Kamis, 22 September 2011

Prof Yudian: Puncak Kewalian Ada di Tangan Gus Dur

Jakarta, HMI Tegal Kab. Dalam sejarah dan tradisi kewalian di Nusantara, dikenal Walisongo, yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Meskipun demikian, boleh dikata bahwa Gus Dur sampai saat ini memegang posisi sebagai puncak kewalian dari pencapaian yang sudah dilakukan oleh Walisongo.

Prof Yudian: Puncak Kewalian Ada di Tangan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Yudian: Puncak Kewalian Ada di Tangan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Yudian: Puncak Kewalian Ada di Tangan Gus Dur

Pendapat ini disampaikan oleh guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Dr Yudian Wahyudi ketika dimintai komentar HMI Tegal Kab per telepon, tentang kewalian Gus Dur, Sabtu (29/6).

Ia berpendapat, pada zaman Walisongo, masing-masing wali memiliki teritori tersendiri. Sunan Giri, hanya berdakwah di Gresik, Sunan Kudus, di Kudus, Sunan Gunung Jati, di Cirebon, dan lainnya. Gus Dur, disisi lain, mempunyai pengaruh mencakup seluruh wilayah Nusantara, yang jangkauan wilayahnya berlipat-lipat dibandingkan Walisongo

HMI Tegal Kab

Lulusan McGill University dan Harvard Law School Amerika Serikat ini menegaskan, dengan peran yang dijalankannya tersebut, jika ditarik kesejarahan sejak masuknya Islam di Indonesia, Gus Dur layak mendapat predikat Wali ke-10, melengkapi keberadaan Walisongo dan melanjutkan tradisi keislaman yang diajarkan para wali sebelumnya.

“Tetapi jika diukur dalam konteks pasca kemerdekaan Indonesia, Gus Dur wali pertama dalam skala nasional. Ada banyak wali di Indonesia, tetapi skalanya bersifat lokal,” tandasnya.

HMI Tegal Kab

Ia menilai, banyaknya peziarah yang mengunjungi makan Gus Dur merupakan salah satu bukti adanya karomah mantan ketua umum PBNU ini. Para peziarahnya lebih banyak, lebih khusu’ dan lebih santri dibandingkan dengan peziarah mantan presiden Indonesia sebelumnya yang sudah meninggal.

Ia mencontohkan, mantan Presiden Soekarno yang berkuasa 25 tahun dan Presiden Soeharto yang berkuasa 32 tahun, makamnya dibangun dengan megah dan ketika meninggal, dilakukan upacara yang mewah, tetapi makam-makam tersebut, masih kalah dengan tempat Gus Dur yang dimakamkan di pesantren Tebuireng, yang sampai sekarang, hanya dikubur di atas tanah, tidak dibangun apapun di atas makam tersebut.

Lalu, meskipun sudah meninggal, Gus Dur juga masih menghidupi orang yang hidup, yaitu orang-orang yang menjalankan aktifitas ekonomi dalam ziarah tersebut, mulai dari sektor transportasi, sampai dengan penjual souvenir dan makanan.

“Karomah wali bukan saja aspek spiritual, tetapi juga ada aspek material yang ditunjukkannya,” tandasnya.

Ia menolak klaim kelompok Wahabi, yang menganggap kewalian sebagai bid’ah karena pencapaian ketuhanan yang tertinggi hanya bisa dilakukan dengan pendekatan kalbu, dengan isyaroh, atau ilmu ladunni. Dan ilmu-ilmu inilah yang dimiliki oleh para wali.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kyai HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM. Prof Yudian: Puncak Kewalian Ada di Tangan Gus Dur di HMI Tegal Kab ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock