Sabtu, 17 Maret 2018

Jelang Rajab, Ketika Siswa Madrasah Belajar Melihat Hilal

Jombang, HMI Tegal Kab. Rombongan dua bis dan dua mobil MPV bergerak dari halaman Kantor Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang tepat pukul 11.00 WIB, Selasa (23/06) kemarin, bertepatan 29 Jumadal Tsaniyah 1433 H.



Jelang Rajab, Ketika Siswa Madrasah Belajar Melihat Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Rajab, Ketika Siswa Madrasah Belajar Melihat Hilal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Rajab, Ketika Siswa Madrasah Belajar Melihat Hilal

Rombongan dua mobil MPV yang berangkat lebih dulu, ditumpangi kepala Madrasah Muallimin Enam Tahun Bahrul Ulum, KH Abd Nashir Fattah, para guru serta pengiring. Sedangkan 2 bis yang berangkat kemudian, diisi para siswa dan para guru Madrasah Muallimin Enam Tahun Bahrul Ulum. Tujuan dari rombongan tersebut adalah kota Tuban. Kota pesisir utara Jawa yang memiliki bentangan pantai puluhan kilometer dari arah timur ke barat. 

HMI Tegal Kab

Setelah memasuki kota Tuban, rombongan masih menuju ke suatu tempat, sekitar 10-15 kilometer ke arah barat dari kota Tuban. Tempat tersebut adalah pelabuhan Pt. Semen Gresik yang berada di wilayah kecamatan Jenu Tuban.

Angin yang berhembus kencang cukup terasa begitu rombongan keluar dari kendaraan. Hembusan angin tersebut, menghapus bayangan sebagian besar orang dalam rombongan yang sebelumnya melihat dari kejauhan teriknya matahari yang menerpa pelabuhan. Mereka membayangkan, suhu di pelabuhan pasti sangat panas. Tetapi setelah semua rombongan berada di pelabuhan yang menjorok ke tengah laut. Udaranya cukup sejuk bahkan cenderung terasa kebanyakan angin.

HMI Tegal Kab

Rombongan yang diikuti oleh 100 siswa Muallimin, 15 orang guru dan 5 orang undangan tersebut, adalah dalam rangka praktek ruk’atul hilal mata pelajaran Ilmu Falak siswa Madrasah Muallimin. Karena menurut guru pengampu mata pelajaran Ilmu Falak di Madrasah Muallimin, KH. Mujib Adnan, sebenarnya Hilal sudah bisa terlihat kemarin sore (22/06).

“Tapi rupanya kemarin sorepun, hilal yang tingginya lebih dari 2 (dua) derajat belum bisa dilihat, karena tertutup mendung,” kata Kiyai Mujib.

“Namun karena ini adalah pelatihan bagi siswa-siswa, maka kita melakukan ru’yatul hilal pada hari ini. Karena pada hari ini, diperkirakan hilal sudah bisa terlihat dengan jelas. Tujuannya adalah agar siswa bisa mengamati sendiri bagaimana wujud hilal sebenarnya,” tambahnya.

Maksum Chudlori, panitia pelaksana kegiatan ru’yatul hilal mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari program madrasah yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa, tidak hanya dalam teori tetapi juga dalam praktek.

Tujuan lainnya adalah untuk mempersiapkan kader-kader ajaran Aswaja Annahdliyah dalam menentukan awal bulan dengan ru’yatul hilal. Karena bagi orang NU penentuan awal bulan selalu dilakukan dengan ru’yatul hilal, termasuk dalam menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal.

Disamping itu, menurut pria yang akrab disapa Gus Maksum ini, praktek ini memiliki nilai akademik. “Praktek ru’yatul hilal ini merupakan bagian dari ujian yang harus dijalani siswa, karena nilai dari kegiatan ini akan menjadi nilai rapot,” tambahya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslimin Abdilla

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kiai, Ubudiyah, Daerah HMI Tegal Kab

KH Cholil Nafis: Kiai NU Baca Teks, Yang Disampaikan di Luar Teks

Jakarta, HMI Tegal Kab - Orang-orang yang ada di luar Nahdlatul Ulama (NU) seringkali menganggap kalau orang-orang NU atau Nahdliyin itu adalah ahli bid’ah karena mengamalkan sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad. Nahdliyin itu mengamalkan agama Islam secara substansial, bukan secara tekstual.

Para kiai NU membaca teks-teks keagamaan, tetapi yang disampaikan ke khalayak umum adalah sesuatu yang di luar teks, yaitu halal bihalal, maulidan, dan lainnya.

KH Cholil Nafis: Kiai NU Baca Teks, Yang Disampaikan di Luar Teks (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Cholil Nafis: Kiai NU Baca Teks, Yang Disampaikan di Luar Teks (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Cholil Nafis: Kiai NU Baca Teks, Yang Disampaikan di Luar Teks

Demikian disampaikan KH Cholil Nafis saat memberikan ceramah dalam acara Halal Bihalal Bani Hasyim di Kediaman KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ciganjur Jakarta, Sabtu (12/8).

Kiai Cholil menjelaskan, di dalam Islam ada ajaran untuk menyambung tali silaturahmi. Lalu kemudian ajaran tersebut dikreasikan oleh Nahdliyin menjadi halal bihalal sehingga orang lebih mudah memaafkan dalam satu tempat.

HMI Tegal Kab

Demikian juga dengan maulid Nabi Muhammad. Menurut Kiai Cholil, Nabi Muhammad memperingati hari lahirnya dengan berpuasa. Ini juga yang menjadi dalil dari maulidan yang seringkali diadakan oleh Nahdliyin.

HMI Tegal Kab

“Nabi Muhammad puasa pada hari Senin karena hari itu ia lahir dan mendapatkan wahyu pada hari Senin,” jelasnya.

Kiai Cholil menyesalkan orang yang merayakan hari ulang tahunnya dengan berpesta pora, bukan dengan berpuasa sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Makam HMI Tegal Kab

Rabu, 14 Maret 2018

Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur

Jakarta, HMI Tegal Kab. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memenuhi undangan PBNU dalam kapasitasnya sebagai salah seorang mustasyar atau penasehat PBNU dalam rapat tertutup yang berlangsung pada Rabu (16/4).

Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi PBNU, JK Doakan NU Tambah Maju dan Makmur

Kepada para wartawan, ia menegaskan, sama sekali tidak ada pembicaraan politik dalam pertemuan tersebut. “Saya datang ke PBNU bukan hanya sekarang, saya selalu datang kalau diundang,” jelasnya.

Meskipun tidak menjelaskan detail pertemuan tersebut, rapat tersebut merupakan upaya untuk terus meningkatkan kinerja organisasi.?

HMI Tegal Kab

“Saya berdoa NU terus maju dan tambah makmur,” tandasnya.?

JK merupakan putra H Kalla, tokoh NU di Sulawesi Selatan. Dalam penyelenggaraan muktamar ke-32 di Makassar tahun 2010 lalu, ia membantu mensukseskan acara lima tahunan NU tersebut.

HMI Tegal Kab

Ia merupakan salah satu calon presiden yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang pendiriannya difasilitasi oleh PBNU.

KH Said Aqil Siroj yang mendampingi JK menjelaskan, rapat tersebut membahas berbagai persoalan internal organisasi, diantaranya rencana penyelenggaraan musyawarah nasional dan konferensi besar (munas dan konbes) yang akan berlangsung awal Mei mendatang di Jakarta. ?

Rapat tersebut dihadiri oleh Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj serta para pengurus NU lainnya. (mukafi niam)

Foto: antara

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Pertandingan, Pesantren HMI Tegal Kab

Selasa, 13 Maret 2018

Mengapa KH Wahab Chasbullah Layak Pahlawan Nasional?

Oleh Ahmad Baso

Almaghfurlah KH Wahab Chasbullah (lahir pada 1888 di Jombang, Jawa Timur; wafat 1971) adalah seorang kiai nasionalis, dalam pikiran dan tindakan, seorang pembela negara dan bangsa ini hidup hingga mati. Sejak nyantri di berbagai pesantren dengan sejumlah guru dan kiai. Di Mekah beliau mendirikan organisasi Sarekat Islam di tahun 1912-1914.

Pulang ke Jawa di tahun 1914, beliau aktif dalam berbagai kegiatan pergerakan nasional. Ada sejumlah organisasi yang beliau dirikan: Nahdlatul Wathan (organisasi kebangsaan bersama KH Mas Mansur), Syubbanul Wathan (gerakan pemuda kebangsaan), Nahdlatuttujjar (Gerakan Kebangkitan Para Pedagang), Tashwirul Afkar (forum pencerahan pemikiran), Islamic Studi Club bersama dokter Soetomo (pendiri Boedi Otomo), serta Komite Hijaz yang menjadi embrio berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan ada cabang Boedi Oetomo Surabaya yang mengikuti Tasjwiroel Afkar, dengan nama “Suryo Sumirat afdeeling [cabang] Tasjwiroel Afkar”. Suryo Sumirat adalah nama satu perhimpunan yang dibentuk oleh orang-orang Boedi Oetomo di Surabaya.

Mengapa KH Wahab Chasbullah Layak Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa KH Wahab Chasbullah Layak Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa KH Wahab Chasbullah Layak Pahlawan Nasional?

Itu digambarkan dengan apik oleh Kiai Saifuddin Zuhri dalam bukunya tentang karakter kosmopolit-kebangsaan sang kiai paripurna ini:

Dari pondok pesantren [tempat bergumul Kiai Wahab Chasbullah] lahirlah ide-ide yang hidup, segar dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat, dan bukanlah ide-ide yang cuma teoritis yang mati di tengah cetusannya. Ide kebangkitan kaum ulama, ide pentingnya pengorganisasian perjuangan, ide pendekatan golongan-golongan Islam-Nasional, ide perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan, ide mencetuskan kemerdekaan dan mempertahankannya, ide mengisi kemerdekaan, ide mempertemukan antara cita-cita dan kenyataan, dan tentu saja ide pembangunan di segala bidang, membangun karakter bangsa, membangun taraf hidup dan membangun prestasi nasional untuk kepentingan seluruh warga negara Republik Indonesia.

Ini misalnya ditunjukkan pada pendirian Nahdlatul Wathan. Kiai Wahab Chasbullah mendirikan organisasi pemuda ini untuk menggelorakan semangat nasionalisme di kalangan umat Islam. Ia bertemu dengan KH Mas Mansur, yang kemudian menjadi tokoh Muhammadiyah, dan sepakat dengan gagasan tersebut. Juga disambut baik oleh HOS Tjokroaminoto, Raden Pandji Soeroso, Soendjoto, dan KH Abdul Kahar, seorang saudagar terkemuka yang kemudian membantu pendanaannya.

Maka, berdirilah sebuah gedung bertingkat di Kampung Kawatan Gang IV, Surabaya, yang kemudian dikenal dengan perguruan Nahdlatul Wathan (Pergerakan Tanah Air). Tujuannya, untuk mendidik kader-kader muda dan membangunkan semangat nasionalisme mereka. Pada 1916, perguruan ini mendapat Rechtsperson (resmi berbadan hukum), dengan susunan pengurus: KH Abdul Kahar sebagai Direkur, KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai pimpinan Dewan Guru dan Keulamaan dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah.

HMI Tegal Kab

Sejak itu Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. Setiap hendak memulai kegiatan belajar, para murid diharuskan terlebih dahulu menyanyikan lagu perjuangan kebangsaan dalam bahasa Arab, yang telah digubah oleh Kiai Wahab dalam bentuk syair seperti berikut:

Ya ahlal wathan, ya ahlal wathan....

Hubbul wathan minal-iman

HMI Tegal Kab

Wahai bangsaku, wahai bangsaku...

Cinta tanah air adalah bagian dari iman

Cintailah tanah air ini wahai bangsaku

Jangan kalian menjadi orang terjajah

Sungguh kesempurnaan dan kemerdekaan

harus dibuktikan dengan perbuatan...

Setelah Mas Manshur aktif di Muhammadiyah kemudian kepala sekolah dijabat oleh Mas Alwi mengembangkan sayap Nahdlatul Wathan di berbagai daerah. Madrasah Akhul Wathan (Saudara Setanah Air) di Semarang, Farul Wathan (Cabang Tanah Air) di Gresik dan Malang, Hidayatul Wathan (Petunjuk Tanah Air) di Jombang dan Jagalan, Ahlul Wathan (Warga Tanah Air) di Wonokromo dan Khitabul Wathan di Pacarkeling . Pendirian madrasah-madrasah kebangsaan ini tidak lain adalah sebagai bentuk upaya kaum santri untuk menumbuhkembangkan semangat nasionalisme-religius ala pesantren ke dalam jiwa putera-puteri bangsa kita.

Inilah amal dan perbuatan Kiai Wahab Chasbullah untuk bangsa ini di masa penjajahan Belanda.

Kemudian, di masa pendudukan Jepang, ide-ide yang sudah dipupuk di masa kolonial Belanda dilanjutkan pada level aksi nyata. Yakni melalui pembentukan laskar rakyat-pemuda. Mengapa beralih ke pembentukan laskar rakyat? Kiai Wahab sendiri pernah mengatakan: “Kalau kita mau keras, harus mempunyai keris!” Artinya, bahwa kita baru bisa bertindak jika kita telah mempunyai kekuatan. Kekuatan politik, kekuatan militer, dan juga kekuatan batin atau rohani, demikian yang ditulis KH Saifuddin Zuhri, menafsirkan ucapan gurunya itu.

Ide ini awalnya untuk kepentingan pertahanan rakyat dalam konteks menghadapi Perang Pasifik. Tapi niat pemerintah militer Jepang itu dimanfaatkan oleh Kiai Wahab untuk menggembleng kalangan santri dalam latihan fisik-kemiliteran untuk jaga-jaga. Kiai Wahab lalu memebri nama laskar-santri itu Laskar Hizbullah. Ini dengan memanfaatkan keterlibatan para kiai dalam rekrutmen tentara PETA di Cibarusa, Jawa Barat, tahun 1944. Sepulang dari latihan militer ini, para kiai ini kemudian mengkader pasukan-pasukan Laskar Hizbullah di daerahnya masing-masing. Laskar ini kemudian menjadi komponen utama perlawanan rakyat dan kaum santri dalam perang kemerdekaan di tahun 1945-1949.

Nah, selama dalam perang kemerdekaan itu, peranan Kiai Wahab Chasbullah tidak bisa dikesampingkan.

Peran Kiai Wahab Chasbullah dalam Resolusi Jihad

Ketika pasukan Sekutu dan Belanda tiba di Surabaya pada Oktober 1945, Presiden Soekarno menemui Hadlratusysyekh KH Hasyim Asyari menanyakan hukum membela tanah air ini. Hadlratusysyekh kemudian memanggil Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan para kiai kharismatik lainnya untuk menyikapi permintaan Soekarno tersebut. Kemudian, Kiai Wahab dan sejumlah kiai mengumpulkan para ulama se-Jawa dan Madura. Mereka berkumpul di Bubutan, Surabaya, pada 22-23 Oktober 1945. Rapat dipimpin oleh Kiai Wahab Chasbullah sendiri setelah dibuka oleh Kiai Hasyim Asy’ari dengan amanah khusus tentang pentingnya jihad membela agama dan negara dan bangsa. Menurut Kiai Hasyim Latif dan Kiai Saifuddin Zuhri, rapat tersebut memang dipimpin oleh Kiai Wahab dan beliau sendiri yang mendraft teks naskah Resolusi Jihad, setelah meminta pertimbangan Kiai Hasyim Asy’ari dan para hadirin.

Rapat maraton itu kemudian melahirkan pernyataan Resolusi Jihad yang dibacakan oleh KH Hasyim Asy’ari pada 23 Oktober 1945. Isinya berupa jawaban mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang terkenal dengan istilah Resolusi Jihad. Segera setelah itu, pesantren-pesantren di Jawa dan Madura menjadi markas pasukan non regular pasukan Hizbullah dan Sabilillah dan tinggal menunggu komando.

Resolusi Jihad inilah yang kemudian mendorong semangat rakyat Surabaya untuk berjuang pada 10 November 1945. Dan Kiai Wahab disebut hadir sehari sebelumnya dalam pertemuan para tokoh nasioanlsi dalam rangka persiapan mengahdapi ultimatum tentara Inggris.

Selama revolusi kemerdekaan Kiai Wahab Chasbullah juga bergabung dalam gerakan gerilya menentang kembalinya kekuasaan Belanda. Ia menyumbangkan hartanya untuk perlengkapan militer, berhubungan dengan unit-unit grilya dan membantu mengkoordinasi rekrutmen-rekrutmen dan pelatihan terhadap santri di Jawa Timur. “With the onset of the Indonesian Revolution Wahab became involved in the guerilla movement against the returning Dutch forces. He raised money for military equipment, addressed guerilla units and helped coordinate the recruitment and training of santri in East Java”, demikian yang ditulis Fealy berdasarkan sumber dari KH Saifuddin Zuhri dan juga dari wawancara dengan KH Hasyim latif, salah seorang aktor Laskar Hizbullah di Jawa Timur, di Sepanjang, 11 September 1991. Kiai Hasyim Latif sendiri pernah menulis buku berjudul Laskar Hizbullah: Berjuang Menegakkan Negara RI (Jakarta: Lajnah Talif wan Nasyr PBNU, 1995). Buku ini juga mengungkap peranan Kiai Wahab Chasbullah selama Perang kemerdekaan.

Kiai Wahab Chasbullah juga berjasa membentuk laskar-laskar did aeraqhnya sendiri, di Jombang. Laskar Hizbullah Jombang didirikan atas desakan KH Hasyim Asy’ari kepada KH Wahab Chasbullah, akhir Agustus 1945, tak lama setelah kemerdekaan RI diproklamasikan.

Perintah K.H. Hasyim Asy’ari untuk memobilisasi pemuda di Kabupaten Jombang segera disampaikan KH Wahab Hasbullah kepada H Affandi, seorang dermawan yang pernah ditahan oleh Jepang bersama KH Hasyim Asy’ari. Kemudian H Affandi menghubungi A Wahib Wahab, putra KH Wahab Hasbullah yang menjadi Syodanco PETA. H Affandi meminta agar A Wahib Wahab bersedia memimpin Laskar Hizbullah yang akan didirikan. Ketika di Surabaya terjadi pertempuran 10 Nopember, Hizbullah Karesidenan Surabaya disatukan dalam satu divisi yang diberi nama Divisi Sunan Ampel, dipimpin oleh A Wahib Wahab. Penggabungan ini bertujuan untuk memperkokoh serta meningkatkan badan perjuangan umat Islam. (bersambung)

 

Ahmad Baso, Wakil Ketua Pengurus Pusat Lakpesdam, penulis buku NU Studies, Pesantren Studies dan Agama NU untuk NKRI

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kajian Sunnah HMI Tegal Kab

Senin, 12 Maret 2018

PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur

Jombang, HMI Tegal Kab

Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ya’qub Husein (YH) STIT al-Urwatul Wutsqo Jombang, Jawa Timur berkomitmen membangun kesolidan antarpengurus komisariat dan pengurus rayon (PR) sebagai prioritas utama dalam menjalankan mandat organisasi selama satu periode.

PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur

Kesolidan terus berupaya dibangun di tengah dominasi pengurus komisariat yang berasal dari suku atau daerah-daerah tertentu, yaitu Madura. Hal itu dimungkinkan akan menimbulkan pandangan yang miring kepada pengurus yang lain, di samping itu juga sangat berhubungan dengan intensitas pengurus untuk merealisasikan program-programnya.

Iis Sholihah, Ketua Komisariat Ya’qub Husein mengatakan akan berupaya mengubah pola pikir pengurus yang masih normatif dan cenderung membeda-bedakan kultur, suku, ras dalam dunia pergerakan. Sebab demikian itu akan menimbulkan keharmonisan, persaudaraan atau solidaritas warga PMII. Bahkan tak ada aturan di PMII untuk membeda-bedakan asal-usul pengurus.?

“Kita sedang membangun pola untuk mematuhi pada AD/ART PMII dengan baik, semua gerakan kita tetap mengacu pada AD/ART. Di sana tidak ada pembedaan-pembedaan atau bahkan diskriminasi. Semua wewenang, hak dan garis koordinasi masing-masing pengurus sudah diatur jelas,” katanya kepada HMI Tegal Kab, Selasa (15/3).

Namun demikian, Iis sapaan akrabnya mengemukakan bahwa perbedaan pada aspek kultur dan budaya dari masing-masing pengurus akan menciptakan pondasi yang sangat kuat di tubuh organisasi tatkala sudah bisa bersinergi dengan baik.?

HMI Tegal Kab

“Malah sebenarnya perbedaan kultur itu sangat mendukung terciptanya pondasi yang kokoh,” ujarnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab

HMI Tegal Kab PonPes, Kajian Sunnah, News HMI Tegal Kab

Jumat, 09 Maret 2018

Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia

Jakarta, HMI Tegal Kab. Sikap teguh terhadap tradisi, pengkajian kitab-kitab klasik, peneguhan moderatisme Islam, dan garda depan nasionalisme harus terus dilakukan NU untuk menginspirasi dunia. Karakter-karakter tersebut dibutuhkan dunia Islam saat ini yang seolah tak ada hentinya dengan tragedi perang dan anasir-anasir kebencian.

Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Al-Mestiri: NU Harus Terus Jadi Inspirasi Islam Moderat Dunia

Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Teologi dan Filsafat Universitas Zaitunah Tunisia, Prof Dr Muhammad al-Mestiri, Kamis (20/10) saat menjadi pembicara utama dalam Kuliah Umum (Studium Generale) yang diselenggarakan Pascasarjana STAINU Jakarta di Gedung PBNU Jakarta Pusat.

Dalam kuliah umum bertema Wasathiyyatul Islam: Stratijiyyah Limuwajahatit Thatharruf al-Fikriy wa al-Dini (Moderatisme Islam; Strategi Melawan Ekstremitas Pemikiran dan Keberagamaan) ini, Al-Mestiri menggarisbawahi bahwa peneguhan Islam moderat saat ini bisa dilakukan dengan jalan tetap menjaga geneologi sejarah.?

Hal ini dilakukan agar Islam tidak tercerabut dari akar tradisinya sehingga moderatisme bisa terus dikembangkan.?

HMI Tegal Kab

“Memahami kitab-kitab klasik (thurats) karya ulama perlu terus dilakukan. Selain itu, kita jug harus memahami paham Barat sehingga dapat menemukan persmasalahan yang ada,” ujar alumni Universitas Sorbonne Prancis ini didampingi Ahmad Ginanjar Sya’ban (Dosen STAINU Jakarta) sebagai penerjemah.

Al-Mestiri juga menjelaskan tentang universalisme (al-kauniyah) yang berbeda dalam persepsi Islam dan Barat. Dalam persepsi Islam, menurutnya, universalisme lahir dari karakter wasathiyah. “Sedangkan universalisme menurut Barat lebih cenderung dimaknai sebagai hegemoni,” jelas Profesor yang tinggal di Prancis lebih dari 18 tahun ini.

Wasathiyah, prinsip keadilan

HMI Tegal Kab

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, lebi jauh al-Mestiri menjelaskan bahwa membincang moderatisme Islam tidak bisa dilepaskan dari apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali Imran: 110)

“Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, makna wasath dalam ayat tersebut adalah bermakna umat yang adil dan terbaik. Jadi, makna umat wasath adalah umat yang berpegang pada prinsip keadilan,” ujar al-Mestiri. ? ?

Selain para mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta, turut hadir dalam acara ini Waketum PBNU HM. Maksoem Makfoedz, Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi yang sekaligus Wakil Rektor UNU Indonesia, Asisten Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta Dr Muh. Ulinnuha dan Hamdani, Ph.D serta sejumlah dosen Pascasarjana STAINU Jakarta lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Syariah, RMI NU, PonPes HMI Tegal Kab

Menengok Masa Depan Manuskrip Nusantara

Oleh Fathurrochman Karyadi



Seorang jurnalis sekaligus reporter sepak bola di sebuah kantor berita pernah meminjamkan penulis sebuah buku berjudul Indonesian Manuscripts in Great Britain. Penulis agak heran, apa hubungannya dunia jurnalistik olahraga dengan katalog naskah kuno. Ia bercerita, leluhurnya memiliki beberapa manuskrip di kampungnya, Solo, Jawa Tengah, dan ia sendiri kuliah di UI mengkaji naskah-naskah Jawa. Setelah lulus S1 ia lebih menekuni hobinya di bidang olahraga dan fotografi. Hingga akhirnya berkarier di dunia jurnalistik. 

Penulis yakin, tak hanya dia yang memiliki perjalanan seperti itu. Banyak di antara kita yang sebenarnya memiliki keterkaitan dengan cagar budaya bangsa Indonesia—dalam hal ini manuskrip kuno—namun tidak fokus pada “warisan” tersebut. Tentunya banyak hal yang melatarbelakangi. Dalam hal ini pula kita tidak pantas untuk men-judge siapa yang benardan siapa yang salah. Yang terpenting ialah melestarikannya untuk kejayaan bersama.

Menengok Masa Depan Manuskrip Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Masa Depan Manuskrip Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Masa Depan Manuskrip Nusantara

Baru-baru ini, di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI diluncurkan “Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia” (Dreamsea). Program ini akan memprioritaskan digitalisasi manuskrip yang terancam punah khususnya di daerah Asia Tenggara. Dalam pelaksanaannya, Dreamsea dinakhodai oleh dua filolog, Prof. Dr. Jan van der Putten, Centre for the Study of Manuscript Cultures (CSMC), University of Hamburg; dan Prof. Dr. Oman Fathurahman, Pusat Pengkajian Islam danMasyarakat (PPIM), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Kita patut berbangga karena hal ini akan sangat membantu terutama dalam hal  alih media digital, atau digitalisasi; dan juga pengembangan open access database of Southeast Asian manuscripts. Dengan adanya digitalsasi, kita tak perlu lagi khawatir jika fisik naskah rusak atau bahkan hilang sebab teks sudah abadi dalam rekam teknologi. Sedangkan untuk database sangat dibutuhkan untuk para peneliti apalagi jika disajikan dalam sebuah portal yang terintegrasi dan diproyeksikan menghimpun keragaman manuskrip Asia Tenggara.

HMI Tegal Kab

Pada 28 Januari 2018, bersama Handoko F Zainsam dan Muhammad Daud Bengkulah, penulis juga meluncurkan WARNA Nusantara (Warisan Naskah Nusantara). Lembaga ini dibuka dengan acara kajian naskah Syaikh Abdul Shamad al-Falimbani (1737-1839) dan dihadiri oleh para peminat kajian naskah, pemikiran Islam, dan kenusantaraan. Ke depan, kami juga akan menerbitkan jurnal dan buku, mengadakan penelusuran manuskrip, serta mendirikan pendidikan dan museum. Tentunya, rencana  luhur ini butuh dukungan dari berbagai pihak. 

26.000 Manuskrip Kita

Melalui Memory of the World (MOW), UNESCO telah mendaftarkan beberapa manuskrip sebagai kekayaan tak benda milik dunia yang berasal dari Indonesia. Keempat manuskrip itu ialah N?garak?rt?gama, I La Galigo, Babad Diponegoro, dan Panji Tales. 

HMI Tegal Kab

Sri Sulasih pernah menyebutkan bahwa jumlah manuskrip kuno Indonesia di luar negeri mencapai angka 26.000. Itu belum ditambah dokumen bersejarah lain yang ada di Inggris, Malaysia, dan negara-negara lain. Perpusnas hanya memiliki 10.300 manuskrip kuno. Maka bisa dikatakan, dokumen penting yang berada di Leiden Belanda 2,5 kali lipat lebih banyak daripada di Indonesia.

Bahkan, Peter BR Carey, sejarawan asal Inggris yang juga Profesor Emeritus Oxford University, mengatakan bahwa banyak naskah kuno yang memuat sejarah Indonesia masih tersebar di berbagai negara. Jumlahnya bisa mencapai ribuan, dan tersimpan di berbagai museum di dunia. Di Inggris saja, diperkirakan terdapat 500-600 jenis naskah kuno yang tersebar di sejumlah kota, antara lain di London, Manchester, dan Oxford.

Kabar baiknya, meski manuskrip kita banyak di luar negeri, Perpusnas di bawah kendali Syarif Bando sudah mengambil langkah. Ia menuturkan, Leiden pernah memberikan duplikat naskah sebanyak 20.000 kopi ke Indonesia. Tapi setelah diseleksi, hanya butuh 4.000 kopi karena 16.000 sisanya sudah ada di Perpusnas. Kini, Perpusnas sudah punya kurang lebih 4.300-an naskah bentuk digital. Duplikat naskah manuskripnya 11.409 judul naskah, dan microfilm dalam berbagai tema sebanyak 4.329 naskah.  

Ia menjelaskan bahwa naskah itu jenisnya ada dua, yakni microfilm yang sudah di-scan, dimasukkan microfilm dan dibaca dengan microreader. Juga ada naskah kuno yang total 14.300 naskah. Sebanyak 10.300 naskah sudah dimiliki Perpusnas sejak awal, sedangkan 4.000 naskah dari Leiden. Dibandingkan yang ada di Leiden sebanyak 26.000, Perpusnas sudah punya separuhnya.Dalam wawancaranya di tirto.id, pria asal Sulawesi Selatan ini mengatakan, “Semua guru besar dan peneliti di Indonesia mengatakan, data di Perpusnas lengkap. Kita harus menghilangkan mitos kalau naskah kuno Indonesia di Belanda lebih lengkap sehingga kita harus belajar ke sana. Untuk menghindari biaya yang besar belajar di sana, cukup di Perpusnas saja dan tidak perlu ke Belanda. Jadi ke depan, berapa pun naskah kuno yang kami miliki, hal penting yang dibutuhkan masyarakat adalah subjek bahasanya”.





Tantangan ke Depan

Sampai hari ini, kita masih mendengar adanya oknum jual beli naskah kepada pihak asing. Juga raibnya beberapa naskah di sejumlah museum seperti di Solo. Serta minimnya “gereget” generasi muda untuk mengkaji dan mengembalikan khazanah intelektual bangsa, hal ini ditandai dengan jurusan pernaskahan yang sepi peminat.

Pemerintah sudah selayaknya menggelontorkan beasiswa kepada para mahasiswa yang konsen megkaji ilmu pernaskahan, filologi, kodikologi, dan ilmu-ilmu terkait lainnya. Selain itu, juga memberikan apresiasi tinggi kepada mereka yang merawat cagar budaya bangsa, baik perseorangan, maupun lembaga, dan komunitas, sebagaimana amanat UUD 1945, pasal 32 ayat 1.

Jika hal ini tak diperhatikan, maka dikhawatirkan negeri ini akan kehilangan jatidirinya sendiri. Jangan sampai manuskrip Nusantara yang menjadi bukti otentik sejarah, kekayaan alam, batas wilayah, falsafah hidup, hukum adat, dan buah pikir para leluhur justru dimiliki negeri lain atau mati suri karena tak pernah dikaji.

Penulis adalah mahasiswa magister filologi di SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan bergiat di WARNA (Warisan Naskah) Nusantara, Jagakarsa. Email atunk.oman@gmail.com

Dari Nu Online: nu.or.id

HMI Tegal Kab Kyai HMI Tegal Kab

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs HMI Tegal Kab sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik HMI Tegal Kab. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan HMI Tegal Kab dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock