Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Usai DKI, Politisasi Agama Potensial Muncul Lagi di Pilkada Jabar

Jakarta, HMI Tegal Kab - Melalui sebuah Halaqah Nasional Hak-hak Kewarganegaraan, Wahid Foundation mengimbau semua kalangan terutama warga Jawa barat untuk mengantisipasi derasnya ujaran kebencian dan politisasi agama pada Pilkada Jabar tahun 2018 mendatang. Sebab kampanye menggunakan isu keagamaan yang digunakan dalam pilkada DKI berpotensi besar digunakan kembali pada Pilkada Jawa Barat 2018 mendatang.

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi yang hadir sebagai salah seorang pembicara menilai kampanye menggunakan agama sebagai cara kampanye sangat berbahaya terhadap keberagamaan dan kebersamaan.

Usai DKI, Politisasi Agama Potensial Muncul Lagi di Pilkada Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai DKI, Politisasi Agama Potensial Muncul Lagi di Pilkada Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai DKI, Politisasi Agama Potensial Muncul Lagi di Pilkada Jabar

“Jangan lah kampanye menggunakan agama di ruang politik. Itu destruktif, merusak sekali. Itu (kampanye menggunakan agama) tidak pantas,” ujar Kiai Masdar di Swiss-Bell Hotel, Jakarta, Rabu (3/5).

HMI Tegal Kab

Kendati kampanye menggunakan agama disebut cara yang paling “murah” oleh Kiai Masdar, namun kampanye itu menurutnya sangat merugikan. Dampak dari kampanye dengan membenturkan agama bisa menyebabkan terjadinya benturan sosial. Dan jika diulang-ulang dalam jangka waktu yang panjang, kampanye yang disebut sektarian ini dapat mengancam keamanan negara. “Bisa rontok negara ini, jika diterus-teruskan,” tegasnya.

Peneliti Senior Wahid Foundation yang juga merupakan anggota Ombudsman Indonesia Ahmad Suaedy mengungkapkan hal senada. Ia percaya bahwa kebersamaan dan toleransi warga Jawa Barat akan diuji dalam Pilkada Jawa Barat mendatang, terutama jika partai politik masih menggunakan motif keagamaan dalam prosesi kampanye sebagaimana yang terjadi pada pilkada DKI Jakarta.

Ia tak memungkiri bahwa efektivitas kampanye bermotif agama ini cukup tinggi, mengingat keberhasilannya pada pilkada DKI Jakarta. Namun ia mengingatkan adanya ancaman perpecahan yang berpotensi tejadi. “Perpecahan antara agama dan kelompok keagamaan yang terjadi di Jakarta juga bisa terjadi di Jawa Barat ketika Pilkada nanti,” ujar Suaedy.

HMI Tegal Kab

Mengaca dari Pilkada DKI Jakarta dari tiga periode terakhir, Suaedy menunjukkan adanya peningkatan kasus intoleransi di Indonesia. Hal yang paling terasa menjadi pembeda antara Pilkada kali ini dengan Pilkada sebelumnya adalah tingkat kerasnya konflik yang dihasilkan selama Pilkada berlangsung.

“Dalam Pilkada DKI 2017 kerusakan yang ditimbulkan oleh kampanye agama atau sektarianisme lebih dahsyat, sebab sampai merusak mekanisme sosial masyarakat,” jelasnya.

Ia menyontohkan masjid dan musalla yang dalam konteks sosial menjadi intrumen sosial untuk pemersatu masyarakat, dalam Pilkada DKI menjadi ajang kampanye negatif yang merusak komponen kemasyarakatan hingga level paling rendah. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah, Pesantren HMI Tegal Kab

Rabu, 14 Februari 2018

Ideologi Urusan NU dan Muhammadiyah, Teroris Urusan TNI dan Polri

Jepara, HMI Tegal Kab?



Rais Syuriah PCNU Jepara KH Ubaidillah Noor Umar mengatakan, jam’iyyah NU dan Muhammadiyah harus selalu dibesarkan. Ia menyampaikan hal itu pada silaturrahim Kapolres Jepara, PCNU, Pengurus Daerah Muhammadiyah dan media yang berlangsung di gedung NU Jepara, Jawa Tengah pada Kamis (9/2).?

Jika sudah besar, kata pengasuh pesantren Darul Ulum Bandungharjo Donorojo Jepara tersebut, Kapolres tidak perlu patroli, tidur saja karena sudah diurusi NU dan Muhammadiyah.?

Ideologi Urusan NU dan Muhammadiyah, Teroris Urusan TNI dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ideologi Urusan NU dan Muhammadiyah, Teroris Urusan TNI dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ideologi Urusan NU dan Muhammadiyah, Teroris Urusan TNI dan Polri

Yang panting, lanjutnya, ialah mengidentifikasi 73 golongan Islam yang pernah disabdakan Nabi Muhammad. “Islam NU itu yang bagaimana, Muhammadiyah seperti apa, Syiah maupun Wahabi yang bagaimana perlu direnungkan bersama,” harapnya sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut.?

Karena itu, untuk urusan ideologi, serahkan kepada NU dan Muhammadiyah. Polri dan TNI di belakang. Sedangkan untuk urusan teroris, NU dan Muhammadiyah di belakang dan mendukung sepenuhnya kinerja aparat keamanan.?

HMI Tegal Kab

Kiai Ubaid bersyukur kantor PCNU Jepara disambangi berbagai kalangan mulai polisi, tentara, pendeta maupun biksu. Menurut dia, silaturahim seperti itu harus terus dirawat, tidak membenci tradisi baik yang ada di masing-masing pihak. Termasuk di dalam Islam sendiri. ? ?

Ketua PD Muhammadiyah Jepara Fahrurrazi menyampaikan hasil kunjungan petinggi PDI Perjuangan di gedung Pengurus Pusat Muhammadiyah. Dalam pertemuan itu disepakati bahwa masyarakat Indonesia sepakat dengan NKRI harga mati.?

Adapun 4 pilar NKRI itu sebutnya NU, MD, TNI dan Polri. Keempatnya elemen tersebut tegasnya adalah jangkar kekuatan NKRI.?

Hal lain ditambahkan AKBP M. Samsu Arifin. Menurut Kapolres Jepara itu berdirinya negara Indonesia tidak lepas dari jerih payah NU dan Muhammadiyah; KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. “Tanpa jasa beliau-beliau polisi tidak bisa apa-apa,” jelasnya.?

HMI Tegal Kab

Apalagi yang berkaitan yang ada di dalam kepala, ideologi. “Jelas kita tidak mampu menembusnya,” tambahnya.?

Momen itu terang Samsu merupakan sarana untuk membesarkan NU dan Muhammadiyah karena mulai berdirinya bangsa hingga saat ini tidak lepas dari kontribusi ulama. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Nusantara, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Minggu, 04 Februari 2018

Kurban, Cinta Menundukkan Rasionalitas Nabi Ibrahim

Oleh Ahmad Khoiri

Salah satu bukti kontinuitas Islam dengan agama (millah) sebelumnya ialah adanya adopsi ajaran agama sebelumnya ke dalam Islam. Ini, umpamanya, dapat dilihat dalam perayaan Hari Raya Idul Adha. Perayaan setiap tanggal 10 Dzulhijjah ini merupakan momentum mengingat kembali ketulusan cinta Ibrahim AS sang khalil Allah, dalam mengorbankan putranya Ismail demi perintah Allah SWT melalui mimpinya.

Kurban, Cinta Menundukkan Rasionalitas Nabi Ibrahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurban, Cinta Menundukkan Rasionalitas Nabi Ibrahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurban, Cinta Menundukkan Rasionalitas Nabi Ibrahim

Di sini tidak hendak membahas bagaimana penanggalan peristiwa penyembelihan Ibrahim terhadap Ismail jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah sedangkan ketika itu kalender Hijriah belum ada, juga tidak akan membahas persoalan diskursif seputar apakah yang disembelih (al-dzabih) Ismail atau Ishak. Namun fokus tulisan ini ialah bagaimana kemudian spirit kecintaan seorang manusia terhadap Rabb-nya mampu menundukkan rasionalitas yang melekat dalam dirinya. Manusia tersebut tidak lain ialah bapak para Nabi, Ibrahim AS.

Berbicara tentang rasionalitas, kita pasti akan ter-mindset pada sederetan nama bapak logika seperti Thales (624-548 SM), filsuf asal Yunani yang telah meletakkan dasar-dasar berpikir logis atau kepada Abu Nashr al-Farabi (873-950 M), filsuf Muslim yang mendapat gelar Sang Guru Kedua karena telah menyalin logika Yunani Aristoteles dan memberikan ulasan serta komentar. Padahal jauh sebelum itu, sekitar lima belas abad sebelum filsuf-filsuf tersebut muncul, Nabi Ibrahim telah menjadi manusia dengan dengan nalar rasional yang menakjubkan. Demikian karena menurut Karen Armstrong, Nabi Ibrahim hidup pada abad kedua puluh sebelum Masehi.

Pendapat atas rasionalitas Nabi Ibrahim terekam dalam beberapa ayat al-Quran. Dalam pembuktian empiris tentang bagaimana Allah menghidupkan yang mati, misalnya, terekam jelas dalam surah al-Baqarah ayat 260. Nabi Ibrahim AS meminta kepada Allah agar Dia memperlihatkan kepadanya bagaimana cara Allah menghidupkan sesuatu yang mati. Tuntutan Ibrahim di sini bukanlah menampakkan bahwa intuisi seorang nabi seperti dirinya tidak mampu meyakinkan kekuasaan Allah, namun lebih tepat merupakan penjabaran secara implisit bahwa di samping intuisi sebagai hujjah kenabiannya, Ibrahim tidak mengesampingkan pikiran rasional-empiris. Allah pun mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim, sebagaimana dalam ayat tersebut.

HMI Tegal Kab

Kecerdasan nalar rasional Ibrahim tidak hanya itu. Al-Quran melukiskan bagaimana perdebatannya dengan seorang raja yang mengaku Tuhan. Dalam beberapa kitab tafsir raja yang mendebat Nabi Ibrahim tersebut adalah Namrud bin Kanan al-Jabbar. Ketika perdebatan berlangsung, Namrud meminta Ibrahim membuktikan ketuhanan Allah. Nabi Ibrahim menjawab bahwa Dialah Allah yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Sang raja merasa menang melawan hujjah Nabi Ibrahim dengan membunuh orang di sampingnya, membuktikan bahwa dia juga bisa membunuh. Namun kemudian Ibrahim mengatakan bahwa Allah yang menerbitkan matahari dari arah timur ke barat dan meminta Namrud menerbitkannya dari barat. Ketika itu pun sang raja kalah hujjah. Cerita ini Allah lukiskan dalam surah al-Baqarah ayat 258.

Di samping kedua kisah tersebut, kisah pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim merupakan bukti paling gamblang bahwa nalar rasionalnya tidak mudah ditundukkan. Ini dilukiskan al-Quran secara panjang dalam surah al-Anam ayat 74-78. Bermula dari ketidakterimaan akalnya melihat Azar (nama panggilan ayahnya, dalam sebagian literatur dikatakan bahwa dia adalah paman Ibrahim) menyembah berhala (ashnam) yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa memberi manfaat atau pun mudarat. Nabi Ibrahim akhirnya mantap diri menemukan Tuhannya, Sang Pencipta langit dan bumi, dan menganut teologi monoteistik (hanif) setelah rangkaian peristiwa rasional yang terekam secara indah pada ayat 76, 77 dan 78.

HMI Tegal Kab

Ketajaman pikiran rasional Nabi Ibrahim AS dalam beberapa ayat al-Quran di atas tidak lantas menjauhkan dirinya dari kebenaran, tetapi justru membawanya ke dalam imanensi akan yang haqq. Juga, rasionalitas Nabi Ibrahim tidak melenyapkan kemantapan terhadap kebenaran yang transenden seperti sebuah mimpi.

Suatu ketika Nabi Ibrahim bermimpi (ruyah) menyembelih putranya. Putra kesayangannya, yang merupakan hasil doa Ibrahim kepada Allah harus dikorbankan. Karena khawatir putranya tidak mau melaksanakan cobaan berat ini, dia mencoba meminta persetujuan terlebih dahulu. Putra Nabi Ibrahim setuju dan sabar, namun ketika hendak disembelih Allah mengganti putra Nabi Ibrahim dengan domba. Imam al-Thabari berpendapat bahwa domba yang menjadi pengganti adalah domba yang dikurbankan Habil, putra Nabi Adam, yang Allah menyimpannya di surga.

Jika muncul pertanyaan, bagaimana mungkin sosok Nabi Ibrahim yang rasionalis bisa langsung percaya dengan validitas sebuah mimpi (ruyah), lebih-lebih untuk menyembelih putra kesayangannya? Maka jawabannya adalah; cinta.

Kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah jauh melebihi kecintaan kepada putranya. Cinta tersebut yang telah menundukkan rasionalitasnya demi membenarkan mimpi yang sama sekali irasional. Pengorbanan Nabi Ibrahim dalam membenarkan mimpi adalah manifestasi kecintaan kepada Allah yang tidak tertandingi apa pun.

Putra Nabi Ibrahim adalah simbol dari sesuatu yang paling dicintai, tetapi jika demi ridha Allah SWT, maka apapun mesti dilakukan, sekalipun harus kehilangan sesuatu yang paling dicintai. Namun dalam konteks sekarang, kecintaan seringkali malah membuat enggan untuk mengorbankan sesuatu yang dicintai. Tidak heran, ketika sebagian orang yang secara finansial mampu untuk berkurban enggan melakukannya.

Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IQT) di STAIN Pamekasan.

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Olahraga, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Kamis, 01 Februari 2018

SBY Belum Penuhi Harapan Rakyat Indonesia

Jakarta, HMI Tegal Kab

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi berharap, di tahun 2007 dan masa yang akan datang, pemerintah dapat memerbaiki kinerjanya. Karena, dalam penilaiannya, hingga saat ini pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) belum mampu memenuhi harapan rakyat Indonesia.

 

SBY Belum Penuhi Harapan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
SBY Belum Penuhi Harapan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

SBY Belum Penuhi Harapan Rakyat Indonesia

“Kata orang-orang (pemerintahan SBY-JK: Red) belum bisa memenuhi harapan banyak orang. Saya kira memang seperti itu,” kata Hasyim menjawab pertanyaan wartawan seputar evaluasi kinerja pemerintah selama tahun 2006 di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (1/1) lalu. Hal itu diungkapkannya usai menyerahkan daging kurban kepada masyarakat sekitar kantor PBNU.Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu, harapan rakyat Indonesia akan adanya perubahan mendasar di negeri ini belum mampu diwujudkan oleh pemerintah. Padahal, katanya, saat pemilu 2004 silam, rakyat Indonesia seakan menaruh harapan begitu besar kepada SBY-JK.

“Harga beras mahal, minyak tanah susah, pengangguran di mana-mana. Belum lagi bencana alam yang datang terus menerus mulai dari tsunami, banjir, gempa bumi, longsor, lumpur (Lapindo: Red), kebakaran dan penggundulan hutan, gunung meletus dan lain sebagainya. Semuanya belum bisa diatasi oleh pemerintah,” urai Hasyim.

 

HMI Tegal Kab

Persoalan-persoalan bangsa dan negara itu, lanjut Hasyim, semua bermuara pada sebuah kesalahan yang dilakukan secara bersama-sama oleh bangsa ini. “Ada hal-hal yang dilakukan secara kolektif, dan itu salah,” tandasnya. Sehingga, imbuhnya, usaha penyelesaiannya terasa begitu rumit.

 

Mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur itu mencontohkan pada upaya pemerintah memberantas korupsi yang hingga saat ini masih terkesan ‘tebang pilih’. Menurutnya, hal itu “wajar” karena penyakit bangsa tersebut sudah sedemikian parah, sehingga pemberantasannya pun cukup sulit.

 

HMI Tegal Kab

“Karena saking (terlalu: Red) banyaknya yang korup, maka mesti tebang pilih. Tebang pilih itu biasanya dipilih yang kecil-kecil saja. Nah, itulah yang disebut kezaliman berbungkus keadilan,” terang Hasyim.

 

Tiga hal menurut Hasyim yang perlu dilakukan oleh para pemimpin bangsa ini, yakni perubahan sistem, perubahan kepemimpinan dan perlunya membuat sebuah konsensus nasional oleh para pemimpin bangsa ini. Tiga hal tersebut, menurutnya, modal utama bagi bangsa ini untuk menjadi lebih baik.

 

Persoalan sistem. Dicontohkan, di tengah keadaan ekonomi yang sangat lemah, maka sangat diperlukan sistem yang kuat. “Nah, sistem yang kita punya ini, mampu nggak mengangkat beban ekonomi yang begitu besar,” ujarnya.

 

Dalam hal kepemimpinan nasional. Hasyim mengimbau, hendaknya para pemimpin negeri ini tidak terlalu memikirkan dirinya sendiri apalagi hanya untuk kepentingan politik sesaat, yakni kepentingan pemilihan umum yang akan datang. Ia menilai, hal itulah yang sedang terjadi saat ini.

 

“Penderitaan yang dialami rakyat kecil ini yang harus diselesaikan dulu. Kalau itu sudah selesai, maka rakyat pasti akan simpati. Tidak perlu repot-repot kampanye lagi,” pungkas Hasyim.

 

Masih persoalan sistem yang menurut Hasyim, penyelenggaraan negara ini tidak dilakukan secara sistematis. Semua komponen, menurutnya, seakan berjalan sendiri-sendiri dan tanpa arah pula. “Eksekutif jalan sendiri, legislatif berdiri sendiri, yudikatif juga begitu. Lalu presiden itu mau kerja sama siapa,” gugatnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Budaya, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Kamis, 25 Januari 2018

Pesantren Sirojuth Tholibin Kaji Tafsir Nusantara Tiap Ramadhan

Grobogan, HMI Tegal Kab. Jauh sebelum ramainya pembicaraan Islam Nusantara, Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Grobogan, Jawa Tengah telah lama melanggengkan kajian tafsir karya ulama Nusantara rutin setiap bulan Ramadhan yaitu kajian Tafsir Jami’ul Bayan karya Syech Muhammad Bin Sulaiman, Solo.

Pesantren Sirojuth Tholibin Kaji Tafsir Nusantara Tiap Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Sirojuth Tholibin Kaji Tafsir Nusantara Tiap Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Sirojuth Tholibin Kaji Tafsir Nusantara Tiap Ramadhan

“Tafsir Jami’ul Bayan telah dikaji di pesantren ini sejak Allahu Yarham Bapak saya (Drs KH Ahmad Baedlowie Syamsuri, Lc – red) hingga sekarang,” ungkap KH Muhammad Shofi Al-Mubarok Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Grobogan.

Kitab tersebut, lanjut alumnus pesantren Krapyak dan Lirboyo ini, sudah dicetak ribuan eksemplar serta diajarkan kepada para santri Sirojuth Tholibin. Namun hingga kini belum ada pihak yang mencetak serta menyebarluaskan di kalangan akademisi maupun masyarakat luas sehingga banyak masyarakat yang belum tahu, hanya masih di kalangan tertentu saja.

HMI Tegal Kab

Syech Muhammad bin Sulaiman merupakan menantu KH Ahmad Shofawi Mangkuyudan Solo. Ia mendapat sanad Al Qur’an bil ghoib dari gurunya Syaikh Dimyati Tremas, Syaikh Muhammad Abdul Bari Al-Madani, Syaikh Muhammad Munawir bin Abdullah Rosyad Krapyak Yogyakarta dan Syaikh Muhsin bin Abdullah Assegaf Solo. 

HMI Tegal Kab

Sanad ke tujuh dari Rasulullah 

Ada yang unik dalam sanad Syech Muhammad bin Sulaiman seperti yang diungkapkan oleh Hj Maemunah Baedlowie, salah satu murid yang mendapat sanad langsung dari Syech Muhammad. Selain ia mempunyai empat sanad dari empat guru tersebut, ia juga mempunyai sanad ke tujuh dari Rasulullah SAW. Jalur ini didapat dari gurunya Syaikh Muhsin bin Abdullah Assegaf. 

“Sanad ini didapat dari guru Beliau, Syaikh Muhsin. Di atasnya ada perawi berupa jin. Karena makhluk ini mempunyai umur sangat panjang, maka memungkinkan jalur sanadnya sangat pendek. Jika pada umumnya sanad sekarang mencapai tingkatan tiga puluh lebih, Syech Muhammad hanya ke tujuh dari Rasulullah,” tutur Hj Maemunah. (Ahmad Mundzir/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Sunnah, Ahlussunnah, Sejarah HMI Tegal Kab

Selasa, 16 Januari 2018

Lima Pesan Gus Mus untuk Ketua Umum GP Ansor Terpilih

Pringsewu, HMI Tegal Kab. Terpilihnya Yaqut Cholil Qoumas sebagai ketua umum Gerakan Pemuda Ansor periode 2015-2010 membuat KH Mustofa Bisri (Gus Mus) bingung untuk mengucapkan "selamat" atau "belasungkawa" kepada keponakannya tersebut.

Lima Pesan Gus Mus untuk Ketua Umum GP Ansor Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Pesan Gus Mus untuk Ketua Umum GP Ansor Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Pesan Gus Mus untuk Ketua Umum GP Ansor Terpilih

Gus Mus menilai bahwa jabatan dan kedudukan lebih sebagai sebuah cobaan dari pada sebuah nikmat.? "Jabatan dan kedudukan merupakan amanah dan tanggung jawab. Bukan anugerah yang patut diharap-harap," demikian pernyataannya melalui akun media sosialnnya, Sabtu (28/11/15).

Oleh sebab itu, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang ini mengingatkan kepada Gus Tutut,? sapaan akrab Yaqut Cholil Qoumas, beberapa poin pesan sebagai modal dalam menahkodai GP Ansor selama lima tahun mendatang.

HMI Tegal Kab

Pertama, ia mengingatkan agar Gus Tutut memprioritaskan pengaderan di organisasi sekaligus sebagai pengaderan bagi diri Gus Tutut pribadi untuk menjadi Pemimpin. Kedua, Gus Mus mengingatkan Gus Tutut untuk menjadikan kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai contoh.

"Rasulullah SAW adalah pemimpin yang menyintai dan dicintai umatnya. Pemimpin yang ikhlas melayani umat yang dipimpinnya dan mendahulukan kepentingan mereka dari pada kepentingan dirinya sendiri. Pemimpin yang mengarahkan, bukan menyesat-nyesatkan. Pemimpin yang ditaati karena dicintai, bukan karena ditakuti," terangnya.

HMI Tegal Kab

Ketiga, Gus Mus mengharapkan kepada Gus Tutut untuk senantiasa memikirkan dan mengupayakan agar GP Ansor dan warganya bisa benar-benar mandiri. Keempat. Gus Mus mengingatkan kepada Gus Tutut untuk mempertahankan keyakinan dan ajaran sesepuh dalam hal berislam ala Ahlissunnah wal Jamaah dan pemahaman Islam Rahmatan lil Ãlamïn serta berIndonesia dengan cerdas, santun, dan arif.

Pesan terakhirnya bagi Gus Tutut adalah agar Ia tidak pernah lupa memohon pertolongan Allah dalam setiap upaya dan langkah dalam memimpin GP Ansor ke depan. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah, Pesantren HMI Tegal Kab

Rabu, 03 Januari 2018

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit

Jakarta, HMI Tegal Kab - Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur menyatakan keprihatinannya melihat aksi-aksi intoleran yang belakangan marak. Menurutnya, para pelaku aksi intoleransi kadang mengatasnamakan Pancasila untuk aksi intoleransinya itu.

Demikian disampaikan Ghopur saat membuka seminar perdana Otokritik Indonesia perihal toleransi yang diselenggarakan LKSB di Gedung PBNU lantai 8, Jakarta, Jumat (16/12) siang.

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit

Ia melihat adanya kesalahpahaman di kalangan pemuda terutama dalam hal berbangsa dan bernegara. Kesalahpahaman ini, menurutnya, dipicu oleh kurang maksimalnya transfer pengetahuan kebangsaan atau tidak menyebar secara merata di kalangan generasi muda saat ini.

“Tidak heran kalau itu penyebabnya banyak orang menafsirkan Pancasila secara sempit,” kata Ghopur yang juga Wakil Ketua PP Lesbumi.

HMI Tegal Kab

Sementara Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Crhisman Damanik menegaskan, banyak anak bangsa sekarang tercerabut dari akar historis Pancasila. Mereka kehilangan arah.

HMI Tegal Kab

“Mereka melakukan praktik-praktik sosial dan politik yang jauh dari cita-cita persatuan dan semangat keadilan sosial yang digariskan para pendiri bangsa Indonesia,” kata Chrisman.

Diskusi ini sebelumnya diberi sambutan oleh Wakil Ketua Umum PBNU Prof Dr M Maksum Machfoedz. Forum ini diikuti oleh puluhan aktivis pemuda yang tergabung dalam gerakan-gerakan kemahasiswaan dari pelbagai latar belakang agama. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah, Lomba, Cerita HMI Tegal Kab

Negara Wajib Fasilitasi Kaum Difabel

Mataram, HMI Tegal Kab. Islam memandang semua manusia adalah setara. Yang membedakannya adalah tingkat ketakwaannya. Tak terkecuali bagi para penyandang disabilitas. Mereka berhak mendapat perlakuan manusiawi dan layanan fasilitas bagi keterbatasan yang mereka alami.

Demikian di antara poin yang disepakati dalam Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Maudluiyah yang salah satunya menyoroti konsep fiqih penyandang disabilitas di Pondok Pesantren Darul Falah, Jalan Banda Seraya 47, Kecamatan Pagutan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat (24/11). Sidang dipimpin oleh Katib Syuriyah PBNU KH Abdul Ghofur Maimoen.

Negara Wajib Fasilitasi Kaum Difabel (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Wajib Fasilitasi Kaum Difabel (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Wajib Fasilitasi Kaum Difabel

Dalam rumusan yang disusun dinyatakan bahwa Islam tak memandang penyandang disabilitas itu secara negatif. Islam memandang hal itu sebagai ujian. Pertama, ujian bagi yang penyandang disabilitas, apakah yang bersangkutanbisa sabar atau tidak. Kedua, juga ujian bagi pihak lain, apakah mereka memiliki kepedulian pada penyandang disabilitas atau tidak.

Secara fiqih, mereka tetap dibebani kewajiban menjalankan kewajiban syariat (taklif) selama akal mereka masih mampu bekerja dengan baik. Hanya saja Islam memberikan keringanan menurut kondisinya. Mereka diperbolehkan menjalankan kewajiban sesuai dengan batas kemampuannya.

“Karena sebagian penyandang disabilitas tetap diwajibkan menjalankan syariat Islam, maka negara punya kewajiban bukan hanya membuat kebijakan melainkan juga menyediakan fasilitas publik yang ramah terhadap kaum penyandang disabilitas-kaum difabel,” bunyi rumusan tersebut.

HMI Tegal Kab

Dalam konteks penyandang disabilitas, negara memiliki tanggung jawab membuat penyandang disabilitas bisa menjalani kehidupan secara nyaman. Ruang publik dibuat ramah terhadap penyandang disabilitas.

Begitu juga dengan ruang-ruang komunal seperti rumah ibadah. Khutbah-khutbah keagamaan yang disampaikan juga perlu mempertimbangkan keberadaan kaum difabel netra, difabel rungu, dan sebagainya. Karena itu ketika khutbah disampaikan, masjid-masjid di Indonesia perlu menyediakan bahasa isyarat, teks tertulis, dan sebagainya.

“Tentu pemenuhan segala kebutuhan warga negara harus mempertimbangkan kemampuan negara. Sebab, tidak jarang dijumpai ketimpangan antara daftar kebutuhan yang harus dipenuhi dan keterbatasan anggaran yang tak bisa dihindari. Jika itu terjadi, maka negara perlu membuat skala prioritas dengan mendahulukan orang yang sangat membutuhkan daripada yang sekedar butuh.” 

HMI Tegal Kab

Forum sidang komisi ini juga menyinggung soal keterkaitan konsep disabilitas dengan faktor sosial. Seseorang disebut penyandang disabilitas ketika ia tidak memiliki akses yang sama dengan orang normal pada umumnya lantaran fasilitas yang terbatas atau masyarakat yang tidak ramah dengan keadaan orang tersebut.

Hasil diskusi peserta bahtsul masail ini akan dibawa ke sidang pleno pada Sabtu (25/11) besok untuk ditinjau bersama lalu ditetapkan secara resmi. Selain soal fiqih disabilitas, musyawirin juga mendiskusikan tentang ujaran kebencian, distribusi lahan/aset, konsep amil dalam negara modern menurut pandangan fiqih, konsep taqrir jama’i, dan konsep ilhaqul masail binadhairiha.

Komisi Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Maudluiyah lebih fokus pada pembahasan isu-isu tematik-konseptual ketimbang menemukan hukum halal-haram. Rumusannya dipaparkan dalam narasi dekriptif. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah HMI Tegal Kab

Senin, 18 Desember 2017

Biksu Ini Ungkap Kesan Mendalam dari Buku Miqat Kebinekaan

Jakarta, HMI Tegal Kab?

Ketua Majelis Agama Budha Mahayana Indonesia (Majabumi) Y.A Biksu Dutavira ? Mahastavira mengaku mendapat catatan yang luar biasa setelah membaca buku "Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme, dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan" karangan Sekjen PBNU H.A Helmy Faishal Zaini.?

Biksu Ini Ungkap Kesan Mendalam dari Buku Miqat Kebinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Biksu Ini Ungkap Kesan Mendalam dari Buku Miqat Kebinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Biksu Ini Ungkap Kesan Mendalam dari Buku Miqat Kebinekaan

"Saya sangat gembira dari buku ini, saya tahu kenapa terjadi hari santri, saat situasi yang begitu rupa mengenai nasionalisme, Mbah Hasyim berani tampil," katanya Biksu Dutavira di lantai 8, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (10/6).

Ia juga mengutarakan ketertarikannya pada kata miqat yang di pakai pada judul buku tersebut dengan membagi dua menjadi miqat zamani (waktu) dan miqat makani (tempat).?

"Atas kehendak Tuhan juga, kita berada dalam ruang yang sama, dalam ruang yang besar yaitu Bangsa Indonesia," katanya.?

HMI Tegal Kab

Ia mengakui bahwa peran dan sumbangsih NU dan kader kamernya yang sangat besar terhadap Bangsa Indonesia sejak pra-kemerdekaan sampai sekarang.?

"Terjadinya bangsa kita ini sumbangsih dari NU tidak perlu diragukan lagi. Itu dulu. Sekarang kondisi begini, muncul buku ini," katanya kagum.?

Ia berharap, melalui ruang yang sama, Bangsa Indonesia, menjadikan warganya satu rata sama rasa. "Kita gak mau bangsa ini hancur, "katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Anti Hoax, Ahlussunnah, Nusantara HMI Tegal Kab

Selasa, 12 Desember 2017

Mensos Khofifah Minta ABG Slamet Lanjutkan Pendidikan

Jakarta, HMI Tegal Kab. Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansa mendorong ABG Slamet (16), pelaku pernikahan dini yang menikah dengan Nenek Rohayah (71) untuk meneruskan pendidikannya.

Mensos Khofifah Minta ABG Slamet Lanjutkan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Khofifah Minta ABG Slamet Lanjutkan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Khofifah Minta ABG Slamet Lanjutkan Pendidikan

“Saya mendapatkan informasi baik dari Pak Urip, kakak dari Nenek Rohayah, maupun dari surat yang ditandatangani Ananda Slamet, mereka mengatakan menikah di bawah tangan, atau secara siri. Lalu masyarakat di desa mereka telah meminta KUA untuk menerbitkan surat nikah. Tapi Ananda Slamet ini usianya masih anak-anak. Jadi saya meminta Slamet mengikuti kejar paket dan mau sekolah,” papar Khofifah menjawab pertanyaan para wartawan di sela-sela Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (16/7) siang.

?

Khofifah menilai perkawinan usia dini bukan fenomena baru. “Saya rasa ini satu hal yang kita semua prihatin, bukan karena perbedaan usia. Tapi salah satu yang menikah itu masih usia anak,” terang Khofifah.

HMI Tegal Kab

Menurutnya berdasarkan UU Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 saja, ? ditetapkan pernikahan dapat dilakukan oleh laki-laki pada usia minimal 19 tahun.

“Sedangkan Ananda Slamet masih usia 16 tahun. Jadi Kemensos pada saat menerima informasi itu dari sosmed, langsung mengirim tiga orang Saktipeksos (Satuan Bakti Pekerja Sosial). Saya meminta mereka secara khusus bertemu Slamet dan Nenek ? Rohayah, apa yang sebetulnya terjadi di antara mereka. Saya juga meminta kepada Saktipeksos membawa Ananda Slamet dan Nenek Rohayah ke Puskesma terdekat, untuk diperiksa secara medik kesehatan mereka masing-masing,” lanjut Khofifah.

Terkait dengan permukiman Slamet dan Rohayah, Khofifah meminta Saktipeksos untuk melakukan asesmen agar mereka mendapatkan rumah tinggal layak huni.

“Betapa pun keduanya adalah warga bangsa yang rumah mereka berlantai tanah. Saya meminta untuk dilakukan asesmen kepada keluarga ini untuk mendapatkan rumah tinggal layak huni sebagai perlindungan sosial kepada mereka. Kita akan intervensi itu. Tapi khusus Ananda Slamet, kami mendorongnya mengikuti kejar paket dan melanjutkan sekolah. ? Ananda Slamet kan drop out kelas dua SD,” tandas Khofifah. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab Nahdlatul, Nusantara, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Sabtu, 09 Desember 2017

GP Ansor Pemalang Bentuk Tim SAR “Benowo Rescue”

Pemalang, HMI Tegal Kab. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pemalang belum lama ini membentuk Tim SAR “Benowo Rescue”. Hal ini didorong oleh kondisi alam daerah setempat yang rawan tertimpa bencana.

“Dengan kondisi geografis sebagian pegunungan, Kabupaten Pemalang  rawan terjadinya bencana tanah longsor, angin ribut, banjir dan lainnya. Keberadaan Tim SAR Benowo Rescue ini diharapkan dapat diandalkan untuk mampu menangani bencana, baik pada tahap pencegahan maupun pasca terjadinya bencana,” kata Imron Khudhori, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pemalang.

GP Ansor Pemalang Bentuk Tim SAR “Benowo Rescue” (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pemalang Bentuk Tim SAR “Benowo Rescue” (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pemalang Bentuk Tim SAR “Benowo Rescue”

Pembentukan tim SAR ini diawali dengan Pendidikan dan Latihan Khusus Banser Tanggap Bencana (Diklatsus Bagana) pada 30 Mei-1 Juni 2014 di Lapangan Gajahnguling Desa Gambuhan Kecamatan Pulosari.

HMI Tegal Kab

Pelatihan tersebut diikuti 212 peserta yang berasal dari Banser Pemalang, Purbalingga, Purwokerto dan Semarang dengan instruktur dari Bagana Wonosobo. Acara secara resmi dibuka Bupati Pemalang H. Junaedi.

"Kami atas nama Pemda Kab. Pemalang sangat berterima kasih atas respon dari anggota Banser dalam menanggapi bencana yang telah terjadi seperti banjir sungai comal dan longsor cikadu," ujar Bupati Pemalang dalam sambutannya.

Junaedi mengatakan, nama "Benowo" merupakan nama besar bagi masyarakat Pemalang, maka ia berharap SAR yang dimiliki oleh Banser Pemalang ini dapat besar seperti namanya, serta mampu menjadi solusi ketika terjadi bencana melanda di Kabupaten Pemalang.

HMI Tegal Kab

Sementara itu di tempat lain Agus Zamroni selaku Komandan Banser Kabupaten Pemalang menyatakan, sebetulnya kegiatan ini mempunyai 3 tujuan, pertama, mensosialisasikan pentingnya upaya penyelamatan lingkungan dan penanganan bencana alam.

Kedua, membentuk Satuan Tanggap Darurat yang mampu menjamin terselenggaranya pelaksanaan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman, resiko dan dampak bencana.

Ketiga, membentuk Satuan yang mampu menjadi pendamping Badan Penanggulangan Bencana Daerah  Kabupaten Pemalang baik pada saat prabencana, tanggap darurat dan pascabencana. (Ali Maksum/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Jumat, 08 Desember 2017

Lopis Raksasa dan Tadisi Syawalan Pekalongan

Pekalongan, HMI Tegal Kab - Syawalan merupakan tradisi masyarakat Kota Pekalongan khususnya masyarakat daerah Krapyak di bagian utara Kota Pekalongan, yang dilaksanakan pada setiap hari kedelapan sesudah Hari Raya Idul Fitri.

Bahkan Syawalan yang jatuh pada 8 Syawwal merupakan hari yang sangat istimewa dan selalu ditunggu-tunggu oleh warga. Pasalnya, hari itu merupakan hari berkumpulnya ribuan warga untuk bisa silaturrahim dan saling berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang disediakan secara gratis.

Lopis Raksasa dan Tadisi Syawalan Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lopis Raksasa dan Tadisi Syawalan Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lopis Raksasa dan Tadisi Syawalan Pekalongan

Hal paling menarik dalam pelaksanaan tradisi ini adalah dibuatnya Lopis Raksasa yang ukurannya mencapai tinggi 2 meter dengan diameter 1,5 meter dan berat mencapai 225 Kg. Setelah acara doa bersama, Lopis Raksasa kemudian dipotong oleh Walikota Pekalongan dan dibagi-bagikan kepada para pengunjung.

Para pengunjung biasanya berebut untuk mendapatkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah. Pembuatan Lopis dimaksudkan untuk mempererat tali silahturahmi antaranggota masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat Lopis yang lengket.

HMI Tegal Kab

Masyarakat Krapyak juga biasanya menyediakan makanan ringan dan minuman secara gratis kepada para pengunjung. Jumlah pengunjung pada tradisi ini mencapai ribuan orang yang berasal dari seluruh Kota Pekalongan dan sekitarnya. Setelah pembagian Lopis selesai, biasanya para pengunjung berbondong-bondong ke obyek wisata Pantai Slamaran Indah untuk berlibur bersama keluarga sekadar menikmati kesegaran udara pantai atau menikmati meriahnya hiburan gratis yang telah dipersiapkan masyarakat Krapyak sebelumnya.

Dari mana tradisi ini berasal? Menurut sejarah, sebagaimana dituturkan KH Zaenuddin tokoh masyarakat setempat kepada HMI Tegal Kab, orang yang pertama kali memelopori Syawalan adalah KH Abdullah Sirodj, ulama Krapyak yang masih keturunan Tumenggung Bahurekso (Senopati Mataram). Awalnya KH Abdullah Sirodj rutin melaksanakan puasa Syawal, puasa ini kemudian diikuti masyarakat sekitar Krapyak dan Pekalongan pada umumnya sehingga meski hari raya, mereka tidak bersilaturahmi demi menghormati yang masih melanjutkan ibadah puasa Syawal.

HMI Tegal Kab

Dulu, sehabis Shalat Ied suasananya masih seperti Ramadhan. Baru pada hari ke-8 Syawal, suasana Lebaran benar-benar terasa. Yang menjadi khas dalam tradisi Syawalan di Krapyak Pekalongan adalah disajikannya makanan berupa lopis. KH Abdullah Sirodj memilih lopis sebagai simbol Syawalan di Pekalongan karena terbuat dari beras ketan yang memiliki daya rekat yang kuat, yang menyimbolkan persatuan.

Zaenudin mengatakan, Presiden Soekarno datang dalam rapat akbar di lapangan Kebon Rodjo Pekalongan (sekarang Monumen) tahun 1950, beliau berpesan agar rakyat Pekalongan bersatu seperti lopis sehingga warga Krapyak setiap Syawalan selalu memotong lopis.

"Hal itu sebagai rasa syukur kepada Allah, dan melaksanakan sunah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Adapun rasa syukur tersebut diwujudkan dalam bentuk jajanan berbentuk lopis. Karena filosofi lupis sendiri sangat religius baik dari segi pemakaian bahan maupun dalam proses pembuatannya," ujarnya.

Dikatakan, ketan sebagai bahan dasar lopis memiliki makna persatuan (kraket=erat), karena ketan yang sudah direbus memiliki daya rekat yang kuat dibanding nasi. Kita sebagai sesama Muslim harus memiliki rasa saling peduli dan saling mengingatkan satu sama lain. Beras ketan yang putih, bersih memiliki makna kesucian (kembali fitri) dalam nuansa lebaran.

Bungkus lopis diambilkan dari daun pisang, yang memiliki arti perlambang Islam dan kemakmuran. Bahwa Islam selalu menumbuhkan kebaikan dan menjaga karunia Tuhan. Daun pisang yang digunakan tidak boleh terlalu tua ataupun terlalu muda, karena akan berpengaruh pada cita rasa lopis tersebut.

Selain itu ikatan atau tali pembungkus menggunakan serat pelepah pisang, melambangkan kekuatan. Sesuatu yang sudah dicapai (kembali fitri) harus dijaga agar tidak luntur ataupun berkurang. Akan lebih baik jika semakin bertambah atau ditingkatkan. Pengikat ini juga bisa berarti sebagai pengikat kita untuk menjalin silaturahmi antar-Muslim (Hablum minan nas).

Meski konon tradisi Syawalan sudah ada sejak tahun 1885, tradisi ini mulai dilakukan secara besar-besaran pada tahun 1950. Dengan memotong lopis berukuran besar oleh kepala daerah setempat. Proses memasak lopis raksasa membutuhkan waktu 4-5 hari, dengan menggunakan dandang berukuran besar. Untuk memindahkannya, harus memakai katrol.

Tahun ini Syawalan yang jatuh pada hari Ahad (2/7), lopis raksasa di Krapyak dibuat dengan diameter 213 cm dan tinggi 232 cm. Lopis dengan berat 1252 kg ini siap dibagi-bagikan kepada siapa pun yang hadir.

Nur Hidayah (50) warga Krapyak kepada HMI Tegal Kab mengatakan, tidak hanya lopis raksasa yang khas di Syawalan, hal unik lainnya adalah warga Krapyak yang mayoritas warga nahdliyyin memberikan makanan ataupun minuman secara gratis bagi siapa saja yang bertamu ke rumah pada hari kedelapan Syawwal.

Selain lopis raksasa, warga Pekalongan di beberapa? kawasan lain juga merayakan Syawalan dengan menerbangkan balon udara. Tradisi balon udara ini konon merupakan tradisi orang keturunan Indo Eropa zaman dulu yang bermukim di Pekalongan. (Iz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Makam, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Senin, 04 Desember 2017

Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU

Jakarta, HMI Tegal Kab. Menurut Asia Development Bank (ADB), kelas menengah adalah mereka yang memiliki pengeluaran dua hingga dua puluh dollar Amerika atau dua puluh tujuh ribu hingga dua ratus tujuh puluh ribu rupiah per kapita per hari.

Berdasarkan data BCG tahun 2012, jumlah kelas menengah di Indonesia adalah tujuh puluh empat juta. Bahkan, ada yang menyebut kalau jumlah kelas menengah Indonesia adalah seratus empat puluh satu juta.

Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mayoritas NU dan Muhammadiyah, Tapi Mereka Tak Berderma ke LAZISNU atau LAZISMU

Sedangkan muslim adalah mereka yang memeluk agama Islam dan mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan Islam. Maka dengan demikian, kelas menengah muslim adalah mereka yang memiliki daya beli dan juga memiliki tingkat religiusitas yang tinggi.

Beberapa waktu lalu, Alvara Research Center melakukan survei terhadap kalangan muslim kelas menengah. Dalam survei tersebut ditemukan fakta bahwa mayoritas kelas menengah muslim tersebut dekat dan berafiliasi dengan ormas Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. 

HMI Tegal Kab

Dengan masing-masing prosetase 40,6 persen mengaku berafiliasi terhadap NU dan 20,7 persen mengaku menjadi anggota NU. Sedangkan 13,3 persen berafiliasi dengan Muhammadiyah dan 7,8 persen responden mengaku sebagai anggotanya. 

Namun yang menarik adalah kelas menengah muslim yang mayoritas NU dan Muhammadiyah tersebut sebagian besar tidak menyalurkan dermanya ke lembaga amil zakat dua ormas tersebut. Lalu, ke lembaga mana mereka berderma?  

CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali menjelaskan, sebetulnya kelas menengah muslim itu ringan tangan dalam berderma. Umumnya, mereka memiliki pendapatan dan jiwa sosial keagamaan yang tinggi. Maka dari itu, mereka tidak segan-segan untuk membantu sesama saudaranya yang seiman yang memang membutuhkan.

Hasil riset menunjukkan bahwa dari 1200 responden atau 100 persen menyatakan pernah menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui musholla, 40,5 persen menyalurkan langsung kepada yang membutuhkan, dan 20,9 persen pernah menyalurkan melalui lembaga zakat.

“Dari 20 persen kelas menengah yang menyatakan pernah menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui LAZIS mereka menyatakan menyalurkannya melalui Dompet Dhuafa 31,5 persen, Rumah Zakat 23,9 persen, dan Rumah Yatim 12,7 persen,” kata Hasan usai menyampaikan rilis hasil survei di Jakarta, Senin (23/10).

HMI Tegal Kab

Dengan demikian, jika menyebut lembaga amil zakat di kalangan kelas menengah muslim, maka yang paling diingat adalah Dhompet Dhuafa dan Rumah Zakat. Hal disebabkan karena dua lembaga amil zakat tersebut merupakan pelopor dalam transformasi lembaga zakat dengan pengelolaan yang profesional dan modern.

“Mayoritas NU dan Muhammadiyah, tapi mereka tidak meyalurkan zakatnya (infak dan sedekah) ke LAZISNU atau LAZISMU,” tandas Hasan. (Muchlishon Rochmat/Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah, IMNU HMI Tegal Kab

Sabtu, 02 Desember 2017

NU Riyadh Arab Saudi Fasilitasi Pendidikan WNI

Riyadh, HMI Tegal Kab

Majelis Wakil Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (MWCINU) Riyadh, Arab Saudi, memberi perhatian kepada mutu pendidikan para warga negara Indonesia (WNI) yang ada di Arab Saudi.

NU Riyadh Arab Saudi Fasilitasi Pendidikan WNI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Riyadh Arab Saudi Fasilitasi Pendidikan WNI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Riyadh Arab Saudi Fasilitasi Pendidikan WNI

Mustasyar MWCINU Riyadh Anas Dliyaul Muqsith menegaskan pentingnya pendidikan, baik formal maupun non formal, bagi WNI yang berumur produktif. Hal ini dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Untuk mengatasi hal ini, kader NU dan MWCINU Riyadh bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh. Harapannya, hasil kerja sama ini tidak hanya bisa dinikmati oleh WNI Riyadh, namun juga oleh WNI al-Qassim, sebuah kota yang terletak kurang lebih 350 kilometer di sebelah barat laut kota Riyadh.

HMI Tegal Kab

Pernyataan ini muncul di sela-sela acara safari dakwah MWCINU Riyadh ke al-Qassim, sebuah kota yang terletak kurang lebih 350 meter di sebelah barat laut kota Riyadh. Rais Syuriyah MWCINU Riyadh KH Abdul Malik an-Namiri memimpin kegiatan tersebut pada hari-hari awal kepemimpinanannya, Sabtu (26/2)

Turut serta dalam rombongan safari dakwah ini Katib Syuriyah MWCINU Riyahdh H Syamsul Arifin, M Adnan, mahasiswa Jamiah Malik Saud; serta Irza A Syaddad dan M Ali Maksum, mahasiswa Jamiah al-Imam.

HMI Tegal Kab

Rombongan bertolak dari Riyadh pada pukul 18.30 waktu setempat. Namun sebelum berangkat ke al-Qassim, rombongan terlebih dahulu singgah ke rumah salah satu Nahdliyin untuk mapati, upacara selamatan untuk janin yang berusia 4 bulan.

Tim safari dakwah sampai di al-Qassim pada pukul 01.00 waktu setempat. Pengajian yang diadakan oleh Nahdliyin al-Qassim terbilang unik. Pengajian dimulai pada pukul 01.30 dan selesai menjelang azan Subuh. Selain pengajian dan silaturahim ke sesama WNI yang tinggal di sana, Rais Syuriyah juga menyosialisasikan keberadaan MWCINU di Riyadh. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Senin, 27 November 2017

Pencetak Banyak Hafidzah

Hari itu, langit dan bumi pesantren Babakan-Ciwaringin-Cirebon tiba-tiba ‘basah’. Bukan karena hujan lebat yang menimbulkan genangan banjir, melainkan karena para keluarga, santri, dan masyarakat meneteskan tangis air mata. Salah seorang ulama perempuan yang hafizhah itu wafat meninggalkan semuanya.

Sosok ulama perempuan hafizhah itu tak lain, Nyai Hj Izzah Syathori Fuad Amin, salah seorang pengasuh pesantren Bapenpori (Balai Pendidikan Pondok Putri) al-Istiqomah, putri dari al-Maghfurlah KH Abdullah Syathori (sesepuh pesantren Dar al-Tauhid, Arjawinangun), dan istri mendiang KH Fuad Amin (sesepuh pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan-Ciwaringin). Beliau dipanggil oleh-Nya, 3 September 2013.

Nyai Izzah adalah sosok yang istiqomah dalam mencerdaskan umat, melalui pengajian rutin; pengajian kitab kuning maupun al-Qur’an. Tak mengenal kata lelah dan bosan dalam hal mengajar ngaji kepada para santri maupun masyarakat luas. Ini terbukti, salah satunya saat upacara pemakaman mendiang. Tak seperti biasanya, ribuan orang berjejalan dan sesak memenuhi areal maqbarah Raudlatut Tholibin.

Tak tahu ada berapa kali sesi shalat jenazah saat itu, baik yang berlangsung di pelataran masjid maupun saat sudah dimakamkan. Saya begitu yakin, ini karomah dan keistimewaan dari seorang hamba yang begitu mencintai dan mengabdikan sepenuh hidupnya demi dan untuk kelestarian al-Qur’an.

Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencetak Banyak Hafidzah

Pengajian yang istiqomah dilakukan Nyai Izzah pun sederhana. Untuk pengajian jami’iyah rutin mingguan, beliau hadir di hadapan para ibu-ibu menjelaskan berbagai macam ilmu. Pengajian seperti ini berlangsung di Babakan dan Arjawinangun. Jamaah pun menyimak dan berikutnya menampung banyak pertanyaan bernada keluh kesah seputar kehidupan agama, sosial, dan ekonomi rumah tangganya.

Nyai Maryam Abdullah, salah seorang menantu mendiang pernah bercerita: “Sering kali saya menyaksikan setiap malam Jum’at, beliau (al-Marhumah) hendak pergi mengajar pengajian ibu-ibu di Arjawinangun, walaupun dalam kondisi hujan, dan sekalipun harus naik becak tetap dilakoninya. Sebagai pemimpin jami’iyah di Babakan dan Arjawinangun beliau dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas dan memiliki karakter mobilisator.”

HMI Tegal Kab

Sementara saat di pesantren, Nyai Izzah akan setia membimbing para santriwati. Mengaji al-Qur’an misalnya, para santriwati berbaris rapi, bergiliran menyetorkan bacaan al-Qur’annya. Saking banyaknya santriwati yang ingin belajar mengaji al-Qur’an kepada beliau, setiap sesi setoran bacaan, beliau sanggup menyimak tidak kurang dari enam orang sekaligus secara bersamaan, masing-masing tiga orang santriwati di baris sebelah kanan dan kiri.

Tak hanya para santriwati, semua para Nyai yang ada di pesantren Babakan-Ciwaringin belajar mengaji al-Qur’an kepadanya. Beliaulah memang ulama perempuan paling otoritatif dalam bidang al-Qur’an baik di wilayah pesantren Babakan-Ciwaringin, pada khususnya, Cirebon dan Jawa Barat pada umumnya.

Jika ditelusuri jejak intelektualnya, Nyai Izzah sendiri mesantren dan belajar mengaji langsung kepada al-Maghfurlah KH Mahfudh Mas’ud, pimpinan pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Ia pun mampu menghafal al-Qur’an (hafizhah) dalam waktu yang relatif singkat, hanya 9 bulan.

Demikianlah, maka pesantren Bapenpori al-Istiqomah, masyhur sebagai pesantren yang istiqomah mencetak para hafizhah, santriwati penghafal al-Qur’an. Putera-putrinya pun demikian, cerdas dan hafizh-hafizhah. Itu semua tak lain merupakan buah dari keberkahan, kecerdasan, dan keistiqomahan Nyai Izzah sebagai pengasuh dan pendidik di pesantren.

Yang sangat mengesankan, banyak di antara kaum ibu yang awalnya buta huruf al-Qur’an atau bahkan lidahnya susah untuk melafadzkan ayat-ayat al-Qur’an tetapi akhirnya fasih dan hafal surat-surat penting

HMI Tegal Kab

Saking istiqomahnya beliau dalam hal mengaji, saat hendak bepergian jauh pun beliau selalu mempertimbangkan agar tidak ketinggalan waktu mengaji. Setahu saya beliau juga orangnya ulet dan telaten dalam mengajar. Siapapun yang ingin mengaji kepada beliau mulai dari kalangan anak-anak sampai orang tua pasti dilayaninya dengan senang hati.

KH Thohari Shodiq, salah seorang pengasuh pesantren Raudlatut Tholibin, berkali-kali menegaskan bahwa Nyai Izzah adalah satu-satunya Nyai sepuh yang alim, terutama dalam hal kajian kitab kuning. Selain alim dalam kajian al-Qur’an.

Akhirnya, kita memanjatkan do’a, semoga Nyai Izzah berbahagia di bawah naungan surga-Nya. Demikian juga yang ditinggalkan, baik para santri, keluarga, dan masyarakat dapat tabah serta menimba keteladanan, keistiqomahan, dan keikhlasan dari seorang ulama perempuan yang hafizhah ini. Amin.

?

Mamang M. Haerudin

Ketua LP3M STID AL-Biruni Cirebon, khadim al-Ma’had pesantren Raudlatut Tholibin Babakan-Ciwaringin.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Internasional, Cerita, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Kamis, 23 November 2017

Santri Cirebon: Slamet Gundono Jembatan Seni Tradisi dan Pesantren

Cirebon, HMI Tegal Kab. Berpulangnya seniman sekaligus dalang, Ki Slamet Gundono meninggalkan segenap kesan dan kenangan yang mendalam di hati para sahabatnya, termasuk para santri pesantren di Cirebon. ?

Hubungan dalang suket itu dengan beberapa pesantren Cirebon terbilang akrab, begitu tutur Baequni Mohammad Haririe, penggiat Komunitas Seniman Santri (KSS) Cirebon kepada HMI Tegal Kab.

Santri Cirebon: Slamet Gundono Jembatan Seni Tradisi dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Cirebon: Slamet Gundono Jembatan Seni Tradisi dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Cirebon: Slamet Gundono Jembatan Seni Tradisi dan Pesantren

Baequni mengisahkan,? peran almarhum? sangat kuat dalam menjembatani dialog antara seni tradisi dan pesantren. Hal itu, Baequni menambahkan, terjadi saat Ki Slamet Gundono berkenan untuk mementaskan wayang suketnya dalam Musyawarah Besar (Mubes) NU di Pesantren Babakan Cirebon pada tahun 2004.

HMI Tegal Kab

“Andai waktu itu Ki Slamet Gundono tak jadi tampil, kesenian tradisi akan terabaikan dari habitatnya, yakni pesantren,” ungkapnya.

Pria yang kerap disapa Kang Ubay ini pun menjelaskan, hubungan seni tradisi dan pesantren memang cukup renggang dan terkesan dingin pada saat-saat itu. Namun keberadaan Ki Slamet Gundono yang berlatar belakang pesantren sekaligus sebagai seniman mampu mencairkan hubungan kedua hal tersebut.

HMI Tegal Kab

Kesan yang cukup mendalam juga dikenang oleh Mahrus El-Mawa, salah satu peneliti di IAIN Syekh Nurjati Cirebon sekaligus filolog di Pusat Studi Budaya dan Manuskrip ISIF Cirebon. Menurutnya, Ki Slamet Gundono merupakan kreator wayang rakyat yang sangat memiliki keserupaan dengan nilai-nilai pesantren.

“Apa yang disampaikan Ki Slamet tidak ada bedanya dengan da’i NU, hanya media dakwahnya saja yang berbeda,” ujar Mahrus.

Kedekatan Ki Slamet Gundono dengan tradisi pesantren di Cirebon mengundang rasa kehilangan yang mendalam. Muzayyin Haris, mantan Ketua PC PMII Kabupaten Cirebon merasakan belum ada yang mumpuni ihwal kehangatan Ki Slamet di mata para santri Cirebon.

“Selamat jalan Ki Slamet, kami yang di Cirebon tentu merasa sangat kehilangan dan berduka Kami selalu mengenang pesanmu, bahwa berpikir dalam segala hal, mesti bijaksana,” pungkas Zayin.

Seperti yang diiberitakan sebelumnya, Slamet Gundono dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Islam (RSI) Yarsis Solo, Ahad pagi (5/1). Slamet Gundono merupakan seorang dalang asal Tegal, Jawa Tengah, yang bermukim di Solo. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Rabu, 08 November 2017

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara

Jakarta, HMI Tegal Kab. Penasihat Menteri Besar Selangor Khalid Jaafar berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (18/12) sore. Ia mengaku tertarik dan mengapresiasi ajaran dan kiprah Nahdlatul Ulama selama ini.

Kedatangan Khalid disambut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jendral PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, dan Wakil Sekjen PBNU Suwadi D Pranoto.

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara

“Rencananya kami ingin mendirikan Nahdlatul Islam, Nahdlatul Ulama Malaysia, yang sama-sama mengerakkan sisi Islam Nusantara,” katanya kepada HMI Tegal Kab sesaat selepas pertemuan.

HMI Tegal Kab

Di negaranya, kata Khalid, memang telah berdiri dari Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Malaysia tetapi itu mewadahi sebatas warga negara Indonesia, baik yang sedang menempuh studi maupun berstatus sebagai tenaga kerja Indonesia. Ia mengatakan ingin membentuk organisasi “Nahdlatul Ulama” versi Malaysia.

HMI Tegal Kab

Mantan sekretaris pribadi Anwar Ibrahim ini mendukung Islam Nusantara yang menjunjung tinggi nila-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), tawassuth, dan i’tidal (moderasi). Menurutnya, Nusantara juga meliputi Malaysia, termasuk juga Kamboja, Thailand, dan lainnya.

“Bukan berarti kami menolak yang lain, tapi kami rasa Ahlussunnah sesuai dengan karakter wilayah kami,” imbuhnya.

Ditanya soal sebaran paham keagamaan yang berkembang di Malaysia, Khalid berujar, “Ancaman ekstemisme tidak begitu besar, tapi kita tidak boleh kita pandang kecil. Makanya kita perlu suarakan tradisi toleransi yang dalam Nahdlatul Ulama disebut tawassuth.”

Direktur Institut Kajian Dasar (IKD) Kuala Lumpur ini mengaku percaya Islam di Asia Tenggara lebih menjanjikan masa depan dibanding dengan Islam di Timur Tengah. Ditengok dari pertumbuhan ekonomi dan demokrasi, katanya, Asia Tenggara termasuk cukup baik.

Dalam pertemuan itu, KH Said Aqil Siroj menjelaskan kedekatan NU dengan muslim negara-negara tetangga, salah satunya dengan memberi mereka beasiswa untuk studi di perguruan tinggi-perguruan tinggi NU. Pertemuan juga menyinggung soal fenomena intoleransi, Wahabi, Syiah, dan Ahmadiyah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Anti Hoax, Ahlussunnah, Pahlawan HMI Tegal Kab

800 Siswa Namira Sumbang Sampah ke LPBINU Sumut

Medan, HMI Tegal Kab. Program Gerakan Amal Sumbang Sampah (GASS) yang digagas Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Utara (Sumut), terus mendapat dukungan dari masyarakat. Kali ini, 800-an siswa Sekolah Namira, Jalan Setiabudi Pasar I Tanjung Sari Medan, mendonasikan sampah anorganiknya untuk LPBI-PWNU Sumut.

Tidak tanggung-tanggung, para siswa Namira bukan hanya mengumpul sampah dari sekolah tapi juga dari rumah masing-masing. Lalu, saecara tertib para siswa mulai dari tingkat TK, SD, hingga SMA dan SMK menyerahkan langsung sampah anorganiknya kepada pengurus LPBI-PWNU, Jumat (9/9) lalu.

800 Siswa Namira Sumbang Sampah ke LPBINU Sumut (Sumber Gambar : Nu Online)
800 Siswa Namira Sumbang Sampah ke LPBINU Sumut (Sumber Gambar : Nu Online)

800 Siswa Namira Sumbang Sampah ke LPBINU Sumut

Sebelum pengumpulan sampah, terlebih dahulu dilakukan penandatanganan naskah Memorandum of Understanding (MoU) atau kerjasama antara LPBI-PWNU Sumut dan Sekolah Namira. Naskah MoU ditandatangani Ketua LPBI-PWNU Sumut Mrwan Azhari Harahap, Ketua Yayasan Fajar Diinul Islam (YFDI) drg H Amir Salim MKes diawakili Sekretaris Muzanni Lubis SPdI, ? Kepala TK Namira Aryani Tarigan, Kepala SD Syafrizal, Kepala SMP Syafrina Khairatun Nizwah, dan Kepala SMK Nurhaida O Siregar.

Penandatangan naskah MoU disaksikan Bendahara LPBI-PWNU Sumut Tamrin Harahap, dan Wakil Ketua Ishak Juharsa Harahap, serta para guru Sekolah Namira. ? ?

HMI Tegal Kab

Dalam acara yang digelar di halaman Sekolah Namira, Jalan Setiabudi Pasar I Tanjung Sari Medan, Ketua LPBI-PWNU Sumut Marwan Azhari Harahap mengatakan, program Gerakan Amal Sumbang Sampah (GASS) bertujuan menggerakkan potensi umat untuk beramal dengan menyumbangkan sampah, atau barang bekas yang masih bernilai ekonomi. Selanjutnya sampah tersebut akan dikonversi menjadi aneka kebutuhan pokok atau uang untuk membantu para korban bencana dan kegiatan kemanusiaan lainnya.

Adapun jenis sampah yang dapat disumbangkan adalah sampah anorganik, yakni sampah yang tidak bisa terurai atau tidak membusuk, seperti sampah plastik, karton atau kertas, dan sampah logam.

"LPBI ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Karena dalam sampah anorganik ? terkandung nilai ekonomi. Hampir 50 jenis sampah bisa dimanfaatkan. Jadi ketimbang dibuang yang bisa mengakibatkan banjir, lebih baik disumbangkan untuk bantuan kemanusiaan lewat ? LPBI-PWNU Sumut," kata Marwan.

Marwan menyatakan siap menjemput ke rumah atau kantor yang ingin mendonasikan sampahnya untuk korban bencana dan kemanusiaan. "Saya siap dihubungi melalui telepon 082370704321," tutur penggiat pelesatrian lingkungan hidup.

Sekretaris YFDI Muzanni Lubis menyatakan, bersedakah kini tak mesti pakai uang, tapi bisa lewat sampah anorganik yang selama ini dibuang begitu saja. "Ayo terus sumbang sampah ke LPBI-PWNU, pahalanya sangat besar karena untuk korban bencana dan kemanusiaan," kata Muzanni yang juga Kepala SMA Namira.

HMI Tegal Kab

Kepala SMK Namira Nurhaida O Siregar berharap, sumbang sampah akan dilakukan secara berkesinambungan. Sebab, program ini akan mendatangkan kebajikan dengan cara sederhana. Karena itu, pihaknya akan membentuk komunitas sumbang sampah di sekolah tersebut.

"Selain beramal untuk korban bencana dan kemanusiaan, sumbang sampah ini akan mendukung program sekolah Adiwiyata, yakni sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan," kata Nurhaida. (Hamdani Nasution/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Aswaja, Tokoh, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Selasa, 07 November 2017

Muktamar NU 2015 Akhirnya "Kembali" ke Jombang

Jakarta, HMI Tegal Kab. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di kantor PBNU Jakarta, Jum’at (5/12), akhirnya memilih Jombang sebagai tuan rumah Muktamar ke-33 NU yang akan dilaksanakan pada 1-5 Agustus 2015 mendatang.

Muktamar NU 2015 Akhirnya Kembali ke Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar NU 2015 Akhirnya Kembali ke Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar NU 2015 Akhirnya "Kembali" ke Jombang

Rapat berlangsung cukup alot. Beberapa pengurus menyampaikan pendapat masing-masing mengenai tempat muktamar yang paling pas dari tiga wilayah telah? diusulkan dalam munas kemarin, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Utara dan Jawa Timur.

Dari tiga usulan, forum akhirnya menjurus ke dua tempat yakni Medan Sumatera Utara dan Jombang Jawa Timur. Sekitar separuh dari jumlah pengurus mengusulkan perlunya muktamar di Medan dengan alasan utama agar NU tidak terkonsentrasi di Jawa, terutama Jawa Timur.

HMI Tegal Kab

“Sumatera Utara ini juga secara geopolitik dengan negara tetangga Malaysia, Singapura dan Thailand. Ini cukup strategis apalagi pada 2015 akan mulai diberlakukan Masyakarat Ekonomi ASEAN,” kata Wakil Sekjen PBNU H Enceng? Shobirin Najd.

HMI Tegal Kab

Sementara itu usulan pelaksanaan muktamar di Jombang dimaksudkan untuk menggembalikan semangat NU seperti pada awal berdirinya. Para ulama pendiri NU berasal dari Jombang.

Rais Syuriyah PBNU KH Mas Subadar mengatakan, muktamar di Jombang juga sangat penting dalam rangka menggembalikan ruh NU yang akan mendekati usia 100 tahun.

Berdasarkan berbagai pertimbangan, Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri (Gus Mus) akhirnya memilih muktamar dilaksanakan di Jombang. “Sambil muktamar nanti para pengurus NU seluruh Indonesia akan berziarah ke makam para muassis NU,” tambah Gus Mus.

Sebagai jalan tengah Gus Mus, dalam keempatan itu juga menyepakati usulan Ketua PBNU Imam Azis agar berbagai kegiatan pramuktamar dipusatkan di dua alternatif tempat yang diusulkan, yakni NTB dan Sumatera Utara.

Selain menyepakati tempat Muktamar, Rapat Harian yang dipimpin oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj juga menetapkan dua ketua PBNU, masing-masing H Slamet Effendi Yusuf sebagai ketua pengarah (SC) dan H Imam Aziz sebagai ketua pelaksana (OC) muktamar ke-33. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Jadwal Kajian, Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Senin, 06 November 2017

Kuatkan Pemahaman Aswaja, 250 Mahasiswa Baru UIM Wajib Ikuti Pesantren Arbain

Makassar, HMI Tegal Kab - Rektor Universitas Islam Makassar diwakili Wakil Rektor II Saripuddin Muddin membuka secara resmi program Pesantren Arbain Mahasiswa UIM di Masjid Ash-Shahabah UIM, Jumat (22/12).

Pesantren Arbain ini diikuti 250 mahasiswa Universitas Islam Makassar. Mereka mengikuti program Pesantren Arbain angkatan I yang dilaksanakan pada 22-30 Desember 2017.

Kuatkan Pemahaman Aswaja, 250 Mahasiswa Baru UIM Wajib Ikuti Pesantren Arbain (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuatkan Pemahaman Aswaja, 250 Mahasiswa Baru UIM Wajib Ikuti Pesantren Arbain (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuatkan Pemahaman Aswaja, 250 Mahasiswa Baru UIM Wajib Ikuti Pesantren Arbain

Direktur Pengelola Pesantren Mahasiswa "Arbain" Maskur Yusuf dalam laporannya mengatakan, konsep Arbain ini merupakan salah satu teroboson baru, di mana Arbain ini bermakna proses penciptaan manusia dalam rahim ibu berupa nuthfah 40 hari, alaqah 40 hari, dan mudhgah 40 hari kemudian ditiupkan roh.

"Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai Rasul pada usia 40 tahun dan Nabi menyunahkan Shalat Arbain di Madinah, namun Pesantren Arbain ini dilaksanakan selama 40 waktu shalat."

HMI Tegal Kab

Di sisi lain seluruh mahasiswa akan mendapatkan materi Aswaja yang meliputi aqidah, fiqh, dan tasawuf, juga ditambah keterampilan penguasaan bahasa asing (Arab dan Inggris), ujarnya.

HMI Tegal Kab

Saripuddin Muddin mengatakan, program ini merupakan kegiatan wajib untuk diikuti oleh seluruh mahasiswa baru UIM sebagai wujud dari implementasi UIM sebagai kampus Qurani.

Mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan mutu luarannya khususnya pada ilmu Al-Quran dan karakter Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah, tutupnya.

Tampak hadir Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Musdalifah Mahmud, Dekan Fakultas Agama Islam Ruslan, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Andi Rivai Pakki, Pimpinan Fakultas-Pascasarjana, Para Kabag, dan 40 orang pendamping masing dosen, karyawan dan mahasiswa. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Ahlussunnah HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock