Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Taushiyah PBNU Soal Pemilu 2014

? ? ? ?

Alhamdulillah, berkat taufiq, hidayah, i’anah dan ‘inayah-Nya, bangsa Indonesia telah selesai melaksanakan agenda kenegaraan yang sangat penting, yakni Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif pada tanggal 9 April 2014.

Kendati di sana-sini masih terdapat berbagai kekurangan dan kelemahan yang perlu dibenahi di masa-masa mendatang, namun secara umum Pemilu telah berlangsung dengan aman dan damai.

Tiga bulan setelah selesainya Pemilu Legislatif, tepatnya pada tanggal 9 Juli 2014 bertepatan dengan bulan Ramadlan 1435 H, bangsa Indonesia kembali menyelenggarakan agenda kenegaraan yang tak kalah pentingnya, yakni Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (Pilpres).

Taushiyah PBNU Soal Pemilu 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Taushiyah PBNU Soal Pemilu 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Taushiyah PBNU Soal Pemilu 2014

Agar supaya Pilpres berlangsung dengan aman dan lancar serta menghasilkan pemimpin yang terbaik bagi bangsa, negara dan agama, maka Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menganggap perlu untuk menyampaikan taushiyah berikut ini:

Keikutsertaan secara aktif warga negara dalam pilpres merupakan perwujudan dari rasa tanggung jawab akan kelangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah menjadi kesepakatan kita bersama untuk menjaganya. Bahwa partisipasi dalam pilpres dapat dianggap sebagai bentuk ibadah, selama hal itu dilakukan dengan cara-cara yang baik dan benar, yang mengindahkan nilai-nilai agama dan moral. Sebaliknya, manakala partisipasi itu dilakukan dengan menghalalkan segala cara (al-ghayah tubarrir al-wasilah), maka hal itu merupakan bentuk kedurhakaan (maksiat) kepada Allah swt dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara. Bahwa money politics yang terbukti telah terjadi dalam pemilu legislatif yang lalu, baik yang melibatkan para calon anggota legislatif (caleg), tim sukses dan masyarakat pemegang hak pilih maupun aparat penyelenggara pemilu, tidak boleh berulang kembali pada pilpres yang akan datang. Money politics adalah bentuk suap (risywah). Ia merupakan risywah siyasiyyah (suap yang berdimensi politik), sehingga baginya berlaku sabda Nabi saw:

 ? ? ? ? - ? ?

HMI Tegal Kab

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? - ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ?

Mengimbau kepada warga NU khususnya dan masyarakat serta bangsa Indonesia pada umumnya, untuk melakukan istighatsah, memohon pertolongan Allah swt agar pilpres nanti dapat berlangsung dengan aman, damai, dan lancar. Semoga Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih nanti benar-benar merupakan sosok pemimpin yang amanah, yang mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan. Pemimpin yang memiliki kemampuan untuk membawa bangsa Indonesia menuju kehidupan yang adil, makmur dan bermartabat. Mengimbau kepada warga NU khususnya dan segenap anak bangsa pada umumnya untuk menjaga ikatan tali persaudaraan (ukhuwwah), kendati terjadi perbedaan pilihan dan dukungan di antara mereka. Kita wajib bersama-sama menciptakan iklim dan suasana damai, jauh dari hiruk pikuk provokasi dan agitasi yang mengancam keutuhan bangsa dan negara.  

Semoga Allah SWT berkenan mengabulkan harapan kita dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Amin ya Mujibas-sailin!

HMI Tegal Kab

Wa akhiru da’wana ‘anil-hamdu lillahi Rabbil-‘alamin, wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.

 

Jakarta, 30 Jumadal-Akhirah 1435 H

                  30  April 2014 M

 

 

Dr. KH. A. Mustofa Bisri (Pj. Rais Aam)



Dr. KH. A. Malik Madaniy, MA (Katib Aam)



Dr. KH, Said Aqil Siroj, MA (Ketua Umum)



Dr. H. Marsudi Syuhud (Sekretaris Jenderal)



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri HMI Tegal Kab

Selasa, 20 Februari 2018

Seputar Bidah dan Inovasi Beragama

Oleh Munandar Harits Wicaksono

Islam sebagai agama, dianggap penting karena memiliki dua rujukan yang dengan keduanya manusia diatur sedemikian rupa. Al-Qur’an, sebagai rujukan yang pertama merupakan sebutan untuk lafadh yang Tuhan turunkan kepada Nabi Muhammad di mana bacaannya mengandung sisi ijaz (melemahkan; mukjizat) bagi penentangnya dan bernilai ibadah dengan membacanya. Sementara hadits, sebagai rujukan kedua adalah ucapan Nabi Muhammad pasca ia diangkat Tuhan menjadi utusannya.

Seputar Bidah dan Inovasi Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Seputar Bidah dan Inovasi Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Seputar Bidah dan Inovasi Beragama

Keduanya merupakan wasilah Tuhan memperkenalkan diri-Nya, mengingatkan manusia mengenai hakikat hidup, dan tak luput mengatur segala aspek mulai dari skala mayor dan urgen seperti perkara ketuhanan, konsep interaksi dengan sesama manusia, hingga perkara kecil nan sepele seperti halnya berpakaian dan lain-lain.

HMI Tegal Kab

Di masa awal pembentukan syariat, keberadaan Nabi Muhammad sebagai penyambung lidah Tuhan sangat dibutuhkan. Hadits sebagai ucapannya punya kedudukan tidak hanya sebagai penjelas, tapi dalam berbagai masalah menjadi pijakan hukum atas hukum yang belum tersebut dalam Al-Qur’an. Maka ketika muncul suatu masalah yang belum diketahui hukumnya, mudah saja orang di masa itu akan segera bertanya kepada beliau. Kemudian dalam beberapa kasus Tuhan akan mengklarifikasi maupun memperkuat jawaban Rasulullah tersebut.

Meskipun demikian, Islam di masa itu tidak serta-merta menetapkan hukum sepihak semacam diktator. Dalam berbagai kesempatan Nabi Muhammad mengatakan, "Permudahlah, jangan mempersulit!" Bahkan ucapan itu diulang-ulang sampai tiga kali, menunjukkan betapa kuatnya anjuran tersebut.

HMI Tegal Kab

Hal ini jelas kontradiktif dengan apa yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini. Kita dihadapkan pada fenomena merebaknya pemikiran-pemikiran kaku yang sangat enggan berinovasi dalam beragama. Menggunakan dalih hadits "Setiap perbuatan bidah atau yang tidak dicontohkan Muhammad adalah sesat" mereka seenaknya sendiri menyalah-nyalahkan golongan lain.

Padahal, hadits yang diucapkan ini sejatinya masih sangat global. Dalam redaksi bahasa Arab lafadh kullun yang memiliki makna setiap (seperti dalam hadits di atas) memiliki 2 padanan makna. Terkadang lafadh kullun ini digunakan untuk makna jam , yang berarti ia tidak menerima pengecualian. Kadang pula ia bermakna jami dimana ia menerima pengecualian.

Berkaca pada hal tersebut, para cendikiawan muslim moderat memberikan definisi yang relevan dengan makna bidah yang dikehendaki Nabi. Salah satu definisi yang adil menyebutkan bidah adalah sebuah ajaran baru yang dibuat-buat untuk menandingi syariat.

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah semisal acara 40 hari memperingati kematian yang di dalamnya terdapat kandungan silaturahim, membaca Al-Qur’an bersama dan segala perbuatan baik lainnya dibuat untuk menandingi syariat? Tentu tidak.

Seperti inilah yang kami maksudkan sebagai fenomena pemikiran kaku dan enggan berinovasi di atas. Hal ini diperparah dengan masyarakat kita yang cenderung hanya melihat cover dan mengabaikan substansi sebenarnya. Padahal, sejatinya sudah menjadi maklum bersama, mengingat Wali Songo di masa penyebaran Islam di Tanah Jawa juga membungkus ajaran-ajarannya dengan budaya.

Satu yang menarik terkait inovasi dalam beragama adalah sebuah riwayat hadits yang disebutkan dalam kumpulan hadits Imam Nawawi dalam kitab Riyadlush Shalihin. Disebutkan suatu ketika seorang Baduwi melakukan tawaf mengelilingi kabah menyebutkan kata-kata yâ karîm (yang tentu tidak pernah diajarkan Nabi Muhammad) berulang kali. Heran akan hal tersebut, Nabi Muhammad menghampirinya bersamaan dengan turunnya Jibril. Lalu terjadilah percakapan yang sejatinya melibatkan 4 subjek. Tuhan, Jibril, Muhammad dan orang Baduwi tadi.

Singkat cerita, Tuhan melalui Jibril, disampaikan oleh Muhammad, bertanya pada Baduwi tersebut, "Apakah kau kira dengan mengucapkan yâ karîm (wahai Yang Maha Mulia), Tuhan akan mengampuni dosa dan memperingan timbangan burukmu?" Secara spontan baduwi itu menjawab "Kalau Tuhan berani menimbang amalanku, akan kutimbang balik Ia!" Mendengar jawaban tersebut Nabi Muhammad kaget bukan kepalang. Lantas ia bertanya, "Bagaimana bisa?" Baduwi segera menjawab "kalau Tuhan menimbang amalan burukku, akan kutimbang pula rahmat dan kasih sayangNya. Saya yakin rahmat-Nya jauh lebih besar daripada dosa saya." Lalu apa kata Tuhan? Tuhan justru berkata "Muhammad, sampaikan pada Baduwi itu, aku tidak akan menimbang-nimbang amal buruknya."

Menarik. Ada dua poin utama dalam hadits tersebut yang bisa kita ambil kesimpulan. Yang pertama adalah bagaimana baduwi tersebut melakukan sebuah perbuatan yang tidak pernah diajarkan Nabi Muhanmad. Ia berinovasi dengan melakukan perbuatan yang membuat Rasulullah terheran-heran, namun secara substansial ia menyetujuinya.

Poin kedua adalah terkait pola pikir inovatif Baduwi tersebut. Bagaimana ia dengan cerdas justru hendak menggugat Tuhan. Pola pikir seperti inilah yang mati suri dalam masyarakat kita dewasa ini. Kita terlampau asyik dalam pola pikir jumud yang tidak kunjung usai. Padahal, justru dengan pola pikir inovatif dan sedikit “nakal” seperti inilah Islam bisa maju dan berkembang. Selama, ia tidak keluar dari batas koridor kewajaran.[]

Penulis adalah Alumnus MAPK Surakarta tahun 2013/2014. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Al Ahqoff, Tarim, Hadramaut, Yaman. Menyukai puisi, sastra dan sedikit kopi. Bisa dihubungi lewat akun twiter @munandarharits1



Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Santri, AlaSantri HMI Tegal Kab

Senin, 12 Februari 2018

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis

Jakarta, HMI Tegal Kab. Pengurus Koordinator Cabang PMII DKI Jakarta membentuk forum kajian strategis menyangkut persoalan lokal Jakarta, nasional, maupun global. Forum dwi mingguan mewadahi kader PMII DKI untuk cepat merespon persoalan kekinian.

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII DKI Jakarta Luncurkan Kajian Kosmologi Strategis

Ketua PMII DKI Jakarta Mulyadin Permana mengatakan, mahasiswa khususnya kader PMII harus memahami kosmos (alam semesta) yang di dalamnya terdapat relasi manusia dan alam.

"KKS adalah wadah bagi kader PMII untuk belajar dan menggali ilmu dari para tokoh NU dan tokoh-tokoh lainnya untuk menjadi landasan gerakan PMII DKI Jakarta ke depan" kata Mulyadin saat peluncuran forum KKS di Gedung PBNU, Jumat (5/12) siang.

HMI Tegal Kab

Mantan Sekjen PMII Usman Sadikin menekankan pentingnya pembangunan karakter manusia. Menurut Usman, orang kini lebih menyalahkan sistem politik. Mereka lalu beramai-ramai memperbaiki sistem. Padahal sebenarnya yang tidak baik adalah orang-orang yang ada dalam sistem itu.

HMI Tegal Kab

"Aturan dan sistem yang baik hanya dilahirkan oleh orang baik. Bukan sistem demokrasi, sistem kerajaan, dan seterusnya yang tidak baik, tetapi sistem itu menjadi tidak baik ketika orang lupa kepada Tuhan," kata Usman.

Sementara Amsar A Dulmanan dalam forum perdana ini mengingatkan misi manusia sebagai khalifah di muka bumi.

"Manusia di bumi bukan untuk penghambaan, tetapi sebagai kholifah yang mengatur kosmos (alam semesta) untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia," tandas Amsar. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Tokoh, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Rabu, 07 Februari 2018

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah

Sumenep, HMI Tegal Kab - Satkorcab Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kabupaten Sumenep tidak hanya mengedepankan kedisiplinan dan pengamanan daerahnya. Mereka juga memedulikan pentingnya penguatan marwah NKRI.

Salah satu upaya yang dilakukannya ialah dengan melangsungkan istighotsah berjamaah secara rutin. Marwah NKRI diyakini dapat tercapai manakala diiringi dengan penajaman spiritualitas orang-orang yang memperjuangkannya.

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Marwah NKRI, Banser Sumenep Rutin Istighotsah

"Sudah tak terhitung berapa kali kegiatan istighotsah yang dilakukan sahabat-sahabat Banser Kabupaten Sumenep. Mereka semangat berpijak pada kedisiplinan dan pengamanan negara, juga mengedepankan penajaman spiritualitas lewat rutin istighotsah," ujar Ketua GP Ansor Sumenep M Muhri.

HMI Tegal Kab

Istighotsah yang dilakukan Satkorcab Banser Sumenep masih terlihat di sekretariat GP Ansor Sumenep, Jumat (3/2). Mereka tampak khusuk dalam berzikir dan berdoa.

Usai istighotshah, sahabat-sahabat Banser Sumenep melanjutkan rapat koordinasi (rakor) internal bersama para wakil Ketua GP Ansor Sumenep. Acara tersebut diihadiri Ketua GP Ansor Sumenep M Muhri.

HMI Tegal Kab

Rakor tersebut juga menyinggung ragam kegaduhan yang sering dipertontonkan para pejabat di negeri ini. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab IMNU, Sejarah, AlaSantri HMI Tegal Kab

Kamis, 25 Januari 2018

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan

Jakarta, HMI Tegal Kab. NU Care-LAZISNU Lampung mengagendakan terbentuknya seluruh struktur kepengurusan UPZISNU se-Lampung Timur. Untuk menyukseskan agenda tersebut dilakukan sosialisasi sejak September 2017.

Mengingat banyaknya kecamatan sebagai sasaran sosialisasi, tim NU Care-LAZISNU Lampung Timur mengunjungi kecamata-kecamatan tersebut setiap Ahad. Seperti pada 10 Desember lalu sosialisasi dilakukan di Pesantren Miftahul Ulum, Desa Raman Aji, Kecamatan Raman Utara.

“Ada 24 MWC (kecamatan) dan 264 desa di Lampung Timur. Insyaallah, sosialisasi dan pembentukan UPZISNU akan selesai awal bulan April 2018,” kata Ketua LAZISNU Lampung Timur, Makruf, Senin (11/12).

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan

Setelah sosialisasi dan pembentukan UPZISNU di semua desa, akan diadakan pelatihan Managemen Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah bulan Mei 2018.

“Pelatihan akan diikuti oleh seluruh pengurus UPZISNU se-Lampung Timur.

Sosialisasi sambil berbagi

HMI Tegal Kab

Di sela-sela kegiatan sosialisasi, NU Care-LAZISNU Lampung Timur juga mengadakan penyaluran, salah satunya lewat Jumat Berkah Berbagi. Pada program tersebut rata-rata dibagikan 40 paket sembako setiap minggunya.

“Kegiatan Jumat Berkah Berbagi sangat membantu masyarakat kurang mampu yang selama ini kesusahan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya,” kata Imam Mutakkin, salah satu pengurus LAZISNU Lampung Timur.

Kegiatan berbagi sendiri bergeliat semenjak mulai terbentuknya kepengurusan UPZISNU di setiap kecamatan Lampung Timur.

HMI Tegal Kab

Hal ini bisa dilihat dari beberapa waktu, kepengurusan MWCNU Pasir Sakti bersama pengurus NU Care LAZISNU Kecamatan Pasir Sakti telah berhasil menghimpun bantuan dari masyarakat dengan pencapaian 180 juta untuk program peduli Rohingnya.

“Atas perolehan itu, oleh PBNU diberangkatkan dua orang pengurus UPZISNU Pasir Sakrti untuk presentasi pada Munas Konbes NU di NTB, tentang keberhasilan menggalang donasi tersebut,” Makruf menambahkan.

Mengikuti keberhasilan Pasir Sakti, desa-desa lain mulai bergerak untuk melaksanakan program gerakan Koin NU. Makruf optimis, upaya tersebut akan mampu membangun kemandirian NU di Lampung Timur. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Tokoh, AlaSantri HMI Tegal Kab

Senin, 22 Januari 2018

Mocoan

Mocoan adalah tradisi pembacaan karya sastra keagamaan lama di kawasan Banyuwangi, Jawa Timur. Mocoan Banyuwangi, demikian sering kali disebut, merupakan pembacaan lontar Yusuf yang berisi riwayat Nabi Yusuf dari sejak kecil hingga dewasa bertahta di Mesir.

Mocoan digelar sebagai bagian dari acara ruwatan, bersih desa, atau petik laut, serta juga pada acara-acara ritual peralihan (tujuh bulanan, kelahiran, khitanan, pernikahan). Pembacaannya berlangsung semalam suntuk hingga lontar Yusuf itu khatam. 

Belakangan ini mocoan juga sering menjadi seni pertunjukan yang digelar di luar konteks ritualnya sehingga kebanyakan bentuknya telah dipadatkan dan dipersingkat.

Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mocoan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mocoan

Mocoan Banyuwangi, seperti banyak tradisi tutur lainnya di Nusantara, merupakan produk dari proses akulturasi atau silang budaya dari Islam dan kepercayaan serta kebudayaan lokal, dalam hal ini kebudayaan masyarakat Osing. Persilangan budaya ini bisa ditelisik dari wujud karya sastra yang dibaca, isi, bentuk, tembang, cara melagukan, bahasa yang dipakai, dan fungsinya dalam masyarakat. 

HMI Tegal Kab

Yang disebut sebagai lontar Yusuf pada dasarnya adalah sebuah kitab beraksara Arab pegon dalam bahasa Jawa Madya. Kendati demikian, di dalamnya juga ditemukan banyak kosakata bahasa Osing. Kitab ini disalin dan turunkan dari generasi ke generasi. 

Sebutan “lontar” jelas mengingatkan pada lembaran daun lontar atau kulit ari pohon, media yang dulu digunakan untuk menerakan karya-karya sastra lama. Tradisi pembacaan lontar telah dikenal sejak zaman Hindu-Buddha. Rupanya meski media penulisannya telah berganti dari lontar menjadi kertas, sebutan “lontar” ini tetap lekat. 

HMI Tegal Kab

Lontar Yusuf, atau lebih tepatnya, kitab Yusuf yang tertua di wilayah Banyuwangi disimpan oleh sebuah keluarga dalam bungkusan kain dan tidak boleh dibuka karena dipercaya bisa menimbulkan kebutaan (ngaweng). Dengan demikian yang dibaca dan beredar di kalangan seniman mocoan sekarang ini adalah berupa salinannya.

Lontar Yusuf dituliskan dalam beberapa pupuh (bait), yang namanya mirip dengan tembang macapatan di Jawa. Ada yang terdiri empat pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, dan sinom, dan ada yang enam pupuh, yaitu kasmaran, durma, pangkur, kusumadiya, arum-arum, dan rancagan. Perbedaan jumlah pupuh ini terjadi karena proses penyalinan yang kadang-kadang berdasar pada hapalan dan perbedaan pertimbangan pengambilan kalimat yang diringkas. 

Kendati demikian, dalam mocoan Pacul Gowang terdapat tambahan beberapa pupuh, yaitu mijil, kesilir, andrian, delimoan, selobok, dan kedendha. Tetapi pupuh-pupuh tambahan ini dianggap bukan bagian dari lontar dan hanya berfungsi sebagai pupuh peralihan yang mengantarkan penyajian dari mocoan yang sifatnya religius menuju mocoan yang sifatnya sekuler (hiburan). 

Perbedaan jumlah salinan pupuh ini tidak mengakibatkan perbedaan dalam penyajian mocoan ketika mereka tampil bersama-sama. Kebanyakan mereka menghapal salinan beserta ding-dungnya, karena bagian ini selalu sama. Ding adalah konsep untuk menyebut kata-kata jawaban di akhir kalimat dalam setiap baris, sedangkan dung adalah konsep untuk menyebut kata jawaban di akhir pupuh.

Ding-dung memiliki kaitan dengan sahut-sahutan yang dilakukan seniman dalam menyajikan lontar. Satu pupuh bisa disajikan oleh seorang saja, tapi bisa juga bergantian. Seandainya disajikan oleh seorang saja, maka yang lain hanya akan ngedingi (menjawab). Ngedingi dilakukan dengan melihat kata akhir dalam kalimat, tetapi bisa juga setelah kata terakhir tersebut usai (endeg-endegan). 

Jika pembaca lain ingin mengganti baris selanjutnya, maka ia akan menyaup (menyahut) kata terakhir yang disajikan penyaji pertama. Biasanya saupan dilakukan dengan menunjukkan ketinggian nada yang berbeda dengan penyaji pertama. Jika sudah disaup, penyaji sebelumnya akan diam dan ganti menjadi tukang ngedingi atau bersiap menyaup bagian selanjutnya. Demikian seterusnya.

Meski tanpa berdasar pada susunan nada-nada instrumen, para etnomusikolog mengamati adanya kesan dua laras (tangga nada) yang dipakai, yaitu modus slendro dan pelog dalam vokal mocoan. Kesan slendro yang muncul beserta eluk-elukan dan gregel-nya dianggap memiliki kedekatan dengan slendro banyuwangen yang digunakan dalam gandrung Banyuwangi. Sedangkan kesan pelog yang lebih dekat ke pelog Jawa, bukan Bali, muncul dalam beberapa pupuh dan lebih banyak tampil sebagai varian penyajian. 

Meski disebut lontar Yusuf, sebenarnya isinya juga menghimpun riwayat nabi-nabi yang lain, seperti Sulaiman, Daud, Shaleh, dan Muhammad. Mocoan jelas merupakan suatu ikhtiar untuk mengambil barakah dari kemuliaan para nabi. Diyakini dengan pembacaan ini, harapan dan keinginan bisa terkabulkan. Meski arti bahasa lontar Yusuf ini tidak dimengerti, kesakralannya tetap diyakini. 

Oleh karena itu para pendengar mocoan kerap menitipkan benda-benda yang terkait dengan hajat mereka untuk diletakkan di bawah lontar yang akan dibaca agar terkabul harapan mereka, misalnya bedak dan sisir, ketika mereka ingin memiliki rupa yang menarik dan memesona sebagaimana Nabi Yusuf. (Sumber: Ensiklopedia NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab AlaSantri, Kajian Islam, Pondok Pesantren HMI Tegal Kab

Minggu, 21 Januari 2018

Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah

Depok, HMI Tegal Kab. Ketua Muslimat NU Kota Depok Hj Dedeh Rosyidah mengatakan, istri harus mandiri tidak boleh hanya menggantungkan nafkah pada suami. Istri adalah mitra suami dalam rumah tangga, dan harus bersinergi diantara keduanya.



Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah

Hj Dedeh Rosyidah yang dalam acara ceramah agama di salah satu strasiun televisi swasta dipanggil Mamah Dedeh berpesan, meskipun sang suami sudah menafkahi, istri harus mampu memberikan penghasilan untuk keluarga dan membantu suami.

Hal itu disampaikan Mamah dalam acara Halal Bihalal Muslimat NU Kota Depok yang dihadiri sekitar 1000 orang. Acara bertempat di gedung MUI kota Depok, Senin (2/11) lalu. Halal bi halal? ini dihadiri mayoritas dari kaum ibu baik dari Muslimat sendiri maupun dari undangan organisasi perempuan kota Depok, dengan? mengambil tema ”Dengan Halal bi Halal Kita Pererat Tali Ukhuwah Islamiyah”.

HMI Tegal Kab

”Siti Khodijah Istri Nabi Muhammad SAW merupakan sosok perempuan yang sangat istimewa, bukan hanya sebagai bisnisman, tapi, ia mampu memenuhi kebutuhan keluarga Rosulullah dan membantu perjuangan penyebaran Islam,” kata Mamah.

HMI Tegal Kab

Mamah Dedeh menyatakan, seorang istri harus bekerja sesuai dengan kemampuannya masing-masing dan harus memberdayakan potensi yang sudah ada sejak lahir. Keuntungan dari perempuan yang memiliki penghasilan dan mandiri diantaranya adalah kepercayaan diri bertambah dan lebih bahagia.

Halal bihalal itu, kata Mamah, merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun, hanya saja waktunya yang agak mundur. Program kegiatan Muslimat NU kota Depok, sampai saat ini diantaranya pengajian rutin, kegiatan sosial lainnya.

Beruntung sekali warga Depok adalah warga yang selalu tanggap terhadap keadaan, terbukti ketika terjadi musibah di Aceh, padang, Situ gintung, Sumatera Barat selalu aktif dalam memberikan bantuan.

Kontributor HMI Tegal Kab Aan Humaidi melaporkan, untuk mengembangkan potensi perempuan, Muslimat NU Depok memiliki program pelatihan-pelatihan kewirausahaan, koperasi dll. Ia berharap pemerintahan baru SBY, agar perempuan lebih diberdayakan lagi dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada perempuan dalam mengembangakan potensi yang sudah ada.

Namun, Ketua PCNU kota Depok KH Burhanuddin Marzuki dalam kesempatan itu mengingatkan, kemandirian perempuan tidak boleh keblabasan. Kemandirian harus ditempatkan pada tempatnya. Seorang istri harus menghormati suami, katanya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Aswaja, Nahdlatul, AlaSantri HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock