanya karena barang dagangan kalian sampai tega meninggalkan khotbah Nabi Muhammad,” kata Mbah Sya’roni menirukan dalam bahasa Jawa.

Pasca kejadian itu setiap waktu sholat jumat tiba para sahabat tidak ada yang berani meninggalkan Khotbah Nabi Muhammad lagi. Kisah ini disampaikan sebagai penjelasan hadits Ana khodimul khaya’ wa Utsman babuha. Artinya Saya (Nabi Muhammad) adalah gudangnya perasaan malu dan Utsman adalah pintunya.

Kisah ini sekaligus menjadi dasar ijtihad madzhab Imam Syafi’i dalam qoul qodim bahwa batas minimal jumlah jamaah sholat jumat adalah 12 orang. Begitu juga menurut madzhab Malikiyah. Namun hukum itu oleh Imam Syafi’I dalam qoul jadid berubah menjadi 40 orang minimal.

“Keterangan Qoul Qodim maksudnya adalah ucapan Imam Syafi’i sebelum memasuki daerah Mesir. Sedangkan Qoul Jadid adalah setelah Imam Syafi’I masuk daerah Mesir. Masing-masing beda hukumnya,” terang Mbah Sya’roni. (M. Farid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kiai, AlaNu, Meme Islam HMI Tegal Kab

Senin, 13 November 2017

Ansor Tangsel Evaluasi Program Kerja dan Kaderisasi

Tangerang Selatan, HMI Tegal Kab. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Tangerang Selatan, Ahad (20/12), mengadakan rapat kerja (Raker) bersama seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor setempat di Taman Jajan Bumi Serpong Damai (BSD) Kota Tangerang Selatan, Banten.

Pertemuan yang berlangsung dari pagi hingga sore ini antara lain membahas program kerja tahunan serta evaluasi kaderisasi dan kepengurusan ditingkat kecamatan atau PAC. Forum diikuti seluruh pengurus pimipinan cabang dan pimpinan anak cabang GP Ansor setempat.

Ansor Tangsel Evaluasi Program Kerja dan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Tangsel Evaluasi Program Kerja dan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Tangsel Evaluasi Program Kerja dan Kaderisasi

Ketua PC GP Ansor Kota Tangerang Selatan Asrori mengatakan, pembahasan tersebut penting digelar sebagai langkah pembenahan roda organisasi dan proses pengaderan di berbagai tingkatan di Tangerang Selatan.

HMI Tegal Kab

“Kaderisasi di wilayah Kota berbeda dari wilayah desa, maka butuh ektra tenaga dan pemikiran dalam pengembangan kaderisasi di Kota Tangerang Selatan,” katanya.

Hasil dari Raker kali ini adalah pembentukan koordinator daerah binaan di masing-masing kecamatan se-Tangerang Selatan dan beberapa kegiatan dalam memunjang syiar NU Tangsel. PC GP Ansor Tangsel juga berencana akan mengedakan forum-forum diskusi, baik untuk pengembangan pemahaman Aswaja maupun tukar pikiran soal organisasi.

HMI Tegal Kab

Ketua Panitia raker Ari Hardi berharap hasil rapat kerja menjadi acuan dan fokus kerja GP Ansor ke depan, yang meliputi bidang kaderisasi dan internalisasi nilai-nilai Aswaja di wilayah Kota Tangerang Selatan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Fragmen, Aswaja, AlaNu HMI Tegal Kab

Minggu, 12 November 2017

Hukum Berdiri saat Mahallul Qiyam di Tengah Peringatan Maulid

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Kepada yang terhormat admin bahtsul masail HMI Tegal Kab, saya mau menanyakan perihal berdiri di tengah peringatan maulid. Apakah hukum berdiri ketika Barzanjian saat bacaan tertentu yang dikenal dengan sebutan mahallul qiyam? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Abdul Fattah/Kalimantan Selatan)

Hukum Berdiri saat Mahallul Qiyam di Tengah Peringatan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Berdiri saat Mahallul Qiyam di Tengah Peringatan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Berdiri saat Mahallul Qiyam di Tengah Peringatan Maulid

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Peringatan maulid di Indonesia lazimnya diisi dengan pembacaan rawi atau sejarah hidup Nabi Muhammad SAW.

HMI Tegal Kab

Di tengah pembacaan rawi ini pada bagian tertentu orang-orang tua dan guru kita mendadak berdiri dari duduk bersilanya. Mereka membaca shalawat bersama-sama. Ini merupakan cara bagaimana mereka memberikan contoh kepada generasi umat Islam selanjutnya perihal penghormatan bagi Rasulullah SAW.

HMI Tegal Kab

Saudara penanya yang budiman, memang kita tidak menemukan dalil baik Al-Quran maupun hadits secara spesifik yang memerintahkan atau melarang kita untuk berdiri di tengah pembacaan rawi. Hanya saja hal ini lebih didorong oleh rasa hormat dan takzim yang begitu besar dari umat kepada rasul yang mereka cintai.

Sementara berdiri yang dilakukan oleh orang tua dan para guru kita lebih karena akhlak mereka terhadap Rasulullah SAW. Para orang tua kita jelas meneladani akhlak para ulama sebagai pewaris para nabi terhadap rasulnya. Ada baiknya kita telaah uraian Sayid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin sebagai berikut.

?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?.

Artinya, “Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut-sebut, orang-orang akan berdiri sebagai bentuk penghormatan bagi rasul akhir zaman. Berdiri seperti itu didasarkan pada istihsan (anggapan baik) sebagai bentuk penghormatan bagi Rasulullah SAW. Hal ini dilakukan banyak ulama terkemuka panutan umat Islam.

Al-Halabi dalam Sirah-nya mengutip sejumlah ulama yang menceritakan bahwa ketika majelis Imam As-Subki dihadiri para ulama di zamannya,? Imam As-Subki membaca syair pujian untuk Rasulullah SAW dengan suara lantang,

‘Sedikit pujian untuk Rasulullah SAW oleh tinta emas//di atas mata uang dibanding goresan indah di buku-buku

Orang-orang mulia terkemuka bangkit saat mendengar namanya//berdiri berbaris atau bersimpuh di atas lutut’


Selesai membaca syair Imam As-Subki berdiri yang kemudian diikuti oleh para ulama yang hadir. Kebahagiaan muncul di majelis tersebut dan maulid Rasulullah SAW diperingati di dalamnya.

Pertemuan umat Islam demi kelahiran Rasulullah SAW juga didasarkan pada istihsan,” (Lihat Sayid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, Darul Fikr, Beirut, Libanon, tahun 2005 M/1425-1426 H, juz III, halaman 414).

Dari keterangan di atas kita dapat menarik simpulan bahwa berdiri saat pembacaan rawi berlangsung bukan dilatarbelakangi oleh sebuah perintah wajib di dalam Al-Quran atau hadits. Aktivitas berdiri ketika itu lebih didorong oleh akhlak umat terhadap nabinya. Para ulama memandang bahwa berdiri untuk menghormati Rasulullah SAW adalah sesuatu yang baik (istihsan).

Selagi fisik masih sehat, hadirilah majelis-majelis yang memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW karena di situ rahmat Allah ta’ala turun sehingga menambah pengalaman batin tidak sedikit orang yang hadir. Di samping itu ada baiknya kita berdiri saat mahallul qiyam sebagai bentuk cinta dan takzim kita kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga Allah memberikan mandat syafa’at kepada Rasul-Nya untuk menyelamatkan kita di dunia maupun di akhirat.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, AlaNu, Pendidikan HMI Tegal Kab

Selasa, 07 November 2017

Biografi Singkat KH Ali Mustafa Ya’qub

Jakarta, HMI Tegal Kab

Umat Islam di Indonesia berduka atas wafatnya Rais Syariyah PBNU periode 2010-2015 dan mantan Imam Besar Masjid Istiqlal pada Kamis (28/4) pukul 06.00 WIB di Rumah Sakit Hermina Jakarta.

Semasa hidup, ulama ahli hadits ini telah banyak menelurkan karya monumental, baik dalam bahasa Arab, Inggris maupun Indonesia. Keahliannya dalam bidang ilmu hadits ini ia wujudkan dengan mendirikan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darussunnah di Pisangan Barat, Ciputat, Tangerang Selatan.?

Biografi Singkat KH Ali Mustafa Ya’qub (Sumber Gambar : Nu Online)
Biografi Singkat KH Ali Mustafa Ya’qub (Sumber Gambar : Nu Online)

Biografi Singkat KH Ali Mustafa Ya’qub

Hingga sekarang, pesantren tersebut telah banyak mencetak para ilmuwan di bidang Ilmu Hadits maupun Tafsir. Bahkan perjuangan KH Ali Mustafa Yaqub untuk mengembangkan ilmu Hadits tidak berhenti hanya di Indonesia, tetapi juga berbagai negara seperti Malaysia dengan mendirikan pondok pesantren serupa di sana.

Berikut riwayat hidup (biografi) singkat KH Ali Mustafa Yaqub yang berhasil dihimpun HMI Tegal Kab:

Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub, MA lahir di Kemiri, Batang, Jawa Tengah, pada tanggal 2 Maret 1952. Saat ini, domisili beliau di Jalan SD Inpres No. 11 RT. 002 RW. 09 Pisangan-Barat Ciputat 15419 Tangerang Selatan, Banten.

HMI Tegal Kab

Pendidikan KH Ali Mustafa Yaqub mulai dari SD sampai SMP, semua dijalani di Batang kota kelahirannya. Setelah tamat SMP minatnya untuk belajar agama mulai tumbuh, Ali Mustafa kecil bertandang ke sebuah pesantren di Seblak, Jombang untuk belajar agama sampai tahun 1969.

Kemudian beliau nyantri lagi di pesantren Tebuireng, Jombang sampai tingkat Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asy’ari sampai awal tahun 1976. Dan pada tahun itu juga ia masuk Fakultas Syariah Universitas Muhammad ibnu Saud sampai tahun 1985 kemudian mengambil Master di Universitas yang sama pada Jurusan Tafsir dan Ilmu Hadits.

Secara garis besar, pendidikan KH Ali Mustafa Yaqub adalah sebagai berikut:

Pondok Pesantren Seblak Jombang (1966–1969).Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang (1969–1971). Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang (1972–1975). Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Saudi Arabia (S1, 1976–1980). Fakultas Pascasarjana Universitas King Saud, Riyadh, Saudi Arabia, Spesialisasi Tafsir Hadits (S2, 1980–1985). Universitas Nizamia, Hyderabad, India, Spesialisasi Hukum Islam (S3, 2005–2008).

HMI Tegal Kab

Guna memperoleh gelar doktornya, Prof. Ali Mustafa Yaqub ahli hadits Indonesia yang juga anggota Komisi Fatwa MUI Pusat diuji para ulama Timur Tengah. “Masalah halal-haram merupakan sesuatu yang sangat penting bagi umat Islam di manapun berada, karena mengonsumsi produk yang haram disamping berbahaya bagi tubuh, juga menjadi sebab penolakan amal ibadah seorang Muslim oleh Sang Khaliq,” prinsipnya.

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Hadits, AlaNu, Aswaja HMI Tegal Kab

Jumat, 06 Oktober 2017

Muslimat NU Sudan Bahas Problematika Cinta Remaja

Khartoum, HMI Tegal Kab. Pengurus Cabang Istimewa Muslimat Nahdlatul Ulama Khartoum Sudan menggelar seminar cinta remaja dengan tema Psikologi Remaja Mengupas Problematika dan Tantangan Mahasiswa Indonesia di Sudan dalam Meraih Cinta dan Cita, Jum’at, 14 September 2012 di Aula KBRI Khartoum Sudan. 

Acara yang dihadiri oleh Ibu-ibu DWP KBRI Khartoum Sudan, Ketua Tanfidziah PCINU Saudi ArabiaAhmad Fuad, Ketua PPMI Sudan, Ketua PPMI Putri, Nahdliyyin dan Mahasiswa Indonesia di Sudan. 

Muslimat NU Sudan Bahas Problematika Cinta Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Sudan Bahas Problematika Cinta Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Sudan Bahas Problematika Cinta Remaja

Ketua Muslimat NU Sudan Ummi Bariroh mengatakan dasar diadakanya acara ini adalah sebagai solusi yang dialami mahasiswa Sudan dalam menjalankan peran mereka sebagai mahasiswa, terkadang cinta bisa mendukung proses belajar mereka, kadang pula malah menghambat niat studi mereka. 

HMI Tegal Kab

Shohibatun Ni’mah selaku Ketua Panitia menyampaikan acara ini dikemas dalam sudut pandang psikologi remaja dari sisi psikologi maupun sosial, budaya dan agama. 

HMI Tegal Kab

Narasumber acara ini diisi oleh Mirwan Akhmad Taufiq yang berbicara tentang cinta dan cita dari sisi sosial, budaya, agama dan Faridah Ahmad Fuad berbicara tentang cinta dan cita dari segi psikologi. 

Narasumber pertama Faridah Ahmad Fuad menyampaikan ada beberapa tingkatan kebutuhan manusia yang berkaitan dengan motivasi yang dimiliki seseorang diantaranya Kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. 

Sejatinya, lanjut Faridah, hidup itu adalah pilihan dengan segudang resiko yang harus kita hadapi, yang terpenting adalah kita harus memberikan usaha yang semaksimal mungkin, kerahkan seluruh daya upaya yang kita miliki, dan selalu memohon petunjuk Allah SWT untuk melangkah dijalan yang diridhoinya serta mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini. 

Menurut narasumber kedua Mirwan Akhmad Taufiq bahwa Bagi mahasiswa Sudan yang identik dengan ilmu-ilmu agama, ilmu-ilmu Allah sangat naïf kalau dibarengi dengan cinta semu antar sesama remaja. Sukses pendidikan pasti terganggu dan sukses cinta belum pasti adanya. Kalau memang serius lakukan tindakan serius dan bertanggung jawab. Ahsan, katakan; No Pacaran Before Marriage!. 

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Awaliya Safitri

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaNu HMI Tegal Kab

Selasa, 26 September 2017

Paradigma Pancasila dalam Tafsir Al-Quran

Oleh Ahmad Muttaqin

Sudah sepatutnya memahami teks Al-Qur’an harus mempertimbangkan konteks, baik di mana Al-Qur’an diturunkan maupun ruang di mana Al-Qur’an akan diaplikasikan. Hal ini meniscayakan untuk tidak buta terhadap konteks dan realitas sosial yang dihadapi.?

Mengapa demikian? Sebuah penafsiran tidak mungkin memberi perubahan tanpa melibatkan konteks partikular dimana Al-Qur’an akan difungsikan. Saya sepakat dengan Farid Esack, pemikir Islam berkebangsaan Afrika Selatan, bahwa penafsiran yang bersifat universal dan bebas nilai hanyalah nonsense.Penafsiran justru akan berhasil jika melibatkan nilai-nilai partikular di mana sang penafsir hidup.

Jika tak percaya, cobalah tengok cara Nabi Muhammad memahami Al-Qur’an dalam menyelesaikan pelbagai problem yang dihadapi pada waktu dulu. Beliau juga seorang penafsir yang berada dalam ruang bangsa Arab. Ketika memahami dan mengamalkan nilai Al-Qur’an, beliau tentu sangat paham konteks dan kondisi orang Arab dimana Nabi hidup.?

Paradigma Pancasila dalam Tafsir Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Paradigma Pancasila dalam Tafsir Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Paradigma Pancasila dalam Tafsir Al-Quran

Artinya, Nabi dalam menafsirkan dan mengaktualkan Al-Qur’an sangat mempertimbangkan konteks dan nilai-nilai lokalitas. Seyogyanya, penafsiran pada konteks keindonesiaan harus mengikuti cara Nabi, yaitu melibatkan dan mempertimbangkan konteks, nilai-nilai, kultur, adat-istiadat bangsa Indonesia. Bangsa ini punya sejarah dan nilai-nilai yang penting dipertimbangkan dalam memproduksi pemahaman-pemahaman Al-Qur’an.

Makanya, seseorang yang coba-coba memahami Al-Qur’an tanpa memahami nilai-nilai bangsa Indonesia atau bahkan menutup diri rapat-rapat untuk melihat kultur bangsa Indonesia adalah sejatinya tidak mengikuti cara Nabi mengamalkan Al-Qur’an. Sebaliknya, dia sedang melakukan pemaksaan makna terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang ujungnya menjadikan Al-Qur’an tidak lagi memperbaiki keadaan di segala ruang dan waktu.

Penafsiran seharusnya bukan lagi sebatas memahami dan mengelaborasi makna untuk kepuasan keilmuan sang penafsir. Lebih jauh, penafsiran harus berfungsi menyelesaikan persoalan dan isu-isu aktual yang terjadi. Makanya pada konteks Indonesia, tugas dan tanggung jawab para akademisi dan pemerhati Al-Qur’an adalah menyajikan penafsiran yang riil menyelesaikan problem dan isu-isu aktual yang terjadi di bangsa ini.

HMI Tegal Kab

Lantas caranya bagaimana? Penawaran saya adalah Pancasila. Pancasila adalah dasar dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila merupakan ekstrak dari nilai-nilai dan budaya bangsa Indonesia. Sebagai muslim Indonesia, kita memikul dualisme identitas yaitu, sebagai muslim harus mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan sebagai rakyat Indonesia harus menjunjung tinggi nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Kita tidak bermaksud menguji keislaman Pancasila dengan menghadirkan ayat-ayat legitimasi sebagaimana yang telah banyak dilakukan.? Sebaliknya, kita ingin mengatakan bahwa Pancasila adalah sebuah keniscayaan dasar ideologi bangsa. Dengan begitu, Al-Qur’an sebagai sumber pertama harus diaktualkan dengan melibatkan nilai dari sila Pancasila, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan.

HMI Tegal Kab





Kelima kata kunci dari masing-masing sila ini merupakan konteks dan tujuan yang ingin dicapai bangsa Indonesia. Inilah yang dimaksud mendialogkan teks (Al-Qur’an) dan konteks (bangsa Indonesia). Bukan bermaksud menundukkan Al-Qur’an di bawah bayang-bayang Pancasila, tetapi Al-Qur’an tetap menjadi sumber utama sedangkan nilai Pancasila sebagai wadah mengaktualkan nilai-nilai Al-Qur’an.

Salah satu contoh penafsiran berparadigma Pancasila yaitu Q.S. Ali Miran: 64 “Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada kalimatun sawa...”. Jika merujuk kepada leksikon bahasa Arab, kata “sawa’un” ? bisa berarti memperbaiki (hasuna), mendamaikan (aslaha) dan merukunkan (waffaqa).?

Kalimatun sawa pada konteks Indonesia harus dipahami dengan paradigma Pancasila. Maka, kalimatun sawa adalah bersama-sama menjunjung tinggi nilai Ketuhanan dengan mengakui bahwa semua pemeluk agama, walaupun dengan baju agama yang berbeda memiliki visi yang sama yaitu ketuhanan, bersama-sama memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, menjaga persatuan NKRI, memperjuangkan kesejahteraan rakyat baik sosial maupun ekonomi dan bersama-sama memperbaiki kualitas pendidikan, pemberantasan kemiskinan dan sebagainya, sebagai ruang untuk melaksanakan nilai keadilan konteks keindonesiaan.

Ahmad Muttaqin

Alumnus Pondok Pesantren Al-Junaidiyah, Bone

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaNu HMI Tegal Kab

Minggu, 24 September 2017

Dakwah Aswaja di Kampus, KMNU Harus Sinergi dengan PMII

Bandarlampung, HMI Tegal Kab. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulam (KMNU) harus menjadi motor dakwah Islam ramah di kampus, sehingga KMNU harus tetep semangat, istiqomah dan ikhlas dalam berjuang. Hal ini diungkapkan salah satu pendiri sekaligus Ketua Umum Pertama KMNU Universitas Lampung (Unila), M. Aris Ridho.?

“KMNU Universitas Lampung sudah genap berumur 6 tahun, melihat perkembangan organisasi ini, saya yakin Insya Allah KMNU kedepan akan semakin eksis dalam mewarnai, menjaga, dan melestarikan amaliah ahlussunah waljamaah di kampus,” ujar Aris.?

Dakwah Aswaja di Kampus, KMNU Harus Sinergi dengan PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Aswaja di Kampus, KMNU Harus Sinergi dengan PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah Aswaja di Kampus, KMNU Harus Sinergi dengan PMII

Aris mengatakan, KMNU harus terus mengembangkan sayap dakwahnya dan memaksimalkankan pengakderan. KMNU juga harus selalu bersinergi dengan saudara tuanya, yaitu PMII, meski berbeda, tidak boleh berseberangan apalagi berbenturan.

Untuk meng-counter isu-isu tertentu, tambah Aris, Kader KMNU harus bersatu, jangan bergerak sendiri-sendiri. Sudah saatnya kader-kader KMNU memberikan warna media sosial dengan menyebarkan gagasan-gagasan Islam moderatnya, bukan hanya penikmat saja.?

HMI Tegal Kab

Menurut Aris, Gerakan dan paham-paham anti NU dan NKRI sudah begitu masif mempengaruhi mayoritas muslim Indonesia, khususnya anak muda dan kalangan mahasiswa. Gerakan ini berkembang melalui penggiringan opini dan isu-isu provokatif yang sangat mudah berkembang di masyarakat.?

“Itulah tugas anak-anak muda NU untuk memberikan pemahaman agama yang baik dan benar,” Aris. (Ahmad Saroji/Fathoni)

HMI Tegal Kab

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Quote, AlaNu, Khutbah HMI Tegal Kab

Jumat, 08 September 2017

Begini Cara IPNU Tasikmalaya Minimalisir Kenakalan Pelajar

Tasikmalaya, HMI Tegal Kab. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat tetap konsisten melaksanakan kaderisasi non-formal yaitu Jimat (Ngaji Malam Jumat).?

Begini Cara IPNU Tasikmalaya Minimalisir Kenakalan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Cara IPNU Tasikmalaya Minimalisir Kenakalan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Cara IPNU Tasikmalaya Minimalisir Kenakalan Pelajar

Jimat kali ini selain riyadlohan dan yasinan untuk meminimalisir kenakalan pelajar, juga diselingi dengan curhat-curhat baik masalah personal maupun masalah organisasi di tiap pimpinan yang ada di Kota Tasikmalaya.

Kegiatan ini merupakan wadah untuk meminimalisir kenakalan yang ada dalam tubuh para pelajar. Hal ini menjadi agenda yang harus dilakukan untuk membentengi para pelajar, dengan cara menjaga tradisi, budaya dan nilai-nilai yang ada di Nahdlatul Ulama.

Menurut Saepul Malik, Keua PC IPNU Kota Tasikmalaya, kegiatan Jimat ini juga dibuat sebagai ajang silaturrahim para anggota, kader dan pengurus IPNU yang ada di Kota Tasikmalaya.

“Juga Sebagai penguatan benih-benih nilai-nilai aswaja yang ada di IPNU, karena IPNU adalah generasi emas yang ada di tubuh NU,” jelasnya pekan lalu.

HMI Tegal Kab

Ia juga menambahkan, baik anggota, kader dan pengurus IPNU harus terjun ke bawah untuk membumingkan Aswaja. Karena pelajar saat ini mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif.

HMI Tegal Kab

“Ini harus dilandasi kesadaran diri dari anggota, kader dan pengurus untuk kepentingan NU di masa depan,” ujar Saepul. (Agum Gumilar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaNu HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock